+-

Video Silat


Final Pencak Silat Sea Games XXVI Kategori ganda P
Tiga Berantai Putra Betawi
Cingkrik, sebagian teknik jatuhan
Pamacanan - Performance Silat di acara ultah forum
Silat Golok Seliwa2
Krida Yudha Sinalika - Pendekar Cikrak Bawono
Pencak Malioboro Festival - ujungan macan ngawahan
Tarung Bebas Genggong
Ngudi Waluyo Cup Maret 2010

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: PPS Betako Merpati Putih  (Read 580561 times)

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #165 on: 14/10/2010 16:31 »
Setelah sekilas mereview sistem yg berjalan, dimana aspek2 tidak bisa jalan sendiri2, tapi akan saling pengaruh mempengaruhi, sementara sy bisa berpendapat, mungkin agak  konservatip, tentang 3 masalah tersebut:

1. Masalah penggunaan website yang representatip, sebagai sarana keHUMASan dan komunikasi umum dgn anggota/cabang, harus didukung pusat data resmi di PPMP. Dalam hal ini sekretariat, bidang organisasi/humas. Informasinya harus akurat dan mengikat.
Pusat data/sekretariat, yang punya kewenangan untuk mengumpulkan, mengolah dan menyimpan data harus dibenahi dulu. Minimal, setelah ada kesepakatan pembenahan, official website bisa mulai on.

Website lain yang ada, dari bidang Diklat Pusat, baru ramai disekitar event kediklatan, mis UKT Nas, Tradisi tahunan MP, Penataran Pelatih,Kejuaraan2 MP didaerah, Kampus dan sebagainya. Tidak melayani konsultasi keilmuan, khalayaknya adalah cabang2 (internal).
Kemudian ada juga website Padepokan Madiun. Melayani konsultasi keilmuan anggota senior (internal terbatas). Diasuh langsung Ketua Dewan Guru.  Pengunjungnya sepi. Para senior cenderung konsultasi per telepon atau langsung datang ke Madiun.

2. Dengan anggota yg multi segmen dan multi interest, perlu program khusus yg combat ready. Dalam pandangan saya tidak terlalu repot.
Misalnya jadwal latihan ditambah, dari dua kali seminggu menjadi tigakali seminggu. Latihan alam lebih intensip, Materi tata beladiri, baik gerak praktis dan RGB mendapat porsi lebih. Dan seterusnya hanya merobah racikan, hari lathhan per minggu, beban latihan dan standar ujian yang lebih berat.
Masih dalam batas toleransi yang bisa dilakukan, sebagai program khusus di cabang.

3. Harus menyampaikan kepada guru besar dan dewan guru, sinyalemen perlu diperhatikannya materi Bintal dan filosofi keilmuan dan perguruan, mengingat dampaknya yg makin terasa. Ini kompetensi mereka.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #166 on: 14/10/2010 17:15 »
Untuk point 1:

TARGET AWAL:

  • distribusi informasi kepada masyarakat
  • penetrasi pasar yang lebih luas
  • perimbangan informasi perguruan, termasuk pemanfaatan aspek keilmuan pada kemanusiaan


TARGET LANJUTAN:

  • konsultasi keilmuan
  • forum diskusi internal
  • forum diskusi umum

KEKUATAN

a. Potensi Penduduk dan Internet
Kurang lebih 250 juta penduduk Indonesia yang menjadi penduduk sebuah negara terbanyak ke-lima di dunia.
Yang 180 juta-nya adalah pengguna ponsel. Yang 40 juta di antaranya adalah pengguna internet. Yang 80% dari pengguna internet itu punya facebook. Yang menjadi negara pengguna Facebook nomer 2 di dunia. Yang jadi pengguna Twitter terbanyak nomer 3 di dunia. Yang, artinya, 240 juta orang dengan hobi berbagi yang amat sangat teramat dahsyat.

b. Pemahaman Data Digital
Para pengurus cabang, pelatih cabang, sudah sangat familiar dengan kata 'digital'. Ponsel berkamera sudah sangat umum dimiliki oleh mereka. Foto-foto digital, flashdisk, memory card, scanner, sudah sangat akrab di telinga masyarakat zaman sekarang dan paham bagaimana cara menggunakannya. Foto-foto kegiatan cabang sudah mulai di scan, dibuat digital. Video-video yang masih pada kamera digital atau video cam sudah mulai ditransfer ke dalam media penyimpanan khusus seperti flashdisk/hardisk. Berikutnya, data-data tersebut tinggal di-upload ke website resmi pada tempat yang sudah disediakan. Ini lebih mudah dan murah dibanding mengirimkan melalui paket pos dan dikerjakan oleh pusat. Sekaligus membantu salah satu kesulitan pusat yakni pengumpulan data.

(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #167 on: 15/10/2010 08:29 »
(lanjutan)

Foto-foto kegiatan cabang atau pusat, sudah mulai di push untuk di digitalkan. Semua informasi yang berhubungan dengan Merpati Putih, harus sudah di scan, dibuat menjadi digital. Kliping koran, informasi dari majalah, dsb. Saat ini foto atau video Merpati Putih dari masa ke masa hanya dapat disaksikan secara terbatas pada event-event tertentu seperti Kejurnas, atau Tradisi.

Belum lagi foto-foto atau video pelatihan tunanetra, militer, normalisasi diabetes, dsb, yang masih tersebar entah dimana.

c. Potensi Jejaring Sosial
Sebagai top 3 pengguna facebook terbesar di dunia, jejaring sosial memiliki dampak yang sangat signifikan untuk aspek marketing. Viral marketing dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hampir tidak ada orang muda zaman sekarang yang tidak kenal facebook. Group-group berupa kolat atau cabang sudah memiliki account facebook tersendiri dan sangat aktif memposting berbagai informasi.

Pelatih kolat atau asisten pelatih kolat, dipastikan adalah mereka yang (kebanyakan) memiliki handphone berkamera dan kebanyakan juga memiliki account di facebook. Bisa saja dibuatkan sebuah group yang berisi kumpulan pelatih-pelatih MP seluruh Indonesia. Informasi latihan kolat, foto-foto latihan, atau video, dapat dengan mudah dikumpulkan dari cabang-cabang seluruh Indonesia. Target awal tidak perlu ideal harus memiliki resolusi tinggi dan tajam, cukup kebiasaan untuk mulai melakukan dokumentasi kegiatan. Ini sekaligus dapat menjadi ajang silaturahmi dan tukar-menukar informasi dan sharing keilmuan secara alamiah. Plus apabila dapat dilakukan agregat informasi maka informasi akan begitu terpusat dan akan sangat kaya. Distribusi informasi jadi lebih mudah dan membantu di dalam pengumpulan data.

d. Anggota-anggota MP yang berlatarbelakang IT
Saat ini, MP cukup banyak masuk pada perguruan tinggi berbasis IT seperti misalnya Universitas Bina Nusantara. Hampir kebanyakan universitas memiliki jurusan IT di dalamnya. Potensi anggota yang mengerti IT bisa dimanfaatkan sebagai tenaga pembantu apabila pelatih kesulitan di dalam melakukan proses dokumentasi kolat/cabang dimana ia berada.

e. Munculnya forum-forum besar
Saat ini ada cukup banyak forum-forum besar yang non-silat di internet. Forum seperti Kaskus, sangat menarik untuk dijadikan media penyampaian informasi. Member yang lebih dari 2 juta, dengan total posting lebih dari 200 juta lebih menjadikannya sangat powerful.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #168 on: 15/10/2010 18:02 »
@ mas mpcrb.

1. Bagus sekali. Memang budaya IT sudah marak. Kolat /UKM/Cabang mulai terbiasa upload ke FB dan website masing2.
Saya pernah baca naskah proposal mas Chandraprawira dan mas Toto Wahyu (dept. Organisasi PPMP), bahkan lengkap tentang administrasi keanggotaan dan keilmuan ONLINE. Kalau mas mpcrb pas main ke MP Jaksel, saya sarankan untuk minta ketemu/dihubungkan ke mereka. Atau ke mas A'ip/ Arief Wiriadinata (salah satu Ketua PPMP), juga dari Jaksel, untuk ngobrol masalah website. Smg bermanfaat u kita semua.

2. Masalah di MP Cirebon memang unik.

Alkisah, sebuah batalion di sekitar Gombong, markasnya disebuah benteng eks belanda, dilatih MP oleh mas Mulyanto Tambak. Seperti biasa ada unit kecil yg dilatih khusus, digeber intensip, dgn kurikulum militer, sedikit tata gerak, banyak gerak praktis dan nafas tenaga. Salah satu anggota pasukan yg digembleng khusus tadi(lupa namanya, mas mpcrb skrg pasti tahu),  dipindah ke Brigif Slawi. Kemudian krn kreatipnya, bintara tadi berhasil mendekati tokoh2 di Cirebon untuk merintis Kolat MP di Cirebon. Sampai pada tingkat siap untuk diresmikan menjadi cabang (cabang bisa didirikan, minimal sdh ada beberapa Kolat, dan didaerah tsb ada potensi anggota yg berkelanjutan). Dalam acara peresmian dan pelantikan pengurus yg sangat meriah, di kediaman resmi Walikota Cirebon, (dimana beliau juga dilantik jadi anggota pengurus), ternyata mas bintara tadi pakai sabuk dengan strip putih, Inti I, sama dengan mas Poeng.

Saya bisiki agar nanti strip dilepas, nurut. Beberapa hari kemudian kami baca liputan koran, ada foto2 dan dalam wawancara media, mas bintara tadi ngaku sebagai GURU MP.
Mulai dilakukan pembinaan, pelan2, dengan pertimbangan MP Cirebon baru mulai moncer, antara  lain disarankan agar mas bintara mulai ikut ujian pertingkat, dan dipercepat. Seperti biasa bilang ya, tapi bulan demi bulan, tahun demi tahun berjalan, kalau ditanya selalu bilang belum siap dengan materi reguler MP, masih latihan terus.
Didepan anggota sering sesumbar, strip tingkatan tidak perlu, yang penting sakti.
Ujung2nya mas bintara tadi keluar dan mendirikan PS MERPATI SETO. Sasarannya ke anggota tentara. Business oriented.

Entah karena pengaruh mas bintara atau karakteristik Cirebon, baik anggota yang muda2 atau bahkan yang sepuh2, cenderung mengejar "kesaktian" sampai hil hil yang mustahal. Nguber tanya pelatih kesana kemari (terutama ke jalur Maos dan Cilacap). Saling sikut. Secara kasat mata banyak yang overload, overtraining, "nggege mongso" dengan konsekwensi ringan sampai "eksentrik". Solusi umum musti banyak nafas pembersih kepala/punggung. Mengurangi  nyimpen tenaga di blk kepala, sampai adem dulu.

BTW, di masa itu olah nafas MP baru laris dipasar gelap, banyak kolat gelap/kursus gelap dengan bayaran tinggi. Ketahuan karena klaim dari peserta ke MP karena berbagai hal. Baik cedera latihan atau merasa tertipu. 90% pelatih/penyelenggara kursus gelap yg kegrebek adalah anggota pasukan. Dalam pendekatan ke Danjen, Dan Yon dst disepakati perjanjian, komandan kesatuan bertanggung jawab untuk menanamkan pengertian, bahwa keilmuan MP bersifat rahasia, dilain pihak MP juga menjaga rahasia pasukan, dengan tidak mempublikasikan adanya latihan.

3. Mas Solihin GP/ mang IHIN , dalam menggembleng anggota, ada dua hal yang sering disebut sebut:
a. Salah satu strategi prabu Siliwangi yang berhasil adalah, menyebar pasukan sandi yudha ke pelosok/seluruh pedesaan pasundan. Menjadi panutan, melatih pemuda2 dengan ilmu silat dan menanamkan semangat belanegara. Alhasil setiap jengkal tanah pasundan terjaga, bahkan Majapahitpun, yang menguasai nusantara, tidak bisa masuk. Dalam konteks sekarang, pesilat harus menjadi panutan dilingkungannya dan menjadi penggerak semangat belanegara dalam berbagai perwujudan.
b. Meskipun sudah (merasa) jagoan, setiap mau latihan, harus pasang sikap kalau masih belum bisa, belum sempurna. Masih ingin meningkat. Kalau sikapnya begitu, bisa cepet maju. Kalau sikapnya sudah merasa jagoan, malah tidak maju2. Disiplin menurut petunjuk pelatih, tahap demi tahap.  (ini kalimat biasa, tapi karena pengalaman pribadi beliau, dianggap sangat penting untuk disampaikan).

Salam.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #169 on: 16/10/2010 02:45 »
Mengenai posisi tata gerak beladiri didalam program latihan MP, saya berpandangan sbb :

1. Dalam program latihan MP, yang tercermin dalam materi latihan dan materi ujian, dari tingkat Dasar I dan seterusnya, selalu mengandung tiga pokok materi. Yaitu,
a. Kesamaptaan jasmani, stamina.
b. Tata gerak beladiri.
c. Tata olah nafas (tenaga dan getaran).
Yang kemudian digabung dalam gerak naluri.

2. Ketika masuk Dasar I, dalam minggu2/bulan awal, yang dilakukan adalah pembinaan fisik. Kekuatan otot dan kelenturan. Dilatih bertahap, diukur misal dengan skor kemampuan push up, sit up, squad jump, ngayang , senam tangan, kaki, leher, pinggang dst. Setelah mencapai standar rata2, baru mulai dengan dasar tata gerak. Gerak/bentuk baku, dimulai dengan kuda2, langkah, tangkisan, serangan dst dengan uraian gerak. Dilanjut secara bertahap bentuk2 senam pernafasan.

3. Setelah bentuk materi mulai lengkap, setiap latihan (rata2 2 jam), dibagi tiga sesi. Materi pembinaan fisik dimasukkan dalam latihan penguluran/pemanasan, skor standar performance harus terus dipelihara. Sesi kedua tata gerak dan sesi akhir senam pernafasan, ditutup dengan pendinginan.

4. Ketiga materi tersebut menjadi materi pokok ujian.
Tata gerak menjadi penilaian pertama. Kalau tidak bisa lewat ambang minimal, peserta ujian langsung gugur. Tidak bisa ikut materi selanjutnya. Dilanjut dengan ujian stamina, berupa jalan-lari 20 km (standar Alun2 kidul ke Parang kusumo), apa bila contour naik turun atau cross country, jarak bisa disesuaikan. Apabila peserta melebihi limit waktu tempuh, tidak bisa melanjutkan ke uji tenaga. Uji tenaga dilakukan sesegera mungkin setelah uji stamina. Dengan asumsi, modal fisik sudah rada ngedrop, sehingga hasil uji tenaga lebih mencerminkan sbg hasil olah nafas. Skornya jelas.
Ujian getaran bisa bersama dengan uji tata gerak. Dilakukan dengan cara tutup mata, lewat halang rintang, mendeteksi sasaran2, seluruh gerakan harus mencerminkan tata gerak beladiri. Skornya juga sulit dimanipulasi.
Ujian gerak naluri, bila dilakukan sendiri, adalah melakukan tata gerak beladiri dengan dilambari getaran. Apabila "dicolek" dari jauh oleh penguji (tidak terlihat oleh peserta ujian) , kemudian tdk ada gerakan reaksi, berarti bo'ong alias kethoprakan alias sandiwara.

Jadi posisi tata gerak beladiri, mendapat tempat yang seimbang, bisa menjegal kelulusan peserta ujian disetiap tingkat.

Apakah tanpa sungguh2 berlatih teknik tata gerak beladiri, seseorang bisa melakukan naluri  gerak beladiri dengan baik dan terkendali? Bisa ya bisa tidak. Walahualam.

Fakta yang tergelar dalam pelaksanaan program latihan MP  menyatakan lain.

Sekurang kurangnya, merujuk pada penilaian materi ujian, pesilat MP "dipaksa" untuk tidak main2 dalam tatagerak beladiri.
Tahap pertama dipaksa untuk melakukan dengan benar.
Tahap kedua dipaksa harus hafal , baik RGT(rangkaian gerak terikat, istilah jurus wajib di MP , dari nomor satu sampai sekian, sesuai tingkat), tangkap kunci, gerak praktis, dst. Dipaksa menganalisis gerak dengan menyusun sendiri atau berpasangan (RGB dan RGBp).
Setelah benar dan hafal dilanjutkan dengan di ulang2 dan kombinasi penghayatan pelan, cepat, lemas, bertenaga. Yang karena sudah hafal, penggunaan nalar dikurangi dengan meningkatkan rasa dan tubuh untuk menghayati tatagerak. Sehingga didapat gerak reflek atau setidaknya bisa melakukan dengan benar, hafal, penuh penjiwaan, ada dinamika semangat, tenaga dan tempo yg pas.
Kalau sudah begitu barulah dilatih dengan dilambari penghayatan getaran, yang bila digabung dengan latihan gerak naluri, maka tatagerak beladiri itu  menjadi presepsi/perbendaharaan, yang menyatu dengan rasa dan tubuh, menjadi perbendaharaan gerak naluri beladiri.

Kalau hanya dibaca dan dipikir, ilmu tatagerak beladiri sebentar saja tuntas dan mentok.
Giliran ditanya, apakah sudah menyatu dengan rasa dan tubuh, maka ceritanya jadi lain.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #170 on: 17/10/2010 13:56 »
Untuk kasus yang Merpati Seto, saya rasa tidak perlu kita sebut nama. Sejarahnya memang sudah dipapar oleh mas dengan runut. Dan memang kenyataannya demikian. Bahkan ada lagi mas, namanya Benteng Cipta Garuda (BCG). Itulah sebabnya kenapa buat kami, di MP Cirebon, keilmuan-keilmuan seperti itu sudah bukan istilah baru lagi (terlepas menguasai atau tidak). Yang saya ingin urai adalah ya kondisi mengapa ini terjadi? Jika memang penanaman nilai dan filosofi sedari awal sudah ditanamkan, maka hal itu relatif akan lebih bisa diredam.

Dulu, jujur merasa senang karena perbendaharaan keilmuan yang cukup (materi dari dasar 1 hingga kesegaran, padahal tingkat masih kombinasi 1). Kejurda MP di Bandung dulu (tahun 90-an), semua peserta pematahan dengan jarak dan lintasan tinggi, tapi dari cirebon, semua pake lintasan 1 jengkal bahkan kurang. Bikin melongo panitia dan peserta lain. Dan kita juara umum. Tapi lama kelamaan, kok merasa ada yang aneh. Ada yang hilang, ada missing link, ada sesuatu yang ngga beres. Sehingga memberanikan menanyakan kepada mas dan juga beberapa dewan guru mengenai pentingnya penanaman filosofi. Porsi latihan bintal di tingkat dasar yang berkisar maksimum 15% pada kenyataannya sangat jarang sekali diberikan. Efeknya ya itu tadi, ngegeber keilmuan, mengejar kesaktian. Apalagi iklim Cirebon yang memang tidak aneh dalam hal seperti itu (dari sejarah kotanya sendiri).

Saya tahu ini bisa jadi hanya ungkapan pribadi dari saya, tetapi rasanya tidak mustahil ini terjadi di tempat lain (yang bisa jadi lebih parah). Saya memang tidak melakukan analisa komprehensif sejauh mana kolat-kolat menerapkan penanaman filosofi perguruan di dalam latihannya. Hanya beberapa kolat yang saya lihat saja yang kebetulan hadir dalam perjalanan hidup, yang masih saya ingat. Termasuk yang saat ini sedang saya ikuti, Jakarta Selatan.

Kesimpulan dari mas Solihin GP sudah sangat tepat, meski saat sekarang sangat jarang diterapkan. Mungkin, setelah momentum tradisi bulan desember nanti plus saresehan semuanya, bisa diusulkan untuk lebih mulai mendapat porsi yang cukup. Dari database 2,5 jt siswa, tingkatan yang masih aktif bisa jadi hanya 10-30 persen saja, artinya lebih dari separuhnya tidak setia. Ya memang penyebabnya banyak, tapi umumnya kalau sudah massal seperti ini, berarti ada something wrong. Yang kalau tidak dibenahi, akan jadi bumerang di masa datang. Saya yakin dewan pertimbangan sudah memahami ini. Saya pribadi berharap, suatu hari nanti bisa bertemu dengan pesilat MP di kolat manapun yang saya jumpai yang punya rasa suka terhadap filosofi perguruan.

Saya pribadi meyakini, para local genius MP yang 'menciptakan' simbol-simbol tersebut, bukan tanpa makna. Warna hitam, merah, putih, jumlah jahitan, warna sabuk, warna strip, salam hormat, motto, janji anggota, dsb, 'diciptakan' melalui perenungan oleh local genius MP dengan makna yang luar biasa. Yang bisa jadi, memahaminya akan juga ikut membantu dalam memahami keilmuan MP. Kalau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak bisa ikut menyatu pada diri pesilat MP, rasanya sia-sia pekerjaan luhur local genius MP mendesain semua simbol-simbol tersebut.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #171 on: 17/10/2010 17:32 »
Pengalaman di lapangan dibandingkan membaca apa yang dipaparkan oleh dewan pertimbangan, rasanya sangat njomplang. Betapa banyak hal-hal luhur yang dipaparkan oleh mas prapto, termasuk di dalamnya masalah teori, dasar pengetahuan, dasar keilmuan, dsb, yang jarang sekali diterapkan di kolat.

Setidaknya, ini sangat berguna untuk diri sendiri dan kolat yang nanti dimana akan coba saya evaluasi. Secara umum, sejujurnya gambaran kenyataan lapangan tidak seperti itu.

Saya mengerti, memang tidak ada hal ideal di dunia ini. Meskipun sudah dirancang ideal sekalipun, tetapi tetap saja pelaksanaan di lapangan masih ada kendala. Saya coba akan temui salah satu ketua PPMP di Jakarta Selatan seperti yang mas sarankan. Insya Allah sumbangsih saya akan ada gunanya bagi Merpati Putih, sedikit ataupun banyak. Tanpa bermaksud menggurui atau menganggap diri paling bisa. Hanya kebetulan masih ada yang peduli dan berharap rekan-rekan lain juga bisa peduli. Semata-mata demi masa depan Merpati Putih yang lebih baik. Insya Allah...

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #172 on: 17/10/2010 17:59 »
Ada hal yang menggelitik yang ingin saya tanyakan kepada mas prapto. Begini mas, mohon dikoreksi jika salah.

Saya pernah diskusikan dengan mas Pur (dewan guru) melalui facebook chat. Saya katakan, kenapa porsi penanaman filosofi di MP itu rendah sekali dibanding keilmuan? Kenapa porsinya sangat banyak pada keilmuan dan implementasi keilmuan dimana hal ini akan 'mencetak' mereka yang menguasai kanuragan tapi (seringnya) miskin nilai? Siapa yang harus dijadikan contoh dan panutan?

Jawab mas Pur dengan bijak "yang dijadikan contoh adalah teladan Rasulullah". Saya katakan dengan tegas, "sebagai muslim saya sepakat 100%. Tapi konteks saya adalah Merpati Putih. Kalau memang demikian, lalu buat apa ada filosofi perguruan? Buat apa ada simbol-simbol warna, simbol jahitan baju, simbol strip, warna strip, simbol hormat anggota, motto dan juga janji anggota? Bukankah para local genius MP waktu dulu membuat konsep dari simbol-simbol itu punya tujuan? Yang kalau dipelajari, dipahami, dipastikan akan mengarah pada pemahaman keilmuan yang lebih baik? Kalau anggotanya sendiri tidak memahami dan tidak mau memahami simbol-simbol yang ada pada apa yang MP miliki, itu berarti para local genius MP terdahulu secara tidak langsung telah dilecehkan oleh generasi sesudahnya. Apakah seperti ini maksudnya?"

Dan kemudian mas Pur terdiam cukup lama. Entah karena merenung, atau kesal dengan ucapan saya yang 'telengas' dan 'tragis'. Kemudian chat di fb berakhir dengan status mas Pur yang offline. Entah apakah marah, atau bisa jadi malah ikutan merenung. Meski demikian, saya sudah meminta maaf sebelumnya mengenai jawaban ini. Dan beliau mengerti maksud saya.

Saya yakin, para local genius MP masa lalu yang membuat simbol-simbol yang melekat pada MP, pastilah melekatkan juga aspek keilmuannya. Berharap suatu hari ada yang bisa 'membuka kunci'. Tapi kalau tidak diajarkan sedari awal, tentunya ya sulit juga.

Pertanyaannya adalah ... apakah ada kaitan antara simbol-simbol yang melekat pada MP dengan keilmuan MP itu sendiri?

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #173 on: 17/10/2010 18:20 »
Pemikiran saya simple saja mas.

Pertama, tidak semua orang beruntung mendapatkan 'akses' pada dewan guru/guru besar/pewaris sehingga proses konsultasi keilmuan bisa terjalin. Mereka-mereka yang secara lintas geografis cukup jauh, tentunya hanya mengandalkan informasi dari senior daerah dan konsultasi hanya pada senior daerah. Iya kalau senior daerahnya meng-update informasi dengan baik, dan memahami tataran keilmuan MP. Kalau tidak? Ini bisa jadi bottle neck (kebuntuan). Tentunya harus ada mekanisme lain mengenai 'membuka kunci' dari keilmuan MP ini. Sehingga bisa jadi (menurut saya) 'kunci' sudah ditempel pada sesuatu.

Kedua, para 'pencipta' gerakan silat atau jurus silat, seringkali 'menulis' menggunakan kidungan atau juga gambar/coretan yang tentu saja ini hanya dipunyai oleh kalangan terbatas. Meski demikian, terkadang pada local genius tersebut juga 'menuliskan'-nya dalam bentuk lain seperti filosofi, simbol-simbol ketika suatu perguruan didirikan. Tujuannya dalam jangka panjang agar dapat 'ditemukan' oleh generasi sesudahnya. Apakah di MP simbol-simbol yang melekat pada Merpati Putih memiliki fungsi demikian? Ataukah memang tidak ada sama sekali. Dengan kata lain, anggota yang ingin memperdalam keilmuan harus datang ke tanah jawa, bertemu dengan dewan guru/guru besar/pewaris secara langsung?

Demikianlah alasan yang mendasari saya bertanya seperti itu mas. Mohon maaf kalau pertanyaan ndeso banget. :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #174 on: 17/10/2010 20:25 »
@ mas mpcrb.

Pemikiran anda benar adanya dan memang berdasar kenyataan yang terjadi.

Pola jaman dulu, dimana murid pemula tinggal nurut apa yang dilatihkan pelatihnya, dan murid tingkat lanjut memang harus bertemu langsung Guru2nya untuk pembekalan filosofi keilmuannya, belum sepenuhnya diantisipasi oleh MP, ketika penyebaran keilmuan sedemikian rupa, menembus batas2 geografis, atau sedemikian rupa jumlah anggota, sehingga para Guru jarang bertatap muka langsung dengan para anggota/sebagian besar murid.

Kebetulan, sabtu malam 16 Oktober 2010 kemarin, di padepokan Madiun, disela sela   acara ngunduh mantu putra mas Yadi Mintorogo, ketua dewan guru, dalam ngobrol santai guru dan para senior yang hadir, untuk sementara disepakati , bahwa MP perlu membuat buku pengantar keilmuan/penjelasan umum, sebagai aplikasi filosofi keilmuan, serta penjelasan umum kurikulum MP.

Pengantar keilmuan tersebut harus memiliki spesifikasi, agar murid bisa memahami pola pendidikan latihan  MP, dan memahami aplikasi/rangkuman filosofi keilmuan MP, harus bisa membuat murid lebih memahami, tujuan2 latihan, penyikapannya dst, harus bisa meningkatkan kesadaran para murid, untuk belajar/berlatih secara bertahap.

Dilain fihak, harus bisa mencegah murid berlatih bypass, "nggege mongso".

Pengalaman buruk yang terjadi, dimana ada salah penyikapan, pada murid yg mempunyai catatan kurikulum tingkat atasnya, kemudian melakukan bypass, maka dengan pengertian bahwa penyebaran catatan  akan lebih sulit dicegah karena kemajuan teknologi, setiap murid harus bisa  TETAP menyadari, untuk berlatih sesuai tahapan keilmuan tingkatnya.

Mudah2an draftnya bisa segera tersusun, dirapatkan dalam forum dewan guru, guru besar dan pewaris, sehingga bisa melengkapi paket kurikulum/penataran pelatih.

Salam.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #175 on: 17/10/2010 23:03 »
Sebenarnya, perubahan pola penyebaran, dari tertutup dan terbatas, menjadi terbuka dan agak terbatas(hanya untuk bangsa Indonesia), kemudiaan menjadi terbuka sepenuhnya, agar bisa dimanfaatkan u seluas luasnya umat manusia, sudah diantisipasi MP, meski secara bertahap, belum sepenuhnya.

1. BIDANG KEILMUAN.
Perubahan dari sepenuhnya tatap muka, menjadi penyebaran  melalui pelatih2 di tempat2 yang berjauhan.
Maka disusun buku pedoman kurikulum latihan setiap tingkat. Diadakan penataran2 pelatih secara bertahap, bertingkat dan berkesinambungan.
Diangkat koordinator pelatih, yang mengatur para pelatih dan asisten pelatih di suatu wilayah kerja.
Dirancang ada inspeksi kunjungan terjadwal atau insidental oleh pelatih senior/dewan guru.
Memanfaatkan acara tahunan Tradisi MP untuk koordinasi keilmuan. Disusun program2 khusus. Dan seterusnya.

Dalam suatu periode, everything is ok, aman terkendali.

Ketika ada perkembangan baru yang mendesak, sesuatu tambahan atau penyempurnaan program keilmuan, niscaya harus dilakukan.

2. Demikian juga di BIDANG ORGANISASI.

Disusun AD/ART dan Peraturan Perguruan yang berkembang dari waktu ke waktu.
Baik menyesuaikan rentang kendali berdasar melebarnya persebaran geografis maupun jumlah anggota.

Sistim administrasi keanggotaan, dari manual harus bergeser memanfaatkan teknologi informasi.

Media komunikasi, baik untuk tujuan internal maupun eksternal, harus bergeser, dari "getok tular", dari mulut ke mulut, menjadi memanfaatkan pamflet, bulettin MP, media cetak (hard copy), audio, audio visual. Sudah tergolong memakai "multi media mix".
Berangsur angsur, terus menerus, akan meningkat ke cara yang lebih efektip dan efisien, jangkauan lebih luas dan CPM (cost per million) yang jauh lebih murah, antara lain dengan teknologi internet. Cara baru yang di adopsi,   bisa menambah cara, atau sepenuhnya mengganti cara yang lama.

Perjalanan panjang paguron tradisional MP, yang ingin maju dan lestari dimasa depan, membawa konsekwensi logis berupa perubahan2, tanpa harus mengorbankan nilai jati dirinya. Amin.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #176 on: 18/10/2010 09:07 »
untuk sementara disepakati , bahwa MP perlu membuat buku pengantar keilmuan/penjelasan umum, sebagai aplikasi filosofi keilmuan, serta penjelasan umum kurikulum MP.

Pengantar keilmuan tersebut harus memiliki spesifikasi, agar murid bisa memahami pola pendidikan latihan  MP, dan memahami aplikasi/rangkuman filosofi keilmuan MP, harus bisa membuat murid lebih memahami, tujuan2 latihan, penyikapannya dst, harus bisa meningkatkan kesadaran para murid, untuk belajar/berlatih secara bertahap.

Dilain fihak, harus bisa mencegah murid berlatih bypass, "nggege mongso".


Saya sepakat mas. Dan benar-benar berharap itu dapat terwujud. Saya menyadari bahwa proses memang butuh waktu. Tentunya mekanisme organisasi yang akan dipakai. Setidaknya, kalau wacana sudah ada, tinggal penyusunan dan pelaksanaan plus kontrol secara periodik.

Entah apakah pusat pernah melakukan kajian dilapangan mengenai banyaknya pelatih yang mem-bypass anggota tingkat dasar untuk berlatih materi keilmuan yang bukan tingkatannya. Kalau membaca forum-forum selain SahabatSilat yang berisi forum diskusi Merpati Putih, maka berapa banyak ungkapan dari anggota MP yang pada tataran tingkat dasar sudah belajar materi tingkat Kombinasi 1 ke atas. Dan ini dilegalkan oleh pelatihnya.

Mereka bangga berlatih materi diluar tingkatannya dan cerita ke teman-temannya, sehingga pada akhirnya menimbulkan kesan yang kurang baik bagi rekan yang lainnya yang bisa jadi merasa 'iri' atau 'cemburu' kok di kolat X sudah diajarkan materi Z sdangkan di tempatnya belum.

Sekali lagi terima kasih atas informasinya mas.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #177 on: 18/10/2010 09:24 »
Perjalanan panjang paguron tradisional MP, yang ingin maju dan lestari dimasa depan, membawa konsekwensi logis berupa perubahan2, tanpa harus mengorbankan nilai jati dirinya. Amin.

Sepakat mas. Menjadi modern tidak lantas meninggalkan jati dirinya. Hanya perlu penyesuaian dengan abad dimana ia berada. Sehingga keilmuan bisa diterapkan peka zaman.

Kalau dulu orang yang tidak kenal internet masih dianggap 'normal', sekarang mereka yang tidak kenal internet sudah mulai dianggap tidak 'normal'. Meskipun ia tidak mau, tapi kantornya, lingkungannya, keluarganya, anak-anaknya, sudah dipastikan hampir semuanya internet based.

Kadang suka berpikir konyol, di zaman dulu orang bisa kirim 'sesuatu' lewat udara, lewat angin, atau mimpi. Tapi kenapa gak ada inovasi untuk kirim 'sesuatu' via email atau via facebook? huehehehe... atau teknologi macam gini lebih 'sakti' dibanding keilmuan sehingga tidak bisa dirambatkan? :) Just kidding. Jangan dianggap serius mas. ;)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #178 on: 18/10/2010 14:41 »
Konsekwensi logis atau problem utama dari sebuah paguron tradisional untuk meluas, antara lain terletak pada tersedianya PELATIH yang kompeten di lapangan.

Akan melekat masalah2, tentang penyediaan jumlah pelatih yang cukup, tentang mutu yang baik/berkemampuam merata dan up to date(selalu menerima informasi dari pusat keilmuan) , tentang distribusi/penyebarannya baik (terkadang pelatih menumpuk di satu wilayah, sementara wilayah lain kekurangan, tidak bisa melayani animo masyarakat).

Ada masalah pemerataan kemampuan melatih, yang mana setelah digembleng oleh pelatih cabang/daerah untuk menjadi asisten pelatih, selanjutnya harus dikirim ke penataran pelatih. Ada konsekwensi pendanaan oleh cabang, berkembang masalah, cabangnya sehat apa tidak.

Harus dibedakan, antara distribusi materi latihan dengan penyediaan pelatih yang kompeten.

Distribusi materi latihan lebih mudah. Dikirim via attachment email bisa langsung sampai pada yang berhak. Kalaupun kemudian dicopy pakai flash disc, juga tidak banyak makan memori.

Ada masalah, mana duluan, cabang "sehat" dulu, agar bisa ongkosin pengiriman banyak pelatih ke penataran, atau mengundang pelatih senior/guru.
Ataukah harus disediakan pelatih yang kompeten lebih dahulu, agar cabang berangsur sehat.

Peninjauan keliling untuk pengendalian mutu, masih tergantung kondisi tebal tipis isi kantung pribadi personil PPMP.

Belakangan cabang2 minta protap, bagaimana rumusan sharing dana antara tuan rumah (cabang), dengan PPMP, apabila cabang mendatangkan guru atau pembina organisasi PPMP.

Ada masalah, ketika tingkat keilmuan pelatih di satu cabang,  yang hanya boleh melatih maksimal dua tingkat dibawahnya, atau kalau mendesak, satu tingkat dibawahnya, maka tingkat disuatu cabang akan mentok, misal mentok di Kombinasi I,  ketika tingkat tertinggi pelatih cabang "hanya" Kombinasi II. Ketika murid2nya yang Kombinasi I lulus ujian wilayah, naik Kombinasi II, maka pelatih dan murid, sudah dalam tingkat yang sama. Posisinya menjadi "latihan bersama".

Sehingga masalah "kesenjangan" pelatih antar cabang2, adalah masalah "rutin" yang niscaya selalu ada dan  selalu diusahakan untuk diatasi.

Ada pengertian yang keliru, bahwa suatu tingkat dianggap mentok, stagnan, apabila pelatih tidak memberi materi latihan baru. Meremehkan bahwa latihan terus menerus materi latihan yang sama, mengulang ulang dengan penghayatan meningkat, tidak sekedar untuk lulus ambang UKT, adalah ESENSI latihan MP.

Masalah "BONUS" materi latihan dari tingkat diatasnya, atau beberapa materi penunjang, ada batas2 toleransi. Sifatnya pengenalan terbatas, untuk menambah semangat peserta latihan agar terus berlanjut sampai tingkat diatasnya. Biasanya bonus berupa bentuk nafas pembinaan tenaga atau getaran, bukan nafas pengolahan. Pemahaman2 deteksi ringan sampai merasakan getaran energi alam. Pemahaman awal metoda penyembuhan, bentuk2 tata gerak/tangkap kunci, dsb.

Yang dilarang adalah apabila porsinya bisa mengacaukan materi latihan pokok tingkat yang bersangkutan.
Terlebih apabila memberi materi latihan non MP, atau pengembangan keilmuan MP yang belum di ratifikasi dewan guru.

Masalah PEREKRUTAN PELATIH.
Sampai sekarang, tugas melatih mempunyai pembobotan tinggi sebagai pengabdian. Meski pelatih di suatu Kolat atau cabang adalah personil yg mempunyai urutan prioritas tertinggi dalam mendapat pendanaan, sesuai kemampuan Kolat/Cabang. Mulai dari sekedar ganti ongkos cuci pakaian latihan, ganti bensin sampai sekedar uang saku. Malahan banyak pelatih yang menyumbang fasilitas dan dana pribadi, selain fikiran, tenaga dan waktu.
Selain merekrut kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai asisten pelatih dan pelatih, untuk kesinambungan suatu cabang, maka cabang harus serius merekrut dari kalangan karyawan dan pengusaha lokal, untuk mengantisipasi mutasi pelatih ex mahasiswa keluar kota, setelah lulus kuliah.

Rencana2 untuk meningkatkan promosi paguron tradisional, harus didukung dengan penyediaan jumlah pelatih yg kompeten.

Dalam mengatasi problema KEPELATIHAN, ada beberapa jenis/tingkatan tindakan:
1. Dengan peningkatan materi penataran pelatih.(memfasilitasi pertemuan2 dewan guru, guru besar dan pewaris serta elemen pendukung bidang keilmuan).
2. Dengan peningkatan frekwensi, penyebaran tempat dan mutu pelaksanaan penataran pelatih. (menyangkut besaran dana penyelenggaraan, besaran subsidi kontribusi cabang/PPMP.
3. Kunjungan terjadwal dan insidental untuk peningkatan dan pengawasan mutu pendidikan dan latihan (menyangkut pendanaan cabang/PPMP).
4. Dukungan untuk pelatih yang sedang merintis Kolat/cabang baru (menyangkut dukungan dana dan personil PPMP).
5. Dukungan dana untuk pelatih di kesatuan TNI (pada umumnya "uang transport" pelatih, turun/cair tiap 4-6 bulan).
6. Apabila PPMP proaktip untuk membuka cabang didaerah baru atau diluar negeri, harus disiapkan dana, menyangkut dukungan biaya hidup dan operasional pelatih.

(bersambung)

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #179 on: 18/10/2010 15:10 »
(sambungan)

Tindakan tanggap darurat atau pelaksanaan tugas rutin maupun pelaksanaan proposal pengembangan, fluktuatip tergantung fluktuasi dana di PPMP.
Kadang tidak ideal pada pilihan program yang diprioritaskan serta timingnya.

Sekali lagi, akan lebih ideal dan lebih bermartabat kalau MP lebih mandiri.
Meningkatkan jumlah anggota aktip, sehingga mencapai skala yang memungkinkan terkumpulnya dana mandiri untuk dukungan pengembangan yang lebi baik.

Salam.

 

Powered by EzPortal