+-

Video Silat


Shoutbox

23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Tembang Tanpa Syair  (Read 45936 times)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #45 on: 26/09/2011 16:26 »
"Perkembangan ilmu pengetahuan empirik yang semakin memuncak di abad-abad terakhir ini, sebenarnya telah menstimulasi munculnya kesadaran jiwa. Kemampuan mata imajiner manusia mulai menemukan batasnya. Yang dibalik batas itu, manusia mulai merasa tidak tahu apa-apa. Ada suatu rahasia besar yang 'menakutkan', yang berada diluar jangkauan kemampuan manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak ke segala arah kehidupan telah menemukan ketidak terbatasan yang mengerikan. Baik yang berkait dengan pemahaman alam makro, alam mikro, maupun yang terkait dengan proses-proses kehidupan.

Pada skala makrokosmos, misalnya, manusia kini dihadapkan pada "Kebesaran Misterius' yang tiada bandingnya. Dulu, manusia hanya mengenal dunia sebagai lingkungan dimana ia menjalani hidup. la menganggap dunia hanya sebesar daerah tempat tinggalnya.

Seiring dengan perjalanan hidupnya, manusia lantas memahami tentang pulau dan benua yang ditempatinya. Semakin meluas, manusia memahami bahwa bumi ini bulat. Dan akhirnya, manusia memperoleh kefahaman bahwa bumi hanyalah sebuah planet kecil dari triliunan benda langit yang terhampar di seluruh penjuru alam semesta.

Tiba-tiba manusia memperoleh kesadaran, tentang keberadaan nya yang demikian kecil di hamparan 'padang pasir' semesta raya. Dimana bumi hanya bagaikan sebutir 'debu'. Dan di atas debu itulah lima miliar manusia hidup dengan segala kesombongannya.

Kita tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Demikian raksasanya jagad semesta raya. Sementara, bumi adalah satu-satunya planet yang dihuni oleh kehidupan. Selebihnya, belum diketemukan adanya kehidupan di planet-planet lain. Ya, lima miliar manusia hidup dalam kesendirian di jagad raya semesta, yang sampai sekarang tidak diketahui batasnya.

Seluruh ilmuwan astronomi di muka bumi kini sedang terpaku memandang ke langit. Menatap penuh ngeri sekaligus kekaguman. Ngeri karena manusia begitu kecilnya dibandingkan dengan alam semesta yang berisi triliunan benda-benda angkasa seperti planet bumi atau bahkan banyak yang lebih besar dari bumi.

Namun, kita juga kagum melihat pemandangan yang tiada tara itu. Triliunan matahari berserakan di angkasa semesta bagaikan pelita kecil-kecil yang dihamparkan dan ditata dengan indahnya, di dalam kegelapan ruang angkasa yang demikian raksasa. Di sela-sela pelita itu benda-benda angkasa lainnya menari-nari, bergerak melesat dengan kecepatan tinggi di orbit-orbit yang terjaga selama miliaran tahun. Jauh di luar batas usia peradaban manusia yang cuma berumur ribuan tahun. Hati kita jadi tercekat menyadari kenyataan ini.

Tiba-tiba manusia merasa tidak berdaya dan merasa tidak ada apa-apanya, berhadapan dengan kedahsyatan alam semesta. Kita ini kecil. Bahkan lebih kecil dari yang bisa kita bayangkan. Disinilah manusia terbentur pada suatu kenyataan, yang mencampakkan pada ketidakberdayaan rasionalnya.

Ia tidak tahu dimana batas alam semesta yang demikian luas ini. Dan, di luar batas itu ada apa. Ia juga tidak tahu bagaimana triliunan benda-benda langit yang semuanya bergerak dan melesat dengan kecepatan tinggi itu bisa tertata demikian rapi dan indahnya dalam keseimbangan yang sempurna.

Ia juga tidak tahu kapan terlahirnya alam semesta secara pasti, dengan cara bagaimana, berasal dari mana, serta apa pula yang akan terjadi kelak.

Dan, masih begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab dengan memuaskan. Semuanya membuat pandangan kita menjadi nanar dan lelah. Meskipun kita telah berulang-ulang mencoba memahaminya, tetap saja tidak bisa. Sebab kita hanya menggunakan 'mata imajiner' yang terbatas.", ucap ayah menjelaskan.

Aku memejamkan mata. Aku mulai memahami maksud ayah.

"Bukan hanya pada makrokosmos, pada alam mikrokosmos pun para ilmuwan menemukan batas yang tak kalah 'mengerikan'. Yang di balik batas itu manusia yang menyebut dirinya pakar, juga mulai tidak paham. Dulu, manusia mengatakan bahwa benda di alam semesta ini tersusun oleh bagian terkecil yang disebut atom. Kata atom memang berarti tidak bisa dibagi lagi. Berasal dari bahasa Yunani 'atomos' yang berarti tidak bisa dibagi lagi.

Namun kemudian, manusia mulai tertipu, ketika menemukan kenyataan bahwa atom ternyata masih bisa dibagi menjadi inti atom dan elektron-elektron. Inti atom bagaikan matahari dalam tata surya kita, sedangkan elektron bagaikan planet-planetnya. Semua benda ternyata tersusun dari inti dan elektron-elektron.

Sampai di sini sebenarnya manusia mulai merasakan adanya misteri di balik inti atom. Benarkah inti atom juga tidak bisa dibagi lagi. Penemuan energi nuklir pada abad dua puluh membuktikan bahwa inti pun ternyata bisa dipecah lagi menjadi partikel-partikel sub atomik seperti proton dan neutron.

Lebih jauh, kemudian diketahui bahwa neutron juga bisa dibagi menjadi proton dan elektron. Dan seterusnya kemudian diketahui bahwa bahwa partikel-partikel sub atomik itu terdiri dari 'pilinan' energi yang disebut sebagai Quark.

Jadi sampai sekarang, para pakar atomik masih terbengong-bengong dengan kenyataan ini. Bahwa, ternyata benda di alam semesta ini bisa dibagi-bagi dalam ukuran yang tak terbatas kecilnya. Dan ketika dipecah-pecah lagi semakin kecil, tiba-tiba sifat bendanya hilang berubah menjadi energi.

Hal ini mulai tampak pada elektron. Elektron adalah salah satu jenis partikel yang memiliki dua sifat yang membingungkan. Kadang tampak sebagai materi. Sedangkan pada waktu yang lain tampak sebagai energi. Ini, tentu saja sangat membingungkan. Karena, materi dan energi adalah dua eksistensi yang berlawanan. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang bisa memiliki sifat berlawananan sekaligus. Materi adalah kuantitas, sedangkan energi adalah kualitas. Saking bingungnya mengklasifikasikan elektron ini kuantitas ataukah kualitas, akhirnya para pakar menyebutnya sebagai sifat dualitas.

Jadi, dalam skala mikrokosmos pun manusia mengalami 'kebingungan' yang sangat substansial. Kemampuan mata imajiner dan kesadaran rasionalnya membentur dinding tebal yang tidak bisa ditembusnya. Tiba-tiba ada suatu batas yang di balik batas itu mereka tidak paham. Di saat itulah sebenarnya kesadaran rasional telah kalah dan memunculkan kesadaran baru, yaitu Kesadaran Jiwa atau kesadaran spiritual.", ucap ayah menjelaskan.

Dheg...

Hati ini seperti dipalu godam. Tak terasa seluruh urat-urat dan syaraf di tubuhku menegang. Keringat dingin keluar. Aku mulai memahami ucapan-ucapan ayah.

"Yah... a.. apakah akal saja tidak cukup yah?", tanyaku spontan.

"Nak, ada akal yang belum sempurna, dan ada akal yang sudah sempurna. Akal yang belum sempurna adalah akal yang belum bisa menangkap hikmah, sebagaimana akal yang sudah sempurna. Akal yang sempurna adalah yang telah bisa merangkaikan seluruh komponen akal yang berkaitan dengan panca inderanya, atau kesadaran inderawinya, berhubungan dengan khasanah keilmuan empirik, atau kesadaran rasionalnya, dan juga tersambung dengan hati sebagai sensor kepahaman, atau kesadaran jiwa.

Kepahaman hati lebih bersifat holistik, atau menyeluruh. Di dalamnya terkandung makna-makna yakni mengamati dengan panca indera, berpikir secara rasional, dan memahami. Itulah yang disebut sebagai menggunakan akal.", jawab ayah sambil tersenyum.

"Bagaimana mungkin kita bisa membuktikan keberadaan batas batas alam semesta, sementara usia peradaban manusia tidak cukup untuk membuktikannya? Bukankah alam semesta ini sudah berusia miliaran tahun, sementara peradaban manusia baru puluhan ribu tahun?

Demikian pula, diameter alam semesta itu demikian besarnya, sehingga kalau pun ada batasnya kita tidak pernah bisa menjangkau wilayah yang berjarak miliaran tahun cahaya itu. Meskipun hanya lewat pandangan mata. Apalagi, ingin memahami apa-apa yang ada di luar batas alam semesta itu. Ada sesuatu yang 'Maha Besar' yang menghadang 'penglihatan' kita lebih jauh yang sekedar menggunakan mata imajiner dan rasionalitas.

Juga, agaknya kita tidak akan bisa membuktikan batas-batas mikrokosmos secara mendetil karena keterbatasan kemampuan peralatan dan 'penglihatan' manusia. Semakin kecil suatu benda, semakin sulit untuk menentukan posisinya.

Ada suatu ketidakpastian yang demikian besar ketika kita ingin sekadar menentukan posisi suatu partikel, sebagaimana telah dibuktikan oleh Werner Heisenberg, salah seorang ilmuwan ternama, lewat teori Ketidakpastiannya. Apalagi, untuk membuktikan keberadaan benda terkecil, agaknya bakal menjadi mimpi belaka.

Sebab pada skala terkecil keberadaan benda itu telah muncul kerancuan yang membingungkan antara materi dan energi. Antara kuantitas dan kualitas. Antara 'nyata' dan 'maya'. Bahkan antara 'ada' dan 'tiada'. Manusia dihadang oleh sesuatu yang 'Maha Halus' dan misterius untuk mengeksplorasi apa-apa yang ada di balik kehalusan struktur materi dan energi.", lanjut ayah.

Aku merinding mendengar penjelasan ayah.

"Nak, orang-orang yang hanya berkutat pada pemikiran materi dan energi belaka tidak akan pernah menemukan esensi kehidupan. Kita tidak pernah tahu kenapa jantung kita terus berdenyut sepanjang hayat. Kita juga tidak pernah tahu kenapa organ-organ seperti paru-paru, liver, ginjal, sumsum tulang belakang, otot, darah, sel beserta kromosom, rantai genetika, dan lain sebagainya mesti ada.

Kita juga tidak tahu kenapa kita bisa berpikir, memahami, menganalisa, dan menyimpulkan. Dan yang lebih misterius lagi kenapa kita memiliki 'kehendak' untuk hidup, untuk beraktivitas, untuk menjalani kebaikan dan keburukan. Dan seterusnya, dan seterusnya. Dari manakah munculnya kehendak itu?

Di sini, kembali kita dihadang oleh sebuah kekuatan yang "Maha Hidup' dan 'Maha Berkehendak' yang menjadi sumber dari kehidupan itu sendiri. Mata imajiner dan rasio kita lagi-lagi tidak mampu menangkap 'sosok' di balik kehidupan itu.

Kecuali kita menggunakan mata hati dalam memahaminya.

Mata hati bekerja tidak hanya berdasarkan inderawi. Juga tidak hanya bekerja berdasarkan ilmu empirik. Tapi bersandar pada kejujuran dan rendah hati, kehendak menuju pada kebenaran.", lanjut ayah.

Aku menjadi semakin tertunduk. Aku seperti masuk ke alam lain saat mendengar dan mencoba memahami penjelasan ayah. Rasanya, setiap angin yang menyentuh kulit ini menjadi begitu terasa. Bahkan suara-suara di sekelilingpun terasa semakin jernih dan jelas.

"Kesadaran jiwa, memang sangat berkait dengan kejujuran hati. Bukan sekadar kepintaran dan kecerdasan pikiran. Hati yang jujur dan hati yang mencari kebenaran, dengan diawali dengan niat yang bersih. Itulah kuncinya. Sepintar apa pun, kalau hatinya 'buta', tidak akan bisa melihat kenyataan.", ucap ayah.

Aku merasakan pundakku ditepuk perlahan oleh ayah.

"Itulah kesadaran jiwa, yakni sebuah kesadaran yang demikian tajam... luas... sekaligus lembut...", ucap ayah.

Aku membuka mataku. Aku melihat ayah menatapku dengan lembut.

"Apa yang kamu dengar malam ini, renungkanlah, resapkanlah. Karena nanti ini akan menjadi kunci pembuka latihanmu besok di gunung.", ucap ayah.





(bersambung)
(bagian berikutnya: "Getaran Pribadi")
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

anaknaga

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 0
  • Posts: 43
  • Reputation: 121
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: SKM & MP back to Ahlusunnah Salaf
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #46 on: 27/09/2011 14:11 »
 [top] [top]
Ayahnya AA lulusan Doktor ya Mas agung? tahu semuanya dari mulai Ilmu Hayat, Biomedics, Fisika, Sains.
wah genius ilmu silat & ilmu sains, Einstein saja hanya tahu fisika micro & macro kosmos, klo biomedic sudah angkat tangan.  [[peace2]]

ditunggu lanjutannya mas.
lanjutan AA akan melanglang buana ke ujung dunia
AnakNaga
BabyNaga
CicitNaga

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #47 on: 28/09/2011 13:42 »
Silahkan dinikmati ceritanya mas. Dan semoga bisa menjadi hiburan, syukur2 menambah wawasan. Alhamdulillah kalau bisa menjadi manfaat.

 :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #48 on: 28/09/2011 13:48 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 23

Getaran Pribadi - Siapa Memahami Apa


Pagi ini suasana alam benar-benar indah. Di kanan kiri terlihat pepohonan hijau nan rindang. Gunung Ciremai pun terlihat begitu kokoh berdiri. Terdapat awan yang mengelilingi puncaknya. Menambah keanggunan gunung. Apalagi sinar mentari yang menyeruak menyinari dengan tegas, seakan tak mau dihalangi, seakan tak mampu dihalangi. Di depan, kendaraan dari arah yang berlawanan melintas. Membelah angin.

Aku duduk bersama ayah di dalam mobil Suzuki Karimun Estillo hitam yang sedang melaju. Ayah sendiri yang menyetir mobilnya. Pagi ini kami akan menuju gunung, tempat dimana kami akan berlatih. Entah latihan seperti apa, aku sendiri tidak tahu. Kami membawa cukup banyak barang-barang. Aku sendiri tidak tahu barang-barang apa yang dibawa oleh ayah. Saat aku menanyakannya, hanya dijawab bahwa barang-barang ini nanti akan berguna untuk latihanku.

Setelah kurang lebih hampir dua jam perjalanan, mobil yang aku tumpangi berbelok ke kanan, menuju arah Linggarjati. Jalanan cukup sepi. Udara juga lebih dingin dari sebelumnya. Tidak berapa lama, mobil pun berbelok ke kiri, memasuki sebuah jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil saja.

"Sebentar lagi sampai...", ucap ayah sambil tetap menyetir.

Aku mengangguk.

Mataku masih melihat kesana-kemari. Pemandangan indah ini sungguh sangat luar biasa. Perumahan penduduk pun sepertinya sudah mulai jarang.

Kira-kira sepuluh menitan kemudian ayah berbelok ke arah kanan. Dan menghentikan mobilnya persis di dekat sebuah pohon besar. Di sekitar pohon itu terdapat area yang cukup luas untuk parkir mobil. Tidak nampak ada perumahan penduduk didekat ayah berhenti. Hanya ada pohon-pohon pinus, dan pohon-pohon lain. Di belakang pepohonan besar itu ada sebuah gundukan tanah yang cukup tinggi, menghalangi pandanganku untuk melihat ada apa di belakangnya. Hanya terlihat ada jalan setapak yang tampaknya juga jarang dilewati manusia.

Aku membuka pintu mobil, lalu keluar dari mobil. Berdiri tegak, memejamkan mata, dan menghirup udara pagi yang sangat menyegarkan. Paru-paruku terisi penuh oleh udara. Rasanya benar-benar segar. Daun-daun yang menghijau, beberapa semak masih agak basah oleh embun.

Aku menoleh ke arah ayah. Aku melihat ayah juga sudah keluar dari mobil dan sudah mulai membuka bagian belakang dari mobil untuk mengeluarkan barang-barang. Setelah semua barang dikeluarkan dan diletakkan di tanah, ayah kemudian mendekatiku.

"Disinilah tempatnya kita akan berlatih...", ucap ayah.

"Sebelumnya, kita berdoa dulu kepada Allah SWT agar memberikan kita keselamatan dan kemudahan di dalam berlatih. Setelah itu, tebarkan dulu getaran sebagai salam damai dan niat baik untuk alam disini.", lanjut ayah.

Aku mengangguk. Meskipun aku belum paham mengapa harus menebarkan getaran dengan salam damai dan niat baik.

Dengan masih tetap berdiri, aku merapatkan kedua tanganku. Menarik nafas halus, perlahan, dan kemudian memejamkan mata untuk berdoa kepada Allah SWT. Aku melihat ayahpun melakukan hal yang sama.

Setelah itu aku menebarkan getaran ke sekeliling dengan rasa damai dan persahabatan untuk alam disitu, sesuai dengan apa yang ayah perintahkan. Aku bisa merasakan hawa getaran ayah di dekatku.

Perlahan, aku membuka mata. Eh, kok rasanya alam menjadi semakin jernih saja. Apakah ini perasaanku saja atau bagaimana? Setelah berdoa dan menebarkan getaran sebagai salam damai ini, rasanya agak berbeda dibanding saat aku datang tadi.

Aku melihat ayah tersenyum.

"Alam menerima kita...", ucap ayah.

Aku belum mengerti maksud ayah dengan mengatakan 'alam menerima kita'.

"Bukankah saat kita sudah datang kesini, alam juga sudah menerima kita?", gumamku dalam hati.

Tampaknya ayah memahami kebingunganku. Ia menepuk pundakku.

"Nanti... kamu akan mengerti...", ucap ayah sambil tersenyum.

"Ayo, sekarang bantu ayah untuk memasang tenda...", lanjut ayah.

"Ok yah...", jawabku dengan bersemangat.

Aku membantu ayah memasang tenda yang ukurannya sedang, cukup untuk tidur dua atau tiga orang. Menyiapkan hal-hal lain seperti memasang perapian, merapihkan tanah, dan sebagainya. Kira-kira satu jam kemudian semua persiapan telah selesai. Aku duduk di dekat tenda. Dahiku agak berkeringat, meski tidak banyak. Rasa lelah yang sedikit ini dikalahkan oleh suasana alam yang luar biasa segar.

"Alhamdulillah... selesai...", ucap ayah.

Ayah juga duduk di dekat tenda. Tangannya kemudian meraih sebotol air mineral, kemudian melemparkannya kepadaku perlahan. Aku menangkapnya dengan sigap, dan langsung membuka tutup botol. Meminumnya. Air mineral yang aku minum memasuki tenggorokanku dengan lancar. Menambah kesegaran tubuh ini. Aku meneguk beberapa kali, hingga lebih dari setengahnya. Setelah itu aku membersihkan beberapa tetesan air dari sudut bibirku dengan lengan kananku.

Tanpa sadar, mataku memandang ke samping kanan tenda, disitu aku melihat ada beberapa benda. Sebagian nampak asing, dan sebagian lagi tidak. Ada besi untuk dudukan saat melakukan pematahan, ada juga beberapa gagang pompa besi berwarna hijau bertuliskan R3, bahkan lampu neon panjang berwarna putih juga ada. Ada beberapa kertas warna, dan tutup mata seperti kacamata tetapi terbuat dari kain berwarna hitam pekat. Ada juga lakban berwarna hitam dan kapas. Yang menarik, aku melihat ada mainan anak berbentuk angka dan huruf. Mainan yang sering aku lakukan waktu kecil, saat aku belajar mengenali huruf dan angka.

"Bagaimana? Sudah siap untuk latihan?", tanya ayah sambil menatapku.

Aku mengangguk dengan semangat.

"Siap yah!", jawabku dengan mantap.

"Baiklah kalau begitu. Hingga menjelang maghrib ini, kita akan berlatih Nafas Pengolahan, kemudian dilanjutkan dengan Nafas Pembinaan. Tapi kamu akan melakukannya dengan pemahaman.", ucap ayah.

"Dengan pemahaman?", tanyaku dengan wajah heran.

"Benar. Nanti, ayah akan membagi dua. Pertama, kamu melakukan empat belas bentuk Nafas Pengolahan dengan urutan seperti biasa dimana masing-masing bentuk kamu lakukan satu kali. Kamu melakukan seperti biasa, dari mulai bentuk kesatu, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga bentuk keempatbelas.", jawab ayah.

"Kedua, pada bentuk Nafas Pengolahan yang sama, kamu akan melakukannya dengan urutan terbalik. Mulai dari bentuk keempatbelas, ketigabelas, keduabelas, kesebelas, dan seterusnya hingga bentuk kesatu. Ayah juga akan memandumu dengan memberimu aba-aba. Paham?", ucap ayah.

Aku mengangguk.

"Setelah itu, ayah akan menjelaskan makna dari Nafas Pengolahan. Makna ini akan menjadi kunci pembuka untuk pemahamanmu pada bentuk nafas jenis ini.", lanjut ayah.

"Anu... yah... Aa masih belum mengerti, apa maksudnya dengan pemahaman?", tanyaku. Jujur, aku masih belum mengerti maksud ayah.

Aku melihat ayah tersenyum.

"Seberapa sering kamu melakukan Nafas Pembinaan?", tanya ayah.

"Sering yah. Hampir tiap hari Aa melakukan latihan Nafas Pembinaan.", jawabku.

"Tahukah kamu mengapa bentuk nafas pembinaan yang pertama, yakni bentuk Garuda, seperti itu gerakannya?", tanya ayah.

Dheg...

Aku terkejut.

"Eh, benar juga. Aku melakukan itu tiap hari, tapi aku tidak paham mengapa bisa begitu?", gumamku dalam hati.

Aku menggeleng.

"Aa belum tahu yah...", jawabku spontan.

"Daripada bingung, coba kamu lakukan dulu Nafas Pembinaan, tapi cukup bentuk Garuda saja.", pinta ayah.

Aku mengangguk. Aku maju beberapa langkah, lalu duduk sila dengan tubuh menghadap ke arah ayahku. Kedua telapak tangan aku rapatkan di depan dada. Saling mendorong, kemudian membungkukkan badan sambil membuang nafas dari hidung hingga 'habis', dan menahannya beberapa detik sebelum kemudian menarik nafas kembali dari hidung bersamaan dengan tubuhku aku tegakkan kembali. Setelah itu aku melakukan bentuk nafas garuda, yakni bentuk pertama dari olah nafas Pembinaan. Terdengar jelas suara tulang pangkal lengan dan siku yang berderak. Saat tangan terbuka merentang penuh, terasa juga derak tulang dada ini berbunyi.

Krrk... krrk.. krrtk..kkkrtk..

Kira-kira satu menit aku melakukan bentuk ini. Dan diakhiri dengan merapatkan kembali telapak tangan di depan dada untuk kemudian melepasnya perlahan sambil membuang nafas.

Aku membuka mata. Keringat sebesar jagung membasahi dahiku.

"Bisakah kamu menjelaskan apa dibalik bentuk ini, nak?", tanya ayah.

Aku menggeleng.

"Aa hanya bisa menjelaskan bentuknya saja yah. Arah lintasannya, bentuk tangannya, gerakannya, dan pola nafasnya. Tapi apa dibalik itu, Aa tidak tahu yah...", jawabku malu-malu.

"Benar nak, hingga pada tahap itu, kamu sudah benar. Kamu sama sekali tidak salah. Akan tetapi, akan jauh lebih baik kalau kamu memiliki dasar pijakan mengapa itu kamu lakukan. Dasar pijakan ini akan bermanfaat untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Ketahuilah, kamu melakukan Nafas Garuda tadi, terjai banyak hal pada tubuhmu. Terutama pada aliran tenaga getaran. Saat kamu menekan kedua telapak tangan di depan dada, saling mendorong dengan keras, maka terjadi 'penutupan' pada simpul dadamu, pada pangkal lengan, pada siku, hingga pada pergelangan tangan. Tapi sebaliknya, simpul punggungmu terjadi 'pembukaan'. Itulah sebabnya kamu harus menekan dengan kuat kedua telapak tanganmu di depan dada sebelum melakukan bentuk ini.

Saat kemudian tanganmu mendorong perlahan ke depan, saat itu terjadi 'ledakan' tenaga pangkal lenganmu, dan pada siku. Terus menjalar hingga ke pergelangan tangan. Itulah yang menjadi penyebab timbulnya bunyi derak pada tulangmu tadi. Ketika tanganmu terbuka sempurna ke depan selebar bahu, maka seluruh aliran tenagamu mengalir deras dari pangkal lengan, siku, hingga ke pergelangan tangan. Agar aliran ini tidak 'menembus' keluar telapak tangan, maka kamu 'menguncinya' dengan menarik pergelangan tanganmu ke belakang. Efeknya, aliran tenaga hanya mencapai pangkal pergelanganmu saja. Aliran tenaga yang bersumber pada simpul punggungmu yang sedang 'terbuka'. Kamu akan merasa tanganmu menjadi demikian bertenaga, keras, pada seluruh bagiannya. Luar dan dalam.

Saat kamu merentangkan tanganmu kesamping dengan perlahan, dadamu akan terbuka. Disini akan terjadi kondisi 'pembukaan' pada simpul dada yang tadinya 'tertutup'. Simpul dadamu akan mulai mengalirkan tenaga pada pangkal lengan, siku, hingga pergelangan tangan. Terjadi kondisi dua kali aliran, yakni dari simpul punggung yang masih terbuka, dan dari simpul dada yang baru terbuka. Ini akan menyebabkan aliran tenaga pada lenganmu menjadi hampir dua kali lipat. Pada rentangan tangan yang bergerak ke samping, terus hingga ke belakang hingga mencapai batas maksimal gerakan rentangan tanganmu akan menyebabkan simpul punggungmu mulai 'menutup'. Dan simpul punggungmu akan tertutup secara penuh saat rentangan tanganmu mencapai batas maksimal dimana kamu sudah tidak bisa merentangkan tanganmu lagi. Sebaliknya, kondisi puncak ini menyebabkan dadamu menjadi demikian terbuka lebar, dan itu artinya terjadi pembukaan pada simpul dadamu secara maksimal. Aliran tenaga pada lenganmu sepenuhnya berasal dari simpul dada ini. Itulah sebabnya pada kondisi puncak batas rentangan tanganmu di belakang ini, kamu harus menahan dulu beberapa detik. Tujuannya agar aliran tenaga dari simpul dadamu yang 'terbuka' penuh bisa mengalir maksimal.

Setelah itu, kamu kembali menutupkan rentangan tanganmu perlahan ke depan hingga sejajar dengan bahu. Pada kondisi ini, kamu perlahan 'membuka' kembali simpul punggungmu sekaligus perlahan 'menutup' simpul dadamu. Pada kondisi ini, aliran tenaga menjadi hampir dua kali lipat pada lenganmu, yakni yang berasal dari simpul punggung yang mulai 'terbuka' dan simpul dada yang mulai 'menutup'.

Terakhir, kamu menarik kembali kedua tanganmu dengan merapatkan telapak tangan pada dada. Pada kondisi ini, simpul dadamu tertutup sepenuhnya, sedangkan simpul punggungmu terbuka kembali. Lenganmu yang menekuk pada siku juga sekaligus 'menutup' simpul pada siku. Efeknya, aliran tenagamu menjadi tertarik ke dalam dan memusat di dalam tubuhmu.

Paham?", jawab ayah dengan gamblang.

Aku terkejut, sekaligus gembira mendengar penjelasan ayah. Ini sesuatu yang baru buatku. Wajahku tampak berbinar. Mendengar penjelasan ayah, rasanya aku mulai menangkap dan memahami sesuatu.

"Aa paham yah!", jawabku dengan lantang.

"Jelaskan...", pinta ayah.

"Ini seperti kondisi 'kosong' dan 'isi'

Saat pertama, aliran tenaga berasal dari simpul punggung yang 'terbuka'. Kemudian, terjadi hampir dua kali lipat aliran tenaga, yakni dari simpul punggung yang masih 'terbuka' dan simpul dada yang mulai 'terbuka'. Ini seperti kondisi 'kosong' pada simpul dada, dan 'isi' penuh pada simpul punggung. Pada gerakan rentangan bentuk garuda, terjadi kondisi 'isi' hampir dua kali lipat akibat kedua simpul yang 'terbuka' dan 'mulai membuka'. Pada bentuk rentangan tangan maksimal ke belakangan, simpul dada menjadi 'isi' penuh sedangkan simpul punggung menjadi 'kosong'. Saat mulai menutupkan kembali ke bentuk awal, terjadi kondisi 'isi' hampir dua kali lipat akibat kedua simpul yang 'terbuka' dan 'mulai membuka'. Terakhir, saat kembali ke bentuk awal, maka simpul dada kembali menjadi 'kosong' dan simpul punggung kembali menjadi 'isi'.

Terjadi kondisi 'kosong-isi-kosong' pada simpul dada, dan kondisi 'isi-kosong-isi' pada simpul punggung. Atau bisa juga 'tutup-buka-tutup' pada simpul dada, dan 'buka-tutup-buka' pada simpul punggung. Atau barangkali bisa juga disebut dengan 'kunci-buka-kunci' pada simpul dada, dan 'buka-kunci-buka' pada simpul punggung.

Sementara aliran tenaganya mengalir penuh pada lengan hingga ke pergelangan. Dua kali dengan tingkat aliran tenaga hampir dua kali lipat dari dua simpul besar, yakni punggung dan dada. Pertama, saat membuka rentangan tangan, dan kedua saat menutup rentangan tangan. Tenaga tidak sampai keluar memancar karena 'dikunci' oleh gerakan pergelangan tangan yang ditarik ke belakang secara maksimal.", jawabku dengan bersemangat.

"Bagus! Kamu sudah mulai memahami...", ucap ayah sambil tersenyum.

"Ini hebat sekali yah!!", lanjutku sambil mengepalkan tangan.

Semangatku bergelora. Ini benar-benar luar biasa. Aku seperti memahami sesuatu. Rasanya, aku memandang nafas pembinaan pada bentuk garuda ini menjadi berbeda. Ini benar-benar lain. Luar biasa.

Dengan kunci pembuka penjelasan dari ayah ini, aku jadi bisa mengetahui bagaimana bentuk selanjutnya dari nafas pembinaan, yakni bentuk nafas Dorong Tarik, bentuk nafas Kombinasi Dorong Tarik, dan nafas Listrik.

"Ayah coba test kamu... Kalau yang terjadi pada nafas garuda itu 'kosong-isi-kosong' atau 'tutup-buka-tutup' pada simpul dada dan 'isi-kosong-isi' atau 'buka-tutup-buka' pada simpul punggung, itu artinya hanya satu kali simpul dada menjadi terbuka. Sedangkan simpul punggung mengalami dua kali kondisi terbuka. Bukankah ini tidak seimbang?", tanya ayah.

Aku mengangguk mantap.

"Benar yah. Itu memang bisa disebut tidak seimbang. Tetapi, pada bentuk nafas pembinaan selanjutnya, yakni bentuk nafas Dorong Tarik, simpul dada-lah yang pertama kali dibukan dan digunakan untuk mengalirkan tenaga pada lengan. Jadi, kekurangan pembukaan simpul dada menjadi tergantikan pada bentuk selanjutnya. Pada bentuk nafas Garuda, pembukaan dimulai dari simpul punggung terlebih dahulu, sedangkan pada bentuk selanjutnya yakni nafas Dorong Tarik, pembukaan dimulai dari simpul dada terlebih dahulu. Ini akan mencapai kondisi keseimbangan pada 'kosong-isi' di kedua simpul.", jawabku dengan bersemangat.

Aku mulai memahaminya.

"Bagus, lalu bagaimana pada bentuk selanjutnya?", tanya ayah memancingku.

"Pada bentuk selanjutnya, yakni bentuk Kombinasi Dorong Tarik, karena merupakan gabungan dari bentuk Garuda dan bentuk Dorong Tarik, maka akan terjadi kondisi yang seimbang yah!", jawabku mantap.

"Tepat sekali!", ucap ayah.

"Bagaimana dengan bentuk terakhir, yakni bentuk nafas Listrik?", tanya ayah.

"Khusus untuk nafas Listrik, kedua simpul terbuka semua yakni simpul dada dan punggung. Tidak terjadi gerakan untuk 'menutup' atau 'membuka' simpul-simpul tersebut. Jadi, jelas ini sudah seimbang yah...", jawabku.

Aku melihat ayah mengangguk setuju.

"Benar sekali, nak. Kesimpulannya, empat bentuk olah nafas pada Nafas Pembinaan ini sudah membawa keseimbangan yang baik. Silat yang kamu pelajari ini memang istimewa. Luar biasa, bukan?", jawab ayah sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

"Ini memang luar biasa yah...", ucapku membenarkan.

"Sekarang, coba kamu lakukan sekali lagi Nafas Pembinaan empat bentuk, yakni bentuk Garuda, bentuk Dorong Tarik, bentuk Kombinasi Dorong Tarik, dan bentuk Listrik. Lakukan masing-masing satu kali saja. Lakukan dengan pemahaman...", pinta ayah.

Aku mengangguk.

Bersemangat.

Aku memulai nafas Pembinaan empat bentuk seperti yang diperintahkan ayah. Saat aku melakukan ini, rasanya benar-benar berbeda. Olah nafas yang sama, nafas Pembinaan, yang sering aku lakukan hampir setiap hari, rasanya menjadi begitu lain setelah mendengar penjelasan ayah. Rasanya benar-benar berbeda. Sungguh sangat berbeda. Ini luar biasa.

Kira-kira tujuh menitan, aku sudah selesai melakukan olah nafas ini. Tubuhku terasa begitu segar.

"Berbeda bukan rasanya saat kamu melakukan tanpa pemahaman dan dengan pemahaman?", tanya ayah sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

"Sangat berbeda yah...", jawabku.

"Tapi kenapa ayah tidak pernah menjelaskan ini sejak awal?", lanjutku.

"Tentu saja tidak nak. Ketahuilah, yang ayah ajarkan dulu padamu adalah metode klasik yang umumnya terjadi pada hampir semua beladiri tradisional. Dikatakan klasik karena murid melakukan latihan tanpa penjelasan lengkap dari gurunya. Alasannya karena yang berlatih adalah tubuh dan 'rasa'-nya. Hal itu ibarat masuk ke ruangan gelap. Sampai sang murid menemukan sendiri pintu ke ruangan berikutnya. Kalau tidak latihan, tentu saja tidak mampu mendekat ke pintu selanjutnya, ya tidak akan dibukakan pintu.

Ketika rasa sudah muncul, tentu saja penjelasan detail akan sangat mudah ditangkap dan dimaknai. Seperti halnya ketika kamu bisa menjawab pertanyaan ayah barusan. Tentunya setelah kamu melakukan olah nafas pembinaan sekian banyak, tubuhmu akan membentuk 'rasa' yang kamu ketahui sendiri. Meskipun seringkali menjadi pertanyaan, tapi 'rasa' ini akan tetap tinggal pada dirimu. Beberapa mungkin buntu pada penjelasan. Tetapi, ketika ketemu dengan 'pintu' yang cocok, maka semua itu akan mengalir lancar. Hanya masalah waktu saja. Kalau bicara waktu, tentu saja bicara kesabaran. Sabar ataukah tidak kamu berlatih hingga tubuhmu menemukan 'rasa'. Itulah sistem klasik nak.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

"Nanti, akan menjadi sangat menarik ketika kamu melakukan olah nafas ini dengan getaran... Yang tadi itu hanyalah salah satu dari sekian banyak penjelasan dari sebuah sudut pandang. Ada sudut pandang yang lain saat nanti ayah jelaskan nanti. Kita akan bahas itu berikutnya. Sekarang, istirahat dulu. Sudah menjelang Dhuhur. Selepas sholat, kita lanjutkan untuk latihan selanjutnya...", ucap ayah.

"Baiklah yah...", jawabku.





(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ogebang

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 28
  • Posts: 131
  • Reputation: 48
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: PPS Betako Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #49 on: 30/09/2011 08:03 »

Makin lama makin Mantaaabs..ne..Bravo...Bro...
btw..ada yg pernah coba Nafas Garuda sampe 50x tarikan nafas..??
Hehehe... Memori jaman Tawuran dulu...

Toyosu

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 0
  • Posts: 35
  • Reputation: 17
  • Sahabat Silat
  • Perguruan: MP
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #50 on: 30/09/2011 13:57 »
@Mas Ogebang,

Memang mantap mas.
Sudah sampai "demo" nurunin dan memberhentikan hujan segala! Hehehe.

Btw, Nafas Garuda 50x tarikan nafas maksudnya 50x ngelakuinnya mas?
Duuuh ilmunya mas Ogebang juga banyak banget.  :)


Makin lama makin Mantaaabs..ne..Bravo...Bro...
btw..ada yg pernah coba Nafas Garuda sampe 50x tarikan nafas..??
Hehehe... Memori jaman Tawuran dulu...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #51 on: 01/10/2011 12:13 »

Makin lama makin Mantaaabs..ne..Bravo...Bro...
btw..ada yg pernah coba Nafas Garuda sampe 50x tarikan nafas..??
Hehehe... Memori jaman Tawuran dulu...

Hahaha dapet juga yang seperti itu mas.

Dulu saya pake saat lagi 'gila' latihan :)

Melatih nafas garuda tidur selama 1 bulan full dengan total jumlah 520x, dari mulai hari ke-1, 2, 3, 4, dst hingga hari ke-30. Dengan hitungan tertentu yang meningkat pada setiap harinya hingga dicapai total 520x dalam tiga puluh hari. :D

Memang, repetisi yang extreem, dengan didasari dasar pijakan pengetahuan yang cukup, akan membuat perkembangan kemajuan latihan menjadi seperti lebih luar biasa. Sesuatu yang saat ini jarang sekali terjadi di kebanyakan kolat-kolat.

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #52 on: 01/10/2011 12:16 »
Atau barangkali versi mas ogebang berbeda dengan versi saya?

:)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #53 on: 01/10/2011 14:18 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 24

Getaran Pribadi - Siapa Mengolah Apa


Kami baru saja selesai melaksanakan sholat Dhuhur di samping tenda. Mengambil air wudhu di sungai di belakang tenda tempat aku dan ayah menginap. Aku harus melewati jalan setapak dulu sekitar lima puluh meteran, barulah menemukan sungai. Sungai yang cukup lebar, dengan aliran air yang cukup deras. Riak gelombangnya terlihat sekali. Meskipun deras, tapi air sungai itu jernih sekali, dan dingin menyegarkan. Bebatuan di dasarnya terlihat jelas. Beberapa ikan terlihat berenang kesana kemari. Pohon-pohon besar mengelilingi sungai, seolah ingin melindungi sungai itu.


Tidak jauh dari sungai itu, terlihat ada sebuah air terjun kecil. Meski kecil, tapi curahan airnya tampak kuat. Di dekatnya terdapat batu-batuan sebesar kerbau. Untuk mencapai batu besar di dekat air terjun kecil itu, seseorang tampaknya harus berenang atau berjalan dengan meniti bebatuan kecil yang menyembul.


Tempat yang memang indah. Benar-benar indah.


Ayah kemudian berjalan menuju depan pintu masuk tenda, lalu duduk pada tikar yang tadi kami gunakan untuk beristirahat. Sementara aku sendiri berjalan lebih ke depan, kemudian duduk bersila menghadap ayah.


"Mari kita teruskan nak...", ucap ayah.


Aku mengangguk.


"Kembali pada Nafas Pembinaan tadi. Kalau kamu perhatikan, terjadi kondisi buka-tutup pada simpul punggung dan simpul dada. Terjadi juga kondisi 'kunci-lepas' pada sendi lengan, sendi siku, dan pergelangan tangan, hingga jari. Ini terjadi pada tiga bentuk pertama, yakni bentuk Garuda, Dorong Tarik, dan Kombinasi Dorong Tarik. Sedangkan pada nafas Listrik, kamu membuka simpul dada dan simpul punggung. Kedua simpul ini dibiarkan terbuka. Sehingga tidak heran, setelah kamu melakukan olah nafas ini, maka tubuhmu akan terasa segar, seolah teraliri oleh energi yang besar. Kamu menjadi bersemangat dan 'hidup'.


Pada empat bentuk nafas pembinaan ini, tenagamu mengalir tiada henti di seluruh tubuh bagian atas dengan cara 'menutup' dan 'membuka' dua simpul besar, yakni dada dan punggung. Disitulah sumber utama tenagamu berasal saat melatih nafas jenis ini. Kemudian kamu mengolahnya dengan menggerakkan kedua tanganmu mengikuti setiap bentuk yang ada. Aliran ini kamu kendalikan dengan cara mengunci atau membuka persendian pada lengan. Sehingga tenaganya akan mengikuti bagaimana posisi dan bentuk tanganmu itu, bagaimana kamu melakukan 'buka' dan 'kunci' pada persendian, dari mulai pangkal lengan, siku, pergelangan tangan, hingga jari-jari. Perlu kamu ketahui nak, meski tanpa pengejanganpun, kalau kamu melakukan dengan benar, maka lenganmu akan mengeras dengan sendirinya. Keras luar dan dalam. Tubuhmu akan terbiasa dengan ledakan-ledakan tenaga di dalam tubuh. Otot dan syarafmu akan terbentuk dengan alamiah. Nadimu juga akan semakin menguat dan semakin lancar.


Dengan olah nafas ini, kamu dikatakan sedang membina tubuh bagian atas. Menyiapkan kedua simpul besar agar bisa menghasilkan tenaga, dan mengalirkan pada bagian tangan yang mengikuti bentuk gerakan.


Efeknya, akan ada pancaran getaran dari simpul dadamu dan punggungmu akibat kamu buka. Pada beberapa kasus, seseorang yang baru melakukan ini, bisa saja tiba-tiba mengalami kondisi seperti terpental ke belakang atau seperti terdorong ke depan, dan beberapa bisa saja pingsan karenanya. Sebab pancaran getaran ini nyata. Bisa berinteraksi dengan alam. Terutama ketika yang melakukannya benar-benar konsentrasi dan menghayati. Itulah sebabnya dulu, saat kamu pertama kali belajar olah nafas ini, ayah memintamu untuk melakukan ini dengan posisi duduk. Setelah mulai terbiasa dan mulai bisa beradaptasi, barulah dilakukan dengan berdiri.", lanjut ayah.


Aku mengangguk paham.


Aku mulai memahami mengapa dulu ayah menyuruhku melakukan nafas pembinaan ini dengan duduk. Meskipun saat itu tidak ada yang terjadi apapun padaku seperti yang ayah khawatirkan. Setelah sekian waktu, barulah aku diperbolehkan melakukan dengan berdiri. Rupanya ada sesuatu yang ditimbulkan dari olah nafas jenis ini.


"Anu... yah, tadi kalo tidak salah ayah bilang melakukan nafas pembinaan dengan getaran. Itu maksudnya gimana yah?", tanyaku memberanikan diri.


"Begini, ada bentuk olah nafas yang kasar, ada yang halus. Ada yang tanpa getaran, dan ada yang dengan getaran. Akan berbeda nanti pada pemahamannya. Saat ini, pemahaman seperti tadi itu dulu yang kamu harus resapkan dan ingat baik-baik. Nanti, saat kamu sudah memahami getaran, ayah akan menjelaskan dengan pemahaman yang baru.", jawab ayah.


Aku mengerutkan kening.


"Jadi, maksud ayah, bentuknya sama tapi pemahamannya yang berbeda?", tanyaku kembali.


Ayah tersenyum.


"Benar nak. Bentuk yang sama, tapi dengan pemahaman yang berbeda. Ketika masuk pada pemahaman yang berbeda, maka hasil akhirpun bisa menjadi sedemikian berbeda. Ketika masuk pada kesadaran yang berbeda, maka hasil akhir bisa secara radikal berbeda. Seperti halnya saat ayah menjelaskan mengenai kesadaran inderawi, kesadaran rasional, dan kesadaran jiwa.


Seperti yang ayah jelaskan sebelumnya kalau seorang yang belajar beladiri akan merasakan olah rasa dan olah raga menjadi satu kesatuan. Dan memang olah rasa bukanlah matematika, sebab ilmu beladiri disebut 'Martial Art' dan bukan Martial Science.", jawab ayah.


Aku mengangguk, mulai memahami penjelasan ayah.


"Ada yang ingin ditanyakan lagi?", tanya ayah.


"Anu... yah, dimana posisi mengolah itu terjadi?", aku kembali bertanya.


"Ketahuilah nak, saat kamu melakukan bentuk nafas jenis ini, terutama dengan pengerasan maksimal pada bentuknya, maka udara yang kamu hirup akan cepat habis. Bisa tiga sampai lima kali lipat dari biasanya. Karena terjadi pengejangan otot maksimal. Kamu hanya menggunakan sedikit sekali udara yang tersisa untuk melakukan olah nafas jenis ini. Hal ini menyebabkan yang kamu olah pada saat nafas dada-perut benar-benar energi tubuh, dan bukan lagi sekedar perpindahan udara semata. Apa yang dihasilkan darinya adalah aktifnya secara dahsyat simpul utama perut yang dibawah pusar dan simpul dada, serta yang berada diantara itu.", jawab ayah.


"Ada lagi?", tanya ayah.


Aku menggeleng.


"Belum yah. Sejauh ini Aa cukup bisa memahami penjelasan ayah.", jawabku.


"Baiklah. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, kita akan mulai dengan Nafas Pengolahan. Ayah rasa, ayah harus menjelaskan ini terlebih dahulu, karena ini akan menjadi dasar dari latihan pembentukan tenagamu. Sesuatu yang nanti kamu manfaatkan ke depannya.", ucap ayah.


"Nafas Pengolahan, kalau dilihat dari sifatnya akan terbagi menjadi tiga tahap, yakni tahap 'membuka', tahap 'menutup', dan tahap dinamis atau 'buka-tutup'.


Tahap 'membuka' ada pada level yang disebut dengan level Dasar. Meliputi empat belas bentuk olah nafas yang dimulai dari urutan bentuk pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga bentuk keempat belas.


Tahap 'menutup' ada pada level yang disebut dengan level Balik. Meliputi empat belas bentuk olah nafas level dasar yang dimulai dengan urutan terbalik yakni urutan bentuk keempatbelas, ketigabelas, keduabelas, kesebelas, dan seterusnya hingga bentuk kesatu. Plus ditambah beberapa bentuk tambahan.


Tahap dinamis atau tahap 'buka-tutup' ada pada level yang disebut dengan level Kombinasi dan level Khusus. Agak berbeda pada level Khusus, ada pengembangan lain berupa spesialisasi pada bentuk yang spesifik. Ayah akan jelaskan nanti, saat kamu masuk ke dalamnya agar tidak bingung.", lanjut ayah.


"Sampai sini bisa dipahami?", tanya ayah.


Aku mengangguk.


"Paham yah...", jawabku singkat.


"Level Dasar, mengapa disebut dengan tahap 'membuka'? Yakni karena bentuk dan posisi gerakan saat melakukan ini tidak memiliki gerakan untuk 'mengunci' aliran tenaga, baik pada simpul kecil pada tubuh maupun pada simpul besar. Lengan yang lurus, kaki yang lurus, tulang punggung yang menekuk ke dalam dan keluar, serta posisi tubuh yang lurus karena ditopang tangan, semuanya dilakukan dengan 'membuka' simpul-simpul tubuh. Aliran tenaga akan mengalir ke seluruh tubuh dan bahkan memancar keluar. Pada level Dasar tingkat akhir, diperlukan medium beban berupa batu bata atau beton cor berbentuk batu bata yang harus kamu cengkram dengan keras. Beratnya minimal dua kilogram. Kamu sudah pernah merasakan ini, bukan?", ucap ayah.


Aku mengangguk.


"Berikutnya, level Balik. Mengapa disebut dengan tahap 'menutup'? Pertama, karena urutan olah nafasnya dimulai dari yang paling akhir, atau bentuk keempat belas, dan diakhiri dengan bentuk kesatu. Ini bermakna sebagai proses pembalikan. Kedua, karena bentuk dan posisi gerakan saat melakukan ini memiliki gerakan untuk 'mengunci' aliran tenaga. Aliran tenaga akan memusat ke dalam. Tidak lagi keluar seperti halnya pada level dasar. Pada level ini, kamu harus menggunakan medium beban berupa pot yang terbuat dari beton cor yang berlubang lima untuk ujung jari tanganmu mencengkram. Yang masuk pada lubang pada pot ini hanyalah satu ruas jarimu saja. Beratnya delapan kilogram.


Level Kombinasi, mengapa disebut dengan tahap dinamis atau 'buka-tutup'? Yakni karena bentuk ini semuanya dilakukan dengan 'membuka' dan 'menutup' simpul pada lengan, dengan cara menggerakkan tangan sesuai dengan bentuk gerakan secara dinamis. Pada level ini tahap awal, kamu harus menggunakan medium berupa halter pinggir seberat empat belas kilogram. Kamu menggerakkan lenganmu ke atas, ke bawah, dengan interval tertentu dan sesuai dengan bentuknya. Seperti orang yang sedang melakukan olahraga angkat berat. Tapi bedanya, bebannya tidak seluruhnya kamu angkat, tapi kamu olah di lenganmu secara berulang-ulang. Saat lengan mengangkat beban, maka siku akan tertekuk, dan ini disebut dengan 'menutup' atau 'mengunci', sedangkan saat lenganmu turun ke bawah, maka siku akan lurus, dan ini disebut dengan 'membuka'. Jadi, akan terjadi kondisi 'buka-tutup'. Itulah tahap dinamis.",  ucap ayah.


Aku mendengarkan dengan serius.


"Anu... yah, bagaimana dengan level Khusus?", tanyaku memberanikan diri.


Ayah tersenyum.


"Itu nanti saja, kalau sudah saatnya...", jawab ayah.


Aku ikut tersenyum sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Setiap bentuk pada nafas pengolahan ini, dilakukan dengan menahan nafas dan mengalirkan nafas pada dada dan perut secara bergantian. Setiap kondisi menahan nafas di dada ataupun di perut disebut dengan saf. Lama setiap saf pada mulanya lima sampai tujuh detik. Batas maksimal tujuh saf, artinya total menahan nafas menjadi tiga puluh lima atau empat puluh sembilan detik, terdiri dari empat saf dada serta tiga saf perut.


Kondisi dada-perut ini, akan menyebabkan simpul utama perut dan simpul dada menjadi sangat aktif. Juga termasuk simpul yang berada diantaranya.", ucap ayah.


"Kalau fungsinya beban sendiri bagaimana yah?", tanyaku penasaran.


Aku melihat ayah memandang ke sekeliling, lalu menunjuk sebuah batu yang berukuran agak besar di dekat pohon pinus, agak jauh dari tenda kami.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #54 on: 01/10/2011 14:19 »

Aku menoleh pada arah yang ditunjuk oleh ayah.


"Nak, batu itu kira-kira beratnya sekitar sepuluh kilogram. Ayah minta kamu pindahkan batu itu kesini, lalu pindahkan kembali ke posisi semula. Lakukan terus selama lima belas menit. Ayah akan menghitung waktunya, dan menghitung berapa kali kamu memindahkan batu itu ke tempatnya semula.", pinta ayah.


Aku mengkerutkan kening. Meski aku tidak tahu apa maksud ayah, tapi aku menuruti apa yang ayah mau.


"Baiklah yah... Akan Aa coba...", jawabku mantap.


Aku berdiri dan membalik badan. Dari sudut mata, aku melihat ayah melihat pada jam tangan yang ada di lengan kirinya. Mungkin ayah sedang mengatur waktu menggunakan stopwatch.


"Mulai...!", ucap ayah.


Aku segera berjalan cepat ke arah batu yang diminta ayah. Mengangkatnya, lalu memindahkannya ke dekat tenda.


"Satu...", ucap ayah.


Setelah itu, mengangkatnya kembali, lalu memindahkannya ke tempat semula.


"Dua...", ucap ayah.


Ayah menghitung 'satu' saat aku mengangkat batu dan memindahkannya ke dekat tenda. Lalu menghitung 'dua' saat aku mengangkat batu dan mengembalikannya ke tempat semula.


Kemudian aku mengangkatnya lagi, memindahkannya ke dekat tenda. Mengangkatnya kembali, lalu memindahkannya ke tempat semula. Terus saja seperti itu. Aku tidak tahu sudah berapa lama, yang aku dengar hanyalah hitungan ayah.


"Dua puluh lima... Lumayan...!", ucap ayah dengan bersemangat.


Keringatku sudah bercucuran. Bajuku juga sudah basah oleh keringat. Nafasku juga mulai agak tersengal-sengal.


"Cukup...! Sudah lima belas menit...", lanjut ayah.


"Uuuh... akhirnya selesai juga...", gumamku dalam hati.


Aku langsung duduk, meluruskan kaki, dan berbaring di tanah dengan terlentang. Mataku terpejam dengan tangan terentang. Aku istirahat sambil mengatur nafasku. Perlahan, aku mulai mengatur irama nafasku, mencoba untuk menormalkan kembali. Menyentuhkan ujung jari tengah dan jari telunjuk untuk merasakan detak nadi di tubuhku. Setelah beberapa tarikan nafas, aku merasakan nadiku mulai berangsur normal. Nafasku juga sudah tidak tersengal-sengal seperti tadi. Aku mengangkat tubuhku dan duduk, masih dengan kaki lurus.


"Bagaimana rasanya?", tanya ayah sambil tersenyum.


"Lumayan yah...", jawabku. sambil menyeka keringat di dahi menggunakan lengan kananku.


"Dua puluh lima kali mengangkat batu seberat kira-kira sepuluh kilogram selama lima belas menit dengan lama waktu perjalanan sekitar dua puluh detik, itu sudah cukup bagus.", puji ayah.


"Terima kasih yah. Tapi, maksudnya latihan tadi apa ya yah?", tanyaku penasaran.


"Nak, pada saat kamu melakukan olah nafas pengolahan di tingkat dasar, lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah sembilan ratus delapan puluh detik atau sekitar enam belas menit. Pada saat itu tubuhmu akan menahan beban total seberat kurang lebih lima puluh kilogram yang di dapat dari beban olah nafas yang kamu gunakan. Dalam setengah tahun, setidaknya kamu sudah melakukan empat puluh delapan kali nafas pengolahan. Kalau setiap kali melakukan olah nafas pengolahan tingkat dasar ini terjadi kondisi dimana tubuhmu menahan beban total kurang lebih lima puluh kilogram, maka dalam waktu enam bulan, total beban yang tubuhmu terima adalah seribu dua ratus kilogram atau satu ton lebih!", jawab ayah.


Eh, aku terkejut dengan penjelasan ayah.


"Jadi, seharusnya batu seberat sepuluh kilogram itu bukan masalah besar bagi daya tahan otot di tubuhmu bukan?", lanjut ayah sambil tersenyum.


"Sekarang, coba kamu rasakan tubuhmu sendiri. Apakah sudah terasa lemas atau tidak?", tanya ayah.


Penasaran dengan ucapan ayah, aku berdiri, lalu mengepalkan kedua tanganku dengan keras. Mencoba memukul pada udara kosong perlahan. Menghirup nafas perlahan, mengulanginya lagi, lalu kembali merasakan tubuhku.


"Oh, benar juga ya...", gumamku dalam hati.


"I... iy... iya yah. Kok badan Aa rasanya masih segar yah... Tadi memang nafas agak tersengal, tapi tidak lama. Setelah mengatur irama nafas, Aa sudah pulih lagi. Kok bisa ya yah?", jawabku dengan heran.


"Hehehe, tentu saja nak. Begitulah manfaat yang didapat dari latihan olah nafas ini. Itu baru latihan olah nafas untuk tingkat dasar. Kalau tingkat balik, tidak kurang dari lima hingga sepuluh ton tubuhmu akan beradaptasi terhadap beban. Pada tingkat kombinasi lebih ekstrem lagi, yakni tidak kurang dari dua puluh ton otot tubuhmu beradaptasi dengan tekanan.


Nah, kamu bisa bayangkan, kalau kamu rutin melatih olah nafas pengolahan seperti ini, bukankah tubuhmu menjadi sangat luar biasa? Kamu ingin belajar apa saja juga jadi lebih mudah. Karena cadangan tenaga di tubuhmu sangat lebih dari cukup. Daya tahan ototmu menjadi sangat prima.", ucap ayah.


Aku tertegun dengan penjelasan ayah. Memang benar, kalau semua ini dilakukan dengan baik, tentu hasilnya akan sangat maksimal.


"Jadi, apabila ada truk bermuatan batu dengan berat total empat ratus kilogram, maka seorang yang rutin melatih olah nafas pengolahan level kombinasi awal harus bisa memindahkannya sendirian dalam waktu lima belas menitan saja. Dan apabila ada sebuah truk bermuatan batu dengan berat total satu ton, maka seorang yang rutin melatih olah nafas pengolahan levek kombinasi akhir harus bisa memindahkannya sendirian dalam waktu kurang lebih tiga puluh menitan saja.


Kenapa? Karena tubuhnya terbiasa terlatih untuk menahan beban seberat hampir empat ratus kilogram dalam waktu lima belas menitan saja.


Hal ini dikarenakan karena memang jumlah pelatihan olah nafas pada tingkat yang lebih tinggi akan meningkat pada repetisi dan jumlahnya sehingga jumlah berat beban yang diterima tubuh juga menjadi lebih extreem.", lanjut ayah.


"He... hebat yah...!", ucapku spontan. Rasanya adrenalin di tubuh ini meningkat mendengar penjelasan ayah. Seluruh sel-sel darahku serasa bergolak.


Aku melihat ayah menghela nafas.


"Masalahnya adalah, sedikit sekali mereka yang mau melewati tahap latihan ini. Kebanyakan sudah menganggap berat pelatihan olah nafas seperti ini. Hingga akhirnya, tujuan utama terbentuknya tenaga tidak tercapai. Tentu saja hal ini akan menurunkan standar kualitas keilmuan itu sendiri", ucap ayah sambil tersenyum hambar.


Aku mengangguk. Memahami sepenuhnya ucapan ayah.


"Aa akan mengingatnya yah... Dan akan rajin melatihnya...!", jawabku bersemangat.


"Harus nak! Janganlah kamu sia-siakan manfaat nyata dari latihan olah nafas jenis ini nak.", lanjut ayah. Pandangannya menatap ke arahku.


Aku mengangguk mantap sekali lagi.


"Sekedar tambahan saja, bahwa di dalam standar sport modern saat ini, ada yang disebut dengan latihan Isometric Exercize, Dynamic Tension Exercise, Plyometric Exercize, juga ada Altitude Training Exercise. Pahami juga mengenai ini nak. Setidaknya berguna untuk tambahan pengetahuanmu dan menguatkan apa yang kamu latih. Lebih jauh lagi, ia bisa membuka cakrawala baru berpikirmu dalam menganalisa keilmuan silatmu ini.", ucap ayah.


"Oh, itu apa yah?", tanyaku penasaran. Ini pengetahuan baru bagiku.


"Itu adalah istilah-istilah pada pelatihan sport modern yang merupakan hasil penelitian dari suatu diskursus keilmuan modern yang sudah teruji baik pada konsep, hasil, maupun proses. Disadari benar bahwa pasti ada keterkaitan antara diskursus keilmuan modern tersebut dengan beladiri. Perjalanan panjang dari beladiri, meski tanpa embel-embel ilmiah, disadari atau tidak dan diakui atau tidak ternyata banyak diadopsi sebagai pengetahuan dasar dalam membentuk keilmuan modern di dalam sports. Sehingga memahami karakteristik sebagian unsurnya akan bisa membuka jalan pengetahuan baru yang bisa saja buntu.


Bahwa disadari atau tidak, tak pernah ada keilmuan di dunia ini yang sempurna. Kesempurnaan adalah mutlak milik Allah. Meski demikian, kita tidak perlu menutup diri terhadap pengetahuan luar yang dirasa bisa menjadi pelengkap pengetahuan beladiri yang kita geluti. Sebab pada intinya, pengetahuan itu seperti puzzle. Terkadang, salah satu potongannya berada pada pengetahuan pada disiplin ilmu lain sehingga ketika dirangkai utuh, maka wujud dari puzzle tersebut akan terlihat nyata.", jawab ayah.


"Untuk menguasai suatu seni, seperti misalnya seni beladiri, tentunya olah rasa yg paling berperan utama. Tetapi setelah kita menguasai seni tersebut, kita tetap bisa menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan modern, seperti Physiology, untuk memahami bagaimana mekanisme bekerjanya. Misalnya untuk memahami bagaimana sistem motorik, otot, dan sistem syaraf tubuh bekerja pada saat melakukan suatu gerakan atau jurus tertentu. Physiology modern bisa sangat membantu dalam hal ini.


Dari pemahaman sistem motorik dan sistem syaraf tubuh ini para ahli Physiologi Exercise merancang suatu metode latihan modern. Beberapa metode latihan beladiri tradisional juga mulai banyak diteliti Ahli Physiology Exercise misalnya dalam metode latihan moderna. Latihan seperti Nafas 'TO' atau 'tenaga otomatis' dikenal dgn Dynamic Tension, latihan statis seperti nafas pengolahan dikenal dengan Isometric Exercise, sedang untuk mendapatkan explosive power dikenal Plyometric Exercise. Metode Latihan modern ini sangat terukur sifatnya


Praktisi beladiri itu seperti pembalap, di sirkuit ketika sedang balapan atau latihan balapan ya tidak perlu memusingkan mekanisme cara kerja mobil. Tetapi jika sedang tidak balapan ya tidak ada salahnya belajar jadi montir supaya tahu sedikit bagaimana cara kerja mobil. Keahlian balap memang tidak bisa diukur secara matematis tetapi kekuatan mesin mobil tetap masih bisa diukur secara matematis. Iya khan?", ucap ayah sambil bertanya. Tampaknya ayah ingin menguji logikaku.


Aku mengangguk dengan wajah heran. Memahami ucapan ayah. Meskipun ada beberapa hal yang aku tidak mengerti.


"Hahaha. Sudahlah... nanti kita bahas lagi dengan detail mengenai istilah-istilah tadi. Ayo, lebih baik kita latihan saja. Agar tubuh dan rasa-mu bisa lebih baik. Sebab, nanti malam, kita akan masuk pada dasar-dasar getaran...", lanjut ayah sambil tertawa.


"Siap...!", jawabku dengan mantap.





(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

ogebang

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 28
  • Posts: 131
  • Reputation: 48
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: PPS Betako Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #55 on: 04/10/2011 07:59 »
@Toyosu
Saya gak tau..Mas...nafas/bentuk2 yg anda sebutkan tsb ( Handayani , dsb )...Mungkin kalo dikasih liat bentuknya..saya bisa tahu..kadang2 saya tau banyak bentuk2 Nafas tapi gak tau atau lupa namanya...Tapi feeling saya itu bagian dari Bentuk2 Nafas Pembinaan level Kombinasi 1 yg memang beraneka ragam bentuknya...
Kalo sudah mahir..bahkan gak perlu dipancing2 lagi getarannya pake nafas A atau B...cukup dgn niat saja..maka automatically akan keluar sendiri...
Concerning Garuda...iya..melakukannya dgn 50x Nafas...Manfatnya banyak..salah satunya penebalan Pagar Badan ke Level yg lebih extreem dimana tubuh kita tidak akan tersentuh  serangan dlm perkelahian bebas/senjata tajam maupun timpukan batu.Hasil Mersudi yg diinspirasikan dari Diskusi Keilmuan dgn Murid2 saya sendiri yg saat itu mereka baru dasar 2 loo....hehehe...
Jangan pernah mengaggap remeh murid2 kita..karena diam2 mereka juga nyoba2 sendiri...hehehe...
@mpcrb
Bukan itu..Bro...kalo yg itu buat pemaksimalan pukulan jarak pendek khan..dimana kita tidak perlu lagi mukul sasaran/musuh dgn ancang2 atau dgn sikap siaga...bahkan extremnya..angin pukulannyapun sdh bisa merontokkan lawan....
Sayang..aku malas ngelatihnya...ngeriii..Bro...hehehe...
Sebetulnya Mersudi 1 bentuk Nafas Garuda aja udah banyak yg bisa didapatkan..Ada Garuda Kop Stand..Ada Garuda Gantung...Garuda Melayang...dsb...belum bentuk2 Nafas2 lainnya...
Makanya aku suka heran kalo ada yg mau cepat2 naik ke khusus 2 keatas....aku hampir 20 thn di Khusus 1 aja perasaan belum semua Ilmu2 Khusus 1 berhasil aku buka Rahasia Mersudinya....hehehe...
Salaam..lanjutkan..Cersilnya..Bro...sakaw ne...hehehe...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #56 on: 05/10/2011 20:47 »
Sudah terbit "Buku Kesatu" dan "Buku Kedua" serial cerita silat "Tembang Tanpa Syair" untuk dapat dinikmati offline pada hp atau gadget lain yang mendukungnya.

Alhamdulillah dapat bantuan ilustrator dari salah seorang teman yang tertarik dengan cersil ini. Jadi, sepertinya di buku ketiga nanti cover depan akan berubah menjadi lebih baik dan akan ada tambahan ilustrasi bergambar pada tiap bab (belum semua).

Silahkan dinikmati... :)

https://skydrive.live.com/?cid=12ea94da72decb15&id=12EA94DA72DECB15%21127


Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

luri

  • Administrator
  • Pendekar Muda
  • *****
  • Thank You
  • -Given: 138
  • -Receive: 39
  • Posts: 710
  • Reputation: 215
  • Perguruan: -
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #57 on: 05/10/2011 21:49 »
jempol dahh..
 [top]

jadi inget,
dulu pernah mbuat ginian
http://silatindonesia.com/bukusaku/contoh/

-- buat balik halaman, klik+drag kanan bawah --

Toyosu

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 0
  • Posts: 35
  • Reputation: 17
  • Sahabat Silat
  • Perguruan: MP
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #58 on: 05/10/2011 22:40 »
@Mas Ogebang

Terima kasih sharing info2nya. Digabung penjelasannya mas Mpcrb kayaknya saya paham deh.

@Mas Mprcrb

Ditunggu terus lanjutan ceritanya. Oh iya, gak boleh2 cepet2 selesai lho yaaa... 
Si Aa harus sampai sakti mandraguna. Hahaha.

@Toyosu
Saya gak tau..Mas...nafas/bentuk2 yg anda sebutkan tsb ( Handayani , dsb )...Mungkin kalo dikasih liat bentuknya..saya bisa tahu..kadang2 saya tau banyak bentuk2 Nafas tapi gak tau atau lupa namanya...Tapi feeling saya itu bagian dari Bentuk2 Nafas Pembinaan level Kombinasi 1 yg memang beraneka ragam bentuknya...
Kalo sudah mahir..bahkan gak perlu dipancing2 lagi getarannya pake nafas A atau B...cukup dgn niat saja..maka automatically akan keluar sendiri...
Concerning Garuda...iya..melakukannya dgn 50x Nafas...Manfatnya banyak..salah satunya penebalan Pagar Badan ke Level yg lebih extreem dimana tubuh kita tidak akan tersentuh  serangan dlm perkelahian bebas/senjata tajam maupun timpukan batu.Hasil Mersudi yg diinspirasikan dari Diskusi Keilmuan dgn Murid2 saya sendiri yg saat itu mereka baru dasar 2 loo....hehehe...
Jangan pernah mengaggap remeh murid2 kita..karena diam2 mereka juga nyoba2 sendiri...hehehe...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Tembang Tanpa Syair
« Reply #59 on: 14/10/2011 00:57 »
Tembang Tanpa Syair - Bagian 25

Jangan Ikat Pikiranmu


Malam ini aku dan ayah duduk berdua di depan sebuah api unggun yang sedang menyala. Api unggun yang dibuat dengan mengumpulkan ranting-ranting kayu yang berserakan di sekitar tenda kami. Api itu tidak terlalu besar. Sekedarnya saja. Tapi cukup bisa menerangi dan memberikan kehangatan. Aku sebenarnya membawa lampu halogen yang menggunakan baterai. Saat akan kunyalakan, ayah memberiku isyarat untuk jangan menyalakan dulu. Ayah memintaku untuk mengumpulkan ranting kayu yang berserakan, lalu membuat api unggun. Ada sesuatu yang ingin ayah jelaskan mengenainya.

Suasana hening. Hanya terdengar suara gemericik air sungai, serta hewan-hewan malam yang sesekali berbunyi. Angin berhembus perlahan, beberapa saat malah seperti terdiam.

"Kita mulai nak...", ucap ayah membuka percakapan.

"Sebelum masuk pada dasar-dasar getaran, kamu harus memahami dulu bahwa ilmu getaran ini sebenarnya merupakan ilmu yang diberikan pada tingkat lanjutan. Akan tetapi kemudian dipecah menjadi dua, yakni getaran tingkat dasar dan getaran tingkat lanjut. Getaran tingkat dasar terdiri dari lima tahap. Tahap awal adalah tahap interaksi dengan alam semesta tingkat awal. Tahap kedua adalah pengenalan hawa panas tingkat awal. Tahap ketiga adalah getaran pribadi tingkat awal. Tahap keempat adalah getaran alam tingkat awal. Dan terakhir, tahap kelima adalah getaran untuk tutup mata tingkat awal. Semua berada pada tataran awal.", lanjut ayah.

Aku mengangguk. Mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan ayah.

"Sejauh ini, kamu sudah belajar getaran tingkat dasar sebelumnya. Kamu juga sudah masuk pada tahap kelima, yakni tahap getaran untuk tutup mata. Meski demikian, tentunya ada banyak pertanyaan pada benakmu mengapa keilmuan silat ini bisa seperti ini, bukan?", tanya ayah sambil tersenyum.

"Iya yah... dulu Aa pernah bertanya sama ayah, tapi ayah bilang penjelasannya nanti saja.", jawabku.

"Benar nak. Saat itu, usiamu masih sepuluh tahunan. Tentunya akan cukup menyulitkan bagi ayah untuk memberimu penjelasan yang cukup. Hari ini, ayah merasa usiamu sudah cukup untuk mengetahui lebih baik mengenai ini. Apalagi, kamu sudah pernah menggunakannya dan merasakan manfaatnya dalam kehidupanmu.", ucap ayah.

Aku kembali mengangguk. Benar sekali. Aku merasakan manfaat dari latihan olah nafas yang ayah ajarkan selama ini. Aku juga merasakan manfaat dari getaran untuk tutup mata saat pertama kali berkelahi dimana mataku terkena pasir sehingga tidak bisa melihat. Pada perkelahian kedua, aku juga merasakan manfaat dari getaran deteksi untuk mengetahui 'niat' lawan yang akan menyerangku. Tapi, apakah hanya sampai disitu manfaatnya? Aku sering bertanya-tanya dalam hati.

Aku melihat ayah berdiri.

"Ayo ikut ayah...", ucap ayah sambil berjalan ke belakang tenda.

Aku menurut. Aku berdiri dan mengikuti ayah.

Kami berhenti beberapa meter di belakang tenda. Pancaran cahaya api unggun membantu menyinari belakang tenda sehingga suasananya cukup terlihat. Disitu ada sebuah ceruk yang tidak terlalu dalam. Lebarnya sekitar dua meter. Di dalamnya terdapat beberapa dedaunan, ranting-ranting pohon yang sudah lapuk. Aku dan ayah berdiri tepat di dekat ceruk tersebut.

"Lompatilah ceruk itu...", pinta ayah sambil telunjuk tangan kanannya mengarah pada ceruk di depanku.

Aku mengangguk dengan mantap.

"Baiklah yah... Itu mudah!", jawabku dengan yakni.

Aku mundur satu langkah, lalu segera mengambil ancang-ancang untuk melompat.

HUP!

TAPP!

Aku mendarat dengan mantap di seberang ceruk. Tanpa membalik badan, tangan kananku diangkat dengan mengepalkan tangan tapi ibu jariku berdiri. Ini seperti isyarat "jempol" atas suatu keberhasilan. Setelah itu aku membalikkan badan dan tersenyum.

Aku melihat ayah tersenyum.

"Bagus... sekarang ayo ikuti ayah lagi...", ucap ayah.

Ayah lalu berjalan menjauh dari tenda. Aku mengikuti dari belakang. Ayah berjalan menuju belakang bukit kecil di belakang tenda. Melewati jalan setapak. Kira-kira sekitar lima puluh meteran barulah kami melewati bukit kecil tadi. Suasana disekitar hanya diterangi oleh cahaya rembulan saja. Meskipun tidak terlalu terang, tapi mataku cukup bisa melihat sekitar. Aku mengikuti ayah yang masih tetap berjalan.

Tidak berapa lama, ayah berhenti. Lalu menunjuk ke depan.

Aku memandang pada arah yang ditunjuk oleh ayah. Eh, rupanya dibalik bukit kecil itu ada tebing lain. Dipisahkan oleh ceruk yang jauh lebih dalam. Lebar ceruk itu hampir sama dengan ceruk yang tadi berada di belakang tenda. Bedanya, ceruk ini cukup dalam dan dibawahnya ada sungai mengalir. Rupanya, tempat kami berkemah itu berada di ketinggian, dan dekat sekali dengan tebing.

"Coba kamu lompati ceruk itu hingga sampai ke seberang bukit...", ucap ayah.

"Eh.. anu... yah... itu... itu...", jawabku agak gugup.

Jujur saja, aku agak bimbang. Sebab kalau salah sedikit saja, maka aku akan terjatuh ke dalam ceruk. Meskipun di bawahnya terlihat ada aliran sungai, tapi aku tidak tahu apakah sungai itu dalam atau tidak. Kalau hanya air sungai mungkin aku masih berani, tapi aku khawatir ada batu-batu sungai. Bisa gawat.

Ayah tampaknya melihat keraguanku.

"Kenapa? Kok jadi bimbang? Tadi khan lancar. Toh lebarnya sama dengan ceruk yang tadi.", lanjut ayah.

Merasa tertantang, aku berinisiatif untuk mencobanya.

"Baiklah yah... Aa coba...", jawabku setengah yakin.

Aku mengambil ancang-ancang, lalu bersiap untuk melompati ceruk itu. Tepat sebelum sampai pada bibir ceruk, aku terhenti. Aku tiba-tiba jatuh terduduk. Detak jantungku tidak karuan. Nafasku sedikit memburu. Keringat dingin membasahi dahiku.

Beberapa saat kemudian suasana hening.

"Kenapa berhenti?", tanya ayah.

"Anu... yah, ini berbeda dengan melompati ceruk di belakang tenda itu. Kalau sampe gagal, Aa bisa mati yah karena terjatuh...", jawabku dengan sedikit gugup.

"Ya sudahlah... ayo kita kembali ke tenda lagi...", ucap ayah.

Aku melihat ayah membalikkan badan, lalu berjalan perlahan menyusuri jalan yang kami gunakan sebelumnya. Aku bergegas mengikuti ayah dari belakang.

Tidak berapa lama, kami kembali ke tempat semula.

Aku berdiri di dekat api unggun. Sedangkan ayah terus berjalan menuju tenda, masuk sebentar, lalu terlihat mengambil sesuatu, dan kemudian keluar. Aku melihat di tangan ayah sudah ada sebilah pedang kayu.

"Ayo kita berlatih. Ayah menggunakan pedang kayu ini, sedangkan Aa menggunakan tangan kosong. Gunakan nalurimu untuk menghindar. Ayah hanya akan menyerangmu dengan tiga kali serangan saja.", ucap ayah.

Aku mengangguk.

Aku dan ayah berdiri berhadapan kira-kira dua meter.

"Bersiaplah...!", ucap ayah.

Aku mengambil sikap pasang, lalu bersiap menerima serangan ayah.

Ayah mulai menyerang dengan menyabetkan pedang kayu itu ke tubuhku dari arah kiri. Aku langsung melangkah mundur dengan cepat. Tebasan itu lewat di depanku dan tidak mengenaiku. Merasa serangannya tidak mengena, ayah kemudian segera mengganti gerakan. Tangan kanannya yang masih menebas tiba-tiba ditarik kesamping pinggang, lalu pedang kayu itu segera ditusukkan ke dadaku sambil melangkah maju.

Aku bergegas menggeser tubuhku dengan gerak langkah mundur kesamping diikuti dengan mundur simpir setengah langkah. Tubuhku kini menjauh, dan berada cukup jauh dari jangkauan pedang kayu ayah.

Merasa serangannya kembali gagal, ayah kemudian merangsek kearahku dengan cepat sambil menebaskan pedang kayunya dengan lintasan diagonal dari kanan ke kiri. Aku segera memutar tubuh dengan cepat menggunakan gerak langkah srimpet sehingga tebasan diagonal itu hanya mengenai ruang kosong.

Tiga serangan pedang kayu ayah sudah berhasil aku hindari.

"Bagus...!", ucap ayah.

Ayah kemudian menghentikan serangan dan tersenyum.

"Bagaimana jika menggunakan ini...", lanjut ayah.

Aku melihat ayah menarik gagang pedang kayu itu. Eh, seperti ada kilauan cahaya dari dalam pedang kayu itu. Ah, tidak, itu bukan cahaya, tapi itu pantulan dari logam. Aku kaget. Rupanya di dalam pedang kayu itu tersimpan pedang sungguhan! Itu pedang tajam!

Tanpa menunggu hilangnya rasa kagetku, ayah langsung menyerangku dengan pedang tajamnya. Ayah menyerang dengan sangat serius. Ayah menebaskan pedang tajam itu ke tubuhku. Kilatan cahaya logam itu membelah udara di depanku. Dengan rasa was-was aku mundur sambil bergulingan. Lalu berdiri lagi. Tidak menunggu aku siap, ayah langsung menyerangku dengan tusukan yang sama seperti tadi. Aku panik, dan menghindar asal saja. Yang penting keluar dari jangkauan. Aku benar kocar-kacir dibuatnya. Bahkan sampai hampir lari.

"Kenapa lari? Apakah gerakan dan kecepatannya berbeda dengan pedang kayu tadi?!!", ucap ayah.

Dheg!

Eh, benar saja. Gerakan ayah sama. Tebasan dari kiri ke kanan, setelah itu dilanjutkan dengan tusukan, dan diakhiri dengan tebasan diagonal dari kanan ke kiri. Semua sama, baik kecepatannya maupun arah lintasannya. Yang berbeda hanyalah penggunaan pedang tajam saja. Tapi mengapa aku menjadi kocar-kacir dibuatnya. Aku hanya berpikir seandainya aku tertebas pedang tajam itu, maka bisa sangat berbahaya. Lukanya akan fatal. Aku hanya berpikir, seandainya tertusuk pedang tajam itu, aku bahkan bisa mati!

Aku berdiri terdiam. Berpikir.

"Ah... ini... ini...", jawabku terbata-bata.

Rasanya aku menemukan sesuatu.

Aku melihat ayah tersenyum.

"Cukup... ayo kita istirahat dulu.", lanjut ayah.

Ayah kembali menyarungkan pedang tajam itu ke dalam kerangka kayu. Membalik badan, lalu berjalan kembali menuju api unggun. Aku mengikuti ayah dari belakang. Dan duduk di dekat ayah.

"Bagaimana? Sudah menemukan sesuatu?", tanya ayah sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

"Iya... yah... Ternyata, semua itu hanya ada di pikiran saja yah...", jawabku lirih.

Aku menunduk.

"Benar nak. Semua itu hanya ada di pikiran saja. Ketika pikiran terikat kepada tajamnya pedang sungguhan, maka semua akan menjadi tampak berbeda dengan pedang kayu. Ketika pikiran terikat kepada ceruk yang dalam, maka semua akan menjadi tampak berbeda dengan sebelumnya.", ucap ayah.

"Keterikatan pikiranmu itulah sumber masalahnya. Kamu masih terpaku pada kesadaran inderawi dan kesadaran rasional. Untuk bisa masuk pada latihan getaran yang lebih baik, maka lepaskan keterikatan pikirannmu. Lewatilah ambang batas kesadaran rasionalmu...", lanjut ayah.

Aku masih menunduk. Aku merenungkan setiap ucapan ayah. Benar-benar mengena sekali.

Suasana kembali menjadi hening.

"Bagaimana caranya untuk melewati semua itu yah?", tanyaku memecah keheningan.

Aku memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Aku melihat ayah menatapku.

"Kuncinya ada pada niat... Latihan getaran yang sesungguhnya harus dimulai dengan niat. Niat yang bersih.", jawab ayah.

Ucapan singkat itu rasanya seperti menembus ke jiwaku. Membuat tubuh ini menjadi bergetar. Aku terdiam, mencoba menenangkan jiwaku yang bergetar.

Suasana kembali hening.

"Kenapa yah?", tanyaku kembali.

"Karena keilmuan ini akan bersinggungan dengan alam semesta. Bersinggungan dengan semua entitas yang ada di dalamnya. Baik yang nyata maupun yang maya. Baik yang terlihat mata maupun yang tidak terlihat. Baik yang bisa diraba maupun yang hanya bisa dirasa. Latihan getaran yang sesungguhnya dimulai dari kebersihan niat.

Melepas keterikatan bukanlah kehilangan kesadaran. Melepas keterikatan bukanlah hilang kesadaran hingga masuk pada kondisi trance atau kesurupan. Tidak sama sekali.

Bersihnya niat akan melepas ikatan pikiranmu dan membuat 'pintu' lain menjadi terbuka.

Ilmu getaran akan mengangkat dibawah sadar menjadi sadar, sekaligus menajamkan mata hati.

Dan mati hati, sesungguhnya tidak akan terbuka jika kamu masih ada keterikatan. Ia masih akan terhalang. Maka halangan itu harus kamu lewati.", jawab ayah.

Aku mengangguk. Aku mulai bisa memahami maksud ayah.

"Aa mulai paham yah...", jawabku.

"Bagus... ayo kita mulai...", ucap ayah.




(bersambung)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal