+-

Video Silat

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

maenpo Cikalong by aki sija
25/02/2015 22:01

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Aku harus melangkah lagi  (Read 4520 times)

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Aku harus melangkah lagi
« on: 30/01/2009 00:39 »
Dalam cerita ini mungkin tidak banyak berguna bagi pembaca, akan tetap aku berharap tulisan ini menjadi cerita yang menarik buat sahabat semua disini. Maaf bila ada kesamaan nama dan tempat, anggap saja sebuah kebetulan.



Namaku Faradiah,  keluargaku biasa memanggilku Diah,  sebagai anak bontot dari 3 saudara semuanya laki-laki hanya aku saja yang perempuan, wajar bila aku paling manja dibandingkan dengan 2 orang saudaraku lainnya.

Kini aku memiliki 2 orang anak dari dua suami, anak pertamaku  berjenis kelamin perempuan dari suami pertamaku  yang telah  meninggalkanku saat anak kami baru berumur 4 bulan, kini ia berusia 8 tahun, dan sudah masuk sekolah dasar, begitu bangganya aku padanya karena ia sangatlah pandai, kelebihan lainnya adalah ia sangat sayang sekali dengan ayah barunya, ayah yang ia idam-idamkan sejak ia mulai melihat dunia. ia aku beri nama "Kumalasari" nama ini adalah pemberian ayah dan ibuku khusus untuk cucu pertamanya.

sedangkan anak yang kedua masih sangat balita ia bernama "Jati Wirawan" aku berharap ia sekuat pohon jati dimana ia tumbuh dengan kuatnya hingga ia tumbang di masih menampakkan kekuatan dan manfaat kepada orang lain, Kini aku hidup bersama anak-anakku yang sangat kami cintai, begitupun dengan suamiku ia sangat sayang kedua anakku ini.

Perjalan hidupku memang penuh liku-liku bahkan di tengah jalan aku sempat putus asa dan memang aku akui cita-cita setinggi langi biru sedikitpun aku tidak menyesal bila aku kini hanya menjadi seorang Ibu bagi anak-anaku, darah dagingku.

( DI edit Oleh ADMIN)
« Last Edit: 05/10/2009 09:32 by Qsecofr »

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Aku harus melangkah lagi
« Reply #1 on: 30/01/2009 01:42 »
Hari ini adalah hari yang sangat indah bagi keluarga kami, seperti pada umumnya keluarga di Jakarta disaat  Lebaran menjadi bagian tradisi untuk bersilaturahmi, kerinduanku memang sudah tidak bisa terbendung lagi meluap dalam hati ingin segera memeluk ayah dan bundaku yang sudah lama tidak ku kunjungi.

Sepanjang perjalanan sari putri pertama kami tidak henti - hentinya bernyanyi sebisanya, senangnya bukan main ia menikmati perjalanan ini bersama kami, matanya yang putih berbinar-binar dengan senyum yang tak henti-hentinya tersungging di bibirnya yang tipis. Kami melesar di atas Suzuki AVP yang kami tumpangi meliak - liuk mengikuti aspal yang turun naik hingga berliku-liku menuju desa dimana aku di besarkan oleh nenek dan kakek yang kini sudah tiada beberapa tahun yang lalu.

Udara sejuk sudah terasa saat kami memasuki wilayah Bobot Sari, desa kami memang berada di kaki gunung slamet, tiada tara keindahan yang di tunjukkan olehNYA, kala kebosanan menerpa, aku bisa memandang gunung tersebut hingga puncaknya yang kadang tertutup oleh awan putih, terobatilah kejenuhan itu.

Jati masih tertidur pulas, ia bangun bila ingin minum susu, setelah itu tidur kembali, suamiku kadang menanyakan kondisi Jati yang aku rebahkan di bangku belakang. sedangkan Sari masih terus bernyanyi seolah tidak bosan-bosannya ia menyanyikan lagi yang sama sejak kami berangkat dari Jakarta.

Laju AVP kami mulai berjalan berlahan, Jalan desa mulai menunjukkan keasliannya, disana sini lubang menganga, roda-roda bulat menghindar dari ranjau aspal.

"Dik kita sudah mau sampai" Suara suamiku terdengar, aku memandang keluar jendela yang sengaja aku buka sejak keluar dari kota jakarta. Aku tatap rumah-rumah di pinggir jalan, penduduk desa nampak masih menikmati hari lebaran, terlihat jelas pakaian mereka yang bagus-bagus. beberapa pemuda pemudi yang saling berbonengan di atas motor roda duanya seakan mengingatkan pada masa kecilku dimana kendaraan yang gunakan masih berupa sepeda ontel, kadang di jalan menanjak kami harus menuntunnya karena kami tak kuat untuk mengayuhnya lebih kuat. Sepeda ontel hampir dimiliki oleh setiap rumah didesa ini, apalagi saat itu belum ada minibus. Jadi untuk berangkat sekolah aku harus mengayuh roda bulat itu hingga 9 kilo meter. itupun jalan tidak rata dan halus seperti saat ini. belum lagi tanjakan-tanjakan terjal membuat kami harus memiliki tenaga ekstra agar tetap kuat untuk mengayuhnya.

Di Ujung jalan mobil kami berjalan sangat berlahan, Suamiku sepertinya hafal betul dimana rumah ayah dan ibuku tinggal, jalan semakin menyempit karena kami sudah memasuki jalan desa, aku melihat beberapa mata memandang kami, sebisa mungkin kami melemparkan senyum kami kepada mereka. walaupun aku tak begitu mengenal mereka akan tetapi sebagai tamu kami tetap harus tetap sopan, apalagi mungkin di antara mereka ada yang mengenal aku.

Saat ini pukul 3 sore, perjalan panjang terbayar sudah dengan memasuki halaman rumah ayah dan Ibuku, kami menurunkan beberapa barang yang kami bawa dari jakarta, Adien melompat kegirangan, tak tampak rasa lelah padanya, ia berlari kecil sambil memanggil Ayak ibuku dengan sebutan Kakek dan Nenek.

Pintu rumah terbuka, Adien langsung memeluk Kakeknya dengan suka cita, kakek masih kuat mengendong adien walaupun hanya beberapa menit, di ciuminya pipi adien berulang kali seolah mengisyaratkan kerinduan yang sama.

Aku mengendong Jati dan suamiku membawa beberapa koper dan tas plastik sebagai oleh-oleh untuk ayah dan ibu, aku menyalami mereka, ku cium tangan mereke berdua dengan lembut, hatiku saat itu benar-benar bahagia, begitupun dengan suamiku yang baru pertama kali ikut mudik berlebaran bersama keluarga kami. Aku masuk kedalam rumah dan segara meletakkan jati di atas ranjang, anakku nampak kelelahan dalam perjalanan ini, berbeda dengan Adien langsung di ajak oleh kakeknya melihat bebek-bebek di belakang rumah.

Malam ini udara sangat dingin, aku sampai-sampai tidak berani untuk mandi, terpaksalah ibuku membuatkan air hangat untuk kami. segelas Air teh hangat di hidangkangkan di atas meja, kami pun berbincang-bincang menanyakan kabar masing-masing. aku menoleh ke wajah Adien anakku, matanya mulai redup ia tampak mengantuk walaupun jam baru saja menunjukkan angka 8.

Tidak lama akupunn bergegas untuk tidur menemani Adien dan Jati, sedangkan suamiku masih di meja makan bersama Ayah dan Ibuku, nampaknya suami memang pintar dalam mengambil hati kedua orang tuaku, dan aku sangat bangga denganya, aku begitu mencintainya.

Mataku tak tahan lagi untuk segara dipejamkan, doa tidur aku kumandangkan dalam hati berharap esok pagi, kami melewati hari-hari yang indah bersama keluarga kami.





 

 
« Last Edit: 05/10/2009 09:34 by Qsecofr »

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Aku harus melangkah lagi
« Reply #2 on: 01/02/2009 01:26 »

"Dik Bangun," Suara Mas Aryo membangunkanku, ku tatap jam dari ponselku.
"hem..masih jam 4.20 Menit" Sambil aku bangkit dari atas ranjang, ku tatap Mas Aryo yang melangkah ke luar kamar, begitupun dengan dua anakku yang masih tertidur pulas.

Mas Aryo memang biasa bangun pagi, ia biasanya sudah bangun sejak pukul 4 pagi, dan itu menjadi bagian rutinasnya sedangkan aku terbiasa pada pukul 5 pagi.

Udara diluar nampaknya cukup dingin, selimut tebal membuatku tetap hangat semalaman, sehingga aku benar-benar pulas tertidur. Aku melangkah ke luar kamar untuk mengambil air wudhu dan sholat berjamaah dengan Mas Aryo.

**********

Pagi ini kulihat ibuku masak makanan kesukaanku, di tatap meja makan, hidangan nampaknya telah siap untuk di santap, Aku, Mas Aryo dan Ayah duduk mengitari meja makan, sedangkan Anak-anakku bersama neneknya, Adien senang sekali makan bersama nenek sedangkan Jati di gendong oleh Ibuku.

Sarapan kali ini begitu nikmat, Telur Ayam kampung di dadar dengan isi cabai merah di dalamnya, tempe yang di ulek diberi sambel atau biasanya kami menyebitnya "tempe pedas", dan masih ada satu menu lain yaitu Tahu yang diberik kecap, Intinya semua masakan ini semuanya tarasa manis, gurih dan pedas.

Sebenarnya ibu pintar memasak, sayangnya aku tidak sepintar Ibu, jadi kadang aku suka malu bila mas Aryo memintaku memasak masakan yang aku sendiri tak tahu benar bumbu yang harus digunakan, tapi untungnya mas Aryo sangat pintar menutupi kekecewaanya bila masakan yang aku buat rasanya tidak karuan, ia tetap lahap makanan yang ku buat tanpa banyak memberikan komentar macam-macam.

"Dik, jadi nggak kita jalan-jalan keliling kampung" Ujar mas Aryo menagih janjiku tadi malam. "Sekarang aja ya mas, mumpung udara masih sejuk dan anak-anak biarlah di rumah bersama nenek dan kakek" jawabku sambil menyeruput teh hangat sedikit demi sedikit.

Kami berjalan bersama mengikuti jalan berbatu, kadang ku gandeng tangan mas aryo dengan manja, walaupun ia hanya dia tapi sangat senang mengajaknya berkeliling kampung, beberapa tetangga yang ku temui selelu terseyum bila kami melewati mereka, seolah aku tak bosan menjawab seiap pertanyaan tentang kabarku selama di kota, apalagi kali ini ada sosok yang amat asing bagi mereka, tentunya aku selalu memperkalkan mas Aryo kepada meraka sebagai suami ku yang baru ku menikahiku beberapa Tahun yang lalu.

Tidak terasa kami sudah di batas desa, ku tatap kehijauan yang nampak di hadapanku, seperti karpet hijau menghampar luas, sinar matahari pagi mulai bersinar, cahayanya hangat terasa. kadang aku ingin sekali tinggal disini berlama-lama, tidak seperti jakarta, disini aku bisa menikmati pagi dengan tenang, bahkan udaranya sangat sejuk tak perlulah AC cukup AC alam.

Sesosok tubuh berkelebat dihadapanku, ia menghentikan langkanya dan manatapku dengan dalam, mata seolah tak berkedip, ia seolah tidak percaya apa yang sedang ia lihat, lalu sosok itu pergi dengan tergesa-gesa. Aku hanya bisa menatap tatapan tersebut dengan rasa geram apalagi aku sangat mengenali wajahnya, aku benar-banar kanget ia muncul di saat aku sedang menikmati hari yang indah. rasanya ada sesuatu di hatiku yang terusik. aku hanya bisa menahan rasa Geram ini agar mas Aryo tidak mengetahui dengan apa yang sedang aku rasakan.

Tampa aku sadari aku teringat dengan kejadian belasan tahun lalu yang seolah menyeretku pada suatu kejadian yang memang tidak bisa aku lupakan begitu saja. "Lelaki Bejat itu...." ujarku dalam hati.

Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah SMU kelas 3 banyak sekali pelajaran tambahan yang diberikan oleh guru kami, kadang kami sampai lelah belajar tambahan ini, pulang dengan rasa penat setelah mengayuh sepeda. 1 Jam perjalanan dari sekolah sampai di rumahku. Aku Letakkan sepeda di halaman rumah dan segera masuk kedalam rumah aku rebahkan tubuhku di sofa kecil di ruang depan, biasanya aku hanya melepaskan lelah saja, namun saat itu karena lelah dan juga rasa kantuk yang amat sangat ku tak sadar tertidur di sofa ini.

Rumahku memang sepi, aku tinggal bersama nenek dan kakek disini sedangkan kedua orangtuaku bersama kedua kakakku tinggal di Jakarta, aku dibesarkan oleh kakek dan nenek sejak aku duduk sekolah Tingkat pertama. dan ini adalah tahun ke enam saya tinggal disana.

"Krak" suara pintu terbuka, terdengar langkah kaki seseorang mendekatiku, aku tidak menyadari bila pintu rumah tidak aku kunci bahkan pintu tersebut tidak ku tutup dengan rapat. aku masih tertidur dengan pakaian sekolah.

Terasa bagian tubuhku ada yang menyentuh, sentuhan tersebut semakin lama semakin meraba-raba bagian sensitif, tapi aku masih belum sadar dengan apa yang sedang terjadi. "Aduh..!!", teriakku kaget bukan main, aku terbangun dengan perasaan kaget, karena belum mengetahui apa yang sedang terjadi.

"Eh sedang apa kamu Mat" teriakku pada lelaki yang kukenal sebagai Somat, ia seolah tak menghiraukan teriakkanku, malah ia menatapku dengan tatapan yang sangat aneh, aku kaget bukan main karena baju yang aku kukenakan beberapa kancingnya lepas, aku berlari sambil berteriak sejadi-jadinya, karena aku baru sadar apa yang telah dilakukan Somat padaku.

"Toooolong..........!" teriakku sejadi-jadinya. rupanya teriakkan tersebut tidak sia-sia, Somat lari menjauh dari rumahku, dan beberapa menit kemudian tetanggaku datang dan berusaha menenangkanku yang saat itu masih menangis tersedu-sedu. aku masih menangis ada rasa kaget, malu dan binggung, perasaaan itu menjadi satu, dan aku tak tahu harus berbicara apa bila ditetanggaku menanyakan apa yang terjadi.

( Hem ........Somat)




 

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Aku harus melangkah lagi
« Reply #3 on: 08/02/2009 01:04 »
Sejak kejadian itu aku selalu kwatir, takut-takut Somad berbuat yang tidak-tidak lagi  padaku, pintu rumah selalu aku kunci rapat-rapat selepas pulang dari sekolah, apalagi di rumah ini bila siang hingga sore hanya aku tinggal sendiri. Sedangkan kakek dan nenek masih berada di pasar atau di ladang hingga menjelang sore.

Apa yang aku kwatirkan teryata terulang lagi, Somat kembali berbuat yang sama dan kali ini ia berbuat lebih nekat. Baru saja aku pulang dari sekolah dan meletakkan sepeda tiba-tiba somat membekap mulutku, aku sangat terkejut, namun tidak  bisa berbuat apa-apa kerena tenagaku yang kurang kuat harus melawannya yang telah gelap mata.

Somat menyetku ke halaman depan rumah, ia lalu memukulku tepat dibagian muka, aku terjerembat ke lantai tanah. Aku berusaha lari dari cengkramannya, na’as bagi ku teryata Somat lebih gesit dan menangkap tanganku, dia lalu mendekapku dengan kedua tanggannya. Aku masih berusaha melepaskan diri dari dekapannya hingga nafasku hampir habis.

Somat makin mengila, tatapannya penuh nafsu, ia seolah tak mau menghentikan kelakukan bejatnya ini. Sesaat kemudian entah dari mana aku mendapatkan tenaga yang luar biasa, ia Jatuh tersungkur karena hempasan sikutku yang tepat mengenainya, Jidatnya mencium tembok rumah, lelaki itu berusaha bangkit dengan tubuh yang terhuyung-huyung. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tanpa komando kakiku mendendang keras tepat dikepalanya tentunya dengan kekuatan yang tersisa, ia tersungkur untuk kedua kalinya, wajahnya tertelungkup ke tanah.

Aku masih dilanda rasa ketakuatan, aku hanya berusaha menjauh darinya dan   berlari menjauh darinya  untuk mencari pertolongan.

Dengan tubuh gemetar, aku berlari sekuat tenaga, dipiranku yang terbesit hanya lari menjauh dari orang gila itu.

Lari dan lari itulah yang ada di batinku, hingga tak ku sadari jalan tanah yang licin karena hujan tadi malam, aku tak kuasa menahan keseimbangan tubuhku lalu aku terjatuh hingga tak sadarkan diri dan ups semua gelap.

Beberapa menit kemudia tersadar aku sudah berada disebuah kamar rumah, Samar-samar tampak seseorang di hadapanku, penglihatanku masih belum jelas benar aku berusaha menatap lebih jelas “ah rasanya aku masih amat lemah”.


“Mak…Mak…!, “ jerit seorang anak kecil sangat jelas terdengar ditelingaku.

Lalu suara langkah kaki terdengar mendekatiku. “Putri tolong kamu ambilkan air putih di atas meja makan ya” suara seorang ibu terdengar jelas dari tempat aku dibaringkan.

Aku berusaha bangkit walaupun tubuhku masih amat lemas, segelas air putih aku teguk berlahan, seorang Ibu disampingku membantu untuk terus meminumnya hingga habis. “Ayo minum lagi, kamu nampak kelelahan”. Lalu suara itupun menghilang setelah isi gelas itu kosong.

Aku menatap ke sekeliling rumah, batinku mengatakan “Apakah Ini rumah bibi Yuyun kah”. Tak lama Perempuan yang menolongku muncul kembali dari balik kamar, ia terseyum kepadaku.

“Diah!, kamu sudah sehat nak?” Ujar bibi Yuyun kepadaku, “benar, itu Bibi Yuyun” bisik batinku. Bibik Yuyun memang tinggal tidak jauh dari rumahku, keluarga kami masih ada hubungan saudara, aku biasa memanggilnya dengan Bibi.

Bibi Yuyun mendekatiku, seyumnya tak habis-habisnya menghias bibirnya. “Kamu kenapa diah, karena bibi lihat kamu pingsan tidak jauh disamping rumah, untung Putri melihatmu” Ujar sambil menatap Putri yang merupakan anak bibi yang paling kecil, gadis kecil itu masih menatapku.

Aku blum bisa menjawab apa-apa, aku masih berusaha mengingat-ngingat kejadian sebelumnya. “Ya sudahlah nak diah!,  kamu istirahat dulu saja ya, nanti bila Kakek dan Nenekmu pulang, bibi antar kamu kerumah. Sekarang kamu istirahat saja dulu.” Kata bibi lalu pergi meninggalkanku di ikuti putri sambil menoleh ke arahku.

Sore harinya Kakek dan nenek menanyakan kejadian siang itu, aku ragu untuk menceritakan apa yang terjadi, namun bila tidak di ceritakan aku menjadi takut dibuatnya, dengan terpaksa aku menceritakannya, saat itu bibi Yuyun juga ikut mendegar apa yang terjadi sebenarnya.

Wajah mereka merah padam, setelah mendengar ceritaku. Mereka akhirnya terdiam, mungkin mereka masih tak percaya dengan apa yang aku ceritakan.

Malam itu nenek dan kakek mondar mandir di ruang tamu, tak ada suara apapun keluar dari mulut kedua orang tua itu seolah sedang memikirkan sesuatu untukku, entah apa yang sedang ada di pikiran mereka saat ini, dan apa yang akan dilakukan mereka.

*
Pagi-pagi sekali aku bangun, tidak jauh berbeda dengan rutinas di pagi hari sebelumnya, mandi, sarapan ,lalu berangkat sekolah. Seperti itulah kebiasanku setiap pagi, kali nenek menatapku seakan-akan ada yang ingin dikatakan. “nanti pulang sekolah kamu akan di temani bibi Yuyun, mungkin siang nanti nenek akan menilpun ayahmu melalui wartel di kota.” Kata nenek membuka obrolan pagi ini. Aku hanya mengangguk saja. Tidak lama kemudian aku beranjak pergi menuju sekolah, tak lupa aku selalu mencium tangan kedua orang tua itu yang telah menjadi orang tuaku saat ini.

Tiga hari berlalu, aku sempat mendengar mengenai Somat, dari cerita yang tidak jelas sumber beritanya, berita tentang Somat yang keroyok karena mengintip dan berbuat yang tidak senonoh pada warga kampung sebelah, ia babak belur dan harus dilarikan kerumah sakit, untungnya Jiwanya masih bisa di tolong. Mendengar cerita itu aku hanya terdiam dan tdiak memberikan komentar apa-apa, karena aku tahu bahwa memang sepantasnya dia mendapatkan balasan yang setimpal.

Somat memang pernah aku kenal sebelumnya, ia sangat pendiam, tidak banyak bicara, sikapnya yang tertutup membuat warga disinipun tidak banyak yang peduli keberadaanya, entah sejak kapan pranggainya berubah, ia bersikap tidak seperti Somat yang dahulu aku kenal, dan rupanya perubahan ini berkaitan dengan perjalanan hidupnya. Kekecewaan yang amat mendalam membuat ia frustasi akan dirinya, dan amarahnya cepat meluap, padahal ia adalah anak petani kaya didesa kami.


Bila aku ingat memang akhir-akhir ini Somat sering terlihat tidak jauh dari rumahku, sepulang sekolah aku sering melihatnya, kehadirannya memang tidak pernah aku pedulikan karena diantara kami memang tidak pernah ada tegur sapa, ia hanya diam bila aku lewat dihadapannya.

Ia selalu memperhatikan gerak gerikku, pernah suatu kali ia tiba-tiba ada di depan pintu, tapi ia langsung pergi saat aku menemuinya. Dari cerita tetanggaku barulah aku ketahui bahwa ia memang suka sekali mengintip wanita, dan salah satu sasarannya adalah aku sendiri.

Aku memang tidak banyak menyadari apa yang aku lakukan, karena setiap pulang sekolah kadang aku sering beristirahat di sofa rumah dengan pakaian yang seadanya, inilah yang menjadi daya tarik baginya, padahal  aku kini tumbuh menjadi gadis dewasa bukan lagi anak ingusan seperti  dua tahun lalu tahun lalu, bagian tubuhku mungkin membuat nafsunya memuncak tak terkendali.

Berita tentang Somat masih menjadi pembicaraan hangat ibu-ibu di kampung kami, apalagi orang kampung telah lama mengetahui kelakukan aneh yang di derita lelaki itu.  Sebenarnya Aku masih takut bila membayangkan wajahnya. Dan mungkin hari ini aku terakhir mendengar berita tentang somat, karena bosak pagi, ayah akan menjemputku untuk membawaku pergi ke Jakarta sesuai rencana kakek dan nenek kemarin. Dan untuk urusan proses perpindahan sekolahku  juga sudah diurus oleh bibi Yuyun, aku tak sanggup membayangkan wajah teman-teman di sekolah itu, teman-teman yang selama ini ku kenal baik bahkan tak ada cacat bagi mereka, semuanya laksana saudara-saudaraku sendiri. Aku masih amat berat meninggalkan temen-teman semua termasuk nenek dan kakek yang telah merawatku hingga aku tumbuh dewasa, mataku berkaca-kaca tak kuasa aku membendungnya membuat pipiku basah.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Aku harus melangkah lagi
« Reply #4 on: 08/02/2009 01:05 »
**
Waktu bagaikan berlari di atas angin melesat cepat meninggalkan kita bila sedikit lenggah. Karena waktu pulalah aku dapat mengikis kenangan pahit yang pernah aku rasakan saat di desa dan kini aku kembali seperti sedia kala, tidak ada lagi bayangan somat yang menakutkan bagaikan monser, tidak ada lagi rasa ketakutan tiap pulang sekolah, hatiku benar-baner tenang disini. Dua bulan aku tinggal bersama Ayah dan Ibu, dan dua bulan pula aku banyak belajar tentang kehidupan di kota Jakarta.

Jakarta bukanlah tempat asing buatku, karena disinilah aku dilahirkan oleh kedua orang tuaku, hanya saja saat aku masih berusia 12 tahun aku diambil oleh Nenek dan kakek untuk tinggal bersamanya. Kesulitan hiduplah jawabannya. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan Film Nasional sayangnya perusahaan itu tidak bisa bertahan lama, yang akhirnya membuatnya harus mencari pekerjaan lain. Dengan uang PHK yang serba pas-pasan  ayahku membuka sebuah Toko kecil di pasar klender  yang hasilnya tidak seberapa dan, karena kedua orang tuaku harus membanting tulang setiap hari di pasar sedangkan hasilnya belum tentu bisa membuat hidup kami semakin membaik, aku nyaris putus sekolah karena tak ada biaya, dan jalan satu-satunya aku dikirim ke desa untuk melanjutkan sekolah di sana, biaya sekolah di desa tidak semahal di Jakarta.

Kehidupan keluargaku Kini semakin membaik, usaha Ayah semakin membaik, kelurgaku hidup sederhana, tinggal di daerah komplek perumahan pondok kelapa , rumah ini adalah rumah hasil kerja keras ayahku dari hasil cicilan kepada negera saat ia masih bekerja di perusahaan lamanya, padahal rumah ini sempat digadaikan untuk menambah modal. Komplek ini berlokasi sangat strategis, karena untuk  Berangkat ke sekolah tidak lagi harus mengayuh sepeda puluhan kilo, karena angkot sudah menggantikan cerita lamaku disini. Setiap pagi aku harus berjuang untuk mendapatkan tumpangan untuk mencapai sekolah, dan satu-satunya angkot yang lewat di depan sekolah hanyalah sebuah mikrolet bernomor M31, jumlahnya cukup banyak tapi setiap pagi pastilah sudah penuh sesak dengan penumpang yang meluber hingga kepintu masuk, terkadang ada saja penumpang yang nekat berdiri di pintu masuk.
 
Empat puluh lima menit aku biasa sampai di sekolah, kadang jalan amat macet membuat perjalanan menjadi lebih panjang, hampir semua orang kota memiliki alasan yang sama dan menjadi alasan yang amat klasik terdengar tapi sangat nyata. Dan memang kemacetan itupula aku harus berangkat lebih pagi, waktu memang sulit di prediksi disini, kadang aku bisa sampai sekolah lebih pagi atau sebaliknya, semua itu tergantung dari nasip saja, bila tidak ada kemacetan yang luar biasa aku bisa lebih pagi sampai disekolah.

Selama aku tinggal bersama kedua orang tua , Tidak banyak pertanyaan dari mereka, mereka berdua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehari-hari, sepertinya kedua kakakku sudah terbiasa dengan suasana dingin seperti ini, kesibukan pula jawaban orang kota lainnya, sama seperti jawaban kedua orang tuaku, tegur sapa hanya terlintas singkat di atas meja makan, setelah itu sibuk dengan urusannya masing-masing.

**
Sebagai siswi pindahan apalagi dari kampung ada rasa minder pertama kali menginjakkan kaki di sekolah negeri ini, ada-ada saja kebodohan yang aku lakukan, perbedaan kebiasaan kadang membuatku seperti orang yang kuper. Aku berusaha keras untuk tidak menjadi gadis kuper dan untungnya aku memang masih memiliki pengalaman bergaul dengan anak-anak kota dan karena kebiasaan berbahasa kadang-kadang bahasa yang aku gunakan memang masih terbawa-bawa medok terasa asing di telinga teman-temanku.

Sekolahku ini berada di daerah klender Jakarta Timur, Di Seberangnya terdapat lintasan Kerata api, suara kereta api sering terdengar di pagi hari kadang membuat aku kangen dengan Kakek dan Nenek, padahal baru 2 bulan aku disini.

Hari ini aku terlambat masuk sekolah untuk yang kedua kalinya, hanya gara-gara galian kebel TELKOM di pinggir jalan membuat angkot yang aku tumpangi harus bergantian melewati jalan yang tingal satu jalur, nyaris satu jam lebih aku harus menempuh perjalanan, suara klakson tak henti-hentinya dari beberapa kendaraan pribadi yang sudah tak sabar lagi, aku lihat dari balik kaca mikrolet  supir dan penumpangnya amat nyaman didalamnya, kadang kepalannya terangguk-angguk seolah sedang mendengarkan musik yang terlantun didalam mobil yang pastinya berAC, sedangkan kami di dalam mikrolet hanya pasrah mendegarkan suara klakson  yang bersahut-sahutan ditambah bau keringat karena udara semakin penggap karena penumpang didalamnya. Padahal tanpa ada galian kebelpun jalan sudah amat padat, tapi entahlah baru dua bulan aku tinggal di Jakarta sudah beberapa kali aku melihat jalan-jalan di Jakarta selalu di gali untuk urusan kabel yang aku sendiri tak tahu apa tujuannya, yang aku tahu jalan menjadi kotor karena  tanah dan yang pasti jalan pasti akan macet dibuatnya.



Dari kejauhan pintu gerbang sekolah sudah di tutup rapat, aku berlari kecil mengejar waktu, dari balik pagar nampak Pak Satpam sekolah melongok ke arahku, tak lama tangannya menjulurkan kertas yang harus aku isi, sepertinya aku sudah amat hapal dengan isi dalam surat ijin ini, aku isi selengkap mungkin dan menunggu hingga mendapatkan ijin masuk dari guru piket yang ada di ruang guru. syukur-syukur bisa langsung masuk ke dalam kelas kadang bila guru piketnya agak kejam maka 1 jam pelajaran harus tertinggal. Itulah peraturan yang ada di sekolah ini, peraturan yang menurutku kurang pas di terapkan dengan kondisi seperti di Jakarta. Berbeda dengan di kampung waktu mudah di prediksi, karena disana tidak mengenal yang namanya macet, satu-satunya kendala yang terasa adalah saat hujan deras kadang perjalanan dengan sepeda akan semakin lambat, karena jalan becek dan tentunya aku harus hati-hati mengayuh sepeda agar tidak terperosok ke jalan yang berlubang.

“Diah kamu masuk” teriak Pak Satpam dari balik pagar besi sekolah, aku melangkah dengan sedikit tergesa-gesa, tidak kusia-siakan waktu untuk bergegas masuk ke dalam kelas, samara-samar suara didalam kelas sedikit gaduh, dan untungnya Ibu Susi guru bahasa Inggris tidak masuk hari ini, jadi aku bisa sedikit tenang.

Aku langkahkan kaki masuk kedalam kelas, tidak banyak yang memperdulikanku kali ini dan langsung menuju deratan bangku dimana aku biasa duduk. Aku menarik nafas panjang sambil menatap sekeliling kelas yang suaranya amat gaduh mirip pasar.

“Diah, entar sore jadi mau ikut nggak” jari lentik Ida mencolek punggungku, aku menoleh ke arahnya, “Apaan Da” Jawabku. “Huh dasar nih anak makanya kalo punya kuping di pasang yang bener, jangan dimasukkan di dalam tas” pekik ida sambil mulutnya mencibir ke arahku.

“Giniloh, entar pulang sekolah, aku, Mia dan Desi sepakat mau menjengguk Zainal yang sudah 2 minggu di rawat di RS. Persahaatan, soalnya kawan-kawan lainnya sudah pada menjengguk, sedangkan kita belum pernah, eh kamu mau nggak!” Ujar Ida menjelaskan maksudnya.

“Ohhh, ya nanti aje dech Da, gw lagi males jalan-jalan, inginnya sih entar langsung pulang!” Jawabku.

Ida hanya mengangkat alisnya yang tebal, dan senyuman kecil terlontar ke arahku.

“Eh Da, Zainal yang mana ya, aku belum tahu, emang dia kenapa da” sahutku sambil mengeluakan beberapa buku dari dalam tas, sedangkan Desi temen sebangkuku hanya menatap dengan kesal.

“Ah diah…, elo kemana aja seeh” bentak Mia sambil melempar buntelan kertas kearah wajahku. “Zainal yang kemarin jatuh dari motor itu loh” jawab Ida dan desi hampir bersamaan.

Aku hanya manggut-manggut saja, karena belum semua anak-anak di satu kelas ini aku kenal satu persatu. Akan tetapi ajakan Ida dan kawan-kawan agak sulit aku terima karena uangku hari ini amat pas-pasan.



Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Aku harus melangkah lagi
« Reply #5 on: 11/02/2009 01:25 »

Ajakan Ida sepetinya sulit untuk di tolak, sepulang sekolah kami berempat menuju RS Persahabatan yang lokasinya tidaklah jauh dari sekolah, kurang lebih 1 Jam naik Angkot sampai juga di Rumah sakit ini yang katanya dibangun atas hasil kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dan Rusia, Halamannya cukup luas, walaupun di tumbuhi pohon-pohon besar udara panas amat menyengat kulit, karena matahai bersinat amat terik.

Memasuki Ruang dalam rumah sakit ini seperti layaknya kita masuk ke dalam benteng, karena ternyata di dalamnya terdapat bangunan-bangunan sebagai rumah perawatan, Taman dengan tumbuhan yang rindang ditambah dengan rumput yang hijau sedikit membuat suasana hati sedikit terhibur, awalnya aku merasakan angker karena bangunan arsitekturnya yang tidak biasa.

Ida, Mia dan Desi berjalan lebih cepat, karena jam kunjungan akan segera berakhir, takut-takut bila kita tidak bisa masuk ke dalam kamar perawatan, dan alasan itulah yang membuat ida memasang wajah serius. Aku sebenarnya tertawa geli melihat wajahnya yang amat lucu.

Di ruang Cempaka langkah kaki mulai berlahan, Mia yang membawa sebuah Tas plastik berisi jeruk yang baru kami beli di pelataran parkir tadi nampaknya sedikit lega. kami langsung masuk kedalam ruang 102 dimana Zainal di rawat, aku mengikuti langkah mereka dari belakang.

Tak banyak cakap saat aku melihat Zainal terbaring lemas, matanya tampak berbinar-binar menyambut kami, senyumnya menyeringah, lelaki itu berusaha bangkit dari tempat tidurnya. lalu duduk bersandar sambil menyalami kami.

"Gimana Nal kabar elo, udah baekan belum" kata Mia sambil menaruh sekantung plastik jeruk di atas meja, Zainal hanya terseyum sambil membetulkan letak duduknya.

"Apa sih nal yang masih sakit, kalau nggak salah udah dua minggu lebih elo disini ya?"  Ujar Ida dengan tatapan prihatin. Zainal mengangkat alisnya seolah sedang menghitung berapa lama ia ada disini.

"Thank ya, udah jengguk gue, mungkin 4 hari lagi gue udah boleh pulang, lagian luka-luka gue karena kecelakaan kemarin udah mulai sembuh" Jawabnya.

Zainal manatapku seakan-akan ia sedang mengingat namaku. " Kamu Diah kan, teman sebangkunya Desi!"
"Iya ini Diah, masak elo nggak kenal sih Nal"  Ida menyambar pertanyaan Zainal.

Zainal hanya mengaruk-garuk kepalanya yang masih dihiasi perban, ia masih menatapku dengan renyah.

Obrolan kamipun mengalir setelah Zainal tertawa kecil karena teryata ia sudah mengenal aku, hanya namanya saja ia lupa, akupun tak sungkan-sungkan untuk sedikit mengikuti gaya ida yang sok akrab.

Lima belas menit disana kamipun Ijin pulang, zainal melarang kami pulang terburu-buru, akan tetapi ia cukup menyadari karena jam besuk sebenarnya sudah lewat. sebentar lagi penjaga akan masuk dan mengecek pengunjung yang masih berlama-lama di dalam ruang pasien.

Dengan Senyum yang amat manis kami berempat pulang, Zainal kembali membaringkan tubuhnya mungkin ia lelah juga meladeni obrolan kami tadi.

***********




simpay

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 192
  • Reputation: 5
Re: Aku harus melangkah lagi
« Reply #6 on: 05/10/2009 01:55 »
dilanju lagi doong......seru niih...

 

Powered by EzPortal