Forum Sahabat Silat

Bahasa Indonesia => Aliran Pencak Silat => Topic started by: kohbud on 23/07/2008 11:55

Title: IKS Pro Patria
Post by: kohbud on 23/07/2008 11:55
Permisi Kisawung yang baik hati, saya mohon ijin numpang nempel thread tentang perguruan saya, karena sepertinya banyak yang belum kenal, tanpa sedikitpun maksud untuk menyombongkan diri. Maklum, perguruan kecil. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Terima kasih atas ijinnya.

IKATAN KELUARGA SILAT PRO PATRIA

Sejarah Singkat

Ikatan Keluarga Silat Pro Patria didirikan oleh Suhu V. Lie Kuang Hwa (akrab dipanggil Koh Hwa) pada bulan Oktober 1971 di Madiun, setelah sebelumnya melalui masa-masa perintisan. Kelahiran IKS Pro Patria sendiri sesungguhnya adalah sesuatu hal yang kebetulan saja, karena ilmu silat warisan keluarga yang dimiliki Koh Hwa sesungguhnya merupakan warisan yang dirahasiakan. Namun takdir berkata lain. Dalam suatu kejadian, Koh Hwa dengan sangat terpaksa harus menggunakan ilmunya untuk membela diri, sehingga ilmu warisan keluarga yang dilatihnya secara rahasia itu akhirnya terbuka dan diketahui masyarakat disekitarnya. Akibat kejadian tersebut, banyak kenalan yang kemudian meminta pelajaran secara privat yang tentu saja sulit untuk ditolak. Pelatihan secara privat ini dimulai sejak tahun 1963 hingga 1970, tanpa ada program berjenjang/tingkatan maupun atribut yang jelas, karena memang tidak bermaksud untuk mendirikan suatu perguruan.
Namun pada awal 1971, para warga yang masih setia mengikuti latihan berupaya mendesak Koh Hwa untuk mendirikan suatu perguruan yang resmi. Maka pada tanggal 28 Oktober 1971 di Madiun, didirikanlah “Ikatan Keluarga Kunthauw Pro Patria”. Pro Patria sendiri berarti “Untuk Tanah Air”. Istilah “Kunthauw” sendiri kemudian diubah menjadi “Silat” untuk ikut bergabung dalam IPSI pada tahun 1975 tanpa mengubah hakikat ilmunya.

Tingkatan dan Materi Latihan.
Seperti sudah disinggung diatas, ilmu silat yang diajarkan di IKS Pro Patria merupakan ilmu silat warisan keluarga/marga Lie, yang bersumber dari Shaolin.

Materi yang diajarkan saat ini adalah :

1.   Program Perintis I : Sabuk Putih, 6 bulan.
        Materi : Hwa Jien (Jurus panjang), Toan Ta (jurus pendek) Tui Fa (jurus tendangan) Perintis 1 dan Hwa Jien Pro Patria

2.   Program Perintis II : Sabuk Kuning, 6 bulan.
        Materi : Hwa Jien,Toan Ta dan Tui Fa Perintis 2 dan Panca Tunggal 1 (U Sien Jien/Wu Xing Chuan 1)

3.   Program Perintis III : Sabuk Hijau Muda, 6 bulan.
        Materi : Hwa Jien, Toan Ta dan Tui Fa Perintis 3 dan Panca Tunggal 2

4.   Program Perintis IV : Sabuk Hijau Tua, 6 bulan
        Materi : Hwa Jien, Toan Ta dan Tui Fa Perintis 4 dan Panca Tunggal 3.

5.   Program Pendekar Muda : Sabuk Biru
        Materi : Meng Hu Sia San Jien (Jurus Harimau Galak Turun Gunung)
                 Meng Hu Juk Tong Jien (Jurus Harimau Galak Keluar Sarang)
            Jurus Pisau Tunggal dan berpasangan.
            Meng Hu Twee Ta (Jurus harimau galak – berpasangan)
            4 Naga tanah.

6.   Calon Pendekar : Sabuk Biru strip Coklat.
7.   Pendekar Muda : Sabuk Coklat.
8.   Pendekar : Sabuk Hitam.

Selain sabuk tersebut diatas, juga ada sabuk berwarna merah, yang dikenal sebagai sabuk warga. Sabuk ini digunakan bila ada acara diluar latihan rutin, seperti acara demo, long march, dll.

Materi perintis 1-4 merupakan materi pembaruan yang diciptakan pada tahun 1981, dirancang untuk menyingkat waktu latihan sehingga lebih sesuai dengan perubahan zaman dibandingkan materi sebelumnya yang mengikuti materi tradisional sehingga membutuhkan waktu lama, walaupun hasilnya cukup membanggakan.
Hwa Jien sendiri secara harfiah artinya adalah “tinju/jurus Hwa” karena memang rangkaiannya diciptakan oleh Guru Besar sendiri. Namun nama/sumber sesungguhnya dari jurus-jurus tersebut adalah Jurus 5 Hewan.

Selain materi tersebut diatas, juga diajarkan jurus Lou Han, Jang Jien (Chang Quan) tradisional (berbeda dengan Wushu), T’ai Chi Chuan, Bagua, Xing Yi, Baduanjin/Pa Twan Cing (8 helai sutra) dan lain-lain.


Demikian perkenalan dari saya, atas perhatian dan tanggapannya saya ucapkan terima kasih.

Salam
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: Sosro_Birowo on 23/07/2008 12:16
Kasih acungan jempol dolo utk Kohbud  8) 8) TOP..
Jangan ragu untuk kasih informasi tentang perguruan IKS Pro Patria ini...

Dulu sekali, daku pernah liat (ngintip sih), Pro Patria lagi latian di Kampus Atmajaya Jogya, Mrican..waktu itu sama teman lagi maen ke kampus itu. Trus liat ada yang latian kungfu/silat (?)..ada yang pake pedang segala, bawa toya..Trus liat latian fisiknya, ya ampun berat bgt,(padahal cuman liat aja); banyak juga gerakan lompat-lompat, dengan tendangan yang Oke punya, split, akrobatik ala wushu ..Tapi keren juga. Tapi itu udah lama banget tahun 90'an pertengahan (lupa deh)..
Gak tau sekarang masih ada gak di Atmajaya..

Kasih tau dong gimana perkembangan Pro Patria di Jakarta khususnya, juga daerah lainnya (jogya,dll, setelah didirikan di Madiun...Juga jangan lupa cantumkan dimana aja alamat atau tempat dan jadwal latian di Jakarta; siapa tau ada yang berminat untuk silaturahmi atau malah bergabung ikutan latian.

Nanya lagi,
untuk mereka yang sudah berusia di atas 30/40, bisa gak ikut Pro Patria, soalnya waktu liat mereka latian kayaknya berat banget olah fisiknya...disuruh split segala posisi, cium lutut yg lama, push up pake jari, dll..
Apa punya prgoram khusus untuk yang rada berumur?

satu lagi (nanya terus nih;)), ada latian pernafasan ala tai chi atau qi gong? kalo ada giman utk liat hasilnya lat ini? apa model pemecahan ala MP atau tahan pukul ala baju besi emas-nya gold dragon di komik tiger wong he he he...

salam
S Birowo
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: kohbud on 24/07/2008 10:28
Terima kasih Mas Sosro Birowo atas tanggapannya. Nanya terus ya tidak apa-apa, malah saya sangat berterima kasih karena artinya ada perhatian  :)

Mengenai latihan fisiknya, kalau mengikuti program reguler seperti yang sudah saya sebutkan diatas, memang cukup lumayan. Hal ini karena dalam program tersebut memang aliran yang diajarkan adalah salah satu ilmu "aliran keras", yaitu Hu Jien atau Silat/kung fu Harimau (Tapi 4 hewan yang lain tetap hadir koq  :) ). Untuk "aliran lunak"-nya biasanya diajarkan di tingkat lanjut dan seringkali dilatih khusus diluar jam latihan reguler. Walaupun disebut "aliran keras", bukan berarti tidak ada ilmu pernafasan atau jikung-nya. Jurus pernafasan bahkan sudah dikenalkan sejak awal (sabuk putih), yaitu dalam rangkaian jurus Hwa Jien Pro Patria (dalam catatan lama di Madiun disebut U Sien Jien juga). Tapi karena alirannya keras, maka jikung-nya juga "jikung keras", yang lebih menekankan pada penguatan otot, tulang dan fisik tubuh secara umum, disamping ji/chi-nya sendiri. Cocok untuk pukul-pukulan dan kepruk-keprukan, bila dilatih dengan tekun. Tentunya secara otomatis akan ada peningkatan kesehatan juga.

Untuk yang sudah berusia di atas 30/40, mungkin dapat ikut program T'aichi jikung-nya dulu, nanti bila sudah (merasa) lebih "fit" dapat bergabung dalam program reguler (kalau mau, he he, kalau tidak ya tidak apa-apa). Program T'aichi jikung Pro Patria dirancang seperti kursus singkat, dibagi dalam 3 tingkat, tiap tingkatnya sebanyak 16 kali pertemuan. Tingkat 1 melatih jikung, tingkat 2 melatih taichi panca unsur dan tui shou, tingkat 3 aplikasi dan jurus panjang. Walaupun dibagi menjadi 3 "tingkat", program ini tanpa sabuk tingkatan (atau "non-gelar" kali yaa..he he ). Tapi yang penting kan ilmunya, ya. Kalau sabuk mah di toko juga banyak  :D

Untuk melihat hasil latihan jikung, wah, gimana ya? Sebenarnya sih hasil latihan tersebut bisa dirasakan sendiri oleh praktisinya. Untuk jikung keras (program reguler), di cabang Jogja khususnya memang ada acara pecah-pecahan tiap kenaikan tingkat. Sedangkan untuk jikung yang lunak, hasilnya lebih sulit lagi untuk diukur, karena bekerja "dari dalam ke luar". Maksudnya, jikung lunak lebih mengutamakan penguatan organ-organ dalam terlebih dahulu dibanding otot-otot. Praktisi umumnya merasakan peningkatan kesehatan yang cukup signifikan. Bila sedikit berbakat, mungkin dapat merasakan aliran chi yang timbul. Bila tidak/belum dapat, bukan berarti tidak ada lho.
Menurut standar tradisional, latihan jikung mulai menunjukkan hasil setelah 1 musim/3 bulan/100 hari berlatih. 1 musim setara dengan 1 siklus kecil. 1 tahun merupakan 1 siklus yang lengkap/besar. Untuk mencapai hasil yang "lumayan" menurut standar tradisional, seseorang paling tidak harus berlatih (baik jikung maupun kung fu) dengan tekun selama 10 siklus besar, alias 10 tahun.

Mengenai perkembangan Pro Patria sendiri, cabang-cabang yang ada diantaranya adalah di Malang (Lawang), Ponorogo, Bali, Samarinda, dan Jogjakarta (Unit UGM dan Atma Jaya). Untuk di Jakarta, mungkin dapat menghubungi Pak Noviar di Depok (08137807842). Kalau tidak salah Beliau berencana untuk membuka program t'aichi jikung. Beliau ini juga dulu yang merintis cabang Pro Patria di UGM/Jogjakarta.

Sekian dulu ya mas, nanti kalau kepanjangan malah bosan, he he. Mudah-mudahan dapat sedikit menjawab pertanyaan yang diajukan.

Salam..
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: Mantrijeron14 on 24/07/2008 11:30
Salut dah me Kohbud en PP [top]
Ni perguruan walopun dr tiongkok sana akarnye, namun penamaan jurusnya sudah make istilah di mari.!!

Nanyak dwong Koh... sekarang apa PP mase ngikut IPSI??? Dulu ane mase sering bertanding nih ame temen2 PP... tangannye mak... keras amat!!!

Ane ade kenal ame praktisi PP yg dulunye merintis PP masuk ke UGM, namenye mas Tono, penerjun payung jugak. Mase kenal beliau Koh???

Wassalam,
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: kohbud on 26/07/2008 05:34
Makasih banyak, Bang Mantrijeron,

Memang hampir sebagian besar nama-nama jurus yang digunakan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tapi kalau nama aliran silat, macam Pakua/Bagua (Silat segi 8 ) ya terpaksa pake aslinya. Mungkin kayak Cingkrik, Cimande atau Seliwa, dibawa ke mana aja ya namanya tidak berubah. Tapi mungkin ada sedikit pengecualian, karena Guru Besar pernah bikin stiker yang ada tulisannya "Ilmu Silat Belalang", bahasa aslinya sih Tang Lang, he he he. Mungkin yang lebih tepat "Ilmu Silat Cengcorang" kali ya. Di Madiun dulu memang pernah dibuka 2 "pintu", yaitu Harimau dan Belalang, tapi sekarang tinggal Harimau saja.

Mengenai status IKS Pro Patria, hingga saat ini secara organisasi IKS Pro Patria masih setia bergabung dengan IPSI. Walaupun sudah ada Wushu, Guru Besar memutuskan bahwa PP tetap ikut IPSI, karena memang merasa sebagai warga silat Indonesia, bukan yang lain. Guru Besar sendiri kalo tidak salah duduk di kepengurusan IPSI Kota Madiun, dalam Dewan Penasehat seingat saya. Lebih jauh lagi, menurut Guru Besar, Wushu modern itu jurus-jurusnya 75% seni, 25% beladiri, sedangkan PP 25% seni 75% beladiri, jadi kalau dibandingkan secara langsung akan terlihat bedanya. Wushu penuh kembangan dan akrobat yang enak ditonton, kalau PP ya kurang enak ditonton kecuali oleh penikmat tertentu saja, itu juga kalo yang memperagakannya bisa bagus karena kembangannya memang sudah habis dilucuti. Kalau kurang tenaga dan penghayatan, waduhh..sepet deh di mata  :-P

Tentang Mas Tono...tanpa bermaksud membuat Bang Mantrijeron merasa tua, he he he..itu senior saya jauh di UGM, angkatan 80-an..seangkatan dengan Pak Noviar. Saya dengar beberapa warga PP UGM yang di Jakarta pernah kumpul-kumpul, dan Mas Tono kalau tidak salah juga tinggal di Jakarta sekarang. Mungkin kalau Bang Mantrijeron mau kontak-kontak, bisa tanya Pak Noviar dengan nomor hp tsb diatas.

Matur nuwun..

Salam..


Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: Mantrijeron14 on 27/07/2008 21:12
Koh..
ane mah gak merasa toku lah... wong ketemu mas Tono di pertemuan kantor bini, begitu nyenggol2 sport eh keluar nih crita MA-nye... langsung deh kite bedua tepekur lupa waktu :D lagian ane kan angkatan jaoh juga dibawahnye... ::)

Mase di IPSI toh?? .. mangstabh!!... makin salut nih aye Koh!!! Salam buat temen2 PP dah!!

Wassalam,
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: Antara on 28/07/2008 12:05
Koh... terangin ke kita artinya Pro Patria dong... bukan bahasa Cina 'kan ituh?

samakah artinya dengan syair: Dulce et Decorum est Pro Patria Mori?
(Saya bacanya di komik Asterix, pertandingan antar kepala suku [lucu]. Katanya sih, artinya, Sungguh indah dan Pantas untuk Mati demi Tanah Air)

Salam,
Antara
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: robby09210 on 29/07/2008 15:31
Salam Kenal
Saya warga IKSPI KERA SAKTI...
klo ga salah IKSPI dan IKSPP itu dulu saudara seperguruan ya...saya cuman tanya krn denger2 gitu, mumpung ada warga IKSPP sebaiknya tanya, dari pada salah pengertian...
Terima kasih sebelumnya
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: kohbud on 04/08/2008 07:34
Koh..
ane mah gak merasa toku lah... wong ketemu mas Tono di pertemuan kantor bini, begitu nyenggol2 sport eh keluar nih crita MA-nye... langsung deh kite bedua tepekur lupa waktu :D lagian ane kan angkatan jaoh juga dibawahnye... ::)

Mase di IPSI toh?? .. mangstabh!!... makin salut nih aye Koh!!! Salam buat temen2 PP dah!!

Wassalam,

wah, maap nih..balesnya baru sekarang.
Syukurlah kalo Bang Mantrijeron gak merasa toku, he he. Tua atau muda, sebenarnya yang penting mah semangat. Itu yang kudu dijaga. Kalo masih semangat...tancep teruss !! Gak ada matinye..
Thread kerisnya kita sambung lagi, ya... :)

@Bang Antara,

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas "Pro Patria" artinya adalah "Untuk Tanah Air", dalam hal ini tentunya untuk tanah air Indonesia, bukan yang lain. Kalau di Asterix disebut "Demi Tanah Air", kurang lebih maknanya sama. (Btw, ini yang Asterix yang judulnya apa ya? kayaknya saya juga pernah baca  [lucu] ) Jadi IKS Pro Patria, sesuai namanya, ya untuk tanah air Indonesia. Koh Hwa sendiri kelahiran Indonesia, kalo tidak salah Pamekasan (Madura), 70 tahun yang lalu, gemar makan pecel madiun dan selalu mengutip nasehat R.Ng. Ranggowarsito, "Sabar, Nerima, Eling dan Waspada". Kakek beliau menikah dengan orang Bandung. Kalau pernah saya sampaikan ilmunya adalah warisan keluarga yang dirahasiakan, itu karena tradisinya memang begitu, baik waktu masih di daratan Tiongkok sana, maupun setelah bermigrasi ke Indonesia. "Dirahasiakan" disini menurut saya harus dibedakan dengan "tertutup". Rahasia disini berarti "dilatih secara sembunyi-sembunyi", tidak punya perguruan, tidak pernah diekspose keluar, dan tidak menerima murid. Hanya diwariskan secara "gethok tular" dari ayah ke anak atau keluarga dekat lainnya.  Kalau "tertutup" artinya ada perguruan dan menerima murid tetapi murid perguruan tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti ras/keturunan, agama atau afiliasi politik tertentu, misalnya. Mungkin juga dilakukan ekspose media secara terbatas, untuk mengembangkan perguruan atau keyakinannya.

Koh Hwa sendiri mendapatkan ilmunya dari ayahnya yang bernama Lie Gun Yin, sedangkan ayahnya (tentunya) mewarisi ilmunya dari kakeknya, Lie Jen Ciao. Lie Jen Ciao ini didaratan Cina (Kuantung/Kanton) adalah pendekar yang cukup terkenal, yang disebut-sebut tergabung dalam "10 Harimau Kwantung", seangkatan dengan Wong Kei Ying, ayah Wong Fei Hung.
 
http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_Tigers_of_Canton (http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_Tigers_of_Canton) (dieja dengan nama Lay Yun Chiu/Li Ren Chao)

Ada juga filmnya (film silat "Cina Ngamuk" jadul banget)berjudul "Ten Tigers of Kwangtung"

http://www.youtube.com/watch?v=J5IOZOfY5cA&feature=related (http://www.youtube.com/watch?v=J5IOZOfY5cA&feature=related) tokoh Lie Jen Chao dimainkan oleh Ti Lung.

Secara "lineage", ilmu silat Guru Besar memang cukup "kuat". Beberapa jurus yang diwarisi oleh Guru Besar bahkan dapat dikatakan telah punah di daratan Cina sendiri (dan tentunya sekarang menjadi salah satu kekayaan Indonesia, he he he )

Kalau Koh Hwa memaksudkan "Tanah Air" sebagai daratan Cina sana tempat leluhurnya berasal, mungkin Beliau sudah pergi ke sana, karena menurut seorang senior, pernah ada orang dari Hong Kong yang meminta Beliau "pulang kampung" dan mengajarkan ilmu beladirinya di sana (tentunya lengkap dengan jaminan finansial). Nyatanya beliau tolak. Perlu dicatat, beliau hingga saat ini tidak menikah (masih perjaka ting-ting, hehe  x-)) ), jadi kalau mau "pulang kampung" ya tidak banyak yang perlu diboyong/dipikirkan.

Pandangan dikotomi pri-nonpri ciptaan Belanda saya pikir tidak perlu dibesar-besarkan dan bahkan harus dihapuskan. Dijaman Belanda,WN Hindia Belanda dibagi 3 kelas: kelas 1 golongan Eropa, kelas 2 Orang asing lainnya termasuk Arab dan Cina, kelas 3 ya Inlandeer, kayak saya ini. Di beberapa tempat seperti klub, tertulis di pintu "Anjing dan Inlandeer dilarang masuk!". Karena itu panggilan Inlandeer di jaman Belanda merupakan kata-kata hinaan, mungkin seperti panggilan "negro/niger" untuk orang-orang keturunan Afrika saat ini. "Kowe orang Inlandeer!!" kata Hamid Arief yang berperan jadi Tuan Meneer kalau lagi ngamuk dalam film Si Pitung, he he.  Padahal sejak jaman dulu, nenek moyang kita tidak pernah melakukan diskriminasi ras/keturunan. Nusantara adalah tempat yang kosmopolit sejak jaman dahulu kala. Kapal-kapal dagang dari seluruh dunia bebas bersliweran dalam pasar yang benar-benar bebas dan adil, jauh sebelum Barat memperkenalkan (memaksakan?) "Pasar Bebas" bersyarat seperti sekarang ini. Sebaliknya, di saat Nusantara dahulu melaksanakan pasar bebas, Barat malah memaksakan monopolinya. Dunia yang aneh, kata Tora Sudiro  [lucu]



eh..ehh...maap kalau rada OOT..he he he

Salam
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: kohbud on 04/08/2008 07:59
Salam Kenal
Saya warga IKSPI KERA SAKTI...
klo ga salah IKSPI dan IKSPP itu dulu saudara seperguruan ya...saya cuman tanya krn denger2 gitu, mumpung ada warga IKSPP sebaiknya tanya, dari pada salah pengertian...
Terima kasih sebelumnya

Salam kenal juga, Mas Robby,

Seperti yang sudah saya tulis diatas, Guru Besar (tepatnya sih "Ketua Dewan Guru") IKS Pro Patria, V. Lie Kuang Hwa, mewarisi ilmunya dari ayahnya yang bernama Lie Gun Yin, jadi tidak ada "perguruan". Kalau ada "saudara perguruan" tentunya juga akan memiliki hubungan keluarga.

Tetapi mengenai Pak Totong (Guru Besar/Pendiri IKSPI), kebetulan Koh Hwa pernah sedikit bercerita. Pada intinya, beliau mengenal dengan baik Pak Totong, dan bahkan pernah membagi ilmunya dengan beliau (kalau tidak salah teknik kuda-kuda). Disamping itu, Koh Hwa juga pernah memperingatkan saya untuk berhati-hati kalau mencuci/marangi keris (kebetulan saya memang suka mencuci keris 1 tahun sekali guna mengumpulkan dana bagi paguyuban penggemar keris di Jogja, bukan untuk IKS Pro Patria, lho..he he he), dan kebetulan Beliau bercerita tentang Pak Totong, yang karena kegemarannya mencuci keris menyebabkan racun warangan mempengaruhi kesehatan beliau (sesak nafas?) hingga meninggal. Apa Pak Totong sering mencuci keris ? Wah..mungkin saya perlu periksa kadar arsen dalam tubuh saya nih, he he he.

Dengan demikian saya simpulkan, alih-alih "saudara seperguruan", saya pikir hubungan Koh Hwa dan Pak Totong adalah hubungan persahabatan/persaudaraan antara sesama pendekar, dan bukankah mereka juga tinggal 1 kota? Dalam dunia persilatan saya pikir kita semua bersaudara, tidak perduli perguruannya apa. Mudah-mudahan hubungan persaudaraan seperti yang telah dicontohkan guru besar kita berdua dapat terus kita lanjutkan.

Salam..
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: one on 04/08/2008 23:53
nah, ini nyang ane seneng....pemaparan tentang aliran dan perguruannya lugas namun mantab euy [top] [top] [top]. Salam kenal dari saya yang baru belajar Kohbud.... ^:)^

Salam

one
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: robby09210 on 06/08/2008 10:27
Salam kenal juga, Mas Robby,

Seperti yang sudah saya tulis diatas, Guru Besar (tepatnya sih "Ketua Dewan Guru") IKS Pro Patria, V. Lie Kuang Hwa, mewarisi ilmunya dari ayahnya yang bernama Lie Gun Yin, jadi tidak ada "perguruan". Kalau ada "saudara perguruan" tentunya juga akan memiliki hubungan keluarga.

Tetapi mengenai Pak Totong (Guru Besar/Pendiri IKSPI), kebetulan Koh Hwa pernah sedikit bercerita. Pada intinya, beliau mengenal dengan baik Pak Totong, dan bahkan pernah membagi ilmunya dengan beliau (kalau tidak salah teknik kuda-kuda). Disamping itu, Koh Hwa juga pernah memperingatkan saya untuk berhati-hati kalau mencuci/marangi keris (kebetulan saya memang suka mencuci keris 1 tahun sekali guna mengumpulkan dana bagi paguyuban penggemar keris di Jogja, bukan untuk IKS Pro Patria, lho..he he he), dan kebetulan Beliau bercerita tentang Pak Totong, yang karena kegemarannya mencuci keris menyebabkan racun warangan mempengaruhi kesehatan beliau (sesak nafas?) hingga meninggal. Apa Pak Totong sering mencuci keris ? Wah..mungkin saya perlu periksa kadar arsen dalam tubuh saya nih, he he he.

Dengan demikian saya simpulkan, alih-alih "saudara seperguruan", saya pikir hubungan Koh Hwa dan Pak Totong adalah hubungan persahabatan/persaudaraan antara sesama pendekar, dan bukankah mereka juga tinggal 1 kota? Dalam dunia persilatan saya pikir kita semua bersaudara, tidak perduli perguruannya apa. Mudah-mudahan hubungan persaudaraan seperti yang telah dicontohkan guru besar kita berdua dapat terus kita lanjutkan.

Salam..
wah saya keseharian Pak Totong ga tau, dia suka cuci keris atau ga....tp ini masukan buat saya tentang info persahabatan antara Koh Hwa dan Pak Totong begitu juga tentang info keris, semoga kita sebagai muridnya meniru guru besar kedua perguruan
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: adit joker on 15/08/2008 11:13
baju seragam latian IKSPP itu bagaimana? ada pic nya gak?
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: Shadow on 05/11/2008 23:25
wah kl baju latiannya kl gak salah putih garis merah celananya warna hitam ada garis merah dan ada tulisan propatria. untuk picnya aq ndak ada soalnya sblm ikut ikspi aq ikut iks pro patria jg. tp ndak pernah pake seragam, soalnya lsg latihan ke guru besar iks pro patria. wkt itu aq ikut tai-chinya so di suruh ikut ke latihan kungfunya. hehehe gile berat banget, soalnya stamina en nafas harus terjaga. kl nafas udah ada taichi jd ya nyantai aja. cumen stamina/fisiknya, gak kukuh. hehehe. nah sewaktu resmi jadi perguruan saya udah ndak pernah latihan lagi baik kungfu / taichi di iks propatria maupun di ikspi kera sakti.
Title: Re: IKS Pro Patria
Post by: kentitsrby on 20/02/2009 10:29
mohon info...
apakah ada padepokan IKS Pro Patria
di Sidoarjo
syukur2 di GOR...