--Lanjutan Cerita-
Suara tambur yang terdengar tiba-tiba, datang dari jauh dan makin lama makin mendekat, kini terdengar keras diselingi sorak-sorai suara anak-anak, membuat Dolly hampir menangis. Suara tambur itu seolah-olah mengejeknya, seolah-olah mengiringi gerakannya berlatih. Ketika ia melirik ke arah Engkongnya dan para abang seperguruannya, mereka itu masih tenggelam ke dalam semangat yang tetap menggelora. Hampir Dolly terisak-isak dan lari dari tempat itu, akan tetapi ia merasa malu kepada para abang seperguruannya, dan takut kepada Engkongnya. Betapa besar keinginan hatinya untuk pergi menonton rombongan utusan itu!
Utusan kerajaan Singaparna! Banyak sudah dia mendengar tentang kehebatan ibukota raja di sana, akan tetapi hanya mendengar dari cerita kakeknya, kota raja di Kerajaan Singaparna seratus kali lebih besar dan lebih megah dibandingkan dengan rumah-rumah besar di Bojong yang sudah pernah dilihatnya. Dan sekarang, selagi kesempatan tiba dengan datangnya rombongan utusan kaisar, dia tidak bisa menonton, bahkan harus terus berlatih silat! Siapa tidak akan mendongkol hatinya?
Pada saat itu seorang pelayan memasuki kebun tempat berlatih itu, menghadap kakek DF dan memberitahukan bahwa di luar datang seorang tamu yang hendak bertemu dengan kakek DF. Kakek itu lalu menggapai muridnya yang pertama.
“Kaulanjutkan, wakili aku memimpin latihan ini baik-baik. Aku akan menemui tamu.”
“Baik, Guru!”
Kakek itu pergi setelah menoleh ke arah cucunya, kemudian menghela napas dan pergi bersama pelayan itu memasuki rumahnya. Begitu kakek itu lenyap di balik pintu, Dolly serta merta menghentikan latihannya dan berlari meninggalkan tempat latihan menuju ke pintu samping kebun itu.
“Haiii.... adik....! Kau tidak boleh pergi!” kata murid pertama yang mewakili gurunya.
Akan tetapi Dolly telah tiba di pintu kebun samping, dan mendengar seruan abang seperguruannya, dia membalikkan tubuh dengan gaya mengejek, membusungkan dada, membuka bibir dari kanan kiri dengan kedua telunjuknya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek abang seperguruannya itu, kemudian tertawa terkekeh dan lari dari tempat itu. Abang seperguruannya hanya menarik napas panjang saja karena apa dayanya terhadap adiknya yang manja dan bengal itu? Kalau dia berkeras melarang, salah-salah dia bisa dilawan oleh adiknya, dan tentu saja dia tidak menghendaki hal ini.
Dia dan para saudara seperguruannya terlampau sayang kepada adiknya yang Bengal kayak emak-emak di pasar yang suka menawar jajanan, dan akan teriak-teriak kasar kalau tawarannya tidak dipenuhi, akan tetapi walau kayak emak-emak, dia selalu mendatangkan kegembiraan karena wataknya yang periang dan jenaka itu. Dan dia tahu pula betapa besar keinginan hati adiknya untuk menonton rombongan utusan kaisar.
***
Hati Dolly merasa gembira bukan main. Dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri dia menonton rombongan yang megah itu lewat di dusun untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota singaparna yang begitu jauh lagi letaknya dari dusun itu. Bersama para penonton lain yang terdiri dari anak anak dan orang tua laki-laki dan wanita, Dolly terus terbawa oleh rombongan itu. Tanpa terasa kedua kakinya mengikuti rombongan yang berpakaian indah-indah, membawa bendera dan tombak tanda kebesaran yang mengutus mereka, barang-barang berharga dipikul dan berada di dalam peti-peti yang berukir indah. Dengan hati kagum Dolly terus mengikuti rombongan itu, bersama banyak anak-anak lain dan para penonton, menuju ke kota bojong
Akan tetapi setibanya rombongan itu di pintu gerbang di kota Bojong, para penonton itu tentu saja tidak diperkenankan masuk! Penonton menjadi semakin banyak, tertambah oleh penduduk di sekitar istana di kota raja itu sendiri dan dari dusun-dusun lain yang sengaja datang ke kota bojong untuk menonton keramaian ini. Para penjaga dengan ketat menjaga pintu gerbang dan tidak memperkenankan rakyat untuk memasuki pintu gerbang. Karena hal ini mendatangkan rasa kecewa dan protes para penonton, terutama anak-anak berusia belasan tahun, maka terjadilah sedikit kekacauan, dorong-mendorong sehingga di pintu gerbang yang tidak berapa lebar itu terjadi desak-mendesak.
Keadaan menjadi makin kacau lagi ketika beberapa orang penjaga terpelanting roboh dan hal ini dilakukan oleh Dolly ketika dara ini yang berusaha untuk memasuki pintu gerbang dengan nekat, dipegang pundaknya oleh seorang penjaga. Ketika penjaga melihat dara yang aneh seperti laki2 dan masih remaja ini, dengan kurang ajar penjaga itu mengusap dagu Dolly dan lain tangannya berusaha untuk meraba dada untuk meyakinkan bahwa dia perempuan atau waria. Dolly menjadi marah, kaki kirinya menendang tulang kering kaki penjaga itu dan selagi penjaga itu berjingkrak saking merasa nyeri sekali seolah-olah tulang keringnya remuk dan rasa nyeri naik sampai ke ulu hati, Dolly menendang lututnya membuat penjaga itu terjungkal!
Tiga orang penjaga lain datang, seorang di antara mereka menunggang kuda, akan tetapi begitu Dolly bergerak, mereka terpelanting roboh juga, termasuk yang menunggang kuda. Tentu saja keadaan menjadi ribut dan kacau. Anak-anak yang nakal mempergunakan kesempatan ini untuk menyelinap masuk, dan ada penjaga yang berusaha mencegah mereka, ada pula yang mengurung Dolly, dan keadaan makin kacau balau.
Dua orang perwira dari rombongan utusan kaisar maju. Dengan tangan yang membentuk cakar garuda nyangsang di jemuran mereka hendak menangkap dara yang membuat kekacauan itu karena mereka merasa curiga bahwa dara itu tentulah mata-mata musuh yang sengaja hendak menggagalkan tugas mereka. Akan tetapi dengan teriakan nyaring dan marah karena mengira bahwa dua orang perwira inipun hendak berbuat kurang ajar kepadanya, Dolly sudah menggerakkan kaki tangannya dengan cepat dan dua orang perwira itupun terpelanting mencium tanah! Keadaan menjadi semakin ribut dan kini para penjaga maklum bahwa dara remaja itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah!
“Harap Kalian mundur semua, biarlah saya menghadapi pengacau cilik ini!” Suara itu terdengar nyaring dan dalam rombongan kaisar muncullah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun kurang lebih, berpakaian preman namun melihat wibawanya dalam rombongan itu dia tentulah seorang yang penting. Memang demikian sesungguhnya. Pria ini adalah seorang pengawal pribadi kaisar sendiri, seorang yang ditunjuk untuk melindungi rombongan utusan yang penting itu. Orang ini bertubuh tegap, tinggi, akan tetapi yang amat menarik perhatian adalah bentuk kumis dan jenggotnya yang menyolok. Bulu-bulu itu panjang sekali, dipelihara baik-baik dan berjuntai sampai ke perutnya! Jenggot itu merupakan sebuah cambuk tebal dari bulu halus, berwarna mengkilap hitam terhias beberapa warna putih bukan uban, namun ketombe, yang mulai banyak menghias rambut dan jenggotnya.
--bersambung--