Forum Sahabat Silat

FORUM UMUM => RAGAM KEHIDUPAN => Humor => Topic started by: Putra Petir on 23/01/2009 15:01

Title: Tuturan GusDur
Post by: Putra Petir on 23/01/2009 15:01
Sudah tentu mantan Presiden Soeharto sedikit kebagian sentilan Gus Dur. Ceritanya, suatu hari Pak Harto memancing di sebuah sungai. Bekas orang kuat itu dikenal gemar memancing (dan mungkin bukan cuma ikan saja yang dipancingnya). Saking asyiknya, Pak Harto tidak sadar bahwa air sungai itu meluap, lalu terjadilah banjir besar.
Pak Harto hanyut terbawa arus deras. Selama hanyut itu rupanya dia tak sadarkan diri, dan ketika dia terbangun dia berada jauh dari tempatnya semula. Keadaannya sangat sepi, hanya ada seorang petani, yang rupanya telah menolong Pak Harto.

Merasa berutang budi dan sangat berterimakasih, Pak Harto berkata kepada penolongnya itu.

“Kamu tahu enggak saya ini siapa?” tanya Pak Harto.

“Tidak,” jawab si penolong.

“Saya ini Soeharto, Presiden Republik Indonesia.”

“Oooh!”

“Nah, karena kamu sudah menolong saya, maka kamu boleh minta apa saja yang kamu mau, pasti saya beri. Ayo katakan saja keinginan kamu.”

“Oooh!”

“Jangan ah oh aja. Ayo bilang!” desak Presiden.

“Kalau begitu saya cuma minta satu hal saja, Bapak Presiden,” kata sang penolong.

“Ya katakan saja apa itu?” kata Pak Harto.

“Tolong jangan bilang siapa-siapa bahwa saya yang menolong Bapak.”
Title: Re: Tuturan GusDur
Post by: Putra Petir on 23/01/2009 15:02


“Para santri dilarang keras merokok!” Begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fatah, tempat Gus Dur pernah nyantri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol.

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam. Suasanapun jadi gelap gulita. Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihat jalan-jalan mencari udara segar.

Di luar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambil merokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya tekejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa si santri sambil menghampiri seniornya yang sedang asyik merokok itu. Langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang yunior. Saat dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenal wajah orang tadi. Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya.

“Hai, rokokku jangan dibawa! teriak Kiai Fattah. (oz)