+-

Video Silat


Margaluyu Pusat - Performance perguruan di acara u
vidioku
Silat Tradisional di Pencak Silat Word Championshi
Beksi Kid main Golok
maung lugay performance, Jambore pencak silat
Pencak Malioboro Festival - ujungan macan ngawahan
Aplikasi Cikalong #01
Sparing Partner Ridwan
Silek Minang Pandeka Cupak Hosra Afrizoni 2

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Belenggu di Antara Cinta  (Read 6637 times)

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Belenggu di Antara Cinta
« on: 22/01/2009 23:21 »


Nafasnya masih memburu, tatapan tajam masih terus mengawasi tubuh-tubuh yang terkapar seolah tak berdaya, sedangkab beberapa lelaki  lainnya nampak lari tunggang langgang menjauh darinya, ia pun lantas beranjak dari tempat ia berdiri sambil mengusap tangannya yang sempat kotor karena harus berurusan dengan orang-orang yang ingin mengangunya, sedangkan beberapa orang yang melihat peristiwa itu hanya terbengong-bengong seolah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

Wajah manis dengan rambut hitam itupun bergegas meninggalkan lokasi perkelahian yang sebenernya tidak akan seimbang, dan alhamdulilah lelaki iseng itupun harus membayar mahal karena di kalahkan oleh seorang gadis mistirius yang tidak jelas siapa namanya.

Sapaan dan beberapa seyuman dari ibu-ibu yang ada di sekitarnya seolah memberikan jawaban bahwa apa yang ia lakukan seolah mendapat dukungan untuk pelajaran bagi preman di daerah ini yang  terkenal hingga ke kampung sebelah. dan entah mengapa preman2 itu tumbuh subur disini menguras warga yang lewat dengan meminta uang atau barang, dan baru kali ini kesialan menimpa mereka. dan itulah jawaban mengapa warga yang menyaksikan pertarungan antara gadis itu dengan 6 orang lelaki itu seolah memuaskan dahaga mereka atas semua yang terjadi disini.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #1 on: 23/01/2009 00:40 »

Agung berusaha bangkit dengan tubuh terhuyung-huyung dan rasa sakit di sekitar kepala masih terasa, dan ia pun berusaha menyadarkan diri dengan kejadian yang membuat dia dan kawan-kawannya malu.

"yung....!, bangun luh", bentak agung menepuk kepala kawan satu gengnya yang masing belum sadar diri, maklum sepertinya buyung salah satu orang yang paling telak mendapatkan bogem mentah tepat di belakang kepala. begitupun dengan wawang dan bagas yang bernasip sama.

entah 2 orang kawan mereka yang batang hidungnya sudah tak nampak lagi, ke empat orang itu berusaha bangkit sambil di tertawakan oleh banyak warga yang kebetulan menyaksikan perkelahian yang seujurnya tidak seimbang tadi, "dan hanya seorang pengecut yang hanya berani melawan wanita apalagi mean keroyok". mungkin itu bisik warga dalam hatinya.

"hari ini gue sial banget, masak ngelawan cewek gw harus terjengkang beberapa kali", ujar agung kepada kawan-kawannya yang sedari tadi hanya menatap kosong, "eh ....elu gw ajak ngobrol kayak sapi congek loh", bentak agung kesel sambil meninggalkan kawan-kawannya yang masih terpesona dengan kesialannya.



Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #2 on: 23/01/2009 00:55 »

Jalan Dewi sartika masih amat padat dengan kendaraan yang hilir mudik, Anita yang baru saja turun dari Metro Mini bergegas menuju tempat kursusnya, sepertinya gara-gara meladeni preman-preman kampung ia agar terlambat, padahal ia biasanya sdh di tempat kursus 30 menit sebelumnya.

"Eiii.......Nitttt", teriak seseorang......, Anit menoleh sambil menghentikan langkahnya. "tumben lu nit dateng siang bener, kesiangan lu yaaa", Anita hanya terseyum tanpa menjawab satu patah katapun kepada Devi temen satu kelasnya ini, mereka berdua masuk ke dalam gedung dimana Anita sudah mengikuti kursus di sini  hampir satu tahun setelah ia menamatkan sekolah di sebuah SMK tahun lalu, jurusan yang ia ambil adalah sekretaris sesuai dengan keinginannya dan cita-citanya.

Anita memang gadis periang, wajah cukup manis dan ia termasuk gadis yang cukup gesit dan lincah, walaupun demikian ia tidak nampak tomboi malah kesan umum kawan-kawannya kepadanya bahwa ia amat feminim, apalagi kalau rambut hitamnya di urai menambah kecantikan.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #3 on: 23/01/2009 01:07 »

2 Jam berlalu, akhirnya Anita bisa menikmati jam istirahat bersama kawan-kawannya, satu tempat yang biasa tempat kongkow mereka adalah kantin di samping tempat kursus ini. beberapa sedot teh botol seolah menyegarkan kerongkongan yang kering, Anita masing terbayang dengan kejadian pagi ini, yang membuat ia tertawa sendiri. "Nape loh non ketawa-ketiwi diri, kesambet lu yaaa non", kata Devi dan Nelly sambil menatap ke arah Anit yang masih terseyum senyum.

"Eh non....!, di tanyain malah senyum-senyum aja seeh", Ujar Nelly keheranan. "eh kamu mau tau aja sih Nel, Eee gw lucu aja inget kejadian tadi pagi...." sambil anita berdiam sebentar lalu..."ah sudahlah gw males ceritanya...mending kita cabut yuk makan somay di sebrang jalan sana", ajak Anit kepada dua kawannya ini. tanpa ba bi bu mereka melompat ke luar dan meninggalkan kantin yang masih ramai.

 

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #4 on: 23/01/2009 01:21 »

parewa

  • Administrator
  • Calon Pendekar
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 6
  • Posts: 601
  • Reputation: 50
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #5 on: 23/01/2009 06:54 »
Wah..... ada cerita silat baru... [top] [top] [top] [top]
lanjooottt..... [bath]


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #6 on: 23/01/2009 22:30 »

Pagi menjelang siang, matahari sudah amat terik, "Aduh gw kesiangan lagi" bisik agung dalam hati sambil bangkit dari tempat tidurnya yang hanya beralaskan karpet yang terbuat dari karet, ia bergegas menuju kamar mandi.

1 Jam berlalu, agung dengan jaket kulit sudah berada di atas motor bututnya, suara nyaring dari knalpotnya membuat mata tetangga yang tak jauh dari rumahnya hanya bergelang-gelang dengan suara motornya yang kurang nyaman untuk di nimati.

10 Menit kemudiapun agung manarik gas dan menghilang dari pandangan mata, namun suara knalpotnya samar samar masih bisa di dengar dari jarak kiloan meter.

Seperti biasa jalan-jalan di jakarta tak pernah sepi, kemacetan dimana-mana, kadang untuk menhindari kemacatan ini agung berusaha mencari jalan alternatif untuk menuju tempat mangkalnya di bilangan cililitan jakarta, disanalah ia mencari sesuap nasi.

30 menit perjalanan agung sampai juga di cililitan, ia memarkirkan motornya tepat di bawah tiang listrik, ia menatap sekelilingnya dan nampaknya kawan-kawan satu gangnya belum ada yang muncul, ia berjalan kecil menuju bangku kecil dibawah pohon besar dimana ia biasa nongrong disana.

Ia sudah 3 Tahun menguasai daerah ini sebagai preman atau apalah namanya, semua pedagang tunduk dan tak ada satupun yang berani melawan geng ini. jumlah awal gang ini semula 8 orang namun 2 orang lainnya saat ini sudah tidak lagi bersama agung dan kawan-kawannya, karena terlibat penjualan narkoba 2 orang temannya menjadi penghuni LP Cipinang sejak 1 tahun yang lalu. sedangkan agung tetap di jalan yang agak lurus ia tidak mau menjual barang yang dapat merusak generasi muda bangsa, apalagi kakaknya pernah Over Dosis dan berakhir di lubang kuburan bersama ajalnya.

Sebatang rokok belum habis di hisapnya, buyung datang bersama bagas. lalu ia menghampiri agung. "Dah dari bos" tanya buyung sambil duduk disamping agung. "Bos, hari ini gw masih agak malu dengan kejadian kemarin neh, bos, "ujar buyung sambil mengaruk kepala. "gw masih dendam sama tuh cewek."  ujar bagas menimpali omongan buyung.

"Ah udahlah"
"Lebih baik elu semua guntingin setoran pedagang, apalagi kemarin banyak pedagang yang belum nyetor, sana gih" bentak agung dengan nada yang agak tinggi.

Buyung dan Bagas saling bertatapan, mereka berdua nggak tau apa yang sedang terjadi dengan Agung, kayaknya hari ini ia bete banget, apalagi tatapannya kurang bersahabat. "Oke dech bos, gw gunting dulu yaaa" mereka berduapun meninggalkan Agung sendirian.

RED : Gunting sama saja dengan mengambil, bahasa ini biasa di pakai di jalan.

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #7 on: 24/01/2009 00:44 »

Asap rokok dihembuskan berlahan oleh agung, tatapannya tertuju pada satu sosok yang setiap hari lewat jalan di samping ia biasa mangkal, gadis itu jalan dengan tenang, wajahnya amat manis, setiap hari agung hanya bisa menatap dari kejauhan.

Ia lalu teringat dengan peristiwa yang masih melekat dalam ingatannya.

"Hem gara-gara wawang dan kawan-kawan lainnya, gw jadi kena malunya...!" bisik Agung berlahan.

Kejadian kemarin adalah kejadian yang amat memalukan baginya, wawang yang biasa nongrong disini bersama 2 orang temannya kemarin itu iseng mencolok gadis itu, tentu saja ia marah, tapi sayangnya wawang tetap saja mengangu hingga akhirnya perkelahian tidak bisa di elakan.

Wawang memang cukup keterlaluan karena ia tidak hanya menggangu tapi tangannya yang iseng sempat mampir kebagian tubuh gadis itu.

Awalnya Agung, Buyung dan Bagas hanya ingin memisahkan mereka, akan tetapi mereka bertigapun kena bogem mentah dari gadis itu, 5 lelaki itu akhirnya ikut mengepung si gadis, sedangkan agung masih bisa menahan diri, ia saat itu hanya berdiri tidak jauh.

Perlu di akui beladiri si gadis memang cukup hebat, hanya dalam hitungan menit kelima orang itupun harus terkapar, begitupun dengan agung yang tidak jauh dari sanapun sempat kena tendangan hingga akhirnya ia jatuh masuh ke selokan yang tepat ada di belakangnya.

Pada saat itu agung tidak melawan, ia hanya berusaha menghindar akan tetapi sial ia harus terperosok ke selokan karena tendangan tepat mengenai badannya.

Kali ini gadis itu lewat tanpa gangguan, karena Wawang sampai detik ini belum menanpakkan batang hidungnya, Gadis itu sempat menoleh ke arah Agung, dengan senyuman kecil agung hanya dapat membalas tatapan tersebut.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #8 on: 24/01/2009 00:56 »

Banyak orang yang tak kenal siapa Agung Sebenarnya, ia sebenarnya cukup mahir beladiri dari keluarganya, Agung adalah anak dari Jawara di cililitan, Babehnya adalah pahlawan bagi banyak pedagang disini, Babehnya agung tidak hanya membela pedagang dari kejahatan maupun tindak kriminal di lingkungan ini, akan tetapi ia juga amat di cintai oleh warga dan pedagang yang sejak lama berjualan disini, Babeh juga di takuti oleh jawara dan penjahat yang berbuat onar disini.

Oleh sebab itulah Babehnya agung mendapatkan pengakuan bercitra baik, walaupun kini citra itu sudah sirna karena pradaban jaman, namun masih banyak pedagang yang masih menghormati agung sebagai anak Jawara.

Tapi sebagai penduduk sekitar terutama pendatang terutama yang tak mengenal siapa Agung ini, wajarlah bila Agung tak Ubahnya seperti preman dan tukang palak. yang hanya meminta uang setoran keamanan.

padahal bila tidak ada gangnya ini, keamanan pasar disini pasti banyak gangguan apalagi banyak penjahat yang datang dari luar kadang memanfaatkan pedangan ataupun pengunjung, entah di todong ataupun di copet.

Seburuk2nya gang ini hanya minta uang keamanan selebihnya tidak.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #9 on: 25/01/2009 01:05 »

Jakarta seperti tidak pernah bersahabat, udara yang panas, kendaraan umum yang semrawut, ditambah dengan tidak displin penduduk semakin bertambah masalah yang sudah amat menumpuk di jakarta.

Siang dengan matahari yang amat terik Agung melihat seorang nenek yang berjalan terseok-seok dengan barang bawaan yang amat berat, seolah tak ada yang memperdulikannya, si nenek tetap sekuat tenaga untuk tetap berjalan, dan nampaknya ia kelelahan dan harus menghentikan langkahnya untuk menarik napas dan memperbaiki beberapa barang yang sempet melorot dari punggungnya.

Agung menghampiri neneh tua itu dengan membawa sebotol air mineral, "Nek..., bawa apaan sih, kok kayaknya berat amat", belum nenek itu menjawab, agung bertanya lagi. "nenek mo kemana, nanti saya bawain deh, mau ya nek...?" Ujar agung sambil menyerahkan air mineral ke tangan si nenek.

Nenek tua itu masih terdiam, dan ia pun tidak menampik air tersebut, segera ia minum seolah memang rasa haus sudah tidak bisa di tahan lagi.

Nenek itu masih tidak berkata apa-apa, ia seolah masih terlihat letih dan dari matanya terpancar bahwa ia kurang sehat, Agung akhirnya bisa menatap sambil meletakkan bokongnya di pinggir trotoar sambil mengambil satu batang rokok dari saku celananya.

Ia menghisap rokok tersebut sambil menatap wajah si nenek, mungkin ia membayangkan bagaimana jadinya bila ini terjadi pada anggota keluarganya.

Agung masih menunggu, ia nampak sabar walaupun hari semakin sore dan sebentar lagi matahari akan terbenam dan gelappun akan menghantarkan malam yang seperti malam-malam sebelumnya.

"Loh nek! , udah sini saya bantu nek!," agung beranjak dari tempat ia duduk. "Nak, sudahlah nenek sudah biasa kok membawa barang ini" jawab nenek dengan suara lirih.

"Rumah nenek dimana, kalo nggak salah nenek yang jualan kue di kampung makasar?" Tanya Agung.

Nenek tua itu hanya menatap ke wajah agung, seolah ia tidak ingin merepotkan orang lain, "Nek saya dulu sering beli kue dan nasih uduk yang nenek jual di kampung makasar loh..., nenek masih ingat nggak?" tanya agung agak sedikit memaksa.

"Iya Nak, nenek ingat..., bahkan nenek mengenal siapa kamu". jawabnya singkat. "Ya udah nek sini saya bawa" agung mengambil beberapa bawaan yang masih di berada di punggung nenek tua itu, beberapa barang berupa Daun, sayur, buah-buahan dan beberapa buah kepala eh kelapa.

Nenek Ijah itulah namanya, ia adalah salah satu pembuat kue khas betawi sayangnya setelah anak-anaknya  dewasa ia seperti sebatang kara di jakarta ini, beberapa anak dan cucunya sudah tidak tinggal lagi bersama nenek Ijah, umumnya menjadi Pedagang di Lur kota dan bahkan ada yang menjadi Kuli bangunan di pulau sulawasi.

Agung membawa beberapa bawaan nenek Ijah, sisanya tetap di panggul oleh nenek, sungguh bahagianya bila semua orang saling peduli, mungkin ini bisa menjadi kegiatan yang mengasah kepulian kita semua.

Dari kejauhan sepasang mata mengamati Agung dan nenek tua itu, seolah ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dan ia pun tetap mengawasi dari kejauhan.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #10 on: 26/01/2009 23:15 »


Seperti hari selalu berulang tak banyak perubahan dalam rangkaian kehidupan sosok manusia bernama Agung ini, ia dan kawan-kawannya seolah tak beranjak dari hari - hari yang dilaluinya, kehidupan yang akan sangat membosankan mungkin bagi sebagian orang atau mungkin anda sendiri.

Pagi ini Agung bangun lebih pagi, dan hujan gerimis semalam masih saja turun hingga pagi ini, pasar Cililitan semakin becek dengan genangan air disana sini, Agung hanya berdiri menatap setiap tetes air yang jatuh di hadapannya. Sedangkan kawak-kawannya sudah bertugas pada pos-posnya masing-masing, ada yang bertugas mengambil Upeti dari pedagang, menjadi tukang parkir atau hanya sebagai pemantau keamanan.

Sebagai keamanan yang Ilegal kelompok Agung pernah perselisihan dengan petugas Kamtip Wilayah ini, hingga petugas Kamtip  memutuskan untuk berdamai karena dalam sejarah kawasan ini memang paling sulit untuk di bina hingga kadang Penguasa setempet pernah berencana membinasakan kelompok Agung, tapi Entahlah hal ini tidak pernah terjadi.

Bentrokan Fisik dan unjuk kekuatan tidak hanya kepada Petugas Kamtip ( trantip) sekitar 2 Tahun lalu pernah ada pula kelompok Preman dari suku tertentu untuk menguasai wilayah ini, dengan cara-cara yang tentunya membuat pedagang disini ketakutan dibuatnya.

Dan bukan kali pertama kelompok preman dari suku2 tertentu berusaha berebut daerah ini secara paksa maupun secara halus.

Agung yang hanya beranggotakan 6-8 orang ini hingga kini masih menduduki wilayah ini, kadang fenomena ini menjadi sungguh unik dimana Agung dan kawan-kawan seolah menjadi pelindung bagi sebagian pedangan yang sudah puluhan tahun berdagan disini.

Untuk menyatakan Dukungannya biasanya para pedangan memberikan Upeti atau jatah preman demikian bahasa kasarnya, Upeti tidak hanya berbentuk uang kadang pedagang ada juga yang memberikan berupa barang atau makanan dan rokok.

Kehidupan keras yang dilalui mereka bukanlah cita-cita yang pernah mereka impikan sebelumnya, bahkan Agung tidak pernah mengetahui kalau Babehnya dahulu menjalani kehidupan ini untuk menghidupi keluarga mereka.

Begitu keras memang hidup ini, semua harus ia lewati dengan Tabah dan kuat, Kadang ada perasaan untuk meninggalkan kehidupan ini untuk menggapai cita-citanya dahulu sabagai Arsitek, akan tetapi ada tanggung Jawab yang ia rasakan hingga kini, mengemban tugas sebagai profesi preman bukanlah sebuah cita-cita tapi ini adalah pengabdian. mungkin itu yang terselip di benak Agung dan kawan-kawannya.


 

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #11 on: 26/01/2009 23:38 »

"Bang!" sapa seseorang yang membuat agung terkejut, ia menolah ke arah sumber suara. seolah tak percaya apa yang ia lihat dengan tatapan tajam Agung mencoba menerka nerka kehadiran sosok wanita ini, wanita yang pernah lihat sebelumnya.

"Masih Inget saya bang?" Tanya si pemilik suara tersebut yang teryata adalah Anita.

"Saya Anita, yang penah memukul abang di pojok pasar tempo hari" jelas anita sambil mengulurkan tangannya.

Agung masih tertegun, dan tiba-tiba ia seolah menjadi orang yang tolol dan tak kuasa mengeluarkan sepatah kata apapun, Agung menjulurkan tangannya yang dingin ke arah tangan Anita yang halus, sampai - sampai ia lupa melepaskan gengaman tanggannya. Anita lekas-lekas menarik tangannya kembali.

"Saya datang kesini untuk memberikan informasi saja..bang!, kalau tidak salah abang beberapa kali sering mengantarkan nenek Ijah membawa barang belanjaannya ke rumahnya, dan saya tahu itu sudah sejak lama, oh iya bang nenek ijah itu hanya beberapa meter dari rumah saya" ujar anita sambil menatap mata agung yang masih kaku.

"Hem....bang, kok diam saja" hardik anita membuat agung tersadar sebentar. "Eh iya ....eeee lalu hubungannya dengan gue apaan emang" jawab agung lugu.

Anita sempet terkejut mendengar jawaban agung, tutur katanya memang kasar dan kurang nyaman di telinga anita. namun kabar ini harus ia sampaikan ke cowok ini,  lalu anita mengatakan dengan sedikit terburu-buru "Saya cuma mo ngasih tau aje bang, kalo nek Ijah tadi malam udah meninggal dunia, dan siang ini rencananya mau di makamkan di TPU di daerah Condet" Anita balik badan lalu pergi dan menghilang di tengah keramain orang-orang, sedangkan agung masih berdiri dengan tak percaya dengan apa yang ia denger barusan, matanya berkaca-kaca, ingatannya melambung ke beberapa hari sebelumnya, dimana nenek Ijah memberikan kepadanya sekantung plastik Kue buatannya. dan mungkin itulah terakhir agung merasakan nikmat dan lezatnya kue orang betawi bikinan Nek Ijah.

Agung kembali tersadar dan matanya memburu sosok gadis yang belum sempat ia kenal, namun nampaknya ia sudah tak ada lagi di hadapannya. ia lalu pergi dengan motor bututnya menuju rumah Nek Ijah.


Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #12 on: 27/01/2009 00:37 »

Malam ini dingin masih menyelimuti jakarta, di rumah kecil yang lebih tepatnya gubuk, Agung menatap kosong ke arah teman2nya yang sedang asik main kartu. ia masih teringat kejadian siang tadi yang seolah masih membiusnya hinnga kini, pemakaman nek ijah yang begitu sunyi hanya di antarkan oleh beberapa tetangga dekatnya saja, agung sempat pula memberikan doa di atas kuburan nek Ijah yang masih basah.

Tak satupun anak dan cucunya hadir pada saat itu, begitu sepinya batin agung merasakan getirnya perjalanan hidup nenek tua yang baru ia kenal lagi belum lama ini, padahal dalam kesehariannya ia sering melihat nenek tersebut membawa belanjaan yang kadang kita tak akan percaya nenek tersebut kuat membawanya. bahkan agung tak pernah peduli dengan itu semua pada saat itu, dan entah lah mengapa di saat akhir kehidupannya agung memiliki kepedulian saat nenek itu melintas di hadapannya beberapa waktu lalu.

"Mungkinkan ini teguranTuhan  padaku, karena aku ini bukanlah orang baik dan juga bukan orang jahat, lalu siapakah aku?", bisik hati agung lirih.

"Dan siapa pula gadis itu?, yang aku tahu ia selalu menjadi bagian rutinitasku di pagi hari untuk sekedar memandangi wajahnya, dan saat itu pula hatiku menjadi lembut kala menatapnya dan setelah ia berlalu hatiku kembali mengeras dan gersang menjalani hidup ini."

Suara cekikikan kawan-kawannya bermain kartu menyadarkan renungan yang mendalam, ia lalu bangkit dan menyeruput kopi pahit seperti pahitnya ia menjalani hidup ini.

***************

Azan Subuh membangunkan agung yang tidur pulas malam ini, ia menatap sekelilingnya, kawan-kawannya masih menikmati mimpi - mimpi mereka, Agung mengamati suara Azan subuh pagi ini, begitu indahnya, begitu damainya.

Diambilnya sarung dalam lemari yang hampir rubuh, sarung masih terlihat rapih, ia mengenakan hanya satu tahun sekali itupun pada sholat Idul Fitri, ia mengenakan sambil berkaca pada sebuah cermin yang penuh dengan debu, ia mengusap cermin itu dan seakan ia ingin melihat sosok yang ada di dalam cermin tersebut.

Ia berjalan menuju sumber suara yang telah membagunkan pagi ini. ia begitu menikmati 2 rakaat yang telah lama ia tinggalkan, hatinya nampak tenang, langkahnya begitu pasti, ia membuka pintu rumahnya dan ia masih melihat kawan-kawannya masih tertidur pulasnya, hanya ciplon yang sudah bangun menatap agung dengan penuh tanda tanya. karena biasanya ciplonlah yang bangun lebih pagi untuk sholat sibuh dan setelah itu ia mengantarkan koran ke pelanggannya.

"Hei gung dari mana kok pake sarung dan peci" tanya ciplon penasaran.

Agung hanya manatap seakan agung sudah mengetahui apa yang ada di pikiran ciplon. Ia bergegas melipat sarung yang ia kenakan dengan rapih dan dimasukkan kembali ke lemari yang disana terdapat sebuah stiker organisasi pendaki gunung pemberian temannya. dan hanya itu hiasan yang ada di lemari satu-satunya pemberian Ibunya saat ia masih tinggal di Jakarta.

Ibunda dan ayahanya ( emak dan babeh) kini tinggal di cirebon bersama adiknya yang saat ini sebagai salah satu pegawai pemerintahan, emak dan babe tinggal bersama adiknya untuk menikmati hidup yang lebih normal jauh dari jawara-jawara yang dikenalnya dahulu, salah satu pesan kepada agung dari babehnya adalah menjadi anak yang soleh dan berbuat lah baik kepada siapapun.

Anehnya Babehnya tau siapa penerus jawara di kawasan cililitan ini, dan jawara itu adalah anaknya sendiri darah dagingnya sendiri. padahal Agung telah menikmati bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kawasan Depok, dan demi anaknya inilah babe banting tulang agar anak-anaknya kelak tidak ada yang mengikuti jejaknya.

Namun apa yang menjadi cita-cita kedua orang tuanya sirna tak kala Agung berkenalan kehidupan jalanan, ia bangga dengan apa yang dikerjakan oleh ayahnya.

Agung kembali menatap dirinya dalam cermin tua itu, ia memandang hingga berjam-jam seolah ia belum menemuka apa yang ia cari. ia masih menatap dalam hingga ia tak sadar sinar matahari pagi masuk ke dalam kamarnya melalui sela-sela jendela yang sudah tidak utuh lagi kacanya.


( Maaf loh bagi yang baca tulisan ini, krn bikinnya tanpa proses edit jadi kalo salah tulis mohon di maapkan, yang pasti inilah kisah agung, dan masih akan terus berlanjut)

Mbuzz

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 28
  • Reputation: 1
    • Email
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #13 on: 27/01/2009 01:25 »

Seperti pagi lain sebelumnya, Anita berjalan menelusuri jalan kampung dengan mengenakan Tshirt putih dibalut dengan celana jeans biru, tas ransel bermerk buatan pabrikan bandung melenggapi penampilannya pagi ini, rambut yang biasa ia kuncir kali ini ia biarkan terutai.

Seperti biasa ia melawati jalan samping pasar untuk naik angkot yang biasa mengantarkannya ke tempat kursusnya, suara siulan menggoda dirinya ia tak hiraukan, suara itu akan menghilang setelah ia melewati beberapa meter dari sumber suara itu, siulan yang tak asing lagi dari suara wawang sang juru parkir yang pernah menjadi perkara baginya. bila hanya sebatas itu Anita menggangap itu angin lalu saja.

Di pojok pasar entah sengaja atau tidak anita selalu menoleh ke arah sebuah pos kecil, disana biasanya ada sosok cowok yang setiap ia melawati selalu berada disana.

"hem hihihiii, aneh banget tuh cowok, tumben jadi rapih gitu" tawa Anita dalam hati, ia rupanya memandang perubahan Agung yang berpenampilan aneh, biasanya tak ada rapih-rapihnya miriplah sama kuli panggul, jeans belel dan jaket kulit, tapi pagi ini agung mengenakan Baju kemeja kotak-kotak dengan jeans yang tidak dekil.

"Hem preman kok rupawan gitu seh, siapa yang jadi tatut hihihihi" bisik anita lagi.

***********************

1 Jam berada di atas mikrolet anita sampai juga di tempat kursusnya, ia lalu turun menuju bangku tunggu, disalah ia biasa menghabiskan waktu itu menunggu jam masuk. ia menatap mading-mading yang tertempel aneka berita, tulisan hingg foto-foto kegiatan.

Ia tertegun dengan salah satu tulisan pegumuman yang sepertinya baru di letakkan, ia membaca dengan teliti pengumuman tersebut. "hem aneh aja sih Pak Wikas nggak ada habis-habisnya kegiatan yang ia buat untuk murid-murid disini, kemarin pencak silat eh sekarang kegiatan mendaki gunung.

"Kayaknya asik juga tuh ikut mendaki gunung" kata anita dalam hati, seakan ia tertantang ikutan dalam kegiatan itu.

Pak Wikas adalah salah satu staff pengajar di tempat kursus ini, ia mengajar mata pelajaran komputer akuntansi dan program komputernya, selain itu ia juga mengajar Internet di salah satu lembaga pendidikan setingkat Diploma di kampus lain.

Ia juga salah satu pelopor atau pendiri kegiatan pencak silat di tempat kursus ini, walaupun ia tak mengajar lagi karena kebanyakan kegiatan akan tetapi ia selalu hadir walaupun sebentar saat latihan di hari minggu sore, dan salah satu peserta pelatihan pencak silat adalah Anita.

Anita mengemari pencak silat sejak ia duduk di bangku SMP, ia dahulu ikut silat dari salah satu perguruan yang berseragam putih-putih,  hingga ia SMU ia masih ikut berlatih, akan tetapi teman seangkatannya semakin lama semakin berkurang lalu ia memutuskan untuk berhenti.

Tapi entahlah mengapa ia ikut silat disini juga, Anita hanya bisa berkata karena ia sudah terlanjur dengan apa yang namanya pencak silat dan untungnya di perguruan asalnya ia tidak mendapatkan tekanan bila ia harus ikut silat aliran atau perguruan lain, malah salah satu guru sekaligus pembinannya mengijinkan untuk menambah wawasannya terhadap pencak silat. Guru silatnya itu sampai saat ini masih tinggal di Condet walaupun ia bekerja di daerah tangerang, akan tetapi sikap keterbukaannya sangat memberikan semangat bagi pesilat muda seperti Anita.

"Nit..........!" teriak Devi

Belum sempat Anita menjawab, lambaian tangan Devi memberikan kode agar anita ke arahnya

Anita berjalan menuju devi yang masih cekikikan bersama kawan-kawan lainnya.

"Nit...nih liat brosur, elu mau ikutan nggak sama kita-kita ke gunung Salak" kata Devi setengah berteriak.

Anita mengamati brosur tersebut sambil mencari bangku kosong di sebelah devi.

"Gw mau kok ikut dev, elu ikut juga kan, apalagi kalo pak Wikas yang bikin acara gw percaya dech sama dia, karena beberapa kali acara dia bisa bikin acaranya makin seru" Jawab Anita sambil meletakkan brosur ini di tengah meja.

"Oke dech artinya kita bertiga bisa dooong" Teriak devi kegirangan sampai sampai ibu pemilik warung mengeleng2 kepalanya karena tingkah anak-anak itu.


Unknown

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 65
  • -Receive: 41
  • Posts: 1.486
  • Reputation: 95
  • I'm no longer a member of this forum
    • FORUM SILAT
Re: Belenggu di Antara Cinta
« Reply #14 on: 27/01/2009 08:01 »
keren ceritanya.. [top]
satu lagi penulis telah muncul di sini..
diterusin mas........

 

Powered by EzPortal