+-

Video Silat


Usik Cikalong Pabuci #01
Silat Tradisional di Pencak Silat Word Championshi
perisai diri performance, Jambore pencak silat
Tarung Bebas PZH
Demo Silat Golok Seliwa
Silat HIP-HOP Beksi Tradisional H.Hasbullah
Silat Sambut in slow motion
ICE 2009, performance silat sibunder
Silat Margaluyu Pusat

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
31/10/2017 13:13

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

maenpo Cikalong by aki sija
25/02/2015 22:01

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair  (Read 30778 times)

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #15 on: 02/10/2010 17:03 »
Boleh dong syair di atas di babar... apa saja kaidah yang disebut di dalamnya... misalnya, apa maksud tenaga dingin, apa saja yang disebut sembilan lubang dan apa kepentingan masing-masing lubang?
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

pastorbonus

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 302
  • Reputation: 9
  • Tunggal Banyu Tunggal Ilmu
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #16 on: 03/10/2010 15:53 »
Semakin menarik... bisa dibabarkan para sesepuh?
Pertapaan Tunggulwulung, di bawah kaki gunung Arjuna

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #17 on: 04/10/2010 01:58 »
pada bab "Sembilan Lubang Dalam Tubuh" yang merupakan bab yang saya sangat sukai, disana terkandung banyak sekali falsafah sebagai berikut:

1. Gendhuk Tri, digambarkan sebagai orang muda yang cerdas, kreatif, inovatif, luhur, mengikuti alur kehidupan apa adanya. Pada akhirnya pemikirannya diakui oleh pendekar hebat. Keberaniannya berpendapat, keberaniannya menarik kesimpulan, menjadikan dirinya disebut 'Naga Alit' atau naga kecil dari guru naga (ini kelasnya sudah guru besar pada konteks cerita tersebut)

2. Naga Nareswara, ini sekelas guru besar suatu perguruan kalo di zaman sekarang, dengan legowo mau mengakui, tidak marah, tidak emosi, mengenai perbedaan pemikiran dengan orang muda. Ini ditunjukkan ketika Gendhuk Tri memberikan 'wejangan' pada dirinya. Ia mau menerima pengetahuan dari orang muda, mau mendengarkan dari orang muda (mungkin sesuatu yang sudah jarang pada zaman sekarang).

3. Gendhuk Tri mampu memancing rasa penasaran dari sesuatu yang belum dipikirkan oleh Naga Nareswara. Ini mengandung arti bahwa terkadang pemikiran orang muda bisa jadi melampaui gurunya (meski mungkin secara keilmuan belum mencapai tingkatan gurunya, tetapi ide pemikirannya bisa lebih tinggi dari gurunya) hingga akhirnya ia mendapat berkah tenaga dalam berunsur dingin dari Naga Nareswara. Ini mensimbolkan, bahwa 'sesuatu' itu akan datang sendirinya. Pengetahuan itu seperti puzzle, terkadang potongan lengkapnya ada pada 'tempat' lain. Ia yang tidak ingin berlatih tenaga dingin, maka bisa mendapatkan tenaga dingin. Kita sendiri terkadang mengejar sesuatu, tapi malah keliru karena kita sarat ambisi, dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa.

4. Kepolosan dan kesungguhan Gendhuk Tri di dalam belajar ilmu silat tidak mempermasalahkan pada penamaan, tetapi pada proses. Sehingga muncul pertanyaan dari Naga Nareswara kalau "apakah gerakan ini tidak bernama?". Gendhuk Tri tidak tahu gerakan ini untuk apa, tapi ia terus saja melatihnya dengan tekun, mengikuti pakem yang telah digariskan, dan pada akhirnya mencapai tahap 'weruh sadurunging winarah' atau 'tahu sebelum terjadi'. Disuruh menari ya menari, mengangkat selendang ya mengangkat selendang. Ini seperti gerak naluri, mengikuti kreteg hati, dan bisa tahu bagaimana gerakan musuh selanjutnya. Ini juga mengandung arti bahwa orang muda, tidak perlu menjadi tua terlebih dahulu untuk bisa memahami 'gerak naluri' atau 'jurus tanpa bentuk' atau 'aliran tenaga'. Asal dilatih secara tekun dan benar, ikhlas, lepas, maka hasilnya akan terlihat.

5. Pada kalimat ini: "Kakek Guru pasti tak menduga bahwa dari suatu tarian, penari perempuan bisa menaikkan tangan lebih tinggi daripada pundaknya. Bahwa penari perempuan tak diduga akan mengangkat tinggi lututnya. Karena Kakek Guru berpikir bahwa gerakan tarian bukanlah gerakan yang membuka kedua kaki dan mengangkat tangan lebih tinggi daripada pundak, saya menyelinap dari itu.", itu merupakan simbol bahwa gerakan harus disesuaikan dengan keadaan, tidak kaku, tidak melulu mengikuti bentuk. Mereka yang mengikuti bentuk, akan menjadi berbentuk dan dapat dikenal bentuknya. Tetapi mereka yang tidak mengikuti bentuk, akan sulit diperkirakan bentuknya oleh yang berwawasan bentuk.

6. Pada kalimat ini: ""Dalam ilmu Weruh Sadurunging Winarah, kita bisa memecah perhatian, membagi perhatian antara yang kita lakukan dan yang kita pikirkan. Satu tangan membuat lingkaran, satu tangan lagi membuat kotak, satu kaki membuat segi tiga, satu kaki lagi..." , itu menunjukkan bahwa keilmuan jawa ada pada laku dan pikir. Laku disebut lebih dulu dibanding pikir, simbolnya adalah kerjakan dahulu, mikir belakangan. Kalau di dalam konteks ilmu silat ini benar, jangan digeneralisir untuk semua keadaan. Terkadang banyak mikir, kenapa begini, kenapa begitu, malah tidak nemu-nemu intinya. Belajari ngelmu dari guru, tentu sang guru sudah memahami hakekat gerakannya. Jadi, lakukan saja apa yang diperintah, jangan kebanyakan mikir, karena sejak awal gerakan itu tercipta, sang guru sudah memikirkannya lebih dahulu.

7. Pada kalimat ini: "Dan yang penting, dengan mengatakan babakan hawa sanga, Gendhuk Tri memperkenalkan cara mengatur pernapasan yang baru. Setidaknya bagi Naga Nareswara.", itu menunjukkan bahwa keragaman cara pengolahan itu ada. Ini juga sekaligus sebagai simbol agar mereka yang belum memahami keilmuan secara matang, jangan coba-coba belajar keilmuan lain atau minta diturunkan keilmuan dari orang lain yang kurang mengerti dengan cara-cara transfer tenaga dalam secara instant.

8. Pada kalimat ini: "Lebih dari semua itu, Naga Nareswara memang sangat asing dengan lingkungan. Entah sejak kapan berada dalam gua di bawah tanah ini. Barangkali sejak dibangunnya Keraton Majapahit. Ini berarti tak mengetahui banyak kejadian di luar. Dan Gendhuk Tri dianggap Naga Nareswara memberikan banyak hal yang tak diketahui, yang sangat diperlukan dalam rangka membalas dendam atas kekalahan semua panglima perang dari Tartar.", ini mengandung arti bahwa keilmuan itu harus peka zaman, bisa melihat keadaan, melihat zaman. Setiap zaman ada perbedaan pengetahuan, ada penambahan pengetahuan, perbedaan cara berpikir, sudut pandang, dsb. Ini juga simbol bahwa kita harus terbuka menerima pengetahuan dari luar, tidak skeptis, dan legowo menerima.

9. Pada kalimat ini: "Tubuh Gendhuk Tri membeku seperti es di pucuk gunung. Baru kemudian Naga Nareswara beristirahat. Menunggu sampai Gendhuk Tri sadar, dan kemudian sambil menjajal ilmu silat lagi. Gendhuk Tri memberikan apa-apa yang diketahui. Beberapa gerakan, rahasia dari gerak dan tarian yang dimengerti.", ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap gerakan sangat penting. Lebih jauh lagi, pemahaman terhadap keilmuan. Seperti halnya olah nafas pada MP. Pada bentuk nafas pembinaan, melakukan dengan nafas normal dan nafas kering akan berbeda pada hasil, meski bentuk yang dilakukan sama. Pada beberapa gerakan pukulan beladiri lain, melakukan tangan terkepal dan tangan terkepal dengan kelingking sedikit maju, akan berakibat pada hasil akhir. Semua ada rahasianya. Rahasia ini bisa diketahui melalui dua proses, yakni diberitahu oleh yang sudah tahu, atau ditemukan sendiri melalui pengalaman.

10. Pada percakapan trakhir antara Naga Nareswara dan Gendhuk Tri sebagai berikut: ""Eyang Guru Mpu Raganata pada saat itu setara dengan Eyang Sepuh. Ilmu kedua tokoh itu telah mencapai puncak dari pengolahan diri sejati. "Tak bisa dibedakan mana yang lebih sakti. Tak bisa dibedakan mana yang lebih unggul.  "Yang bisa diketahui hanyalah, inti dasar kedua ilmu linuwih ini ada bedanya, tapi banyak miripnya.", ini menunjukkan bahwa semua pada dasarnya banyak miripnya. Keilmuan tanah jawa, keilmuan tanah sunda, keilmuan tanah minang, keilmuan tanah jepun, tartar, dsb. Yang membedakan adalah pada bagaimana keilmuan itu dicapai dari hasil olah pelakunya.

11. Pada kalimat terakhir: '"Tarian itu adalah gerak.

 "Gamelan itu adalah bunyi.

 "Gambar itu adalah coretan.", menunjukkan simbol bahwa memahami kesederhanaan itu penting. Kadang kita larut pada kerumitan, padahal sebenernya sederhana.

hehehe, seru juga yak... ;)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ajigineng

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 73
  • Reputation: 8
    • Email
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #18 on: 04/10/2010 11:33 »
heheheheh menarik... monggo di babar babar poro sesepuh ...

bluebex

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 123
  • Reputation: 9
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: TD
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #19 on: 04/10/2010 15:40 »
 [top] [top] [top]

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #20 on: 04/10/2010 15:54 »
heheheheh menarik... monggo di babar babar poro sesepuh ...
Waduh, apa bukan justru Mas Ajigineng lebih berbekal dan berkemampuan untuk menjabar sesari ilmu kelas tinggi macam ini...  ;D Saya gak heran loh kalau ternyata Lik Arswendo waktu menulis buku ini dulu risetnya di perguruan yang diasuh oleh Mas Ajigineng  [top]
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #21 on: 04/10/2010 16:16 »
5. Pada kalimat ini: "Kakek Guru pasti tak menduga bahwa dari suatu tarian, penari perempuan bisa menaikkan tangan lebih tinggi daripada pundaknya. Bahwa penari perempuan tak diduga akan mengangkat tinggi lututnya. Karena Kakek Guru berpikir bahwa gerakan tarian bukanlah gerakan yang membuka kedua kaki dan mengangkat tangan lebih tinggi daripada pundak, saya menyelinap dari itu.", itu merupakan simbol bahwa gerakan harus disesuaikan dengan keadaan, tidak kaku, tidak melulu mengikuti bentuk. Mereka yang mengikuti bentuk, akan menjadi berbentuk dan dapat dikenal bentuknya. Tetapi mereka yang tidak mengikuti bentuk, akan sulit diperkirakan bentuknya oleh yang berwawasan bentuk.

Awalnya bingung, tapi akhirnya ingat sesuatu. Ternyata kita memang perlu memahami dulu budaya di tempat filsafat ini berasal.

Saya ingat waktu sedang melekan di Jogja dulu, kami berdiam di nDalem Kalitan yang masih di sekitar keraton, waktu itu sudah jam 2 pagi.. Saya dapat wejangan pewayangan a la Jawa, disebutkan bahwa seorang ksatria itu tidak pernah mengangkat tangan melebihi bahu, berbeda dengan raksasa yang kalau bertarung sembarangan saja mengangkat tangan sampai ketiaknya kelihatan, saru. Bahkan dalam pertarungan sekalipun, seorang ksatria perlu memperhatikan tata krama... boleh-tidak... menunjukkan adanya aturan yang mengatur kehidupan manusia, bahkan dalam perang sekalipun. Ini diturunkan dalam tata tarian Jawa, khususnya tarian perempuan.

Di sini Gendhuk Tri mengeluarkan anti-thesis dari pernyataan itu...

Lucunya, entah kenapa, saya kok tidak merasa kedua pendapat ini bertentangan. :-\ Tapi jangan tanya bagaimana, saya nggak ngerti bagaimana jelasinnya... bukan berlagak bijaksana dan misterius, tapi ya begitu. Kedua pendapat ini menjadi sinthesis bagi saya dengan cara yang saya sendiri gak paham :-X

***

Pada beberapa gerakan pukulan beladiri lain, melakukan tangan terkepal dan tangan terkepal dengan kelingking sedikit maju, akan berakibat pada hasil akhir. Semua ada rahasianya. Rahasia ini bisa diketahui melalui dua proses, yakni diberitahu oleh yang sudah tahu, atau ditemukan sendiri melalui pengalaman.

Naaahhhh... untuk hal ini saya secara khusus banget mohon petunjuknya dooongggg...  [pray2]
Sejak bermain-main dengan silat, kepalan saya dengan sendirinya berubah menjadi kelingking sedikit maju. Nggak tau kenapa, terjadinya begitu saja. Yang saya rasakan pukulan model ini terasa sangat ringan dan titik fokusnya pun terasa lebih kecil, tidak lagi bertenaga di lengan, tapi di ujung kepalan. Saya gak tau kalau ada teori yang mendasarinya....

Mohon diajari kalau ada ilmunya yaaa? Maklum pesilat pemula dan nyasaran... :-[
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #22 on: 04/10/2010 17:23 »
kang Antara bisa aja... ;)

nyasaran kok pendekar muda... hehehehe...

justru kami yang muda, mohon bimbingan kang :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Unknown

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 65
  • -Receive: 41
  • Posts: 1.486
  • Reputation: 95
  • I'm no longer a member of this forum
    • FORUM SILAT
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #23 on: 04/10/2010 17:25 »
kepalan tangan dengan kelingking agak membuka membuat tangan jd fleksible, kalo terasa lebih ringan emang bener. dalam kaedah permainan tenaga, bentuk itu menjadikan tenaga "setengah". dari situ perubahan bentuk kepalan menjadi bebas apakah mau dibuka (buat nyolok, nangkep), lima jari ditekuk  (totokan pake buku jari-seperti di pukulannya maenan sabeni), jari telunjuk terlipat dan maju (ntuk totokan buku jari).

perubahan bentuk2 kepalan itu otomatis merubah tenaga yg digunakan, ini masuk dalam kaedah perubahan tenaga.
*maenan kong iyi dari kemanggisan bentuk kepalannya kyk gitu, jangan2 ngkong ane murid nya senopati pamungkas...? x-))

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #24 on: 04/10/2010 17:39 »
berbicara mengenai perubahan tenaga, ada satu bab pada buku Tembang Tanahair (lanjutan dari Senopati Pamungkas) yang juga tidak kalah menariknya. Saya kutip disini:

mengembara di sungai, tak menginjak daratan
karena asmara, pada perawan
tertambat pada pria
lebih mesra, lebih membara

gua ini adalah gua mata
seperti keraton di atasnya
tetapi lebih mirip nirwana
gua ini gua mata
bisa melihat, melirik, nyipati, denger, tumon, ngujiwat
mlerok, mleruk, menteleng, mecicil, mendelik, ngliling, ngulat-ulatake
begitulah pengerahan tenaga mata

tapi untuk apa ilmu silat
kalau itu menjauhkan diri dari ketentraman
persatuan dengan kehidupan yang sesungguhnya
lebih baik tidak diberitahukan
biar saja dibaca oleh burung, oleh ikan
biar saja ditemukan oleh mata hati

jagat telah penuh
tenaga bumi, tenaga air
jagat telah diisi
segala ksatria
segala senjata

biar saja ada buah yang ditanam
biar saja ada ikan yang berenang
berbiak untuk kehidupannya
untuk kehidupan orang lain

maut telah berlalu
seperti perahu yang lewat
seperti asmara yang basi
tinggal mata

***

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

keEntupTawon

  • Moderator
  • Anggota Tetap
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 130
  • Reputation: 4
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #25 on: 04/10/2010 20:24 »
"Segala apa di jagat ini bersumber pada angka sembilan. Kalau Paman tanya,
lubang tubuh manusia jumlahnya pasti sembilan. Kalau Paman bilang manusia hanya
mempunyai lima indria, pancadriya, itu berarti belum semua Paman rasakan.
"Inilah yang biasa disebut cara mengatur pernapasan Nawawidha, seolah seperti
pelipatan tenaga sembilan kali. Kalau belum mencapai pengerahan itu, berarti masih perlu
berlatih diri."
Kalau Anda sudah dapat mengatur dan memusatkan pikiran, kemudian mengembangkan KESADARAN yang kuat, itulah yang akan menjadi guru Anda. Sesungguhnya, guru Anda saat ini telah berada dalam diri Anda sendiri.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #26 on: 05/10/2010 08:47 »
seperti halnya sembilan rembulan atau sembilan matahari (Kiu Im Cin Keng dan Kiu Yin Cin Keng) dalam terminologi kungfu...

salam
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ajigineng

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 73
  • Reputation: 8
    • Email
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #27 on: 05/10/2010 17:06 »
" sareh dene isen-isening bumi(donyo) iku kabeh,kawengku dening patokan kang tetep,yoiku doyo tarik temarik , panjing-pinanjingan dening paboting jagat iki...siro pinaringan mripat mergo ananing suryo.siro pinaringan irung lan wadah napas mergo ananing bayu,siro pinaringan sikil amergo ananing bumi,siro pinaringan untu amergo ananing wit-witan ...dadi..!!! ananiro iku gegayutan ananing jagat dadi siro iku jagad. yen siro kepengein anyurupi ananiro ,yo kudu anyurupi ananing jagad kabeh...ateges siro kudu bisoho mangudi hanguwateke piranti songo kang ono ing badan iro, kanggo ngadepi urip iro, kukuhing saliro iro kang mung siji iki,sarono hanglakoni polah kang winasten...(bait bait kitab bumi.....)

keEntupTawon

  • Moderator
  • Anggota Tetap
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 130
  • Reputation: 4
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #28 on: 05/10/2010 17:59 »
nah yang ini bukan kutipan kitab bumi di SP... 


barangkali asik juga nih kalau diskusi bulanan ngundang Arswendo untuk membabar SP, TT dll

salam
Kalau Anda sudah dapat mengatur dan memusatkan pikiran, kemudian mengembangkan KESADARAN yang kuat, itulah yang akan menjadi guru Anda. Sesungguhnya, guru Anda saat ini telah berada dalam diri Anda sendiri.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #29 on: 06/10/2010 00:21 »
@ bung keEntup tawon.
Setuju berat. Cuma biar nanti dengan bp Arswendo lebih mudah nyambung, saya kira kita perlu persiapan dulu dari kangmas Ajigineng.

@ kangmas Ajigineng.
Berhubung tubuh pribadi kita berkait nyambung/menyatu dengan jagat/alam: surya, angkasa/bayu, bumi, tetumbuhan, dengan piranti/anggota tubuh yang lebih pas berhubungan dengan unsur alam itu. Sementara ki dalang kok selalu mengatakan, kalau sedang mesubudi, sinatria nutup babahan howo songo ?
Mohon dibabar lebih lanjut.

Salam.

 

Powered by EzPortal