+-

Video Silat


Shoutbox

13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
30/03/2015 14:06 initial_d: Sepi amat ya bang, pada kemane nih penghuninya....
20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
18/10/2018 17:03

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

maenpo Cikalong by aki sija
25/02/2015 22:01

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Wayang  (Read 2343 times)

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Wayang
« on: 01/06/2010 18:35 »
Pewayangan Jawa menurut cerita dongeng tutur, dibuat oleh Raja Jayabaya  dari Kerajaan Mamenang. Sekitar abad ke 9-10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu karena beliau pemuja Dewa Wisnu.

Pada waktu jaman Jenggala, Sri Suryawisesa berkuasa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa.konon setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dengan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.

Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Suryaamiluhur. Beliau memindahkan gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan moyangnya ke dalam kertas.

Saat jaman Majapahit wayang mulai disempurnakan dalam bentuk gulungan. Gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Mungkin karena itu wayang ini disebut Wayang Beber

Pada masa Brawijaya terakhir mempunyai putra bernama Raden Sungging Prabangkara. Raden ini  menyempurnakan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan kasta dan wujud tokoh dari tokoh-tokoh pewayangan itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya.

Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit  maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak, Syekh (syah)  Alam Akbar atau Rd Fatah sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Pada masa itu  agama Islam sedang berjaya dan ada beberapa pemahaman gamelan dan wayang yang berbau agama Hindu mempunyai masalah khilafiyah dengan bentuk manusia dan patung menjadi berhala. Akhirnya tercipta wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambar manusia(gambar yang diharamkan). Hasil rembugan para Wali Songo, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan di-buat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki.
Maka terjadilah perubahan yang besar-besaran. wayang menjadi bentuk yang baru, menggunakan layar hingga bayangannya saja bila dilihat dari sisi lain dari dalang,  menggunakan pohon pisang untuk menancapkan wayang, palu untuk memukul kotak, menggunakan kotak untuk mengumpulkan wayang.
Pada jaman Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam  gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk dan mata wayang yang berbentuk bundar terasuk penampilan wayang sebagian cat yang berwarna keemasan.
Pada waktu itu Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog, Gedog berarti kuda. Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan Panji Kudhawanengpati. Sunan Kudus alias Syekh Ja'far Ash-Shodiq menampilkan wayang Gedog di sekitar Istana sedang Sunan Bonang menampilkan diluar istana sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan. Cerita Damarwulan adalah cerita peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.
Sunan Kudus juga menciptakan wayang Golek dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang Purwa dan diiringi dengan gamelan Slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab.
Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan Topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceriteranya diambil dari pakem wayang Gedog yang akhirnya disebut dengan topeng Panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang Purwa. Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang Purwa dan wayang Gedog. Wayang ditatah halus dan wayang Gedog dilengkapi dengan keris.

Wayang Purwa maupun Wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati.Pada masa beliau pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan.
Lalu kemudian Wayang Wong dan Wayang Topeng.

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal