+-

Video Silat


Pencak Silat Tiga Berantai
Harimau Krambit from Mande Muda
Beksi Kid main Golok
Yana Sastra Pelatih Silat di Amerika - Dunia Kita
Paseban Lama - Performance Silat di acara ultah fp
eko wahyudi juara dunia 2010 pencak silat
Jambore Pencak Silat, Mutiara PancaRasa performanc
Festival Silat Kampung Jampang - Beksi Hasbullah #
Amancak Bugis

Shoutbox

13/08/2014 03:06 Ekka_Xakra: Salam kenal para sahabat silat semua.
12/08/2014 17:56 Dwi_NGJ: Salam kenal para ksatria. Mohon ijin bergabung... :)
12/07/2014 16:49 one: Pada kemane nih buka puasanya ye?
27/06/2014 17:45 moeljadi moechtar: mohon maaf lahir dan batin menjelang Puasa buat sodare2 silat sekalian...
23/05/2014 19:43 Jenggot Perak: assalamu'alaikum para pesilat dan pendekar..
salam kenal
02/05/2014 13:32 kunderemp: Horeeee... muncul lagi.
20/03/2014 21:24 akoekoko: tes, tes, satu dua...
View Shout History

Recent Topics

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
14/09/2014 07:34

Parkour by gumuruh
03/09/2014 14:02

Hoby Miara Jin by gumuruh
03/09/2014 14:01

[BUKUTAMU] by dr_hadinata
20/08/2014 11:41

contack person guru silat suaeb yg di padepokan pencaksilat TMII by rohadi
17/08/2014 05:58

Silat Betawi di Bentera Budaya by luri
12/08/2014 11:01

maenpo Cikalong by aki sija
26/07/2014 06:55

PABUCI (PANCERBUMI CIKALONG/PASAR BARU CIANJUR) by aki sija
26/07/2014 06:36

[GUESTBOOK] by wongbener
23/07/2014 10:03

Pesilat Indonesia Siap Bantu Rakyat Gaza by wongbener
23/07/2014 09:40

My Days with Golok Betawi "Seliwa" by akoekoko
16/07/2014 16:24

RM. Sunardi Suryodiprojo "Den Mas Nardi/Romo Nardi" (03 Apr 1914 - 05 Jun 1985) by halilintar
14/07/2014 00:20

Sejarah perguruan Reti Ati by halilintar
14/07/2014 00:08

Minangkabau Silek Tuo Summer Camp 2014 by luri
07/07/2014 09:13

THS-THM by halilintar
04/07/2014 16:11

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 44508 times)

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #180 on: 02/09/2008 15:16 »
Sementara, lima orang yang berangkat ke Borobudur, masih juga berjalan dengan sulit karena musim hujan yang membuat jalanan tanah amat licin, sehingga kereta yang mereka gunakan sering selip dan terperosok ke dalam kubangan, dan mereka pun harus bekerja keras untuk mengangkatnya. Berhari-hari mereka menempuh perjalanan itu. Jika malam tiba, mereka memasang kemah, dan tidur di dalam. Aman. Tidak ada yang mengganggu. Cerita tentang begal dan garong yang biasa dituturkan orang-orang di pesisir utara, tak ada sama sekali. Mereka memang tidak tahu, bahwa begal dan garong itu sekarang sudah menjadi murid-murid Tan Tay Seng.


***


Kini, di Borobudur, murid-murid Tan Tay Seng itu, seperti selalu, sehabis latihan, meriung ditempat yang biasa, berbincang-bincang antara yang serius dan yang santai.
Petang ini mereka meneruskan pembicaraan yang kemarin dan kemarinnya, yaitu rencana sang Bupati Tritama untuk menikahkan putrinya dengan Tan Tay Seng.
"Nanti, di waktu nikah, dandanan suhu dan dandanan mempelai wanita akan istimewa," kata Wage.
Dan sambung Bronjong, "Sesuai dengan adat di sini."
"Seperti yang dilukis di dinding utama deret bawah lorong pertama bagian selatan candi," kata Wage.

Tan Tay Seng terdiam. Dia mengingat-ingat gambar-gambar relief Candi Borobudur yang sudah dinikmatinya, tapi tampaknya dia tidak menghafal secara rinci. Maka dengan jujur dia bertanya, "Lukisan yang mana?"
"Lukisan tentang cerita Awandana," kata Wage. "Menurut kakekku, lukisan orang memegang bingkai di lorong pertama bagian selatan Candi Borobudur itu, dimaksudkan sebagai tanda setuju menjadi pengantin, duduk di pelaminan.""Apa memang begitu?" tanya Tan Tay Seng.
"Ya," jawab Wage. "Pengantinnya seperti terlukis di dinding candi itu, biasa memakai tajuk, mengeliga, memakai kalung di leher, kalung di lengan, kalung di tangan, kalung di perut."
"Dan di sampingnya ada panitia-panitianya. Saya yang nanti jadi panitianya," kata Bronjong. "Indah sekali," kata Wage.
Tan Tay Seng mengangguk. "Memang indah," katanya. Dan Tan Tay Seng tercenung. Dia membayangkan kisah Buddha yang sudah berkali-kali dinikmatinya di semua penjuru Candi Borobudur itu sejak dia membumi di situ. Rasanya besok dia akan melihat lebih khusus tentang bagian yang baru disebut Wage.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #181 on: 02/09/2008 15:20 »
Pagi-pagi benar apakala matahari baru muncul di balik Merapi sana, Tan Tay Seng berjalan ke candi indah itu. Dia memasuki candi sesuai dengan jalan yang benar, melalui gapura timur. Bahwa semua arah sama dapat didaki, timur, barat, utara, selatan, tapi memang gapura timur adalah gapura pertama, sebab dari situ, bila ditarik garis yang lurus, maka garis itu akan menghubung ke dua candi lain yang merupakan kesatuan dengan Borobudur, yaitu Pawon sebelum Sungai Progo dan Mendut setelah Sungai Elo. Pagi ini, walaupun Tan Tay Seng hanya akan melihat secara khusus relief yang mengisahkan Awandana di lorong pertama sebelah selatan candi, tapi dia menyimak seluruhnya, mulai dari bagian Kamadhatu yang terdiri atas 13.000 meter persegi batu dan 160 relief, kemudian bagian Rupadhatu yang panjangnya 1,5 kilometer dengan empat lorong, 1.300 relief, dan 1.212 panil berhias, dan di atas pada bagian Arupadhatu yang terdiri atas 72 buah stupa berjendela-jendela dan satu stupa besar di pusat paling tinggi. Setelah berlama-lama di puncak candi memandang ke segala penjuru, mengagumi alam ciptaan Tuhan, pusat bumi Jawa yang elok permai, turunlah Tan Tay Seng ke bawah. Dia berjalan di depan, Wage yang menemaninya berjalan di belakangnya. Sebelum tiba di tanah, dia berbelok ke kiri, ke patung Buddha dalam stupa terawang, melakukan apa yang biasa dilakukan orang, yaitu memasukkan tangan ke dalam stupa terawang itu dan mengucapkan kata-kata tertentu yang bersifat memohon. Dalam leluri yang dipercaya orang, dan Tan Tay Seng termasuk orang yang percaya pula, jika ujung tangannya dapat menyentuh patung Buddha di dalam stupa itu maka segala permohonan yang diucapkan baik dengan lafaz maupun yang diucapkan di dalam hati akan dikabulkan oleh Buddha.
Wage yang mengingatkan ini. Katanya, "Waktu kenduri pernikahan Anda tinggal 20 hari, Suhu. Coba saja katakan kepada Buddha, apakah Buddha memberi restu atau tidak."
"Kenapa pula kau bilang begitu?" kata Tan Tay Seng seperti tersentak oleh lamun dan pertimbangan tertentu.
"Maaf, Suhu," kata Wage. "Saya bilang begitu sebab saya melihat agak-agaknya Suhu masih ragu memasuki hidup baru 10 hari lagi."
"Tidak juga."
"Betulkah?"
Tan Tay Seng mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Jika begitu, lakukanlah dwiwicara dengan Buddha. Dalam diam, di balik arca, ada jawaban kehidupan dari Buddha."
Tan Tay Seng terkesiap akan pernyataan Wage. Dia kagum bahwa bekas begal ini ternyata memiliki sifat-sifat atma luhur. Sementara karena terkesiap demikian Tan Tay Seng terdiam beberapa saat di depan stupa itu. Karenanya Wage mendesak.
"Nah, lakukanlah, Suhu," kata Wage. "Pasti Buddha setuju. Pasti ujung tangan Anda akan mencapai arca Buddha."
Tan Tay Seng pun melakukannya. Pelan-pelan lewat terawang itu dia masukkan tangannya ke dalam stupa. Satu, dua, tiga. Mendadak matanya terbuka lebar. Alih-alih ujung tangannya dapat menyentuh patung Buddha itu. Dia heran. Sebab, pada waktu-waktu sebelumnya dia tidak pernah bisa melakukan ini.
Dengan melihat mata Tan Tay Seng terbuka lebar seperti itu, Wage pun dapat menyimpulkannya dengan mudah.
"Terpegang?" tanya Wage.
Tan Tay Seng menarik napas. "Ya," jawabnya.
Wage berseru girang. "Nah, apa kataku? Buddha setuju. Jodoh tidak ke mana."



***


Lalu mereka menuruni tangga-tangga. Tak lupa, sebab ini sebetulnya tujuan awal Tan Tay Seng menyimak relief yang kemarin disebutkan oleh Wage ke bagian selatan candi menuju ke lorong yang terpampangkan kisah Awandana itu. Di relief itu, bukan hanya teladan pria yang ditampilkan di dalam bingkai di bawah payung, tapi juga teladan wanita. Tan Tay Seng memperhatikan dengan serius relief itu. Kemudian dia berkata dalam kalimat tanya, "Saya akan berpenampilan seperti ini? Tidak mengenakan jubah sutra bersulamkan naga? Dan mempelai putri tidak juga mengenakan jubah sutra bersulamkan burung hong?" "Ya, Suhu," kata Wage bersemangat. "Inilah Jawa. Menjadi pengantin adalah menjadi raja sehari." Tan Tay Seng tertawa kecil. "Raja sehari?" "Ya, dalam rangka memiliki sifat bawalaksana."*) ''Apa itu?'' Wage tertawa lugu. ''Saya hanya menghafal itu dari kata-kata kakek saya. Kalau Anda mau bertanya kepada kakek saya, Anda bakal mendapat jawaban yang memuaskan.'' Tan Tay Seng hanya diam. Dia tertarik. Tapi dia hanya menggerakkan bibir sedemikian rupa sehingga terdengar bunyi bilabial di situ. Yang melintas dalam pikirannya adalah bertemu kakek Wage dan bertanya. Nanti. Suatu waktu. Waktu yang indah.
***
Apa boleh buat, waktu berputar manusia berubah....
Tan Tay Seng pasti akan duduk bersanding dalam pelaminan sebagai mempelai yang bahagia, raja sehari, pada dua pekan yang akan datang. Pikirannya tidak berubah lagi, terarah penuh pada Caya, putri sang bupati.
Apakah dengan begitu boleh diartikan perhatiannya telah padam terhadap Ling Ling?
Apa boleh buat, jawabannya adalah: ya.
Padahal, pada pihak Ling Ling justru kebalikannya.
Setelah mengetahui duduk perkara sebenarnya, makin hari Ling Ling kian terbawa lamun kepada Tan Tay Seng. Banyak daftar kesalahan yang dibuat dalam lamunannya. Terakhir, tak maunya mencari Tan Tay Seng, padahal tawaran itu datang dari Wang Jing Hong yang menyediakan orang-orang perkasa di bawah Li Kiu Gi untuk menemaninya ke Borobudur.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #182 on: 02/09/2008 15:39 »
Apa boleh buat, waktu berputar manusia berubah....
Tan Tay Seng pasti akan duduk bersanding dalam pelaminan sebagai mempelai yang bahagia,
raja sehari, pada dua pekan yang akan datang. Pikirannya tidak berubah lagi, terarah penuh
pada Caya, putri sang bupati.
Apakah dengan begitu boleh diartikan perhatiannya telah padam terhadap Ling Ling?
Apa boleh buat, jawabannya adalah: ya.
Padahal, pada pihak Ling Ling justru kebalikannya.
Setelah mengetahui duduk perkara sebenarnya, makin hari Ling Ling kian terbawa lamun kepada Tan Tay Seng. Banyak daftar kesalahan yang dibuat dalam lamunannya. Terakhir, tak maunya mencari Tan Tay Seng, padahal tawaran itu datang dari Wang Jing Hong yang menyediakan orang-orang perkasa di bawah Li Kiu Gi untuk menemaninya ke Borobudur.
Malahan rasa bersalahnya termasuk keengganannya untuk memberikan surat kepada Tan Tay
Seng. Ya, dia tidak jadi menitip kabar melalui Li Kiu Gi untuk Tan Tay Seng.
Apa boleh buat, Ling Ling melamun sampai malam menjadi piatu.
Nanti dia tersentak kaget dari lamunan itu ketika pintu rumah makannya diketuk orang dengan cara tidak lazim. Dia bangkit dari ranjang. Bukan hanya dia yang bangkit, melainkan juga ibu dan ayahnya.
Ayahnya yang memutuskan membuka pintu. ''Biar aku yang buka pintu,'' katanya.


***


Apa boleh buat, pintu dibuka.
Dari luar masuk dua orang, Dang Zhua dan Crebek. Dang Zhua menarik lengan Crebek, ke kursi dan bangku yang sudah dibalik-balikkan di atas meja.
Padahal ayah Ling Ling telah berkata, ''Kami sudah tutup.''
''Ya, tapi kami pun lapar,'' kata Dang Zhua.
Ayah Ling Ling berdiri sesaat, memperhatikan Crebek. Dia yakin belum pernah melihat Crebek. Karena itu dia bertanya dengan bahasa yang tidak dipahami Crebek, ''Siapa dia?''
''Umpan untuk Hua Xiong,'' jawab Dang Zhua
O? Saya kira 'hantu yang akan dijual Ting-Po seharga seribu lima ratus',''*) kata ayah Ling
Ling.
Dang Zhua tertawa terbahak. ''Sudah, siapkan makanan panas. Cukup mi rebus saja,'' kata Dang Zhua.

***

Apa boleh buat, ayah Ling Ling menyuruh Ling Ling masuk ke dapur, menyiapkan mi rebus: bawang putih digecek, ditumis dengan minyak babi, masukkan udang, tambah daun bawang, merica, sedikit angciu, masukkan ke dalam rebusan kaldu, setelah mendidih masukkan mi dan caisin serta bumbu masak lain.
Setelah siap Ling Ling menyajikan untuk Dang Zhua dan Crebek. ''Silakan,'' katanya ramah.
Dan kedua orang itu pun menyantapnya.
Ayah Ling Ling memperhatikan dari kursinya. ''Dari mana malam-malam begini?'' tanyanya.
''Seperti sudah saya katakan, saya mengumpan Hua Xiong, tapi dia tidak terumpan,'' jawab Dang Zhua. ''Apa orang-orang yang biasa mencari hiburan di suhian Juminah masih suka obral mulut di sini?''

''Tukang obral mulut cuma Hian Bing. Tapi bukankah dia sudah mati oleh Hua Xiong?''
''Hua Xiong sendiri?''
''Hua Xiong? Mana berani dia datang ke sini. Dia berada di sini hanya ketika Anda membawa
ke sini dan dia kabur menyeberangi sungai di depan itu.''

''Begini,'' kata Dang Zhua sambil menaruh sumpit di atas mangkok mi. ''Saya minta bantuan Anda. Yang datang ke sini kan banyak macam manusia. Buatlah cerita bahwa perempuan ini, Crebek, sangat merindukan Hua Xiong. Berkali-kali akan dijadikan ca-bau-kan oleh banyak orang yang menyukainya, tapi dia tidak mau, sebab dia tetap menunggu Hua Xiong. Saya yakin cerita ini sampai di kupingnya.'' ''Yakinlah, saya bisa membuat kembangan cerita yang lebih dramatis dari cerita itu,'' kata ayah Ling Ling. Istrinya, yaitu ibu Ling Ling, kelihatannya tidak senang mendengar pernyataan ayah Ling Ling. Dia cemberut. Sekarang dia hanya diam. Tapi nanti dia akan mengontrok.

***


Benar juga. Setelah Dang Zhua dan Crebek pergi, ketika ayah Ling Ling masih menutup pintu dan menaruh palang di situ, ibu Ling Ling langsung mengontrok dan mengata-ngatai suaminya.
Hua Xiong tertawa. ''Itu jebakan paling tolol dari seorang lelaki pasilan, benalu, cundang.
Sesama kadal kok bermain cecak. Lihat saja, saya akan bermain sebagai biawak.''
''Akan diapakan dia?''
''Dimatikan.''
''Dimatikan? Eman-eman.''
''Itu lebih baik. Untuk mengajar kadal.''

***

Larut malam Hua Xiong nekat ke bagian kota, ke rumah yang belum habis masa sewanya tapi yang sudah ditinggalkannya. Ke sana dia menyamar lagi seperti biasa, mengenakan seluar nelayan, tak berbaju, tapi bercaping lebar yang menutup seluruh wajah. Karena rumah yang dituju itu adalah bekas tempat tinggalnya selama itu, dia tahu betul selukbeluknya: pintunya, jendelanya. Dari jendela samping kiri, dia masuk pelan-pelan, tak membuat bunyi barang sedikit pun. Pelan-pelan pula dia membuka semua jendela dan pintu, berpikir untuk sewaktu-waktu jika ada bahaya jebakan di situ, bisa langsung melompat keluar lewat salah satu dari jendela dan pintu rumah itu. Lalu dia berjalan ke ruang depan. Dia intip dari situ, ada atau tidak Crebek di dalamnya. Ternyata memang ada. Crebek terbaring di situ dalam keadaan telanjang. Pikirannya pun terganggu. Biasanya Crebek tidak tidur dalam keadaan telanjang. Dia pindah mengintip di ruang yang satu. Ternyata ada seseorang di situ. Karena telah berbulan-bulan tidur dalam satu kamar di kapal induk bersama Dang Zhua, dia segera yakin orang yang tidur tengkurap di ruang yang satu ini adalah pasti, tak salah lagi, Dang Zhua, yang dulu kanti kini benci. ''Keparat terkutuk kamu Dang Zhua,'' serapahnya di dalam hati. Lalu dia ke dapur. Di dapur ada minyak dan tali. Dia ambil tali dan minyak itu. Tali dia pakai mengikat pintu ruang yang dipakai tidur Dang Zhua. Dia ikat kuat-kuat. Setelah itu di daun pintu dia siram minyak. Nanti, apabila yang akan diperbuat ini selesai, dia akan membakar pintu ruang yang satu itu. Yang dia perbuat berikut adalah masuk ke ruang tempat Crebek tidur dalam keadaan telanjang. Pelan pula langkahnya dia angkat ke situ. Tiba di ranjang itu, ranjang yang memang biasa dia pakai untuk tidur, dia cekik leher Crebek. Crebek terbangun. Crebek terbangun. Dia meronta. Hua Xiong menutup mulut Crebek. Di telinga perempuan ini dia mengancam, ''Kalau kamu berteriak, kamu mati.''
Crebek mengangguk-angguk. Dalam takutnya dia bermaksud berkata: Ya, aku tidak berteriak.
''Bagus,'' kata Hua Xiong dan dia tarik tangan Crebek untuk memegang kentongannya, lalu berbisik di telinga perempuan itu, ''Katanya kamu kangen sama ini.''
Hanya dalam beberapa detik saja tubuh Hua Xiong telah bersatu dengan tubuh Crebek. Suara gaduh Crebek seperti banyak perempuan di saat-saat menjelang lupa diri, membuat Dang Zhua di ruang sebelah terjaga dan bangun.
Dang Zhua langsung meloncat ke pintu. Membukanya. Tak terbuka.
''Crebek!'' seru Dang Zhua.
Hua Xiong pun meloncat dari ranjang dan keluar dari ruang Crebek. Dia nyalakan api dan membakar pintu ruang itu.

Dengan sekuat tenaga Hua Xiong menabrak pintu itu, dan pintu itu pun terbuka, bukan karena tali yang diikat tadi terlepas melainkan karena engselnya copot dari kusen.
Sial bagi Dang Zhua karena ketika menubruk pintu itu dan jatuh bersamanya, Hua Xiong pas berada di situ. Dengan gerakan tak terencana, hanya karena melihat Dang Zhua terjerembap di
lantai, Hua Xiong mencabut pedang pendeknya yang berada di belakang jubahnya, dan dia tikamkan ke arah Dang Zhua, kena pinggangnya. Dang Zhua menjerit, Hua Xiong melarikan diri.
Selanjutnya tinggal cibiran orang terhadap Dang Zhua.

***
Untung saja tikaman pedang pendek Hua Xiong hanya mengena sisi kiri pinggang Dang Zhua. Kalau bergeser sejengkal saja, kemungkinan Dang Zhua akan selesai di situ.
Siang itu juga dibuat pertemuan di Simongan. Semua hadir dalam pertemuan itu.
Jika bukan karena celaka itu, barangkali Ci Liang masih tetap ragu pada kesungguhan Dang Zhua. Dengan melihat celaka Dang Zhua, Ci Liang, seperti yang segera dikatakannya kepada Ek Gi, menyimpulkan, ''Memang betul, dia telah menjadi musuh Hua Xiong.''
''Yang jadi soal, di mana Hua Xiong itu?'' kata Ek Gi.
Dari Ceng Ho, dalam pertemuan ini, tercetus perintah yang paling tegas: ''Tidak ada alasan untuk tidak menangkap Hua Xiong. Kita tidak boleh santai-santai lagi. Ini masalah sangat rawan. Sekali lagi saya ingatkan, janganlah nila setitik merusak susu ebelanga. Perbuatan Hua Xiong sungguh-sungguh merusak misi kita. Maka bawa dia dalam keadaan hidup ke hadapan saya. Saya yang akan memutuskan hukuman apa yang pantas bagi dia. Untuk itu, saya beri waktu tiga hari kepada kalian. Sisir semua tempat di bagian kota sana. Tidak boleh ada seekor pun kutu yang boleh luput dari sisir kalian itu. Perintah ini berlaku mulai hari ini juga.''

Dengan cepat pemeo itu tersebar di mana-mana, dileterkan orang dengan senyum meremehkan dan tawa melecehkan. Pemeo itu juga dibawa ke rumah makan Ling Ling.

*****

Pedulikah Ling Ling, ayahnya, ibunya?
Tidak sama sekali.


Yang mungkin cepat-cepat dipedulikan Ling Ling adalah berita yang ditunggu-tunggunya dari Borobudur dan berita itu belum kunjung datang ke Semarang, ke rumah makannya.
Kalau nanti berita itu sampai kepadanya, dibawa oleh rombongan Li Kiu Gi, pada bulan depan sebelum Sin-Cia, niscaya dia akan terkejut, terpukul, dan berlinang air mata. Pada saat itu, pasti dia bakal menyadari, dan dia terlambat untuk merasakan itu, betapa nasi yang sudah menjadi bubur takkan bisa dibuat kembali menjadi beras.
Rombongan Kiu Gi tiba di Borobudur dua hari sebelum hari istimewa bagi Tan Tay Seng, hari dalam sejarah hidupnya menjadi mempelai dengan menempuh istiadat yang ketat sekali, waris leluri yang bersinambung turun-temurun dari abad ke abad sejak candi agung itu didirikan oleh Raja Samaratungga untuk mengagungkan kebajikan Buddha.
Jadi, rombongan Kiu Gi menyaksikan sendiri pernikahan Tan Tay Seng. Dan, ceritanya ke Semarang nanti, menyakitkan Ling Ling.

***


Dalam pernikahan itu Tan Tay Seng diberi nama baru, nama Jawa, yaitu Tanuwijaya. Yang menjadi ayahnya, kakek Wage, Mangkuwijaya. Sebelum disandingkan dengan Caya putri Tritama, pada pagi hari menjelang siang dilangsungkan dulu upacara siraman kepada calon pengantin putri. Mula-mula Caya sungkem pada ayah-ibunya dan para pinisepuh yang akan menyiramkan air kepadanya yang diambil dari klenting. Sang ayah, Tritama, yang terakhir menyiram, dan setelah itu memecahkan klenting sambil berkata, "Pecaha pamore." Tak lama setelah itu tibalah Tan Tay Seng, sang pengantin pria yang telah berganti nama menjadi Tanuwijaya tersebut. Rombongannya didului oleh gadis-gadis pembawa uba-rampe dan disambut di depan rumah, berlanjut dengan srah-srahan. Ayah Caya, Bupati Tritama, didampingi ibu, berkata kepada Caya:
"Caya, sineksen para pinisepuh, iki kowe dak jaluk antebing atimu, merga anggonmu bakal dak jodhohake karo Bagus Tanuwijaya putrane Kangmas Mangkuwijaya." Dan jawab Caya mantap, "Rama saha biyung, dalem boten suwala keparengipun para pinisepuh. Ingkang punika dalem namung ndherek rama-biyung."


***


Upacara itu dilanjutkan dengan sekar-mayang, diiringi dengan Gendhing Monggang, berakhir dengan dipasangnya kembar-mayang di kanan dan kiri petanen yang dilengkapi dengan pelbagai hiasan-hiasan lambang antara dua klemuk berisi air tempuran dan beras kuning, kelapa muda, serta kendi di atas bokor. Ada lagi upacara majemukan, berupa selamatan dengan bacaan mantra-mantra sinkretisasi Buddha dan Syiwa dalam corak Mahayana yang sangat Jawa. Semua ini diperhatikan dengan takjub oleh Kiu Gi dan rombongannya. Termasuk juga upacara tawa.*) Bahkan wajah mereka kelihatan antara takjub dan tegang melihat upacara pawiwahanpanggih, yaitu didekatkannya Tan Tay Seng dan Caya untuk  bisa saling melemparkan sadak sirih, berlanjut dengan dibukanya kuluk Tan Tay Seng untuk ditempeli air, kemudian Caya menaruh telur ayam untuk diinjak oleh Tan Tay Seng, sampai nanti mereka duduk di tempatnya, dan ibu Caya berdiri di belakangnya memegang sindur. Upacara itu belum usai sampai di situ. Kiu Gi dan rombongan masih menyaksikan upacara kacar-kucur dan timbangan. Dalam upacara kacar-kucur Tan Tay Seng disuruh menuangkan uba-rampe ke pangkuan Caya. Ini dimaksudkan sebagai lambang dari tanggung jawab suami untuk memberi nafkah lahir-batin kepada istri. Nanti uba-rampe yang diterima Caya ditaruh di sebelah kanan dan kiri petanen. Setelah itu Tritama, ayah Caya, duduk di antara putrinya itu dan Tan Tay Seng. Dia memberi isyarat supaya Tan Tay Seng duduk di paha kanannya dan Caya duduk di paha kirinya. Lalu ibu Caya berjalan ke depan ketiga orang itu dan duduk di hadapannya. Ibu Caya bertanya, siapa yang lebih berat, antara Tan Tay Seng dan Caya. Ujarnya, "Abot ingkang pundi ramane?" Dan jawab Tritama, sang ayah, dengan bahasa ngoko, "Padha wae." Lalu, berhubung Caya adalah anak sulung, maka dalam upacara ini dilangsungkan juga bubak-kawah, yaitu ibu Caya membuat rujak manis dan rujak degan yang ditaruh di dua tempat. Rujak itu diambil dan diberikan kepada Tritama, sang ayah. Bertanya ibu Caya kepada Tritama suaminya, "Raosing rujakipun kados pundi, Rama?" Dan jawab Tritama, "Seger sumyah." Istrinya bertanya lagi, "Ingkang kirang punapanipun?" Jawab Tritama dengan tegas, "Wis ora ana sing kurang." Di ujung segala upacara, seseorang menuntun Tan Tay Seng dan Caya untuk datang ke tempat duduk Tritama dan istrinya. Dia membantu melepas keris di pinggang Tan Tay Seng, kemudian menyaran Caya sungkem kepada mula-mula ibunya, kemudian ayahnya, dan juga menyaran Tan Tay Seng untuk melakukan hal yang sama kepada mertua laki dan mertua perempuan. Setelah rangkaian upacara itu selesai, kedua mempelai, Tan Tay Seng dan Caya dibawa kirab dengan kereta mengelilingi ketiga candi Buddha: Mendut, Pawon, Borobudur. Kemudian mereka berganti busana, lalu orang-orang tua melakukan wursitwara, yaitu nasihat-nasihat, dan para undangan menyalam, bersantap, dan pulang.

***


"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #183 on: 02/09/2008 15:44 »
Kiu Gi dan rombongan masih tinggal tiga hari lagi di Borobudur sebelum mereka kembali ke Semarang. Tugas yang diberikan kepada Kiu Gi untuk menyampaikan pesan Ceng Ho agar jika bisa pada hari besar Sin-Cia dapat kiranya Tan Tay Seng ke Semarang, telah dilakukannya. Yang belum disampaikan Kiu Gi adalah salam dari Ling Ling. Dengan kagok dia mengatakan itu sebelum mereka berpisah. "Sebetulnya ada titipan buatmu yang mestinya sudah saya sampaikan sejak awal, tapi saya kira itu tidak perlu lagi," kata Kiu Gi.

"Titipan apa itu?" tanya Tan Tay Seng.
"Titipan salam," sahut Kiu Gi.
"O ya? Dari siapa?"
"Coba tebak."
"Wu Ping."
"Bukan."
"Wang Jing Hong."
"Bukan."
"Siapa?"

"Ling Ling."
"Ha-ha-ha."
"Kenapa ketawa?"
"Aneh."
"Kelihatannya dia menyesal."
"Tambah aneh lagi."
"Sejatinya memang begitu."
"Kenapa?"
"Waktu itu dia begitu percaya pada gunjingan tentang seseorang yang menggunakan namamu  di suhian Juminah. Padahal orang yang memakai namamu di situ itu adalah Hua Xiong."

"Apa?"
"Ya. Sejatinya begitu. Sekarang Hua Xiong sedang dicari. Sam Po Kong sendiri yang memerintahkan itu."
Lama Tan Tay Seng tercenung, diam, tapi panas hatinya membayangkan tampang jaharu itu.
Ajaibnya, dan ini sangat mengherankan Kiu Gi dan rombongannya, karena setelah diam lama, Tan Tay Seng berkata, "Sudah selesai. Aku harus bisa mengekang kemarahan. Tiap kali aku masuk ke dalam Candi Mendut, memandang arca Buddha di tengah dua Bodhisatvva, aku terpanggil untuk memahami betul Dharmacakara-mudra.*) Aku merindukan arahat.**)
Kebenaran-kebenaran Buddha: penderitaan adalah pengalaman manusiawi, kegandrungan menghadir-diri adalah penyebab penderitaan, penderitaan berhenti manakala keinginan itu
berhenti, delapan jalan untuk menghentikan penderitaan itu adalah kepercayaan yang benar, harapan dan tujuan yang benar, ucapan dan tutur kata yang benar, perbuatan dan tindak-tanduk yang benar, mencari nafkah yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, samadi yang benar. Di Borobudur sinilah aku memasuki mukti itu."Oleh kata-kata yang tak diduga itu Kiu Gi dan rombongannya terdiam beberapa saat. Takjub mereka berbeda dengan takjub menyaksikan upacara pernikahan Tan Tay Seng tiga hari lalu.

"Tapi katakan kepada Sam Po Kong, aku pasti datang ke Semarang, merayakan tahun baru kita Sin-Cia, sekaligus bersalam-salaman kepada kalian semua sebelum kalian berlayar pulang."
Kiu Gi diam sesaat, berpikir acak-acak. Lalu katanya, "Saya pun, kalau ketemu jodoh di Tanah Jawa ini, memilih membumi di sini."
Wajah Tan Tay Seng mewakili rasa masygul. "Mana mungkin? Kalian bukan orang sipil. Kalian militer. Kalian berlayar karena tugas negara," kata Tan Tay Seng.
"Kenapa tidak?" kata Kiu Gi pula. "Sebagian besar orang Cina di Semarang itu adalah turunan dari kakek-kakeknya yang dulu militer Khubilai Khan di bawah Shih-Pi dan Kau-Hsing untuk mengeksekusi Kertanagara. Selesai dari tugas, mereka tidak pulang, tapi memilih Semarang sebagai Tanah Air."
"Apa kau ingin juga jadi desertir?" tanya Tan Tay Seng sekadar berakrab.
"Desertir? Di bawah komando Sam Po Kong yang berwibawa seperti itu, tidak mungkin,"
kata Kiu Gi. "Tapi, kalau saya minta izin resmi dengan alasan-alasan yang masuk akal, saya yakin Sam Po Kong dapat memahami."
"Kau terobsesi?"
"Ya. Tanah Jawa ini menjanjikan segala impian untuk bertemu dengan Bai Wu-Chang***)
dan menjadi Yin Zi-Fang."****)
"Kalau kau memang terobsesi, katakan saja kepada Sam Po Kong."
"Saya memang sedang menyusun alasan-alasan saya."
"Berarti kau harus ketemu jodoh terlebih dulu."
"Ya. Saya harus mencari."
"Tidak. Jodoh itu datang sendiri. Seperti saya. Saya tidak mencari, tapi menemukan."
Kata-kata Tan Tay Seng itu, bahwa jodoh tidak dicari melainkan ditemukan, menjadi menarik diulang-ulang dalam pikiran Kiu Gi, dan kemudian akan diperkatakannya kepada orang-orang tertentu di Semarang, sampai akhirnya Ling Ling mendengarnya pula.



***


Kiu Gi dan rombongan tiba di Simongan pada sore hari. Di Simongan orang-orang telah siap-siap menyambut Sin-Cia. Padahal tahun baru Cina itu masih tiga pekan lagi. Kelak leluri yang dimulai oleh Ceng Ho ini bakal terus berlangsung, sampai akhirnya tempat itu dijadikan kelenteng. Sebetulnya kelenteng satu-satunya yang ada di Semarang waktu itu, telah berdiri di sana lebih seratus tahun yang lalu, yaitu setelah kakek-kakek moyang mereka ramai-ramai "melarikan diri" dari Tuban, dari kedudukan mereka sebagai tentara Cina, lantas "bersembunyi" di Semarang. Kelenteng di Semarang ini berdiri di dekat sungai, agak jauh dari rumah makan Ling Ling pada sungai yang sama, dan malah agak menyerong tak terlalu jauh dari gubuk mesum Juminah pada sungai yang sama pula. Besoknya Kiu Gi seorang diri berada di kelenteng ini. Di kelenteng ini yang dipuja, demikian dilakukan oleh hati Kiu Gi, adalah pertama Ru Lai Fo*). Ini berarti kelenteng ini adalah kelenteng Buddha. Selain itu dipuja juga Guan Shi Yin Pu Sa**) yang dewi welas asih, kemudian O Mi Duo Fo***) yang raja menjadi biksu, serta Yao Shi Fo****) yang Buddha paling awal. Di sisi kelenteng, Kiu Gi berdiri sesaat di depan pagoda tempat menyimpan abu dan tulang orang suci. Dia melihat ke langit. Di sana ada awan gelap. Lalu dia berjalan.

***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #184 on: 02/09/2008 15:50 »
Dengan berjalan bergegas, Kiu Gi tiba di rumah makan Ling Ling. Di dalam sana sudah penuh orang, yang sedang makan dan yang sedang menunggu pesanan makanannya. Kiu Gi berdiri menengok ke kiri dan kanan. Memang tak ada bangku kosong. Yang empunya rumah makan segera menyongsongnya, memberinya sebuah bangku kecil khusus untuk satu pantat yang biasa ditaruh di dalam dan hanya dikeluarkan jika semua bangku telah penuh diduduki orang. "Ayo, silakan masuk," kata ayah Ling Ling. "Jangan khawatir, masih ada tempat duduk buat Anda." Dia ambil bangku kecil itu lantas menaruhnya di depan Kiu Gi. "Kapan datang dari Borobudur?" "Kemarin," jawab Kiu Gi sambil duduk. "Perjalanan yang melelahkan." "Tentu." Ling Ling di depan. Dia mendengar semua percakapan. Sambil melihat dan mendengar percakapan Kiu Gi dan ayahnya, kepalanya anggung-anggip, dadanya dag-dig-dug. Tak sanggup menahan penasarannya, diapun maju, mendatangi Kiu Gi.
"Mau pesan apa?" tanyanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Ling Ling, Kiu Gi memandang wajah gadis ini dari atas sampai bawah, terlamun.
Karena itu Ling Ling mengulang lagi pertanyaannya, "Mau pesan apa? Biar saya sendiri yang akan membikinkan untukmu."
Lagi, bukannya menjawab pertanyaan itu malahan Kiu Gi membuka mata lebar-lebar dan memuji Ling Ling, "Sumpah disambar geledek, hari ini kamu kelihatan cantik."
Ling Ling kelihatan salah tingkah. Tetapi dia mencibir. "Oh, jangan harap akan ada potongan harga untuk pujianmu yang membabi-buta itu," katanya. "Nah, mau pesan apa?"
"O, ya, babi yang buta memang tidak berharap dikasih potongan harga. Sebab, babi biasa dipotong dalam keadaan mata terbuka," kata Kiu Gi mesam-mesem. "Nah, tolong kasihkan teh. Lu Yu *****) yang mau minum nih. Ha-ha-ha."
"Hanya minum saja?" tanya Ling Ling berakrab. "Tidak pakai makanan?"
Kiu Gi membengkokkan kepala, seakan menimbang-nimbang. Lalu katanya lamat-lamat, "Baiklah. Cukup makanan kecil saja. Lunpia."
"Yang goreng atau basah?"
"Satu goreng satu basah."
"Tunggu. Maksudnya, satu itu satu biji atau satu porsi?"
"Satu biji goreng satu biji basah."
"Oh?" Ling Ling berlalu.
Dia masuk ke dalam, membuatkan teh, dan juga membuatkan lunpia. Sambil membuat, dia beranja-anja, mencibir. Ibunya ada juga di dapur.
"Kenapa mencibir?" tanya ibunya.
"Kiu Gi itu, belum jadi Lu Yu tapi lagaknya seperti pemikir."
Ibunya menenang-nenang. "Jangan mengejek orang," kata sang ibu. "Bisa-bisa yang diejek akan terbayang-bayang dalam ingatan."
"Ah, tidak mungkin," kata Ling Ling.
Setelah selesai pekerjaannya, dia bawa pesanan itu, teh dalam poci dan lunpia di atas piring,
dan diberikannya kepada Kiu Gi.
''Silakan,'' kata Ling Ling dengan sikap yang tampak resmi. Dia berdiri bertolak pinggang di hadapan Kiu Gi. ''Nah, katakan. Kenapa kau tidak langsung bercerita soal titipanku itu?''
Kiu Gi pura-pura pandir. ''Lo, seingatku, kau tidak jadi menitipkan apa-apa.''
Ling Ling tersentak. ''Apa kau pikun?''
Lagi Kiu Gi berpura-pura. Dia alihkan perhatian dengan mengambil lunpia dan menggigitnya.
''Ceritaku ke sana tidak menarik.''
''Ceritamu?''
Kiu Gi mengunyah dan menelan lunpia itu. ''Ya.''
''Lantas dia?''
''Dia?''
''Ya, yang membuat Sam Po Kong menyuruhmu ke sana.''
''O, dia?'' Kiu Gi menuang teh dari poci ke cangkir.
Ling Ling tidak mengangguk, tidak pula berkata ya, kecuali menunggu gerakan-gerakan Kiu Gi.
Kiu Gi menyeringai. ''Dia sudah selesai.''
Mengerut dahi Ling Ling. ''Apa maksudmu selesai?''
Kiu Gi bicara tegas tapi nada bicaranya datar dan volumenya pelan. ''Orang yang pernah kaucintai itu sudah berubah.''
''Ck!'' Dalam kemauan mendengar kisah yang terbuka dan terbeber habis, Ling Ling masih berpikir untuk menciptakan gengsi keperempuanan dalam keyakinan diri yang tidak utuh.
Suaranya berikut ini agak meninggi, tapi buatan, tidak alami. ''Siapa bilang saya mencintai dia? Bukan saya, tapi dia.''
Kiu Gi tak acuh terhadap penampilan itu. Katanya semudahnya, ''Iyalah. Dia yang cinta bukan kau. Namun tetap harus dikatakan, dia sudah berubah, selesai.''
Sekelebat tampak ketegangan tertentu di wajah Ling Ling. Di atas kenyataan ini dia berusaha terus untuk membangun kesan gengsi, namun di dalamnya hati yang tak mungkin bisa dia
dustai, bermain penasaran-penasaran yang teracak-acak, dan membuatnya jelas tak seimbang.
Dalam hatinya dia ingin mengorek lebih terperinci, apa sebenarnya yang dimaksudkan Kiu Gi tentang arti kata ''berubah'' tersebut. Pasti itu bukan perkataan gampang-gampangan. Apakah itu berseiringan dengan perubahan yang juga telah terjadi dalam sukmanya, tapi yang disimpannya sekarang di atas nama gengsi yang muncul tiba-tiba dalam akalnya?
Akhirnya dia tak tahan. Dia melepaskan kepenasaranannya yang telah mengusik perasaannya itu lewat satu-satunya mulut.
''Apanya yang berubah?''
Kiu Gi menggigit lagi lunpianya. Maka bicaranya terbagi antara keinginan untuk melafaz dengan baik dan keinginan untuk menikmati jajanan itu.
''Kelihatannya dia sedang menuju ke hidup yang arhat,'' kata Kiu Gi. ''Kau tahu, suasana di Borobudur sangat mendukung.''
Kening Ling Ling melengkung. ''Dia menjadi fanatik?''
Kiu Gi segera menggeleng kepala. ''Barangkali bukan fanatik.''
''Lantas?''
''Barangkali tingkat kesadarannya untuk berlindung pada Buddha semakin menonjol. Terus terang kami pun terkesima.''
''Lantas?''
''Ya, yang terlihat kasat mata adalah itu. Dia menjadi tenang.''
''Lantas?''
Kiu Gi minum dan tertigo. Dia merongseng, ''Ah, kau lantas-lantas melulu.''
Malah ada padahan suka di air muka Ling Ling. ''Memangnya kenapa?''
''Hanya orang yang mencintai seseorang yang terus-menerus bertanya lantas-lantas tentang orang itu,'' kata Kiu Gi mengarah gurau.
''Ah, siapa bilang?''
''Saya yang bilang.''
''Ah, itu dungu.''
Ling Ling memberi kesan menyepelekan dan memutar badan hendak meninggalkan Kiu Gi di bangkunya itu.
Kiu Gi mengimbaunya. ''Tunggu. Kok merajuk.''
''Aku tidak mau mendengar ceritamu,'' kata Ling Ling.
Kebetulan seseorang di belakangnya telah berkali-kali memanggilnya, meminta tambahan minum.
Sambil mengangkat cangkirnya, orang itu berkata, ''Ling, tambah minumnya nih.''
''Ya, ya,'' sahut Ling Ling dengan keramahan yang terjaga walaupun di dalam hatinya ada gelombang dan badai aneh.
Seseorang lain di sudut belakang, yang tubuhnya bulat seperti gentong dan perutnya sangih tapi belum juga kenyang, berteriak agak keras ke Ling Ling sambil melencing-lencingkan dua
batang sumpit di tangan kiri dan kanan. ''Ling, tambah bakutnya satu mangkok lagi.''
''Ya, ya,'' sahut Ling Ling, tetap dengan keramahan yang sama.
Dia masuk ke dapur, di belakang, menyiapkan semua pesanan, lantas membawanya kepada mereka yang memesan. Setelah itu, alih-alih dia mendatangi Kiu Gi lagi, berdiri di hadapannya, cengenges.
''Lantas, tadi itu bagaimana?'' Ketulusannya terbuka.
"Kau betul, Ling, ceritaku tidak menarik," kata Kiu Gi, meneguk tehnya yang terakhir, dan berdiri hendak meninggalkan rumah makan ini, sambil mengeluarkan alat pembayaran yang terpakai.
"Sudah?" Pertanyaan ini lahir tanpa disadari konteksnya.
Namun Kiu Gi menjawab dengan melaras, "Nanti saja kita lihat bersama."
"Apa itu?" tanya Ling Ling.
"Tan Tay Seng memang sudah berubah. Itu yang harus kau ketahui. Tapi dia berjanji bahwa dia akan turun ke Semarang pada tahun baru Im-Lek nanti."
"Apa?" Keheranan yang alami terpampang di wajah Ling Ling. Di balik keheranan ini ada kerinduan-kerinduan yang tersamar oleh upayanya menegakkan gengsi selaku perempuan.
"Ya, begitu itu yang dikatakan Tan Tay Seng padaku untuk disampaikan kepada Sam Po Kong."
"Lantas?"
"Ya, aku sudah menyampaikan itu kepada Sam Po Kong. Dia menunggunya. Kangen pada nyanyiannya."

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #185 on: 02/09/2008 15:58 »
Bagaimanapun pikiran Ling Ling melambung kian-kemari: acap terbang berani bagai rajawali melawan angin, acap pula terbawa angin seperti layang-layang putus. Dia berharap tidak terus-menerus direcoki lamun. Melamun mengganggu ketenangannya. Dan ketenangan yang terganggu, hubaya-hubaya dia tahu, bisa memengaruhi kesehatannya. Jika dia sakit, hubaya-hubaya pula dia sadar, bisa menyia-nyiakan usia mudanya. Usia muda yang tersia-sia, hubaya-hubaya sekali lagi dia camkan, adalah ibarat kerongkong yang diusik dahaga justru di depan kolam air manis yang terpagar ketat. Maka, yang dia inginkan untuk menjadi nyata, kendati ini pun hanya gambar-gambar tiada berwarna di dalam lamunan demi lamunan yang tak terhindar dari fitrah keinsaniannya, adalah ketenangan yang tulen. Yaitu rasa aman di lubuk kalbu paling tak terpahamkan karena adanya cinta, adanya yang mencinta, dan adanya yang dicinta. Tiba-tiba dia mesti mengerti, bahwa cinta gampang dirasakan tapi sulit dirumuskan. Hadir sebagai kesungguhan tentang sesuatu yang ada dalam imbau nada-nada damai di atas gaung irama-irama parang, mengantar air mata tanpa kesedihan. Namun juga menjalin kesenangan tanpa suka cita. Yang membuatnya susah, dia bahkan tidak mengenal siapa sejatinya dirinya. Dengan sulit dia hapuskan ingatan-ingatan bodoh yang sudah dia lakukan karena keteledorannya pada masa-masa kemarin, sekian bulan di belakang sana, lalu menggantinya dengan gambar-gambar baru yang boleh kiranya dibingkaikan gaba-gaba, sekar, dan wewangi. Dia menunggu tiga hastawara sampai tiba saatnya kesibukan orang menyongsong tahun baru Im-Lek.


***


Menjelang tahun baru Im-Lek, orang-orang menjadi sibuk. Ada sembahyang untuk memuja dewa dapur, Zao Jun *), yang dilakukan semua orang Cina, sembahyang yang menurut kepercayaan turun-temurun sebagai keharusan untuk memperbaiki perilaku atas pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan sepanjang tahun. Pada sembahyang ini orang mempersembahkan sesaji dan membakar batang dupa bagi sang dewa. Di mulut pada gambar berhala dewa dapur ini orang harus meleletkan air gula dan madu. Maksudnya agar dewa ini memberikan laporan yang manis-manisnya saja tentang kelakuan manusia yang bersangkutan. Atau, agar laporan sang dewa kepada Tuhan di surga itu ngaco dan ngawur, maka di hadapan berhala sang dewa ditaruh juga arak untuk membuatnya mabuk. Sembahyang menjelang tahun baru itu dilakukan pada tanggal 24 Cap Ji Gwe, disebut sebagai Siang An, yaitu naiknya Pek Kong, saat semua patung pemujaan dibersihkan sehingga rohrohnya yang suci dipercaya telah naik ke surga. Setelah itu, pada pekan depannya rumahrumah orang dibersihkan pula, yang rusak diperbaiki, yang buram warna catnya dicat baru lagi, dan dipasanglah di sana gambar-gambar dan tulisan yang menyambut tahun baru. Sembahyang yang dilakukan pada pekan ini disebut Ni Bwe, jatuh pada tanggal 30 Cap Ji Gwe. Dan, setelah itu dilangsungkanlah sembahyang Sin-Cia, sembahyang untuk menyongsong kenaikan Da Bo Gong. **)


***


Kesibukan paling menonjol terlihat di daerah Simongan, di sekitar gua yang di dalamnya ada sebuah luweng yang kemudian hari menjadi amat suci. Selama lima bulanan tinggal di Simongan, dan bakal menjadi setengah tahun pada hari-hari menjelang Sin-Cia, nama Ceng Ho sebagai Sam Po Kong menjadi sangat harum. Simongan pun selama bulan-bulan tersebut telah berkembang menjadi pecinan baru di luar pecinan yang terletak di bagian kota di seberang sungai besar Kaligarang. (Pecinan ini baru dihancurkan pada abad ke-19 ketika Belanda menjual tanah di situ kepada seorang orang Yahudi, dan selanjutnya semua orang Cina yang datang ke gua tempat Ceng Ho bertafakur dan selanjutnya berkembang menjadi kelenteng, dikutip bayaran oleh si Yahudi. Namun setelah Yahudi itu megap-megap ekonominya tanah Simongan ini dibeli oleh Oei Tjie Sien dan mengembalikan lagi daerah ini bagi kepentingan leluri orang-orang Cina). Menjelang Sin-Cia, dibuat rapat terakhir - setelah rapat-rapat yang telah dilangsungkan beberapa kali sebelumnya - dan dipimpin sendiri oleh Ceng Ho dengan sifat-sifat kepemimpinan yang sangat demokratis. Rapat yang terakhir ini menyangkut urutan upacara yang akan dilangsungkan di Simongan. Usul Ci Liang untuk membuat perayaan tahun baru Im-Lek ini meriah, supaya orang-orang Cina yang menempati permukimannya di berbagai kota seberang sungai besar sana, baik yang sudah lama maupun yang masih baru datang bersama-sama dalam kapal-kapal pimpinan Ceng Ho itu dan datang ramai-ramai ke sini, disetujui penuh oleh rapat. ''Tapi ada satu harapan dari saya, yang mudah-mudahan dapat diteruskan kepada masyarakat kita di sini,'' kata Ceng Ho. ''Dengan memusatkan perayaan Sin-Cia di Simongan ini, saya ingin agar apabila kelak, ketika kita sudah meninggalkan tanah ini dan pulang ke tanah Cina, bisalah kiranya tempat ini - dari tugu di tepi sungai sampai gua di kaki bukit dan sekelilingnya - akan menjadi tempat keramat bagi saudara-saudara kita yang tinggal di sini. Dan kelak, di suatu saat nanti, apabila kita singgah ke sini, kita akan melihat buah-buah tamadun yang berkembang di sini. Nah, apakah harapan saya ini bisa diterima?'' Semua menyambut hangat.  ''Bisa,'' ujar mereka. ''Untuk itu, saya berharap, saudara-saudara yang menganut kepercayaan tradisional Cina, yang tinggal di Semarang, melestarikan istiadat leluhur kita di sini secara tetap dan bersinambung, mulai dari Siang-An, Ni-Bwe, Sin-Cia, berlanjut terus ke Thau Ge *), Cik-Ang **), King Thi Kong ***), Cap Go Meh ****), To Te Kong *****) dan seterusnya sebagai kewajiban yang sukarela.''


***


Tampaknya harapan yang diperkatakan Ceng Ho itu membingungkan Radhana, utusan Wikramawardhana itu. Selama dua hari dia merenung-renung sendiri akan pandangan dan pikiran Ceng Ho yang terwakilkan dalam kata-katanya itu.
Apalagi karena di samping kata-kata yang tak mudah dicernanya, disesuaikan dengan apa yang dilihatnya dilakukan oleh mereka yang tidak seagama dengan Ceng Ho, adalah syarat-syarat sembahyangnya yang disertai dengan sesaji kepala babi.
Oleh karena tak terjawab pertanyaan membingungkan itu dalam pikirannya, Radhana ingin bertanya dan mendengar jawaban langsung dari Ceng Ho.
Dia pun menghadap pada Ceng Ho. Katanya, ''Saya bingung...''
''Soal apa?'' tanya Ceng Ho
''Begini. Saya tidak mengerti sikap Anda terhadap orang-orang yang melakukan persembahan babi dalam upacara sembahyang mereka.''
''Tidak mengerti kenapa?''
''Anda tidak keberatan?''
''Begini. Sebelum Anda bertanya pada saya, ada baiknya Anda bertanya dulu pada Wang Jing Hong.''
''Apakah dia bisa menjawab?''
''Coba dulu.''

***

Radhana menemui Wang Jing Hong.
Sore itu, menjelang matahari pamit pada siang, Wang Jing Hong sedang membersihkan kandang burung jalak Bali-nya. Saran pembantu Wang Jing Hong untuk memisahkan kedua burung dalam kandang yang berbeda, sudah dilakukannya. Kandang yang satu, yang dibuat sendiri oleh pembantunya itu, dicat hitam, sehingga warna putih jalak itu kelihatan menonjol di dalamnya.
Wang Jing Hong senang, sebab salah sekor di antaranya, yang diyakininya adalah burung jantan karena kelincahannya, telah sering berkicau. Dia puji burungnya itu ketika Radhana datang ke rumahnya dan duduk di bangku bambu di luar.
''Ada hal di luar burung yang ingin saya tanyakan kepada Anda,'' kata Radhana langsung.
''O ya? Apa itu?'' kata Wang Jing Hong. ''Tapi saya percaya, bahwa yang tidak ada hubungannya dengan burung ini, nanti akan berkaitan dengannya. Nah, soal apa?''
''Saya sudah bertanya pada Sam Po Kong, dan beliau menyuruh saya bertanya pada Anda. Ini soal babi.''
''O, ya, kenapa?''
''Bukankah persembahan dengan babi itu mencemarkan seluruhnya menjadi hara?''
''Yang jelas, kami tidak menyentuhnya. Dan kesadaran inilah, yaitu kesadaran akan pengetahuan agama kami yang mengharamkannya, dengan sendirinya membuat kami menjadi manusia yang berbeda dari mereka yang menyentuhnya apalagi memakannya.''
''Kesadaran?''
''Ya. Kesadaran berkaitan dengan etika. Cuma manusia yang memiliki etika. Hewan tidak. Misalnya burung ini. Nah, kan? Seperti saya bilang tadi, pembicaraan kita pasti akan berhubungan dengan burung ini. Burung ini mengerti sendiri mana yang boleh dimakannya berdasarkan nalurinya. Burung jalak tahu sendiri, bahwa dia bukan gagak yang makan bangkai, atau pipit yang makan padi. Manusia tidak begitu. Manusia itu pemakan segala.''
''Ya, betul,'' Radhana tertawa. ''Harimau memakan kambing, kambing memakan kangkung.
Kambing tidak memakan harimau, harimau tidak memakan kangkung. Namun manusia bisa memakan harimau, kambing, dan kangkung.''
''Ketika manusia tidak memakan sesuatu karena kesadaran tadi, maka di situ manusia berbeda dari binatang. Manusia memiliki tanggung jawab etika, hukum, dan aturan-aturan.''
''Jika benar ada tanggung jawab itu, kenapa Sam Po Kong sebagai pemimpin tidak
mengarahkannya ke sana?''
''Yang itu Anda harus tanyakan itu ke Sam Po Kong.''

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #186 on: 02/09/2008 16:03 »
Radhana memang bersungguh-sungguh ingin memperoleh jawaban itu. Dia kembali menemui Ceng Ho di Bukit Simongan itu dan menanyakannya pada keesokan harinya. ''Saya masih tetap belum mendapatkan jawaban, mengapa Anda tidak terpanggil untuk mengarahkan kebenaran yang Anda yakini terhadap kebenaran orang lain yang tidak sama dengan Anda?'' Ceng Ho tersenyum dengan cara yang biasa dalam rangka menghormati lawan bicaranya. Katanya tegas, ''Dalam Islam yang saya yakini, ada isyarat yang mengatakan 'agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku'. Saya mengartikan ini sebagai istima yang hakiki bagi kerangka toleransi antaragama. Di samping itu, kenyataan saya sebagai iman adalah sebagai orang Cina saya memiliki juga tradisi tamadun yang kuat dari sejarah panjang. Salah satu pusaka berharga dari tamadun Cina itu, sebagaimana sering sudah saya utarakan, adalah kawruh tentang ''im-yang'' mengenai perbedaan yang bukan berarti permusuhan. Perbedaan justru memungkinkan terciptanya kekayaan dalam keragaman. Syaratnya muzakarah. Orang Cina memetik kearifan dan kecendekiaan dari dalamnya.'' Radhana diam. Dia berusaha mencerna. Dari wajahnya kelihatan betapa tidak sederhana orang bisa menapis dan menyaring pikiran-pikiran yang telah manunggal antara yang diucap dan yang dibuat dari kualitas seorang allmah seperti Ceng Ho. Dari diamnya Radhana itu sebaliknya Ceng Ho dapat menerkanya. Kata Ceng Ho, ''Percayalah, tata krama hanya mungkin terselenggara dengan baik pada orangorang berbudaya. Kebudayaan tidak datang dengan sendirinya. Ia tercipta dalam suatu masyarakat lewat sejarah panjang. Siapa yang mengira dapat mengubah tatanan budaya karena menganggap kekuasaan yang menentukan arah dan selera adalah penyamun.'' ''Itukah sebabnya Anda tidak perlu mengarahkan?'' ''Sebab saya bukan penyamun.'' ''Dan, soal kepala babi itu?'' ''Orang-orang yang menganut Han San Wei Yi*) toh mafhum akan perkembangan budaya. Bahwa sekarang, tidak selamanya sam-sing**) itu binatang seperti babi, ayam, dan ikan. Sumbangan agama Buddha yang dengan tegas berasas pada pu-sat-sing***) telah membuat sesaji sembahang bukan lagi binatang-binatang yang disebut itu, tapi juga adalah ngo-ko-liok-jay****). Itulah bagian nyata dari sejarah Cina yang melahirkan tamadunnya. Itu pula yang memperkuat iktibar saya untuk mengatakan, jalan yang saya pilih adalah jalan yang tidak sesat.'' Radhana tetap diam. Mudah-mudahan dia dapat mencerna. Nanti Radhana mengerti pelan-pelan, menyaksikan istiadat yang dilakukan orang dengan sukarela, mulai dari Siang-Ang hingga Sin-Cia dan Cap-Go-Meh, sepanjang waktunya sebelum kapal-kapal berlayar meninggalkan laut Semarang menuju ke barat.

***

Ke barat kapal-kapal itu akan melewati Cirebon. Dan, setelah Cirebon kapal-kapal itu akan singgah pula di Sunda Kalapa.
Di Cirebon ada Hua Xiong.
Di Sunda Kalapa ada si Tiwati.

Yang Hua Xiong diingat dalam benci banyak orang.
Yang si Tiwati diingat dalam cinta satu orang.
Di Cirebon, di Sunda Kelapa, di mana pun orang-orang menyerah menghadapi hidup yang tak kekal namun maut yang pasti, kebahagiaan yang takluk pada basah keringat dan kesusahan
yang setia pada kehebatan mimpi.

***


Sebelum itu, selagi sauh masih mengeram di dasar laut dan layar pun masih tergulung di andang-andang, syahdan terjadi kiamat kecil yang menghanguskan hati, justru pada malam basah oleh gerimis di Simongan, konon di Sanatulmiladiah 1406. Itu lantaran terbelalaknya mata Ling Ling pada malam itu, saat Sin-Cia, malam yang semestinya membawa damai tapi yang memberantakkannya tidak keruan melihat Tan Tay Seng hadir di sana. Tan Tay Seng menepati janji -pada perayaan Tahun Baru Im-Lek sebelum kapal-kapal berlayar menuju ke barat lewat Cirebon dan Sunda Kalapa terus ke Cina membawa Chen Tsu I untuk dipancung oleh sang Kaisar Ming - dia turun dari Borobudur ke Simongan bersama Caya istrinya, Wage, dan Bronjong. Ling Ling merasa hatinya seperti digurdi oleh bor bermata tiga, menjara-jara tulang rusuknya. "Begitukah?" "Ya, Sam Po Kong." "Baiklah. Tapi ingat, kau harus betul-betul jadi kaya." "Saya berjanji, Sam Po Kong. Kalau kelak Anda datang ke sini lagi, Anda akan melihat keberhasilan saya." "Jika begitu, bekerjalah keras. Ingat nasihat nenek moyang kita: 'kekayaan besar dari Tuhan, kekayaan kecil dari kerja keras." "Terima kasih, Sam Po Kong. Kalau Anda berkenan, tuliskanlah itu buat saya. Saya akan pegang itu sebagai suluh bagi jalan saya." Dan Ceng Ho mengambil kertas dan alat tulis, lantas menuliskan kata-kata yang baru diucapkannya itu.


***


Jadi, Kiu Gi diluluskan Ceng Ho untuk tinggal di Semarang. Dia satu-satunya tentara yang tinggal bersama dengan orang-orang sipil di kota ini. Sebelum kapal-kapal yang disauhkan di laut sana diangkat dan layar dikembangkan, Ceng Ho membuat rapat lagi dengan semua anggota perwira, rohaniwan, dan ahli-ahli lain. Rapat yang terakhir ini dilangsungkan di atas bukit Simongan, di tempat tinggal Ceng Ho dan perwiraperwiranya. Wang Jing Hong yang tinggal di bawah bukit, di dekat gua yang ada luwengnya itu, mesti berjalan ke atas pada pagi-pagi benar setelah langit di timur membenderang disertai jarijemari cahaya lembayung yang menyilaukan. Pagi-pagi benar, tidak seperti biasa, hari ini pembantu Wang Jing Hong lebih dulu menanak nasi daripada merebus air. Sehabis mencuci beras, dia menanak nasi itu di dapur, di belakang. "Kok dengaren pagi-pagi sudah menanak nasi," kata Wang Jing Hong sebelum berangkat ke atas. "Ya, Yuk-e A Wang, habis ini saya langsung akan membersihkan kandang jalak-jalak itu," sahut pembantunya. Wang Jing Hong berangkat. Pembantunya membersihkan kandang-kandang jalak itu. Sambil membersihkan dengan cara menyipratkan air dengan irus, biasa, dia menyanyi-nyanyi dengan suaranya yang cempreng, tidak laras, dan keras pula.
Sehabis membersihkan kedua kandang itu, dia ambil makanan untuk burung-burung itu. Dia buka pintu kandang itu. Dan sekonyong dia kaget. Bau hangus nasi yang diliwet di dapur, terbawa sampai keluar. Dia meloncat ke belakang. Ternyata bukan saja nasi dalam belanga yang hangus, tapi termasuk juga tiang penyangga para-para dapur. Jika saja dia terlambat mencium bau hangus itu, niscaya dapur ini akan terbakar, menjilat keluar, dan menghanguskan rumah. Dia siram api itu dengan air dari dalam gentong. Api pun padam. Tapi dia mendadak meloncat lagi ke depan. Dia teringat akan pekerjaannya di luar yang belum selesai. Di depan dia kaget, melebihi kagetnya di dapur. Dia gemetar. Kandang yang tadi dia buka untuk memberi makan kepada jalak di dalamnya, sekarang kosong. Tidak ada lagi jalak putih itu di situ. Dia bingung. Dia melihat ke atas pohon, kian-kemari, dan burung itu sudah tidak ada. Entah terbang ke mana. Akhirnya dia termenung takut. Dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.


***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #187 on: 02/09/2008 16:06 »
Wang Jing Hong berteriak histeris mengetahui burungnya telah terbang karena kecerobohan pembantunya. Dia berlari-lari di depan gua sampai ke tugu di pinggir sungai, memukul badan dan kepala, memekik, mengerang, mencakar-cakar tanah, lantas lunglai di situ, berlanjut dengan ratapan, sedu-sedan, seperti orang kematian. "Oh, burung putihku, burung harapan yang menyembuhkan sakit dalam rohku. Kenapa celaka ini mesti jatuh di atas hari-hariku yang baru terbangun harapan? Bagaimana mungkin aku menembusi besokku yang benderang, sementara kini aku dipaksa menikmati kemarinku yang kabut? Oh, matilah aku. Matilah jiwaku memasuki rumah cacing-cacing. Tak ada mata lagi yang dapat mewakili langit. Tak ada lagi hidung yang merincikan harum melati. Tiada lagi telinga yang dapat menangkap nada siulmu. Oh, jalak putih, jalak yang telah mengantar titipan jiwa para leluhurku, masuk dalam jiwaku, menyapa sukmaku saban hari. Kau sekarang hilang. Hilang. Hilang..." Setelah itu Wang Jing Hong kejang-kejang di tanah. Orang-orang menyaksikannya dengan masygul. Pembantunya bingung dan iba. Dia berlari mendaki bukit, menemui Ceng Ho.


***

Tak teratur kata-kata yang disampaikan pembantu itu kepada Ceng Ho. Dengan dada dan kepala anggung-anggip pembantu itu berkata dengan ngoko pesisirnya, "Ketoke Yuk-e A-Wang meh modar."
 
***

Ceng Ho penasaran. Lekas-lekas dia menuruni bukit tempat mukimnya untuk sementara selama di Semarang. Yang lainnya juga bergopoh-gopoh ke bawah: Ci Liang, Kiu Gi, Ek Gi, Dang Zhua, Wu Ping, para rohaniwan dari tiga agama, dan lain-lain.

Di bawah mereka membopong Wang Jing Hong ke tempat tidur. Lalu mereka memandang mengelilinginya. Ceng Ho memegang tangan Wang Jing Hong seraya memandang kepada sinse yang juga melakukan hal yang sama.

"Pengobatan paling sederhana, biar saja dia beristirahat dulu," kata sang sinse seraya memberi isyarat agar semua keluar.
Ling Ling lari. Tak mau melihat itu. Dia menembusi orang banyak yang berjubel di sana.
Larinya ke arah timur, ke sungai, tak jauh dari tugu. Itu bukan rencananya. Dia hanya asal lari saja. Ketika dia lari, dia pun tidak peduli pada tanah yang basah oleh gerimis yang awet, sehingga dia terpeleset di situ, wajah terkotori lumpur.

Dia bangun lagi dan terus berlari. Ayahnya mengejarnya. Ibunya memanggil-manggilnya. Kiu Gi yang ada di dekat ayah-ibunya segera pula mengejarnya. ''Sudah, Bapak dan Ibu di sini saja,'' kata Kiu Gi menahan orang tua Ling Ling untuk tidak usah mengejar. ''Biar saya saja membawanya ke sini.''
Di dekat tugu sana, di tanah yang lebih liat karena sering dilalui banjir, dan karenanya lebih licin pula, Ling Ling jatuh lagi dengan pantat tertada di tanah. Kiu Gi menolong, menarik
tangannya, memberdirikannya, lantas menuntunnya untuk duduk bersandar di tugu itu.
''Tenanglah,'' kata Kiu Gi.
Ling Ling senguk-sengak. Tak berkata. Hanya menangis.
Kiu Gi mengelus-elus punggung Ling Ling. ''Sudahlah, jangan menangis,'' katanya.
''Kenapa kau tidak bilang?'' kata Ling Ling kecewa.
Tersendat tapi terucapkan dengan jelas. ''Aku kan sudah bilang, dia sudah berubah,'' kata Kiu Gi.
''Tapi kau tidak bilang bahwa itu berarti dia sudah kawin.''
''Ya, memang aku tidak bilang. Aku kira kau sudah mengerti maksudku itu.''
Ling Ling berdiri, ''Aku benci dia.'' Dia melesat.
Kiu Gi segera menyusulnya. ''Jangan pergi, Ling.''
Ling Ling bersikeras. ''Tidak.''
Kiu Gi menarik lengan Ling Ling. ''Kau mau ke mana?''
Ling Ling mengebas tangan Kiu Gi. Tapi tarikan tangan Kiu Gi lumayan kuat, membuat Ling Ling kehilangan keseimbangan. Ling Ling pun tergelincir. Kiu Gi jatuh bersamanya.
Kiu Gi cepat berdiri kembali. Dia bantu Ling Ling untuk berdiri kembali pula.
Berat. Puncak tangis Ling Ling itu telah membuatnya mengerang susah. Tanpa sadar dia menangis di dada Kiu Gi. Badannya lemas. Kiu Gi merangkulnya. Dia mengelus-elus pundak wanoja ini.
''Sudah, diam. Sabar. Selagi masih ada matahari terbit, tetap ada pengharapan.'' Dan tak sadar Kiu Gi mengecup pipi Ling Ling. Ayah dan ibu Ling Ling hadir di situ.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #188 on: 02/09/2008 16:11 »
Ayah dan ibu Ling Ling merasa harus mengundang Ceng Ho datang ke rumah makannya pada tahun baru Im-Lek ini.
''Saya ingin Anda menikmati yu-sheng *) di rumah makan saya,'' kata ayah Ling Ling kepada Ceng Ho. ''Anda belum pernah ke sana.''
''Berapa orang yang Anda ingin kami ke rumah makan Anda?'' tanya Ceng Ho.
''Terserah. Dua puluh, tiga puluh, empat puluh...?''
''Baiklah,'' kata Ceng Ho. ''Dua puluh orang saja.''


***


Maka dua puluh orang yang datang ke rumah makan Ling Ling. Yang sepuluh datang lebih awal, yaitu rombongan Ceng Ho sendiri bersama dengan Wang Jing Hong, Wu Ping, Dang Zhua, Ci Liang, Ek Gi, dan yang lainnya. Setelah itu yang delapan orang terdiri atas antara lain Kiu Gi. Dua yang terakhir datang terlambat ke situ setelah makanan terhidangkan dan orang-orang sudah menyantapnya. Yang mereka santap secara khusus, memang sesuai dengan kebiasaan pada perayaan tahun baru, yaitu yu-sheng, dimaksudkan sebagai isyarat menuju ke kemakmuran. Orang-orang yang duduk di meja makan itu mula-mula mengangkat yu-sheng itu dengan sumpitnya
masing-masing sambil berseru, ''Lao-qi!'' **)
Sambil menyantapnya Ceng Ho memuji, ''Ini enak. Siapa yang membuatnya?''
''Ling Ling,'' jawab ayah Ling Ling.
''O?''
Ceng Ho pun menoleh ke belakang. Maunya melihat kehadiran Ling Ling di situ. Tapi Ling Ling tak ada di situ. Ling Ling ada di dapur, berdiri di balik kusen tiada berpintu.
Kiu Gi juga melihat ke arah sana, berharap Ling Ling muncul dari belakang. Mestinya memang Ling Ling keluar ke situ. Dia pun siap hendak meninggalkan dapur. Tapi ujuk-ujuk dua orang yang terlambat itu masuk ke sini, menyalam dengan suara keras.
Mendelik mata Ling Ling. Dia mundur. Tanpa melihat, dia tahu siapa yang datang itu.Ya, orang yang datang terlambat itu ternyata Tan Tay Seng bersama Caya.


***


Ling Ling memilih bersembunyi. Itu keputusan naluriah paling bagus. Dengan menyembunyikan diri maka dia bisa menyelamatkan wajahnya. Mungkin Ling Ling tahu, wajah manusia selalu menjadi jelek apabila ada dengki yang tersembunyi di kalbu. Karena itu, daripada menyembunyikan dengki di kalbu lebih baik menyembunyikan diri di dapur. Jika dia kehilangan muka pun, demikian dia merasa tersudut untuk menerima prasangkaprasangka buruk yang melintas dalam pikirannya, dia toh jangan kehilangan harapan. Siapa yang kehilangan harapan dengan sendirinya kehilangan pula jalan ke surga. Nanti malam, tatkala dia termenung, melawan dengan berat akan keadaan hatinya, dia terngiang akan perkataan Kiu Gi, "Selagi masih ada matahari terbit, tetap ada pengharapan." Dia tepekur. "Benarkah?" Begitu mengingat perkataan Kiu Gi, teraktif pula pikirannya untuk berangkat ke kemarin malam.
 
***


Dan bagaimana dengan Kiu Gi?
Ketika berada di Borobudur, dia telah berkata kepada Tan Tay Seng, dia sedang menyusun alasan untuk memohon ke Ceng Ho, sekiranya diizinkan menjadi sipil saja dan menetap di
Semarang.
Sekarang Tan Tay Seng masih berada di Semarang, belum pulang ke Borobudur. Kiu Gi berbincang dengannya. Mereka duduk di pinggir sungai. "Seng semakin keras hasratku untuk tinggal di Semarang, menjadi orang sipil di sini," kata Kiu Gi. "Sebelum Cap-Go-Meh, aku akan mengatakan ini kepada Sam Po Kong."
"Apa kau sudah mendapat jodoh?" tanya Tan Tay Seng. "Bukan mencari, tapi menemukan?"
"Aku rasa, aku harus berjuang. Dan aku kira, perjuangan ini termasuk pelik. Sebab, dia gampang-gampang sulit."
"Jika dia pribumi, mungkin benar."
"Dia bangsa Han juga."
"Bangsa Han juga?"
"Ya."
"Turunan yang sudah lama di sini?"
"Tidak. Dia masih baru juga."
"Keluarga apa?"
"Sebetulnya kau kenal keluarganya."

"O ya? Siapa?" Kiu Gi tak segera menyebut. Ketika dia menyebut, dia mengucapkannya dengan senyum dengan pelan dengan serius,

"Ling Ling." Tan Tay Seng terkesiap, "Apa?" "Ya, Seng. Aku jatuh cinta pada Ling Ling. Bagaimana pendapatmu?" Tan Tay Seng menjadi kagok, sisa dari terkesiapnya. Namun kemudian dia menjadi samadyanya. "Ya, itu bagus. Kau harus sanggup menjadi pawang." Kiu Gi tidak paham. "Pawang?" "Ya. Ling Ling itu perempuan kombinasi antara merpati dan srigala." Kiu Gi tercenung. "Jadi, bagaimana pendapatmu?" "Pendapat apa? Jika kau bertanya detailnya, aku tidak tahu. Semua lelaki mengenal perempuan hanya dari sosoknya, tidak sampai sisiknya. Dan, itulah kesalahan yang menunjukkan kebodohan lelaki. Aku memang pernah mencintai dia. Dan, aku sangat serius padanya. Namun apa mau dikata, keseriusan tidak menjamin orang untuk menemukan jodohnya. Di dalam berjodoh ada juga takdir. Dan, takdir itu ternyata wilayahnya Tuhan. Aku yakin adalah jalan-Nya juga yang membuat aku menemukan jodohku, Caya, di Borobudur. Sekarang aku sudah punya Caya. Aku harus mempertahankannya sampai mati. Kenapa begitu? Sebab, aku bukan kaisar Cina atau raja Jawa yang beristri banyak. Aku hanya orang biasa. Dan, tetap ingin jadi orang biasa. Orang biasa harus bisa berpikir sederhana, satu istri saja." "Tetapi, kau bilang dia itu kombinasi antara merpati dan srigala." Tan Tay Seng tertawa. "Ah, tidak. Aku hanya bergurau. Sumpah demi nama Buddha, Ling Ling itu baik." Dan Tan Tay Seng termangu, diam sejenak. "Sayang, dia tidak mau menemui aku kemarin." Tan Tay Seng menarik dan mengembuskan napas. "Nah, berjuanglah untuk mendapatkannya. Aku senang sebab kau bilang kau jatuh cinta padanya. Kawin tanpa jatuh cinta sama dengan membeli baju yang dipakai selagi masih baru lantas membuangnya sesudah menjadi tua. Dengan ada cinta, cinta berlanjut terus sampai tua."

***


"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #189 on: 02/09/2008 16:14 »
Kiu Gi merasa memperoleh dukungan dari Tan Tay Seng, dan itu yang membangun rasa percaya dirinya.
Pas menjelang Cap-Go-Meh, dia menghadap Ceng Ho, menyatakan segala hal menyangkut rencana hidupnya, meminta Ceng Ho meluluskan rencananya untuk menetap di Semarang.
Untuk itu Ceng Ho bertanya kesungguhan Kiu Gi. "Apakah kau siap berjuang di sini?"
"Siap sekali, Sam Po Kong," sahut Kiu Gi. "Saya sudah melihat celah-celah untuk bekerja dan menjadi kaya di sini."
"Apa yang membuatmu yakin?"
"Saya menemukan pepatah Guan Zhong *) di sini.

***

''Begitukah?''
''Ya, Sam Po Kong.''
''Baiklah. Tapi ingat, kau harus betul-betul jadi kaya.''
''Saya berjanji, Sam Po Kong. Kalau kelak Anda datang ke sini lagi, Anda akan melihat keberhasilan saya.''
''Jika begitu, bekerjalah keras. Ingat nasihat nenek moyang kita: 'Kekayaan besar dari Tuhan,
kekayaan kecil dari kerja keras'.''
''Terima kasih, Sam Po Kong. Bila Anda berkenan, tuliskanlah itu buat saya. Saya akan pegang itu sebagai suluh bagi jalan saya.''
Dan Ceng Ho mengambil kertas dan alat tulis, lantas menuliskan kata-kata yang baru
diucapkannya itu.

***
Jadi, Kiu Gi diluluskan Ceng Ho untuk tinggal di Semarang. Dia satu-satunya tentara yang tinggal bersama dengan orang-orang sipil di kota ini. Sebelum kapal-kapal yang disauhkan di laut sana diangkat dan layar dikembangkan, Ceng Ho mengadakan rapat lagi dengan semua anggota perwira, rohaniwan, dan ahli-ahli lain. Rapat terakhir ini dilangsungkan di atas Bukit Simongan, di tempat tinggal Ceng Ho dan perwiraperwiranya. Wang Jing Hong yang tinggal di bawah bukit, di dekat gua yang ada luwengnya itu, mesti berjalan ke atas pada pagi-pagi benar setelah langit di timur membenderang disertai dengan jari-jemari cahaya yang lembayung menyilaukan. Pagi-pagi benar, tidak seperti biasa, hari ini pembantu Wang Jing Hong lebih dulu menanak nasi daripada merebus air. Sehabis mencuci beras, dia menanak nasi itu di dapur. ''Kok dengaren pagi-pagi sudah menanak nasi,'' kata Wang Jing Hong sebelum berangkat ke atas. ''Ya, Yuk-e A Wang, habis ini saya langsung akan membersihkan kandang jalak-jalak itu,'' sahut pembantunya. Wang Jing Hong berangkat. Pembantunya membersihkan kandang-kandang jalak itu. Sambil membersihkan dengan menyipratkan air dengan irus, biasa, dia menyanyi-nyanyi dengan suaranya cempreng, tidak laras, dan keras pula. Sehabis membersihkan kedua kandang itu, dia ambil makanan untuk burung-burung itu. Dia buka pintu kandang itu. Dan sekonyong-konyong dia kaget. Bau hangus nasi yang diliwet di dapur terbawa sampai keluar. Dia meloncat ke belakang. Ternyata bukan saja nasi dalam belanga yang hangus, tapi termasuk juga tiang penyangga para-para dapur. Jika saja dia terlambat mencium bau hangus itu, niscaya dapur ini akan terbakar, menjilat keluar, dan menghanguskan rumah. Dia siram api itu dengan air dari dalam gentong. Api pun padam. Namun dia mendadak meloncat lagi ke depan. Dia teringat akan pekerjaannya di luar yang belum selesai. Di depan dia kaget, melebihi kagetnya di dapur. Dia gemetar. Kandang yang tadi dia buka untuk memberi makan jalak di dalamnya, sekarang kosong. Tidak ada lagi jalak putih itu di situ. Dia bingung. Dia melihat ke atas pohon, kian kemari, dan burung itu sudah tidak ada. Entah terbang ke mana. Akhirnya dia termenung takut. Dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #190 on: 02/09/2008 16:21 »
Benarlah kiranya pikiran Ceng Ho itu. Perasaan Wang Jing Hong kian hari mengganggu kesehatan. Simpulan sinse, dan itu diketahui juga oleh Ceng Ho, Wang Jing Hong mengalami sulit menyeimbangkan prinsip ''yin'' dan ''yang''. Kata sinse itu, ''Kesehatan paling mendasar sebetulnya sudah diingatkan Qi-Bo *) dahulu kala, yaitu hidup melaras diri dengan alam seraya melenturkan pikiran dan perasaan pada prinsip 'yin-yang'. Kelihatannya Wang Jing Hong menemukan kesulitan di situ.'' ''Padahal jadwal pelayaran kita sudah tetap,'' kata Ceng Ho menggumam tapi cukup didengar oleh sang sinse. ''Begini, sinse Hou, seandainya Wang Jing Hong tetap sakit pada saat kita harus meninggalkan Semarang, dan dia tak sanggup berlayar bersama, saya minta Anda menemani dia di sini untuk merawat dia.'' ''Baik, Sam Po Kong,'' kata sang sinse.


***


Benarlah kiranya pikiran Ceng Ho itu. Keadaan Wang Jing Hong tetap tak berubah. Sakitnya kian parah pada saat kapal-kapal siap dilayarkan menuju ke barat, lewat Cirebon tempat ada Hua Xiong yang menjadi perhatian semua dan lewat Sunda Kalapa yang ada si Tiwati yang menjadi perhatian Wu Ping.
Apa boleh buat. Kapal-kapal itu kemudian mengangkat sauh, mengembangkan layar, menyusur Laut Jawa ke barat tanpa Wang Jing Hong.


***

Dan, kembali lagi ke kelenteng Sam Po Kong zaman sekarang. Anak-anak sekolah dari Jakarta yang meriung di sekeliling gurunya yang menjadi tukang cerita itu kelihatan penasaran, ingin mengetahui cerita selanjutnya. Murid yang paling suka bertanya itu menunjukkan jari sambil berkata, ''Wang Jing Hong itu
wafat di sini?''
''Tunggu,'' kata sang tukang cerita, ''Wang Jing Hong tidak segera wafat karena sakitnya itu. Sinse Hou merawatnya bukan dengan obat-obatan herbal yang telah ditanam di sekitar
Simongan, melainkan dengan membina kembali rasa percaya diri, keseimbangan mental, dan  hidup dengan menyelaraskan diri pada irama alam.''
''Dan, Wang Jing Hong sembuh?''
''Ya. Wang Jing Hong sembuh. Dia meneruskan cita-cita Ceng Ho menjadikan Simongan sebagai pusat kegiatan peradaban dan kebudayaan.''
''Lo, bukan keagamaan?''
''Jangan keliru. Agama sebagai suatu sikap dasar insansi ke Tuhan dan tanggapan-tanggapan manusiawi terhadap-Nya mencakup semua ikhtiar dan kewajiban, antara lain ritus dalam penyembahan kepada-Nya sebagai praktik etis, syiarnya, pewartaannya, khotbahnya,dakwahnya, dan seterusnya adalah bagian dari peradaban manusia dan kebudayaan.''
''Perinciannya bagaimana tuh, Pak?''
''Singkat saja. Karena agama merupakan dari bagian peradaban dan kebudayaan, haruslah dikatakan bahwa manusia yang tidak beragama dengan sendirinya tidak beradab dan berbudaya.''
''Lantas, bagaimana halnya dengan agama Cina Han San Wei Yi itu: Kong Hu Cu, Tao,
Buddha itu, Pak?''
''Bagaimana apanya?''
''Kan, sejak zaman Orde Baru, Kong Hu Cu tidak dimasukkan sebagai agama?''
''Kok repot banget sih? Semua kepercayaan sebagai hasil usaha manusia yang diungkapkan lewat diri dalam sembah dan bakti dengan sepenuh hati ke Yang Maha Kuasa itu disebut agama.''
''O!''
''Agama Kong Hu Cu itu awalnya agama terbesar di Cina, lebih luas dari Tao dan Buddha. Yang menjadi pusat dari agama Kong Hu Cu ini adalah manusia. Manusia harus hidup baik. Karena itu, pusat pengajaran agama Kong Hu Cu adalah kebaikan sebagai tujuan manusia, sehingga dapat dikatakan agama itu lebih merupakan suatu ajaran susila dan filsafat ketimbang ajaran tentang kepercayaan yang lazim dalam agama seperti agama-agama samawi atau agama-agama monoteisme yang urutan kehadirannya dalam sejarah adalah Yahudi, Kristen, dan Islam.''
''Lantas, bagaimana bisa Ceng Ho, termasuk Wang Jing Hong yang beragama Islam, bisa membuat kelenteng ini beralih menjadi tempat persembahan Han San Wei Yi, Pak?''
''Ceritanya panjang. Namun sebelum kamu mendengar ceritanya, yang paling utama harus kamu ketahui, orang Cina memiliki budaya yang sangat kuat terikat ke negeri leluhurnya.''
''Ceritakan dong, Pak.''
''Nanti. Cerita tentang itu semua, kita lanjutkan di Jakarta, di Kelenteng Sam Po Sui Su di Ancol. Sekarang kita pulang dulu.''

 "Pulang langsung ke Jakarta, Pak?"

"Ya nggak dong. Kita menginap dulu di Semarang."
"Di hotel mana, Pak?"
Pokoknya yang pemandangannya indah. Di Gombel."
"Di mana itu, Pak?"
"Nanti saja kalian lihat."
"Menginap berapa lama, Pak?"
"Ya, sesuai dengan izin kalian pada orang tua masing-masing, satu malam. Nanti, sepulang kita di Jakarta, istirahat dulu satu minggu, baru minggu depannya kita ke Kelenteng Sam Po Sui Su, melanjutkan cerita tentangnya."
"Tapi saya penasaran sekarang, Pak?"
"Penasaran? Penasaran soal apa?"
"Soal agama Kong Hu Cu itu."
"Kenapa?"
"Ya, tadi Bapak bilang Kong Hu Cu itu agama, tapi Kong Hu Cu juga filsafat. Terangkan dong, Pak."
"Apa masih belum puas?"
"Masih tuh."
"Yang mananya?"
"Perinciannya. Bila ia filsafat, filsafat seperti apa bentuknya."
"Astaga. Ini rumit. Saya khawatir kalian tidak bisa menangkap."

Ah, Bapak kayak pemerintah aja deh, menganggap diri paling mengerti, dan rakyat dianggap tidak mengerti melulu."
Sang tukang cerita tertawa senang. "Oke, kita lanjutkan cerita ini di bus saja. Sambil berjalan menuju ke hotel."
"Oke."
Dan, sang tukang cerita pun memanggil murid-muridnya untuk naik ke dalam bus. "Ayo, semua naik ke bus. Kita akan berangkat."

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #191 on: 02/09/2008 16:24 »
Bus itu pun bergerak menuju ke barat, menyeberangi Sungai Kaligarang, tembus di Kalisari, belok ke kanan di depan rumah sakit tua - orang-orang tua masih sering menyebutnya CBZ terus mendaki ke bagian Candi Baru melewati Gajah Mungkur ke Taman Diponegoro dan melaju ke atas sampai di ujung pertigaan Candi Lama. Di situ bus itu berhenti agak lama sebab macet di lampu trafik. Bus melaju lagi ke kanan menuju ke Jatingaleh dan mendaki Gombel, berhenti di depan sana, di sebuah restoran. Sepanjang perjalanan itulah sang tukang cerita menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid yang kritis itu. "Memang benar, saya mengatakan Kong Hu Cu itu menarik dipandang sebagai suatu widya filsafat. Dan sebagai filsafat, Kong Hu Cu - atau dalam bidang filsafat lebih populer disebut sebagai Konfusianisme - setidak-tidaknya muradif dengan Platonisme. Menarik juga dilihat, baik Kong Hu Cu atau Kunfusius maupun Plato yang hidup sezaman dipisahkan oleh jarak 6.000 mil, keduanya secara ajaib dan kebetulan memiliki pandangan-pandangan selaras sekitar moral, politik, dan sosial. Dalam pandangan mereka yang menarik itu, tersua pegangan baha bentuk-bentuk religiusitas tidak serta merta sanggup menciptakan manusia menjadi baik. Antara lain mereka juga memandang, kerap para dewa pun alpa membina susila dan pekerti manusia, dan sebaliknya banyak dewa yang justru memberi contoh buruk dan tak baik terhadap perilaku manusia. Hal tipikal dapat disimak dari pandangan Konfusianisme dan Platonisme adalah pergulatan mereka yang asasi tentang di mana dapat ditemukan wewenang sahih atas moral dan politik. Keduanya menganggap, suatu tatanan politik yang terbenarkan hanya melalui kesungguhan menerima petuah dari filsuf. Karena itu, filsuf pun adalah orang yang memiliki karunia luar biasa untuk memberikan arahan bagi lembaga politik dan sosial. Karunia itu dalam kepercayaan Kong Hu Cu disebut 'li', terwaris dari nenek moyang." "Tunggu, Pak," ujar anak yang paling sering bertanya itu. "Kepala saya mumet. Bapak memang benar, saya tidak mengerti. Bukan sebab saya goblok, tapi karena interes saya belum sampai ke situ. Ceritakan saja tentang Sam Po Sui Su itu." "Nah, kan?" sang tukang cerita pun berdiri. "Ayo, kita turun dulu semua di sini. Kita makan dulu. Yang kebelet ingin pipis, ya pipis, yang ingin eek, ya eek. Ayooo...!"
***
Semua turun cepat-cepat. Mereka masuk ke dalam restoran, duduk di pinggir, di tempat yang bisa dengan jelas memandang pemandangan Semarang: rumah-rumah terbentang luas dan laut lepas di depan sana dengan kapal-kapal bergerak pelan. Semua anak terpesona memandang pemandangan di bawah sana itu. Kata sang tukang cerita. "Ya, itulah Semarang. Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki kontur menarik seperti Semarang. Manado dan Bandung mirip seperti ini juga. Namun Bandung tidak punya laut seperti Semarang. Manado punya laut, tapi tidak punya cerita Sam Po Kong. Nah, ini yang ingin saya katakan kepada kalian. Bahwa daya jual pariwisata sama sekali tidak bergantung pada pemandangan indah semata-mata, tapi yang penting adalah cerita yang menyangkut pertumbuhan peradaban dan perkembangan kebudayaan. Semarang memiliki itu, sebab memiliki cerita Sam Po Kong." Anak-anak itu mengangguk-angguk. Bila besok mereka pulang ke Jakarta, memang mereka membawa oleh-oleh cerita.


TAMAT SEMENTARA
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal