+-

Video Silat


padjadjaran nasioan - Performance silat di acara u
ICE 2009, gerak gulung
Cingkrik Goning - Performance silat di acara ultah
Eksibisi @ Pencak Silat Word Championship 2010 - M
Silat Paseban Taqwa Betawi Babe Cacang Murtadho
Silek Harimau di FIB UI
Gerak Gulung di FIB UI
Tarung Bebas Genggong - Pesilat vs Santri
Final Pencak Silat Sea Games XXVI kategori Regu Pu

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: PPS Betako Merpati Putih  (Read 580994 times)

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #150 on: 12/10/2010 23:51 »
Masih kurang dua topik lagi, yaitu diversifikasi program latihan dan last but not least, potensi pendanaan u MP/ perguruan tradisional.

Salam.

Mantrijeron14

  • Moderator
  • Anggota Senior
  • **
  • Thank You
  • -Given: 25
  • -Receive: 19
  • Posts: 390
  • Reputation: 50
  • terrorizing people wherever I go
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #151 on: 13/10/2010 08:32 »
Pak Prapto, Mas mpcrb... ane numpang ngadem di marih....

Sik ane setel dulu language mode saya... beeeep... click!

Nah... sekarang lebih enak.
Sodara-sodara sekalian mengikuti perbincangan sampeyan-sampeyan ini rasanya kok sayang kalo dilewatkan. karena masalah yang disentuh pada dasarnya ya hal yang sama yg menjangkiti perguruan tradisional bukan hanya MP, utk hal ini saya mohon ijin nyimak dan mengambil kesimpulan dari pembicaraan sampeyan semua, dus kalo dilain hari jangan sampe ada tuntutan hak cipta  ;D

Belom lagi nilai-nilai yang diwedar oleh pak Prapto.... [top]

Saya boleh atur pertanyaan kan ...pak, mas:

Tujuan olah nafas bermuara ke terbukanya mata hati, banyak banget nih kalau saya ikuti muara hampir bbrp aliran silat utama yang mendefinisikan demikian. beberapa sub aliran bahkan menjadikan nama perguruan: Setia Hati, Persatuan Hati, Hati-hati komplek militer... hehehe yg terkahir papan peringatan ding bukan papan perguruan. [lucu]. Jikalau beladiri berhenti di tataran gerak, kenapa harus melibatkan hati?? Di manakah fungsi hati/ roso sakjroning roso dalam menuntun gerak pembelaan diri? Atau memang prosesnya adalah melalui gerak dahulu, baru ketemu "obahing ati".....

secondly, ketidakseragaman gerak. nah ini juga jadi polemik di lingkungan saya. Pelatih ini bilang A, pelatih itu bilang A+, dsb. Menurut saya/ IMHO beladiri adalah kepribadian. gerakan detil tentu tidak akan sama dari setiap individu. Hal itu tergantung pemahaman, pengolahan pribadi dan tentu saja kesenangan/ preference.. tugas pelatih/ guru ya memberikan substance yang benar, dus melenceng dikit ya ndak papa... asal jgn substancenya yg beda.

Fighting style MP?? Saya sangat menyayangkan kalau masih ada yg beranggapan tidak bisa buat fight dan terpaksa mencari diluar. Saya kenal pesilat MP mas Gatot, waktu itu si mas di fakultas Fisipol Bulaksumur State Univ (ssst....biar kayak LN), saya di FE jurusan ekonomi lemah... kami lumayan sering bertanding mewakili tempat nongkrong kami, bedanya mas Gatot di kelas H, saya kelas gurem :'(, yang saya amati walopun badan segede gaban tapi gerakan secepat pesilat kelas D!! Amazing saya dan bahkan praktisi yang lain dibuatnya. Menurut saya lagi... pencarian di luar tak lebih dari proses pendewasaan, proses menemukan jati diri..... kata uda SK, dimano juo dicari, di rumah ambo temukan (bener ra ki nulise' dab??). Hanya saja senior perlu memberikan hook/ kaitan supaya si petualang ini bisa mengerti keluhuran perguruan yang bersangkutan jadi kalopun nemu metode.... sekali lagi metode, bukan basic concept yang dirasa lebih pas, ya pasti dia cuma memakai metode bukan prinsip dasar. Bahkan tidak mustahil, jika dengan pemahaman diluar, si murid makin yakin dengan keluhuran perguruan dan balik maning mersudi di muasalnya kembali.

sumonggo warga MP yg laen mbok yao nderek... ikut berbagi disini.

wassalam
"Gerak tak lebih cepat dari pikiran, hati tahu lebih dulu."

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #152 on: 13/10/2010 09:42 »
kang MJ, saya memahami maksud kakang. :)

Ketika saya berbicara fighting style MP, sebenarnya ini hanyalah suatu perenungan. Setiap fight adalah khas. Saya hanya merenung, apakah mungkin ketika kita melihat suatu teknik pertarungan, kita bisa tahu 'oh itu MP', atau 'oh itu SHT', atau 'oh itu Tapak Suci', dan yang lainnya. Fight is a fight. Semua gerakan tentu (relatif) boleh untuk dilakukan. Kalau sudah tidak ada jalan lain kecuali dengan membenturkan jidat kita ke muka lawan, ya silahkan dilakukan. Meski tidak ada pengajarannya pada tataran keilmuan.

Seperti Jiujitsu yang terkenal dengan grapplingnya, atau Muay Thai yang terkenal dengkulan dan sikutannya. Saya tidak bermaksud untuk silau terhadap mereka, tidak sama sekali. Dan tidak berharap MP atau Pencak Silat menjadi seperti mereka. Ini hanya suatu pemikiran saja. MP punya gerakan tangan, kaki, hindaran, tangkisan, tangkap kunci, bantingan, guntingan, getaran, dsb, yang (dalam pemikiran saya) bagaimana bisa diramu secara khas sehingga semua potensi bisa dimaksimalkan. Bagaimana uji pematahan benda keras statis mulai dicobakan diganti dengan dinamis, dengan cara melempar beton cor atau kikir atau besi dragon ke udara dan kemudian dipatahkan. Dicoba dilakukan selama 30 detik dengan 20 besi dragon, dsb. Ini hanyalah bentuk pemikiran sehingga ada sesuatu yang baru dari yang selama ini ada. Tidak mengganti yang sudah ada, hanya mengembangkan menjadi lebih baik.

Ini lebih pada masalah bagaimana mengatasi krisis identitas. Sepanjang yang saya amati, krisis identitas juga terjadi pada perguruan lain. Berapa banyak demonstrasi pencak silat yang tidak mirip pencak silat? To catch the fish? I agree. Tapi seringnya kebablasan dan membawa itu terus. Kalau yang belajar ini dilakukan oleh yang sudah memahami hakekat, yang sudah cukup matang, tentu tidak masalah. Ia bisa memilah dan memilih. Ia juga tidak akan silau. Masalahnya kalau ini dilakukan oleh orang biasa-biasa saja, dimana pengajaran pemahaman filosofi sudah mulai jarang ditanamkan sejak dini, sejak awal masuk, tentu akan menyebabkan asimilasi yang kurang pas. Sebagai suatu proses pencarian jati diri, saya sepakat. Tapi tanpa kesiapan mental, kesiapan nilai-nilai, tentu kita tidak bisa menjamin hasil akhirnya akan lebih baik dari sebelumnya.

Itulah yang kemudian membuat jadi terlalu liberal. Belum lagi minimnya pengkondisian untuk menciptakan ruang battle di zaman sekarang di setiap cabang.

Selain itu, tidak semua berpikir sama seperti saya, kang MJ, mas Suprapto. Kebanyakan dari anggota pencak silat, belajar silat bukan sedari awal diajarin filosofinya, tapi langsung masuk pada gerakan-gerakannya, olah nafasnya, berharap jadi sakti instant, dsb. Masuk MP berharap langsung belajar getaran, bisa merasa sakti, bisa matahin ini itu, sudah merasa keren, dsb. Ini kenyataan di lapangan. Dan terjadi juga pada beladiri lain. Tubuh wadag terisi oleh gerakan-gerakan silat, tapi tubuh batin (seringkali) kosong oleh nilai. Plus itu tadi, atas nama pemassalan, terpaksa mengangkat pelatih yang belum matang. Kalau perguruan itu hanya ada pada satu daerah saja, rasanya tidak akan masalah. Karena terpusat, mudah diketahui segalanya. Tapi kalau sudah lintas geografis, tentu harus menjadi sub pembahasan yang harus diperhitungkan.

Kondisi pekerjaan, kedinasan, atau sebab musabab lain tidak memungkinkan untuk berguru langsung pada seorang guru selain daripada senior di daerah dimana ia berada. Atau kebalikannya, sang guru datang ke daerah secara rutin, tersebar, dan mengajari secara khusus juga cukup sulit dilakukan. Kecuali ya saat-saat liburan. Lain dengan cerita zaman dulu, yang tinggal naik kuda saja lalu ngelmu.

Mengenai kalimat ini:

"Hanya saja senior perlu memberikan hook/ kaitan supaya si petualang ini bisa mengerti keluhuran perguruan yang bersangkutan jadi kalopun nemu metode.... sekali lagi metode, bukan basic concept yang dirasa lebih pas, ya pasti dia cuma memakai metode bukan prinsip dasar. Bahkan tidak mustahil, jika dengan pemahaman diluar, si murid makin yakin dengan keluhuran perguruan dan balik maning mersudi di muasalnya kembali."

Saya sepakat. Tapi yang sering terjadi di lapangan kenyataannya tidak seperti itu. Gelitikan untuk mencoba-coba lebih besar dibanding penanaman keluhuran budi. Plus ditambah minimnya penanaman filosofi. Sudah berlatih 1 minggu 2x, masing-masing paling banter hanya 2-3 jam maksimal. 5 hari x 24 jam berada di masyarakat, melihat televisi, berita di koran, dsb. Tentu penetrasi inilah yang sangat kurang. Metode penyeimbang antara pemberian nilai-nilai itu mutlak berada di tangan pelatih. Sambil mengajarkan gerak, berikan nilai-nilai. Sambil mengajarkan nafas, berikan nilai-nilai. Proses seperti ini yang sudah sangat jarang saya lihat pada hampir kebanyakan PPS. Membiarkan si murid tumbuh sendiri, gede sendiri, baru nanti diajarkan keluhuran keilmuan. Lha wong kita bisa nulis sekarang ini karena dulunya sedari kecil 'dipaksa' untuk nulis toh? Kita bisa baca karena dulunya sedari kecil 'dipaksa' untuk baca? Pada akhirnya kita berterima kasih atas 'paksaan' tersebut. Kenapa pembabaran keluhuran filosofi dan nilai tidak bisa kita tanamkan sedari awal murid masuk menjadi anggota?

Btw, pernah ketemu mas Gatot juga ya? Salam saja mas. Kebetulan saya juga pernah dilatih oleh beliau. Beliau waktu menjelang Kejurnas MP 97 juga melatih saya dan kawan-kawan. Dan sempat merasakan fight juga sama mas Gatot. :) Dulu saya sering bilang kalau mas Gatot adalah 'Samo Hung'-nya Indonesia. :) hehehe

Kalo ketemu, salam dari mas Agung, Cirebon. Yang tendangan sampingnya menyamai kecepatan tendangan mas Gatot. Hehehe (itu dulu tahun 90-an). Sekarang yo perut wis maju... :)


salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #153 on: 13/10/2010 10:08 »
2. Padepokan MP Cirebon. Atas upaya ketua MP Cirebon waktu itu, mas E.M.Wongkaren, diserahkan ke MP Cirebon. Berfungsi sebagai tempat latihan dan gedung pertemuan.

Kebetulan saya adalah mantan Sekretaris Cabang Cirebon untuk 3 periode kepengurusan. Ketika ketua terpilih dipegang oleh Mas Hasan, kemudian ketua terpilih dipegang oleh Mas Benyamin (mas Ben) dan saat ini ketua terpilih dipegang oleh Mas H. Toto. Untuk yang terakhir, karena ngikut kantor ke Jakarta, terpaksa melimpahkan ke wakil sekretaris untuk handle operasional di Cirebon. Kendala kedinasan saat ini tidak memungkinkan untuk stay sepenuhnya di Cirebon.

Meski bukan yang terbaik, tapi saya mengamati sepenuhnya pengurusan padepokan MP Cirebon untuk beberapa periode, plus kendala-kendalanya kepelatihan dan kelebihannya. Juga kendala-kendala manajemen di daerah. Saru-siku antar senior, dsb. Jadi, sedikit banyak, saya memahami kondisi yang pusat alami (meski jauh lebih rumit dibanding daerah).

Pendanaan memang masalah klasik yang abadi. :) Beberapa inovasi pengurus MP Cirebon adalah dengan menyewakan padepokan untuk event-event musik dan event olahraga senam (seperti senam Tai Chi, senam berbasis kickboxing, dsb). Beberapa group Band sudah sering manggung di padepokan MP (sekaligus promosi juga kepada pengunjung) seperti KLA Project, Dewa 19, Boomerang, dll, bahkan luar negeri seperti Firehouse. Tujuannya untuk 'tambal sulam' pendanaan. Jaringan-jaringan ke pemerintahan dijalin. Mulai dibuat proposal untuk masuk pada sektor-sektor vital sehingga dengan demikian sedikit banyak mulai bisa 'mengamankan' asset. Kepelatihan, yang atas nama pemassalan, juga kami alami disini. Perbedaan gerak juga demikian. Kami berterima kasih atas sumbangsih dari pak Mike Wongkaren, karena berkat beliaulah padepokan masih tetap megah berdiri (dengan kualitas besi baja super pada rangkanya). Tinggal menjadi PR Cirebon untuk menggali keilmuan dan memajukan perguruan. Saat ini yang masih sangat aktif adalah pembibitan pesilat untuk seni dan laga. Untuk laga, sudah mulai menampakkan hasil dengan pesilat Cirebon yang mulai 'merangkak' naik dari daerah hingga ke nasional. Sedikit banyak mulai dibenahi, agar potensi perpecahan bisa dihindari.

Sejujurnya, jangankan di pusat mas. Untuk Cirebon sendiri juga bahkan mulai jarang ngumpul-ngumpul ngebabar keilmuan dari pada senior. Egosentris masih terjadi, yang kalau tidak disikapi dengan bijak, tentu potensi perpecahan akan muncul. Terkadang bertanya, kenapa ini muncul di level senior? Merenung, melihat urut-urutan peristiwa, mengamati apa yang mereka berikan kepada saya, kemudian sampai pada kesimpulan dimana sejak awal pengajaran pemahaman filosofi kalah dengan pengajaran keilmuan. Bisa jadi di perguruan lain juga demikian. Kalau ini tidak dibenahi juga, maka generasi senior yang akan datang akan 'mewarisi' juga seperti yang sekarang. Instruksi dari pusat memang seharusnya lebih jelas dan lebih keras mengenai pentingnya penanaman dan pemahaman filosofi bagi mereka yang ditunjuk untuk masuk pada jalur kepelatihan (terutama pelatih utama).

salam.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #154 on: 13/10/2010 11:39 »
Tujuan olah nafas bermuara ke terbukanya mata hati, banyak banget nih kalau saya ikuti muara hampir bbrp aliran silat utama yang mendefinisikan demikian. beberapa sub aliran bahkan menjadikan nama perguruan: Setia Hati, Persatuan Hati, Hati-hati komplek militer... hehehe yg terkahir papan peringatan ding bukan papan perguruan. [lucu]. Jikalau beladiri berhenti di tataran gerak, kenapa harus melibatkan hati?? Di manakah fungsi hati/ roso sakjroning roso dalam menuntun gerak pembelaan diri? Atau memang prosesnya adalah melalui gerak dahulu, baru ketemu "obahing ati".....

Punten untuk beranikan diri menjawab, mohon jangan diketawakan jika jawabannya seperti jawaban anak kecil. Maklum, masih proses mersudi.

Menurut pemahaman saya, hati adalah sumber dari segala 'kesaktian'. Ya 'kesaktian' lahiriah, ya 'kesaktian' batiniah. Tak ada yang tidak bisa 'dilihat' oleh hati. Plus ia adalah satu-satunya 'alat kontak' terhadap Sang Maha Pencipta. Apabila baik hatinya, maka baik pula tindakannya. Apabila buruk hatinya, maka buruk pula tindakannya. Dari dalam hati, tercermin lisan, meluas kepada tindakan.

Akan tetapi, untuk menuju kearah situ tidaklah mudah. Ada tangga yang harus dilalui, ada ruang yang harus dilewati. Kita tahu bahwa hidup adalah proses yang amat rumit. Hidup adalah proses pencarian, proses mersudi. Semua pengetahuan lahir dari proses mersudi. Semua kesaktian lahir dari proses mersudi. Kalau sudah tidak bisa mersudi, maka sudah mengalami kematian. Selama masih ada hayat di kandung badan, maka proses itu masih berlangsung. Kemudian diwujudkan melalui tindak, melalui tindakan.

Dan gerak adalah SALAH SATU dari sekian banyak proses mersudi, proses mencari hati sejati yang diwujudkan melalui tindak, melalui tindakan. Gerak dalam beladiri adalah salah satu jalan pencapaian ke arah hati sejati. Seringkali berisi filosofi, kenapa gerak tangan harus mengarah keatas, kenapa kepalan diarahkan kebawah, dsb. Ini adalah salah satu jalan untuk mersudi yang telah ditemukan oleh para local genius kita.

Para sufi, pendeta, biksu, melakukan proses mersudi untuk pencapaian yang sama melalui semedi atau meditasi atau tirakat atau sejenisnya. Meski berbeda, tapi bisa menuju hasil yang sama. Keragaman tidak terlepas dari intinya. Disimbolkan, gerak adalah aspek syariat, aspek lahirian yang (relatif) mudah dipelajari oleh siapapun. Aspek hakekat ada pada nilai-nilai yang ditanam di dalamnya.

Dalam konteksnya dengan beladiri, pencapaian tertinggi adalah pencapaian hati, pencapaian pemahaman tertinggi, pencapaian pencerahan. Ketika hati sudah mencapai langit, maka ruang dan waktu menjadi kecil. Dimensi menjadi bisa dilewati. Raga sudah tidak jadi penghalang. Pada tahap ini, manusia sudah mampu mengungkap hukum alam. Sulit sekali untuk dicapai, tapi tidak mustahil.

Kecepatan gerakan, tidak akan dapat mengalahkan kecepatan pikiran. Tetapi hati bisa tahu lebih dulu. Dalam kondisi ini, maka gerakan seperti apapun akan bisa dideteksi, arah lintasan apapun akan dapat 'dilihat', niat seperti apapun akan bisa diketahui. Kalau sudah begini, teknik apapun akan tunduk dengan sendirinya karena sudah terbaca.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #155 on: 13/10/2010 12:24 »
kangmas Mantri.

Sumangga, falsafah keilmuan kan nilai2 umum dari kearifan lokal, sudah milik umum.

Agak capek ngurusi masalah itu2 aja , pelatih atau "senior" yg baru lucu2nya, saya memang tanya/mempermasalahkan ke mas Poeng, ada apa dengan penanaman nilai luhur/falsafah keilmuan. Pemberian materi falsafah di penataran pelatih, hanya ditanggapi dgn bagaimana cara menulis/mengucapkan yang benar, nyaris tidak nyambung.
Mas Poeng bilang, memang perlu "sangat/saat", atau sengaja diciptakan agar situasinya nyambung, nanti tinggal diwedar, lebih mudah masuk. Mas Poeng terbiasa medar kalau pas santai wedangan. Perlu momentum.

Baru saja kita alami sendiri di forum SS.
Sepertinya sudah lama akang Taufan mengungkapkan tentang GG, "tata gerak dilatih sampai masuk dalam lahir batin pesilat" ; kangmas Ajigineng tentang " dibolan- baleni nganti nyawiji karo badaniro".
Ketika uda Suporter melontarkan  "aplikasi jurus dalam bertarung" yang memancing penghayatan tata gerak/jurus dengan rasa, kemudian bang Antara dengan "Olah Jemparing", dan terakhir mas mpcrb dengan SP dan TT, maka filosofi keilmuan menemui momentum untuk dibahas.

Nilai2  "ngelmu kelakone kanti laku" dan "sopo temen bakal tinemu", sebenarnya sudah masuk sejak awal melalui program latihan.
Bahwa kalau tidak MELAKUKAN latihan dengan niat dan cara yang benar, maka dalam ujicoba nanti akan kelihatan, sasaran patah atau malah tangannya yang memar. Postur preman bisa kalah dengan putri yang lembut.
Sifat premanisme, tdk mau kerja, minta hasil seketika, akan tereliminasi disini.

Waktu mas SOLIHIN GP, terpilih menjadi Ketum MP, beliau minta penjelasan selengkap mungkin mengenai falsafah keilmuan, agar tidak salah dalam melakukan gemblengan ke anggota. Karena tingkatnya sudah cukup (kombinasi II reguler, bukan kehormatan, kolat Bina Graha), maka mulai latihan getaran dan dasar gerak naluri, untuk persiapan ujian ke Khusus I di Yogya.
Beliau telpon :

 "mas, kalau tata gerak dan pematahan benda keras saya beres, tapi latihan getaran nggak bisa2. Emang yang bisa hanya orang Jawa ya, abis pakai filosofi Jawa."

Beliau berani ngeluh ke saya krn saya ketua harian, bukan pelatih, apalagi guru.
Saya menjawab sekenanya: " coba pa, sholat yang khusuk. Selesai sholat, dengan sikap khusuk tadi, langsung latihan getaran". Besoknya beliau telpon dengan ceria : " wah mas ,  udah bisa, getaran terasa kuat. Bener juga nih elmu. Hahaha".

Kejadian tadi saya sampaikan ke mas Poeng, yang kemudian menyimpulkan, harus dicari cara yang pas. Kalau memasukkan falsafah Jawa secara "letterlijk", lawaran, tulisan singkat, mudah terjadi salah paham. Kemudian mas Solihin GP dalam melakukan pidato gemblengan ke anggota, dipersilahkan kalau lebih sreg dengan memakai ungkapan2 luhur prabu Siliwangi.
Sama saja.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #156 on: 13/10/2010 14:33 »
semakin ketemu lagi benang merahnya :)

jika gerakan jauh dari tuntunan, jika panutan abaikan kepatutan, jika sesepuh tak lagi mau patuh, maka kemana jiwa awam nan kering ini hendak berlabuh?

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #157 on: 13/10/2010 14:43 »
Apapun yang telah terjadi, itu adalah suatu kenyataan. Apapun yang nanti akan kita hadapi, itu adalah suatu keniscayaan. Seandainya bisa informasi-informasi berharga (yang meski sudah jadi milik umum, tapi banyak yang tidak diketahui) ini bisa didistribusikan kepada seluruh cabang, pelatih, di semua daerah...

Jadi ingat pesan terakhir Kyai Haji Ahmad Dahlan di film 'Sang Pencerah':

"Hidup ini singkat dan hanya sekali, jangan hanya mengurus diri sendiri, Allah bersama orang-orang yang peduli..."

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #158 on: 14/10/2010 00:24 »
DIVERSIFIKASI PROGRAM LATIHAN.

Dalam perjalanan MP, mudah ditengarai adanya berbagai macam kebutuhan/interest menyangkut program latihan.
 
Sekurangnya ada kebutuhan pendalaman yang berbeda beda dalam kecabangan keilmuan pencaksilat.

Kemudian ada kebutuhan khusus yang merupakan pengembangan pencaksilat untuk manfaat yang lebih luas.

Dilain pihak, program latihan standar/reguler yang ada, memang dirancang moderat, sehingga pembobotan beban latihan dirancang untuk kondisi pesilat rata2/umum, untuk rentang usia yang lebar, baik putra maupun putri.

Dalam perjalanan waktu, sudah semakin mendesak, kebutuhan program latihan yang berbeda beda.
Bahan sama, tapi racikannya beda.
Antara lain:
* Program latihan khusus penunjang kedinasan (TNI/POLRI). Sedangkan untuk petugas SAR/KSR PMI/ICRC, ditambah materi latihan deteksi survivor.
* Program latihan khusus/pendalaman bidang penyembuhan.
Bidang ini, saat ini menjadi favorit pendalaman para senior, bergeser dari trend kanuragan. Menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi. Termasuk disini riset deteksi aura/jenis energi berbagai tumbuhan, guna keperluan pengembangan pengobatan herbal .
* Program latihan khusus beladiri praktis. Diperlukan oleh wanita/pria yang tidak cukup waktu untuk ikut latihan reguler.
* Program latihan atlit IPSI.
* Program latihan yang memberi pembobotan lebih pada aspek beladiri. Termasuk disini penyiapan atlit tanding MMA.
* Program latihan untuk usia dini (dibawah 14 tahun), tanpa olah nafas.
Dan seterusnya.

Pelatih tinggal melihat catatan tentang racikannya, sedang unsur/bahan2 sudah tahu/sudah dikuasai.
Penyusunan program latihan harus teliti, fokus,berdasar kebutuhan dan kondisi lapangan.

Program latihan untuk pemanfaatan yang lebih luas:
* Program senam kebugaran berbasis pencaksilat.
* Program latihan tunanetra , tunarungu (bisu tuli).
* Program latihan penunjang rehabilitasi korban narkoba.
* Program latihan penyegaran sel.
* Program latihan penunjang prestasi atlit olahraga selain silat.
* Program latihan penderita diabetes.
Termasuk menyusun bentuk senam pasien, merujuk garis energi/meridian, untuk mempercepat penyembuhan sakit tertentu.
Dan seterusnya.
Beberapa program yang sudah disusun dan dilaksanakan MP, perlu evaluasi dan ditingkatkan.

Masing masing perguruan tradisional tentu memiliki kekhasan masing masing yang berpotensi untuk dikembangkan.
Bertujuan agar pencaksilat mengcover seluas mungkin, segmen2 di masyarakat. Serta memberi manfaat seluas luasnya kepada masyarakat, dengan segala sesuatu yang berbasis pencaksilat.

Salam.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #159 on: 14/10/2010 05:11 »
POTENSI PENDANAAN
UNTUK MP/PAGURON TRADISIONAL.

Potensi sumber dana, kita bagi tiga kelompok:

A. Kelompok Pemerintah/BUMN/Industri Besar.
B. Kelompok Masyarakat dan lembaga donor.
C. Internal perguruan.               -

A.

Perhatian pemerintah pusat dan daerah kepada pencaksilat, dari hari kehari terus meningkat.
Sebagaimana pemerintah negara lain, perhatian pertama tentu pada aspek sport. Demikian juga sikap pemda. Barangkali karena lebih terukur, prestasi medali, lebih mudah mempertanggung jawabkan anggaran kepada DPR/DPRD.
Belum menyentuh anggaran untuk perguruan/klub.
Tapi setidaknya memberi kesempatan/ajang kepada pelatih dan atlit pesilat untuk berkiprah dan berprestasi, dengan peluang mendapat fasilitas dana, bonus, kesempatan jadi PNS, tambahan nilai, tunjangan rumah, tunjangan hari tua dsb, baik dari pemda maupun pemerintah pusat. Ada jalur pelajar, jalur mahasiswa dan jalur umum.
Sedikit banyak menambah apresiasi masyarakat terhadap pencaksilat.

Belakangan mulai dibuka kesempatan mengisi kegiatan ekstra kurikuler disekolah sekolah. Disini perguruan bisa mulai berperan dan mendapatkan dana, dengan mengorganisir pelatih2nya. Tentu ada kegiatan pemenuhan syarat administratip, penyiapan program, penyiapan pelatih dan pengawasan pelaksanaan/kendali mutu. Selalu siap mengantisipasi mutasi pelatih.
Apabila kegiatan di DKI dan Cianjur berjalan sukses, kemudian merebak kemana mana, tentu skala dananya tdk bisa dipandang enteng oleh perguruan2 silat.

Peluang selanjutnya adalah dibidang pariwisata dan budaya. Perguruan bisa mengisi kegiatan pariwisata dan budaya. Ada peluang kecil, tunjangan bagi guru silat sebagai seniman budaya nasional.

Dari BUMN/INDUSTRI BESAR, ada dua macam kesempatan. Yaitu dana CSR (corporate social responsibility), dan peluang untuk melatih karyawan dalam skala besar, terutama pada industri agro (mis pabrik gula dgn lahan tebu ribuan hektar) dan industri pertambangan ditempat terpencil.
Ada juga peluang kerjasama dengan grup swasta nasional besar, dengan chemistry yang sama, mendukung brand Indonesia. Kalau peluang dari perusahaan rokok ada sih, tapi ada trend pengendalian produk tembakau yang semakin ketat.

Mengikuti trend di China, bahwa karyawan yg ex sekolah kungfu, terbukti diatas rata2 dibidang disiplin dan keuletan fisik. Maka pencantuman "pesilat" pada cv, mulai mendapat prioritas pada perusahaan asing ex Asia. Menguntungkan bagi pesilat, "tergantung"  bagi perguruan.

B.
Potensi dana dari masyarakat , berkaitan langsung dengan program perguruan yang "melayani"/memberi nilai tambah pada masyarakat. Program2 yang termasuk manfaat lebih luas dari pencaksilat, apalagi yang berdampak finansial bagi penggunanya.

Sebagai misal, pada perguruan tradisional yang mempunyai keistimewaan pada patah tulang dan ilmu lulut (salah urat, keseleo, cedera otot), bisa serius mengembangkan dan menambah personil yg handal. Perguruan mengorganisir dan mentarget pemain bola kelas dunia yang bergaji milyaran rupiah, dimana kalau sembuh lebih cepat, ada dampak finansial. Tentu ada perjuangan bertahap dimulai menangani atlit nasional dan modal kerja yg disiapkan perguruan. Sasaran lain adalah pemain tenis yg cantik dan kaya. Kenapa tidak.? Hehehe..
Tidak cukup hanya kesian pada pendekar ahli lulut dan patah tulang.

Sedangkan potensi dana lembaga donor, dibahas dibawah.

C.
Potensi pendanaan INTERNAL PERGURUAN.

Kita tinjau dulu beberapa model pendanaan perguruan.
1. Perguruan yg merupakan badan otonom dari organisasi kemasyarakatan (besar). Sudah punya komunitas yang tentunya mendukung pendanaan. Misal TS oleh Muhammadiyah, Persinas ASAD oleh LDII, Pagar Nusa oleh NU. Persebarannya nyata.
2. Perguruan yg pendanaannya didukung pembina yang kaya raya.
Apakah perkembangan perguruan maju pesat? Ataukah drive untuk menggali potensi dana alternatip, malahan melemah? Kita tunggu kabar dari teman2 di PSTD dan SMI.
3. Ada model PSHT. Menurut penuturan salah satu tokohnya, mas Arti Siswoyo, PSHT mendapat kontribusi dari sekurangnya 8 SPBU di Jakarta, lumayan untuk anggaran pengurus. Ada kontribusi kecil dari iuran. Model, perguruan punya sumber dana dari saham di suatu usaha bisnis.
4. Model MP.
Modal dasar dari iuran anggota, ada biaya sertifikat tingkat, KTA.
Tetap saja, andalan utama adalah dari kontribusi pengurus dan partisipasi anggota selain iuran. Belum bisa menggaji/tunjangan guru.

Mengenai BESARAN IURAN:
Tidak boleh menyentuh batas psikologis, sehingga terkesan "jual beli", sehingga mematikan tingkat partisipasi anggota/pengurus.

(bersambung)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #160 on: 14/10/2010 09:16 »
Terima kasih mas atas kesediaan untuk sharingnya. Ini sungguh sangat berharga. Tidak hanya bagi diri saya pribadi, juga saya yakin akan manfaat bagi perguruan lain yang membacanya. Tidak musti harus mengikuti, tetapi minimal sebagai bahan masukan dan perbandingan.

Ada yang sedikit menjadi pertanyaan saya mas. Kalau melihat paparannya, semua hampir didasarkan pada keilmuan dan implementasi keilmuan. Porsi dimana penanaman filosofi dan nilai-nilai perguruan sepertinya belum ada. Atau memang bukan bagian dari paparan tersebut? Maksudnya, mungkin itu ada pada divisi Bintal tersendiri dengan SWOT-nya. Sebab kalau melihat 2 paparan tadi, sepertinya merupakan sebagian garis-garis besar haluan MP (saya istilahkan saja demikian) yang berarti mencakup semua hal. Tidak mencantumkan penanaman nilai-nilai filosofis perguruan berarti memang tidak (atau belum saatnya) dimasukkan. Apakah ini sengaja atau memang belum mendapat perhatian?

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #161 on: 14/10/2010 13:01 »
@ mas mpcrb

Urutannya, Untuk memberi masukan PPMP menyusun analisa SWOT, adalah mengumpulkan kelemahan-kekuatan-tantangan-peluang, makanya kita brainstorming mengevaluasi filosofi, visi/misi, garis besar haluan kerja, program umum, fakta lapangan dan anev nya (analisa dan evaluasi) baru ke usulan/rekomendasi program kerja.
 
Kalau menyusun program kerja terkait anggaran, diluar kompetensi diskusi.

(sambungan):

perihal "pengabdian masyarakat"

MP ada peluang untuk memanfatkan ilmunya. Ada batas moral, antara kita mengabdikan/mempersembahkan sesuatu, sementara dilain pihak perguruan memang butuh dana untuk program lain. Misal tentang tunanetra. Kita menolong mereka, atau justru lebih memanfaatkan mereka untuk cari duit untuk kita sendiri? Harus proporsional, menjaga kepatutan dan batas moral.
 
Hal ini berlaku apabila kita mendapat bantuan dana dari luar, apakah sumbangan pribadi atau lembaga donor.
Kita masih bisa memasukkan penataran pelatih, honor pelatih dilapangan dan SEDIKIT manajemen fee untuk perguruan.

Pada SKALA yg terjadi/dicapai sampai saat ini, MP perlu badan usaha yang memang bisnis oriented, profesional, akuntabel, modal dikumpulkan dari gotong royong. Sehingga ada dana tetap yang patut untuk menfasilitasi dewan guru dan perguruan, mengurangi beban dan fluktuasi perolehan dana oleh PPMP dan berdampak pada subsidi anggaran kegiatan pada cabang cabang.

Barangkali para senior sudah terikat pada rutinitas, seolah olah atas nama pakem, padahal nggak juga.
Generasi penerus berpeluang melakukan terobosan, tanpa mengorbankan JATI DIRI nya.
Terbukti pada kasus MP, setelah sekian lama terbatas untuk keluarga, th 1963 terbuka/diabdikan untuk BANGSA dan negara Republik Indonesia, th1985 Munas MP merubah ayat di AD/ART, yang memungkinkan warganegara asing belajar dan menjadi anggota MP.

Bagaimana kalau kedepan, semua bertekad pada target yang "ambisius", tapi tidak utopis? Mandiri dan cukup, hidup dan menghidupi?

Saat ini, aturan di MP, ada pemasukan dari sertifikat tingkat anggota untuk dewan guru dan kegiatan keilmuan, relatip lancar. Ada prosentase iuran ke pusat,  2 ribu dari rata2 10 ribu rp iuran bulanan anggota. Tidak lancar/macet karena dana sudah habis di kolat/cabang. Setoran ke pusat tsb sangat berharga di kolat/cabang, sementara bagi PPMP dianggap duit kecil, relatip dibanding kebutuhan anggaran. Dilain pihak bidang dana usaha juga fluktuatip, sehingga pelaksanaan kerja menjadi berbasis dana yg tersedia/fluktuatip, bukan pada program yg sudah ditetapkan.

Kenapa? Karena skala ekonomi iuran kecil. Padahal rentang kendalinya luas. 

Bagaimana kalau semua sepakat, dengan segala konsekwensinya, mentarget skala menengah sampai besar? Target jumlah besar yg pasti harus didukung oleh jaminan mutu, promosi, humas dst ?
Kalau pelayanan baik, dan MP bisa mengusahakan satu juta anggota menjadi AKTIP (di data base ada 2,5 juta orang tercatat sbg anggota/pernah jadi anggota, sy yakin kalau lebih), atau dengan ekspansi anggota baru, maka setoran ke pusat menjadi 2 milyar rp perbulan.Kalaupun tercapai separuh, ada 1 milyar rp perbulan. Itu kalau iuran 10 rb perbulan. Padahal dibanyak cabang, sudah 25 rb per bulan.
Dengan skala makin besar, setoran bisa dikurangi, ditetapkan bersama, akuntabel.
Para pelatih, guru, gurubesar, pewaris bisa terpikirkan, segala sesuatunya bisa bergulir lebih ideal.

Kalau semua perguruan tradisional mentarget dengan skala masing2, sy yakin, uda Suporter harus meninjau ulang skala produksinya.

Salam.


SING SOPO OBAH, MAMAH. (letterlijk: barang siapa bergerak, mengunyah).

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #162 on: 14/10/2010 14:05 »
@ mas mpcrb

Kalau tdk salah tangkap, fokus keprihatinan anda:

1. Pemanfaatan IT, baik untuk kehumasan maupun komunikasi internal.

2. Perlunya program latihan yg mencetak pesilat MP lebih "combat ready".

3. Dari pengalaman pribadi anda di Cirebon, dinilai sudah mendesak, penanaman filosofi keilmuan/perguruan sejak dini, apalagi bagi senior/pelatih.

Saya sepakat, karena itu merupakan sebagian masalah  di MP, bukan cuma satu dua cabang.

Tentunya harus dimulai dengan meninjau sistem yang berjalan di MP.
Apakah sistemnya kurang sehingga harus ditambah, apakah sistemnya yang salah sehingga harus dirombak, atau sistem sudah benar tapi ada kendala operasional.
Dari anev yang lengkap kemudian disusun usulan langkah2 solusinya.

Salam

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #163 on: 14/10/2010 16:00 »
Benar sekali mas.

Saya jadi lebih bisa melihat secara keseluruhan ketika mas memaparkan sebagian dari SWOT dan anev di level Pusat. Sedikit banyak saya sudah mulai membaca benang merahnya. Sedikit banyak juga saya jadi memahami bagaimana saya 'dicetak' di MP Cirebon.

Sudut pandang saya memang cabang, mohon maaf seperti kacamata kuda. Dan juga pendapat saya tidak mewakili cabang Cirebon. Meski demikian, saya yakin juga memiliki karakteristik yang sama terjadi di beberapa daerah. Kebetulan saat ini ikut membantu Jakarta Selatan (sudah izin dengan Ketua Cabang JakSel, mas Marsyel). Tapi tidak dalam tahap melatih, hanya membantu saja pelatih yang sudah ada sambil melihat metode, mengevaluasi untuk pemahaman diri sendiri. Walau bagaimanapun, beda cabang biasanya beda karakter. Memunculkan karakter Cirebon, tentu akan berbenturan. Apalagi kalau keilmuan, tentu akan cukup signifikan perbedaannya. Jadi lebih enak diskusi berbasis filosofi, sesuatu yang jarang saya temui di kolat manapun. Sambil sharing-sharing pengalaman dan pendapat untuk mempererat silaturahmi.

Dari beberapa kali muteri ke beberapa cabang, kendala yang saya lihat juga sama. Kebetulan karena dulu saya sering menjadi pembicara IT, sering 'berkelana' dari propinsi ke propinsi. Saya sempatkan untuk muteri cabang dimana saya singgah. Untuk sekedar tukar pikiran, dan sharing pengalaman. Pada saat itu tidak berpikir akan tumbuh keprihatinan karena pikiran belum nyampe kesitu.

Kekhawatiran saya adalah dalam jangka panjang efek 'bentukan' dari minimnya filosofi perguruan ditekankan sedari awal akan mencetak senior yang hebat dalam keilmuan kanuragan, tapi miskin nilai. Apalagi dengan database anggota 2,5 jt (bisa lebih), tentunya efeknya sangat terasa. Mohon maaf terpaksa mengatakan demikian. Karena menjumpai cukup banyak senior yang pola pikirnya seperti itu. Berapa kali 'sempalan' MP nongol, termasuk juga yang di deket-deket Cirebon seperti Benteng Cipta Garuda (BCG) dan Merpati Seto (MS). Dan bahkan hampir saja dulu pelatih saya (Khusus 2, sudah almarhum sekarang, semoga amal ibadahnya diterima dan pahala atas segala kebaikan yang telah dilakukan olehnya) akan mendirikan perguruan sendiri. Bukan saya menganggap baik diri sendiri. Tidak mas, tidak bermaksud seperti itu. Ini sekali lagi hanyalah perenungan dari seorang anggota, yang bukan pesilat MP terbaik, tapi setidaknya ingin menjadi baik dan mengajak berbuat baik, dan yang masih peduli akan nilai-nilai.

Apa yang ditanam, itulah yang nanti dipetik.  Seberapa banyak senior yang memahami potensi perbedaan di tataran atas keilmuan? Seberapa banyak senior yang memahami bahwa MP tidak berusaha mencetak pesilat secara seragam? Seberapa banyak anggota MP yang memahami bahwa MP adalah ilmu tumbuh? Untuk mereka-mereka yang secara geografis dekat dengan pengurus pusat, dewan guru, atau mas Poeng, tentu tidak akan ada masalah apabila ada hal-hal yang tidak dimengerti, bisa ditanyakan langsung. Tapi bagi mereka yang secara geografis cukup jauh, bisa jadi kendala serius. Filosofi dan kearifan lokal memang sudah menjadi milik umum, tapi penekanannya di daerah tidak demikian. Sehingga kemudian batin ini berani berucap:

"jika gerakan jauh dari tuntunan, jika panutan abaikan kepatutan, jika sesepuh tak lagi mau patuh, maka kemana jiwa awam nan kering ini hendak berlabuh?"

atau lebih lengkapnya:

"jika gerakan dan olah nafas jauh dari tuntunan, jika panutan abaikan kepatutan, jika sesepuh tak lagi mau patuh, maka kemana jiwa awam nan kering ini hendak berlabuh?"


Pengalaman saya, begitulah dulu saya 'dicetak'. Dijejali keilmuan. Dijejali teknik-teknik. Diajak ikut kejuaraan, kejurlat, kejurda, kejurnas, IPSI, seleksi PORDA, POPWILNAS, dsb. Semuanya keilmuan. Pelatihan yang keras (sekarang pelatihan MP kolat sudah sangat moderat, tidak seperti dulu. Efeknya, anggota jadi lebih 'cengeng'). Cirebon, bisa jadi merupakan satu-satunya cabang yang (relatif) paling sering dijadikan 'eksperimen' oleh dewan guru. Hal ini bisa jadi tidak heran karena hanya ada 3 padepokan MP di seluruh Indonesia yang salah satunya di Cirebon. Para senior Cirebon, sudah mengenal bayu seto, kidang telangkat, kere wojo, dsb. Salah satu 'sarang getaran' ya Cirebon. Dengan jumlah praktisi getaran yang cukup banyak, maka keilmuan getaran yang pada kota besar masih dianggap istimewa dan dicari, disini informasinya relatif mudah didapat. Mungkin karena memang sejarah Cirebon cukup akrab dengan dunia persilatan sehingga hal tersebut dianggap tidak aneh lagi. Meski demikian, bobot materi tetap lebih ditekankan pada keilmuan dan nyaris tidak masuk filosofi. Bukan asumsi pribadi, tapi karena memang pernah berinteraksi selama 3 periode menjadi sekretaris cabang pada 3 model kepemimpinan ketua cabang yang berbeda.

'Cetakan' keilmuan MP sudah sangat baik, alangkah baiknya apabila dibarengi dengan 'cetakan' nilai. Sehingga klop sekali. 'Kesaktian' getaran musti diimbangi dengan kesalehan pribadi. Saya rasa kita semua sudah memahami ini. Tapi para pelatih daerah belum banyak yang paham dan sadar akan hal itu. Terutama atas nama pemassalan yang pada akhirnya terpaksa membiarkan pelatih yang belum matang untuk melatih. Toh jago getaran juga masih makan nasi, yang kalau berantem fisik sama yang tidak bisa getaran juga masih bisa berdarah. Saya mengerti, memang agak sulit karena seperti ngurusin anak macan yang kadang nyakar (istilah mas suprapto). Tapi kalau tidak diperhatikan serius, efeknya akan jangka panjang.

Selain itu, keprihatinan mengenai website resmi Pusat yang tidak kunjung datang membuat bola-bola liar informasi mengenai MP menjadi tidak terkendali. Padahal, membuat website saat ini sudah sangat mudah dan murah. Yang sulit hanya niat dan konsistensi maintenance. Entah sudah berapa kali saya mencoba mengutarakan ini pada banyak senior, termasuk pewaris muda pada fb beliau. Tapi tidak ada tanggapan berarti. Tetap saja bola-bola liar dan informasi yang salah nongol disana-sini dan diindeks oleh mesin pencari (google, yahoo, bing, dsb).

Kalau masalah 'combat ready', dari penjelasan mas mengenai MP USA, dan paparan dari sebagian GBH-MP, saya sudah melihat benang merahnya.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #164 on: 14/10/2010 16:24 »
Tentunya harus dimulai dengan meninjau sistem yang berjalan di MP.
Apakah sistemnya kurang sehingga harus ditambah, apakah sistemnya yang salah sehingga harus dirombak, atau sistem sudah benar tapi ada kendala operasional.
Dari anev yang lengkap kemudian disusun usulan langkah2 solusinya.

Disinilah yang tadi saya bilang dilematis. Pusat sendiri sudah memahami kendala dimana komunikasi pusat-cabang tidak ada masalah, tapi cabang-pusat mengalami kendala.

Mereka, para pelatih daerah, bisa jadi tidak begitu memahami kesulitan dari pusat. Tidak memahami gambaran SWOT, GBH-MP pusat. Mereka bisa jadi memang tidak tahu, atau memang tidak mau tahu. Yang mereka tahu di lapangan adalah melatih dan dilatih. Yang mereka dapat dari senior, itulah yang mereka rekam dan yang kemudian akan diberikan kepada anggota dibawahnya. Menjadi apa mereka, ya bergantung dari bagaimana senior 'mencetak'. 'Buku' keilmuan banyak sekali diminati anggota. Tapi 'buku' filosofi nilai-nilai perguruan itu sendiri sudah tidak diminati dan sangat jarang diminati. Jika filosofi tidak bisa dibukukan, maka ia harus diajarkan. 'Pemaksaan' tentu harus ada, karena tanggungjawab keberhasilan anggota adalah di tangan pelatih, bukan pengurus. Secanggih apapun keilmuan hasil riset pusat, ujung-ujungnya berakhir pada pelatih. Karena merekalah 'petugas lapangan' yang mengetahui benar kondisi anggota yang sesungguhnya. Yang melihat kenyataan, yang menerima keluhan, caci maki, dsb. Mohon maaf, bukan bermaksud menggurui. Saya yakin mas lebih tahu masalah ini dibanding saya. Saya hanya orang lapangan, yang berinteraksi langsung dengan anggota. Yang menyaksikan anggota pindah perguruan, pindah ke beladiri lain. Yang menyaksikan langsung anggota keluar tidak mau latihan karena tidak bisa-bisa getaran. Pada saat itu, kalau saja nilai-nilai mereka pahami, kalau saja para senior-nya memberikan wawasan filosofi yang maksimal, tentu tidak akan terjadi.

Jadi, ketika momentum menurut mas sudah dirasa tepat. Setidaknya tidak lama lagi saya pribadi bisa menyaksikan diskusi mengenai filosofi diantara anggota-anggota MP itu sendiri. Seperti ketika saya diskusi dengan mas ajigineng yang mengatakan juga memang sangat langka anggota MP yang membabar filosofi perguruannya atau mengajak diskusi mengenai filosofi. Kebanyakan ya keilmuan, kesaktian, dan sejenisnya. Saya pribadi bukanlah orang yang paling memahami keseluruhan nilai-nilai yang terkandung pada filosofi. Masih panjang jalannya. Tetapi yang saya pahami adalah ketika pemahaman mengenai filosofi ini didapatkan, latihan menjadi semakin terarah dan semakin baik. Itu saja. Kecintaan pada perguruan semakin tumbuh. Dan silat benar-benar menjadi sesuatu yang 'ajaib' di kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana MP adalah ilmu prajurit, maka ROH dari prajurit adalah PENGABDIAN. Dan SUKMA dari prajurit adalah KESETIAAN. Kembali kepada 'jiwa' prajurit yang sejati yakni pengabdian dan kesetiaan.

Sekali lagi mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal