Forum Sahabat Silat
Bahasa Indonesia => Silat Diskusi Umum => Topic started by: one on 24/08/2009 12:26
-
Pernah dalam beberapa pembicaraan, para sesepuh pencak silat mengeluhkan berbagai keluhannya perihal banyaknya penafsiran dan penerjemahan "pencak silat"nya yang diajarkan pada muridnya dari luar negeri. Penafsiran ini kadang menimbulkan kerancuan pada aliran pencak silat, baik secara teknis maupun makna filosofinya.
Sementara dalam dua pembicaraan (saat di ultah Forum dan 'Cirata gathering') dengan salah satu senior kami, kang O'ong Maryono memiliki pendapat : ajarkan keseluruhan pencak silat terutama pada pesilat asing dan jangan setengah-setengah agar pencak silat tidak lagi menjadi kacau dan rancu di luar negeri sana.
Timbul pertanyaan bagi saya, jika kita mengajarkan setengah-setengah saja sudah cukup dibuat rancu, akankah ada jaminan jika kita memberinya sepenuhnya akan tidak membuatnya rancu dan kacau, atau malah sebaliknya menjadi tambah rancu dan kacau balau?
Ketika kita berbicara pencak silat, apakah itu bagi kita sebagai warisan? (yang terserah ada kita mau kita apakan 'harta' tersebut, mau dijual seluruhnya, dikembangkan atau hanya kita simpan) Ataukan sebagai amanat orang tua dan leluhur kita yang harus tetap dijaga, dilestarikan dan dilindungi keberadaannya????
Mangga dihaturan diskusi...
Iwan Setiawan
-
Dear All,
Saya ingin mengetahui yang dimaksud pencak-silat setengah2 itu apa?
Terus yang disebut pencak-silat yang rancu itu seperti apa?
rgds
-
berdasarkan pembicaraan tersebut para guru kita seolah hanya memberikan setengah-setengah keilmuannya sehingga mumungkinkan terjadinya penambahan pendapat pribadi dalam menerjemahkan keilmuan tersebut.
dalam beberapa kasus misalkan, Silek Harimau (dari Sumatra Barat) pada penampilan dan pengajaran dasar menggunakan iringan musik tepak tilu yang nyata-nyata dari Sunda (Jawa Barat) meski terlihat sepele ketika namun guru gadang dan pewaris silek tersebut sangat tidak menyetujuinya. Penerjemahan Cikalong sebagai bela diri yang berbasis hewan, pemuatan sejarah yang tidak berdasar tentang aliran ini di situs perguruan di luar negeri (sayang situs ini hilang setelah kita gencar mempromosikan dan membahas tentang pencak slat), klaim sepihak tentang pewaris tunggal aliran, penamaan aliran tanpa mengetahui seluk beluk aliran dan penyebutan nama asal yang salah (hingga terbentuk opini aliran ini telah hilang di Indonesia) itu beberapa kejadian yang kerap menjadi bahan perbincangan...silahkan dilanjut...
-
di fesbuk diskusi tentang silat rame banget...
kenapa di sini malah sepi?
-
Pencak silat setengah2 artinya sang guru tidak akan memberikan pengajaran lebih selain pemahaman yg didapat si murid.
Dikutip dari ucapan seorang Guru dari salah satu aliran silat di Indonesia, "Saya tidak rela ilmu ini, dikuasai oleh bangsa lain, sebelum banyak orang Indonesia menguasainya."
Setiap orang belum tentu sama dalam memahami, memaknai & menjaga arti dari pencak silat.
-
terima kasih bang Ajad yang baek
-
bang ajad yang baek, jagoan lagi pula pintar
-
jangankan diluar negeri...di indonesiapun masih banyak anak2 muda pesilat yang gak tau apa2 selain bakbikbuk tendang sana tendang sini tonjok sana tonjok sini..... :-\
-
melihat paparan saudara one, permasalahannya adalah pengakuan atau legal formal penggunaan identitas suatu aliran. Dahulu jaman kakek2 kita jika seseorang belajar pada seorang guru baik tamat atau tidak akan dianggap memegang ilmu tersebut. Karena bisa aja seorang guru mengatakan kepada muridnya sudah tamat padahal dia baru dikasih sebagian. Otomatis dengan perasaan bangga sang murid akan memprokalamasikan bahwa dia memegang aliran gurunya.
Ketika kebudayaan timur bersentuhan dengan budaya barat barulah timbul permasalahan. Ada formalitas yang namanya organisasi. Yang kemudian ada implikasi adanya keuntungan material. Jika orang timur hanya memerlukan pengakuan tentang "kesohoran' di barat selain kesohoran juga menghitung keuntungan materi. Sehingga ada yang namanya hak paten dsb.
Apa yang terjadi sekarang, Orang membuat spesialisasi diri mencari penghidupan dari pencak silat. Padahal dahulu adalah orang belajar pencak hanya sebagai alat. Punggawa kerajaan belajar dengan tujuan keamanan. Perantau memiliki ilmu pencak sebelum berangkat merantau. Ada yang berpikir mau bikin pencak seperti Tinju. Sehingga ada keuntungan materi di dalamnya.
Jadi untuk apa mengajarkan apa yang dinamakan sampai tuntas pencak silat. Kita hanya perlu sebagai alat. Bukan segalanya.
-
Saya ikutan ngetik di sini ya? Tangan kanan masih belum pulih, jadi sementara sedang tidak bisa pegang golok, saya pegang keyboard saja dulu. :-X
Kalau menurut kebodohan saya, silat itu seperti juga ilmu lainnya, diukur dari manfaatnya bagi manusia. Apabila ilmu itu membawa manfaat bagi orang yang menekuninya, maka luhur-lah ilmu itu. Makin besar dan luas manfaat suatu ilmu, makin luhur pula derajat ilmu itu.
Dengan berpegang pada kebodohan itu, maka buat saya suatu ilmu selayaknya diturunkan pada pihak yang bermaksud menekuni dan bisa beroleh manfaat darinya, lepas dari asal bangsa maupun ras.
Jika seorang bule dari Transilvania (misalnya) mengembara ke Indonesia dengan hati gundah gulana karena kehilangan pegangan hidup, lalu menemukan makna kehidupannya dari belajar silat dan diapun menjadi manusia yang mumpuni lahir batin, lalu kembali ke negerinya, bekerja dan menebar kebaikan ke sekitarnya. Maka berkahlah bagi dia, gurunya, dan ilmu silat yang dipelajarinya.
Si bule mungkin hanya belajar dua gerakan silat... dia hanyalah seorang pendekar setengah jadi, berilmu separuh, dan berpemahaman tidak penuh. Tapi dia sudah jadi manusia yang berguna bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Pun, apakah salah bila seseorang memahami sebatas kemampuannya sendiri?
Mengenai perbedaan pemahaman,
Adalah keniscayaan bila setelah diturunkan pada seseorang, orang itu memiliki interpretasi dan pemahaman yang mungkin berbeda. Bagaimanapun juga manusia punya latar belakang dan cara berpikir yang berbeda, ini adalah fitrah. Interpretasi yang baru dan berbeda inilah yang mengembangkan suatu ilmu menjadi lebih baik, mutakhir dan luhur. Bila pelestarian ilmu dipahami sebagai pelarangan terhadap multi-interpretasi, maka sampai sekarang kita masih percaya bahwa matahari mengelilingi bumi, bukan sebaliknya. Sejauh seorang murid masih menghormati garis keguruan dan para pendahulunya, maka dia boleh melangkah dengan pemahamannya. Seperti kita tidak boleh menganggap anak akan hidup di jaman yang sama dengan jaman kita, seorang guru perlu memahami bahwa muridnya akan menghadapi dunia yang berbeda dengan dunianya.
***
Memang harus diakui silat menghadapi kasus lain yang parah, yaitu adanya pihak-pihak yang dengan sengaja menyalahgunakan, menyalahartikan, dan mengaku-aku tanpa hak. Tapi bukankah itu memang watak sebagian manusia atas sebagian lain yang akan selalu ada? Kita bisa berpegang pada fakta bahwa kegelapan hanya datang karena ketiadaan sinar. Bila silat asli yang hak cukup bersinar, dikenal dan banyak dipelajari oleh orang, maka kaum pengaku-aku itu tidak banyak bisa berbuat.
Tinggal masalahnya,
ketika di luar sana para pengaku yang berilmu rancu, berpandangan picik dan hanya bernafaskan keuntungan merajalela, di dalam sini para guru menutup diri, hanya mengajar separuh, dan tidak tampil ke muka (meski disebabkan oleh kerendahan hati), maka kita harus memaklumi bahwa kaum celaka itulah yang akan lebih dikenal dan dipanuti orang.
***
Simpulan saya, saya setuju dengan Kang O'ong. Ajarkan semua, tunjukkan apa adanya, biarkan murid (termasuk saudara-saudara kita 'bule') melihat ilmunya secara keseluruhan. Semoga manfaatnya lebih besar, pemahamannya lebih lengkap, dan berkahnya bagi semua yang terlibat. Apabila si murid melangkah lebih jauh dengan interpretasinya sendiri -sejauh masih ada dalam koridor moral/akhlak yang baik- kita terima sebagai keniscayaan, dengan tetap menjalin tali silaturahim, rasa hormat dan kasih sayang.
Justru dengan hanya mengajari separuh, kemungkinan ada pemahaman yang keliru akan semakin besar. Seperti dongeng tiga orang buta yang memegang gajah.
Mohon maaf kalau ada salah kata, ini cuma pendapat saya yang sedang gak bisa minum ponstan, jadi sedang ngelantur berat... :-[
-
hatur uhun...magga dilanjut
-
Mas Antara. Salut dengan pemikiran anda. Mudah2an bisa lebih mencerahkan kita lagi.
Salam
-
Makasih...pak Jagoan....silahkan juga urun pendapat
-
ikut tadarusan di marih boleh dong.. :P
kalo dirunut-runut inti permasalahnnya adalah letak akhlak seseorang dalam mengemban ilmu tersebut,..ada beberapa masalah yang sangat membuat saya tak habis pikir..(emang kagal punye pikiran..hehe [lucu]).
Dulu, setiap calon pesilat yang berniat mempelajari suatu aliran ,sama yang empunya aliran pasti ditanya dulu apa motif nya,bagaimana akhlaknya,asalnye, ditanya macem2 dah.. pokoknya serba baik ...(kalo mo dirinci bisa ade khotbah jum'at neh.. :P) si calon dimonitor dulu oleh Guru aliran selama beberapa waktu..(eh ade lho yang didiemin sampe hitungan bulanan..bolak-balik ke rume guru tersebut,....bawa martabak,dodol,onde2..hehe)..ade yang sampe bela2in tidur di teras rumah guru (*ngelirik kang haji Kiki..**)hehehe...
kesemua itu pasti ada hikmahnya..intinya adalah jangan sampe ilmu yang mulia itu jatuh ke sembarang orang...nyang akhlaknye ga terpuji..
nah kalo dibandingin ma, maaf, neh orang bule..pasanan enak bgt yah,dateng langsung minta ilmu...ckckckckckck...langsung minta ini..itu..tanpa ade filter yang jelas...
udeh ah ngedumelnye pagi-pagi..
mo lanjut tadarusan aje ah..
debuls
-
Salam sejahtera
Saya juga merasakan begitu sulitnya guru melepaskan jurus jurus silatnya. masalahnya pencak silat sudah tersebar keseluruh dunia dengan mengunakan nama dan icon yg sama digunakan di indonesia.
Mereka sangat berminat untuk mengembangkan dan menyebarkan pencak silat indonesia, namun hasil kunjungan dan penelitihannya di perguruan perguruan pencak silat di indonesia mendapatkan informasi yg salah, atau karangan sendiri, karena adanya aturan yg sangat tertutup. Para pendekar atau guru memberikan Imformasi yg tidak sebenarnya.
Pada umumnya mereka yg sudah menerima informasi yang salah membuat modul sistem kepelatihan dan menulis dalam buku. Buku dan modul kepelatihan menyebar secara cepat keseluruh negara.
Setelah ditemukan dunia internet komunikasi semakin mudah dan anak bangsa terkejut melihat terjadi penyimpangan dalam menggunakan pencak silat dan jurusnya berbeda.
Untuk meluruskan infromasi yg salah ini saya sependapat dengan Bang O'ong Maryono untuk membuka jurus yang ada di launching ke pasar, biarkan pasar yang menilainya.
Keterbukaan perguruan memudahkan kita mengembangkan pencak silat dan pencak silat akan membawa devisa negara.
Mohon maaf jika tdk sependapat
Wassalam
Pepe F
-
Jadi inget cerita temen-temen dari ITB...
Mereka keqi banget sama dosen killer yang bolak-balik bilang "saya aja dulu lulusnya sepuluh tahun, apa kamu mau ngarep bisa lulus dalam waktu empat tahun?" ... he..he..he... ;D
-
semua guru pasti tau kepada siapa seluruh ilmunya mau di turunkan...
tanpa minta pun tuh ilmu pasti kita dapet kalo emang udah jodoh.....
dan hampir setiap guru pasti menyisakan paling tidak satu ilmu pegangan yang tidak dia turunkan....
beberapa ilmu yang sudah jarang di turunkan adalah
napak sancang, brajamusti, srigunting, saepi angin, saepi banyu, saepi geni, rawarontek, BT (batara karang)....... dan seterusnya.
gerakan silat sekarang mungkin adalah gerakan persiapan untuk membentuk ketahanan tubuh dalam mendalami ilmu2 kadigjayaan sebagai ilmu tingkat lanjut.....
kebutuhan silat dulu dan sekarang jauh berbeda... dulu hal tersebut di butuhkan untuk bertahan hidup sedangkan sekarang???? entah lah ga sedikit orang ga tau tujuan dia belajar beladiri.
suatu hari saya bertanya kepada almarhum kakek saya, beberapa tahun sebelum beliau meninggal. boleh ga saya belajar saepi banyu yang beliau miliki.... dengan santai beliau menjawab
".... buat apa belajar saepi banyu.... ilmu yang paling ampuh saat ini adalah ilmu saepikiran.... pasti ga bakalan ada satu senjatapaun yang bisa nyolek"
saepikiran= positif thinking dalam bahasa sunda...
punten ngelantur....