+-

Video Silat

Shoutbox

23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 60156 times)

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #30 on: 20/08/2008 16:30 »
kebesaran Tiong Kok dan kejayaan Ming.'' ''Daulat Paduka Kaisar.''
***
Zhu Di benar-benar hanya memercayai Ceng Ho. Apa yang baru dikatakan masih akan diingat-ingat dalam kalimat yang berbeda pada hari-hari mendatang. Pada suatu hari Zhu Di berdiri di sebelah Ceng Ho, menyaksikan latihan militer di sebuah lapangan. Mereka berada di bagian yang agak tinggi, sebuah podium yang dari atasnya dapat melihat seluruh bagian lapangan.

 Sambil menyaksikan orang-orang yang berlatih berperang itu, berkata Zhu Di, ''Yang jangan sampai kaulupakan, ekspedisi kita ini harus dilihat sebagai perluasan perdagangan di satu pihak sekaligus kerja sama kebudayaan di lain pihak. Tapi kau harus juga bisa mengatasi secara militer segala macam hambatan yang mengacaukan serta melecehkan Tiong Kok dan Ming. Jangan sampai berharap surga lantas yang didapat neraka.'' ''Ya, Paduka, saya akan camkan itu,'' kata Ceng Ho. ''Tentara kita ini bisa diandalkan. Mereka akan saya gembleng, bukan hanya di darat, melainkan juga di laut.'' ''Lantas bagaimana dengan orang-orang sipil yang bisa ikut dalam pelayaranmu itu?'' tanya Zhu Di.

''Dari mereka, walaupun mereka sama seperti kawanan hewan yang tak bisa diatur, toh diharapkan kemampuan dagang mereka membuka peluang bisnis dengan negara-negara di selatan.''

''Ya, Paduka,'' kata Ceng Ho.

''Pendaftaran untuk orang-orang sipil yang mau berniaga di Jawa akan dimulai besok.''


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #31 on: 20/08/2008 17:04 »
Kertas-kertas pengumuman bagi khalayak yang berminat melakukan hubungan dagang di Jawa telah dipasang di tempat-tempat ramai. Salah satu ditempelkan juga di dinding rumah minum merangkap rumah bordil Lin. Di dalam sana tampak orang-orang yang biasa berlangganan di sini. Termasuk, orang-orang yang sekadar numpang lewat untuk mencari hiburan. Di antara orang-orang yang beraneka ragam kemauan itu terlihat juga Dang Zhua dan Hua Xiong di meja tengah dan Tan Tay Seng di pojok ruang. Tampaknya Tan Tay Seng sedang menikmati mabuknya. Dalam mabuk begitu malah kreativitasnya mengalir.

Dia berpuisi di situ dan menyanyikannya dengan menggesek-gesek teh-yan. Melihat kelakuannya yang eksentrik, tampak sikap tak suka di wajah Dang Zhua.

''Tambah lagi ciunya,'' kata Tan Tay Seng sambil mengangkat cawan.

''Oh, aku sedang menikmati kembaraku ke selatan, ke Borobudur, mengukir huang-mei-tiau di langitnya, menikmati butir-butir emas yang mengubah butir-butir pada di sawah. Ayo, tuangkan ciu, kuukirkan harum bunga selatan dalam nyanyianku pada hari esok.''

Orang-orang melihatnya sebagai orang mabuk saja jengkel dan nyinyir, terkecuali Dang Zhua dan Huan Xiong yang tampak gusar. Tan Tay Seng tak peduli. Dia telah lupa diri. Walau begitu, dalam keadaan begini dia bisa menyanyi, mengiringi nyanyiannya dengan teh-yan.

''Yang kasim dari Yun Nan negari Akan menjadi orang besar sejati Dikenang nama di sejarah bahari Sebagai Sam Po Kong nan bestari.'' Begitu dia menyanyi. Dan dia menyanyi dengan acuh tak acuh, tak peduli apa ada atau tidak yang menyukainya. Nanti, sebentar lagi, dia akan mengetahui bahwa ada orang yang terganggu mendengar nyanyian orang mabuk. Orang yang tak suka mendengar nyanyian Tan Tay Seng itu adalah Dang Zhua.
Dang Zhua menghardik Tan Tay Seng. ''Hei, pemabuk, hentikan suara kentutmu. Alat musikmu itu pun terdengar seperti gergaji tumpul.'' Tan Tay Seng tidak menggubris. Malah jika dia perlu menanggapi Dang Zhua, dia akan menggunakan kata-kata yang mungkin membuat Dang Zhua naik pitam.

 ''Hei, apa pedulimu?'' kata Tan Tay Seng. ''Mulut, mulutku sendiri; suara, suaraku sendiri, kok bolehnya situ yang usil.'' Lalu dia berseru kepada pengelola Lin.

''Ayo, Cik, tuangkan lagi ciu buatku, mumpung sendi-sendi dalam tubuhku masih bergairah, wahai dewa mabuk, mabuki aku, biar aku terbang menemui dewa langit utara Xuan Tian Shang Ti*) dan memberi salam tabik dengan bunga-bunga kepada dewa penguasa langit selatan Wu Fu Da Di. **) Dengar, kupingkanlah nyanyianku.''

Dan Tan Tay Seng menyanyi lagi dengan acuh, menggesek-gesekkan teh-yan dengan terampil. ''Ceng Ho yang memimpin pelayaran Meninggalkan Tiong Kok ke selatan Untuk mencari itu cap kerajaan Yang dicuri gajah putih sialan.''

Baik Dang Zhua maupun Hua Xiong, apalagi orang-orang lain, di rumah minum dan rumah bordil Lin terkesiap mendengar nyanyian Tan Tay Seng. Bagi Dang Zhua, nyanyian Tan Tay Seng itu merupakan kejutan: betapa gunjingan yang disebarkannya telah ditampa orang banyak, setidaknya satu, Tan Tay Seng. Namun, sungguhpun Dang Zhua dan Hua Xiong sama-sama terkesiap mendengar nyanyian Tan Tay Seng, kemarahan yang telah berada di hatinya tak hendak dia perintahkan untuk surut. Adalah Hua Xiong yang lebih dulu tak kuasa menahan emosi. Dia menyerang Tan Tay Seng karena jawaban Tan Tay Seng tadi yang mengatakannya usil.

Dia tidak menduga sama sekali Tan Tay Seng selain seorang penyair dan penyanyi adalah juga pendekar yang hebat. Maka, ketika Dang Zhua menyerang Tan Tay Seng tanpa memperhitungkan kemungkinan ditangkis dan dibalas, dia pun terlambat. Tidak ada pujian buat orang yang keliru bertindak lantaran salah berhitung. Tangkisan Tan Tay Seng betapapun telah membuat keseimbangan pikirannya terganggu. Dang Zhua menyerang lagi. Tan Tay Seng lebih siap. Dengan gerakangerakan amat lincah dan cepat, hanya dalam waktu sangat singkat, Dang Zhua sudah keok seperti ayam jago yang terlempar oleh taji lawan.

Melihat Dang Shua kalah, Hua Xiong pun geram dan menyerang Tan Tay Seng dari samping. Terjadi pukul-memukul. Tetapi itu tidak berimbang. Sudah jelas kentara Tan Tay Seng bukan anak muda sembarangan. Dia betul-betul seorang cempiang. Dengan kedua tangan dia berhasil melumpuhkan Hua Xiong. Bersama dengan Dang Zhua, keduanya tergeletak seperti ikan hiu di atas meja lelang pasar ikan, tiada lagi sima yang boleh dibanggakan. Di atas kedua orang kepercayaan Liu Ta Xia itu Tan Tay Seng berdiri berkacak pinggang, menawar tantangan bagi siapa pun yang mau menerjang lagi. "Masih ada yang penasaran?" kata Tan Tay Seng. "Kalau ada yang berminat, aku pun masih bersemangat. Mumpung mabuk, dan dalam mabuk aku dikawal oleh tiga puluh enam panglima langit, San Shi Liu Guan Jiang. Lalu Tan Tay Seng mengambil cawan, mengarahkan itu ke pengelola Lin. "Ya, tambah lagi ciunya. Tambah satu, tambah dua, tambah tiga, dan aku ingin tidur di sebuah dusta, mimpi bersama tiga klangenan T'ang , antara Tu Fu, Li Tai Po, Ts'en, Ts'an, Pu Chu Yi, Li Shang Yin.... Tampaknya semua orang yang berada di situ memilih bersikap tidak bermusuhan. Itu sikap yang aman, memang. Tan Tay Seng menjadi tokoh yang melahirkan bisik-bisik. Orang akan berbisik tentang dia jika melihatnya berjalan di tempat ramai.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #32 on: 20/08/2008 17:10 »
Untung, orang tidak berbisikbisik tentang kejelekannya, tetapi tentang ketangguhan dan kepiawaiannya berkelahi.


***

Demikian juga terjadi pada pagi itu. Menjelang tengah hari Tan Tay Seng kelihatan berjalan di jalanan menuju ke pasar. Di tembok yang pernah diberdirikan mayat-mayat itu terlihat plakat kerajaan dipasang oleh petugas kerajaan. Setelah plakat itu terpasang, orang-orang berkumpul membacanya. Ada seseorang yang lantas menceletuk setelah membaca plakat itu.

Katanya, "Apa-apaan ini? Dicari orang-orang sipil yang kuat dan punya pengetahuan tertentu untuk dikembangkan di negeri-negeri selatan." Seseorang yang lain malah mencibir menanggapi.

"Huh, untuk mati konyol di Laut Selatan bersama tay-cin dari Yun Nan. Kurang kerjaan?" Orang yang berdiri di samping tampaknya tidak senang mendengar pernyataan itu. Dia menuding dan menghardik.

"He, Bung, jangan sembarang buka bacot kamu. Jangan menghina Ceng Ho." Bukan undur dari sikapnya membuka mulut tadi, orang ini malah mengucapkan kata-kata bernada menantang. Katanya dengan ketus, "Memangnya siapa yang melarang aku kalau aku ingin buka bacot seperti ini."

"Tapi jangan bawa-bawa Yun Nan. Aku juga orang Yun Nan.

" Bukan kendur, malah orang yang kepalang berbicara keras itu makin menunjukkan sikap siap menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi. Dengan berani dia berkata, "Memangnya kenapa kalau kau ingin bilang Ceng Ho itu Yun Nan, dan aku tidak percaya pada Yun Nan." Sekonyong-konyong tangan orang yang marah itu bergerak ke arah muka yang satunya. Tangan itu mengena bagian tubuh yang diharapkan oleh yang memukul itu. Yang terkena pukul lantas menjawab. Dan begitu keduanya siap memasang kuda-kuda untuk siapa yang lebih dulu punya peluang mengalahkan, syahdan Tan Tay Seng bertindak, berdiri di tengahtengah, melerai.

"Sudah! Jangan berkelahi," kata Tan Tay Seng. Walau begitu kedua orang yang berselisih pandangan itu tak berhasil diteduhkan. Yang kiri meloncat, menyerang yang kanan. Tan Tay Seng berteriak, "He, jangan berkelahi kataku, hei.

" Namun tetap saja kedua orang itu berkelahi, tak mau mendengar teriakan Tan Tay Seng. Yang disebut ini mengentakkan kaki, memperagakan perasaan jengkelnya.

"Ya, sudah, berkelahilah kalian," kata Tan Tay Seng.

"Biar aku memainkan teh-yan." Tak cuma ngak-ngik-nguk, dia malah menyanyi:

Aku berhenti terbang di langit Nan Jing Bertengger di pohon atas Sungai Liu Ja Menyaksikan dua ekor pendekar kecowak Yang bertikai tentang tay-jin dari Yun Nan Tay-jin dari Yunan diberi tugas oleh Kaisar Memburu sampai ke Campa atau ke tanah Siam Menangkap seekor gajah putih pencuri Yang telah melarikan cap kerajaan Ming."

Orang-orang yang berada di situ tertarik melihatnya. Mereka pun ramai melendong, berkerumun, mengitari Tan Tay Seng. Sementara itu Tan Tay Seng dengan naif sekali, seperti seorang anak kecil yang bermain-main dengan dunianya, tidak peduli apakah ada atau tidak orang yang menyaksikan. Salah seorang di antara kerumunan itu bertanya kepada Tan Tan Tay Seng, "He, Bung, dari mana kamu tahu cerita seekor gajah putih melarikan cap Kerajaan Ming?"

Dengan santai Tan Tay Seng menjawab, ''Ilham seorang penyair bisa lahir di rumah bordil. Apa kalian tidak suka?'' Ada yang berdiri di depan kerumunan itu melempar sekeping uang, dan sambil melakukan itu, dia pun berkata, ''Nyanyikan lagi, ayo.'' ''Terima kasih,''kata Tan Tay Seng. Dia buka topinya lantas mengarahkan ke kerumunan itu,
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #33 on: 20/08/2008 17:15 »
mengharapkan sawer.

''Aku akan nyanyikan lebih seru lagi.'' Orang-orang itu pun memberikan sawer. Yang lain berbisik-bisik. Setelah itu Tan Tay Seng berlakon. Kali ini dia membuat orang-orang itu terkesima. Dia menyanyi, bermain teh-yan, tapi juga melakukan gerakan-gerakan silat yang cekatan. Nyanyian yang dia peragakan merupakan kisah yang sangat populer di Cina sejad abad ke-2 Masehi, yaitu tentang dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi - kisah yang ditulis di Feng Shu T'ung oleh Ying Shao - mirip cerita Nabi Sulaiman dalam sumber Perjanjian Lama Nasrani. Yang dinyanyikan Tan Tay Seng benar-benar merupakan tontonan teater seorang diri. Untuk peran wanita, dia menyanyikan dengan membuat suara seperti suara perempuan, dan untuk peran Huang Pa, tokoh menteri kepala yang juga sangat terkenal dalam periode Sam Kok, dia membuat suaranya geros dengan perwatakan amat berwibawa. Orang-orang yang menyaksikan terhibur. Mereka berbisik-bisik sebagai cara lain untuk memuji dia.


***


Lain lagi dari Dang Zhua dan Hua Xiong. Mereka melaporkan dengan dengki kepada Liu Ta Xia bahwa mereka dikalahkan oleh seorang Hok Kian yang menggesek teh-yan dan menyanyi seenaknya. Kata Dang Zhua sambil menunduk-nunduk,

''Memang, dalam berkelahi dia telah mengalahkan kami, Tuan Menteri. Tapi, yang penting, dia sudah termakan oleh gunjingan yang kami sebarkan melalui rumah bordil.''

''Apa?'' Liu Ta Xia belum menangkap arah bicara Dang Zhua.
''Tidak salah, Tuan Menteri,'' kata Dang Zhua. ''Dia pasti mendapat ilham nyanyiannya tentang gajah putih yang mencuri cap Kerajaan Ming itu melalui rumah bordil Lin.'' Selintas tampak rasa termegahkan di wajah Liu Ta Xia. ''Kalian tahu, siapa dia?'' tanya sang menteri sambil duduk. ''Tidak jelas latar belakangnya, Tuan Menteri,'' jawab Dang Zhua, melirik kepada Xua Xiong, meminta dengan gerakan tertentu supaya Hua Xiong yang memberi keterangan kepada sang menteri. Maka kata Hua Xiong dengan cepat, namun dengan nada yang menunjukkan keraguan dan mencari pembenaran terhadap diri sendiri, ''Yang jelas, dia pasti orang Fu Kien, entah Hok Kian entah Hok Cia.'' ''Dungu,''kata Liu Ta Xia agak kecewa. ''Kenapa kalian tidak mencari tahu?'' Dang Zhua serta merta menawarkan inisiatif yang terlambat, katanya, ''Apa perlu kami selidiki siapa dia?'' Liu Ta Xia berdiri dari kursinya.

''Huh, tidak perlu.'' ''Kenapa, Tuan Menteri?'' tanya Hua Xiong. ''Aku baru saja menyimpulkan itu tidak perlu. Sebab, mendengar cerita kalian itu, aku menyimpulkan dia hanya seorang penyair pelagu yang setengah matang.'' Baik Dang Zhua maupun Hua Xiong tertawa, dan tawa mereka sebetulnya tidak lahir dari emosi tertentu, tetapi dari cara paling terhitung untuk menjilat.

''Aku punya rumus untuk mengalahkan penyair pelagu, dan kalian harus sanggup melaksanakan,'' kata Liu Ta Xia. ''Senjata paling ampuh dan gampang menjatuhkan para penyair pelagu atau seniman umumnya adalah uang. Terhadap uang mereka selalu berpurapura suci, seakan-akan tidak perlu. Padahal, asal pemegang kekuasaan tahu caranya, yaitu mulai dari cara mendulang sampai menyuap, seniman itu sama seperti piyik burung elang: menelan tanpa pertimbangan-pertimbangan apakah yang dibawa induknya itu racun atau bukan racun.''
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #34 on: 20/08/2008 17:21 »
Lagi, Dang Zhua dan Hua Xiong tertawa untuk memberi kesan bahwa mereka mendengar ucapan yang bermutu dari seorang yang mereka percayai memiliki kehebatan tertentu. Liu Ta Xia sangat menikmati cara kedua orang kepercayaannya itu menjilat kepadanya. Katakanlah, dia adalah garuda, bukan elang, yang sedang berdiri di atas gunung Kun Lun Shun sana yang bergeming oleh terpaan angin ribut.

''Jadi, orang Hok Kian itu tidak penting untuk digubris lagi, Tuan Menteri?'' tanya Hua Xiong.

Tidak segera Liu Ta Xia menjawab. Ternyata pertimbangannya tadi memiliki sayap-sayap masalah. Maka katanya setelah terpercik permenungan singkat, ''Sejauh tidak berhubungan dengan Ceng Ho memang dia tidak penting.''

''Kalau sampai terjadi hubungan?'' tanya Dang Zhua.

''Berjaga-jaga,'' jawab Liu Ta Xia singkat.


***

Apakah Ceng Ho tidak juga berjaga-jaga?

Suatu malam dia bahkan terjaga ketika sudah tidur di rumahnya. Malam itu sepi. Angin tak terdengar. Yang terdengar adalah sejenis binatang kecil yang berada di balik batu.

Karena kesunyian malam, bunyi yang paling kecil pun dapat tersaring masuk ke dalam gendang pendengaran.
Dalam tidurnya ini Ceng Ho bermimpi. Dan karena itu, sehabis mimpi berlalu, dia terjaga, duduk di ranjang sambil mengambil nafas panjang dan mengembuskannya.

Dia bermimpi didatangi ayahnya, Ma Ha Zhi. Ayahnya datang dari langit, turun dikelilingi awan, dan seakan Ceng Ho berdiri di atas bunga teratai. Anehnya di awan yang mengumpal itu, kemudian bergulung-gulung menyerupai huruf-huruf Arab antara sin, mim, fa, wau, kaf, mun, ternyata huruf-huruf itu terangkai menjadi sam po kon.

Maka bertanya Ceng Ho dengan ragu, "Engkaukah ayahku?"
Jawab yang ditanya, "Ya, akulah Ma Ha Zhi, turunan Sai Dian Chi atau Sayidina Syamsuddin dari nenek moyang Suo Fei Er atau Sayidina Syafii."

"Ada apa, ayahku?" tanya Ceng Ho. "Kenapa engkau berada di atas awan, dan aku berdiri diatas bunga teratai?"

"Dengarlah baik-baik, putraku Ma He," kata Ma Ha Zhi.
"Aku bukan hanya memberi telinga, melainkan juga hati, ayahku," sahut Ceng Ho sambil menekukkan kaki kanannya.

"Kamu harus taruh matamu di dekat telingamu, Ma He," kata Ma Ha Zhi.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #35 on: 20/08/2008 17:24 »
"Apakah mata dan telinga yang sudah diatur letaknya oleh Yang Khalik harus diubah lagi?" kata Ceng Ho.
 
"Jadilah arif, putraku," ujar ayahnya. "Alam tetap pada alam yang dicipta Mahapencipta. Manusia berpikir untuk memanfaatkannya. Camkan itu."

"Aku patuh."

"Sekarang, dengar dan berjaga," kata Ma Ha Zhi. "Nanti akan ada musuh di dalam selimutmu, dan kamu bahkan tidak sempat membedakan yang mana serigala dan yang mana domba.

Kamu menghadapi pekerjaan besar. Setiap pekerjaan besar ada juga risiko-risiko besar. Dan kau tidak mungkin menyelesaikan masalah besar kalau tidak melihat lebih dulu yang kecilnya. Jangan memilih orang menjadi mitramu dalam pekerjaan besarmu itu hanya karena
orang itu memberimu senyum, memasang muka manis. Betapa banyak malapetaka terjadi menuju pekerjaan besar, sebab orang terpedaya oleh senyum dan muka manis...."'

"Ya, ayahku," kata Ceng Ho.
"Katakan keras-keras," kata Ma Ha Zhi.
Dan Ceng Ho berkata keras, "Ya, ayahku!"

Saking kerasnya, Ceng Ho terkejut dan terbangun. Dia terduduk di atas ranjang. Terengah-engah. Termenung.

Isyarat apakah gerangan yang dia dapatkan dari mimpi, atau katakanlah lebih memihak: penglihatan, yang hadir dalam tidur nyenyaknya itu? Dia dapat menyimpulkan dengan mudah.
Yaitu, mimpi adalah ilham yang bukan sembarangan. Setiap mimpi tak terhindar dari kenyataan akan suatu perwujudan keinginan yang membawa seseorang terkungkung atau terbebas dari pikiran-pikirannya.


***

Hal itu yang masih terbawa, dan mungkin terus terbawa dalam fitrah Ceng Ho sepanjang hari pada keesokan harinya. Menjelang siang Ceng Ho meninggalkan rumah, berjalan bergegas ke suatu tempat. Siapa yang memperhatikan air mukanya niscaya akan menyaksikan sekelumit kegelisahaan yang tumbuh di dalam sukmanya. Dia mengambil kuda.

Dipacu kudanya. Tampaknya jarak yang akan ditempuhnya itu lumayan jauh. Di ujung jarak yang ditempuhnya, orang-orang mengharapkan dia. Dia pergi ke galangan kapal.

***

Di galangan kapal itu, sebuah kapal yang terbesar, yang akan dipakainya untuk memimpin kapal-kapal lain menuju ke selatan, sedang dikerjakan pada tahap perampungan. Di latar belakang, yang baru bersih oleh pertemuan antara laut dan langit, tampak
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #36 on: 20/08/2008 17:28 »
burung-burung camar yang terbang sambil mengintai mangsanya. Tapi, yang paling kentara adalah kesibukan orang yang mengerjakan pembuatan kapal itu. Dan yang lebih kentara lagi, di latar depan kapal yang bergalang itu tampak sebuah meja panjang dengan beberapa orang duduk di belakangnya. 

Ke situlah Ceng Ho datang dan berdiri memperhatikan orang-orang yang antre di depan meja itu. Orang-orang yang antre itu adalah mereka yang membaca plakat pengumuman tentang siapa di antara orang-orang sipil dengan keahlian tertentu yang ingin ikut dalam pelayaran Ceng Ho ke selatan. Semua yang mendaftar ditanya oleh petugas yang duduk di belakang meja itu. Kini giliran seseorang yang berbadan jangkung.

Petugas yang mencatat-catat di meja itu bertanya kepadanya. "Apa keahlianmu?" "Saya orang San Tung. Saya ahli di bidang tenun sutra dengan cara paling sederhana." Setelah mencatat, petugas itu berkata, "Ke sebelah." Lalu menunjuk dengan tangan kanannya ke seseorang yang tadi berdiri di belakang orang San Tung itu. "Ya, yang berikut, maju." Orang yang ditunjuk itu lantas maju, berdiri di depan meja sang petugas pencatat. Katanya, ''Nama saya Li Bun Hau dari provinsi selatan.'' ''Apa keahlianmu?'' ''Menakar walet, membudidayakan sarangnya, mencuci dan membersihkannya dengan cara paling benar. Saya bisa mengajarkan pengetahuan ini kepada bangsa-bangsa di luar Cung Kuo*), bagi bangsa Hu Huan**) di mana pun di selatan sana.'' Ceng Ho mengangguk. Petugas pencatat berkata, ''Baik. Ke sebelah.'' Yang bernama Li Bun Hau pun berpindah ke sebelah, memberi cap tangannya. Tempatnya digantikan seseorang yang antre di belakangnya. Orang yang sekarang menghadap ke petugas pencatat, berdiri di situ, sambil berkata, ''Saya Yong Gong. Asli saya dari suku Hu Pei. Ayah saya ahli gigi, kakek saya ahli gigi, bahkan kakek buyut saya ahli gigi, dan besok anak saya pun akan saya didik menjadi ahli gigi.''

''Bagus,'' kata petugas pencatat. ''Ke sebelah. Dan selanjutnya yang di belakang, maju.''

Yang maju berikut ini, kira-kira 20-an tahun. Dia memberi hormat kepada Ceng Ho yang berdiri di belakang petugas pencatat itu. Katanya, ''Saya Lu Shan. Saya sangat ahli di bidang
pengetahuan ming xiang, Feng Shui, tapi sekaligus juga An Mo.''
Petugas pencatat itu menyuruhnya beralih tempat, dan orang yang mengaku bernama Lu Shan hampir bergeser, namun berhenti diam karena Ceng Ho menyuruhnya.

''Tunggu,'' kata Ceng Ho, tertarik kepadanya. ''Dari mana orang seusia kamu mendapatkan
ilmu itu?''

''Tabik, Tuan Ceng Ho,'' katanya memberi hormat. ''Saya bertapa di Gunung Fei Feng Shan, Si Cuan.''
''Baguslah,'' kata Ceng Ho.
Dan orang yang bernama Lu Shan itu bergeser ke sebelah, lalu orang yang berdiri di belakang

- dia tak lain adalah Tan Tay Seng - maju ke depan petugas pencatat itu. Bukan seperti yang lain-lain memperkenalkan diri dan menyebut asalnya, Tan Tay Seng langsung menggesek tehyan dan menyanyikan suatu rangkaian larik-larik: Paduka Kaisar tidak salah memilih Laksamana Ceng Ho menjadi Sam Po Kong Ke selatan membawa
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Jali Jengki

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 2
  • Posts: 828
  • Reputation: 44
  • Love Pencak Silat, Proud to be Indonesian
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #37 on: 20/08/2008 17:29 »
K@ng Sarkem Jaka Sliwer...

Cerita'in juga dong perihal sajarenye Syekh Quro atawe Syekh Bentong nyang turun di Karawang, die pan sale satu ulame Islam nyang ngikut armadenye Cheng Ho...

Maenannye di cerita'in dong, cakep tuh maenannye...

Tabe'...Jali
Kullu Nafsin Zaaiqatul MAUT

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #38 on: 20/08/2008 17:33 »
panji-panji Ming Kebesaran Cina dipuji di dunia luar. Semua orang yang duduk di belakang meja, termasuk Ceng Ho, senang melihat Tan Tay Seng menyanyi, memainkan teh-yan, dan bergerak-gerak tertentu mirip tarian silat.

''Siapa namamu?'' tanya Ceng Ho. ''Hormat, Sam Po Kong,'' kata Tan Tay Seng sambil membungkukkan badan. ''Saya penyair penyanyi dari Fu Kien. Ayah Hok Kian, ibu Hok Cia.''

 ''O, ya, bagus,'' kata Ceng Ho. ''Kamu memang dibutuhkan di dalam kapal untuk menghibur.'' Tan Tay Seng girang. Dia menggabruk dan berlutut di hadapan Ceng Ho lalu mencium tangannya. ''Terima kasih, Sam Po Kong.''

***

Ada orang-orang yang tidak senang melihat adegan itu. Orang-orang yang dimaksud ini berdiri di arah kejauhan, sambil lalu menyaksikan kegiatan pengerjaan kapal dan pendaftaran orang-orang sipil yang berkeahlian untuk ikut dalam ekspedisi pimpinan Ceng Ho. Orang-orang itu adalah Liu Ta Xia, Dang Zhua, dan Hua Xiong.
Dengan menutup mulut karena jengkel melihat kenyataan itu, Liu Ta Xia berkata, nyaris tak terlafazkan dengan jelas,

''Apakah orang itu yang kalian maksudkan telah mengalahkan kalian.''

Bersama Dang Zhua dan Hua Xiong mengangguk, menjawab, ''Ya, Tuan Menteri.''

''Ternyata sekarang kalian melihat sendiri ada hubungan antara Ceng Ho dan dia, yang tadinya kita kira tidak penting,'' kata Liu Ta Xia.

''Apa yang harus kami lakukan?'' tanya Dang Zhua.
''Kalian pergi dulu ke rumahku. Tunggu aku di sana. Aku akan bicara dengan Ceng Ho,'' kata Liu Ta Xia.
Dang Zhua dan Hua Xiong pun pergi, menunggu di rumah Liu Tia, sementara Liu Ta Xia menghampiri Ceng Ho.

Apa yang diperkatakan Liu Ta Xia kepada Ceng Ho?

''Semua persiapan sudah dicatat?'' tanya Liu Ta Xia setelah berhadapan muka dengan Ceng Ho.

''Sejauh ini sudah, Tuan Menteri.''

''Mungkin ada yang terlupakan,'' kata kata Liu Ta Xia.

"Kalau ada yang terlupakan, saya siap dikoreksi, Tuan Menteri,"kata Ceng Ho.

"Pasti ada," kata Liu Ta Xia. "Dalam laporan belum ada bidang juru tulis yang akan mencatat setiap kegiatan pelayaran."

"O, ya, Anda betul, Tuan Menteri,"kata Ceng Ho.

"Tidak usah kuatir," kata Liu Ta Xia. "Saya sudah menyediakan itu."

"Terima kasih," kata Ceng Ho.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #39 on: 20/08/2008 17:39 »
Liu Ta Xia senang. Dia berhasil melakukan apa yang dia pikirkan sebagai suatu siasat perang.
Maka ketika sampai di rumahnya, dan di situ telah menunggu orang-orang kepercayaannya, berkatalah dia sukacita, "Aku berhasil."

"Bagaimana, Tuan Menteri?" tanya Dang Zhua dan Hua Xiong.
"Ceng Ho lupa membawa juru tulis dalam ekspedisi itu," kata Liu Taa Xia. "Aku berhasil memasukkan kamu berdua. Kalian tidak perlu susah-susah antre seperti yang lain-lain. Aku harus bergerak cepat. Besok aku akan menghadap Kaisar untuk menaruh nama kalian sebagai juru tulis."

Dang Zhua dan Hua Xiong berpandangan. Kesukacitaan tergambar dalam sikap mereka.

"Ada dua tugas kalian," kata Liu Ta Xia. "Mencatat."

"Kami siap, Tuan Menteri," kata Dang Zhua.

"Pertama, mencatat perjalanan muhibah itu. Dan kedua, mencatat hal-hal yang negatif atas semua hal menyangkut tokoh Ceng Ho. Sejarah besok harus mempertanyakan tokoh Ceng Ho. Sejarah besok harus mempertanyakan apakah betul pelayaran itu merupakan ekspedisi muhibah atau justru ekspansi dengan cara kebudayaan."

"Maksudnya bagaimana, Tuan Menteri?" tanya Hua Xiong.

"Ya, orang selalu terkecoh oleh premis misi kebudayaan. Bagi Cina, misi kebudayaan bagaimanapun adalah penaklukan dengan cara santun pada negeri-negeri seberang lautan."

"Jadi, dengan menaruh kami sebagai juru tulis, apakah niatan Tuan Menteri untuk memasang kami dalam pelayaran itu sebagai penasihat spiritual telah berubah siasat?" tanya Dang Zhua.

"Padahal, selama hari-hari terakir ini aku sudah belajar lagi isi kitab suci kita," kata HuaXiong.
 
"Diam!" sentak Liu Ta Xia.

Dan keduanya pun langsung mingkem.

"Aku harus berpikir," kata Liu Ta Xia. Lalu dia tertawa, merasa telah memperoleh jawaban atas yang dipikirkannya. "Jangan tolol begitu. Kalian harus cekatan berimprovisasi."

"Jadi, sekarang kami akan menjadi juru tulis pelayaran itu, Tuan Menteri?" tanya Hua Xiong.

"Itu betul," kata Liu Ta Xia. "Aku harus memenangi permainan ini."


***

Maka, ketika Dang Zhua menyerang Tan Tay Seng tanpa memperhitungkan kemungkinan ditangkis dan dibalas, dia pun terlambat. Tidak ada pujian buat orang yang keliru bertindak lantaran salah berhitung
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Jali Jengki

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 2
  • Posts: 828
  • Reputation: 44
  • Love Pencak Silat, Proud to be Indonesian
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #40 on: 20/08/2008 18:11 »
GRP buat Kang Sarkem,...

Usaha yang tidak kenal menyerah untuk menambah jumlah postingan x-)), tetap semangat dan jangan mudah putus asa...!

Lanjuuut...

Tabe'...Jali
Kullu Nafsin Zaaiqatul MAUT

Dodol Buluk

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 1.081
  • Reputation: 25
  • Alone but never lonely
    • Email
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #41 on: 20/08/2008 21:17 »
denger-denger sih neng bang Jali..die mo nandingin bang ochid buat postingan biar jadi pendekar...hehehhe..

D'Boels
"Jangan pernah bilang kagak kalo kagak pernah bilang jangan"

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #42 on: 21/08/2008 09:20 »
denger-denger sih neng bang Jali..die mo nandingin bang ochid buat postingan biar jadi pendekar...hehehhe..

D'Boels


bukan mau jadi pendekar, kng D'Boels...
ane mau jadi maha guru (kata yan**ka  kata nya kalau lebih banyak lagi bisa jadi Maha Guru...hehehee -- Maha Guru Poco - Poco -)
huahahahhaha :D

Lagian, kalau cuman mau naikin status,Mas Ez*a dan Kang Lu*i mau dongkrak statusnya, asal dikasih sesajen hehehhehehhe :D

Jadi, daripada utak atik thread orang malah diomelin, mending bikin thread di komik... kalau pun ada masalah dengan sejarah.. yaah namanya aja komik (lagian cuman copy paste doang)  :w

Lagian walau ini cerita sejarah gak ada hubungannya dengan politik  (main aman), paling ada hubungannya antara Laksmana Cengho(Y*ril) dan Laksamana Sukardi hehhehehhee sama2 laksamana hehehehhe... [lucu]


--Diterusin lagi nih ya cerita laksamana cengho---
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #43 on: 21/08/2008 09:27 »
Tangkisan Tan Tay Seng betapapun telah membuat keseimbangan pikirannya terganggu. Dang Zhua menyerang lagi. Tan Tay Seng lebih siap. Dengan gerakangerakan amat lincah dan cepat, hanya dalam waktu sangat singkat, Dang Zhua sudah keok seperti ayam jago yang terlempar oleh taji lawan. Melihat Dang Shua kalah, Hua Xiong pun geram dan menyerang Tan Tay Seng dari samping. Terjadi pukul-memukul. Tetapi itu tidak berimbang. Sudah jelas kentara Tan Tay Seng bukan anak muda sembarangan. Dia betul-betul seorang cempiang. Dengan kedua tangan dia berhasil melumpuhkan Hua Xiong. Bersama dengan Dang Zhua, keduanya tergeletak seperti ikan hiu di atas meja lelang pasar ikan, tiada lagi sima yang boleh dibanggakan. Di atas kedua orang kepercayaan Liu Ta Xia itu Tan Tay Seng berdiri berkacak pinggang, menawar tantangan bagi siapa pun yang mau menerjang lagi. "Masih ada yang penasaran?" kata Tan Tay Seng. "Kalau ada yang berminat, aku pun masih bersemangat. Mumpung mabuk, dan dalam mabuk aku dikawal oleh tiga puluh enam panglima langit, San Shi Liu Guan Jiang. Lalu Tan Tay Seng mengambil cawan, mengarahkan itu ke pengelola Lin. "Ya, tambah lagi ciunya. Tambah satu, tambah dua, tambah tiga, dan aku ingin tidur di sebuah dusta, mimpi bersama tiga klangenan T'ang , antara Tu Fu, Li Tai Po, Ts'en, Ts'an, Pu Chu Yi, Li Shang Yin.... Tampaknya semua orang yang berada di situ memilih bersikap tidak bermusuhan. Itu sikap yang aman, memang. Tan Tay Seng menjadi tokoh yang melahirkan bisik-bisik. Orang akan berbisik tentang dia jika melihatnya berjalan di tempat ramai. Untung, orang tidak berbisikbisik tentang kejelekannya, tetapi tentang ketangguhan dan kepiawaiannya berkelahi.

***

Demikian juga terjadi pada pagi itu. Menjelang tengah hari Tan Tay Seng kelihatan berjalan di jalanan menuju ke pasar. Di tembok yang pernah diberdirikan mayat-mayat itu terlihat plakat kerajaan dipasang oleh petugas kerajaan. Setelah plakat itu terpasang, orang-orang berkumpul membacanya. Ada seseorang yang lantas menceletuk setelah membaca plakat itu.

Katanya, "Apa-apaan ini? Dicari orang-orang sipil yang kuat dan punya pengetahuan tertentu untuk dikembangkan di negeri-negeri selatan." Seseorang yang lain malah mencibir menanggapi. "Huh, untuk mati konyol di Laut Selatan bersama tay-cin dari Yun Nan. Kurang kerjaan?"

Orang yang berdiri di samping tampaknya tidak senang mendengar pernyataan itu.

Dia menuding dan menghardik. "He, Bung, jangan sembarang buka bacot kamu. Jangan menghina Ceng Ho." Bukan undur dari sikapnya membuka mulut tadi, orang ini malah mengucapkan kata-kata bernada menantang. Katanya dengan ketus, "Memangnya siapa yang melarang aku kalau aku ingin buka bacot seperti ini."

"Tapi jangan bawa-bawa Yun Nan. Aku juga orang Yun Nan." Bukan kendur, malah orang yang kepalang berbicara keras itu makin menunjukkan sikap siap menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi.

Dengan berani dia berkata, "Memangnya kenapa kalau kau ingin bilang Ceng Ho itu Yun Nan, dan aku tidak percaya pada Yun Nan." Sekonyong-konyong tangan orang yang marah itu bergerak ke arah muka yang satunya. Tangan itu mengena bagian tubuh yang diharapkan oleh yang memukul itu. Yang terkena pukul lantas menjawab. Dan begitu keduanya siap memasang kuda-kuda untuk siapa yang lebih dulu punya peluang mengalahkan, syahdan Tan Tay Seng bertindak, berdiri di tengahtengah, melerai.

 "Sudah! Jangan berkelahi," kata Tan Tay Seng. Walau begitu kedua orang yang berselisih pandangan itu tak berhasil diteduhkan. Yang kiri meloncat, menyerang yang kanan.

Tan Tay Seng berteriak, "He, jangan berkelahi kataku, hei." Namun tetap saja kedua orang itu berkelahi, tak mau mendengar teriakan Tan Tay Seng. Yang disebut ini mengentakkan kaki, memperagakan perasaan jengkelnya.

"Ya, sudah, berkelahilah kalian," kata Tan Tay Seng. "Biar aku memainkan teh-yan."

Tak cuma ngak-ngik-nguk, dia malah menyanyi:

Aku berhenti terbang di langit Nan Jing
Bertengger di pohon atas Sungai Liu Ja
Menyaksikan dua ekor pendekar kecowak
Yang bertikai tentang tay-jin dari Yun Nan
Tay-jin dari Yunan diberi tugas oleh Kaisar
Memburu sampai ke Campa atau ke tanah Siam
Menangkap seekor gajah putih pencuri
Yang telah melarikan cap kerajaan Ming."


 Orang-orang yang berada di situ tertarik melihatnya. Mereka pun ramai melendong, berkerumun, mengitari Tan Tay Seng. Sementara itu Tan Tay Seng dengan naif sekali, seperti seorang anak kecil yang bermain-main dengan dunianya, tidak peduli apakah ada atau tidak orang yang menyaksikan.

Salah seorang di antara kerumunan itu bertanya kepada Tan Tan Tay Seng, "He, Bung, dari mana kamu tahu cerita seekor gajah putih melarikan cap Kerajaan Ming?"

Dengan santai Tan Tay Seng menjawab, ''Ilham seorang penyair bisa lahir di rumah bordil. Apa kalian tidak suka?''

Ada yang berdiri di depan kerumunan itu melempar sekeping uang, dan sambil melakukan itu, dia pun berkata, ''Nyanyikan lagi, ayo.''

''Terima kasih,''kata Tan Tay Seng. Dia buka topinya lantas mengarahkan ke kerumunan itu, mengharapkan sawer. ''Aku akan nyanyikan lebih seru lagi.''
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #44 on: 21/08/2008 09:34 »
Orang-orang itu pun memberikan sawer. Yang lain berbisik-bisik. Setelah itu Tan Tay Seng berlakon. Kali ini dia membuat orang-orang itu terkesima. Dia menyanyi, bermain teh-yan, tapi juga melakukan gerakan-gerakan silat yang cekatan. Nyanyian yang dia peragakan merupakan kisah yang sangat populer di Cina sejak abad ke-2 Masehi, yaitu tentang dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi - kisah yang ditulis di Feng Shu T'ung oleh Ying Shao - mirip cerita Nabi Sulaiman dalam sumber Perjanjian Lama Nasrani.

Yang dinyanyikan Tan Tay Seng benar-benar merupakan tontonan teater seorang diri. Untuk peran wanita, dia menyanyikan dengan membuat suara seperti suara perempuan, dan untuk peran Huang Pa, tokoh menteri kepala yang juga sangat terkenal dalam periode Sam Kok, dia membuat suaranya geros dengan perwatakan amat berwibawa. Orang-orang yang menyaksikan terhibur. Mereka berbisik-bisik sebagai cara lain untuk memuji dia.


***


Lain lagi dari Dang Zhua dan Hua Xiong. Mereka melaporkan dengan dengki kepada Liu Ta Xia bahwa mereka dikalahkan oleh seorang Hok Kian yang menggesek teh-yan dan menyanyi seenaknya. Kata Dang Zhua sambil menunduk-nunduk, ''Memang, dalam berkelahi dia telah mengalahkan kami, Tuan Menteri. Tapi, yang penting, dia sudah termakan oleh gunjingan yang kami sebarkan melalui rumah bordil.''

''Apa?'' Liu Ta Xia belum menangkap arah bicara Dang Zhua. ''Tidak salah, Tuan Menteri,'' kata Dang Zhua.

''Dia pasti mendapat ilham nyanyiannya tentang gajah putih yang mencuri cap Kerajaan Ming itu melalui rumah bordil Lin.'' Selintas tampak rasa termegahkan di wajah Liu Ta Xia.

''Kalian tahu, siapa dia?'' tanya sang menteri sambil duduk. ''Tidak jelas latar belakangnya, Tuan Menteri,'' jawab Dang Zhua, melirik kepada Xua Xiong, meminta dengan gerakan tertentu supaya Hua Xiong yang memberi keterangan kepada sang menteri. Maka kata Hua Xiong dengan cepat, namun dengan nada yang menunjukkan keraguan dan mencari pembenaran terhadap diri sendiri,

''Yang jelas, dia pasti orang Fu Kien, entah Hok Kian entah Hok Cia.'' ''Dungu,''kata Liu Ta Xia agak kecewa.
''Kenapa kalian tidak mencari tahu?'' Zhua serta merta menawarkan inisiatif yang terlambat, katanya,
''Apa perlu kami selidiki siapa dia?'' Liu Ta Xia berdiri dari kursinya.
''Huh, tidak perlu.''
''Kenapa, Tuan Menteri?'' tanya Hua Xiong.
''Aku baru saja menyimpulkan itu tidak perlu. Sebab, mendengar cerita kalian itu, aku menyimpulkan dia hanya seorang penyair pelagu yang setengah matang.
'' Baik Dang Zhua maupun Hua Xiong tertawa, dan tawa mereka sebetulnya tidak lahir dari emosi tertentu, tetapi dari cara paling terhitung untuk menjilat.
''Aku punya rumus untuk mengalahkan penyair pelagu, dan kalian harus sanggup melaksanakan,'' kata Liu Ta Xia.
''Senjata paling ampuh dan gampang menjatuhkan para penyair pelagu atau seniman umumnya adalah uang. Terhadap uang mereka selalu berpurapura suci, seakan-akan tidak perlu. Padahal, asal pemegang kekuasaan tahu caranya, yaitu mulai dari cara mendulang sampai menyuap, seniman itu sama seperti piyik burung elang: menelan tanpa pertimbangan-pertimbangan apakah yang dibawa induknya itu racun atau bukan racun.''

Lagi, Dang Zhua dan Hua Xiong tertawa untuk memberi kesan bahwa mereka mendengar ucapan yang bermutu dari seorang yang mereka percayai memiliki kehebatan tertentu. Liu Ta Xia sangat menikmati cara kedua orang kepercayaannya itu menjilat kepadanya. Katakanlah, dia adalah garuda, bukan elang, yang sedang berdiri di atas gunung Kun Lun Shun sana yang bergeming oleh terpaan angin ribut. ''Jadi, orang Hok Kian itu tidak penting untuk digubris lagi, Tuan Menteri?'' tanya Hua Xiong. Tidak segera Liu Ta Xia menjawab. Ternyata pertimbangannya tadi memiliki sayap-sayap masalah. Maka katanya setelah terpercik permenungan singkat, ''Sejauh tidak berhubungan dengan Ceng Ho memang dia tidak penting.'' ''Kalau sampai terjadi hubungan?'' tanya Dang Zhua. ''Berjaga-jaga,'' jawab Liu Ta Xia singkat.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal