Forum Sahabat Silat
Bahasa Indonesia => Seputar Dunia Beladiri => Topic started by: HartCone on 27/09/2009 12:10
-
Terinspirasi oleh thread Kalarippayattu...
Ada banyak beladiri berbasis senjata diluar Indonesia, FMA (Filipino Martial Arts), Kenjutsu/Kendo dan keluarganya (Jepang), Anggar (Eropa), Kalarippayattu (India), Jogo do Pau (Portugis), dan banyak lagi yang lainnya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Kenapa beladiri yag berbasis pada senjata tidak berkembang disini? Kalau ada beladiri berbasis senjata apa sajahkah itu? Ujungan, Ojung atau ada lagi yang lainnya?
Kalaupun nantinya ada satu praktisi yang ingin mengembangkan bentukan beladiri bersenjata yang diambil dari penggabungan budaya lokal dan budaya luar, apakah itu bisa disebut beladiri asli Indonesia? Bisakah nantinya dinaungi dalam wadah Pencak Silat?
maaf kalau pertanyaannya seperti pertanyaan orang bodho... :D
Salam,
HC
-
MasHC memang penggemar senjata.. Di lombok ada tuh permainan model pake senjata rotan n tameng..di ntt, alor, maeanan khusus pake klewang, di betawi ada yg maenan khusus golok n pisau, di minang masih ada yg khusus main kerambit..untuk 2 yg terakhir ane tau gurunya..
-
Dari mas O'ong di FaceBook, beliau menyajikan video Silat Bawean dengan pedang.
Sejarah babad Jawa penuh dengan cerita pertempuran dengan senjata dan jamannya eyang saya orang masih pakai toya, tombak dan pedang.
Evolusi silat ke tangan kosong saya sangka karena di jaman modern senjata tajam tidak begitu berguna seperti halnya pada jaman nenek moyang ... dan silat sifatnya 'survival' mengandalkan yg praktek dan berguna. Apalagi di jaman modern, apa gunanya golok kalau yg dihadapi punta pistole, M-16 dan AKM-47?
Pencak pada umumnya berguna sebagai persenjataan pribadi ... last resort ... jadi peralatan silat di jaman sekarang (dilapangan perang) lebih logis pakai golok pendek, parang, pisau atau belati. Diwaktu damai pada umumnya senjata tajam akan menarik perhatian yg negatip dari pihak oknum2 keamanan ... jadi sudah tidak praktis lagi! Saya sendiri kalo jalan2 malam hari dengan membawa 'hiking stick' ... jo yg kayunya dari 'waxwood' (?) ... semacam tongkat pendek. Lebih praktikal daripada senjata tajam disini, apalagi kalo terlibat dalam sesuatu 'peristiwa' :w.
Rahayu,
mbah kiai poh
-
Kang Santri,
lha iya kan klo pengen belajar beladiri harus ada korban materiil, tuh tidak ada satupun yang deket dengan lokasi saya...
btw, ntar klo ke Jakarta saya pengen sowan ke guru2 senjata yang panjenengan kenal, hehe minta dianterin...
Mbah Kyai Poh,
ya saya setuju banget kalau sesuatu termasuk beladiripun ikut pada perkembangan jaman, apa yang ada pada jaman tersebut akan mempopulerkan sekaligus juga meng impopulerkan satu bentukan beladiri yang ada.
Tabe'...
-
Lanjut,
Sebagai pelestarian budaya bangsa, kenapa tidak ada upaya ke arah situ, okelah katakan now days ajah untuk mengembangkan beladiri tangan kosongnya sendiri pencak silat sepertinya belum menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.
tetapi mengingat apa yang anda katakan, jaman masa lalu Indonesia, mau tidak mau orang harus mengakui keberadaan senjata itu adalah dominan banget.
Kita belajar senibeladiri itu kan tidak hanya untuk sebagai ilmu beladiri sajah, begitu banyak maksud dan tujuan yang terkandung didalamnya sesuai dg masing2 praktisi.
Undang2 di negeri ini, dan tentunya juga pada negeri2 luar lainnya, menganggap senjata (terutama tajem) itu adalah barang larangan, dan budaya seperti ini bukan hanya untuk masa kini sajah, itu kan bisa dilihat dari dimarginalkannya senjata pada masa2 didalam sejarah berbagai kebudayaan, contohnya budaya Okinawan, yang melahirkan kobujutsu, didalemnya tidak ada ditemukan pelajaran pedang panjang ala samurai, lebih banyak pada alat2 pertanian (nuncaku, sai, bo, tonfa, dll) so kata cerita karena jaman itu orang2 Okinawa juga dimarginal oleh Jepang dalam pemakaian senjata untuk keperluan perang, karena membahayakan keamanan negara dan masyarakat pada saat itu.
Kita sendiri pernah dijajah sama Londo selama 350 th, otomatis memang ada satu bentuk pelarangan terhadap senjata lagi, sehingga bentuk pelatihan beladiri bersenjata pun jadi tersisih.
Kalao kita lihat lagi pergembangan budaya beladiri bersenjata milik luar negeri (banyak), dan seharusnya toh juga di negeri2 mereka juga ada pelarangan yang serupa. Saya ga tau kenapa milik mereka bisa berkembang? sedangkan punya kita perkembangannya nyaris tidak terlihat.
Tapi bagaimanapun budaya beladiri bersenjata itu adalah satu kekayaan yang berharga milik kita, apalagi kalau lihat berita yang dikatakan nyaris punah (indonesian stick fighting), lha apa tidak eman2 banget itu?
Okelah kalau dikatakan lagi dalam Pencak Silat pun senjata juga menjadi bagian dari kurikulum, tetapi kalau dicermati lebih dalam, dimana itu diajarkan? dibagian belakang? so kalau ada orang yang putus ditengah jalan dan melanjutkan pelajarannya di situ, otomatis dia ga punya kesempatan untuk mencicipi bagaimana menggunakan ituh senjata.
Pencak Silat memang tidak lepas dari budaya beladiri, menjadi bagus dalam pertarungan, tetapi apa setiap praktisi yang berlatih Pencak silat hanya punya tujuan jadi hebat dan tidak terkalahkan dalam setiap pertarungan? kan enggak!
Kembali lagi deh membahas tentang masa ini, dimana sudah ada hukum, ada begitu banyak peraturan yang bisa membuat slamet penduduk (hehe tentunya belum semuanya, kan masih ada yang ribut tuh), saya pribadi kalao boleh berpendapat, sudah gak jaman kalau mau belajar beladiri hanya untuk tujuan semata2 membeladiri, malah saya tidak menganjurkan untuk itu, bagi saya membela diri pake seni beladiri itu adalah the last resort! pilihan terakhir...
Dengan pola pikir yang seperti saya kemukakan, itu beladiri bersenjata eman2 kalau sampek punah...
Tabe'...
-
Kali ini saya poting kembali postingan yang sudah saya post di forum selelah....
----------------------------
Petarung Pisau/Pedang : Brutal, Kelas Rendahan??
Edged weaponry adalah sesuatu yng kurang populer di indonesia, mungkin kurangnyah sosialisasi, atau juga mungkin karena akibat UU Darurat No.12 th 1955, ttg pelarangan senjata tajam.
tidak dapat dipungkiri senjata adalah atribut penjahat, like penodong, garong, preman dll, but tidak dapat dipungkiri juga senjata adalah instrument of war...
banyak pendapat, banyak yang mengelutinyah, namun ada yang memandang sinis, bahwa belajar senjata itu tidak lebih adalah untuk menjawab kekurangan n ketidak mampuan diri dalam berkiprah pada Martial Arts tangan kosong...
Atau mungkin ada yang berpendapat bahwa Edged Weapons Martial Artists adalah pemimpi yang terlalu idealis akan kejayaan para Knight, Samurai, atau Ninja?? Namun belajar beladiri bersenjata atau tidak itu merupakan hak masing2 person dg segudang alasan yng ada...
Bagaimanapun juga dg senjata akan lebih ada kemudahan, apalagi senjata tajam atau senjata2 yang panjang....
Beladiri tangan kosong adalah beladiri untuk kalangan sipil, yang lahir karena pelarangan penguasa. Jaman kuno (Jepang, China, Majapahit, Eropa dll) ada satu bentuk pelarangan terhadap senjata tertentu, karena senjata bagaimanapun juga bila diijinkan bagi orang2 sipil nantinya akan membuat chaos, pemberontakan dll.
Senjata adalah 'Arness de Mano" yang artinyah adalah perkerasan dan perpanjangan jangkauan terhadap tangan, bagi orang beginer, dipersenjatai berarti dia menjadi diatas beginer, dan ini sudah di terapkan dalam FMA ketika menghadapi invasi Spanyol, dimana para petani dipersenjatai dan bisa mengimbangi tentara spanyol saat itu, walaupun pada akhirnyah tetep sajah spanyol masuk Filipino dalam beberapa abad...
Seperti saat ini juga ada bentuk pelarangan senjata tajam dan senjata api di Indonesia, nah konteks now day bagi Beladiri adalah Beladiri Sipil, dan itu sudah menjadi terdoktrin bagi masyarakat, sehingga ada satu anggapan bahwa membawa senjata itu orang ketakutan, baru belajar beladiri, ga percaya diri dll, dan mungkin pendapat ini adalah pendapat sebagian besar masyarakat awam dan masyarakat MA tentunyah...
Konteks beladiri pertama kali adalah Martial Arts, yang berarti Science of War, dalam konteks War senjata adalah hal yang mutlak, dimana terdapat teknologi yang mengembangkan senjata itu sendiri, sehingga akhirnyah War sendiri lepas dari Martial Arts, now day konteks War adalah perang teknologi....
Konteks beladiri saat ini adalah Martial Way, nah ini kan sudah beda, bukan war/perang lagi yang diutamakan tetapi menjadi "jalan, path, atau way", dg kata lain beladiri sudah disantunkan...
dan ini sangat terlihat jelas sekali pemisahannyah dalam Beladiri jepang, dimana ada "gendai" dan "koryu" dg pemisahan pengakhiran "do" dan "jutsu", dimana setiap "do" adalah dipelajari orang sipil, dan "jutsu" tetep dipelajari militer, Dan kebetulan kita semua yang bincang2 ini adalah bukan orang2 yang punyah: Lisence to Kill, semua pembicaraan ini tentunyah masuk dalam koridor "do"/"way" sajah...
Salah satu contoh dari filem, Hunted: dimana seorang instruktur knife fighting yang selamanya ga pernah membunuh, apa yang dia punya hanyalah teory (way) dihadapkan dg muridnyah yang notabene adalah militer, dan menjadi psykopat akibat tekanan batin dalam peperangan (real action)...
pada akhirnyah dalam keadaan terdesak itu "way"/"path" bisa digunakan dalam keadaan real dg segala pergolakan dalam batinnya...
Sulit untuk berbicara ttg edged weapons sebagai bentuk aplikasi sesungguhnyah, karena kita semua adalah orang2 yang bukan militer, walaupun apa yang kita pelajari saat ini namanyah "jutsu"/"killing arts" tetep ajah itu hanyah sebagai simbol!! apa yang kita pelajari saat ini adalah tetep bagian dari "do", just the way, yang penuh romantisme dan fantasy,. Dimana pada akhirnya bagi sebagian orang, adalah sangat membuang waktu untuk belajar sesuatu yang nantinyah mereka sendiri ga tau kapan akan digunakan??
Kita kembali lagi ttg membawa senjata, dg membawa senjata sudah merupakan satu resiko untuk berurusan dg hukum, atau katakanlah membawa senjata satu gudang..berani nggak anda memakainya? tega bikin cacat orang? atau bahkan membunuh lawan anda?
Dalam pandangan budo essensi beladiri tertinggi adalah kedamaian dan cinta kasih, dimana beladiri bukan lagi sebagai instrument dari War!!, beladiri adalah Spiritual, beladiri adalah way of life dan lain-lain.
Dalam jaman yang telah banyak berubah, tidak dituntut seseorang mempertahankan hak2nyah dengan beladiri, kekuatan bukan hanya dinilai secara fisik saja, beladiri telah berubah dari militer ke sipil, beladiri bisa dipertandingkan dg damai, siapa yang terkuat tidak dibuktikan dg pertarungan hidup dan mati, yang terkuat adalah terkuat dalam peraturan2 yang ketat.
Saat ini seharusnyah yang boleh memegang senjata adalah militer, dan apa yng dipelajari di kenjutsu, knife fighting, dll itu semua adalah menu militer, untungnya militer sekarang tidak lagi hanya menggunakan senjata2 tajam saja tetapi ada senjata api, yang mempunyai teknologi lebih bagus, lebih mematikan dengan jarak janglau yang lebih jauh, masyarakat sipilpun bisa memilikinya walaupun dg segala peraturan2 yang njlimet dan uang puluhan juta rupiah. Pada akhirnya masyarakat sipil boleh memegang senjata tajam, karena senjata tajam bukan senjata utama dalam militer, namun demikian masih dalam aturan2 pemerintah yang ketat, dan hal tersebut bukan hanyaberlaku di Indonesia saja, Eropa/Amerika juga terdapat Undang-undang pelarangan terhadap senjata tajam tertentu (concleable weapon /senjata tajam tersembunyi, juga termasuk balisong) dg alasan senjata tajam membahayakan sipil
seperti jaman shogunate jepang, jaman dinasty2 china, jaman kerajaan nusantara dll.
Senjata tajam adalah menu bujutsu, Sedangkan dalam budo beladiri tangan kosong lebih diutamakan, hehe, apa berhenti sampai disitu saja, bagi pecinta edged weaponry arts? ohh nope... perkembangan edged weaponry juga ga kalah dg beladiri tangan kosong, tapi ya emang ga sebegitu populernya dg MMA (bikin iri ahh...)
Tetep dipertandingkan!! lho apa bisa?? pertandingan adalah satu hal yang sangat dibutuhkan safety untuk para pelakunya (padahal bonyok juga yah....) untuk itu tentunya segala atribut yang ada harus disesuaikan, dari edges weapons menjadi blunt weapon:
- Dalam Kendo, “Katana/Shinken” menjadi “Shinai” atau “Pedang Bambu”.
- Board Sword yang berat dan Rapier yang tajam pada Historical Fencing disesuaikan menjadi, “Sable”, “Dagen” dan “Floret” pada Modern Fencing.
- Kampilan, Pinuti, Barong, tidak boleh dipakai, yang dipertandingkan dalam Eskrima adalah Stick Fighting. Knife yang tajam, diganti pisau kayu (Sayang dalam World StickFighting Championship 2007 CDP-WF, di Kuningan - Jakarta tahun kemarin, ijin pertandingan Knife Fighting tidak dikeluarkan)
- Dalam Kenjutsu yaitu seni pedang Jepang sendiri masih dipertandingkan, begitu banyak Ryuha di Jepang, Eropa, dan belahan benua yang lain yang masih mempertandingkan bagaimana keindaan seorang “Samurai” dalam mencabut pedang, memotong tatami yang berisi bambu dalam tameshigiri.
- dan lain-lainnyah
Senjata tajam brutal?? kelas rendahan?? Silahkan disimpulkan sendiri dari tulisan ini.
Tetapi kalau itu dipakai beneran dalam real life! uwaaaaaahhh jawabnya pasti: iya!!
Pada akhirnyah semua praktisi beladiri sipil, entah yang dipelajari koryu atau military arts sekalipun, akan menjadikan semua yang dipelajari hanyah sebatas "Life Style", Sudah bukan jamannyah lagi menyelesaikan sebuah masalah dg Martial Arts. (hartcone)
----------------------------
Tabe'...
*hehe tetep Kang Jali mode on...
-
"Konteks beladiri pertama kali adalah Martial Arts, yang berarti Science of War, dalam konteks War senjata adalah hal yang mutlak, dimana terdapat teknologi yang mengembangkan senjata itu sendiri, sehingga akhirnyah War sendiri lepas dari Martial Arts, now day konteks War adalah perang teknologi...."
Betul, konteks beladiri adalah ilmu perang .. tetapi pengertian saya dengan istilah "Martial Arts" bukan science of war, tetapi "ART (seni) of the struggle of self" ... hanya pengolahannya kesenian/kebudayaan juga timbul dari konteks perjoangan. Saya sendiri ex militer (Recon) ... dan pendapat saya persoalan teknik membunuh itu gampang. Ke-ahlian membunuh tidak terangkap dalam artiannya Martial Art", karena Seni Perjuangan mengandung kaedah utk melawan nafsu hewan, supaya kita berkembang menjadi lebih lengkap sebagai manusia. Perbuatan membunuh akibatnya mengurangi kemanusiaan kita.
Yang harus diketahui setiap orang yg mau belajar silat atau "seni perjuangan" adalah ... apa tujuan saya mengejar sini ini?
In the end melestarikan budaya ya alasan yg cukup baik .. tetapi ada sesuatu tujuan yg lebih mendalam dan lebih lengkap .. yaitu perjuangan utk mengerti sifat "ingsun" yg disorot pandangan realitas ... bukan idealitas.
Ya .. itu cuma pendapat saya yg tidak begitu pandai :D.
Salam,
Krisno
-
Sedikit tambahan yang perlu diingat:
Nyang namanya Martial Art, Martial Way, atau apalah, melulu bergantung kepada 2 hal:
1. Dinamika masyarakat (ini yang biasanya dibicarakan om Hartcone sebagai konteks dalam Contextual Martial Arts)
2. Perkakas (tools) yang tersedia (ini banyak yang lupa, atau tidak sadar bagaimana asumsi adanya suatu perkakas bisa mengubah Martial Arts... lha saya mengangkat asumsi dasar silat tidak begitu doyan main grappling kayak MMA sebagai antisipasi adanya senjata pisau saja langsung dituduh kalo saya melecehkan silat)
Silakan diresapi sendiri, bagaimana bentukan Martial Art, Way, itu akan bergantung kepada kedua hal itu. Bila dinamika masyarakat berubah, maka Martial Art/Way/Whatever akan berubah. Bila perkakas yang tersedia berubah, maka Martial Art/Way/Whatever juga akan berubah.
BTW saya tidak setuju pendapat bahwa broad sword berat. Broad sword tidak lebih berat daripada pedang katana!
-
... apa tujuan saya mengejar sini ini?
Salam,
Krisno
... apa tujuan saya mengejar seni ini? :D
Mas Dasaman ... ada satu lagi, hal ketiga:
3. Dorongan dan kepercayaan yg ada didalam hati untuk mengetahui/mencapai yg disebut 'singularity with reality', ... seperti jalan yg ditapaki murid Can, Zazen, Sufi, Yoga, Silat ... semuanya sama.
-
Kalo saya sih memasukkan itu ke poin 1: Dinamika masyarakat, sebagai bagian dari masyarakat. Mungkin gak pas2 banget sih sama maksud situ, tapi itulah pandangan saya.
-
Okelah kita sudah menyoroti tentang sisi Seni beladiri secara umum, tetapi maksud dan tujuan tread ini adalah untuk mengungkap apa sajah dan bentuknya bagaimana seni budaya bangsa ini tentang bentukan beladiri dari sisi pemakaian senjata. Satu hal yang ingin saya kemukakan disini dg begitu banyak tulisan yang mungkin tidak ada isinya diatas adalah menggali kembali apa yang dulu banget secara historis kita punya.
Kalo berbicara lagi tentang jaman dulu dan kaitannya sama perang, ya mau ga mau tentunya senjata juga katut, warisan adiluhung tentang senjata di nusantara ini begitu luar biasa dan diakui oleh dunia luar, bahkan banyak yang ngiler. (keris dan saudara2nya terutama)
Begitu ditanya kegunaanya? atau disiplin ilmu yang mempelajarinya? nah loh? apa nanti yang akan dijawab?
mana peninggalan kepandaian dan kepiawaian tentang menggunakan senjata dari kerajaan kerajaan besar masalalu? Sriwijaya, Majapahit, Mataram? Kasultanan Ngajogjakarta dll?
Seberapa jauh pengetahuan masyarakat kita tentang persenjataan di Indonesia ini? Ini kita berbicara tentang praktisi beladiri yang terutama, suatu saat ada yang ditanya ttg kegunaan Keris? Lha jawabannya apa? kebanyakan kan masih bingung? Lak iya toh?
Balik lagi deh, ttg Kerambit, trimakasih pada Pilemnya Iko Uwais Merantau yang ngangkat senjata unik ini, tetapi untuk beberapa tahun yang lalu sebelum ada Forum kita tercinta ini dan Forum tetangga membahas ttg senjata itu, Lho jujur sajah berapa banyak teman2 persilatan kita yang tau?
Masa hal tersebut bisa raib hilang entah kemana? Siapa yang harus disalahkan? Londo lagikah? :D
Saya bisa menerima semua ulasan Mbah Kyai, bener ada begitu banyak alasan dalam belajar Seni Beladiri, salah satunya adalah "jujur sama realitas". realitasnya udah jarang keberadaannya, Indonesia sendiri punya UU tentang pelarangan senjata dll. Trus kalau semua berpikiran kesitu, apa ga punah?
Bahasan Kang Dasaman tentang "dinamika masyarakat", saat ini budaya kita lagi di bombardir oleh budaya asing, kan jaman ini adalah jaman teknologi informasi, begitu dekat dan melekatnya budaya luar negeri pada kehidupan anak muda kita, dan inipun seni beladiri pun jadi kena imbasnya, termasuk saya yang jadi ikutan belajar beladiri asing... :D
ya tentunya ada banyak alasan untuk itu, saya pribadi kalau ditanya alasannya adalah: Lha wong disini ga ada kok! (anggap saja ini guyon x-)))
Kembali pada seni beladiri bersenjata di Indonesia, di tempat saya sendiri sebenarnya ada yang bentuknya seperti ujungan/ojungan (stick fighting) di sini biasanya disebut sebagai "tiban", kalau saya bertanya selalu jawaban masyarakat disini adalah "Itu dulu, sekarang sudah jarang sekali....", Dan setelah bertemu dengan salah seorang praktisi, apa yang anda semua bayangkan? Seorang yang sudah sepuh dengan profesi sebagai tukang becak! Loh itu adalah warisan budaya yang adiluhung, ya mohon maaf bagaimana latar belakang seseorang dengan kesederhanaannya bisa mengembangkan dan mempopulerkan satu bentukan seni beladiri? (kasus ini berlaku global untuk hampir semua kesenian tradisional kita, justru yang bisa menguasainya adalah di kalangan menengah kebawah tapi banyak bawahnya :'()
Bandingkan sama orang2 yang membawa masuk budaya beladiri dari luar yang kebanyakan pake dasi.
Hihi mohon maaf kalau ada yang ga berkenan...
Salim...
*kegedean empyak ya?
-
Nuwun sewu, sekedar berembuk:
1. Permainan golok dan pisau yang dikuasai MJ14 serta kerambit dari minang mengatakan bahwa senjata keluar hanya untuk makan..Senjata bukan perpanjangan dari tangan, tp bagian dari tubuh secara keseluruhan.. Senjata adalah aurat, tidak boleh ditonjolkan..ketika keluar, makan dan kembali pulang harus tidak terlihat lawan..
2. Dilarang pakai barang mainan waktu latian..
Karena agak ribet n berbahaya sampai beberapa tahun lalu tetap aja ada guru yg mengatakan kalau tak ada murid yg cocok lebih baik ilmu di bawa mati..
-
Di sini nampaknya lagi2 terlihat adanya masalah "dinamika masyarakat." Dalam masyarakat yang 'sudah lebih santun,' senjata 'disamarkan.' Dalam masyarakat yang 'masih kurang santun,' senjata masih cukup 'dipuja,' sampai ada yang namanya 'perang adat' (perang demi sekedar ada perang). Tapi yang namanya 'perang adat' ini pun kini sudah 'disantunkan' dan 'disamarkan.'
Tidak diragukan lagi bahwa pastilah banyak ilmu beladiri berbasis senjata di Indonesia ini, baik yang sistemnya terorganisir dengan baik ataupun yang pengajarannya dilakukan secara osmosis tribal (monggo ke arah2 timur sana). Cuma seperti yang selalu dibahas, masalah 'kesantunan' ini bikin ribet...
Soal kenapa ilmu tradisional kok banyaknya yang menguasai dari kalangan menengah ke bawah? TIDAK! Ciri utama dari penguasa ilmu (selain sekedar ilmu mencari makan) adalah punya banyak waktu luang. Dan siapa yang punya waktu luang banyak?
1. Orang2 yang tidak punya duit sehingga tidak bisa buang2 duit untuk ngabisin waktu :D
2. Orang2 kebanyakan duit yang sudah kebingungan mo buang2 duit ngapain lagi buat ngabisin waktu :D
Jadi bila berhasil ditemukan suatu ilmu tua yang layak untuk dibangkitkan kembali, maka cara paling gampang adalah mencarikan murid kaya-raya yang mampu dijadikan penerus :D
-
Menangapi postingan dari Kang Santri,
Saya jadi inget Bruce Lee, siapa sih yang ga kenal sama "pemberontak" seni beladiri ini? Jaman waktu masih belajar sama Yip Man, tradisi China waktu itu sama persis dengan apa yang Kang Santri tulis, Bruce Lee orang yang terbuka, dia mengajarkan juga pada kalangan barat, tetapi jaman segitu banyak kalangan tua2 yang menentang Yip Man untuk mewariskan seluruh ajaran Wing Chun pada Bruce Lee, alhasil pada alkhirnya konon kabarnya Bruce Lee "tidak lulus" dalam ilmu Wing Chun. tetapi siapa yang membawa nama Wing Chun jadi harum dan bisa dikenal di dunia ini? Tentunya orang juga nyebut nama si "pemberontak", seorang Bruce Lee!! (Sumber buku Wooden Dummy - Ip Chun).
Tradisi adalah tradisi yang harus dibawa, pertanyaannya adalah apakah semua para sepuh itu punya pemikiran yang demikian? Dalam catatan saya dan jelas terlihat diatas begitu banyak macam dan ragam budaya bersenjata tradisional di Indonesia seperti yang mas Dasa bilang. dan masing2 membawa muatan yang berbeda2 dengan kasus-nya sendiri2, bayangkan Indonesia ini berapa propinsi?
Salim,
HC
-
Soal kenapa ilmu tradisional kok banyaknya yang menguasai dari kalangan menengah ke bawah? TIDAK! Ciri utama dari penguasa ilmu (selain sekedar ilmu mencari makan) adalah punya banyak waktu luang. Dan siapa yang punya waktu luang banyak?
......
Orang2 kebanyakan duit yang sudah kebingungan mo buang2 duit ngapain lagi buat ngabisin waktu...
lha ini yang saya tidak tau? soalnya saya lebih banyak bergaul sama kalangan bawah-wah.... :-*
-
terus terang, sebenarnya saya bingung.. yang dimaksud beladiri berbasis senjata ini seperti apa ya? apakah silat tradisional juga termasuk? soalnya saya dulu belajar sedikit, memang ketika belajar tidak diajarkan dengan senjata, cuma ketika gerakan2 dan jurus2nya ditranslasikan dengan senjata, masuk kok.. gurunya juga kemana2 selalu bawa golok atau taji ayam, wehehehe... :D
beliau pernah berkata, kalo kita sudah menguasai gerak yang diajarkan, nanti ketika memakai senjata akan langsung paham kok.. begitu sih katanya...
walaupun saya sendiri sebenarnya kurang paham, karena ngeliat jurus golok tunggal baku nya ipsi, kok kelihatannya ribet yah, tidak seperti yang guru saya pernah demonstrasikan.. ???
-
Sebenarnya yang saya harapkan dari thread ini adalah adanya beladiri di Indonesia yang mengkhususkan pada senjata...
Tetapi melihat sebagaian besar jawaban yang sudah diposting, kayaknya pelajaran senjata di Indonesia itu adalah subsystem dari Pencak Silat itu sendiri, hampir sama dg FMA sih, kan FMA sendiri sebenarnya itu total Martial Ars, cuma bedanya FMA mengajarkan senjata di awal kurikulum sehingga yang napak di luar FMA adalah beladiri yang berbasis pada senjata.
Untuk beladiri2 yang lainnya spt Kenjutsu, Kendo dll, itu dalam pandangan saya juga subsystem dari Japanese Martial Arts, tetapi keberadaannya bisa lepas sebagai system yang terpisah.
Nah untuk Indonesia sendiri bagaimana? Apakah nantinya pelajaran senjata ini bisa lepas dari subsystem menjadi system tersendiri? Kayaknya sih bisa melihat adanya System2 yang ada, semisal Ojungan, Presehan dll, juga melihat spt yang mas Dasa katakan, di belahan Timur Indonesia, itu martial arts-nya "blom keluar" atau kalau saya boleh katakan masih eksklusif untuk kalangan mereka sendiri. Terlepas dari topik thread ini, apakah seni beladiri dari belahan Timur Indonesia juga Pencak Silat? Pencak Silat kan budaya Melayu, dan saudara kita dibelahan Timur Indonesia jelas2 bukan Melayu (mohon dikoreksi)
Demikian,
Salim....
-
[quotenya di delete yah lgsg reply aja]
Kalo sulawesi dengan para pelaut bugisnya, masuk wilayah indonesia timur ga? mereka terkenal juga dengan pencak silatnya, dan bentuk permainan badiknya katanya sangat ditakuti.
dulu saya pernah menonton acara di Trans7 "si bolang". pada episode tersebut, ceritanya si bolang ingin pergi ke bali untuk mengikuti suatu kontes eksebisi seni beladiri, dimana si bolang ini ingin menampilkan beladiri tradisionalnya. karena waktu itu nontonnya telat, saya gatau si bolang ini berasal dari daerah mana (yang jelas dari indonesia timur, karena waktu itu dia pergi ke bali dengan menggunakan mobil, dan mesti menyeberang lewat lombok) dan nama beladirinya itu apa. cuma sekilas beladiri ini mirip dengan kalaripayat, keren banget, menggunakan pedang (kelewang?) dan perisai bulat. yang lebih mengherankan lagi, gurunya si bolang ternyata seorang perempuan! [top]
Tema ini terdiri dari 2 episode, cuma sayangnya lagi2 saya ga dapet nonton episode kedua.. :-[ jadi gatau deh nasibnya si bolang di bali..
saya sudah berusaha minta bantuan ke temen yg kerja di trans7 untuk mencari tahu informasi yg lebih detil dari episode tsb (kalo bisa minta soft copynya, hehehe..) tapi sampe sekarang belum ada kabarnya nih.. :-[
mungkin ada rekan2 disini yang punya akses ke trans 7 juga? :)
-
Sebaiknya nunggu yang ngerti dulu deh, ini kaitanya sama penyebaran suku di Indonesia, dari sini mungkin baru bisa ketahuan, dan kebetulan saya gak ngerti permasalahan tersebut, mungkin dimata saya Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Jawa, Sumatra, dan yang lainnya itu kalau ada beladiri langsung sajah orang bisa bilang itu Pencak Silat namanya, tetapi bagaimana dengan beladiri Irian Jaya?
Ini jujur saya ga tau, bukan mengelak atau mengalihkan topik...
Monggo yang lebih ngerti untuk membeber permasalahan ini...
Salam,
HC
-
Ngomong2 saka segi anthropolgy ... jenenge "pencak" lan "silat" asale saka basa Kawi sing berbasis basa Sansekerta. Basa Kawi iku basa Jawa kuno ... dadi sing dhuwe istilahe "pencak silat" ya sing dhuwe basa sumbere. Artine ning basa aseline ora ono asumsi carane gerak lho ... kuwi asumsine lan khayalane wong barat ... lan "pesilat modern" heh.
Eyang saya pernah memberi tau kepada saya bahwa pencak itu ragam gerakan, sedangkan silat itu wadah atau struktur konsepsi yg bisa mencakup seluruh hidup ... tapi pandangan mereka terhadap "silat" bukan sekedar hobi untuk profesional2 sing enom lan kakehan wektu lan kesugihan ...
Rahayu ...
-
Trimakasih buat yang udah kasih masukan di thread ini...
Sementara saya mau diem dulu deh merenung dan sambil cari bahan masukan yang lain... ::)
Salam,
HC
-
Saya rasa Pakde mengangkat topik ini karena lagi resah melihat beladiri luar cukup bisa mempopulerkan beladiri bersenjatanya, dari senjata yg canggih2 (macam kyudo) sampai senjata yg paling sederhana (macam arnis). Sementara Indonesia yg memiliki senjata2 yg berbentuk cukup eksotis kok malah belum terbabar jelas.
Saya sendiri sempat sangat penasaran dgn teknik penggunaan keris & kujang, karena utk akal saya yg cunthel ini saya pikir senjata dgn bentuk se-eksotis keris & kujang pasti memiliki teknik penggunaan yg khas. Tapi akhirnya saya dipaksa utk puas dgn pemikiran bahwa keris & kujang merupakan "senjata perhiasan" yg menunjukkan status & bukan utk penggunaan pertarungan.
Tapi sampai sekarang saya yakin di balik bentuknya yg unik, pasti kedua jenis senjata tajam tadi memiliki fungsi "melukai" yg spesial, cuma sampai sekarang belum ada yg sudi menunjukkan..
(memang biasanya otak cunthel melahirkan ke-keraskepala-an yg mengesalkan.. hehe..)
-
[quote deleted langsung reply aja]
kyudo kok canggih kang? kan cuma pake busur n anak panah doang.. yang canggih itu yang menurut forum sebelah, katanya skrg latihan knife fighting di amrik pake pisau latihan yang bisa nyetrum, jadi kalo kena rasanya kaya kesamber pisau beneran...
*masih penasaran dg beladiri dr timor yang pake pedang dan tameng..
-
Gara2 mas Dygson nih akhirnya saya jadi posting lagi x-))
dibawah ini ada artikel Panahan, sebagai pembanding dari Kyudo-nya Jepang...
Sejarah Panjang Perkembangan Panahan
by niam fathun
Sampai saat ini tak seorangpun mengetahui, sejak kapan orang mulai memanah. Orang hanya menduga bahwa memanah telah dilakukan manusia sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Namun dari buku-buku melukiskan bahwa orang purbakala telah melakukan panahan yaitu menggunakan busur dan panah untuk berburu dan untuk mempertahankan hidup. Bahkan dari beberapa buku melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu suku Neanderathal telah menggunakan busur dan panah.
Ahli-ahli purbakala dalam penggalian di Mesir juga telah menemukan tubuh seorang prajurit Mesir Kuno yang menemui ajalnya karena ditembus anak panah.
Data menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum masehi. Dari beberapa buku juga mengemukan bahwa sampai kira-kira tahun 1600 sesudah Masehi, busur dan panah merupakan senjata utama setiap negara dan bangsa untuk berperang.
Hingga kinipun masih ada suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan panah dalam penghidupan sehari-hari mereka, seperti : suku-suku bangsa di hutan-hutan daerah hulu sungai Amazone, suku-suku Veda di pedalaman Srilangka, suku-suku Negro di Afrika, suku-suku Irian di Irian Jaya, suku Dayak dan suku Kubu Dari buku-buku dan keterangan-keterangan yang diperoleh maka terdapat dua kelompok ahli yang mengemukakan dua teori yang berbeda.
Yang pertama berpendapat bahwa panah dan busur mulai dipakai dalam peradaban manusia sejak "era mesolitik" atau kira-kira antara 5000 - 7000 tahun yang silam, sedang pendapat kedua percaya bahwa panahan lebih awal dari masa itu, yaitu dalam "era paleolitik" antara 10.000 - 15.000 tahun yang lalu.
Terlepas dari mana yang benar, maka yang jelas bahwa sebelum panahan menemui bentuknya sebagai olahraga seperti yang kita kenal saat ini, ternyata telah melalui masa pertumbuhan yang panjang. Melalui peranan yang berbeda-beda, mula-mula panahan dipergunakan orang sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan bahaya binatang liar, sebagai alat untuk mencari makan, atau untuk berburu, untuk senjata perang dan baru kemudian berperan sebagai olahraga baik sebagai rekreasi ataupun prestasi.
Dari catatan sejarah dapat dicatat bahwa baru pada tahun 1676, atas prakarsa Raja Charles II dari Inggris, panahan mulai dipandang sebagai suatu cabang olahraga. Dan kemudian banyak negara-negara lain yang juga menganggap panahan sebagai olahraga dan bukan lagi sebagai senjata untuk berperang.
Pada tahun 1844 di Inggris diselenggarakan perlombaan panahan kejuaraan nasional yang pertama dibawah nama GNAS (Grand National Archery Society), sedang di Amerika Seirkat menyelenggarakan kejuaraan nasionalnya yang pertama pada tahun 1879 di kota Chicago.
Perkembangan Panahan di Indonesia
Sama halnya dengan sejarah panahan di dunia, demikian pula tidak seorangpun yang dapat memastikan sejak kapan manusia di Indonesia menggunakan panahan dan busur dalam kehidupannya. Tetapi apabila kita memperhatikan cerita-cerita wayang purwa misalnya, jelas bahwa sejarah panah dan busur di Indonesiapun telah cukup panjang, dan tokoh-tokoh pemanah seperti Arjuna, Sumantri, Ekalaya, Dipati Karno, Srikandi demikian pula Dorna sebagai Coach panahan terkenal dalam cerita Mahabharata.
Kalau PON I kita pakai sebagai batasan waktu era kebangunan olahraga Nasional, maka Panahan telah ikut ambil bagian dalam era kebangunan Olahraga Nasional itu. Dalam sejarah PON, Panahan merupakan cabang yang selalu diperlombakan, walaupun secara resminya Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) baru terbentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta atas prakarsa Sri Paku Alam VIII. Dan Kejuaraan Nasional yang pertama sebagai perlombaan yang terorganisir, baru diselenggarakan para tahun 1959 di Surabaya.
Sri Paku Alam VIII selanjutnya menjabat sebagai Ketua Umum Perpani hampir duapuluh empat tahun dari tahun 1953 sampai tahun 1977. Dengan terbentuknya Organisasi Induk Perpani, maka langkah pertama yang dilakukan adalah menjadi anggota FITA (Federation Internationale de Tir A L’arc).
Organisasi Federasi Panahan Internasional yang berdiri sejak tahun 1931. Indonesia diterima sebagai anggota FITA pada tahun 1959 pada konggresnya di Oslo, Norwegia. Sejak saat itu Panahan di Indonesia maju pesat, walaupun pada tahun-tahun pertama kegiatan Panahan hanya terdapat di beberapa kota di pulau Jawa saja. Kini boleh dikatakan bahwa hampir di setiap penjuru tanah air, Panahan sudah mulai dikenal.
Dengan diterimanya sebagai anggota FITA pada tahun 1959, maka pada waktu itu di Indonesia selain dikenal jenis Panahan tradisional dengan ciri-ciri menembak dengan gaya duduk dan instinctive, maka dikenal pula jenis ronde FITA yang merupakan jenis ronde Internasional, yang menggunakan alat-alat bantuan luar negeri yang lebih modern dengan gaya menembak berdiri. Dan dengan demikian terbuka pulalah kesempatan bagi pemanah Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertandingan-pertandingan Internasional.
Bersamaan dengan itu timbul masalah peralatan yang harus diatasi untuk bisa mengambil bagian dalam pertandingan Internasional, pemanah kita harus memiliki peralatan yang memadai, agar dapat berkompetisi dengan lawan-lawannya secara berimbang. Kenyataannya alat-alat ini sangat mahal harganya dan sulit di dapat. Hanya beberapa pemanah saja yang dapat membayar harga alat-alat tersebut. Keadaan ini merupakan faktor penghambat bagi perkembangan olahraga ini.
Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun 1963 Perpani menciptakan Ronde baru dengan nama Ronde Perpani. Pokok-pokok ketentuan pada perpani pada dasarnya sama dengan ronde FITA, kecuali tentang peralatannya yang dipakai dan jarak tembak disesuaikan dengan kemampuan peralatan yang dibuat di dalam negeri. Mengenai peralatan Ronde Perpani ini ditetapkan bahwa hanya busur dan panah yang dibuat dan dengan bahan dalam negeri yang boleh dipakai.
Dengan ketentuan tadi dua hal yang hendak dicapai, pertama untuk pemasalan belum diperlukan peralatan yang mahal, yangg harus diimport, tetapi cukup alat-alat yang bisa dibuat di Indonesia. Kedua, Ronde Perpani mempunyai peranan untuk mempersiapkan pemanah-pemanah kita untuk bisa mengambil bagian dalam pertandingan Internasional, tanpa menunggu tersedianya alat yang harus dibeli dengan harga mahal.
Bagi mereka yang terbukti berhasil membuktikan kemampuannya melalui ronde Perpani, diberi kesempatan memakai peralatan Internasional. Sedangkan Ronde Tradisional dengan ciri-ciri dilakukan dengan gaya duduk dan instinctive, sulit mengambil sumber pemanah langsung dari ronde Tradisional, karena perbedaan-perbedaan yang sifatnya prinsipil tadi.
Kemudian dengan adanya tiga ronde panahan tersebut, Perpani mengatur waktu untuk kejuaraan nasional sebagai berikut : Setiap tahun genap diselenggarakan Kejuaraan Nasional untuk Ronde Perpani dan Ronde Tradisional, sedang pada tahun ganjil diselenggarakan Kejuaraan Nasional untuk ronde FITA.
Kebijaksanaan ini adalah dalam hubungannya dengan ketentuan dari FITA yang menyelenggarakan Kejuaraan Dunia pada setiap tahun ganjil. Sehingga Kejuaraan Nasional Ronde FITA tersebut dimaksudkan untuk persiapkan dan memilih para pemanah Indonesia yang akan diterjunkan ke kejuaraan Dunia. Sedangkan pada PON diperlombakan ketiga ronde sekaligus.
Sejak Konggres Perpani tahun 1981 bersamaan dengan PON X, pola kebijaksanaan Perpani dirubah, yaitu bahwa Kejuaraan Nasional diselenggarakan setiap tahun (kecuali tahun diselenggarakannya PON tidak ada Kejuaraan Nasional) dan diperlombakan ketiga ronde Panahan sekaligus yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional.
Perlu dikemukakan disini bahwa sebelum tahun 1959 yaitu tahun diterimanya Perpani sebagai anggota FITA, pada PON - I tahun 1948 di Solo, PON II/1951 di Jakarta, PON - III/1953 di Medan, PON - IV/1957 di Makasar, panahan hanya memperlombakan Ronde Tradisional, yaitu ronde duduk, dengan hanya satu jarak 30 meter, dengan 48 tambahan @ 4 anak panah dan dengan sasaran bulatan dengan hanya dibagi tiga bagian saja.
Selanjutnya beberapa kejadian penting yang dapat dikemukakan mengenai dunia Panahan Indonesia, antara lain :
- Tahun 1959 : Kejuaraan Nasional I di Surabaya.
- Tahun 1961 : Kejuaraan Nasional II di Yogyakarta.
- Tahun 1962 : Kejuaraan Nasional III di Jakarta
- Asian Games IV di Jakarta, dimana regu Panahan Indonesia menduduki tempat kedua di bawah Jepang.
- Tahun 1963 : Kejuaraan Nasinal IV di Jakarta.
- Genefo I di Jakarta, dimana regu Indonesia (Putera) menduduki tempat keempat dan regu puterinya kedua.
- Tahun 1964 : Perlawatan regu Nasional ke RRC dan Phlipina. Selama di RRC pemanah-penahan pria kita dalam tiga pertandingan menduduki tempat teratas.
Sedangkan puteri kita masih harus mengakui keunggulan pemanah-pemanah puteri RRC. Di Philipiina sebaliknya pemanah-pemanah tuan rumah, sedang pemanah puteri kita unggul dari pemanah-pemanah Philipina.
- Tahun 1965 :
Kejuaraan Dunia di Vesteras, Swedia, dimana regu puteri Indonesia ketiga belas dan regu puteri kesembilan terbaik di dunia.
- Tahun 1966 : Ganefo Asia I di Phnom Penh, Kamboja. Regu putera menempati urutan teratas, dan dua orang jago kita berhasil merebut medali emas dan perak untuk kejuaraan perorangan. Regu puteri kita menduduki tempat kedua di bawah RRC.
Untuk selanjutnya, perkembangan dan prestasi Panahan Indonesia tidak mengecewakan. Kejuaraan Nasional selalu diselenggarakan setiap tahun, yaitu tahun genap untuk Ronde Perpani dan Ronde Tradisional, sedang pada tahun ganjil untuk Ronde FITA (sejak tahun 1982 Kejuaraan Nasional diselenggarakan setiap tahun untuk ketiga ronde Panahan yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional sekaligus).
Demikian pula Perpani selalu berusaha dan berhasil mengikuti kejuaraan-kejuaraan Dunia, walaupun hasilnya masih di bawah pemanah-pemanah Asia masih menempati urutan teratas. Juga pada pertandingan-pertandingan Internasional lainnya seperti Asian Games, SEA Games, Asian Meeting Championships, Asia Oceania Target Archery Championships, Perpani selalu ikut mengambil bagian.
Demikialah perkembangan Panahan dan Perpani sampai saat ini, dimana cabang Panahan termasuk di dalam cabang yang diprioritaskan, bahkan termasuk cabang super-prioritas, di dalam persiapan menghadapi Asian Games XIII/1986 di Seoul - Korea Selatan. Hal ini tentunya karena prestasi cabang Panahan yang telah dicapai selama ini.
Perlu dicatat bahwa dalam forum Olympic Gamespun Panahan telah ikut berbicara, walaupun pihak Pemerintah selalu mengirimkan pemanah-pemanah kita dalam jumlah yang minim, yaitu satu putera dan satu puteri. Tetapi sejarah telah mencatat bahwa pada Olympic Games tahun 1976 di Montreal - Kanada pemanah puteri kita yaitu Leane Suniar berhasil menempati urutan kesembilan dan pada Olympic Games Tahun 1988 di Seoul - Korea Selatan, pemanah team puteri kita berhasil menempati urutan kedua dan pertama kalinya Indonesia mendapat perak di arena yang bertaraf Internasional. Suatu prestasi yang sangat membanggakan.(am/msm/mkm)
Panahan Indonesia ga main2 eui! Tembus Internasional! Itu hanya contoh sajah, jangan nantinya malah topik kita ini jadi bergeser pada dunia panahan Indonesia yang memang sudah mapan, dan bisa diacungi jempol dg prestasi Internasionalnya...
Ttg Kyudo dibilang canggih itu krena kyudo membawa tradisi Samurai dan bener2 juga dikagumi dunia, layak dibandingkan dengan teknologi Eropa dengan busur khusus yang bernama "yumi", dan seperti biasa karena dari budaya jepang, Kyudo pun mempunyai muatan spiritual dan filosofi yang tinggi, yang patut dicatat adalah, saat ini Kyudo memiliki "International Kyudo Federation" yang diikuti oleh 17 negara (per Oktober 2005) dan punya 132.760 member bersertifikat. ini dari situsnya IKYF...
Apakah gara2 ada dinamika masyarakat Jepang yang mendukung ke arah itu, as Kontekstual Arts? yang bukan menyerah pada "singularity with reality" dengan lebih populernya panahan Eropa?
Thread ini hanya sekedar wacana, sekedar iseng2 ngisi postingan di Forum SS ini, kalau nantinya bisa membangun ya syukur, kalau tidak ada gunanya dan dianggap ngawur ya mohon maaf, mohon diabaikan sajah...
Salam,
HC
-
Thread yang berawal sebagai wacana tapi mempunyai daya stimulir yang tinggi untuk menggerakkan sebuah penelitian, memiliki bobot nilai yg tinggi. Saya suka thread ini, karena sejujurnya sebagai anak bangsa saya jadi turut "terangsang" untuk memikirkan hal ini. Tidak perlu dijelaskan lagi, karena sebagaimana yg telah dipaparkan SS/TS di awal thread tentang bela diri kita (yang saya pribadi beranggapan) "sesungguhnya" dibangun dari bela diri yang berbasis senjata.
Kemungkinan seiring dengan perkembangan zaman yang mempengaruhi kondisi mengubah segalanya, tapi bukan berarti musnah. Tinggal kita sebagai generasi muda bangsa apakah peduli untuk sekadar memikirkan, atau lebih dari itu untuk terdorong melakukan sebuah penelitian?
Hemat saya bela diri yang berbasis senjata (yang kini) banyak dijumpai di Indonesia Timur, dapat kita awali dengan mengamati tarian2 perangnya. Di Minahasa dan jazirah Maluku ada Cakalele, di Dayak ada Kancet Pepatai, bahkan bela diri dengan senjata yang masih bisa dijumpai sekarang (lewat perang sungguhan) ada di Papua, yang saya yakin semua itu ada teknik untuk memainkannya.
Sungguh, ini thread bagus untuk dilanjutkan, kalau perlu dalam bentuk sebuah penelitaian. Bagaimana Pak De HC..? [top]
Tabe'
-
@mas meong,
kyudo (dan juga panahan pada umumnya) saya anggap canggih, wong buat saya senjata tajam yg digenggam saja saya masih nol besar dlm pembelajarannya jeh.. apalagi ini, senjata tajamnya gak kita pegang langsung, masih pake perantara busur, megang busurnya ada aturannya sendiri, kalo terlalu kuat busurnya patah, kalo terlalu lemah anak panahnya meluncurnya meleyot, walaaah rumit sekali tho.. Nhah kalo rumitnya kayak gitu apa gak canggih namanya itu? :P
-
Seep, ada yang kasih semangat lagi, trimakasih Kang Jali...
Cocok! kalau jaman dulu ada begitu banyak senjata, tentunya semua punya teknik sendiri2 untuk menggunakannya, sekaligus dengan filosofi yang ada didalamnya. Lha hal inilah yang harus diketahui oleh para generasi muda saat ini...
Kembali ttg Keris Jawa yang dikatakan hanya satu senjata simbolik, apakah itu memang benar? ataukan memang adanya pergeseran budaya? Kalau melirik ke semenanjung melayu, Malaysia keris memang sampai saat ini digunakan sebagai senjata yang sesungguhnya, juga kalau kita melihat ke Filipina, ada bentukan keris yang panjang sekali (panjangnya bisa 70cm lebih) dan pelatihan stick fighting adalah bertujuan untuk melatih menggunakan senjata tajam secara mengjilangkan faktor bahaya, tentunya juga untuk melatih penggunaan keris besar tersebut yang di namakan sebagai Sundang...
Tradisi Jawa ada kebiasaan2 menyandang keris, biasanya dipasang miring di belakang untuk acara2 resmi, tetapi ada pula keris yang ditaruh di belakang tapi dalam keadaan tegak, ini dikatakan oleh orang2 sepuh yang mengenal keris, sebagai sikap kesatria yang kalah dalam peperangan, ada penyebutan untuk hal tersebut, tapi saya lupa...
Kemudian kalau kita melihat Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman dan para pahlawan lainnya, saat dalam peperangan mereka menyandang keris di depan, nah kalau tidak ada maksud dan tujuan kegunaan, kenapa ada cara menyandang yang seperti itu? Saat seorang bawahan menghadap kepada sang atasan, ketika dia menyandang keris dengan ditaruh didepan, pasti akan segera di tangkap pada jaman itu, karena membawa demikian adalah satu sikap yang kurang sopan, dan terlebih lagi secara fungsional adalah gampang dicabut untuk ditusukkan...
Saya tidak mengerti dan tau banyak tentang perkerisan, walaupun saya sendiri juga mengkoleksinya sebagai peninggalan dari orang tua saya...
Kalau kita mau mencari dan ada semangat untuk itu tentunya banyak hal yang bisa didapatkan...
Monggo dilanjutkan diskusi ini, dan tetep saya akan merenung dan mencari lebih banyak data lagi untuk kepentingan ini...
Salam,
HC
-
pak Dhe HC,
tambahan sedikit dr saya soal keris jawa. Pada saat damai, utk upacara dsb, memang keris Jawa di taruh di belakang, dilihatkan sedikit ujungnya (menurut saya utk memperlihatkan kalau saya jg bersenjata), tapi kalau dalam masa perang memang selalu ditaruh di depan. Almarhum kakek saya juga begitu (konon menurut cerita ibu), jadi beliau menyandang keris didepan dan pistol di pinggang, waktu perang class ke II.
Ngomong2 GRP buat anda sbg TS, cukup menggelitik. [top]
Salam dr jauh
Chandrasa
-
Sebenarnya yang saya harapkan dari thread ini adalah adanya beladiri di Indonesia yang mengkhususkan pada senjata...
IMO kalo yang cari murni senjata, harus lari ke timur itu lah. Di sana IMO gaya mainnya masih sama seperti suku2 Afrika, tangan kosongnya main seperti gulat freestyle (tanpa main ground), dan senjatanya diajarkan melalui tarian2 dan praktek berburu serta perang-perangan.
Untuk beladiri2 yang lainnya spt Kenjutsu, Kendo dll, itu dalam pandangan saya juga subsystem dari Japanese Martial Arts, tetapi keberadaannya bisa lepas sebagai system yang terpisah.
Ini bukan sekedar pandangan Anda sendiri, tapi memang fakta sejarah. Dulu samurai belajar bujutsu itu isinya ya belajar berbagai macam senjata sampai tangan kosong sampai strategi perang. Kenjutsu kebetulan kumpulan teori dan taktik main pedang, bojutsu pake tongkat, jujutsu tangan kosong, dst. Begitu.
-
terus terang, sebenarnya saya bingung.. yang dimaksud beladiri berbasis senjata ini seperti apa ya? apakah silat tradisional juga termasuk? soalnya saya dulu belajar sedikit, memang ketika belajar tidak diajarkan dengan senjata, cuma ketika gerakan2 dan jurus2nya ditranslasikan dengan senjata, masuk kok.. gurunya juga kemana2 selalu bawa golok atau taji ayam, wehehehe... :D
Ini seperti yang pernah saya bahas di thread sebelah, bahwa yang namanya pencak silat itu saya yakin dirancang dengan asumsi dasar penggunaan senjata juga, eh tapi di thread sebelah saya kok dituduh melecehkan pencak silat sebagai ilmu rendahan :( Alamakjang...
-
Cocok! kalau jaman dulu ada begitu banyak senjata, tentunya semua punya teknik sendiri2 untuk menggunakannya, sekaligus dengan filosofi yang ada didalamnya. Lha hal inilah yang harus diketahui oleh para generasi muda saat ini...
Itu sudah pasti bang HC. Coba saja anda lihat ilmu beladiri senjata modern, Anggar. Itu beda senjata (sabel foil apalagi satu lagi?) itu beda lagi teknik dan taktik dan strategi yang digunakan. kalo lihat sejarah ilmu senjata barat, yang lebih gampang diikuti karena lebih terdokumentasikan, itu terlihat sekali zaman seklian kondisi masyarakatnya bagaimana senjatanya bagaimana, armornya bagaimana, maka teknik taktik strategi demikian, lalu sekian dekade kemudian dinamika masyarakat berubah, maka beladirinya berubah juga, dulunya buat perang, makin belakang konteksnya duel, makin belakang lebih buat sekedar olahraga, dst.
Nih, kalo buat perbandingan, silakan buka http://www.aemma.org untuk referensi beladiri barat dari masa ke masa.
Nah, sebelum ada yang nanya, kenapa kok tidak ngasih data beladiri Indonesia dari masa ke masa, sini kan forum pencak silat, bukan ilmu barat, ya maaf, di sini kan budaya lisan, bukan tulisan, darimana mo cari data di web coba ;( Lha wong menyedihkannya saja lihat saja itu perpustakaan padepokan nasional pencak silat TMII, isinya buku beladiri luar semua, dan buku2 beladiri yang baru suppliernya adalah SAYA!
-
Mas Candra, Trimakasih...
Ditunggu lebih lanjut paparan ttg keris dan segala seluk-beluknya, dan sumbangan tulisan ttg masalah persenjataan dalam pandangan panjenengan, salam juga dari jauh....
Ini seperti yang pernah saya bahas di thread sebelah, bahwa yang namanya pencak silat itu saya yakin dirancang dengan asumsi dasar penggunaan senjata juga, eh tapi di thread sebelah saya kok dituduh melecehkan pencak silat sebagai ilmu rendahan :( Alamakjang...
Orang banyak yang kagum sama Aikido yang berbasis pada permainan pedang, Orang banyak yang kagum sama Xing Yi yang dikatakan berbasis pada permainan tombak, apakah kedua keilmuan tersebut bisa dikatakan rendahan? Disini saya tidak memberikan bandingan dg Pangamot dan Panatukan milik FMA, karena mungkin orang nanti akan bisa bilang bahwa saya mempromosikan FMA!
No offence! Trus seseorang bisa menilai kalau dikatakan satu keilmuan berbasis pada permainan senjata itu rendahan itu dasarnya apa? Didepan pun udah saya berikan satu artikel tentang penilaian terhadap praktisi bersenjata, dan satu hal lagi di tataran kebudayaan Jepang, yang boleh memegang Shinken (Pedang-nya Samurai) adalah kelas para kesatria dan diatasnya.
IMO kalo yang cari murni senjata, harus lari ke timur itu lah. Di sana IMO gaya mainnya masih sama seperti suku2 Afrika, tangan kosongnya main seperti gulat freestyle (tanpa main ground), dan senjatanya diajarkan melalui tarian2 dan praktek berburu serta perang-perangan.
Yup, ini kayaknya terlupakan (atau saya yang kurang jeli?), apakah ada yang studi dan mempelajari kebudayaan dunia timur kita ini? Sepertinya saya harus tanyakan lagi untuk satu penegasan, walaupun udah disentil oleh Mbah Kyai, dari sisi pendekatan secara bahasa, Apakah beladiri dari Papua itu bisa disebut Pencak Silat?
Ttg link Pedang Eropa, thx, dulu saya juga rajin mem-buka2-nya sebagai studi banding terhadap FMA yang saya pelajari, dan kalau dari sisi FMA memang banyak yang gatuk, karena bagaimanapun FMA itu juga dapat sumbangan dari budaya Eropa terutama Spanyol...
Salim,
HC
-
Contoh Study Kasus dari pendekatan secara Kontekstual:
Stick Fighting Tradisional Indonesia, Pendekatan Kontekstual terhadap sebuah Ilmu Perang
Artikel secara utuh bisa dilihat di thread: http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,920.0.html
Seperti sudah banyak saya tulis, Perang tidak akan jalan tanpa senjata, senjata adalah didisain untuk lebih cepat mengakhiri suatu konflik, begitu banyak desain senjata sesuai dengan kegunaan masing2, senjata yang palingg populer dalam perang kuno adalah pedang dan tombak, kenapa bisa begitu? jawabanya nanti kalau ditulis jadi panjang sekali.
Kata “kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.(Tim Penyusun Kamus: 1989: 458)
Dalam kaitan ini kita menghubungkannya pada arti yang kedua yaitu memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi munculnya kejadian (obyek),
Kejadian apa? Stick FightingTradisional Indonesia!
Situasi yang melatarbelakanginya? Kapan? ini ada keterkaitan dengan waktu...
Jaman perang berarti ada satu tuntukan akan kebutuhan senjata yang seharusnya paling mematikan? apa itu? semisal pedang > disini disa digambarkan stick fighting tersebut adalah satu bentukan untuk melatih ilmu pedang, atau karena tidak ada barang pengganti stick fightingpun bisa difungsikan sebagai senjata dengan memaksimalkan dalam bentuk fungsi!
Jaman sekarang ini? Jaman damai (walaupun masih ada perang juga) tetapi terkait dg waktu dan kondisi setempat ya damai, kenapa dimunculkan lagi? segudang alasan lagi sesuai dg topik, salah satunya adalah sebagai pengingat sejarah, pelestarian budaya, kebutuhan akan hiburan dll, kalau perang katakanlah saling membunuh itu hukumnya memang seperti itu, tetapi sebagai bagian dari pertunjukan atau yang lainnya itu sudah tidak sesuai dg apa yang dimaksudkan oleh keadaan dan situasi waktu yang bersangkutan, oleh sebab itu untuk menjaga keselamatan, dll termasuk menghindari kecurangan dan saling tidak puas ada begitu banyak aturan didalamnya.
Itu yang saya katakan Stick Fighting Tradisional Indonesia adalah satu beladiri tradisional yang kontekstual, selalu bisa mengikuti jaman dan situasai atau keadaan yang melatarbelakanginya sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan tanpa merubah total obyek yang bersangkutan. sebagai alat perang tanpa mengganti semua atribut yang ada (stick tetep stick) bisa! sebagai bentuk olahraga juga tanpa merubah atribut yang ada (stick tetep stick) ya bisa! semua bisa di setel menurut kebutuhan situasi dan kondisi.... lha kan begitu?
Ini adalah satu analisa amatiran yang mungkin bisa ajah dikatakan ngawur atau asal2an, lha monggo yang lebih tau dan lebih berkompeten untuk menyempurnakannya...
Salim,
HC
-
No offence! Trus seseorang bisa menilai kalau dikatakan satu keilmuan berbasis pada permainan senjata itu rendahan itu dasarnya apa?
Dasarnya karena tidak mau dianggap brutal dan langsung main mo matiin lawan dan tidak santun :D
Yup, ini kayaknya terlupakan (atau saya yang kurang jeli?), apakah ada yang studi dan mempelajari kebudayaan dunia timur kita ini? Sepertinya saya harus tanyakan lagi untuk satu penegasan, walaupun udah disentil oleh Mbah Kyai, dari sisi pendekatan secara bahasa, Apakah beladiri dari Papua itu bisa disebut Pencak Silat?
Saya cuma punya literatur Weapons & Fighting Arts of Indonesia-nya Draeger saja, itu berarti tahun 60-70-an, dan Draeger tidak menemukan adanya bentuk keilmuan 'terorganisasi,' dalam hal jurus, keguruan, dst. Adanya ya itu, lebih mirip permainan rakyat, kegiatan berburu, dan perang-perangan. Keilmuan uang didapatkan secara osmosis dan intuisi.
Mengenai apakah istilah pencak silat bisa dikenakan kepada keilmuan di Timur ini, IMO tidak, karena pencak silat itu notabene bentukan budaya dari Barat (indonesia) :D
-
Seperti sudah banyak saya tulis, Perang tidak akan jalan tanpa senjata, senjata adalah didisain untuk lebih cepat mengakhiri suatu konflik, begitu banyak desain senjata sesuai dengan kegunaan masing2, senjata yang palingg populer dalam perang kuno adalah pedang dan tombak, kenapa bisa begitu? jawabanya nanti kalau ditulis jadi panjang sekali.
Eh, jangan lupakan panahan lho, ini juga populer. Kapak juga, baik gagang pendek maupun panjang.
Mengenai pedang sendiri, lumayan menarik bahwa bila kita lihat senjata2 lain itu punya fungsi sipil (berburu, pertukangan), macam panah, tombak, pisau, kapak, maka pedang ini adalah senjata yang melulu untuk tujuan militer.
-
Eh iya juga, kalau senjata2 lain, panah, tombak, pisau, kapak, beda bentuk maka taktik strategi penggunaannya tidak terlalu beda, tapi kalau pedang, beda bentuk maka taktik strategi penggunaannya beda juga.
Dan bedanya ini bisa sejauh 'bumi dan langit,' lihat beda gaya pedang Jerman Abad-17 dengan gaya anggar modern (yang turunan dari gaya Italia/Prancis), walau dua-duanya masuk kategori pedang 'duel' dan bukan pedang 'perang.'
http://www.aemma.org/
-
Eh, jangan lupakan panahan lho, ini juga populer. Kapak juga, baik gagang pendek maupun panjang.
Mengenai pedang sendiri, lumayan menarik bahwa bila kita lihat senjata2 lain itu punya fungsi sipil (berburu, pertukangan), macam panah, tombak, pisau, kapak, maka pedang ini adalah senjata yang melulu untuk tujuan militer.
lupa pak, iya masih banyak senjata yang populer di dalam peperangan, trus klo di Indonesia sendiri kayaknya kapak jarang dipake? krena baju perang Indonesia tipis? hehe ntar malah dijawab banyak tuh pake kapak batu? atau kapak wirosableng? :D
pedang hanya untuk satu keperluan yaitu perang, satu tinjauan yang menarik dan sangat masuk akal, masa mo sembelih ayam pake pedang? :p
btw, masih banyak harus cari2 untuk data2 senjata di Indonesia, Relief Candi, itu juga sebenarnya banyak data, klo menengok buku keris pak Bambang disana banyak disinggung...
Salim,
HC
-
Bahkan buat pertukangan kayaknya zadul di Indonesia juga kapak jarang dipake. Di sini mah lebih laku parang daripada kapak. Gak ngeh juga kenapa begitu...
-
Saya rasa apa yang tertulis di Daftar ini Masoh belum lengkap, ayo dilengkapi bersama2, credit buat yang bikin tulisan ini! mohon ijin untuk minjem buat dibahas beramai2....
Nama Senjata Tradisional Khas Daerah Adat Budaya Nasional - Kebudayaan Nusantara Indonesia
by: godam64
1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD
Senjata Tradisional : Rencong
2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut
Senjata Tradisional : Piso Surit, Piso Gaja Dompak
3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar
Senjata Tradisional : Karih, Ruduih, Piarit
4. Provinsi Riau
Senjata Tradisional : Pedang JenaWi, Badik Tumbuk Lado
5. Provinsi Jambi
Senjata Tradisional : Badik Tumbuk Lada
6. Provinsi Sumatera Selatan / Sumsel
Senjata Tradisional : Tombak Trisula
7. Provinsi Lampung
Senjata Tradisional : Terapang, Pehduk Payan
8. Provinsi Bengkulu
Senjata Tradisional : Kuduk, Badik, Rudus
9. Provinsi DKI Jakarta
Senjata Tradisional : Badik, Parang, Golok
10. Provinsi Jawa Barat / Jabar
Senjata Tradisional : Kujang
11. Provinsi Jawa Tengah / Jateng
Senjata Tradisional : Keris
12. Provinsi DI Yogyakarta / Jogja / Jogjakarta
Senjata Tradisional : Keris Jogja
13. Provinsi Jawa Timur / Jatim
Senjata Tradisional : Clurit
14. Provinsi Bali
Senjata Tradisional : Keris
15. Provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB
Senjata Tradisional : Keris, Sampari, Sondi
16. Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT
Senjata Tradisional : Sundu
17. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar
Senjata Tradisional : Mandau
18. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng
Senjata Tradisional : Mandau, Lunjuk Sumpit Randu
19. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
Senjata Tradisional : Keris, Bujak Beliung
20. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim
Senjata Tradisional : Mandau
21. Provinsi Sulawesi Utara / Sulut
Senjata Tradisional : Keris, Peda, Sabel
22. Provinsi Sulawesi Tengah / Sulteng
Senjata Tradisional : Pasatimpo
23. Provinsi Sulawesi Tenggara / Sultra
Senjata Tradisional : Keris
24. Provinsi Sulawesi Selatan / Sulsel
Senjata Tradisional : Badik
25. Provinsi Maluku
Senjata Tradisional : Parang Salawaki / Salawaku, Kalawai
26. Provinsi Irian Jaya / Papua
Senjata Tradisional : Pisau Belati
27. Provinsi Timor-Timur / Timtim
Senjata Tradisional : Parang
Keterangan :
Data ini berdasarkan jaman Indonesia masih 27 propinsi dengan provinsi terakhir masih timor timur. Timor timur kini sudah terpisah dari NKRI menjadi negara baru yang berdaulat dengan nama Timor Leste.
Sumber: http://organisasi.org/nama_senjata_tradisional_khas_daerah_adat_budaya_nasional_kebudayaan_nusantara_indonesia
-
Dari daftar diatas, panah belum dimasukkan dalam daftar, kerambit, kuku bima juga belum dikenal oleh sebagian masyarakat awam senjata, atau ada penamaan lain?
Sumpit Randu >> Sumpit yang ujungnya ada penajaman seperti tombak?
Irian Jaya senjata tradisionalnya "pisau belati"? berapa banyak dari kebudayaan kita yang tidak mengenal pisau belati sebagai senjata? atau jangan2 jaman dulu ada penamaan pisau belati pada daerah2 lain selain Irian Jaya? Kenapa justru di Irian Jaya tidak dimasukan lembing dan panah?
Monggo kita bahas bersama2...
Salam,
HC
-
Ternyata, selidik punya selidik di Irian Jaya terdapat pisau yang terbuat dari tulang, bentuknya sangat exotic, bahan dari tulang apa? katanya sih dari tulang lawan yang dikalahkan dalam peperangan (tapi jangan percaya dulu soalnya masih blom meneliti lebih jauh)
Nah apakah yang dimaksud yang buat daftar senjata tradisional itu adalah senjata pisau tulang ini? atau pisau belati yang kebanyakan ada di daerah2 lain yang terbuat dari besi?
untuk gambar menyusul, saya masih blom bisa upload gara2 koneksi internetnya setengah hidup... :-P
-
Ini gambar Pisau Tulang dari Irian Jaya, menarik sekali bentuknya....
(http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs260.snc1/10723_141480042191_571122191_2473951_4750985_n.jpg)
(http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs280.snc1/10723_141480067191_571122191_2473955_7347289_n.jpg)
-
Pisau tulang dari Papua yang di atas dijual di Bandara Soekarno Hatta Duty Free Shop. Kalo ga salah harganya Rp 1 juta! Pengin beli tapi pastinya ga bisa tembus keamanan bandara dan bakalan disita. Gile aja, bawa pisau (biar pun dari tulang, tapi kan tetap aja pisau!) ke kabin pesawat!
-
bapak saya biasanya kalau bawa sajam seperti keris dll, bisa masuk pesawat asal dititip di pilotnya.
mengenai tombak yang bisa jadi sumpit, bapak saya punya satu di rumah, coba nanti saya fotokan. tapi gatau itu namanya sumpit randu atau bukan... :)
-
ternyata pisau tulang diatas itu kebanyakan pake tulang burung kasuari...
tetapi dari beberapa artikel memang dikatakan ada yang terbuat dari tulang paha manusia...
contohnya ini:
(http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs260.snc1/10723_141593177191_571122191_2475146_3899354_n.jpg)
Mas Bas, klo bule yang beli boleh? Klo jualnya di bagian boarding kan mestinya bisa dibawa tuh...
*keris dll yang dimasukkan kedalam golongan senjata antik/kuno sebagai pelestarian budaya tidak masuk dilarang dalam UU Darurat No. 12/1955, tetapi klo udah di wilayah internasional sih saya ga tau?
-
@pak hart : kalo dari pengalaman temennya bapa yang suka bawa (jualan) keris ke luar negeri, boleh2 aja bawa keris, asalkan komponen2nya bukan berasal dari sesuatu yang dilindungi. misalkan kalo kerisnya itu punya warangka dari bahan gading gajah, bakalan disita oleh pihak custom negeri yang bersangkutan.
-
Mas Meong, tetapi bawanya dimana? kan di bagasi...
kapan hari saya ke New Zealand juga bawa seperangkat senjata tajam beneran dan bukan termasuk keris dan sejenisnya, boleh2 sajah, tetapi kan ada alasan yang tepat yaitu buat pertandingan beladiri...
klo di kabin sih saya kurang tau tuh?
-
dititip di pilotnya pak.. jadi masuk kokpit..
-
Senjata tajam kalo dibawa dalam bagasi boleh-boleh saja, tetapi kalo dibawa masuk ke kabin kemungkinan besar tidak boleh. Baru sampe pintu keamanan saja sudah disita. Dititipkan pilot? Dulu mungkin bisa demikian, tetapi sepertinya kalo sekarang ini tidak bisa lagi, kecuali kenal sama pilotnya. Saya pernah tanya sama petugas check in di beberapa penerbangan, semua sepakat ga boleh dan harus masuk bagasi kalau mau dibawa.
Soal pisau tulang: kalo beli sih semua juga boleh beli asal ada uangnya. Nah, masalahnya sekarang ini bisa masuk kabin ga? Saya sih ga mau gambling ambil resiko kehilangan uang Rp 1 juta dan suvenir cantik. Waktu berangkat dari Soekarno Hatta bulan lalu, masih ada tuh. Entah barang yang sama atau stok lain.
Salam...
-
Senjata tajam khas indonesia kenapa ndak berkembang, mungkin dalam tataran publikasi dan sosialisasi sampai produksi cuma sampai tahap "souvenir". Beda dengan maaf lagi lagi barat, sosialisasi karambit misalnya lewat trainingnya dan inosanto, luke, dan tarani sangat mendunia. Karambit pun jadi produk massal yang dicari lewat stryder, spyderco, emerson, boker, mantis. Dari sisi produksi, pisau pisau tradisional kita secara massal dan customised cuma walagri dan t.kardin yang bisa kasih kualitas bagus, masal dan konsisten. Bukan kodian.
Sedih juga kalau tahu banyak orang bilang karambit itu senjata dari barat, hanya karena karambit juga diattach di senjata senjata army negara lain.
Rasanya golok seliwa bang husin itu asyik banget dan punya potensi disosialisasi lebih jauh. Kalau pernah lihat demo cluritnya perguruan pamur atau joko tole bisa melihat speed dan tehnik asyik clurit ditangan native movernya. Sayang Jokotole dan pamur kurang mensosialisasi ilmu cluritnya dalam tataran yang lebih luas. [top]
Disisi sosialisasi juga, penggunaan senjata cuma tampak di pertandingan pencak seni dan demo. Saya baru tahu kalau pertandingan dengan senjata di FMA sangat populer. Keris sebagai senjata pun cuma saya lihat peragaannya di malaysia, brunei. Di indonesia malah jadi konsumsi sinetron seram. Nanti kalau diakuin negara lain baru ribut x-))
Rasanya dengan faktor faktor itulah sajam khas indonesia juga bisa berkembang. Agak trenyuh juga seperti kata mas irwan hermawan, praktisi arnis (pasti sobatnya mas hartcone juga), "masa saya belajar karambit harus ke pilipina" Bahkan kalau trainng karambit sangat populer malah di area california. Bisa jadi kita belajar karambit harus ke california. :'( :'( :'(
-
Yang jadi penasaran sekarang, zaman perang kemerdekaan dulu ada gak yah subset silat yang diajarkan untuk pejuang kemerdekaan? Semisal para pengguna bambu runcing, senjata sakti favorit saya, apakah ada teknik2 tombak yang dikodifikasi untuk penggunaan bambu runcing?
-
Keris sebagai senjata pun cuma saya lihat peragaannya di malaysia, brunei. Di indonesia malah jadi konsumsi sinetron seram.
Kalau mau cari di youtube video clips dari GM Dan Innosanto dan GT Leo T Gaje Jr. banyak yang demo pake Sundang...
apakah ada teknik2 tombak yang dikodifikasi untuk penggunaan bambu runcing?
ini juga menarik untuk disimak, nunggu mode on...
-
Yang jadi penasaran sekarang, zaman perang kemerdekaan dulu ada gak yah subset silat yang diajarkan untuk pejuang kemerdekaan? Semisal para pengguna bambu runcing, senjata sakti favorit saya, apakah ada teknik2 tombak yang dikodifikasi untuk penggunaan bambu runcing?
Menarik, menarik menarik kang dasa., dan mas harto.. [top]
Saya jadi inget lagi kang dasa, daerah wonocolo surabaya dulu jaman 10 november an dulu pernah mobilisasi tehnik bambu runcing oleh kyai kyai kharismatik daerah sana. Nanti kalau saya pulang ke surabaya saya coba telusuri lagi. Sepertinya tehniknya ambil dari tehnik tombak/toya. Di yogyakarta sendiri sih saya pernah lihat waktu sekatenan tehnik tombak dari para prajurit kraton. Stylenya ndak kayak permainan tombak wushu. Saya pernah lihat agak lebih mirip latihan permainan toya tentara di akabri. Kalau yang ini di sekitar tahun 85 an sih instrukturnya dari Perguruan Pamurnya pak Hasan Habudin, yang sejarahnya perguruannya di bukunya mas o'ong. Saya juga akan telusuri juga di keluarga pak Hasan Habudin di daerah Jagakarsa. Soalnya sejarah perguruan ini masih ditataran setelah tahun 45 an..
-
Ini saya dapet satu artikel ttg pelatihan olahraga quarter staff di Inggris pada jaman Victoria...
http://www.alliancemartialarts.com/quarterstaff.htm
cukup menarik, sayang saya ga ada waktu untuk menterjemahkannya, kalaupun pake terjemahan google hasil nanti outputnya cukup membuat kita tertawa... :D
Omong kosong nih... dari sini mungkin nantinya ini bisa jadi ilham untuk satu event olahraga ini bisa dikenalkan pada masyarakat umum. ya itung2 melestarikan budaya semangat perjuangan para pahlawan kita saat melawan penjajah pake bambu runcing. dalam kebayakan silat kan ada ilmu toya tuh, tinggal dipoles dikit ajah mungkin bisa menjadi hal menarik. soal armor arnis udah punya tuh... hehe tinggal nunggu orang2 yang tergerak untuk hal tersebut, lalu sedikit riset ttg sejarah dan teknik... x-))
-
Alliance itu dulu jadi sumber ilmu BD barat gue, cuma dikumpulin, gak pernah dilatih, hehehehehe... kalo di Jepang ada yang namanya naginata-do, ini make senjata campuran toya dan tombak, namanya naginata, alias halberd. Di Indonesia kalo di silat ini masuknya kelas tombak deh, dan dulu zaman 70-an yang megang banyak variasi ilmunya PPSI, kalo kata Draeger mah.
-
BTW baru inget, ilmu quarterstaff masih hidup kok. Awal Abad-20 masuk sebagai kurikulum Master of Arms untuk Boy Scouts. Lalu di ketentaraan Amerika muncul dalam bentuk pugil stick training, materi sebelum latihan bayonet.
-
Kang Dasa, itu yang seperti salah satu materi di American Gladiator untuk trainingnya? yang tongkatnya pada kedua ujung dibuntel seperti Sanbag?
-
Nyoih, itu dia bangkune... eh bang Cone. Cuma manual yang terakhir rada teknikal ya manual Boy Scouts Master at Arms itu lah setahu saya, bisa diunduh dari http://www.lulu.com/, kalo yang di FM3.25-150 Army Combatives mah lebih sekedar spesifikasi peralatan, cara penggunaan mah insting saja lah...
-
klo liat INC. Indonesian Nunchaku Club bisa sukses dg banyak cabang di Indonesia, membawa nama beladiri Jepang, kenapa temen2 yang lain ga mengikuti jejak INC dg bikin ITC. Indonesian Tongkat Club? (btw, ini nama kayaknya tumpang tindih dehh)
Kang Dasa, pelopori dunk bikin, kan ente di JKT...
denger2 eh baca2 ding, di thread sebelah Bang Gogi mo ketemuan pertoyaan tuh...
Salam,
bangkune
*sejenis kursi panjang? ???
-
Khan mas hartcone dan mas serunai yang jadi juri kontes INC nya x-)) x-))
Nunchaku jadi popular karena ada unsur urban culturenya di freestyle-nya. Apalagi infrastruktur pendukungnya jalan (industri nunchaku lokal)
Kalau toya dipopulerkan lagi dengan dukungan infrastruktur kayu lilin trademark mas gogi [top], tentu bisa bangkit lagi. Juga tidak dinafikkan turnament sebagai pemacu naluri berkompetisi. Knife rasanya ada blademaster *yang menang kalau ndak salah fransino*, trus nunchaku ada indonesian freestyle competition.
Ada dua hal dalam penguasaan alat beladiri ; asal tehniknya dan penguasaan alat itu sendiri untuk diuji dalam sebuah kompetisi. UFC awalnya membawa asal beladiri petarung, lama lama berkembang menjadi MMA yang sudah tidak melihat beladiri asalnya. Dalam turnament Blademaster, Nunchaku pun yang dilihat adalah penguasaan alatnya. Sedang sumber/asal beladiri dan originalitas tehniknya jadi nomer sekian.
Kembali ke sajam,
Kelompok Belati-nya mas irwan (Yang aktif di tehnik pelatihan pisau, pelucutan pisau) juga sukses membawa latihan penguasaan senjata tajam sebagai bagian penting dari penjagaan diri. Seperti kata pepatah "ingin mengatasi ular, kenali bisa ular". Walau sepertinya banyak mengadopsi sistem stick fighting FMA, tapi penguasaan senjata tajam sampai disarmednya tersosialisasi dan berfungsi guna bagus.
Kembali ke dillema two side coin, mau berkembang seni beladiri alatnya atau asal tehnik dan seni beladiri alatnya itu sendiri ?.
-
hehe, itu kehormatan bagi saya buat jadi juri... :-P
Sebuat alat itu mau ga mau membawa nama tradisi! apalagi ada embel2 nama tertentu semisal "nunchaku" ya otomatis bayangan pertama adalah Bruce Lee kemudian kedua adalah Jepun (padahal di berbagai literatur Bruce Lee malah belajar dari Dan Inosanto dg disiplin FMA!!)
Pisau, sekarang ini di dunia barat, orang lebih ngelirik ke FMA, so kelompok pisau mas Irwan pun juga ngangkat nama FMA, back groundnya CDP, Sayoc, Floro... ya itu belati mau ga mau ya termasuk part of FMA.
Satu Klub itu arahnya mau kemana kan tergantung thema, tapi ya ga bisa seenak udelnya sendiri, semisal saya belajar stick fighting model Pilipina, trus ngaku2 Tradisional Indonesia, tapi semua kurikulumnya nembak FMA, lha itu namanya ga jujur, orang akan jadi bertanya...
Kalau tongkat panjang? secara dunia semua punya, tapi secara history Indonesia punya bambu runcing, nah kenapa itu tidak diangkat? beda sama pisau dan nunchaku kan?
hehe, itu pemikiran saya ::)
Salam,
bangkune..
-
organisasi BENDERA yg menggertak malaysia juga hanya bersenjatakan bambu runcing...
Nah, skrg penggunaan bambu runcing itu spt apa? Spt menggunakan tombak, atau spt tongkat panjang biasa? :D
-
@bangkune
Wah berat pakde, saya sekarang ilmunya dah musnah, sudah jadi Kuchi-Waza alias Silat Lidah alias Keyboard Warrior alias Omong Doang murni. Dijamin adu omdo sama saya gak akan ada yg bisa menang, secara saya mantan editor buku pelajaran yg pernah pula megang buku sejarah, alias tahu benar cara melesetin kata2 sumber :D Mankanye jadine mo belajar lagi, tapi cari yg kayaknya simpel dan ngawur, semacam ilmu bambu runcing itu lah :D
@tenji
ngkayaknya kalo bambu runcing itu tombak deh.
@pemulung
Kalo saya suer cukup belajar keilmuan bambu runcing zaman perang kemerdekaan dah cukup, dah lengkap buat saya bisa dapet filosofi pembebasan dan tekniknya yang gak neko2.
-
@bung dasa : saya selalu menyukai ulasan sampean yang berbau historis dan berliteratur, kayaknya bukunya dragger ok banget ya ?
@ tenji : weits juri dari inc lagi nih [top]..thread nunchaku ada ndak disini ya ?..basic anda di okinawa bener bener bisa jadi nara sumber [top]
@bangkune : nunchaku diajarkan juga ndak di FMA...? ada anaknya master dan inosanto (dianne inosanto ?) yang jadi selebritis holywood. Ada film dia tentang martial art's way jadi pujian. Dia kalau ndak salah jadi guru juga. Karate kid versi lain...
-
@pemulung: bagus mungkin, saya kurang bahan sih, adana cuma itu, beda sama rekan2 sini yang punya banyak pengalaman pribadi. Kalo pengalaman pribadi saya cuma seujung kuku kalo dibanding sama sini :D Jadina kekuatan saya cuma pada batas yang sangat sempit dan spesifik
-
@pemulung
Hihihi, makasih2... [beer] Narasumber sepanjang sepengetahuan saya aja koq... :-P
Kalo thread nunchaku kykna blum ada, ntar coba kang Dodit aja yg buka thread di SS... ;)
-
Ane pnah liat maenan silat yg memakai senjata "clurit" dlm tiap jurusnya.. Mmg senjata ini identik bgt dgn Pulau Madura. Kl ga salah waktu itu di daerah Situbondo. Mgkn saat ini perguruannya dah melebur mjd Pagar Nusa. Saya lupa apa namanya sblm melebur itu. Maafkan..