+-

Video Silat


a tribute pencak silat
Maenan Tanjung Barat
Acara Kramasan PS Bandrong Karang Tunggal - Anak #
Pencak Malioboro Festival - sabeni
Ensiklopedi Silat Indonesia
Iklan Kuku Bima EnerG Pencak Silat
Sabeni di Silaturahmi silat betawi di Rawa Belong
Silat Pengasinan ( Babe Uwie Effendi )
Pamacanan - Performance Silat di acara ultah forum

Shoutbox

20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
04/10/2014 09:20 Taufan: Selamat hari raya Idul Adha 1435 H...
04/10/2014 08:12 Taufan: Kopdar Sahabat Silat 11 Oktober 2014... datang ya :-)
02/10/2014 20:30 Taufan: Temu kangen di FB :p
13/08/2014 03:06 Ekka_Xakra: Salam kenal para sahabat silat semua.
12/08/2014 17:56 Dwi_NGJ: Salam kenal para ksatria. Mohon ijin bergabung... :)
12/07/2014 16:49 one: Pada kemane nih buka puasanya ye?
View Shout History

Recent Topics

Sejarah Xinyi Liuhe Quan Bag 2 by ifung
23/10/2014 18:28

aliran silat seIndonesia by Zebud
23/10/2014 17:09

(Ask) Timbangan di Jakarta by Fanani
20/10/2014 22:41

Serial Xinyi Liuhe Quan I by ifung
16/10/2014 20:02

Selayang Pandang Lu Style Xinyi Liuhe Quan by ifung
16/10/2014 20:00

One Day Workshop Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang by luri
16/10/2014 09:29

silat timbangan by ifung
14/10/2014 15:51

maenpo Cikalong by aki sija
07/10/2014 05:13

Parkour by Taufan
02/10/2014 21:28

SILAT BERDO'A SELAMAT by Taufan
02/10/2014 21:17

[BUKUTAMU] by Taufan
02/10/2014 21:01

Hoby Miara Jin by gumuruh
03/09/2014 14:01

contack person guru silat suaeb yg di padepokan pencaksilat TMII by rohadi
17/08/2014 05:58

Silat Betawi di Bentera Budaya by luri
12/08/2014 11:01

PABUCI (PANCERBUMI CIKALONG/PASAR BARU CIANJUR) by aki sija
26/07/2014 06:36

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair  (Read 19819 times)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« on: 28/09/2010 12:08 »
ini cerita silat menarik, sarat dengan falsafah nusantara...

ada yang pecinta serial tersebut?

salam
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

pastorbonus

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 302
  • Reputation: 9
  • Tunggal Banyu Tunggal Ilmu
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #1 on: 30/09/2010 08:39 »
Ane ngacung kang :D Sangat2 tertarik... sumangga dipun babar kang...
Pertapaan Tunggulwulung, di bawah kaki gunung Arjuna

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #2 on: 30/09/2010 09:15 »
Senopati pamungkas berisi perjalanan seorang pesilat bernama Upasara Wulung, yang berusaha mencari keilmuan sejati, keilmuan hakiki, tidak ingin menjadi lelananging jagat tetapi pada akhirnya diakui sebagai lelananging jagat. Mendapat gemblengan jurus ini dan itu dari guru-guru sakti, menjadi sakti, dan kemudian kehilangan seluruh tenaga dalamnya hingga menjadi manusia biasa yang dikejar-kejar, ketakutan, dibela sahabat-sahabatnya, dan pada akhirnya menemukan kembali tenaga dalamnya dengan teori dan konsep yang lebih matang dari sebelumnya.

Upasara Wulung, salah seorang ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah semacam perguruan yang berusaha melahirkan ksatria sejati yang dilatih ilmu surat dan ilmu silat, atau kanuragan. Para ksatria yang terpilih, dilatih sejak lahir di Ksatria Pingitan. Menurut cerita ini, Ksatria Pingitan didirikan atas gagasan Baginda Raja Sri Kertanegara Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat juga mempunyai watak luhur, yang kelak diharapkan menjadi senopati utama yang melanjutkan kebesaran Keraton dan melindungi penduduk. Selama dua puluh tahun Upasara Wulung berada dalam Ksatria Pingitan, dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun ke medan persilatan. Ilmu dasarnya adalah Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Akan tetapi mengalami perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.

Dikisahkan juga bahwa terdapat dua sisi seperti mata uang antara kesaktian baik dan kesaktian jahat. Kesaktian baik disimbolkan oleh upasara wulung, sedangkan kesaktian jahat disimbolkan oleh Halayudha. Keilmuan mereka berdua relatif setara dan bahkan bisa dibilang dua orang yang belum ada tandingannya (pada cerita tersebut). Tetapi pada akhirnya (seperti sudah bisa ditebak), bahwa kesaktian baiklah yang akan menang. Halayudha dikalahkan oleh Upasara Wulung. Di akhir cerita Senopati Pamungkas, terjadi kondisi dimana Upasara Wulung melakukan tapa nyepi (upasara wulung mendapatkan kembali tenaga dalamnya justru menjelang akhir cerita silat ini, pembuatnya hebat bisa membuat dari tengah jalan cerita hingga akhir jalan cerita jagoannya adalah manusia biasa yang dalam tahap mersudi, tahap mencari).

Kidungan-kidungan sering menjadi awal mula sebuah kesaktian hebat. Seperti misal kidungan berikut ini:

Kidungan pemula ini juga berarti kidungan tentang air, air suci
maka kitab ini juga bisa disebut  Matirta Parwa,
artinya kitab tentang mandi dengan air suci

Tirta itu air, Matirta mandi
mandi itu membersihkan
mandi menyucikan
hanya air yang bisa mencuci
hanya air yang bisa dicuci
 
Kidungan pertama, di mana air
di bumi
tanpa air, bumi bukan bumi
di langit
tanpa air, langit bukan langit
di badan
tanpa air, badan bukan badan
di jiwa,
tanpa air, jiwa bukan jiwa
  
Air adalah tenaga
tenaga ada di mana saja

tarik napas, itulah tenaga
biarkan di dada,
gerakkan tangan
kiri atau kanan
sama saja
selama tak dibendung
air terus menggulung

Bumi lebih mudah dikenali
karena bumi diinjak setiap kali
air terlupakan
karena menyatu di badan

Bumi ada pusatnya, di pusar
air tanpa pusat tanpa pusar

Bumi ada bentuknya, pukulan
air membentuk rangkulan
 
Inilah kidungan pertama
sebagai puji syukur kepada Dewa
yang dicipta dari air!

(to be continued...)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #3 on: 30/09/2010 09:27 »
Singkat cerita (ringkasan) kira-kira demikian:

Baginda Raja Sri Kertanegara membawa Keraton Singasari ke puncak kejayaan yang tiada taranya pada awal sejarah keemasan. Pasukan Tartar yang berhasil menaklukkan dunia dipecundangi. Umbul-umbul berlambang singa berkibar ke seberang lautan. Idenya mendirikan Ksatria Pingitan, semacam asrama yang mendidik para prajurit sejak usia dini, menghasilkan banyak ksatria. Di antaranya Upasara Wulung, yang sepanjang usianya dihabiskan di situ. Upasara Wulung terlibat dalam intrik Keraton, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, keculasan, terseret arus jago-jago kelas utama: mulai dari Tartar di negeri Cina, Puun Banten, puncak gunung, dengan segala ilmu yang aneh. Juga lintasan asmara yang menggeletarkan. Ilmu segala ilmu itu adalah Tepukan Satu Tangan, di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Di banyak negara diberi nama berbeda, tetapi intinya sama. Pasrah diri secara total. Diangkat sebagai senopati oleh Raden Wijaya, yang mendirikan Majapahit dengan satu tekad: "Seorang brahmana yang suci bisa bersemadi, tetapi seorang ksatria mempunyai tugas bertempur, membela tanah kelahiran."

atau mau dilanjut ceritanya? ;) hehehe bisa 7 hari 7 malam kayaknya. Mungkin akan saya coba ambil poin-point menarik mengenai kidung-kidung yang menjadi dasar keilmuan tanah jawa.

(to be continued...)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #4 on: 30/09/2010 09:52 »


Lanjutan dari Senopati Pamungkas adalah Tembang Tanahair (penulisannya demikian, tanahair bukan tanah air. karena menurut penulisnya tanahair adalah satu). Pada lanjutannya (tembang tanahair) dikisahkan kalau Upasara Wulung akhirnya mendapatkan kembali tenaga dalamnya dan ia melakukan nyepi, tapa, merumuskan keilmuan, mencari inovasi keilmuan baru dari pengalaman hidupnya. Diceritakan bahwa proses latihan ilmu baru hasil mersudi, hasil mencari, ini sangat menggetarkan dunia sehingga banyak para pendekar digdaya dari seluruh dunia (yang bisa merasakan aura dari upasara wulung) mendatangi tanah jawa dan menantang para pesilat tanah jawa sambil mencari dimana sumber tenaga aura dahsyat itu bermuara.

Pada buku Tembang Tanahair dikisahkan kalau keilmuan upasara wulung diturunkan pada seorang murid terbaiknya (jenius pada ilmu silat) yang masih berusia remaja untuk menjadi 'wakil' dirinya meladeni tantangan para pendekar dari seluruh dunia. Dengan ilmu silat khas tanah jawa, berbasis falsafah tanah jawa, satu persatu para pendekar ditumbangkan. Sebagian ingin berguru karena merasa telah kalah dan sebagian lagi menyimpan dendam kesumat.

Pada buku Tembang Tanahair ini, keilmuan silat dijelaskan dengan bahasa sehari-hari yang bahkan itu adalah mainan anak di tanah jawa, tetapi bisa menjadi suatu ilmu silat hebat (hasil perenungan dan proses mersudi patitising tindak pusake titising hning atau mencari sampai mendapatkan keilmuan sejati melalui keheningan, melalui tapa nyepi, pasrah diri total, dari upasara wulung).

Sebagai contoh nama jurus "Obah Owah" yang berarti "gerak perubahan", gerak itu dinamis, gerak itu berubah, menyesuaikan, bisa ditempatkan dimanapun dalam kondisi apapun. Gerakan tidak terbentuk pada bentuk, gerakan mengalir, mengikuti perubahan, mengikuti arah angin, mengikuti kreteg hati.

Buku ketiga setelah Tembang Tanahair adalah Sukma Sedjati. Yakni pada akhirnya semua keilmuan silat yang dipelajari oleh upasara wulung berakhir pada sukma sejati, sukma Tuhan, sukma langit.

hehehe, kalo dilanjut habis bener-bener bisa 7 hari 7 malam...

salam.


Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

bluebex

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 123
  • Reputation: 9
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: TD
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #5 on: 30/09/2010 10:22 »
ada scan nya ngak mas MPCRB ... pengen baca euy ...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #6 on: 30/09/2010 11:25 »
bukunya saya punya, tapi kalau di scan kayaknya akan terbentuk aspek hukum ;) mending dibeli di Kwitang mas (kalo lokasi di jakarta). Pesilat ngga rugi deh baca buku-buku tersebut (SP, TT dan SS)...

Senopati Pamungkas (lama) terdiri dari Jilid 1 (1-25) dan Jilid 2 (26-40)
Tembang Tanahair (1-7) <-- ini yang saya punya :( harusnya kalo gak salah ada 15
Sukma Sejati (1-2) <-- ini yang saya punya ... hiks hiks hiks.. susahnya nyari di toko buku bekas :(

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

bluebex

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 123
  • Reputation: 9
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: TD
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #7 on: 30/09/2010 16:27 »
klo diperjual belikan baru ngak boleh mas ... klo ngescan utk pribadi boleh kali ... tapi jgn bil. bil. ya ... PM saia aja ...hehehe ...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #8 on: 30/09/2010 16:33 »
hahaha, bisa aja si mas ini... ;)

kalo di scan, berapa banyak ya? hahaha 1 buku bisa ada 100-an halaman... kalo 7 buku? berarti 700-an halaman. Kalau 1-25 berarti 2500-an halaman, total kurang lebih ada 7000-an halaman... hehehe

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Unknown

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 65
  • -Receive: 41
  • Posts: 1.486
  • Reputation: 94
  • I'm no longer a member of this forum
    • FORUM SILAT
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #9 on: 01/10/2010 07:04 »
saya punya eBook senopati pamungkas jilid I, tapi saya kurang tau apa boleh diedarkan secara gratis? kalau memang boleh dan tidak melanggar hak cipta pengarang saya akan kasih link download nya.

saya lupa wkt itu dpt nya dari mana...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #10 on: 01/10/2010 09:12 »
kalo nyari yang ilegal banyak mas ;)

rasanya 'paman Google' sudah cukup bisa menunjukkan linknya dengan kata kunci 'Senopati Pamungkas download'. hehehehe

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

bluebex

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 123
  • Reputation: 9
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: TD
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #11 on: 01/10/2010 10:44 »
oooo... hohohoho ... langsung ke TKP .... [top]

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #12 on: 01/10/2010 16:40 »
ada satu bab yang saya pribadi sangat suka. Saya salin kesini ya (agak panjang, tapi saya yakin sarat makna).

Sembilan Lubang dalam Tubuh

GENDHUK Tri masih meringis.

Sekujur tubuhnya seperti kena sengat binatang berbisa. Hawa dingin dari tubuh Naga Nareswara menyelinap ke dalam ulu hatinya. Hingga Gendhuk Tri megap-megap mengatur napasnya.

"Kelemahan Kakek Guru bisa saya baca."

 "Kamu tahu apa yang kupikirkan?"

 "Inilah Weruh Sadurunging Winarah. Tahu Sebelum Terjadi, tahu bahwa Kakek Guru pasti tak menduga bahwa dari suatu tarian, penari perempuan bisa menaikkan tangan lebih tinggi daripada pundaknya. Bahwa penari perempuan tak diduga akan mengangkat tinggi lututnya.

 "Karena Kakek Guru berpikir bahwa gerakan tarian bukanlah gerakan yang membuka kedua kaki dan mengangkat tangan lebih tinggi daripada pundak, saya menyelinap dari itu.

 "Dan nyatanya berhasil, meskipun tenaga Im Kakek Guru lebih dahsyat."

 "Siapa yang mengajarimu mengenali tenaga Im segala macam?"

 "Siapa lagi kalau bukan Kiai Sangga Langit?

 "Bukankah tenaga Im adalah tenaga dingin, yang tak bisa dilawan dengan tenaga panas. Yang hanya bisa diungguli dengan tenaga lebih dingin lagi? Kalau tak mungkin, tenaga dingin Kakek Guru harus dipancing menjadi tenaga lebih terasa dingin?"

 "Kamu tahu cara melatih tenaga dingin?"

 Gendhuk Tri menggeleng.

 "Saat itu dan sekarang ini, saya tak ingin mempelajari tenaga dingin. Itu sama saja dengan mempelajari Penolak Bumi. Saya lebih suka mempelajari tenaga Bumi, dibandingkan dengan tenaga Penolak Bumi."

 "Aneh, kenapa kamu menolak, Naga Alit?"

 "Karena saya tak mau menjadi kakek-kakek seperti Kakek Guru. Saya tak tahan harus bersabar berada di gua seperti ini menanti menerobos ke luar sekarang juga."

 "Kamu keliru, Naga Alit.
 

 "Mari kuajarkan tenaga Im padamu."

 
 Empat selendang Gendhuk Tri mengembang, menolak tangan Naga Nareswara yang terjulur. Akan tetapi sia-sia.

 Ujung jari Naga Nareswara telah menyentuh pundak. Gendhuk Tri menjadi menggigil.

 Seolah ada serpihan air gunung yang murni, maha dingin, menyelusup ke dalam tubuh Gendhuk Tri.

 Gigi Gendhuk Tri sampai bergemeletuk.  

 "Jangan menolak, jangan memperkirakan apa yang kulakukan, Naga Alit. Berpuluh tahun aku melatih tenaga ini, baru sekarang kusalurkan. Dewa di langit tak seberuntung kamu."

 "Saya tidak menolak, Kakek Guru," jawab Gendhuk Tri gemetaran. "Tetapi Kakek Guru keliru menyalurkan tenaga dalam." Naga Nareswara melengak. "Kamu tidak bergurau, Naga Alit?"  

 "Kalau nyawa saya rangkap tujuh, saya tetap tak berani bergurau dengan Kakek Guru. Kakek Guru menyalurkan lewat satu tenaga saluran."

 "Apa itu?"

 Naga Nareswara menarik kembali tangannya.

 "Dalam tubuh manusia ada sembilan lubang, dan Kakek Guru hanya menyalurkan lewat satu lubang."

 "Sembilan?"

 "Hawa sanga, atau sembilan udara bisa mengalir masuk ke dalam tubuh. Lewat dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, dua lubang di bagian bawah tubuh."

  "Ah."

 "Dalam ilmu Weruh Sadurunging Winarah, kita bisa memecah perhatian, membagi perhatian antara yang kita lakukan dan yang kita pikirkan.

 "Satu tangan membuat lingkaran, satu tangan lagi membuat kotak, satu kaki membuat segi tiga, satu kaki lagi..."  

 "Hebat.

 "Kita coba."

 Gendhuk Tri makin menggigil!

 Kalau tadi hanya satu tenaga, sekarang seperti kerasukan sembilan kali lipat!

 Kalau saja Halayudha mengetahui hal ini, ia bisa mati berdiri!

 Siapa nyana Gendhuk Tri bakal menerima tenaga murni dari Naga Nareswara?

 Inilah perjalanan nasib yang susah diterka!

 Gendhuk Tri sejak lahir selalu mengalami pergolakan batin dan terlihat dalam berbagai peristiwa yang menggetarkan. Menjadi anak-murid Mpu Raganata tanpa disadari. Kemudian berkelana dengan Jagaddhita yang tenar. Terkurung dalam Gua Lawang Sewu sehingga tubuhnya dipenuhi racun maha ganas. Dan akhirnya berhasil ditawarkan lewat tenaga murni oleh Upasara Wulung.

 Dan sekarang dijejali lagi dengan tenaga dingin dari Naga Nareswara.

 Memang, penyaluran tenaga Naga Nareswara berbeda dari penyaluran tenaga Upasara Wulung. Yang terakhir ini sengaja memberikan tenaga dalamnya untuk menguras tenaganya sendiri. Sedangkan Naga Nareswara tidak sepenuhnya begitu.  

 Meskipun memang dengan menyalurkan tenaga dalam, kekuatannya sendiri menjadi berkurang untuk sementara.

 Dalam hal ini kecerdikan Gendhuk Tri tiada tandingannya. Bahkan Halayudha yang sangat licik tak mampu berpikir seperti Gendhuk Tri.

 Dengan segala kepolosan dan kenakalannya, Gendhuk Tri bisa menyudutkan Naga Nareswara sehingga ia harus rela dipanggil sebagai "raja segala tikus celurut", atau terpaksa memanggil Gendhuk Tri dengan sebutan Naga alit.

 Dengan segala akalnya, Naga Nareswara terpancing mengetahui ilmu Weruh Sadurunging Winarah, dan sekaligus menganggap Gendhuk Tri sebagai cucu-muridnya.  

 Dan yang penting, dengan mengatakan babakan hawa sanga, Gendhuk Tri memperkenalkan cara mengatur pernapasan yang baru. Setidaknya bagi Naga Nareswara. Adalah tepat perhitungan Gendhuk Tri bahwa kemudian Naga Nareswara benar-benar menjajal. Ini berarti memberikan tenaga dalam lipat sembilan kali!  

 Sebenarnya memang ada sesuatu yang berlebih dalam diri Gendhuk Tri. Secara tak terterangkan dalam artian dimengerti oleh Gendhuk Tri, ia telah mempelajari Weruh Sadurunging Winarah sejak awal. Sehingga sebenarnya ia bisa mempelajari ilmu lawan, kelemahan lawan, tanpa disengaja. Pancaindranya bekerja seperti yang selama ini dilatih.

 Dalam kaitan dengan Naga Nareswara, secara tidak sadar Gendhuk Tri mengetahui bahwa lawan yang dihadapi adalah tokoh kaliber Eyang Sepuh atau Upasara Wulung di masa jayanya. Tokoh yang sakti mandraguna dan selalu haus ilmu kadigdayaan.  

 Lebih dari semua itu, Naga Nareswara memang sangat asing dengan lingkungan. Entah sejak kapan berada dalam gua di bawah tanah ini. Barangkali sejak dibangunnya Keraton Majapahit.

 Ini berarti tak mengetahui banyak kejadian di luar.

 Dan Gendhuk Tri dianggap Naga Nareswara memberikan banyak hal yang tak diketahui, yang sangat diperlukan dalam rangka membalas dendam atas kekalahan semua panglima perang dari Tartar.

 Begitulah yang terjadi.

 Tubuh Gendhuk Tri membeku seperti es di pucuk gunung. Baru kemudian Naga Nareswara beristirahat. Menunggu sampai Gendhuk Tri sadar, dan kemudian sambil menjajal ilmu silat lagi. Gendhuk Tri memberikan apa-apa yang diketahui. Beberapa gerakan, rahasia dari gerak dan tarian yang dimengerti.

 "Kiblat papat lima pancer adalah arah yang selalu dituju dalam gerakan silat maupun gerakan tari. Empat mata angin dan menjadi lima dengan yang berada di pusat.

 "Begitulah yang diajarkan kepada saya, Kakek Guru."

 "Aku mengerti, Naga Alit.

 "Kenapa Mpu Raganata sejak semula tak memberi nama pada jurus-jurus yang kamu mainkan? Apakah mungkin seorang tokoh menciptakan jurus tapi tidak memberi nama?"  

 Gendhuk Tri menghela napas.

 "Pasti ini bukan sekadar keanehan. Naga Alit!

 "Kitab Bumi saja dengan jelas-jelas merinci semua jurusnya, dan ada kidungannya."  

 Gendhuk Tri menghela napas lagi.  

 "Eyang Guru Mpu Raganata pada saat itu setara dengan Eyang Sepuh. Ilmu kedua tokoh itu telah mencapai puncak dari pengolahan diri sejati.

 "Tak bisa dibedakan mana yang lebih sakti. Tak bisa dibedakan mana yang lebih unggul.  

 "Yang bisa diketahui hanyalah, inti dasar kedua ilmu linuwih ini ada bedanya, tapi banyak miripnya.

 "Saya sadar kenapa saya tak bisa meresapi Tepukan Satu Tangan. Karena pada dasarnya ilmu ini masih mempercayai pemberian nama, meskipun isinya penolakan.  

 "Sebenarnya Weruh Sadurunging Winarah lebih dekat dengan Jalan Budha. Karena gerakan dalam jurus-jurus ini intinya adalah gerak. Bukan menirukan gerakan burung, belalang, atau harimau. Kibasan selendang tidak mencoba menciptakan tenaga seperti sesuatu. Akan tetapi murni sebagai gerakan.

 "Tarian itu adalah gerak.

 "Gamelan itu adalah bunyi.

 "Gambar itu adalah coretan."

 Naga Nareswara mengangguk. Dalam sekali. Menghela napas lega...
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

parewa

  • Administrator
  • Calon Pendekar
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 6
  • Posts: 601
  • Reputation: 50
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #13 on: 02/10/2010 14:13 »
Sedikit info mas.......
Ada sebuah perguruan silat tradisional jawa yang kaidah silatnya sangat mirip dengan yang ditulis oleh Pak Arswendo ini. Kayaknya beliau melakukan riset yang mendalam sebelum menulis bukunya. [top]

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #14 on: 02/10/2010 14:33 »
tentu saja mas :) tidak mungkin bisa menggunakan istilah-istilah sperti itu, menggunakan perlambang yang pas, dan bahasa kiasan yang pas apabila mas arswendo belum melakukan studi terlebih dahulu. :)

btw, perguruan apa ya mas kalau boleh tau dimana mas arswendo melakukan risetnya?

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal