+-

Video Silat

Shoutbox

23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Wi Psice  (Read 7081 times)

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Wi Psice
« on: 21/09/2008 08:00 »
Inilah akibatnya kalau i'tikaf sambil bawa laptop atau buku catatan ::) Kadang-kadang ceritanya terlalu mendesak-desak untuk dituangkan... maklum tukang ngelamun....

kali ini ceritanya saya taruh di forum ini saja ya? Mohon maaf kalau rada aneh...

Insya Allah bisa saya tuang di sini sampai tamat, tapi harap bersabar... maklum tukang cerita amatir...

... dan percaya deh... ini bener cerita silat  :P
« Last Edit: 21/09/2008 08:07 by Antara »
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Wi Psice
« Reply #1 on: 21/09/2008 08:06 »
Wi Psice

“Masuklah, Tashunka Witko.”

Sosok yang berdiri di luar tenda terdiam sejenak. “Kau selalu penuh kebijaksanaan, wahai Wi Psice yang agung,” ujarnya beberapa saat kemudian.

Wi Psice menggumam pelan, “Siapapun bisa merasakan kedatangan seorang prajurit besar seperti dirimu, saudaraku. Masuklah.”

Kulit tebal yang menutupi pintu tenda disibak dari luar, Tashunka Witko menjulurkan kepalanya ke dalam. Ia ragu-ragu sebentar.

“Apakah kau sedang berbicara dengan Wakan Tanka? Aku tidak ingin mengganggu.”

Wi Psice menggeleng. Dia tidak pernah berbicara dengan dewa manapun sepanjang hidupnya, bahkan dia ragu apakah masih tersisa kepercayaan tentang dewa dalam hatinya. Namun para Indian Lakota Oglala ini menghormatinya sebagai seorang Wicasa Wakan, seorang suci yang berbicara dengan para dewa, dan selama hal itu bisa memberinya tempat tinggal di antara mereka, Wi Psice tidak keberatan.

"Jadi," Wi Psice menyilakan Tashunka Witko duduk. "Sudah berapa kepala suku yang tiba?"

"Sudah semuanya," Tashunka Witko menjawab pelan. "Semua bersenjata dan siap berperang. Padahal Tarian Matahari belum lagi diputuskan."

Wi Psice mengamati wajah kepala suku yang duduk di depannya. Raut muka Tashunka Witko sama sekali tidak menunjukkan perasaan apapun seolah-olah wajah itu dipahat di atas batu cadas yang paling keras. Bibirnya yang tegas menunjukkan keteguhan hati yang lazim ditemui di kalangan Indian Prairie seusianya. Namun Wi Psice dapat melihat kerisauan di mata Tashunka Witko.

Musim panas ini sudah tahun kelima sejak Wi Psice tinggal bersama suku Lakota Oglala. Sejak pertama kali dia bergabung dengan kelompok Indian padang rumput ini, ia sudah mengalami empat Tarian Matahari yang semuanya menjadi pengalaman yang mencerahkan. Entah siapa yang pertama memulai tradisi ini ratusan tahun lalu, Wi Psice selalu terkagum-kagum saat keluarga besar suku Lakota, Sioux, Cheyenne dan lain-lain berkumpul di satu lokasi  guna berbagi kebersamaan.

Namun Tarian Matahari kali ini dibayang-bayangi awan suram. Sejak persekutuan yang dibangun oleh Suku Lakota dan Cheyenne di pegelaran Tarian Matahari tahun lalu, banyak orang-orang Indian melarikan diri dari reservasi kaum kulit putih untuk bergabung kembali dengan suku-suku mereka. Tentu saja, meskipun disebut sebagai gerakan melestarikan kaum Indian, reservasi Indian sesungguhnya adalah penjara besar yang dirancang kaum kulit putih untuk mengisolasi orang Indian dari tanah leluhur mereka.

Pelarian besar-besaran ini membuat pihak pemerintah kulit putih menjadi gelisah. Menurut kabar yang sampai ke telinga para kepala suku, tiga divisi kavaleri dari Fort Ellis, Fort Fetterman dan Fort Abraham Lincoln telah meninggalkan benteng mereka masing-masing menuju pedalaman.

"Menurutmu kita masih bisa menghindari perang?" Wi Psice memecahkan keheningan.

"Kebencian memuncak di kedua belah pihak, ya Wi Psice," Tashunka Witko menggeleng pelan. Raut mukanya masih tidak berubah. "Kebencian menutupi hati seperti awan menutupi sinar matahari."

Wi Psice tersenyum. Kepala suku sahabatnya ini di kalangan kulit putih dikenal dengan sebutan "Si Kuda Gila", jelas bahwa orang kulit putih tidak mengenal prajurit tua ini dengan baik. Wi Psice menghormati kebijaksanaan Tashunka Witko.

"Itulah sebabnya Manitou menumbuhkan rambut putih di kepala para orang tua, saudaraku," Wi Psice melambai halus ke arah kepala Tashunka Witko."Agar mereka dihormati dan didengarkan oleh kaum muda karena kebijaksanaannya."

Tashunka Witko memandangi Wi Psice. Hanya sinar matanya yang menunjukkan bahwa dia sedang tersenyum. Raut mukanya tetap getas.

"Bicaralah di Tarian Matahari, saudaraku," lanjut Wi Psice. "Engkau bisa mempengaruhi kepala suku lain untuk menghentikan perang."

Tashunka Witko menggeleng. "Bukan aku, saudaraku. Kita butuh lebih dari sekedar kata-kata bijaksana."

Wi Psice mengeluh dalam hati. Dia bisa menebak maksud Tashunka Witko.

"Kita butuh kata-kata dari Manitou yang Agung sendiri," Tashunka Witko melanjutkan. "Hanya perintah dari Roh Agung yang bisa menundukkan kekerasan hati para kepala suku."

Wi Psice memandang ke atas. Sinar matahari musim panas menembus masuk melalui celah di puncak tendanya. Tengah hari sudah lewat.

"Kau ingin aku mengatakan di depan dewan bahwa Roh Agung tidak menginginkan perang?" Wi Psice kembali memandang Tashunka Witko. "Aku tidak ingin berbohong."

"Bukankah Roh Agung memang tidak pernah menginginkan perang?"

"Bukan kita yang menentukan kehedak Roh Agung, saudaraku. Kita hanya menerima ketentuannya."

Tashunka Witko tidak dapat membantah. Dia ingin mengatakan bahwa Roh Agung pasti menginginkan yang terbaik bagi putra-putranya di padang rumput besar, tapi dia menyadari bahwa saat ini dia sendiri tidak tahu apa yang terbaik bagi diri dan sukunya.

"Apakah Roh Agung memang menginginkan perang ini?" akhirnya Tashunka Witko bertanya.

"Aku tidak tahu, saudaraku," Wi Psice menggeleng pelan. "Aku tidak mendapat penglihatan apapun belakangan ini."

Wi Psice memejamkan mata. Masa lalunya yang ia rahasiakan dari para Lakota ini sudah terlalu penuh dengan pembunuhan, akankah ia menghadapinya lagi? Setelah selama ini ia mengira telah menemukan tempat di mana dia bisa melupakan masa lalunya, tinggal bersama dengan orang-orang yang hidup selaras dengan alam, akankah ketenangannya diusik lagi oleh pertumpahan darah?

Dibalik matanya yang tertutup Wi Psice bisa merasakan kalau Tashunka Witko perlahan-lahan menyelinap keluar dari tenda, nampaknya kepala suku itu tidak ingin mengganggu orang suci yang sedang bermeditasi. Geraknya begitu ringan dan tanpa suara, menandai keterampilan seorang pemburu tua yang sangat terlatih. Wi Psice sering mendengar cerita bahwa Tashunka Witko dapat mendekati seekor binatang buruan yang paling peka sekalipun tanpa terdengar, dan keterampilan ini tidak jarang ia terapkan pada penjarah-penjarah kulit putih yang lalai berkemah di wilayah kekuasaannya.

Wi Psice merapikan duduknya. Samar-samar ia menenggelamkan diri dalam kehangatan di dalam dadanya. Wi Psice merasakan seperti bayi sedang terbuai dalam dekapan ibunya, hangat dan menentramkan. Selang beberapa lama, kehangatan itu meluas dan meliputi seluruh ruangan di dalam tendanya, lalu meluas lagi melingkupi seluruh perkampungan. Wi Psice merasakan kehadiran anak-anak yang sedang berlarian, para wanita yang sedang menyamak kulit dan para laki-laki yang sibuk dengan pekerjaan kasar. Di salah satu sudut perkampungan Wi Psice bisa merasakan Tashunka Witko sedang menghembuskan asap dari calumet-nya, sebuah pipa tanah liat yang digunakan orang-orang Indian untuk menghisap tembakau. Ia melihat Tashunka Witko sangat menikmati asap itu.

Kehangatan itu meluas lagi meliputi padang rumput sejauh beberapa mil. Kali ini Wi Psice merasakan kehadiran kelinci-kelinci padang rumput, beberapa ekor ular, beberapa batang semak randu dan beberapa gugus pepohonan yang membentuk hutan kecil yang terpencar di padang rumput. Dia pun merasakan awan yang putih bergumpal di angkasa, beberapa diantaranya segera hilang tersaput angin.

Wi Psice menikmati keheningan alam padang rumput selama beberapa waktu, menikmati alam yang menjadi pelipur dan pelarian dari masa lalunya, sampai akhirnya ketenangan itu diganggu oleh seorang penunggang kuda yang berderap mendekat dari kejauhan. Dia adalah pengintai yang dikirim Tashunka Witko untuk mengamati keadaan, dari wajahnya tampak bahwa Indian muda ini membawa kabar yang sangat penting.

Wi Psice menggelengkan kepala. Beberapa hari sebelumnya ketika sedang menikmati penyatuan dengan alam seperti saat ini, ia mendapati gangguan dalam keheningan padang rumput. Menggunakan ketajaman hatinya, Wi Psice menemukan bahwa gangguan itu disebabkan oleh sekitar seribu orang pasukan berkuda kulit putih yang sedang bergerak menuju tempat orang-orang Indian berkemah. Saat itu mereka masih berjarak beberapa hari, tapi sekarang tentu mereka sudah masuk dalam wilayah pengamatan para pengintai suku Oglala.

Perang akan segera pecah.

Wi Psice menarik kesadarannya kembali. Kehangatan yang memenuhi padang rumput perlahan-lahan menyusut sampai akhirnya Wi Psice menemukan dirinya kembali terkurung di sesosok tubuh laki-laki setengah baya yang duduk di dalam sebuah tenda di perkemahan suku Oglala.

Wi Psice berdiam diri sebentar. Ia tahu bahwa tidak lama lagi seluruh sesepuh suku akan dipanggil untuk mengadakan rapat perang. Sebelum itu terjadi, Wi Psice ingin menyendiri dulu beberapa saat.

Saat itulah sebuah kesadaran dari jauh menjangkaunya, getaran yang berbicara dalam bahasa yang sudah lama tidak ia dengar atau ucapkan ... sebuah getaran yang berbisik halus dalam relung kesadarannya, ".... Aku datang...."
« Last Edit: 21/09/2008 08:09 by Antara »
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Pertempuran
« Reply #2 on: 22/09/2008 09:20 »
Pertempuran

Detasemen berkuda itu terdiri dari sekitar seratus dua puluh orang tentara, beberapa perwira dan dua atau tiga puluh orang Sioux sebagai penunjuk jalan. Wi Psice mengamati tanda pangkat di bahu para perwira dan menyimpulkan bahwa detasemen ini dipimpin oleh seorang mayor. Tampaknya mereka dipisahkan dari pasukan induk untuk menyerang dari sisi lain perkemahan, hal yang sudah diantisipasi oleh Wi Psice.

Membaca keadaan medan, sang mayor memerintahkan anak buahnya untuk turun dari kuda dan maju perlahan-lahan menyusuri sungai menuju perkemahan Indian dengan senapan teracung ke depan. Kuda-kuda dituntun di barisan belakang. Wi Psice sudah mengantisipasi ini pula, prosedur standar yang diajarkan kepada para calon perwira di West Point. Apabila terpaksa harus menghadapi jebakan oleh barisan senapan musuh, pasukan yang berjalan kaki dapat lebih cepat membentuk pertahanan dan lebih sulit dibidik ketimbang ketika mereka masih menunggang kuda.

Atas isyarat dari Tashunka Witko, sepasukan Indian mulai menembakkan senapan mereka dari arah perkemahan. Pasukan kulit putih segera berjongkok dan membalas tembakan.

"Pasukan induk mereka masih menunggu di bukit sebelah utara," ujar Tashunka Witko. "Yang ini mungkin hanya untuk mengukur kekuatan kita. Tatanka Iyotanka sendiri yang memimpin prajurit kita di utara."

Wi Psice mengangguk. Tatanka Iyotanka adalah seorang suci suku Lakota yang namanya sudah termashyur di seluruh padang rumput, kemampuannya membaca medan tidak perlu diragukan.

"Prajurit kita sudah tidak sabar, ya Wi Psice," Tashunka Witko melanjutkan. "Suruhlah prajurit berkuda kita menyerang."

Wi Psice mengangkat tangannya mendiamkan Tashunka Witko.

Pertukaran tembakan terus berlangsung. Dari pihak Indian jatuh satu korban sedangkan pihak kavaleri sama sekali tidak tersentuh oleh peluru pihak Indian. Pihak kavaleri rupanya masih berada di luar jangkauan senapan para Indian, tapi tidak demikian sebaliknya.

"Wi Psice?"

"Sekarang."

Sekali lagi Tashunka Witko memberi isyarat, kali ini sepasukan prajurit berkuda keluar dari perkemahan menyerbu pasukan kavaleri.

Tashunka Witko memperkirakan bahwa sebagian besar prajurit berkudanya akan jatuh tertembak sebelum sempat mencapai barisan kavaleri, namun ia terkejut ketika hanya beberapa orang yang jatuh dan pasukannya berhasil menabrak barisan kavaleri kulit putih dengan kekuatan penuh.

"Roh Agung membisikkan kebijaksanaan padamu, ya Wi Psice."

Wi Psice tidak menjawab. Ia mengetahui bahwa senapan Springfield yang digunakan oleh pasukan kavaleri memiliki jangkauan tembak yang lebih panjang dibanding senapan lain, namun senapan ini punya kecenderungan untuk macet setelah ditembakkan untuk waktu lama. Selongsong pelurunya yang terbuat dari tembaga akan memuai hingga terjepit di ruang tembak dan harus dikeluarkan secara paksa agar peluru berikutnya bisa diisi. Wi Psice hanya perlu menunggu sampai sebagian besar senapan itu tidak lagi menyalak.

Pasukan kavaleri mundur tercerai berai. Lima ratus prajurit berkuda terlalu banyak untuk dihadapi oleh seratus dua puluh orang saja. Mayat-mayat berseragam biru bergelimpangan di atas rumput.

"Kita sudah selesai di sini," Wi Psice berbalik dan melangkah kembali ke perkemahan. "Tinggalkan seratus orang prajurit untuk berjaga-jaga di dekat sungai, perintahkan selebihnya untuk bergabung dengan Tatanka Iyotanka. Pasukan utama kulit putih akan segera menyerang."

Tashunka Witko sebenarnya ingin mengakhiri pertempuran itu sampai ke orang terakhir, tapi ia memahami pikiran Wi Psice, dan orang suci itu sudah membuktikan kebenaran perhitungannya di pertempuran. Tashunka Witko memberi isyarat untuk mundur, meninggalkan sekitar tiga puluh kavaleri kulit putih yang berhasil mencapai perbukitan. Ia berjalan di samping Wi Psice.

"Kau sudah siapkan yang aku minta, saudaraku?"

Tashunka Witko mengangguk. "Tiga puluh prajurit pemberani sudah didandani dengan pakai putih dan genderang. Mereka akan berada di barisan paling depan."

Wi Psice berjalan terus dalam keheningan. Ia mengukur keadaan dalam hati. Koalisi suku Lakota dan Cheyenne berjumlah sekitar lima ribu orang dan mereka mengenal medan dengan baik. Di pihak pasukan kulit putih hanya ada sekitar seribu orang pasukan berkuda, namun mereka memiliki persenjataan lebih lengkap dan amunisi yang lebih banyak. Suku Indian harus mencari kesempatan untuk membenturkan jumlah mereka yang lebih banyak dan mengikat pasukan kulit putih dalam pertempuran jarak dekat.

Namun sesungguhnya ada satu hal yang lebih mengganggu pikiran Wi Psice. Seseorang diantara pasukan kulit putih.

Dua malam terakhir Wi Psice merasakan kehadiran orang tersebut didekatnya, seperti burung elang yang gelisah merasakan kedatangan badai.

Serangkaian tembakan terdengar di kejauhan. Pasukan induk kedua belah pihak telah mulai berbenturan.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Hari yang Berdarah
« Reply #3 on: 29/09/2008 05:52 »
Hari yang Berdarah

Wi Psice menghentikan langkahnya sejenak. Ia mendongakkan wajah menghirup udara malam. Di langit ribuan bintang berpendar menghiasi malam.

Pada malam-malam biasa Wi Psice dapat menikmati wangi rumput prairie yang menguar dibawa angin semilir, rasanya manis di hidung dan menyegarkan sampai ke paru-paru, tapi malam ini Wi Psice merasakan hal yang lain. Roh udara masih berkabung atas pertempuran tadi siang, hawa darah dan semburat ketakutan masih berdenyut-denyut di udara. Di malam seperti inilah orang-orang yang sedikit memiliki kepekaan kadang melihat wujud-wujud menakutkan atau suara-suara yang mendirikan bulu roma. Hantu-hantu penasaran sedang melangkah tertatih-tatih di permukaan bumi.

Wi Psice membiarkan udara malam meliputi dirinya. Ia tahu bahwa hantu-hantu itu adalah gema dari semua perasaan yang dilampiaskan pada pertempuran tadi siang, seluruh perasaan takut, amarah, kebencian, kesedihan, penyesalan, dan sakratul maut. Wi Psice merenungi seluruh perasaan itu sebentar, membiarkannya mengalir menggeliat di bawah kulitnya, lalu membiarkan mereka turun ke telapak kakinya masuk ke dalam tanah. Bumi yang tua ini adalah Ibu yang menyerap semua kesedihan manusia, ia menerima semuanya seperti layaknya seorang Ibu yang menyayangi anak-anaknya. Entah sudah berapa kali bumi melakukan hal itu sepanjang ribuan tahun sejarah manusia.

Wi Psice menghela nafas. Sekali lagi ia harus merasakan kegetiran akibat benturan dua kekuatan manusia. Kapan semua ini akan berakhir? 

Perlahan ia melanjutkan langkahnya menembus kegelapan malam. Perkemahan Indian sudah ia tinggalkan jauh di belakang.

Pertempuran tadi siang berjalan sesuai rencananya. Barisan terdepan pasukan kulit putih dikacaukan oleh serbuan prajurit indian berpakaian putih terang yang membuat suara segaduh mungkin. Kuda-kuda pasukan kavaleri melonjak-lonjak panik sehingga prajurit di atasnya mengalami kesulitan untuk membidik, peluru-peluru berdesing di atas kepala para Indian. Barisan Indian dengan mudah dapat membenturkan diri dengan barisan depan pasukan kavaleri tanpa korban yang berarti.

Berbeda dengan kuda yang dilatih di benteng-benteng pantai timur Amerika, apalagi dibandingkan dengan kuda impor dari Arab dan Andalusia yang memang termasyhur dalam medan pertempuran, kuda yang digunakan di pedalaman seringkali adalah hasil tangkapan sendiri yang dilatih seadanya. Pada umumnya kuda-kuda itu mudah menjadi ketakutan justru di saat yang genting. Bagaimanapun juga mereka adalah kuda liar yang terbiasa bebas dan sebisa mungkin hidup menghindari bahaya.

Karena barisan depan mengalami kekacauan, seluruh gerakan pasukan kavaleri terhenti. Pasukan berkuda Indian memiliki waktu untuk menyelinap ke belakang dan menggempur dari sana. Wi Psice secara khusus memerintahkan sebagian pasukan Indian untuk turun dari kuda mereka dan menyerbu dengan berlari diantara kuda-kuda prajurit kulit putih. Pasukan-pasukan ini dilengkapi lembing untuk menjatuhkan prajurit lawan dari atas kuda mereka dan sebisa mungkin membuat sekat agar pasukan kulit putih tidak dapat menyatu untuk membuat garis pertahanan yang teguh. Strategi ini dipelajari Wi Psice di India Selatan, digunakan oleh pasukan infantri untuk melawan pasukan gajah kaum Aria, kemudian dilihatnya kembali ketika ia sedang mengembara di Asia kecil, taktik ini digunakan oleh kaum Afghan dan Kazhak untuk menghadapi kavaleri tentara kolonial Inggris.

Selebihnya adalah pembantaian dari jarak dekat. Prajurit-prajurit kulit putih diseret dari kuda-kuda mereka. Senapan-senapan yang tidak sempat ditembakkan diayun-ayunkan sebagai pemukul. Kapak perang mengayun deras memecahkan kepala, di mana-mana terdengar bunyi tengkorak berderak dan daging terkoyak oleh pisau. Kadang-kadang terdengar bunyi tembakan dan suara degup dada ditembus peluru. Udara penuh dengan jeritan kesakitan dan raungan perang Bangsa Indian.

Wi Psice mengamati pertempuran dari atas bukit di kejauhan. Meskipun nampak bahwa pertempuran akan berlangsung lama, tapi ia sudah bisa melihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Lebih jauh, ia bisa melihat bahwa tidak satupun dari pasukan kulit putih yang akan keluar dengan selamat dari pertempuran hari itu. Mereka praktis terkepung dan terpecah belah, terlibat dalam pertempuran jarak dekat melawan kekuatan yang lima kali lebih besar, menghadapi kaum Indian yang dipenuhi dengan dendam kesumat.

Seorang perwira berteriak-teriak berusaha menyusun kembali barisannya, namun tanpa hasil, para prajurit terlalu sibuk berusaha melawan tiga sampai lima indian sekaligus. Wi Psice memberi anggukan hormat. Hari itu sang perwira akan mati dalam tugasnya sebagai prajurit, dan ia telah menunjukkan keberanian yang layak sebagai seorang perwira. Pasukan kavaleri sudah sedemikian berantakan sehingga mereka tidak lagi dapat bertempur sebagai pasukan yang utuh, setiap prajurit harus berjuang sendiri-sendiri melawan musuh yang lebih banyak. Perwira itu-pun akhirnya gugur, seorang Indian menikam ginjalnya dari belakang, dan sebelum perwira itu roboh ke tanah, dua orang Indian lain mengayunkan kapak mereka, satu kapak membongkar pelipis si perwira sementara yang lain menghancurkan rahangnya. Serpihan tengkorak beterbangan di udara. Perwira itu sudah mati bahkan sebelum tubuhnya rubuh ke tanah.

Di sudut lain seorang prajurit muda sedang bergulat melawan seorang Indian, ia berbaring terlentang di atas tanah dengan Indian itu menindih dadanya. Si prajurit muda berusaha sekuat tenaga memegangi tangan lawannya yang memegang pisau. Dari wajahnya terpancar ketakutan dan rasa putus asa. Wi Psice menyaksikan dengan nafas yang mengalir teratur. Prajurit muda itu ia taksir baru berusia delapan belas tahun, parasnya sangat tampan dengan rambut pirang kemerahan. Mungkin ia terbuai oleh cerita-cerita tentang daerah barat yang liar sehingga ia mendaftar ke pasukan kavaleri dalam usia yang sedemikian muda. Sayang sekali saat ini ia harus menghadapi kenyataan buasnya tradisi di padang rumput, pisau di tangan si Indian perlahan-lahan mulai mendekati lehernya. Wi Psice bisa merasakan jantung pemuda itu berdenyut-denyut ketakutan, ada teriakan kemarahan dan penyesalan menggema dari hati pemuda itu. Sekilas Wi Psice bisa melihat bayangan wajah melintas di benak si prajurit muda. Ada seorang laki-laki paruh baya, mungkin ayahnya, kemudian seorang perempuan yang menunjukkan raut sedih, mungkin ibunya, yang tidak bisa menyembunyikan kesedihan ketika putra kesayangannya menolak pergi ke universitas dan memilih berkarir sebagai prajurit berkuda. Kemudian muncul bayangan seorang gadis yang sangat cantik. Wi Psice merasakan ledakan kerinduan bercampur penyesalan di hati prajurit itu. Gadis itu tentu kekasihnya.

Wi Psice membalikkan badan dan berjalan menuruni bukit. Ia sudah cukup melihat untuk hari itu. Selebihnya dapat diselesaikan oleh Tashunka Witko, Tatanka Iyotanka, dan para kepala suku lainnya.

Pertempuran berhenti menjelang malam, tidak satupun pasukan kulit putih yang selamat. Orang-orang Indian menguliti kepala lawan yang mereka bunuh. Kulit beserta rambut itu digosokkan di rumput untuk menghilangkan darah yang menempel, lalu digantungkan di ikat pinggang sebagai piala. Malam itu mereka yang memiliki kulit kepala lebih banyak dari yang lain akan mendapat penghormatan lebih besar di api unggun.

***

Pesta kemenangan masih sayup-sayup terdengar jauh di belakang. Pekik kemenangan para prajurit bercampur dengan ratap para perempuan. Namun Wi Psice lebih memusatkan perhatian pada sesuatu di depannya, yang makin lama makin dekat seiring dengan langkahnya yang perlahan.

Orang itu memanggil Wi Psice untuk datang. Pesannya jelas, ada urusan yang harus diselesaikan diantara mereka.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Seseorang dari masa lalu
« Reply #4 on: 03/10/2008 15:22 »
Seseorang dari Masa Lalu

Orang itu jelas bukan dari ras kulit putih, Indian, maupun Negro, meskipun kulitnya hitam kecoklatan. Sosoknya tergolong pendek untuk kebanyakan orang-orang di wilayah Amerika Utara, tapi tubuhnya tegap dan terbentuk dengan baik. Ia mengenakan pakaian sipil yang mungkin sedang mode di kawasan pantai Timur, yaitu satu stel kemeja dan celana panjang berwarna khaki yang dipadukan dengan rompi dan topi pendek. Kondisi pakaiannya menunjukkan bahwa dia telah melakukan perjalanan jauh. Ia duduk di bawah sebuah pohon mati di hutan kecil yang terpencar jarang-jarang di padang rumput. Matanya setengah tertutup memandangi kegelapan di depannya.

Ia tidak mengangkat wajahnya ketika Wi Psice datang.

"Orang kulit putih akan datang lebih banyak lagi," ujarnya dalam Bahasa Inggris yang terkesan asing. "Tiga divisi kavaleri sedang menuju ke sini, aku dengar mereka membawa beberapa pucuk senapan gatling."

"Ya, desas-desus itu sampai juga ke telingaku," Wi Psice menjawab. "Senapan yang bisa memuntahkan ratusan peluru tanpa henti."

Keduanya terdiam.

Angin malam mendadak berhenti, seolah-olah segan dengan wibawa kedua orang tersebut.

"Kakang sadar artinya itu, bukan?" Orang itu melanjutkan. "Nasib orang-orang Indian ini sudah ditentukan."

"Mereka berjuang mempertahankan hak mereka," sahut Wi Psice dingin dalam bahasa Lakota.

Orang itu tertawa sedih. "Aku belum belajar bahasa itu, Lakota ya? ... tapi aku menduga Kakang bicara tentang perjuangan demi tanah air."

Wi Psice beralih ke Bahasa Inggris. "Mereka akhirnya akan tumpas, ya, aku tahu. Semua perjuangan ini sia-sia saja."

"Seperti yang dialami Perdikan Mangir," sambut orang itu pelan.

"Mangir masih ada," Wi Psice membalas. "Para petani di sana masih menggarap sawah-sawah mereka. Orang-orang Indian ini akan dibunuh atau diusir ke tempat pengasingan, tanah dan mata pencarian mereka akan direbut dengan paksa."

"Itu terjadi di mana-pun, Kakang," ujarnya ringan, tidak dalam Bahasa Inggris. “Bukan hal baru lagi.”

Wi Psice bergeming mendengar bahasa yang digunakan orang itu. Sudah lama sekali ia tidak mendengarnya. Orang itu perlahan berdiri dan melangkah keluar dari bayangan pohon. Sekarang Wi Psice dapat melihat wajahnya dengan jelas di bawah sinar bulan.

“Kakang tahu tujuanku datang kemari, bukan?” orang itu melanjutkan dalam bahasa yang sama. “Bukan untuk membicarakan kesejahteraan para Indian ini.”

“Perjalanan yang jauh sekali, Dimas Rangga Seta,” Wi Psice menjawab dalam bahasa yang sudah lama tidak digunakannya, "Apa kabar para sanak kadang di Mangir?"

"Aku berangkat tidak lama setelah Kakang pergi,” Rangga Seta mengangkat bahu. “Saat itu semua baik-baik aja, pangestu Kakang. Semoga selalu demikian adanya."

Wi Psice mendengarkan suara genderang di kejauhan. Suku Lakota dan Cheyenne masih merayakan kemenangan mereka.

"Tapi memang sulit sekali melacak Kakang. Waktu pertama kali menemukan jejak Kakang di Malaka, aku hanya tertinggal satu tahun, tapi jarak itu semakin lama menjadi semakin jauh. Waktu aku akhirnya menemukan lagi jejak Kakang di Liverpool, Kakang sudah tiga tahun menyeberang ke New York."

"Maaf aku sudah merepotkanmu, Dimas."

Rangga Seta tertawa. "Semula aku berberat hati waktu menerima titah Ki Ageng Mangir ... namun perjalanan hampir sepuluh tahun ini lama kelamaan menyenangkan juga. Pun aku tidak memiliki keluarga untuk dirisaukan di rumah."

"Masih haruskah kau serahkan kesetiaanmu pada orang tua itu?" suara Wi Psice menjadi dalam. "Sesudah segala kekacauan yang ia timbulkan pada Mataram?"

“Kita sudah cukup membicarakan itu sebelum Kakang pergi. Aku tidak ingin mengulanginya.”

Wi Psice mengeluh dalam hati, ia menengok ke arah perkemahan Indian. "Kita cukup jauh dari perkemahan," ujarnya. "Bila kita tidak terlalu gaduh, mereka tidak akan mendengar yang kita lakukan di sini."

Rangga Seta tertawa lagi. "Bila Kakang tidak terlalu keras melawan, akupun tidak akan perlu membuat banyak keributan."

Udara mendadak menjadi dingin sesaat sesudah Rangga Seta mengakhiri tawanya. Kabut menyelimuti mereka seolah-olah muncul begitu saja dari dalam tanah. Wi Psice mengambil jarak. Keduanya berpandang-pandangan tanpa bergerak, mereka tampak seperti sepasang pohon mati di bawah cahaya bulan yang samar-samar.

Tiga tarikan nafas berlalu, tapi terasa seperti selamanya bagi kedua orang yang sedang berdiri berhadap-hadapan itu. Angin berhembus membentuk gelombang di rerumputan prairie, kadang tiupannya menimbulkan bunyi siulan yang merintih lalu mendadak diam tak bersuara. Namun disekitar mereka kabut tetap menggantung, seolah-olah ditahan oleh sebuah kekuatan yang tidak tampak.

Wi Psice merasakan kesadarannya mengembang seiring tiupan angin. Perlahan-lahan ia tidak lagi merasakan perbedaan antara dirinya dengan tanah yang ia pijak, dengan padang rumput yang membentang hingga cakrawala, dengan bulan dan gulungan awan gelap di langit. Wi Psice merasa dirinya membesar dan larut dengan bintang-bintang. Selapis demi selapis ia melebur dengan jagad di sekitarnya.

Bersama dengan penyatuan itu, Wi Psice merasakan kehadiran yang lain. Rangga Seta sedang mengungkapkan jati dirinya pula. Kesadaran mereka berdua mengembang memenuhi relung-relung alam semesta. Mereka berdua menyatu dengan arus sungai yang mengalir membelah padang rumput, melambung tinggi bersama hawa pegunungan yang menjulang di cakrawala, kemudian meluncur turun kembali ke bumi menunggangi sinar bintang. Keduanya mengalir beriringan saling mengisi ruang yang kosong. 

Ketika mereka sudah mencapai puncak pengungkapan diri mereka masing-masing, benturan-benturan kecil mulai terjadi, alam sekitar mereka mulai bergoncang.

Di tataran fisik keduanya masih diam berhadap-hadapan. Nafas mereka naik turun dengan lembut dan teratur, wajah mereka terlihat tenang dan mata mereka tidak menunjukkan emosi apapun. Namun sesungguhnya gesekan-gesekan dahsyat telah terjadi di tataran yang lebih tinggi. Kadang-kadang bunga api kecil meledak di udara, tanah yang mereka pijak bergetar halus, kadang merekah dengan bunyi gemeretak. Pusaran angin muncul sekilas di beberapa tempat, menerbangkan potongan tanah dan rerumputan ke udara. Di kejauhan terdengar lolongan serigala yang gelisah. Burung-burung yang sedang tidur terkejut dan terbang menjauh sambil menjerit-jerit. Dari perkemahan Indian terdengar kuda-kuda mendengus gelisah.

Sekejap, hanya sekejap, keduanya merasakan celah tipis di lapisan kesadaran masing-masing, sebuah denyut kecil diantara kesiagaan mereka yang tinggi. Secepat kilat keduanya meluncur saling menyerang. Ledakan dahsyat menggelegar ketika keduanya berbenturan, udara menghempas dahsyat ke segala penjuru, bumi bergoncang, halilintar menyambar di udara.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

bradlee

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 173
  • Reputation: 19
Re: Wi Psice
« Reply #5 on: 05/10/2008 13:08 »
Mantap banget  [top]
Sampe ngga sabar nunggu sambungannya  ::)
"Ti Iwung Nungtung Ka Padung, Ti Kanteh Dugi Ka Boeh, Diajar Hirup Nu Teu Mawa Ceda, Lir Ibarat Sinar Mustika, Bari Nyusul Nu Ngaliwat, Malikeun Panyangka Nu Sulaya, Ngabagi Bagja Kanu Sangsara"

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Nir dan Kala
« Reply #6 on: 10/10/2008 07:46 »
Nir dan Kala

Anak itu mengira ia sedang bermimpi buruk, karenanya ia segera memejamkan mata kuat-kuat sambil menggigit bagian bawah bibirnya. Ia membulatkan tekad dalam hati untuk segera terbangun. Pengalaman mengajarkan bahwa setiap kali ia melakukan hal itu, ia akan segera menemukan dirinya sedang berbaring di lincak bambu di dalam rumah mereka yang sederhana. Ia hanya perlu menoleh sedikit untuk menemukan ibunya yang sedang berbaring di sebelahnya, atau seringkali sedang memeluknya. Kehangatan tubuh perempuan itu di tubuhnya sendiri akan segera menenangkan jantungnya yang berpacu kencang akibat mimpi buruk, dan tidak lama ia pun akan kembali terlelap.

Namun kali ini cara itu tidak berhasil.

Ia memang sedang terbaring di atas sebuah batu besar yang dingin di tengah hutan yang pepat, dikelilingi oleh orang-orang yang tidak ia kenal. Semua memandangnya dengan tatapan aneh dan menakutkan.

Anak itu mulai menangis. Sejak saat itu hidupnya berubah selamanya.

* * *

Rangga Seta tidak menahan diri, serangannya bagaikan ombak yang bergulung-gulung menghempas ke pantai, satu baris serangan segera disusul oleh barisan yang lain. Suara gemuruh menyertai setiap ayunan tangan atau kakinya, kadang demikian cepatnya susul-menyusul hingga terdengar seperti guruh yang menderu bertubi-tubi.

Di bawah sinar bulan yang remang-remang, Wi Psice melihat pendar kehijau-hijauan memancar dari kedua mata Rangga Seta. Ketika keduanya melompat mundur akibat sebuah benturan yang dahsyat dan berdiri berpandangan sambil menjaga jarak, Wi Psice melihat larik-larik kabut tipis kebiru-biruan menyelimuti tubuh lawannya.

Kabut itu kadang bergerak mendahului juluran tangan atau kaki Rangga Seta, kadang pula bergerak setelahnya, ia bergerak seperti cemeti yang saling melengkapi serangan bersama dengan jasmani pemiliknya. Setiap sentuhan dengan kabut itu menimbulkan sengatan kejut yang luar biasa, seolah tersentuh oleh cemeti baja yang digerakkan sendal pancing. Kabut itu mengeluarkan bunyi mengiris yang mengilukan tulang setiap kali ia diayun membelah udara.

Wi Psice hanya beringsut sedikit-sedikit, ia mengenali tata gerak Rangga Seta dan dapat membaca kemungkinan serangan yang dilancarkan lawannya itu. Wi Psice menghindari ketajaman serangan Rangga Seta dengan jarak yang hanya setipis kertas, lalu ia menyusup masuk diantara sela-sela pertahanan lawannya itu. Namun jika benturan tak dapat dihindarkan, Wi Psice menunjukkan ketangguhan sebongkah gunung karang, beberapa kali Rangga Seta bergetar ketika serangannya membentur tubuh Wi Psice, dan larikan kabutnya buyar berantakan untuk beberapa saat.

* * *

Selama berbulan-bulan anak itu dipaksa menghirup asap dari ramu-ramuan dedaunan yang dibakar, seringkali sampai ia jatuh pingsan oleh baunya yang aneh. Namun perlahan anak itu mulai membiasakan diri dan mulai merasakan suatu gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Anak itu secara tidak wajar mulai melupakan ibunya, tempat asalnya, dan bahkan namanya sendiri.

Dalam beberapa bulan, tangisan seorang bocah yang kehilangan ibunya segera digantikan dengan raungan kesakitan dan kemarahan yang menggentarkan. Anak itu mulai menerima tempaan yang keras. Pada tahap awal, ia hanya diperintahkan untuk bergantung di sebuah cabang pohon sejak matahari terbit sampai terbenam. Setiap kelumit wajah yang kelelahan atau tangan yang bergetar akan diganjar dengan hantaman rotan di telapak kakinya. Di tahap-tahap berikutnya ia harus menahan dinginnya belumbang di malam bediding, dan teriknya matahari di siang hari musim kemarau. Hanya dalam beberapa bulan, wajah polos anak-anak yang selalu membuat orang tertawa gemas itu telah tergantikan oleh sebuah paras yang dingin dengan sorot mata layaknya hantu penjaga malam.

Selain tempaan jasmani, kanuragan dan olah keprajuritan, anak itu setiap malam dijejali kisah tentang daerah Kemangiran. Sebuah kisah yang sebelumnya pernah ia dengar, namun dengan alur cerita yang berbeda. Babad ini diceritakan sendiri oleh pemimpin kelompok itu, seorang tua yang menyebut dirinya Ki Ageng Mangir.

Adalah Mangir -demikian orang tua itu biasa bercerita-, sebuah wilayah yang makmur di selatan Alas Mentaok. Kedudukan wilayah ini diresmikan oleh kerajaan Majapahit sebagai Tanah Perdikan lebih dari lima ratus tahun yang lalu, sebuah tanah yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri.

Sekitar tiga ratus tahun berselang, sebuah kerajaan muda yang berambisi menguasai seluruh pulau Jawa mengirim pasukannya untuk menaklukan Mangir. Namun ketangguhan dan harga diri pemuda-pemuda Mangir pada saat itu masih terlalu garang untuk bisa ditandingi oleh Kotagede Mataram. Bagaimana tidak, saat Alas Mentaok dibuka oleh Ki Pamanahan untuk mendirikan Mataram, Mangir telah memiliki sejarah panjang yang mewarnai tanah Jawa. Kerajaan demi kerajaan runtuh dan lahir, Majapahit digantikan oleh Demak, Demak digantikan oleh Pajang dan terakhir Pajang ditaklukkan oleh Mataram, namun Mangir tetap berdiri tegak sebagai tanah perdikan yang mandiri.

Melihat kekalahan demi kekalahan yang dideritanya, Panembahan Senapati memilih menggunakan cara licik. Ia mengirim putrinya sendiri, Rara Pembayun, menyamar sebagai penari ledhek untuk merayu pemimpin Tanah Perdikan Mangir, Ki Wanabaya, dan melemahkannya dari dalam. Siasat ini berhasil, Wanabaya mengambil Rara Pembayun sebagai istri, meskipun akhirnya Rara Pembayun benar-benar jatuh cinta pada Wanabaya dan membeberkan jati dirinya yang sesungguhnya.

Lalu pengkhianatan itupun terjadilah. Ki Ageng Mangir Wanabaya datang menghadap Panembahan Senopati bersama Rara Pembayun yang sedang mengandung anak mereka. Ia datang secara perwira dengan niat menghaturkan sembah bakti sebagai menantu, namun Panembahan Senapati membunuhnya secara licik. Sekelompok pasukan yang telah disiapkan menyerbu dan menikam Ki Ageng Mangir dari belakang hingga tewas, justru ketika Wanabaya sedang melakukan sembah di hadapan Panembahan Senapati.

Sejak itu Mangir menjadi daerah jajahan Mataram.

* * *

Di tataran jasmani, Rangga Seta dan Wi Psice tampak sebagai dua bayangan yang saling bertukar serangan dengan cepat. Tangan dan kaki saling balas menjulur dan menyambar. Kadang sebuah serangan dihilangkan oleh hindaran yang gesit, tapi adakalanya serangan yang datang ditabrak oleh serangan yang tidak kalah dahsyat.

Kabut kebiru-biruan Rangga Seta berhadapan dengan uap panas yang mengeluarkan bunyi mendesis yang mengelilingi tubuh Wi Psice. Ketika keduanya berbenturan di udara, pecahan kabut memercik ke segala penjuru. Larik kabut kebiruan menimbulkan torehan-torehan tajam di tanah, sedangkan percikan uap panas menyebabkan daun dan rerumputan layu seperti direbus. Seekor kelinci yang berada tidak jauh dari tempat pertempuran mendadak terguling mati dengan luka menganga di punggungnya dan bulu-bulu hangus terbakar.

Satu lapis di atas tataran jasmani, pertarungan antara keduanya mengungkapkan unsur-unsur di luar jangkauan nalar...

* * *


Sejak gugurnya Ki Ageng Mangir Wanabaya, berdirilah gerakan rahasia yang bersumpah untuk membalas kelicikan Mataram. Anak-anak berbakat keturunan Mangir direnggut dari susuan ibu mereka untuk dilatih menjadi prajurit sandi yang tangguh.

Kadang ketika anak itu dibawa keluar hutan untuk belajar mengenai seluk-beluk penyamaran, ia mendengar banyak tentang gerakan rahasia itu dari pembicaraan orang-orang. Disebutkan bahwa anggota gerakan rahasia itu adalah hantu-hantu yang amat menakutkan, mereka dapat bergerak tanpa suara dan menghilang bersama bayangan. Dikisahkan pula bahwa mereka dapat muncul begitu saja dari sebuah sudut yang gelap, membunuh sasaran mereka dengan gerakan yang ringkas, lalu menghilang begitu saja ditelan kegelapan tempat mereka datang.

Sepanjang tiga ratus tahun kelompok ini menjadi bayangan yang menakutkan bagi kewibawaan Mataram. Tidak terhitung para Senapati dan Priyayi Agung yang menjadi korban dendam mereka. Konon ketajaman racun mereka-lah yang menyebabkan Panembahan Senapati yang digjaya itu mati muda di tempat tidur. Disebutkan bahwa kelompok ini juga yang membakar lumbung perbekalan Sultan Agung, sehingga Mataram gagal menaklukkan Batavia. Sebagian orang mengatakan bahwa kelompok ini pula yang menghasut para Priyayi Surakarta untuk membagi Mataram menjadi dua melalui perjanjian Giyanti. Bahkan, mereka disebut-sebut sebagai pihak yang mendalangi tertangkapnya Pangeran Dipanegara oleh Belanda.

Anak itu melakukan pembunuhannya yang pertama pada usia tiga belas tahun. Ia menggantung kepala seorang Demang di pohon jambu di depan halaman rumahnya sendiri. Demang itu diketahui berusaha menikahkan anaknya dengan seorang Pangeran dari Keraton.

Selanjutnya, anak itu tidak pernah menghitung jumlah korban yang dibunuhnya, atau mengapa ia harus membunuh mereka. Ia telah bergabung dengan jajaran hantu-hantu yang membayangi lorong-lorong kotagede Mataram di waktu malam.

* * *

Selapis di atas tataran jasmani, Rangga Seta dan Wi Psice berbenturan dalam dunia tanpa batasan wujud. Bagi Wi Psice, kadang kehadiran Rangga Seta mengejawantah sebagai pusaran angin raksasa yang menerbangkan pepohonan dan batu-batu karang, kadang kehadiran itu menyerang sebagai topan yang membawa ombak setinggi gunung, kadang ia hadir pula sebagai raksasa yang mengeluarkan api dari mulut dan kedua telapak tangannya.

Namun di sisi lain, Rangga Seta-pun harus menghadapi wujud Wi Psice yang tak kalah dahsyatnya. Pusaran anginnya beberapa kali membentur gunung karang yang kokoh, kadang ia dihempaskan ke tanah oleh sebentuk raksasa hitam yang menjulang menjangkau awan, kadang ia harus bersusah payah melepaskan diri dari belitan seekor naga yang raungannya membelah padang rumput.

Keduanya saling tekan, saling terkam dan saling membenturkan diri di dunia di mana wadag mewujud mengikuti kemauan jiwa. Di alam itu, padang rumput porak poranda seperti baru dicabik-cabik oleh luku raksasa, api berkobar tinggi di beberapa tempat menghanguskan rumput dan hutan-hutan kecil, bintang-bintang membeku di langit malam yang memerah kekuningan, di kejauhan pegunungan mengeluarkan pijaran api membara.

Semua pertarungan itu tidak nampak oleh mata manusia biasa, namun akibatnya dapat dirasakan di alam jasmani di bawahnya. Rumput dan pepohonan disekitar keduanya mati mengering tanpa sebab, seolah-olah baru dilintasi oleh api yang tidak terlihat. Beberpa ekor burung yang sedang terbang tinggi di langit malam tiba-tiba meluncur jatuh dan tergeletak mati begitu saja, tanpa tanda-tanda luka sedikitpun. Tanah-tanah menjadi lapuk dan kering, di beberapa tempat padang rumput mendadak runtuh meninggalkan lubang-lubang pasir yang menganga..

Di perkemahan suku Indian, korban-korban terluka yang sedang dirawat meninggal secara mendadak, beberapa kuda mengeluarkan ringkikan tinggi untuk kemudian mati dengan kulit memucat kebiru-biruan. Pesta kemenangan mendadak berhenti, para penari dihinggapi rasa gelisah yang tidak dapat dijelaskan. Bayi-bayi menjerit-jerit tanpa sebab, serigala-serigala padang rumput melolong dari empat penjuru angin. Para dukun merasakan roh jahat di udara dan segera melantunkan mantra-mantra penolak bala.

* * *

Adalah suatu malam, anak yang telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa itu sedang mengendap-endap di atas atap rumah seorang tumenggung. Ia bergerak dengan sangat perlahan, memperhitungkan kekuatan dan bunyi yang dapat ditimbulkan oleh tempat yang akan ia pijak atau sentuh. Sejauh ini kehadirannya tidak diketahui oleh siapapun.

Melalui lubang kecil yang ia buat di sela-sela genting, ia menemukan sasarannya. Seorang Tumenggung tua yang pasukannya bertugas menjaga kewibawaan keraton. Berkat penyelidikannya dan penyamarannya beberapa hari terakhir ini, si pembunuh bisa mengenali ciri-ciri sang sasarannya dengan mudah. Seorang tua yang wajahnya memancarkan ketenangan dan ketegasan sekaligus. Tumenggung itu konon dicintai para prajuritnya karena disamping tuntutannya yang keras atas mereka, ia memiliki perhatian yang besar atas kesejahteraan para prajuritnya tersebut.

Saat itu sang Tumenggung sedang menemani seorang perempuan muda yang berusaha menidurkan anaknya yang masih kecil. Ia dan Ibu muda itu sedang menyenandungkan lagu pengantar tidur yang lembut dan menenangkan. Sungguh berbeda dengan suara tegasnya bila sedang berada di ksatriaan prajurit, saat ini ia adalah seorang kakek yang dengan penuh kasih sayang berusaha membuai cucunya agar tertidur.

Tanpa diketahui oleh sang Tumenggung dan anak perempuannya, senandung itu merayap masuk ke jantung seorang pembunuh yang sedang bersembunyi di atas mereka.

Pembunuh itu tertegun, senandung yang sama pernah ia dengar, rasanya jauh dan sudah lama sekali. Mendadak ia diliputi suatu kerinduan yang tidak dapat ia jelaskan. Air mata mengembang di pelupuk matanya.

* * *

Pada lapisan kesadaran yang lebih tinggi lagi, pertarungan antara Rangga Seta dan Wi Psice berlangsung tanpa bisa dicerap atau dimaknai. Pada tataran ini wujud telah kehilangan hakikatnya, tiada lagi bentuk ataupun rupa. Semua adalah ketiadaan dan keberadaan sekaligus.

Wi Psice tidak ada lagi...

Rangga Seta hilang dalam kesunyian...

Pada tataran ini keduanya kehilangan jati diri mereka dan larut dalam keheningan alam semesta. Pertarungan berlangsung dalam kehampaan.

* * *

Butuh waktu bertahun-tahun bagi pembunuh itu untuk dapat mengingat kembali wajah ibunya. Kemudian bertahun-tahun lagi untuk dapat menemukan tempat tinggalnya dulu, yang di luar dugaannya, ternyata bukan merupakan bagian dari daerah Mangir.

Ia duduk terpekur di samping pusara seorang perempuan yang menurut cerita orang tua penjaga makam, meninggal tidak lama setelah anaknya diculik. Nampaknya perempuan itu tidak dapat menanggung beban kehilangan anak satu-satunya yang ia cintai, setelah suaminya meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Pembunuh itu mulai bertanya-tanya tentang keyakinan dan tujuan hidupnya.

* * *

Pertarungan ini tidak pernah terjadi,
... tapi juga telah berlangsung sepanjang masa,

Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Nir dan Kala
« Reply #7 on: 10/10/2008 07:49 »
/quote] content removed atas permintaan Mas Antara
« Last Edit: 10/10/2008 10:53 by EricB »
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Wi Psice
« Reply #8 on: 10/10/2008 07:53 »
Ups... ada gangguan koneksi nih... :-X

Oom Moderator, tolong di hapus quote di atas (dan postingan ini) ya? Saya tadi post dua kali karena browsernya hang... ternyata yang muncul malah satu quotation lagi...

Terima kasih...
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

EricB

  • Guest
Re: Wi Psice
« Reply #9 on: 10/10/2008 10:53 »
Mas Antara,

terima kasih memberitahu, sudah di edit

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Wi Psice
« Reply #10 on: 13/10/2008 08:04 »
Matahari baru nampak sebagai setengah lingkaran di cakrawala sebelah timur, namun sinarnya yang kuning keemasan sedikit demi sedikit mulai mengangkat kabut di padang rumput maha luas. Wi Psice berdiri menghadap ke timur sambil memejamkan mata, ia menikmati rasa hangat sinar matahari di kulitnya, mengusir rasa beku akibat pakaiannya yang basah oleh embun dan kabut. Padang rumput seolah mengeluarkan asap, embun-embun yang menempel di bilah rerumputan mulai menguap ke udara. Perpaduan antara rasa hangat sinar matahari dan sejuknya embun memberikan perasaan bahagia di hati Wi Psice. Samar-samar Wi Psice mengingat masa kecilnya, ketika ia selalu terbangun dalam pelukan ibunya.

Angin mulai bertiup melaksanakan tugasnya, menghapus kengerian yang terkandung di udara dan menyiapkan udara segar untuk menyambut hari yang baru.

Rangga Seta duduk bersila beberapa langkah dari Wi Psice. Beberapa bagian badannya terasa kaku. “Setiap hari matahari terbit membawa hari baru. Kadang ia membawa bencana, kadang harapan.”

Wi Psice yang tersenyum, ia masih menikmati kehangatan sinar matahari di badannya. “Sepuluh tahun mengembara telah menjadikanmu lebih bijaksana rupanya.”

Rangga Seta mengurai kakinya. Ia menggeliat.

“Aku memang banyak berpikir,” ujar Rangga Seta. “Mengejar kakang melintasi Malaka, India, negeri-negeri Stan, Mesir, Turkistan, Eropa, Inggris, dan akhirnya benua baru Amerika.”

Wi Psice membuka matanya. Rangga Seta mengikuti perjalanannya dengan sangat cermat. Sungguh pelatihan sandi yang diterimanya adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada.

“Apa artinya Mangir, dan bahkan Mataram?” Rangga Seta melanjutkan. “Cuma sekeping tanah kecil.”

“Dengan dendam bodoh yang disimpan selama ratusan tahun,” Wi Psice berbicara lebih pada dirinya sendiri.

Mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati sinar matahari yang mulai memanas.

“Kau melakukan permainan yang berbahaya, Dimas,” Wi Psice memecah kesunyian. Salah satu dari kita bisa saja gugur tadi malam.

“Tapi hasilnya sepadan bukan?” Rangga Seta memijit-mijit beberapa bagian badannya. Kaki kirinya tidak akan bisa digerakkan dengan baik untuk beberapa waktu. “Aku mendapat wejangan dari seorang petapa di Nepal. Menurutnya, aku harus menyelam ke dalam hakikat diriku sendiri agar aku bisa melepaskan diri dari semua rasa bersalah dan kebencian yang selalu aku bawa-bawa.”

“... dan kau mengajak aku serta?”

“Lebih mudah begitu... ,” Rangga Seta terbahak-bahak. “Aku tidak telaten disuruh duduk diam bertahun-tahun menunggu ada dewa yang tersesat ke hadapanku.”

Wi Psice memandang Rangga Seta yang menyeringai. Pemuda ini adalah yang paling berbakat dan tangguh di kelompok mereka sesudah dirinya sendiri, dan tampaknya yang paling bisa menyembunyikan kegalauan hati dibalik tawa dan lelucon-leluconnya.

Pertarungan semalam telah membawa mereka menyelami perasaan dan sisi-sisi gelap di dalam relung hati mereka, belajar menerima dan memaafkan kekejian yang telah mereka lakukan, dan menghubungkan jiwa mereka dengan kesadaran yang amat tinggi yang dipenuhi cinta kasih. Pagi ini mereka terlahir sebagai manusia-manusia baru.

“Apa rencana kakang sekarang?” Rangga Seta melanjutkan.

Wi Psice menarik nafas. “Aku akan tinggal bersama Suku Lakota untuk beberapa saat. Aku akan berusaha membujuk mereka untuk berdamai. Pada akhirnya mereka akan kehilangan tanah mereka, tapi paling tidak mereka tidak terbantai percuma. Jika mereka hidup, masih banyak yang dapat mereka kerjakan.”

“Sesudah itu?”

“Mungkin melarikan diri lagi,” Wi Psice tertawa pelan. “Berapa banyak yang dikirim orang tua itu untuk mengejarku?”

Rangga Seta mengangkat bahu. “Masih akan bertahun-tahun sebelum mereka sampai di sini, itupun seandainya mereka sampai.”

Rangga Seta berdiri dan berjalan ke sebuah gerumbul perdu. Dari sana ia mengeluarkan sebuah tas besar dan beberapa peralatan aneh. Wi Psice mengenali peralatan itu sebagai alat penangkap gambar yang disebut kamera.

“Gerakan Mangir sudah kehilangan pijakannya, Kakang,” ujar Rangga Seta sambil mengemasi barang-barangnya. “Mataram sudah terpecah menjadi tiga kerajaan kecil, para priyayi kehilangan kekuasaannya, dan rakyat ditindas oleh bangsa Hollander. Kelompok Mangir tidak lagi punya lawan untuk dibenci.”

Wi Psice mengangguk-angguk. Dari semua alasan untuk hidup, menurutnya kebencian dan permusuhan adalah yang paling bodoh.

“Lalu apakah kau akan pulang?” tanya Wi Psice.

Rangga Seta menggoyang-goyangkan kepalanya, wajahnya mengeluarkan raut jenaka.

“Di pelayaran ke sini aku bertemu keluarga Skotlandia yang ingin membangun kehidupan baru di Amerika. Tanah mereka di Glasgow disita karena tidak sanggup membayar pajak.”

Wi Psice mengeluarkan raut wajah bertanya.

“Haruskah aku mengatakan semuanya, Kakang?” tawa Rangga Seta meledak. “Putri mereka, namanya Elizabeth.”

“Oh,” Wi Psice mengangguk-angguk, senyumnya melebar.

Rangga Seta menunjuk pada perangkat kameranya. “Aku bekerja sebagai jurnalis lepas di New York Herald, sekedar supaya bisa menumpang pasukan kavaleri ke wilayah yang buas ini. Sekarang tujuanku sudah tercapai, aku sudah menemukan Kakang dan akupun punya cerita menarik tentang pembantaian Kavaleri ke-7 oleh suku Indian di Little Big Horn. Sekarang aku akan kembali ke New York.”

Rangga Seta melempar tasnya ke pundak, kamera dan segala perlengkapan aneh menyembul dari sela-sela tas tersebut. Penampilan Rangga Seta mengingatkan Wi Psice pada kaum Sherpa, golongan kuli di India yang selalu bertugas mengangkat barang-barang milik majikan kulit putih mereka.

Mereka berpandang-pandangan selama beberapa waktu. Bagi Wi Psice, Rangga Seta adalah tali terakhir yang mengikatnya dengan masa lalu. Perpisahan mereka akan membebaskan Wi Psice dari rasa berhutang yang selama ini ditanggungnya.

“Entah apakah kita akan berjumpa lagi sesudah ini, Kakang,” Rangga Seta menunduk hormat. “Jaga diri kakang baik-baik.”

“Kau juga.”

Wi Psice merenungi punggung Rangga Seta yang sedang melangkah menuju matahari terbit. Tubuhnya terlihat seperti bayangan hitam di tengah-tengah sinar matahari yang mulai menyilaukan. Rangga Seta harus berjalan berhari-hari sebelum bisa menemukan induk pasukan kavaleri, tapi Wi Psice tahu bahwa Rangga Seta bisa menjaga diri.

Hari baru telah terbit. Wi Psice merenungi keberadaan dirinya yang kecil di bandingkan padang rumput agung prairie. Sejauh mata memandang, keempat penjuru cakrawala diisi oleh padang rumput datar yang tak berkesudahan.

Entah sudah berapa ribu tahun umur padang rumput yang agung ini. Ia adalah ibu bagi jutaan kerbau liar –bison- yang mengembara dari ujung ke ujung tanpa pernah takut kehabisan makanan. Ia juga adalah Ibu bagi penduduk asli Amerika –bangsa Indian- yang dengan kebijaksanaan mereka hanya berburu bison seperlunya guna menyambung hidup. Sejak kedatangan kaum Spanyol ratusan tahun lalu, padang rumput ini juga telah menjadi rumah bagi kawanan kuda-kuda liar, para mustang, tumbuh dan berkembang secara alami menjadi kuda-kuda terbaik di dunia. Kadang-kadang topan menyapu padang rumput dan petirnya menimbulkan kebakaran besar, namun selang berapa lama tunas-tunas baru akan merekah diantara abu jelaga rumput-rumput yang terbakar.

Wi Psice melangkah perlahan menuju perkemahan Suku Lakota. Dirinya, Rangga Seta, Kelompok Mangir, Mataram, Suku Indian dan bahkan golongan kulit putih dari Eropa, semua hanya titik-titik debu yang hanya berperan sebentar di salah satu babak di padang rumput, untuk kemudian hilang ditiup angin.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Epilog
« Reply #11 on: 13/10/2008 08:06 »
Wi Psice
Ia tinggal bersama suku Lakota sampai akhirnya suku itu dikalahkan pada tahun 1881. Keberadaannya kemudian tidak diketahui. Menurut penuturan orang-orang tua suku Lakota yang tinggal di penampungan Indian, dukun misterius tersebut menikah dengan seorang gadis Cheyenne dan hijrah ke Kanada. Konon ia tinggal di sekitar Danau Huron, namun tidak seorangpun pernah mendengar tentang dirinya lagi.

Rangga Seta
Memakai nama pena 'White', merupakan salah satu jurnalis lepas kesukaan James Gordon Bannet Jr., redaktur dari New York Herald. Rangga Seta kerap dikirim ke tempat-tempat terjadi konflik karena ia selalu bisa memberikan laporan pandangan mata yang otentik. Beberapa orang bahkan menduga bahwa ia adalah orang yang membimbing Sir Henry Morton Stanley dalam ekspedisinya ke pedalaman Afrika, namun cerita ini sulit dipercaya kebenarannya.

Rangga Seta menikah dengan seorang gadis Imigran dari Skotlandia, Elizabeth Campbell, pada tahun 1878 dan ikut hijrah ke wilayah barat saat pemerintah membuka wilayah tersebut untuk kolonisasi kaum kulit putih. Sejak itu namanya tidak terdengar lagi.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Epilog
« Reply #12 on: 13/10/2008 08:07 »
Mangir

Mangir adalah sebuah tanah perdikan yang terletak sekitar tiga puluh kilometer di selatan Yogyakarta dan sebelah timur Kali Progo, sekarang disebut daerah Mangiran, masuk dalam Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul.

Mangir merupakan Tanah Perdikan, yaitu sebuah daerah otonomi yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak pada kerajaan yang berkuasa. Sejarah awal Mangir tidak diketahuidengan pasti, namun diperkirakan Mangir telah meraih status tanah perdikan sejak awal jaman Majapahit.

Babad (sejarah) resmi yang dikeluarkan oleh para empu Mataram mengisahkan Mangir sebagai tanah yang mbalela, tidak mau tunduk pada kekuasaan Mataram, sehingga pemimpinnya harus ditundukkan. Panembahan Senapati dua kali melancarkan aksi militer atas Mangir namun berhasil dipukul mundur. Sebagian ahli sejarah melihat kegagalan ini sebagai bukti bahwa sebenarnya Mangir memiliki sendi-sendi pemerintahan dan keprajuritan yang lebih matang ketimbang Mataram yang baru lahir, sehingga sulit dipercaya bahwa Mangir adalah daerah kecil yang memberontak. Sebaliknya, para sejarawan tersebut menduga bahwa Mataram-lah yang sesungguhnya berambisi meluaskan wilayah kekuasaannya tanpa mengindahkan tatanan-tatanan yang sudah lebih dulu berlaku.

Babad versi Mataram juga menyebutkan bahwa Ki Ageng Wanabaya dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan cara membenturkan kepalanya ke singgasana, yaitu ketika pemimpin Mangir tersebut berusaha menikam Panembahan Senapati sambil berpura-pura melakukan sungkem. Versi ini juga dibantah sebagian sejarawan modern, mengingat kemampuan Ki Ageng Mangir sebagai seorang pemimpin perang dan petarung yang tangguh. Menurut para sejarawan modern, yang paling mungkin adalah Ki Ageng Mangir diserang dari belakang oleh orang-orang pilihan yang memang disiapkan untuk membunuhnya.

Sampai sekarang masih ada sentimen anti babad versi Mataram di kalangan para generasi muda keturunan Mangiran.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Epilog
« Reply #13 on: 13/10/2008 08:08 »
Perang Indian Prairie

Perang antara pemerintah kulit putih di Washington dan Indian prairie di wilayah barat berlangsung dari 1830 sampai 1890, melibatkan tidak kurang dari sebelas resimen kavaleri dan dua puluh resimen infantri dari pihak kulit putih, dan suku-suku besar dari pihak Indian, seperti Apache, Sioux, Lakota, Cheyenne, Commanche, Kiowa, Cherokee dan beberapa suku minor lainnya.

Perang ini disebabkan oleh ekspansi pemerintah Amerika untuk menduduki lahan-lahan "kosong" di sebelah barat benua amerika utara dan menerapkan sistem reservasi bagi bangsa Indian, yang pada prakteknya merupakan sistem pengasingan kaum Indian dari tanah mereka sendiri.

Perang dimulai dengan konflik-konflik kecil di tingkat lokal, seperti tindakan kaum penambang, pemburu dan peternak kulit putih yang merampas tanah bangsa Indian secara paksa, dilanjutkan dengan serangan-serangan kaum imigran kulit putih terhadap perkemahan suku-suku indian yang biasanya berakhir dengan pembantaian terhadap wanita dan anak-anak. Bahkan beberapa kasus mutilasi sempat tercatat dalam sejarah.

Perang skala besar dimulai di era 1860-an ketika suku-suku Indian membentuk persekutuan dan melakukan serangan-serangan berskala besar terhadap pemukiman dan fasilitas militer kaum kulit putih.

Kekalahan kaum Indian ditandai oleh pembantaian di Wounded Knee pada tahun 1890. Sejak itu Indian yang tersisa dimasukkan dalam reservation camp dan lengkaplah penjajahan kaum kulit putih atas kaum Indian.


Pertempuran Little Big Horn

Little Big Horn adalah sungai kecil di wilayah Black Hill, perbukitan yang merupakan daerah sakral kaum Sioux. Wilayah ini telah disepakati sebagai wilayah terlarang bagi kaum kulit putih melalui perjanjian di Fort Laramie pada 1868, namun desas-desus tentang kandungan emas di daerah ini menyebabkan serbuan para pencari emas ke Black Hill pada tahun 1873 yang merupakan pelanggaran terang-terangan atas kesakralan tanah ini.

Ahli sejarah bersilang pendapat mengenai sebab Presiden Grant mengirimkan tentara untuk mendukung para pencari emas, yang otomatis mengesahkan pelanggaran terhadap perjanjian Fort Laramie. Sebanyak tiga divisi dikirimkan untuk membersihkan Black Hill dari kaum Indian.

Dari banyak pertempuran yang terjadi sepanjang perang Black Hill (1876-1877), pertempuran Little Big Horn adalah kekalahan telak bagi pasukan kulit putih. Letnan Kolonel George Armstrong Custer menemukan perkemahan kaum Lakota, Sioux dan Cheyenne dan memutuskan untuk menyerbu perkampungan tersebut tanpa perhitungan yang matang. Sejarawan banyak mengutip kolonel Custer sebagai pribadi yang arogan dan kurang perhitungan, sehingga menyebabkan seluruh pasukan kavaleri ke-7 yang dipimpinnya dibantai dalam pertempuran ini.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Wi Psice
« Reply #14 on: 13/10/2008 08:09 »
Kepala Suku Indian

Tashunka Witko (Crazy Horses) adalah kepala suku Lakota yang ternama. Sepanjang periode 1860 sampai 1870 ia terlibat dalam berbagai pertempuran, baik melawan suku-suku Indian yang memusuhi kaum Lakota ataupun militer kulit putih. Ia meraih reputasi sebagai pemimpin perang yang cakap atau Ogle Tanka Un, dalam Bahasa Lakota.

Sesudah terjadi persekutuan antara suku-suku Indian pada tahun 1864, Tashunka Witko banyak memimpin pertempuran melawan pasukan kulit putih dengan hasil beragam. Kemenangan gemilang diraihnya di pertempuran Rosebud dan Little Big Horn.

Namun serangan demi serangan dari pasukan kulit putih yang terus menerus bertambah baik dari segi jumlah maupun persenjataan mendesak kaum Indian untuk akhirnya menyerah. Tashunka Witko menyerah dan diasingkan di sebuah tempat reservasi pada Bulan May 1877. Ia terbunuh dalam sebuah insiden pada bulan September di tahun yang sama dan dimakamkan di tempat yang dirahasiakan.

Tatanka Iyotanka adalah tokoh kepala suku sekaligus dukun termashyur bangsa Lakota. Ia juga dikenal dengan sebutan Sitting Bull dan sampai sekarang masih menjadi tokoh yang sering disebut dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah di Amerika. Satu-satunya kepala suku yang dianggap setara kemashyurannya dengan Tatanka Iyotanka hanyalah Geronimo, kepala suku agung Bangsa Apache.

Bergabung bersama Tashunka Witko, Tatanka Iyotanka meraih berbagai kemenangan dalam pertempuran yang puncaknya terjadi di Little Big Horn. Meski tidak ada catatan resmi di pihak kulit putih karena tidak satupun orang dari kavaleri ke-7 yang selamat dari pertempuran itu, versi dari pihak Indian mengatakan bahwa Tatanka Iyotanka-lah yang memimpin pasukan induk Indian untuk berhadapan langsung dengan kavaleri kolonel Custer.

Seperti juga kepala suku Indian lain, Tatanka Iyotanka akhirnya harus menyerah. Ia menyerahkan diri ke pemerintah Amerika pada 19 Juli 1881, dan merupakan kepala suku terakhir yang menyerah dari pihak Lakota.

Tatanka Iyotanka terbunuh pada tahun 1890 ketika terjadi insiden antara kaum Indian di kamp reservasi dengan polisi yang bertugas menahan mereka. Ia dimakamkan di Fort Yates tapi kemudian dipindahkan ke Dakota Selatan, dekat pemukiman sukunya kaum Lakota.

Saat ini namanya diabadikan sebagai nama salah satu College di Amerika.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

 

Powered by EzPortal