Forum Sahabat Silat

Bahasa Indonesia => Silat Diskusi Umum => Cerita Silat => Topic started by: Sarjana Kuburan on 23/05/2012 20:04

Title: Ksatria Naga dari Demak
Post by: Sarjana Kuburan on 23/05/2012 20:04
Zakir, seorang anak dari pesisir pantai Demak. sejak 8 tahun sudah ikut latihan Perisai Diri di kampung. Kini usianya beranjak ke 15 tahun, umur anak baligh. Sudah pernah juara 1 Kejurda Jateng DIY, juara 1 Kejurnas, juara 1 PDIC, dalam waktu 3 tahun atau selama smp. Dia belar pada K. Abdul Malik Zamroni, belajar silat dan Islam di pesantren beliau. Dan setelah lulus SMP dan memenangkan PDIC, ada kebimbangan dalam hatinya. Ingatannya kembali melayang saat pertama pertandingannya, di Kejurda Jateng DIY.
Title: Latihan di atas pasir
Post by: Sarjana Kuburan on 23/08/2012 10:38
Wedung terletak di tepi laut, dan satu-satunya pilihan latihan tanding bagi Kyai Zamroni hanya di pantai. Mereka yang tanding hanya yang berani ikut di Kejurda Jateng DIY. ternyata 11 dari 11 orang berani semua, maka semua ikut.
Kyai Zamroni sebagai wasit, dan Zakir mendapat musuh Arwani yang lebih berat 3 kilo.
"Bersedia, Mulai!"
Zakir mengambil sikap naga ke kanan, Arwani mengambil sikap harimau ke kiri. Terasa berat langkah Zakir, karena memakai pelindung badan, tangan, kaki, dan kelamin. Apalagi melangkah di atas pasir bukan hal yang ringan. baru tiga langkah mendekati lawan, keringat bercucuran, karena sore itu masih terasa panas.
Terbersit dalam benak Zakir ketakutan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Begitu gemertaran seperti melihat hantu. Begitu pula Arwani, meski pernah latihan tanding sebelumnya, rasa itu tetap ada.
Apa boleh buat, jarak mati sudah tercapai, Arwani mulai membuka sikap untuk membuyarkan konsentrtasi Zakir. Zakir benar-benar kaget, tapi secara reflek pukulan pendeta kanan di tolak luar garuda kiri disusul rangkulan ke dalam kiri untuk menjatuhkan. Ternyata kegagalanlah yang ditemui. Arwani tidak terjatuh, tapi dengan segera membalikkan jatuhan pada Zakir.
"Henti!" Kyai Zamroni mengangkat jempol kiri untuk Arwani dan menurunkan tangan untuk Zakir.
Kali kedua Zakir tak mau kalah, setelah beberapa kali melangkah, mulailah Zakir mengeluarkan serangan tak terduga, dari jarak dua tangan Zakir mancer ke kiri di mana Arwani berada memukul pendeta kanan kaki kanan depan disusul kilat gejlig kanan. Melihat Arwani oleng, Zakir meneruskan daun melayang pendeta kiri kaki kiri depan. Dengan pukulan disertai putaran, Arwani terjerembab ke kiri.
"Henti!" Kini giliran jempol kiri diangkat untuk Zakir.
Putaran ketiga adalah yang terakhir, tapi Zakir sudah mandi keringat, begitu juga Arwani.
Kali ini kedua pihak tak mau mengalah, terjadi jual beli serangan. Sama-sama pendeta, sama-sama sabit, gejlig pun juga, tapi kesempatan bagi arwani tiba ketika Zakir daun melayang sabit kiri, Arwani mengubah gejlig yang sudah keluar langsung menjadi T kanan. Zakir yang masih belum menapak tanah terjatuh.
"Henti!" Jempol kanan untuk Arwani.