+-

Video Silat


Performance Silat Beksi H. Hasbullah
gerak cepat
Festival Silat Kampung Jampang - Cingkrik Goning
Peragaan Jurus Cikalong
Di belakang Layar Pendekar Macan Paku Banten
maung lugay performance, Jambore pencak silat
Tarung Bebas Genggong - Pesilat vs Santri
Acara Kramasan PS Bandrong Karang Tunggal - Anak #
Jambore Pencak Silat, Satria Nagagiri performance

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
31/10/2017 13:13

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

maenpo Cikalong by aki sija
25/02/2015 22:01

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Tembang Tanpa Syair  (Read 39445 times)

samber gledek

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 462
  • Reputation: 35
    • Email
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #15 on: 16/08/2011 17:07 »
Pemahaman dan penghayatan yang luar biasa...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #16 on: 17/08/2011 16:04 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 11

Kesadaran Inderawi


Ayah berdiri, lalu berjalan menuju besi penyangga yang di sampingnya terdapat beberapa beton cor dan beberapa besi yang bercat hijau serta berbentuk seperti gagang pompa. Ayah lalu mengatur jarak dua besi penyangga tersebut, membungkuk dan mengangkat dua buah beton cor. Ayah meletakkannya di atas besi penyangga tersebut. Tanpa sekat. Beton cor itu panjangnya kira-kira enam puluh sentimeter dengan lebar kira-kira dua puluh lima sentimeter dan tinggi kira-kira delapan sentimeter.

Tangan ayah kemudian melambai kepadaku. Memberi tanda agar aku mendekat.

Kondisiku sudah normal kembali. Nafas juga sudah teratur. Aku bangun lalu berjalan ke tempat ayah.

Aku berdiri kira-kira satu meter di depan dari besi penyangga yang di atasnya terdapat dua buah beton cor yang ditumpuk tanpa sekat.

"Pukullah beton cor ini semampumu. Patahkan. Gunakan sisi telapak tanganmu atau gunakan bawah kepalan tanganmu atau telapakmu, atau apa saja. Terserahmu saja, gunakan bagian tubuhmu yang dirasa paling kuat.", pinta ayah.

Aku mengangguk.

Aku mundur setengah langkah, mengatur jarak, mengatur kuda-kuda. Kaki kiriku aku letakkan di depan dengan lutut sedikit tertekuk, berada sedikit di luar melebihi besi penyangga di depanku. Kaki kananku aku geser ke belakang. Saat ini kakiku membentuk posisi Kuda-kuda Kiri Depan. Aku akan memukul beton cor itu dengan tangan kananku, menggunakan alat penyasar sisi telapak tanganku. Tangan kananku aku julurkan, sisi telapak tangannya menyentuh beton cor paling atas. Aku konsentrasi. Serius. Aku tahu ini tidak mudah. Beton cor itu tampaknya sudah lama ada di paviliun. Tentunya tingkat kekerasannya sudah sangat lumayan. Aku angkat tangan kananku hingga melewati kepala dengan lintasan seperti busur, lalu mengeraskan sisi telapak tanganku. Pandangan mataku masih terfokus pada beton cor itu. Setelah hatiku terasa yakin, secepatnya aku pukulkan pada beton cor itu. Aku mengandalkan benar kekuatan tanganku ini.

BRAKK!!!

Beton cor itu patah! Patahannya berjatuhan. Besi penyangganya agak sedikit bergoyang akibat tumbukan tadi.

Aku tersenyum puas. Meski terasa agak sedikit nyeri dan ngilu pada pergelangan tangan, tapi aku berhasil mematahkannya.

Aku melihat ayah mengatur kembali jarak besi penyangganya. Ayah mengambil kembali beberapa beton cor yang masih utuh, dan meletakkannya pada posisi menumpuk di atas dua besi penyangga tadi. Satu, dua, tiga, empat tumpuk beton cor tanpa sekat! Deg, jantungku berdetak lebih kencang. Aku jadi mulai ragu. Empat tumpuk beton cor tanpa sekat. Dua beton cor yang tadi saja sudah membuat pergelangan tanganku sedikit ngilu dan terasa agak sedikit nyeri di sisi telapak tangan yang terbentur dengannya, apalagi ini empat tumpuk dan tanpa sekat!

"Bagaimana kalau sekarang? Ayo, coba lagi.", tanya ayah sambil tersenyum.

Aku terdiam. Jujur saja, hatiku tidak yakin. Tingkat kekerasan, jumlah, dan tanpa sekat, benar-benar menggentarkan hati ini. Aku tidak yakin pukulanku sanggup mematahkan tumpukan beton cor tersebut. Aku tidak yakin tenagaku cukup besar untuk melakukan itu semua.

"Anu.. yah.. Begini ... ituuu.. ", jawabku sekenanya. Tangan kiriku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Wajahku menyeringai, dengan senyum yang tidak enak untuk dipandang mata tentunya.

Ayah sepertinya melihat keraguanku. Ayah tersenyum. Tangannya diletakkan diatas tumpukan beton cor tersebut.

"Disinilah bedanya nak.", ucap ayah.

"Tenaga luar dan tenaga dalam memiliki porsinya sendiri. Masing-masing punya ruangnya sendiri, meskipun bisa saja tumpang tindih tanpa disadari. Yang jelas, pengetahuan terhadap keduanya tetap harus kamu pahami. Bahwa ada yang terlihat oleh mata dan bisa terasa oleh panca indra kemudian bisa kamu rasakan, itu memang benar. Tapi ada juga yang tidak terlihat oleh panca indramu tapi bisa dirasakan. Satu beton cor ini, bisa dipatahkan oleh orang biasa. Dua beton cor tanpa sekat, bisa dilakukan oleh yang cukup terlatih. Tapi empat tumpukan beton cor tanpa sekat, akan sulit dilakukan oleh yang biasa-biasa saja, bahkan yang terlatih pada tenaga luar sekalipun. Lebih dari itu, hanya yang memahami tenaga dalamlah yang bsia melakukannya. Sekuat apapun seseorang pada tenaga luar, suatu hari nanti ia akan menyadari keterbatasan tenaga luarnya.", lanjut ayah.

"Tenaga luar terkait dengan daya inderawi.", ucap ayah.

Aku melihat wajah ayah tampak serius. Ayah kemudian menyentuhkan ujung tiga jari pada beton cor paling atas, menekuk pergelangan tangannya ke arah atas sehingga ada ruang antara telapak tangannya dengan beton cor. Ruang itu tidak lebih dari setengah jengkal saja. Sesaat aku melihat ayah menarik nafas ringan dari hidungnya, kemudian langsung membenturkan telapak tangannya perlahan.

PLEK, BRAAAKKK!!!

Uuh, beton cor itu hancur berantakan! Pecahannya berhamburan.

Aku melompat mundur secara reflek dengan sangat terkejut. Tidak mengira kalau tepukannya yang terlihat ringan ternyata bisa mematahkan beton cor tersebut. Tidak, itu bukan cuma patah, tapi hancur!

Ini baru pertama kalinya aku melihat ayah 'beraksi'. Selama ini aku hanya berlatih dan dilatih dengan ayah. Melihat ayah melakukan suatu gerakan, kemudian menyuruhku untuk mengulanginya. Kemudian kami saling berlatih bersama, mencoba penerapan gerakan, tangkap kunci, membanting, dan sejenisnya. Beberapa juga duduk bersama, berlatih olah nafas Getaran. Memberiku pengarahan untuk melakukan ini dan itu. Dan terakhir, mengujiku. Tapi belum pernah aku melihat ayahku melakukan sesuatu yang membuat mataku terbelalak.

"I..i..itu betonnya ha.. hancur yah..! Ba... bagaimana caranya yah?", tanyaku terbata-bata. Keterkejutanku masih belum hilang. Aku tidak bisa membayangkan seandainya tubuh manusia yang terkena serangan tersebut.

Ayah hanya tersenyum.

"Pada tenaga kasar, seseorang menggunakan kekuatan ragawi untuk melakukannya. Ada yang berasal dari jarak, ada yang berasal dari otot, ada yang berasal dari kulit, ada juga yang berasal dari tulang. Atau kekuatan yang dihasilkan diantaranya. Dengan latihan tertentu, seseorang membentuk kekuatan parsial pada salah satunya, lalu menggabungkannya dengan yang lain. Misal, melatih kekuatan otot dengan mengangkat beban berat, melakukan push up untuk meningkatkan kekuatan tangan, melakukan sit up untuk meningkatkan kekuatan otot perut, atau melakukan penempaan-penempaan lain sedemikian rupa. Keras pada fisiknya, pada raganya. Ia melatih daya ragawi sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah kekuatan. Orang ini menyadari daya inderawi sehingga mampu mengolah sedemikian rupa daya ragawi sehingga menghasilkan kekuatan. Orang-orang yang demikian mulai tumbuh adanya kesadaran inderawi.", jawab ayah.

"Sedangkan yang kamu lihat tadi sama sekali berbeda. Ayah tidak menggunakan daya ragawi, tetapi ayah menggunakan tenaga getaran untuk melakukannya. Tenaga getaran yang didapat dari olah nafas. Tenaga getaran yang sama dengan yang pernah kamu latih. Tetapi dalam pemahaman yang berbeda. Meski demikian, penerapan tenaga getaranmu ayah arahkan untuk tutup mata dan gerakan naluri. Memungkinkanmu untuk memfungsikan daya kepekaan sehingga menghasilkan satu kemampuan tambahan pada gerak di ragamu. Kamu juga sudah pernah merasakan manfaatnya ketika berkelahi dengan para pemuda itu, bukan?", lanjut ayah.

Aku mengangguk. Meresapi kebenaran ucapan ayah. Meski ada beberapa hal yang aku kurang paham. Kalau tenaga getaranku sama dengan yang dimiliki ayah, tetapi kenapa bisa berbeda pada penerapannya?

"Yah, apakah tenaga getaran Aa bisa digunakan untuk melakukan seperti tadi?", tanyaku. Aku jadi penasaran.

"Tentu saja. Tapi nanti, setelah bangkitnya kesadaranmu.", jawab ayah sambil tersenyum.

"Bangkitnya kesadaran?", aku bertanya kembali.

"Benar nak. Bangkitnya kesadaran.

Kesadaran, bukanlah sekedar melek atau membuka mata atau terjaga. Tetapi kemampuan memahami dan merasakan sesuatu. Saat ini, kesadaranmu berada pada apa yang disebut dengan kesadaran inderawi. Jangan merasa bisa, tetapi bisalah untuk merasa. ", jawab ayah.

"Duduklah...", pinta ayah.

Aku menurut.

Ayah kemudian duduk juga di depanku.

"Kesadaran mewakili fungsi jiwa.", ucap ayah.

"Kesadaran inderawi merupakan tingkat kesadaran terendah dalam diri seseorang yang berfungsi ketika ia melakukan interaksi tertentu dengan lingkungannya. Karena kesadaran mewakili fungsi jiwa, maka tingkatan kesadaran inderawi juga menggambarkan kualitas jiwa yang terendah.
 
Seseorang dikatakan berada dalam kesadaran inderawinya jika ia menyadari dan bisa memahami diri dan lingkungan sekitarnya dengan bertumpu pada fungsi panca inderanya. Ia bisa memahami apa yang dilihatnya. Ia bisa mengerti segala yang didengarnya. la bisa menikmati apa-apa yang dibaui oleh indera penciumannya, dikecap oleh lidahnya, dan dirasakan oleh kulitnya.
 
Ketika seseorang berada pada kesadaran inderawinya, maka ia memperoleh nuansa pemahaman terhadap segala yang terjadi sangat riil, dan cenderung materialistik. Seringkali, diantara kita bertumpu kepada kemampuan inderawi secara berlebihan.

Kadang kita hanya percaya kepada sesuatu jika sesuatu itu bisa dijangkau oleh indera. Kita hanya bisa memahami jika telah melihat dengan mata kepala sendiri, atau telah mendengarnya, mencium dan merasakannya. Sesuatu yang tidak terdeteksi oleh panca indera, bakal tidak kita akui sebagai keberadaan. Atau setidak-tidaknya, kita tidak merasa perlu untuk memikirkannya, dan kemudian mengacuhkannya.", lanjut ayah.
 
"Orang yang demikian sebenarnya telah terjebak pada pola pikir materialistik dan terbelakang.", tegas ayah.

"Kenapa bisa begitu yah?", aku memberanikan bertanya. Rasa penasaran menyelimuti hatiku.

"Tentu saja nak. Perlu kamu ketahui, bahwa sistem kerja inderawi kita sangatlah terbatas. Sehingga, lucu juga, kalau kita bergantung kepada yang sangat terbatas itu untuk memahami realitas. Pasti hasilnya juga akan begitu terbatas. Semakin rendah kualitas inderawi kita, maka semakin jelek juga hasil pemahaman kita.
 
Sebagai contoh, apa yang terjadi pada orang yang buta warna. Kalau seorang penderita buta warna bersikeras bahwa realitas warna yang ada di sekitarnya adalah seperti yang dia pahami. Tentu saja banyak orang normal yang akan menertawakannya. Sebab orang yang buta warna memang tidak paham bahwa alam sekitarnya berwarna-warni.
 
Atau pada orang yang mengalami buta warna total, ia hanya bisa memahami dunia dalam warna hitam-putih atau abu-abu saja. Gradasi warna merah, jingga, kuning, sampai putih, baginya hanya terlihat sebagai warna abu-abu tua sampai abu-abu muda, dan paling ekstrim adalah putih. Atau sama sekali tidak berwarna, atau bahkan hanya hitam pekat saja. Padahal bagi kita yang tidak buta warna, kita melihat bahwa dunia ini berwarna warni demikian indah. Tidak seperti yang dia pahami lewat keterbatasan penglihatannya. Kalau ia memaksakannya seperti yang raganya pahami, maka ia telah terjebak pada keterbatasannya sendiri.", jawab ayah.

Aku mengangguk.
 
"Kalau kita mau introspeksi, sebenarnya penglihatan kita pun demikian terbatasnya. Bahkan, pada orang yang memiliki penglihatan yang dianggap paling 'sempurna' sekalipun. Mengapa bisa demikian? Karena, sistem kerja penglihatan kita ternyata demikian menipu. Tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi. Apa yang kita lihat sebenarnya bukan realitas. Sesungguhnya antara kenyataan dan apa yang kita lihat atau kita pahami adalah dua hal yang berbeda. Kita bukan melihat benda yang sesungguhnya, kecuali sekadar bayang-bayang yang tertangkap oleh lensa mata kita, diteruskan ke retina, dan kemudian ke otak sebagai pulsa-pulsa listrik belaka. Sehingga, pusat penglihatan di otak kita itu pun sebenarnya tidak pernah berinteraksi langsung dengan benda yang kita lihat. Sel penglihatan di otak hanya berinteraksi dengan pulsa-pulsa listrik yang berasal dari retina. Jadi kalau pulsa-pulsa listrik itu mengalami distorsi, maka pusat penglihatan itu bakal salah dalam memahami penglihatan tersebut. Kefahaman yang disimpulkan oleh sel penglihatan itu sangat bergantung kepada kualitas jalur penglihatan mulai dari lensa mata, retina, saraf-saraf penglihatan sampai kepada sel-sel otak yang terkait dengan proses melihat itu.

Padahal, ketajaman lensa mata tidaklah terlalu tinggi. Misalnya, lensa mata kita tidak mampu melihat benda-benda yang terlalu kecil. Seperti pori-pori benda, bakteri, virus, sel, molekul, atom, dan apalagi partikel-partikel sub atomik seperti proton, neutron, dan elektron.
 
Lensa mata manusia juga hanya bisa menangkap benda-benda yang cukup besar. Namun, tidak terlalu besar. Jika terlalu besar, juga tidak bisa terlihat. Gajah di pelupuk mata misalnya, pasti malah tidak kelihatan. Jadi, yang sedang-sedang saja.
 
Belum lagi, melihat dalam kegelapan. Pasti juga tidak mampu. Atau sebaliknya, melihat di tempat yang terlalu terang, malah silau. Singkat kata, penglihatan kita begitu terbatasnya sehingga banyak hal yang tidak bisa kita pahami dengan hanya sekedar melihat.", lanjut ayah.

Aku mengangguk mantap. Aku mulai bisa mencerna ucapan ayah.

"Demikian pula, indera yang lain seperti penciuman, pendengaran, pengecap dan peraba. Mereka tidak kalah sering menipu kita. Jika suatu saat, kita ke rumah sakit, kita bakal membaui adanya aroma obat-obatan yang menyengat. Tapi jika kita berada di sana dalam waktu yang cukup lama, tiba-tiba kita tidak merasa membaui aroma yang menyengat lagi. Kenapa demikian? Karena hidung kita telah beradaptasi. Jadi ia telah menggeser pemahaman kita. Seakan-akan sudah tidak ada aroma obat lagi, padahal sebenarnya sensitivitas penciuman kita yang menurun karena sudah beradaptasi atau berkompromi.", jelas ayah.

Aku terdiam.

"Karena itu, percaya yang terlalu berlebihan kepada panca indera kita juga bisa menyebabkan kekeliruan dalam memahami suatu kenyataan.", ayah menegaskan.

Ayah kemudian berdiri.

"Tunggu sebentar, ada yang ingin ayah tunjukkan padamu.", ucap ayah.

Tanpa menunggu aku menjawab, ayah berjalan menuju dapur.

Aku duduk diam, termenung, mencoba meresapi setiap ucapan ayah. Hmm, kesadaran inderawi. Itu istilah yang sangat baru bagiku. Tapi sangat mengena. Memang benar, selama ini aku terpaku mengandalkan apa yang bisa ditangkap oleh panca indraku. Bahkan, saat belajar getaranpun, sesungguhnya aku tidak memahami benar mengapai itu bisa terjadi. Aku hanya melakukan apa yang ayah instruksikan, melatihnya berulang-ulang, kemudian jadilah seperti itu hasilnya. Aku bisa mendayagunakan secara lebih fungsi inderaku. Kepekaan kulitku bertambah. Ada kekuatan lain. Tapi aku tidak menyadarinya.

Aku merasakannya tapi belum bisa menyadarinya.

Dari jauh, aku melihat ayah membawa dulu mangkok di kedua tangannya. Mangkok sebelah kanan berwarna hijau, sedangkan mangkok sebelah kiri berwarna merah. Ayah semakin mendekat. Aku jadi bisa melihat isi di dalam kedua mangkok tersebut. Yang berwarna hijau aku lihat berisi air yang di dalamnya terdapat es batu seukuran dadu dalam jumlah yang cukup banyak. Air di dalamnya pasti berasa dingin. Sedangkan mangkok yang berwarna merah terlihat berisi air tanpa es batu.

Ayah lalu meletakkan kedua mangkok tersebut di depanku dan duduk kembali.

"Celupkan tangan kananmu dari ujung jari hingga pergelangan tangan pada air es di mangkok hijau itu nak", pinta ayah.

Aku menurut. Aku celupkan tangan kananku pada mangkok hijau itu. Terasa dingin di kulitku.

"Cukup.", ucap ayah. Kira-kira dua puluh detik sudah tanganku dicelupkan ke air es yang dingin. Tangan kananku terasa dingin. Apalagi dari ujung dari hingga ke pergelangan.

"Coba sekarang kamu celupkan pada air di mangkok merah itu", pinta ayah sambil menunjuk pada mangkok merah.

Aku menurut. Aku celupkan tangan kananku pada mangkok merah itu. Baru tiga perempat telapak tangan aku celupkan, aku sudah terkejut.

"Aaaaaahh!", aku berteriak karena terkejut. Secara reflek, aku tarik tangan kananku dari mangkok hijau itu.

"Panas sekali yah...!", ucapku. Tanganku secara reflek aku kibas-kibaskan untuk mengurangi rasa panas yang ada.

Ayah hanya tersenyum.

"Sekarang, coba kamu celupkan tangan kirimu dari ujung jari hingga pergelangan pada mangkok merah ini", tanya ayah kembali.

Dengan sedikit ragu, aku menurut. Tangan kiriku aku celupkan kesitu. Terasa airnya hangat. Eh, ini benar-benar air hangat. Sama sekali tidak panas. Kenapa bisa terasa panas oleh tangan kananku ya? Aku keheranan.

"Kok bisa yah?", tanyaku sambil tersenyum dengan wajah heran.

"Kamu lihat nak, kulit, sebagai indera perasa juga tidak kalah pembohongnya. Kalau kita berkali-kali meraba benda kasar, maka ketika kita meraba benda halus kepekaannya juga menjadi berkurang. Atau, kita mencelupkan tangan kita ke dalam air dingin beberapa waktu, kemudian ganti mencelupkannya ke air hangat. Maka, kita seperti merasakan mencelupkan tangan ke air panas. Kenapa demikian? Karena, kulit kita juga melakukan adaptasi dan kompromi terhadap lingkungannya. Ia juga bisa plin-plan di dalam menterjemahkan sesuatu.", jawab ayah.

"Kesadaran yang dibentuk hanya berdasarkan panca indera dapat menjebak kita dalam kekeliruan yang sangat mendasar. Panca indera tidak cukup digunakan untuk memahami kenyataan. Karena ternyata, kenyataan yang terhampar di sekitar kita berbeda dengan yang tertangkap oleh mata, telinga dan seluruh panca indera, apalagi oleh hati.", lanjut ayah.
 
Ayah menepuk pundakku.

"Nak, kesadaran inderawi adalah kesadaran yang paling rendah tingkatannya. Hanya anak-anak yang masih kecil saja yang bertumpu sepenuhnya kepada pemahaman panca inderanya untuk membangun pemahaman terhadap realitas di sekitarnya. Orang yang lebih dewasa pasti akan bertumpu pada kesadaran yang lebih tinggi dari sekadar itu. Jadi, kunci memahami tenaga adalah bangkitnya kesadaran baru dari kesadaran inderawi yang sudah ada.", ucap ayah.

"Tenaga adalah kesadaran. Ia adalah pemahaman.", lanjut ayah.

Aku tertunduk. Rasanya aku seperti mulai memahami sesuatu.





(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Taufan

  • Moderator
  • Calon Pendekar
  • **
  • Thank You
  • -Given: 6
  • -Receive: 27
  • Posts: 506
  • Reputation: 76
    • Email
  • Perguruan: Bandarkarima
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #17 on: 17/08/2011 16:26 »
Speechless lah pokona mah  [top]

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #18 on: 18/08/2011 16:29 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 12

Legenda Yang Baru Akan Dimulai

 

Aku melihat ayah berdiri, berjalan mendekati benda yang terbuat dari besi berwarna hijau seperti gagang pompa. Ayah membungkukkan badannya, kemudian mengambil dua buah, lalu berjalan kembali mendekatiku. Ayah berdiri tegak. Dua buah gagang pompa besi berwarna hijau itu dipegang di belakang pinggangnya dengan dua tangan. Kepalanya sedikit menengadah, keningnya agak sedikit berkerut, dan matanya mulai dipejamkan.

"Nak, dulu, saat ayah mempelajari ilmu ini, pematahan atau penghancuran benda keras polanya ya seperti tadi. Benda keras tersebut diletakkan pada satu alat penyangga, kemudian dipatahkan atau dihancurkan. Ada kekurangan dan kelebihan pada cara ini. Benda keras dalam keadannya yang seperti ini adalah benda diam atau sebut saja benda yang statis. Kamu memukul benda diam. Tentu saja pemusatan tenagamu, pendekatan langkahmu, teknik yang kamu gunakan, termasuk penyaluran tenaganya jauh lebih mudah. Kamu jauh lebih mudah menerapkan teknikmu pada benda mati yang statis.", ucap ayah sambil masih memejamkan mata.

"Tapi lawanmu itu bergerak. Lawanmu adalah gerakan.", ayah menoleh ke arahku sambil membuka matanya.

Raut wajahnya terlihat serius saat mengatakan ini. Serasa menembus ke sukma. Aku tertegun dengan pandangan mata ayah. Eh, bener juga ya, pikirku. Saat aku memukul dua beton cor tanpa sekat, aku bisa konsentrasi penuh, aku bisa mengatur tempo, jarak, ritme, dan memaksimalkan kekuatan. Tapi belum tentu aku bisa melakukan itu pada lawan yang bergerak. Aku reflek mengangguk.

"Selama ini yg selalu menjadi permasalahan dalam uji pematahan benda keras statis adalah efektifitasnya pada pertarungan sesungguhnya. Hampir tidak ada korelasi antara kemampuan pematahan benda keras statis dgn kemampuan tarung praktisi beladiri.", lanjut ayah.

Tangannya kini terlihat menimang-nimang dua gagang pompa besi berwarna hijau itu. Ayah tiba-tiba melemparkan satu gagang pompa tersebut ke udara. Gagang pompa itu terlihat berputar meninggi kira-kira tiga meteran, lalu mulai jatuh kembali akibat dari efek gravitasi bumi. Aku hanya melihat kepala ayah memandang tanpa berkedip pada gagang pompa yang dilemparkan itu, kemudian tangan ayah menebas dengan cepat menggunakan sisi telapak tangan kanannya pada saat gagang pompa tersebut mencapai ketinggian kepala ayah dengan jarak satu lengan dari tubuhnya.

TRAKKK!!!

Gagang pompa berwarna hijau itu patah jadi dua. Salah satu patahannya terlempar cukup jauh.

Aku melihat ayah kembali melemparkan gagang pompa yang satunya. Gagang pompa itu juga berputar di udara, meninggi kira-kira empat meteran. Lebih tinggi dari sebelumnya. Tidak seperti tadi, dimana mata ayah terlihat seperti elang yang ingin menyambar kelinci, fokus, tidak berkedip, tapi sekarang aku melihat ayah memejamkan mata, lalu menarik kaki kanannya sedikit ke belakang. Saat ketinggian gagang pompa tersebut mencapai kepala ayah, kaki kanannya bergerak cepat menendang dengan Tendangan Sabit, yakni tendangan melingkar dengan punggung kaki sebagai alat penyasarnya.

TRAKKK!!!

Tendangannya tepat mengenai gagang pompa sehingga patah jadi dua. Patahannya terlempar lebih jauh dari yang pertama. Aku terkejut. Bagaimana bisa ayah melakukan itu? Wajahku berbinar dengan rasa penasaran.

Ayah kemudian mengambil sebuah lagi gagang pompa berwarna hijau, membalikkan badan dan berjalan kembali ke arahku.

"Coba kamu patahkan gagang pompa dragon ini dengan satu serangan. Ayah nanti akan melemparkannya kepadamu. Bentuk serangannya terserah saja. Boleh seperti ayah tadi, menggunakan sisi telapak tangan, atau boleh dengan tendangan.", pinta ayah.

Aku mematuhinya.

Aku mundur dua langkah, lalu memasang kuda-kuda sikap pasang pesilat. Kaki kiri di depan, sedikit ditekuk, kaki kanan di belakang juga sedikit di tekuk. Jarak kedua kaki tidak terlalu lebar, juga tidak terlalu pendek. Senyaman aku berdiri saja. Aku berencana akan mematahkan gagang pompa besi itu dengan tebasan sisi telapak tangan kananku karena aku berpikir kalau itulah yang paling mudah. Konsentrasi lebih aku arahkan pada sisi telapak tanganku ini.

"Bersiaplah!", ucap ayah.

Aku mengangguk siap.

Ayah kemudian melemparkan satu gagang pompa berwarna hijau ke arahku perlahan. Aku hanya melihat putarannya mengarah ke tubuhku. Uuh, bagaimana ini? Aku kesulitan menentukan titik pukul dari benda yang bergerak seperti ini. Titik pukul sasarannya selalu berubah-ubah. Gagang pompa itu mendekat. Tanpa berpikir lagi, aku langsung menebas tangan kananku mengarah ke gagang pompa tersebut. Tangan kananku terasa mendapat benturan, tapi aku tidak tahu dengan bagian yang mana dari gagang pompa itu.

TAKKK!!!

Gagang pompa itu terpental cukup jauh.

Tapi ia tidak patah!

"Ehhh..!", aku terkejut.

Aku melihat ayah tersenyum.

"Kamu lihat nak, sungguh tidak mudah untuk menyerang sasaran yang bergerak. Apalagi kalau kamu berorientasi pada pikiran. Akan ada banyak kesalahan pada penerapan. Akibatnya kamu jadi tidak tepat pada sasaran. Tempo, ritme, dan kekuatan seranganmu menjadi kacau. Tidak mudah bukan?", ucap ayah.

Ah benar sekali! Ini memang sangat berbeda dibanding saat aku memukul dua beton cor tanpa sekat tadi. Tadi, aku hampir kesulitan melihat titik sasarannya. Kalaupun terlihat, gerakan benda yang berubah-ubah membuat titik sasaran juga seolah seperti berubah. Akhirnya membuat timbulnya keragu-raguan apakah seranganku bakal mengena atau tidak. Tepat atau tidak. Keragu-raguan yang berbeda dibanding saat aku memukul beton cor.

"Setelah nanti kamu jalani latihan olah nafas untuk Power, ayah akan mengujimu dengan dua pola yakni benda mati statis, dan benda mati dinamis.", lanjut ayah.

"Duduklah..", pinta ayah sambil ayah duduk terlebih dahulu.

Aku menurut.

Aku duduk berhadapan kembali dengan ayah.

"Kamu tahu, mengapa ayah ingin agar kamu melakukan dua pola seperti itu?", tanya ayah.

Aku menggeleng.

"Pada pola yang pertama, yang menjadi pakem dari yang sudah ada. Ia merupakan bagian dari sesuatu yang harus kamu jalani dan berguna untuk menguji hasil latihanmu. Karena tidak mungkin mengujikan kekuatan teknik pada tubuh manusia.. Salah satu kegunaan lainnnya adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan tahap awalmu. Seolah ingin menjelaskan kalau yang tidak bergerak saja membutuhkan kekuatan, teknik, ketepatan waktu, tempo, dan sasaran yang pas. Apalagi yang bergerak. Tentu akan lebih sulit lagi. Pola itu tetap memiliki manfaat.", lanjut ayah.

"Sedangkan pola yang kedua, berguna untuk menciptakan kondisi pertarungan yang sebenarnya, dengan penerapan teknik dan power yang sebenarnya, yang menyesuaikan dengan sasaran, arah, dan bentuk. Kamu akan belajar banyak hal dengan melakukan pola yang kedua ini.

Setidaknya, bisa didapat suatu korelasi yg lebih baik antara kemampuan tenaga dengan kemampuan beladirimu. Sebagai contoh, nanti ayah akan melemparkan sepuluh sasaran dalam waktu satu menit ke arahmu. Kamu harus bisa mematahkannya atau menghancurkannya. Dari situ nanti akan bisa dilihat tingkat kemampuan penerapan hasil olah nafasmu dalam suatu pertarungan. Ini jauh lebih lebih baik dibanding uji pematahan dua beton cor statis.

Ayah nanti akan melemparkan sepuluh sasaran dalam waktu satu menit ke berbagai arah atas, bawah, kiri, kanan, tengah, dan arah yang lainnya, kamu nanti boleh mematahkannya dengan berbagai teknik pukulan dan tendangan dengan menggunakan bermacam anggota tubuh misalnya pisau tangan, pukulan, sodokan, ujung siku, punggung siku, kaki, dan sebagainya. Kamu jadi terkondisikan untuk mengerahkan tenaga pada sasaran yg bergerak. Mencoba melatih rasa, ritme, pola, getaran, power, dan tempo yang pas pada suatu serangan.

Dari sini juga bisa terlihat tingkat staminamu dalam pertarungan yang sesungguhnya, terutama pada seberapa cepat staminamu habis dalam suatu pertarungan dan seberapa cepat tingkat pemulihannya.

Ayah juga sudah merencanakan untuk melakukan beberapa sesi uji, misalnya pada sesi pertama sepuluh sasaran per menit kemudian istirahat sepuluh sampai dua puluh detik, sambil kamu berusaha memulihkan staminamu dengan suatu teknik pemulihan stamina, kemudian dilanjutkan sesi berikutnya yakni dua puluh sasaran per menit. Lama kelamaan, beban sasaran akan diperberat. Pada akhirnya, ini akan membentuk cara bertarungmu yang sesungguhnya. Kamu akan mendapatkan korelasi antara tata gerak, olah nafas, dan pematahan benda keras secara maksimal. Kamu akan teruji!", jelas ayah.

"Ini akan menjadi legenda...!", tegas ayah.

Aku melihat mata ayah berbinar. Aku terkejut, tak kusangka ayahku sampai berpikir ke arah ini. Terasa sekali semangatnya yang membara. Seperti merasuk ke jiwaku. Darahku seperti mendidih. Aku ikut terbawa oleh keyakinan ayah. Ya Allah, doakan aku mampu melewati semua ini.

 

 

(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

samber gledek

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 462
  • Reputation: 35
    • Email
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #19 on: 19/08/2011 13:29 »
Sambil menyimak sebetulnya ini adalah bagian dari pelontaran TD yang sebenarnya. Ketika benda bergerak yang akan kita serang maka mungkin TD yang dikeluarkan tinggal 25% karena yang 75% dipakai untuk berbagai gerakan yang lain..

Mangstab mas...dilanjut

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #20 on: 23/08/2011 14:32 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 13

Ambang Batasmu Adalah Kesadaran Rasional

 
Aku duduk terdiam. Batinku serasa berkecamuk. Aliran darah ini serasa semakin cepat, membuat detak jantungku meningkat. Apa yang sudah ayah jelaskan, peragakan, semuanya membuka cakrawalaku belajar silat selama ini. Aku tertegun, ternyata masih banyak hal yang belum aku mengerti. Secara reflek kepalaku menunduk.
 
"Bangunlah..., ada yang ingin ayah tunjukkan padamu.", pinta ayah. Ucapannya menyadarkan lamunanku.
 
Aku melihat ayah berjalan menuju paviliun, membuka pintu paviliun, dan kemudian masuk. Beberapa saat kemudian ayah keluar dengan membawa tiga buah senjata di tangannya. Aku melihat ayah membawa sebilah golok, sebuah toya, dan sepotong kayu tipis seperti pedang. Ayah berjalan mendekatiku. Kira-kira jarak satu meteran, ayah membungkuk untuk kemudian meletakkan toya dan sepotong kayu tipis seperti pedang di bawah. Di tangannya kini hanya ada sebilah golok.
 
Golok itu pendek, berkilauan terkena cahaya matahari. Masih terlihat ketajamannya.
 
"Nak, kamu tahu apa ini?", tanya ayah sambil menimang-nimang golok tersebut dengan kedua tangannya. Pandangan matanya melihat pada golok tersebut.
 
"Golok yah...", jawabku.
 
"Kamu tahu fungsinya?", tanya ayah. Pandangan mata ayah masih memandang golok tersebut. Kini golok tersebut berada di dalam genggaman tangan kanan ayah. Sementara tangan kirinya mengusap sisi terlebar golok tersebut dengan tiga jarinya dari batang golok hingga ujungnya.
 
"Banyak yah. Bisa untuk menyembelih hewan, bisa untuk memotong sesuatu, bisa juga untuk menjadi senjata di dalam suatu pertarungan, atau hal-hal lain yang membutuhkan kekuatan dan ketajaman dari golok tersebut", jawabku mantap.
 
"Benar nak. Itu adalah beberapa fungsi dari golok. Kalau kamu masih mengandalkan kesadaran inderawi ketika melihat golok, maka itulah yang umumnya akan ditangkap oleh kebanyakan orang.
 
Ayah sudah katakan sebelumnya, bahwa kesadaran inderawi adalah tingkat kesadaran terendah. Kalau kau bertumpu sepenuhnya terhadap kesadaran inderawi dalam membangun pemahaman terhadap realitas di sekelilingmu, maka itu menggambarkan kualitas jiwa yang terendah.", ucap ayah.
 
Pandangannya kini menatapku.
 
"Adakah yang salah dengan itu yah?", tanyaku.
 
"Tidak ada yang salah dengan kesadaran inderawi nak. Ia menempati porsinya sendiri sebagai cikal bakal suatu proses tumbuh. Tapi ia harus tetap kamu lewati nak.", jawab ayah serius.
 
Golok yang sudah digenggam di tangan kanannya diturunkan. Tangan kanannya kini menjuntai ke bawah dengan santai. Sementara tangan kirinya menjulur ke depan dengan seluruh ujung jari terbuka dan menghadap ke arah dadaku. Jarak ujung jari ayah sekitar tiga puluh sentimeter tepat di depan dadaku.
 
"Kamu lihat, apakah tangan ayah bisa menjangkau tubuhmu?", tanya ayah.
 
Aku menggeleng.
 
"Tidak sampai yah.", jawabku. Jelas tidak mungkin sampai, karena ada ruang kosong sekitar tiga puluh sentimeter dari ujung jari ayah yang menghadap ke dadaku dengan tubuhku.
 
"Bagaimana kalau sekarang", tanya ayah.
 
Aku melihat ayah menggerakkan tangan kanannya yang menggenggam golok sedikit melingkar ke arah bahu kiriku. Sisi golok itu kini menempel di bahu lengan kiriku. Ujung goloknya melewati tubuhku.
 
"Bagaimana kalau ayah tusukkan golok ini dengan posisi dan arah yang sama dengan tangan kiri ayah?", tanya ayah.
 
Aku terkejut.
 
"Eh, Aa pasti kena yah.", jawabku.
 
"Bagaimana supaya kamu tidak kena?", tanya ayah kembali.
 
"Aa harus mundur, menjauhi dari jarak dan arah serangan golok. Mundur satu langkah sudah cukup.", jawabku.
 
"Benar nak. Cobalah kamu mundur.", pinta ayah.
 
Aku menurut, dan mundur satu langkah. Aku melihat kini ujung golok ayah dan tubuhku semakin menjauh. Kira-kira sekitar tiga puluhan sentimeter.
 
Ayah tersenyum.
 
Aku melihat ayah membungkuk, lalu meletakkan goloknya disamping toya. Kini ayah mengambil toya dengan tangan kanannya, lalu menggenggam ujungnya. Ayah kemudian menusukkan perlahan toya tersebut ke arah yang sama dengan arah golok. Ujung toya itu mengenai dadaku.
 
"Kalau ini?", tanya ayah.
 
"Kena yah. Karena toya lebih panjang dari golok. Mundur satu langkah tidak akan cukup. Aa harus mundur satu langkah lagi, atau menghindar", jawabku.
 
"Benar nak, itulah yang harus kamu lakukan saat berhadapan dengan senjata. Kamu harus mengetahui sifat serangan senjata tersebut, agar kamu bisa dengan benar keluar dari jangkauan senjata tersebut.", lanjut ayah.
 
Aku mengangguk.
 
Ayah kemudian menurunkan tongkatnya hingga salah satu ujungnya menempel ke tanah. Ayah menggerakkan tangan kanannya ke kiri, yakni ke samping kanan tubuhku, hingga ke samping kiri tubuhku setengah lingkaran sehingga ujung tersebut menggores permukaan tanah dan menyebabkan terjadinya ceruk yang tidak terlalu dalam. Terlihat cerukan tersebut membentuk goresan setengah lingkaran.
 
"Kalau kamu perhatikan, ayah sama sekali tidak menggeser posisi ayah. Tapi ayah menggunakan golok dan toya ini sebagai kepanjangtanganan ayah agar bisa menyentuhmu. Senjata bisa memperpanjang jarak, bisa juga menambah daya kekuatan. Sejauh mana kamu memahami pengetahuan dan sifat dari senjata itu, maka potensi untuk keluar dari jangkauannya atau bahkan mematahkannya akan semakin besar. Demikianlah arti senjata secara inderawi.", ucap ayah.
 
Aku kembali mengangguk.
 
"Ambil golok itu. Lalu mundur tiga langkah.", pinta ayah.
 
Aku menurut. Aku berjalan mendekati golok, lalu membungkukkan badan, mengambil golok dengan tangan kananku, kemudian mundur kira-kira tiga langkah. Pada saat yang bersamaan, aku melihat ayah mengambil kembali dua buah besi yang berbentuk seperti gagang pompa berwarna hijau.
 
"Bersiaplah. Patahkan kembali gagang pompa besi ini...", ucap ayah.
 
Aku bersiap. Tangan kananku yang menggenggam golok juga telah siap. Kaki kananku aku tarik sedikit ke belakang. Entah kenapa aku jadi lebih percaya diri saat menggenggam golok ini. Tidak seperti saat aku berusaha menebas dengan sisi telapak tanganku sebelumnya.
 
Aku melihat gagang pompa itu sudah dilempar oleh ayah. Gagang pompa itu mendekatiku, dengan berputar cukup keras. Setelah aku yakin sudah masuk pada jarak serang, tanpa ragu aku sabetkan golok di tanganku menyongsong gagang pompa tersebut. Aku merasakan terjadinya benturan antara golok dengan gagang pompa.
 
TRAAANG!!!
 
Aku melihat gagang pompa itu patah jadi dua. Salah satu patahannya terlempar cukup jauh. Meski aku sendiri tidak yakin bagian mana dari gagang pompa itu yang berhasil aku kenai, tapi kenyataannya gagang pompa itu telah patah jadi dua. Tentunya berkat golok ini.
 
Aku melihat ayah tersenyum.
 
"Sekali lagi..!", teriak ayah.
 
Gagang pompa besi berwarna hijau itupun melayang kembali mendekati tubuhku. Lebih cepat dan keras dari sebelumnya. Putarannya sangat acak. Meski demikian, aku tetap yakin pada diriku. Aku tebaskan kembali golok itu menyongsong gagang pompa besi yang kedua.
 
TRAAANG!!!
 
Gagang pompa besi yang baru dilemparkan oleh ayah kembali patah jadi dua. Salah satu potongannya terlempar di sepotong kayu yang berbentuk seperti pedang.
 
Aku tersenyum. Golok ini bertugas dengan baik.
 
"Kemarilah...
 
"Duduklah kembali...", pinta ayah.
 
Aku menurut. Aku berjalan mendekat.
 
Aku melihat ayah duduk. Akupun mengikutinya.
 
"Kamu lihat nak, dengan menggenggam golok, maka kepercayaan dirimu bertambah, keyakinanmu terhadap keadaan yang membahayakan keselamatan jiwamupun bertambah. Kamu tidak ragu untuk menyerang gagang pompa yang ayah lemparkan kepadamu. Meskipun kamu tidak tahu bagian mana yang bakal kena, tapi kamu tetap yakin. Karena kamu sadar sepenuhnya kalau tanganmu tidak akan cedera saat melakukan tebasan tadi. Kamu percaya pada golok itu sebagai perpanjangan tanganmu. Kamu sudah melewati tahap kesadaran inderawi pada saat itu.", ucap ayah.
 
Aku mengangguk. Eh, benar sekali yang diucapkan ayah.
 
"Seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman, dan sudah makan asam garam kehidupan bakal berusaha memahami realitas kehidupan ini dengan melakukan eksplorasi lebih jauh, daripada sekadar bertumpu pada panca indera. Mereka akan mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang lain. Bahkan, akan menyimpulkan dari berbagai penelitian yang berkait dengan masalah tersebut.
 
Khasanah pengalaman manusia dalam menghadapi persoalan hidupnya itulah yang kemudian disebut sebagai ilmu pengetahuan. Ia dikembangkan berdasarkan rasionalitas persoalan yang berkembang dengan kebutuhan kehidupan manusia.
 
Maka, orang yang telah menggunakan berbagai khasanah keilmuan untuk memahami realitas hidupnya, ia telah mencapai kesadaran tingkat kedua yaitu Kesadaran Rasional.", lanjut ayah.
 
"Kesadaran Rasional?", tanyaku.
 
"Benar nak, kesadaran rasional.", jawab ayah.
 
"Pada saat kesadaran seperti itu telah bangkit, maka ia tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada hasil pengamatan panca inderanya. Melainkan membandingkan dengan hasil-hasil pengamatan yang lain, Misalnya melalui alat-alat bantu yang lebih canggih. Atau analisa-analisa matematis dan perhitungan keilmuan lainnya. Ia, karenanya lantas mendapatkan kesimpulan yang lebih 'benar' dan lebih mendekati kenyataan dibandingkan sekadar menggunakan panca indera.
 
Golok, dan toya ini adalah salah satunya. Termasuk pengetahuan yang didapat darinya, yakni timbulnya keberanianmu untuk menebas gagang pompa tersebut.", lanjut ayah.
 
Aku mengangguk. Aku mulai mengerti penjelasan ayah. Selama aku sekolah, aku sudah sering menggunakan alat-alat bantu yang cukup modern di laboratorium sekolahku untuk melakukan suatu penelitian. Sejauh ini, aku hanya bersikap biasa-biasa saja. Menganggap semua alat-alat tersebut ya sekedar alat-alat saja, tapi tidak memahami makna dibalik terbentuknya alat-alat itu.
 
"Sebagai contoh. Kalau kita menggunakan mata untuk mengamati sebatang logam, maka kita akan mengatakan bahwa logam itu adalah benda padat yang tidak berlubang-lubang, tidak tembus penglihatan. Akan tetapi jika kita menggunakan sinar X atau mikroskop elektron untuk 'melihat' sepotong logam itu, kita bakal melihat sesuatu yang berbeda, bahwa logam tersebut bukanlah benda yang 'terlalu padat'. la benda yang berpori-pori dan ‘keropos’. Benda yang ternyata berisi ruang kosong yang amat banyak.
 
Contoh lainnya, kita tidak bisa melihat janin di dalam rahim seorang ibu, dengan mata telanjang. Tapi, kini kita bisa 'melihatnya' dengan menggunakan alat bantu, USG. Dengan demikian, pemahaman mengenai pekembangan janin di dalam rahim menjadi jauh lebih baik ketimbang hanya sekadar menggunakan mata telanjang, atau menggunakan teropong suara yang ditempelkan ke perut ibu yang sedang hamil, seperti dilakukan para bidan zaman dulu.", ucap ayah.
 
Aku melihat ayah menengadah, wajahnya dihadapkan pada langit.
 
"Atau, ketika seseorang berusaha memahami tentang langit. Tentu saja, pemahamannya akan menjadi jauh lebih baik dan maju ketika dia belajar ilmu astronomi yang menggunakan banyak alat bantu berupa rumus matematis maupun teleskop, dibandingkan dengan hanya menggunakan mata telanjang untuk memahami bintang-bintang dan benda langit yang berjumlah triliunan.
 
Pendek kata, ketika kesadaran rasional itu muncul, dan kemudian dibarengi dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan rasional, maka seseorang akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang alam semesta dan lingkungan hidupnya. Tiba-tiba seseorang akan menyadari betapa canggih dan hebatnya alam semesta tempatnya hidup. Dia telah memperoleh kesadaran baru terhadap realitas yang terhampar di sekitarnya.
 
Pada tingkat kesadaran rasional ini, seseorang tiba-tiba bisa 'melihat' lebih besar dan luas dari apa yang dilihat oleh matanya. Ia bisa 'mendengar' lebih tajam dibandingkan dengan pendengaran telinganya. la bisa ‘mencium’ lebih peka daripada penciuman hidungnya. Dan bisa merasakan lebih halus daripada kehalusan indera pengecap dan perabanya.", lanjut ayah.
 
Aku merasakan kebenaran ucapan ayah. Saat dulu aku mengamati sel dengan menggunakan mikroskop pada saat pelajaran Biologi di sekolahku, mataku bisa melihat bentuk sel dengan benar. Termasuk ketika pelajaran Fisika, aku melihat bentuk gelombang apakah transversal atau longitudinal, aku menggunakan Osciloscope. Atau saat melihat bintang saat studi tour tahun kemarin di Boscha, aku menggunakan telescope agar mataku bisa melihat bintang. Tapi kalau tidak menggunakan mikroskop, sel tumbuhan itu sama sekali tidak terlihat. Kalau tidak menggunakan Osciloscope, bentuk gelombang itu tidak akan terlihat. Kalau tidak menggunakan telescope, bintang itu tidak akan terlihat dengan jelas.
 
"Nak, kesadaran rasional akan membuat seseorang melihat dunia ini dengan berbeda. Bukan hanya seperti yang ia amati selama ini. Banyak hal yang tadinya tidak terdeteksi, kini bermunculan. Ia telah bisa 'melihat', 'mendengar', 'mencium' dan sekaligus 'merasakan' dunia, dengan menggunakan rasionya atau akalnya berdasarkan pengetahuan yang ada. Disitulah teknologi muncul. Hanya orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran...", ucap ayah.
 
"Kesadaran rasional adalah ambang batas tertinggi dari fungsi inderawi...", lanjut ayah sambil matanya kembali menatapku.
 
Aku mengangguk, memahami maksud dari ucapan-ucapan ayah. Aku mulai mengerti, kalau ternyata memang banyak hal-hal hebat yang dihasilkan dari kesadaran jenis ini. Saat dimana panca indera yang terbatas mulai dibantu dan terbantu dengan alat-alat dan teknologi modern.
 
"Dan ambang batas itu harus kamu lewati agar masuk pada tahap selanjutnya ...", tegas ayah.
 
Aku tertegun. Keningku berkerut.
 
"Ambang batas? Tahap selanjutnya?", tanyaku.
 
Ayah tidak menjawab. Ayah kemudian mengambil sepotong kayu tipis yang berbentuk seperti pedang di samping kanannya dengan tangan kanannya.
 
"Ini adalah pedang kayu nak. Tipis. Kalaupun kamu benturkan dengan gagang pompa itu, niscaya yang patah malah pedang kayu ini. Kekuatan ragawi dari pedang kayu ini tidak sekuat seperti gagang pompa itu. Itulah yang akan kamu tangkap dari fungsi inderawimu, dan itulah juga yang akan ditafsirkan dari kesadaran rasionalmu.", jawab ayah.
 
Aku mengangguk.
 
Ayah mengambil potongan gagang pompa yang kebetulan jatuh di dekat pedang kayu tersebut. Ayah kemudian berdiri, lalu melemparkan potongan gagang pompa tersebut ke udara. Aku melihat gagang pompa itu meninggi sekitar empat meteran. Mata ayah tidak berkedip menatap gagang pompa yang masih melayang di udara tersebut. Tiba-tiba ayah menebasnya dengan pedang kayu tipis.
 
TRAKKK!!
 
Aku terkejut.
 
Potongan gagang pompa tersebut patah jadi dua! Uuh, bagaimana bisa? Secara material, kayu tipis seperti itu tidak akan bisa mematahkan gagang besi!
 
Aku melihat ayah tersenyum.
 
"Ada satu lagi yang menarik nak...", ucap ayah.
 
Aku melihat ayah menancapkan pedang kayu tipis itu ke tanah, lalu pandangannya melihat ke sekeliling. Seperti ada yang sedang dicari oleh ayah. Ayah kemudian mendekati sebatang rumput yang cukup panjang. Memetiknya. Lalu kembali ke tempat awal. Sambil berjalan, ayah juga terlihat mengambil sebuah potongan gagang pompa yang berada tidak jauh dari situ. Di tangan kanannya kini terdapat sepotong rumput yang panjangnya kira-kira dua puluh sentimeter dan di tangan kirinya kini terdapat sepotong patahan gagang pompa besi.
 
Aku melihat tangan kiri ayah memegang patahan gagang pompa, sikunya agak ditekuk, lalu diturunkan sedikit di bawah dadanya dengan jarak sekitar empat puluh sentimeter. Sedangkan tangan kanannya memegang sepotong rumput yang salah satu ujungnya ditekand dengan ibu jari dan jari telunjuk yang ditekuk sedemikian rupa. Aku melihat ayah menempelkan rumput tersebut di atas patahan gagang pompa. Wajahnya terlihat serius. Sesaat kemudian ayah menghirup nafas ringan, lalu mengangkat rumput itu meninggi sekitar dua puluh sentimeter, dan membenturkannya ke patahan gagang pompa yang dipegang oleh tangan kiri ayah.
 
TRAKKKKK!!
 
Patahan gagang pompa itu kembali patah!
 
Aku sangat terkejut.
 
"Ini tidak mungkin!", gumamku dalam hati. Bagaimana bisa? Sepotong rumput yang tampak lemah seperti itu bisa mematahkan sepotong gagang pompa pendek? Aku heran, dan juga terkejut. Aku hanya melihat ayah kembali tersenyum. Nampaknya ia memahami kebingunganku.
 
"Kamu lihat nak, bahkan sepotong rumput ini bisa menjadi sesuatu yang berbeda. Kesadaran inderawimu tidak akan bisa menerima ini, termasuk juga kesadaran rasionalmu akan menolak hal ini. Pengetahuan ilmiahmu akan membantah keras kejadian tadi. Mereka adalah ambang batasmu.", ucap ayah.
 
"Ba...ba..bagaimana ayah melakukannya yah?", tanyaku keheranan. Jujur aku bingung. Dan memang benar, nalarku tidak bisa menerima keadaan tadi. Kalau saat ayah mematahkan dengan sisi telapak tangannya atau tendangannya, aku masih bisa menerima. Kalau tadi aku mematahkannya dengan golok di tanganku, aku juga bisa menerimanya. Tapi penerimaanku mulai goyah saat melihat bagaimana pedang kayu yang tipis bisa menebas sepotong besi. Aku jauh lebih tergoyahkan saat sepotong rumput bisa mematahkan sepotong gagang pompa yang sudah terpotong pendek.
 
Ayah berjalan mendekatiku, lalu memberikan rumput itu padaku. Kedua tangannku agak bergetar menerima rumput itu. Benar. Itu hanya rumput biasa. Tidak ada yang istimewa darinya. Aku merabanya, mengamatinya dari ujung ke ujung, pada setiap bagiannya. Uuh, tidak ada yang istimewa. Ini benar-benar rumput. Sama dengan yang setiap hari aku lihat. Sama dengan yang saat ini sedang aku duduki. Ini memang rumput!
 
Ayah kemudian menyentuhkan ujung telunjuk tangan kanannya di dadaku.
 
"Semua karena ini nak...", ucap ayah. Sambil ujung jari tersebut diketuk-ketukkan perlahan di dadaku.
 
"Semua karena pemahaman. Karena kesadaran. Kesadaran. Lewatilah ambang batasmu itu nak...", tegas ayah.
 
Aku kembali tertegun. Entah mengapa batinku serasa bergetar, bergelora. Entah mengapa juga pikiranku jadi lebih terang benderang saat ini. Aku jadi mulai bisa menangkap benang merah dari latihan ayah terhadapku selama ini.
 
"Bisalah merasa ... jangan hanya merasa bisa...", lanjut ayah.
 
 
 
 
(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

samber gledek

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 462
  • Reputation: 35
    • Email
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #21 on: 24/08/2011 11:10 »
Pemahan ilmu lewat cerita ternyata lebih pas ..dilanjut mas..

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #22 on: 24/08/2011 14:32 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 14

Ada 'Rasa' Di Dalam Rasa

 
"Raport sudah dibagikan. Mulai besok, kalian libur selama dua minggu. Masuk kembali tanggal sebelas maret ya. Daftar ulang mulai dari tanggal dua. Ingat, jangan lupa untuk mengisi liburan kalian dengan kegiatan yang berguna. Selamat siang anak-anak, dan selamat menjalani liburan!", ucap pak Endang. Beliau adalah guru Fisika di sekolahku, sekaligus juga sebagai wali kelasku.
 
"Selamat siang paaaaak...!", jawab anak-anak serempak dengan semangat.
 
Setelah itu, suasana hening sejenak. Aku melihat pak guru membereskan buku-buku diatas mejanya, lalu berjalan keluar ruangan kelas.
 
"Horeeeee... libuuur panjaaaaang! Liburr panjaaaang! Libuuuuur panjaaang!", tiba-tiba Herman berteriak dengan lantang. Persis setelah pak guru keluar dari ruangan kelas. Ia kemudian naik ke atas meja, lalu menari-nari dengan riangnya. Herman terlihat sedang menirukan gaya berjoget Jaipongan. Tapi tidak sama persis, bahkan gerakannya parah sekali. Aku tertawa kecil melihatnya. Teman-teman yang lainnya juga demikian. Risa, yang terkenal cerewet juga ikut tertawa lebar melihat gerakan-gerakan Herman. Tapi Herman cuek saja. Ia tetap saja bernyanyi dengan gerakan Jaipongan semaunya.
 
 
Hari ini adalah hari terakhir aku belajar di kelas dua. Besok sudah liburan. Ah, tak terasa sudah aku melewati kelas dua ini dan bersiap masuk ke kelas tiga. Oh iya, aku akan menempati kelas 3 IPA 2 nanti. Letak kelas baruku ada di ujung tangga pada lantai dua bangunan baru. Aku masuk tiga besar, dan ditempatkan secara otomatis oleh wali kelasku pada kelas IPA. Aku sendiri tidak menolaknya.
 
Aku melirik Andi, teman duduk di sampingku. Eh buku-bukunya sudah dirapihkan.
 
"A, gue cabut dulu yaa..! Udah ditunggu nyokap nih...", ucap Andi kepadaku.
 
"Ok Ndi, hati-hati ya... Met liburan yaaa!", jawabku.
 
"Iya, met liburan juga ...! Eh, yayangmu dateng tuh...", ucap Andi. Pandangan matanya mengarah ke pintu kelas. Aku spontan menoleh, dan memang benar, aku melihat Dewi sedang berdiri di pintu kelas.
 
"Ciaooo!", ucap Andi. Ia langsung berdiri dari tempat duduk dan berjalan cepat menuju pintu keluar kelas. Langkahnya lebar sekali. Ia kemudian terlihat menyapa Dewi di pintu.
 
"Dew, ditungguin Aa tuh...", ucap Andi dengan cukup keras. Matanya melirik ke arahku.
 
Dewi tidak mempedulikannya. Ia berjalan masuk dan mendekatiku. Dewi kemudian duduk disamping tempat dudukku. Dewi berkulit sawo matang, muka oval, dan cukup manis. Ia kemudian memukul lengan kiriku dengan lembut.
 
"Gimana? Dapet rangking ga?", tanya Dewi.
 
"Alhamdulillah Dew.", jawabku.
 
"Iiiiih kamu pinteeeer siiih!", ucap Dewi. Ia mencubit lengan kiriku dengan cukup keras.
 
Aku meringis sambil menggerakkan tangan kananku untuk mengelus-elus bekas cubitan Dewi di lengan kiriku.
 
"Awww.. kok dicubit sih? Sakit tau!", ucapku dengan masih meringis.
 
"Kalau kamu sih gimana?", tanyaku sambil tertawa kecil.
 
"Hmmmm... Seperti biasa ... Ngga dapet! Hehehehe", jawab Dewi semangat. Ia menatap ke arahku.
 
"Dasar!", ucapku sambil berusaha untuk membalas dengan menjitak kepalanya. Tapi jitakan yang memang tidak kena, hanya sekedar bentuk gerakannya saja.
 
Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi.
 
"Liburan nanti mau kemana A?", tanya Dewi dengan lembut. Matanya menatap wajahku.
 
Uuh, aku jadi grogi. Kelembutan ini benar-benar membuatku grogi.
 
Ingatanku melayang pada awal kali kamu bertemu dan berkenalan.
 
***
 
Jujur, aku memang suka dengan gadis ini. Dan kelihatannya dia juga suka denganku. Perkenalan kami tidak sengaja, ketika ada acara kegiatan sekolah saat masa orientasi siswa baru. Aku diminta jadi bagian dari tim keamanan sekolah pada kegiatan tersebut. Saat itu Dewi belum aku kenal dengan baik. Maklum, jumlah murid di sekolahku sangat banyak. Apalagi Dewi lain kelas, dan aku orangnya agak tertutup. Meski aku mengetahuinya pun mungkin hanya sebatas kenal muka tapi tidak kenal nama. Saat aku sedang melakukan inspeksi mendadak pada satu kelompok siswa baru yang sedang ditatar, aku melihat ada seorang gadis yang sedang duduk dengan wajah yang terlihat pucat. Ia tampak kelelahan. Aku kemudian mendekatinya. Jarak kami sekitar dua meteran.
 
"Eh, kamu sakit?", tanyaku.
 
Gadis itu diam saja. Wajahnya terlihat semakin pucat. Aku kenal wajahnya, tapi tidak tahu namanya.
 
"Ya sudah, ikut gue aja dulu ke ruang kesehatan yuk?", pintaku.
 
Gadis itu mengangguk. Ia bangun dari tempat duduknya. Berusaha untuk berjalan. Tapi baru berjalan satu langkah, ia sudah mulai lunglai. Tangannya meraih ujung meja dan berpegangan disitu. Ia hampir terjatuh. Secara reflek aku memegangnya, dan berusaha memapahnya menuju ruang kesehatan. Tangan kanannya aku arahkan ke bahuku, lalu aku memapahnya sambil berjalan menuju ruang kesehatan. Terasa lemah sekali.
 
Ruang kesehatan itu berada di depan ruang guru. Berukuran empat kali lima meter. Cukup besar memang. Masih terawat, dan memiliki pendingin sehingga terasa cukup nyaman. Di dalamnya terdapat dua buah ranjang standar untuk pasien dengan sprei berwarna putih. Ada juga dua lemari untuk obat-obatan dan alat-alat kesehatan lainnya. Temboknya dicat dengan warna putih. Diantara dua ranjang terdapat sekat dengan kain putih.
 
Aku memasuki ruang kesehatan. Pandanganku menyapu ke sekeliling, berusaha mencari tempat yang baik untuk gadis ini. Di dalamnya terlihat ada dua orang siswa baru yang sedang duduk. Mereka juga tampak kelelahan.
 
"Kamu tiduran saja di ranjang itu ya..", ucapku.
 
Gadis itu mengangguk.
 
Aku memapahnya mendekati ranjang ruang kesehatan yang letaknya paling dekat. Gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya disitu. Aku mengatur posisi bantal putih agar kepalanya nyaman saat rebahan. Kemudian berjalan menuju ujung ranjang untuk melepas sepatunya, agar ia lebih nyaman. Tanganku mulai dengan membuka ikatan tali sepatunya. Sesekali aku mencuri lirik pada wajahnya. Meski sedang sakit, ia terlihat manis. Gadis itu tersenyum. Ia tahu aku mencuri lirik pada wajahnya. Aku menjawab senyum. Hatiku jadi dag dig dug. Tanganku sudah selesai membuka ikatan tali sepatu kanannya. Perlahan aku menarik sepatunya. Ia terlihat meringis.
 
"Sakit?", tanyaku dengan kening aku kerutkan seolah ikut merasakan sakit.
 
Gadis itu menggeleng. Ia tersenyum.
 
"Nggak...", jawabnya perlahan.
 
Aku melanjutkan untuk membuka ikatan sepatu di kaki kirinya. Mencoba melepas sepatu kirinya perlahan, khawatir membuatnya meringis lagi. Sesekali, aku masih mencuri lirik pada wajahnya.
 
Aku meletakkan sepatunya dibawah ranjang.
 
"Sepatunya disini ya...", ucapku sambil menunjuk ke arah sepatu di bawah ranjang.
 
"Iya, terima kasih ya... Kamu baik...", ucapnya lirih. Matanya menatapku. Ini pertama kalinya pandangan mata kami beradu. Hatiku benar-benar dag dig dug tak karuan. Ia benar-benar manis.
 
"Sa.. sama-sama ya. Terima kasih juga ...", ucapku dengan agak grogi.
 
"Nama kamu siapa?", tanya gadis itu.
 
"Aku Akbar, biasa dipanggil Aa.", jawabku.
 
"Kalau kamu?", tanyaku.
 
Gadis itu kemudian menggerakkan tangan kanannya dengan sikap seperti ingin berjabat tangan.
 
"Aku Dewi...", jawabnya sambil tersenyum.
 
Aku terdiam sesaat.
 
Aku membalas jabatan tangannya. Terasa telapak tangannya yang lembut dan jari jemarinya yang mungil. Saat bersentuhan, terasa ada getaran aneh di hati ini. Hatiku semakin dag dig dug tak karuan.
 
"Iya, met kenal ya Wi..", ucapku.
 
"Dew...Dewiii..!", seorang gadis tampak masuk dengan tergesa-gesa sambil berteriak.
 
Aku menoleh.
 
Gadis yang baru masuk itu tingginya kira-kira seratus enam puluh lima sentimeter, agak tambun, berkulit agak putih, berambut ikal. Di mulutnya terdapat sebuah permen Lolipop. Pandangannya menyapu ke sekeliling, lalu terfokus melihat Dewi yang sedang berbaring di ranjang. Ia kemudian berjalan dengan bergegas.
 
"Aduuuh Deew... elu kenapa siiih?", tanyanya. Ia tampak menjadi begitu sibuk. Pandangannya seperti menyusuri setiap bagian tubuh Dewi dari ujung kaki sampai ujung rambut.
 
"Eh ini siapa? Kok pegang-pegang tangan elu sih Dew?", lanjutnya. Tangannya kemudian berkacak pinggang sambil matanya menatap ke arahku.
 
"Eh iya, maaf ... maaf...", ucapku berulang-ulang.
 
Aaah, aku tersadar. Ternyata tangan kami masih saling berpegangan. Secara reflek aku menarik tanganku. Wajahku rasanya memerah. Dewi juga kelihatan tersenyum malu. Aku langsung berdiri.
 
"Rin, gue gak apa-apa kok... Mungkin cuman kelelahan aja. Untung ada Aa", jawab Dewi perlahan. Ia menoleh ke arahku.
 
"Hayoooo.... ehem ehem... suit suiiitt...!", goda gadis yang dipanggil Rin. Mungkin namanya Rini, atau Airin, ah aku tidak tahu. Di kemudian hari aku baru tahu kalau namanya Rini.
 
"Mana dipanggilnya Aa pulaaaa...", ucap Rini sambil terus menggoda kami.
 
Daripada aku bertambah grogi, lebih baik aku keluar saja dari ruangan kesehatan itu. Toh sudah ada Rini yang menemani. Setidaknya aku lebih tenang.
 
"Gu...gue tinggal dulu ya...", ucapku pada mereka berdua.
 
Aku bergegas akan meninggalkan tempat itu. Sesaat sebelum aku balik badan, Dewi kembali memegang tanganku. Hatiku dag dig dug kembali.
 
"Terima kasih sekali lagi ya A", ucap Dewi sambil tersenyum.
 
"I...iya Dew... Cepet sehat ya...", jawabku. Aku langsung melepaskan pegangannya dan langsung balik badan, berjalan dengan cepat menuju pintu keluar. Dari sudut mata, aku masih melihat Rini tertawa cekikikan. Barangkali ia merasa lucu melihat tingkahku yang grogi seperti ini. Uuuh,, aku memang grogi nih.
 
Itulah perkenalan awalku dengan Dewi.
 
***
 
"Iiih.. ditanya kok diem aja sih?", ucapan Dewi membuyarkan lamunanku.
 
Aku menoleh ke arahnya. Wajah manis itu kembali terlihat.
 
"Blom tau nih Dew. Biasanya sih ayah mengajakku untuk liburan. Blom tanya sama ayah nih.", jawabku.
 
"Mmmmmm, kalau misalkan ... sore ini ... kita nonton mau gak?", tanya Dewi dengan perlahan.
 
Dheg.. hatiku dag dig dug kembali. Menonton bersama Dewi? Sesuatu yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya.
 
"Bo... boleh aja. Tapi nanti ada yang marah ga?", jawabku sedikit terbata-bata.
 
Dewi menggeleng.
 
"Sini, pinjem pulpen ama kertas", pinta Dewi.
 
Aku menurut. Meski aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Aku mengeluaran pulpen hitam dengan secarik kertas lalu memberikannya pada Dewi.
 
"Husss...! Jangan nyontek ya...! Sana..sana...", gurau Dewi sambil tangan kirinya melakukan gerakan untuk mengusir.
 
Aku hanya melihat ia menuliskan sesuatu di secarik kertas itu, lalu melipatnya dan memberikannya padaku.
 
"Nih... bacanya nanti saat Dewi keluar ya...", ucap Dewi.
 
Aku mengangguk.
 
Aku melihat Dewi bangun dari tempat duduknya, lalu ia memutar badan dan beranjak pergi dengan centilnya.
 
"Daahhh!", lanjut Dewi sambil tangannya melambai ke arahku.
 
Aku hanya melihat ia berjalan dengan riang keluar dari ruangan kelas.
 
Tiba-tiba bahu kananku disikut dengan perlahan oleh Risa.
 
"Ehem... jadi juga nih kencan ama si Dewi?", goda Risa. Kelopak mata atasnya terlihat naik turun. Sambil mulutnya tersenyum lebar.
 
Aku langsung menutup mulutku dengan satu jari telunjuk kanan, memberi isyarat kepadanya agar diam.
 
"Sssst...!", ucapku perlahan.
 
Risa paham isyarat ini. Dia lalu mengangkat dua ibu jarinya, memberikan isyarat 'TOP DAH!'. Ia cekikikan, dan langsung ngacir keluar ruangan.
 
Dengan penasaran, aku membuka kertas yang dilipat tadi yang sudah ditulisi oleh Dewi.
 
-------------------------------------------
gue tunggu di halte depan sekolah
sekarang!
kita nomat di Studio 21 Cirebon Mall
jam 2
-------------------------------------------
 
Aku tersenyum. Eh, beneran jadi nonton nih sama Dewi. Nonton yang jam 2 nanti. Teman-teman biasa menyebut dengan istilah 'nomat' atau 'nonton hemat'. Karena pada jam 2 harga tiket lebih murah dari biasanya. Memang rata-rata yang menonton itu pelajar. Tak terasa, hatiku berbunga-bunga. Dengan sigap, aku langsung berjalan menuju pintu ruangan kelas. Menuruni tangga dari lantai dua, dan berjalan kembali menuju pintu gerbang sekolah.
 
Halte sekolahku berada tepat di depan pagar sekolah, sebelah kiri dari pintu gerbang, berada pada trotoar pejalan kaki. Ada sebuah bangku panjang untuk duduk sekitar enam orang. Halte tersebut ditopang oleh dua pilar di sebelah kanan dan kirinya.
 
Aku sudah melewati pintu gerbang sekolah. Kepalaku menoleh ke kiri, aku melihat Dewi sedang duduk di ujung bangku. Aku berjalan mendekatinya. Ia melihatku, dan melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum.
 
Aku duduk di sampingnya.
 
"Tunggu bentar ya..., sopir papah sedang jemput kesini. Nanti kita naik mobil saja.", ucap Dewi.
 
Aku mengangguk.
 
Kira-kira tiga puluh menitan kemudian, Dewi menunjuk ke seberang jalan.
 
"Tuh, mobilnya datang...", ucap Dewi.
 
Aku mengikuti arah telunjuk Dewi. Melihat ada sebuah mobil Toyota Avanza berwarna silver metalik yang sedang melintas di seberang. Kaca supir tidak ditutup. Supir itu terlihat melambai ke arah Dewi.
 
Dewi berdiri dan berjalan menuju pinggiran trotoar yang mengarah ke jalan raya. Akupun mengikutinya.
 
Tidak berapa lama, mobil Toyota Avanza itu berhenti di depan kami. Dewi membuka pintu belakangnya, lalu ia langsung masuk. Aku sendiri masih berdiri di luar pintu yang terbuka.
 
"Sini ... masuk...", pinta Dewi.
 
Aku menurut. Aku masuk, dan duduk disamping Dewi. Pintu mobilpun aku tutup. Suasana menjadi lebih hening.
 
"Ke Cirebon Mall ya pak", ucap Dewi kepada supirnya.
 
"Iya Neng", jawab supir tersebut.
 
Mobilpun melaju menuju Cirebon Mall.
 
Lima belas menit kemudian kami sampai di depan Cirebon Mall. Dewi meminta untuk diturunkan di depan saja, sementara pak supirnya diminta untuk kembali ke tempat papahnya.
 
Kami berjalan masuk ke dalam mall, lalu menaiki tangga berjalan. Di ujung tangga berjalan itu, tepatnya di lantai dua, terlihat tempat pembelian tiket bioskop di Studio 21. Dewi langsung menuju kesana dan membeli tiket sementara aku melihat-melihat poster film lain. Film yang ingin ditontonnya adalah Spiderman. Aku melihatnya memegang tiket, lalu ia berbalik ke arahku sambil melambai-lambaikan tiketnya sambil mulutnya berucap "Spiderman" tanpa suara, hanya gerak bibirnya saja. Ia berjalan mendekatiku.
 
"Para penonton yang terhormat, pintu theater tiga telah dibuka. Anda dipersilahkan untuk masuk.", terdengar suara dari pengeras suara Studio 21.
 
"Eh, udah mau mulai nih A. Ayuk..!", tanya Dewi. Ia kemudian menarik tanganku. Kamipun masuk.
 
Kami mendapat tiket dengan nomor kursi B2 dan B3. Aku sendiri duduk di nomor kursi B2, sedangkan Dewi duduk di nomor kursi B3. Letaknya agak di pojok, dekat dengan tembok bioskop.
 
Lima menit kemudian lampu di dalam bioskop mulai dipadamkan. Suasana mulai gelap, pertanda film pun akan segera dimulai. Benar saja. Semburat cahaya dari atas terlihat, lalu film pun dimulai.
 
Di dalam bioskop, hatiku tidak henti-hentinya dag dig dug. Apalagi saat tangan dewi memegang tanganku. Aku bertambah kikuk dan grogi. Ingin kulepas, tapi kok rasanya tidak kuasa. Hatiku merasa bahagia berpegangan tangan seperti ini. Meski ini baru pertama kalinya dalam hidupku sedekat ini bersentuhan dengan lawan jenis.
 
"Uuh, kenapa bisa begini?", gumamku dalam hati.
 
Deg ... deg ... deg ...
 
Dewi semakin manja, ia melingkarkan lenganku di lenganku. Lalu bahunya ia senderkan di bahuku. Sentuhan ini membuatku benar-benar kacau.
 
Aku mulai berkeringat dingin. Padahal saat itu ruangan bioskop cukup dingin. Tapi keringatku tak berhenti keluar.
 
Deg ... deg ... deg
 
Hatiku semakin tidak karuan. Keringatku bertambah banyak saja. Rasanya, aku ingin memeluknya saja. Atau ingin menciumnya saja. Uuh, darah mudaku bergejolak. Aku jadi mabuk kepayang. Hatiku berperang dengan keinginanku sendiri. Ada sesuatu yang berontak di hatiku ini. Ada yang meronta, ada yang membantah, ada juga yang menginginkannya.
 
Aku seperti dibisiki oleh seseorang, atau mungkin sesuatu, atau entahlah. Hati kecilku benar-benar seperti berkata, "jangan, belum waktunya, belum menjadi hak mu...".
 
Aku terdiam. Tiba-tiba aku teringat pesan ayah.
 
***
 
"Nak, di dalam diri kita ini ada 'rasa' yang ada di dalam rasa. Sesuatu yang lebih murni. Ia adalah hati kecilmu. Ia adalah mata hati. Ia juga yang akan menuntunmu dalam kebenaran. Kalau kamu sudah merasakan itu, ikutilah nak. Maka kamu akan selamat.", ucap ayah.
 
"Kapan itu akan muncul yah?", tanyaku. Aku tidak tahu apa yang ayah jelaskan, tapi aku berusaha mengingatnya.
 
"Nanti, akan ada suatu masa dimana kamu merasakan benturan di hatimu. Antara ya dan tidak, antara mengikuti keinginan dan meninggalkan keinginan, antara maju dan mundur, antara harus dan biarkan, diantara suatu kebimbangan. Pada saat itu hati kecilmu akan membisikimu, memberi tahumu, memberimu alarm, pertanda. Kalau itu sudah kamu rasakan, ikutilah, karena ia adalah mata hati yang akan menuntunmu...", lanjut ayah.
 
"Mencari sampai mendapat tindakan yang benar dengan menggunakan mata hati...", tegas ayah.
 
Aku mengangguk, dan tertunduk.
 
***
 
Setelah mengingat itu, aku jadi tenang. Aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan.
 
Aku menggeser tempat dudukku, lalu menepis halus tangan Dewi yang melingkar di lengan kananku.
 
"Ssst... nanti gue ga bisa konsentrasi nih nontonnya...", ucapku perlahan. Berusaha agar Dewi tidak tersinggung dengan sikap penolakanku.
 
"Iya deeeh... iyaaa...", jawab Dewi perlahan. Ia kemudian menarik tangannya yang melingkar di lenganku. Lalu duduk normal seperti biasa.
 
Aku lega.
 
Ayah, aku mulai mengerti arti dari rasa di dalam rasa. Aku mulai mengerti makna dari 'mata hati' yang dulu ayah jelaskan.
 
 
 
 
(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

samber gledek

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 462
  • Reputation: 35
    • Email
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #23 on: 25/08/2011 13:00 »
KOmbinasi cerita mangstab..ternyata silat bisa digabung rasa dengan cinta...dilanjut mas...kayak dulu nunggu cerita apai di bukit menoreh..

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #24 on: 26/08/2011 13:12 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 15

Hidup Atau Mati



Aku berjalan bersama Dewi menuju tempat parkir mall. Tempat parkir mobil itu berjarak kira-kira dua puluh meter dari pintu keluar mall arah sebelah kiri. Kami harus melewati parkiran motor terlebih dahulu, kemudian melewati KFC, dan sebuah masjid yang cukup besar. Setelah itu, barulah parkir mobil. Selesai menonton film Spiderman, aku mengantar Dewi. Menurut Dewi, supirnya sudah menunggu di parkiran mobil. Ini pertama kalinya aku menonton bioskop bersama seorang gadis. Hatiku masih berbunga-bunga. Aku yakin hati Dewi pun sama.
 
Kami berjalan beriringan.
 
"Mau dianter ga pulangnya?", tanya Dewi. Ia menatapku lembut. Tatapan ini tidak pernah aku lupakan.
 
Aku tersenyum.
 
"Ga usah. Kamu dulu saja ga apa-apa. Kebetulan aku mau ada perlu untuk ke Gramedia dulu. Mau lihat-lihat buku.", jawabku lembut. Hatiku sebenarnya ingin bersamanya, tapi aku belum berani. Aku berikan alasan untuk ke Gramedia dulu untuk menolak halus ajakannya. Istilah anak-anak muda zaman sekarang itu ‘jaim’ alias ‘jaga image’.
 
"Yeee, kok ga bilang dari tadi sih?", ucap Dewi sambil cemberut. Bibirnya agak manyun. Wajahnya menjadi lucu. Ia menghentikan langkahnya.
 
"Iya iya, nanti lain kali kita jalan-jalan ke Gramedia ya.", jawabku sambil tertawa kecil.
 
Aku kemudian berdiri di depannya.
 
"Jangan marah ya...", pintaku lembut. Sambil kedua telapak tanganku aku rapatkan di depan wajah membentuk posisi memohon.
 
"Huh!", jawab Dewi. Ia membuang wajahnya ke arah kiri. Mukanya masih cemberut, bibirnya juga masih agak manyun. Dewi ternyata manja.
 
"Iya... iya... gue janji. Nanti, gue akan ajak ke Gramedia... Ok?", ucapku sambil tanganku membentuk simbol V dengan jari telunjuk dan jari tengah. Aku menegakkan punggung, wajah kubuat serius seperti sedang upacara bendera.
 
Dewi mulai melunak, ia menoleh ke arahku.
 
"Beneran ya? Awas loh kalau bohong!", tanya Dewi. Telunjuk tangan kanannya kini sedang menunjuk keningku.
 
"I swear... by the moon and the stars in the skies. And I swear like the shadow that’s by your side...", jawabku sambil bernyanyi sekenanya saja lagu 'I Swear' dari Backstreet Boys sambil memasang tampang serius. Nada suaraku memang asal saja, yang penting liriknya benar.
 
"Iiiih.. ga usah nyanyi deh! Jelek tau! Minggir sana!", ucap Dewi geram. Ia mencubit lenganku. Menyuruhku minggir karena memang aku sengaja menghalangi jalannya. Tanpa menunggu jawaban dariku, ia langsung melangkah maju sambil menggerakkan bahunya untuk menggeser posisi berdiriku. Aku otomatis tergeser ke samping kanan. Ia berjalan melewatiku. Berjalan dengan cepat sambil kepalanya sedikit menengadah dengan manja. Di depan, tidak jauh dari tempatku berdiri, terlihat mobil Toyota Avanza warna silver metalik.
 
Aku meringis. Cubitan itu cukup keras, meski tidak menyakitkan. Aku mengikuti Dewi dari belakang, berjalan menuju mobil. Supir Dewi yang sedang duduk kemudian berdiri dengan tergesa setelah melihat kedatangan Dewi. Kami berhenti di dekat pintu belakang mobil. Pak Supir itu tersenyum padaku. Akupun tersenyum membalasnya.
 
Ia kemudian segera membuka pintu mobil untuk Dewi dengan sedikit membungkukkan badan.
 
"Silahkan Neng", ucap pak supir.
 
Aku melihat Dewi masuk ke dalam mobil. Setelah itu pak supir menutupkan pintu untuknya dan kemudian menuju tempat duduknya. Pintu kaca mobil tempat Dewi duduk terlihat membuka perlahan.
 
"Gue pulang dulu ya A.", tanya Dewi sambil menatapku.
 
"Iya... hati-hati di jalan. Sampai ketemu nanti ya...", jawabku sambil mengangguk.
 
Dewi juga mengangguk. Tangan kanannya kemudian membentuk isyarat seolah sedang menelpon. Aku paham maksudnya, yakni bahwa aku harus menelponnya. Perlahan, kaca mobil itu kembali tertutup. Suara mesin mobil yang baru dinyalakan pun terdengar. Aku mundur beberapa langkah, mengambil jarak aman dan memberikan ruang pada mobil Dewi.

Aku naik ke trotoar.

Aku melihat Dewi dari balik kaca belakang mobil. Ia melambai ke arahku sambil tangannya sesekali membentuk simbol gerakan sedang menelpon yang berarti aku harus menelponnya nanti. Aku juga kemudian balas  melambai padanya sambil tersenyum dan mengangguk. Setelah melihat anggukanku, barulah Dewi kembali duduk seperti biasa.
 
Perlahan, mobil itupun melaju. Aku hanya menatap bagian belakang dari mobil itu yang makin lama makin menjauh.
 
Aku bersiap untuk pulang. Perjalanan dari mall ini ke rumahku sekitar tiga puluh menitan dengan dua kali naik angkutan umum. Pertama, aku harus naik angkutan umum 06 dan turun di pasar Gunung Sari. Lokasi yang dekat dengan pertarungan pertamaku dahulu. Setelah itu aku melanjutkan naik angkutan umum 04 menuju depan jalan rumahku. Angkutan umum 06 itu memang sering berhenti cukup lama di depan mall ini. Aku melihat kondekturnya berteriak ke arahku sambil melambaikan tangannya.
 
"Nol enam! Nol enam! Nol enam!", teriak pak kondektur.
 
Aku mengangguk. Kondektur itu langsung mendekatiku, lalu tangannya seolah melindungiku dan membimbingku untuk masuk. Entah melindungi dari apa. Aku tersenyum. Barangkali, itu kebiasaan yang berlaku untuk para kondektur. Seolah memberi tanda kalau itu adalah penumpangnya, kondektur lain tidak boleh mengambilnya.
 
Aku berjalan mendekati tempat duduk di samping supir yang kosong. Kondektur itu kemudian membukakan pintu untukku, mempersilahkanku untuk duduk. Aku menurut dan duduklah kini disamping pak supir yang tersenyum ke arahku. Uuh, nyaman juga ternyata dibukakan pintu oleh orang lain. Mungkin, ini juga yang dirasakan oleh Dewi saat ia dibukakan pintu mobilnya oleh supir.
 
Tidak berapa lama, kondektur itu langsung melompat dan bergantungan di samping pintu masuk angkutan umum di sebelah kiri.
 
"Tariiiik piiiiiiir!", teriak pak kondektur.
 
Mobil angkutan umum 06 pun melaju.
 
Aku paling suka duduk di depan, sebelah pak supir. Alasannya, karena aku senang mempelajari bagaimana cara seorang supir mengemudikan kendaraannya. Aku memperhatikan bagaimana gerakan kakinya, koordinasi antara tangan dan kaki, melihat bagaimana cara dia berhenti, cara melaju, cara berganti kopling, dan sebagainya. Meski belum punya mobil, aku yakin suatu hari nanti pengetahuan ini akan berguna untukku.
 
Kira-kira lima belas menitan berlalu.
 
"Kiri.. kiri... stop di depan pak!", pintaku pada pak supir. Aku melihat pasar Gunung Sari di depanku.
 
Ia pun melambatkan kendaraannya. Berhenti kira-kira tiga puluh meter dari pasar itu. Aku membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun. Tidak lupa aku memberikan uang dua ribu rupiah sebagai ongkos. Pak kondektur kemudian menutupkan pintu depan untukku. Mobilpun kembali melaju.
 
Aku berhenti tepat di depan tempat dimana dulu aku mengalami pertarungan pertamaku. Aku masih teringat, beberapa bulan yang lalu tempat ini menjadi saksi bisu perkelahianku. Pohon yang sama. Tanah yang sama. Ruko yang sama. Parkiran yang sama.
 
"Itu dia orangnya!!!", teriak seseorang membuyarkan lamunanku.
 
Aku terkejut.

Dari arah kiri aku melihat ada dua pemuda orang berjalan mendekatiku. Salah satunya menunjuk ke arahku. Di belakangnya juga terlihat ada tiga orang pemuda lagi berjalan. Hidung salah satunya terlihat diperban dengan kain kasa dan dibalut oleh plester. Semuanya total ada lima orang.
 
"Itu dia bang orangnya! Orang itu yang sudah menghajar adik abang!", teriak pemuda yang menunjuk itu. Aku masih ingat wajahnya. Ia adalah pemuda yang dulu pingsan saat aku pukul ulu hatinya.
 
Lima orang kini sudah berdiri berjejer di depanku. Salah satu pemuda, yang badannya cukup besar bertanya.
 
"Apa benar orang ini yang pernah memukulmu?", tanpa pemuda itu. Ia menoleh ke arah kanan, ke arah pemuda yang hidungnya diperban.
 
Pemuda yang hidungnya diperban itupun mengangguk.
 
"Benar bang! Dia orangnya! Kita hajar saja bang! Beri dia pelajaran!", ucap pemuda yang hidungnya diperban itu semangat. Ia juga menunjuk ke arahku.
 
"Sabar kak... ada apa ini?", tanyaku pada yang badannya terlihat paling besar. Aku memberanikan bertanya, meskipun aku tahu ketiga orang itu adalah pemuda yang dulu pernah mengeroyokku dan kalah. Rupanya mereka dendam dan menungguku di tempat yang sama. Mereka tahu aku sering lewat situ.
 
"Udah bang, ga usah pake jawab segala! Kita beresin aja nih orang!", ucap salah satu pemuda lainnya dengan lantang.
 
Kelima orang itu kini mengambil jarak satu sama lain. Beberapa melingkariku dari belakang.
 
Aku mulai waspada. Dalam posisi seperti ini sangat berbahaya bagiku mendapati lawan yang melingkari dari depan dan belakang. Aku harus mengambil posisi dimana semuanya terlihat olehku. Pandanganku menyapu ke sekeliling, berusaha mencari celah dan juga mencari jarak yang terdekat. Aku melihat pemuda yang ulu hatinya pernah aku serang berada paling dekat denganku.
 
"Hajaaar!", teriak pemuda di belakangku.
 
Teriakan itu menjadi reflek bagiku untuk bergerak menyerang pemuda yang terdekat. Tubuh pemuda itu sedikit terbuka. Aku menggunakan gerak langkah serangan bernama Jlontrotan, yakni tendangan samping dengan sisi telapak kaki sedemikian rupa dengan kombinasi langkah lebar. Sasaranku adalah ulu hati pemuda itu.
 
DUESSS!
 
"Aaaakkh!", teriak pemuda yang terdekat denganku.
 
Ia terpelanting dan bergulingan di tanah. Tangannya memegangi perutnya. Ia tampak sangat kesakitan. Hanya beberapa detik mengaduh, kemudian ia pingsan. Aku terkejut. Tendanganku mengenainya. Rasanya biasa saja, tapi ia terpental cukup jauh dengan sangat kesakitan seperti itu.
 
Aku melihat ada celah kosong saat pemuda itu terpelanting. Secepatnya aku berlari keluar dari jarak kepungan mereka. Aku berlari menuju tembok salah satu ruko yang dijadikan usaha cuci cetak film.
 
"Kurang ajar! Kepuuuung!", teriak salah satunya. Ia tidak mempedulikan temannya yang sudah pingsan.
 
Keempat pemuda itupun berlari ke arahku.
 
Lariku terhenti saat berada di depan tembok. Aku lalu membalik badan. Di belakangku ini ada sebuah tembok. Pemuda-pemuda itu sudah tidak bisa lagi mengelilingiku dari belakang.
 
Keempat pemuda itupun berhenti kira-kira dua meter dariku. Mereka saling mengambil jarak satu sama lain.
 
Bagian bawah pusarku menghangat. Hangatnya naik hingga ke dada. Lalu perlahan merambati leher, kepala, serta kedua lengan dan kakiku. Kewaspadaanku meningkat. Aku tahu ini sudah bukan main-main lagi. Meski demikian, aku berusaha untuk tenang, agar konsentrasiku tidak buyar.
 
Salah seorang pemuda itu mendekatiku dengan cepat, dan kemudian berusaha memukulku dengan pukulan melingkar. Ia rupanya akan menyasar pelipis kiriku. Sebelum tangannya mengeluarkan pukulan, aku maju satu langkah menyongsongnya, kemudian melakukan serangan tangan tangkisan bernama Tangkisan Atas dengan sisi telapak tangan kiriku bersamaan dengan tangan kananku melakukan Sodokan Atas dengan lintasan dari bawah ke arah dagu menggunakan telapak tangan kanan.
 
TAKK!! DHEESS!!
 
Pemuda itu terangkat hampir satu meter! Lehernya agak tertekuk ke belakang. Aku melihat ada cucuran darah menetes. Ia jatuh cukup keras ke tanah dengan kepala bagian belakang dulu. Dan terdiam. Tak ada suara lagi. Hanya terlihat ada darah keluar dari mulut dan hidungnya. Ia pingsan seketika.
 
Eh, aku kembali terkejut. Tak kusangka seranganku berakibat sangat fatal terhadapnya.
 
"Sialan lu! Kita habisi saja bang!", teriak salah satu pemuda. Ia terlihat memasukkan tangannya di balik bajunya, lalu mengeluarkan sebuah benda seperti bulan sabit yang masih terbungkus. Ia dengan cepat membuka bungkusnya. Ia mengeluarkan sebuah senjata. Clurit! Senjata itu berkilauan terkena pantulan cahaya matahari.
 
Pemuda yang hidungnya diperban juga mengikutinya. Ia mengambil sesuatu dari balik bajunya, lalu mengeluarkan benda yang sama. Sedangkan pemuda yang satunya lagi terlihat mundur. Ia terlihat waspada dan menjaga kedua temannya. Entah apa yang direncanakannya.
 
Di hadapanku kini sudah ada dua orang pemuda bersenjatakan clurit.
 
"Uuh, bagaimana ini?", gumamku dalam hati.
 
"Mampus luh!!!", teriak pemuda di sebelah kiriku sambil menyabetkan clurit ke arahku. Ia yang paling dekat denganku. Jaraknya denganku sekitar satu meteran saja. Tebasannya sedikit menyilang, ia rupanya ingin menyasar leherku. Ia benar-benar ingin menghabisiku.
 
Ini gawat!
 
Tanpa berpikir panjang, aku gerakkan tangan kiriku menangkis tebasan clurit itu dengan sebelumnya aku kepalkan tangan kiriku dengan keras agar otot-ototku mengejang. Seluruh lengan kiriku terasa sangat panas. Aku menutup jalur lintasan clurit ke arah leher dengan lengan kiriku sambil terkepal.
 
CRAK!
 
Aku merasakan tanganku membentur cluritnya. Aku tidak tahu di bagian yang mana benturan itu terjadi. Sesaat, gerakannya menjadi terhenti. Ruang waktu sesaat itu aku gunakan dengan cepat untuk menyerang balik. Kepalan tanganku bergerak lurus menyasar wajahnya. Aku menggunakan serangan tangan bernama Pukulan Datar.
 
DHUES!
 
Pukulan lurusku mengenai wajahnya. Pemuda itu terdorong mundur satu langkah sambil mengaduh. Tangan kirinya terlihat memegangi hidungnya.
 
"Uuuukh!", teriak pemuda itu kesakitan. Matanya terlihat terpejam.
 
Aku tidak mau menunggu ia siap kembali. Aku bergerak maju, mengikuti langkah mundurnya. Ia kini berada dalam jarak serangku. Langsung saja aku melakukan Tendangan Sabit kaki kanan ke arah pinggang kirinya. Keras, cepat, bertenaga.
 
BUKK!
 
Tubuhnya tertekuk. Clurit di tangan kanannya terlepas. Ia mengaduh perlahan sebelum jatuh, dan pingsan.
 
Aku kembali mengambil posisi siap. Jarakku dengan tembok bertambah renggang.
 
"Sialan lu! Mampus lu!", teriak pemuda yang hidungnya diperban.
 
Ia langsung menebaskan clurit itu ke arahku. Cepat sekali. Aku tidak sempat melihat arah clurit itu. Yang aku tahu lengan kiri atasku terasa agak panas. Aku hanya merasakan agak perih pada lengan kiriku. Aku langsung mundur dan mengambil jarak. Rasa sakit itu tak begitu kurasakan karena pikirannya terfokus pada pertarungan ini. Aku langsung mengambil posisi aman di dekat tembok.
 
Pemuda itu terlihat mengayun-ayunkan cluritnya. Ia menyeringai, dan bersiap untuk menyerang lagi.
 
Aku waspada. Pemuda ini terlihat memiliki dasar ilmu beladiri. Serangannya cepat dan terarah.
 
Bagian bawah pusarku semakin memanas. Panasnya kini menjalari dadaku. Aku mengarahkan hawa panas itu memutar ke bawah tulang ekor, melewati tulang belakang, terus hingga ke leher, dan berhenti di kepala bagian belakang yang dekat dengan sambungan leher atas. Aku pusatkan disitu. Aku hanya merasakan kepala belakangku menghangat. Pandangan mataku menjadi semakin jernih. Suara-suara di telingaku mulai mengecil, menghilang. Aku berada dalam keheningan. Efek ‘lambat’-pun kembali muncul. Gerakan ayunan clurit pemuda itu terlihat 'melambat' dalam pandangan mataku. Aku bisa melihat jelas arah ayunannya, bahkan gerakan bibir pemuda itupun terlihat. Sekelilingku seolah menjadi 'melambat'. Aku hanya melihat ia mengatakan "Mati!" dengan mengayunkan cluritnya mengarah ke perutku dari kiri ke kanan.
 
Lintasan clurit itu 'terlihat' begitu jelas dan lambat. Aku jadi punya cukup waktu untuk menghindarinya. Aku menggeser kaki kananku ke belakang, sambil menarik perutku agar menjauh dari jarak jangkauan cluritnya.
 
Merasa serangannya gagal, pemuda itu kembali menebaskan cluritnya ke tubuhku. Ia memutar pergelangannya, mengubah arah clurit menyilang ke atas. Lintasannya berubah, dari bawah ke atas. Putaran pergelangannya begitu 'terlihat' oleh mataku. Tak menunggu ia selesai melakukan serangan, aku langsung melangkah maju, memutar pinggang, dan merapatkan tubuhku di depannya dengan posisi dan arah yang sama dengannya. Punggungku kini berada dekat sekali dengan dadanya sementara tangan kananku masih memegang pergelangan tangan pemuda itu. Aku langsung memutarkan tubuhku ke arah kiri dengan cepat sambil menarik tangannya.
 
Pemuda itu ikut berputar dengan keras. Punggungnya mengenai tembok di belakangku. Keras sekali. Kepalanya menghantam tembok dengan cukup keras.
 
BUKKK!
 
"Aduuh!", ia berteriak kesakitan.
 
Seranganku tidak berhenti sampai disitu saja, aku menggerakkan kaki kiriku mendekatinya dan langsung menyarangkan Sodokan Datar tangan kanan ke arah dada pemuda itu.
 
DUKK!
 
CLANG!
 
Telapakku masih menempel di dadanya. Tak terdengar suara mengaduh. Hanya bunyi clurit yang jatuh saja yang terdengar. Aku melihatnya lemas dan tiba-tiba ia jatuh terduduk, kakinya lurus dengan pinggang tertekuk. Kepalanya juga tertekuk menunduk. Aku hanya melihat ada darah yang keluar dari sudut bibirnya.
 
Aku kembali terkejut. Eh, apa ini? Saat melakukan Sodokan Datar tadi, aku merasakan telapak tanganku seperti mengeluarkan 'sesuatu'. Entah apa itu. Seperti panas yang berlebih, atau … entahlah, aku tidak tahu. Biar sajalah. Sudah empat orang aku rubuhkan. Tinggal satu orang lagi.
 
Aku langsung memutar badan.
 
Bersiap.
 
Siaga.
 
Waspada.
 
Pemuda yang terakhir ini berjalan mendekatiku. Ia tampak begitu tenang. Di tangannya kini tergenggam kayu pemukul baseball. Aku tidak tahu darimana ia dapatkan. Pemukul baseball itu terlihat keras dan kokoh.
 
"Lu bener-bener kudu dimatiin!", ucap pemuda itu dengan tenang. Ia memukul telapak tangan kirinya perlahan berkali-kali dengan kayu pemukul baseball itu.
 
Aku merasakan ada yang hangat dan menetes dari ujung jari tangan kiriku. Aku melirik … darah. Rupanya serangan clurit itu membuatku terluka. Meski tidak terasa perih, tapi darah itu rupanya sejak tadi menetes. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini.
 
Pemuda itu semakin mendekatiku. Kira-kira jarak satu meteran, ia menebaskan kayu pemukul baseball itu ke arah kepalaku dengan lintasan vertical dari atas ke bawah.
 
Secara reflek aku menahannya dan menangkapnya dengan Tangkisan Silang Atas, yakni menggunakan dua telapak tangan yang disilangkan berhadapan setinggi kepala. Bersamaan dengan itu kaki kananku bergerak mengayun menendang keras dari bawah ke atas mengarah ke selangkangan pemuda itu.
 
PLAKK!! DHEG!
 
"Uuugh!", pemuda itu mengaduh.
 
Kayu pemukul baseball itupun terlepas. Matanya mendelik. Beberapa detik kemudian, ia terjatuh dan bergulingan di tanah sambil kedua tangannya memegang kemaluannya. Mulutnya tidak henti mengaduh. Beberapa saat kemudian, gerakannya terhenti. Ia pingsan.
 
Tubuhku masih terasa begitu panas. Hawa panas ini menjalar kemana-mana.
 
Pandangan mataku menyapu ke sekeliling. Aku hanya melihat lima orang pemuda yang terbaring pingsan. Sementara tangan kiriku masih mengeluarkan darah. Tetesannya terasa di ujung jari. Pandangan mataku juga mulai bertambah berkunang-kunang.
 
Tiba-tiba aku melihat pintu jendela ruko terbuka. Seorang wanita melambaikan tangannya kepadaku. Aku menoleh.
 
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #25 on: 26/08/2011 13:12 »
"Dik, sini! Masuk saja dulu", pinta wanita itu dari jendela yang terbuka. Ia kemudian menunjuk pada arah pintu masuk ruko. Kelihatannya ia menyaksikan perkelahianku dengan para pemuda itu dari balik jendela ruko.
 
Aku berjalan mendekati pintu yang ditunjuk oleh wanita itu. Beberapa saat kemudian pintu itupun terbuka. Wanita tadi terlihat mempersilahkanku masuk.
 
"Duduk saja dulu, Dik. Tunggu sebentar ya...", ucap wanita itu.
 
Aku menurut. Aku duduk di kursi putar di depan kaca etalase samping kasir. Wanita itu terlihat berjalan masuk. Beberapa saat kemudian ia keluar sambil membawa segelas air teh dan sepotong kain yang agak basah.
 
"Ini, diminum saja dulu teh manisnya. Habiskan saja.", pinta wanita itu. Ia kemudian meletakkan gelas berisi teh manis itu di atas kaca etalase di depanku. Lalu duduk disampingku.
 
"Terima kasih mbak", jawabku.
 
Aku mengambil gelas berisi teh manis itu dengan tangan kananku, lalu meminumnya. Aku benar-benar menghabiskannya. Perkelahian itu membuatku haus.
 
"Bersihkan juga darahmu dengan kain ini, Dik", ucap wanita itu.
 
Aku menganguk. Lalu mengambil sepotong kain yang agak basah itu. Aku bersihkan darah yang keluar dari lengan kiriku bagian atas. Aku melihat pada sisi pergelangan tangan kiriku bagian luar. Ah, sobek. Terlihat cukup lebar. Tapi sama sekali tidak mengeluarkan darah. Darah hanya keluar dari luka di lengan kiri atas. Itu juga sobek. Tapi tidak panjang. Tubuhku masih terasa panas. Hawa panas itu masih merambati tubuhku. Keringat juga masih menetes.
 
"Mbak melihat perkelahianmu, Dik. Berandalan itu memang sering membuat ulah. Sudah banyak yang menjadi korban. Kebanyakan rata-rata dimintai uang, atau diambil benda-benda yang berharga. Kamu termasuk hebat juga bisa merobohkan semuanya.", lanjut wanita itu sambil tersenyum.
 
"Ah, saya mungkin kebetulan sedang beruntung saja mbak. Yang tiga itu dulu pernah berkelahi juga dengan saya mbak. Rupanya mereka dendam, dan membawa teman-temannya untuk mengeroyok saya. Alhamdulillah Tuhan masih melindungi saya mbak.", ucapku.
 
"Mbak, boleh pinjam telponnya tidak? Saya ingin menelpon kakak saya.", pintaku.
 
"Oh, silahkan … silahkan. Pakai saja, Dik.", jawab wanita itu. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kasir. Ia mengambil gagang telpon dan memberikannya kepadaku. Aku menerimanya dengan tangan kanan.
 
"Berapa nomornya, Dik?", tanya wanita itu.
 
"Tiga dua satu satu empat lima", jawabku.
 
Aku menempelkan gagang telpon itu ke telingan kananku. Terdengar nada ketika tombol nomor ditekan, kemudian diikuti oleh nada sambung. Beberapa saat kemudian, seorang wanita menyahut.
 
"Halo..."
 
"Kak Yani, ini Aa. Ada Mas Ade gak?", tanyaku.
 
"Ada apa A?", tanya wanita yang dipanggil 'Kak Yani' itu.
 
"Dateng aja dulu ya kesini, samping pasar Gunung Sari. Di ruko Cirebon Indah, tempat cuci cetak foto. Nanti anter Aa ke rumah sakit ya. Sekarang ya kak...", ucapku.
 
"Ya udah, kamu tunggu saja disitu. Nanti kakak sama Mas Ade kesitu.", jawab kakakku. Nada suaranya terdengar agak cemas.
 
"Iya kak, makasih ya...", lanjutku.
 
Aku kemudian memberikan gagang telpon itu kembali ke wanita di belakang kasir. Ia menerimanya, dan mengembalikan ke posisinya.
 
"Terima kasih mbak", ucapku.
 
"Iya, sama-sama.", ucap wanita itu.
 
Tubuhku sudah tidak sepanas tadi rasanya. Sudah mulai agak baikan. Air teh manis itu cukup memulihkan tenagaku. Pandanganku yang tadinya berkunang-kunang, kini sudah normal lagi.
 
"Ah, bagaimana caraku bilang sama ayah ya? Ini parah sekali kejadiannya.", gumamku dalam hati. Meski aku tahu ayahku sangat bijaksana, tapi tetap saja ada kekhawatiran dan ketakutan dalam hatiku karena aku lagi-lagi melanggar nasehat ayah untuk tidak berkelahi.
 
Lima menit berlalu, kakakku belum datang. Aku lebih baik keluar saja.
 
"Mbak, sekali lagi terima kasih ya atas bantuannya. Saya keluar dulu, barangkali kakak saya sudah datang dan mencari saya.", ucapku. Aku langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar yang masih terbuka.
 
"Oh ya sudah Dik, tidak apa-apa. Cepat sembuh ya Dik...", ucap wanita itu. Ia kemudian berjalan mengantarku sampai pintu. Setelah keluar kira-kira tiga langkah, aku melihat wanita itu kembali menutup pintu.
 
Aku melihat ke sekeliling. Para pemuda itu masih tergeletak pingsan. Timbul iba di hatiku. Aku bimbang, apakah aku harus menolongnya lagi atau tidak? Para pemuda ini sudah dua kali melakukan hal jahat terhadapku.

Ah, sudahlah, lebih baik aku tolong saja. Aku mantapkan niatku.
 
Aku dekati pemuda dengan hidung diperban yang tergeletak di depan tembok. Aku menunduk, membungkuk, lalu mencubit urat besar di ketiaknya sebalah kanan dan kiri secara bergantian. Kemudian menotok dua titik di pungunggnya dekat dengan leher. Terakhir, aku menepuk-nepuk punggungnya. Ia pun tersadar.
 
Kepalanya menggeleng beberapa kali. Matanya kemudian melihatku. Ia terkejut, dan bergerak mundur dengan beringsut.
 
"Ampunn.. ampunnn!", ucap pemuda itu memohon. Tangannya bergerak menutupi wajahnya untuk melindungi kalau-kalau aku memukulnya.
 
Aku berdiri.
 
"Ini terakhir kalinya gue melihat lu seperti ini! Pergi sana! Bawa temen-temen lu dari sini!", ucapku agak keras.
 
Ia semakin ketakutan. Ia makin beringsut mundur.
 
"I...iya.. ampuun..!", jawab pemuda itu.
 
TIINN... TIIN...!
 
Suara klakson motor terdengar jelas. Aku menoleh. Terlihat seorang laki-laki yang berbadan cukup besar memarkirkan motornya di samping pohon dipinggir jalan. Wajahnya agak persegi. Tubuhnya cukup kekar, terlihat cukup rutin berolah raga. Laki-laki itu kemudian berjalan tergesa ke arahku.
 
"A, ada apa ini?", tanyanya.
 
"Ga apa-apa mas Ade. Cuman berantem aja...", jawabku pada laki-laki itu.
 
Laki-laki itu adalah Mas Ade. Ia kakak iparku. Orangnya sangat baik dan penyabar.
 
"Mas, Aa minta tolong untuk dianterin ke rumah sakit ya. Ini harus dijahit nih kayaknya.", pintaku pada mas Ade sambil menunjukkan luka sobek pada lengan kiriku.
 
"Ya ampuun! Ya udah, cepetan kita ke rumah sakit.", jawab mas Ade. Ia terlihat khawatir. Lalu langsung balik badan menuju motor. Ia tidak mempedulikan para pemuda yang tergeletak di tanah itu. Aku mengikutinya.
 
Mas Ade sampai lebih dulu. Ia langsung naik dan menyalakan motornya.
 
"Mas, tolong jangan bilang-bilang sama ayah ya... Nanti bilang saja jatuh dari motor atau gimana gitu...", pintaku. Aku tahu alasanku ini konyol, tapi kalau mas Ade yang bilang, ayah biasanya percaya. Aku berharap semoga saja ayah percaya.
 
"Iya, udah cepetan naik... itu harus dijahit...!", ucap mas Ade.
 
Aku menurut. Aku langsung melompat ke belakang mas Ade.
 
Motor itupun melaju, menuju rumah sakit untuk menjahit luka sobek di lengan kiriku. Aku menoleh. Pandanganku hampa. Ada banyak yang berkecamuk di pikiranku.
 
Pertarungan ini benar-benar pertarungan hidup dan matiku. Melawan lima orang dengan tiga orang bersenjata. Dua orang malah bersenjata tajam. Aku bersyukur bisa lolos dari maut, meskipun mendapat luka akibat sabetan clurit. Aku teringat kembali pertarunganku tadi. Beberapa kali aku menggunakan gerakan silatku, sesuai dengan apa yang dulu dilatih oleh ayah. Beberapa malah tidak sama sekali. Seperti misalnya saat aku berusaha membanting dengan memutar, atau saat aku menahan pukulan kayu baseball sambil menendang kemaluan. Itu keluar begitu saja. Naluriku bergerak begitu saja mengikuti kata hatiku. Yang kurasakan tadi, ketika berada diantara hidup dan mati, tubuhku seperti melebur. Mengeluarkan potensi yang dirasa diperlukan di dalam pertarungan itu. Hawa panas yang biasanya teratur bisa aku salurkan, saat itu mengalir ke seluruh tubuhku tanpa henti. Bisa aku gunakan semaunya. Aku mengeluarkan apa yang hatiku ingin keluarkan.
 
Meski demikian, ada hal yang agak mengherankanku. Yakni saat aku melakukan serangan pada lawan, aku merasa memukul atau menendang biasa saja. Tapi efek yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Lawan terpental, lawan pingsan, bahkan mengaduh dengan sangat kesakitan. Efek seranganku ini berbeda sekali ketika pertama kali aku berkelahi melawan tiga pemuda. Dimana pada pemuda yang ketiga, pukulanku nyaris tidak menimbulkan efek apapun. Sakitpun tidak. Pemuda itu dulu masih bisa tersenyum saat menerima pukulanku. Tapi saat ini benar-benar berbeda. Aku merasa ada 'sesuatu' pada pukulanku. Apalagi saat aku melakukan Sodokan Datar pada dada pemuda dengan hidung diperban itu. Rasanya ada yang memancar keluar dari telapak tanganku. Tapi aku masih belum tahu apa itu. Tidak sama dengan getaran yang selama ini aku pancarkan saat berlatih Tutup Mata bersama ayah. Agak berbeda rasanya.
 
Uuh, banyak pertanyaanku. Aku ingin bertanya pada ayah. Nanti, setelah selesai menjahit luka sobek ini.
 
Aku teringat ucapan ayah.
 
"Nak, saat nanti kamu berada dalam hidup dan mati, maka pada saat itu kamu akan mengetahui betapa berharganya silat yang kamu pelajari ini. Apabila kamu bisa tertolong dan menolong dengannya. Meski demikian, tetaplah bijak dengan silatmu. Belajar silat, belajarlah bijaksana…", ucap ayah.
 
Aku tersenyum. Membenarkan ucapan ayah.




(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #26 on: 26/08/2011 13:21 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 16

Eureka!


Aku duduk di dalam ruangan rumah sakit. Di depanku berdiri seorang laki-laki yang cukup berumur mengenakan baju putih bersih. Aku melihat tulisan nama kecil di dada kirinya bertuliskan "dr. Bagyo".

"Coba kepalkan tanganmu", tanya dokter Bagyo.

Aku menurut, meski aku tidak mengerti maksudnya.

Tangan kiriku aku kepalkan perlahan, lalu semakin keras.

"Cukup...", pinta dokter Bagyo.

"Memangnya kenapa dok?", tanyaku memberanikan diri.

"Kamu beruntung, Dik. Kalau saja sobek ini lebih dalam sedikit saja, maka otot dan uratmu pasti akan putus. Tanganmu tidak akan bisa menggenggam erat lagi seperti tadi.", jawab dokter Bagyo.

Dheg...

Jantungku berdegup kencang. Aku terkejut.

"Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih melingdungi hamba...", gumamku dalam hati. Aku bersyukur karena luka tebasan clurit ini tidak sampai mengenai otot dan urat lenganku. Kalau lebih dalam sedikit saja, maka tanganku ini akan menjadi cacat.

"Perkiraan ada delapan jahitan luar dan sebelas jahitan dalam. Termasuk ada empat jahitan di lengan kiri bagian atas. Tanganmu nanti akan dibius lokal dulu sebelum dijahit.", ucap dokter Bagyo.

Aku mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana rasanya dijahit pada kulit. Ini termasuk pengalaman pertamaku.

Aku melihat dokter Bagyo mengambil beberapa peralatan, lalu diletakkan disamping kursi tempatku duduk. Ada sebuah nampan dari logam yang di dalamnya terdapat gunting, jarum suntik, alat jahit khusus, kain kasa, kapas, dan beberapa benda lain yang asing yang aku tidak tahu fungsinya untuk apa.

Dokter Bagyo mengambil sebuah jarum suntik yang masih dibungkus plastik steril dengan tangan kanannya. Ia sobek pinggirannya, lalu mengeluarkan isinya. Jarum suntik itu masih terbungkus pada ujungnya. Dokter Bagyo kemudian membuka tutupnya dan membuangnya ke tempat sampah tidak jauh dari situ. Ia kemudian mengambil sebuah benda kecil berbentuk seperti botol yang berisi cairan berwarna kekuningan. Mengangkatnya dengan tangan kiri, lalu ujung jarum di tangan kanannya ditusukkan ke tengah botol kecil tersebut. Tangan kirinya menahan botol kecil dan ujung jarum suntiknya, sementara tangan kanannya menarik pangkal jarum suntiknya sehingga isi dari botol yang berupa cairan berwarna kekuningan itu berpindah ke dalam badan jarum suntik. Beberapa tetes cairannya terlihat keluar dari ujung jarum suntik.

"Tahan sedikit ya, Dik...", ucap dokter Bagyo.

Aku melihat dokter Bagyo menyuntikkan di beberapa titik di dekat luka sobek di dekat pergelangan tangan bagian atas. Rasanya seperti digigit semut. Tidak menyakitkan. Selesai menyuntik, aku melihat dokter Bagyo meletakkan kembali suntikannya di nampan logam di samping kursiku. Ia lalu mengambil jarum jahit khusus. Bentuknya kotak, dengan ujungnya digunakan untuk menjahit dengan cara yang khas dan tidak menyakitkan. Setidaknya, begitulah penjelasan yang aku ketahui dari buku. Di zaman sekarang, proses menjahit luka sobek sudah tidak menggunakan jarum tradisional lagi seperti halnya jarum yang digunakan untuk menjahit baju. Tetapi sudah menggunakan alat khusus yang lebih mudah dan efektif. Tentunya dengan tidak menyakitkan pasien karena kecepatan dan keakuratan proses menjahit.

Kira-kira sepuluh detik kemudian, pergelangan tanganku sudah mulai terasa kebas. Terasa seperti menebal. Aku mulai tidak bisa merasakan apa-apa di sekitar pergelangan tangan itu.

Dokter Bagyo kemudian memulai proses menjahit lukaku. Luka sobek luar dan dalam. Sebelas jahitan dalam, dan delapan jahitan luar. Persis seperti yang diperkirakannya. Proses menjahit luka sobek ini sama sekali tidak terasa sakit. Hanya terasa seperti digigit oleh semut. Sekitar dua menitan saja luka sobekku sudah dijahit dan tertutup kembali. Jahitannya rapi. Bentuk lukaku terlihat seperti hewan lipan.

Dokter Bagyo meletakkan alat jahit di atas nampan logam, lalu mengambil kembali jarum suntik yang berisi obat bius lokal.

"Tahan sedikit sekali lagi ya, Dik...", ucap dokter Bagyo mengulangi.

Ia kemudian menyuntikkan di beberapa titik di dekat luka sobek lengan kiri bagian atas. Luka itu tidak selebar seperti luka di pergelangan tangan atas. Cukup empat jahitan saja kata dokter Bagyo.

Lengan kiriku bagian atas terasa kebas. Sama seperti tadi. Aku melihat dokter Bagyo kembali mengambil alat jahit yang sama, kemudian mulailah proses menjahit luka dimulai. Hanya beberapa detik saja proses jahit selesai. Ia kemudian meletakkan kembali alat jahit di nampan logam untuk kemudian mengambil kapas dengan sebuah capit logam kecil, mencelupkan kapas tersebut pada cairan obat berwarna coklat tua dan berbau menyengat. Kapas itu kemudian ditempel-tempelkan diatas luka jahitku. Membiarkan obatnya menutupi permukaan luka.

Ia melakukan hal yang sama pada bagian atas lenganku. Menempel-nempelkan kapas yang sudah basah oleh cairan obat itu beberapa kali.

Setelah dirasa cukup, ia meletakkan kembali kapas dan capit logam di atas ke nampan. Ia kemudian mengambil sebuah kain kasa dan plester. Kain kasa itu berbentuk persegi panjang. Ukurannya sudah terpotong rapi sedemikian rupa. Dokter Bagyo kemudian memasang kain kasa dan plester itu di atas luka jahit tanganku kemudian merekatkan plesternya. Ia melakukan hal yang sama untuk luka di lengan atasku. Tidak berapa lama, semua luka sudah tertutup.

"Sudah selesai, Dik...", ucap dokter Bagyo.

"Sementara ini jangan sampai kena air dulu untuk luka-luka ini. Kira-kira tiga harian. Nanti saya akan memberikan resep obat yang dioleskan sehari tiga kali pada luka jahitnya. Obat itu akan mempercepat menutupnya luka.", lanjut dokter Bagyo.

Aku mengangguk.

Dokter Bagyo kemudian berjalan menuju wastafel, membersihkan tangannya dengan air dan mencucinya dengan sabun antiseptik. Setelah itu ia kembali berjalan menuju meja dan mulai menuliskan resep.

Oh iya, di ruangan itu aku hanya berdua saja dengan dokter Bagyo. Sementara Mas Ade sendiri menunggu di luar.

"Ada pantangan makan tidak Dok?", tanyaku.

Dokter Bagyo menoleh ke arahku.

"Sementara ini sih belum ada. Tapi kalau mau lebih cepat sembuhnya, sementara hindari dulu makan telur ayam.", jawab dokter Bagyo sambil memberikan secarik kertas yang berisi resep obat untuk lukaku.

"Nanti tebus resep ini di apotik di luar ya, Dik", lanjut dokter Bagyo.

"Iya Dok, terima kasih.", ucapku sambil menerima kertas resep tersebut.

Dokter Bagyo tersenyum.

"Sama-sama Dik. Semoga cepat sembuh ya...", ucap dokter Bagyo.

"Terima kasih...", jawabku kembali. Aku langsung berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar. Pintu itu dibuka dengan digeser ke samping kanan, dan menutup kembali secara otomatis. Aku kemudian keluar. Aku melihat mas Ade menungguku di kursi panjang yang memang disediakan di depan ruangan periksa. Ia kemudian berdiri dan menghampiriku.

"Udah selesai A?", tanya mas Ade.

"Sudah mas.", jawabku.

"Gimana kata dokternya?", tanya mas Ade kembali.

"Delapan jahitan luar, sebelas jahitan dalam untuk pergelangan tangan ini. Dan empat jahitan luar untuk lengan atas ini mas. Tapi ngga apa-apa kok. Alhamdulillah tidak sampe kena otot dan urat. Kalau sampe kena, tangan ini jadi cacat.", jawabku sambil tersenyum pahit.

"Duh, alhamdulillah kalau begitu. Kalau sampe cacat ya gawat. Haduuh… itu jahitannya banyak amat?!", ucap mas Ade. Ia terkejut.

Aku hanya tersenyum.

"Buat kenang-kenangan mas. Buat nanti cerita sama anak cucu…", jawabku sekenanya sambil bergurau.

Aku duduk di kursi panjang. Mas Ade mengikutiku, dan ia duduk disampingku.

"Mas, nanti kalau ayah nanya, bilang aja Aa jatuh dari motor ya. Jangan bilang Aa berkelahi.", pintaku.

"Ya udah, nanti mas yang akan ngomong sama ayah. Aa tenang saja.", jawab mas Ade berusaha menenangkanku.

Aku merasa sedikit lebih lega. Batinku menjadi lebih tenang. Setidaknya, aku dibantu oleh mas Ade untuk menjelaskan asal luka ini. Meskipun aku tahu, sulit bagiku untuk membohongi ayah. Kalaupun ayah mendesak, aku terpaksa akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi kalau tidak, ya aku tidak akan memulai pembicaraan yang mengarah ke penyebab luka ini.

"Kita pulang saja sekarang...", ucap mas Ade.

Aku mengangguk.

Mas Ade kemudian bangun dan berjalan menuju tempat parkiran motor. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku mengingat kembali perkelahian tadi. Aku sendiri masih belum mengerti mengapa tebasan clurit yang begitu keras dan cepat itu hanya menyebabkan luka luar saja. Otot dan uratku sama sekali tidak terpotong. Pada saat itu aku hanya mengejangkan tangan kiriku semaksimal mungkin saat menangkis tebasan clurit. Temasuk juga saat tebasan yang kedua yang mengarah pada lengan atasku. Apakah ada pengaruh dari melakukan pengejangan otot? Ditambah lagi saat kemudian aku merasa berada dalam kondisi hidup dan mati, aku benar-benar merasakan seolah seluruh jiwa raga ini melebur jadi satu. Setiap aliran hawa di tubuhku begitu terasa. Mengalir, dari bawah pusar, lalu ke dada, lalu ke jantung, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Terasa benar.

Lebur.

Membaur.

Mengalir.

Menjadi satu.

Aku teringat, kalau selama enam bulan terakhir ini aku sudah dilatih olah nafas untuk Power oleh ayah. Olah nafas ini disebut dengan Olah Nafas Pengolahan, terdiri dari empat belas bentuk sedemikian rupa dengan teknik nafas berbasis dada-perut. Satu bulan pertama ayah melatihku tanpa menggunakan beban pemberat. Setelah dirasa cukup, di bulan kedua ayah melatihku dengan menggunakan tambahan beban berupa batu bata yang sudah di cor semen. Beratnya sekitar empat dua kilogram. Berlatih dengan menggunakan beban pemberat ini ternyata jauh lebih melelahkan, tapi juga menghasilkan kekuatan dan daya lentur otot yang lebih baik. Dua bulan aku dilatih seperti ini. Di bulan keempat, ayah mengganti bebanku dengan dua buah pot semen yang ujungnya berlubang lima sedalam satu ruas jari. Beratnya sekitar enam kilogram. Tiga kali lipat dari yang pertama. Aku harus mencengkram pot tersebut dengan masing-masing satu ruas jari saja. Pada pelatihan untuk beban ini, ayah juga memberikan tambahan berupa bentuk Petruk, yakni berdiri dengan satu salah satu kaki sedikit tertekuk dimana kaki yang satunya lagi diangkat dan ditekuk ke arah lutut sementara satu jari menyentuh tembok untuk menjaga keseimbangan. Jari yang tidak menyentuh tembok kemudian digunakan untuk mencengkram satu pot. Dilakukan bergantian untuk kanan dan kiri. Bentuk tambahan berikutnya adalah bentuk kopstand, yakni berdiri terbalik dengan kepala dibawah yang sedikit ditahan oleh tumpuan kedua lengan. Kurang lebih dua bulanan aku dilatih olah nafas pengolahan plus beban seperti itu. Tepat di bulan keenam, ayah mengganti bebannya dengan menggunakan rautan bambu selebar lengan dengan panjang kira-kira lima puluh sentimeter. Di tengah rautan bambu itu digantungi pot semen seberat kira-kira enam kilogram. Pada penggunaan beban yang ini, bentuknya masih sama dengan yang sebelumnya, hanya berbeda pada bagaimana cara mengejangkan tangannya. Kalau sebelum penggunaan beban rautan bambu, aku cukup dengan kejang-kendor saja. Maka pada rautan bambu itu aku harus mencengkram dan memutarnya keatas dan kebawah berkali-kali. Ini jauh lebih menguras tenaga.

Aku sendiri tidak mengetahui ada apa dibalik setiap latihan itu. Yang aku rasakan hanyalah kebugaran pada tubuh ini. Otot-otot semakin kuat dan kokoh, tapi juga semakin lentur. Nafasku semakin panjang dan dalam. Dan di dalam tubuh ini terasa seperti ada ‘sesuatu’.  Rasanya, aliran hawa hangat yang dulu sering aku rasakan menjadi semakin kuat dan tebal. Menjadi semakin terasa. Aku pernah menanyakan tujuan dari latihan itu pada ayah. Dijawab oleh ayah kalau nanti saat liburan, barulah ayah akan menjelaskannya.

Sekarang ini kebetulan sudah liburan sekolah, dua minggu pula. Tapi aku mengalami perkelahian yang tidak aku kehendaki sehingga harus mendapatkan dua puluh tiga jahitan.

Kalau ayah mengajakku di awal liburan ini bisa gawat karena lukaku pasti belum sembuh benar.

Berdasarkan pengalaman dari liburan tahun sebelumnya, ayah biasanya mengajak liburan kalau tidak di tengah waktu, ya di akhir waktu liburan. Lamanya antara tiga sampai lima hari. Lokasi biasanya di alam terbuka. Seringkali di daerah pegunungan. Beberapa kali pernah di daerah pinggiran pantai.

Liburanku dengan ayah selalu diisi dengan latihan silat.

Aku tidak pernah menolaknya karena aku memang suka. Mungkin, cara ayah mengajariku silat begitu berbeda, begitu menarik, sehingga aku jadi suka.

Banyak hal-hal di dalam silat yang berguna bagi kehidupanku. Ayah selalu mengingatkan, kalau silat janganlah dijadikan tontonan, tetapi jadikanlah bagian dari tuntunan. Silat harus bisa menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya. Silat harus bisa menjadikan diri kita bijaksana. Begitu kata ayah.

"Uuh, bagaimana ini? ", gumamku dalam hati.

Aku harus secepatnya mengobati luka ini. Paling tidak, aku masih punya tiga sampai lima hari sebelum nanti ayah mengajakku berlibur.

Lamunanku dibuyarkan oleh suara mas Ade.

"Sudah sampe rumah A. Ayah keliatannya belum datang tuh. Mobilnya belum ada.", ucap mas Ade.

Benar, mobil ayah tidak terlihat di garasi, berarti ayah belum datang.

Aku langsung melompat turun.

"Terima kasih ya mas…”, ucapku.

"Iya… Masuk gih sana…”, jawab mas Ade.

Aku melihat mas Ade memarkirkan motornya di garasi. Aku berjalan menuju depan pintu rumah. Sesampainya di depan, aku membungkuk untuk melepas sepatuku dan meletakkannya pada rak sepatu di samping kanan pintu. Kemudian bergegas masuk ke dalam menuju kamarku.

Saat berjalan itu aku tiba-tiba teringat ucapan ayah. Ucapan yang sepertinya bisa menjadi petunjuk agar aku cepat pulih dari luka sobek ini.

"Getaran adalah gelombang. Gelombang adalah getaran. Getaran dari sukma sejati. Gelombang dari sukma sejati. Seni ini sangat istimewa. Mengembangkan ini akan membuka cakrawala pengetahuan beladiri yang sama sekali baru. Akan membuka ranah pengetahuan baru. Sebuah evolusi yang benar-benar evolusi. Bukan sekedar pengembangan, tetapi benar-benar evolusi. Belum pernah dibukukan sebelumnya. Belum pernah dipikirkan sebelumnya. Gabungan tradisional dengan modern. Satu ruang tumbuh yang baru. Yang suatu hari nanti akan kamu tempati, asalkan kamu masih di jalan pendekar dan ilmuwan.", ucapan ayah terngiang di telingaku.

"Tradisional … Modern …", ucapku perlahan.

"Jalan pendekar … jalan ilmuwan …", ucapku kembali dengan perlahan.

Ah, itu dia jawabannya!

Eureka!

Aku urungkan untuk masuk ke kamarku, tapi berbelok berjalan lebih cepat menuju ruang perpustakaan. Itu adalah ruang perpusatakaan keluarga. Dibuat sedemikian rupa oleh ayah untuk penghuni keluarga atau siapapun yang senang membaca.

Di kepalaku kini sudah terpikirkan sesuatu. Aku harus mencobanya. Harus.

Sesampainya di ruang perpustakaan, terlihat ada lima lemari buku yang cukup besar. Masing-masing lemari itu terbuat dari kayu jati tebal dan tingginya kira-kira tiga meter. Masing-masingnya terdiri dari empat sekat yang dibatasi oleh papan kayu. Lebar sekatnya kira-kira satu setengah meter. Setiap sekatnya berisi kumpulan dari buku-buku pengetahuan. Ada Agama, Biologi, Kimia, Fisika, Matematika, Kedokteran, Psikologi, Militer, Komputer, Majalah, Komik, Novel, dan banyak lagi. Kebanyakan buku-buku itu dibeli oleh ayah. Jumlahnya mencapai ratusan. Aku senang berada di ruang perpustakaan itu karena aku banyak menemukan hal baru. Aku banyak menemukan pengetahuan baru. Buku benar-benar merupakan gudang ilmu. Dan niat kita membacanya adalah kuncinya. Di depan lemari-lemari tersebut ada sebuah meja bundar yang di atasnya terdapat beberapa pulpen dan kertas-kertas kosong.

Seperti yang saat ini ada di kepalaku. Sepertinya aku ingin mencoba suatu pendekatan untuk mempercepat memulihkan jahitan pada luka ini.

Tiba-tiba aku teringat dengan sel batang atau sel punca, atau juga disebut dengan stem cell. Aku pernah membaca di salah satu buku di ruang perpustakaan kalau sel batang ini sangat unik. Sifatnya hanya dua, yang pertama adalah tetap menjadi sel batang saja dan yang kedua adalah dapat menjadi sel lain yang berbeda. Kalau ia ditempelkan pada sel jantung maka ia akan menjadi sel jantung, kalau ia ditempelkan pada sel kulit maka ia akan menjadi sel kulit, kalau ia ditempelkan pada jaringan tissue otot, maka ia akan menjadi jaringan tissue otot, demikianlah seterusnya. Ia akan menjadi apa dimana ia ditempelkan. Sel ini pada awalnya ditemukan dan dikembangkan dari placenta. Sehingga tidak heran penelitian awalnya sangat banyak ditentang oleh agamawan karena dianggap ‘jahat’ sebab harus mengorbankan bayi hanya untuk mengambil placenta-nya agar bisa digunakan untuk penelitian. Belakangan juga diketahui letak konsentrasi sel batang tersebut pada tubuh manusia, meskipun tidak sebanyak seperti pada placenta. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, salah seorang professor dari Jepang berhasil menemukan bahwa sel batang juga ternyata bisa dikembangkan dari jaringan di bawah kulit. Penelitian ini membawanya mendapatkan hadiah Nobel.

Aku langsung mencari buku yang berhubungan dengan informasi mengenai sel batang ini. Pandanganku tertumbuk pada sebuah buku berwarna ungu yang bertuliskan “STEM CELL”. Aku langsung mengambilnya.

Aku membuka buku itu. Membolak-balik halamannya. Mencoba mencari informasi yang berhubungan dengan lokasi-lokasi konsentrasi sel batang di dalam tubuh manusia.

Ketemu!

Aku mengambil pulpen dan secarik kertas dari atas meja. Menuliskan lokasi konsentrasi sel batang dalam tubuh manusia. Setelah itu meletakkan kembali buku itu di tempatnya.

Aku kemudian bergegas berjalan menuju kamar.

"Tradisional … modern …", ucapku kembali sambil tersenyum.

Aku bersiap-siap untuk melakukan sesuatu yang 'baru' dalam hidupku.




(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

anaknaga

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 0
  • Posts: 43
  • Reputation: 121
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: SKM & MP back to Ahlusunnah Salaf
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #27 on: 27/08/2011 04:52 »
 [top] [top] [top]

Wah cerita silat yang menarik. cerita ini hasil mersudi ya mas agung?
karena sudah mulai yang cuti saya ucapkan saja selamat mudik lebaran untuk semua sahabatsilat.com team.
 [[peace2]]
AnakNaga
BabyNaga
CicitNaga

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #28 on: 27/08/2011 14:52 »
Hehehe itu cerita iseng pengisi waktu luang saja mas.   x-))

Selamat mudik lebaran juga untuk yang mudik, dan tentu yang masih sempet buka sahabatsilat lewat HP.   [top]

Bagi yang ingin membaca cersil ini yang sudah dalam bentuk kompilasi buku, silahkan download disini:

https://skydrive.live.com/?cid=12ea94da72decb15&sc=documents&id=12EA94DA72DECB15!127

Buku Kesatu, edisi perdana 'Tembang Tanpa Syair'. Jadi bisa di baca offline.

Buku kedua sedang dalam proses editing. :)

Monggo dinikmati, semoga saja ada manfaatnya...

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #29 on: 29/08/2011 15:16 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 17

Tradisional Dan/Atau Modern?


Kamarku berukuran empat kali lima meter. Cukup besar. Ada cukup ruang bagiku untuk berlatih sendiri di kamar. Temboknya berwarna putih. Sebuah jam dinding berwarna biru terpaku di tembok di atas lemari agak sedikit ke atas. Letak kamarku berada di samping kamar adikku, Ayu, dan agak jauh sedikit dari kamar adik-adikku yang lainnya yakni Bayu dan Taufan.
 
Di dalam kamar aku langsung membuka baju. Dengan bertelanjang dada aku mengambil posisi duduk sila. Aku merapatkan kedua tanganku, memejamkan mata, kemudian berdoa agar diberikan kemudahan. Kemudian aku kembali membuka mata, bersiap untuk memulai latihan olah nafas yang disebut dengan Nafas Pembersih, yakni salah satu bagian olah nafas dari latihan Getaran tingkat dasar. Aku tidak perlu melakukan pemanasan lagi, karena pertarungan tadi cukup membuat tubuhku menjadi panas.
 
Aku membaca ulang tulisan pada secarik kertas yang kugunakan sebelumnya untuk mencatat lokasi konsentrasi sel batang atau sel punca atau stem cell. Tulisan yang aku sadur sebagian dari buku stem cell dan sebagian dari jurnal ilmiah dari dr. Shinya Yamanaka.
 
Ada beberapa alasan mengapa stem cell merupakan calon yang bagus dalam terapi berbasis sel. Pertama, stem cell tersebut dapat diperoleh dari pasien itu sendiri. Artinya transplantasi dapat bersifat autolog sehingga menghindari potensi rejeksi. Berbeda dengan transplantasi organ yang membutuhkan organ donor yang sesuai (match), transplantasi stem cell dapat dilakukan tanpa organ donor yang sesuai. Kedua, mempunyai kapasitas proliferasi yang besar sehingga dapat diperoleh sel dalam jumlah besar dari sumber yang terbatas. Misalnya pada luka bakar luas, jaringan kulit yang tersisa tidak cukup untuk menutupi lukanya. Dalam hal ini terapi stem cell sangat berguna. Ketiga, mudah dimanipulasi untuk mengganti gen yang sudah tidak berfungsi lagi melalui metode transfer gen. Keempat, dapat bermigrasi ke jaringan target dan dapat berintegrasi ke dalam jaringan dan berinteraksi dengan jaringan sekitarnya.
 
Stem cell dapat ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh. Salah satunya ada pada stem cell dewasa, yang diambil dari jaringan dewasa yakni pertama pada sumsum tulang, kedua pada susunan syaraf pusat, ketiga pada adiposit atau jaringan lemak, keempat pada otot rangka, dan kelima pada pankreas. Pada lokasi-lokasi itulah nanti getarannku akan kupakai untuk 'memancing' stem cell untuk kemudian diarahkan pada luka sobek di lengan kiriku.
 
Aku mulai dari Nafas Pembersih berdasakan empat penjuru mata angin seperti yang pernah diajarkan oleh ayah. Mulai dari arah Selatan, Timur, Utara, dan Barat. Arah Selatan dan Utara berhawa dingin. Arah Timur dan Barat berhawa panas. Selatan dan Utara membersihkan kepala dan badan sedangkan Timur dan Barat membersihkan tangan dan kaki. Pertama, aku menghadap ke Selatan. Saat itu aku harus melakukan visualisasi seperti ada aliran 'air dingin' yang dijatuhkan pada ubun-ubun hingga kemudian 'membersihkan' rongga kepala hingga pangkal leher. Setelah dirasa cukup, kemudian bergeser ke arah kiri menghadap Timur. Saat  itu aku harus melakukan visualisasi seperti ada aliran panas yang masuk ke pangkal lenganku hingga ujung jari. Setelah dirasa cukup, kemudian bergeser ke arah kiri menghadap Utara. Saat itu aku harus melakukan visualisasi seperti ada 'air dingin' yang masuk mulai dari pangkal leher hingga ke pinggang untuk membersihkan area tersebut. Setelah dirasa cukup, kemudian bergeser ke arah kiri menghadap Barat. Saat itu aku harus melakukan visualisasi seperti ada aliran panas yang masuk mulai dari pangkal kaki hingga ke ujung jari kaki. Setelah dirasa cukup, kembali bergeser ke arah kiri hingga balik lagi pada arah selatan.
 
Bagaimana memahami rasa inderawi pada 'dingin' dan 'panas'? Dulu, kira-kira sepuluh tahunan yang lalu saat ayah pertama kali mengajariku, tanganku diminta untuk menyentuh es batu terlebih dahulu sambil mengatakan kalau nanti rasa seperti inilah yang coba dimunculkan. Tanganku benar-benar disentuhkan ke es batu beberapa detik. Tentu saja rasanya sangat dingin. Dinginnya merambat perlahan dari telapak tangan yang menyentuh es batu itu ke arah lengan. Menjalar seperti rambatan tetumbuhan. Seperti itulah nanti rasa dinginnya kata ayah. Sedangkan untuk hawa panas, ayah dulu membawa lilin kemudian menyalakannya. Telapak tanganku diminta didekatkan ke arah api lilin hingga hanya berjarak satu ruas jari saja. Tentu saja rasanya mula-mula hangat kemudian memanas. Merambati telapak tanganku hingga ke lengan. Menjalar seperti rambatan tetumbuhan juga. Seperti itulah nanti rasa awal yang harus aku rasakan saat berlatih nafas pembersih ini.
 
Kemudian, saat kemudian usiaku bertambah, dan aku baru sudah masuk SMU, pada suatu latihan yang sama, ayah mengatakan bahwa 'dingin' dan 'panas', janganlah sekedar dirasakan oleh panca indera saja, tetapi juga harus memahami makna dari itu. Saat menghadap ke Selatan, kepalaku 'dibersihkan' dengan hawa dingin. Sedangkan saat menghadap ke Utara, badanku juga 'dibersihkan' dengan hawa dingin. Ayah mengatakan kalau kepala dan badan itu tempat dimana pikiran dan hati berada. Pikiran, nalar, otak, berada di kepala. Sedangkan hati,, berada di badan. 'Membersihkan' ini juga harus membersihkan hakekat dari keduanya, mendinginkan keduanya.
 
Dingin.
 
Tenang.
Bersih.
 
"Kepala tidak boleh 'panas', dan hati juga tidak boleh 'panas'. Kalaupun hati terpaksa 'panas', maka kepala harus tetap 'dingin'. Kalau dua-duanya 'panas', maka akan hilanglah kontrol diri. Hilanglah apa yang disebut dengan sisi kemanusiaan kita. Kita sudah bukan manusia lagi. Dan itu tidak boleh terjadi.", kata ayah.
 
"Memahami Nafas Pembersih tidak sekedar pada hasil akhir dari manfaat nafas jenis ini, atau yang berhubungan dengan kesadaran inderawi saja pada apa yang bisa dihasilkan darinya, akan tetapi lebih jauh lagi menyelami filosofi apa yang bisa didapatkan dari nafas pembersih yang berguna untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik dan bijak.", lanjut ayah.
 
Saat ini, aku baru memahami ucapan ayah.
 
Sembilan menit berlalu. Aku sudah selesai melakukan nafas pembersih.
 
Pikiran dan hatiku sudah sangat tenang. Tubuh ini juga rasanya ringan. Telinga seperti mendengar suara yang lebih jelas dan jernih dari biasanya. Pandangan mata juga menjadi lebih 'terang'.
 
Aku memejamkan mata, memusatkan diri pada niat dan konsentrasi. Bawah pusarku mulai menghangat. Aku 'tarik' tenaga getaranku menuju dada, merasakan dadaku mulai menghangat. Setelah itu aku alirkan tenaga getaran ini pada jantung terlebih dahulu, kemudian pada lokasi-lokasi stem cell ini berada sambil memperkuat niat dan konsentrasi untuk 'membawa' stem cell ini pada kedua luka sobek di lengan kiriku. Terakhir, aku berkonsentrasi pada seluruh bagian kulit tubuhku, untuk kemudian mencoba 'menarik' stem cell dari kulit yang dialiri tenaga getaran ini yang nantinya akan diarahkan pada dua luka sobek di lengan kiriku itu. Seluruh kulitku serasa dirambati ribuan semut yang berjalan.
 
Perlahan.
 
Merambati.
 
Setelah itu, luka sobek ini terasa agak berasa 'gatal' seperti digigiti semut. 'Gatal' yang tidak ingin digaruk. Aku tidak tahu berapa lama melakukan ini .Yang jelas, aku benar-benar 'tenggelam' pada aktivitas ini. Keringatku juga cukup banyak keluar dari tubuhku ini.
 
Aku baru membuka mata setelah menginginkannya. Artinya, tubuhku sudah merasa cukup untuk itu.
 
Aku menoleh ke arah jam dinding, ternyata sudah lima belas menit aku melakukan ini. Lumayan lama juga, gumamku dalam hati. Luka sobekku ini mulai berasa nyaman. Aku tutup kembali latihan kali ini dengan Nafas Pengendapan, menarik kembali tenaga yang sudah dikeluarkan, kemudian menyimpannya kembali di bawah pusar sambil menyisakan sedikit untuk dialirkan ke dada agar tubuhku menjadi lebih segar. Setelah itu berdoa, berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
 
Aku berdiri. Berjalan menuju lemari baju yang disampingnya ada tempat untuk menggantungkan handuk. Ada dua handuk disitu, terdiri dari satu handuk besar dan satu handuk kecil. Tangan kananku meraih handuk kecil, lalu aku bersihkan badanku, terutama yang berkeringat, dengan handuk tersebut. Setelah itu aku berjalan menuju lemari, membuka pintu lemari, untuk kemudian mengambil kaos berlengan panjang dan memakainya.
 
Segar sekali rasanya tubuh ini. Tiba-tiba terdengar suara-suara aneh di perutku. Ah, tampaknya perutku sudah mulai berontak untuk diisi nih.
 
Aku berjalan menuju pintu kamar, membukanya, dan berjalan keluar menuju dapur. Sambil berjalan, aku melihat adikku, Ayu, sedang bermain bersama Bayu dan Taufan.
 
"Kakaaak… sini… ikutan main gak Kak?", tanya Ayu.
 
Aku menggeleng, sambil kedua ujung telunjuk tanganku mengarah ke perutku sendiri.
 
"Nggak Yu, nanti saja ya mainnya. Kakak lapar nih. Mau makan dulu di dapur…", jawabku. Aku melihat Ayu kembali bermain bersama adik-adiknya.
 
Aku meneruskan langkahku menuju dapur. Bersiap untuk makan karena perut ini rupanya sudah mulai berontak. Wajar saja, setelah mengalami pertarungan hidup dan mati sebelumnya aku baru meminum segelas teh manis saja. Ditambah lagi latihan nafas pembersih yang hampir setengah jam, benar-benar membuat perutku seperti 'protes' untuk diisi.
 
Sesampainya di dapur, aku melihat mbak Juju sedang mencuci piring. Mbak Juju diperbantukan oleh bundaku untuk beres-beres rumah. Aku tidak pernah sampai hati menyebutnya 'pembantu' sebab meskipun ia orang lain, tapi ia bagian dari keluargaku kini, yang juga ikut menjaga rumah dalam porsinya yang sudah ditentukan. Aku lebih suka menyebutnya dengan istilah 'mbak'. Usianya kira-kira tiga puluh tahunan, berasal dari salah satu kampung yang agak jauh di Jawa Barat.
 
Dapur itu ukurannya agak besar, kira-kira lima kali enam meter. Terdapat kaca yang mengarah ke halaman pada beberapa sisinya. Di tengahnya ada meja makan, tempat aku dan anggota keluarga yang lain makan. Meja makan itu berbentuk persegi empat, dengan empat kursi yang mengelilinginya. Meskipun kami sebenarnya memiliki ruang makan keluarga sendiri yang letaknya terpisah dari situ.
 
Mbak Juju melihatku. Ia bergegas mencuci bersih tangannya, berbalik badan, dan menyapaku.
 
"Mau makan A?", tanyanya sambil tangannya berusaha di lap dengan kain yang diikatkan di pinggangnya.
 
Aku mengangguk.
 
"Iya mbak. Laper nih perut. Ada masakan apa mbak hari ini?", jawabku.
 
"Ada semur telur dan tahu A. Tempe goreng juga ada, tapi keliatannya tadi habis karena dimakan sama Ayu. Mbak goreng dulu ya sebentar.", ucap mbak Juju.
 
Mbak Juju kemudian menyalakan kompor yang letaknya tidak jauh dari tempat mencuci piring, mengambil sebuah penggorengan, lalu mengisinya dengan minyak secukupnya. Ia lalu berjalan menuju lemari pendingin, membuka pintunya, dan mengeluarkan tempe mentah yang sudah dipotong-potong kecil. Berjalan kembali menuju tempat penggorengan. Lalu berdiri disitu, menunggu minyaknya panas.
 
Aku sendiri langsung duduk mengambil kursi yang terdekat. Sambil menunggu mbak Juju selesai menggoreng tempe, aku terpikirkan aktivitasku sebelum ini. Pandanganku aku arahkan pada salah satu kaca di depan. Aku menyentuhkan ujung siku kedua lenganku di atas meja sambil telapak tanganku menahan daguku. Sikap ini adalah sikap seperti sedang merenung.
 
Mataku terpejam.
 
Yang baru aku lakukan barusan saat dikamar adalah berusaha untuk mengobati sendiri luka sobek ini dengan menggunakan pendekatan tradisional dan modern. Aku menganggap latihan silatku ini adalah tradisional, dan pengetahuan mengenai stem cell atau sel batang ini adalah modern. Setidaknya, begitulah saat ini yang ada di pikiranku. Dianggap tradisional karena latihan seperti itu tidak berhubungan dengan ilmu pengetahuan modern. Seringkali tidak tahu alasannya mengapa begini dan mengapa begitu. Bahkan seringkali juga tidak bisa dijelaskan dengan rasio. Sedangkan stem cell atau sel batang dihasilkan dari penelitian para ilmuwan dengan berdasarkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah modern di abad 20 saat ini.
 
Dheg…
 
Tiba-tiba hatiku seperti dipalu godam.
 
Aku tiba-tiba teringat ucapan ayah mengenai kesadaran inderawi dan kesadaran rasional. Ingatanku juga melayang pada saat ayah selesai melatih olah nafas Pengolahan dengan menggunakan beban bambu raut yang ditengahnya digantung sebuah pot kecil dari semen seberat empat kilogram. Saat itu ayah berdiskusi denganku.
 
"Nak, orang-orang zaman sekarang menggolongkan silat ini sebagai tradisional. Termasuk latihan olah nafasmu barusan. Sedangkan apa yang dihasilkan di zaman sekarang dianggap sebagai modern. Menurutmu, benarkah demikian nak?", tanya ayah kepadaku.
 
Aku menggeleng.
 
"Aa belum begitu mengerti yah…", jawabku.
 
"Ketahuilah nak, silat adalah ilmu pengetahuan. Meskipun orang-orang modern tidak berani mengakuinya demikian. Silat itu dapat mengungkap pengetahuan akan banyak hal. Ia seringkali dianggap tradisional, hanya karena ia kebanyakan berasal dari kampung, tertutup, diturunkan dari generasi ke generasi yang umumnya secara tutur atau lisan, sedikit tulisan, dan seringkali susah dijelaskan dengan menggunakan metode-metode ilmiah pada saat ini. Padahal ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari silat ini sudah melampaui zamannya, sudah lebih dulu diketahui sebelum ilmu pengetahuan modern berhasil menemukannya. Silat itu sendiri sudah merupakan teknologi 'modern' dalam bentuknya yang lain.", ucap ayah.
 
"Sebagai contoh, ilmu getaran untuk tutup mata yang sudah pernah ayah ajarkan. Ilmu itu sudah lebih dulu ditemukan sebelum pengetahuan modern memahami konsep remote sensing, sebelum pengetahuan modern memahami bahwa atom suatu benda itu menyimpan karakteristik berupa warna, bentuk, sifat, dan informasi lainnya, atau sebelum konsep dualisme sifat pada Fisika Kuantum bisa diterima secara umum. Dan ada banyak hal lain lagi yang sudah ditemukan lebih dulu oleh ilmu silat ini. Ia sesungguhnya sudah modern pada zamannya. Ia sudah melampaui zamannya.", lanjut ayah.
 
"Eh, bener juga…", gumamku dalam hati. Aku mengangguk. Membenarkan ucapan ayah.
 
"Sudah belajar apa saja kamu sampai sejauh ini di sekolah?", tanya ayah.
 
"Banyak yah. Aa belajar matematika, fisika, akuntansi, kimia, biologi, sejarah, olahraga, dan banyak lagi yah…", jawab Aa.
 
"Benar nak, kamu hidup dengan belajar banyak hal. Di sekolah, sebagian besar kamu belajar hal-hal yang mengasah logika, nalar, otak. Hal-hal yang kebanyakan mengajarkan pada rasionalitas. Dimulai dari kesadaran inderawi, dan berujung pada kesadaran rasional. Pada akhirnya nanti, pengetahuanmu ini diharapkan akan mengerucut menjadi 'sesuatu'. Ingin menjadi apa nantinya pengetahuan dari kesadaran rasionalmu, ingin digunakan untuk apa nantinya pengetahuanmu, semua tergantung pada ini..", ucap ayah sambil ujung empat jari tangan kanannya ditempelkan ke tengah dadanya sambil sedikit ditepuk-tepuk perlahan.
 
"Pengetahuan itu nantinya akan bergantung pada hati, bergantung pada rasa, bergantung pada mata hati. Jika baik hatimu, maka baik pula lisanmu, baik pula tindakanmu, baik pula pada apa yang dihasilkan dari pengetahuanmu, serta baik pula apa-apa yang dihasilkan dari kombinasi diantaranya. Efeknya baik pula pada apa-apa yang dirasakan oleh sekitarmu serta alam raya ini. Demikian juga sebaliknya nak.", lanjut ayah.
 
"Ilmu silat sesungguhnya adalah ilmu pengetahuan modern. Sama sekali bukanlah tradisional dalam gambaran yang dibayangkan oleh orang-orang modern zaman sekarang.", ucap ayah menambahkan.
 
"Pengetahuan modern, memungkinkan kamu menjelaskan sesuatu. Sedangkan ilmu silat, memungkinkan kamu merasakan sesuatu. Pengetahuan modern memberimu penjelasan. Ilmu silat memberimu rasa. Silat merupakan bagian dari pengetahuan rasa.", tambah ayah.
 
"Ingatlah nak, tidak penting bagaimana kamu menafsirkan modern dan tradisional. Karena tradisional tidaklah sepenuhnya 'tradisional', dan modern tidaklah benar-benar 'modern'. Bahkan banyak beladiri yang mengklaim modern tetapi kehilangan ruh pada 'rasa'. Definisi seperti itu lebih baik disingkirkan. Ambil manfaat dari keduanya. Ambil apinya, jangan abunya. Yang jelas, ketahuilah bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh berusaha 'membaca' fenomena alam, apakah dari pendekatan fisika, kimia, biologi, matematika, medis, maupun bagian dari suatu seni beladiri, baik pada dirinya sendiri ataupun pada orang lain, niscaya akan makin menyaksikan kebesaran ilahi. Berpeluang mendapat hidayah, makin tebal keimanannya.", tegas ayah.
 
Aku menunduk. Hatiku bergetar mengingat ucapan ayah.

"Sudah siap A.", ucap mbak Juju membuyarkan lamunanku. Mbak Juju kemudian menghidangkan sepiring nasi yang berisi lauk pauk semur telur dan tahu, tidak lupa ada tiga potong tempe goreng. Setelah itu mengambil teh botol dari lemari pendingin dan meletakkannya disamping piring.

"Iya mbak, terima kasih.", jawabku sambil mengangkat kepalaku.

Melihat sepiring nasi dengan semur telur kesukaanku, hasrat makanku menjadi menggebu. Tanpa menunggu lagi, langsung aku santap hidangan di atas meja.




(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal