+-

Video Silat


PenampiLan Pencak TERAZAM di MaLioboro Pencak Fest
ICE 2009, aplikasi golok seliwa (bangEdwin)
promo: Gerak Gulung Budi Daya
introduksi Gerak Gulung Budi Daya
rontje langkah troktok Kong Awih
Dasar Sile Kumango - Batang
Macan Belang Jitu - Performance perguruan di acara
mainan kampung anak sawangan depok
ICE 2009 performance silat sibunder (aplikasi)

Shoutbox

12/07/2014 16:49 one: Pada kemane nih buka puasanya ye?
27/06/2014 17:45 moeljadi moechtar: mohon maaf lahir dan batin menjelang Puasa buat sodare2 silat sekalian...
23/05/2014 19:43 Jenggot Perak: assalamu'alaikum para pesilat dan pendekar..
salam kenal
02/05/2014 13:32 kunderemp: Horeeee... muncul lagi.
20/03/2014 21:24 akoekoko: tes, tes, satu dua...
10/01/2014 22:16 arip: tessss..... happy new year.. ada event apa ini dunia persilatan tahun ini? :D
28/08/2013 13:28 Bang Gagak: Assalamualaikum... bang..
View Shout History

Recent Topics

[GUESTBOOK] by wongbener
Today at 10:03

Pesilat Indonesia Siap Bantu Rakyat Gaza by wongbener
Today at 09:40

My Days with Golok Betawi "Seliwa" by akoekoko
16/07/2014 16:24

RM. Sunardi Suryodiprojo "Den Mas Nardi/Romo Nardi" (03 Apr 1914 - 05 Jun 1985) by halilintar
14/07/2014 00:20

Sejarah perguruan Reti Ati by halilintar
14/07/2014 00:08

Minangkabau Silek Tuo Summer Camp 2014 by luri
07/07/2014 09:13

THS-THM by halilintar
04/07/2014 16:11

PPSB Cingkrig Gerak Cipta by abay gcis
01/07/2014 19:56

Merpati Putih by satrio simammora
16/06/2014 21:40

Asal-usul dan sejarah silat BEKSI betawi by devil
13/06/2014 23:58

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
13/06/2014 23:37

PPS Betako Merpati Putih by mpcrb
23/05/2014 22:15

Selayang Pandang Lu Style Xinyi Liuhe Quan by Jenggot Perak
23/05/2014 20:18

Latihan Xinyi Liuhe Quan (only moslem) by Jenggot Perak
23/05/2014 19:46

Tempat Latihan Usik Cikalong di Bandung by muramasa
09/05/2014 08:19

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 43752 times)

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« on: 15/08/2008 16:53 »
SAM PO KONG (buyankaba.com)

(Cerita ini diprosakan dari bentuk aslinya sebagai skenario film yang dirancang oleh Rumah Produksi Annzora Ideacitra Semarang)


SETELAH berjam-jam melaju di jalanan panjang yang lumayan meletihkan, akhirnya bus carteran yang membawa anak-anak sekolah dari kawasan Grogol, Jakarta Barat, tiba di Simongan, Semarang. Bus itu berhenti di halaman muka kelenteng Sam Po Kong. Seorang lelaki berambut panjang, yang oleh anak-anak sekolah itu dijuluki Tukcer, singkatan Tukang Cerita, adalah guru sejarah yang memimpin rombongan itu.

Dia berhenti di bangunan pertama di mulut kelenteng. "Nah, anak-anak, inilah kelenteng Sam Po Kong. Kalian boleh terkejut. Tapi aku minta kalian percaya pada ceritaku, bahwa tempat ini dipercaya banyak orang dari abad ke abad sebagai makam bahariwan Muslim, Ceng Ho. Dia diutus oleh Kaisar Ming ke sini dan dalam pelayaran yang terakhir, kapalnya karam di sini, dan selanjutnya wafat di sini," kata Tukcer. Anak-anak itu melihat ke sana ke mari, kemudian duduk bersila mengelilingi Tukcer. "Tokoh Ceng Ho, yang sering juga disebut dengan banyak nama,

<bersambung>
« Last Edit: 28/08/2008 10:28 by sarung kampret »
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #1 on: 15/08/2008 16:56 »
misalnya Sam Po Tay Jin, Sam Pao Toa Ren, dan lain-lain, termasuk yang paling populer Sam Po Kong, ini harus diakui, sangat unik," kata Tukcer. Seorang anak yang dari tadi menggigit-gigit permen karet menepuk lutut sang Tukcer. Tampaknya dia yang paling berminat mengetahui cerita tentang Ceng Ho yang Sam Po Kong itu. Sambil menepuk lutut Tukcer, dia berkata, "Uniknya bagaimana, Pak Tukcer?" "Begini," kata Tukcer, menghela nafas terlebih dulu, lalu mengembusnya. "Ceritaku tentang Sam Po Kong ini berbeda dari sejarah yang ditulis oleh beberapa ahli sejarah, baik yang ahli sejarah Belanda, Prancis, maupun Cina. Oleh sebab itu, kalau kalian ingin mengetahui ceritaku tentang Sam Po Kong, pertama, aku minta kalian harus berpihak dulu pada kebenaran yang aku tawarkan.

Menurut penelitian sejarah yang paling akhir, Ceng Ho tidak pernah ke Semarang. Padahal menurut sumber sejarah yang lain, disebut dengan jelas bahwa Ceng Hong pernah memimpin salat Jumat di sini. Nah, itulah uniknya." Anak yang bertanya tadi, kembali bertanya, "Yang sebenarnya bagaimana, Pak Tukcer?" Tukcer tertawa pendek. Katanya, "Cerita sejarah tidak ada yang disebut paling benar. Sebab, semua cerita sejarah dibuat berdasarkan kemauan untuk membuat orang percaya pada kebenaran yang hendak diacu. Makanya, bisa juga dibilang, sebuah cerita sejarah, bagi pihak
yang tidak percaya, dianggap tidak benar. 

Yang penting dari sikap kalian sekarang terhadap cerita yang aku tawarkan ini, adalah percaya bahwa sebuah cerita sejarah harus selalu berpihak. Cerita sejarah tidak sama seperti buku telepon di mana semua nama dihadirkan dengan kedudukan sama penting. Dalam cerita sejarah, ada nama yang baik, ada juga nama yang jahat, dan banyak pula nama yang harus hilang sebab dianggap tidak penting menentukan bagan: bagan dalam prosa disebut "plot" bagan dalam film diejawantahkan melalui konsep "gambar bergerak."

"Tunggu, Pak Tukcer," kata anak yang paling serius menguping cerita sang Tukcer.

"Sekarang kalau menurut Pak Tukcer, Ceng Ho ini nama yang baik atau jahat?"

Lagi Tukcer tertawa pendek.

Tapi dia menjawab dengan sikap yang sangat madya. "O, sudah tentu, menurutku, dalam plus-minusnya-sebab manusia sejati tidak bisa terus-menerus plus dan tidak bisa pula terus-menerus minus-harus dibilang manusia Ceng Ho itu sangat luar biasa. Ini termasuk cara generasi penerus memberi apresiasi kepada cerita-cerita sejarah.
 
Yaitu, harus dikatakan: Ceng Ho itu sakti, cerdik-cendekia, bijak-bestari, kemudian jangan lupa dia pendekar dan dia kasim. Kalau tidak begitu, mana mungkin Zhu Di, kaisar Ming, memilihnya untuk memimpin ekspedisi pelayaran ke sini demi kebesaran Dinasti Ming."

Dan, Tukcer menutupkan mata, mengajak anak-anak sekolah itu membayangkan Ceng Ho.

Dan, hadirlah gambaran-gambaran hidup dalam imajinasi mereka, mundur sekian abad,
« Last Edit: 15/08/2008 16:59 by sarung kampret »
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #2 on: 15/08/2008 17:00 »
dimulai dari tahun 1400-an nun di negeri Cina sana. 

***
Malam itu Ceng Ho sedang sujud di Masjid Jing Jue di Nan Jing menunaikan salat isya. Sebagai keluarga muslim taat, Ceng Ho yang putra Mi Jin berjuluk Ma Ha Ji atau Haji Ma, tak pernah mengabaikan salat. Kini, ketika dia sedang melakukan salat di masjid, tak dia ketahui dua pasang mata dari luar masjid sedang mengintai, disuruh oleh seseorang yang belum diketahui. Maka tanpa beban, dan tanpa menaruh curiga, walaupun itu tidak berarti dengannya ia kehilangan kewaspadaan, seusai sembahyang Ceng Ho leluasa keluar dari masjid, berjalan di tengah gelap menuju pulang. Sekonyong-konyong ia terjaga. Dua orang yang tadi mengintai itu kini berada di depan jalannya, di bagian yang amat pekat, karena malam tiada berbintang, mengadang di situ dan siap menyerang Ceng Ho dengan pedang-pedang terhunus. Ceng Ho segera waspada, menghitung gerakan yang paling kecil sekalipun, untuk menghadapi orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Matanya tajam. Dia menunggu. Dia mungkin mengira bahwa tidak mungkin hanya dua orang itu saja yang berada di sekitar jalanan gelap ini. Pasti ada orang-orang lain. Dan, sangkanya tidak meleset. Memang masih ada orang-orang lain yang sudah menghunus pedang mereka, yang akan mengeroyok Ceng Ho. Tiga orang muncul berbarengan di belakang Ceng Ho. Tak berapa lama, hanya hitungan detik, setelah kaki-kaki mereka benar-benar merasa tegak di tanah, serempak dari arahnya masing-masing mereka menyerang Ceng Ho. Dengan tangan kosong,
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #3 on: 15/08/2008 17:01 »
berhubung Ceng Ho baru pergi ke rumah ibadah, ditangkisnya serangan tikus-tikus itu. Dan, memang, karena orang-orang itu hanya pendekar kelas tikus got, satu persatu mereka berhasil dikalahkan oleh Ceng Ho. Satu per satu Ceng Ho menangkap dan menotok tak berkutik. Salah seorang berusaha lari. Melihat yang empat keok, tewas mengenaskan dan konyol, maka yang satu terakhir ini cepat-cepat mengambil langkah seribu: berlari. Tapi Ceng Ho meloncat seperti terbang, kedua kaki terangkat dari bumi, kemudian di jarak yang jauh di depan, di muka orang itu, Ceng Ho berdiri mengadang. Dengan sekali bergerak, yaitu melalui perhitungan jitu, Ceng Ho berhasil pula menangkap tikus got yang satu ini. Dengan suatu
keterampilan yang alih-alih Ceng Ho memutar tangan orang itu, siap hendak mematahkannya.
Orang itu berteriak ketakutan, meminta ampun, putus asa.
''Ampun, Tuan, ampun,'' katanya gemetar, setengah menangis setengah menyembah. ''Jangan
bunuh aku, Tuan Ceng Ho.''
Ceng Ho tak melepaskan. ''Siapa kalian?''
''Kami bukan siapa-siapa,'' jawab orang itu.
Ceng Ho menariknya. ''Dari mana kamu tahu namaku?''
''Kami hanya disuruh.''
''Siapa yang menyuruhmu.''
''Kami sendiri tidak kenal orangnya.''
''Bohong!'' Ceng Ho membentak, mengencangkan tangannya.
Orang itu mengaduh-aduh. ''Betul, Tuang Ceng Ho. Betul, Ampuni aku.''
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #4 on: 15/08/2008 17:12 »
''Baik,'' kata Ceng Ho menghempas, dan orang itu berpelanting ke tanah.
''Kalau begitu, bilang, siapa nama orang yang menyuruh kalian.''
Orang itu kelihatan sangat ketakutan, merinding, namun juga mencoba tulus dalam keadaan yang tidak menguntungkan ini.

Dia komat-kamit hendak mengatakan sesuatu, memandang kekiri ke kanan yang gelita karena malam kian merangkak.

Tiba-tiba, dalam, keadaan seperti bingung, tanpa diketahui siapa pun, sebuah senjata pipih dan kecil, terbang dari kegelapan, langsung mengena leher orang itu. Sekejap saja orang itu
mati terkulai di tanah.

Ceng Ho terkesiap. Jengkel. Geregetan. Dia memandang ke kanan, ke bagian yang gelap sangat, tapi yang menurut nalarnya merupakan tempat dilemparkannya senjata pipih yang mematikan itu. Dia berteriak keras, nyaring, mengumpat ke arah itu.

''Hei, setan!'' katanya. ''Siap kamu?! Keluar kamu dari situ.''

Tiada jawaban. Tiada tanda-tanda akan kemungkinan seseorang yang berjiwa jantan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.


                             ***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Jali Jengki

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 828
  • Reputation: 43
  • Love Pencak Silat, Proud to be Indonesian
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #5 on: 15/08/2008 17:15 »
Ane tau nih, skenario asli ditulis Remy Silado yak...?

Lanjuuut celtanya Kak Seto....!

Tabe'..Jali
Kullu Nafsin Zaaiqatul MAUT

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #6 on: 15/08/2008 17:15 »
Beberapa saat kemudian, Wan San masuk tergopoh-gopoh ke sebuah rumah.

Siapa Wan San?

Dialah orang yang melemparkan senjata hebat itu. Dia datang menemui tuannya: tuan yang mengupahnya melakukan pekerjaan tak jantan. Tuannya itu Dang Zhua. Sang tuan sedang duduk menunggu berita dengan perasaan tidak tenang. Di hadapannya duduk pula Hua Xiong.

Begitu Wan San masuk, Dang Zhua berdiri. Kelihatan sekali keadaan dirinya yang tak sabar menunggu jawaban Wan San. Kata pertama yang diucapkannya adalah keinginannya untuk memperoleh jawaban yang menyenangkan.

''Berhasil?'' tanya Dan Zhua.

Wan San sulit menjawab. Kalaupun dia tidak menjawab yang benar berikut ini, Dang Zhua dapat menduganya. Katanya, ''Maaf. Mereka tidak berhasil.''

Dang Zhua geram. ''Apa maksudmu mereka tidak berhasil? Katakan!''
''Ya,'' jawab Wan San dengan sulit,

namun terucapkan pula dengan jelas. ''Mereka tidak berhasil menyingkirkan Ceng Ho.''

Dang Zhua menghardik keras. ''Gila!'' katanya. ''Mereka itu lima orang. Ditambah dengan kamu, seluruhnya setengah lusin. Mana bisa enam orang kalah hanya oleh satu orang.''
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #7 on: 15/08/2008 17:18 »
Wan San pelegak-peleguk. Dia mengakui kenyataan ini dengan sangat pahit. ''Tapi Ceng Ho memang sakti.''


Dang Zhua menjadi kampungan. Dia meludah. ''Cuh! Kalian pendekar apa? Bagaimana mungkin enam orang pendekar kalah pada satu orang thay chien *) dari Yuan Nan?'' 

Didorongnyan dada Wan San. ''Pendekar macam apa kalian? Benar-benar gila. Apa yang harus aku katakan pada Menteri Liu?''

Dengan kepercayaan diri yang tidak terlalu utuh, Wan San coba menyakinkan sesuatu yang sebetulnya dia sendiri tak yakin. Katanya,

''Tidak perlu pesimistis, Tuan. Kalau saya berkata tidak berhasil, itu tidaklah otomatis berarti gagal''. Masih ada besok yang lebih baik. Saya bersumpah, besok, dengan melipatgandakan pendekar yang lebih tangguh, saya jamin thay chien dari Yun Nan itu akan lewat, selesai, habis.'' ''Tidak bisa,'' kata Dang Zhua.

''Besok pagi kaisar akan mengumumkan keputusannya untuk menugaskan Ceng Ho sebagai laksamana yang akan memimpin misi pelayaran muhibah ke negeri-negeri selatan, Campa, Jawa, dan terus ke India, Arab.''

Seraya membungkuk dengan sikap sembah dan takzim Wan San berkata, ''Kalau begitu, saya atur sekarang juga, Tuan. Tuan akan mendengar kabar langsung dari mulut saya sebelum matahari terbit pagi nanti.'' Dang Zhua melemparkan pandangan kepada Hua Xiong, lalu berdiri berkacak pinggang di muka Wan San. Suaranya menumpul.

 Katanya. ''Apa kamu yakin?'' ''Yakin, Tuan Dang Zhua,'' jawab Wan San. ''Saya bertaruh mati untuk tuan kalau saya gagal.''
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #8 on: 15/08/2008 17:39 »
''Kalau begitu, cepat, laksanakan,'' kata Dang Zhua.
''Baik, Tuan,'' kata Wan San, memberi hormat kepada Dang Zhua dan Hua Xiong.

Wan San meninggalkan rumah Dang Zhua, melaksanakan perintah itu. Hua Xiong pergi ke rumah Menteri Liu yang tadi sudah disebut oleh Dang Zhua.

Malam makin malam. Yang disebut Menteri Liu, tak lain dan tak bukan adalah Liu Ta Xia, menteri ekonomi dan keuangan dalam pemerintahan Zhu Di, sang kaisar. Liu Ta Xia tampak tegang.

Ketegangannya terlihat pada sikapnya yang mondar-mandir di ruangan besar rumahnya. Melihat itu Hua Xiong menenangkannya, berlaku sok arif, dan hal itu sebetulnya tidak pas untuk manusia sekelas cecunguk.

''Tenanglah, Tuan Menteri,'' kata Hua Xiong. ''Sebentar lagi Dang Xhua akan hadir di sini memberikan laporan keberhasilan pendekar-pendekar upahannya. Mereka itu orang-orang yang paling canggih bergerak dalam gelap, menjalankan tugas menghentikan manusia dari kodratnya.'' Liu Ta Xia menarik baju Hua Xiong.

''Jangan berkicau. Buktikan lebih dulu.'' ''Percayalah, Tuan Menteri,'' kata Hua Xiong. Liu Ta Xia mengempaskan Hua Xiong.

''Kamu harus tahu, ini masalah besar: masalah yang menyangkut ribuan manusia, termasuk aku, kamu, dan seluruh negeri akan terkena batu akibat anggaran belanja negara yang terisap dan kebobolan demi ambisi kaisar yang tidak jelas. Supaya ambisi itu padam, sumbunya, Ceng Ho harus dihabiskan. Kamu mengerti?'' Hua Xiong menghormat.

''Tenanglah, Tuan Menteri.'' ''Jangan asal buka mulut kamu,'' kata Liu Ta Xia. ''Apa yang membuatmu yakin?'' ''Maaf, Tuan Menteri,'' kata Hua Xiong. ''Dang Xhua tidak mungkin keliru memilih ular. Dia sendiri pandai menjadi tikus.''

Lalu, sekonyong-konyong terdengar seseorang membuka pintu. Kedua orang, baik menteri maupun Hua Xiong serta-merta menoleh ke pintu itu. Di situ muncul Dang Zhua tergopohgopoh. Keringat berbintik di dahinya.

Dia berdiri bingung. Liu Ta Xia melihat sesuatu yang mungkin membuat hatinya tawar. Maka dia maju mendekati Dang Xhua, menjejalkan pertanyaan yang menunjukkan keinginannya untuk memperoleh jawaban yang semoga menggirangkan hati. Dia tarik baju Dang Xhua.

''Jangan bilang tugasmu gagal,'' kata Liu Ta Xia.
''Dari sikapmu yang persis seperti tikus basah, sudah kelihatan gambaran sial, cialat. Ayo, katakan.'' Dang Xhua berusaha menegakkan benang basah. Kalimatnya tidak lancar mengalir dari mulutnya. Katanya, ''Bukan gagal, Tuan Menteri. Ini hanya persoalan waktu. Dalam banyak waktu, ada satu waktu di mana keberhasilan masih tertunda.'' Liu Ta Xia menarik baju Dang Xhua. Dia menekan.

''Tidak usah berbelit,'' kata dia. ''Berbicara yang sebenarnya. Apa yang terjadi?''

''Maaf, Tuan Meteri. Seperti yang baru saya katakan, malam yang sedang berjalan ini keberhasilan belum tercapai. Tapi, malam ini belum mendekati pagi. Malam ini masih malam. Percayalah, Tuan Menteri, sebelum matahari terbit di ujung malam, ular yang melaksanakan perintah rahasia ini akan menyelesaikan tugasnya dengan sukses. Sebelum fajar, Wan San sudah akan mengabarkan kepada kita tentang kematian Ceng Ho.'' Liu Ta Xia memandang nanar ke wajah Dang Zhua. Ada asap di kepalanya yang membuatnya gusar. Sementara di hatinya kelihatannya ada magma yang terus-menerus hendak melanda siapa saja yang dianggapnya musuh. Benih-benih pikiran dan perasaan yang membuat Liu Ta Xia menjadi begini, asalnya semata karena dia tidak setuju gagasan sang kaisar, Zhu Di, mengutus pelayaran muhibah ke selatan dan terus ke timur yang dipimpin oleh Ceng Ho. Selalu dia berkata di belakang sang kaisar:

''Kalau benar Zhu Di hanya bermaksud mengutus Ceng Ho ke negeri selatan sebagai utusan muhibah, mengapa negara harus mengeluarkan anggaran begini besar, membuat 208 kapal, armada, dan orang bersenjata 28.000 orang, dan dana pelayaran untuk 7 kali mengarungi laut dari Laut Cina Selatan sampai ke Jawa?''

Karena tak setuju pada gagasan Kaisar Ming itu, Liu Ta Xia diam-diam melakukan gerakan rahasia untuk menyingkirkan Ceng Ho. Dia berpikir, kalau Ceng Ho yang selama ini sangat dipercaya oleh Zhu Di mati, selesailah gagasan sang kaisar untuk melaksanakan misi muhibah yang aneh itu. Dia memercayakan tugas gelapnya itu kepada Dang Zhua dan Hua Xiong, sebab kedua orang ini adalah abdi-abdi yang bekerja padanya dengan kepatuhan yang melebihi batas absurd.
 

***

Demikianlah Wan San yang dipercaya oleh Dang Zhua dan Hua Xiong, kini, di malam yang merangkak menuju larut, telah berhasil mengumpulkan pendekar-pendekar bayaran, sejumlah dua belas orang, berangkat ke rumah Ceng Ho untuk melaksanakan tugas rahasia itu. Kedua belas orang itu mengendap-endap di dalam gelap.

Mereka membagi diri dalam empat kelompok, muncul ke situ dari arah utara, selatan, barat, timur. Wan San terbang dengan gesit ke atas atap. Dia satu-satunya di antara semuanya yang mengenakan tutup hitam di mukanya. Mereka mengintai. Mata Wan San tak berkedip melihat ke bawah, ke ruang tidur Ceng Ho. Di situ Ceng Ho tidur tak nyenyak, memikir-mikir tentang serangan hampir tiga jam yang lalu. Dia curiga, jangan-jangan salah seorang yang melarikan diri tadi itu akan kembali lagi.

Pikiran ini yang membuatnya tak nyenyak begini. Selalu, ketika pikirannya tak tenang, tidurnya pun menjadi terganggu. Dalam keadaan begitu, dia merasakan sesuatu. Bunyi yang tak bergetar di atas atap rumahnya cukup terekam dalam telinganya. Keruan dia terjaga. Matanya terbuka lebar. Dia pun segera waspada. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan ke depan. Dia terkejut, walaupun ini tidak berarti dia terguncang, sebab ternyata sudah ada empat orang di dalam rumahnya. Keempat orang itu langsung menyerangnya dengan pedang-pedangnya. Mula-mula Ceng Ho menangkis hanya dengan menggunakan tangan kosong. Dan, dia memang sangat piawai melakukan itu, sehingga keempat orang itu merasa tak percaya diri selain mata-mata naluri untuk membunuh belaka. Tetapi kemudian muncul lagi empat orang ke dalam serambi dan menyerang Ceng Ho dengan sangat liar. Akhirnya, menanggapi dengan perbuatan dan perhitungan, Ceng Ho pun mengambil pedang, lalu melayani kedelapan orang itu.

Perkelahian pun berlangsung seru.

Namun sudah suratan kedelapan orang pendekar bayaran itu tumbang, tewas, satu per satu tergeletak sia-sia di lantai. Empat orang yang tersisa yang tergolong lebih cekatan dan lebih sangar menyerang Ceng Ho dan menggiring ke halaman. Agak lama perkelahian di luar ini. Sebab keempat orang terakhir, dengan satu orang yang menutup muka sebagai pemimpin, berkelahi dengan ilmu tinggi. Sungguhpun begitu akhirnya mereka semua kalah oleh Ceng Ho. Satu per satu pula keempat pendekar tangguh itu dikalahkan Ceng Ho. Mereka tumbang di tanah. Kini tinggal satu orang yang menutup muka tersebut. Dengan kelincahan yang hebat Wan San membuat Ceng Ho terpesona pada kemampuannya berkelahi dengan pedang.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Aguswin

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 2
  • -Receive: 7
  • Posts: 407
  • Reputation: 34
    • Kelatnas Indonesia Perisai Diri
    • Email
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia Perisai Diri
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #9 on: 17/08/2008 16:31 »
[youtube=425,350]http://www.youtube.com/watch?v=k6Ftajuaneo[/youtube]

Infonya sih, film ini ditayangkan sebagai serial TV sebanyak 30 episode di Metro TV (versi Bahasa Indonesia) mulai malam minggu tanggal 9 Agustus 2008 hingga akhir Maret 2009. Versi bahasa Mandarin akan ditayangkan CCTV 4 China, dan versi bahasa Thai akan ditayangkan TV 3 Bangkok.

=====

Copy paste dari http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/06/preview-episode-i-film-laksamana-cheng-ho/

Proses pembuatan film drama kolosal Laksamana Cheng Ho atau Admiral Zheng He, kini telah mendekati tahap akhir. Film yang semula dirancang untuk 26 episode, dalam perjalanannya berkembang menjadi sekitar 30-32 episode, dengan masa tayang selama 50 menit setiap episodenya. Pengambilan gambar sebagian besar telah dilakukan di Thailand dan China. Pengambilan gambar sesi terakhir untuk lebih kurang 20 persen dari seluruh proses pengambilan gambar akan dilakukan pada bulan Februari ini juga di Jakarta dan Jawa Barat. Insya Allah, kalau tak ada aral melintang, film kolosal ini akan ditayangkan pada akhir bulan Maret yang akan datang, di salah satu stasiun televisi nasional kita. Bersamaan dengan itu, DVD film ini dengan pilihan bahasa dan subtitle juga akan memasuki pasar di berbagai negara.

Film drama kolosal Laksamana Cheng Ho ini adalah film cerita yang pertama diproduksi, setelah sebelumnya CCTV 4 China membuat film dokumenter mengenai armada Cheng Ho. Film ini dikerjakan bersama oleh Kantana Ltd, perusahaan film terkemuka Thailand, PT Jupiter Global Film dari Indonesia dan Heng Dian Movie Corporation dari China. Para aktor dan aktris film ini berasal dari Thailand, Indonesia, China, Vietnam, Kamboja dan Malaysia. Skenario film ditulis dalam enam bahasa, untuk kemudian disulihbahasakan ke berbagai bahasa di mana film kolosal ini ditayangkan. Selain ditayangkan di Indonesia, dalam waktu berdekatan, film ini juga akan ditayangkan oleh tevelisi China, Thailand, Malaysia, Singapore, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Turki. Negara-negara Timur Tengah, kabarnya juga berminat untuk menayangkan kisah laksamana beragama Islam dari Dinasti Ming pada awal abad ke 15 ini.

Armada Cheng Ho dikenal sebagai armada laut terbesar yang pernah ada sebelum kita memasuki era modern. Armada itu terdiri atas 320 kapal, dengan 28.000 prajurit angkatan laut, dan sekitar 5000 awak kapal. Armada itu mengontrol lautan mulai dari Mogadishu di Afrika sampai ke Philipina dan Taiwan di Lautan Pasifik.

Laksamana Cheng Ho, selain berperan besar dalam membangun kejayaan Dinasti Ming, juga berperan besar dalam membangun persahabatan dan kerjasama antarabangsa di kawasan Asia dan Afrika. Armadanya aktif melerai berbagai konflik di berbagai kawasan, mengamankan alur pelayaran internasional dari ancaman bajak laut, dan membangun kerjasama pertanian, perdagangan, kebudayaan serta memberikan bantuan teknis militer dan pertahanan kepada berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Kerajaan Champa (Vietnam), Suvarnabhumi (Thailand), Melaka (Malaysia) dan Majapahit serta wilayah eks Kerajaan Sriwijaya (Indonesia).

Kepada rekan-rekan yang ingin menyaksikan preview episode pertama film Laksamana Cheng Ho, dapat menggunakan fasilitas upload video dari Youtube. Resolusi yang lebih baik dapat didownload dari link ini. Format Youtube menggunakan default format .flv sedangkan video yang pada link diatas menggunakan format .mov (Quick Time Format) yang dapat dibuka menggunakan VLC yang tersedia baik untuk sistem operasi Windows maupun Linux. Saya mohon maaf jika proses uploadnya akan memakan waktu yang agak panjang, tergantung pada kemampuan komputer masing-masing. Kalau diklik langsung di layar tampilan, mungkin hasilnya kurang memuaskan karena terputus-putus. Tepi semuanya, sekali lagi, tergantung pada kemampuan komputer masing-masing. Kami sedang memperbaiki penampilannya agar tayangannya lebih nyaman untuk dinikmati. Untuk itu sekali lagi, saya mohon maaf.

Akhirnya, saya ucapkan selamat menyaksikan….

Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 6th, 2008
« Last Edit: 17/08/2008 16:59 by Aguswin »

Aguswin

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 2
  • -Receive: 7
  • Posts: 407
  • Reputation: 34
    • Kelatnas Indonesia Perisai Diri
    • Email
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia Perisai Diri
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #10 on: 17/08/2008 16:55 »
Pas ke Gramedia, gak sengaja liat buku ini. Iseng-iseng aku beli. Aku sama sekali gak hobi baca novel. Tapi karena ada tokoh Cheng Ho yang disebut di covernya, iseng-iseng aku beli. Awalnya sih gak semangat ngebacanya, lama-lama semakin tertarik untuk melanjutkan ke halama -halaman berikutnya, hingga emosi dan perasaan ikut terlarut dalam jalan cerita buku ini. Aneh juga bagi seorang yang nggak gemar baca buku cerita kayak aku gini. :D



=====

Copy paste dari http://yulian.firdaus.or.id/2005/02/23/tasaro-samita-bintang-berpijar-di-langit-majapahit/

Samita - Bintang Berpijar di Langit Majapahit

Tasaro adalah nama pena Taufik Saptoto Rohadi. Ia menulis cerita setebal hampir 500 halaman dalam setting jelang runtuhnya Mahapahit di bawah pimpinan Wikramawardhana. “Samita — Bintang Berpijar di Langit Majapahit” ia beri judul yang dirilis November tahun lalu oleh penerbit DAR! Mizan, Bandung. Buku ini menggabungkan sisi sejarah awal runtuhnya Majapahit, cerita silat seperti Kho Ping Hoo, deskripsi ajaran Islam yang dibawa Laksamana Cheng Ho serta cerita cinta melalui dialog dan pemikiran.

Membaca cerita Samita ini seperti langsung membuka halaman tengah karya Remy Sylado “Sam Po Kong”. Dimulakan dengan tibanya perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Simongan (Semarang) untuk mengobati saudaranya Wang Jing Hong yang terkena cacar air. Juen Sui, Sien Feng dan Hui Sing adalah murid-murid yang sudah dianggap anak oleh Cheng Ho. Armada Kekaisaran Ming dari Cina ini dipimpin Cheng Ho untuk mengadakan misi persahabatan ke seluruh negeri di wilayah Majapahit.

Berikutnya fokus cerita berada pada Hui Sing yang kelak menamakan diri Samita dan menetap sementara di Simongan setelah sebelumnya berkunjung ke pusat pemerintahan Majapahit di Mojokerto. Morat-maritnya pemerintahan Majapahit membuat Hui Sing bersahabat dengan anak Ki Legowo, Ramya, yang bertemu sejak berlabuh untuk mencari tempat penyembuhan Wang Jing Hong yang juga bertepatan dengan datangnya pasukan dari Blambangan yang dipimpin oleh Turonggo Petak yang hendak menumpas mereka yang dianggap lawan dalam melicinkan jalannya ke jabatan maha patih Majapahit, hingga akhirnya Ki Legowo terbunuh.

Armada meneruskan perjalanan ke Surabaya dan Mojokerto sekaligus untuk membicarakan terbunuhnya ratusan prajurit Cheng Ho di Simongan. Rombongan disambut langsung oleh Sad Respati, kepala Bhayangkari Majapahit. Hui Sing pun berkenalan dengan Anindita, yang kelak menjadi istrinya Sad Respati.

Selama di ibukota terjadi kegegeran pembunuhan seorang Rakyan Rangga yang akhirnya Sad Respati naik jabatan. Kejadian tersebut disaksikan langsung oleh Hui Sing yang sempat ikut mengejar pelakunya, hingga akhirnya Hui Sing memutuskan turun kembali ke tanah Jawa di Simongan, tidak ikut armada yang bergerak ke Palembang dan kembali ke Cina.

Berganti nama menjadi Samita, Ramya, Sad Respati dan Anindita menjadi tokoh inti perjalanan cerita berikutnya sebagai jawaban kenapa Hui Sing tinggal di Jawa, apa kisah Ramya berikutnya serta apa keterlibatan Sad Respati dan Anindita dalam konspirasi di dalam tubuh pemerintahan Majapahit.

Islam dan ajaran Hanacaraka menjadi fokus utama Tasaro dalam menggambarkan dua tokoh utama Samita dan Sad Respati, selain menggambarkan perkembangan masuknya Islam di pesisir utara Jawa terutama di Semarang, Tuban dan Gresik, serta cerita silat yang membuat pembaca membayangkan perkelahian dan jurus-jurus sakti ilmu kanuragan.

Cukup menghibur untuk anda yang suka cerita silat dan cerita sejarah Nusantara.
« Last Edit: 19/08/2008 09:43 by Aguswin »

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #11 on: 19/08/2008 12:24 »
ini komik mau ane terusin apa gak? nanti ane pulang nih....
baru mau nulis/nyadur komik dipotong melulu.... ~X(


ps : daripada jadi pendekar utak atik thread org mendingan nulis komik biar postingannya banyak hehehehehhehe
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Dodol Buluk

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 1.081
  • Reputation: 25
  • Alone but never lonely
    • Email
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #12 on: 19/08/2008 12:58 »
 :D :D....@Mas Aguswin...jgn diganggu tuh Mas...orangnya begitu..kalo diganggu ntar lupa posting awalnya apaan ...hehehehehe [lucu]

D'Boels
"Jangan pernah bilang kagak kalo kagak pernah bilang jangan"

Jali Jengki

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 828
  • Reputation: 43
  • Love Pencak Silat, Proud to be Indonesian
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #13 on: 19/08/2008 13:15 »
iye, bener Bang debul...kalo Jeger (Jelema Gering)...kalo lupa minum obat suka kumat, apelagi kalo rante keadaan kagak kekonci...susah dah...
Kullu Nafsin Zaaiqatul MAUT

Dodol Buluk

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 1.081
  • Reputation: 25
  • Alone but never lonely
    • Email
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #14 on: 19/08/2008 13:35 »
Demi melestarikan kebudayaan bangsa yg telah dirintis oleh pak sarkem, maka dengan ini ane berikeun Obat GRP untuk Kang Sarkem  [top]

D'Boels
"Jangan pernah bilang kagak kalo kagak pernah bilang jangan"

 

Powered by EzPortal