+-

Video Silat


Beksi Performance by Bang Muali
Jambore Pencak Silat, al azhar performance 3
Golok Seliwa @ Escapade Show Shooting
GGBD - Demo/Aplikasi #1
GGBD - Aspek Keras
Jurus Macanan KYS
Sparing Ikmaludin vs Arif Persinas
PS-1 (Pokolan Silat -1)
Silat Tradisional di Pencak Silat Word Championshi

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: PPS Betako Merpati Putih  (Read 580583 times)

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #300 on: 30/12/2010 14:21 »
@ mas Acepilot.

Betul, pada masa itu, kondisi umum  perguruan2 silat dan juga khususnya MP  memang demikian adanya. Tentu ada masalah2 internal dan eksternal yang berpengaruh pada kondisi saat itu dan saat ini.

Namun dari laporan cabang Banyumas pada penerimaan anggota baru Maret 2010 (penerimaan anggota baru diseragamkan secara nasional, pada bulan Maret dan September), jumlah pendaftar melebihi jumlah kapasitas total ruang2 latihan, yang hanya cukup untuk 700 orang, sehingga harus ada seleksi. Mudah2an cabang2 lain segera menyusul.

Mengenai PUBLIKASI/MEDIA MASSA.

TV swasta baru muncul sekitar th 93. Sebelumnya hanya ada TVRI, media cetak dan radio. Lebih mudah kerjasama. Tinggal pilih radio yg bekerja di target audience sesuai segmen yang kita sasar (untuk publikasi pendaftaran dll). Atau undang wartawan media cetak dan TVRI.

Melihat pangsa pasar komunitas2 beladiri termasuk pencaksilat menggeliat naik, beberapa media cetak mulai memperhatikan  pencaksilat. Diantaranya majalah BOLA dengan tokoh wartawannya mas Zaenal Abidin. Didaerah juga demikian. Tokoh wartawan mas Herdjoko dari PD, selalu mencari angle (angel?) yang menarik dari kegiatan pencaksilat untuk dikirim ke media2.
Bahkan majalah khusus tentang seni beladiri mulai bermunculan dimana mana.
MP mendapat momentum ketika pada peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1978, ada peragaan utama, berupa peragaan MP oleh resimen para komando, yang datang dengan terjun payung. Hampir semua media memasang berita dan gambar sebagai headline. TVRI menayangkan berulang ulang.
MP menjadi ujung tombak publikasi pencak silat, hanya karena ada pematahan benda keras serta tembak tepat, yang menjadi faktor pembeda pencaksilat terhadap beladiri asing.
Pada kesempatan lain, tentu juga ada pengaruh karena Mamiek Soeharto menjadi bintang peragaan MP IPB.
 
Lama2 publikasi pencaksilat di media mulai menurun .
Bisa karena KEKURANGAN BAHAN BERITA (sehingga cepat2 memuat kalau ada bentrokan massa pesilat di Madiun), bisa karena kecilnya sumbangan pencaksilat dalam mendongkrak rating.

Kemudian dengan diangkatnya pak Eddie oleh Bimantara menjadi presiden komisaris RCTI, kebetulan juga dirutnya adalah menantu pak Eddie. Pemuatan pencaksilat di RCTI marak lagi. Setiap ada kegiatan pencaksilat yg dihadiri pak Eddie diliput.
Diikuti dengan produksi serial Pencak silat menembus dunia.
Kemudian melempem lagi.
Akhir2 ini, dengan dekat/bergabungnya wartawan2/produser acara TV swasta ke SS,  serta suksesnya film Merantau, beberapa TV swasta mulai melirik lagi peliputan silat tradisional.
Apakah penempatan akan ditingkatkan ke PRIME TIME, atau TETAP atau malahan  diHAPUS lagi, sangat tergantung semangat masyarakat pencaksilat dalam memberikan BAHAN SIARAN, disamping tanggapan publik yang tercermin dalam RATING acara.

Jadi, acara2 penayangan pencaksilat, harus lebih PUBLIC ORIENTED, bukan hanya memuaskan bagi kita sendiri.

Salam.

acepilot

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 4
  • -Receive: 5
  • Posts: 67
  • Reputation: 20
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #301 on: 30/12/2010 21:58 »
@mas suprapto :
oh begitu ya mas, wah berarti mungkin kita sendiri harus berusaha mempublikasikan MP ke dunia luar..
wah kalau MP banyu mas memang luar biasa, kalau orang jakarta bilang "mas nardjo nggak ada matinye"..  [top]  [top]  [top]

mas tadi saya ngobrol dengan tukang siomay langganan saya yang berusia paruh baya, dan asalnya dari daerah klaten..
and kita ngobrol ke hal2 mistis and keilmuan kejawen dan keilmuan jaman dulu, pas ngobrol ternyata dia lumayan tahu banyak ilmu2 kanuragan, lalu saya tanyakan beberapa nama keilmuan di MP saya kaget ternyata dia mengenali beberapa ilmu MP seperti :

1. bayu seto -> katanya dia itu artinya  "angin putih" atau bisa diartikan pukulan jarak jauh and mendapatkannya dengan murni tenaga dalam bukan menggunakan mantra, puasa, atau mistik apalagi jin.

2. kere wojo / tirai besi -> katanya dia malahan ilmu ini datang dari china dan katanya sudah ada sejak sebelum jaman majapahit.

3. kidang telangkat -> katanya seperti meringankan tubuh / loncat tinggi sekali seperti kijang / antelop yang berlari.

berarti beberapa ilmu MP tersebut bukan hanya monopoli MP saja ya mas?
saya nggak tahu apakah cara mendapatkannya and aplikasinya sama dengan MP ataukah ada yang berbeda saya kurang tahu..

kalau di MP apakah harus mendapatkan getaran dulu baru bisa melangkah ke ilmu - ilmu tersebut?
maaf kalau lancang memperbicangkan kulit luar bidang keilmuan..
jika karena beberapa alasan pembahasan saya ini tidak boleh diperbincangkan disini akan saya stop sampai  sini saja mas..  :-X
salam..
"SOPO SING ISO NUTUP HOWO SONGO, YO IKU WONG SING ISO NAPAK TAPAKE KUNTUL MELAYANG" ....
-Almarhum Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi)-

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #302 on: 30/12/2010 23:10 »
@ mas Acepilot.

1. Mungkin karena faktor mas Nardjo, mungkin juga banyak faktor yang bisa di studi banding oleh cabang2 lain. Terutama kekompakan, kedisiplinan yang bisa terpelihara dalam waktu yang lama. Kekompakan antar kolat2 UKM, kolat2 SMU/SMK , Kolat2 Umum, Kolat dokter, Kolat pengusaha, bahkan kolat2 kebugaran, terpelihara sangat baik. Selalu bersemangat dalam kebersamaan, isi mengisi, bantu membantu.
Alumnus yang sdh keluar Banyumas tetap terpelihara jaring komunikasinya.
Terakhir mereka sepakat membangun tempat latihan/padepokan. Lahan sudah siap, sekarang urunan sedikit demi sedikit untuk biaya pembangunannya.
Banyak hal "sepele" yang bisa dipelajari/diadopsi untuk kemajuan cabang2.

2. Dikalangan kanuragan kejawen, penamaan yang sama sudah biasa, toh mereka tahu isinya beda2, ciri2 masing2 beda. Kalau dari ungkapan tukang siomay asal Klaten itu, berarti dia tahu ciri2 keilmuan MP, yang sudah biasa diperbincangkan di kalangan kanuragan.

3. Keilmuan2 itu memang aplikasi beladiri dari tatagerak, olahnafas dan getaran MP.

Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Salam.

acepilot

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 4
  • -Receive: 5
  • Posts: 67
  • Reputation: 20
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #303 on: 31/12/2010 00:01 »
oh begitu, terimakasih atas jawabannya mas..  [top]
oiya mas mau tanya lagi nih, maaf banyak bertanya soalnya masih newbie.. :)
belakangan ini kalau saya sedang meditasi atau lagi nafas segitiga ataupun lagi coba deteksi di telapak tangan saya seperti ada yang nggremet - nggremet (seperti ada yang bergerak2)  gitu mas..
apa itu karena efek awal dari latihan getaran ya mas?
salam..
"SOPO SING ISO NUTUP HOWO SONGO, YO IKU WONG SING ISO NAPAK TAPAKE KUNTUL MELAYANG" ....
-Almarhum Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi)-

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #304 on: 31/12/2010 00:22 »
Jangan lupa setiap kali berlatih getaran, tutup dengan nafas pembersih lagi ya setelah tutup benteng. :)

Nanti akan merasakan manfaatnya.

Semoga membantu.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #305 on: 31/12/2010 00:26 »
Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Tutup mata adalah primadona dimana-mana. Kebanyakan anggota hanya mengejar itu saja. Entah kenapa. Mungkin dari semua keilmuan MP, tingkat prestise keilmuan ini yang paling tinggi. Harus dikoreksi ulang pemberian pemahaman pada anggota di tataran bawah agar tidak jadi salah tafsir.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #306 on: 31/12/2010 00:44 »
@ mas Mpcrb.

Maaf maaf beribu maaf, kalau bhsnya melintir bisa multi tafsir.

"Tidak terlalu mahir" berarti tetap harus bisa. Kalau nggak bisa, tidak naik ke Khusus I , berarti tdk bisa belajar aplikasi lanjut.
Maaf.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #307 on: 31/12/2010 10:55 »
Saya memahami sudut pandang mas Prapto. Apa yang saya ungkapkan adalah kondisi nyata di lapangan secara umum. Kalau diperhatikan, baik melalui forum online khusus Merpati Putih (pada beberapa forum Martial Arts baik lokal maupun luar), itulah yang bisa kita lihat mas. Bahkan dari mulai Dasar 1 gejala ini sudah nampak. Saya tidak menyalahkan keilmuannya, tetapi pemahaman dari pelatih kepada anggota yang harus dikoreksi.

Saat ini pengerti "GETARAN" yang diterima oleh anggota tataran bawah adalah 'vibravision' alias tutup mata. Sempit. Hanya sampai disitu. Bahwa tidak banyak pelatih kolat yang memberikan pemahaman bahwa getaran itu luas, tidak hanya tutup mata. Tetapi justru pengertian sempit inilah yang diterima oleh anggota tataran bawah, dan tidak ada koreksi komprehensif dari pelatih ybs.

Saya tidak tahu, apakah pusat pernah melakukan semacam studi tingkat keberhasilan pelatihan getaran secara reguler pada tingkatan yang dipersyaratkan. Misal, dari sekian banyak Kombinasi 1 dan Kombinasi 2 dari N kolat, di dapati sampel subyek sebanyak 200 orang (misalnya). Kemudian dari 200 orang reguler ini, berapa yang berhasil dan berapa yang belum berhasil. Memang, kalau bicara yang namanya "keberhasilan" tentu melibatkan banyak faktor. Tidak bisa digeneralisir. Tetapi kalau misalkan dari 200 orang kemudian yang berhasil hanya 10 orang saja, maka artinya prosentasenya sangat kecil, hanya 5% saja. Yang perlu dipikirkan adalah mau dikemanakan sisanya? Yang 190 orang itu mau dikemanakan? Pada akhirnya, akan muncul beragam kondisi pada mereka yang gagal. Beberapa kondisi tsb diantaranya:

1. Menyadari bahwa ia belum bisa karena belum maksimal berlatih dan terus berlatih (ini kondisi ideal)
2. Sudah malas berlatih, karena mengalami kesulitan akibat berbagai sebab.
3. Mutung, vakum dengan jangka waktu yang tidak bisa diperkirakan.
4. Menganggap keilmuan ini hoax, atau paling tidak diragukan

Point nomor 1 sampai 3 masih bisa ditolerir, ada harapan anggota akan kembali suatu saat nanti. Tapi point 4 ini yang menjadi masalah. Dan ini sudah terjadi.

Seperti misalnya satu komunitas skeptis terbentuk dari mahasiswa UGM dan UII di Yogyakarta pada tahun 2003. Komunitas ini mayoritas beranggotakan dari komunitas beladiri asing yg ternyata sangat antusias dan sedikit dendam karna merasa sudah lama dibohongin oleh praktek Tenaga Dalam dan sejenisnya. Mereka kemudian membekali ilmu beladiri mereka dgn kemampuan hipnosis dan dgn kemampuan hipnosis ini mereka ingin "membongkar" kebohongan Tenaga Dalam.

Salah satu anggota komunitas ini mengatakan sbb "sekedar informasi, saya dulu juga belajar MP, namun sayang termasuk yang gagal total - kami tidak meyakini ada bahwa orang bisa membaca tanpa menggunakan indera penglihatan tanpa alat bantu ... yang dinamakan getaran, energi dan lain2 adalah hal2 yang absurd dan tidak ada pendefinisian bahkan fakta identifikasi yang sama. Sehingga, seringkali semua aktifitas yang terasa berbeda dengan normalitas, seringkali diklaim getaran, energi, dll. contoh sederhana, sekarang anda coba dekatkan kedua telapak tangan anda berhadapan 20cm, dan anda bayangkan menciptakan bola api diantara kedua tangan anda, tangan anda akan terasa panas. atau anda bayangkan jadi magnet dengan kutub sama, maka kedua tangan anda akan seperti saling menolak. Kalau anda seorang praktisi hypnosis, tentu anda tahu fenomena apa ini? dan sangat mudah mempraktekkannya."

Satu generasi baru sudah lahir di Indonesia yaitu para skeptis. Saya sudah sering menjumpai orang-orang semacam ini, termasuk tantangan terakhir juga berasal dari kalangan yang sama. Para skeptis inilah motor penggerak dari generasi baru ini.

Dan ini yg tampaknya tidak/belum disadari para petinggi MP (atau sudah???). Perlu pendekatan baru untuk menghadapi generasi baru ini. Pendekatan yg lebih realistik dan teruji. Misalnya pernahkah kalangan MP mencoba menjawab argument tentang fenomena getaran dgn fenomena yg serupa dalam hipnosis seperti yg diajukan skeptis di atas? Apakah fenomena getaran memang sama seperti fenomena sugesti hipnosis - autosugesti hipnosis dalam kasus MP - seperti pada kasus mendekatkan ke dua tangan itu? Kalau sudah pernah dilakukan, dimana infomasi tsb bisa didapatkan?

Generasi baru ini tidak bisa lagi didekati dgn cara pendekatan yg lama.

***

Adalah benar bahwa statement saya bisa multitafsir, meskipun kenyataanya itu terjadi di lapangan. Saya coba jelaskan mengapa saya mengatakan demikian.

Kalau saya melihat pendapat mas Prapto disini:

1. Sebelum alm  mas Budisantosa HP pada akhir 80an merilis latihan getaran untuk aplikasi orientasi dan mobilitas dgn tutup mata spt kita lihat akhir2 ini, sudah ada aplikasi getaran untuk deteksi, beladiri/gerak naluri dan pukulan2 pamungkas, ambil/nyerap tenaga alam, penyembuhan dsb.

Sebenarnya itu bisa menimbulkan dualisme makna.

Makna Pertama, bahwa proses dari Sang Guru kepada Guru Besar belumlah memuat materi vibravision (saya gunakan istilah itu saja). Artinya kurikulum yang ada pada saat itu TIDAK MENGENAL keilmuan vibravision. Istilah "Getaran" yang digunakan adalah istilah yang umum di dalam dunia beladiri, merujuk pada gerak naluri / rasa / raso. Vibravision disini belum lahir sebagai suatu keilmuan spesifik. Masih general, yang maknanya bisa sama dengan beladiri lain pada hasil akhir namun beda istilah. Ini saya menyebutnya adalah jalur keilmuan murni dari penurunan Sang Guru kepada Guru Besar. Saya memandang, kalau ingin melihat "warna asli MP", maka aspek pertama inilah warna asli MP (yang belum mengalami inovasi).

Makna Kedua, bahwa kemudian terjadi kurikulum keilmuan MP akhirnya DITAMBAHI dengan vibravision (saya pakai istilah ini saja untuk merujuk secara spesifik, tidak menggunakan bahasa "getaran" karena lebih general). Artinya, kalau kita coba eleminasi pelatihan vibravision, tidak akan memberikan dampak berarti pada keilmuan pamungkas MP sebagaimana penjelasan saya pada makna pertama. Karena memang "getaran" sudah ada SEBELUM vibravision resmi ditemukan.

Ini jugalah maksud dari ucapan:

@ mas Acepilot.
...
Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Dari makna kedua ini, bahwa terlihat vibravision adalah "pohon baru" yang tumbuh di dalam area tumbuh kembang keilmuan MP hasil dari mersudi Guru Besar sehingga menempati tempatnya tersendiri di dalam daftar keilmuan MP. Kejeniusan dari mengolah yang sudah ada menjadi bentuk yang baru. Inilah inovasi keilmuan. Sehingga ditemukanlah OLAH NAFAS GETARAN.

Dari penjelasan saya diatas, bisa dilihat bahwa terdapat 2 (dua) jalur di MP yang terjadi di lapangan:

Jalur 1 : Olah nafas murni --> Tenaga power
Jalur 2 : Olah nafas vibravision --> Vibravision

Jalur 1 adalah makna pertama, yang saya sebut sebagai jalur warna asli yakni keilmuan Merpati Putih yang MINUS vibravision. Jalur 2 adalah makna kedua, yakni jalur khusus keilmuan vibravision atau keilmuan Merpati Putih yang mengalami inovasi (warna asli + inovasi).

Jika:

Olah nafas murni = A
Tenaga power = B
Olah nafas vibravision = C
Vibravision = D

Makna A adalah :

A --> B --> Tahap Memory Power --> Tahap Aplikatif --> Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas

Yaitu dgn Olah Nafas MP dihasilkan Tenaga Power kemudian Tenaga Power ini dikonversi menjadi "getaran" (bukan vibravision) dan akhirnya Tenaga Getaran inilah yg menjadi dasar Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas lainnya. Kondisi ini tidak memerlukan Olah Nafas Vibravision (C). Kondisi ini pada istilah saya adalah bisa dikatakan kondisi Idealnya MP dan bahwa Vibravision (C) adalah bentuk dari Tahap Aplikatif saja sesuai pendapat berikut ini:

2. Dari metoda mas Budi ini, maka (pendapat saya), setiap praktisi TD yang sdh bisa merasakan penyaluran tenaga di tubuhnya, menyalurkan keluar kemudian latihan mendeteksi "rasa" didepannya ada halang rintang atau kosong, tentu akan bisa (sekurangnya membedakan warna, menembus halang rintang, dengan mata tertutup).

Makna B adalah :

A --> B
C --> D

Masing-masing berbeda sendiri. Pada kondisi ini diberikan 2 jalur pelatihan yaitu pelatihan Tenaga Power dan pelatihan Vibravision. Sayangnya yg menjadi fokus utama pelatihan MP pada anggota tataran bawah HANYA pelatihan vibravision saja yaitu proses C ke D saja dengan sering melupakan pelatihan A ke B. Inilah titik kesalahan pemberian pemahaman dari pelatih pada murid di kebanyakan kolat. Memang tetap ada pelatihan Tenaga Power yaitu proses A ke B tetapi pada pelatihan ini tidak ada Tahap Merasakan Tenaga Power yang dibarengi dengan pengetahuan mengenai aspek penyaluran tenaga power pada setiap gerakan MP. Nafas penyaluran yang digunakan juga seringkali tidak menyentuh substansial mengenai korelasi antara tenaga power dan gerakan MP.

Tahap Memory Power ini yg menjadi dasar Tahap Aplikatif yaitu Penyaluran Tenaga Power MP. Tahap Aplikatif inilah yg kemudian menjadi dasar Tahap Pelatihan Vibravision nantinya. Dengan kata lain pada Proses B ke D pada kondisi A sebenarnya dibagi menjadi 2 Tahap yaitu Tahap Memory Power dan Tahap Penyaluran. Ini yg hilang pada pelatihan MP sekarang ini.

Jika saya simpulkan sementara bahwa penemuan Vibravision ( D ) yang dimasukkan di dalam muatan kurikulum reguler adalah suatu kesalahan.

Mungkin lebih tepatnya kesalahan terjadi pada penerapan pelatihan Olah Nafas Vibravision pada pelatihan reguler MP sebagai suatu Perguruan Beladiri. Olah Nafas Vibravision ( C ) ini seharusnya hanya diterapkan pada pelatihan Tunanetra atau yang mengalami masalah pada mata. Ini bisa dilihat dari kondisi awal aplikatif vibravision yang semuanya SELALU berhubungan dengan organ mata saja (tutup mata, lepas kaca mata, buta warna, halang rintang, warna, dsb). Memberikan Vibravision (D) sebagai keilmuan dasar utama sejak tingkat Dasar 1 reguler hingga Kombinasi 2 reguler inilah yang saya sebut salah letak. Dan bahwa Vibravision adalah merupakan TAHAP APLIKATIF dari Tenaga Power ( B ). Sedang pada pelatihan reguler MP seharusnya tetap dilakukan seperti kondisi A yaitu :

A --> B --> Tahap Memory Power --> Tahap Aplikatif --> Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas

Jika pola pelatihan seperti ini yg dilakukan, MP sebagai Perguruan Ilmu Beladiri tetap bisa mempersiapkan para muridnya dalam suatu pertarungan yg sesungguhnya. Sayangnya pola pelatihan seperti ini yg hilang pada MP sekarang ini.

Pada makna A ini, Olah Nafas Vibravision (C) dan Vibravision (D) BELUMLAH ditemukan. Bahkan bisa dikatakan penemuan C terjadi setelah penemuan D bukan sebaliknya. Inilah makna yang saya tangkap dari statement dibawah ini yang sekaligus juga membenarkan analisa saya:

Alkisah mas Budi ada masalah, seseorang yg disayangi mengalami butawarna. Beliau mersudi, mencari metoda agar ilmu getaran yang ada di MP bisa diaplikasikan untuk menolong anak kesayangannya, tanpa melewati tingkat pernafasan sesuai pakem. Setelah nafas dasar I langsung dilatih getaran deteksi/OM(orientasi dan mobilitas). Ternyata berhasil, anak kesayangan bisa tajam membedakan warna (meski mungkin berbeda dengan pandangan mata normal).
Metoda tadi kemudian  diujicoba ke tunanetra buta total (sekitar 10 orang). Berhasil!
Kemudian dicobakan secara massal diberbagai tempat. Berhasil juga.
Maka latihan getaran deteksi mulai dimasukkan dalam kurikulum lebih   awal/ tingkat balik, meski diujinya ditingkat Kombinasi II  ke Khusus I.

Solusinya akan coba saya paparkan pada posting berikutnya.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #308 on: 31/12/2010 12:14 »
(lanjutan)

Memasukkan materi vibravision (langsung atau tidak langsung) pada tingkatan produktif di dalam muatan kurikulum reguler inilah yang menjadi penyebab utama begitu banyaknya anomali yang terjadi di lapangan. Apalagi ditambah pemahaman pelatih yang tidak mengetahui perbedaan secara prinsipil pada sudut pandang keilmuan. Jadi tidak heran mengapa saya katakan bahwa vibravision (rasanya lebih baik menggunakan kata itu dibanding istilah "getaran") menjadi primadona. Karena memang istilah "getaran" menjadi begitu absurd dan rancu kalau melihat apa yang diberikan oleh muatan kurikulum reguler yang ada.

Solusinya adalah kembali pada makna A, yakni makna hakekat dari beladiri murni:

Olah nafas murni --> Tenaga Power --> Tahap Memory Power --> Tahap Aplikatif --> Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas

Dan memberikan porsi Vibravision sesuai hakekatnya, yakni berada pada Tahap Aplikatif yang diberikan sesuai kearifan lokal cabang atau pelatih yang ada. Sebagaimana nafas-nafas seperti : Tepak Gilang, Tapak Jalak, Surung Geni, Fatma, Jagolet, Belalang, Gupita, dll, yang TIDAK DIMASUKKAN sebagai bagian kurikulum reguler baku yang tertulis pada buku kurikulum.

Solusi ini mengandung banyak keuntungan dimana anggota akan berlatih sesuai dengan hakekat warna asli beladiri MP yang sangat kental dengan nuansa power. Dan bahwa ketika power sudah terbentuk, vibravision adalah salah satu alternatif penguasaan pada tahap aplikatif. Tidak lebih. Pada posisi ini, vibravision menjadi netral.

Pada kurikulum reguler yang ada sekarang, vibravision menempati 3 keahlian utama yakni deteksi obyek dan halang rintang (ujian tingkat Kombinasi), sedangkan warna dan membaca ada pada Khusus 1. Padahal kenyataannya, ketika seseorang sudah memahami halang rintang, latihan warna dan membaca akan cepat sekali dipahami (dari pengalaman, 2-4 minggu dengan latihan normal). Tidak perlu rentang waktu selama dua tingkatan (dari Kombinasi 1, 2 ke Khusus, belum lagi jegal menjegal dari senior).

Tidak adanya jenjang lain selain dari pada HARUS menguasai vibravision inilah yang saya lihat sebagai sumber dari "tumbang"nya anggota. Ada yang tidak mau latihan lagi, ada yang non aktif, ada yang vakum tidak jelas, ada yang bahkan keluar. Ada missing link disini akibat dari masuknya vibravision sebagai SYARAT UTAMA dari Kombinasi 2 ke Khusus 1.

Kalau dikatakan bahwa vibravision BUKANLAH segala-galanya, lalu mengapa ia menjadi syarat utama pengujian seperti pendapat berikut ini:

"Tidak terlalu mahir" berarti tetap harus bisa. Kalau nggak bisa, tidak naik ke Khusus I , berarti tdk bisa belajar aplikasi lanjut.
Maaf.

Bukankah ini jadi paradox? Sebab tidak pernah ada ujian alternatif SELAIN dari vibravision pada Kombinasi 2 ke Khusus 1. Tidak pernah ada saya menemukan anggota yang gagal ujian vibravision kemudian diarahkan untuk mengikuti ujian alternatif seperti misalnya pengobatan. Banyak yang diluluskan karena pertimbangan subyektif.

Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Dan bukankah bahwa keilmuan pamungkas MASIH DAPAT dikuasai tanpa musti berurusan dengan vibravision sebagaimana penjelasan saya pada makna pertama posting sebelum ini?

Inilah jenjang yang hilang atau missing link penguasaan. Disadari atau tidak, vibravision seringkali menimbulkan kecemburuan anggota reguler. Pun seandainya ada pilot project anak-anak atau tingkat Dasar 1, tetap saja kecemburuan itu tidak hilang. Mengapa terjadi kecemburuan? Karena olah nafas getaran masuk di dalam kurikulum reguler. Kenyataannya, pada pilot project tim vibravision anak-anak, mereka tidak memiliki POWER yang sebenarnya dari keistimewaan olah nafas MP pada warna asli jalur turunnya (sanad) keilmuan MP. Ini jugalah yang menjadi protes dari para praktisi power dengan menyebut bahwa vibravision akan menurunkan kualitas standar power MP. Mengapa? Karena memang vibravision adalah untuk tunanetra, bukan orang normal. Tidak lantas dianggap tidak perlu. Tidak demikian adanya. Bahwa di dalam vibravision tidak diperlukan standar power tertentu yang semakin meninggi (bisa dilihat pada analisa saya mengenai olah nafas pengolahan plus beban) tetapi bisa langsung aplikatif pada orientasi dan mobilitas pada bentuk olah nafas standar Dasar 1.

Dengan menempatkan vibravision sebagai Tahap Aplikatif pada Tenaga Power, implikasinya menjadi lebih netral dan jelas. Bahwa ia adalah suatu keilmuan inovasi yang setara dengan Bayu Seto, Kidang Telangkat, Kere Wojo, dkk.

***

Coba saja eleminasi materi vibravision pada kurikulum reguler yang ada. Apakah MP kehilangan maknanya? Tidak sama sekali. MP tetap kokoh dengan nuansa power pada kurikulumnya.

Jadi, yang membuat rancu disini adalah olah nafas getaran yang masuk pada kurikulum reguler. Olah nafas getaran ini adalah shortcut dari pelatihan vibravision dimana tanpa olah nafas getaranpun seorang praktisi dengan kadar power yang cukup akan bisa melakukan hal yang sama. Cukup dengan "pemahaman", maka pemodelan seperti halang rintang, warna, dan membaca akan bisa dilakukan.

Mohon maaf kalau ada ucapan saya yang kurang berkenan.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #309 on: 31/12/2010 13:07 »
Kenapa saya katakan bahwa vibravision ini setara dengan Bayu Seto, Kidang Telangkat, Kere Wojo, dkk? Adalah karena ini benar-benar suatu terobosan di zaman modern ini dengan aplikasi yang hampir tanpa batas.

Bahwa sesungguhnya tahap awal dari vibravision adalah tahap kepekaan, kemudian masuk pada tahap deteksi. Kebanyakan begitulah pemahaman yang umum. Tetapi ada pemahaman yang hilang, yakni tahap visual (bukan visualisasi, tetapi visual). Tahap dimana muncul gambaran visual seperti negatif film pada "gelap" yang mengembang tanpa batasan ini. Jadi, ada 3 tahap di dalam vibravision yakni tahap kepekaan, tahap deteksi, dan tahap visual.

Beberapa praktisi getaran Cirebon (mungkin daerah lain juga) sudah masuk pada tahap visual ini. Beberapa sedang melakukan "penjajakan" untuk menembus batas visual.

Pada tahap visual inilah aplikatifnya yang bisa tanpa batasan. Dan sesungguhnya tahap inilah yang layak disebut sebagai "vibravision" yang sesungguhnya. Kalau sudah masuk pada level ini, maka apapun bisa "divisualkan".

Jadi memang vibravision sangat istimewa dan berbeda dengan sekedar deteksi biasa dari hasil pancaran energi tubuh.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #310 on: 31/12/2010 18:04 »
@ mas mpcrb.

Memang demikian adanya.
Wacana pendalaman getaran tingkat lanjut, tidak bisa dicampur aduk apalagi diperbandingkan dengan getaran tingkat dasar, yang ditargetkan hanya untuk manfaat OM/orientasi dan mobilitas tunanetra serta self healing oleh pasien.
Penglihatan TV/gambaran2 melintas,  yang menjadi ukuran2 bagi aplikasi getaran beladiri/penyembuhan/kawaskitan pada tingkat pendalaman, memang tidak diwacanakan pada pembelajaran getaran tingkat dasar, yang hanya mempunyai intensitas/kapasitas terbatas.
Demikian juga halnya, aplikasi getaran tingkat menengah, berupa latihan tatagerak dengan penghayatan getaran, latihan gerak naluri, baru mulai diwacanakan  pada tingkat yang ditentukan. Hasilnya lebih mantap.

Keputusan dilatihkannya program latihan dasar getaran pada tingkat lebih awal, ada dua alasan penyebab:

1. Ada kondisi, keilmuan getaran MP diperlukan untuk menolong tunanetra akan peningkatan kemampuan OM, dengan teknik deteksi dasar, juga latihan untuk anggota masyarakat tertentu untuk kemampuan self healing.
Yang digunakan tetap ilmu getaran MP, dengan kapasitas yang didapat dari latihan pengolahan napas tingkat dasar MP, yang melalui meditasi MP hasilnya dikonversi menjadi getaran, selanjutnya dimanfaatkan. Katakanlah kalau tingkat lanjut bisa mengolah 500 watt, disini cukup 3-5 watt.
(ada alasan kemanusiaan/pengabdian masyarakat/ keilmuan MP untuk pemanfaatan yang lebih luas).

2. Perkembangan pelatihan tunanetra waktu itu, serta latihan kebugaran khusus (aplikasi getaran dasar), diproyeksikan akan menjadi salah satu ujung tombak ekspansi cabang2 (masuk dengan penyembuhan dan latihan kebugaran khusus, kemudian dikembangkan menjadi kolat reguler)
Dengan demikian (dengan terbatasnya pelatih tingkat khusus I keatas) diperlukan terjaminnya produksi asisten pelatih/pelatih yang mampu melatih getaran dasar. Sehingga disusun program latihan getaran mulai tingkat lebih rendah. Kalau masuk program latihan, tentu harus lengkap dengan target kemampuan dan ukuran2 ujicoba.
(ada alasan kebutuhan aspel/pelatih getaran).


Phenomena yang terjadi dilapangan :

1. Pelatih tunanetra terkadang kalah tajam kemampuan deteksinya dengan tunanetra yang dilatihnya. Masih bisa dijelaskan kemungkinannya. Yaitu, setiap kemajuan kemampuan yang dicapai tunanetra, akan terus menerus dipakai kecuali sedang tidur, sedangkan sang pelatihnya hanya kadang2 menerapkan kalau sedang peragaan tutup mata.

2. Pelatih getaran dasar, terkadang kalah tajam kemampuan OM nya dibanding murid2nya (reguler).
Ini yang BIKIN RUNYAM dan kurang ditindak lanjuti dengan baik.
Ternyata latihan getaran pada tingkat lebih awal, lebih mudah untuk "mulai merasakan" getaran.

3. Meski pada awal2 UKT Nas memasukkan mata ujian deteksi/halang rintang, hasilnya variatip, selanjutnya lancar.
Jumlah peserta juga cukup baik dan stabil, sehingga tidak terasa menyolok, kalau ada anggota kombinasi II dari suatu cabang yang tidak ikut ujian. Meski peserta didominasi kombinasi  II baru. Yang jilid 5 keatas pada kemana? Banyak sebab tidak ikut UKT NAS selain karena "terlambat" atau "buntu" dalam latihan  OM.
Meski setahu saya belum ada survey, masalah2 bisa dimunculkan di UKT Nas, penataran2 pelatih maupun tradisi.

Kedepan ada dua pilihan.  Didrop, kembali ke program semula, atau dilanjut dengan perbaikan.

Keputusan yang ada resiko mendrop program kemanusiaan sepertinya bukan pilihan yang ideal.

Kalau diteruskan, harus ada tindakan pelatihan khusus dan perbaikan program latihan getaran yang lebih terintegrasi.

Sebagai awal, perlu roadshow, safari coaching clinic, ditujukan untuk anggota di cabang2, yang masih "macet" di getaran OM, sampai tuntas. Begitu ketemu slah nya, takkan terlupa.

Salam.   

acepilot

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 4
  • -Receive: 5
  • Posts: 67
  • Reputation: 20
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #311 on: 01/01/2011 15:21 »
mas saya maubertanya, dulu saya pernah bertanya ke mas amos tentang syarat untuk naik ke kombinasi syaratnya :

1. adalah surat rekomendasi dari cab bersangkutan
2. pernah ikut tradisi min 2 x absensi lat di pengda bersangkutan

dan dulu sekitar tahun 1999/2000an saya pernah bertanya ke pelatih sekaligus pendiri kolat saya katanya syarat untuk naik ke kombinasi adalah :

1. berusia minimal 17 tahun

nah yang saya rasa agak janggal adalah saya menemukan beberapa anomali dari syarat2 tersebut :
1. ada beberapa teman yang naik ke kombinasi tapi tidak pernah ikut tradisi
2. ada anak berusia 12 tahun dengan tingkatan kombinasi-1 waktu tradisi kemaren (saya tau umurnya soalnya saya sendiri yang nanya ke anak tersebut)

soalnya saya kepingin naik ke kombinasi, sudah 12 tahun mentok di balik-2..  :D
mohon pencerahannya, trims..
salam..
"SOPO SING ISO NUTUP HOWO SONGO, YO IKU WONG SING ISO NAPAK TAPAKE KUNTUL MELAYANG" ....
-Almarhum Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi)-

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #312 on: 01/01/2011 15:50 »
Balik II ke kombinasi I ujian oleh cabang. Kombinasi I ke Kombinasi II oleh pengda, atau gabungan cabang (pengujinya lintas cabang).
Syarat ikut tradisi atau pengabdian jadi asisten pelatih, menurut kebijakan cabang masing2.

Anak umur 12 tahun yang kombinasi I dari cabang mana/namanya siapa?
Jangan2 cucunya mas Poeng. Hehehe.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #313 on: 01/01/2011 16:04 »
Kalau disuatu cabang oleh karena suatu sebab tidak bisa menyelenggarakan ujian Balik II ke Kombinasi I, anggota tsb bisa minta surat rekomendasi cabangnya untuk ikut ujian di cabang lain terdekat.

Salam.

acepilot

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 4
  • -Receive: 5
  • Posts: 67
  • Reputation: 20
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #314 on: 01/01/2011 19:34 »
Balik II ke kombinasi I ujian oleh cabang. Kombinasi I ke Kombinasi II oleh pengda, atau gabungan cabang (pengujinya lintas cabang).
Syarat ikut tradisi atau pengabdian jadi asisten pelatih, menurut kebijakan cabang masing2.

Anak umur 12 tahun yang kombinasi I dari cabang mana/namanya siapa?
Jangan2 cucunya mas Poeng. Hehehe.

wah itu yang saya kurang tau mas namanya and dia dari cabang mana, apakah dia cucunya mas poeng?
seingat saya sih cucunya mas poeng itu masih balik 1..
kalau syarat no.1 and 2 apa itu hanya wacana saja?
kebetulan kemaren saya foto, nanti saya upload via facebook..
trims..
salam..
"SOPO SING ISO NUTUP HOWO SONGO, YO IKU WONG SING ISO NAPAK TAPAKE KUNTUL MELAYANG" ....
-Almarhum Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi)-

 

Powered by EzPortal