+-

Video Silat


Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Tembang Tanpa Syair  (Read 53154 times)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #75 on: 22/07/2012 13:14 »
Selamat menikmati kembali  :-*


Tembang Tanpa Syair - Bagian 35

Cengkraman Bambu Raut



Aku duduk istirahat di sebuah batu yang cukup besar. Peluh membasahi tubuhku. Segar sekali rasanya. Aku melihat ayah keluar dari tenda dengan membawa dua buah bambu raut.

Aku tersenyum. Ingatanku serasa kembali ke masa lalu.

Aku ingat pertama kali menggunakan bambu raut ketika SMP. Itupun karena aku yang meminta. Kejadiannya ketika ayah sedang mengajariku tata gerak di halaman rumah, secara tidak sengaja tanganku berbenturan dengan tangan ayah. Aku terkejut karena tangan ayah kurasakan bagai batu. Keras sekali. Sampai sakit tanganku saat berbenturan dengan tangan ayah. Termasuk juga ketika ayah mengajariku materi tangkap kunci, aku merasakan cengkraman tangan ayah luar biasa kencang saat menangkap tanganku. Kalau dikeraskan lagi mungkin tulang lenganku akan patah. Saat itu aku bertanya pada ayah mengapa tangan ayah bisa begitu keras seperti ini.

"Ayah, tangan ayah keras sekali sih. Kenapa bisa begitu ya yah? Tangan Aa kalo benturan sama temen ngga sekeras itu yah.", tanyaku penasaran.

Ayah tersenyum.

"Tunggu sebentar, ada yang ingin ayah tunjukkan padamu.", jawab ayah singkat. Ayah kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, dan tidak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah alat yang terbuat dari bambu.

Bambu raut yang ayah bawa ukurannya kira-kira sepanjang lebar bahu ayah atau kurang lebih lima puluh sentimeter. Tersusun atas bambu-bambu kecil yang jumlahnya enam puluh buah dan diikat oleh dua buah karet ban yang dipotong selebar dua ruas jari dan dipasang berjarak satu kepalan dari ujung bambu.

"Inilah yang ayah gunakan sehingga lengan ayah bisa seperti yang Aa rasakan itu.", ucap ayah.

"Pake ini yah?", tanyaku.

"Ya benar. Ini namanya bambu raut atau biasa juga disebut 'lidi'. Ini adalah medium latihan yang khas dari silat ayah ini.", jawab ayah singkat.

"Dalam menggunakan bambu raut ini harus menggunakan tata nafas agar maksimal. Hasilnya nanti seperti yang Aa rasakan saat berbenturan dengan tangan ayah. Tangan akan menjadi keras bagai cadas dari mulai ujung jarinya. Keras, tapi lentur. Tidak kaku.", lanjut ayah.

"Ayah tentu saja akan mengajarkannya kepadamu karena latihan bambu raut ini sudah wajib dilakukan sejak materi dasar. Karena ini diajarkan sejak masih dasar, seperti latihanmu saat ini, maka ke depannya kamu tidak perlu khawatir lagi kalau berbenturan dengan tangan siapapun juga. Tanganmu sudah siap untuk itu.

Kamu tidak akan merasa sakit. Tapi sebaliknya, lawanmulah yang akan merasakan sakit jika berbenturan dengan tanganmu.", ucap ayah.

"Oooh... pantas saja ayah tidak pernah ragu untuk melakukan gerakan yang sifatnya menangkap atau mencengkram atau menangkis. Karena memang tangan ayah sudah terbentuk sedemikian rupa sebagai hasil dari latihan bambu raut ini.", ucapku dalam hati.

"Jika tanganmu sudah siap dengan benturan, artinya gerakanmu akan lebih baik lagi. Sebab seringkali terjadi kamu sudah punya gerakan yang mantap, tapi ketika lawanmu menyerang dan kamu menangkis kemudian kamu jadi meringis, maka berikutnya dipastikan kemampuan gerakanmu akan menurun. Bahkan bisa hilang sama sekali. Kamu harus menggantinya dengan gerakan yang lain.

Tapi kalau tanganmu sudah siap, maka semua gerakan yang berhubungan dengan tangan akan dapat kamu lakukan secara maksimal. Tak ada kekhawatiran untuk melepas gerakan tangan serangan, dan tak ada keraguan untuk menggunakan gerakan tangan tangkisan.", ucap ayah.

Dan sejak saat itu, mulailah ayah mengajariku latihan bambu raut yang disertai dengan tata nafasnya. Saat itu ayah hanya mengajariku satu bentuk saja, yakni bentuk 'meremas'.

"Aa, halooo... kok ngelamun?", tanya ayah sambil menyentuh dahiku dengan telunjuknya.

Aku terkejut.

"Ah, aku kok jadi melamun nih", gumamku dalam hati.

"Eh, iya yah. Saat lihat ayah bawa bambu raut, Aa lagi ingat dulu saat pertama kali latihan ini sama ayah nih.", jawabku sekenanya.

"Ayo bangun, kita latihan lagi untuk bentuk yang lain.", ucap ayah.

"Baik yah!", jawabku bersemangat.

Aku berdiri dan berjalan mengikuti ayah dari belakang. Kira-kira sepuluh meter, ayah berhenti dan berbalik lalu langsung melempar bambu raut yang ada di tangan kanannya. Jarak aku dan ayah kurang lebih tiga meter.

"Tangkap!", ucap ayah keras.

Aku terkejut.

Meski terkejut, tapi secara reflek tangan kananku langsung bergerak cepat dan tepat sekali menangkap bagian tengah dari bambu raut yang ayah lemparkan kepadaku.

TAP!!

"Bagus!", puji ayah.

"Kita akan lanjutkan latihan bambu raut ini. Ayah pernah memberimu satu jenis latihan yakni bentuk 'meremas' pada bambu raut ini. Ayah lihat lenganmu sudah cukup keras. Seharusnya kamu sudah tidak perlu terlalu khawatir dengan benturan.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

Aku membenarkan ucapan ayah. Bahwa memang setelah aku rutin berlatih dan dilatih olah nafas dengan medium bambu raut, aku merasa lenganku mulai kokoh. Tidak membesar seperti halnya para binaragawan, tapi rasanya keras, liat, dan lentur. Benturan pada lenganku terasa biasa saja. Apalagi kalau aku sudah menarik nafas halus dan menyalurkan pada lengan, rasanya otot-otot dan nadi-nadi pada lenganku seperti pipa karet yang kalau kena benturan bisa 'membal' sehingga tidak membuat tanganku sakit. Sebaliknya, justru yang membenturkulah yang merasa kesakitan.

Ini sudah pernah aku coba pada si Sukri teman kelasku. Sukri juga menjadi anggota salah satu beladiri. Suatu hari aku dipanggil oleh Sukri untuk menjadi teman latihannya. Tapi setelah terjadi beberapa kali benturan, aku disuruh berhenti oleh si Sukri. Katanya, tanganku keras sekali. Padahal aku hanya latihan satu jenis saja yakni latihan 'meremas' yang dibarengi dengan olah nafas. Persis seperti yang ayah pernah latihkan kepadaku.

"Sekarang, ayah akan tambahkan satu jenis lagi. Yakni latihan 'mencengkram'. Kalau latihan 'meremas' sudah membentuk lenganmu menjadi kokoh bagai cadas. Latihan 'mencengkram' ini akan meningkatkan kemampuan daya tangkapmu dan daya cengkrammu seperti rajawali.

Periksa dulu kuku-kukumu. Tidak boleh ada yang panjang. Sebab kalau panjang, bisa luka saat kamu melakukan latihan ini.

Bambu raut ini nanti harus kamu cengkram dengan kuat dengan jari-jarimu. Masuk hingga ke dalam. Dan kamu harus mempertahankan kekuatan cengkraman ini sepanjang nafas yang kamu olah.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

"Siap yah!", jawabku mantap.

Ayah kemudian memberi contoh cara cengkraman yang benar saat berlatih.

"Perhatikan. Posisi seperti meremas, tapi dengan ujung-ujung jari yang lebih menekuk ke dalam. Jari-jari agak sedikit direnggangkan. Saat dibarengi dengan nafas, maka saat itu pula seluruh jari-jari tangan kamu lesakkan masuk ke dalam sela-sela bambu raut ini dengan keras. Lalu gerakkan pergelangan tanganmu secara berlawanan. Kalau pergelangan tangan kananmu ditekuk kebawah, maka pergelangan tangan kirimu ditekuk keatas. Lakukan dengan maksimal, keras, bertenaga. Paham?", ucap ayah.

"Paham yah. Ini hampir sama dengan yang latihan meremas khan yah? Hanya bedanya kalau yang ini menggunakan cengkraman.", jawabku.

"Ya, benar sekali.", lanjut ayah.

"Ada yang ingin Aa tanyakan lagi?", tanya ayah.

"Tidak yah. Sudah jelas.", jawabku singkat.

"Baiklah kalau begitu. Ambil posisi duduk simpuh, lalu kita mulai latihannya. Ayah yang akan memberikanm aba-aba.", ucap ayah.

Aku menurut.

Aku menggeser satu langkah. Lalu langsung duduk simpuh. Kedua tangan diluruskan setinggi bahu dengan kepalanku memegang kokoh bambu raut pada lokasi dua kepalan dari ujung bambu raut.

"Persiapan! Buang nafas.... Tahaaaan.... Tariiik...!", perintah ayah lantang.

Dan latihanpun dimulai.



(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

luri

  • Administrator
  • Pendekar Muda
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 138
  • -Receive: 39
  • Posts: 711
  • Reputation: 215
  • Perguruan: -
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #76 on: 23/07/2012 07:57 »
wiiii... berlanjut....
 [top]

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #77 on: 24/07/2012 13:06 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 36

Benturan Bambu Raut



Peluhku luar biasa membasahi tubuh ini. Kaos yang kukenakan benar-benar sudah basah oleh keringat yang membanjir. Tubuh ini rasanya segar sekali. Kedua lenganku terasa begitu kencang. Setiap aku mengepalkan jari-jariku, ada serasa hawa hangat yang mengalir. Lembut. Demikian juga setiap aku mengeraskan lenganku, hawa hangat itu kembali mengalir di lenganku. Jari-jariku serasa menebal. Tanpa sadar, aku memandangi kedua telapak tanganku sendiri.

"Kenapa? Ada yang aneh yang Aa rasakan dengan tangannya?", tanya ayah sambil tersenyum.

"I..iya yah. Tangan ini serasa dialiri hawa hangat yang lembut. Setiap kali Aa keraskan kepalan Aa, hawa hangat itu muncul dan menjalari lengan. Telapak tangan Aa juga terasa begitu hangat...", jawab Aa.

Ayah kembali tersenyum.

"Bagus kalau begitu. Latihanmu sudah mulai menampakkan hasil. Sekarang, luruskan tanganmu ke depan.", pinta ayah.

Aku menurut.

Masih dalam posisi duduk simpuh. Aku meluruskan kedua tanganku ke depan setinggi bahu. Ayah kemudian mendekat, dan duduk persis di sampingku. Ayah kemudian memejamkan mata dan menyentuh jari-jari tanganku, punggung tanganku, pergelangan tanganku, detak nadiku, lenganku, ujung siku, bisep, trisep, dan hingga pangkal lengan.

Setelah itu ayah kembali membuka mata.

"Hmmm.. sudah lumayan. Ada beberapa bagian yang belum sempurna kamu latih, termasuk ada jalur-jalur yang harus diperbaiki. Tapi tidak apa-apa. Itu semua proses. Kalau kamu rajin melatih olah nafas Pengolahan dan olah nafas Bambu Raut ini, nanti akan lancar dengan sendirinya.", ucap ayah.

"Berdirilah... kita lanjutkan latihannya dengan benturan bambu raut", lanjut ayah.

Ayah kemudian berdiri dan mengambil jarak di langkah di depanku. Di tangan kanan dan kirinya ada dua buah bambu raut yang dipegang pada jarak satu jengkal dari ujung bambu.

"Benturan bambu raut? Itu seperti apa yah...", tanyaku penasaran sambil ikut berdiri.

"Ayah akan melakukan serangan dengan menggunakan bambu raut ini ya. Apapun serangan ayah, kamu tangkis dengan gerakan tangan tangkisan. Boleh dengan tangkisan atas, boleh dengan tangkisan bawah, boleh dengan punggung siku, punggung tangan, atau bagian lain lenganmu. Paham?", pinta ayah.

Meski aku belum mengerti. Aku mengangguk.

"Waspada dengan serangan. Gunakan nalurimu untuk menangkis!", lanjut ayah.

Tanpa aba-aba lagi, ayah langsung menyerang dengan mengayunkan bambu raut di tangan kirinya ke arah leherku. Ayunan bambu raut ayah ini begitu keras dan cepat.

TRAK!!

Dilanjutkan dengan tangan kirinya mengayunkan bambu raut ke arah pinggang kananku.

TRAK!!

Dua tangkisan secara reflek aku lepaskan.

"Eh...!", aku menjerit perlahan dan terkejut, lalu mundur satu langkah.

"Kenapa?", tanya ayah sambil tersenyum.

"Ini, kok rasanya lain ya yah...", jawabku sambil melihat kedua tanganku.

Ayah kembali tersenyum.

"Kita coba lagi. Waspada pada serangan!", lanjut ayah.

Kembali ayah mengayunkan bambu raut di tangan kanannya ke arah pinggang kiriku. Tangan kiriku melakukan gerakan tangan tangkisan yang bernama Tangkisan Bawah. Tepat sekali mengenai telapak tanganku.

TRAK!!

Begitu bambu raut dapat aku tangkis, berikutnya ayah melakukan gerakan tusukan ke arah ulu hatiku. Cepat sekali. Secara reflek aku menggeser langkahku dengan sikap Leyek Belakang tapi ke arah samping. Bersamaan dengan itu aku lanjutkan dengan gerakan tangan tangkisan bernama Punggung Siku Kebawah.

TRAK!!

"Eh... ini... ini...", aku kembali terkejut. Dan mundur satu langkah ke belakang. Jarakku dengan ayah kini sekitar dua langkah setengah.

Aku hanya melihat ayah tersenyum.

"Hati-hati!", ucap ayah.

Selesai berucap, ayah kembali menyerangku. Kaki kanan ayah melangkah maju dan tebasan bambu rautnya mengarah ke kedua leherku. Ya, dua-duanya!

Secara reflek aku menggerakkan kedua tanganku dengan memasang punggung siku untuk menerima benturan kedua bambu raut yang mengarah ke leherku. Keras.

Kepalanku menghadap ke atas agak menyamping dan berada sedikit melewati kepalaku. Mataku tetap tertuju pada tubuh ayah. Seolah serangan dari kanan dan kiriku itu tidak ada. Fokusku tetap pada tubuh ayah di depanku.

TRAKK!!

Begitu bambu raut tertangkis, ayah langsung menggeser posisinya. Kaki kanan yang tadi berada di depan dibuat maju setengah langkah lagi bersamaan dengan kaki kirinya melakukan Tendangan Depan. Lurus, cepat, keras, bertenaga, mengarah ke ulu hatiku.

PLAK!

Aku terpaksa menangkisnya. Karena gerakanku tidak cukup cepat untuk menghindar akibat dari efek benturan bambu raut sebelumnya. Kalau aku coba menghindar, aku pasti akan kena telak. Tak ada jalan lain, hanya menangkis saja satu-satu cara. Kugunakan gerak tangan Tangkisan Bawah.

Aku terdorong mundur setengah langkah. Meski demikian, aku menyiapkan kembali kuda-kuda sikap pasang. Kedua tanganku kembali bersiaga. Pandanganku menatap tajam ke depan. Konsentrasiku penuh. Meski demikian, aku tetap waspada pada kedua bambu raut di tangan ayah.

Tiba-tiba aku melihat ayah melemparkan bambu rautnya ke udara. Tinggi. Secara reflek mataku mengikuti arah lemparan bambu raut ayah. Tapi justru dalam sepersekian detik itu, tiba-tiba aku merasa tubuh ayah semakin mendekat. Dan naluriku mengatakan kalau tubuhku berada dalam bahaya.

Benar saja, serangan Tendangan Depan ayah langsung merangsek maju. Tak ada jalan lain lagi, mundur juga pasti kena karena jarakku hanya satu langkah saja. Secara naluri aku merapatkan kedua tanganku di depan dada, mengeraskan untuk bersiap menerima serangan.

BUGGH!!

Aku terdorong keras hingga mundur tiga langkah. Tendangan ayah cukup keras mengenai kedua lenganku di depan dada. Untung saja naluriku tepat. Kalau tidak, tentunya dada ini yang akan terkena dengan telak.

Bersamaan dengan itu, bambu raut yang ayah lemparkan jatuh tepat di samping kananku.

"Bagus! Cukup. Kita istirahat terlebih dahulu.", ucap ayah.

Aku melihat ayah kemudian langsung duduk sila.

Aku menurut. Aku berjalan perlahan. Setelah berjarak kira-kira satu setengah langkah, aku juga duduk sila.

"Tadi ayah lihat Aa seperti terkejut. Ada apa?", tanya ayah sambil tersenyum.

"Iya yah. Aa kaget karena saat tadi tangan Aa membentur bambu raut, seperti ada rasa 'tik' di hati ini. Begitu rasa 'tik' itu muncul, secara naluri bagian tangan yang membentur itu mengeras dengan sendirinya sehingga benturan itu tidak terasa menyakitkan.", jawabku.

"Ya, itu benar. Salah satu tahapan lanjutan dari gerakan adalah merasakan dampak saat benturan terjadi. Atau yang kamu sebut dengan rasa 'tik' itu. Misal, ayah menyerang dan Aa menangkis, atau kebalikannya. Tentunya terjadi benturan. Pada tahap ini kamu harus mau berbenturan terlebih dahulu. Sebab dengan benturan itu nantinya akan membentu rasa di dalam tubuhmu. Dan rasa ini bisa kamu pergunakan untuk menganalisa dampak. Nalurimu nanti akan memberitahu apakah benturanmu bisa kamu teruskan, atau harus kamu alihkan.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

Benar sekali. Saat benturan terjadi, tanganku seperti ada rasa yang lain. Demikian juga dengan hatiku. Dulu, aku masih ingat ketika aku berbenturan dengan serangan lawan dan aku meringis karenanya. Pada saat itu, tenaga lenganku seperti menurun dan bahkan menghilang. Rasa nyeri akibat benturan ini membuat ada sebagian yang hilang.

Tapi sekarang rasanya sungguh berbeda. Lenganku benar-benar terasa berbeda. Kepercayaan diriku lebih baik lagi. Benturan pada lenganku kini tidak aku takutkan.

"Ingat, tetap waspada dan tetap siaga. Sebab kondisi benturan itu ada tiga jenis. Pertama adalah benturan yang lebih rendah darimu. Kedua adalah benturan yang lebih tinggi darimu. Dan ketiga adalah benturan setingkat denganmu.

Benturan yang lebih rendah darimu, sudah jelas kamu yang menang. Lawan akan merasa kesakitan. Tapi untuk benturan yang lebih tinggi darimu, kemungkinannya kamu akan kesakitan. Jangan coba-coba untuk berbenturan, tapi sebaiknya kamu hindari atau alihkan. Dan memindahkan atau mengalihkan benturan ini tidak akan bisa kamu lakukan kecuali rasa di hatimu sudah terbentuk dan nalurimu sudah jalan dengan baik. Sebab selain waktunya harus pas, tenaga yang kamu gunakan juga harus benar. Harus ada sambung rasa dengan cepat. Salah sedikit, kamu yang cedera sendiri. Jelas?", lanjut ayah.

"Jelas yah. Oh ya, bagaimana dengan benturan yang setingkat yah?", tanyaku penasaran karena ayah hanya menjelaskan secara singkat benturan pertama dan kedua saja.

"Kalau yang itu, nanti kamu akan mengetahui sendiri jawabannya.", jawab ayah singkat sambil tersenyum.

"Iya yah...", ucapku sambil tangan kananku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

"Ingat, bisalah merasa. Dan jangan merasa bisa.", lanjut ayah.


(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #78 on: 25/07/2012 14:00 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 37

Tusukan Bambu Raut



Angin pagi yang berhembus mengenai kulitku. Rasanya sangat menyegarkan. Beberapa dedaunan berjatuhan. Tidak ada kendaraan yang lewat di dekat tempat kami berkemah sehingga suara gemericik air sangat jelas terdengar, meskipun jaraknya agak jauh.

Aku dan ayah masih duduk sila saling berhadapan.

"Jadi, tangan ayah yang bisa seperti itu dilatihnya sama bambu raut ini ya yah?", tanyaku memulai pembicaraan.

"Di dalam silat ayah ini ada beberapa medium yang dipergunakan untuk berlatih. Kebanyakan disertai dengan olah nafas karena memang disitulah keistimewaannya. Bahwa penguasaan di dalam setiap tingkatannya didasarkan pada tata nafas yang kamu kuasai. Tata geraknya sendiri lebih banyak menyatu bersama tata nafas yang ada. Dan bambu raut adalah salah satu dari sekian banyak medium yang dipergunakan saat latihan.", jawab ayah.

Aku melihat ayah memegang ujung bambu raut dengan tangan kirinya, jaraknya kira-kira satu kepalan dari ujung bambu raut. Kemudian ujung satunya ditempelkan ke tanah. Bambu raut itu membentuk kemiringan dengan sudut kira-kira lima belas derajat.

"Selain teknik meremas yang sudah kamu latih, kemudian teknik mencengkram yang baru saja kamu latih. Ada juga teknik jari. Salah satunya adalah teknik empat jari dan teknik satu jari. Perhatikan.", ucap ayah.

Aku melihat ayah merapatkan jari-jari tangan kanannya dengan ibu jari sedikit tertekuk. Kemudian keempat jari tangan yang merapat itu ditusukkan ke dalam jalinan bambu raut di tangan kiri ayah dengan posisi searah dengan posisi jalinan bambu raut. Aku melihat ayah menarik nafas halus sebelum tusukan empat jari tangan kanan ayah bergerak.

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

Keempat jari tangan kanan ayah masuk ke dalam sela-sela jalinan bambu raut. Terus menembus hingga kebelakangnya. Jari-jarinya benar-benar masuk ke dalam jalinan bambu raut hingga seluruh ruasnya. Jalinan bambu raut yang dipegang ayah menjadi melebar, longgar, akibat dari tusukan keras jari-jari tangan kanan ayah. Ayah melakukan tusukan itu sebanyak lima kali. Kemudian secara cepat ayah menukar posisi. Tangan kanan ayah kini sudah memegang ujung bambu raut, dan jari-jari tangan kiri langsung dirapatkan untuk kemudian ditusukkan kembali ke bambu raut yang kini dipegang dengan tangan kanan.

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

Lima kali ayah melakukan tusukan dengan tangan kiri. Kemudian berlanjut dengan mengganti posisi pegangan bambu raut ke tangan kiri. Demikian seterusnya bolak-balik. Ayah melakukan itu sebanyak tiga puluh lima kali tusukan kanan dan kiri secara bergantian. Setelah itu berhenti.

"Itu untuk yang empat jari. Tapi nanti saat kamu latihan, cukup satu tangan terlebih dahulu saja. Kalau sudah lancar, barulah bergantian seperti ayah tadi.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

"Ada juga yang menggunakan satu jari. Misal, ibu jari terlebih dahulu", lanjut ayah.

Aku melihat tangan kiri ayah memegang bambu raut seperti posisi semula, yakni dipegang pada satu kepalan setelah ujung atas, dan ujung yang bawah ditempelkan ke tanah. Kemiringan sudut yang dibentuknya sekitar lima belas derajat.

Tangan kanan ayah membentuk kepalan yang menghadap ke depan, akan tetapi ibu jarinya dibuka ke samping. Ibu jari yang terbuka ini kemudian ditusukkan ke dalam jalinan bambu raut yang ada.

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

Ibu jari tangan kanan ayah yang ditusukkan ke dalam bambu raut itu masuk hingga seluruh ruasnya. Akibatnya, jalinan bambu raut menjadi lebih longgar. Setelah itu ayah mengganti dengan ibu jari tangan kirinya. Posisi pegangan bambu raut dipindahkan ke tangan kanan.

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

SRAK!

Ibu jari tangan kiri kini ditusukkan ke dalam bambu raut seperti halnya yang tangan kanan. Setelah dilakukan lima kali. Ayah berhenti, lalu menatapku.

"Sudah lihat?", tanya ayah.

"Iya yah. Kelihatannya mudah yah.", jawabku sambil tersenyum.

"Coba saja.", ucap ayah sambil tersenyum juga.

Aku penasaran.

Aku coba mempraktekkan apa yang barusan ayah lakukan. Tangan kiriku memegang bambu raut pada ujung atasnya, lalu ujung bawahnya aku tempelkan ke tanah, kemudian sudutnya kubentuk sekitar lima belas derajat. Setelah semua aku rasa pas, kemudian jari-jari tangan kananku aku rapatkan dan bersiap untuk aku tusukkan dengan keras.

SRAK!

"Awh...", aku terkejut sambil menjerit. Secara reflek jari-jari tangan kananku aku t