+-

Video Silat


silat harimau
GGBD - Wejangan Wak Oto
Silaturahmi Silek Kumango + Silek Tuo (03)
bandrong on action #4
Pencak Silat Tiga Berantai
Merantau Production Blog 2 - The Choreography
Silat Sambut in slow motion
Akeket Macanan
Silat Tradisional di Pencak Silat Word Championshi

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: PPS Betako Merpati Putih  (Read 580574 times)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #180 on: 18/10/2010 15:42 »
Paparan mas sudah sangat lugas, dan dapat saya pahami. Alhamdulillah melalui forum SS ini ada banyak masukan yang sangat berharga. Saya mengerti kompleksitas PPMP dalam menangani semua ini. Dengan memahami ini semua, sedikit banyak saya jadi lebih mengerti ketika ada permasalahan pada cabang terjadi hingga puncaknya terjadi murid 'murtad' yang mbalelo. Semoga apa yang sudah dicita-citakan dan dirumuskan bersama, dapat diwujudkan. Saya pasti akan bantu dengan doa dan tentu saja tenaga kalau memang diperlukan.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #181 on: 18/10/2010 15:52 »
Izinkan saya sedikit membabar pengetahuan yang saya dapat dari hasil diskusi dan perenungan dengan rekan MP lainnya.

Permasalahan MP ternyata sangat luas dan dalam. Saya yakin ini juga terjadi pada paguran tradisional lainnya. Sedikit ataupun banyak. Pemahaman Filosofi Perguruan ternyata juga menjadi masalah yg pelik. Pada beberapa perguruan beladiri Filosofi Perguruan biasanya sangat tercermin dalam seluruh aspek beladirinya. Sehingga setelah mempelajari beladiri suatu perguruan selama puluhan tahun - sadar atau tidak aspek filosofi perguruan akan mengendap dalam diri praktisinya.

Mungkin ini ada kaitannya dgn Filosofi perguruan MP. Dalam beladiri dikenal istilah Soft Style dan Hard Style. Misalnya Aikido dikenal sebagai Soft Style - Filosofi perguruan yg mendasari aliran Aikido pun bersifat Soft. Seorang yg memiliki kepribadian "hard" mungkin akan sulit mencapai puncak dalam aliran ini karena bertentangan dgn Filosofi yg mendasari terciptanya aliran ini.

Baji Quan dan Xinyi bisa dikatakan beladiri yg berlandaskan Filosofi Prajurit yg bersifat Hard. Seorang berpribadi "keras" yg biasanya mencapai puncak dalam aliran ini. Li Shu Wen dan Guo Yun Shen adalah Master aliran ini yg dikenal keras dan telengas. Mereka dikenal sebagai Master Beladiri yg sering mengalahkan lawannya hanya dgn satu pukulan saja. Dan biasanya lawan berakhir dalam keadaan tewas atau terluka parah. Pribadi yg bersifat "soft" mungkin tidak akan mencapai tingkat seperti Li Shu Wen dan Guo Yun Shen.

Bagaimana dgn MP - Filosofi apa yg mendasari Perguruan MP apakah Filosofi yg bersifat "hard" atau "soft" ?

Sebenarnya aspek ini juga yg menjadi dasar pertanyaan saya mengenai Style bertarung MP. Saya mulai berpikiran tentang Style bertarung MP berawal dari video yg ada di MP USA.

Ada beberapa yang ingin saya diskusikan, dengan mengambil sample MP USA. Karena kebetulan mereka adalah pesilat dengan nilai terbaik menurut penilaian pusat.

Selama ini saya selalu berpikiran, dalam benak saya, Style bertarung MP "seharusnya" lebih mengandalkan jurus telengas ke arah daerah berbahaya dgn mengerahkan Power dan Getaran MP. Style bertarung MP dalam benak saya lebih mirip Style bertarung Xinyi atau Baji yg sangat mengandalkan Fajin dgn pukulan serta tendangan yg sederhana tetapi efektif. Filosofi keilmuan MP dalam bayangan saya bersifat "keras". Sedikitnya kembangan pada MP, mencerminkan efektivitas gerakan di dalam fight yang sesungguhnya.

Tapi ketika saya menyaksikan video MP USA saya jadi berpikir - bagaimana Style bertarung MP yg sebenarnya karena apa yg diperagakan MP USA itu sangat jauh dari pemikiran saya. Dalam video MP USA saya melihat ternyata Style bertarung yg digunakan lebih mirip TaiChi, Bagua atau bahkan Aikido - yaitu dgn prinsip memanfaatkan tenaga lawan, membuat lawan off balance kemudian jika memungkinkan baru melakukan pukulan pamungkas. Filosofi keilmuan MP dalam MP USA lebih bersifat "soft".

Pada Chapter 1 MP USA pada menit 0:29 - Mike melakukan gerakan memanfaatkan aliran tenaga lawan dgn teknik tangkapan untuk menghadapi banyak lawan - demo seperti ini sering kita lihat pada Aikido yg juga menggunakan Style bertarung memanfaatkan tenaga lawan.

http://www.youtube.com/watch?v=9MczKIaOasI

Bisa dilihat Chapter 2 MP USA pada 2:12 - kembali Mike memperagakan dgn baik sekali bagaimana memanfaatkan tenaga lawan dan membuat lawan off balance baru melakukan tendangan pamungkas - Style bertarung yg biasa digunakan Tai Chi ataupun Bagua dalam CMA yg biasanya serangannya di arahkan agar lawan menjadi off balance. Pukulan dan tendangan biasanya hanya dilakukan pada saat lawan sudah off balance dan hanya pada daerah "kosong" ( tidak terlindungi atau terisi tenaga lawan ).

http://www.youtube.com/watch?v=0uYEgdkPRUs

Dari pengamatan saya tampaknya konsep gerak naluri diterjemahkan MP USA sebagai "Spontaneous Adaptability". "Spontaneous Adaptability" ini sesuai dgn sifat air yg selalu berubah mengikuti keadaan sekitarnya - konsep yg ada pada kitab Tao Te Ching - prinsip yg sering dijadikan acuan dalam Taichi. Dan memang dalam Taichi, Bagua ataupun Aikido juga mengenal konsep "naluri" seperti ini untuk membaca situasi pertarungan dan aliran tenaga lawan untuk kemudian memanfaatkannya. Filosofi keilmuan MP USA terlihat "soft" seperti Aikido ataupun TaiChi.

Pola latihan MP USA pun tampaknya diarahkan ke Style bertarung yg "soft" ini. Misalnya bisa dilihat di Chapter 5 link berikut ini pada menit 1:53 praktisi MP USA melakukan light tap sparring sambil berusaha membuat lawan off ballance dgn membaca secara naluri aliran serangan lawan serta titik berat tubuh lawan.

http://www.youtube.com/watch?v=MoPmJK4kZJA

Hampir seluruh video MP USA menafsirkan "Spontaneous Adaptability" dalam gerakan "soft" yg secara naluri mengalir mengikuti tenaga lawan dan memanfaatkannya agar lawan off balance bukan "Spontaneous Adaptability" dalam gerakan "hard" yg telengas dan mematikan yg secara naluri masuk mengincar daerah berbahaya lawan seperti pemahaman saya tentang keilmuan MP. Saya pribadi beranggapan "Spontaneous Adaptability" ini bisa digunakan untuk ke dua nya baik Soft Style maupun Hard Style.

Saya tidak tahu apakah ini memang pemahaman yg didapat oleh Mike dan Nate Z dari latihan "getaran naluri" selama ini - ataukah memang Style bertarung "soft" seperti ini yg diajarkan oleh Pelatih mereka. Kemungkinan lain Mike dan Nate Z memang mengkombinasikan dgn pola latihan TaiChi, Bagua ataupun Aikido dalam pola latihan di MP USA.

Jika ini memang hasil pemahaman Mike dan Nate - saya pribadi cukup salut dgn mereka karna selama saya belajar MP dulu saya sama sekali tidak berpikir MP bisa digunakan dgn Style bertarung seperti Taichi atau Bagua. Demo-demo MP yg melakukan pematahan benda keras secara extreem dan juga teknik-teknik pukulan yg ada di MP telah membuat saya berpikir MP adalah aliran "keras" seperti Xinyi.

Tetapi jika ini adalah Style bertarung yg diajarkan Pelatih mereka - yg jadi pertanyaan mengapa ini tidak dijadikan Style bertarung MP yg baku ?

Apakah memang kebijakan MP adalah praktisi dibebaskan memilih Style bertarungnya sendiri sesuai pencariannya ( tidak diarahkan ) - entah nantinya berakhir dgn Soft Fighting Style ataupun Hard Fighting Style semua tergantung praktisi MP sendiri. Jika demikian sangat disayangkan karna nanti MP tidak akan memiliki sistem keilmuan yg baku pada setiap cabangnya. Dan akhirnya masing-masing praktisi memiliki tafsir tersendiri terhadap Filosofi Keilmuan MP - hal yg tidak mungkin terjadi pada Aikido ataupun TaiChi.

Video-video ini yg membuat saya berpikir tentang bagaimana sebenarnya Style bertarung MP. Apakah memang filosofi ilmu MP begitu luasnya sehingga masing-masing praktisi akhirnya menemui jalannya sendiri-sendiri.

Misalnya praktisi MP yg bersifat "keras" dan "agresif" akan menjabarkan ilmu getaran MP dalam Style bertarung yg juga "keras" dan "agresif" - seperti Style bertarung Xinyi atau Baji - yg mengandalkan pukulan dgn ledakan "getaran". Gerak naluri yg keluar dari praktisi MP yg bersifat "hard" ini akhirnya adalah pukulan yg telengas dan mematikan yg secara naluri mengarah ke daerah berbahaya. Filosofi Keilmuan MP ditangan praktisi ini akan bersifat "keras"

Sedang praktisi MP yg bersifat "lembut" dan "halus" akan menjabarkan ilmu getaran MP dalam Style bertarung yg "lembut" dan "halus" seperti Style bertarung TaiChi atau Bagua yg lebih menitikberatkan pemanfaatan tenaga lawan - gerak naluri yg keluar dari praktisi MP yg "soft" adalah kemampuan mengalir mengikuti aliran tenaga lawan. Filosofi Keilmuan MP ditangan praktisi ini akan bersifat "lembut"

Apakah memang seperti ini sifat Filosofi Keilmuan MP ?

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #182 on: 18/10/2010 16:01 »
Saya pribadi menganggap kedua style bertarung ini sama-sama bisa efektif digunakan dalam pertarungan. Jadi ada baiknya Soft Style ataupun Hard Style keduanya di-explore lebih dulu secara lebih maksimal untuk memperkaya perbendaharaan keilmuan MP.

Kadang kita memang perlu Fight secara Hard Style tapi dilain saat Soft Style pun mungkin bisa jauh lebih efektif dalam situasi pertarungan tertentu.

Sebagai perbandingan bisa dilihat pada film "The One" dimana Jet Li ( Antagonist ) yg menggunakan Xinyi ( Hard Style ) sedang Jet Li ( Protagonist ) awalnya melawan keras dgn keras.

http://www.youtube.com/watch?v=C7woLiTBrB0

Setelah dipukul jatuh dgn pukulan Fa Jin beruntun Jet Li ( Protagonist ) mengubah Style bertarungnya menggunakan Bagua ( Moderate Soft Style ) yg ternyata efektif meredam kekerasan Style bertarung Xinyi. Bagua juga memiliki pukulan Fa Jin hanya Style bertarungnya lebih soft dibanding Xinyi dan Bagua lebih banyak memanfaatkan tenaga lawan.

Saya rasa bagi yg familiar dgn beladiri China begitu melihat Jet Li bertarung di film tsb langsung bisa melihat ... ooo itu Xinyi ... ooo itu Bagua ... suatu saat nanti saya membayangkan pada silat orang pun akan mengatakan  ... ooo itu MP ...

Tapi yg menjadi permasalahannya adalah masing-masing Style bertarung baik itu "soft" ataupun "hard" mengharuskan praktisinya melakukan pola latihan ( Drill ) yg berbeda pula - pada beberapa perguruan hal ini sudah inherent dalam keilmuannya. Misalnya Style bertarung "soft" sudah inherent dalam keilmuan TaiChi ataupun Aikido sedang Style bertarung "hard" sudah inherent dalam keilmuan Baji, Xinyi ataupun Muay Thai misalnya.

Jadi pada akhirnya di dalam perguruan tsb pola latihannya sudah terbentuk sejak awal untuk mendukung Style bertarung masing-masing aliran tsb. Pola latihan TaiChi sejak awal jelas mengarah kepada Style bertarung "Soft" sedang Pola Latihan Muay Thai sejak awal juga jelas mengarah kepada Style Bertarung "Hard" - bukan sebaliknya.

Bagaimana pola latihan MP yg inherent dalam keilmuan MP apakah memang sudah mengarahkan kepada Style bertarung tertentu entah itu "soft" atau "hard" ?

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #183 on: 18/10/2010 16:08 »
Seandainya keilmuan MP seperti ini - saya jadi ingat cerita Upasara Wulung, yaitu ketika Eyang Puspamurti mengajarkan pada ( Gajah ) Mada tentang Getaran Sukma Sejati ... ajaran ini dimulai dari Sukma Sejati yg "bergetar" dalam diri setiap manusia  dan semua tenaga dimulai dari sana baik itu "soft" ataupun "hard".

Misalnya Mada yg memiliki dasar keilmuan Sukma Sejati ketika melawan Pangeran Hiang secara naluri mampu bertarung dgn Style "soft" Tenaga Air nya Genduk Tri yaitu dgn Ilmu Ngeli Tanpa Keli walaupun belum pernah mempelajarinya ilmu ini sebelumnya - Tenaga Air ini menurut saya sangat mencerminkan Style bertarung seperti TaiChi.

Ini yg akhirnya membedakan antara Tenaga Dalam dan Tenaga Sukma Sejati yaitu Tenaga Sukma Sejati dimulai jauh lebih dalam lagi dibanding Tenaga Dalam ( Chi ) - jika Tenaga Dalam ( Chi ) dimulai dari memanipulasi gerakan Chi dalam tubuh maka Tenaga Sukma Sejati dimulai lebih ke dalam lagi yaitu dimulai dari getaran Sukma Sejati yg ada dalam setiap manusia - getaran Sukma Sejati inilah yg nantinya menuntun aliran Tenaga Dalam ( Chi ) pada tubuh. Mungkin dalam terminologi China ini yg disebut Shien / Xin ( Jiwa ).

Akhirnya Mada dgn dasar ilmu getaran "Sukma Sejati" ini bisa memainkan baik Style bertarung "Tenaga Air "( Lembut / Soft ) ataupun Style bertarung "Tenaga Bumi" ( Keras / Hard ) walaupun belum pernah mempelajari sebelumnya. Bagi Mada tidak masalah lagi apakah Style bertarungnya itu "soft" ataupun "hard" karna semua itu datang dari getaran Sukma Sejati.

Sedikit Catatan tentang Upasara Wulung - dan Sukma Sejati nya. Bagi saya cerita ini unik dan khas Indonesia. Jika dalam Cerita Silat China biasanya hanya Pendekar Tingkat Tinggi lah yg mampu menyatukan dan memainkan dua Style bertarung "soft" ( im ) dan hard ( yang ).

Pada kisah Sia Tiauw Eng Hiong - Kwee Ceng yg memiliki dasar keilmuan lembut Kiu Im Cin Keng justru Style bertarungnya "sangat keras" yaitu Hang Liong Sip Pat Chiang yg didapat dari Ang Cit Kong. Sedang dalam To Liong To - Thio Bu Kie yg memiliki dasar keilmuan keras Kiu Yang Cin Keng tetapi dgn mudah bertarung dgn Style "soft" ( im ) yg diajarkan Thio Sam Hong. Dengan gerak naluri Thio Bu Ki dgn mudah mengalahkan lawannya walaupun baru diajarkan  Style bertarung soft yg dimiliki Thio Sam Hong.

Cara pengajaran Thio Sam Hong juga cukup unik karna Bu Kie diharuskan melupakan jurus yg diperagakan oleh Thio Sam Hong. Mungkin Eyang Puspamurti akan bilang lupakan bentuk ikuti theg  - Sukma Sejati akan bergetar dan tubuh akan mengikutinya. Mada pun dgn mudah bisa bertarung dgn Style "soft"  Tenaga Airnya Genduk Tri. :)

Tetapi contoh-contoh ini dalam terminologi Cerita Silat China biasanya hanya dicapai oleh Pendekar yg sudah mumpuni. Uniknya dalam Upasara Wulung - kemampuan tingkat tinggi ini justru menjadi dasar keilmuan Sukma Sejati. Jika Arswendo menuturkan ini semua berdasar keilmuan beladiri yg memang benar ada di Indonesia khususnya Jawa - mungkin ini memang menunjukan bahwa bangsa Indonesia memiliki khasanah keilmuan yg tidak kalah hebat dibanding China yg dianggap sumber ilmu beladiri di Asia ini.

Jika dasar keilmuan MP memang seperti Sukma Sejati dalam Upasara Wulung ... wah penerapannya tentu luar biasa jika digali dgn baik. Tapi tentunya pola latihan keilmuan seperti ini pun harus berujung pada efektifitasnya dalam pertarungan sesungguhnya - yg dibuktikan secara nyata dan tidak hanya berakhir dalam cerita fiksi seperti Upasara Wulung saja.

Kita tentu tidak mau dianggap bangsa - khususnya para Pesilat - yg hanya larut dalam mitos dan fiksi semata. Suatu stigma yg sangat melekat pada bangsa kita dan khususnya para pesilat yg kadang karena itulah kita - pesilat - dianggap rendah oleh praktisi beladiri lainnya. Dalam dunia Pencak Silat Indonesia kadang sulit membedakan mana yg mitos dan mana yg realita. Suatu bahan introspeksi bagi kita semua ...

Salah satu wujud agar tetap berpijak pada realita adalah merancang metode latihan yg membumi pula baik itu Style bertarung "soft" ataupun "hard". Untuk salah satu latihan Style bertarung "hard" ala MP yg terlintas di pikiran saya adalah Boneka Kayu Rautan Bambu ala MP - mungkin untuk metode latihan Style bertarung "soft" ala MP - para praktisi MP yg memiliki getaran pribadi "soft" bisa merancang metode latihan yg membumi juga.

Tapi tentu saja aspek Filosofi Perguruan MP sendiri seharusnya bisa lebih tegas mengarahkan apakah MP akan dibawah ke "soft atau "hard". Di satu sisi MP adalah ilmu keprajuritan yg tentunya bersifat "keras" di sisi lain MP adalah ilmu dari tanah jawa yg memiliki Filosofi "lembut".

Mungkin perlu dikaji lebih mendasar lagi aspek Filosofi Keilmuan MP - TaiChi melandasi aspek filosofi keilmuannya dgn landasan ajaran Tao - seperti dalam Tao Ta Ching - dgn Filosofi Tenaga Airnya. Semua tercermin dalam seluruh aspek keilmuan TaiChi. Dengan belajar TaiChi mau tidak mau kita dipaksa belajar Filosofi Tao dan segala aspek kelembutannya. Tanpa mempelajari filosofi Tao akan sulit mencapai puncak pada TaiChi. Tampaknya ini yg tidak terjadi pada MP - Filosofi Jawa yg lembut pada MP tidak menyatu dgn aspek Keilmuan Beladiri Keprajuritan MP yg bersifat "keras" - filosofi seakan lepas dari keilmuan beladirinya. Sehingga tidak heran asumsi saya dimana keilmuan TERPISAH dengan filosofinya terlihat nyata pada anggota.

Dan jika aspek Keilmuan MP adalah Tenaga Sukma tentunya menimbulkan masalah yg jauh lebih pelik lagi. Karna bisa jadi bola liar yg hasil akhirnya bergantung pada masing-masing getaran sukma praktisinya.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #184 on: 18/10/2010 16:25 »
Dari evaluasi tersebut, ada hal menarik yang saya bisa ambil kesimpulan sementara (sebelum dibantah atau dibenarkan oleh guru besar/pewaris/dewan guru).

Terkait dengan Style "Soft" and "Hard" dan filosofinya, ada suatu perkecualian yaitu mungkin sifat Filosofi Keilmuan MP secara inherent itu memang unik dan berbeda dgn keilmuan beladiri lain - ini yg sempat terlintas dalam pikiran saya  - yaitu Style bertarung "soft" atau "hard" MP akan sangat bergantung terhadap karakter getaran pribadi masing-masing praktisinya. Jadi secara Filosofi Keilmuan MP memang tidak membatasi praktisinya seperti Aikido yg membatasi praktisinya dgn Filosofi "lembut" dsb.

MP menciptakan pola latihan "getaran pribadi" yg yg memang sesuai dgn karakteristik dan sifat praktisinya. Praktisi yg memiliki kecenderungan "soft" akan memiliki Getaran Pribadi yg "soft" yg kemudian akan menuntun praktisi MP untuk menemui Gerak Naluri yg "soft" pula - begitu juga sebaliknya. Misalnya getaran pribadi yg "soft" nantinya akan melahirkan Style bertarung "soft" seperti yg saya lihat di video MP USA sedang getaran pribadi  bertipe "hard" akan melahirkan Style bertarung yg "hard" seperti yg ada di benak saya sebelumnya.

Yang lebih menarik lagi adalah jika "Getaran Pribadi" akhirnya juga berkembang sesuai kepribadian praktisi sehingga akan melahirkan Style bertarung yg berbeda pula dalam perkembangan praktisi tsb. Konsekwensi yang sesuai dengan prinsip ilmu tumbuh yang sarat pengembangan tapi juga sarat potensi terjadinya perbedaan/perpecahan di masa datang apabila tidak dijelaskan sedari awal dan dipahami dengan benar.

Saya ambil contoh kondisi mas Pung ketika muda (sesuai penuturan mas prapto pada posting sebelumnya).
Misalnya ketika muda, karakter dan pribadi mas Pung yg keras akan membawa getaran pribadi mas Pung menjadi "hard" pula yg menuntun gerak naluri mas Pung untuk menjadi "hard". Style bertarung mas Pung pun akhirnya akan bersifat "hard". Ketika fight maka akan muncul pukulan, tangkisan, tendangan dgn selalu disertai "ledakan getaran" yg secara naluri mengarah ke daerah berbahaya pada tubuh lawan.

Tetapi ketika mas Pung sudah mencapai tahap 'soft" seperti sekarang ini - maka getaran pribadi mas Pung juga akan menuntun gerak naluri mas Pung untuk menjadi "soft" juga. Berbeda dgn masa muda mas Pung kali ini setiap bertarung Style bertarung mas Pung akan diarahkan gerak naluri yg soft - gerak naluri mas Pung akan mencari dan mengalir berusaha membuat lawan off balance tidak ada lagi gerak naluri yg mengarahkan pukulan telengas dan mematikan seperti dulu.

Apakah seperti ini Style bertarung berdasar Filosofi Keilmuan MP - semua bermuara kepada Getaran Pribadi dan nantinya menjadi Style bertarung "soft" ataupun "hard" semua tergantung dari pribadi praktisinya?

Mohon masukannya dan pencerahannya.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #185 on: 18/10/2010 19:23 »
@ mas mpcrb

1. Mas Mike Zeleznick adalah peserta UKT Nas dengan skor tertinggi pada UKT Nas waktu itu. Bukan otomatis menjadi pesilat terbaik MP apalagi pelatih terbaik.

2. Prinsip keilmuan MP adalah mengasah gerak naluri beladiri pesilatnya.
Postur mas Poeng yang langsing dan postur alm mas Budi yang "tebal", terbukti memunculkan gerak naluri yang berbeda dalam menghadapi serangan yang sama. Mas Poeng cenderung bergerak lincah mengikuti tenaga lawan, mas Budi cenderung langsung potong dan serang dengan kuda2 sederhana tapi sangat kekar, langsung to the point. Ini menjelaskan, keilmuan MP  bisa soft bisa hard. Padahal dari segi karakter, jelas mas Poeng lebih hard dan mas Budi cenderung soft.
Meskipun dalam gerak naluri akan muncul kepribadian masing2, atau menyesuaikan dengan kondisi, pesilat MP mendapat pembekalan tatagerak beladiri lengkap yang sama, sebagai tatagerak pengarahan untuk gerak naluri beladiri.
Gerak naluri beladiri yang muncul dalam latihan sambung/sparring, bisa berbeda perwujudannya dibanding tarung yang sebenarnya. Ancaman yang terdeteksi akan jauh berbeda. Pada pertarungan sebenarnya, gerak naluri telengas cenderung muncul, toh perbendaharaan gerak memang sudah ada.

Sudah diatur, bahwa pelatih WAJIB  mengajarkan teknik tata gerak beladiri yang sudah ditetapkan secara LENGKAP dan SERAGAM, sebagai modal gerak pengarahan bagi pesilat muridnya.
Bahwa nanti, pada gerak naluri muncul berbeda beda, malah tidak mengapa.

3. Mahaguru prana, Choa Kok Sui dari Philpina, pernah berkunjung ke MP Yogya, diantar manager Gramedia Yogya. Beliau membawa dua ahli dari Thailand yang bisa "melihat" warna aura dan energi.
Beliau saya persilahkan untuk memilih sendiri diantara pesilat2 muda yang ada di sekretariat MP di Wijilan, Yogya, waktu itu.
Pesilat A tsb diminta memperagakan pemukulan benda keras, tanpa ayunan. Berhasil, beliau tidak banyak reaksi.
Kemudian pak Choa Kok Sui memilih lagi seorang pesilat, pesilat B. Pesilat A diminta mendeteksi cedera yg tidak terlalu dirasakan oleh pesilat B. Ternyata ketemu, ada cedera di ruas tulang belakang. Mereka mulai manggut2. Kemudian pesilat A diminta melakukan penyembuhan dengan getaran. Barulah Choa Kok Sui bertiga geleng2 kepala tersenyum kagum.

Kemudian beliau menjelaskan, bahwa ketika melakukan pemukulan benda keras, "terlihat" pesilat tadi menarik energi alam yang destruktip, berwarna merah. Ketika beberapa menit kemudian, melakukan penyembuhan, pesilat "terlihat" menarik energi alam penyembuh, yang katanya berwarna putih, istilah beliau "energy from heaven".
Katanya, dia baru ketemu pertama kali, ada praktisi, muda (21 th) yang mampu menarik energi yang sifatnya bertolak belakang. Choa Kok Sui sendiri melakukan latihan 20 tahun sampai bisa "leluasa" menarik dan menyalurkan energi penyembuh. Dan tidak berani coba2 menarik energi merah, karena bisa mengganggu kemampuannya.
Choa Kok Sui juga mengatakan, kalau pesilat MP bisa memiliki kemampuan mendeteksi cedera, menarik dan menyalurkan energi alam. Beliau memberi kenang2an bukunya yg terakhir tentang penyembuhan dengan prana. Dengan harapan metode praktisnya bisa dimanfaatkan oleh MP.

Kesimpulan pribadi saya, tidak perlu terpengaruh pola umum, musti memilih pola hard atau soft.
Dua duanya bisa digali bersama.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #186 on: 19/10/2010 10:41 »
Kesimpulan pribadi saya, tidak perlu terpengaruh pola umum, musti memilih pola hard atau soft.
Dua duanya bisa digali bersama.

Apa yang saya coba tanyakan memang dalam proses menggali mas. Semakin banyak pemahaman, termasuk juga dari disiplin beladiri lain, tentunya menambah khasanah pengetahuan saya pribadi. Sebab bagi suatu organisasi massal yang secara jumlah anggota 'nyeremin' dan lintas geografis begitu terentang. Terkadang ada kondisi 'langit' dan 'bumi'. Dimana 'langit' adalah mereka-mereka yang memiliki akses dengan pusat, akses dengan guru besar/dewan guru/pewaris/senior pusat. Sedangkan 'bumi' adalah mereka-mereka yang di lapangan, di daerah, berinteraksi langsung dengan siswa daerah, dan relatif tidak/sulit akses pada 'langit'.

Ketika saya menyodorkan sample Tai Chi, Aikido, Muay Thai, Xinyi, dsb, bukan dalam konteks agar MP ingin jadi seperti mereka. Tidak sama sekali. Ini benar-benar murni sebagai bagian dari perenungan dan proses 'mengumpulkan potongan pengetahuan' agar memberikan gambaran bentuk yang lebih baik.

Sama halnya Tai Chi melandasi aspek filosofi keilmuannya dgn landasan ajaran Tao, seperti dalam Tao Te Ching, dgn Filosofi Tenaga Airnya. Semua tercermin dalam seluruh aspek keilmuan Tai Chi. Dengan belajar Tai Chi mau tidak mau kita dipaksa belajar Filosofi Tao dan segala aspek kelembutannya. Tanpa mempelajari filosofi Tao akan sulit mencapai puncak pada Tai Chi. (sumber: http://www.chebucto.ns.ca/Philosophy/Taichi/what.html).

Ini yang setidaknya belum saya lihat pada MP. Atau mungkin, pengetahuan saya belum bisa menemukan benang merahnya. Seperti para orang-orang saleh yang berlandas teori pada kitab yang mereka yakini, maka ia akan bisa mencapai puncak penerangan sempurna sesuai filosofi yang diajarkan oleh kitabnya. Seperti juga jurus Payung Rasul pada Margaluyu yang akan sulit dipelajari bagi mereka yang tidak memahami hakekat ilmu keislaman. Yang belajar tanpa pemahaman filosofi, tetapi ia akan terhenti pada belajar 'gerak', bukan belajar hakekat keilmuan. Kondisi-kondisi dimana ketika filosofi 'dibenamkan' pada 'sesuatu', entah gerak, entah simbol, maka harusnya ia bisa menjadi 'kunci pembuka'.

Saya hanya membayangkan, betapa banyak praktisi MP yang notabene tidak bisa getaran. Yang ia berlatih, berlatih, berlatih, dan bisa jadi puncaknya adalah mencapai kejenuhan, stagnan. Yang tidak pernah join dengan forum-forum diskusi seperti ini, yang tidak memiliki senior daerah yang cukup 'mumpuni' untuk ditanya atau tidak memiliki akses pada pusat.

Sebab saya sepakat, ketika gerak hanya menjadi 'gerak', maka ia akan terhenti begitu saja ketika sudah dihafal. Untuk menembus level lebih tinggi dari 'gerak', maka gerak harus bertemu filosofi nilai. Dengan demikian, ia akan punya 'ruh', punya 'jiwa', punya 'rasa'. Pada akhirnya, 'ruh' atau 'jiwa' inilah yang akan menuntunnya menjadi 'gerak naluri'. Pengejawantahan 'jiwa', 'ruh', atau 'rasa' ini bisa berbeda pada tiap beladiri, baik cara meraihnya ataupun bisa jadi istilahnya. Dalam terminologi MP dinyatakan dengan gerak + getaran = gerak naluri. Jadi disini getaran berfungsi sebagai 'ruh', 'jiwa', atau 'rasa', atau juga ... filosofi nilai.

Pada tataran atas keilmuan, jelas akan menjadi tidak seragam dan mengarah pada spesialisasi tertentu. Karena proses pemahaman filosofinya yang bisa jadi berbeda. Ada yang mengambil dari agama yang dianut, atau ada juga yang diambil dari nilai-nilai universal kehidupan. Saya tidak tahu apakah simbol-simbol yang melekat pada MP ini punya pengaruh besar di dalam 'pembukaan kunci' pengetahuan dan pemahaman keilmuan karena banyak dari para senior yang juga tidak mengerti hal ini. Kesimpulan awal, simbol-simbol yang melekat pada MP hanyalah sebagai simbol saja, yang masih belum tuntas dibabar oleh pusat, yang masih belum tuntas dicarikan benang merahnya untuk lebih memahami keilmuan MP selain daripada harus datang berguru ke tanah Jawa dan bertemu dengan para supreme atau dari suatu proses mersudi yang totalitas.

Semoga pemahaman ini tidak melenceng ... dan mohon dikoreksi jika ada yang kurang tepat.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #187 on: 19/10/2010 11:14 »
Tidak sadar sudah hampir 200 postingan di forum SahabatSilat ini. :)

Sekali lagi terima kasih atas begitu banyak nasehat, masukan, diskusi, dari mas suprapto. Rasanya, informasi berharga semacam ini sangat sayang dilewatkan dan tidak 'dinikmati' sebagai bagian dari proses pendewasaan. Sebagaimana halnya ilmu tumbuh pada MP dan 'ruang kosong' pada tingkatan akhir yang suatu hari nanti akan menjadi 'saksi' apa-apa yang akan 'tumbuh' dari sintesa pengetahuan keilmuan MP masa depan...

salam...
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #188 on: 19/10/2010 11:28 »
Btw, good news mas. Tim MP Kabupaten Cirebon menjadi juara umum POPKAB antar perguruan silat se-Cirebon dengan merebut 9 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Setelah sebelumnya sukses membawa seorang pesilat muda Cirebon menggondol medali emas untuk kategori laga pada POPKOTA Cirebon dan setelahnya yakni POPWILNAS di Palembang. Sebentar lagi akan masuk pada tim PORDA Jabar... dan Insya Allah akan masuk pada event nasional. Semoga saja lancar....

Pesilat adalah pesilat yang sama yang di gembleng secara intensif untuk 'berkarir' pada jalur IPSI (meski ia kalah telak pada jalur internal kejuaraan MP. hehehe).

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #189 on: 19/10/2010 13:25 »
@ mas mpcrb

1. Selamat atas prestasi pesilat MP Cirebon, semoga terus melaju.
Tiada prestasi bisa dicapai tanpa usaha yang serius dan fokus.

2. Mudah2an filosofi keilmuan sebagai salah satu bahan dalam pengantar keilmuan MP, segera dapat disusun.
Mungkin semula, filosofi "kejawen" tsb tidak ditonjolkan secara jelas/rigid, antara lain :
a. Mengurangi dugaan negatip, yg bisa hanya suku jawa. Diusahakan seuniversal mungkin, bahwa semua orang bisa.

b. Kalau ketentuan2 keilmuan dituruti sesuai petunjuk, termasuk  minta petunjuk pelatih/senior/guru ketika macet, sebenarnya tidak ada kesulitan. Tidak ada alesan bingung. Karena untuk tingkat2 puncak, tentu ada kesempatan/harus sempat bertemu dengan Guru.

c. Derajat kearifan lokal di MP, posisinya jauh dibawah kemuliaan kepercayaan Taoisme, apalagi kemuliaan agama Islam.

3. Entah bagaimana mereka akan menyusun pengantar keilmuan/silabus MP, saya tetap akan minta, agar diusahakan sejauh mungkin, filosofi keilmuan melekat dalam prosedur latihan, aplikatip, jelas  secara universal.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #190 on: 19/10/2010 16:36 »
Tao memang memulai ajarannya berdasarkan keyakinan bangsa cina (mental spiritual). Sementara MP bukan ajaran yang berbentuk keyakinan spritual atau berangkat dari keyakinan spiritual. Saya memang tidak berusaha untuk menganggap nilai-nilai yang terkandung dalam simbol-simbol MP itu 'menyamai' dengan kasus Taoisme atau Islam. Tidak sama sekali. Hanya saja, penasaran dan ingin tahu apakah ada korelasi langsung antara simbol-simbol ini dengan keilmuan MP. Kalaupun tidak ada dan hanya sebatas sebagai panduan moriil untuk menjadi lebih baik, saya memahami sepenuhnya. MP lahir dikarenakan kesadaran nasionalis pendirinya sehingga memang bisa jadi belum ada benang merah yang jelas antara simbol-simbol yang melekat pada MP dengan pemahaman dari keilmuan MP itu sendiri yang tentu saja ini sudah masuk wilayah dewan guru.

3. Entah bagaimana mereka akan menyusun pengantar keilmuan/silabus MP, saya tetap akan minta, agar diusahakan sejauh mungkin, filosofi keilmuan melekat dalam prosedur latihan, aplikatip, jelas  secara universal.

Itu memang harapan saya, dan juga kita semua. Semoga bisa terealisasi secara maksimal. Sekali lagi, terima kasih atas sharingnya.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #191 on: 21/10/2010 09:49 »
Sekedar sharing dan urun rembug, pengetahuan yang saya dapat di daerah bisa jadi cukup berbeda ketika melihat jalur 'sanad' hingga ke dewan guru.

Pertama mengenai teknik olah nafas.

Selama ini pola latihan olah nafas pada tataran bawah (dibawah tingkat Khusus) memang mengacu pada kurikulum standar yang penerapannya diserahkan pada kearifan lokal cabang melalui pelatih cabang yang tentunya tidak boleh keluar dari pakem. Hasil keberhasilan yang dicapai juga berbeda, meski relatif umumnya agak seragam. Memang ada yang berbakat dan lebih cepat terbentuk, tetapi jumlahnya tidak massal.

Tetapi ketika dulu mas Mulyanto Tambak datang dan memberikan satu bentuk olah nafas (pengolahan Dasar 1, bentuk yang sama persis) untuk latihan tingkat Khusus 1 ke atas dengan teknik bernafas dan visualisasi versi beliau, kelihatannya cukup berbeda dengan teori yang sering diajarkan di tataran bawah. Pada saat itu, latihan memang hanya untuk tingkat Khusus 1 ke atas dan dibagi menjadi 2 tahap, yakni tahap melatih satu nafas tertentu di rumah (sebagai PR, yang dilakukan dengan hitungan tertentu setiap harinya selama 1 bulan penuh yang semakin lama semakin 'menggila' dalam jumlah) dan kemudian dua minggu sekali melakukan nafas pengolahan Dasar 1 dengan teknik beliau. Tujuan awalnya dikatakan untuk ujicoba pematahan benda keras tanpa ayunan dengan jarak kurang dari 1 jengkal (meski saya yakin tujuan akhirnya bukan itu). Sasaran adalah dragon R1 (yang terkeras) yang memang sudah disiapkan. Efeknya memang lebih terasa dan sangat mantep dibanding mengikuti pola umum.

Bentuk yang sama, dengan teknik nafas yang berbeda akan menghasilkan hasil akhir yang lebih cepat. Ini berarti terjadi percepatan yang entah berapa kali lipat dibanding metode yang umum. Awalnya tidak mempertanyakan, dijalani saja karena hasilnya cukup baik dan sama-sama terasa dalam menunjang keberhasilan latihan. Tapi setelah saya baca-baca lagi uraian mas prapto disini, merenungi setiap kalimat, pada akhirnya saya mengerti kalau 'kemacetan' berlatih memang harus diselesaikan dengan menanyakan pada senior yang lebih mumpuni. Meski demikian, pengetahuan dari senior mutlak harus perlu karena kalau ia sendiri tidak pernah mencoba, tidak pernah melatih, dan belum pernah berhasil, tentunya bottle neck tetap akan terjadi. Akhirnya jadi lebih memahami apa maksud dari 'akselerasi' metode berlatih termasuk juga lebih memahami kenapa bisa terjadi 'black market' mengenai keilmuan yang seharusnya berlatih 6 bulan, cukup 2 bulan saja, atau bahkan bisa kurang atau bahkan bisa dalam hitungan jam.

Kemudian teringat dengan teknik membuka simpul yang dulu pernah dilakukan oleh alm. Mas Imam Santoso (Khusus 2) kepada kami, yang tentu saja ini jalur 'kilat khusus' yang saya tidak tahu ini legal atau ilegal.

Pertanyaannya adalah, jalur-jalur percepatan seperti ini apakah memang dilegalkan di Merpati Putih, sebab keliatannya hanya jalur-jalur yang sanad-nya mencapai dewan guru saja yang cukup mengerti teknik ini yang kalau tidak dibarengi dengan keluhuran budi tentunya akan menyebabkan munculnya 'black market' keilmuan dan memahami kalimat mas prapto yang mengatakan 'MP Cirebon memang agak unik'.

Pertanyaan kedua, mengenai teori sebagai dasar pengetahuan.

Selama ini senior daerah menggunakan teori rasa (panas, dingin), dan sintesa pengetahuan muncul ketika mas Toto Wardoyo mengenalkan teori warna di dalam pelatihannya (kejadian sudah cukup lama sekali). Khusus untuk teori warna ini yang kalau dirunut sedikit banyak ada kemiripan dengan teori warna pada yoga (chakra) meski pada akhirnya menjadi sedikit berbeda. Kemudian muncul juga teori warna dari jalur Maos, yang juga berbeda dibanding teori mas Toto Wardoyo. Demikian juga teori dari Mas Joko (Khusus 3) yang juga sedikit berbeda dari keduanya. Melihat dan mendengar paparan teori dari (alm) Mas Imam Santoso (Kh2), mas Toto Wardoyo (Kh3), dan Mas Joko (Kh3), serta senior jalur Maos, cukup berbeda dan beberapa sangat signifikan. Meskipun pakem getaran yang dilatihnya tetap sama.

Pertanyaannya, apakah teori-teori ini sudah dibakukan atau sudah diratifikasi oleh dewan guru, ataukah memang hasil mersudi dari para senior. Saya memahami kalau berlatih seperti itu harus dengan pelatih yang sama, karena pelatih tersebutlah yang memberikan metode dan teori yang lebih dipahaminya. Tapi banyak di tataran bawah yang 'memburu' hal seperti ini dan berlatih sendiri di rumah tanpa bimbingan/pembimbing.

Entahlah, saat sekarang ini semakin muncul banyak sekali pertanyaan. Sebagian memang sudah terjawabkan melalui senior daerah, melalui sharing dengan senior luar daerah, dan beberapa dari pusat. Mohon maaf jika mas prapto saya 'recoki'. :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #192 on: 21/10/2010 14:13 »
@ mas mpcrb.

1. Olah nafas tingkat dasar memang mendasari tingkat selanjutnya, termasuk "pendalamannya",termasuk penghayatan yang meningkat. Kalau tidak melaksanakan olah nafas dasar standar dengan benar, dibelakang hari bisa ada handicap jalur tenaga, yg bisa mengganggu latihan lebih lanjut.

2. Setahu saya, sifat warna bukan/belum menjadi  standar MP. Mungkin merujuk literatur lain, atau mungkin hasil mersudi masing2 yang belum diratifikasi dewan guru. Yang ada dalam kurikulum adalah sifat penjuru, timur barat utara selatan, dimasukkan dalam teknik meditasi nafas segitiga pembersih.

3. Betul, dalam beberapa hal, terkadang hasil tidak seragam. Tentu karena ketika masuk MP, bahkan satu kolat satu angkatan, kondisi awalnya berbeda beda. Baik kondisi fisik, umur, jenis kelamin, dan motifasi/penghayatan. Ada yg digeber makin melekat, ada yang malah mencelat.

Disini akan terlihat, derajat kepelatihan seorang pelatih, untuk  memberi perhatian bagi masing2 peserta tentang tingkat handicapnya dibanding teman2 yang lain.

Mekanismenya, pertama bertanya pada teman latihan yang berhasil, biasanya langsung bisa mengoreksi sendiri. Masih belum hasil, konsultasi dengan pelatihnya. Kalau belum hasil, pelatih akan konsultasi  dengan koordinator pelatih/senior/dewan guru.
Dewan guru inilah yang menampung laporan handicap dan metoda penyelesaian hasil pengalaman dilapangan oleh para pelatih. Suatu saat, semua pengalaman spesific dilapangan, bisa dirangkum dalam  FAQ, yang akan meningkatkan derajat keberhasilan kelompok latihan.

4. Beberapa pengalaman spesifik, terutama pada latihan getaran (konversi hasil pengolahan nafas "tenaga" menjadi tenaga getaran), biasanya ada masalah pada PENGHAYATAN si pesilat(kasus paling banyak). Antara lain, masih saja seperti menyalurkan tenaga penghancur. Dengan indikasi bila diminta menyalurkan tenaga penyembuh kepada teman latihannya, tempat terpijit malah biru sakit, bukan tambah enteng.
Adalagi yg bermasalah adanya SUMBATAN disimpul  tenaga. Penyelesaiannya bisa dengan dibantu atau dibimbing agar bisa membuka sumbatan oleh diri sendiri.
Pelatih bisa membantu dengan menstimulir di telapak tangan pesilat, sehingga pesilat merasakan apa itu getaran. Pelatih bisa membuka sumbatan dengan pijatan dititik tertentu di jalur tenaga (pakai pentol batang korek api dan jeruk purut ?) seperti yg dilakukan alm mas Imam Santosa. Ini legal.
Sedapat mungkin, pesilat dibimbing agar bisa membuka simpul sendiri. Biasanya dengan nafas dasar dengan penghayatan penuh dan pembinaan bolak balik.
Kalau masih belum lancar, antara lain diminta latihan nafas segitiga pembersih. Kalau dalam latihan biasa dilakulan satu set/ putaran, kali ini puluhan kali set/ putaran nafas pembersih. Biasanya jalur tenaga getaran akan terbuka lancar. Dewan guru tentu punya berbagai cara.

5. Program latihan pokok di MP kan ada tiga, pembinaan fisik, tatagerak beladiri dan olah nafas. Latihan standar duakali seminggu. Setelah tata gerak dasar (kuda2, langkah dan serangan/tangkisan tangan dan kaki, maka kalau konsentrasi hanya latihan INTENSIP pada gerak praktis dan latihan pengolahan nafas, jangankan satu tingkat dua bulan, bahkan 6 bulan cukup untuk sampai  tingkat 6 (kombinasi II). Dilaksanakan pada tim khusus di kesatuan pasukan khusus. Dengan resiko "cedera" yang lebih tinggi.
Karena keilmuan MP terbuka bagi siapa saja, dengan syarat mau mengikuti latihan teratur dan bertahap, semata mata agar berhasil dengan resiko sekecil kecilnya, black market akan tereliminasi sendiri. Ngapain latihan sembunyi2 tidak bisa kumpul teman2 tunggal ilmu, atau mau "sakti" malah cedera?

6. Mas Mulyanto Tambak, yg belum lama diangkat menjadi anggota dewan guru termuda MP, adalah phenomena unik.

"Ditemukan" oleh mas  Nardjo ketika berdinas di Polsek Tambak, Banyumas, pemuda bernama Mulyanto ini memang istimewa. Digeber, digembleng keras, tetep "wadah", latihan di ruangan atau dialam yg ganas, agal dan alusan, termasuk teknik penyembuhan, dilewati biasa2 saja, tidak "salin srengat", tidak berubah sikap perilaku.
Giliran melatih, rupanya diukur diri sendiri, diindikasikan beberapa muridnya overload, korslet, termasuk pendiri Merpati Seto.
Dengan bergabungnya ke dewan guru, mudah2an segala sesuatunya akan lebih baik dan lebih bermanfaat untuk semua.

Salam.   

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #193 on: 22/10/2010 09:15 »
Setelah saya membaca ulasan mas prapto, merenungi kalimat demi kalimat, sedikit banyak jadi lebih mengerti mengapa materi yang diberikan oleh Mas Mulyanto Tambak cukup berat dijalani termasuk korslet-nya beberapa yang dilatih beliau. Meskipun berat, pelatihannya sangat membekas karena efeknya yang tidak terlupakan. Termasuk juga beliau sangat ramah di dalam menjelaskan sesuatu yang kita tidak mengerti (saya yakin semua dewan guru juga demikian).

Ada hal yang ingin saya tanyakan lagi mas... mengenai latihan pasir besi.

Selama beberapa kali mengalami latihan oleh dewan guru (secara bersama-sama tentunya dengan anggota lain) di padepokan MP Cirebon, kebetulan belum pernah mengalami langsung latihan pasir besi oleh beliau. Tetapi meski demikian, sejak tingkat Kombinasi 1 kami sudah diajarkan untuk berlatih pasir besi yang secara rutin dilakukan setiap 1 atau 2 bulan sekali. Diawali dari (alm) Mas Imam Santoso, kemudian dilanjut dengan senior-senior lain. Syaratnya adalah sudah bisa merasakan power diri sendiri dan sudah bisa mrasakan getaran. Kalau yang belum bisa, belum boleh, karena efeknya yang bisa mencederai. Latihan dilakukan dengan terlebih dahulu melumuri tangan dengan ramuan yang sudah disiapkan sebelumnya yang terbuat dari campuran dedaunan dan campuran lain yang menimbulkan bau yang khas.

Tetapi lambat laun saya perhatikan kecenderungan sepertinya diberikan juga pada atlit-atlit yang akan berlaga pada fight (baik IPSI maupun internal MP) yang meski ia baru tingkat Dasar 2 atau Balik 1 dan bahkan belum menerima pelatihan getaran pada tingkatannya. Untuk kasus-kasus seperti ini, apakah latihan pasir besi dibenarkan? Karena sepanjang pengalaman saya, kalau belum bisa merasakan power diri sendiri, belum bisa merasakan getaran, maka penarikan hawa panas dari pasir besi tidak akan berefek banyak selain daripada tangan yang beresiko mlepuh cedera. Termasuk juga pemahaman pada titik penyimpanan dimana hawa panas yang diserap itu akan disimpan. Toh bagi yang belum bisa 'mengenal' getarannya sendiri, tidak akan punya kemampuan untuk menyerap hawa panas ke dalam tubuhnya pada bagian-bagian tertentu, apalagi menyalurkannya. Gesekan antara permukaan kulit yang tidak dilambari getaran dengan pasir besi yang membara akan sangat beresiko menyebabkan mlepuh dan bahkan sobek. Belum lagi tiap butiran pasir yang panas yang digenggam untuk kemudian diserap hawa panasnya, tentu akan sangat mencederai apabila tanpa perlindungan getaran.

Mereka (para atlit laga) yang belum mengenal getaran dirinya dan berlatih tapi tidak cedera, biasanya hanya menggerakkan tipis saja dan mengambil bagian yang sudah 'dingin' dari pasir besi sehingga manfaat maksimal tidak bisa dirasakan. Efeknya hanyalah memunculkan 'sugesti' pada dirinya kalau ia seolah sudah dibekali sesuatu. Pada tingkatan apakah sebenarnya atau sebaiknya latihan ini diberikan? Saya tidak mau memberikan latihan yang melampaui kewajaran pada murid.

Terima kasih atas pencerahannya.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #194 on: 22/10/2010 14:42 »
@ mas mpcrb.

Latihan (pukulan) pasir besi tidak termasuk program latihan/kurikulum wajib, tapi ekstra/bonus.
Syaratnya jelas, seperti yg mas sebutkan. Jadi kalau belum memenuhi syarat, hanya mengenali kulitnya, bukan isinya. Kalau power olah nafas belum cukup, tentu melepuh kena pasir besi panas. Kalau cukup, biarpun putri yang tangannya mulus, ya tetap aja mulus.
Efek pukulan juga agak jahat. Di "tebak"/sodok didada, bekasnya bisa dipunggung/ agak hangus(gosong).
Seharusnya dilatih satu paket dengan metoda penyembuhannya, termasuk ramuan2 jawa.
Karena meski cuma di"dulit"/ditowel efeknya kelihatan, efektip untuk latihan penyembuhan pukulan.
Kapan2 ketemu mas guru Mulyanto, minta aja diajari.

Salam.

 

Powered by EzPortal