Forum Sahabat Silat

Bahasa Indonesia => Silat Diskusi Umum => Cerita Silat => Topic started by: P_Muda on 10/05/2007 16:17

Title: TABA, SANG NAGA MUARA TAWAR
Post by: P_Muda on 10/05/2007 16:17
Katanya mau bikin tempat khusus buat posting cerita silat??? Mana??? Nih deh aku kirim cerita silat garapanku sendiri  8)

TABA, SANG NAGA MUARA TAWAR
[/b]

Kampung Singkek, Muara Tawar, abad ke-18, ketika suasana tegang antara Kerajaan Banten dengan Penguasa Batavia mulai terasa mendingin. Perang yang menghabiskan sumber daya bagi kedua belah pihak dari mulai jaman Sultan Ageng Tirtayasa rupanya lebih banyak merugikan posisi Kerajaan Banten dibandingkan VOC, apalgi dibawah pemerintahan yang lemah seperti Sultan Arifin. Tetapi rupanya ketegangan itu tidak pernah sampai ke kampung singkek sekalipun jaraknya tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Periuk yang sedang dalam tahap pemugaran. Begitu juga saat tentara yang berasal dari Demak menyerbu Batavia pada beberapa masa yang lalu, sekalipun jalur tentara Demak melewati tidak jauh dari Kampung Singkek, tetap saja seakan-akan kampong tersebut tak pernah tercatat pada peta.

Kampung singkek adalah perkampungan Nelayan yang berada di pinggiran sungai payau. Para Nelayan disana membutuhkan waktu sekitar 15 menit berperahu dari dermaga kecil mereka untuk sampai di muara dan akhirnya ke laut. Mereka memang sengaja memilih tempat jauh dari pinggir pantai, berbeda dengan perkampungan nelayan yang lain, ini disebabkan karena lebatnya hutan bakau yang di sepanjang pantai dan menyebabkan daerah tesebut memiliki rawa-rawa air payau di sepanjang pantainya. Ditambah lagi saat pasang tiba, posisi rawa-rawa pun menjadi tinggi dan harus dilewati dengan sampan.

Di daerah inilah Taba lahir, di perkampungan yang sepi dan tenang dekat dengan rawa-rawa air payau. Ayahnya mencoba mencari rejeki di daerah Periuk, dan hanya pulang ke kampungnya tiap seminggu sekali. Kata ibunya dengan rasa jengkel disana ayahnya punya istri muda lagi, karena itu sekarang makin jarang pulanglah ayahnya. Taba tidak begitu paham dengan kejengkelan ibunya, sebab sudah biasa bagi sebagian laki-laki dewasa di kampungnya untuk mempunyai istri lebih dari satu, apabila mereka termasuk ke dalam golongan orang mampu. Taba sendiri merasa memang begitulah keadaannya, dibandingkan dengan teman-temannya yang anak nelayan, dia memiliki pakai yang lebih beragam bahkan dia memiliki pakaian yang bagus untuk dipakai seandainya dia dan ibunya diundang selamatan atau pernikahan oleh orang di kampungnya. Pokoknya oleh teman-temannya Taba disejajarkan dengan anak-anak juragan kapal yang ada di kampung tersebut.

Karena Kampung Singkek adalah kampung yang kecil maka hanya ada satu juragan kapal disana, Kong Ma’ruf, yang memiliki kapal hamper 10 unit disana, dan istri yang juga 10 orang. Selain Kong Mar’ruf sebenarnya ada beberapa juragan kapal lainnya yang berasal dari Marunda yang memiliki istri muda di kampung Singkek tetapi mereka tidak menjalankan usahanya disana. Dengan demikian praktis hanya Kong Ma’ruf lah yang resmi sebagai juragan kapal di Kampung Singkek. Sebagai juragan kapal Kong Ma’ruf juga dikenal sebagai jagoan di kampung Singkek. Kabarnya permainan pukulannya bahkan dikenal tidak hanya dikenal di Marunda, bahkan sampai terdengar di Pasar Ikan dan daerah barat seperti Kedawung. Ilmu main pukulnya ini dia dapatkan ketika masih muda merantau ke darah Kulon dan daerah Tarik Kolot.

Karena kehebatannya inilah, dulu ketika seseorang dari Batavia datang dan mencoba menempatkan sesorang sebagai Bek disana dan menjadikan kampung Singkek sebagai bagian administrative dari Batavia, “Bek” itu dan orang-orangnya lansung diusir oleh Kong Ma’ruf. Sempat terjadi perkelahian sengit antara mereka yang tentu saja kemudian dimenangkan oleh Kong Ma’ruf. Semenjak kejadian itu, tak pernah ada lagi orang dari Batavia yang datang kesana, mungkin juga karena posisi kampung Singkek yang tidak strategis, sehingga membuat mereka enggan mebuang-buang waktu disana.

Permainan pukulan Kong Ma’ruf ini juga diturunkan ke anak-anaknya terutama Bang Hadi, anak tertuanya. Lewat dia, sebagain besar anak-anak kampung Singkek termasuk Taba belajar ilmu pukulan Kong Ma’ruf. Bang Hadi tidak hanya mengajarkan silat tetapi juga mengjarkanmengaji kepada anak-anak disana. Dulu waktu kecilnya Bang Hadi pernah dititipkan di daerah Kebon Kacang, untuk belajar mengaji pada salah seorang habib disana.

Sudah hampir tiga tahun dari semenjak usia sembilan tahun, Taba belajar pukulan dan mengaji dari Bang Hadi. Sekarang ini usianya genap 12 tahun, dia gemar sekali berburu kepiting di hutan payau bersama anak-anak kampungnya, kadang-kadang dia sampai menginap di tengah rawa-rawa hutan payau hingga berhari-hari dan akhirnya pada saat pulang di hadiahkan pukulan dari dangdang oleh ibunya, tapi dia tak pernah kapok.

Kali ini Taba sedang berada di hutan payau lagi, tetapi dia tidak pernah menyangka kepergiannya kali ini akan menimbulkan petualangan yang akan tidak pernah dia lupakan seumur hidupnya. Menjadikan dirinya harus memilih jalan yang penuh dengan pertempuran dan menjadikan namanya dikenal bahkan tidak hanya di Batavia, bahkan pelosok-pelosok daerah lainnya. Di sinilah cerita dimulai;

Kalau diterima ceritanya dilanjutin tapai kalau tidak berkenan yah cukup sekian...

( Di Edit paragrafnya sama pendekar, biar dibacanya lebih mantaaap,)
Title: Re: Cerita Silat
Post by: pendekar on 10/05/2007 17:56
Ih gile banget, kang...bakat nulis cerpen juga yaaaa  :D
Lanjut..... Ya nggak temen2 ;)
Title: Re: Cerita Silat
Post by: parewa on 10/05/2007 19:53
MANTABBBBB....... ;D dari pembukaannye udh ketauan bakal seru.....

Gimane kalo cerbersilnye dibikin di silatindonesia.com aje bang.....

Siapa tau, kita bikin prestasi baru, melahirkan penulis cersil kondang di kemudian hari.... :)
ya nggak ya nggak...... 8)


Title: Re: Cerita Silat
Post by: pendekar on 10/05/2007 21:50
MANTABBBBB....... ;D dari pembukaannye udh ketauan bakal seru.....

Gimane kalo cerbersilnye dibikin di silatindonesia.com aje bang.....

Siapa tau, kita bikin prestasi baru, melahirkan penulis cersil kondang di kemudian hari.... :)
ya nggak ya nggak...... 8)


Ya setuju...., sekali

Kalo boleh ngasih masukan, buat tulisan yang panjang, jarak spasinya lebih lebar, agar tulisan tidak menumpuk, dan membacanya lebih enak, bisa kok di edit kembali..., dan ditunggu kelanjutannya. thank U bro
 :D
Title: Re: Cerita Silat
Post by: kisawung on 11/05/2007 09:10
wow... membaca ceritera pendekar Muda, serasa menonton film di bioskop... seru..

tetapi... perasaan... seperti di bioskop misbar dulu.. gerimis bubar :D
terus pake acara istirahat segala ampe berkali-kali buat ngasi kesempatan penjaja makanan :-\

jadinya... yaaah.. berhubung penasaran... walaupun nepsong lagee... nepsong lagee.. :-[


lanjuuuuuut...
we want more... we want more.. :-*

(jangan sampe enggak dilanjutkan yah.. P_Muda.... hiks :'( )
Title: Re: Cerita Silat
Post by: P_Muda on 14/05/2007 13:38
Berhubung sibuk banget kerjaan dan nulis buku tentang TD. Mudah2an forum mau jadi penerbitnya. Ini cerita yang baru ane sempat tulis sedikit... ;)

Taba, Soleh, Calik, dan Sukra, kali ini merencanakan menginap di bedeng yang sudah mereka bangun beberapa minggu lalu di tengah hutan bakau. Sekalipun daerah situ adalah rawa-rawa mereka berhasil menemukan tempat yang kering karena posisinya lebih tinggi dari sekitarnya. Mereka juga telah mempersiapkan perlengkapan untuk menginap disana; beras dalam periuk, sereh dan merang untuk mengusir nyamuk, golok, dan tali-tali yang mereka buat dari serabut kelapa sehari sebelumnya.

Selain Taba, ketiga temannya sudah mendapat ijin dari orang tuanya untuk bermalam di hutan bakau. Sudah biasa bagi orang tua di kampung singkek untuk melepas anak-anaknya yang remaja untuk bermalam di hutan bakau. Biasanya anak-anak itu akan berburu kepiting-kepiting besar yang biasa bersarang diantara sela-selar akar bakau. Nantinya selain dikonsumsi sendiri, biasanya kepiting ini dijual ke pengepul (tengkulak) ikan di dermaga untuk di jual lagi ke Marunda atau bahkan sampai ke daerah pasar ikan di Batavia.
Taba tahu ibunya pasti marah besar dengannya karena kepergian tanpa ijin ini, tapi dia sudah meninggalkan surat untuk ibunya di kamar tidur ibunya. Untungnya dia dan ibunya termasuk mampu baca tulis dibandingkan warga umumnya di kampung singkek. Mungkin karena ayahnya adalah seorang pedagang yang biasa berhubungan dengan banyak orang asing (Cina, Belanda, Arab, Pribumi) mengharuskan istri dan anaknya untuk belajar baca dan tulis dalam huruf Arab dan huruf latin.

Setelah menaiki sampan lebih dari satu jam dari kampung mereka mengarungi rawa-rawa, akhirnya mereka sampai di bedeng tersebut. Mula-mula Sukra lah yang pertama kali menyadari ada yang tidak beres dengan bedeng mereka, di luar bedeng nampak ada bekas-bekas api unggun yang nampak baru.

“Kayaknya bedeng kite ada dipakai orang nih?” kata Sukra, sambil memeriksa bekas api unggun. Sukra berbadan paling kecil diantara mereka, kabarnya keluarganya berasal dari Mataram.

“Sialan!” maki Calik yang bergigi agak tonggos, dia terus saja memaki sambil melihat sekeliling sambil terus memaki. Dia berharap dapat menemukan orang yang telah menggunakan bedeng mereka.

“Kayaknya  kite bereskan aja dulu deh bawaan kite,” Taba memotong makian Calik, “ baru nanti setelah selesai kite coba cari tahu siapa orang yang telah menggunakna tempat kita. Bagaimana?”

Yang lainnya pun akhirnya setuju. Hanya Soleh yang nampaknya agak kuatir akan kejadian itu, dan itu tergambar dalam wajahnya. Melihat ini Sukra pun bertanya, “lu lagi mikirin apaan Leh? Muka lu kok, ayam gue waktu sakit?

“Gue kuatir, jangan-jangan tempat kite n’ni dah dipakai sama rampok-rampok dari Marunda. Lu pada kan dah pada dengar kalau di Marunda akhir-akhir ini banyak perampokan. Kali-kali aje noh pada rampok ngumpetnya di tempat kite. Mungkin kan?” Soleh menjelas sikap kuatirnya.

“Kalau  emang rampok yang make tempat kite, lansung ‘beri’ aja!” sahut Calik sambil tangannya memainkan pukulan.

“Lo kata gampang lawan rampok?” balas Soleh