Bang resto,
Memang GGBD ini tertutup karena ilmu yang disebar dikalangan keluarga atau kerabat. Adapun sekarang terbuka untuk umum itu memang karena di buka oleh Alloh melalui perantara teman saya (kang Puragabaya).
Menurut saya ini memang ilmu tua yang harus dilestarikan dan dipelajari dengan sungguh-sungguh, dari segi jurus saja terlihat ke-orisinalitasnya.
Ke-buasan gerakan silatnya itulang yang membuatnya mendapat embel-embel budi daya setelah gerakan buas di perhalus dan di "budi daya" kan.
Mungkin inilah salah satu alasan kenapa tidak di sebar secara umum..para rakawira-nya pun memilih sang murid. Gerakan-gerakan teknik (faham) pun mengikuti karakter si pemakai.
Bahwa GGBD terkadang ditempatkan sebagai keilmuan yang tertinggi (di salah satu perguruan silat) itu wajar saja dan memang bila kita mempelajari GGBD secara total maka akan terasa bahwa ini bukan ilmu kacangan. Setiap gerak pukul, gerak jurus, faham memiliki masing-masing filosofinya. Filosofi yang berbeda-beda tapi sebenarnya tidak dibuat-buat karena mengembalikan sang warga GGBD ke hakekat manusia itu sendiri.
Saya tidak meninggikan GGBD hanya karena saya adalah warga GGBD, saya alhamdulillah adalah orang yang sportif dalam menilai sesuatu, maka penilaian saya pribadi (sebelum jadi warga GGBD) adalah bahwa GGBD adalah ilmu yang langka karena ke orisinalitasannya dan harus di lestarikan. Sangat disayangkan ilmu tua warisan nenek moyang tapi kita tidak tergerak melestarikannya.
Pun ketika saya mempelajari GGBD yang (kesannya) jurusnya gampang dan mudah lagi sederhana...ternyata...susah mempraktekannya, banyak yang harus difahami juga filosofinya..
Kalau bang resto mau tahu lebih banyak silahkan datang ke Ciomas atau ke Padepokan Pencak Silat TMII tiap sabtu pagi kami ada latihan untuk kelas karyawan atau cabang GGBD TMII

Tabe'