+-
Kegiatan

Perisai Diri International Championship VI – 2010

 

Shoutbox
31/07/2010 20:35 Dolly: semoga babeh nung cepet sembuh...
31/07/2010 19:29 duyungson: Mohon doanya utk kesembuhan Babe Nung-si bunder- yg sdg dirawat di rumah sakit,trm ksh.
31/07/2010 00:29 kelana: saya ingin belajar silat lintau, apakah ada sahabat silat yang mengetahui keberadaan guru silat lintau dikota medan?
26/07/2010 16:57 kunderemp: Salam...  kalau Bali, yang tradisional selain Baktinegara, silat apa yah?
26/07/2010 16:45 aki sija: Kangen kumpul2 lagi
26/07/2010 11:04 kadekgaru1: kapan jambore pencak silat tahun ini
21/07/2010 20:19 sidik: kwkwkwkkwkw
19/07/2010 08:24 catty: absen bang..
16/07/2010 08:58 srdananjaya: assalamualaikum..selamat pagi
16/07/2010 00:37 hudzaifah: udah lama bgt ga' nengokin forum..,
View Shout History
Recent Topics
TURNAMEN BARONGSAI ALBSI BERJALAN SUKSES by sangpetualang
Today at 12:34

silat asli betawi silat si bunder by luri
Today at 07:43

Asal Usul Silat Sendeng by fachry09
31/07/2010 22:25

Perisai Diri International Championship (PDIC) ke-6 Tahun 2010 di Jakarta by Aguswin
31/07/2010 13:10

Konsentrasi pada telapak tangan... by malakmalakmal
31/07/2010 13:04

Film Silat Boy by Aguswin
31/07/2010 12:25

BABAD CARINGIN by suporter
31/07/2010 08:18

Aplikasi jurus dalam bertarung by sarung kampret
30/07/2010 16:39

Membedah Okinawa-te, sisi lain dr karate yg tersisih.... by samber gledek
28/07/2010 11:30

Berlatih Tenaga Dalam Dengan Olah Rasa by malakmalakmal
27/07/2010 10:21

Spontaneous Human Combustion by bluebex
27/07/2010 09:40

Knp Bisa Terjadi Begini ?? by bluebex
27/07/2010 09:38

[GUESTBOOK] by erdi
26/07/2010 22:32

melatih tenaga metafisika by bluebex
26/07/2010 12:25

Ingin belajar bela diri Betawi by ghorylla
25/07/2010 10:07

milis Silat
info: Guru Besar silat si bunder alias nage nyebrang sedang sakit
SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK SHIFU KUSNUL HADI
SELAMAT ULANG TAHUN
Re: [Bulk] [silatindonesia] HUT KPS Nusantara ke 42
Re: [Bulk] [silatindonesia] HUT KPS Nusantara ke 42
Share this topic on DiggShare this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on StumbleUponShare this topic on TechnoratiShare this topic on TwitterShare this topic on YahooShare this topic on Google buzz

Author Topic: Kontradiksi Dalam Belajar Silat  (Read 3060 times)

P_Muda

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 121
  • Good
    Reputation :
    2
  • SECOND GEAR!!!
  • Respect: 0
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #30 on: 11/12/2009 13:18 »
0
@All

dalam dunia silat dan bela diri pada umumnya memang harus ada yang belagu, petantang-petenteng jadi jagoan, kalau nggak dunia persilatan gak rame.  :w :w :w :D........................................ [[run2]]
17 tapak duka nestapa... pukulan merindukan kekasih

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 5
  • Posts: 968
  • Good
    Reputation :
    55
  • Bapak kok yatian ciyat meyuyuuuu... ???
  • Respect: +3
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #31 on: 11/12/2009 16:30 »
0
Quote from: Irwansyah
Dari hasil pengamatan saya, berkali-kali saya melihat adanya kontradiksi dari ucapan-ucapan orang-orang yang belajar silat. Sebelumnya mengatakan silat itu adiluhung, tujuan belajar silat bukanlah untuk berkelahi atau menjadi jagoan, namun tidak lama kemudian banyak mengumbar kata-kata yang mengesankan ingin menjadi jagoan jalanan, jawara, atau semacamnya. Kenapa bisa ada 'dua wajah' begini yah? Apakah memang harus begini dalam belajar silat atau menjadi pesilat?

Maksudnya Bang Irwan, orang yang sama yang awalnya ngaku belajar silat untuk mbagusin diri, tapi belakangan malah bekoar pingin jadi jawara? Ato pada saat yang bersamaan, yaitu bicara soal pilosopi silat yang adiluhung di satu sisi, tapi di sisi lain perilakunya gak mencerminkan karakter yang adiluhung?

Soalnya, kasus pertama berarti keracunan silat :w, kasus kedua berarti sedang nggak konsisten... seperti ujaran guru saya, Aki Sija, "sedang tahapnya jadi 'jawara'".

Sekalian penasaran, sebenernya persepsi masyarakat tentang silat apa iya memang sudah segitu jeleknya? Soalnya setelah ketemu temen-temen di forum ini dan di mana-mana, ternyata silat masih banyak penggemarnya dan rata-rata memahami silat dengan baik dan beneran... eh... bener.
Trust, but verify...

Pemulung

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 10
  • -Receive: 1
  • Posts: 351
  • Good
    Reputation :
    9
  • Yang Penting Halal
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #32 on: 11/12/2009 17:49 »
0
Bener om antara,   [top] saya masih mencari cari persepsi negatif dan positif yang up to date dari masyarakat.
Jangan jangan memang masalah marketing atau sosialisasi ajah, terutama sosialisasi ada silat A, B, C di tempat A, B, C

Saya pribadi ajah, memang agak miskin khazanah silat betawi dan Silat Jawa Barat dan lewat forum ini baru bener bener terbuka lebar
 :'(
Air Setitik Menjadi Lautan, Tanah Sekepal Menjadi Gunung, Sampah Segunung di laut Menjadi Banjir....

Taufan

  • Moderator
  • Anggota Senior
  • **
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 0
  • Posts: 302
  • Good
    Reputation :
    4
  • Respect: 0
    • Bandarkarima Network!
    • Email
  • Perguruan: Bandarkarima
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #33 on: 11/12/2009 18:54 »
0
Di satu sisi jangan ad hominem dalam diskusi, tapi dari analisa bang Antara kayaknya menjurus ke sese atau bebe-rapa orang yg pernah jadi narasumbernya bang Irwansyah nih...   [[peace2]]

Kembali ke definisi, sah-sah aja sih mendefinisikan jagoan (silat) itu orang yang sombong dan sok jago atau suka berkelahi... tapi menurut saya itu bukan definisi melainkan opini stereotip berdasarkan pengalaman pribadi dengan sampel data yg terbatas. 

Lantas kenapa kita memandang sebelah mata jagoan silat yang berprofesi sebagai keamanan pasar atau lahan parkir? Para jagoan ini telah melewati seleksi hidup mati dan perjuangan panjang memenangkan kompetisi untuk bisa pegang pasar atau lahan parkir. Karena tuntutan profesilah mereka harus secara eksplisit memperlihatkan ke-jagoan-nya. Nah yang menggelitik, kenapa ya jagoan Tae kwon do atau Capoeira nggak ada yang pegang pasar? Apakah karena tidak bergengsi? Pernah tau berapa penghasilan jagoan yang pegang pasar induk Kramat Jati atau Ciroyom? Insinyur ITB aja belum tentu bisa melebihi penghasilan mereka. Pernah tau berapa anggaran raksasa minyak seperti Chevron untuk keamanan di Duri Kulin Field atau Bangko Balam? Lebih gede dari anggaran buat IT boss... Kalo gengsi mah bisa dibeli.

Kemudian mengenai metode pemasaran, di lingkungan terbatas member forum pernah juga sih membahas beberapa aspek mulai dari SWOT, STP, P4, dan competitive advantage... mungkin bang Ochid bisa korek2 lagi tuh emailnya...  :o

Tapi menurut saya akan lebih efektif kalo kita bisa memaksa jagoan silat dengan status "Crouching Tiger Hidden Dragon" yg menjadi pimpinan di berbagai institusi untuk membuka pelatihan silat buat anak buah atau anak muridnya.  x-))

Wassalam,
TP
Bandarkarima Network! www.belatani.com

hudzaifah

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 234
  • Good
    Reputation :
    3
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #34 on: 11/12/2009 23:06 »
0
ngutip tulisan bang dygson:

Di zaman dahulu kala, tersebutlah seorang pemuda yg giat berlatih ilmu beladiri, berpuluh-puluh guru dia temui utk memperkuat fisik & mentalnya, akhirnya tibalah saatnya utk "turun gunung" mengamalkan semua yg telah dipelajarinya, untuk menumpas angkara & membela kebenaran. Berpuluh tahun kemudian, sang pemuda telah menjadi seorang Pendekar tua yg mumpuni & "pilih tanding", yg terpandang namanya, bukan hanya karena kekuatan & keahlian ilmu beladirinya, tapi juga karena keluhuran budi pekertinya. Teman & lawan semua menghormati dirinya, murid2nya pun menjadikannya panutan. Aliran beladirinya kemudian diwariskan bergenerasi kemudian dengan tetap mengenang keperkasaan & kebaikan perilakunya.


Kembali ke zaman modern, belakangan ini dengan semangat pelestarian seni & budaya, beberapa teman menemukan & mempelajari aliran silat yg berumur & memiliki silsilah yg sangat tua, yg mulai punah & susah ditemukan praktisinya.
Tidak dipungkiri, sang pewaris atau praktisi sepuhnya merupakan pendekar2 "pilih tanding" pada masa jayanya, sebagai bukti dari ke-efektif-an aliran silat yg dimilikinya & mungkin bakat pribadi yg mereka miliki.
Yang kemudian muncul di benak saya, di alam yg penuh damai ini, bagaimana generasi penerusnya akan membuktikan efektifitas dari aliran silat yg mereka pelajari?
Terutama bila sang pewaris sepuh telah menutup usia kembali kepada Sang Maha Pencipta, apakah perlu membuktikannya di medan laga (pertarungan & perkelahian hidup-mati)?
Ataukah cukup hanya dengan bermodalkan nama besar sang pewaris sepuh?
Bagaimana generasi penerus bisa membuktikan kualitas mereka, sehingga tidak membuat malu nama perguruan/aliran?
Saya merasa hal ini perlu dipikirkan untuk menjaga warisan budaya agar tidak punah.

Irwansyah

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 254
  • Good
    Reputation :
    3
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #35 on: 12/12/2009 06:09 »
0
@Taufan: Berarti ente mendukung perebutan lahan parkir atau perebutan siapa yang megang keamanan pasar dengan cara kekerasan dong? Sah-sah saja namun, itulah yang menjadi pertanyaan saya. Di satu sisi digaungkan seorang silat harus mempunyai budi pekerti segalam macam namun dalam realitanya kenapa malah berbeda?

Narasumber? Narasumber apa ya?

Irwansyah

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 254
  • Good
    Reputation :
    3
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #36 on: 12/12/2009 06:34 »
0
@Gan Hudz: Pertanyaan ente sama ama yang dipikiran ane, sepertinya dibikin thread baru aja kali yaaa. Karena itukan satu problem yang harus disolve juga buat anak-anak muda yang belajar silat.

HilL

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 68
  • Good
    Reputation :
    2
  • Respect: 0
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #37 on: 12/12/2009 08:01 »
0
Mungkin bgini bang Hud..untuk tau kualitas kita bisa dimulai dg latih tanding sm temen seperguruan..
Kalo pengen nambah wawasan ttg perguruan lain bisa aja ajak 'becanda' dikit2..main jurus cuma buat tau karakter jurusnya..tp kagak beneran tarung..pukulan diganti tepokan ringan..tendangan cuma asal nyenggol..udah tau kadar masing2 ya salaman lagi..terusin sama ngobrol ketawa ketiwi sambil ngopi..

aki sija

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 202
  • Good
    Reputation :
    11
  • Respect: +1
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #38 on: 12/12/2009 08:12 »
0
Dari sekian banyak pendapat...ujung2nya mah sama saja pasti ada dua perbedaan, seperti ada siang ada malam...ada baik ada buruk...ada pagi ada sore....ada besar ada kecil dan banyak2 lagi... itu dinamis.
Yang perlu kita pikirkan bagaimana supaya yang baik bisa lebih dominan dari pada yang buruk ;D ;D ;D

Silahkan sama rekan dipikirin. :w

Salam

Taufan

  • Moderator
  • Anggota Senior
  • **
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 0
  • Posts: 302
  • Good
    Reputation :
    4
  • Respect: 0
    • Bandarkarima Network!
    • Email
  • Perguruan: Bandarkarima
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #39 on: 12/12/2009 09:42 »
0
@Irwansyah, point saya adalah jangan memandang rendah jagoan keamanan pasar, apalagi mencap mereka sok jago segala. Kalo penasaran, coba aja ente jajal mereka, sok jago atau emang jago beneran.  Mendukung kekerasan? Lah lingkungan kerjanya emang membutuhkan itu boss... kalau mendukung Persib tanding dengan kekerasan baru salah kaprah...   :o
Namun masalah keamanan ini memang perlu ditata agar lebih terkendali, makanya Kapolri mengeluarkan SKEP NO 4 THN 2007 tentang Sistem Manajemen Pengamanan. Dari sinilah bisnis keamanan naik daun sekaligus menciptakan lapangan kerja buat rakyat. Diharapkan semua tempat dapat diamankan secara sistematis tanpa perlu selalu dengan kekerasan.  [top]

Narasumber? Nih saya kutip lagi statement ente yg juga dikutip oleh bang Antara:
Quote from: Irwansyah
Dari hasil pengamatan saya, berkali-kali saya melihat adanya kontradiksi dari ucapan-ucapan orang-orang yang belajar silat. Sebelumnya mengatakan silat itu adiluhung, tujuan belajar silat bukanlah untuk berkelahi atau menjadi jagoan, namun tidak lama kemudian banyak mengumbar kata-kata yang mengesankan ingin menjadi jagoan jalanan, jawara, atau semacamnya. Kenapa bisa ada 'dua wajah' begini yah? Apakah memang harus begini dalam belajar silat atau menjadi pesilat?

Bandarkarima Network! www.belatani.com

Irwansyah

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 254
  • Good
    Reputation :
    3
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #40 on: 12/12/2009 10:22 »
0
Mohon diskusinya jangan ad hominem, kalau mau ad hominem japri aja boss! Dan setahu saya narasumber itu artinya orang yang memberikan informasi namun kenapa tulisan saya dikutip lagi ya? Namun, saya juga ga mau membahas masalah itu, saya lebih suka membahas masalahnya, contohnya seperti yang disebutkan aki sija.

thanks

resto

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 62
  • Good
    Reputation :
    0
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #41 on: 12/12/2009 23:17 »
0

gile banget nih topik bagus banget isinya, terutama opini yang dibuat kawan-kawan semua.

Ane mo ikutan dan berbagi pengalaman, awalnya ane berfikir kalo ngumpul sama sahabatsilat yang umumnya adalah pesilat ahli maka akan ditemukan wajah2 yang angker, serem, sok hebat, sok jago dan citra jagoan dah.

Tapi kaget beneran sangat bertemu bang Taufan, Bang Ocid, dan abang-abang lainnya yang ane kenal tapi dia ngga kenal ane. teryata murah senyum nggak ada wajah angker, sifat rendah hati dan mau bergaul dengan siapa saja sangat terasa di komunitas ini, yang hebatnya lagi rahasia ilmu apapun bukan menjadi rahasia alias di Umpetin.

Contohnya waktu ane ketemu yang namanya Pak H Aziz, dia langsung ngasih tau ini itu tentang cikalong, tidak ada yg dirahasiakan, semua dibuka lebar di sahabatsilat.

Pengalaman pribadii dan cukup kental di hati adalah orang yang punya ilmu silat kadang egi=onya suka tinggi, mudah marah dan apa2 maunya ribut, dan itu terbukti dari beberapa kawan ane. dan itupun tidak di temui disahabat silat

Dan ada juga sebuah perguruan yang Ilmunya di tutup rapat2 eh taunya di sahabatsilat dibuka lebar2 bahkan ngga pake syarat kecuali Niat baek untuk mempelajarinya. Kadang ane suka nyesel juga belajar silat lama-lama cuma buat belajar nendang dan mukul, isinya nggak dapet. tapi di sahabat silat ane banyak belajar dan walaupun dikit Insya Allah bermanfaat. Amin


Antara

  • Moderator
  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 5
  • Posts: 968
  • Good
    Reputation :
    55
  • Bapak kok yatian ciyat meyuyuuuu... ???
  • Respect: +3
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #42 on: 13/12/2009 04:04 »
0
Ikutan nitip dua ratus perak  [[peace2]]

Kalo bicara jujur, silat itu bagaimanapun juga adalah ilmu berkelahi, meski dibalut dengan perhiasan apapun. Hakikatnya ilmu berkelahi adalah ilmu untuk mengungguli orang lain dengan cara kekerasan, baik sekedar membuat dia terkaing-kaing karena tangannya kita pelintir, atau sampe semaput gara-gara keteknya kita gelitikin (nah loh).

Lepas dari siapapun orang yang kita ungguli itu, penjahat kek, temen latihan kek, efek dari latihan macam begitu adalah suatu sikap mental untuk menang, unggul, lebih kuat, lebih lincah, lebih cepat... atau singkatnya, lebih jago dari orang lain.

Beda dengan latihan tari yang meskipun sama-sama olah gerak dan olah rasa, tujuannya adalah ungkapan keindahan, sehingga sikap mental yang dimunculkan adalah bagaimana agar kita bisa mengungkapkan keserasian dengan musik, pasangan tari, alam sekitar, dan macam-macam lagi. Jarang loh ada penari yang petantang petenteng di jalanan ::)

Nah, dengan fakta ini sebagai latar belakang, tentu hal yang wajar kalau serba sedikit ada rasa 'unggul' dalam hati seorang pesilat. Pertanyaannya tinggal, rasa unggul ini akan dibawa ke mana?

Sebelumnya tidak pernah saya ungkapkan, tapi saya percaya bahwa sikap adigung adiguna wal jumawa itu adalah suatu proses wajar dari belajar silat... soalnya saya takut dianggap gak sesuai sama ajaran milsapat-nya beladiri x-))... namun Alhamdulillah ternyata guru saya, Aki Sija, punya pendapat yang sama. Terima kasih ya, Aki, ini saya titip GRP. :)

Jika kita bicara tentang manusia normal yang tumbuh secara normal, maka seiring dengan bertambahnya pengalaman dan usia (mental), seseorang akan belajar menerima hakikat keberadaannya. Belajar menerima bahwa dia memang cuma debu dibanding alam yang luas. Ini proses yang harus terjadi secara alami dan tidak bisa dikarbit dengan filosofi apapun. Alam terkembang dan pengalaman adalah guru yang membentuk karakter kita, bukan ujaran bijak para pendekar jaman dulu. Tinggal bagaimana seorang guru membimbing anak muridnya agar selamat sampai ke tahap itu... jangan sampe si murid keburu mati dikeroyok gara-gara nantangin orang sekampung.

Butuh waktu bertahun-tahun dan puluhan duel berdarah bagi Miyamoto Musashi untuk menyadari bahwa pedangnya tidak akan sanggup mengubah gerakan alam.

Dulu waktu aktip di Aikido, saya bertahun-tahun menolak ujian dan pernah beberapa bulan cuma mau jadi Uke (orang yang dibanting, dilipet, dipuntir, dipelintir oleh orang yang melakukan teknik) tanpa balas, semata-mata karena ingin menyingkirkan ego... tapi gagal total... apa boleh buat, namanya darah masih muda :-P Alhamdulillah sekarang ukuran peci saya sudah sedikit lebih kecil dari jaman kuliah dulu. ::)

Nah, bagaimana dengan manusia yang tidak kunjung sampai ke sana?

IMHO, silat tidak bisa lepas dari keseluruhan karakter si pesilat sendiri. Coba bayangkan seorang pesilat yang pengangguran, hidupnya ditanggung oleh istrinya yang cantik yang kerja jadi sekretaris di perusahaan internasional (yang sering dapet hadiah liontin emas dari direkturnya :P). Tiap kali mau berlagak di depan si istri, cukup dibilang "emang lu siapa?", langsung gak bekutik. Saya gak heran kalau pesilat macam ini akan brangasan di jalan. Siapa juga bakal ditantang abis.

Jadi untuk menciptakan pesilat yang mumpuni, ya harus menciptakan manusia yang mumpuni, si pesilat harus punya juga kontribusi di aspek kehidupannya yang lain. Saya ingat sebuah film tentang pelatih gulat di SMA, yang tidak ragu memecat atlitnya yang paling berbakat sekalipun kalau nilai rapor-nya jelek. Mungkin ini bisa kita jadikan pemikiran dalam membentuk perguruan.

Operasionalnya seperti apa, monggo dilanjutkan oleh temen-temen... saya sendiri belum kebayang banget... maklum, kebangun tengah malem sambil nungguin waktu subuh....  :D
Trust, but verify...

Pemulung

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 10
  • -Receive: 1
  • Posts: 351
  • Good
    Reputation :
    9
  • Yang Penting Halal
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #43 on: 13/12/2009 10:47 »
0
Intinya bersosialisasi secara personal, dari sini pencitraan akibat persepsi yang kurang pas bisa terhapus. Berlaku baik pribadi maupun komunal.

Ane kemarin lusa kebetulan diajak sodara saya gan ochid ke gedung hidro, ketemu nama nama legendaris seperti aki sija, haji aceng, kang ujang tentunya juga kang One, kang Luri dan Uda Parewa. Dari situ ane kebuka mata. Besoknya diajak ketemu nama nama legendaris lain seperti Kang Eko, Uda Santri Kinasih, Mantrijeron14, kang Taufan, Pak Bambang Cingkrik, Pak Bambang Sarkoro Marga Luyu, Kang Sarung Kampret, Kong Nizam, Kang Awang GGBD, Duyungson GGBD, dan adek ane yang culun Hudzaifah silat bunder

Bahkan lihat  demo Golok Seliwa, Cingkrik Goning, GGBD dan Silat Bunder. Sedap juga lihat aplikasi tarung yang ganas dari ilmu keluarga kang Sar-Kam. Ane juga sedap banget dapat aplikasi sajam banyak dari kang MJ dan terutama uda SK di silat fun games-nya.

Bagi saya, berinteraksi secara langsung, dan pribadi dengan mereka mereka sangat jauh dari persepsi salah soal jagoan dan jawara. Rendah hati, ketawa ketiwi atau malu malu kucing kayak Gan Hudz. Tetep ajah kalau aplikasi garang dan ganas. Kalau kita aplikasi pun kesungguhan pun diperlihatkan. Ndak bisa dihindari.

Perjalanan masih berlanjut, pertemuan dengan mereka memperkaya khazanah dan hati. Jadi silat-urahmi tidak akan terputus lewat media silat. Terima kasih saudara saudara dan kawan kawan, kalau ada jodoh tentu akan bersua kembali.  [top2]
Air Setitik Menjadi Lautan, Tanah Sekepal Menjadi Gunung, Sampah Segunung di laut Menjadi Banjir....

Pemulung

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 10
  • -Receive: 1
  • Posts: 351
  • Good
    Reputation :
    9
  • Yang Penting Halal
  • Respect: 0
    • Email
Re: Kontradiksi Dalam Belajar Silat
« Reply #44 on: 13/12/2009 13:22 »
0
Kelewat..Mas Dhimas master muda dari KYS..tongkrongan gaul...dan ketemu juga Ki Saung yang benar benar wajah jawara ...Komplit dah.

Juga baru inget waktu mijet uda parewa, ada tamu dari kaskus forum MA dan Supra ngundang kita. Jadi ngikut ngikut juga ndak ?.
Air Setitik Menjadi Lautan, Tanah Sekepal Menjadi Gunung, Sampah Segunung di laut Menjadi Banjir....

 


Powered by EzPortal