+-

Video Silat


Silek Minang Pandeka Cupak Hosra Afrizoni 1
Tarung Bebas Genggong
Silat Tungdor Margaluyu Pusat
Festival Silat Kampung Jampang - Beksi Hasbullah #
Margaluyu Pusat - Performance perguruan di acara u
Silek Kumango
vidioku
"THE SILAT FIGHTING" (last scene,part 1)
GGBD - Demo / Aplikasi #3

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

maenpo Cikalong by aki sija
25/02/2015 22:01

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair  (Read 34101 times)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #30 on: 06/10/2010 01:27 »
jd smakin menarik. jk SP berdasar pd riset, mk yg prtama dibabar haruslah kitab bumi krn dianggap babon sgla kitab.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

keEntupTawon

  • Moderator
  • Anggota Tetap
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 130
  • Reputation: 4
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #31 on: 06/10/2010 09:43 »
Mahabanda
Tujuan: mengunci energi agar tidak terbuang waktu berbicara atau buang air.  Penguncian dilakukan pada anus, pusar, dan tenggorokan.
1.   Posisi: duduk santai, kepala ditinggikan seperti digantung ke atas.
2.   Napas: buang sepenuhnya (napas kosong), boleh dengan membungkukkan badan dulu, lalu tegakkan kembali.
3.   Kcari mudra (lidah nempel di langit langit)
4.   Tenggorok/dagu tarik kedalam, otomatis dada terangkat, kunci
5.   Perut tarik ke dalam, angkat ke atas, kunci
6.   dubur dikerutkan, kunci
7.   bertahan selama mungkin,
8.   saat melepas, lepas dulu kunci dubur dan perut (boleh bersama), baru kunci tenggorokan,. baru boleh tarik napas.

Tingkat Lanjutan, sebelum kunci dibuka:
8.   ayun tangan dari bawah ke arah luar ke atas kepala
9.   ibu jari masuk ke kedua lubang telinga, telunjuk menutup mata, jari tengah menutup menekan hidung, dan jari manis serta kelingking menutup mulut
10.   bertahan selama mungkin, saat melepas, lepas dulu kunci pada tangan, kemudian pada dubur dan perut (boleh bersama), kemudian pada tenggorokan, baru tarik napas.
Kalau tidak tertahan, sebelum tarik napas, utamakan lepas dulu kunci di dubur dan kemudian di perut, lalu tarik napas, kalau tidak tenggorokan akan terasa sakit.
Usahakan lakukan Mahabandha untuk menutup setiap kali latihan.
Kalau Anda sudah dapat mengatur dan memusatkan pikiran, kemudian mengembangkan KESADARAN yang kuat, itulah yang akan menjadi guru Anda. Sesungguhnya, guru Anda saat ini telah berada dalam diri Anda sendiri.

ajigineng

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 73
  • Reputation: 8
    • Email
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #32 on: 06/10/2010 09:56 »
ketika orang melakukan mesu budi..melakukan pensucian diri..yang ditutup hanya hawa nafsunya...bukan kemampuan indranya.... agar kemampuan indranya ini bisa menerima "wahyu sejati"...bukan wahyu menurut nafsunya,menurut jalan pikirianya......apapun hasilnya hanya semata anugrahanin Gusti Ingkang Moho Welas Asih...." pikir siro   kang mengku marang raganiro, raganiro hamengku pikire, pikir iro miningko kemudi lan anuntun marang raganiro,..diwaspodo marang empan lan tuwuhing piki iro... ojo was sumelang atiniro.. angudi kasmapurnaning rogo lan kasampurnaning jiwo.."
 hehehhehe " apa yang saya tulis ini tidak ada hubungnaya kok dengan SP apa lg kok sampai perguruan saya pernah dijadikan riset ama Arswendo...kami ini perguruan ndeso...!!!"
kami juga tidak akan mencoba memrip miripkan apa yg ada di buku SP dengan apa yg kami punya....kalupun ada kemiripan cerita atau apapun saya rasa ituhanya suatu kebetulan saja....jadi appaun yg ada di SP ya itu imajinasi dr si Arswendo.....!!!
jadi monggo porosesepuh yang lebih mengerti dan mumpuni silahkan dilanjut di babar....@mas Suprapto, MAS mpcrb, Entup Tawon, Antara...dan yang lain....sumonggo saya akan menyimak saja ..

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #33 on: 06/10/2010 10:37 »
Benar sekali mas ajigineng... Ini adalah cerita silat. Kebenaranya relatif, kecuali dibuat oleh praktisinya langsung (guru besarnya) yang memang menguasai segala aspek keilmuan yang dimilikinya.

Let's having some fun dari apa yang tertera pada buku tersebut.

Di dalam pemikiran saya, apabila yang dikatakan adalah benar bahwa SP didasari pada riset sebelumnya pada suatu perguruan, maka apa yang dikatakan di dalamnya tidak melulu fiksi. Ada bagian-bagian yang merupakan 'penggalan' dari keilmuan dimana pengarangnya berinteraksi dengan 'guru' perguruan dimana ia menimba riset.

Dan kalau memang pada forum SS ini bersedia dibabar oleh anggota/guru paguron dimana pengarangnya berinteraksi, akan sangat luar biasa. Kita jadi bisa tahu mana yang fiksi dan mana yang realita.

Sebab jika itu murni fiksi, maka pengarangnya memiliki olahpikir yang jenius di dalam memberikan gambaran, kiasan, simbol-simbol, dan wawasan mengenai apa yang ia gambarkan. Ini sepertinya agak menyulitkan untuk diterima mengingat pengarangnya (bisa jadi) bukanlah pesilat atau (diinformasikan) sebagai anggota pada suatu perguruan silat.

Kalau kita mencermati membaca SP, kita akan dibawa pada kondisi dimana 'Kitab Bumi' dibabar, dijelaskan, kidungan demi kidungan (meski tidak utuh semuanya karena (bisa jadi) ada bagian yang dibuat fiksi agar lebih menarik) sehingga mampu melahirkan beragam 'kesaktian' dari pada mereka yang mempelajarinya (entah satu-dua kidungan, atau lebih). Pengalaman-pengalaman mereka yang mempelajari 'kitab bumi' dijelaskan dengan cukup gamblang oleh pengarangnya meliputi beragam aspek, dari mulai efek berlatih, pemahaman pemikiran, terobosan, bagaimana menangkal keilmuannya, dsb. Mereka yang memahami nuansa falsafah tanah jawa tidak lantas dengan serta merta bisa 'menyambungkannya' dengan aspek silat. Kadangkala filosofi ya berhenti pada filosofi. Tapi pada buku ini, filosofi bisa digambarkan dengan sangat baik pada aspek silat. Dan ini tidak mungkin bisa didapat dengan baik (penggambarannya) kecuali pengarangnya berinteraksi dengan orang yang menguasai.

Seperti halnya diceritakan tokoh bernama Pendeta Ngwang dari Tartar yang belajar jurus-jurus untuk mengalahkan kitab bumi. Ada anti-thesis disini (dalam bahasa kang Antara) yang juga berarti bahwa paguron tersebut juga mengetahui bagaimana anti-thesisnya (serangan penangkalnya). Dalam kondisi ini, pengarang sudah pasti berinteraksi dengan para pelatih atau guru dimana ia meriset dan (dengan kebesaran hati) mereka membabarkan keilmuannya untuk dicatat. Sebab kita bisa saja 'mengarang' suatu gerakan dan penangkal gerakan tersebut dalam bahasa kata-kata, tetapi peresapan maknanya tetap tidak mungkin dalam. Kecuali ia praktisi sungguhan atau ia mendapat informasi dari pihak ketiga.

Menariknya, pada lanjutan bukunya (Tembang Tanahair) justru kitab bumi yang menjadi dasar keilmuan, dilupakan untuk kemudian ditransformasi menjadi bentuk lain. Disini ada faktor inovasi keilmuan dan transformasi pemikiran (jika memang pada Tembang Tanahair juga dilakukan riset) untuk menuju efektivitas dan kesederhanaan. Dan tahap ini sudah menunjukkan melampaui tingkat dari kitab bumi beberapa level. Pada buku lanjutan ini, kitab bumi seolah menjadi 'anak kecil' bertemu dengan keilmuan yang sudah bertransformasi menjadi 'dewasa' (meski sumber awalnya sama). Kitab Bumi, berisi 'kidungan'. Tetapi bertransformasi menjadi 'Tembang'. Ini seperti penggunaan kata 'KAMU' dan 'SAMPEYAN'. Maksud artinya sama, tetapi sangat berbeda pada rasa hormat dan tingkat.

Sebagai contoh, dikisahkan ketika Danyang Badadung (murid dari Upasara Wulung, yang menciptakan Tembang Tanahair) bertemu dengan mereka yang sudah sakti dari mempelajari Kitab Bumi dan terjadi pertarungan. Danyang Badadung menggunakan jurus yang sama dengan apa yang tersirat pada kitab bumi. Efeknya, musuh yang belajar jurus yang sama kesulitan menangkal serangan dan hasil akhirnya kalah. Padahal jurus yang sama ditangkal dengan jurus yang sama. Ini menarik, sebab kadang kita belajar teknik untk mengalahkan teknik dari beladiri lain, tetapi ketika teknik lawan berhadap dengan teknik yang sama dengan teknik kita (sama persis), kita jadi panik dan kesulitan. Pengarang berhasil menggambarkan kondisi ini dengan sangat baik dan sangat realistis untuk menunjukkan kalau pesilat bisa kalah oleh teknik mereka sendiri.

Seperti pada contoh jurus "Idal-idul idal inah, ipat-ipit ipat inah", itu adalah permainan anak-anak khas Jawa dimana pelakunya melakukan gerakan lucu pada pinggulnya untuk kemudian diikuti oleh yang kalah. Yang menarik tidak hanya penamaan jurusnya, tapi ini adalah teknik hindaran lembut dan serangan 'yg menimbulkan efek memalukan' pada lawan karena menggunakan goyangan pinggul. Efeknya jelas, lawan merasa terhina dan tersulut emosi. Dengan demikian, gerakan lawan menjadi lebih kacau dari sebelumnya. Diserang, terdorong, dengan goyangan pantat (gidulan) sangat memalukan bagi ksatria atau pesilat. Ini sama kurang lebihnya dengan mendorong dada pada lelaki.

Ada lagi jurus bernama "Gebyah Uyah Pada Asine", atau garam yang sama asinnya. Jurus ini akan membuat musuh terjebak pada pemikirannya sendiri yang nantinya menyamakan gerakan lawan dengan gerakan yang ia pikirkan. Padahal tidak demikian. Uyah/garam itu berbeda keasinannya satu sama lain. 'Rasa asin' yang berbeda inilah yang menjebak lawan. Disini terjadi permainan pikiran. Lawan yang menganggap semua uyah/garam itu asin, akan menyamaratakan apa yang dia 'rasa'. Hasil akhirnya, 'rasa' lawan menjadi tertipu. Cool isn't it? :) Selama ini kita melakukan gerakan untuk 'menipu' gerakan. Tapi jurus ini mengambil filosofi 'menipu' rasa lawan.

Pada Senopati Pamungkas (SP) aspek-aspek wadag diulas dengan gamblang. Pesilat bertarung dengan 'aturan' sebagaimana penari wanita kaputren tidak boleh mengangkat kaki setinggi mata kaki, ksatria tidak boleh mengangkat kaki lebih dari betis, dan sejenisnya. Setiap pesilat tanah jawa, tunduk pada norma tersebut, meski ia bertarung dengan pendekar luar jawa. Pada buku SP tersebut, pertarungan lebih mudah diikuti, karena berada dalam kebiasaan setempat yang sesuai aturan umum. Tapi menariknya, ini tidak terjadi pada Tembang Tanahair, dimana efektivitas gerakan menjadi lebih bermakna. Simbol-simbol dan kiasan yang digunakan di dalam pertarungan menjadi lebih rumit untuk dipahami meski bahasanya semakin umum. Seperti misal kidungan ini:

kecepatan itu mengalahkan jarak
kecepatan itu waktu
pertanda keunggulan

berkedip bisa lama
jika masih bisa dihitung

ada lima kedipan,
yang pertama
hilang dalam kedipan
yang kedua
terlambat dalam kedipan
yang ketiga
isyarat dalam kedipan
yang keempat
mata yang mengedip
yang kelima
menghilangkan dengan kedipan

meringkas waktu
kecepatan kedipan
menghilangkan waktu
itulah kedipan

***

Sada kidungan tersebut seolah pengarangnya ingin menunjukkan (dari sumber ia meriset) bahwa keunggulan pesilat adalah dalam meringkas waktu. Itulah kemenangan. Jarak tidak menjadi masalah, selama kita menguasai waktu. Disimbolkan dengan kedep, kedipan, atau mengedip.

Pada penerapannya (hilang dalam kedipan), artinya hanya karena kita berkedip, betapapun cepatnya, kekuatan akan hilang musnah. Sasaran menjadi tidak kelihatan. Dengan kata lain, pada saat itu, berkedip pun kita tidak boleh. Di dalam pertandingan IPSI atau kejuaraan silat juga demikian. Dengan mengamati pola kedipan musuh, kita bisa 'mencuri' serang. Sekedip saja terlambat, maka fatal akibatnya. Penggambaran ini sangat realistis menurut saya.

Pada kondisi 'terlambat dalam kedipan', hampir sama dengan yang pertama. Kalau kita berkedip, berarti sudah terlambat. Apa yang kita arah sebelumnya menjadi meleset karenanya.

Pada kondisi 'isyarat dalam kedipan', seolah ingin menunjukkan isyarat tertentu. Dalam pengerahan tenaga, kita harus awas apa yang digerakkan lawan. Apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan oleh lawan. Karena semua gerakan itu sebenarnya memberikan isyarat apa yang akan dilakukan kemudian.

Pada kondisi 'mata yang berkedip', disitu persoalannya ialah kecepatan bergerak yang sama dengan berkedipnya mata, dimana tenaga yang kita salurkan sudah mengenai sasaran.

Pada kondisi terakhir 'menghilang dalam kedipan', berarti mengerahkan seluruh tenaga dalam yang ada sebagai pengerahan yang terakhir, sebagai pertaruhan yang terakhir.

hehehe, benar-benar seru dan menarik sekali buku ini bukan? :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Taufan

  • Moderator
  • Calon Pendekar
  • **
  • Thank You
  • -Given: 6
  • -Receive: 27
  • Posts: 506
  • Reputation: 76
    • Email
  • Perguruan: Bandarkarima
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #34 on: 06/10/2010 11:25 »
Assalamu 'alaikum,

Mantafff... akhirnya mas Ajigineng sudi kembali turun ke forum ini. Welcome back mas!!!  [top] [[peace2]]
Thanks to mas mpcrb  [top]

Wassalam,
TP

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #35 on: 06/10/2010 13:24 »
hehehe memang seharusnya demikian kang Taufan. :) biar kite-kite yang muda ini bisa dapet pencerahan dari sesepuh.

argumen saya simple saja, pada beberapa komik bergambar terkenal seperti Ashura, Chinmi, Kenji (saya ambil 3 contoh saja, karena ini yang paling realistis), pengarangnya melakukan riset terlebih dahulu.

Pada komik bergambar yang berjudul Ashura (edisi aslinya bernama Shura No Mon), dibuat oleh Masatoshi Kawahara yang juga merupakan praktisi beladiri karate. Ketika ia akan merancang komik tersebut, ia melakukan riset pada teknik-teknik lain seperti Karate aliran lain, Kick Boxing, Brazillian JiuJitsu, Gulat, Sanbo, KungFu, dsb. Bahkan pada nomor 31 (edisi terakhir) sempat terhenti beberapa bulan karena ia menderita sakit cukup parah di Brazil karena sedang meneliti Brazillian JiuJitsu dari keluarga Gracie (disebut sebagai Gracielo). Hasil akhirnya, komik bergambar yang 'hidup' dalam menggambarkan teknik. Tidak asal mengarang, didasar pada praktisi yang sesungguhnya, baik karakteristik gerakan maupun makna.

Pada komik Kenji juga demikian. Pengarangnya sangat memahami seluk beluk kungfu China, mengumpulkan data-data dari sana-sini sejak awal waktu hingga abad modern terakhir. Termasuk 'gerakan-gerakan bawah tanah' seperti organisasi rahasia juga disinggung disini.

Komik-komik bergambar tersebut, akan dengan mudah diikuti oleh pembaca karena adanya aspek visual. Akan tetapi ini menjadi berbeda ketika menjumpai Senopati Pamungkas atau Tembang Tanahair. Memvisualkan gerakan dengan kata-kata yang sarat makna, hanya bisa dilakukan apabila sudah mendapat cukup pengetahuan. Tanpa itu semua, mustahil gerakan bisa ditulis dengan rapi, runut, sarat makna. Tanpa perenungan yang mendalam, akan sulit menemukan intinya. Sulit rasanya dipercaya apabila ini bisa dilakukan bukan oleh pesilat yang cukup mumpuni. Jadi argumennya (saat ini) memang mengarah pada Arswendo melakukan riset, mencatat, mendengarkan, melihat, berinteraksi, atau bahkan mencoba sendiri. Sehingga ia mendapat pengalaman-pengalaman. Lalu pengalaman ini ia tuliskan. Kira-kira demikian. Mohon maaf jika ada yang tersudut karenanya :) lha wong awalnya hanya masuk pada cerita silat, tapi kemudian ada yang mengatakan kalau ini berasal dari perguruan mas ajigineng. Punten ya mas, saya tidak bermaksud mengarah kesana. Saya pribadi murni melihat dari aspek cerita silat (hiburan). Itu saja.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ajigineng

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 73
  • Reputation: 8
    • Email
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #36 on: 06/10/2010 16:15 »
upasara bisa menemukan kesejatian sebuah ilmu melalui proses=laku yg tdk lazim di lakukan seorang/pendekar pada umunya..dr kecil di sdh di tempa dengan kedisiplinan ala militer...sdh di isi otaknya dengan segal pengetahuan melalui membaca dan wejangan dr gurunya Pandu..... di dasar inilah semua pendekar yg ada di SP dan TTA memiliki kesamaanya yaitu ketekunan dlm mempelajari keilmuanya,keseriusan,kesungguhan...krn kuncinya di laku... itulah kesadranya bahwa ilmu silat bukan ilmu teori tetapi ilmu laku..walupun membaca kitab sehebat apapun tampa laku maka ilmu itu tdk akan nyawiji .... laku ini di orang jawa bisanya di jadikan jawaban dr segala pertanyaan... punya maslah dengan pertanian,klg,kerajaan dll selalu dilakukan dengan "laku" yaitu lakunya bathin dan lakunya raga.... inilah yg menurut saya di SP dan di TTA yg luarbiasa... disini jalas bahwah silat bukanlah klenik,mitos...tetapi sebuah ilmu kasunyatan....
dlm mempelajari setiap jurus,langkah ,napas...upasara tdk pernah terpaku pada hasilnya....tetapi terus belajar terus berlatih sehingga dirinya sendiri tdk pernah merasa sakti,hebat...ini sungguhjarangterjadi di jaman sekarang baru bisa 1,2 jurus sdh membusungkan dada,baru dapat medali emas sdh merasa tak terkalahkan,br bisa menghancurkan sesuatu dengan tanganya serasa kalu mukul orang pasti klenger.....(saya pribadi merasa malu).... inillah bentuk "ideal" dr seorang pendekar....tidak pernah mengutamakan kekutanya tetapi budiperkerti,lembah manah,andap asor...yg penuh dengan filsafat hidup....ini yg jarangterjadi di perguruan2 saat ini melandasi anak didiknya dengan ketinggian budi pekerti,filsafat,angger2 urip, sebagai dasar laku seorang pendekar.....itu yg saya dpt dr SP....

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #37 on: 06/10/2010 17:44 »
yang menggelitik pertanyaan sebenarnya apakah pengarangnya melakukan riset terlebih dahulu atau tidak. :) itu kang yang mungkin ingin ditanyakan oleh rekan-rekan (termasuk diri saya sendiri). Jika memang pengarangnya tidak melakukan 'laku' berupa riset, darimana ia masuk pada kesimpulan seperti yang mas ajigineng paparkan. Tentunya kalau paparan itu datang dari mas ajigineng, saya mahfum karena datang dari seorang pesilat. Tetapi apabila rancangan kesimpulan ini datang dari seorang Arswendo, yang (bisa jadi) bukan seorang pesilat, tentu agak mengherankan juga.

Menghasilkan pola pemetaan silat yang demikian dalam, itu bukan pekerjaan seorang seniman syair sekalipun. Apalagi nyata-nyata menggunakan falsafah jawa yang sangat kental. Tanpa interaksi dari sumber aslinya, memetakan falsafah-falsafah jawa, tentu sangatlah sulit.

hehehe, maksudnya kesitu kangmas ajigineng. :)

memang enaknya ya bertanya langsung kepada pengarangnya, atau malah menghadirkan untuk tatap seminar, tetapi apabila ada yang legowo untuk memberikan penjelasan di forum ini bahwa dari perguruan X pengarangnya menimba riset. Tentu ini menjadi lebih menarik. Konsekwensinya ya berarti akan semakin 'ditanya' sama rekan-rekan yang lain. Hehehe...

tapi sekali lagi, ya sudahlah, kita anggap saja sebagai cerita silat hasil buah karya dari Arswendo Atmowiloto. :) Masing-masing bebas menafsirkan sesuai kadar pengetahuannya.

GRP buat kang ajigineng...

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #38 on: 06/10/2010 20:41 »
 Kangmas Ajigineng,
 kasinggihan.

Menjadi lebih memaknai kata bijak Jawi,
" ngelmu iku kelakone kanti laku"
Ngelmu bisa terlaksana dengan melaksanakan laku/latihan. Mungkin perlu dijelaskan, apa ada beda, ngelmu dengan ilmu.

Diperkuat dengan,
" sopo temen bakal tinemu",
Untuk menemukan hasil, harus dilakukan dengan jujur, ikhlas dan sungguh2.

Masalah hitung2an  hasil, bahkan dalam agamapun orang bisa salah presepsi. Kalau sudah melaksanakan suatu prosedur syariat tertentu, terus menganggap PASTI akan mendapat pahala tertentu, karena itu janji Allah. Bisa menjadikan pongah karena merasa sudah melebihi orang lain.
Padahal belum tentu orang tersebut memang sudah benar memenuhi persyaratan untuk mendapat pahala. Kepada siapa hidayah akan diberikan, itu hak Sang Pencipta. Kita hanya boleh melakukan "laku"nya  dan berharap2 cemas akan hasilnya.

Ternyata pada falsafah taichi ada kemiripan. (saya baca di supplemen koran di Yogya, seminggu sekali untuk komunitas Tionghwa). Yang intinya,
 
"lakukan terus, tak perlu nunggu2 hasilnya, itu akan datang sendiri"

Seperti biasa, agar lebih afdol, diberi contoh menyangkut peruntungan. Alkisah sebuah keluarga pedagang beras. Memiliki warung beras kecil didepan pasar. Menggelar beberapa kotak kayu berisi beras sesuai jenisnya, dengan beberapa karung beras persediaan.
Keluarga ini dikenal tekun, jujur, berhati hati dalam kualitas dan timbangan. Mensyukuri hasil  yg didapat sedikit demi sedikit. Tidak pernah terpeleset utang, karena salah memperhitungkan hasil yang akan dicapai.
 Tanpa ada perubahan yg signifikan pada tampilan warung, orang2 baru sadar kalau merk berasnya mendominasi supermarket, dan warung tersebut ternyata mendominasi supply beras ke Dolog.

Dalam terbitan edisi seminggu berikutnya, ada pertanyaan, bahwa pada jaman sekarang, masalah dagang, bisa dirancang, disetting suatu plan bisnis, dengan perhitungan modal, pemasaran ofensip, taktik dagang yang lihay dst, prestasi itu bisa diperoleh dengan cepat.  Pertanyaannya,  apakah bisa berlaku pada latihan taichi.

Sayangnya hanya dijawab oleh penulis artikel, bahwa biarpun bisa "sundul langit", kalau fondasinya tidak kuat, bisa jatuh "kanteb".

Hehehe, rupanya memang perlu bridging, antara falsafah kawicaksanan, dengan pemikiran "modern" saat ini.

Kemudian mengenai fungsi pikir/nalar dalam berlatih badan dan rasa, memang nalar berfungsi sebagai pengarah, ngarah-arah.
Apabila kita mikir/meniatkan sesuatu, maka seluruh tubuh seisinya akan menyesuaikan diri. Kalau niatnya jelek, ya tubuh akan bereaksi, dan orang lain akan mendeteksi hawa jelek.
Meski terkadang tubuh seperti mengalami "trance" dalam gerak, nalar harus tetap menjadi komando tertinggi.
"Oleh ngeli nanging ojo keli",
( boleh ikut arus tenaga tapi jangan hanyut).
Karena kalau mengikuti gerak dgn trance tanpa nalar, sama dengan "kesurupan". Hehehe...
Maturnuwun.

Salam.

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #39 on: 07/10/2010 07:24 »
Hihihihi... ini yang bikin saya betah sama yang tradisional, dekat sama pemikiran dan cara pandang bangsa sendiri. Biarpun tetep nggak ngerti dan nggak bakal bisa sakti, yang penting punya akar tempat berdiri...

Silakan dilanjut... saya duduk di pojokan sambil megangi kamus Bahasa Jawa, Bahasa Kawi, dan Bahasa Japhe Methe...  8) * soalnya google translator-nya belon ada *
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #40 on: 07/10/2010 08:57 »
ada satu pertanyaan yang terkadang menggelitik. Beberapa dari rekan, senior, dan sesepuh, mengatakan kalau belajar silat adalah faktor jodoh. Ini saya yakin sepenuhnya. Tetapi ketika kita melihat ada silat yang tadinya ada di Indonesia, kemudian hilang, dan kemudian 'berpindah' ke luar negeri, apakah berarti silat tersebut tidak berjodoh dengan kita, dengan kurang lebih 250 juta-an rakyat Indonesia? Atau memang jodohnya ditakdirkan dengan orang bule sono?

mohon pencerahan para sesepuh...

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ajigineng

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 73
  • Reputation: 8
    • Email
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #41 on: 07/10/2010 09:07 »
top pendekar MP ..pengetahuanya sungguh luar biasa nih... monggo dilanjut @mas Antra..jangan salah ada suatu cerita...@ada seorang murid dlm sebuah perguruan dia paling bodo.susah nagkep apa lg kalu harus bergerak.... sang guru dengan bijak tampa membuat dia minder memberikan sebuah motifasi... "daharen opo kang dadi pangandikanku iki dadekno kulit daging manjing sak wiji ono ing bada mu...!!!".....sang guru akhirnya membebaskan dia dr latiah sbgm murid lainya si murid tadi mendapat latiah hanya mengamati,mendengar saja apa yg di ucapkan guru dan apa yg dilakukan para murid..... suatu sang guru bilang pada si murid coba kamu gerkan jurus ini..guru,,saya tdk bisa dibentak si murid ini polahooo...!!! krn takut simurid bergerak seketika dng cepat ternyata dia bisa mengerakan apa yg jadi perintah sang guru, dan dia pun bisa mematahkan sebuah beda yg menurut dia itu tdk mungkin bisa patah......si murid bertanya pada sang guru kenapa saya bisa...sang guru bilang karena kamulatihan....heheheheh
ternyat simurid tetp tdkmenyadari juga....bahwa dirinya sdh dilatih dengancra yg berbeda dan dia menjadi mumpuni.........

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #42 on: 07/10/2010 09:30 »
@mas ajigineng, kalau melihat cerita ini, ada di dalam Tembang Tanahair buku ke-2 (karena memang topiknya mengenai buku-buku tersebut).

Dikisahkan seorang pemuda ndeso, bebal, ngga ngerti apa-apa, ngga ngerti tata krama, ilmu surat, ataupun ilmu silat. Pemuda ini bernama Racek, berbada tinggi besar (berkebalikan dengan arti namanya 'racek' yang artinya cacing kecil). Suatu hari Racek terjatuh pada suatu gua. Dan disana pernah berdiam seorang tokoh sakti bernama Dewa Maut. Yang karena saking saktinya dan tidak bertemu lawan, maka ia seenaknya saja menuliskan keilmuannya pada dinding gua. Dewa Maut mencorat-coret sekenanya pada dinding gua. Dengan ketidakmengertian Racek, dan ia tidak menganggap itu ilmu silat, dianggapnya hanya sebagai 'teman' di tengah kesendiriannya. Maka ia mulai melihat-lihat gambar, mengikuti tulisannya, dan menirukannya tanpa ada pertanyaan. Alamiah, mengalir begitu saja, tanpa motif, tanpa ambisi.

Coretan-coretan pada dinding gua hanyalah teori mengenai ilmu tenaga dalam, dan bukan ilmu gerakan jurus. Singkat cerita dia sudah belajar dan kemudian berhasil keluar dari gua. Di tengah perjalanan dia berteman dengan seorang Adipati bernama Kedhe yang kemudian keduanya mengalami pertarungan dengan pasukan dan orang jahat. Pada kondisi tersebut, ia bisa melompat, bisa menendang, bisa memukul, mencakar, menyibak, menebas, menyikut, membopong, dsb. Sesuatu yang tidak pernah dialaminya sebelumnya. Ditanya oleh lawan (bernama Guru Kreta) : "Siapa kamu! Dari perguruan mana kamu?"

Jawab Racek, "saya tidak punya perguruan"

Guru Kreta: "Tidak mungkin. Gerakan sepert itu dan pengerahan seperti itu hanya bisa dipelajari dari seorang guru sakti. Katakan! Dari mana asal perguruanmu?!!"

Jawab Racek, "aku belajar di gua"

Adipati Kedhe menimpali, "Guru Kreta, Racek memang mengatakan yang sesungguhnya. Dia tidak berasal dari suatu perguruan apapun"

Guru Kreta, "cara pengerahan tenaga dalamnya sangat terstruktur meski gerakannya kaku. Setidaknya dia pasti pernah belajar pada suatu perguruan mengenai olah tenaga dalam".

Racek memandang Adipati Kedhe dan berkata, "aku tidak mengerti jurus"

Adipati Kedhe, "tidak apa-apa. Bukankah tanpa belajar jurus kamu sudah bisa menendang? Bukankah tanpa belajar jurus kamu sudah bisa memukul? Bukankah tadi kamu membopong tubuhku tidak perlu diajari?"

Guru Kreta, "apa mau kamu aku ajari?"

Racek, "Tidak. Mulutmu busuk"

Guru Kreta, "mulutku memang busuk. Yang berhak hidup bukan hanya yang bermulut baik, yang bermulut busuk juga berhak hidup. Busuk atau tidaknya tidak ada bedanya."

Racek, "aku tetap tidak mau"

dst dst...

Alkisah kemudian Racek dan Adipati Kedhe kembali ke gua. Dan mereka berdua mulai mempelajari kembali coretan-coretan pada dinding gua. Dibantu oleh Adipati Kedhe yang mengerti ilmu surat, maka proses pembelajaran menjadi lebih baik. Meski demikian, Racek (yang dengan kepolosannya) tetap tidak mengerti. Pun seandainya dicontohkan berkali-kali dengan gerakan oleh Adipati Kedhe. Ia hanya menonton, menyaksikan, mengamati, tidak mau menirukan. Tapi ketika mengalami pertarungan, ia bisa menirukannya. Racek belajar dengan caranya sendiri yang cocok dengan dirinya.


salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ajigineng

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 73
  • Reputation: 8
    • Email
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #43 on: 07/10/2010 13:10 »
@mpcrb.... mas kayaknya hafal dilur kepala nih SP dan TTA..... hahhaha
akumalah pusiing ngeliat dan baca dua buku itu....karena kalu saya saat ini sdh masuk dlm daftar pendekar "keyboard".....

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair
« Reply #44 on: 07/10/2010 13:50 »
hehehe, bisa aja nih kangmas ajigineng. :)

saya hanya penikmat seni pencinta silat kangmas. Selebihnya ya itu tadi 'pendekar keyboard' sejati... :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal