+-

Video Silat


Festival Silat Kampung Jampang - Cingkrik Goning
Gerak Gulung - Introduction
tunggal rasa - Performance silat di acara ultah fp
Proposal audio visual ESI (Ensiklopedia Silat Indo
beksi hasbulloh - Performance silat di acara ultah
Silek Kumango
Silat Tradisional di Pencak Silat Word Championshi
Dogongan, Indonesia wrestling
Tongkat Tunggal

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: PPS Betako Merpati Putih  (Read 580922 times)

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #315 on: 01/01/2011 21:45 »
@ mas Acepilot.
Sdh sy terima di FB. Sayang foto dari samping/belakang Trims. Kalau ada kejanggalan, sudah ada bagian yg ngurus.

Untuk suatu cabang, biasanya tingkat kombinasi akan diarahkan jadi aspel dan diikutkan dalam penataran kepelatihan. Adalah janggal kalau seorang asisten pelatih/pelatih (di Indonesia). belum pernah ikut acara tradisi tahunan, padahal punya tugas mendorong murid2nya ikut acara gathering/silaturahmi nasional berupa acara tradisi tahunan.
Ini yang dijadikan alasan beberapa cabang.
Tentu bisa ada kebijaksanaan/keringanan dari internal cabang kalau ada alasan kuat.

Untuk pengda DKI ada tambaham syarat, harus ikut kegiatan latihan bersama kombinasi II yang cukup, sebelum mendapat rekomendasi ikut UKT Nas. Tentu dimaksud untuk meningkatkan mutu ujian dan tertib organisasi.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #316 on: 02/01/2011 17:38 »
Penglihatan TV/gambaran2 melintas,  yang menjadi ukuran2 bagi aplikasi getaran beladiri/penyembuhan/kawaskitan pada tingkat pendalaman, memang tidak diwacanakan pada pembelajaran getaran tingkat dasar, yang hanya mempunyai intensitas/kapasitas terbatas.

Di lapangan, hal itu tidak terjadi. Lebih banyak runyamnya dibanding benernya. Menurut saya, hal ini dikarenakan terjadi pemahaman yang overlap antara GETARAN dan VIBRAVISION. Kalau sudah bicara getaran, pasti larinya ke vibravision. Makanya kenapa saya akhir-akhir ini cenderung lebih suka menggunakan istilah demikian, agar bedanya jelas. Atas dasar itulah saya katakan bahwa menggunakan istilah getaran yang merujuk pada vibravision hanya akan menimbulkan kerancuan. Hasil akhirnya bisa dilihat bahwa GETARAN menjadi sempit maknanya.

Bahwa GETARAN, merupakan sesuatu yang memang sudah ada dari pada awalnya keilmuan MP itu ada (makna A seperti penjelasan saya sebelumnya). Jadi sesungguhnya pelatihan olah nafas getaran itu BUKANLAH pelatihan untuk vibravision. Inilah yang sering disalahkaprahkan oleh anggota di tataran bawah.

Termasuk mas Acepilot juga pertanyaannya demikian. Ketika ia menanyakan, apakah harus mengerti getaran dulu baru bisa menguasai ilmu pamungkas? Saya yakin maksud mas Acepilot adalah vibravision. :) Ini terjadi dimana-mana. Apalagi kalau iseng lihat di forum Kaskus mengenai group Merpati Putih, akan nyatalah kerancuan ini di lapangan.

Sebagai contoh, ketika anggota bertanya, "mas, mau donk latihan getaran", saya yakin seyakin-yakinnya bahwa yang ada di pikiran anggota tersebut adalah "tutup mata". Dijamin.

Singkatnya, harus diberikan pemahaman bahwa Vibravision merupakan salah satu pengembangan dari GETARAN. Itulah yang benar dan tidak memberikan kerancuan. Kerancuan ini entah mulainya dari mana. Apakah dari pusat? Atau salah tangkap pelatih daerah ketika penataran pelatih.

Mengapa hal ini saya soroti? Karena ini tidak semata-mata masalah istilah KATA. Tetapi sesuatu yang sangat berbeda secara prinsipil. Menyamakan sesuatu yang sangat berbeda secara prinsipil adalah memang suatu kesalahan. Asalnya adalah pertidaksamaan, kemudian dijadikan persamaan. Disinilah sesungguhnya kerancuan yang sudah terjadi bertahun-tahun dan dibiarkan. Itulah sebabnya kenapa saya menggunakan penjelasan Makna Pertama dan Makna Kedua setiap kali ada murid yang ingin berlatih getaran ATAU berlatih vibravision. Sebab memberikan pemahaman yang benar di awal ini penting, agar murid menyadari perbedaan antara keduanya. Hasilnya cukup berhasil.

Saya mengajar salah satu kolat pelajar di Cirebon bersama asisten saya (Mas Masdi, Kombinasi 1, getaran untuk vibravisionnya sudah mencapai tahap visual negatif film), dan kemudian pada anggota tingkat Balik 2 kita mulai mengajarkan getaran dasar DENGAN SEBELUMNYA memberikan pemahaman yang benar perbedaan antara getaran dan vibravision ini. Hasil akhirnya, tingkat keberhasilan menjadi lebih tinggi (diatas 80%, artinya dari 10 orang yang dilatihkan dengan pendekatan ini, 8 orang berhasil). Mengapa ini bisa lebih berhasil? Karena setiap anggota yang berlatih memahami perbedaan karakteristik apa itu getaran dan apa itu vibravision. Mereka tidak bercampur aduk. Tidak bingung yang mana getaran dan yang mana vibravision. Mereka akan tahu bahwa ini adalah tahap getaran dasar, ini untuk masuk ke tahap pelatihan untuk vibravision, ini adalah tahap untuk power, ini adalah tahap untuk pengobatan, dsb. Analoginya seperti murid yang sedang berdiri dimana di depannya banyak sekali arah jalan. Tetapi karena SETIAP arah jalan tersebut dipasang PAPAN PETUNJUK ARAH, maka ia bisa tahu jalan ini mau kemana, jalan itu kemana, dsb.

Lain halnya dengan yang sudah ada sekarang ini. Anggota tidak bisa memahami perbedaan antara getaran dan vibravision.

Asisten pelatih juga melatihkan seorang rekan tunanetra yang kebetulan mengalami kebutaan karena satu peristiwa sehingga syaraf retina-nya putus. Selama 3 tahun, dan alhamdulillah berhasil (namanya Mas Jhon, hingga tahap visual negatif film). Bahkan kebetulan menemukan metode unik untuk menimbulkan efek "menyambung" dari syaraf retina yang putus yang merupakan pengembangan dari metode "lepas kaca mata" dari (alm) mas Budi. Kalau pada tunanetra memang tidak diperlukan memberikan pemahaman awal perbedaan antara getaran dan vibravision, tapi langsung masuk pada inti materi.

Jadi, kalau dilihat pada dua hal tsb, memang kerancuan terjadi pada anggota reguler.


Meski setahu saya belum ada survey, masalah2 bisa dimunculkan di UKT Nas, penataran2 pelatih maupun tradisi.

Ada "penemuan" aneh yang kami temui pada praktisi getaran. Kbetulan ini baru terjadi pada 2 orang (saya dan Mas Masdi). Saat ini Mas Masdi saya minta bantuannya untuk mengumpulkan data mengenai "kecurigaan" saya terhadap EFEK penggunaan getaran pada orang normal terhadap praktisi getaran lain di Cirebon. Kalau sudah terkumpul cukup sampel, saya akan buatkan makalah mengenai ini.

Saya akan posting lanjutan mengenai gambaran "penemuan" ini.

Kedepan ada dua pilihan.  Didrop, kembali ke program semula, atau dilanjut dengan perbaikan.

Keputusan yang ada resiko mendrop program kemanusiaan sepertinya bukan pilihan yang ideal.

Kalau diteruskan, harus ada tindakan pelatihan khusus dan perbaikan program latihan getaran yang lebih terintegrasi.

Sebagai awal, perlu roadshow, safari coaching clinic, ditujukan untuk anggota di cabang2, yang masih "macet" di getaran OM, sampai tuntas. Begitu ketemu slah nya, takkan terlupa.

Sepakat mas, tidak perlu dihilangkan, tetapi diperbaiki program latihannya agar anomali-anomali yang terjadi di lapangan bisa diminimalisir, atau syukur-syukur bisa dihilangkan.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #317 on: 02/01/2011 18:20 »
Metode unik mengena efek "menyambung" syaraf retina yang putus diilhami dari kegiatan kami sehari-hari, dimana mas Masdi adalah seorang teknisi HP, dan saya kebetulan juga orang teknik.

Syaraf retina yang putus memang tidak mungkin disambung kembali secara fisik, TETAPI efek "menyambung" ternyata masih bisa dilakukan. Analoginya, misal syaraf yang putus seperti ilustrasi kabel terputus berikut ini:



Kalau pada kabel fisik aslinya, untuk menyambung digunakan cara memotong kulit pelindung kabel pada kedua sisinya sehingga serabut tembaga terbuka, dan kemudian menyambungkan lagi.

Pada metode "penyambungan", menggunakan pendekatan olah nafas "lepas kaca mata" dari (alm) Mas Budi dan kemudian mengalirkan getaran untuk menjadi "arus listrik lemah" yang menjadi penghubung diantara dua ujung syaraf terputus. Dan "arus listrik" inilah "penyambung"-nya. Tentunya harus bisa "dilihat" terlebih dahulu ujung syaraf terputusnya untuk kemudian dicapai kondisi "penyambungan" dengan arus listrik. Tanpa pendekatan ini, tahap visual negatif film tidak bisa dicapai. Jadi, memang metode ini khusus "diciptakan" untuk kasus Mas Jhon yang buta akibat putusnya syaraf retina ini agar bisa "melihat" lagi. Alhamdulillah berhasil.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #318 on: 02/01/2011 21:01 »
Getaran dasar yang diterapkan di tingkat awal, ya memang getaran untuk deteksi halang rintang dan seterusnya. Tidak ada kerancuan.
Yang rancu kalau melompat tidak urut.
Meski demikian, terserah otoritas keilmuan dalam memberi nama/istilah.
Secara umum, nurut dengan istilah atau urutan yang masih berlaku. Tidak akan rancu.

Salam.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #319 on: 03/01/2011 02:15 »
Metoda lepas kacamata adalah salah satu aplikasi penyegaran sel. Boleh diajarkan karena harus dilakukan sendiri oleh pasien.
Banyak tunanetra yang mengalami efek peningkatan fisikal dengan latihan ini. Misal semula melihat hanya bisa membedakan gelap-terang, berangsur menjadi low vision. Jadi pada latihan OM dia meningkat kemampuan deteksinya, pada latihan perbaikan sel ada perbaikan fisikal pada organ mata.

Memang benar, kemungkinannya bisa meluas. Sebagaimana perbaikan sel pada pasien diabetes type-2, jenis cukup insulin tapi selnya tdk bisa proses. Meski keberhasilan ini sudah ada penelitian di RS Persahabatan. Baru akan di publish setelah memaksimalkan penajaman metoda.

Silahkan memperluas ujicoba prinsip2 itu.

Yang harus hati2 adalah pada tahap pencapaian "visual", konon harus dilandasi kematangan praktisinya, agar dalam mengexplore tidak kesasar/membahayakan.

Salam.


 

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #320 on: 03/01/2011 10:14 »
Meski demikian, terserah otoritas keilmuan dalam memberi nama/istilah.

Alangkah baiknya juga apabila selain juklak, tersedia juga juknis, terutama bagi para pelatih yang ditatar secara nasional untuk kemudian ketika ia kembali datang ke cabang maka menjadi satu suara dan satu pemahaman. Saya lihat ini memang masih wacana, sebagaimana jawaban mas sebelumnya. Semoga 2011 ini sudah ada kemajuan dari pemegang otoritas keilmuan.

Mengemukanya anomali tenaga getaran disamakan dengan vibravision adalah karena kurangnya pemahaman-pemahaman tadi sehingga tujuan utama dimana olah nafas akan menjadi tenaga power yang kemudian diaplikatifkan untuk menjadi gerak naluri dan memahami keilmuan panmungkas seringkali menjadi tidak sinkron di lapangan.

Ada baiknya para penyusun, peramu, dari kurikulum ini memperhatikan hal-hal yang sifatnya prinsipil dan substansial, agar didapat perbaikan-perbaikan di dalam deliverables kepada anggota. Dan kalaupun memang sudah, mungkin penataran pelatih nasional bisa dibuat lebih komprehensif untuk menyentuh hal-hal substansial tersebut. Anggota di tataran bawah seringkali sedikit sekali pengetahuan untuk akses pada level atasnya. Mereka berpatokan pada senior yang ada. Kalau seniornya tidak punya cukup pemahaman, missing link akan terjadi. Dengan kondisi lintas geografis yang "menggurita", juklak saja saya rasa tidaklah cukup.

Dari hasil observasi di lapangan, beberapa yang sering kali menjadi missing link:
- prinsip dasar pengolahan tenaga
- korelasi filosofi dengan keilmuan
- korelasi antara tata gerak dan hasil olah nafas
- perbedaan tenaga getaran dan vibravision
- pemanfaatan tenaga getaran di dalam fighting
- pemanfaatan vibravision di dalam fighting (kalaupun tidak ke arah sini, tidak ada pemahaman lanjutan bahwa ini untuk aspek kemanusiaan bagi pelatihan thd tunanetra)
- korelasi antara pematahan benda keras dengan fighting

Semoga bisa menjadi bahan masukan bagi PPMP. Kalaupun tidak, ya setidaknya apa yang ada di hati ini sudah bisa saya ungkapkan melalui forum ini. Thx to SS. :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #321 on: 03/01/2011 11:09 »
Banyak tunanetra yang mengalami efek peningkatan fisikal dengan latihan ini. Misal semula melihat hanya bisa membedakan gelap-terang, berangsur menjadi low vision. Jadi pada latihan OM dia meningkat kemampuan deteksinya, pada latihan perbaikan sel ada perbaikan fisikal pada organ mata.

...

Yang harus hati2 adalah pada tahap pencapaian "visual", konon harus dilandasi kematangan praktisinya, agar dalam mengexplore tidak kesasar/membahayakan.

Saya tidak tahu apakah pusat pernah melakukan studi kasus mengenai efek penggunaan tenaga getaran untuk vibravision pada praktisi dengan mata normal terhadap fungsi organ.

Sebenarnya hal ini sudah pernah saya dan beberapa rekan praktisi getaran Cirebon perbincangkan sejak 2-3 tahun yang lalu. Tetapi baru sebatas wacana saja, sambil mencari sampling data subyek lainnya. Terakhir ketemuan bareng saat membahas tantangan forum Kaskus yang kemudian dicapai kesimpulan sementara (belum final, masih bisa berubah karena berbagai faktor).

Sekedar urung rembug, barangkali ada pandangan lain mengenai ini.

Keilmuan vibravision, sejauh pengamatan dan pengalaman kami, sangatlah cukup menguras tenaga getaran. Selain para tunanetra, saya belum pernah menjumpai praktisi getaran yang mampu melakukan demonstrasi lebih dari 2 jam nonstop tanpa efek. Ketika dulu MP mengadakan event MURI yang naik kendaraan sambil tutup mata dari Jakarta-Bogor, ada hal yang luput dari pengamatan pusat. Yakni apa yang terjadi terhadap praktisinya setelah itu?

Beberapa praktisi ternyata "tumbang", dengan fisik drop. Perwakilan Cirebon, juga demikian. Awalnya mungkin merasa bahwa memang hal itu sesuatu yang biasa. Tapi ternyata tidak demikian.

Dari beberapa pengamatan (sampel subyek baru 5 orang terdiri dari 4 praktisi normal dan 1 praktisi tunanetra), didapati kondisi yang sejenis pada praktisi normal. Yakni bahwa vibravision cukup menguras tenaga getaran apabila digunakan oleh praktisi dengan mata normal. Sampel subyek dilakukan test darah dan urine. Di dapati terjadi gejala gangguan ringan pada lever dan ginjal. Pengakuan dari sampel subyek adalah bahwa mereka merasa sehat dan normal-normal saja, tidak melakukan hal-hal yang aneh atau aktivitas fisik berlebih. Berlatih olah nafas normal (pengolahan, pembinaan, getaran, vibravision, dsb) yang tidak melampaui batas. Tetapi gangguan ringan terhadap level dan ginjal tetap terjadi. Sampel subyek adalah para praktisi getaran yang sudah pernah melakukan demonstrasi lebih dari 20 kali selama hidupnya, dan sering menggunakan vibravision di dalam hidupnya.

Semua sangat terkejut dengan hasil ini. Dari pembahasan tahap awal, dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh terhadap penggunaan tenaga getaran untuk vibravision pada orang normal. Menariknya, hal ini tidak terjadi pada tunanetra, terutama yang mengalami cacat mata. Dari pengamatan pada Mas Jhon yang mengalami kebutaan akibat terputusnya syaraf retina mata, ia hanya merasa "nyaman" pada matanya, terutama pada "penglihatan" yang dihasilkan dari tahap visual vibravision ini.

Beberapa asumsi kemudian dibuat.

Pertama, asumsi bahwa mungkin ada yang kurang pada pemberian pakem pelatihan vibravision yang sudah ada sekarang ini. Pakem harus dibedakan antara praktisi normal dan praktisi tunanetra. Para praktisi normal (dengan mata normal), sementara ini ditemukan bahwa nafas pembersih HARUS diberikan di awal dan di akhir setelah berlatih. Dan nafas pembersih harus dilakukan setelah praktisi melakukan demonstrasi vibravision ( vv ).

Saat berlatih:
Awal pakem -- nafas pembersih --> pakem vv --> aplikatif --> nafas pembersih --> akhir pakem.

Saat demonstrasi:
demonstrasi --> selesai --> nafas pembersih.

Kedua, perlu ada proses untuk melindungi organ tubuh terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan nafas pembersih DILANJUTKAN dengan regenerasi sel-sel tubuh pada organ atau metode lain (belum kami temukan, masih di riset bersama) untuk mencegah terjadinya gangguan akibat dari efek penggunaan tenaga getaran pada vibravision.

Dari pengamatan sementara, bahwa efek ini hanya muncul pada pengguna vibravision untuk orang normal, dan bukan untuk tunanetra. Sebaliknya, tunanetra merasa nyaman. Jadi dapat kami simpulkan sementara bahwa penemuan vibravision sejatinya adalah "OBAT" bagi tunanetra atau yang mengalami gangguan pada mata. Kami mengasumsikan bahwa vibravision adalah semacam obat "ANTIBIOTIK" bagi tunanetra. Tunanetra kami analogikan adalah orang yang sedang "sakit pada organ mata". Dan vibravision adalah "obat" bagi mereka. Semakin obat itu dikonsumsi oleh tunanetra, maka sakitnya akan semakin sembuh dan membaik. Tetapi pernahkah dibayangkan bagaimana kalau orang sehat mengkonsumsi obat yang sama terus menerus padahal ia tidak sakit? Tentu akan terjadi masalah.

Dua subyek mengalami bola mata yang putih-putihnya menjadi berwarna lebih kemerahan secara permanen. Tidak berakibat sama sekali pada penglihatan normal mereka, malah terasa lebih nyaman menurutnya. Tetapi tampilan mata menjadi lebih merah (seperti mata merah akibat iritasi mata).

Setelah melihat kondisi ini, kami benar-benar merubah pakem getaran untuk orang normal dan membedakannya terhadap tunanetra atau yang mengalami gangguan pada mata. Memasukkan materi yang memang berguna untuk perlindungan organ, terutama regenerasi sel-sel tubuh pada organ yang terkait setiap kali selesai berlatih dan selesai melakukan demonstrasi. Efeknya sangat terasa.

Saat ini sedang diriset dua hal: pertama, mencoba melakukan deteksi jalur PRA VIBRAVISION sebelum tenaga getaran berubah menjadi vibravision untuk mengetahui JALUR tenaga mengalir melalui apa saja. Dari jalur tenaga inilah proses perlindungan akan diberikan. Sebenarnya praktisi sudah bisa merasakan jalurnya, tetapi untuk lebih meyakinkan (karena proses latihan reguler-nya tidak melibatkan pengetahuan sejauh ini) maka kami akan coba rumuskan jalurnya. Artinya, ketika kemampuan vibravision ini akan digunakan, maka jalur inilah yang akan menjadi jalur tenaga getaran mengalir. Kedua, memanfaatkan olah nafas regenerasi sel-sel tubuh yang sudah ada untuk beberapa organ termasuk untuk organ mata sambil mencari pendekatan metode lain yang lebih baik.

Sehingga hasil akhirnya adalah sbb:

Saat berlatih:
Awal pakem -- nafas pembersih --> perlindungan organ --> pakem vv --> aplikatif --> nafas pembersih --> regenerasi sel --> tutup simpul --> akhir pakem.

Saat demonstrasi:
nafas pembersih --> perlindungan organ --> demonstrasi --> selesai --> nafas pembersih --> regenerasi sel --> tutup simpul.

Dan inilah yang saat ini diberikan pada anggota normal yang akan berlatih vibravision. Adapun untuk yang tunanetra masih menggunakan pendekatan sebagaimana adanya kurikulum baku saat ini.

Sebagai suatu hipotesa, kami masih bisa salah. Dengan tingkat subyek yang belum cukup untuk menjadi suatu pembuktian, hipotesa ini juga masih lemah. Untuk itulah kami sedang berusaha mencari sampel subyek praktisi getaran sebanyak mungkin yang bersedia di test darah dan dilakukan pengujian metode tersebut untuk membuktikan analisa kami ini. Atau barangkali pusat pernah punya studi kasus sejenis?

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #322 on: 03/01/2011 13:45 »
Apakah "efek samping" sudah dilaporkan/dikomunikasikan kepada otoritas keilmuan/dewan guru?

Atau apakah dibahas sendiri dengan hasil menemukan antisipasi dengan nafas pembersih?

Apakah sudah diisolir kemungkinan praktisi2 tersebut overload dalam latihan pengolahan nafas regulernya?

Cukup gizikah dalam menjalani latihan reguler yang berat?

Mengingat tunanetra yang terus menerus menerapkan getaran tidak mengalami efek samping yang sama, sudahkah dicurigai ada sebab lain?

Tentu kejadian itu merupakan salah satu bukti bahwa kegiatan transmit-receive getaran adalah merupakan konversi energi tubuh, yang bisa menguras tenaga.

Sebagai gambaran, pada praktisi pemula penyembuhan dengan getaran. Setelah memberi pertolongan pasien dengan klasifikasi agak berat,  praktisi tsb bisa lemas lunglai. (Kalau diteruskan bisa cedera). Biasanya berselera minta sop buntut biar cepat pulih, kemudian latihan menyerap energi alam, atau istirahat lama.

Pada praktisi yg "traffic"nya sudah lancar, nyaris tidak merasa terkuras tenaganya. Ambil/serap-->salurkan...terus menerus. Saldonya jarang minus.

Pelatihan getaran untuk kepekaan, deteksi halang rintang, deteksi bentuk/gambar/tulisan, deteksi warna serta normalisasi sikap/gerak tubuh yang diterapkan pada tunanetra, menyebabkan peningkatan kemampuan OM/orientasi mobilitas tunanetra.

Kondisi tunanetra yang identik dengan "seolah olah" melihat dengan mata, kemudian ada yang menterjemahkan dengan rumusan nama "VIBRAVISION". Memang tidak sepenuhnya tepat dan bisa menimbulkan salah interpretasi.

Diposisikan saja seperti  ketika para ilmuwan menginterpretasikan mekanisme dan merumuskan latihan pengolahan napas MP adalah LATIHAN ANAEROBIC YANG MENGHASILKAN ATP.

Dengan petunjuk/istilah yang ada, serta mekanisme umpan balik yang sudah disiapkan, mudah2an bisa lancar.
Tentu dengan cara, permasalahan2 disampaikan ke tujuan yang tepat.

Salam. 

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #323 on: 03/01/2011 14:57 »
Januari ini rencana akan urung rembug dengan Mas Rahmat (adik Mas Mulyanto Tambak) terlebih dahulu untuk kemudian nanti akan dibicarakan dengan dewan guru setelah di dapati sampel subyek yang lebih banyak dengan gejala yang sama. Menunggu masukan dari dewan guru melalui Mas Rahmat.

Pembahasan tahap awal adalah bahwa metode yang kami lakukan tersebut bisa mengurangi dampak dari tenaga getaran untuk vibravision. Antisipasi awal cukup berhasil dengan nafas pembersih dikombinasikan dengan regenerasi sel dan tutup simpul. Kenapa harus tutup simpul? Sebab terkadang kemampuan ini "keluar sendiri". Sebagaimana kita ketahui, bahwa vibravision merupakan salah satu keilmuan multidimensi yang tidak memiliki "benang pengaman" selain daripada agama dan nilai-nilai yang dianut oleh praktisinya. Agak berbeda semisal dengan "pengisian kesaktian" menggunakan khodam atau isim atau jimat atau sejenisnya yang harus mensyaratkan suatu agama tertentu. Vibravision ini sangat netral, bisa dipergunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Disadari oleh tidak, bahwa kemampuan ini seringkali di dalam keseharian "muncul" dengan sendirinya ketika seorang praktisi "menutup mata" entah karena iseng atau karena ia ingin beristirahat sejenak atau karena ingin tidur. Saat menutup mata inilah, tenaga getaran tiba-tiba mengalir tanpa kita sadari. Yang kalau tidak dilakukan tutup simpul, maka tenaga ini akan mengalir terus. Efeknya tadi, tenaga tubuh jadi terkuras.

Semua menyadari bahwa ketika tenaga getaran untuk vibravision ini muncul, maka simpul menjadi terbuka, terutama otak kecil yang terasa menjadi lebih panas dari sebelumnya. Itulah sebabnya kami menempatkan nafas pembersih dan tutup simpul pada akhir pelaksanaannya. Nafas pembersih digunakan untuk membersihkan daerah yang terlewati oleh efek samping vibravision ini, dan regenerasi sel digunakan untuk memulihkan kembali fungsi organ sebagaimana awalnya.

Kalau masalah overload, praktisi yang dijadikan subyek mengaku tidak berlatih aneh-aneh di dalam aktivitas dan intensitasnya. Dalam artian mereka sejawarnya saja berlatih. Kalau masalah gizi, saya rasa karena semua praktisi sudah dewasa jadi sudah cukup memahami hal ini. Semua juga memahami bahwa ini merupakan konversi energi tubuh, maka dari itu diperlukan olah nafas pembangkit energi secara terus menerus secara periodik. Umumnya adalah senam pengolahan minimal tiap 3 hari sekali agar energi tubuh tetap terjaga.

Khusus mengenai tunanetra, menurut ybs bahwa mata menjadi sangat nyaman baik secara mental maupun fisik. Secara mental adalah bahwa kondisi kebutaan yang diderita tidak begitu menjadi derita bagi praktisi dikarenakan mereka mendapatkan metode lain untuk bisa "melihat". Secara fisik adalah bahwa pada organ mata mereka memang terjadi kenyamanan setiap kali menggunakan tenaga getaran untuk aplikasi vibravision ini. Dugaan kami sementara ini karena memang vibravision merupakan "obat" bagi mata mereka sehingga mereka secara fisik benar-benar terasa nyaman pada organ tersebut (langsung maupun tidak langsung).

Ada pembicaraan juga bahwa kemungkinan untuk orang normal (dengan mata normal) penggunaan teknik vibravision jangan sepenuhnya dari energi tubuh, tetapi melibatkan tenaga alam. Saat ini masih dilakukan riset mengenai bagaimana metode yang baik agar efek samping tidak terjadi. Kalau bicara aplikasi untuk pengobatan, tentunya penggunaan energi alam menjadi lebih mudah karena fokus perhatian lebih sedikit dibanding melakukan getaran untuk demo vibravision (halang rintang, warna, membaca) yang jauh lebih kompleks dari sekedar deteksi untuk pengobatan. Loading otak kecil dan energi tubuh pada ketiga aktivitas tersebut sangat tinggi dibanding getaran untuk pengobatan. Dari sharing oleh salah satu senior memang dikatakan bahwa penggunaan tenaga alam untuk pengobatan memang lebih mudah dibanding untuk vibravision ini.

Kenapa saya katakan penggunaan tenaga alam tidak sesederhana itu? Karena memang loading otak, terutama konsentrasi, pada ketiga aktivitas vibravision (halang rintang/OM, deteksi warna/benda, membaca) sangat tinggi. Pecah sedikit konsentrasi, buyar. Memang lebih rumit pada aplikasinya. Lebih rumit bukan berarti tidak bisa, dan itulah yang sekarang sedang dicoba dipecahkan.

Pada tunanetra, tidak ada kondisi untuk "mengembalikan pada kondisi normal penglihatan" setelah vibravision dilakukan. Sedangkan pada orang normal harus dilakukan. Ketika suatu peragaan vibravision selesai, maka semua "penglihatan" akan dikembalikan pada fungsi organ optik yang sebenarnya, yakni mata. Disadari atau tidak, terjadi juga loading tenaga getaran pada mata. Saat tenaga getaran untuk vibravision dimulai, maka simpul-simpul mulai dibuka, kepekaan ditingkatkan, aspek visual dimunculkan. Tubuh menjadi begitu peka dengan posisi seperti generator yang memancarkan energi terus menerus.

Awalnya memang tidah diperhatikan secara jangka pendek, tetapi kemudian sedikit demi sedikit wacana ini mengemuka diantara kami akibat seringnya sharing. Dari kesamaan-kesamaan itulah di dapati kemungkinan seperti yang saya utarakan. Bahwa efek ini terjadi secara jangka panjang, dan bukan jangka pendek.

Saat ini solusi untuk nafas pembersih di awal dan di akhir, regenerasi sel, dan tutup simpul cukup bisa meminimalisir efek sampingnya bagi praktisi dengan mata normal. Dipikir-pikir, canggih juga para perumus kurikulum vibravision ini. :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #324 on: 03/01/2011 16:30 »
Semoga bermanfaat untuk semua. Amin.

Pendapat saya, anggota semacam mas mpcrb, yang tekun mersudi, membuat jalur kontak langsung dengan dewan guru. Sehingga segala sesuatu perkembangan yang mempercepat, mempertajam, memperkuat, atau indikasi ekses negatip beserta upaya antisipasi yang sudah ditemukan atau belum, bisa didiskusikan dan ditindak lanjuti.
 Mersudi/litbang tentu  memakai norma2, sehingga sampai pada kesimpulan yg bisa direkomendasi oleh otoritas keilmuan untuk dipakai spesifik  terbatas, ditambah kurangi, atau dipakai secara umum.
Pada dasarnya, napas pembersih kadang menjadi kunci pembuka simpul buntu, menyapu sehingga ketemu mana yang "mbrenjul" dsb.
Mudah2an akan banyak "penemuan" yang muncul dimana mana.

Mungkin hanya selera pribadi saya, tidak "sreg" dengan istilah vibravision maupun ATP, yang memang tidak ada dalam peristilahan keilmuan MP, hanya istilah yang merujuk pendekatan ilmiah yang ada sampai saat ini. Yang pada titik tertentu sudah tidak bisa menjelaskan lagi.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #325 on: 03/01/2011 17:10 »
Saya rasa istilah "vibravision" tidaklah begitu menyalahi aturan keilmuan. Sebab ini merupakan suatu bentuk inovasi, yang tentu saja harus dinamai. Seperti halnya "Bayu Seto", "Kidang Telangkat", "Kere Wojo", dsb. Juga nafas-nafas lain yang tentu saja harus memiliki nama. Dengan nama inilah menjadi pembeda antara yang satu dengan yang lain. Kesepahaman mengenai suatu pengertian juga di dapat dari suatu penamaan.

Antara "Andi" dan "Bambang" pada penyebutan nama orang tentu akan merujuk pada sosok yang berbeda. Meskipun sama-sama berwujud manusia.

Justru menggunakan nama "getaran" yang merujuk pada aplikasi "tutup mata" ini malah jadi melebar kemana-mana yang pada akhirnya bisa dilihat kerancuan pemahaman anggota pada tataran dasar. Betapa banyak dari mereka yang kebingungan dengan penggunaan istilah ini sebelumnya sehingga merasa kalau tidak bisa getaran (maksudnya pasti merujuk pada "tidak bisa vibravision") ya berarti tidak akan bisa masuk pada keilmuan lain. Meskipun kenyataannya tidak demikian.

Jadi, tidak heran kalau pada salah satu thread sebelah ada yang mengatakan kalau ilmu getaran MP itu dangkal. Sebab yang dirujuk oleh user tsb sebenarnya mengacu pada "vibravision" yang sering mereka lihat. Karena user ini menilai bahwa kebanyakan orang-orang MP memahami getaran ya ilmu tutup mata. :)

Sama halnya ketika berlatih "Bayu Seto", tentu penggunaan nama ini akan menjadi pembeda mengenai proses, teknik, dan aplikasi keilmuannya. "Wujud" Bayu Seto, "wujud" kere wojo, dll, tentu berbeda dengan tenaga getaran itu sendiri. Demikian juga halnya dengan penamaan "Vibravision".

Lafal "vibravision" terdengar cukup 'modern' di zaman sekarang sebagai suatu keilmuan beladiri, sebelum nanti otoritas keilmuan menemukan nama yang lain yang dirasa lebih pas.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #326 on: 03/01/2011 19:08 »
Silahkan kalau lebih mempertimbangkan untuk konsumsi orang luar. Termasuk sbg istilah untuk bahasa inggris.
Tapi kalau mewacanakan kedalam termasuk kepada para dewan guru , pelatih  dan para anggota, saya sarankan lebih baik  memakai istilah baku.

Sekedar saran saja.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #327 on: 04/01/2011 10:15 »
Memang benar kalau menggunakan istilah harus pada tempatnya. Saat ini akses saya terhadap dewan guru baru akhir-akhir ini lewat facebook. Alhamdulillah sudah cukup banyak memberi warna baru. Saya juga pernah diskusi ini dengan salah satu dewan guru dan beliau juga tidak paham istilah vibravision. Ketika kemudian saya pakai istilah "tutup mata", barulah paham. :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #328 on: 04/01/2011 14:06 »
Tulisan ini saya copy dari sebagian data makalah penelitian pribadi saya terhadap Merpati Putih. Dimulai dari pengamatan dan penelitian terhadap sport modern, kungFu, dan kemudian Merpati Putih. Memang tidak lengkap utuh, tetapi saya sarikan intinya. Semoga bermanfaat bagi sahabat silat sekalian, terutama anggota Merpati Putih, untuk menambah pengetahuan.

Selama ini saya sering menggunakan istilah Isometric Exercise, Dynamic Tension, Plyometric Exercise, dsb, bukan tanpa alasan. Istilah-istilah tersebut merupakan hasil penelitian dari suatu diskursus keilmuan modern yang sudah teruji baik pada konsep, hasil, maupun proses. Disadari benar bahwa pasti ada keterkaitan antara diskursus keilmuan modern tersebut dengan beladiri. Adapun mengapa KungFu? Sebab ini adalah salah satu jenis beladiri tertua yang saya ketahui. Perjalanan panjangnya, meski tanpa embel-embel ilmiah, disadari atau tidak dan diakui atau tidak ternyata banyak diadopsi sebagai pengetahuan dasar dalam membentuk keilmuan modern di dalam sports. Sehingga memahami karakteristik sebagian unsurnya akan bisa membuka jalan pengetahuan baru yang bisa saja buntu terhadap Merpati Putih. Bahwa disadari atau tidak, tak pernah ada keilmuan di dunia ini yang sempurna. Kesempurnaan adalah mutlak milik Allah. Meski demikian, tidak perlu menutup diri terhadap pengetahuan luar yang dirasa bisa menjadi pelengkap pengetahuan beladiri yang kita geluti. Sebab pada intinya, pengetahuan itu seperti puzzle. Terkadang, salah satu potongannya berada pada pengetahuan pada disiplin ilmu lain sehingga ketika dirangkai utuh, maka wujud dari puzzle tersebut akan terlihat nyata.

***

Pelatihan Sport Modern
Plyometric Exercises bertujuan untuk meningkatkan kecepatan muscle contraction sehingga tubuh bisa menghasilkan explosive power yg paling optimal. Cara kerjanya biasanya dengan mengaktifkan ( Stretching ) terlebih dulu otot yg akan digunakan kemudian dengan melakukan suatu hentakan ( Contraction ) otot tsb "dipaksa" untuk bergerak secara cepat dan explosive.

Berdasarkan analisa mekanika otot - bisa dikatakan Otot bekerja seperti layaknya pegas ( per ). Pegas yg ditekan akan berusaha kembali ke panjang semula demikian pula otot yg dibebani ( Stretching ) akan berusaha kembali kebentuk semula ( Contraction ).

Sedang dari analisa System Syaraf, ketika otot melakukan Stretching maka system syaraf akan bekerja lebih aktif untuk melindung otot dari cidera. Ada semacam energi potential yg bekerja agar otot tidak over stretching - ini dikenal dengan Stretch Reflex. Stretch Reflex ini mengaktifkan lebih banyak serat otot yang akan menyimpan energi potensial yg siap digunakan untuk melakukan suatu aktifitas dan juga untuk melindung otot dari cidera.

Hanya saja jika energi potential yg timbul sesaat akibat Stretch Reflex ini tidak dimanfaat dengan segera maka energi potential ini akan segera hilang. Plyometric Exercises berusaha memanfaatkan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex ini.

Misalnya dalam Squat Jump Exercise - Sebelum melakukan suatu loncatan badan harus direndahkan terlebih dahulu untuk memberi beban sesaat pada otot-otot kaki ( Stretching ) - pada saat inilah timbul energi potential dari Stretch Reflex. Dan begitu badan direndahkan ( Squat ) harus segera diikuti dengan gerakan meloncat ( Jump ) secepat dan sexplosive mungkin untuk memanfaatkan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex.

Waktu antara Stretching ( mis. Squat ) dan Contraction ( mis. Jump ) harus seminimum mungkin. Dan Contraction harus dilakukan secepat dan se-explosive mungkin - ini prinsip pelatihan Plyometric.

(Sumber: http://www.sport-fitness-advisor.com/plyometricexercises.html)

***

Analisa KungFu Dari Sudut Pandang Mekanika Otot

Jika kita amati pola pelatihan Xinyi Quan ( ataupun Neijia lain khususnya yg mengandalkan Fa Jin ) sangat menarik sekali. Karna pola latihan Xinyi Quan benar-benar memanfaatkan pola latihan Isometric dan Plyometric secara berkesinambungan.

Latihan Zhan Zhuang merupakan pelatihan dasar Neijia yg bersifat Isometric Exercise.  Berdasarkan analisa mekanika otot bisa dikatakan Pelatihan Isometric bertujuan melatih otot Postural yaitu otot-otot yg mempertahankan suatu postur tubuh secara keseluruhan. Dengan pelatihan Isometric ini bisa dikatakan seluruh otot tubuh yg digunakan untuk mempertahankan suatu postur dipaksa untuk bekerja.

Otot Postural ini tersebar pada seluruh tubuh - ini yg menjadi dasar prinsip "Whole Body Movement" dari Neijia CMA berbeda dengan "Sectional Power" dari Waijia CMA yg lebih memanfaatkan Otot Phasic yaitu otot yg digunakan untuk melakukan suatu gerakan.

Ketika kita akan mengambil sesuatu dengan tangan kita biasanya kita hanya akan menggerakan otot-otot lengan saja tidak otot tubuh lainnya seperti otot kaki misalnya - ini yg disebut Otot Phasic. Kecuali mungkin praktisi Neijia yg sangat mahir mungkin akan menggunakan Otot Posturalnya ( dari otot kaki hingga otot jari ) ketika tangannya akan mengambil sesuatu.

Dari analisa System Syaraf juga tidak kalah menariknya, seperti dalam penjelasan di atas dikatakan dengan melakukan latihan Zhan Zhuang ( ataupun latihan Isometric lainnya ) maka otot Postural lah yg aktif bekerja. Dan karna Otot Postural tersebar diseluruh tubuh kita maka bisa dikatakan pada pelatihan Isometric, system syaraf yg tersebar pada seluruh tubuh juga dipaksa untuk bekerja lebih aktif lagi. Dan system syaraf bisa dikatakan dikontrol melalui pikiran kita. Ini sebabnya bisa dikatakan pelatihan Zhan Zhuang dan pelatihan Isometric lainnya lebih menitikberatkan pada penggunaan Pikiran dibanding Otot Tubuh.

Pelatihan Zhan Zhuang yg menitikberatkan pada pelatihan otot Postural yg tersebar diseluruh tubuh kita ini yg akhirnya melatih pikiran kita - melalui System Syaraf kita - untuk merasakan tubuh sebagai satu kesatuan yg utuh.

Dalam artikelnya Tim Cartmell mengatakan : " At the outset of training, the internal arts place the greatest emphasis on refining and training the nervous system to control the body. In contrast, most external styles emphasize increasing strength and endurance (external power) as the base upon which martial technique will be built. "

Contoh Extremenya : Bisa dilihat perbedaan antara pelatihan Taiji Quan yg menitikberatkan melatih Nervous System ( Sistem Syaraf ) untuk mengontrol tubuh dengan pelatihan Karate yg lebih menekankan Strenght  and Endurance misalnya. Nervous System ( Mind / Pikiran ) erat kaitannya dengan Postural Muscles sedang Strength and Endurance ( Body / Otot Tubuh ) erat kaitannya dengan Phasic Muscles.

Jadi pelatihan Zhan Zhuang ( ataupun pelatihan Isometric Lainnya ) pada Xinyi Quan dan Neijia CMA lainnya bertujuan meletakan basic dasar untuk pelatihan Postural Muscle dan juga System Syaraf tubuh secara keseluruhan.

***

Pelatihan dalam Xinyi Quan ( ataupun Neijia lainnya khususnya yg mengandalkan Fa Jin ) tidak berhenti pada latihan Isometric  saja tetapi kemudian berlanjut dengan latihan Plyometric. Tahap berikutnya pada pelatihan Xinyi Quan setelah Zhan Zhuang ( Isometric Exercises ) adalah pelatihan Power ( Plyometric Exercises ) yang dilakukan dalam bentuk pelatihan Wuxing Quan ( Five Element Fist ).

http://www.youtube.com/watch?v=ePEsgnTMd1c

Pada video di atas bisa dilihat pelatihan ini benar-benar mencerminkan pelatihan Plyometric yg biasa dilakukan pada pelatihan modern. Semua jurus diawali dari suatu sikap awal tertentu kemudian dilanjutkan dengan gerakan menghentak yg cepat dan explosive untuk memanfaatkan energi potential ( Stretch Reflex ) yg didapat dari sikap awal tsb. Setelah beristirahat sejenak kemudian gerakan jurus tsb diulangi lagi - terus menerus dalam repitisi yg biasanya sangat extreme.

Bandingkan dengan pelatihan Plyometric dibawah ini - pada pelatihan Plyometric Modern ini digunakan bola sebagai beban :

http://www.sport-fitness-advisor.com/plyometric-drills.html

Bandingkan Power Training dari pukulan ke arah bawah Xinyi Quan ( Jurus Pertama dalam video tsb ) dengan Slams dari Plyometric Exercise - terlihat kemiripannya yakni keduanya dimulai dengan menarik tangan ke arah belakang kepala ( Stretching ) terlebih dahulu kemudian membanting tangan ( Contraction ) ke bawah secepat dan se-explosive mungkin.

Begitu pula bisa dilihat Power Training dari pukulan ke arah depan ( Jurus kedua dalam video tsb ) menggunakan prinsip yg tidak jauh berbeda dengan Explosive Start Throws dari Plyometric Exercise. Gerakan dimulai dengan menarik tangan ke arah belakang ( Stretching ) diikuti dengan melempar tangan ke depan secepat dan explosive mungkin.

Semua dimulai dengan suatu Sikap Awal ( Posture Awal ini untuk mengaktifkan Postural Muscles ) diikuti dengan Gerakan cepat dan explosive. Waktu antara Sikap Awal dan Gerakan Cepat Explosive diusahakan seminimum mungkin agar tidak ada kehilangan Energi Potential yg didapat dari Stretch Reflex.

Baik Power Training Xinyi Quan ataupun Plyometric Exercise dilakukan dengan cara melakukan Gerakan Sederhana tsb berulang kali.

***

Latihan Fa Jin yg dilakukan melalui pelatihan Wuxing Quan ini benar-benar memanfaatkan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex dengan optimal. Cepat, penuh tenaga dilakukan dengan satu hentakan yg semua dimulai dari Potural Muscle ( Sikap Awal ) yg bertujuan untuk mengaktifkan Stretch Reflex.

Bisa dikatakan Zhan Zhuang yg bersifat Isometric menjadi dasar untuk mengaktifkan System Syaraf dan Postural Muscle yg digunakan pada Sikap Awal suatu jurus. Dengan semakin aktifnya System Syaraf dan Postural Muscle maka akan semakin besar energi potential yg didapat dari Strecth Reflex ketika melakukan Sikap Awal. Energi Potential yg dihasilkan dari Sikap Awal ini kemudian digunakan dengan baik pada pelatihan Wuxing Quan yg bersifat Plyometric.

Dari sini bisa dilihat suatu kesinambungan pola latihan Isometric dan Plyometric dalam Xinyi Quan. Tujuan pelatihan Zhan Zhuang adalah agar tubuh memiliki energi potential yg besar - sedang pelatihan Wuxing Quan bertujuan untuk memanfaatkan energi potential tsb sebaik mungkin.

Jadi bisa dikatakan Zhan Zhuang ( Isometric ) mempersiapkan praktisi untuk mendapatkan energi potential sebesar mungkin sedang Wuxing Quan ( Plyometric ) mempersiapkan praktisinya untuk mampu mengubah energi potential tsb menjadi energi kinetik seoptimal mungkin.

Dalam pelatihan modern Plyometric Exercise dikenal rentan menimbulkan cidera karna sifat latihannya yg menuntut dilakukannya sebanyak mungkin repitisi gerakan yg bersifat explosive dalam waktu sesingkat mungkin. Tampaknya para master beladiri di dunia Timur seperti di China ini sudah mengetahui hal ini.

Untuk itu sebelum melakukan pelatihan yg bersifat Plyometric ( seperti Wuxing Quan ) perlu dilakukan suatu pengkondisian terlebih dahulu pada tubuh. Dan pelatihan yg bersifat Isometric ( seperti Zhan Zhuang ) inilah yg diperlukan.

***

Sebagai pembanding mungkin kita bisa lihat link di bawah ini bagaimana Strength Training Programs dalam Olahraga Tinju - yang diyakini juga menjadi program latihan standard untuk cabang beladiri lain seperti MMA misalnya :

http://www.sport-fitness-advisor.com/strengthtrainingprograms.html

Perhatikan tabel "Strength Phases for Boxer" sebelum Pertandingan ( F ) untuk periode latihan pada bulan Sep-Dec. Strength Training Programs dibagi menjadi program Basic Strength, Maximal Strength, Conv to P, Mantain P and ME hingga hari F ( Fight ).



Pelatihan diawali dengan program Basic Strength ( BS ) biasanya fokus pelatihan pada tahap ini adalah pada Core Strength Training ( Pelatihan Core Muscle ) - tujuan program ini mempersiapkan otot tubuh agar tidak mudah mengalami cidera pada program latihan yg lebih berat. Kemudian pelatihan dilanjutkan dengan program latihan Maximal Strength ( MS ), program latihan ini melibatkan pelatihan angkat beban seperti Bench Presses, Dead Lift dsb. Tujuan latihan ini untuk meningkatkan kekuatan maksimal otot.

Setelah otot mengalami peningkatan kekuatan maksimal dari program Maximal Strength kemudian program latihan selanjutnya adalah mengconvert kekuatan maksimal otot ini menjadi Power ( Conv. to P ). Pada tahap inilah pelatihan explosive power seperti Plyometric digunakan. Sebelum hari F ( Fight ) program selanjutnya hanyalah memaintain Power dan Muscular Endurance si atlet dengan program latihan ringan.

Jika kita lihat perbedaan antara pelatihan modern pada Tinju dengan Neijia seperti Xinyi, Baji dsb terletak pada program latihan Maximal Strength. Pada Neijia biasanya tidak ada pelatihan angkat beban baik itu yg bersifat Isometric sekalipun untuk mendapatkan peningkatan kekuatan maximal otot - berbeda dengan Isometric MP yg sudah menggunakan beban. Selebihnya bisa dikatakan program pelatihannya tidak jauh berbeda.

Pada Neijia Basic Strength didapat dari pelatihan Isometric seperti Zhan Zhuang sedang Convert to Power nya dilakukan dengan pelatihan Plyometric seperti Wuxing Quan. Sedang Program untuk me-maintain Power dan Muscular Endurance didapat dengan melakukan latihan ringan Wuxing Quan secara rutin setiap hari.

Selain itu juga terdapat perbedaan utama antara program Basic Strength pada olahraga Tinju dengan Neijia yaitu pada Neijia program Basic Strength mengutamakan pelatihan yg bersifat Isometric Extreme untuk melatih Otot Postural sedang pada Tinju biasanya Basic Strength tidak menggunakan pelatihan Isometric tetapi lebih menggunakan pelatihan bersifat Dynamic yg lebih melatih Otot Phasic.

Itu sebabnya bisa dikatakan Neijia menggunakan prinsip "Whole Body Movement" sedang Tinju menggunakan prinsip "Sectional Power" sebagai dasar pengolahan tenaganya. Inilah yang dimaksud prinsip dasar pengolahan tenaga.

(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #329 on: 04/01/2011 14:45 »
(lanjutan)

Studi Kasus Pada Merpati Putih

Jika dilakukan studi banding dengan MP, memang benar pelatihan MP bisa dikatakan memiliki dasar pelatihan Isometric yang extreme dengan berbagai posture-nya melalui oleh nafas pengolahan dan olah nafas pembinaan. Plus juga beban yang digunakan di dalam pelaksanaan olah nafas tersebut.

Dan jika kita belum pernah melihat beberapa alat yg digunakan pada pelatihan Isometric, maka kita akan terkejut ketika mengetahui bahwa ada salah satu alat pada pelatihan Isometric modern yang mirip dengan Gandewa yang biasa digunakan pada pengolahan tingkat Khusus.

Hanya saja sayangnya latihan Isometric MP yg extreme ini tidak dilanjutkan dengan pelatihan Plyometric yg extreme juga seperti yg ada pada pelatihan Xinyi Quan. Pada Xinyi Quan setelah pelatihan Zhan Zhuang yg extreme ( Isometric ) kemudian dilanjutkan dengan pelatihan  Wuxing Quang yg juga tidak kalah extremenya ( Plyometric ) untuk mendapatkan "rasa Fa Jin" dan  juga pada Ten/Twelve Animal Fist ( Advanced Plyometric ) yg lebih aplikatif untuk pertarungan.

Inilah perbedaan yg mendasar antara MP dan Neijia CMA seperti Xinyi Quan ataupun Baji Quan yg juga mengandalkan explosive power seperti MP - yaitu hilangnya ( Missing Link ) pelatihan Power berbasis Tata Gerak ( Kinetik ) pada pola latihan MP. Pada pelatihan Xinyi ataupun Baji pelatihan Isometric ( Energi Potential ) hanya menjadi dasar untuk pelatihan Plyometric ( Energi Kinetik ) pada tahap selanjutnya.

Pelatihan Isometric dan Plyometric adalah suatu pola pelatihan yg berkesinambungan.

Ini yg tidak ada pada pola pelatihan MP. Pada pola pelatihan MP - energi potential ini kurang dimanfaatkan dengan suatu latihan Tata Gerak tertentu untuk mengubahnya menjadi energi kinetik seoptimal mungkin. Jadi bisa dikatakan energi potential yg didapat dari pelatihan Isometric yg extreme tidak dikonversikan menjadi energi kinetik melalui latihan Plyometric yg extreme juga. Kalaupun terjadi kondisi dilapangan seperti yang dimaksud, terjadinya tidaklah massive/massal tetapi sporadis/insidental berdasarkan kedalaman pengetahuan pelatih. Artinya, secara substansial kurikulum resmi belum memuat hal-hal prinsipil seperti itu.

Jika kita analogikan pada pelatihan Tinju memang pelatihan Isometric MP bisa kita masukan sebagai program latihan Basic Strength (BS ) dan juga Maximal Strength ( MS ) karena sudah adanya penggunaan beban pada latihannya. Tetapi dalam pelatihan MP tidak ada program latihan "Convert to Power" - tidak ada bentuk latihan untuk meng-convert Maximal Strength yg didapat dari pelatihan Isometric menjadi Explosive Power dalam bentuk Kinetik ( Gerakan ). Yang ada adalah konversi dari konversi pelatihan Isometric menjadi Tenaga Getaran kemudian masuk pada keilmuan kanuragan. Adapun bagaimana korelasi antara Tenaga Getaran yang dihasilkan ini dengan Tata Gerak yang sudah ada sering diabaikan.

***

Pada kondisi ini, bisa dibuat suatu studi kasus dimana dipilih beberapa Gerak Dasar Serangan MP untuk dijadikan semacam Wuxing Quan ala MP. Gerak Dasar Serangan MP ini yg nantinya bisa dijadikan semacam Pelatihan Plyometric ala MP yg juga tidak kalah extremenya. Hasilnya diperbandingkan dalam jangka waktu tertentu mengenai kekuatan otot, daya tahan melakukan repetisi pukulan, dan kekuatan daya pukulan.

Tetapi yg perlu diingat adalah Latihan Gerak Dasar Serangan MP ini juga harus dilakukan dengan Prinsip Pelatihan Plyometric yg benar juga - yaitu pemanfaatan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex ( Sikap Awal ) menjadi energi Kinetik seoptimal mungkin dengan gerak yg cepat dan explosive. Waktu antara Sikap Awal dan Gerakan Cepat Explosive diusahakan seminimum mungkin agar tidak ada kehilangan Energi Potential yg didapat dari Stretch Reflex.

Meskipun sebagian pada prinsip dasar ini termuat di dalam Nafas TO (tenaga otomatis) ala MP, akan tetapi korelasi dengan tata gerak masihlah belum maksimal. Dalam arti tidak ada instruksi lanjutan di dalam kurikulumnya untuk memasukkan bagian dari aspek aplikatif pada tata gerak yang dilambari tenaga explosive ini.

Sebagian dari pelatihan tradisional MP yang berprinsip LEMAS, CEPAT, KERAS, BERTENAGA, sudah mulai ditinggalkan. Padahal pelatihan tradisional MP dengan prinsip tersebut benar-benar cukup mewakili prinsip dasar pengolahan tenaga seperti yang saya sebut diatas. Sehingga tidak heran kualitas pukulan anggota MP pada tataran dasar rata-rata lebih rendah dibanding mereka yang memahami prinsip dasar pengolahan tenaga berbasis whole body movement ini. Padahal, pelatihan tradisional ini terbukti sangat baik dan sesuai dengan kaidah dasar di dalam Plyometric Exercize.

Prinsip Dasar Plyometric Exercise adalah seperti Mekanisme yg bekerja pada Pegas ( Per ).

Pelatihan Plyometric ini sebenarnya yg menjadi salah satu missing link -yg menjadi topik pembahasan makalah ini. Yaitu pelatihan Explosive Power berbasis Tata Gerak ( Kinetik ) - pelatihan berdasarkan prinsip mekanika otot dan energi kinetik yg dihasilkan dari Tata Gerak MP. Selain missing link pada latihan Kepekaan ( Olah Rasa - Getaran ) berbasis Gerakan ala Pushing Hand (tuishou atau tempel) yang dapat menyiapkan praktisinya untuk berada pada kondisi fighting secara fisik.

Disinipun hilang jenjang penguasaan berbasis tata gerak dengan prinsip mekanika otot. Pada studi kasus salah satu silat tradisional, di dapati teknik pushing hand yang menghasilkan kemampuan "rasa usik", "rasa nempel", dan "rasa sinar". Kalaupun anggota tidak bisa mendapatkan "rasa sinar", maka ia masih bisa mendapatkan "rasa usik" dan "rasa nempel".

Pada Merpati Putih, kalau seorang anggota tidak bisa menguasai tenaga getaran untuk deteksi yang menuju gerak naluri (yakni gerakan yang dilambari getaran), maka ia akan "kehilangan" daya. Kesimpulan sementara, ia harus meraih keberhasilan menguasai tenaga getaran. Kalau masih gagal, berlatih terus hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Prinsip seleksi alam. Seleksi alam memang baik, tetapi semestinya perlu dipikirkan juga terhadap anggota-anggota yang gagal ini. Minimal ada alternatif dari sejak awalnya ia memulai berlatih olah gerak, kemudian bisa menghasilkan tenaga yang tidak kalah besar dengan yang dihasilkan oleh tenaga getaran. Tentunya dengan batasan-batasan yang tetap tidak akan mampu melampaui kemampuan dan kualitas tenaga getaran. Jenjang penguasaan ini, minimal menjadi "obat" bagi mereka yang tidak berjodoh dengan getaran.

Kurikulum Baku MP masih terlalu bersifat Kanuragan sehingga melupakan pelatihan berbasis Tata Gerak. Jika Pelatihan Isometric MP ( Nafas Pengolahan dsb ) yg extreme didukung dengan Pelatihan Plyometric ( Wuxing Quan ala MP ) yg juga extreme - mungkin akan bisa didapat pesilat MP yg benar-benar mumpuni. Cepat, Keras, Explosive dan juga telengas yg tidak akan kalah dalam pertandingan IPSI ataupun ajang lainnya. Tetapi hal ini tidak terjadi.

Pelatihan Pernafasan MP yg bersifat Isometric ini sebenarnya sudah mempersiapkan kondisi otot tubuh praktisi MP untuk mampu melakukan suatu aktivitas fisik yg berat - tetapi tidak terdapat suatu bentuk pelatihan Plyometric dalam Kurikulum Baku MP untuk memanfaatkan Energi Potential yg sudah tersedia itu dan mengubahnya menjadi Energi Kinetik seperti yg ada dalam pelatihan Xinyi Quan ataupun Baji Quan.

Sehingga sangat disayangkan hasil latihan pernafasan MP yg bersifat Isometric dengan pelatihan yg sangat extreme ini jika tidak dilanjutkan dengan suatu bentuk pelatihan Plyometric yg juga bersifat extreme.

Tidak ada alternatif lain bagi mereka yang mengalami kegagalan terhadap penguasaan tenaga getaran untuk mencapai tahap kanuragan pertama yakni "tutup mata" atau istilah umum 'getaran'. Sehingga disinilah banyak sekali anggota yang pada akhirnya tumbang tidak mau berlatih lagi atau terpaksa mengambil jalur lain semisal organisasi.

Prinsip dasar yang diterapkan adalah hanya berbasis tenaga yang dihasilkan dari olah nafas yang menjadi tenaga power dan dikonversi menjadi tenaga getaran. Sedangkan prinsip dasar berbasis tata gerak sama sekali tidak ada. Gerak naluri pun menggunakan pendekatan ini, yakni pendekatan berbasis tenaga getaran, tidak berbasis alternatif lain.  Meskipun bisa jadi ada pemahaman lain, tetapi tidak massive terhadap anggota tataran dasar, terutama pada tingkat-tingkat produktif (tingkat Dasar hingga tingkat Kombinasi).

Tulisan ini berusaha mengurai apa yang sudah melekat pada MP yang menjadi kekuatan pada pelatihan yang ada berbasis kurikulum baku, dan bagaimana mencari alternatif solusi untuk melengkapi apa yang menjadi kekurangan MP. Tidak lantas membuat MP menjadi ke-KungFu-KungFu-an, tetapi mengambil pemahaman pada prinsip dasar yang dipakai oleh mereka untuk dicoba melihat perbendaharaan apa yang dimiliki MP yang mirip atau mendekati prinsip tersebut. Hasil akhirnya, tetaplah suatu bentuk pelatihan MP yang (diharapkan) lebih komprehensif, berjenjang, dan memiliki prinsip dasar pengolahan tenaga yang lengkap dari sebelumnya.

***

Semoga berguna.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal