Forum Sahabat Silat

Bahasa Indonesia => Silat Diskusi Umum => Cerita Silat => Topic started by: Antara on 16/05/2008 16:54

Title: Mari Bermain
Post by: Antara on 16/05/2008 16:54
"... and I want it sent to me before COB!!!"

Samar-samar saya dengar suara menggerutu sedang mendekat ke ruangan
saya, suara yang beberapa bulan ini saya kenal dengan baik.

"Gotta time there, Mas?" sebuah kepala muncul dari balik pintu.

"Nope...," jawab saya pendek, tapi sambil tersenyum saya melambai ke kursi
di depan meja saya. "Duduk tuh... "

Dia adalah rekan saya dari departemen yang berbeda, seorang karyawan
dengan prestasi gemilang. Usianya masih tergolong muda dibandingkan orang-
orang lain yang memegang jabatan sederajat, tapi semua orang percaya bahwa
dia memang layak berada pada posisinya itu. Tidak semua orang bersedia
mengorbankan kehidupan pribadi demi kemajuan perusahaan seperti yang selalu
dia lakukan.

Dia duduk berselonjor di kursi yang saya tunjuk.

"Si Pakistan minta neraka lagi?" tanya saya tanpa mengalihkan perhatian dari
monitor komputer.

"Orang itu seharusnya dibalikkin ke negaranya sanah..." dia menengadah ke
langit-langit. Matanya terpejam. "Nembakin teroris atau ngapain gitu... "

"Neraka model apapun yang dia minta, kau pasti bisa kasih... you have my
faith, boy
."

"You know I don't come for that, Mas..." matanya masih tertutup.

Saya memandangnya sebentar. Dia adalah tipe anak muda yang selalu bisa
mengembalikan semangat kerjanya setelah istirahat beberapa menit. Saya bisa
melihat bahwa malam ini akan ada yang bertekun di kantor sampai jam dua
malam.

"Aku ke Mesjid sebelah ... kau rileks aja di sini," ujar saya sambil menyalakan
screensaver komputer.

"Latihan silat?"

"Ashar dulu..."

Untungnya berkantor di kawasan selatan Jakarta adalah sebagian besar
wilayahnya masih terdiri atas pemukiman penduduk, lengkap dengan bulak-
bulak dan tanah kosong yang khas, serta tentu saja mesjid-mesjid yang
bertebaran, baik besar maupun kecil.

***

Sewaktu saya kecil dulu, periode sesudah sholat ashar adalah masa yang
menyenangkan. Para ibu bertukar gosip sambil menggendong anak-anak mereka
yang terlihat segar sesudah dimandikan, yang biasanya ditaburi bedak
sekenanya. Anak-anak yang sedikit lebih besar sibuk dengan permainan
tradisional seperti gobak sodor, kalabadi, bentengan, adu kelereng atau
sekedar saling membual satu sama lain. Semua akan tenggelam dengan
kegiatan masing-masing sampai mereka menyadari langit sudah redup dan udara
yang sejuk berubah dingin.

Tahun-tahun belakangan ini saya melewatkan waktu sehabis ashar tersebut
dengan laporan-laporan tentang masalah yang harus segera ditindaklanjuti,
panggilan telpon dari negara-negara yang saat itu baru menjelang siang, dan
berbagai pekerjaan lain yang membuat saya lupa mengangkat wajah dari
monitor komputer.

Kadang-kadang beberapa rekan yang sedang frustasi dengan pekerjaan mereka
berbaik hati mengajak saya jalan-jalan keluar... yang biasanya berarti
menghabiskan waktu berjam-jam di cafe, bergosip tentang siapa punya
hubungan gelap dengan siapa, siapa memusuhi siapa dan siapa akan
menggantikan siapa.

"Latian, Bang?"

"He euh," jawab saya. "Tempatnya dipake kagak?"

"Gaakk... Maenin aje."

Penjaga mesjid itu -yang dalam bahasa saya disebut 'garin'- konon pernah
belajar sedikit sebuah silat betawi yang dia sendiri tidak tahu namanya, namun
karena memang bukan panggilan jiwa, dia tidak melanjutkan belajar silat dan
lebih menekuni ilmu agama. Untungnya, dia cukup bersemangat kalau bicara
soal silat dan membolehkan saya berlatih di samping mesjid. Kadang-kadang dia
menemani saya di sana, meskipun dia cuma duduk-duduk menonton saya
berlatih.

***

Belakangan ini saya mulai memahami arti dari kata 'bermain' silat, jika
dibandingkan dengan misalnya 'berlatih' silat.

Karena silat memang sebuah permainan.

Memainkan jurus pada sore-sore hari seperti ini mengingatkan kembali kenangan
lama ketika saya masih kecil. Rasanya saya bisa melihat teman-teman saya
waktu kecil sedang bermain kelereng, kalabadi, atau berlari-larian. Saya
bisa mendengar jeritan-jeritan mungil anak-anak yang saling berkejaran, sumpah
serapah karena kalah mengadu kelereng dan pertengkaran menentukan siapa
yang 'jaga' duluan. Ada rasa gembira yang meluap secara bersahaja. Kadang
saya merasa tulang punggung dan rahang saya bergetar karena haru, dan mata
memanas.

Udara sore Jakarta Selatan yang seharusnya pengap minta ampun itu terasa
seperti sejuknya udara Bogor di awal tahun tujuhpuluhan.

Ya, silat adalah permainan. Sebuah permainan yang membangkitkan kembali
jiwa anak-anak yang sudah lama kita tinggalkan. Entah apakah memang
demikian yang dimaksud permainan dalam Bahasa Betawi yang sebenarnya, tapi
saya tidak peduli.

Kadang-kadang saya menengok ke timur sambil terus memainkan jurus. Gedung
yang menjadi kantor saya menjulang angkuh di sebelah timur Mesjid. Di
dalamnya saya bisa melihat orang-orang berdasi yang tergesa-gesa dikejar
dead-line, beberapa memancarkan aura permusuhan satu sama lain, ada yang
merasa hidup tidak adil, ada yang merasa diperlakukan sebagai budak, dan ada
pula yang belum merasa puas bila belum menunjukkan kekuasaannya pada
orang lain.

Gedung itu adalah lapangan ibadah yang harus saya jalani, sebagai kewajiban
untuk mencari nafkah dan tuntutan untuk mengembangkan diri.
Kadang melelahkan, seringkali sangat melelahkan.

... tapi saya bisa sekali-kali bermain silat di Mesjid.... masih bisa bermain.
Title: Re: Mari Bermain
Post by: crashed brain on 16/05/2008 17:04
Seperti biasa, kalo Su... err...  x-)) bang Antara menulis, fluid, menarik...

Saat ini gw lagi berada di tempat yang jauh dari jakarta
hidup di sebuah keteraturan yang terasa mekanistis dan monoton..
Kehidupan di Indonesia lebih menarik buat gw.
arghhh... jadi pengen balik ke Jakarta, bisa bermain2.....
Title: Mari bermain
Post by: Dolly Maylissa on 29/05/2008 14:04
Membaca tulisan diatas jd membuat ingat makna silat bagiku.
Bagiku silat merupakan jalan yg jarang dilalui orang.jalan panjang yg dikanan kirinya banyak pemandangan yg menarik perhatian.
Bagiku silat jalan menuju kedewasaan.
Setiap melakukan gerakan silat sambil menutup mata,terlintas dalam benakku awal menapaki jalan di dunia,mengingatkanku kenakalan yg kubuat dulu,mengingatkanku pada nasihat dan kasih sayang orang tuaku,berlanjut menggambarkan awal langkahku didunia silat,yg melukiskan kisah2 bahagia dan menyedih bagiku,menggambarkan kembali kenangan bersama teman2ku yg kini entah kemana,dan yg utama mengingatkanku pada ajaran dan nasihat guruku yg terkadang hilang dari ingatanku.
Title: Re: Mari Bermain
Post by: EricB on 01/06/2008 18:19
panjang amat teksnya

.ntar lagi saya jawab
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Sancang on 13/07/2008 15:09
melihat postingan kang Antara, saya jadi berfikir, ternyata "Bermain Silat" bisa lebih menyenangkan daripada "Berlatih Silat", sebaiknya saya mulai merubah cara pandang saya dari sudut yang lain, bukan hanya Silat, dari pekerjaan dan Kehidupanpun harus di lihat dari sudut pandang yang lebih positif maka akan menjadi bermakna

Thanks kang Antara u're  [toop]
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Antara on 13/07/2008 17:08
Hiks... jadi malu ati...  :-P

Sikap saya mungkin dianggap tidak layak oleh sebagian orang, lha silat kok dianggap permainan, padahal barang sakral itu, pusaka...

Untuk itu saya muhun maap beribu maap bagi mereka yang beruntung mewarisi silat sebagai pusaka keluarga atau warisan leluhur... saya cuma orang luar yang berada di sisi paling pinggir dalam lingkaran para pesilat. Fokus kehidupan saya masih seputar mencari nafkah -mengejar karir-pun belum-, jadi silat bagi saya masih bermanfaat di seputar menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol dan mengisi waktu secara menyenangkan ;D. Saya masih seperti anak-anak yang setiap waktu adalah saat bermain. :D

Inti silat yang paling dalam sama sekali jauh dari jangkauan saya, jadi saya cuma mengulang-ulang saja jurus yang saya dapat tanpa tahu banyak isi dan artinya. Alhamdulillah jurus-jurus itu cukup untuk mengingatkan saya untuk tidak beli CD/DVD bajakan, selalu mau main dengan anak, mengikat sabuk pengaman kalau berkendara, tidak merokok, cium tangan ke orang tua dan hal-hal kecil lain yang memang baru di situlah tataran saya.

Mungkin Kang Sancang sebaiknya berkonsultasi pula pada senior-senior di sini yang memang pesilat di "lingkaran dalam", untuk mendapat keseimbangan pandangan.

Salam...
Antara
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Mantrijeron14 on 14/07/2008 11:21
Wes ndak usah pake malu2 ati segala Bro...
Wong kedaleman ngelmu itu kan ndak terletak di lamanya belajar, banyaknya usia, jumlah guru tempat belajar, terkenalnya nama di lingkungan komunitas.. pokoke dari siapa saja kita bisa mengambil hikmah kan?? Nah this time, kite ngambil dari sampeyan ;D

Kate guru saya dulu, bersilat adalah ya bersilaturahmi (kalo ga sale kate boss One di thread yg laen juga gini nih!) jadi harus siap memberi dan menerima. Thus, di gerakan silat (sepertinya di aliran apapun) ga ada yg kedua tangan mengepal semua, karena sikap ini adalah representasi sikap hidup nyang cuman mau memberi doang.... mangkanya sikapnya minimal satu tangan kepalan terbuka; artinya sikap yg juga mau nrimo, kalo dua2nya terbuka lebih baek... artinya semua perlakuan orang ya diterima saja...ikhlas!! urip mung sakmadyo nglakoni... narimo ing pandum. Hidup sekedar menjalani dan menerima takdirNya. Sekarang saatnya saya nrima masukan sampeyan...

Saya ga brani latian di kantor or sekitaran kantor, selain ga ada tempatnya kubikal saya sempit :'( dulu pernah sering diskusi dengan teman expat malay yg mendalami taekwondo dan sedikit aikido, kadang2 agak pake praktek juga..huehue... Sekarang bermainnye ame Mat Kuple, diskas apapun ttg PS!! Mak nyus lah rasanya ada teman berbagi isi kepale!!

Wassalam,
Title: Re: Mari Bermain
Post by: santri kinasih on 15/07/2008 13:13
Mas Mj14 kantornya deket kota..kalau dia mau maen silat dia harus ke tempat karaoke yang bertebaran deket kota.. :w (ada yang mau ikut mas mj14)
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Sancang on 15/07/2008 17:58
menurut saya sah sah aja silat disebut bermain silat, pada dasarnya juga kan silat di sebut ulin [bermain], kaulinan [permainan], maenpo / maen poho [permainan lupa / melupakan karena kalo sudah ahli lupa akan jurus², yang ada hanyalah gerak rasa CMIIW] dalam bahasa Sunda dan "maenan" kalo balam bahasa Betawi [CMIIW]

tul ga?
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Jali Jengki on 15/07/2008 21:36
@ Kang Sancang,

Kalo di tanah Betawi kurang lebi same aje ame Sunda (Ulin/Ameng Peupeuhan atawe Maenpo)...disebutnye Maenpukulan. Kalo "Maenan" atawe Permaenan cenderung untuk nyebutin alirannye, misalnye: "Gue pungut dah Maenan lu...!" (sewaktu Kong Buasyim nyang Juware Bongkot kampung Makasar, kalah Pibu same Kong Ayar dari Cingkrik Sinan dari Karet Tenabang).

Di Madura kalo gak salah juge same namenye "Maen Pokolan"

Tabe'...Jali
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Mat_kuple on 16/07/2008 09:40
Sekarang bermainnye ame Mat Kuple, diskas apapun ttg PS!! Mak nyus lah rasanya ada teman berbagi isi kepale!!

Wassalam,

Salam..

wah Mas MJ14 ini mah hebat banget dah...lha wong diskusinya belon selese aje udeh ngajak diskusi nyang laen lagi...


MK

ga sama dengan MJ
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Jali Jengki on 16/07/2008 10:42

Kate guru saya dulu, bersilat adalah ya bersilaturahmi (kalo ga sale kate boss One di thread yg laen juga gini nih!) jadi harus siap memberi dan menerima. Thus, di gerakan silat (sepertinya di aliran apapun) ga ada yg kedua tangan mengepal semua, karena sikap ini adalah representasi sikap hidup nyang cuman mau memberi doang.... mangkanya sikapnya minimal satu tangan kepalan terbuka; artinya sikap yg juga mau nrimo, kalo dua2nya terbuka lebih baek... artinya semua perlakuan orang ya diterima saja...ikhlas!! urip mung sakmadyo nglakoni... narimo ing pandum. Hidup sekedar menjalani dan menerima takdirNya. Sekarang saatnya saya nrima masukan sampeyan...

[/quote]

Lhaa ini yang menjadi makna filosofis logo FP2STI baru yang saya buat, sayang saya belum sempat menerangkannya secara tulisan kepada Forum. Untung ada Mas Mentrijeroan14 yang menerangkannya secara gamblang....Terima kasih banyak Mas Mentri...mbok ya diterangkan lagi konsep ini secara detilililillll....

Tabe'... Jali
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Dodol Buluk on 16/07/2008 13:47


 Thus, di gerakan silat (sepertinya di aliran apapun) ga ada yg kedua tangan mengepal semua, karena sikap ini adalah representasi sikap hidup nyang cuman mau memberi doang.... mangkanya sikapnya minimal satu tangan kepalan terbuka; artinya sikap yg juga mau nrimo, kalo dua2nya terbuka lebih baek... artinya semua perlakuan orang ya diterima saja...ikhlas!! urip mung sakmadyo nglakoni... narimo ing pandum. Hidup sekedar menjalani dan menerima takdirNya. Sekarang saatnya saya nrima masukan sampeyan...

Mas. ape bener ga ade di aliran manepun untuk jurus kedua tangan mengepal???perasaan.........anu...begitu deh...apa...nganu doang yah..ape...ga...begini..ntar...baru nganuin...

D'Bulux
Title: Re: Mari Bermain
Post by: srdananjaya on 16/07/2008 14:40

Kate guru saya dulu, bersilat adalah ya bersilaturahmi (kalo ga sale kate boss One di thread yg laen juga gini nih!) jadi harus siap memberi dan menerima. Thus, di gerakan silat (sepertinya di aliran apapun) ga ada yg kedua tangan mengepal semua, karena sikap ini adalah representasi sikap hidup nyang cuman mau memberi doang.... mangkanya sikapnya minimal satu tangan kepalan terbuka; artinya sikap yg juga mau nrimo, kalo dua2nya terbuka lebih baek... artinya semua perlakuan orang ya diterima saja...ikhlas!! urip mung sakmadyo nglakoni... narimo ing pandum. Hidup sekedar menjalani dan menerima takdirNya. Sekarang saatnya saya nrima masukan sampeyan...


Ada mas.. ga semuanya  :)
di PD ada yg namanya teknik pendeta.. diambil dari bahasa kuno pandito/ yg artinya orang berilmu/ kiai ulama.. dll
bentuk sikapnya seperti orang pegang buku dan tasbeh dengan tangan yang mengepal
makna filosofisnya juga berbeda
yah kan tergantung yang nyiptain nya  :D
untuk filosopinya mungkin lebih pas yg nerangin mas java, mas don dan mas chandrasah..

salam
sunan
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Antara on 16/07/2008 20:42
Mungkin ada saatnya dua tangan terbuka, yaitu menerima total...
Satu tangan terbuka satu mengepal, kombinasi antara memberi dan menerima...
Dua-duanya mengepal, pemberian total...

Jadi kayaknya semuanya bagus...
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Antara on 16/07/2008 21:03
Alhamdulillah pekerjaan sudah rada reda ... makanya sempet browsing :P

Terasa sekali lama gak latihan, lama gak main-main. Kangennya gak ketulungan.

Kemarin menyempatkan diri main ke sebuah sasana Muay-Thai di Bangkok, sekedar untuk merasakan suasana "martial art" setelah kerja rodi terus dari pagi sampai malem, tapi ternyata suasananya beda. Meski terkagum-kagum ngeliat orang latihan Muay-Thai, tapi tidak bisa mengobati kangen yang saya rasakan. Rupanya memang silat adalah penghubung antara kehidupan kita sekarang dengan akar leluhur di masa lalu.

Ngeliat Muay-Thai mungkin membuat saya ingat film sebangsa Blood-Sport, tapi kalau ngeliat silat langsung inget suasana ngaji waktu ketjil dulu... he..he..he...

Horeee.... besok pulaaaaanngggg.... [yahoo]

Homesick Antara
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Sancang on 17/07/2008 16:38
selamat kembali ke Tanah Air kang,

jangan lupa oleh² nya

aseeekkkk :w
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Mantrijeron14 on 18/07/2008 10:07
@ mas Sunan, Yang saya maksud entu sikap pasang mas.. bukan sikap pas sudah menyerang. Kalo sikap pendeta yg dimaksud itu sikap pasang bukan yah?? Apa sikap pasang itu ada pengaruh kuntaonya mas?? Setahu saya sikap pendeta ini biasanya disusul dengan mengirim dua pukulan kanan-kiri bersamaan, secepat pukulan ditarik disusul tendangan hadap. Betul mboten mas.. niki cuman pengamatan sajah :-\

Btw selama ngikut pertandingan IPSI sikap dua tangan mengepal saat pasang selalu diperingatkan wangsit...

@bang Jali, wah saya tahunya ya cuma segitu2nya..., secara filosofis ya begitu, mangsalah komunikasi makhluk, secara teknik ya pertahanan dan menyerang saat bersamaan sama pentingnya.

Back to permainan; kalo ga ada temen bermaen ya maen sendiri.. kayak autis silat jadinya :D
Title: Re: Mari Bermain
Post by: Dodol Buluk on 22/07/2008 11:09
@Mas MJ14..autis ame gila silat bedanye dimane ye?

D'Buls
Title: Re: Mari Bermain
Post by: crashed brain on 22/07/2008 19:41
Kalo dari kelakuannya MJ14, die nih gila silat..
selalu ngajak2 yang laen biar ikutan gila...

Nah kalo autis silat, itu kayak Santri Kinasih...
Diem aja... diajakin ngomong juga gak gablek..
tapi tangan ama kakinya gerak mulu...  :D