+-

Video Silat


Cingkrik Petamburan
beksi hasbulloh - Performance silat di acara ultah
Silat Golok Seliwa 2
pencak dor dari sisi kota blitar(123 )
Getaran Merpati Putih @Escapade Show of AXN
Peragaan Jurus Cikalong
Beksi, Peragaan Jurus #01
Silat Tradisional di Pencak Silat Word Championshi
International Paris Open Pencak Silat 2008

Shoutbox

20/03/2014 21:24 akoekoko: tes, tes, satu dua...
10/01/2014 22:16 arip: tessss..... happy new year.. ada event apa ini dunia persilatan tahun ini? :D
28/08/2013 13:28 Bang Gagak: Assalamualaikum... bang..
11/08/2013 16:12 Aku: Untuk semua sahabat...Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin
09/08/2013 05:32 Dolly Maylissa: Maaf lahir batin ya semua, selamat hari raya idul fitri
08/08/2013 23:50 anaknaga: assalamu'alaikum para master dan praktisi MA. selamat hari raya Idul Fitri 1434H, Taqabalallahuminna waminkum.

salam.
01/08/2013 15:35 guebanget: ting nong ding dong
View Shout History

Recent Topics

Latihan Xinyi Liuhe Quan (only moslem) by ifung
19/04/2014 19:30

PPS Betako Merpati Putih by mpcrb
17/04/2014 09:42

Tai Chi Meringankan Depresi pada Lansia by ifung
16/04/2014 19:27

Pencak Silat "NATAR" dari perbatasan sumut dan sumbar by Tiger_Lord
10/04/2014 17:12

13 DASAR TAIJIQUAN BAGIAN 1 by ifung
09/04/2014 22:17

Menangis Dapat Membantuan meringankan Stres, Tapi untuk Kesehatan Optimal Anda P by ifung
05/04/2014 22:06

Dialog Keajaiban Silat - Silat untuk Kehidupan by luri
04/04/2014 14:16

Merpati Putih by alfee
02/04/2014 19:26

Silat Gombel Tradisional by Putra
24/03/2014 15:02

Pencak Silat Tertua Betawi "Silat Gombel aliran Jalak putih" by Putra
24/03/2014 14:18

PABUCI (PANCERBUMI CIKALONG/PASAR BARU CIANJUR) by luri
23/03/2014 17:38

TOKOH-TOKOH SILAT BAMBU LARANGAN by AGUNGP
19/03/2014 12:39

Jeet Kune Do by ifung
16/03/2014 18:18

THE EIGHT BASIC METHODS OF CHEN STYLE TAI CHI CHUAN by ifung
16/03/2014 17:50

Peluncuran Buku KEAJAIBAN SILAT oleh Edwin Hidayat Abdullah by Satria Naga
12/02/2014 01:42

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Gulat Tradisional Indonesia  (Read 9941 times)

HartCone

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 733
  • Reputation: 38
    • Martial Arts Forever
Gulat Tradisional Indonesia
« on: 05/02/2008 07:01 »
SEJARAH SINGKAT DAN PERKEMBANGAN SENI BELADIRI BENJANG

Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.

Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.

Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang selalu melaksanakan tatacara dengan membaca do’a - do’a agar dalam pertunjukan benjang tersebut selamat tidak ada gangguan. Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda.

Dari pondok pesantren, kesenian ini menyebar ke masyarakat biasanya di masyarakat diselenggarakan dalam rangka memperingati upacara 40 hari kelahiran bayi, syukuran panen padi, maulid nabi, upacara khitanan, perkimpoian, dan hiburan lainnya, dan dapat pula mengiringi gerak untuk dipertontonkan yang disebut “DOGONG”.

Dogong adalah suatu permainan saling mendorong dengan mempergunakan alu (kayu alat penumbuk padi). Dari Dogong berkembang menjadi “SEREDAN” yang mempunyai arti permainan saling mendesak tanpa alat, yang kalah dikeluarkan dari arena (lapangan); kemudian dari Seredan berubah menjadi adu mundur, ini masih saling mendesak untuk mendesak lawan dari dalam arena permainan tanpa alat, memdorong lawan dengan pundak, tidak diperkenankan menggunakan tangan, karena dalam permainan ini pelanggaran sering terjadi terutama bila pemain hampir terdesak keluar arena. Dengan seringnya pelanggaran dilakukan maka permainan adu mundur digantikan oleh permainan adu munding.

Permainan benjang sebenarnya merupakan perkembangan dari adu munding atau adu kerbau yang lebih mengarah kepada permainan gulat dengan gerakan menghimpit lawan (piting). Sedangkan pada adu munding tidak menyerat - menyerat lawan keluar arena melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) mendesak lawan dengan kepalanya seperti munding (kerbau) bertarung. Namun gerakan adu mundur, maupun adu munding tetap menjadi gaya seseorang dalam permainan benjang. Permainan adu munding dengan menggunakan kepala untuk mendesak lawan, dirasakan sangat berbahaya, sekarang gaya itu jarang dipakai dalam pertunjukan benjang. Peserta permainan benjang sampai saat ini baru dimainkan oleh kaum laki-laki terutama remaja (bujangan), tetapi bagi orang yang berusia lanjutpun diperbolehkan asal mempunyai keberanian dan hobi.

Apabila kita membandingkan perkembangan benjang zaman dahulu dengan sekarang pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok, hanya pertandingan benjang zaman dahulu, apabila pemain benjang masuk ke dalam arena biasanya suka menampilkan ibingan dengan mengenakan kain sarung sambil diiringi musik tradisional yang khas, kemudian setelah berhadapan dengan musuh mereka membuka kain sarung masing-masing, berikut pakaian yang ia pakai di atas panggung, yang tersisa hanya celana pendek saja menandakan dirinya bersih, tidak membawa suatu alat (sportif). Setelah itu, penabuh alat-alat musik benjang dengan penuh semangat membunyikan tabuhannya dengan irama Bamplang (semacam padungdung dalam irama pencak silat), maka setelah mendengar musik dimulailah pertandingan benjang, dalam pertandingan ini karena tidak ada wasit mungkin saja di antara pemain ada yang licik atau curang sehingga bisa mengakibatkan lawannya cidera. Apabila ada seorang pemain benjang posisinya sudah berada di bawah pertandingan seharusnya diberhentikan karena lawannya sudah menyerah. Namun, karena tidak ada yang memimpin pertandingan (wasit) akhirnya lawan dikunci sampai tidak bisa mengacungkan tangan yang berarti lawannya bermain curang, apabila pemain benjang yang curang itu ketahuan oleh pihak yang merasa dirugikan akan menimbulkan keributan (ricuh) terutama dari penonton, tetapi apabila pemain benjang itu bertanding dengan bersih dan sportif maka pihak yang kalah akan menerimanya walaupun mengalami cidera, sebab sebelumnya sudah mengetahui peraturan pertandingan benjang apabila salah seorang mengalami cidera tidak akan ada tuntutan. Seorang pemain benjang dinyatakan kalah setelah berada di bawah dalam posisi terlentang, melihat tanda seperti itu wasit langsung memberhentikan pertandingan dan lawan yang terlentang tadi dinyatakan kalah (sekarang). Pertandingan benjang seperti zaman dahulu sudah tidak dilakukan lagi, sebab sekarang sudah ada wasit yang memimpin pertandingan, dan dilaksanakan di atas panggung yang memakai alas semacam matras sehingga tidak begitu membahayakan pemain benjang (tukang benjang).

Sedangkan mengenai teknik dan teori benjang dari zaman dahulu sampai sekarang tetap sama tidak berubah, teknik dan teori benjang yang biasa dilaksanakan oleh tukang benjang, antara lain :

1. Nyentok (hentak) kepala

2. Ngabeulit

a. Beulit Gigir,

b. Beulit Hareup,

c. Beulit Bakung,

3. Dobelson

4. Engkel Mati

5. Angkat

6. Dengkekan

7. Hapsay(ngagebot), dan lain-lain



Dalam pertunjukan benjang di masyarakat, jumlah anggota kelompok pemain benjang berkisar antara 20 sampai 25 orang yang terdiri dari satu orang pemimpin benjang, 9 orang penabuh, dan sisanya sebagai pemain. Inti dalam grup benjang ini 15 orang yang tediri atas 9 orang penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit.

Walaupun benjang dikatakan sepi tetapi ada beberapa orang pemain benjang yang mencoba terjun ke dunia olahraga gulat dan mereka berhasil menjadi juara, di antaranya:



1. Adang Hakim, tahun 1967 – 1988 asal Desa Cinunuk

2. Abdul Gani, tahun 1969 – 1970 asal Desa Ciporeat

3. Emun, tahun 1974 – 1977 asal Desa Cinunuk

4. Ii, tahun 1978 – 1979 asal Desa Cinunuk

5. Taufik Ramdani 1979 – 1988 asal Desa Cinunuk

6. Asep Burhanudin tahun 2000 asal Desa Cinunuk

7. Tohidin, tahun 2000 asal Desa Cinunuk kategori anak-anak

Ada pengalaman menarik dari Adang Hakim, bahwa ia pernah dikeroyok oleh beberapa orang pemuda yang tidak dikenal, tiba-tiba mereka menyerang mempergunakan pukulan dan tendangan, Adang Hakim dengan tenang dan penuh percaya diri mampu menyelamatkan diri dengan mempergunakan teknik bantingan, sehingga pemuda tadi tidak berkutik dan yang lainnya melarikan diri takut dibanting seperti temannya. Teknik benjang yang selama ini ia geluti, ternyata bisa digunakan untuk membeladiri di alam terbuka, bukan hanya di arena pertandingan saja. Oleh kerena itu seorang pemain benjang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diri kita selamat dimanapun berada dan selain itu pemain benjang harus selalu ingat pada motto benjang yaitu “jangan sombong dengan kemenangan, dan jangan sedih apabila mengalami kekalahan”.



Benjang dan Gulat

Penulis sangat tertarik sekali melihat teknik-teknik beladiri benjang yang hampir sama dengan gulat, tetapi sebenarnya antara gulat dengan benjang masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, dalam gulat waktu pertandingan dibatas hanya 6 menit, diperbolehkan mengambil kaki lawan seperti gulat gaya bebas, dalam gulat sebelum bertanding diadakan penimbangan badan lebih dahulu, dipertandingkan dengan berat badan yang sama, dan lain sebagainya, gulat sudah mempunyai induk organisasi PGSI, dan dilaksanakan di atas matras.

Sedangkan dalam pertandingan benjang pelaksanaannya masih bebas, tidak ada penimbangan badan lebih dahulu asal pemain benjang (Tukang Benjang) berani menghadapi lawan yang masuk ke arena pertandingan tidak dihiraukan apakah ia badannya besar, tinggi, pendek, gemuk, dan sebagainya harus dihadapi, bahkan sebaliknya apabila ia tidak berani menghadapi lawan yang lebih besar, silakan keluar dari arena pertandingan atau mengundurkan diri (kalau zaman dahulu arena pertandingannya di atas tanah yang kering dan keras), dalam benjang tidak diperbolehkan mengambil kaki lawan tetapi boleh kaki main sama kaki dan tidak ada batas waktu sepanjang pemain benjang itu fisiknya masih kuat dan mampu mengalahkan lawan ia akan tetap berdiri di dalam arena pertandingan.

Persamaannya baik dalam benjang maupun gulat dilarang atau tidak diperbolehkan, mencolok mata, mencekik, menggigit, dan lain sebagainya yang dianggap membahayakan salah seorang pemain benjang atau gulat.

Seni beladiri tradisional Indonesia yang satu ini ternyata sampai sekarang masih ada dan tetap eksis, hanya gaungnya tidak seperti seni beladiri lain misalnya pencak silat atau beladiri asing yang saat ini semakin menjamur di mana-mana. Walaupun seni beladiri benjang belum mempunyai induk organisasi yang menjadi wadah penampungan para tokoh-tokoh benjang, tetapi ternyata sampai saat ini benjang masih hidup dan disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat yang mencintai jenis kesenian tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini di samping kesenian lain di Indonesia.

Sumber majalah DUEL

---------------------------------------------------------------------
artikel ini pernah di post oleh bung Pendekar Muda di Forum Kaskus, dan terinspirasi oleh perbincangan dengan beberapa rekan di Sub Forum Seputar Dunia Beladiri, [Gerakan Lantai] Bambang Suwanda vs Bobbe Edmunds saya memberanikan diri untuk memposting disini, mohon maaf bila salah penempatan...

salam

hartcone
« Last Edit: 06/02/2008 07:42 by HartCone »

HartCone

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 733
  • Reputation: 38
    • Martial Arts Forever
Pathol - Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #1 on: 06/02/2008 07:42 »
Ada satu jenis olahraga gulat tradisional lagi selain benjang yaitu Pathol, dan saya kira masih banyak lagi yang lainnyah yang belum tersentuh media

Olah raga ini populer diwilayah pantai utara mulai dari Rembang (Jawa Tengah) hingga Tuban (Jawa Timur). Seperti halnya gulat lain, pathol mempertandingkan dua orang ditengah arena. Arena pathol biasanya berupa pasir karena itu sering dimainkan di pantai. Kedua atlet pathol hanya mengenakan celana pendek dengan selendang/tali terikat dipinggang. Pegulat yang menang adalah yang berhasil mentelentangkan lawan hingga punggungnya menempel di pasir/arena.

mohon info lebih lanjut mengenai hal ini...
trimakasih

salam

HartCone

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 733
  • Reputation: 38
    • Martial Arts Forever
Gulat Kimaam dari Papua
« Reply #2 on: 06/02/2008 07:59 »
Gulat Kimaam dari Papua mencerminkan transformasi sosial menuju budaya yang lebih beradab. Lelaki dewasa yang ingin memperebutkan gadis tidak perlu lagi berbunuh-bunuhan seperti zaman dahulu. Mereka cukup menunjukkan kepiawaiannya ber-"baku banting" dalam permainan gulat yang sportif di bawah kendali wasit yang netral. Rasionalitas dan kecintaan sesama manusia telah mengubah ajang bunuh- bunuhan menjadi tontonan seni yang menawan.

sumber:
Code: [Select]
www.kompas.com/kompas-cetak/0410/01/daerah/1300515.htm
Festival Dambo di Distrik Kimaam terdiri dari : pertunjukan tari tradisional dan pertunjukan gulat tradisional, Festival ini diadakan pada setiap bulan Agustus di Ibukota Distrik Kimaam. Upacara ini dilakukan untuk mensyukuri hasil alam yang melimpah sebagai karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha esa.

sumber:
Code: [Select]
http://www.bpidmerauke.org/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=60
benerkan, masih banyak gulat tradisional Indonesia...
cuma masih belum di ekspose keluar, saya yakin masih banyak lagi...

salam

parewa

  • Administrator
  • Calon Pendekar
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 6
  • Posts: 601
  • Reputation: 50
Re: Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #3 on: 06/02/2008 08:14 »
mas Hartcone ini bener2 top dah...... [top]
Ane baru tau nih ternyata ada beberapa gulat tradisional di negara kita tercinta....

GRP buat sampean.....

Salam....

HartCone

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 733
  • Reputation: 38
    • Martial Arts Forever
Re: Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #4 on: 06/02/2008 12:52 »
trimakasih mas...
selama ini kan kita kebanyakan tau ttg beladiri stand-up, begitu kita lihat gulat bayangan kita hanyah MMA atau Greco Roman Wrestle, padahal kalau dilihat video yang di posting mas Nagapasa, ga kalah kan keilmuan gulat tradisional kita dg beladiri manca...

cuma sayangnyah ga ada yang perhatian, atau belum sempat diperhatikan...
semoga ajah kedepannyah banyak yang peduli, keadaan yang sama dg gulat filipina: dumog dan buno, keberadaannyah boleh dibilang malah orang pinoy sendiri banyak yang ga tau, begitu MMA dan BJJ mencuat ke permukaan semua pada ribut dg dumog dan buno...

salam

DasaMan

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 681
  • Reputation: 31
    • Email
Re: Pathol - Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #5 on: 08/02/2008 11:34 »
Ada satu jenis olahraga gulat tradisional lagi selain benjang yaitu Pathol, dan saya kira masih banyak lagi yang lainnyah yang belum tersentuh media

Jangan lupa okol di Madura, bahkan kini suda ada paguyubannya segala, menaungi 12 padepokan okol di Madura.

Okol ini mainannya seperti judo berdiri (gak ada GF, gituh), basic clinch positionnya standar over under hook.

DasaMan

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 681
  • Reputation: 31
    • Email
Re: Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #6 on: 08/02/2008 20:26 »
Ini ada tambahan info soal Benjang.

http://www.eastjava.com/news/2007/09/24/bandung-wrestlers-face-it-off-sumo-style/

Matdon, The Jakarta Post, Bandung

Benjang is a traditional game that is believed to have been developed in the Islamic boarding schools of Ujungberung, Cobolerang and Cinunuk districts in Bandung regency.

Benjang players usually pray to have fun and for fair play before a game. The instruments used in benjang include the terbang gendang (a conical-shaped drum resting on crossbeams and beaten with the hands), the bedug (a large drum suspended horizontally) and the trumpet. Sundanese songs are also performed.

Benjang is a form of sumo-like fighting in which the main aim is to push your opponent out of the arena using your shoulders as you are not allowed to use your hands.

According to historical records, the art of benjang was already popular as far back as 1820. In those days, famous benjang fighters were, among others, H. Hayat and Wiranta of Cinunuk village, Bandung. According to Ki Maman, one of the founders of a benjang group called “Ki Sunda”, benjang originally came from Ciwaru village in Ujungberung. Some other people also say this game originated in Cibolerang, Cinunuk. Even today, these two places are home to noted benjang players including Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi and Emun. All of them are endeavoring to preserve benjang.

Benjang is unique to West Java but shares similarities with gedou in Aceh; marsurangut in Tapanuli, North Sumatra; atol in Rembang; patol in East Java; bahempas in Banyumas and sirroto in Bugis/South Sulawesi.

In its development, benjang has undergone a slight change. Some benjang players maintain benjang as a form of traditional wrestling while for others it has become a type of entertainment featuring dancers wearing sarongs and dancing to the accompaniment of traditional music. In the latter case, some of the players might perform feats like eating broken glass or live chickens or setting red-hot coals upon their heads. When benjang players fight, they still use traditional benjang techniques such as nyentok (head butting) and ngabeulit (locking). A benjang group usually comprises about 20 to 25 people including a referee. According to Abdul Gani, the chairman of the Bandung Benjang Association, a number of benjang players have become professional wrestlers.

Currently there are about 30 benjang clubs in Bandung municipality and its surroundings. As many as 20 benjang groups are found in Ujungberung and the rest are spread across various places in Bandung municipality and regency, including Majalaya, Cikutra and Rancaekek. As for benjang players, there are still hundreds of them now.

The benjang club led by Ki Maman in Cikutra now provides only folk entertainment. Does Ki Maman deviate from traditional benjang conventions? “Of course not as we still use the old principles of benjang as our guidelines,” he said.

Mr Red Hawk, itu katanya rekan2 seklub jujutsu ente ada yg mo main ke padepokan benjang, udah jadi belum sih? *kocok2 sangkar elang merah*

HartCone

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 733
  • Reputation: 38
    • Martial Arts Forever
Re: Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #7 on: 08/02/2008 22:19 »
trimakasih buat artikelnyah mas Dasa...
ini saya coban terjemahkan, biar temen2 lebih enak bacanyah  :)

salam.

Quote
Benjang adalah permainan tradisional, dipercaya sudah berkembang di Sekolah Islamiah Ujungberung, Cobolerang dan daerah kabupaten Cinunuk, Bandung.

Pemain Benjang biasanya bersembahyang terlebih dahulu untuk mendapatkan kegembiraan dan permainan yang adil.
Alat yang digunakan untuk mengiringi benjang adalah gendang terbangan  (drum yang berbentuk mengerucut yang terletak di tiang bersilang dan dipukul dengan tangan), bedug (drum besar yang digantungkan secara horisontal) dan terompet. Juga banyak di lantunkan lagu-lagu sunda.

Benjang adalah bentuk gulat seperti sumo, pertarungan mempunyai aturan utama yaitu mendesak lawan dari gelanggang dengan memakai bahu, dan pemakaian tangan tidak diijinkan.

Menurut catatan sejarah, seni benjang sudah populer dipanggung-panggung mulai tahun 1820.
Pada jaman itu, pemain benjang yang terkenal antara lain, H. Hayat dan Wiranta dari seda Cinunuk, Bandung.

Benjang adalahg satu bentuk gulat yang unik dari Jawa Barat, tetapi ada kesamaan dengan dengan daerah-daerah lain seperti: "gedou" di Aceh; "marsurangut" di Tapanuli, Sumatra Utara; "atol" di Rembang; "patol: di Jawa Timur; "bahempas" di Banyumas dan "sirroto" di Bugis/Sulawesi Selatan.

Dalam perkembangannya, benjang sudah menjalani perubahan-perubahan kecil. Beberapa pemain benjang mengatakan bahwah permaian benjang adalah sebagai bentuk gulat tradisional, sedangkan bagi yang lain benjang sudah menjadi sejenis pertunjukan yang juga menampilkan penari dengan memakai sarung sambil iringan musik tradisional. Perkembangannya kemudian, beberapa pemain mungkin akan melakukan atraksi seperti makanan gelas pecah atau ayam hidup atau meletakkan batu bara merah-panas di atas kepala mereka.

Waktu pemain benjang bertarung, mereka masih menggunakan teknik-teknik tradisional teknik seperti nyentok (kepala menanduk) dan ngabeulit (mengunci). Kelompok benjang biasanya terdiri dari sekitar 20 sampai 25 orang termasuk seorang wasit.
Menurut Abdul Gani, ketua Asosiasi Benjang Bandung, sejumlah pemain benjang sudah menjadi pegulat profesional.

Ada sebanyak 30 Klub Benjang di Bandung dan sekitarnyah. Sebanyak 20 kelompok benjang ditemukan di Ujungberung dan lainnya ditemukan di berbagai tempat di wilayah Bandung dan sekitarnyah termasuk wilayah Majalaya, Cikutra dan Rancaekek, masih ada ratusan pemain-pemain benjang sekarang ini.

Klub benjang yang dipimpin oleh Ki Maman di Cikutra sekarang hanya menyajikan benjang sebagai hiburan rakyat.
Apakah Ki Maman menyimpang dari tradisi benjang? "Tentu sajah tidak, Kami masih melakukan prinsip2 kuno yang memberi arah pada kami semua" jawabnya (Matdon, The Jakarta Post, Bandung - Diterjemahkan oleh HartCone)

« Last Edit: 08/02/2008 22:25 by HartCone »

DasaMan

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 681
  • Reputation: 31
    • Email
Kawan2,

Seperti yang telah kita ketahui, kini FILA memayungi 4 kelas gulat: freestyle, greco-roman, grappling (submission wrestling), dan beach wrestling.

Sangatlah indah kiranya bahwa beach wrestling ditujukan bagi para pegulat tradisional yang tidak sempat ataupun tidak mau pindah ke nomor2 yang sudah lebih mendunia sebelumnya. Semoga akan ada pihak2 yang mengadakan event2 beach wrestling di Indonesia, sehingga semua pegulat tradisional Indonesia akan dapat terlihat keberadaannya.

Jali Jengki

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 828
  • Reputation: 43
  • Love Pencak Silat, Proud to be Indonesian
Re: Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #9 on: 14/01/2009 10:09 »
Sekadar informasi:

Di lapang bal (Lapangan Bola) Cinunuk Kabupaten Bandung, setiap Sabtu atawa Minggu diadakan pertandingan Adu Domba, diselingi dengan acara atau kegiatan kesenian lain, termasuk salah satunya Benjang yang orang2 Cinunuk sangat menggemarinya.

Pertandingan Adu Domba dan ketangkasan lain dimeriahkan tidak saja dari lokal Cinunuk dan Bandung, melainkan juga dari kabupaten lainnya, seperti Garut, Majalaya, Tasik, Ciamis dsb. Cuma sayangnya kegiatan ini masih terkesan non formal, tidak dikemas secar baik oleh Pemda setempat.

Tabe'
Kullu Nafsin Zaaiqatul MAUT

ontoseno

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 68
  • Reputation: 2
Re: Gulat Tradisional Indonesia
« Reply #10 on: 17/01/2009 00:30 »
manteb bener dah senior-senior silat wawasan elmu nya luas.
 jd kalo nyang semodel ju jitsu, itu gulat nyang mana nyang made-in sini. klo di jakarta ade ga, biar sekali kali kite bs nonton, buat bahan bacaan di dalem permaenan kite.

 

Powered by EzPortal