+-

Video Silat


Silat Makassar menggunakan badik
Silat Sitaralak Pasambahan
Bandarkarima - Jalan Tengah
STIKES Ngudi Waluyo Cup Maret 2010
Tarung Bebas Genggong
Pencak Silat Madura
Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir
H. Nurali Akbar (Babe Nunung) di FIB UI
Pertandingan ke-2 Chenkfu

Shoutbox

20/03/2014 21:24 akoekoko: tes, tes, satu dua...
10/01/2014 22:16 arip: tessss..... happy new year.. ada event apa ini dunia persilatan tahun ini? :D
28/08/2013 13:28 Bang Gagak: Assalamualaikum... bang..
11/08/2013 16:12 Aku: Untuk semua sahabat...Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin
09/08/2013 05:32 Dolly Maylissa: Maaf lahir batin ya semua, selamat hari raya idul fitri
08/08/2013 23:50 anaknaga: assalamu'alaikum para master dan praktisi MA. selamat hari raya Idul Fitri 1434H, Taqabalallahuminna waminkum.

salam.
01/08/2013 15:35 guebanget: ting nong ding dong
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by mpcrb
17/04/2014 09:42

Tai Chi Meringankan Depresi pada Lansia by ifung
16/04/2014 19:27

Pencak Silat "NATAR" dari perbatasan sumut dan sumbar by Tiger_Lord
10/04/2014 17:12

13 DASAR TAIJIQUAN BAGIAN 1 by ifung
09/04/2014 22:17

Menangis Dapat Membantuan meringankan Stres, Tapi untuk Kesehatan Optimal Anda P by ifung
05/04/2014 22:06

Dialog Keajaiban Silat - Silat untuk Kehidupan by luri
04/04/2014 14:16

Merpati Putih by alfee
02/04/2014 19:26

Silat Gombel Tradisional by Putra
24/03/2014 15:02

Pencak Silat Tertua Betawi "Silat Gombel aliran Jalak putih" by Putra
24/03/2014 14:18

PABUCI (PANCERBUMI CIKALONG/PASAR BARU CIANJUR) by luri
23/03/2014 17:38

TOKOH-TOKOH SILAT BAMBU LARANGAN by AGUNGP
19/03/2014 12:39

Jeet Kune Do by ifung
16/03/2014 18:18

THE EIGHT BASIC METHODS OF CHEN STYLE TAI CHI CHUAN by ifung
16/03/2014 17:50

Peluncuran Buku KEAJAIBAN SILAT oleh Edwin Hidayat Abdullah by Satria Naga
12/02/2014 01:42

PS.Al-Barokah by ridwanelektro
14/12/2013 13:29

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Bahas tentang Keris (fenomena) yang bisa berdiri sendiri  (Read 21150 times)

Phyll

  • Guest
Salam hangat,

Maaf yah, saya cuma ingin bertanya tentang kris sebagai pusaka.  Sekitar 20 tahun yang lalu saya sempat berkunjung ke pulau Lombok, dan disana saya diajak ke satu toko barang antik.  Di toko barang antik itu, saya di beri lihat satu keris yang rupanya cukup tua umurnya.  Menurut yang punya toko itu, karena besi kris itu telah menjadi hitam, kris tersebut sudah pernah minum darah, katanya.

Namun yang paling unik tentang kris ini adalah benda ini dapat berdiri sendiri dengan ujung yang tancip tanpa ada support dari barang apapun.  Saya sendiri yang test kris ini, dan dapat beberapa kali mendirikan kris ini dengan ujung tancipnya di meja kaca yang licin.  Sepertinya yang membuat kris ini sangat mengerti proporsi dan imbangan gravitasi.

Sayangya, pada waktu itu saya sendiri masih seorang anak umur 15 tahun-an, dan orang tua saya tidak ingin saya mempunyai kris ini.

Beberapa tahun yang lalu (2003), saya mampir ke Bali dan berkunjung ke banyak tempat yang menjual kris-kris antik.  Tidak satu pun yang dapat berdiri di ujung tancipnya dengan sendiri...bisa juga, tetapi harus di support dengan sarung-nya.  Saya tanya kepada pemilik tempat-tempat itu apakah ada keris yang dapat berdiri sendiri tanpa support dengan sarungnya?  Mereka semuanya menggeleng kepala dan bilang, kalau ada itu hanya dengan kemauan berkat dewa diatas.

Apakah benar keris yang dapat berdiri sendiri di ujung tancipnya itu adalah suatu pusaka yang diberkati dengan keajaiban?

Maaf yah, kalau post ini agak off topic.  Cuma mau belajar saja.  Terima kasih.
« Last Edit: 27/07/2008 15:51 by EricB »

EricB

  • Guest
Re: Bahas tentang Keris yang bis berdiri
« Reply #1 on: 27/07/2008 15:49 »
Salam kenal Pak Phyll,

bagus ceritaannya, saya baca dengan gembira.

Supaya tidak jadi off-topic saya split posting anda dalam topic baru,
silahkan lanjut diskussie dan informasi dengan fenomena ini


PS. Pak Phyll darimana ? soalnya belum tulis dalam guestbook dan/atau kenalkan diri ;)

kohbud

  • Anggota
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 19
  • Reputation: 1
    • Email
Salam kenal Pak Phyll,

"Keris berdiri" memang merupakan fenomena yang tak habis-habisnya diperbincangkan, khususnya oleh masyarakat umum yang masih sedikit "awam" tentang keris atau wesi aji. Dalam dunia perkerisan sendiri, hal tersebut sesungguhnya tidak pernah dibahas secara serius, dan lebih jauh lagi, malah dianggap sebagai olok-olok belaka. Mengapa demikian? Karena dalam pakem perkerisan/wesi aji tradisional, keris yang bisa berdiri bukanlah patokan akan kualitas  keris yang bersangkutan, baik secara eksoteri/fisik maupun isoteri/non-fisik. Keris berdiri hanya dianggap sebagai tontonan belaka, karena pada kenyataannya, semua keris bisa "berdiri", entah baru atau lama, baik atau buruk buatannya, karena yang menentukan berdiri tidaknya keris bukanlah keris itu sendiri, tapi orang yang memegang keris tersebut. Dengan demikian, di tangan orang tersebut (yang tentu saja punya kemampuan "lebih"), benda sederhana macam pensil atau ballpoint-pun dapat berdiri tanpa disangga, tapi tentunya keris yang berdiri lebih menarik perhatian daripada pensil/ballpoint yang berdiri  :D (Dan lebih potensial untuk dijual)

Saya ada cerita sedikit tentang keris berdiri.

Kabar burung tentang orang yang mencari keris berdiri dan bersedia membayar mahal (dikatakan 1 milyar hampir 10 tahun yang lalu) telah lama beredar di dunia perkerisan. (Tapi umumnya dianggap sebagai joke saja oleh pencinta maupun dealer keris profesional). Tapi sekitar 2 tahun yang lalu, teman yang bisa membuat keris berdiri (sembarang keris) bertemu dengan 2 orang yang mengaku utusan seseorang dari Jakarta yang siap membeli keris yg bisa berdiri seharga 1 milyar, tentu saja setelah lulus uji terlebih dahulu. Dalam pertemuan tersebut, keris yang dibawa dengan mudah dibuat "berdiri". Lalu utusan tsb mengajukan tes lain, coba dibibir botol, dan berhasil. Ujian selanjutnya, si utusan sendiri yang membuat berdiri, dan berhasil juga. Akhirnya kedua orang tersebut berunding dengan berbisik-bisik, dan kemudian mengajukan tes selanjutnya, "Coba Mas, kerisnya disuruh berdiri, lalu jalan-jalan keliling ruangan",.. [lucu] Pertemuan pun usai. Mungkin kalau berhasil, ujian selanjutnya adalah "keris terbang", "keris hilang" dan entah apalagi. (Tentang keris terbang ada ceritanya sendiri  x-)) )

Karena itu, bila Pak Phyll serius untuk mendalami keris/wesi aji (apapun motivasinya), kalau boleh saya sarankan, sebaiknya  mempelajari dulu tentang keris/wesi aji tersebut melalui cara/pemahaman "yang benar" sesuai yang diwariskan oleh para leluhur. Wesi aji sebagai warisan budaya adiluhung Indonesia, ternyata juga memiliki patokan-patokan yang jelas, baku dan terukur, untuk menentukan kualitasnya. Hal ini supaya kelak tidak terjadi penyesalan, atau malah "kesesatan" apapun keyakinan Pak Phyll, karena pemahaman wesi aji yang benar jauh dari hal-hal yang bersifat sesat (atau musyrik dalam agama Islam).

Satu hal yang perlu diingat, keris ataupun wesi aji lainnya hanyalah benda buatan manusia belaka. Bila ada sesuatu yang "lebih", hal itu tentunya atas ijin yang Maha Kuasa.

Sementara ini dulu, ya Pak. Kalau memang Pak Phyll (atau rekan-rekan) berminat, nanti bisa kita sambung lagi.

Salam kenal juga untuk Kang Eric, kumaha, damang?  :)

wassalam,



PS: "Pertunjukan" tentang keris berdiri ini kalau tidak salah pernah juga ditayangkan oleh salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia. Penampilan/ekspose keris secara keliru dalam media massa sangat disayangkan oleh para pencinta keris, karena dianggap sebagai "bunuh diri budaya". Alih-alih menyebarluaskan pandangan yang benar tentang wesi aji, media massa memang kerap mengidentikkan keris dengan "seram", "dukun", "klenik", "ilmu hitam", dan lain-lain.



Mantrijeron14

  • Moderator
  • Anggota Senior
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 25
  • -Receive: 19
  • Posts: 390
  • Reputation: 50
  • terrorizing people wherever I go
Karena itu, bila Pak Phyll serius untuk mendalami keris/wesi aji (apapun motivasinya), kalau boleh saya sarankan, sebaiknya  mempelajari dulu tentang keris/wesi aji tersebut melalui cara/pemahaman "yang benar" sesuai yang diwariskan oleh para leluhur. Wesi aji sebagai warisan budaya adiluhung Indonesia, ternyata juga memiliki patokan-patokan yang jelas, baku dan terukur, untuk menentukan kualitasnya. Hal ini supaya kelak tidak terjadi penyesalan, atau malah "kesesatan" apapun keyakinan Pak Phyll, karena pemahaman wesi aji yang benar jauh dari hal-hal yang bersifat sesat (atau musyrik dalam agama Islam).

Nah iki Koh...
Bisa diudar penjelasan sampeyan...
Ane sebenernye sangat tertarik dengan bentuk dan unsur seni di senjata keris, tapi males/takut sama nyang ginian... bisa dikupas sithik disini Koh..??
Waktu dan tempat kami persilakan..

Wassalam,
"Gerak tak lebih cepat dari pikiran, hati tahu lebih dulu."

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
...Menurut yang punya toko itu, karena besi kris itu telah menjadi hitam, kris tersebut sudah pernah minum darah, katanya....
Salam Pak Phyll...
Keris hitam bukan berarti keris itu pernah minum darah, tapi memang (kemungkinan besar) warnanya hitam. Ada pamor yang "tanpa pamor" dan berwarna hitam, yaitu yang disebut "pamor keleng". Menurut beberapa orang, keris (atau pusaka apa pun) yang sudah pernah dipakai membunuh orang, maka justru nilainya tidak baik. Tetapi ada pula yang berpendapat sebaliknya. Nah, inilah salah satu contoh dalam dunia perkerisan (atau lebih luas lagi, tosan aji) yang disebut dengan "mitos tosan aji".

Zaman sekarang ini, sudah semakin banyak orang yang "melek tosan aji" tanpa harus bersinggungan dengan hal-hal yang irrasional. Majalah yang mengulas tentang tosan aji pun, sekarang ini sudah ada. Yang saya tahu adalah Majalah Pamor dan Majalah Keris. Milisnya pun ada.

Intinya kalau kita ingin mempunyai barang tosan aji, hanya satu: JANGAN MEMBELI DONGENG. Dalam artian, bila kita ingin mengoleksi barang tosan aji (keris, tombak, kujang, dll), sebaiknya kita membeli karena SENANG dan COCOK dengan selera. Jangan didasarkan atas cerita "katanya". Bila kita membeli tosan aji hanya berdasarkan cerita "katanya", maka yang ada kita hanya membeli dongeng dengan harga mahal.

Salam...

Phyll

  • Guest
EricB: Terima kasih untuk mempisahkan pertanyaan saya ke thread yang baru.  Maaf tadi saya belum memperkenalkan diri.  Salam kenal.  Saya sendiri bukan seorang pesilat.  Tetapi pada waktu bertemu dengan "kris berdiri" ini, saya sudah ada berlatih Ngo Chor Kun Ho Yang Pai dari perguruan di Singapura (parallel dan dari satu "keluarga" dengan Lo Ban Teng Ho Yang Pai, namun ada perbedaannya).  Saya ketemu discussion board ini karena lagi google sejarah Lo Ban Teng dan ketemu thread yang sangat menarik berjudul "Lo Ban Teng, Lo Berani".  Saya sendiri sekarang tinggal di Amerika dengan istri dan anak.

Kawan semuanya: Wah, saya sangat berterima kasih untuk penjelasannya yang lebih dalam daripada yang saya bisa mengerti.  Saya sendiri bukan seorang kolektor benda ajaib atau kolektor kris (lebih suka koleksi teh dan wine  ::) ).  Tapi sampai hari ini saya terus penasaran tentang kris berdiri ini.  Memang, manusia gampang tertarik dengan benda-benda yang aneh.

kohbud

  • Anggota
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 19
  • Reputation: 1
    • Email

Nah iki Koh...
Bisa diudar penjelasan sampeyan...
Ane sebenernye sangat tertarik dengan bentuk dan unsur seni di senjata keris, tapi males/takut sama nyang ginian... bisa dikupas sithik disini Koh..??
Waktu dan tempat kami persilakan..

Wassalam,

Wah, Bang Mantri...(bukan Mantri Puskesmas, lho..), seperti kura-kura dalam perahu saja, pura-pura tidak tahu..

Tapi karena waktu dan tempat sudah dipersilahkan, maka saya persilahkan kepada waktu dan tempat untuk menjawab..he he he..becanda lhoo...

Mudahnya sih begini, keris dan wesi aji lainnya seperti yang sudah saya kemukakan, adalah benda buatan manusia, yang dengan upaya pembuatnya, kadang-kadang memang memiliki sesuatu yang 'lebih'. Namun 'kelebihan' tersebut harus kita sadari, datangnya bukan dari si pembuat, tapi hanya atas ijin yang Maha Kuasa saja. Karena itu, walau layak kita hormati (ajeni, kata orang Jawa), tapi tidak perlu dipuja-puja atau bahkan disembah. Benda tetaplah benda belaka.

Bila kita ingin mengupas lebih jauh apa makna dibalik wesi aji sendiri (tidak terbatas keris), ada baiknya kita melihat fakta-fakta yang ada, supaya diskusi kita dapat lebih 'ilmiah' (karena sekarang di 'dunia perkerisan' lagi nge-trend istilah 'Kerisologi'..kalau sudah pakai -logi -logi-an, ya yang sedikit (sok) ilmiah lah, biar gak malu-maluin..he he..)

Fakta mengenai makna 'isoteric' wesi aji sejauh ini yang paling jelas menurut saya terdapat pada relief di Candi Sukuh, yang didirikan pada akhir jaman Majapahit, abad 15. Penafsiran relief ini sudah dikupas oleh Stanley O'Connor dalam artikel ilmiah berjudul 'Metallurgy and Immortality at Candi Sukuh, Central Java'. Secara singkat, relief tersebut menceritakan kesamaan proses penempaan besi dengan 'proses' yang dialami jiwa manusia setelah mati untuk mencapai kesempurnaan : Mati, membusuk, jiwanya dibersihkan dengan 'dibakar', 'ditempa', untuk kemudian terlahir kembali di Alam Kelanggengan. Dalam upacara keagamaan Hindu, proses penempaan besi (aji) ini setara dengan Upacara Sraddha, yaitu rangkaian upacara untuk mengantarkan jiwa orang yang meninggal ke alam kelanggengan (dalam Islam a la Jawa, mungkin diadopsi dalam bentuk tahlilan 3 hari, 7 hari, dst hingga 1000 hari). Karena Upacara Sraddha dipimpin oleh Pendeta, maka Pande Besi penempa wesi aji juga setara dengan Pendeta. Hingga saat ini di Bali, Pande Besi menempati posisi yang khusus. Mereka dapat (harus?) menyiapkan air sucinya sendiri dan melakukan upacara keagamaannya sendiri, tanpa bantuan pendeta.

Bila proses menempa sama dengan Upacara Pembersihan Jiwa, lalu produk/hasil penempaannya setara dengan apa? Tentunya setara dengan "Jiwa yang Sempurna", yang telah bersih dan 'selamat' di Alam sana. Karena kaitannya yang erat dengan tema 'pembersihan/penyelamatan', maka di masa lalu dikenal keris Ki Sudamala, yang digunakan dalam ritual pembersihan, seperti bersih desa. "Sudamala" sendiri juga merupakan nama lakon dalam pewayangan, yang menceritakan tentang diruwatnya Bethari Durga (yang sebenarnya adalah Dewi Uma yang kena kutuk suaminya, Bathara Guru) oleh Sadewa. Dengan demikian, dapat kita lihat makna awal wesi aji yang setara dengan kesempurnaan dan penyelamatan/pembersihan jiwa.

Dengan masuknya Islam, tentu saja ritual-ritual yang berkaitan dengan penempaan wesi aji juga ikut diislamkan, namun tema kesempurnaan, keselamatan dan pembersihan jiwa tetap dipertahankan karena maknanya yang universal, dan bahkan digunakan juga oleh para wali. Dalam Babad Giri disebutkan tentang Sunan Giri yang memesan sebilah keris pada Empu Supa dengan bahan sebuah 'pena/kalam'. Ketika akan ditempa oleh Empu Supa, pena tersebut tiba-tiba saja berputar dengan sendirinya, dan ketika berhenti berputar telah berubah bentuk menjadi sebilah keris. Empu Supa dengan terheran-heran segera menghadap ke Giri untuk menyerahkan keris tersebut dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar cerita tersebut, Sunan Giri kemudian menamai keris itu 'Kyai Kalam Munyeng' yang menjadi lambang kebesaran Giri. Selain itu, kita juga mengenal keris Sunan Kalijaga yang bernama Kyai Crubuk. Keris pusaka Kraton Jogja yang bernama KKA Kopek juga dikatakan berasal dari Sunan Kalijaga.  Seiring dengan perjalanan waktu, makna-makna perlambang dan fungsi wesi aji juga semakin berkembang.

Dalam prakteknya sehari-hari, kita akan menemukan berbagai macam bentuk dan kualitas keris, tombak dan pedang peninggalan para leluhur. Apakah semuanya itu termasuk wesi aji/pusaka? Dari apa yang sudah saya terima dari para sesepuh (yang tampaknya tidak pernah mempelajari relief Candi Sukuh), sayang sekali jawabnya adalah TIDAK. Senjata, mungkin iya. Pusaka, belum tentu. (mohon dibedakan dengan 'pusaka warisan'). Sesuai dengan tema 'pembersihan', maka wesi aji yang memenuhi syarat adalah besi yang telah 'diwasuh' hingga bersih. Diwasuh dalam dunia wesi aji berarti ditempa dan dilipat berkali-kali hingga besi menjadi bersih dari kotoran-kotoran, yang ditandai dengan berkurangnya percikan-percikan bila ditempa. Hal ini dilakukan SEBELUM besi dicampur dengan pamor. Jadi untuk mudahnya, tanda-tanda wesi aji yang baik adalah dibuat dari besi yang sudah 'bersih', yang dalam bahasa perkerisan disebut 'telas gebagan' (telah habis ditempa). Bila belum mencapai hal tersebut, maka besi tersebut belum layak disebut besi aji. (yaa..kan belum bersih jiwanya, ya belom 'aji' lahh.. :D )

Sesuai dengan tema keselamatan, kebersihan dan kesempurnaan jiwa, maka wesi aji yang baik seharusnya tidak pernah dipakai membunuh orang (apalagi sampai berkali-kali), kecuali bila sangat terpaksa, demi keselamatan umat manusia..he he..

Sementara ini dulu, ya Bang Mantri dan rekan-rekan semua. Buat 'pengantar' dulu. Mudah-mudahan dapat sedikit menjelaskan. Kalau ada yang masih mengganjal/menjadi pertanyaan, silahkan disampaikan, Insya Allah saya jawab sebisanya, asal sabar menanti (tidak perlu ditambahi 'jandamu' lhoo  :w )

Akhirnya perkenankanlah saya untuk menyampaikan PERINGATAN KERAS : MEMPELAJARI WESI AJI DAPAT MENYEBABKAN KETAGIHAN, SULIT TIDUR (terbayang_bayang dan takut keris yang diincar keburu laku), DEMAM (tawar-tawaran harga atau melihat keris bagus), KANKER (kantong kering, belanja keris/asesoris keris melulu), KKDRT (kekerasan dalam rumah tangga, disemprot istri maksudnya karena setoran berkurang), KEBLONDROK (ini bahasa Jerman/Jejer Kauman untuk tertipu) DLL DSB. Please don't tell me I didn't warn you  :w

Bagi yang pandai-pandai meniti buih, tentu saja dapat memberikan keuntungan lahir-batin, dan sesuai tema wesi aji, dapat membantu anda mencapai kesempurnaan jiwa. Ini serius lho. Yang terpenting, sesuai dengan pesan para sesepuh, belajar keris pertama-tama adalah belajar tentang barang. Karena itu, metode belajar yang paling efektif adalah sering-seringlah melihat (kalau bisa memegang) keris/wesi aji, sebanyak-banyaknya. Syukur-syukur bisa melihat yang kualitas baik.


Salam,

 

cubluk

  • Anggota
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 11
  • Reputation: 0
    • Email
jadi ingat dulu waktu masih SMA, di rumah kedatangan tamu (tukang pijat) dari dearah pasundan.. kalo gak salah sukabumi dsk. Tiba2 aja dia bilang ke ortu (kebetulan dia diundang alm bokap buat mijat) "maaf, kalo boleh diperkenankan bapak saya bisa lihat keris yang ada di sini..."

weleh2... saat itu kami semua bengong, koq bisa tau gitu. Akhirnya diambil lah keris warisan tsb, dan saat itulah kami semua baru melihat seumur2 keris itu bisa berdiri dgn ujung runcing di atas meja kaca..

pernah gue coba.. gak pernah bisa  ::)

Phyll

  • Guest
[quote removed

Memang ada orang-orang yang sangat sensitif (dapat dari lahir atau dari latihan) dengan benda-benda yang memberikan energy / vibration.

Maaf, sedikit off-topic.  Saya pun pernah bertemu dengan seorang spiritual yang berkunjung ke kantor suhu saya, dan ia tiba2 berkata: "Saya dapat merasakan sebuah kristal di dalam di kantor ini?"  Suhu saya memang ada menyimpan sebuah kristal di dalam laci meja, walaupun tidak ada sebuah pun yang dapat di lihat dengan mata tamu tersebut.   ^:)^

Untuk memberdirikan keris di ujung yang runcip di atas meja kaca, saya ingat saya juga berkali-kali gagal.  Namun dengan mengosongkan pikiran seperti pada saat bermeditasi, keris tersebut dapat saya bantu untuk berdiri sendiri. ~X(
« Last Edit: 05/08/2008 10:49 by EricB »

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
salam jabat erat,

Berbicara mengenai keris, saya sebenarnya bukan orang pecinta senjata tapi jelas saya penyayang binatang. tapi saya ada pengalaman, kala itu sore hari piaraan saya seekor herder yang biasanya galak kepada orang yang tidak dikenal dibuat tidak berkutik oleh tamu saya dari daerah cirebon yang membawa sebuah keris tua berkarat tanpa gagang. Beliau menemui saya karena ada urusan lain. waktu itu anjing saya melonglong dan menggongong kepada tamu saya. Rantai Tali pengikat di leher hampir putus seakan akan anjing saya ingin menggigit tamu saya.  Lalu saya bicara kepada anjing saya, "Dollah jangan nakal !". Lalu tamu saya berbicara, " Biar aja pak ! Coba saya jinakkan pak..". Lalu beliau mengeluarkan kerisnya dari kain putih dari belakang bajunya. Lalu ditunjukkan ke muka anjing saya. entah bagaimana anjing saya langsung menunduk seperti takut melihat barang keris tsb (saksi yang suka bantu di rumah saya Pak Tatang waktu itu). Untuk diketahui anjing saya sudah terlatih untuk tidak takut akan sesuatu waktu pelatihan satwa di Kelapa Dua.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Jali Jengki

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 828
  • Reputation: 43
  • Love Pencak Silat, Proud to be Indonesian
"Kata pak Tatang, orang yang dari Cerbon itu bekas istrukturnya Dollah di Kelapa Dua, sewaktu datang gak dikenali Dollah, baru setelah dibuka kain yang isinya bekas tanda pengenal (dogtag) Dollah berbentuk tulang (emang sekilas mirip keris) barulah si Dollah mengerti....pantesan aja diem... takut sama komandan gak dikasih tulang.... [lucu]

Tabe'...Jali
« Last Edit: 05/08/2008 12:33 by Jali Jengki »
Kullu Nafsin Zaaiqatul MAUT

Danyang_Mahakam

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 27
  • Reputation: 2
  • Disisi Aliran Mahakam, Termenung Mengamati Jaman
    • Email

Dalam dunia perkerisan sendiri, hal tersebut sesungguhnya tidak pernah dibahas secara serius, dan lebih jauh lagi, malah dianggap sebagai olok-olok belaka. Mengapa demikian? Karena dalam pakem perkerisan/wesi aji tradisional, keris yang bisa berdiri bukanlah patokan akan kualitas  keris yang bersangkutan, baik secara eksoteri/fisik maupun isoteri/non-fisik. Keris berdiri hanya dianggap sebagai tontonan belaka, karena pada kenyataannya, semua keris bisa "berdiri", entah baru atau lama, baik atau buruk buatannya, karena yang menentukan berdiri tidaknya keris bukanlah keris itu sendiri, tapi orang yang memegang keris tersebut.

*****
Sependapat dengan Koh Bud:Venomena keris berdiri memang bukan hal yang wah apalagi menjadi tolok ukur mutu dari keris tersebut, selain memang dikarenakan karena orang yang memegang keris itu yang memeili kemampuan  akan berakibat bisa membuat berdiri keris dan mungkin benda lain yang dia inginkan.

Namun, dalam catatan ensiklopedia budaya keris nusantara sempat tercatat memang ada salah satu buatan dari para empu yang sempat membuat keris bisa berdiri bukan karena khodam atau doanya, tapai melainkan dalam proses penciptaannya sang empu dapat menghasilkan berat masa jenis antara tancep dan badan hingga ekor menjadi seimbang kalu manusia disebutberatnya ideal dan proporsional begitu, sehingga siapapun orangnya yang memegang dan mencoba mendirikan keris itu maka akan kesampaian niatnya dan keris itu akan jadi berdiri, seperti yang dia mau.

Jika ingin coba gampang...cari saja keris yang biasa buat sajen (biasanya keris buat sajen, keris kembar, atau biasa di sebutbuntel mayid kerisnya kecil lebih di sebut sebagai keris jimat karena pamornya tidak rumit, beli di mana ajah dan coba anda praktekan sendiri. Satu lagi...silahkan berkunjung ke museum keris di TMII ada beberapa keris yang bisa berdiri keris berjenis Pulanggeni, besinya hitam pamornya meteor bukan emas dia juga bisa berdiri, tapi jika d museum ingin pinjam pasti tidak boleh apalagi hanya ingin mencoba melihat dia berdiri he...)

bagus juga diskusi keris...

Ayuk di lanjutlagi...
Salam kenal
Danyang Mahakam

tholib

  • Anggota
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 0
  • Posts: 8
  • Reputation: 0
minggu kemaren waktu digramedia saya membaca buku tentang Tosan Aji, disana dibahas mengapa ada keris yang bisa berdiri, katanya sih keris yang bisa berdiri itu bukan karena ada nilai mistisnya tapi karena keseimbangan kerisnya. Dibuku itu juga dibahas tentang cara penipuan yang dilakukan saat penjualan keris(keris mengeluarkan asap, keris bercahaya dalam gelap dll :D :D)

sarung kampret

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
hehehhehe...saya orang yang tidak mengerti keris atau pusaka lainnya dan sedikit skeptis. Tapi saya percaya bahwa ada mahluk lain selain manusia dari golongan Jin. Nah, tidak lah aneh buat saya apabila benda yang dikultuskan bisa mendatangkan jin. Namun saya baru mendengar keris bisa berdiri ,keris mengeluarkan asap, keris bercahaya dalam gelap dll, mungkin ini penipuan. Tapi kenapa saya merasa ada perbedaan pada mahluk peliharaan saya (anjing) dengan biasanya, saya sangat dekat dengan anjing saya, jadi kami "saling mengerti" laksana lagu kahitna... hehehhehehhe

Yang saya ingin tanyakan apa makna simbol kain putih, merah,atau hitam pada sebuah keris?. Dan apakah makna eluk 9,8,7 atau sampai satu ada simbol atau sejarahnya? gagang keris itu kok ukirannya keliatannya hampir sama ya? pamor apaan sih?
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email

Yang saya ingin tanyakan apa makna simbol kain putih, merah,atau hitam pada sebuah keris?. Dan apakah makna eluk 9,8,7 atau sampai satu ada simbol atau sejarahnya? gagang keris itu kok ukirannya keliatannya hampir sama ya? pamor apaan sih?


Sementara menanti jawaban para alim soal keris seperti Kohbud, saya coba menjawab sebisa saya.

1. Tanya soal makna simbol warna putih, merah, hitam. Simbol, selalu multi makna, kalau maknanya tegas a,b,c, begitu, maka namanya bukan simbol melainkan tanda. Warna merah, putih, hitam, merupakan warna paling purba yang dimiliki manusia, karena bahannya sederhana (kapur, tulang, tanah, darah, arang). Warna2 ini penting di budaya-budaya lama, misal di budaya Aborijin Australia (merah diganti oker) ataupun di budaya Hindu (diasosiasikan dengan Trimurti). Bahkan di Batak purba, saya pernah baca, ada upacara gajah lompat mirip upacara banteng ngamuk di Spanyol, dan gajah itupun dilumuri warna merah, hitam, putim. Warna-warna ini diasosiasikan dengan hidup, mati, kesuburan, dan sebagainya.

2. Tanya soal luk 7,8,9. Salah satu makna luk adalah usaha manusia "manunggaling kawula Gusti" yang meski berkelok ke kiri dan ke kanan, selalu menuju satu titik panetes. Luk 7, atau pitu, diasosiasikan dengan gagasan tentang pitulungan (pertolongan). Luk 9, diasosiasikan dengan bilangan tertinggi. Luk 8 tidak ada, kalau ada keris yang berluk 8 artinya itu keris rusak. Luk selalu ganjil jumlahnya, dan mulai dengan 3 (bukan 1)- misal keris dhapur "urubing dilah" dengan satu lengkung di ujungnya adalah luk 3.

3.Kenapa gagang keris kelihatannya sama? Gagang keris kelihatannya sama sebab Anda kurang memperhatikan. Gagang Palembang, Melayu, Bugis, Lombok, Bali, Madura, Sumbawa, Filipina, Jawa Timur, Madiun, Demak, Cirebon, Yogya, Banyumas, Solo, semuanya berbeda-beda. Di antara gagang satu daerah, misalnya Yogyakarta, atau Solo, ada berbagai jenis dan wanda juga.

4. Pamor adalah bahan logam (sering besi dengan kandungan nikel tinggi, atau nikel pabrikan, kadang dari meteor) yang di gabungkan dengan besi lain secara kue lapis. "Kue lapis" besi dan nikel ini lalu ditempa dan ditekuk-tekuk, lalu dipakai untuk membungkus suatu inti bilah dari baja seakan tempaan "kue lapis" itu dianggep roti pembuat "sandwich" berisi lempeng baja.

Setelah dipotong dan dikikir dan dipahat menjadi bentuk keris yang sempurna, bilah keris diwarangi. Dalam proses itu besi akan menjadi hitam, sedangkan besi bernikel atau nikel, akan tetap putih. Pola yang terbentuk dari kontras hitam dan putih itu juga disebut pamor.

Salam hangat,
Bram
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

 

Powered by EzPortal