Forum > Silat Diskusi Umum

Pencak Silat sebagai Olahraga Beladiri dan Seni Beladiri

<< < (3/5) > >>

Antara:
Lhoo ... Gan Iwan kok langsung ngaburrr... :'( 'Pan saya mau menta ilmunya itu sesuai saran Gan Ochid... Tingkat tinggi tuuu...

Padahal udah nyiapin menyan ama bunga tuju rupa niiii....  :-\

Antara:
OOT dikit yah?

Kebetulan terbaca tulisan L.A. Kane, beliau salah satu pengarang buku beladiri yang saya sukai. Ini seputar ilmu beladiri dan ilmu berkelahi. Maaf kalau terjemahannya rada payah  :-X


--- Quote from: Mas Kane ---Jika Anda sungguh-sungguh ingin belajar beladiri, maka perhatikan kurikulum tempat Anda belajar. Lihat dibalik pukulan, tendangan dan pergumulan yang Anda latih. Jika tidak ada di dalamnya materi tentang kewaspadaan, penghindaran dan teknik menurunkan ketegangan, maka Anda tidak sedang belajar beladiri, Anda belajar ilmu berkelahi.

Kecuali Anda adalah seorang penegak hukum, anggota militer, atau petugas keamanan yang memang berkewajiban untuk berhadapan dengan kekerasan, maka pilihan terbaik bagi Anda adalah selalu cari jalan aman.

Berkelahi adalah saat ketika ilmu bela diri Anda gagal dan Anda beralih ke ilmu berkelahi
--- End quote ---

Bener juga kata Gan Iwan... saluttt...  [top]

HartCone:
Menulis itu memang susah, padahal sudah beberapa kali saya melakukan editing, tapi tetep sajah belum bisa menggambarkan apa yang menjadi maksud dan tujuan saya dalam membuat thread ini.

Mungkin kata "komplit" ini tidak tepat, Sebenarnya yang saya katakan komplit itu bukan menuju satu komplit menguasai berbagai aliran beladiri yang ada, dan itu pasti ora mungkin alias mustahil bin mustahal, seperti yang ditulis oleh Kang Iwan, akan membutuhkan waktu yang lama (1250 tahun)...

Kalau kita kembali melihat sejarah, tentunya begitu banyak tokoh2 yang bisa dijadikan panutan dimana bisa mengangkat dan memberi nama harum setiap "Aliran" yang sudah terbentuk, nah itu adalah tujuan tulisan saya diatas...

Sesuai dengan judul, komplit berarti bisa bertarung secara Ilmu Berkelahi tanpa aturan, bisa bertarung dalam banyak aturan yang disepakati, tapi manut sama Kang Iwan sajah, sebaiknya kata komplit diganti dengan "mumpuni". Saya tidak hanya menyebut pada Pencak Silat Olahraga sajah, tetapi Seni Pencak Silat secara utuh, dan itu sudah diungkapkan dengan contoh oleh Kang Iwan juga:


--- Quote from: Kang Iwan ---Sebetulnya banyak pertandingan yang telah terjadi pada silat, contoh: Mama Ibrahim vs Mama Sabandar.... berakhir seri....
--- End quote ---

Dari situ pasti kita simpulkan bahwa Mama Ibrahim dan Mama Sahbandar, adalah "super mumpuni" dimana tentunya bisa menempatkan diri pada setiap keadaan, dimana beliau berdua bisa menyetel Seni Pencak Silat itu sebagai apa? Sebagai Ilmu Berkelahi, Sebagai Pencak Silat Olahraga (termasuk pertandingan) Sebagai Seni Beladiri secara utuh lengkap dengan Spiritual dan Filosofi, Dan masih begitu banyak tokoh2 yang bisa kita jadikan panutan...


--- Quote from: Kang Iwan ---bingung dengan kata seni bela diri. Karena kebodohan saya pula saya sering bilang bagaimana seni bela diri dipertandingkan? Lha, wong namanya aja bela diri........kok ada yang saling menyerang? itu mah sudah bukan bela diri... Berarti secara harfiah kita sudah menghilangkan artian kata itu sendiri. Namanya bela diri ya dipake kalo kepepet dan diserang. Dan keluarnya kata "membela" diri sendiri kan karena sebuah keterpaksaan dan darurat.
--- End quote ---

Saya rasa ini adalah satu perkembangan kebudayaan yang bergeser, Ditinjau dari budaya barat, bela diri lebih populer memakai kata "martial arts", kata "martial" diambil dari nama Mars, dewa perang Romawi kuno. "martial arts" secara harafiah bisa bisa diatrikan sebagai seni perang, kata ini sudah populer di Eropa pada abad 15,

Selain itu dalam tinjauan budaya barat ada pula kata "self defence", dalam bahasa Indonesia populer sengan istilah "seni bela diri" yang berarti cara mempertahankan diri sebagai satu eksistensi yang mempunyai hak bebas berkehendak sebagai mahluk hidup dari serangan secara fisik oleh orang lain baik perorangan atau kelompok. Self defence atau seni bela diri lebih menunjukkan sisi pasif dari martial arts, dimana setelah ada aksi baru ada reaksi, ketika tidak ada aksi sama sekali otomatis akan ada dalam suatu keadaan diam atau pasif. dan itu sudah diterangkan dengan gamlang diatas oleh para sahabat silat.

Konteks beladiri saat ini adalah Martial Way, nah ini kan sudah beda, bukan war/perang lagi yang diutamakan tetapi menjadi "jalan, path, atau way", dg kata lain beladiri sudah disantunkan...
Ini sangat terlihat jelas sekali pemisahannyah dalam Beladiri jepang, pada Restorasi Meiji (1868) dimana ada "gendai budo" dan "koryu bujutsu", dg pemisahan pengakhiran "do" dan "jutsu", dimana setiap "do" adalah dipelajari orang sipil, dan "jutsu" tetep dipelajari militer, Dan kalau kebetulan kita semua yang bincang2 ini adalah bukan orang2 yang punyah: Lisence to Kill, semua pembicaraan ini tentunyah masuk dalam koridor "do"/"way" sajah.

Dalam perkembangannya tentunya dibuat pula tiruan dari pertarungan/perkelahian sebenarnya dalam bentuk "pertandingan", Nah dari situ sebenarnya apa yang terjadi? Dalam kenyataannya ada yang membuat penyantunan atau penghalusan Seni Beladiri itu dengan memberikan muatan Spiritual dan Flilosofi, berarti ada self kontrol dengan kesadaran diri tapi tetap bermuatan "Seni Beladiri Seutuhnya "tau teknik berbahaya tapi karena hanya pertandingan maka tidak dipakai, tapi karena system yang terus berkembang mungkin disadari atau tidak telah terjadi penyunatan terhadap muatan nilai dari Beladiri itu sendiri. Satu Seni Beladiri yang tadinya "lethal" dan mematikan, semua teknik yang berbahaya disunat dan tidak diajarkan, dan itu berkembang dari generasi ke generasi dimana pada akhirnya akan menimbulkan satu kelompok generasi yang "tidak tahu", itu sudah disinggung Kang Antara diatas.


--- Quote from: Kang Antara ---“Mas Yoyok, di Jogja. Dia tahu pasti bahwa yang dia ajarkan pada murid-muridnya adalah ilmu olahraga, bukan ilmu berkelahi yang sebenarnya.”
--- End quote ---

Dan ini menjadi terbalik dg apa yang dikutip Kang Antara:

--- Quote from: Mas Kane ---Jika Anda sungguh-sungguh ingin belajar beladiri, maka perhatikan kurikulum tempat Anda belajar. Lihat dibalik pukulan, tendangan dan pergumulan yang Anda latih. Jika tidak ada di dalamnya materi tentang kewaspadaan, penghindaran dan teknik menurunkan ketegangan, maka Anda tidak sedang belajar beladiri, Anda belajar ilmu berkelahi.

Kecuali Anda adalah seorang penegak hukum, anggota militer, atau petugas keamanan yang memang berkewajiban untuk berhadapan dengan kekerasan, maka pilihan terbaik bagi Anda adalah selalu cari jalan aman.

Berkelahi adalah saat ketika ilmu bela diri Anda gagal dan Anda beralih ke ilmu berkelahi
--- End quote ---

Kembali lagi, karena tidak ada pemisahan dan kebetulan yang lebih gencar di ekxpose adalah yang "Pertandingan Beladiri" dg liputan berbagai media, menghasilkan begitu banyak duwit bagi yang mengelola dan bla-bla-bleh.... pada akhirnya, Seni Beladiri sendiri jadi dipertanyakan, dan ada begitu banyak perbandingan2 yang dibuat oleh masyarakat awam Seni Beladiri.

Ya tetep kembali sah-sah sajah, lha wong mereka tidak tau dan tidak ngerti! Nah bagaimana dengan kita sendiri? dimanakah kita akan memposisikan diri? "mumpuni" hanya dipertandingan thok? (sambil nunjuk diri sendiri yang masih cindil dalam "level" pertandingan) atau mumpuni secara Seni Beladiri seutuhnyah? Saya rasa pendapat2 diatas mempunyai cukup bobot, dari tulisan para sahabat diatas mungkin bisa dinilai siapa dibalik yang menulis tersebut, dan itu semua bisa dijadikan perenungan buat kita arah mana yang akan dituju pada masing2 pribadi dalam Seni Beladiri terutama Pencak Silat...

Semoga bisa dipahami maksud dan tujuan saya, kalao tidak berkenan dimohon maaf yang sebesar2nyah, trimakasih...

Salam,
Hartcone
*Cindil (anak tikus) belajar menulis... :P

Catetan: Lha iyo toh, tetep sajah eijke melakukan editing lagi... :(

one:
bener saya setuju mas  [top] [top] [top]

bedanya saya mah cuma ngebahas wilayah sempit ke tataran yang saya tau sedikit doang yakni "pencak silat" dan budaya lokal, jadi kalo "kacamata kuda" saya rada kurang kebuka ke samping kiri kanan, maklumin aja ya. Kalau yang rada melebar jauh-jauh mungkin saya musti banyak belajar lagi ama mas HC. Ane salut....mas HC emang TOP MARKOTOP [top] [top] [top]

Kalo kalkulasi 1250 ton mah itu itungan orang lagi klenger :D :D, jangan dianggap...

Lalu bagaimana saya memposisikan diri? Karena saya mah belajarnya gak sampe dalem mbanget sampe ke taraf falsafah, maka saya cuma berani bilang taraf saya dasar. Dan temen-temen semua emang setuju, buktinya suka dibilang,"Dasar si Iwan....." :D

Untuk selanjutnya ya saya mah sambil tertatih tatih di belakaaaang banget pengen punya juga kemampuan dan kemauan (cita-cita) kayak mas HC dan semua, tapi karena akselerasinya udah gak pol ya bathin mah cuma bisa bilang,"coba dari dulu belajarnye bener.....ah dasar si Iwan." ya udah sampe sini doang.

salam,


one
jalma pang bagjana, dina ngora manehna pinuh pangarti
jalma nu sedih, dina kolotna kakara manggih
jalma pang sedih jeung nalangsana, dina deukeut ajalna kakara nyaho


Antara:
Yakampun, Kang Harto ini kalo bikin thread jadinya panjang banget. Ini masih satu halaman tapi scroll-nya udah kudu jauh ke bawah... salut...

Seperti juga Kang Iwan, saya ngeliat yang namanya tingkat mumpuni itu musti ngedongakkan kepala sampe leher pegel, soalnya tuh tingkatan jauuuuuh banget di atas sanah...

Tapi bicara soal mumpuni dalam ilmu yang 'satu ini'... (habis mau pake sebutan apa cobak? Ilmu berkelahi, ilmu beladiri, ilmu silat, ilmu berantem... semuanya gak cukup untuk nerangin yang kita maksud... ya udah, jadinya 'ilmu yang satu ini' :D)

Kalau kita bicara itung-itungan orang dagang, sudah tidak banyak yang bisa kita peroleh dari belajar 'ilmu ini' untuk semata-mata mengejar berkelahi ataupun bertandingnya. Lebih gede usaha dari penghasilan. Misalnya, kecuali kita niat pingin jadi preman pasar, satu banding sepuluh kemungkinan kita bakal terlibat perkelahian. Kecuali kalau bonus juara silat sama gede dengan jadi juara golf atau bulutangkis, maka juara silat cuma beroleh sekeping medali warna kuning (emas betulan kah?) dan kebanggan sesaat.

Saya mungkin salah mengukur 'ilmu ini' dari sisi materi semata, tapi yang saya maksud di sini, berhenti pada ahli berkelahi atau ahli bertanding tidak membawa hasil yang sepadan. Kita perlu cari yang lain dari 'ilmu ini'.

... dan bagi kita yang -mungkin karena kutukan genetik :D- jatuh cinta pada ilmu ini, penting untuk memahami apa sebenarnya yang kita cari. Begitu pula untuk mewariskan pemahaman itu pada anak-anak kita nanti (yang pasti maunya jadi jagoan ;D)

Secara sederhana, saya melihat 'ilmu ini' sebagai jalan untuk selalu mengasah diri... seperti sebuah cerita Zen berikut:

Suatu malam, seorang guru jujutsu mengajak muridnya yang terbaik masuk ke ruang latihan ketika orang lain sedang tidur. Di situ, sang guru menorehkan sebuah garis di atas arena tanding yang terbuat dari pasir.

"Anggap garis ini lawanmu. Buatlah garis ini menjadi lebih pendek, tapi kau tidak boleh menyentuhnya sama sekali," begitu perintah sang guru. "Ini adalah hal terakhir yang bisa aku ajarkan padamu."

Muridnya berpikir keras semalam suntuk tapi tidak menemukan cara yang dimaksud. Dia selalu berargumen bahwa untuk memendekkan garis itu, ya harus dihapus sedikit salah satu ujungnya.

Peristiwa ini berlangsung terus setiap malam. Sang murid berlatih tekun sepanjang siang dan berpikir keras memecahkan soal dari gurunya setiap malam.

Akhirnya setelah satu tahun, sang murid memahami yang dimaksud oleh gurunya. Ia meminta gurunya datang ke tempat latihan pada malam hari, persis seperti setahun sebelumnya.

Si murid kemudian menggambar satu garis yang lebih panjang di samping garis yang tahun lalu digambar oleh gurunya.

"Garis ini adalah aku, guru," katanya pada gurunya. "Dengan aku lebih panjang, maka lawanku menjadi lebih pendek, tanpa aku perlu menyentuhnya."

Si murid dinyatakan lulus.

Maksud cerita ini, kita dituntut untuk selalu menaikkan tingkatan kita lebih tinggi lagi, entah sampai ke mana. Dengan semakin tinggi tingkatan kita, semakin luas kemungkinan kita untuk berkarya.

Dalam konteks beladiri, semakin tinggi tingkatan kita dibanding lawan, semakin tidak perlu kita melukai. Contoh, anggaplah materinya adalah melepaskan tangan kita dari pegangan lawan. Seorang yang melihat sisi beladiri praktis akan memilih untuk memukul muka lawan dengan tangan yang satunya, dengan demikian tangannya yang dipegang bisa dilepaskan.
Tidak salah.

Tapi seorang yang menganggap 'ilmu satu ini' sebagai alat mengasah diri akan melatih teknik lepasannya setinggi mungkin sampai pada tingkat dia selalu bisa melepaskan diri dari pegangan lawan tidak peduli sekuat apapun pegangan itu (tanpa memukul muka lawan). Itulah sikap mental sesungguhnya yang diharapkan dari 'ilmu yang satu' ini.

... dan ini lebih relevan untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari di jaman modern yang sudah jauh dari pibu, duel dan bunuh-bunuhan ini.

 :-X... duh, jadi unjuk kebodohan nih... maap... maap... ^:)^
Kemaren tangan saya dipeganging Kang Iwan dan samasekali gak bisa saya lepasin.... :-P

beringsut balik ke pojokan....
Ngumpet........
sssttt....

Navigation

[0] Message Index

[#] Next page

[*] Previous page

Go to full version