+-

Video Silat


Liputan Maenpo Pancer Bumi Cikalong di Apa Kabar I
Bakti Negara, Perguruan Silat Khas Bali
Jambore Pencak Silat, Slempang Betawi, Beksi Kong
Bandarkarima - Jalan Tengah
Liputan SILAT for WOMAN SELF DEFENSE di MNC TV
Demo Silat Golok Seliwa
Silat Gerak Rasa Sanalika
PHILOSOPHY OF CHAKRA-V
perform di acara Khaul 3 Guru Besar Beksi

Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

maenpo Cikalong by aki sija
25/02/2015 22:01

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Tembang Tanpa Syair  (Read 42448 times)

Toyosu

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 0
  • Posts: 35
  • Reputation: 17
  • Sahabat Silat
  • Perguruan: MP
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #30 on: 29/08/2011 23:46 »
Mantap mas mpcrb!!!

Ditunggu lanjutan kisahnya si Aa berlatih dengan halter samping dan tengah, lanjut ke gendewo dan busur payung. ^_^
Juga proses berlatih menguasai pasir besi, bayu seto, lembu sekilan, dan aplikasinya dalam dunia nyata...
Cerita interaksi getaran dengan alam, langit, hujan, sungai, ....
Waah pasti mantep kalau diolah dalam cerita dari mas mpcrb.

Teknik pengobatan juga boleh dibahas mas. ... Saya jadi ingat dulu mbangunin orang pingsan, gak mempan dengan narik yang di dekat ketiak, terpaksa ke yang lebih mantap di dekat selangkangan, hehehe.

Ied mubarak.
Taqabbalallahu minna wa minkum.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #31 on: 05/09/2011 09:17 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 18

Fenomena Regenerasi Sel


Malam ini adalah malam ketiga di liburanku. Tiga hari ini pula aku selalu memakai kaos lengan panjang saat di rumah. Aku tidak ingin ayah atau bundaku khawatir dengan luka sobekku. Tiga hari pula aku selalu berlatih pengobatan dengan caraku sendiri. Luka ini sudah mulai merapat. Lengan kiriku sudah mulai berani terkena air. Jujur, aku sendiri heran mengapa lukaku bisa cepat merapat seperti ini. Aku hanya mencoba melakukan apa yang bisa aku lakukan. Aku coba gabungkan pengetahuan mengenai tenaga getaranku dengan ilmu pengetahuan modern berbasis stem cell atau sel batang atau yang sering disebut dengan sel punca. Mencoba mengalirkan stem cell itu pada kedua lukaku. 
 
Nyatanya berhasil. Meski aku tidak bisa menjelaskan mengapa bisa begitu. Meski aku juga tidak tahu apa benar stem cell itu yang membuat lukaku menjadi cepat merapat. Tapi nyatanya demikian. Luka ini sudah mulai kering. Sudah mulai merapat. Lebih cepat dari yang diperkirakan. Obat dari dokter masih tersisa banyak.
 
Malam ini, tempat jam sembilan malam, ayah mengajakku berlatih di halaman setelah siang tadi ayah mengatakan kalau ada sesuatu yang harus aku pelajari. Siang tadi, aku sedang menonton televisi di ruang keluarga. Dari balik kaca ruang tamu, aku melihat ayah berbicara dengan mas Ade di depan teras rumah. Pembicaraan itu tampak serius. Mas Ade pasti memberitahu lukaku ini, dan aku yakin mas Ade juga melindungiku dengan tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya bahwa luka yang kudapat ini adalah hasil dari perkelahian di jalanan. Saat itu aku melihat ayah hanya tersenyum mendengar penjelasan dari mas Ade meskipun aku tidak tahu apa yang dijelaskan oleh mas Ade. Setelah selesai menjelaskan, ayah berdiri dan berjalan masuk ke rumah, menghampiriku. Aku langsung balik badan dan kembali menonton televisi, pura-pura tidak melihat ayah.
 
Ayah duduk di samping tempat dudukku.
 
"Nanti malam, jam sembilan, kita latihan di halaman. Ada yang ingin ayah ajarkan padamu...", ucap ayah.
 
Aku mengangguk.
 
"Iya yah...", jawabku.
 
Aku masih di kamar, memandangi jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum aku berlatih bersama ayah di halaman. Aku melepas perban yang digunakan untuk membalut luka sobek di lengan kiriku. Terlihat luka itu kini benar-benar sudah mulai merapat. Aku sengaja melepasnya karena kalau berlatih bersama ayah dan perban itu masih aku pakai, tentu akan terlihat, dan ayah tentu akan bertanya. Setidaknya, dengan melepas perban itu, suasana halaman yang agak gelap bisa menyamarkan kulit ini.
 
Setelah mengganti celana dengan celana hitam latihan, aku berjalan mendekati pintu kamar. Membukanya, dan kemudian berjalan santai menuju ruang tamu yang terbuka. Aku melihat ayah sudah berada di halaman. Ayah tampak sedang duduk bersila. Matanya terpejam. Nafasnya halus, teratur. Aku berjalan mendekati ayah. Lalu duduk di depan ayah, berjarak kira-kira dua meteran.
 
Ayah kemudian membuka mata.
 
"Bagaimana lukamu?", tanya ayah.
 
Benar saja. Ayah pasti akan bertanya masalah ini.
 
"Sudah mendingan yah. Sudah diobati. Sekarang sudah mulai merapat dan sudah mulai kering.", jawabku.
 
Hatiku masih agak khawatir kalau-kalau nanti ayah menanyakan penyebab dari luka ini.
 
"Ya sudah. Kalau begitu, dalam dua atau tiga hari ke depan ini kamu akan ayah ajarkan teknik olah nafas untuk regenerasi sel tubuh", ucap ayah.
 
Dheg...
 
Aku terkejut. Teknik olah nafas untuk regenerasi sel tubuh?
 
"Me...me...memangnya ada yah yang seperti itu?", tanyaku dengan sedikit kebingungan.
 
"Tentu saja ada nak... Silat yang ayah ajarkan ini istimewa loh. Salah satu seni yang tidak kalah istimewa dengan yang lain. Meski kebanyakan sedikit yang mau peduli dengan keistimewaannya karena rata-rata malas untuk memikirkan dan merenungkan, apalagi melatihnya secara rutin.", jawab ayah dengan tersenyum.
 
Aku menjadi bersemangat. Ini luar biasa! Aku tidak tahu kalau ada keilmuan pada silat yang ayah ajarkan yang fungsinya untuk regenerasi sel tubuh. Aku sendiri sebelumnya sudah mencoba teknikku sendiri berdasarkan pada pengetahuan stem cell yang pernah aku baca di perpustakaan. Itu kemudian memberikanku ide untuk mencoba sendiri gabungan antara tenaga getaran dengan pengetahuan stem cell. Dengan rasa penasaran yang besar, aku ingin tahu bagaimana teknik olah nafas untuk regenerasi sel yang nanti akan ayah ajarkan.
 
"Ambil jarak. Berdoa terlebih dahulu, kemudian lakukan Nafas Pembinaan, tapi cukup bentuk Nafas Garuda saja. Lakukan tiga kali. Tidak perlu pengejangan maksimal, terutama pada lengan kirimu.", pinta ayah.
 
Aku menurut.
 
Aku mundur dengan beringsut beberapa langkah, kupejamkan mataku, lalu mengambil sikap berdoa. Setelah itu barulah melakukan olah nafas yang disebut dengan Nafas Pembinaan.
 
Olah nafas ini terdiri dari empat bentuk utama. Boleh dilakukan dengan posisi duduk, atau posisi berdiri dengan kuda-kuda rendah. Bentuk pertama disebut dengan Bentuk Garuda. Gerakannya adalah merapatkan kedua telapak tangan di depan dada dengan kedua siku yang diangkat sejajar. Badan tegak. Nafasnya berdesis keras sehingga menimbulkan bunyi "sesssssssssssh". Bungkukkan badan, lalu buang nafas sampai 'habis', sampai sudah tidak bisa lagi menghembuskan nafas. Setelah itu tahan tiga sampai lima detik dalam kondisi 'kosong'. Selanjutnya tarik nafas dari hidung sambil badan kembali ditegakkan. Nafas yang dihirup, 'ditelan' dan di tahan di dada. Saat menahan nafas ini, kedua telapak tangan saling mendorong kuat, keras, bertenaga sambil telapak tangan yang bersentuhan tadi didorongkan ke depan perlahan sekali sembari otot-otot lengan dikejangkan dengan kuat. Dorong sampai maksimal, sampai kedua lengan menjadi lurus ke depan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke depan. Setelah itu, gerakkan ke samping badan dengan lengan tetap lurus dan telapak tangan tetap terbuka ke depan. Gerakkan perlahan, sejajar bahu hingga melewati bahu, hingga tidak bisa lagi digerakkan. Yakni saat otot bahu sudah mencapai titik akhir pergerakan. Biasanya otot bahu akan saling berdekatan. Tahan beberapa detik, lalu gerakkan kembali ke depan hingga kedua tangan lurus. Rapatkan kedua telapak tangan secara perlahan bersamaan dengan menekuk siku yang harus tetap sejajar sehingga kedua telapak tangan yang tadi dirapatkan mulai mendekat ke dada. Telapak tangan ini saling mendorong. Kuat, keras, bertenaga. Dekatkan ke arah dada, lalu kendorkan dan buang nafas kembali.
 
Aku melakukan itu sebanyak tiga kali, secara maksimal, seperti yang diminta oleh ayah.
 
Seluruh tubuhku kini sudah mulai menghangat
 
Aku membuka mataku.
 
"Bagus, nak. Sekarang, buka telapak tanganmu dan letakkan punggung tanganmu di atas lutut. Atur agar sudut yang dibentuk pada masing-masing tengah telapak tanganmu mengarah pada ulu hatimu.", pinta ayah.
 
Aku menurut. Aku buka telapak tanganku, punggung telapak tanganku aku letakkan di atas lutut, kemudian aku atur sedemikian rupa sudutnya agar mengarah pada ulu hatiku.
 
"Bagus. Sekarang, pejamkan matamu … seluruh tubuh harus rileks, tanpa ada pengejangan …", ucap ayah.
 
Aku mulai memejamkan mata.
 
"Pola nafas menggunakan nafas segitiga yakni interval antara buang, tahan, dan tarik harus sama, harus teratur, harus berada dalam keteraturan. Ingat, konsentrasi pada nafasmu.", lanjut ayah.
 
"Buang nafas perlahan dari mulut … sampai habis … lalu tarik perlahan dari hidung. Perlahan … dihayati … rasakan benar nafasmu .. .turunkan ke bawah pusar, tahan sebentar … lalu naikkan ke ulu hati … naikkan lagi ke pangkal tenggorokan … naikkan lagi ke titik diantara dua mata … naikkan lagi ke ubun-ubun … lalu buang nafas perlahan dari mulut.
 
Tarik nafas lagi perlahan dari hidung … konsentrasikan pada ubun-ubun … lalu turunkan ke otak kecil bagian belakang … tahan sebentar disana … lalu turunkan ke leher … turun lagi ke menyusuri tulang belakang … turunkan lagi ke pinggang … turunkan lagi hingga ke ujung tulang ekor … buang nafas perlahan dari mulut.
 
Tarik nafas lagi perlahan dari hidung … konsentrasikan pada ujung tulang ekor … lalu naikkan ke pinggang … naikkan lagi menyusuri tulang belakang … naikkan lagi ke leher … naikkan lagi ke otak kecil bagian belakang … tahan sebentar disana … lalu naikkan lagi ke ubun-ubun … lalu buang nafas perlahan dari mulut.
 
Tarik nafas lagi perlahan dari hidung … konsentrasikan pada ubun-ubun … lalu turunkan ke titik diantara dua mata … turunkan lagi ke tenggorokan … turunkan lagi ke ulu hati … lalu turunkan lagi ke bawah pusar … tahan sebentar disana … lalu buang nafas perlahan dari mulut.", jelas ayah.
 
Aku mengikuti setiap instruksi dari ayah. Menarik nafas, lalu menurunkannya ke bawah pusar, naik lagi pada lokasi-lokasi yang disebutkan oleh ayah. Terasa sekali ada 'sesuatu' yang 'berjalan' pada setiap titik lokasi yang disebut oleh ayah. Seperti memutari tubuhku, lalu mengalir dan seperti 'berpencar' ke seluruh tubuh. Rasanya, setiap sel-sel tubuh ini 'terisi' oleh sesuatu. Baru satu putaran saja sudah menghasilkan kesegaran yang luar biasa.
 
"Lakukan seperti itu terus hingga ayah bilang cukup…", lanjut ayah.
 
Aku menurut.
 
Rasanya sungguh sangat nyaman.
 
Aku tenggelam dalam konsentrasi melakukan olah nafas ini. Entah berapa lama, aku tidak tahu. Yang jelas, ini benar-benar sangat nyaman sekali. Setiap titik yang dilewati oleh aliran nafas ini benar-benar membawa kesegaran yang luar biasa.
 
"Cukup … sudah tujuh menit … bukalah matamu …", ucap ayah.
 
Aku membuka mata.
 
Entah apakah perasaanku saja atau bagaimana, tapi pandangan mata ini terasa lebih terang dari biasanya. Pendengaranku juga serasa lebih tajam. Tujuh menit ini benar-benar membuat tubuhku bugar dan segar luar biasa.
 
"Bagaimana perasaanmu?", tanya ayah.
 
"Nyaman sekali yah … ", jawabku.
 
"Bagus. Sekarang kamu lakukan yang sama seperti tadi, tetapi ditambah dengan visualisasi. Setiap kali kamu menarik nafas, bayangkan juga seolah ada 'air dingin' yang masuk ke tubuhmu, dan setiap jalur yang dilewati oleh 'air dingin' bayangkan menjadi terang seperti lampu halogen, seperti lampu neon yang berwarna putih terang. Paham?", tanya ayah.
 
Aku mengangguk.
 
Aku memejamkan mataku.
 
"Ingat, konsentrasilah pada nafasmu … ikhlas …", ucap ayah.
 
Aku tidak menjawab, tapi lebih tenggelam pada konsentrasiku.
 
Hening.
 
Menghayati.
 
Merasakan.
 
Ikhlas.
 
Aku tarik nafas perlahan dari hidung, lalu menurunkannya ke bawah pusar sambil membayangkan 'air dingin' memasuki tubuhku ini. Setelah itu melakukan visualisasi seperti lampu halogen atau lampu neon berwarna putih terang pada setiap titik yang dilewati. Pertama adalah bawah pusar. Dalam keheninganku, aku 'melihat' bawah pusarku menyala putih terang. Lalu aku naikkan ke ulu hati, menyala pada jalur, menyala pada ulu hati. Uuh, terang sekali. Persis seperti lampu neon. Naik lagi ke tenggorokan, naik lagi ke titik diantara dua mata, naik lagi ke ubun-ubun. Lalu aku buang nafas karena memang itu sudah batas maksimum dari menahan nafasku. Uuh, jalur yang dilewatinya benar-benar menjadi sangat terang. Aku bisa 'melihatnya'. Setelah kemudian menarik nafas yang kedua, aku konsentrasikan pada ubun-ubun, lalu turun ke otak kecil bagian belakang, tahan sebentar disana, lalu turun lagi, terus, terus, terus, pada lokasi yang sudah disebutkan oleh ayah. Dengan visualisasi ini, rasanya sungguh sangat berbeda.
 
Aku bisa 'melihat' bagian depan dan tubuhku 'menyala' terang. Pendarannya kemudian seperti merambat mengisi ke samping kanan dan kiri tubuhku. Perlahan lahan tapi pasti, warna putih itu menyebar hingga memenuhi tubuh ini. Rasanya menjadi sangat sangat nyaman.
 
Entah berapa lama aku tenggelam dalam latihan ini. Aku benar-benar bisa merasakan aliran darah ini mengalir, jantung, lengan, tenggorokan, ulu hati, kaki, ubun-ubun, otak kecil, kepala, semua bagian ini rasanya dipenuhi oleh sensasi yang luar biasa. Kulitku seperti dirambati ribuan semut.
 
"Bagus. cukup, nak… sudah sembilan menit. Selesaikan putarannya hingga kembali ke bawah pusar.", ucap ayah.
 
Aku membuka mata perlahan.
 
Benar-benar tidak terasa sudah sembilan menit aku melakukan ini. Tubuhku jauh lebih segar dan bugar. Sama seperti yang pertama tadi, hanya bedanya ketika ditambah dengan visualisasi, efeknya menjadi dua bahkan tiga kali lipat. Ayah juga dulu pernah menjelaskan kalau visualisasi itu jangan dianggap remeh. Visualisasi, meskipun hanya berada dalam pikiran, tetapi dapat memiliki efek pada tubuh fisik.
 
"Bagaimana?", tanya ayah sambil tersenyum.
 
"Istimewa yah!", jawabku dengan mantap. Tangan kananku reflek mengepal dengan ibu jari terbuka yang membentuk simbol 'hebat!'.
 
"Tidakkah kamu menyadari sesuatu nak?", tanya ayah kembali.
 
Keningku berkerut.
 
"Eh … apa ya?", gumamku dalam hati.
 
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa jalur yang dilintasi oleh latihan oleh nafas untuk regenerasi sel ini adalah jalur-jalur yang juga merupakan titik-titik konsentrasi dari sel punca atau sel batang atau stem cell?", ucap ayah.
 
Dheg…
 
Aku terkejut.
 
Benar juga. Setelah aku pikir-pikir, ternyata jalur ini memang jalur yang merupakan lokasi tempat titik-titik konsentrasi dari sel batang yang baru saja aku pelajari dua hari yang lalu.
 
"Ayah tahu juga mengenai sel batang ini?", tanyaku.
 
"Tentu saja nak. Dan bukankah kamu juga sudah pernah mencoba memanfaatkannya?", ucap ayah.
 
Aku kembali terkejut.
 
"Kok ayah bisa tahu?", tanyaku keheranan.
 
"Tentu saja tahu. Buku mengenai stem cell yang ada di perpustakaan belum kamu letakkan kembali ke tempatnya. Dari situ ayah jadi tahu kalau kamu berusaha melakukan sesuatu dengan lukamu ini. Dan dua hari ini ayah lihat kamu sudah tidak memakai perban lagi. Itu menandakan kamu ada kemajuan di dalam memanfaatkan potensi keilmuan yang kamu miliki. Ayah sendiri tidak tahu bagaimana caramu melakukannya, tapi nyatanya kamu berhasil.", jawab ayah.
 
Tebakan ayah sangat tepat.
 
"Benar yah, Aa coba untuk menggabungkan pengetahuan getaran Aa dengan pengetahuan mengenai sel batang ini. Barangkali saja bisa dimanfaatkan untuk mengobati luka sobek ini. Alhamdulillah berhasil yah…", ucapku agak berhati-hati.
 
Jujur aku masih agak khawatir kalau-kalau nanti ayah menanyakan bagaimana luka itu bisa terjadi.
 
"Tapi Aa tidak tahu kalau ternyata ada olah nafas untuk regenerasi sel seperti yang tadi ayah ajarkan…", lanjutku.
 
"Hehehe, apa kamu pikir silat ayah ini hanya berisi tata gerak dan getaran tutup mata saja?", ucap ayah sambil tersenyum.
 
Aku tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang tentu saja sama sekali tidak gatal dengan tangan kiriku.
 
"Kalau kamu perhatikan, bahwa pengetahuan mengenai konsep regenerasi sel ternyata sudah jauh ditemukan oleh pengetahuan silat dibanding dengan riset mengenai hal yang sama yang terjadi baru-baru ini. Jalur-jalur yang dilewati pada olah nafas ini ternyata merupakan jalur-jalur yang merupakan titik-titik konsentrasi dari sel batang.", tanya ayah.
 
"Silat sudah menemukannya, melakukan riset secara unik, dan bahkan sudah memanfaatkannya terlebih dahulu.", lanjut ayah.
 
Aku melihat ayah mengangkat kepalanya sedikit dan memandang ke langit.
 
"Meski demikian, ilmu pengetahuan silat belumlah bisa menjelaskan mengenai fenomena ini secara gamblang. Sebab memang sifatnya bukan memberimu penjelasan yang rinci seperti halnya ilmu pengetahuan modern, tapi memberimu pengetahuan untuk merasakan fenomena tersebut. Harus dianalisa terlebih dahulu secara multidisiplin, barulah akan tergambar dengan jelas bagaimana fenomena ini bisa terjadi bagaimana ia bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan modern menggunakan nalar. Sedangkan silat menggunakan nalar dan rasa.
 
Kalau penggunaan nalarmu tidak dibarengi rasa, maka hasil yang kamu capai tidak mendapatkan ridho Yang Maha Kuasa, meskipun memberikan nilai guna bagi orang lain. Kalau penggunaan otakmu tidak dibarengi hati, maka akan menjadi otak-atik, membodohi orang-orang. Harus ada keselarasan antara nalar dan rasa, antara otak dan hati.
 
Kalau nalar tidak pas, jangan teruskan. Kalau hati tidak yakin, tunda dulu. Kalau mantap dua-duanya, barulah dilanjutkan. ", lanjut ayah.
 
Aku terdiam beberapa saat, mencoba merenungi ucapan ayah.
 
"Bagaimana cara silat menemukan hal-hal seperti ini yah?", ucapku memberanikan bertanya.
 
Ayah kemudian menatapku. Ia tersenyum.
 
"Cara silat menemukan hal-hal seperti itu bukan dengan pendekatan rasional semata, tetapi lebih dari itu, yakni dari pendekatan spiritual, dari tumbuhnya kesadaran spiritual sehingga terjadi 'kontak' antara dirinya dengan Tuhannya melalui mata hati sehingga ia bisa membaca 'tanda-tanda' yang diberikan oleh Tuhannya pada dirinya, dan pada alam sekitar. Barangkali, dengan cara seperti itulah, dengan mengharap tuntunan ilahi melalui mata hati, apa-apa yang dihasilkan oleh 'teknologi' silat ini dikemudian hari bisa ditemukan juga oleh ilmu pengetahuan modern yang kemudian memberimu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena ini.", jawab ayah.
 
Aku menunduk. Membenarkan ucapan ayah.
 
"Kita sudahi dulu latihan kali ini. Ingat, latihlah olah nafas tadi setiap ada kesempatan. Itu akan sangat membantumu untuk pengobatan luka di lenganmu itu. Jangan lupa berdoa dulu, berterima kasihlah kepada Allah SWT, Sang Maha Pemberi.", lanjut ayah.
 
"Sertakan Allah dalam setiap aktivitasmu, nak.", tutup ayah.
 
Aku mengangguk.
 
Menurut.
 
Kepalaku menunduk. Batinku menjadi lebih tenang.
 



(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #32 on: 05/09/2011 09:24 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 19

Persiapan Pertandingan Pertamaku


KRIIIING…!

Dering telpon di ruang tamu terdengar begitu nyaring.

Aku sendiri sedang berada di dalam kamar, sedang di kursi belajar sambil membaca-baca buku Kimia. Aku mengenakan celana pendek santai model Hawaii yang agak panjang dengan kaos putih bermotif abstrak. Suara telpon itu terdengar, tapi tidak membuatku tertarik untuk keluar kamar. Aku hanya melihat dari celah pintu kamarku yang agak sedikit terbuka. Aku menoleh ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul empat sore.

Seorang perempuan paruh baya berkaos lengan panjang dan berkebaya batik berlari-lari kecil dari arah dapur menuju sumber suara. Ia langsung meraih gagang telpon dan mengangkatnya. Dia adalah mbak Juju.

"Assalamualaikum…", sapa mbak Juju.

"Waalaikum salam… Aa ada mbak?", ucap suara di seberang telpon.

"Oh ada. Sebentar saya panggilkan ya, Dik?", jawab mbak Juju.

Mbak Jujur meletakkan gagang telpon dalam posisi terbuka di samping pesawat telpon. Kemudian aku melihatnya berlari kecil menuju kamarku dan mengetuk pintunya perlahan.

"A, ada telpon dari temannya.", ucap mbak Juju.

Aku bangkit dari tempat dudukku.

"Iya mbak, terima kasih.", jawabku sambil berjalan menuju pintu dan membukanya. Aku melihat mbak Juju membalikkan badan dan kembali lagi ke ruang dapur.

Aku berjalan perlahan menuju meja kecil tempat pesawat terlpon itu diletakkan. Saat berjalan, sekilas dari sudut mataku aku melihat ke ruang perpustakaan. Aku melihat ayah sedang membaca buku disana. Sesampainya di depan meja kecil tempat pesawat telpon diletakkan, aku segera mengambil gagang telpon tersebut lalu mendekatkannya di telingaku.

"Assalamualaikum…", tanyaku ramah.

"Waalaikum salam. Halo Aa, ini Mita.", jawab suara merdu di ujung telpon.

Ia adalah Mita, wakil ketua OSIS di sekolahku. Ia gadis super gaul dan super sibuk. Tingginya semampai, rambut pendek, bahkan sering kali dipotong cepak. Sedikit agak tomboy. Kulit sawo matang dan berkacamata.

"Oh iya Mit, ada apa nih?", tanyaku kembali.

"Gini A, kita ada masalah sedikit nih. Masih ingat khan kalau sekolah kita ikut pertandingan pencak silat antar pelajar di acara POPKOTA?", ucap Mita.

"Iya masih lah Mit. Khan gue yang bantu ngetik proposal pengajuan ke kepala sekolah waktu itu. Yang ikut khan si Pipit sama si  Roni ya?", jawabku.

"Iya bener. Tapi ada masalah nih A. Masalahnya si Roni mendadak sakit. Kakaknya tadi nelpon. Mana pertandingannya lusa. Jadi kita kekurangan orang. Gue bingung nih A.", ucap Mita.

"Lho kok bisa? Trus gimana donk jadinya?", tanyaku.

"Ya tadi sih udah laporan sama Pak Toto. Katanya harus cari penggantinya secepatnya. Sayang banget kalo ga ada gantinya karena sekolah udah keluarin dana untuk dua orang. Gue udah coba nanya ke si Adi, tapi pas gue telpon ke rumahnya, eh udah liburan sama keluarganya. Tinggal elu doank nih kayaknya.. Elu juga khan belajar silat, gimana kalau elu aja yang gantiin si Roni? Mau ya A, pliiiisss…?", rayu Mita dengan nada memelas.

"Waduh, gue sih mau mau aja Mit. Tapi gue belum pernah ada pengalaman yang kayak gini nih…", jawabku jujur.

Memang benar, aku sendiri belum pernah ada pengalaman bertanding itu seperti apa. Aku memang pernah mengalami pertarungan, perkelahian, bahkan yang terakhir malah pertarungan antara hidup dan mati. Selain itu, aku hanya berlatih sparring bersama ayah di rumah.

"Udah deeh ga apa-apa ya A. Yang penting jangan sampe kosong aja… Plis banget ya A…", rayu Mita sekali lagi.

"Hmmm gimana ya Mit? Gue coba tanya ayah dulu deh. Soalnya minggu ini ayah ngajak liburan ke gunung nih. Satu jam lagi gue kabarin ya Mit…", jawabku.

"Ya udah deh. Tapi beneran ya A, nanti lu kontak gue ya.", ucap Mita.

"Iya…iya, bener. Nanti satu jam lagi gue pasti telpon elu. Gue mau nanya ama ayah dulu kapan berangkat liburannya.", jawabku mantap.

"Ya udah, makasih ya A. Semoga bisa … pliiiissss…", rayu Mita sambil memelas sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia merayu seperti ini. Kasihan juga sih. Aku tidak tega mendengarnya.

"Ok. Gue pasti telpon elu. Gue tutup dulu ya Mit. Assalamualaikum…", jawabku.

"Waalaikumsalam…", tutup Mita sambil juga menutup percakapan kita.

Aku meletakkan kembali gagang telponnya. Lalu duduk disamping meja telpon. Aku berpikir apakah akan aku penuhi keinginan Mita atau tidak? Aku memandangi tangan kiriku, luka sobek ini sudah sembuh, sudah merapat dengan sempurna. Jujur, hatiku sih ingin. Meskipun aku tidak yakin bisa atau tidaknya. Sebab pasti nanti disana aku bisa ketemu sama Dewi. Dewi pasti akan ikut, karena ia juga tim dari sekolah bersama Mita dan yang lainnya. Ah, daripada bingung, lebih baik aku temui ayah. Aku ingin bertanya kapan kira-kira ayah akan mengajakku liburan. Kalau waktunya masih lama, aku akan menggantikan Roni sebagai wakil pesilat dalam pertandingan pencak silat antar pelajar. Tapi kalau tidak, terpaksa aku harus menolak permintaan Mita.

Aku mantapkan hatiku, lalu segera berdiri dan berjalan menuju ke ruang perpustakaan. Aku melihat ayah sedang membaca buku. Hanya terlihat punggungnya saja karena ayah memutar kursinya ke arah berlawanan. Aku langsung duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja baca, tepat di depan ayah. Suara derit kursi terdengar, aku melihat ayah memutar badannya lalu tersenyum. Ia menutup buku yang sedang dibacanya, dan meletakkannya di meja di depannya.

Aku memulai terlebih dahulu percakapan dengan ayah.

"Yah, maaf Aa ganggu. Gini yah, tadi Mita, wakil ketua OSIS telpon Aa. Katanya salah satu pesilat wakil dari sekolah Aa mendadak sakit.", ucapku langsung to the point atau langsung mengarah pada pokok persoalan.

"Tidak apa-apa. Terus gimana?", tanya ayah.

"Anu… yah, Mita minta Aa buat gantiin pesilat yang sakit itu. Tapi Aa belum mengatakan iya atau tidak karena khan nanti ayah mau ajak Aa liburan.", jawabku lugas.

"Oh, bagus itu A. Itu bisa jadi pengalamanmu bertanding. Diambil aja peluangnya. Ngomong-ngomong, kapan pelaksanaannya?", ucap ayah.

"Lusa yah. Makanya Aa mau nanya dulu sama ayah.", jawabku.

"Ya sudah tidak apa-apa. Kita geser saja liburannya setelah pertandingan ini. Bagaimana?", tanya ayah.

"Kalau ayah mengizinkan ya Aa sih mau yah…", jawabku.

"Tentu saja ayah mengizinkan, nak. Sudah, sana telpon temanmu, bilang kalau kamu bersedia menggantikan pesilat yang sakit tadi.", ucap ayah sambil tersenyum ke arahku.

Aku senang sekali mendengarnya. Aku langsung berdiri dari kursi dan berterima kasih pada ayah.

"Terima kasih ya yah…", ucapku sambil tersenyum sumringah.

Ayah tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Tapi itu sudah cukup bagiku.

Aku membalikkan badan, lalu berjalan cepat menuju meja tempat pesawat telpon diletakkan. Aku angkat gagang telponnya, lalu segera menelpon Mita. Gagang telpon itu aku dekatkan ke telingan kiriku, sambil aku jepit dengan bahu dan tangan kiriku mengangkat pesawat telponnya bersamaan dengan tangan kananku memutar nomor Mita.

Dua enam tiga kosong dua kosong.

Beberapa detik kemudian terdengar nada tunggu di telinga kiriku.

"Halo… assalamualaikum…", terdengar suara merdu. Itu pasti suara Mita.

"Waalaikumsalam… Mit, ini gue…", ucapku.

"Iya A. Gimana A jadinya? Udah kasih tau ayahmu belum?", tanya Mita.

"Sudah Mit. Ayah mengizinkan, dan kebetulan liburannya digeser beberapa hari ke depan.", jawabku.

"Horeeee…! Sip lah kalau begitu! Tengkyu berat nih A!", ucap Mita kegirangan.

"Oh iya A, sore ini ada latihan bersama di sekolah. Barangkali saja mau ketemuan sama Pipit dulu buat ngobrol-ngobrol…", lanjut Mita.

"Oh ya? Baguslah kalau begitu. Gue segera kesana aja. Gue juga mau nanya-nanya dulu sama Pipit nih mengenai aturan pertandingannya…", ucapku.

"Ya udah nanti gue sms-in si Pipit ya. Kasih tau dia kalau dia jangan pulang dulu karena elu mau dateng kesitu. Gue juga nanti nyusul kesitu…", jawab Mita.

"Ok Mit. Thanks yak… Assalamualaikum…", ucapku menutup pembicaraan.

"Waalaikumsalam…", jawab Mita.

Aku tutup gagang telponnya, lalu kembali berjalan menuju kamar.

Di dalam kamar, aku segera mengganti celana pendekku dengan celana silat berwana hitam yang tergantung di dinding kamar. Celana silat ini sudah lusuh. Warnanya juga sudah mulai pudar. Jahitan di ujungnya malah beberapa sudah terkelupas. Meskipun belum ada yang sobek. Setelah selesai mengganti celana, aku langsung keluar kamar dan berjalan menuju ruang perpustakaan menemui ayah.

Di dalam ruang perpustakaan, aku melihat ayah sedang menulis sesuatu. Aku kemudian berjalan mendekatinya. Melihatku mendekat, ayah menghentikan aktivitasnya.

"Ayah, sore ini ada latihan bersama di sekolah. Aa pamit izin mau kesana dulu ya yah. Sekalian mau nanya-nanya sama Pipit.", tanyaku.

"Baiklah. Ayah izinkan. Kamu sudah makan belum?", jawab ayah.

"Terima kasih ya yah. Aa masih belum lapar yah, nanti saja makannya sepulang dari sekolah yah", ucapku.

"Ok. Hati-hati saja di jalannya ya…", tanya ayah.

Aku mengangguk mantap. Dan langsung balik kanan berjalan meninggalkan ruang perpustakaan. Aku sempat melirik, dan melihat ayah kembali melanjutkan aktivitasnya.

Aku berjalan keluar ruang tamu dan menuju garasi. Disana ada sebuah sepeda gunung yang sering aku gunakan. Warnanya coklat tua. Joknya terbuat dari karet yang cukup tebal tapi empuk. Warnanya hitam.

Aku langsung mengambil sepeda gunungku, mengayuhnya perlahan keluar dari garasi menuju pintu keluar rumah. Aku berhenti sejenak dan turun dari sepeda sesaat setelah keluar dari pintu keluar rumah untuk menutup kembali pintunya. Setelah itu barulah aku mengambil kembali sepeda gunungku dan mengayuhnya dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju sekolah.

Jarak dari rumahku ke sekolah kira-kira sepuluh menit dengan naik sepeda berkecepatan sedang. Atau tiga puluh menit kalau berjalan kaki. Atau lima menit saja kalau naik motor. Harus melewati jalan raya, sebuah jembatan, dan sebuah perempatan lampu merah di dekat mall yang terbesar di kotaku. Belok ke kanan, lalu melewati pasar Gunung Sari. Kira-kira seratus meter, barulah terlihat sekolahku. Aku harus memutar karena posisiku berada di seberangan sekolahku. Letak putarannya persis di dekat sekolahku. Biasanya disitu dijaga oleh pak polisi untuk mengatur lalu lintas. Tapi sore ini tidak terlihat ada pak polisi disitu.

Aku sudah sampai ke depan sekolahku. Pintu gerbang sekolahku terbuka lebar. Terlihat beberapa siswa yang sedang berjalan keluar. Aku belok kanan, menuju gerbang dalam sekolah, di dekat tempat parkir kendaraan siswa. Aku masuk ke dalam menuju lapangan di dekat masjid. Aku parkirkan sepeda gunungku di tempat parkir depan masjid. Pandanganku menyapu ke sekeliling. Di ujung lapangan, aku melihat Pipit. Ia tampaknya sedang berlatih sendirian. Terlihat ia sedang melakukan shadow boxing atau tarung bayangan.

Aku berjalan menghampirinya. Pipit tampaknya belum melihatku. Kira-kira berjarak lima meteran, aku langsung duduk saja disitu di atas aspal lapangan. Tidak jauh dari situ, aku melihat ada beberapa siswa yang sedang berlatih olahraga bola voli.

"Hei…", sapaku terlebih dahulu sambil tersenyum.

Mendengar suaraku, ia menoleh dan menghentikan kegiatannya. Lalu berjalan mendekatiku. Dan ia juga duduk di depanku.

"Eh kamu A. Tadi si Mita udah sms gue. Dia minta maaf kayaknya ga bisa dateng sore ini. Tapi dia udah cerita kalau elu nanti bakalan gantiin si Roni.", ucap Pipit sambil ia meluruskan kakinya.

"Iya nih. Jujur gue blom paham peraturan pertandingannya kayak apa nih?", tanyaku.

"Lho, elu gak nanya sama bokap?", jawab Pipit keheranan.

Aku menggeleng.

"Belum. Hehehe. Nanya sama elu ajalah. Elu khan udah pernah ikut pertandingan silat.", ucapku sambil tertawa kecil.

"Dasar!", ucap Pipit.

"Ya peraturannya banyak. Tapi sederhananya sih begini, yang boleh diserang itu bawah leher hingga pinggang. Disitu nanti ada point untuk tendangan dan pukulan. Tendangan bernilai dua, dan pukulan bernilai satu. Ada sih kombinasinya dengan langkah sebagai nilai plus. Tapi ya daripada elu ribet hafalinnya, pokoknya inget itu aja dulu deh. Tendangan nilainya dua, pukulan nilainya satu. Trus kalau elu berhasil jatuhin lawan, elu dapet nilai tiga. Tapi jatuhinnya ga boleh lebih dari tiga detik ya. Dah gitu aja gampangnya.", lanjut Pipit.

Aku mengangguk.

"Trus ada yang lainnya ga?", tanyaku.

"Ya ada nilai hukuman. Kalau elu melanggar. Pelanggarannya juga ya ada banyak juga. Mukul muka, ga boleh. Matahin sendi, ga boleh. Nusuk leher, ga boleh. Lari keluar lapangan, ga boleh. Dan ada juga yang laennya. Duh, gini aja deh, elu download aja peraturan pertandingan silat dari internet. Ada kok disana. Nah, baca deh ntar malem. Ok?", ucap Pipit sambil senyum.

"Yeee.. kalo gitu mah gue ga usah nanya ama elu lagi atuh neng…", jawabku sekenanya aja.

"Hahaha, ya emang gitu. Baca aja ya, tapi jangan lupa, download dulu…", ucap Pipit sambil tertawa.

Pipit kemudian kembali berdiri.

"Mau ikut latihan bareng?", tanya Pipit.

Aku menggeleng. Awalnya sih ingin berlatih bareng sama Pipit, tapi mendengar penjelasan mengenai peraturan pertandingan tadi, aku tiba-tiba jadi tidak ingin berlatih bersama Pipit.

"Nggak Pit, terima kasih. Gue balik dulu aja ya. Gue mau download dulu peraturan pertandingannya.", jawabku. Aku juga ikut berdiri.

"Ok.

Besok ada technical meeting sekalian penimbangan jam dua siang. Kata Mita, ntar kumpul dulu di sekolah ya. Trus nanti berangkat kesananya bareng.", ucap Pipit.

"Sip! Thanks yak...", jawabku.

Aku langsung berjalan kembali menuju area parkir di depan masjid sekolah. Mengambil sepedaku lalu bersiap mengayuhnya kembali untuk pulang.

"… Mukul muka, ga boleh. Matahin sendi, ga boleh…", aku terngiang ucapan Pipit.

"Hmmm… sepertinya ribet juga nih …", gumamku dalam hati.

Aku membayangkan, kalau gerakan silat yang diajarkan ayah tentunya akan berkurang banyak sekali karena peraturan ini. Gerakan-gerakan serangan yang diajarkan ayah, hampir sebagian besar mengarah pada daerah-daerah mematikan. Sasarannya merupakan sasaran yang tampaknya tidak diizinkan di dalam peraturan pertandingan silat. Kalau muka saja tidak boleh diserang, berarti serangan-serangan seperti Sodokan Melingkar, Sodokan Atas, Ujung Siku Ke Atas, Totokan, Tebangan, Tebasan, dan yang lainnya praktis tidak bisa dipergunakan. Terutama serangan-serangan dengan sasaran pada leher dan kepala. Kalau pematahan sendi juga tidak diizinkan, berarti gerakan-gerakan serangan kaki seperti Pengkalan, Trap Samping, Cecakan, Pancer, dan yang lainnya juga praktis tidak bisa digunakan. Termasuk di dalamnya tangkisan tangan bernama Patah Tebu atau pengembangan dari Sautan.

Pengkalan, merupakan salah satu bentuk serangan kaki dengan alat penyasar ujung tumit yang digerakkan dari bawah ke atas dengan memutar badan, sasarannya adalah selangkangan.

Trap Samping, merupakan salah satu bentuk serangan kaki dengan alat penyasar berupa sisi telapak kaki seperti halnya yang digunakan pada Tendangan Samping tetapi dengan sasaran persendian lutut. Fungsinya untuk mematahkan lutut atau tulang kering lawan.

Cecakan, merupakan salah satu bentuk serangan kaki dengan alat penyasar berupa sisi telapak kaki seperti halnya yang digunakan pada Tendangan Samping tetapi dilakukan dengan posisi berjongkok dan sedikit melompat ke depan dengan masih tetap berjongkok. Fungsinya untuk mematahkan sendi lutut atau menghancurkan tulang kering atau untuk menjatuhkan musuh secara menyakitkan pada serangan bawah.

Pancer, merupakan gerakan yang mengangkat lutut setinggi pinggang bersamaan dengan menutupkan ujung siku dari atas ke bawah ke arah lutut. Kalau yang melakukan kaki kanan, maka gerakan ujung siku yang menutupnya juga tangan kanan. Kalau diterapkan untuk menangkis, maka bentuk ini bisa digunakan untuk mematahkan persendian siku pada tangan maupun persendian lutut pada kaki.

Patah Tebu, merupakan salah satu bentuk serangan tangan tangkisan dengan alat penyasar punggung tangan bagian luar sambil membentuk kepalan. Yang disasar biasanya serangan tangan lawan dan serangan kaki lawan, terutama pada daerah persendian besar yakni sendi siku dan sendi lutut. Setelah punggung tangan bagian luar mengenai serangan lawan, maka tangan yang satunya akan melakukan tangkapan dengan punggung tangan bagian dalam dan melakukan pematahan secara berlawanan.

Sautan, merupakan salah satu bentuk serangan tangan tangkisan dengan alat penyasar punggung tangan bagian luar sambil meluruskan seluruh jari-jari sehingga telapak tangannya menghadap ke atas. Setelah punggung tangan bagian luar mengenai sasaran, maka dilakukan putaran kecil pada siku dan pergelangan tangan sambil mengganti posisi telapak tangan yang tadinya menghadap ke atas menjadi menghadap ke bawah sehingga terjadi kondisi seperti melibat. Kalau diterapkan pada serangan tangan, maka ini bisa digunakan untuk mematahkan persendian siku.

"Uuh, banyak juga sepertinya yang tidak bisa dipergunakan…", gumamku dalam hati.

Tapi untuk lebih jelasnya, aku ingin download terlebih dahulu peraturan pertandingannya. Agar aku tahu sejauh mana gerakan-gerakan silatku direduksi oleh peraturan pertandingan tersebut, sekaligus aku berusaha untuk menyesuaikan dengan peraturannya.

Aku memacu sepeda gunungku lebih cepat. Rasanya sudah tidak sabar untuk mengetahui peraturan pertandingan silat secara lebih detail. Belok kanan dan kiri hingga akhirnya masuk ke jalan utama menuju rumahku. Aku kurangi kecepatanku. Berbelok sekali lagi menuju Gang Delapan, lalu sampailah aku di depan rumah. Masuk lewat halaman, dan aku parkir sepeda gunungku di garasi.

Turun dari sepeda, aku segera berjalan menuju kamar.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #33 on: 05/09/2011 09:24 »
Di kamar, aku duduk di depan meja belajar sambil memandangi laptopku. Aku sudah menyalakan modem untuk koneksi internet, dan bersiap untuk mendownload peraturan pertandingan silat seperti yang disarankan Pipit tadi di sekolah. Aku buka portal pencari yang sudah cukup terkenal, Google, lalu mulai memasukkan kata kunci pencarian. Tidak berapa lama, beberapa tautan pun terlihat. Aku memilih beberapa tautan yang teratas, sepertinya itu mengarah pada informasi peraturan pertandingan silat. Benar saja, pada salah satu tautannya mengarahkanku untuk mengunduh sebuah dokumen elektronik dalam format PDF yang dipublikasikan oleh seseorang. Aku tidak tahu siapa.

Aku coba untuk mengunduhnya.

Sambil menunggu proses unduh selesai, punggungku kusandarkan pada kursi sambil memandang keluar jendela. Aku melihat ayah sedang menyirami tanaman di halaman sambil posisi kakinya terkadang membentuk kuda-kuda rendah. Ayah mengenakan kaos coklat dengan celana silat hitam. Aku tersenyum melihatnya. Ayah memang seperti itu. Ia menjadikan aktivitas hariannya sebagai latihan. Katanya, latihan itu harus sebanyak kita makan nasi, dan latihan bisa dalam bentuk kegiatan sehari-hari. Tergantung niatnya saja, kata ayah.

Aku menoleh kembali ke arah laptopku. Hanya butuh kurang lebih satu menitan saja file tersebut berhasil diunduh. Aku langsung membukanya dan melihat isinya. Halaman demi halaman aku baca.

"Hmmm… seperti itu ya …", gumamku dalam hati.

Ada beberapa hal yang aku mengerti, dan ada beberapa hal yang aku tidak mengerti. Ah, rasanya aku harus bertanya pada ayah.

Aku langsung beranjak dari kursiku. Dengan masih membiarkan laptopku menyala, aku berjalan keluar kamar menuju halaman dimana ayah masih menyirami tanaman. Aku berjalan mendekatinya, lalu berhenti kira-kira dua meter di dekat ayah. Ada beberapa ranting kayu kecil di dekat kaki ayah dan di beberapa tempat.

"Yah, anu … begini, ayah paham ga mengenai peraturan pertandingan silat?", tanyaku.

Ayah menoleh ke arahku, lalu tersenyum.

"Ayah tahu nak, tetapi ayah tidak memahami seluruhnya.", jawab ayah.

Aku melihat ayah meletakkan ember air yang digunakan untuk menyirami tanaman. Ayah kemudian mendekatiku.

"Bagaimana kalau kita coba saja?", tanya ayah.

"Dicoba? Maksudnya gimana yah? Aa belum ngerti…", jawabku.

"Ya kita coba latih tanding saja sekarang…", ucap ayah.

Ayah lalu membungkuk dan mengambil ranting kayu kecil di dekatnya. Menggoreskan sedikit pada tanah halaman, membentuk lingkaran selebar kira-kira lima meter. Setelah itu membuang kembali ranting kayu tersebut.

Ayah menepuk-nepuk telapak tangannya, membersihkan debu-debu yang menempel disitu. Kemudian berdiri tegak menatapku. Aku kini berada di dalam salah satu sisi lingkaran yang dibuat oleh ayah.

"Jangan keluar dari lingkaran ini. Serang ayah dengan yang kamu bisa…", lanjut ayah.

Aku melihat ayah memasang sikap pasang pesilat.

Aku menurut.

Akupun memasang sikap pasang pesilat.

Aku melihat ayah mendekat, lalu menendang lurus ke arah perutku. Secara reflek aku menangkis dengan tangkisan bawah lalu melangkah maju mendekat dan melakukan pukulan lurus ke arah muka. Cepat, keras, dan bertenaga.

TAPP!

Ayah menangkap pukulanku dengan telapak tangan kanannya yang terbuka sambil wajahnya miring sedikit sehingga lintasan pukulanku keluar dari jalur.

Gerakanku terhenti.

"Serangan seperti ini tidak diizinkan!

Pukulan Datar ini boleh, tapi lintasannya yang tidak boleh…", ucap ayah.

Selesai berbicara, tangan yang memegang kepalan tanganku kemudian menyentak keras sehingga aku terdorong mundur.

Ayah kemudian merangsek maju dengan membuka serangan menggunakan Tendangan Depan kaki kanan. Aku mundur dua langkah agar keluar dari jangkauannya. Tidak berhenti sampai disitu, ayah kemudian masih menyerang dengan Tendangan Sabit ke arah pinggangku. Tendangan Sabit ini menggunakan alat penyasar punggung kaki. Keras, cepat, dan bertenaga.

Aku kembali mundur satu langkah, menjauhi jangkauan serangan kaki ayah.

Aku melihat ayah tersenyum. Tangannya melambai ke arahku, memintaku untuk mendekat.

Ah, mendekat? Mataku melihat ke bawah, oh… benar juga, aku saat ini berada di luar lingkaran. Berarti aku sudah keluar dari lingkaran.

"Memutarlah nak. Melingkar. Jangan sampai keluar dari batas lingkaran. Kalau kamu seperti ini, akan kena tegur dari wasit nantinya…", ucap ayah.

Aku mengangguk. Dan berjalan kembali masuk ke dalam area lingkaran.

Ayah mundur dua langkah dan kembali memasang sikap pasang pesilat.

Aku bersiap dengan sikap pasang pesilat. Melangkah perlahan mendekati ayah. Setelah aku perkirakan berada dalam jarak serang, kemudian aku melakukan serangan yang disebut dengan Jlontrotan, yakni serangan kaki menggunakan sisi telapak kaki dalam bentuk tendangan samping sambil melangkah jauh setengah atau satu langkah.

Aku melihat ayah menggeser tubuhnya dengan ringan. Pergelangan kaki kirinya diputar ke arah dalam, sambil kaki kanannya digeser mengikuti arah putaran pergelangan kaki kiri sehingga posisi tubuhnya kini memotong kakiku yang kini berada di depannya. Gerakan ini disebut dengan Geser Depan Dalam.

Seranganku luput.

Ayah kini berada dekat sekali dengan kakiku. Ini bahaya. Secara reflek aku langsung melanjutkan dengan serangan bernama Keprukan menggunakan tangan kiri, yakni mengepalkan kepalan tangan sambil digerakkan dari bawah ke atas secara melingkar dan kembali lagi ke bawah melalui putaran siku, segera setelah kaki kananku menyentuh tanah. Alat penyasarnya adalah punggung lengan atau punggung kepalan tangan. Sasarannya bahu dekat ke leher. Cepat, keras, bertenaga.

TAPP!

Ayah kembali menahan seranganku, dan menangkap dengan telapak tangan kiri di dekat leher ayah. Kalau tidak berhasil ditahan, tentu serangan Keprukan itu akan mengenai leher dengan keras.

Gerakanku terhenti.

"Serangan ini tidak boleh…

Bentuk maupun lintasannya dilarang!", ucap ayah.

Telapak tangan ayah kembali menyentak keras dan membuatku terdorong mundur. Ayah kemudian berdiri tegak, kedua tangannya menjuntai ke samping. Tampaknya ayah ingin menyudahi latih tanding kali ini.

Melihat ayah sudah tidak dalam sikap pasang pesilat lagi, aku juga mengikutinya. Aku kembali berdiri tegak dengan posisi santai.

"Kamu tidak bisa menggunakan semua gerakan yang sudah ayah ajarkan. Kamu harus memilih dan memilahnya, gunakan yang diizinkan saja. Gunakan yang diperbolehkan seperti yang peraturan pertandingan itu nyatakan.", ucap ayah.

Aku terdiam. Ucapan ayah seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya saat bersepeda menuju rumah. Aku harus memilih gerakan-gerakan yang diizinkan.

"Yah, apakah Aa bisa menang?", tanyaku berusaha memupus kebimbangan.

Ayah tersenyum. Lalu berjalan mendekatiku, dan menepuk-nepuk pundak kananku dengan tangan kanannya.

"Ayah tidak tahu nak. Kamu cari tahu sendiri besok… Menang kalah tidaklah penting. Yang paling penting adalah lakukan saja yang terbaik. Masih ada waktu besok untukmu berlatih dan menyesuaikan dengan peraturan pertandingan itu. Gunakan waktumu sebaik-baiknya, dan lakukan yang terbaik.", jawab ayah sambil berjalan melewatiku.

Aku menunduk.

Dari sudut mata, aku melihat ayah berjalan menjauh meninggalkanku sendiri di dalam lingkaran.

"Baiklah yah, akan Aa coba …", gumamku dalam hati.





(bersambung)
 
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #34 on: 13/09/2011 13:34 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 20

Pertandingan Itu Bukan Pertarungan


Siang ini suasana agak mendung. Awan berarak terlihat begitu jelas. Sinar matahari seolah tertahan, tidak mampu menembus awan yang agak menghitam. Angin berhembus agak kencang. Cukup dingin. Dedaunan melambai dan berkibar karena hembusannya.

Sebuah gedung olahraga kokoh tetap tegak berdiri. Gedung itu cukup besar, luas, dan lebar. Tak goyah oleh angin, tak lekang oleh hujan. Dibatasi oleh pagar yang tinggi. Terdapat sebuah pintu gerbang utama di depannya. Pintu gerbang utama itu cukup lebar, dan terbagi menjadi dua, yakni sebelah kanan dan kiri. Yang sebelah kanan untuk pengunjung masuk, yang sebelah kiri untuk pengunjung keluar. Di depan gerbang utama tempat pengunjung masuk, terdapat sebuah spanduk besar yang bertuliskan "Selamat Bertanding Para Pesilat. Junjung Tinggi Sportifitas!". Ya, gedung itu digunakan sebagai tempat pertandingan pencak silat antar pelajar sekolah menengah umum. Tempatku berlaga untuk pertama kalinya.

Di depan gerbang utama, kira-kira empat atau lima meter, terlihat banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Ada banyak sekali penjual makanan dan minuman. Beberapa menjual cinderamata atau souvenir yang unik-unik. Agak menjauh sedikit, terlihat sebuah patung besar yang disekelilingnya terdapat kolam air. Patung itu menampilkan sosok Bima sedang mencengkram ular raksasa yang melilit tubuhnya.

Di luar gedung, setelah masuk dari pintu gerbang utama, terlihat banyak sekali orang yang lalu lalang. Rata-rata remaja. Banyak juga yang masih mengenakan seragam sekolah putih abu-abu. Ada juga terlihat yang menggunakan seragam perguruan silat masing-masing. Ada yang merah-merah, ada yang putih merah, ada yang biru hitam, ada yang biru putih, dan banyak lagi. Mereka keluar masuk gedung melalui pintu masuk utama dalam gedung. Pintu masuk utama itu terbagi menjadi delapan bagian. Empat pintu dipergunakan sebagai pintu masuk, dan empat pintu dipergunakan sebagai pintu keluar. Masing-masing dinomori dengan nomor satu sampai delapan.

Aku dan Pipit sedang berada dekat dengan pintu masuk utama nomor satu. Di dekat pintu itu terdapat area kosong yang cukup luas. Aku sendiri sedang duduk bersila, sementara Pipit sedang melakukan pemanasan ringan. Terlihat Pipit sedang melakukan tendangan-tendangan ringan, beberapa kali melakukan gerakan menghindar, tangkisan, dan juga bantingan. Kemarin, setelah melakukan technical meeting dan pengundian, aku mendapat nomor sembilan dan aku masuk ke kelas D. Di kelas itu, terdapat kira-kira empat pertandingan untuk mencapai final. Aku sendiri akan tanding pertama.

Aku memandang jam tangan di lengan kiriku, sudah pukul dua belas lewat empat puluh menit. Acara pertandingan akan dilaksanakan pukul satu tepat siang ini.

Mataku kupejamkan. Aku tenggelam dalam alam pikiranku. Membayangkan sedang berada di arena pertandingan, melakukan tangkisan, hindaran, serangan, bantingan, tendangan, dan sebagainya. Ini adalah shadow boxing, tetapi dalam pikiran. Tangan dan kakiku bergerak-gerak sedikit, perlahan, setiap kali pikiranku 'melakukan' sesuatu. Di dalam alam pikiranku, aku mencoba melakukan serangan tangan dan kaki yang tidak dilarang, dengan bentuk dan arah lintasan yang diizinkan.

Entah berapa lama aku melakukan ini, hingga akhirnya aku tersadarkan oleh suara tepuk tangan yang bergemuruh dari dalam gedung. Terdengar suara musik gending, disertai dengan ucapan pembuka dari pembawa acara yang bersiap untuk melanjutkan acara.

Aku membuka mata.

Aku melihat Pipit juga sudah siap-siap. Keringatnya memenuhi wajahnya. Ia menyeka dengan handuk kecil yang berada di pinggangnya.

"Sudah mau mulai A. Yuk, kita masuk...", ucap Pipit sambil berjalan menuju pintu masuk utama gedung.

Aku mengangguk.

Aku berdiri, menepuk-nepuk celana belakangku yang agak berdebu dengan telapak tangan kananku, lalu berjalan mengikuti Pipit.

Sesampainya di dalam, kami disambut oleh suara gegap gempita teriakan membahana dari para penonton.

Ruangan dalam gedung terlihat megah. Di tengahnya terdapat dua lapangan pertandingan silat berbentuk karpet persegi berwarna hijau yang memiliki area lingkaran di tengahnya. Di salah satu ujung terluarnya, terlihat papan bertuliskan "ARENA 1" dan "ARENA 2". Arena 1 diperuntukkan bagi pesilat wanita, sedangkan Arena 2 diperuntukkan bagi pesilat pria. Di kedua sudut arena, terdapat warna Merah dan Biru. Yakni tempat dimana para pesilat yang akan berlaga berada. Pertandingan menggunakan aturan IPSI. Setiap pesilat akan menggunakan pelindung tubuh yang disebut dengan Body Protector. Body Protector ini akan dipakaikan di tubuh pesilat dan diikat secukupnya dengan sabuk berwarna Merah atau Biru sesuai dengan sudut dimana pesilat tersebut berada. Para penonton sendiri berada di luar pertandingan, dibatasi oleh pagar setinggi satu meteran. Setiap kursi penonton semakin meninggi pada setiap barisnya. Jadi, akan mudah bagi para penonton untuk menyaksikan apa yang ada di tengah gedung tersebut.

Aku tersenyum. Pandanganku menoleh ke kanan, lokasi dimana tim sekolahku berada. Agak sedikit ke atas terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan tim sekolahku "VIVA SMANDA!". Aku dan Pipit segera naik ke atas melalui tangga kecil yang ada. Terlihat ada Pak Toto, pembina Pencak Silat sekolahku. Beliau melambaikan tangannya ke arahku.

"A, sini ... cepetan! Kamu sudah mau tampil bentar lagi ...", ucap Pak Toto.

Aku melompat kecil dan langsung duduk di samping Pak Toto. Sementara Pipit duduk agak jauh, berada disebelah teman-temannya.

"Sudah siap belum?", tanya Pak Toto.

Aku mengangguk.

"Insya Allah siap pak...", jawabku mantap.

"Ya sudah, kalau begitu, nih ganti bajumu ...", ucap Pak Toto sambil memberikan sebuah seragam silat hitam.

Aku menurut.

Aku menerima seragam silat berwarna hitam yang diberikan oleh Pak Toto, lalu meletakkannya disamping. Baju seragam silat itu berwarna hitam polos, berlengan panjang. Tidak ada tanda-tanda pengenal di dada kanan dan kirinya. Standar saja. Polos.

Aku langsung ganti baju disitu. Ah, laki-laki ini, praktis dan cepat. Tidak perlu ke kamar ganti lagi.

"Jangan lupa, pakai juga pelindung kemaluanmu... Pakai sana di kamar ganti, jangan disini!", ucap Pak Toto sambil menyikutku agak keras, tapi tidak menyakitkan.

Aku meringis.

"Siap pak! Hehehe...", jawabku sambil langsung berjalan cepat menuruni tangga dan segera menuju ke kamar ganti.

Di kamar ganti, aku memakai pelindung kemaluan. Sesuai dengan peraturan pertandingan, maka pesilat diwajibkan menggunakan pelindung kemaluan. Tujuannya jelas, agar kemaluan pesilat tidak terkena efek serangan yang membahayakan. Meskipun tetap saja masih bisa kena tendang, tetapi dengan adanya pelindung ini, diharapkan efeknya tidak begitu fatal.

Kurang dari satu menit aku sudah selesai memakai pelindung tersebut. Aku berjalan menuju tempat duduk Pak Toto. Aku juga melihat Pak Toto sudah mulai turun dari tangga dan berjalan ke arahku. Beliau membawa sebuah termos yang di dalamnya berisi air, handuk kecil yang cukup dingin, dan es batu.

"Kita ke Arena 2... Pertandinganmu sudah akan dimulai...", ucap Pak Toto.

Aku mengikuti Pak Toto dari belakang. Berjalan melewati beberapa orang yang melintas ke arahku, melewati beberapa meja panitia, dan akhirnya sampai di pinggir Arena 2, pada sudut Merah. Tidak berapa jauh, aku juga melihat lawan tandingku sedang berjalan menuju sudut Biru.

Lawan tandingku memiliki tinggi badan sedikit di atasku. Badannya agak lebih besar dariku. Berambut cepak. Terlihat kekar. Ia diiringi oleh dua orang pendamping.

Aku tersenyum.

Aku membungkuk, mengambil Body Protector yang ada disitu untuk kemudian memasangnya di tubuhku. Pak Toto membantuku dari belakang, sambil beliau mengikatkan sabuk berwarna merah. Sabuk itu diikat agak kencang. Aku menggerakkan tubuhku ke kanan dan ke kiri, mencoba menyesuaikan dengan bentuk Body Protector yang terpasang. Mengatur posisi lengan dan kaki agar enak digunakan untuk memukul dan menendang. Setelah dirasa cukup nyaman, aku berdiri menghadap lawan tandingku. Memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Pak Toto sendiri mengeluarkan air minum dari termos kecil yang dibawanya, lalu memberikannya kepadaku.

"Nih, minum aja sedikit ...", ucap Pak Toto sambil menyodorkan sebotol air minum.

Aku menurut.

Aku meminumnya sedikit. Air putih itu segar sekali rasanya, melewati tenggorokanku.

Di depan, aku melihat lawan tandingku juga sudah siap. Wasit yang memimpin pertandingan juga sudah berada pada posisinya, termasuk juga posisi tiga juri penilai yang sudah menempati posisinya masing-masing.

Aku membalik tubuh, dan berhadapan dengan Pak Toto. Sementara kedua tangan Pak Toto memegang bahuku.

"Berdoa dulu...", ucap Pak Toto perlahan.

Aku menurut. Aku menundukkan kepalaku, lalu memejamkan mata. Berdoa kepada Allah SWT, agar diberikan kemudahan dan diberikan yang terbaik.

"Dari Arena Satu, panggilan Pesilat dari Sudut Merah...", ucap panitia melalui pengeras suara.

Aku membuka mata, lalu mengangguk mantap kepada Pak Toto. Aku langsung balik badan, dan kemudian berlari kecil perlahan menuju tengah arena. Melakukan penghormatan kepada para juri dan wasit serta ketua pertandingan. Setelah itu kembali pada posisiku di sudut Merah. Pandangan mataku menatap tajam pada lawan tandingku di depan.

"Dari Arena Satu, panggilan Pesilat dari Sudut Biru...", ucap panitia melalui pengeras suara.

Aku melihat lawan tandingku melakukan hal yang sama.

Wasit kemudian memberikan aba-aba agar aku dan lawan tandingku saling mendekat ke tengah arena. Setelah itu kami bersalaman terlebih dahulu. Sambil bersamalam, wasit kemudian memberikan pengarahan dan nasehat.

"Pesilat, bertanding yang sportif. Gunakan teknik-teknik yang bersih. Daerah yang boleh diserang adalah ini dan ini. Leher tidak boleh diserang. Kepala juga demikian.", ucap wasit pertandingan sambil tangannya memberikan batasan area serang yakni tubuh mulai dari bagian pinggang ke atas hingga ke bawah leher, rusuk atau samping, juga termasuk punggung. Wasit memberikan kode tangan berupa empat jari sambil memberitahu bahwa maksimal serangan adalah empat kali serangan, setelah itu harus dihentikan atau wasit yang akan menghentikannya. Wasit juga memeriksa pelindung kemaluan kami, dan memeriksa kuku kami, memastikan kalau tidak ada kuku yang panjang. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, wasit kemudian memberikan aba-aba kepada para juri.

"Juri satu... Juri dua... Juri tiga...", ucap wasit dengan mantap sambil matanya memandang tajam bergiliran pada setiap juri. Para juri yang disebutnya juga memberikan kode bahwa mereka telah siap.

Wasit kemudian meminta kedua pesilat mundur dua langkah. Aku segera melompat kecil untuk mundur dua langkah. Bersiap dengan sikap pasang pesilat.

"Sikap pasang! ... Mulai!", ucap wasit dengan lantang.

Pertandinganpun dimulai seiring dengan bunyi gong yang ditabuh.

Aku melangkah perlahan mendekati lawan. Tanganku tetap bergerak membentuk kembangan silat. Pandangan mataku tajam menatap lawan. Kira-kira berjarak satu meteran, lawanku berhenti dan bersiap dengan kuda-kuda kiri depan. Aku juga ikut berhenti, lalu mengatur jarak dengan posisi kuda-kuda yang sama.

Tiba-tiba, lawan menendang dengan kaki kanannya dengan cepat ke arahku. Tendangan yang lurus, mengarah ke perut. Keras, cepat, tapi tidak melecut.

Secara reflek, aku mundur setengah langkah sambil menggunakan gerak langkah yang disebut dengan Simpir. Yakni dengan menggeser kaki depan ke belakang melewati lutut depan yang sedikit ditekuk sehingga kaki kiriku yang tadinya di depan kini berada di belakang kaki kanan.

Tendangan lawan tidak mengenai tubuhku. Karena menendang keras, lepas, tapi tanpa melecut, maka tendangan lawan terbawa sendiri oleh arus tenaganya. Segera setelah kaki kanannya menyentuh matras, kaki kiriku yang dalam posisi Simpir langsung menendang dengan tendangan samping menggunakan sisi telapak kaki, mengarah ke dada lawan. Posisiku ini pas sekali untuk membalas serangan.

BUKK!

Tendangan Samping kaki kiriku telak mengenai dada lawan. Keras, cepat, bertenaga. Melecut.

Ia mengaduh dan terdorong mundur. Mukanya tampak pucat.
Bersamaan dengan kaki kiriku yang menapak matras, posisiku hanya berjarak setengah langkah saja. Aku susul dengan melangkah maju dengan geser sambil tangan kananku melakukan Pukulan Datar ke arah dada. Keras, cepat, bertenaga, sambil memutar pinggang. Tenaga putaran dari pinggang.

Melesak.

Wungkul.

Membatu.

BHEG!

Pukulanku telak bersarang di dadanya. Ia terjatuh.

"Berhenti!", teriak wasit lantang sambil tangannya menghentikan gerakanku. Lalu wasit memberikan kode untuk nilai jatuhan. Beberapa penonton bertepuk tangan.

Melihat lawan masih tergeletak dan terus memegangi dadanya, wasit memberiku kode dengan tangannya agar menuju ke sudut netral.

Aku menurut. Aku berjalan menuju sudut netral. Lalu duduk dengan meluruskan kaki. Aku menoleh, melihat lawanku di matras kesakitan sambil memegangi dadanya. Wasit sudah berada disampingnya, memeriksanya. Setelah itu menghitung satu sampai sepuluh.

Saat hitungan dimulai, lawanku terlihat mulai berhenti mengaduh. Dengan masih memegangi dadanya, ia terlihat mencoba berdiri, meskipun agak limbung. Hitungan wasit sudah mencapai tujuh, dan lawanku masih saja limbung sambil tangannya masih memegangi dadanya. Tepat di hitungan kesepuluh, wasit memberikan kode untuk menghentikan pertandingan.

Wasit kemudian menepuk kedua telapak tangannya perlahan, memberi kode kepadaku agar mendekat.

Aku menurut. Berdiri dari sudut netral, kemudian berjalan mendekati wasit.

Aku berdiri disamping kanan wasit. Pergelangan tangan kiriku dipegangnya.

"Pertandingan ini dimenangkan oleh pesilat dari ... sudut merah ... dengan menang teknik!", ucap panitia melalui pengeras suara dengan lantang.

Tepat setelah panita mengucapkan '...sudut merah', wasit mengangkat pergelangan tanganku tinggi. Memberi tanda bahwa akulah pemenang pada pertandingan tersebut.

Aku kemudian memberi hormat pada ketua pertandingan, kepada wasit dan juri, dan juga kepada tim lawan tandingku. Setelah itu balik badan dan kembali ke sudut merah. Terlihat Pak Toto mengacungkan kedua ibu jarinya ke arahku, memberi tanda 'jempol' yang menandakan 'hebat'. Sesampainya di sudut Merah, aku langsung disambut dengan pelukan oleh Pak Toto.

"Mantap A!", ucap Pak Toto sambil membuka ikatan sabuk merah dan kemudian membuka Body Protector di tubuhku.

"Minum dulu ...", lanjut Pak Toto sambil mengambil sebotol air mineral dari termos kecil. Pak Toto juga mengambil handuk kecil dari termos yang berisi es batu untuk kemudian menempelkannya pada wajahku. Dingin sekali handuk ini. Menyegarkan.

Body protector dan sabuk merah sudah terlepas dari tubuhku. Pak Toto berjalan meninggalkan arena pertandingan. Akupun mengikuti dari belakang. Aku melihat ke arah tim sekolahku, semua girang dan berteriak senang. Mereka meneriakkan yel-yel semangat. Bersuka cita karena aku menang pada pertandingan pertama.

Aku naik tangga menuju tempat dudukku. Beberapa teman menyalamiku dan mengucapkan selamat.

"Selamat ya! Hebat, kamu bisa menang teknik. Lawanmu KO!", ucap Pipit sambil menyalamiku.

"Ah, cuman kebetulan aja...", jawabku merendah.

"Huh, kebetulan apanya? Itu seranganmu telak dan bersih banget kenanya... Gak mungkin kalau kebetulan!", lanjut Pipit.

Aku hanya tersenyum.

Memang benar. Saat kemudian aku berhadapan tadi, aku seperti bisa merasakan lawan akan menendangku. Sehingga aku bisa melakukan antisipasi dengan mundur setengah langkah dengan gerak langkah bernama Simpir. Saat kemudian kaki lawan menyentuh matras, pada saat itulah aku seperti merasa ada getaran dari sentuhan kaki lawan dengan matras. Getaran itu membuatku segera menggerakkan kakiku untuk melakukan tendangan samping dengan tempo yang bersamaan dengan sentuhan telapak kaki lawan ke matras. Akibatnya, lawan mengalami kesulitan mengatur gerakan berikutnya karena ritme gerakannya sama dengan gerakanku.

Demikian juga saat lawan terdorong mundur dengan tendangan sampingku. Gerakan mundur lawan itu juga sekaligus menimbulkan getaran di tubuhku untuk menggerakkan tubuhku mengikuti arah lawan sehingga lagi-lagi ritme gerakan lawan denganku menjadi sama.

Mengalir.

Mengikuti.

Pukulan lurus yang aku sarangkan di dadanya benar-benar pukulan yang keras, membatu. Plus ditambah lagi tenaga dari putaran pinggang. Meskipun pukulanku mengenai body protector lawan, tetapi terasa seperti ada yang 'menembus'. Aku juga masih belum paham apa itu. Yang aku lihat adalah efek dari pukulanku ini cukup menyakitkan bagi lawan.

Aku menoleh ke arah kanan. Dari kejauhan kulihat lawan tandingku sedang membuka baju. Saat baju dibuka, terlihat ada warna yang agak menghitam di dadanya. Salah seorang temannya mengusapnya dengan salep atau balsem. Lalu menyuruhnya duduk. Aku mengerutkan kening. Separah itukah?

Arena 2 yang tadi digunakan untuk pertandingan pertamaku, saat ini diisi oleh nomor pertandingan berikutnya. Kemungkinan aku sendiri akan tampil dalam satu atau dua jam berikutnya. Sambil menunggu, aku menyaksikan laga dari arena satu dan arena dua. Pipit sendiri belum turun untuk laga. Menurut Pak Toto, Kemungkinan dalam dua atau tiga jam lagi atau setelah Maghrib nanti. Menurut Pak Toto juga aku akan tanding sebanyak empat kali agar mencapai final. Pertandingan ketiga sudah akan masuk ke semi final.

"Pada Arena satu ... dikarenakan pesilat Rangga kelebihan berat badan, maka pertandingan kelas D antara Pesilat Rangga dengan Pesilat Akbar tidak dapat dilanjutkan. Selanjutnya, agar dipersiapkan pesilat Akbar untuk partai berikutnya.", terdengar suara panitia melalui pengeras suara.

"Eh... itu khan kamu A. Lawanmu kelebihan berat badan. Kamu langsung naik ke partai berikutnya karena lawanmu itu mendapat Bye. Kamu tanding lagi nih...", sahut Pak Toto sambil memandang ke catatan kecil yang berisi daftar pertandingan dan skema pertandingan di tangan kanannya.

"Ganti baju dulu. Siap-siap dulu sana...!", lanjut Pak Toto sambil memandang ke arahku.

Aku menurut.

Aku segera kembali mengganti baju dengan seragam silat hitam-hitam pemberian pak Toto.

"Berarti kamu sudah masuk semi final nih. Karena diatasmu ini dapat Bye. Kamu akan ketemu sama juara satu tahun lalu A.", ucap Pak Toto sambil tangannya melingkari skema pertandinganku.

Aku berdiri dan melakukan pemanasan kecil. Meregangkan tangan dan kakiku, melakukan beberapa tendangan dan pukulan ringan. Aku melihat Pak Toto menyiapkan handuk kecil dan memasukkannya pada termos kecil.

"Ayo A, kita turun...", ucap Pak Toto sambil berjalan menuruni tangga.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #35 on: 13/09/2011 13:35 »
Aku mengangguk, dan berjalan di belakang Pak Toto menuju Arena 2, menuju sudut Merah yang sebelumnya aku gunakan untuk laga pertama. Terlihat juga lawanku berjalan menuju sudut Biru. Ia tampak sepantaran denganku. Gerakannya terlihat cukup lincah.

Wasit dan juri juga terlihat sudah menempati posisinya masing-masing.

Setelah selesai memasang Body Protector, para pesilat dipanggil secara bergantian ke tengah arena. Wasit kemudian memberikan pengarahan singkat, meminta pesilat untuk saling bersalaman, memeriksa apakah pelindung kemaluan dipakai atau tidak, memeriksa kuku, dan memastikan pesilat berada dalam kondisi yang layak. Setelah itu wasit memberikan aba-aba kepada para juri bahwa pertandingan siap dimulai.

Aku mundur dua langkah. Bersiap dengan sedikit kembangan, lalu siap dengan sikap pasang pesilat. Lawanku juga terlihat demikian.

"Pesilat... mulai!", teriak wasit bersamaan dengan bunyi gong yang dibunyikan dengan keras.

Aku melangkah perlahan menuju tengah arena. Lawanku juga demikian. Kami berhenti pada jarak serang masing-masing. Lawanku melakukan pancingan dengan menggerakkan tangan kirinya. Aku tidak terkecoh.

Pada gerakan tangan pancingan yang ketiga, tiba-tiba ia menyerangku dengan tendangan sampingnya yang cepat.

Aku melangkah mundur. Tendangan itu luput.

Lawanku melanjutkan dengan tendangan depan lurus, mengarah ke perut. Tendangan yang cepat. Aku terpaksa harus menangkisnya.

PLAK!

Telapak tangan kiriku menangkis tendangan depannya keras. Aku agak terdorong mundur setengah langkah. Belum sempat aku menggeser langkahku, lawan sudah kembali menyerang dengan menyarangkan pukulan lurusnya. Uh, aku belum sempat menghindar.

BUKK!

Pukulan lurus lawan mengenai dadaku dengan telak. Keras. Aku terdorong mundur lagi setengah langkah.

"Berhenti!", teriak wasit sambil tangan kanannya direntangkan ke depan menghentikan aktivitas pesilat. Wasit memberikan aba-aba agar aku masuk kembali ke lingkaran arena dan memintaku agar mencoba untuk bermain melingkar. Oh, rupanya salah satu kakiku sudah keluar dari lingkaran. Lawanku kali ini memang agak berbeda. Kualitas tendangannya, bentuk, dan kecepatannya memang lain dibanding lawan pertamaku sebelumnya.

Aku berjalan kembali ke tengah, mengatur jarak.

"Pesilat ... mulai!", teriak wasit.

Aku melangkah maju perlahan, mendekati lawan. Aku melihat lawanku juga melakukan hal yang sama. Kami berhenti di dekat tengah lingkaran arena. Uh, lawanku melakukan gerakan tangan tipuan lagi seperti tadi. Hm, kali ini aku tidak akan terkecoh.

Gerakan tangan tipuan pertama, aku masih diam. Gerakan tangan tipuan kedua, aku juga masih diam. Tepat setelah lawan ingin melakukan gerakan tipuan yang ketiga, aku menyerang terlebih dahulu dengan tendangan depan. Cepat, keras, bertenaga. Lawanku terlihat terkejut. Ia berusaha mundur sambil menangkis sekenanya.

PLAK!

Tendangan depanku berhasil ditangkisnya. Karena terkejut, lawan tampaknya menangkis sekenanya saja. Terlihat ada celah di pinggang kirinya. Aku tidak mau menunggu terlalu lama, segera setelah kakiku menyentuh matras, aku langsung arahkan tendangan sabit kaki kanan ke pinggang lawan yang terbuka.

BUKK!

Tendangan Sabit masuk dengan telak ke pinggang lawan. Tubuhnya agak menekuk sedikit. Aku susul dengan Pukulan Datar, lurus, disertai putaran pinggang ke arah dada.

BHEGG!

Pukulan Datar masuk dengan telak. Lawan terdorong setengah langkah. Aku bersiap melanjutkan serangan dengan Tendangan Depan, lurus.

"Berhenti!", teriak wasit. Tangannya menghentikanku dengan posisi kaki agak naik sedikit. Tendanganku tertahan.

Aku menurut.

Wasit terlihat menggerakkan tangannya agar meminta lawanku bergerak melingkar. Ternyata kaki lawanku sudah keluar dari lingkaran arena pertandingan. Pantas saja dihentikan oleh wasit. Aku memutar badan. Menunggu lawanku yang berjalan ke tengah arena. Setelah itu wasit kembali memulai pertandingan.

"Pesilat ... mulai!", teriak wasit.

Tanganku bergerak membentuk kembangan, sambil melangkah maju perlahan. Aku melihat wajah lawanku agak meringis. Aku tidak tahu apakah tendanganku atau pukulanku yang membuatnya meringis. Tapi sekarang, ia tidak terlihat agresif seperti awal tadi.

Sambil melangkah perlahan, aku memperhatikan kedipan matanya. Satu kedip, lima detik. Satu kedip berikutnya, lima detik. Saat masuk ke jarak serang, dan tepat setelah kedipan ketiga, aku bergerak cepat menyamping, memotong, diagonal, ke arah kanan lawan, keluar dari jarak serangan lurusnya, persis setelah matanya terpejam beberapa saat. Saat ini, aku berada dalam posisi agak menyamping. Kaki kiriku aku sabetkan dengan menggunakan Tendangan Sabit ke dada lawan.

BHUGG!
Tendangan Sabitku mengenai dadanya. Suaranya keras. Lawanku terdorong mundur satu langkah lebih. Ia meringis kesakitan. Aku ingin mengejarnya, tapi tiba-tiba terdengar bunyi gong yang nyaring.

"Berhenti!", teriak wasit sambil menghentikan pertandingan.

Ronde pertama selesai.

Aku kembali ke sudut Merah. Terlihat Pak Toto sedang mengeluarkan handuk kecil dingin dari termos es dan kemudian memberiku air putih yang tidak terlalu dingin dari botol. Aku meminum sedikit, membasahi tenggorokanku. Sementara Pak Toto menyeka dahiku dengan handuk kecil dingin tersebut. Setelah itu memasukkan kembali handuk ke dalam termos es.

"Ronde pertama kamu sudah menang A. Main seperti tadi saja. Pertahankan!", ucap Pak Toto perlahan sambil kedua tangannya memijiti bahuku perlahan.

Aku mengangguk.

Tidak berapa lama, wasit kembali memberikan aba-aba kepada kedua pesilat agar kembali ke arena.

"Ok sip! Ronde dua ya...", ucap Pak Toto.

"Siap!", jawabku perlahan.

Aku berbalik, dan kembali berjalan ke tengah arena. Wasit memberikan aba-aba 'ronde kedua' dengan tangannya sambil membentuk simbol 'dua' dengan jarinya. Aku mundur satu langkah, menjauh dari tengah arena, dan bersiap dengan memasang kembangan.

"Pesilat ... mulai!", teriak wasit bersamaan dengan bunyi gong pada ronde kedua ini.

Aku berjalan perlahan ke tengah arena. Lawanku juga melakukan hal yang sama. Tapi, ia tampak lebih sigap kali ini. Gerakannya lebih mantap. Setelah masuk pada jarak serang, tiba-tiba lawan menyerang dengan tendangan depan kaki kanan lurus yang mengarah ke perut. Cepat, keras, dan tiba-tiba. Aku terkejut, menggeser kaki kananku ke samping sambil tangan kiriku melakukan gerak tangan Tangkisan Bawah.

PLAK!!

Tendangan lurus lawan berhasil aku tangkis. Keras. Tendangan itu terhenti, dan kakinya kembali menjejak matras. Tiba-tiba lawan melanjutkan serangan dengan tendangan sabit menggunakan kaki kirinya segera setelah kaki kanannya menyentuh matras. Rupanya ia melihat dadaku terbuka saat menangkis tadi. Cepat sekali putarannya. Posisiku tidak memungkinkan untuk mundur saat ini. Secara reflek, aku menahan tendangan sabit kaki kirinya dengan kedua tanganku yang dirapatkan di depan dada agak maju sedikit.

BHUGG!

Aku terdorong mundur. Tendangan sabit kiri lawan itu keras sekali. Meski tidak mengenai dadaku karena aku tahan dengan kedua lenganku tapi efek benturannya membuatku terdorong hingga dua langkah. Serangan lawan tadi tidak membuahkan nilai, karena tendangannya berhasil aku tahan dengan kedua lenganku. Tapi tak urung membuat suasan menjadi semakin 'panas'.

Aku kembali melangkah perlahan sambil tanganku membentuk sikap kembangan. Aku mendekati lawan, dan terhenti kira-kira satu meteran di dekat lingkaran dalam arena. Posisiku kini pada kuda-kuda kiri depan yang ringan.

Pusarku kini mulai menghangat. Aliran hangatnya naik ke dada.

Lawanku kemudian menurunkan kedua lengannya ke bawah, ia melonggarkan badannya dan tampak lunglai. Ia bersikap seolah sedang memberi tubuhnya untuk diserang. Beberapa detik kemudian, lawan tiba-tiba mencoba menyerangku dengan melakukan pukulan lurus dengan tangan kanannya ke arah dada sambil kaki digeser maju. Pukulan ini cepat sekali, tiba-tiba, dan keras. Aku terkejut.

Tanpa disadari, tangan kiriku naik dan menangkis dengan gerak tangkisan bernama Tangkisan Atas, yakni tangkisan menggunakan sisi telapak tangan. Bersamaan dengan itu tangan kananku secara reflek juga melakukan gerak tangan serangan bernama Sodokan Atas, yakni serangan dengan telapak tangan dengan lintasan dari bawah ke atas yang menyasar rahang lawan. Keras, cepat, bertenaga.

PLAK!!
DHAKK!!

Mataku hanya menyaksikan tubuh lawan terangkat ke atas setinggi satu jengkal dengan kepala yang tertekuk ke belakang. Setelah itu lawanku ambruk di depanku tak berkutik. Ia pingsan. Aku tertegun. Gerakanku terhenti pada posisi telapak tangan yang masih menghadap ke atas, masih membentuk serangan Sodokan Atas.

"Berhenti!", teriak wasit. Ia kemudian memberikan aba-aba kepadaku untuk menuju sudut netral.

Aku menurut, dan berjalan menuju sudut netral. Setelah itu aku duduk disitu sambil meluruskan kaki. Aku masih terkejut. Aku menoleh, melihat wasit sedang memeriksa lawanku. Terlihat ada darah disudut bibir lawanku. Ia masih tergeletak di atas matras tak sadarkan diri. Kemudian wasit meminta tim dokter untuk masuk. Terlihat seorang berpakaian putih yang tampaknya seorang dokter memasuki arena pertandingan ditemani dengan seorang panitia. Dokter ini kemudian memeriksa pesilat yang terbaring. Setelah itu, tangannya memberikan aba-aba untuk meminta tandu. Dokter ini kemudian berdiri dan memberitahu wasit kalau tampaknya pertandingan tidak mungkin dilanjutkan, dan pesilat ini harus dirawat. Beberapa saat kemudian, empat orang panitia datang dengan membawa tandu. Setelah melepas body protector pesilat yang terbaring, dua orang kemudian membopongnya menaiki tandu yang sudah dipersiapkan. Kemudian membawa keluar pesilat ke ruang perawatan.

Sementara itu wasit terlihat sedang berembuk dengan ketua pertandingan. Tidak berapa lama, wasit kemudian kembali ke tengah arena dan memintaku untuk berdiri dan mendekatinya.

Aku menurut.

Aku berdiri dan mendekati wasit. Setelah itu wasit memegang pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya. Ia terdiam. Tampaknya menunggu informasi dari ketua pertandingan.

"Karena Pesilat sudut merah melakukan kesalahan teknik, maka pertandingan ini dimenangkan oleh pesilat dari sudut biru!", ucap ketua pertandingan lewat pengeras suara.

Wasit kemudian melepaskan pegangan tangannya. Aku kemudian memberikan penghormatan kepada ketua pertandingan, para juri, dan kembali ke tempatku. Tim pendamping lawan sudah tidak terlihat lagi, mereka kelihatannya menuju ruang perawatan untuk melihat kondisi pesilatnya.

Aku berjalan ke tempat Pak Toto, yang tampaknya mukanya terlihat datar-datar saja. Di depannya, aku hanya bisa berucap dua kata.

"Maaf, pak", ucapku lirih.

"Tidak apa-apa. Kamu sebenarnya sudah menang nilai. Tapi ya sudahlah, itu sudah terjadi. Mungkin saja itu reflekmu melakukan seperti itu.", jawab pak Toto.

Aku merasakan ada nada kekecewaan pada ucapannya.

Jujur, saat itu memang aku merasa serangan lawan benar-benar sebagai ancaman bagiku. Serangan pukulan lurus yang cepat, keras, dan tiba-tiba itu dianggap sebagai ancaman bagi tubuh ini sehingga secara reflek, naluriku bergerak sendiri untuk mempertahankan diri. Yang keluar adalah gerakan-gerakan silat yang dulu diajarkan oleh ayah. Gerakan-gerakan yang memang mematikan. Keluar begitu saja, tanpa aku kehendaki. Keluar begitu saja dari hati ini. Meskipun satu hari sebelumnya, aku sudah berusaha untuk mencoba agar tidak melakukan gerakan serangan yang dilarang, tapi pada prakteknya tetap saja terhadi hal-hal yang diluar kehendakku.

Pak Toto membantuku melepas ikatan sabuk merah dan body protector. Setelah itu menepuk-nepuk bahuku.

"Kamu sudah berusaha yang terbaik. Tidak apa-apa.", ucap Pak Toto.

Aku tersenyum pahit.

"Iya pak.", jawabku perlahan.

Pak Toto kemudian berjalan keluar dari arena. Aku mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di tempat dimana teman-teman sekolahku berkumpul, aku langsung disoraki. Sebagian ada yang tertawa, sebagian ada juga yang memberiku selamat.

"Wuiiih... Mantap A! Ga apa-apa kalah juga, yang penting sudah bikin KO lawan!", ucap Tri, salah seorang temanku dari lain kelas.

"Gila lu! Itu lawan sampe terangkat gitu. Parah! Hahahaha", ucap Wahyu, salah seorang teman kelasku.

Sementara Pipit aku lihat hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum.

Aku duduk disamping Pak Toto, tapi agak mundur sedikit sambil aku sandarkan bahuku pada undakan tangga kursi di belakangku. Aku masih tidak habis pikir, kenapa aku bisa melakukan serangan seperti itu. Aku tidak menghendakinya, tapi tubuh ini melakukan gerakan itu sendiri secara reflek tanpa sadar.

Mataku aku pejamkan. Aku teringat ucapan ayah dua hari yang lalu.

"Nak, tata gerak yang kamu latih secara berulang-ulang itu akan menjadi memori gerak, kemudian menjadi reflek, dan akhirnya menjadi nalurimu sendiri. Ia akan melekat di sanubari dan menjadi perbendaharaan gerakmu yang akan keluar dengan sendirinya manakala tubuhmu mengalami ancaman.", ucap ayah yang terngiang dalam ingatanku.

"Pertandingan, bukanlah pertarungan hidup dan mati. Ia adalah olahraga, salah satu aspek yang diangkat oleh silat. Tentunya ada batasan-batasan yang dibuat sedemikian rupa agar tidak mencederai yang bertanding. Aturan dibuat sedemikian rupa, yang walaupun terkesan menghilangkan ciri khas perguruan mereka yang ikut, akan tetapi sudah disepakati bersama bahwa demikianlah pemodelannya. Mereka yang mengikutinya harus mematuhi apa yang sudah disepakati.

Tidak hanya silat, semua jenis pertandingan beladiri tentu memiliki aturan yang khas. Aturan yang dibuat demi keselamatan yang bertanding. Kalau kamu melanggar aturan ini, maka pertandingan akan dihentikan.", lanjut ayah.

"Yah, bagaimana kalau pertandingan yang dibuat yang tidak ada aturannya?", tanyaku.

Ayah tersenyum, lalu tertawa kecil.

"Kalau pertandingan yang tidak ada aturannya ya itu namanya pertarungan. Semua teknik diizinkan. Kalau sudah demikian, peluang menangmu akan lebih besar karena gerakan silatmu adalah gerakan yang diluar aturan-aturan itu.", jawab ayah.

"Yah, apakah Aa bisa menang pada pertandingan nanti?", tanyaku pada ayah.

"Ayah tidak tahu, nak. Kamu jalani saja sendiri. Sejujurnya, rentang waktu kamu belajar silat dengan ayah dibandingkan persiapan pertandingan pertamamu jelas jauh lebih lama waktumu belajar silat bersama ayah. Tentu saja, reflekmu yang terbentuk bukanlah menyesuaikan dengan aturan pertandingan itu. Kalau melihat ini, peluang 'menang dalam laga'-mu besar. Jangan salah ya, ayah katakan peluang 'menang dalam laga', dan bukan peluang menang dalam pertandingan atau menjadi juara. Hehehe", jawab ayah.

Aku hanya tersenyum.

"Besok, kamu cukup melakukan pertarungan bayangan dalam pikiranmu. Lakukan itu seharian. Gerakan yang kamu keluarkan pada pertarungan bayangan dalam pikiranmu adalah gerakan yang diizinkan dalam aturan pertandingan. Setidaknya, itu akan bisa menahanmu untuk melakukan gerakan yang dilarang, walaupun tidak sepenuhnya.", lanjut ayah sambil tersenyum kecil.

Aku membuka mata seiring dengan suara gegap gempita yang membahana di dalam gedung.

"Benar sekali yah. Aku memang kalah dalam pertandingan ini, tapi aku menang dalam laga.", gumamku dalam hati.

Aku tersenyum.

Setelah pertandingan ini berakhir, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada ayah.




(bersambung)

(bagian berikutnya "Kesadaran Yang Menembus Ambang Batas")
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

belajar

  • Anggota
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 3
  • Reputation: 1
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: bukan praktisi
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #36 on: 14/09/2011 14:26 »
mantep ceritanya euy, hampir dua jam melototin kompi gak kerasa euy... keren mas brow

Layak dibukukan nih... [top]

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #37 on: 15/09/2011 18:51 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 21

Kesadaran Yang Menembus Ambang Batas


Sore itu di teras rumah, menjelang maghrib, aku sedang duduk santai sambil aku melihat adik-adikku sedang bermain di halaman. Mereka saling berkejaran. Terlihat Ayu sedang berlari mengejar Bayu. Ayu memakai kaos berwarna merah muda dengan celana pendek merah muda juga. Sedangkan Bayu memakai kaos merah sepakbola dengan celana pendek warna merah. Kaos tim nasional Garuda, kebanggaan Indonesia. Sesekali mereka tertawa, terjatuh, bangun lagi, dan kemudian kembali saling berkejaran.

"Bayu ... ayo kejaaar...!", teriak Ayu sambil berlari.

"Iyaaa...!", jawab Bayu sambil mulai mengejar.

Mereka kemudian tertawa-tawa riang.

Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Teringat dulu masa kecilku yang tidak pernah bermain berlari-larian seperti itu. Kata ayah, waktu kecil aku cukup pendiam, tapi aku memperhatikan sekeliling. Ayah pernah berkata kalau masa kecil adalah masa penuh pembelajaran, dan merupakan masa yang penuh hikmah. Anak-anak, tidak pernah mengenal kata menyerah dalam belajar. Mereka selalu mencoba hal yang baru. Meskipun terjatuh, mereka akan bangun dan mencoba lagi. Kalaupun terjatuh lagi, maka mereka tetap akan bangun lagi. Demikian seterusnya. Ada semangat di dalam diri setiap anak yang tidak pernah mati. Seperti itulah seharusnya kita dalam hidup ini, kata ayah.

"Hei, ngelamun aja...", tegur ayah sambil menepuk pundakku.

Aku menoleh.

"Nggak yah, lagi ngeliat Ayu sama Bayu main yah.", jawabku.

Ayah kemudian duduk di samping kananku.

"Gimana dengan pertandinganmu tadi?", tanya ayah.

"Anu... kalah yah. Tapi dapet medali Perunggu.", jawabku malu-malu sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Bagaimana kalahnya?", tanya ayah kembali. Keningnya berkerut.

"Anu.. yah, sebenarnya di ronde pertama sudah menang nilai. Tapi itu yah, di ronde kedua, Aa ga sengaja melakukan Sodokan Atas ke rahang lawan karena lawan tiba-tiba melakukan serangan pukulan dengan mendadak. Aa tangkis pake Tangkisan Atas dengan bersamaan melakukan Sodokan Atas pada rahangnya yang terbuka. Trus kena diskualifikasi karena dianggap melakukan kesalahan teknik yang berat.", jawabku sambil tersenyum.

Ayah tersenyum.

"Bagaimana dengan lawanmu?", tanya ayah.

"Dia ditandu keluar arena yah. Pingsan. Aa gak tau seperti apa karena tidak melihat ke ruang perawatan.", jawabku.

"Kenapa kamu bisa melakukan itu?", tanya ayah.

"Aa sendiri ngga begitu mengerti yah. Gerakan itu keluar sendiri yah karena menganggap serangan pukulan yang tiba-tiba dari lawan itu sebagai ancaman. Dan ya gitu deh akhirnya. Bener seperti yang ayah bilang waktu itu, kalau tata gerak yang dilatih selama ini akan menjadi perbendaharaan naluri. Keluar begitu saja dalam bentuknya yang menyesuaikan dengan keadaan yang mengancam diri.", jawabku.

"Benar nak. Memang demikianlah adanya. Disitulah manfaat utama dari belajar tata gerak. Semakin sering dilatih, ia akan semakin menyatu dengan jiwa raga. Melekat di sanubari. Jadi, memang belajar gerak itu perlu bagi seorang pesilat. Dan tentu saja, berlatih gerak harus terus dilatih, diulang-ulang, dan diresapkan maknanya. Jangan bosan untuk diulang-ulang. Kamu memang bisa meniru gerakan lain dalam sekejap. Tetapi tetap saja, akan berbeda pada mereka yang melatihnya terus menerus dan pada mereka yang melatihnya dengan pemahaman.", ucap ayah.

Aku mengangguk, membenarkan ucapan ayah.

"Oh iya, besok pagi kita ke Gunung Ciremai. Kita akan latihan di gunung. Kamu dan ayah saja. Kita akan melakukan latihan alam. Lima hari berturut-turut. Tapi malam ini kita akan latihan sebentar. Ada yang ingin ayah ceritakan padamu.", lanjut ayah.

Aku mengangguk.

"Asyik yah! Latihan di gunung?", jawabku dengan girang. Pandangan mataku berbinar.

Ayah mengangguk.

"Benar, nak. Kita akan latihan di gunung. Ya sudah, ayah masuk dulu. Sudah mau maghrib. Kita sholat dulu. Suruh adik-adikmu masuk.", pinta ayah.

Ayah kemudian berdiri, memutar badan, dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku mengangguk.

"Ayuuuu...! Bayuuuu...! sudah mau maghrib nih. Ayo masuuk..!", teriakku kepada adik-adikku yang sedang bermain di halaman.

"Yaah.. kakaak...", jawab Ayu sambil cemberut. Mukanya terlihat lucu, tapi tetap manis. Bayu tidak menjawab apa-apa. Dia hanya berdiri saja. Nafasnya terengah-engah setelah berlarian.

Tidak berapa lama, terdengar suara adzan Maghrib berkumandang.

"Tuh khaan, sudah maghrib. Ayo sini masuk.", ucapku mengulangi.

"Iya kak!", jawab Ayu lantang.

"Iya kak!", jawab Bayu juga dengan lantang hampir bersamaan dengan jawaban Ayu.

Mereka berlari cepat menuju ke arahku. Melewatiku, dan langsung masuk ke dalam rumah.

Aku berdiri, balik badan, dan berjalan perlahan masuk ke dalam rumah. Tidak lupa aku tutup pintu depan yang terbuka. Bersiap untuk melakukan sholat maghrib.

***

Aku sudah berdiri di halaman, menghadap ke kaca jendela. Dari luar kaca jendela, aku melihat kalau jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Aku memakai kaos putih lengan pendek dan celana silat berwarna hitam. Saat ini, aku sedang melakukan peregangan statis di halaman. Sambil menunggu ayah, aku lenturkan terlebih dahulu beberapa bagian dari tubuhku. Kepala, leher, lengan, bahu, pinggang, paha, lutut, kaki, persendian, semuanya. Termasuk juga melakukan posisi 'split' yakni posisi merengganggkan kaki selebar-lebarnya hingga semua menempel ke lantai.

Tidak berapa lama, aku melihat ayah sedang berjalan keluar dari pintu depan dan menuju ke arahku. Ayah memakai kaos berwarna hitam lengan pendek, juga dengan celana silat berwarna hitam. Ayah berhenti kira-kira dua meter di depanku.

"Sudah selesai peregangannya?", tanya ayah.

Aku mengangguk.

"Sudah yah.", jawabku.

"Kalau begitu, duduklah dulu.", pinta ayah.

Ayah kemudian duduk di depanku dengan posisi bersila.

Aku menurut, dan duduk di depan ayah dengan posisi yang sama.

"Nak, sebelum besok kita mulai latihan di alam terbuka, ada yang ingin ayah ceritakan padamu. Rasanya, usiamu sudah cukup untuk memahami ini. Termasuk juga ayah lihat pengalamanmu sudah mulai terbentuk.", ucap ayah.

Ayah tersenyum.

"Kisah ini terjadi dua belas tahun yang lalu. Ya, tepat dua belas tahun yang lalu. Ayah tidak akan pernah bisa melupakannya. Saat dimana ayah masih muda, masih enerjik, dan suka dengan pengakuan akan kehebatan. Saat itu, ayah berlatih seperti minum obat. Sehari bisa tiga kali. Melakukan olah nafas hampir tiap hari. Bahkan pernah melakukan olah nafas pengolahan selama tiga bulan full. Beberapa keilmuan pamungkas berhasil dikuasai, dan juga pernah dipraktekkan terhadap manusia. Hal-hal yang membuat ayah merasa menjadi manusia super. Menjadi seperti manusia setengah dewa. Merasa hebat, dan ingin sekali diakui. Saat itu, ayah suka sekali dengan pertarungan. Hampir tiap bulannya ayah mencoba apa yang sudah pernah ayah pelajari. Ayah praktekkan. Tidak tanggung-tanggung, ayah datangi preman terminal. Berkelahi disana. Menang. Beberapa bulan kemudian, ketika muncul preman-preman baru, ayah ajak mereka berkelahi. Dan menang lagi. Perkelahian ini bukanlah pertandingan. Sama sekali tidak ada aturan. Yang berdiri terakhir adalah yang menang. Pernah juga ayah menantang seorang praktisi beladiri Jepang, seorang anak tentara. Sabuk coklat. Kami berkelahi di sawah. Disaksikan seorang teman. Dan ayah menang. Dia luka parah. Kemudian ayah kembali terlibat perkelahian dengan seorang warga keturunan yang sudah sabuk hitam beladiri dari Korea. Kami berkelahi di sawah juga, dan ayah menang lagi. Silat ini sungguh sangat istimewa dan sekaligus sangat mematikan, ketika dipelajari dengan sungguh-sungguh. Entahlah, sudah berapa kali ayah berkelahi. Hampir semuanya ayah menangkan. Kondisi itu bikin ayah jadi terlena, benar-benar terlena...", lanjut ayah.

Aku melihat ayah menghela nafas. Tersenyum, tapi hambar.

"Masih ingat khan, kalau dulu Aa pernah bertanya mengenai bekas luka di tubuh ayah ini?", ucap ayah sambil membuka kaosnya.

Di bagian depan tubuh ayah terdapat beberapa luka bekas jahitan yang sudah mengering. Termasuk di pingganggnya.

Ayah kemudian memutar badannya. Terlihatlah punggungnya. Punggung ayah juga terdapat beberapa bekas jahitan yang membekas. Ada yang pendek, dan ada yang cukup panjang.

Ayah kembali memutar badan, dan memakai kembali kaosnya.

"Itulah salah satu yang didapat dari petualangan ayah, nak. Sesuatu yang tidak ayah harapkan terjadi padamu. Bahkan sampai rumah ayah dulu, didatangi oleh beberapa tentara. Mereka mencari-cari ayah beberapa kali. Akhirnya, kakekmu yang repot. Bahkan beberapa anggota suatu beladiri asing juga pernah mendatangi rumah ayah. Kakekmu kembali dibuat repot untuk menjelaskan.", ucap ayah sambil tersenyum hambar.

Aku kini mengerti asal luka di tubuh ayah. Selama ini, setiap berlatih bersama ayah sambil bertelanjang dada, aku sering melihat luka-luka itu. Tapi tidak pernah aku pertanyakan serius. Pernah suatu hari aku bertanya pada ayah mengapa tubuhnya cukup banyak luka seperti itu. Tapi ayah hanya menjawab dengan senyum. Kalaupun dijawab, selalu saja jawabannya adalah 'nanti ayah akan ceritakan. Kalau saatnya tiba'. Selalu saja seperti itu. Akhirnya aku tidak berani bertanya lagi.

"Uh, bandel juga ayah waktu mudanya...", gumamku dalam hati.

Ayah kemudian memandang ke langit. Wajahnya terlihat serius.

"Tapi, dari semua pertarungan dalam hidup ayah, hanya satu yang begitu membekas. Yakni, ketika ayah dikalahkan oleh seseorang...", ucap ayah.

"Ayah... ayah dikalahkan?", tanyaku dengan heran. Keningku berkerut.

"Benar. Ayah dikalahkan dengan telak. Sangat telak. Dikalahkan oleh seorang kakek tua, yang bahkan tanpa pertarungan sama sekali. Kekalahan yang kemudian mengubah hidup ayah, mengubah cara pandang ayah terhadap hidup ini.", jawab ayah.

Ayah tersenyum, masih dengan wajah menghadap ke langit. Pandangannya terlihat seperti sedang menerawang jauh. Entah apa yang ada di pikiran ayah saat ini. Terlihat sekali, ayah begitu mengingat keadaan itu.

"Ba... bagaimana ayah dikalahkan yah?", tanyaku kembali dengan penasaran.

Ayah menggerakkan kepalanya, dan memandang ke arahku.

"Dua belas tahun yang lalu, ayah mendatangi sebuah daerah di lereng gunung Ciremai. Daerah itu letaknya agak keatas dari arah Linggar Jati. Disekitarnya agak tinggi. Di bawahnya ada sungai panjang mengalir dengan batu-batu besar. Sungai yang panjang sekaligus cukup lebar. Arusnya cukup deras sehingga ombak yang terbentuk juga lumayan. Saat itu, ayah sedang ingin melatih sebuah keilmuan yang disebut dengan Bayu Seto.", ucap ayah.

"Bayu Seto? Apa itu yah?", tanyaku keheranan.

Ayah tersenyum.

"Saat itu ayah sedang berhasrat untuk melatih keilmuan ini dengan memukul ombak, dengan memecah ombak. Singkatnya, ia merupakan sebuah metode pukulan yang kalau dihantamkan pada manusia bisa membuat kerusakan yang parah, bisa membuat terpental hingga enam meter lebih. Dan bisa juga dipergunakan untuk memukul benda mati dari jarak jauh. Batu-batu sungai yang besar itu ingin ayah jadikan sasaran latihan. Setidaknya, begitulah dulu ayah memandangnya.", lanjut ayah.

"Oh, ada yang seperti itu yah?", tanyaku sekali lagi.

"Tentu saja, nak. Silatmu ini memiliki lebih dari dua puluhan keilmuan pamungkas. Belum termasuk keilmuan lain yang muncul akibat proses pencarian dari yang lain.", jawab ayah.

"Saat itu, ayah sedang duduk di samping sungai. Bermeditasi sebentar. Tiba-tiba bahu ayah serasa ditepuk perlahan oleh seseorang. Tepukan itu sangat lembut. Ayah langsung menoleh. Kaget, karena tiba-tiba ada seorang kakek tua berpakaian hitam di samping ayah. Wajahnya agak tirus. Ayah langsung meloncat cepat dan membentuk jarak sekitar dua meteran. Rambutnya agak panjang beriap. Seperti agak kurang terurus, tapi terkesan cukup rapih. Ayah sama sekali tidak menyadarinya, tidak merasakannya. Heran. Padahal saat itu tingkat getaran ayah pada aspek kepekaan sudah sangat baik. Tapi kakek tua itu tidak terdeteksi sama sekali. Muncul saja tiba-tiba.

Kemudian, terjadilah percakapan diantara kita.", lanjut ayah.

Aku mendengarkan cerita ayah dengan serius.

***

"Siapa kakek ini? Kenapa bisa ada disini?", tanyaku keheranan.

"Pentingkah kamu tahu siapa aku, Nak?", ucap kakek itu dengan mimik datar. Ia kemudian mengangkat sedikit dagunya.

Mengangkat dagu itu artinya menunjukkan suatu sikap kejumawaan. Sikap yang merendahkan lawan bicara didepannya. Darah mudaku langsung 'mendidih'.

"Tentu saja penting. Sebab aku ingin berlatih disini!", jawabku dengan sedikit keras.

"Kalahkan kakek dulu! Kalau kamu menang, kamu boleh berlatih disini. Tapi kalau kamu kalah, kamu juga boleh berlatih disini!", ucap kakek tua itu sambil matanya tajam menatapku.

Aku mengkerutkan keningku. Ucapannya plin-plan, tidak jelas. Kalau menang, aku boleh berlatih disini. Kalau kalah juga. Lalu apa gunanya mengalahkannya.

Kakek tua itu kini berkacak pinggang. Sikap ini jelas sangat merendahkanku.

"Kakek tua, aku tidak tahu siapa namamu. Tapi ketahuilah, aku tidak mudah untuk dikalahkan! Apa kakek tua ingin mencobaku?", tanyaku mantap.

"Sehebat apa ilmumu?", jawab kakek tua itu. Dagunya masih sedikit terangkat. Dadanya malah semakin dibusungkan.

Aku tidak suka dengan sikapnya. Emosiku mulai tersulut. Meski demikian, aku masih mencoba bersabar.

"Maaf kakek tua, aku tidak biasa ribut dengan orang yang lebih tua.

Perhatikan saja ini!", lanjutku.

Aku langsung siaga. Kedua tanganku bersedekap di depan dada. Aku memejamkan mata beberapa detik. Mengerahkan tenagaku, dan mengalirkannya ke dada. Membuka mata perlahan sambil kemudian tanganku menunjuk pada kupu-kupu yang berwarna hitam yang kebetulan sedang hinggap di salah satu pohon kecil di dekatku. Meski tanganku menunjuk, tapi mataku masih tetap mengawasi kakek tua itu. Khawatir ia akan menyerangku tiba-tiba. Jarak dengan pohon itu kira-kira empat meteran. Telunjuk kananku menunjuk dengan mantap ke arah kupu-kupu itu. Getaranku mengalir dari bawah pusar, melewati dada, menuju jantung, mengalir ke lengan kanan, dan kemudian berkumpul di ujung telunjuk. Telunjuk terasa menghangat, menebal, dan sedikit kebas. Tenaganya menggumpal dan melontar, mengarah tepat pada kupu-kupu tersebut. Tenaganya mengenai kupu-kupu itu yang langsung terjatuh. Mati.

Tidak puas dengan kupu-kupu, aku kembali menunjuk pada sisi sungai dimana beberapa ekor ikan sedang berenang. Telunjuk kananku kembali mengarah pada salah satu ikan yang terbesar. Aku 'tembakkan' kembali tenaga getaranku kearah ikan tersebut. Hanya sepersekian detik saja, ikan tersebut langsung mengambang. Mati.

"Masihkah ingin melawanku, kakek tua?", tanyaku dengan santai. Kini aku mengangkat sedikit daguku.

"Boleh juga. Tapi itu belum seberapa...", ucapnya santai.

Ucapan santai itu dengan nada merendahkan. Benar-benar membuatku gerah. Darah mudaku kembali 'mendidih'.

Aku mundur dua langkah. Mengangkat tangan kiriku ke atas sambil telapak terbuka menghadap ke depan. Sementara tangan kananku mengepal ringan disamping pinggang kanan. Aku melakukan gerakan pembuka Bayu Seto. Sasaranku adalah batu kali yang cukup besar yang letaknya agak di tengah sungai. Jaraknya kira-kira tiga meteran. Keningku berkerut, konsentrasiku meningkat. Pusar ini menghangat. Aku menyerap energi alam dengan tangan kiriku. Memutar telapak tangan perlahan sambil diturunkan perlahan. Energi alam masuk ke lengan kiriku bersamaan dengan putaran lenganku. Mengalir menuju bawah pusar. Setelah dirasa cukup, kemudian ujung siku kiri aku gerakkan mendekat ke pinggang kiri hingga menempel, sambil aku mengunci aliran energi alam yang masuk dengan mengepalkan tangan kiriku. Aliran energi alam yang masuk menjadi memusat. Mengalir ke bawah pusar. Menggumpal disitu. Digabungkan dengan tenaga getaranku untuk kemudian mengubah sifatnya. Bersamaan dengan itu, aku membuka kepalan tangan kananku perlahan. Memindahkan energi di bawah pusar tadi mengalir ke telapak tangan kanan yang terbuka. Menghubungkan rasa pada telapak tangan kanan dengan rasa pada bawah pusar berikut aliran yang ada. Perlahan telapak tangan terasa menghangat. Kemudian memanas, dan mulai terasa seperti 'menebal'. Aku mengalirkan semua energinya telapak tangan kananku. Setelah itu, langsung saja aku pukulkan lurus dengan cepat ke arah batu di tengah sungai sambil lengan kiriku ditarik ke pinggang kiri. Kesiuran anginnya terasa sekali. Tangan kananku agak bergetar karena aliran tenaga dari pusar yang mengalir menyentak.

DRAKK!!

Batu besar di tengah sungai itu hancur terbelah.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #38 on: 15/09/2011 18:52 »
"Hmm, kemampuanmu lumayan!", ucap kakek tua itu. Aku yakin, mau tidak mau, ia akan memperhatikan.

"Begini saja, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol saja. Aneh ya, kakek tidak merasakan hawa permusuhan dari getaran tubuhmu. Bagaimana?", tanya kakek tua itu.

Pandangannya menatap ke arahku dengan polos sambil tersenyum. Ini menjadi sedikit lucu karena tadi terlihat begitu serius dan terkesan jumawa, tapi tiba-tiba berubah drastis meskipun tangannya masih berkacak pinggang.

Emosiku mereda. Aku memang tidak memiliki permusuhan dengan kakek tua ini. Meski tadi sempat tersulut, tapi itu semata-mata karena darah mudaku bergolak melihat sikapnya yang meremehkan dan merendahkanku.

"Baiklah. Terserah kakek saja...", jawabku sekenanya.

Kakek tua itu tidak menjawab. Ia berjalan agak menjauh dari pinggiran sungai. Lalu duduk di sebuah batu berukuran sedang. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku, memberikan simbol agar aku duduk di dekat dia.

Aku berjalan mengikutinya. Aku masih tetap menjaga jarak. Karena kakek tua ini bertingkah sangat aneh dan mencurigakan. Aku aku duduk pada salah satu batu yang berjarak kira-kira dua meteran dari tempat kakek tua itu duduk.

Suasana hening selama beberapa saat. Hanya terdengar gemericik air sungai dan hempasan dedaunan yang terhembus angin.

"Nak, kemampuanmu lumayan.", ucap kakek tua itu membuka percakapan.

"Huh, akhirnya mau mengakui juga!", jawabku tegas. Aku tersenyum.

"Tapi sayang ... kamu tidak tahu arah matahari sehingga kamu tidak bisa membedakan pagi dan sore...", ucap kakek tua itu.

"Maksud kakek apa?", jawabku penasaran. Keningku berkerut heran.

Kakek tua itu mengatakan kalau aku tidak bisa membedakan pagi dan sore karena tidak tahu arah matahari. Ini sama saja artinya bahwa aku ini tidak tahu apa-apa.

"Lihatlah kupu-kupu malang itu? Ia mati sia-sia...", lanjut kakek tua. Wajahnya kini terlihat sedih.

"Lihatlah ikan malang itu? Ia juga mati sia-sia...", tambah kakek tua. Wajahnya terlihat semakin sedih.

"Bisakah kamu menghidupkannya kembali?", pinta kakek itu. Wajahnya serius memandang ke arahku.

Eh, aku terkejut. Pertanyaan ini membuatku bingung.

"Aku ... aku tidak bisa kek...", jawabku lirih. Spontan.

"Kenapa tidak bisa? Bukankah kamu bisa mematikan, kenapa kamu tidak bisa menghidupkan?", tanya kakek itu lagi.

Uh, aku benar-benar dibuat tidak berkutik dengan pertanyaannya.

Kakek tua itu seperti memahami kebingunganku.

"Nak, saat kakek melihat kemampuanmu tadi, tampaknya kamu sudah belajar banyak. Mungkin masih ada keilmuan lain yang kamu masih simpan yang belum kamu tunjukkan. Kamu mungkin sudah melakukan banyak sekali latihan berat dalam hidupmu untuk mendapatkan semua itu. Tapi sepertinya ada yang kamu lupakan nak, yakni bahwa alam raya itu 'hidup'. Bagaimana kamu memahami kehidupan kalau kamu tidak menghargai kehidupan? Bagaimana kamu memahami nafas kalau kamu tidak menghargai nafas?", ucap kakek tua itu lirih sambil memandang ke arahku.

"Ilmumu tidak asing bagi kakek tua ini. Sumbernya masih sama. Bayu Seto yang kamu tunjukkan sudah cukup lumayan. Tapi inti getarannya terlalu keras, terlalu panas. Masih terlalu liar. Masih belum seimbang. Masih belum berjiwa...", ucap kakek itu.

"Apa maksud kakek?", tanyaku dengan heran. Keningku berkerut, mataku sedikit mendelik. Penasaran.

Bagaimana ia mengerti yang aku lakukan adalah aplikasi Bayu Seto? Bagaimana ia mengerti mengenai getaran? Bagaimana ia bisa membaca isi hatiku? Uuh, banyak pertanyaan berkecamuk di hati ini.

"Bayu Seto itu harusnya seperti ini...!", ucap kakek tua itu lantang sambil mendorongkan telapak tangannya ke depan. Ia tidak menjawab pertanyaanku tadi, tapi langsung menyerangku tiba-tiba.

Telapak tangannya secara tiba-tiba mengarah tepat ke tengah dadaku!

BRASS!

Terasa kesiuran angin di depan dadaku dengan cepat.

"Akhhh... apa-apaan ini kek...!", teriakku sambil terkejut yang amat sangat. Aku hanya berpikir kalau dadaku pasti akan hancur kalau terkena pukulannya.

Ini gawat, bahaya!

Aku merasakan seperti ada sesuatu yang 'melewati' dadaku. Menembus ke belakang punggung. Tapi tenaga itu hanya lewat saja. Sama sekali tidak mencederai tubuhku. Tidak juga membuat efek penghancuran seperti saat aku menghantam batu di tengah sungai itu dengan tenaga yang sama.

"Eh.... ini ... ini ... apa ini... bagaimana bisa...?", ucapku terbata-bata beberapa detik kemudian.

Aku sangat terkejut. Heran. Tenaga yang dipakainya sama seperti yang aku lontarkan saat melakukan Bayu Seto. Aku bisa merasakannya saat ia menembus dadaku. Tapi saat menembus itu, terasa sangat berbeda. Seperti ada 'jiwa' di dalamnya. Mampu mengenaiku tanpa merusak, melewati benda tanpa menghancurkan.

Tanpa sadar, tubuhku tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Keringat dinginku mengalir membasahi.

"Si... si... siapa sebenarnya kakek ini?", tanyaku dengan masih terbata-bata. Aku berusaha menenangkan diri dari keterkejutan tadi.

"Kakek bukan siapa-siapa nak... Barangkali, ini hanyalah jodoh saja sehingga kita bisa bertemu...", jawab kakek tua itu.

Aku melihat kakek tua itu berdiri. Riapan rambut panjangnya tertiup angin. Wajahnya menjadi demikian berwibawa. Tidak seperti sebelumnya. Ia tampak begitu serius, dan berjalan mendekatiku. Kedua tangannya berada di pinggang bagian belakang.

"Nak, tahukah kamu apa itu nafas?", tanya kakek tua itu kepadaku.

"Nafas adalah udara yang kita hirup...", jawabku memberanikan diri.

"Kalau ia udara yang kita hirup, kenapa kalau ada orang yang mati tetap saja tidak bisa hidup lagi meskipun kita masukkan udara yang demikian banyak ke dalam tubuhnya. Atau bahkan memompa paru-parunya dengan udara. Ia masih tetap saja mati!", ucap kakek tua itu dengan nada meninggi.

Ia tampak tidak suka dengan jawabanku.

"Nak, kamu sudah punya kemampuan sejauh ini tapi kamu sama sekali tidak bisa menjawab apa itu nafas?!", lanjut kakek tua itu masih dengan nada yang meninggi.

"Ma... maafkan saya kek...", jawabku sambil menundukkan kepala.

"Aku sudah kalah...", gumamku dalam hati. Aku semakin menunduk, dan memejamkan mata.

Entah mengapa aku jadi tidak mampu mengangkat daguku. Aku merasa tidak memiliki cukup tenaga untuk memandang wajah kakek tua di depanku ini. Mataku terpejam. Banyak pikiran berkecamuk di kepalaku.

Aku hanya mendengar suara helaan nafas.

"Kalau cucu muridku banyak yang seperti kamu, kakek tentu akan sangat kecewa sekali... Kamu memiliki keilmuan yang tidak memiliki jiwa. Sedangkan jiwa diperlukan bagi setiap yang 'hidup'. Agar hidup untuk menghargai yang hidup. Alam raya ini 'hidup'. Ia hidup dengan caraNya. Selama kamu belum bisa menyelami ini, maka kamu tidak akan bisa memahami intisari dari keilmuan silatmu ini...

Nafas adalah jiwa ...

Camkan saja itu, nak.", lanjut kakek tua itu.

Segera setelah ucapan terakhirnya itu, aku hanya merasakan ada kesiuran angin di depanku.

Dheg.

Hatiku seperti dipalu godam. Telingaku sangat jelas mendengar kalau kakek tua itu menyebut kata 'cucu murid'.

"Kalau begitu ... kakek ini?", tanyaku sambil mengangkat wajah dan membuka mata.

Kakek tua itu sudah tidak ada.

"Eh, kemana kakek ini.", gumamku dalam hati.

Aku menengok kanan dan kiri. Berdiri cepat. Lalu memandangi sekeliling tempat itu. Benar-benar tidak ada!

Aku memejamkam mata, mencoba menajamkan rasa batin untuk 'mencari' kakek itu. Tidak terasa. Tidak ketemu. Tidak ada rasa getaran yang lain selain benda-benda yang ada disekitar tempat itu.

Aku berjalan, dan duduk di tempat kakek tua sebelumnya duduk. Masih tergiang ucapannya.

"Nafas adalah jiwa... Nafas adalah jiwa... Nafas adalah jiwa...", ucapku perlahan berulang-ulang.

"Apa itu nafas? Apa itu jiwa?", lanjutku perlahan dan berulang-ulang.

Aku hanya mengulangi pertanyaan itu. Bertanya sendiri, berbicara sendiri. Kemudian tertunduk.

Aku menenangkan diri. Memusatkan diri pada hati, pada mata hati. Perlahan, suara gemericik air sungai sudah tidak terdengar lagi. Suara hembusan angin juga sudah tidak terdengar. Suara dedaunan yang beterbangan tertiup angin juga sudah tidak terdengar. Angin yang menyentuh kulitku juga sudah tidak aku rasakan lagi. Suara-suara alam disekitarku mulai mengecil dan menghilang.

Aku tenggelam, larut dalam keheningan. Entah berapa lama.

Aku terbayang pertarunganku dengan para preman.

Aku terbayang kupu-kupu yang mati.

Aku terbayang ikan yang mati.

Tiba-tiba tubuh ini serasa melebur. Menjadi satu.

Luruh.

Lebur.

Luluh lantak.

Kemudian, setiap tarikan nafas ini terasa begitu berbeda. Setiap hembusan nafas ini juga terasa begitu berbeda. Menarik, menahan, menghembuskan, rasanya menjadi begitu lain. Setiap aliran menuju sekujur tubuh ini, terasa sekali bedanya. Saat menarik nafas, menahannya, membiarkannya mengisi setiap sel tubuh ini. Setelah itu perlahan 'habis'. Lalu paru-paru mulai 'berontak', jantung mulai 'berontak', seluruh tubuh mulai 'berontak'. Seolah akan 'mati'. Aku hirup kembali nafas perlahan. Mulai bereaksi, mulai 'hidup'. Semua menjadi 'hidup' kembali.

Mataku menjadi terasa panas.

Perlahan, setetes air mata merembes keluar dari sudut mataku yang terpejam. Lama kelamaan semakin deras. Tetesannya mengalir di leherku hingga ke dagu, hingga menetes di pahaku. Tetesan air mata itu kembali menyadarkanku. Kembali membawaku ke alam nyata. Indraku mulai mendengar kembali gemericik air. Mulai merasakan kembali hembusan angin menyentuh kulit. Mulai merasakan kembali siraman cahaya matahari pada tubuh ini.

Aku merapatkan kedua tanganku.

"Kakek... cucu murid mulai memahaminya... Terima kasih...", ucapku lirih.

Aku membuka mata. Memandang ke sekeliling. Terasa sekali sangat berbeda dari sebelumnya. Memandang bebatuan, memandang air, memandang pepohonan, memandang ikan, memandang kupu-kupu, memandang dedaunan. Telapak yang menyentuh tanah, terasa begitu berbeda.

Aku membungkukkan badan, melakukan penghormatan pada tempat itu.

Aku kalah, hanya lewat tutur. Dari seorang kakek tua. Aku kalah, karena aku merasa bisa, bukan bisa merasa.

***

"Demikianlahlah, nak.", ucap ayah selesai bercerita.

Mata ayah terlihat berkaca-kaca. Tampaknya, ayah berusaha menahan agar air matanya tidak tumpah. Entah, aku tidak tahu sejauh apa pengalaman itu berbekas di hati ayah hingga pertama kalinya aku melihat ayah begitu serius dalam menceritakan kisah hidupnya.

Aku mendengar dan mengingat semua penjelasan ayah.

"Masih ingat mengenai kesadaran inderawi dan kesadaran rasional yang dulu pernah ayah jelaskan?", tanya ayah.

Aku mengangguk.

"Masih yah...", jawabku.

"Tahap berikutnya untuk menembus ambang batas kesadaran rasional adalah tumbuhnya kesadaran jiwa. Dan malam inilah ayah akan memberimu pemahaman untuk itu... Ini akan menjadi kunci pembuka untuk latihan besok kita di gunung.", ucap ayah.




(bersambung)

(bagian berikutnya: Kesadaran Jiwa)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

samber gledek

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 462
  • Reputation: 35
    • Email
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #39 on: 16/09/2011 11:04 »
Mangstab Mas, segera pengen tau lanjutannya. Ingat kalau komik api di bukit menoreh harus nunggu satu bulan nich...

silau

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 0
  • Posts: 20
  • Reputation: 8
  • Sahabat Silat
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #40 on: 20/09/2011 19:58 »
mas mpcrb, kok link download nya ngga ada berfungsi ya, mas tlg share lagi link nya

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #41 on: 21/09/2011 11:01 »
Mas ynasir, seharusnya link-nya normal mas. Tapi saat saya paste ke engine forum ini tanda seru (!) tidak masuk ke dalam link secara otomatis saat saya menekan tombol Post. Jadinya ya link-nya seperti terpotong. Akibatnya tentu saja tidak ketemu link-nya.

Berikut saya quote ulang link-nya dari postingan terdahulu:


Bagi yang ingin membaca cersil ini yang sudah dalam bentuk kompilasi buku, silahkan download disini:

https://skydrive.live.com/?cid=12ea94da72decb15&id=12EA94DA72DECB15!127

Buku Kesatu, edisi perdana 'Tembang Tanpa Syair'. Jadi bisa di baca offline.

Buku kedua sedang dalam proses editing. :)

Monggo dinikmati, semoga saja ada manfaatnya...

Salam.

Perhatikan, disitu ada tanda seru (!) diikuti nomor 127 khan? Nah, link-nya harusnya begini (dalam satu kesatuan utuh):

https://skydrive.live.com/?cid=12ea94da72decb15&id=12EA94DA72DECB15!127

(saya masukin ulang secara manual).

Insya Allah di akhir bulan ini buku kedua akan terbit :) Bagian 1-14 ada di buku kesatu. Bagian 15-24 ada di buku kedua.

Monggo dinikmati... :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

silau

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 0
  • Posts: 20
  • Reputation: 8
  • Sahabat Silat
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #42 on: 26/09/2011 10:56 »
terima kasih mas mpcrb, saya sudah bisa download.

Kisahnya inspiratif sekali, dus ada beberapa hal yang saya ikuti hasilnya memang mantap,  sayang beberapa "tips"nya ngga detil, "rahasia" kali ya ;D

Tapi kalau kisah ayah dan sang kakek itu memang betulan ya mas, atau lambang dari "seseorang" yang nyata?

trims.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #43 on: 26/09/2011 16:20 »
Mas ynasir, monggo dinikmati dan dimanfaatkan sebagai salah satu bagian untuk memecah kebuntuan. Barangkali saja, dari cerita-cerita pada Tembang Tanpa Syair ini ada manfaat yang bisa dipetik. :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #44 on: 26/09/2011 16:23 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 22

Kesadaran Jiwa


Malam ini angin berhembus agak kencang. Aku memandang ke langit, terlihat bulan yang bulatannya hampir sempurna. Cahaya pantulannya menerangi sekitar. Awan-awan juga tidak nampak adanya. Seolah tidak ingin mengganggu sinar rembulan yang menghampiri jagat ini.

Suasana di halaman ini masih hening. Hanya ada ayah dan aku. Ayah juga terlihat masih memandangi rembulan. Cukup lama.

"Yah, setelah itu apa yang ayah lakukan?", tanyaku memecah keheningan.

Ayah menoleh ke arahku.

"Ayah tidak melakukan apa-apa. Setelah itu ayah berhenti berlatih, dan lebih banyak merenung.", jawab ayah sambil tersenyum.

"Ayah merenungi semuanya. Dari mulai diri ayah sendiri hingga ke alam sekitar. Dari mulai benda-benda yang besar, hingga benda-benda yang kecil, sangat kecil. Dari mulai yang tampak, hingga yang tidak tampak. Ayah membuka kembali buku catatan latihan ayah yang sudah kusam. Mengingat kembali dari mulai ayah berlatih pertama kali hingga terakhir. Mengingat kembali semua proses latihan. Mengingat semua pertarungan ayah, perkelahian ayah, bagaimana membuat repot kakekmu, bagaimana asal mula luka di tubuh ini, bagaimana cara ayah mendapatkan keilmuan, dan banyak lagi.

Setelah itu, ayah berhenti total. Tidak mau menyentuh sama sekali keilmuan ini.", lanjut ayah sambil memandangi kedua tangannya.

Sinar bulan terlihat menerangi halaman sekitar rumah kami. Jelas sekali. Aku melihat kedua tangan ayah diputar sedikit hingga telapak tangannya menghadap ke langit. Kedua tangan ayah terlihat agak bergetar, kepala yang menunduk, dan mata yang terpejam.

Suasana kembali hening.

"Lalu kapan ayah mulai berlatih lagi setelah itu yah?", tanyaku memberanikan diri, sekaligus memecah keheningan yang ada.

Ayah membuka mata, lalu menatap ke arahku.

"Saat ayah melihatmu tidur nak. Saat itu, menjelang tengah malam, ayah menatap wajahmu saat tertidur. Disaat itulah batin ayah kemudian tergerak kembali setelah sekian lama ayah tidak merasakan getaran pada batin ini. Sorot wajahmu saat itu, wajah mungilmu, yang tertidur terlelap, memancarkan getaran ke batin ayah.", jawab ayah.

"Sa... saat Aa tertidur?", tanyaku keheranan. Keningku agak sedikit mengkerut.

"Benar nak, saat kamu tertidur. Memandangi wajah mungilmu. Saat itu, ayah merasa kalau ayah harus mewariskan keilmuan ini secara benar padamu. Kamulah pewaris keilmuan ini nantinya. Kamulah yang nanti akan membawa keilmuan ini menjadi lebih baik. Kamulah yang nanti akan menjadi generasi penerus setelah ayah. Meskipun kamu bukan pewaris berdasarkan darah keturunan, tapi kamu merupakan salah satu pewaris keilmuan. Semua yang belajar keilmuan silat ini, adalah merupakan pewaris keilmuan. Kamu yang nanti akan menjaga dan melestarikan keilmuan ini. Kamu yang nanti akan melatihnya dengan cara baik. Dan kamu juga yang nanti akan mewariskannya kembali pada orang yang tepat.", jawab ayah sambil menatapku.

"Ilmu silat ini sangat berharga nak... jangan kamu lupakan dan sia-siakan...", lanjut ayah dengan serius.

Aku mengangguk setuju.

"Setelah itu, apa yang ayah lakukan yah?", tanyaku kembali.

"Setelah itu, sambil merenung, ayah membuka kembali buku-buku catatan latihan ayah. Ayah mengulangi kembali latihan ayah dari nol. Ayah mengulangi kembali latihan ayah dari dasar. Ya... dari tingkat dasar. Latihan yang sama, tetapi dilakukan dengan pemahaman yang sama sekali baru.", jawab ayah.

"Dari mulai tata gerak, tata nafas, getaran, naluri, keilmuan pamungkas, semuanya. Ayah merenungi pada setiap bentuk yang ada. Mengulangnya. Bagaimana saat tidak menggunakan olah nafas, dengan menggunakan olah nafas, kemana aliran tenaganya, kemana aliran getarannya, dan banyak lagi. Satu persatu ayah bedah dan renungi. Hingga kemudian masuk pada tahap getaran alam. Bagaimana sinkronisasi dengan getaran alam, bagaimana memanfaatkan getaran alam, dan bagaimana memanipulasi getaran alam.", lanjut ayah.

"Memanipulasi getaran alam?", tanyaku spontan.

"Benar nak. Saat ingin masuk pada tahap keilmuan pamungkas, kamu harus mengenali getaran dirimu sendiri. Ini adalah tahap getaran pribadi. Tahap dimana kamu mengenali tenaga getaran milikmu. Setelah kamu merasakan benar, memahaminya, barulah naik pada tahap dimana kamu akan berkenalan dengan getaran alam semesta. Bumi, langit, air, angin, batu, kayu, dan banyak lagi. Tahap dimana kamu mulai 'melepas' getaran pribadimu untuk kemudian 'bersinggungan' dengan getaran alam. Pada tahap ini, kamu akan menyadari bahwa tubuhmu ternyata memiliki banyak kelebihan.", jawab ayah.

"Anu.. yah, apakah getaran itu tidak sama dengan latihan getaran Aa selama ini?", tanyaku.

Ayah tersenyum, dan kemudian menunjuk ke teras depan dimana terdapat sebuah meja yang diatasnya masih ada gelas yang berisi bekas kopi yang suka ayah minum.

"Kamu baru ayah ajarkan getaran untuk tutup mata. Kalau dibuat pemisalan, getaranmu itu saat ini bagaikan secangkir kopi di atas meja itu nak... Persis seperti itulah getaran untuk tutup mata.", jawab ayah.

"Maksudnya yah?", ucapku dengan sedikit heran.

"Getaran untuk tutup mata, itu bisa diibaratkan seperti secangkir air yang diambil dari lautan yang luas. Air itu kemudian kamu olah dan kamu tambahkan sedikit kopi dan gula secukupnya, lalu diaduk, hingga kemudian menjadi segelas kopi manis yang bisa dinikmati. Meskipun airnya sedikit, tetapi setelah diolah dan ditambahkan unsur lain, maka menjadi luar biasa rasanya, bukan? 'Air' itu, meski sedikit, mampu melahirkan hal-hal yang fenomenal yang sebelumnya barangkali tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang. Bukankah kamu sudah merasakan manfaatnya?", lanjut ayah sambil tersenyum.

Secara reflek, aku mengangguk dan membenarkan ucapan ayah.

"Eh benar juga", gumamku dalam hati.

"Ketika kemudian getaran itu dikembangkan, hingga kemudian masuk pada getaran alam, maka pada saat itulah kamu akan menyadari potensi dirimu yang sesungguhnya. Ada potensi yang bisa membuatmu menjadi rendah hati atau malah takabur. Seperti pisau bermata dua. Kalau salah di dalam menggunakan, maka efeknya akan mencederai diri sendiri dan bahkan orang-orang di sekitarmu. Tapi kalau benar digunakan, maka ia bisa membawa kebaikan pada dirimu dan juga orang lain.", lanjut ayah.

"Aa masih belum mengerti yah...", tanyaku spontan.

"Tidak apa-apa nak. Tidak perlu semua hal kamu harus mengerti pada satu saat dengan cepat. Nanti, akan ada masanya kamu akan memahami sendiri. Berdasarkan pengetahuan dan kesadaranmu sendiri.

Yang ayah lakukan saat ini adalah memberikan pemahaman dasar. Agar kamu nanti tidak salah langkah. Sebab hal ini nantinya akan menjadi peletak dasar untuk masuk pada tahap yang lebih tinggi, sekaligus juga sebagai pembentukan mental dan karakter dirimu. Seperti halnya kamu mempelajari ilmu pengetahuan dasar di sekolah. Pengetahuan dasar seperti itu, kelak akan berguna saat kamu belajar pengetahuan lanjutan mengenainya. Pada getaran alam, kamu harus melewati tahap getaran pribadi. Setelah itu kamu akan masuk pada tahap merasakan getaran alam semesta. Terakhir, adalah tahap penyatuan dengan getaran alam semesta. Pada tahap ini, kamu akan mempunyai kemampuan untuk melakukan manipulasi terhadap alam.", jawab ayah.

"Perhatikan ini...", lanjut ayah.

Aku melihat kedua mata ayah dipejamkan, tangannya mengembang ke samping dengan rileks. Telapak tangannya terbuka menghadap ke langit. Wajahnya menjadi sangat serius. Aku menunggu apa yang akan terjadi.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Empat menit.

Lima menit.

Ayah hanya pada posisi seperti itu saja. Wajahnya memancarkan ketenangan tapi serius. Suasana alam terasa hening. Sinar rembulan sudah tidak terlihat lagi di halaman.

Ayah kemudian membuka mata, dan tersenyum.

"Sudah selesai nak...", ucap ayah.

Aku heran.

"Selesai apanya yah?", tanyaku penasaran.

"Lihatlah ke langit... ", jawab ayah sambil tangannya menunjuk ke atas.

Aku menurut, dan memandang ke langit.

Eh, aku benar-benar terkejut. Terlihat banyak sekali gumpalan awan diatas. Gumpalan awan itu menutupi sinar rembulan. Berarak. Awan-awan ini seperti awan menjelang turun hujan. Aku melihat ayah membuka telapak tangan ke atas, sambil menengadahkan kepalanya, memejamkan mata, dan tersenyum.

"Sebentar lagi akan turun rintik hujan...", lanjut ayah.

Aku penasaran. Apa benar seperti yang dikatakan ayah, sebentar lagi akan turun hujan.

Dheg.

Benar saja. Tidak berapa lama setelah ayah berkata seperti itu, wajahku terkena titik-titik air hujan yang jatuh dari langit. Ini benar-benar rintik hujan! Meskipun masih rintik kecil, tapi ini benar-benar hujan. Aku melihat ke sekeliling. Tetesan air hujan itu benar-benar mengenai alam sekitar. Ini nyata. Bagaimana bisa?

Setelah itu, aku melihat ayah mengangkat kedua tangannya lurus dengan telapak tangan terbuka. Lalu menggerakkan perlahan sekali turun ke samping. Ini seperti bentuk nafas garuda, tetapi dilakukan dengan mengangkat tangan keatas dan dengan lintasan ke samping badan. Ayah melakukan itu lima sampai tujuh kali. Lalu kembali tersenyum ke arahku.

"Sebentar lagi rintik hujan ini akan berhenti...", ucap ayah sambil menatapku.

Aku penasaran. Aku melihat ke langit. Uuh, kini awannya sudah tidak berkumpul lagi. Tapi sudah bergeser, beberapa malah terlihat membuka. Bulan yang tadi terhalang oleh kumpulan awan ini, sekarang terlihat kembali dengan jelas. Sinarnya menyeruak dan menerangi kembali sekitar. Rintik hujanpun perlahan mulai berhenti.

"Yah... itu... itu... bagaimana bisa yah?", tanyaku keheranan.

"Menarik, bukan?", ucap ayah sambil tersenyum.

Aku masih penasaran, bagaimana itu bisa terjadi.

"Itulah nak. Saat kamu bisa berinteraksi dengan alam semesta, kamu akan bisa memanipulasinya. Itu hanya sebagian kecil saja. Ada banyak hal lain yang bisa dilakukan. Kemampuan seperti itu benar-benar membuat manusia bisa terlena. Kalau tidak diiringi dengan pemberian filosofi dan nilai-nilai yang benar, dengan kerendahan hati, maka kemampuan seperti itu hanya akan membawamu pada kesombongan. Sesuatu yang tidak ayah harapkan terjadi padamu kelak.", jawab ayah.

"Perhatikan langit itu, apa yang kamu lihat?", tanya ayah.

"Ada bulan, awan, bintang-bintang yang bersinar yah...", jawabku.

"Kalau yang lebih jauh dari itu?", tanya ayah.

"Ada matahari, ada batu-batu meteor, ada sinar kosmik, nebula, planet-planet lain, satelit planet, dan banyak lagi yah.", jawabku berdasarkan pengetahuan yang aku dapat di sekolah.

"Apakah kamu melihat sinar kosmik, nebula, batu-batu meteor, atau planet-planet lain dengan matamu?", tanya ayah.

"Tidak yah. Aa tahu itu dari buku yang dipelajari di sekolah pada mata pelajaran Fisika yah", jawabku.

"Benar nak. Pada kesadaran tingkat pertama, yakni kesadaran inderawi, manusia berusaha memahami benda-benda langit sekadar dengan mata dan telinganya. Hasilnya, manusia mengenal berbagai macam bintang di langit, matahari, bulan, dan sejumlah meteor yang jatuh ke bumi.

Banyak manfaat yang telah diambil manusia lewat kesadaran inderawi ini.

Di antaranya, manusia pada abad-abad yang lalu bisa menentukan arah perjalanannya dengan berpedoman pada rasi bintang yang dikenalnya. Ia tahu arah utara, barat, selatan dan timur, berdasar posisi bintang-bintang itu. Manfaat lainnya lagi, mereka bisa menentukan pergerakan waktu dalam skala yang sederhana, berdasar posisi matahari dan bulan yang terlihat dari bumi. Dan lain sebagainya.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

"Menurutmu, yang bergerak itu bumi mengelilingi matahari atau matahari mengelilingi bumi?", tanya ayah.

Aku tersenyum.

"Tentu saja yang bergerak itu bumi mengelilingi matahari yah...", jawabku dengan yakin. Tentu saja aku yakin, karena pengetahuan ini aku dapat dari sekolah.

"Benar nak. Tapi tahukah, bahwa dulu manusia menganggap matahari berkeliling bumi. Sebagaimana juga bulan mengelilingi bumi. Kenapa demikian? Karena begitulah memang yang kelihatan dari permukaan planet bumi. Padahal, kelak terbukti, ternyata matahari bukan mengelilingi bumi sebagaimana kita lihat, melainkan justru bumilah yang mengelilingi matahari.

Kefahaman dan kesadaran bahwa bumi mengelilingi matahari itulah yang lebih mendekati kenyataan. Dan, untuk memperoleh kefahaman bahwa bumi mengelilingi matahari, manusia tidak bisa hanya mengandalkan panca inderanya, melainkan dengan menggunakan berbagai pengamatan tidak langsung dengan menggunakan teknologi yang di dalamnya melibatkan berbagai rumus matematika. Manusia telah melakukan pemahamannya dengan menggunakan fungsi akal yang lebih tinggi, lewat analisa perhitungan, dan imajinasi yang lebih abstrak.

Coba bayangkan, mata kita jelas-jelas melihat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, setiap hari dari timur ke barat. Tapi akal kita justru membantahnya, dan mengatakan bahwa yang berputar berkeliling justru adalah bumi terhadap matahari. Hasilnya, bisa bertolak belakang sama sekali!", jawab ayah.

"Ah... benar sekali! Mengapa aku tidak pernah terpikirkan sampai kesitu ya?", gumamku dalam hati. Aku kemudian reflek menggaruk-garuk kepalaku yang tentu saja tidak gatal.

"Demikian pula, ketika kita mencoba memahami hamparan permukaan bumi. Orang zaman dahulu meyakini bahwa bumi ini datar. Karena memang begitulah yang tampak oleh mata kita. Tetapi, perjalanan Columbus berkeliling dunia menggunakan kapal lautnya telah merubah pemahaman itu.

Ternyata bumi kita ini bulat. Manusia hewan, tumbuhan dan berbagai isi bumi sekadar 'hinggap' saja di permukaannya. Bukti itu, kini tidak bisa dibantah lagi ketika manusia bisa memotret planet bumi dari satelit. Bumi memang berbentuk bola, bulat, tapi tidak bulat utuh, melainkan seperti bulat telur yang membentuk wujud geospherical, yang mengambang dan melesat di awang-awang.

Sekali lagi manusia dihadapkan pada dua pemahaman yang sangat berbeda, ketika menggunakan tingkat kesadaran yang berbeda. Yang pertama sekadar menggunakan indera mata, dan yang kedua menggunakan rasio secara empirik. Hasilnya, radikal berbeda.", lanjut ayah.

Aku mengangguk.

"Terbukti bahwa penggunaan rasio jauh lebih unggul dibandingkan pemahaman inderawi yang demikian terbatas. Ada potensi 'imajinasi' dan 'analisa' yang tidak dimiliki oleh kesadaran tingkat pertama. Dengan potensi imajinasi serta analisa itulah manusia memiliki 'mata imajiner' yang memiliki ketajaman dan sudut pandang yang jauh lebih luas ketimbang mata kepala.", ucap ayah.

"'Mata imajiner' alias kesadaran rasional sangat bermanfaat untuk melihat realitas yang bersifat fisik, dalam skala yang lebih luas, yang berada di luar jangkauan panca indera. Pada kondisi itu, tiba-tiba manusia bisa melihat sesuatu yang berada di balik penglihatan matanya, saat menggunakan kesadaran rasionalnya.

Tetapi, 'mata imajiner' memiliki keterbatasannya ketika digunakan untuk menangkap 'makna' yang tersimpan di dalamnya.  Makna yang terkandung di dalam pesan penciptaan. Makna yang menjurus kepada adanya Dzat yang Tiada Berhingga, yang menampilkan Kecerdasan Tiada Terkira.", lanjut ayah.

"Memiliki keterbatasan?", tanyaku dengan penasaran.

"Benar nak. 'Mata imajiner' alias kesadaran rasional juga ternyata tidak sanggup melihat adanya 'sesuatu' dibalik obyek-obyek yang mereka amati di alam ini. Bahwa semua proses berjalan demikian teratur dan seimbang dengan tujuan yang sama yakni membentuk dan memfasilitasi adanya kehidupan.", jawab ayah.

"Kesadaran rasional, hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat materialistik belaka.", lanjut ayah.

"Tahukah kamu kenapa demikian?", tanya ayah.

Aku menggeleng.

"Karena sebenarnya, 'mata imajiner' alias kesadaran rasional adalah sekedar kepanjangan fungsi dari mata kepala, yang dilengkapi dengan analisa-analisa empiris. Dilengkapi dengan berbagai peralatan bantu. Tapi, substansinya masih sama ia 'melihat' dengan 'mata fisiknya'. Maka, tentu saja, ia hanya bisa menangkap hal-hal yang bersifat fisik juga.

Padahal, makna yang terkandung di balik realitas itu bersifat non fisik. Yaitu, sebuah 'kefahaman' yang sangat abstrak. Yang lebih dekat kepada 'rasa'. Dan ini adalah objek dari indera ke enam yang disebut hati.", jelas ayah.

"Jadi, pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi, manusia hanya bisa memperoleh makna itu ketika ia menggunakan hatinya sebagai sensor. Bukan lagi mata fisik...", lanjut ayah.

Aku mengangguk. Rasanya aku mulai memahami sesuatu.

Ayah terdiam. Menghela nafas perlahan sambil memejamkan mata. Aku melihat ayah menarik nafas perlahan, sambil tersenyum, dadanya mengembang, lalu membuang nafas perlahan, sambil tersenyum, dadanya mengempis. Kira-kira empat sampai lima kali ayah melakukan itu. Nafasnya ringan sekali, wajahnya ceria, seolah tersenyum pada alam, seolah tersenyum pada dirinya, dan seolah tersenyum pada semuanya. Damai. Aku bisa merasakan getaran damai yang memancar dari tubuh ayah.

"Inilah tingkat kesadaran jiwa. Sebuah kesadaran yang dibangun berdasarkan penglihatan mata hati. Sebuah proses untuk mencari sampai mendapatkan tindakan yang benar dengan menggunakan mata hati.", ucap ayah.

"Ketajaman mata hati atau kesadaran jiwa ini semakin sempurna jika seseorang mencapainya secara bertahap, mulai dari kesadaran inderawi, kesadaran rasional dan kemudian kesadaran jiwa. Sebab, munculnya kesadaran pada tingkat yang lebih tinggi itu selalu dipicu oleh memuncaknya kesadaran yang lebih rendah.

Sebagai contoh, munculnya kesadaran rasional adalah ketika pemahaman inderawi sudah mentok, tidak mampu lagi. Ketika mata sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi di pusat matahari, maka di situlah terjadi stimulasi terhadap kesadaran rasional untuk berkembang. Maka, manusia lantas menggunakan potensi rasionalitasnya untuk mengungkapkan rahasia yang ada di pusat matahari itu. Bahwa di sana ada proses pembangkitan energi panas yang luar biasa dahsyat yang disebut sebagai reaksi Termonuklir.

Demikian pula, ketika mata fisik sudah tidak mampu lagi melihat sebab-musabab terjadinya keseimbangan yang mengikat dan menggerakkan benda-benda raksasa di alam semesta, maka kesadaran rasional terpicu untuk mengambil alih peran indera yang terbatas itu. Dan muncullah kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang menjelaskan terjadinya keseimbangan gravitasi di seluruh penjuru langit. Kita, lantas berada dalam kesadaran rasional tentang kenyataan tersebut.

Begitu pula dengan kesadaran jiwa, ia baru akan muncul ketika terpicu oleh ketidak mampuan kesadaran rasional dalam memahami kenyataan yang terhampar di hadapannya. Selama seseorang masih merasa bisa memahami kenyataan ini dengan Kesadaran yang lebih rendah maka ia akan menyombongkan diri tentang kemampuan itu. Pada saat yang bersamaan ia tidak akan pernah beranjak dari kesadaran rendahnya menuju kesadaran yang lebih tinggi.", lanjut ayah.

Aku menunduk. Mencoba menyelami ucapan ayah.

Suasana menjadi hening. Angin seolah berhenti berhembus.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal