Forum Sahabat Silat
Bahasa Indonesia => Teknik, Jurus dan Senjata => Topic started by: Java on 18/12/2007 14:52
-
Salam silat
Ada sebagian praktisi bela diri berpendapat bahwa kecepatan adalah faktor utama penentu kemenangan namun sementara kalangan mengatakan bahwa kemenangan dalam tarung tergantung pada kekuatan.
Mana pendapat yang lebih realistis? Mari kita berbagi pengalaman.
-
Kecepatan
dengan kecepatan maka pukulan/tendangan bisa masuk
coba tanyakan ke atlit sama juri. mungkin jawabanya sama
-
Bagaimana kalau yg dipukul/ ditendang cukup miringkan tubuh sekaligus memotong serangan? Apa gak remek kalau yg diserang memiliki power gede (bukan badan gede lho)?
-
Kalau konteksnya pertandingan ya sudah jelas, kecepatan yg menang. Cuman kalau di jalanan, menurut saya kecepatan juga, karena bisa lari cepat nyari selamat he he he :w[run]
-
Walau dalam konteks pertandingan belum tentu juga kecepatan yg akan menang.
Coba kita keluar dari konsep "biasanya".
Orang diserang khan gak mungkin mbegegek kayak patung. Apalagi dua pihak sama-sama waspada, siap saling melumat.
-
Kalau menurut saya ya tergantung, kecepatannya seberapa, kekuatannya seberapa. Lalu siapa yang lebih punya ketepatan? Percumah cepat dan kuat kalau meleset terus ya lama-lama putus nafas sendiri to?
Salam hangat,
Ranggalana
-
@Para Sahabat
anggap saja
Ahli kecepatan : Punya kecepatan = 10
Punya kekuatan = 5
Ahli kekuatan : Punya kecepatan = 5
Punya kekuatan = 10
Gitu aja ya
Kalau pertandingan PS ,karate , Anggar , menang Ahli kecepatan
Kalau bertanding Gulat dan Sumo , Aikido Menang ahli kekuatan
-
Kalau pertandingan PS ,karate , Anggar , menang Ahli kecepatan
Kalau bertanding Gulat dan Sumo , Aikido Menang ahli kekuatan
Belum tentu mas Agung,
saya sering melihat pertandingan Sumo di televisi, pada kenyataannya banyak juara2 Sumo yg tdk begitu besar badannya/kekuatannya, tapi mereka bisa menang melawan pesumo yg kuat, dgn taktik yg jitu dan teknik yg sempurna.
Jadi kalau konteksnya pertandingan taktik dan teknik memegang peranan yg sangat kuat. Kecepatan dan kekuatan tdk akan ada artinya tanpa teknik & taktik yg matang.
Salam
Chandrasa
-
taktik = 10
teknik = 10
nilainya sama-sama 10.
Pendapat ku kalau yang pertandingan nempel/bersentuhan kemungkinan besar yg menang ahli kekuatan. Mungkin ini selain Taichi karena kayaknya sangat komplek.
Tapi kalau ambil jarak tidak nempel mungkin yg menang ahli kecepatan. Tapi mungkin untuk tinju jadi draw karena ada ring yg terbatas.dan ada sistem TKO/KO Masalahnya tinju saya belum pernah junpai petinju yg sedikit terpukul .
Ngomong2 untuk Sumo teknik pengungkit seperti membuka botol, atau angkat batu dgn pengungkit, Tekniknya bagaimana sih, untuk menjatuhkan?
maaf dari pengamatan sebagai penonton
-
Kalau bertanding Gulat dan Sumo , Aikido Menang ahli kekuatan
TIDAK SETUJU!!!
Memang dalam grappling (bahkan dalam semua ilmu beladiri), bila tidak punya skill, maka tenaga fisik menentukan, tapi dengan efisiensi, yang kecil bisa mengalahkan yang besar.
Misal, sumo, ternyata yang menjadi juara belum tentu yang paling kuat atau yang paling besar. Misal, Wakanohana, dengan teknik andalan yobi modoshi, terkenal sebagai yokozuna berbadan kecil.
Yang lebih penting adalah menggunakan kekuatan dengan efisien. Kekuatan 10 efisien 10%, hasilnya cuma 1. Kekuatan 4 efisiensi 90%, hasilnya 3,6.
Kalo diadu, 3,6 menang lawan 1, padahal nilai mentahnya cuma 4 lawan 10.
-
quote removed by moderator
@ DasaMan: Anda boleh ndak setuju, tapi yang anda bahas kan kekuatan to, yg menang .
Bukan kecepatan .
Matur suwun
-
kalo saya lain lagi..
kecerdikan faktor utamanya.. kecerdikan bisa mengalahkan kekuatan dan kecepatan.. tapi akan lebih dahsyat kalo tiga unsur ini dimiliki oleh seorang pesilat [top]
-
Cepat, tepat, keras, tangkas, teratur.... dan berbudi luhur
bukankah ini yang harus dimiliki oleh pesilat sejati??
NB: teratur di sini maksudnya reaksi/respon harus sesuai dengan pemicu/aksi lawan.
-
@ Mas srdananjaya
Tapi biasanya ada yg paling menonjol diantara ketiganya.
Contohnya seniorku di kampung, dilihat badannya dan keseharianya(kerjanya pakai tenaga yg kuat) sangat luar biasa kuat, aku yakin kalau kepukul dia bila tepat dan seluruh tenaga kena bawah pundak depan, tulang bisa patah.
Saya setuju sekali kecerdikan yg menang ini karena sebelum tidur kita di dogengen tentang kancil.
Dari kancil nyolong timun, sd. kancil menang lawan buaya :w :w.
Ngomong2 kekuatan , ternyata orang yang paling kuat di indonesia Nyoya mener.
..........................................................................................
dia berdiri sudah kuat seabad [lucu]
.............................................
Kalau di pewayangan menurutku yg paling sakti yaitu Warkudara,
Dia kuat dll. dan yg lebih jauh lagi dia bisa menemukan jati dirinya.
-
@ Mas srdananjaya
Saya setuju sekali kecerdikan yg menang ini karena sebelum tidur kita di dogengen tentang kancil.
Dari kancil nyolong timun, sd. kancil menang lawan buaya :w :w.
[lucu]
tuh kan.. kancil yg kecil.. baru pake kecerdikan aja bs menang lawan buaya yg kuat ...
setuju dgn mas kuntul baris.. harusnya jadi satu kesatuan, cepat tepat keras tangkas teratur dan berbudi luhur.. ini versi komplitnya.. [toop]
kalau mau diurut ya mungkin gitu urutannya mas agung..
-
Jadi yg paling penting buat pesilat adalah
berbudi luhur [top]. Setuju.
Salam
Chandrasa
-
Anda boleh ndak setuju, tapi yang anda bahas kan kekuatan to, yg menang .
Bukan kecepatan .
Speed = economy of motion + relaxation.
Speed IMO tergantung persepsi, sebab bila anda tidak bisa lihat gerakan saya (misal, saya ada di luar sudut pandang), gerakan lamban pun akan berasa seperti cepat.
Seperti misalnya kisah Morihei Ueshiba yang punya kecepatan bak dewa karena bisa menghindari tembakan pistol, padahal terjadi 'perusakan' persepsi di sana :D
-
Speed = economy of motion + relaxation.
Speed bukannya = Force/Mass karena Force = Mass x Accelleration ?
Ingetnya difisika itu doang ;D
Seperti misalnya kisah Morihei Ueshiba yang punya kecepatan bak dewa karena bisa menghindari tembakan pistol, padahal terjadi 'perusakan' persepsi di sana :D
Kalau begini maksudnya Morehei Ueshiba tidak lebih cepat dari pelor tetapi lebih cepat dari gerakan sipenembak ??
-
Lucky Luke, lebih cepat daripada bayangannya sendiri.
Artinya ngalahin kecepatan cahaya.
Tanpa berubah bentuk.
Aje gile dah!
Salam hangat,
Ranggalana
-
CEPAT, TEPAT, KUAT menurut saya adalah faktor yang harus ada dalam setiap serangan maupun hindaran. Selain tentunya sikap budi luhur dan andep ashor sangat penting.
Nah pertanyaannya adalah mana yang harus dilatih dulu untuk pemula? cepat dulu, tepat dulu atau kuat dulu? Kalau menurut saya adalah tepat dulu, karena sebagai pemula dia harus dengan tepat mengetahui karakteristik jurus dan hal-hal lain secara mendasar. Setelah itu baru ditambah kekuatan dan akhirnya dimatangkan dengan kecepatan.
Salam
thifanpokhan.blogspot.com
-
@mas herman...
cepat-tepat-"keras"-teratur
keras bukan berarti kuat.. kl kuat biasanya istilah yg digunakan untuk mengangkat benda..mendorong..dsb
keras=gaya --> massa x kecepatan
sebetulnya mana yg dilatih lebih dulu tergantung kepada jenis beladirinya..kalo yg mengandalkan kecepatan ya kecepatan dulu..otot dulu yg dilatih.. caranya salahsatunya dengan latihan kekuatan .. kl otot sudah siap dilanjutkan dengan latihan ketepatan.. kerasnya hasil dari latihan ..setelah bisa cepat tepat dan keras dilanjutkan dengan latihan keteraturan .. merangkai serangan dengan teratur sesuai posisi dan jarak lawan
kalo beladirinya gulat yang lebih dulu dilatih ya kekuatan
tapi ini juga tergantung dari tujuan dan tahapan yg ingin dicapai dalam berlatih..tidak ada metode baku
wah dari tifan ya.. bolehlah kita sharing2..menarik nih kynya
-
@mas dananjaya,
Mungkin sedikit koreksi: gaya = massa x percepatan
Persamaan2 berikut mungkin bisa bermanfaat utk bisa memahami gerak dan gaya (prinsip2 dinamika):
percepatan = perubahan kecepatan per satuan waktu
energi ~ massa x kecepatan kwadrat
impulse = gaya per satuan waktu
power atau daya = energi per satuan waktu
sekedar contoh bagaimana sesuatu yang masanya kecil tapi karena perubahan vektor kecepatannya sangat besar dapat menimbulkan gaya/impulse yang besar serta melepaskan energi yang besar adalah ujung cemeti/cambuk. Dengan analogi ini, seseorang yang berbadan kecil (bermassa kecil) bisa menghasilkan power yang besar asalkan dia pintar bermain-main dengan vektor kecepatan anggota tubuhnya.
-
kalo beladirinya gulat yang lebih dulu dilatih ya kekuatan
Tergantung juga gulat yang mana :D
Misal permainan keluarga gulat jujutsu, kekuatan itu sebenarnya nomor sekian, karena sifat jujutsu yang aiki, alias harmonisasi antara centering kita dengan centering lawan, kata lainnya tukang curi tenaga, permainan defensif :D
Kalau gulat yang menyerang, memang harus main kekuatan dulu. Yang jelas2 adalah sumo :D Makanya pesumo dipilih yg badan2nya gede, karena secara otomatis base genetic strength-nya sudah gede :D
-
Lucky Luke, lebih cepat daripada bayangannya sendiri.
Artinya ngalahin kecepatan cahaya.
Tanpa berubah bentuk.
Aje gile dah!
Salam hangat,
Ranggalana
ah mas ini ada2 aja.. saya jadi ingat masa kecil saya nih hehehe
-
@mas dananjaya,
Mungkin sedikit koreksi: gaya = massa x percepatan
Persamaan2 berikut mungkin bisa bermanfaat utk bisa memahami gerak dan gaya (prinsip2 dinamika):
iya.. mau dibenerin tapi telat .. keduluan sama papasan lakunya mas kuntulbaris ;D
percepatan = perubahan kecepatan per satuan waktu
energi ~ massa x kecepatan kwadrat
impulse = gaya per satuan waktu
power atau daya = energi per satuan waktu
sekedar contoh bagaimana sesuatu yang masanya kecil tapi karena perubahan vektor kecepatannya sangat besar dapat menimbulkan gaya/impulse yang besar serta melepaskan energi yang besar adalah ujung cemeti/cambuk. Dengan analogi ini, seseorang yang berbadan kecil (bermassa kecil) bisa menghasilkan power yang besar asalkan dia pintar bermain-main dengan vektor kecepatan anggota tubuhnya.
impulse...ini bogey ya..?
-
he he he... ora mudeng, blasss :D
temen temen yang disini banyak gaya ya :P
maksudnya teman teman lebih banyak membahas tentang gaya (kayak maktu belajar fisika - dinamika dan momentum aja x-))), padahal pada waktu kita berantem engak kepikiran blass mau pake gaya apa dan bahkan cendrung lebih pada insting gerak saja yang akan keluar yang biasa kita latih ketika merespon sebuah serangan.
kalau saya sih simple aja kesempatan, siapa yang bisa memanfaatkan kesempatan baik itu dengan kecepatan, ketepatan, tenaga atau apapun itu yang akan berhasil untuk mengalahkan lawan
just as simple like that.
IMHO
-
temen temen yang disini banyak gaya ya :P
Salam ...
Gaya itu penting lho, walaupun pas berantemnya asal gebok yg penting kan gaya sikap pasangnya dulu dong menang ato babak belur urusan kedua ;D Becanda Mas..
maksudnya teman teman lebih banyak membahas tentang gaya (kayak maktu belajar fisika - dinamika dan momentum aja x-))), padahal pada waktu kita berantem engak kepikiran blass mau pake gaya apa dan bahkan cendrung lebih pada insting gerak saja yang akan keluar yang biasa kita latih ketika merespon sebuah serangan.
Apa mungkin bisa dilihat dari sisi kalau Gaya atau Tekhnik dilatih terus menerus akan menjadi instinct ? Jadinya gerakan mau dibilang gaya ato tekhnik menjadi alami kalau udah sering dilatih dan diulang-2x sampe menjadi bagian dari instinct alami kita ? Jadi gerakan yg keluar walaupun berupa gaya/tekhnik sudah menjadi gerakan alami yg keluar sesuai dgn jawaban thd. serangan ?
Salam,
-
kalau saya sih simple aja kesempatan, siapa yang bisa memanfaatkan kesempatan baik itu dengan kecepatan, ketepatan, tenaga atau apapun itu yang akan berhasil untuk mengalahkan lawan
Ya kalo mainnya gitu sih oke2 aja, tapi kalo cuma asal ada kesempatan, maka bahasan teknik, taktik, gak berlaku, lalu buat apa selama ini ada perkembangan ilmu beladiri? Bahkan, buat apa ada ilmu beladiri dengan segala teorinya segala? Gak perlu lah teori2 dan jurus dst, cukup latihan curi kesempatan, beres :D
-
temen temen yang disini banyak gaya ya Tongue
gimana mau populer di kalangan generasi muda kalo gak gaya ? ;D
ngegaya dulu ah.. 8) [satrianusantara]
-
Bahkan, buat apa ada ilmu beladiri dengan segala teorinya segala? Gak perlu lah teori2 dan jurus dst, cukup latihan curi kesempatan, beres :D
Dalam konteks perkelahian baik tanding atau real live, bela diri tetap penting untuk menciptakan kesempatan. Maksudnya kesempatan untuk bisa lolos hidup-hidup tanpa luka bahkan untuk balas menyerang.
Kalau gak bisa bela diri, saat diri terancam yang ada ya kesempatan digebukin. ;D
-
Salam ...
Gaya itu penting lho, walaupun pas berantemnya asal gebok yg penting kan gaya sikap pasangnya dulu dong menang ato babak belur urusan kedua ;D Becanda Mas..
he he he bener juga, kayak bruce lee, Gayanya itu loh yang engak nahan watawww..... ;D
Jadi gerakan yg keluar walaupun berupa gaya/tekhnik sudah menjadi gerakan alami yg keluar sesuai dgn jawaban thd. serangan ?
Salam,
nah kalau udah jadi insting atau feeling lain lagi cerita boss :P
-
Jadinya gerakan mau dibilang gaya ato tekhnik menjadi alami kalau udah sering dilatih dan diulang-2x sampe menjadi bagian dari instinct alami kita ?
Insting mungkin lebih merupakan bawaan lahir deh. Sedang gerak reflek memang bisa di simultan dg latihan teratur & kontinyu. Kalau ada orang yg tiap lihat orang lain bawaannya ngukur melulu, yg begitu bisa jadi masuk kategori insting. ::)
-
klo speed dan power dipadukan maka jadinya begini nih: http://www.youtube.com/watch?v=oe7tZuJ0GIw
-
Salam semua,
ikut urun rembug..kemungkinan bahasan yang lebih tepat adalah teknik vs kekuatan....dimana kekuatan adalah kecepatan momen suatu usaha yang di rasakan pada objek...
maaf kalo salah..
-
[quote removed]
Kekuatan dan kecepatan adalah produk dari tehnik.
Beberapa tehnik pernafasan & olah tubuh mampu menambah kekuatan.
Adapula tehnik olah tubuh & pernafasan terbukti meningkatkan kecepatan.
Namun hasil akhirnya ada yang menitik beratkan pada kekuatan dan ada pula yang mengandalkan kecepatan.
salam,
-
[quote removed]
Salam Mas..
Kalau orangnya pada dasarnya gede dan kuat gimana Mas?
Kemarin ini di history channel ada acara Last Man Standing yg nampilin Pencak Silat.
Selama 1 minggu para pesertanya yg terdiri dari atlit bule beberapa cabang diajarin Silat di Jawa Barat . Ada atlit kickboxing, atlit rugby, atlit sepeda BMX, atlit fitness, dan atlit Strong Man
Pas diakhir acara mereka diadu sparring dgn pesilat-2x. Salah satu diantara pesertanya orangnya gede/berotot (atlit Strong Man..yg angkat-2x segala macem) dia berhasil menang cuman karena dia brutus aja maju tak gentar. Pesilat yg lawan dia keteter terus dan berhasil beberapa kali dijatuhin oleh orang yg gede ini.
Salam,
Faiz
-
@ Kang Nagapasa,
Setuju 100 % kang, memang prinsip dasar silat dan mungkin semua beladiri adalah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kesempatan untuk bisa selamat atau mungkin menyerang balik saat diserang. Demikianlah adanya… memang sangat simple. Saking simplenya kita ndak usah banyak berteorilah… latihan saja… lakukan saja yang dikatakan guru/pelatih… ndak usah digali lebih jauh kenapa begini kenapa begitu. Ndak perlu diskusi ttg kecepatan, kekuatan dsb, karena yg penting saat pertarungan adalah aplikasinya, bagaimana memanfaatkan kesempatan. Ujung2nya.. ndak perlulah ada forum diskusi ini… he he he… sorry.. just kidding.
Setuju juga bahwa untuk menjadi pesilat yang handal tidak perlu banyak gaya dan tidak perlu tahu teori-teori tentang gaya/gerak/dinamika spt dalam posting saya terdahulu. Tapi saya yakin bagi pelatih2 silat di luar negeri, terutama di dunia western yang pinginnya semua dirasionalisasi terkadang perlu pemahaman2 tentang teknik dikaitkan dg prinsip2 gaya/gerak/dinamika, karena tidak jarang muncul pertanyaan kritis dari murid.
Sebagai contoh adalah ttg prinsip “kosong-isi”. Kalau sy ditanya ttg hal ini saya bisa jelaskan secara rasional dengan konsep “impulse” atau “shock” atau dalam bahasa lokalnya di sebut “kejut”, yaitu gaya/tenaga per satuan waktu (walau mungkin tidak 100% sesuai krn ada unsur “rasa” atau “feeling”). Seorang pesilat handal harus mampu melakukan peralihan dari kosong ke isi atau sebaliknya dari isi ke kosong dalam seketika, saat diperlukan. Artinya dari tidak ada gaya/tenaga kemudian menghasilkan gaya/tenaga dalam waktu singkat. Ini adalah impulse, semakin besar gaya/tenaga (isi) dan semakin singkat waktu yang diperlukan maka semakin besar impulse yang dihasilkan. Apa efeknya? Dalam fisika/dinamika ada konsep kelembaman serta aksi dan reaksi. Sama dengan tubuh manusia yang juga merupakan benda fisik. Ketika kita mendorong seseorang, dengan tenaga kecil kemudian secara perlahan kita tingkatkan terus maka tubuh orang tsb akan bereaksi menjaga stabilitasnya dengan memberikan gaya/tenaga berlawanan arah yang sama besarnya. Tetapi apa yang terjadi jika orang itu kita dorong dengan gaya/tenaga secara tiba-tiba, tidak usah terlalu besar, cukup sekedarnya saja tapi dilakukan secara mendadak? Dijamin efeknya akan jauh berbeda, karena tubuh orang tsb terlambat memberikan reaksi maka dengan tenaga sekadarnya saja orang tsb bisa kehilangan keseimbangan bahkan jatuh terbanting jika impulse/shock/kejut nya besar.
Mohon maaf jika seorang pemula yang baru belajar silat spt saya terkesan mencoba mengajari senior2 bintang tiga dan empat yang jauh lebih mumpuni dan berpengalaman.
tiada maksud hamba mengajari
hanya mengungkapkan apa yang ada di hati
mudah-mudahan keluar dari nurani
yang masih mencari diri sejati
Salam dari pelosok jawa,
-
Seorang pesilat handal harus mampu melakukan peralihan dari kosong ke isi atau sebaliknya dari isi ke kosong dalam seketika, saat diperlukan. Artinya dari tidak ada gaya/tenaga kemudian menghasilkan gaya/tenaga dalam waktu singkat. Ini adalah impulse, semakin besar gaya/tenaga (isi) dan semakin singkat waktu yang diperlukan maka semakin besar impulse yang dihasilkan. Apa efeknya? Dalam fisika/dinamika ada konsep kelembaman serta aksi dan reaksi. Sama dengan tubuh manusia yang juga merupakan benda fisik. Ketika kita mendorong seseorang, dengan tenaga kecil kemudian secara perlahan kita tingkatkan terus maka tubuh orang tsb akan bereaksi menjaga stabilitasnya dengan memberikan gaya/tenaga berlawanan arah yang sama besarnya. Tetapi apa yang terjadi jika orang itu kita dorong dengan gaya/tenaga secara tiba-tiba, tidak usah terlalu besar, cukup sekedarnya saja tapi dilakukan secara mendadak? Dijamin efeknya akan jauh berbeda, karena tubuh orang tsb terlambat memberikan reaksi maka dengan tenaga sekadarnya saja orang tsb bisa kehilangan keseimbangan bahkan jatuh terbanting jika impulse/shock/kejut nya besar.
Hmmm....sepertinya saya familiar dg prinsip sejenis: Bio Mekanika nya seorang Pendekar yg juga GM PLN di wilayah Sulawesi??? ::)
-
Kalau orangnya pada dasarnya gede dan kuat gimana Mas?
Salah satu diantara pesertanya orangnya gede/berotot (atlit Strong Man..yg angkat-2x segala macem) dia berhasil menang cuman karena dia brutus aja maju tak gentar. Pesilat yg lawan dia keteter terus dan berhasil beberapa kali dijatuhin oleh orang yg gede ini.
Faiz
@mas Faiz eh mas Godam atau alias apa lagi???
Dalam bela diri gede dan kecil itu relatif.
Coba simak posting kang Nagapasa dan mas Kuntulbaris tentang "kesempatan" dan "impulse/ shock/ kejut".
Ada yg isi pasti ada yg kosong, ada yang tertutup pasti ada yg terbuka, ada yg kuat pasti ada yg lemah.
Praktisi bela diri yg handal akan mampu menggunakan kesempatan dan kejutan pada titik yg kosong, yg terbuka ataupun yg lemah.
Bukan merendahkan, kalau dlm demo di history channel ada pesilat yg kalah dari hostnya berati dia sengaja mengalah atau....???? :D
-
....
Saking simplenya kita ndak usah banyak berteorilah… latihan saja… lakukan saja yang dikatakan guru/pelatih… ndak usah digali lebih jauh kenapa begini kenapa begitu. Ndak perlu diskusi ttg kecepatan, kekuatan dsb, karena yg penting saat pertarungan adalah aplikasinya, bagaimana memanfaatkan kesempatan
---
seperti itulah yang selalu di ajarkan guru :P, yang penting jurus yang bener nanti masalah bagaimana prakteknya akan jadi sendiri ketika di butuhkan :P
Tapi saya yakin bagi pelatih2 silat di luar negeri, terutama di dunia western yang pinginnya semua dirasionalisasi terkadang perlu pemahaman2 tentang teknik dikaitkan dg prinsip2 gaya/gerak/dinamika, karena tidak jarang muncul pertanyaan kritis dari murid.
betul sekali ini adalah cara orang luar negeri ingin membelajari silat dengan mudah, mudah di fahami tidak bertele tele dan bisa di buat ilmiah.
permasalahannya adalah budaya kita tidak seperti yang mereka inginkan, banyak sekali pengajaran silat apalagi yang tradisional dilakukan dengan budaya tutur lisan. tidak ada dokumentasi buku apalagi video (bahkan biasanya tidak boleh didokumentasikan). sehingga silat kita memang semi tertutup karena budaya tutur lisan tidak mudah difahami oleh orang luar.
menurut saya dengan tutur lisan ada keterikatan tersendiri antara murid dan guru, sekaligus memberikan kwalitas standar pengajaran yang baik dalam melakukan pengajaran silat. dimana guru akan langsung hands on dengan murid sehingga agak susah kalau mau bisa silat secara instant.
penjelasan ilmiah mungkin saja bisa membantu pemahaman murid tentang jurus dan kegunaannya. termasuk momentum dan gaya yang terjadi ketika kita mempraktekan jurus.
tetapi pada dasarnya jam terbanglah yang menentukan tingkat keberhasilan setiap pertarungan.
contoh yang paling gampang, beberapa orang yakin kalau kecepatan bisa mengalahkan kekuatan. tetapi ukuran cepat dan kuat sendiri sangat subjective. cepat buat si A mungkin tidak terlalu cepat bagi si B. Kuat bagi si A mungkin tidak berlaku buat si B.
50 Kg akan terasa sangat berat bagi yang tidak pernah mengangkat beban, tapi akan berasa ringan bagi yang biasa mengangkat beban sampai 100 Kg. Lari sprint 100 m bagi yang tidak biasa lari dengan waktu tempuh 3 menit sudah sangat hebat, tapi buat atlet sprint yang bisa lari sprint 2 menit untuk 100 m, 3 menit sudah termasuk lelet :)
pada akhirnya yang menentukan adalah 'sanalika', seketika, saharita. ketika terjadi pertempuran kita tidak ada waktu lagi untuk berfikir. apa yang biasa kita latih dan teknik dengan jam terbang tinggi secara otomatis akan keluar dengan sendirinya.
Dalam fisika/dinamika ada konsep kelembaman serta aksi dan reaksi. Sama dengan tubuh manusia yang juga merupakan benda fisik. Ketika kita mendorong seseorang, dengan tenaga kecil kemudian secara perlahan kita tingkatkan terus maka tubuh orang tsb akan bereaksi menjaga stabilitasnya dengan memberikan gaya/tenaga berlawanan arah yang sama besarnya. Tetapi apa yang terjadi jika orang itu kita dorong dengan gaya/tenaga secara tiba-tiba, tidak usah terlalu besar, cukup sekedarnya saja tapi dilakukan secara mendadak? Dijamin efeknya akan jauh berbeda, karena tubuh orang tsb terlambat memberikan reaksi maka dengan tenaga sekadarnya saja orang tsb bisa kehilangan keseimbangan bahkan jatuh terbanting jika impulse/shock/kejut nya besar.
benar sekali, dan ini butuh jam terbang dan latihan kan, untuk bisa melakukan perubahan tenaga dari isi menjadi kosong atau dari isi menjadi setengah bukan hal mudah. perlu latihan merasakan tenaga lawan.
buat mas kuntul baris thanks udah ikut share penjelasannya sangat bermanfaat
-
Jam terbang dan latihan... memang kunci dari segala sesuatu. Apapun jenis ilmu yang kita pelajari so pasti perlu jam terbang dan latihan. Latihlah sebuah gerak sebanyak "seketan", "satusan", atau "sewuan" tiap hari... dan rasakan bedanya demikian kata guru saya. [top]
teori tanpa praktek = omong kosong atau kalau hanya jago ngetik lewat internet kata teman saya itu namanya "keyboard warrior" hehe... :)
Hanya praktek tanpa mengerti teori => bisa saja berhasil tapi harus hati2 ntar kesasar atau salah jalan.
Mengerti teori dan dipraktekkan lewat latihan yang kontinyu... ini baru Josh! [top]
Masuk golongan manakah kita?
Salam,
-
Hmmm....sepertinya saya familiar dg prinsip sejenis: Bio Mekanika nya seorang Pendekar yg juga GM PLN di wilayah Sulawesi??? ::)
Beliau memang guru saya mas...
Termasuk mas Java jg guru saya walaupun mungkin belum pernah ketemu.
Salam Hormat,
-
Masuk golongan manakah kita?
saya sih sebagai anggota perguruan keyboard pencabut nyawa tentu saja merasa tersanjung dan bangga dikategorikan sebagai keyboard warrior :P.
lawong berkelahi aja engak pernah apalagi suruh maen fisik engak deh. cukup aja jadi pendekar silat di dunia maya ha ha ha [lucu]
-
.... kalau hanya jago ngetik lewat internet kata teman saya itu namanya "keyboard warrior" hehe... :)
Saya kenal baik promotor anekdot "keyborard warrior" itu.
Lha wong beliau satu diantara teman saya ;D
-
Nimbrung ah..
jam terbang dan latihan ..jelas sangat penting..
Tapi latihan juga harus dibimbing oleh 'teori yang benar dan sudah teruji', minimal empiris...
Seperti ada kata teman dari JKD: "Train hard, train smart..".
berlatih keras pastilah sangat perlu, tapi berlatih keras dengan benar alias smart lebih penting ...karena dengan 'smart' banyak hal yang trial dan error bisa dihindari....
ada yang pakai metode lama, baru 10 tahun bisa menghasilkan kualitas yang baik...tapi dengan metode yang sudah diperbaiki dari olahan pengalaman (teori/hipotesis); maka hasil yang sama bisa didapat dari 3 tahun latian saja...ini sekedar contoh..
Jadi tidak perlu meremehkan teori ..
Teori dan praktek semestinya berjalan seiring, dari praktek yang panjang dibuatlah teori, hipotesis yang diuji dalam praktek..dari praktek dibikin teori baru, didiskusikan lagi jadi teori yang lebih matang..trus dipraktekin lagi dengan keras..JAdi forum diskusi ini : masih perlu juga he he he ;D (kalo gak daku akan kehilangan pekerjaan sebagai moderator dan jagoan keyboard :w ;D ;D, just kidding)
BTW, Dengan teori yang benar malah bisa banyak menghemat waktu dan tenaga, misalnya untuk melatih kecepatan...banyak orang yang punya teori macam-macam soal ini, tergantung pengalamannya masing-masing.
Malah setiap aliran punya latihan sendiri sendiri. Di suatu aliran misalnya berlatih dengan cara bergerak sangat lambat...keliahatannya ironis: untuk bisa cepat malah latihan dengan lambat. Ada lagi yang latihan cepat tapi tidak bertenaga dan dilakan berulang-ulang, misalnya pukulan 100x. Ada juga yang latihan pukulan cepat tapi tidak bertenaga tapi sesudah itu dilakukan dengan tenaga penuh....ada juga yang tidak melatihnya dengan khusus "jalankan jurusnya aja, dengan kecepatan sedang/biasa aja, tiap hari sebanyak 50 kali, ntar juga cepet sendiri"...he he he..iya juga sih tapi sesudah berlatih tekun minimal 7 tahun .. :'(
Mana yang efektif?
ya tergantung tradisinya (juga kefanatikkan terhadap alirannya)
dan bisa dilihat serta DIUKUR dari hasil akhirnya..
Berapa lama dia berlatih dengan metode apa,
supaya bisa diukur per-detik-nya mampu menghasilkan
berapa pukulan/tendangan..dengan gerak yang benar tentu saja..gak asal-asalan..
nah ini semuanya kan teori yang dibarengi praktek.. :w.
ada pendapat lain..
salam
S Birowo
-
Salam silat untuk semua,
Ada nasihat dari satu diantara senior saya; tehnik tertinggi adalah pengulangan.
Saya sempat bingung, kenapa pengulangan? Penjelasan berikutnya bahwa melatih tehnik itu tidak perlu cepat tapi mulailah dengan lambat.
Latihan lambat dengan syarat tehnik/ jurus harus benar yg dilakukan berulang-ulang mis: 100 X lalu ditingkatkan 200 X dan ditingkatkan lagi 300 X sampai mencapai kemapuan maksimal.
Setelah mampu berlatih tehnik/ jurus dengan benar ratusan atau bahkan ribuan kali selama periode tertentu kemudian latihan ditingkatkan dengan kecepatan dan tenaga penuh.
Latihan lambat dan benar bertujuan membentuk otot dan kekuatannya sesuai karakter tehnik/ jurus yg dilatih. Adapun latihan cepat dengan tenaga penuh dimaksudkan mengaplikasikan tehnik + kecepatan + tenaga.
Komparasi antara kecepatan vs kekuatan nampaknya akan terpulang pada jam terbang dan kualitas tehnik/ jurus masing-masing. Jam terbang dan kualitas tehnik/ jurus jelas memiliki peran penting untuk menciptakan "kesempatan" dan "kejutan" serangan vital kepada lawan. :D
-
ikutan donk....
eNcing ane pernah juga cerita pengalamannya waktu nglatih di rumah seorang tionghoa, dia "dijebak" untuk tanding sama orang yang sengaja diundang untuk ngetes eNcing ane. Orang itu ternyata seorang ahli bela diri impor (ga usah disebutin ya). orang itu sangat ahli, dia sudah mampu push up pake jari tangan (1-2 jari) dengan kaki disanggah pot bunga dari plastik. badannya juga keras dan kuat, tingkatnya juga sudah tinggi, pendek kata udah jagoan banget.
ternyata orang itu dapat diatasi dalam satu-dua gebrakan. kuncinya rupanya seperti yang dikatakan oleh sdr kuntulbaris:
"memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan".
ya timing yang tepat dan kecepatan...ternyata dapat mengalahkan kekuatan.
eNcing ane orangnya sederhana, bahkan ga sekolah, jadi juga ga pernah tau teori2 bela diri yang canggih... cuman kematangan latihan dan pengalaman membuat dia secara otomatis tau bagaimana harus bertindak menghadapi serangan lawan.
secara sederhana dia cerita : "orang entu kuat banget badannye, gesit, lincah dan pukulan ame tendanggannye keras banget. gue pikir kalo gue banting die kagak bakalan kapok ame kagak mempan kalo dibanting. akhirnya gue tunggu pas die abis nendang muter kagak kene, die mukul, di situ kesempetan masuk, dapet tangannye, gue gulung abis, sambungan sikutnye patah..."
kesimpulannya : cepat dan tepat
sodare-sodare maapin ane yeee...
-
... cuman kematangan latihan dan pengalaman membuat dia secara otomatis tau bagaimana harus bertindak menghadapi serangan lawan.
Betul bang Rasyid. Pendapat diatas sesuai dg pemikiran mas Sosro Birowo, mas Kuntulbaris, kang Nagapasa dll.
Jadi resume thread Kecepatan vs Kekuatan = mari terus giat berlatih, ilmu silat tak mengenal batas akhir. [top]
-
he he he jadi kesimpulannya kembali ke latihan.
nah tantangannya adalah bosan dan merasa udah bisa dan mengerti.
untuk mengatasi jenuh dalam berlatih engak ada salahnya kalau sedikit cross training atau belajar metoda metoda baru :P
-
salam..
kalo menurut saya tidak perlu sampe cross training, terutama bagi murid2 dari perguruan yg cukup ketat tentang cross training ini..
dengan melihat, mengamati dan mencermati, berdialog, membaca atau bahkan uji tanding biasanya akan membuka wawasan terhadap teknik yg sudah dimiliki, istilahnya mungkin membuka kunci terhadap bab2 tersembunyi dari teknik-teknik yang ada. dan dengan seperti ini biasanya sudah dapat memotivasi untuk berlatih dan mengamalkan latihan teknik2 yang telah dimiliki
salam hormat
-
untuk mengatasi jenuh dalam berlatih engak ada salahnya kalau sedikit cross training atau belajar metoda metoda baru :P
Memang iya, perubahan metode bisa menyegarkan suasana latihan.
Herannya makin hari kenapa gerakan teman-teman latihan terasa maikn cepat?
Atau saya yg sudah rada telmi ya? ;D
-
omm java, he he he kayaknya cuman masalah akselerasi saja....
yang kayaknya perlu di tune up :P
-
kalau gak cross training, kunjungi saja teman2 di kota / cabang lain, pasti deh semangat langsung bangkit lagi [top]. Kayak saya, kalau pulang ke Tanah air pasti langsung ke PLN, walau pakai muntah2 pada minggu / latihan pertama [lucu],
tp jadi semangat lagi ;).
Salam
-
omm java, he he he kayaknya cuman masalah akselerasi saja....
yang kayaknya perlu di tune up :P
Benar perlu tune up nih. Minggu kemarin coba-coba latihan kaki gak pakai warming up. Hasilnya luar biasa, urat besar tepat dilipatan paha dalam dan lutut TERPELINTIR ! Badan langsung jatuh diiringi seringai kecut hampir 15 menit gak bisa berdiri.
Setelah urut sana urut sini baru sukses berdiri dengan terpincang-pincang. Memang saat itu tak ada memar ataupun pembengkakaan. Baru setelah hari ketiga otot dilipatan paha dalam berwarna merah darah keunguan.... ;D
Selama seminggu nekat terus latihan meski gak bisa nendang. Syukurlah sekarang kulit sudah normal.
Nah...buat yang belum pernah keseleo sebaiknya JANGAN PERNAH berlatih tanpa cukup pemanasan/ peregangan. :D
-
Nah...buat yang belum pernah keseleo sebaiknya JANGAN PERNAH berlatih tanpa cukup pemanasan/ peregangan. :D
kecuali latihan.. meditasi ;D
-
Assalamu'alaikum,
Maaf saya mau ikut campur...! eh maksudnya ikut nimbrung.. he..he..
Saya baru belajar Silat jadi kalau kasih Komentar salah tolong dibetulin ya,
Kalau kembali ke awal pertanyaan dibawah ini:
Salam silat
Ada sebagian praktisi bela diri berpendapat bahwa kecepatan adalah faktor utama penentu kemenangan namun sementara kalangan mengatakan bahwa kemenangan dalam tarung tergantung pada kekuatan.
Mana pendapat yang lebih realistis? Mari kita berbagi pengalaman.
Kalau saya mencoba kasih pendapat,
Setahu saya apabila KECEPATAN di satukan dengan KEKUATAN akan menghasilkan POWER.
Jadi kemungkinan pendapat dari "PRAKTISI BELADIRI" ini melihat dari dua sisi yaitu,
1. Kecepatan faktor utama penentu kemenangan, mungkin yang terlihat hanya segi kecepatannya saja tanpa terlihat dari segi kekuatannya.
2. Kekuatan faktor utama penentu kemenangan, mungkin yang terlihat hanya segi kekuatannya saja tanpa terlihat dari segi kecepatannya.
Jadi pendapat saya, sebenarnya yang terlihat atau yang ditunjukkan dari kedua dua pendapat itu adalah POWER
Kalau memang mau membuktikan KECEPATAN atau KEKUATAN sebagai faktor utama kemenangan dalam pertarungan sangat subyektif, karena harus mempertimbangkan faktor-faktor yang kawan-kawan sekalian diskusikan saat ini, seperti
a. bentuk badan
b. berat badan
c. kekuatan otot
d. pengalaman atau lamanya berlatih, dsb.
Jadi seperti yang kawan-kawan sarankan BERLATIH dan BERLATIH, bukan untuk memenangkan pertarungan tapi mencari Jati Diri dan kemampuan diri untuk digunakan sebagai mana mestinya dan juga menambah wawasan serta mengembangkan budaya senibeladiri kebanggaan kita PENCAK SILAT!
Maaf kalau komentarnya nggak sesuai
-
Kalau memang mau membuktikan KECEPATAN atau KEKUATAN sebagai faktor utama kemenangan dalam pertarungan sangat subyektif, karena harus mempertimbangkan faktor-faktor yang kawan-kawan sekalian diskusikan saat ini, seperti
a. bentuk badan
b. berat badan
c. kekuatan otot
d. pengalaman atau lamanya berlatih, dsb.
betul..
makanya.. kita anggap saja faktor yg lain ceteris paribus.. supaya diskusinya lebih fokus.. antara kekuatan dan kecepatan saja... kalo soal kemenangan dalam pertarungan ya.. variabelnya luas sekali..
jadi kalo secara metematis rumusnya kita persempit:
z = aX + bY
z= kemenangan
X= kecepatan
Y= kekuatan
a= koefisien atas kekuatan
b= koefisien atas kecepatan
a dan b ini yg kita cari, mana yg lebih besar nilai koefisiennya..
halah... matematis banget sih ;D
-
Gamapang mas Sunan,
tinggal cari sampel beberapa orang, lalu dibuat korelasinya, pakai statistik, ketemu dah itu koefisien [lucu]
-
Salam Mas..
faktor nekat, nyali, ama keberuntungan dimasukin juga gak kedalam rumus ?
Soalnya kalo diliat-2x orang yg nekat ato nyalinya gede bisa juga jadi kuat lho, ditaboking maju terus..baru besoknya kerasa sakit-2xnya ;D+
-
Kalo rumusnya bener berantemnya theksek? Yang theksek sini pa sana?
Salam hangat
Ranggalana
-
@mas faiz
salam jg mas..
kan faktor lainnya dianggap ceteris paribus dulu.. kalo mau dimasukkin bisa saja cuma variabelnya nambah, jadi gini
f (v,w,x,y,z)=aV+bW+cX+dY+eZ +.....
udah komplex banget, ga bisa pake simple regression, atau bahkan multiple regression biasa.. harus rumus khusus..lupa namanya ;D
wah.. buka bimbingan skripsi ah.. ::) ;D
hehehe.. maksudnya cuma mempersempit/memfokuskan pembahasan saja kok mas..
@mas bram..
aku ga ngerti istilah theksek..tolong dijelasin dong.. di thread lain jg ada, cm aku ga ngerti jd ga bisa ikutan :'(
-
@mas Sunan,
- Thek sek = sekali pukul mampus :)
- Kalau gak bisa pakai multiple regression ya pakai polynom aja :))
Salam
Chandrasa
-
@mas chandrasa..
trims infonya tentang theksek.. jadi ingat kisah Achilles.. "the man who can kill with one blow".. di epiknya troy eh.. kapan2 kita bahas kisah2 legenda kya troy dsb yuk..
polynom ya mas.. aku ga ngerti ;D maklum anak ekonomi paling banter make multiple regression [lucu]
thx mas.. :)
-
...aku ga ngerti istilah theksek..tolong dijelasin dong.. di thread lain jg ada, cm aku ga ngerti jd ga bisa ikutan :'(
@kang Sunan
Betul pendapat mas Bram dan keterangan mas Chandrasa.
Silat itu harus thek shek artinya sekali gebrak selesai.
Gak ada istilah hindar sana, lompat situ, tendang sini dan pukul sono.
Tak ada itu. Itu tak ada. Ada itu tidak!
he...he...he... kayak dagelan BBM aja.
-
jadi beladiri itu harus efektif ya mas...
setuju, kalau engak efektif malah buang waktu dan tenaga.
seperti pada kenyataannya, kesempatan untuk mukul/nendang itu susah sekali, dan engak gampang. makanya begitu ada kesempatan harus di manfaatkan sebaik baiknya. disitulah efektifitas beladiri.
seperti kaidah silat sudang "peupeuheun ulah dibantingkeun, bantingeun ulah di peupeuh'. (kesempatan untuk memasukkan pukulan jangan dibanting, kesempatan untuk membanting jangan malah di pukul).
jadi komponen lengkapnya adalah kecepatan + kekuatan + ketepatan, siapa yang bisa memanfaatkan 3 unsur ini paling tidak bisa menguasai pertarungan
-
....setuju, kalau engak efektif malah buang waktu dan tenaga.
jadi komponen lengkapnya adalah kecepatan + kekuatan + ketepatan, siapa yang bisa memanfaatkan 3 unsur ini paling tidak bisa menguasai pertarungan
Akur kang Nagapasa.
GRP dulu ah. [top]
-
makasih mas java, saya grp balik deh atas semua sharenya di thread ini [top]
-
Saya sedikit bingung.
Dalam diskusi Indonesia para praktisi bela diri bisa berinteraksi dg santun? Berbeda dg versi Inggris yg kelewat hot.
Apa greget phrase Indonesia kurang cepat & kuat ya? ;D
-
maksudnya gimana mas? maaf saya kurang mudheng... ;D
mungkin kendala orang asing yang lebih mendominan jadi masalah tambah keruh...
-
@kang Nagapasa
Dalam thread bhs Indonesia khan tidak selalu seluruh pendapat bisa diamini oleh seluruh pembaca namun cara mengungkapkan ketidak-sependapatan bisa ditulis dg santun.
Bagi yang mau bahkan bisa saling belajar karena banyak tehnik yg tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Saya pribadi berusaha membuka hati dan pikiran terhadap perbedaan untuk meningkatkan ketrampilan bela diri tsb.
salam
-
betul juga, kayaknya masalah komunikasi dan silaturahminya belum jalan ya :-[
-
Saya sedikit bingung.
Dalam diskusi Indonesia para praktisi bela diri bisa berinteraksi dg santun? Berbeda dg versi Inggris yg kelewat hot.
Apa greget phrase Indonesia kurang cepat & kuat ya? ;D
Salam Mas..
Iya tuh enggak diforum silat doang, diforum beladiri lain juga suka ngotot-2xan gitu.
Kali sifatnya emang begitu. Tapi kalo saya perhatiin bule sering adu mulut tapi jarang adu fisik.
Kayaknya diforum bule masing-2x merasa Silat yg mereka pelajari paling mematikan dan tidak ada duanya. Spt. orang Pusaka Cimande ngakunya Silat mereka paling efektif dan enggak akan ditemukan di Indonesia seefektif itu. Terus orang-2x bule yg belajar Silat ama Indo-belanda merasa Silat asli adalah yg mereka pelajari karena silat mereka masih dalam bentuk beladiri dan bukan spt. Silat sekarang yg orientasi ke Olah Raga. Ya udah gitu aja terus gimana gak susah mo akur ?
Salam,
Faiz
-
Iya kuliat juga gitu tuh, orang sono umumnya seneng betengkar tapi takut bengkelai. Orang kita mah gak seneng kakehan cocot karena punya prinsip theksek itu tadi. Lagi pula orang sana takut bengkelai itu takut konsekwensi hukumnya. Orang kita punya kaidah sikat dulu urusan belakangan.
Mungkin keadaan dunia persilatan kita juga penuh dengan konflik lho, cuma di bawah permukaan saja dan kita berkonfliknya diem-diem khas Timur. Yang jelas, menurut feeling kejawenku yang cethek, Trah Wetzel yang ada di USA itu perlu di ruwat sebab sudah terkena sukerta dari pembunuhan Bapak oleh putra kandungnya. PCP dan perguruan-perguruan USA lain yang bernama Pukulan, umumnya menjadi bagian dari Trah ini, dan bersinggungan dengan mereka radar batinku berzrt-zrt-zrt membuat aku waspada dan agak kurang nyaman. Kenapa ya kira-kira? Adakah sahabat yang memiliki pengalaman serupa?
Terutama yang ahli mengenai masalah zrt-zrt-zrt atau seperti pernah dikisahkan si Michael PCP di bagian coro Nggeris porum ini, yakni adanya orang Endonesya yang matanya ijo kayak radioaktip, saya sangat kepingin tau arti dan maknanya, sebab dan syarat terjadinya.
Terimakasih,
Ranggalana.
-
Salam..
Thek sek = sekali pukul mampus itu sama dgn konsept Karate Satu Pukulan Mampus ya ?
Karate Jepang kan ambil filsafat dari Samurai yg menyatakan jarak terdekat antara 2 titik ada garis lurus. Jadinya tekhnik-2xnya mereka banyak yg linear karena menurut mereka paling efektif dan effisien.
Konsep Satu Pukulan Mematikan itu juga diambil dari konsep Samurai yg musuh haris mampus dgn satu sabetan pedang.
Saya mau tanya apakah efektif = efisien ?
Apakah konsep efektif/efisien spt. Thek sek dalam Silat sama spt. dgn Karate ?
Alirang-2x Silat kan banyak yg menggunakan tekhnik circular/lingkar. Secara umum gerakan lingkaran itu lebih banyak memakai jarak dibanding gerak lurus dan juga banyak menggunakan gerakan halus utk menetralisir gerakan keras dan lurus.
Terima kasih sebelumnya.
Wasalam,
Faiz
-
@godam
menurut pendapat saya pada umumnya yang efektif pasti efisien.
mengenai gerak sirkular tergantung arah putarannya, engak semua sirkular memakai jarak dan membutuhkan tempat. seperti gerakan spiral. yang arah putarannya menarik ke dalam, bukan kearah luar.
nah masalah kerakan halus atau keras tergantung penggunaannya. umumnya halus selalu bersifat menunggu dan jarang mengawali serangan lebih suka melakukan counter attach. sedangkan gerakan keras memang bertujuan mendominasi di awal serangan. dengan harapan sekali serang langsung lawan kerepotan.
pada dasarnya stamina manusia terbatas, bahkan di pertandingan beladiri apapun ronde pertama adalah ronde penentuan, sisanya tinggal masalah stamina saja. jadi semakin kita bisa memanfaatkan kesempatan selagi tenaga, napas masih prima ya mestinya kita lakukan. karena pertarungan diatas 3 menit akan sangat tergantung pada stamina saja.
jadi menjatuhkan lawan secepat mungkin itu adalah semangat beladiri yang efisien. kalau dalam istilah sunda "Batur arek Urang enggeus" (orang baru mau mulai kita sudah selesai)
-
Saya sedikit bingung.
Dalam diskusi Indonesia para praktisi bela diri bisa berinteraksi dg santun? Berbeda dg versi Inggris yg kelewat hot.
Tentu saja, kebanyakan member yang berkelai di bagian Bahasa Inggris tidak mengerti Bahasa Indonesia.
Mereka merasa paling top oleh karena mereka punya "teacher" dengan sertifikat hebat, atau punya Guru (orang Indo) yang pada jaman "Mbak Heula" belajar lengkap di Indonesia.
Seorang murid selalu men"back-up" gurunya, karena murid itu punya janji kepada gurunya (atau bayar bulanan)
betul juga, kayaknya masalah komunikasi dan silaturahminya belum jalan ya :-[
Komunikasi bisa saja, cuman caranya bagaimana ?
sih "A" ngak mengerti bahasa sih "B" artinya komunikasi manjadi kacau, silaturahmi bisa juga (kalau mereka mengerti Istilahnya) tapi tanpa komunikasi dengan pengertian masing² pendatang, kita tinggal senyum saja dan jawab selalu "Yah-yah" seperti mengerti, padahal ngak.
Iya tuh enggak diforum silat doang, diforum beladiri lain juga suka ngotot-2xan gitu.
Kali sifatnya emang begitu. Tapi kalo saya perhatiin bule sering adu mulut tapi jarang adu fisik.
Jangan gitu deh, itu generalisasi banget, saya tahu ada berapa bule bersifat seperti orang timor, dan boleh disebut benar² pesilat.
Saya kenal banyak orang indonesia juga yang ngotot banget, kalau ditanya sesuatu mereka jawab "yah emang begitu dari duluh"
Kalau di tanya lebih dalamnya atau tanya tentang filosofinya; mereka kadang² ngak bisa jawab lagi; jawabannya seperti: "saya belajar begitu, dan sudah di kurikulum perguruan"
Kalau jawab begitu ke orang datang dari jauh, mereka tidak puas dengan jawabannya, pasti mereka minta input lebih lanjut lagi.......
disamping adu mulut saya bisa dan berani adu fisik juga, saya harap anda cukup kuat, karena saya bawa ilmu 100kilo ;D kapan dan dimana kita coba ??
Thek sek ?? silahkan tanya ke rekan² Padjadjaran Nasional: kita punya sambutan dan rei, itulah theksek semua -> masuk untuk mematikan, tanpa gerakan macam²
jadi menjatuhkan lawan secepat mungkin itu adalah semangat beladiri yang efisien. kalau dalam istilah sunda "Batur arek Urang enggeus" (orang baru mau mulai kita sudah selesai)
Betul mas Kiki, seperti saya bilang diatas quote ini [top]
Ingat aja "Sandi Siloka"
Bilih anjeun bade ti payun, mah mangga wae, abdi bade ti heula
seperti ini jawaban orang Bule :w
Wassalam, Eric
-
Assalamu 'alaikum wr.wb.
Salut buat sahabat2 semua. Dimulai dari bahasan dasar tentang kecepatan, kekuatan, ketepatan, akhirnya sampai juga ke filosofi sanalika (seketika): Batur arek urang anggeus, mangga ti payun abdi ti heula...
Wasssalam,
TP
-
Iya tuh enggak diforum silat doang, diforum beladiri lain juga suka ngotot-2xan gitu.
Kali sifatnya emang begitu. Tapi kalo saya perhatiin bule sering adu mulut tapi jarang adu fisik.
Jangan gitu deh, itu generalisasi banget, saya tahu ada berapa bule bersifat seperti orang timor, dan boleh disebut benar² pesilat.
Saya kenal banyak orang indonesia juga yang ngotot banget, kalau ditanya sesuatu mereka jawab "yah emang begitu dari duluh"
Kalau di tanya lebih dalamnya atau tanya tentang filosofinya; mereka kadang² ngak bisa jawab lagi; jawabannya seperti: "saya belajar begitu, dan sudah di kurikulum perguruan"
Salam Kang Eric..
Iyalah jawaban saya generalisasi. Kalau dijawab satu per satu kasusnya ya kapan selesainya ngebalas :) Musti mengadakan survei, interview, terus bikin hypotesis, dan tulis rangkuman. Tapi umumnya kalau Kang Eric liat di forum-2x beladiri sering terjadi diskusinya ya spt. orang cekcok, alirannya paling mematikan, saling mengejek, dsb.
Kalau orang Indonesia jawabannya spt: "Emang dari dulunya begitu..ato udah kerjain aja dulu jangan banyak nanya." Itu biasanya tradisi soalnya kalau mo nanya disuruh belajar aja dulu, nanti juga bakal ngerti sendiri :) Kalau belum/baru belajar udah banyak tanya-2x menurut orang timur gak etis.
Beda sama di barat dianjurkan utk bertanya dari awal. Padahal di Indonesia ada pepatah "Malu bertanya sesat dijalan." Di barat ada gak pepatah "To shy to ask lost on the way" ?? Kayaknya gak ada deh.
Iya tuh enggak diforum silat doang, diforum beladiri lain juga suka ngotot-2xan gitu.
Kali sifatnya emang begitu. Tapi kalo saya perhatiin bule sering adu mulut tapi jarang adu fisik.
Ini rada bener soalnya misalnya di Amerika orang lebih cenderung berdebat ato adu mulut. Soalnya spt. Mas Bram bilang kalo udah adu fisik bakal berurusan ama pihak kepolisian. Disamping itu mengemukakan pendapat dibarat lebih didorong dari sejak awal.
Beda ama Kalo banyak ngomong disuruh diem, kalo debat udah terlalu panas berantem urusan ngomong belakangan.
disamping adu mulut saya bisa dan berani adu fisik juga, saya harap anda cukup kuat, karena saya bawa ilmu 100kilo kapan dan dimana kita coba ??
Kang Eric menantang ? Boleh..nanti saya keluarin ilmu PUSAKA saya yang namanya "Kejarlah daku kau kutangkap". Saya beratnya cuman 80kg dan bisa lari cukup kencang apalagi kalau dikejar bule yg 100kg dan jago Silat :)
Wasalam,
Faiz
-
Faiz, selama saya di Indonesia itu Guru saya yang saran bahwa saya harus tulis semua dan tanya apa yang saya mau.
Pada saat itu saya tinggal di rumah Guru-Besar, (bukan seminggu -> tapi setahun) latihan berapa kali sehari, di samping latihan beliau cerita tentang historis, filosofi, asal-usul perguruan dan jenis gerakan, dan sebagainya.
Saya menulis tiga buku penuh, dan sampai saat sekarang saya sering baca tulisan beliau pribadi.
Itulah kurang etis ? .......... saya rasa ngak, karena beliau sudah meninggal dunia, tulisan dan sampaian dia masih ada ;)
Saya tidak datang ke Indonesia untuk latihan fisik saja, tetapi saya mau memperdalam histori, kejiwaani, etik, sejarah, kebudayaan.
Alhamdullilah apa yang saya cari juga ketemu, dan saya tahu bahwa ada banyak lagi yang belum dikunjungi :)
Cuman sedikit penjelasan saja ;)
Marihlah kita semua mendebat lagi tentang kecepatan vs kekuatan [top]
-
Faiz, selama saya di Indonesia itu Guru saya yang saran bahwa saya harus tulis semua dan tanya apa yang saya mau.
Itulah kurang etis ? .......... saya rasa ngak, karena beliau sudah meninggal dunia, tulisan dan sampaian dia masih ada ;)
Saya tidak datang ke Indonesia untuk latihan fisik saja, tetapi saya mau memperdalam histori, kejiwaani, etik, sejarah, kebudayaan.
Alhamdullilah apa yang saya cari juga ketemu, dan saya tahu bahwa ada banyak lagi yang belum dikunjungi :)
Cuman sedikit penjelasan saja ;)
Marihlah kita semua mendebat lagi tentang kecepatan vs kekuatan [top]
Kang Eric, tetapi berapa orang yg ada diforum Inggriss yg mempunyai pengalaman spt. Kang Eric ? Misalnya tinggal di Indonesia dan belajar langsung ? Kan tidak banyak. Mungkin banyak orang asing yg belajar secara tekhnis tetapi tidak belajar sejarah, kebudayaan, dsb.
Maka itu berbeda antara pola pikiran kang Eric dan kebanyakan orang-2x lain.
Mereka pengalamannya berbeda. Untuk kebanyakan orang termasuk saya, Kang Eric udah mirip orang timur.
Kayaknya kita bicarakan hal yg sama ya cuman beda cara penyampaian ?
Kita balik ketopik aja ya soalnya nanti ditegur ama moderator ?? :D
Selamat Tahun Baru.
Salam,
Faiz
-
Selamat tahun baru juga mas Faiz,
Benar juga, pengalaman saya boleh di katakan unik, tapi kalau ada orang lain yang mau investasi diri sendiri, mereka juga bisah kan ?
Begitu aja ;)
Dan jangan khuartir tentang moderator di bagian sini, itu saya juga :P
-
met tahun baru..
oiya, back to laptop donk, bahas topik kecepatan vs kekuatan khan? [top]
-
salam..
gile.. satu hari ga nongol udah ketinggalan 20 postingan gw ;D
saya senang sekali ngobrol disini.. banyak perbedaan.. tapi.. justru bikin kangen [top]
dari perbedaan itu kebanyakan jadi persamaan..
pepatahnya "berbeda2 tapi satu jua" (iya gitu gini pepatahnya..? :o [lucu])
oke, silahkan yg py ide buat balik ketopik dilanjut..
-
Salam Rekans..dan selamat thn baru.
Saya dulu pernah baca ttg. angkat beban utk praktisi beladiri dan atlit.
Ini masih ada juga sih dikit hubungan antara kekuatan dan kecepatan.
Yg saya inget diartikel tsb. angkat beban utk praktisi beladiri sebaiknya repitisi yg banyak dan jangan terlalu berat. Soalnya otot kalo angkat berat dgn repitisi yg sedikit, otot-2xnya jadi gede-2x dan kekar.
Dibilangnya kalau otot body builder enggak optimal utk gerakan-2xan praktisi beladiri ato atlit.
Jadi besar otot walau badan jadi kuat dan gahar, tetapi kompensasinya adalah gerakannya jadi lebih lambat dan lebih banyak pake tenaga.
Ada yg pernah denger teori ini enggak ? Kalo utk pesilat dianjurkan tidak angkat beban ato sebaiknya menggunakan berat tubuh saja ?
Salam,
Faiz
-
Saya setujuh bahwa latihan dengan berat badan lebih baik daripada digunakan benda, khusus untuk pesilat.
Kalau banyak latihan dengan angkat besi, otonya terlalu keras dan "pendek"
Seorang pesilat harus lincahdan ototnya "panjang".
Saya mengunakan satu methode pakai benda, yaitu macam gelang diisi pasir ± 1 kilo di pergelangan tangan dan di mata kaki.
Kalau latihan Jurus mengunakan itu dengan kecepatan kecil, tenaga penuh, hasilnya bagus; jadi kalau di lepas, kecepatannya naik.
Kecepatan haris dilatih dengan kekuatan, disini kita lihat dua²nya tidak bisa berpisah.
Di samping itu kita harus punya stamina yang tinggi, tanpa stamina kita jadi lemah, kekuatannya kurang, menjadi kecepatannya kecil.
Saya harap kalian mengerti yang saya katakan disini.
Wassalam, Eric
-
Iyalah jawaban saya generalisasi. Kalau dijawab satu per satu kasusnya ya kapan selesainya ngebalas....
@mas Faiz
Kang Eric itu termasuk "anomali silat" jadi tidak relevan dalam gerenalisasi. :D
Salut buat sahabat2 semua. Dimulai dari bahasan dasar tentang kecepatan, kekuatan, ketepatan, akhirnya sampai juga ke filosofi sanalika (seketika)...
@kang Taufan
Starter thread ibarat sutradara. Ending ceritanya mau mau dibikin tragis atau bahagia tergantung yg memulai dengan dukungan member forum tercinta. ;D
...disamping adu mulut saya bisa dan berani adu fisik juga, saya harap anda cukup kuat, karena saya bawa ilmu 100kilo ;D kapan dan dimana kita coba ??
seperti ini jawaban orang Bule :w
He...he...he...Moderator tercinta kita ternyata masih bisa merah kupingnya. [gelas]
Kecepatan haris dilatih dengan kekuatan, disini kita lihat dua²nya tidak bisa berpisah. Di samping itu kita harus punya stamina yang tinggi, tanpa stamina kita jadi lemah, kekuatannya kurang, menjadi kecepatannya kecil.
Saya harap kalian mengerti yang saya katakan disini.
@kang Eric
Mudah-mudahan kami bisa paham dengan penjelasan sampeyan.
Memang kecepatan dan kekuatan harus dilatih bersamaan dengan porsi seimbang. Masalahnya dengan adanya keterbatasan anatomi akibatnya tiap individu berusaha memperkuat satu unsur saja dengan mengesampingkan unsur lain. Misal ada orang yg cenderung melatih kekuatan semata karena tubuhnya relatif tinggi besar. Sedangkan orang dengan postur kecil kebanyak cenderung meningkatkan kemampuan kecepatan geraknya.
Seorang murid selalu men"back-up" gurunya, karena murid itu punya janji kepada gurunya (atau bayar bulanan)
@kang Eric
Maaf saya tidak sependepat dg idiom tersebut.
Murid "wajib" memback up Guru "hanya" sebatas tindakan dan perilaku yang memang tidak melanggar kepatutan moral yg diterima umum dan hukum.
Buat saya pribadi bila tindakan/ perilaku Guru bertentangan dengan prinsip-prinsip moral/ hukum ya tidak pantas didukung. :'(
saya senang sekali ngobrol disini.. banyak perbedaan.. tapi.. justru bikin kangen [top] dari perbedaan itu kebanyakan jadi persamaan..
pepatahnya "berbeda2 tapi satu jua" ...
@kang Sunan
Itu juga yg membuat saya kagum pada forum versi Indonesia.
Sampeyan bisa baca sendiri posting diatas yg mengekspresikan perut panas. Pada akhirnya toh kejernihan pikiran & nalar mampu menyadari serta menerima perbedaan yang ada.
Untuk semua saudara sahabat silat, selamat tahun baru 2008.
Semoga tahun ini dan seterusnya kita semua senantiasa diberkahi dengan kebaikan dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
salam,
-
Seorang murid selalu men"back-up" gurunya, karena murid itu punya janji kepada gurunya (atau bayar bulanan)
@kang Eric
Maaf saya tidak sependepat dg idiom tersebut.
Murid "wajib" memback up Guru "hanya" sebatas tindakan dan perilaku yang memang tidak melanggar kepatutan moral yg diterima umum dan hukum.
Buat saya pribadi bila tindakan/ perilaku Guru bertentangan dengan prinsip-prinsip moral/ hukum ya tidak pantas didukung. :'(
Tentu saja, justru pada itu saya tulis back-up dalam kurung
Starterpoint juga ada bahwa seorang Guru adalah seorang Benar ;)
Eric
-
he he baca belajar pada guru :P dibawah ini
Role No.1 : Guru Selalu benar
Role No.2 : Jika Guru melakukan kesalahan, Baca Role No.1
:P
-
Belajar itu dimana Mas Nagapasa ??
:P
-
Saya sedikit bingung.
Dalam diskusi Indonesia para praktisi bela diri bisa berinteraksi dg santun? Berbeda dg versi Inggris yg kelewat hot.
Apa greget phrase Indonesia kurang cepat & kuat ya? ;D
Dalam statistika, yang namanya pengecualian alias anomali itu by definition adalah sesuatu yang beda dengan (dan kadang-kadang merusak) trend utama. Kalau orang statistik pengen supaya hasil analisanya 'mulus' biasanya dia hapus saja data-data yang anomalous itu tadi...beres dah....
Secara kasat mata kita bisa lihat bahwa di forum inggeris juga baik-baik saja, dengan pengecualian beberapa posters yaitu..... isi aja ndiri .... ::)
-
di STPDN ha ha ha.... ;D
Just Kidding.
-
@kang Nagapasa
Betul, di STPDN kecepatan vs kekuatan efektivitasnya sudah dibuktikan. x-))
-
@kang Nagapasa
Betul, di STPDN kecepatan vs kekuatan efektivitasnya sudah dibuktikan. x-))
Sastra Jendra in action.... :-[
Betapa anak2 muda baik-baik diijabahi kekuasaan, kesempatan dan pengetahuan yang terlalu besar tanpa mampu menguasainya berubah menjadi bengis bak batara kala.
-
citra STPDN sekarang merupakan suatu lembaga pendidikan yg. seniornya dengan mudah melakukan kekerasan ke yunior.(Saya rasa para dosennya tidak terlibat kekerasan fisik).
Coba anda bayangkan orang usia 17 sd. 21 th. tidak tahu teknik beladiri, dan mau/bernafsu mukul orang lain. sedangkan orang yg bawah kekuasaanya dan yg di pukul tidal melawan.
Jikalau yg dipukul sudah siap dalam arti melakukan persiapan dulu dan berlatih fisik seperti yg diajarkan di ABRI tntu lain ceritanya.
Jadi kesimpulanya yang melakukan pemukulan di STPDN cuma orang bodoh sedunia, dengan kebodohanya dia mukul ke orang yg diam pasti kena ke bagian vital.
oknum STPDN yg ngebunuh dalam insiden pemukulan cuman orang yang sangat bodoh.BODOH dan BODOH.
Sebaiknya STPDN tetap di teruskan, dan mahasiswanya wajib belajar kekerasan/main pikul di bawah bimbingan orang2 seperti Ki Sawung ataupun kang Java dan para sobat moderator disini, tetapi diluar bimbingan beliau2 ini tidak boleh berantem/main kekerasan.
..................................................................................
@ Kang Java
Kalau ku baca tulisan rekan-rekan diatas, di PS saya sangat setuju bahwa kecepatanlah yang paling utama.
Terbukti dengan tulisan kang Java yang ngebahas timing yang tepat.
Timing = waktu = jarak di bagi kecepatan = m : m/s = s
ndak ada tuh kata kekuatan ?
Bagaimana pendapat anda?
salam persaudaraan
Agungp
...........................................
kecepatan 13 m/s gimana caranya?
-
Sebaiknya STPDN tetap di teruskan, dan mahasiswanya wajib belajar kekerasan/main pikul di bawah bimbingan orang2 seperti Ki Sawung ataupun kang Java dan para sobat moderator disini, tetapi diluar bimbingan beliau2 ini tidak boleh berantem/main kekerasan.
Setuju agar di STPDN diajarkan materi kuliah bela diri dalam konteks pembentukan karakter yang sportif, berjiwa satria dan taqwa kepada Tuhan.
pelatihnya ya Kisawung dan Senior-senior lain. Saya mah belum level.
Kalau ku baca tulisan rekan-rekan diatas, di PS saya sangat setuju bahwa kecepatanlah yang paling utama.
Terbukti dengan tulisan kang Java yang ngebahas timing yang tepat.
Kecepatan dan kekuatan mestinya harus dikuasai secara proporsional. Dalam hal ini saya sependapat dengan kang Eric.
Timing tepat hanya bisa dimanfaatkan oleh praktisi bela diri yg sudah menguasai kecepatan dan kekuatan dg baik.
Tetap semangat. [top]
-
Kecepatan vs Kekauatan,
apabila berhadapan dua orang pesilat (pertandingan bebas bukan kejuaraan), dengan asumsi :
1. tingkat keahliannya setingkat;
2. umur sama atau selisih 1-2 tahun;
3. dari perguruan yang sama;
4. intelejensia sama.
nah, pesilat A punya kelebihan pada KEKUATAN sedangkan pesilat B kelebihannya pada KECEPATAN. saya cuma curious to know dalam kondisi itu, apakah:
-pesilat A yang menang?
-atau pesilat B yang menang?
-atau draw/seri?
-
Coba anda bayangkan orang usia 17 sd. 21 th. tidak tahu teknik beladiri, dan mau/bernafsu mukul orang lain. sedangkan orang yg bawah kekuasaanya dan yg di pukul tidal melawan.
Jikalau yg dipukul sudah siap dalam arti melakukan persiapan dulu dan berlatih fisik seperti yg diajarkan di ABRI tntu lain ceritanya.
IPDN, pendahulunya STPDN pernah menggelar kejuaraan silat antar mahasiswa se Jawa Barat (Saya pernah ikut). Seingat saya disana ada unit kegiatan pencak silat, cuma dari perguruan mana saya lupa.
Waktu melihat tayangan pemukulan STPDN di TV, saya koq punya kesan bahwa pelakunya minimal pernah belajar beladiri. Tendangan yang keluar mirip2 tendangan samping (T) dan tendangan kedalam (sabit) yang banyak kita kenal. Pukulannya perutnyapun mirip mae geri.
Buat saya ini kasus klasik dimana kekuasaan dan kemampuan yang tidak terkontrol akan terkorupsi menjadi kekerasan terhadap mereka yang lemah... :-[
-
nah, pesilat A punya kelebihan pada KEKUATAN sedangkan pesilat B kelebihannya pada KECEPATAN. saya cuma curious to know dalam kondisi itu, apakah:
-pesilat A yang menang?
-atau pesilat B yang menang?
-atau draw/seri?
Salam..
Kalo menurut pengetahuan/pengalaman saya yg masih tergolong cetek, skenario ini susah utk menentukan siapa yg bakal menang. Soalnya kalo spt. yg Bang Rasyid tulis diatas..bisa juga faktor stamina sangat berperan.
Misalnya pesilat A yg kuat mukul/nyerang gak kena-2x bakalan capek.
Misalnya pesilat B yg ngeles melulu biar gak kena pukul/tendang si A pasti lama-2x juga bakalan capek.
Akhirnya dua-2xnya bilang Ah udah ah capek ..akhirnya seri ?? ;D.
Tapi bisa juga pesilat A kena pukul/tendang pesilat B berkali-2x tetap sehat walafiat gara-2x dia kuat.
Pesilat B sekali kena langsung keok.
Bisa juga pesilat B saking cepetnya pas pesilat A baru mo nyerang, pesilat Bnya udah nyerang titik-2x lemah lawan spt. persendian.
Saya jadi bingung sendiri... :'( Kali seri ya..gantian menangnya ??
Salam,
Faiz
-
salam..
contoh bagus..
film fearless jet li.. yg jetli tarung sama orang kuat di panggung tinggi.. kemarin pas tahun baru nonton di SCTV ;D
kesimpulannya dari situ yang menang.. tokoh utama .. :o (ga nyambung [lucu])
-
nyambung mas, tokoh utama nya kan jet li, apa itu artinya kecepatan yang menang? tapi pertarungan itu dari dua aliran silat yang beda, tentunya ada faktor penentu kemenangan lain yaitu jurus pamungkas.
saya sengaja membuat asumsi dari satu perguruan yang sama, ini untuk menghindari friksi soalnya kalo beda aliran kan ada aliran yang mengutamakan kekuatan dan ada aliran yang mengandalkan kecepatan sebagai ciri khasnya.
kalo saya lebih cenderung yang cepat yang menang. bukankah dalam pertarungan tidak asal pukul dan tendang, tentu ada tehnik2 untuk mengunci musuh (waduh... sok tau amat gue....). nah, dalam kondisi ini kalo emang asal pukul dan tendang ya jelas aja yang kuat lebih tahan dan yang cepat jadi capek sendiri.
lanjut donk mas-mas pendekar dan para sesepuh...
-
kalo saya lebih cenderung yang cepat yang menang. bukankah dalam pertarungan tidak asal pukul dan tendang, tentu ada tehnik2 untuk mengunci musuh (waduh... sok tau amat gue....). nah, dalam kondisi ini kalo emang asal pukul dan tendang ya jelas aja yang kuat lebih tahan dan yang cepat jadi capek sendiri.
lanjut donk mas-mas pendekar dan para sesepuh...
Salam..saya ikutan ya walo bukan pendekar ato sepuh :-[
Bang saya pernah liat pertandingan Silat di reality show dimana orang Item Amerika gede lawan orang Indonesia yg relatif lebih kecil badannya (Orang Indonesianya utk ukuran Indonesia lumayan gede tapi dibanding orang Amerikanya lebih kecil soalnya orang Amriknya 2 meter tingginya dan beratnya 100kg'an gitu).
Yang pertama saya liat di acara reality show. Kalo dari segi pengalaman, tekhnik, dan kecepatan keliatannya pesilat Indonesianya lebih unggul. Si orang Amerikanya cuman menang gede aja, belajar Silatnya baru kira-2x seminggu intensif.
Pas diadu, si orang Amerikanya cuman ngandelin fisik aja dan dia maju terus. Pesilat INAnya bagus tekhninya. Cuman giliran dipepet terus gampang kebanting ama pesilat Amriknya yg gede. Terus giliran kena pukulan si orang Amriknya, pesilat INAnya sampe mundur saking gedenya power itu orang. Akhirnya orang Amriknya menang angka (kali bantingan lebih tinggi ya nilainya ??)
Kalo saya pikir-2x pesilat INA-nya karena badannya gede, terbiasa mengandalkan kekuatan. Biasanya kali lawannya lebih kecil ato sepantar. Jadi pas lawan yg lebih gede dan kuat enggak merubah taktiknya kearah mengandalkan kecepatan ?? Mungkin gak ya gitu ?
Salam,
Faiz
-
Kalo saya pikir-2x pesilat INA-nya karena badannya gede, terbiasa mengandalkan kekuatan. Biasanya kali lawannya lebih kecil ato sepantar. Jadi pas lawan yg lebih gede dan kuat enggak merubah taktiknya kearah mengandalkan kecepatan ?? Mungkin gak ya gitu ?
@mas Godam
Khan bang Rasyid sudah kasih batasan; tingkat, umur, perguruan, kemampuan otak sama dan tdk dlm konteks pertandingan. Bedanya cuma yg satu kecepatannya lebih baik sedangkan pihak lain kekuatannya lebih besar.
Nah mana yg menang?
Kalau sudah beda perguruan apalagi beda fisik, ya gak relevan dg pertanyaan bang Rasyid. He...he...he....
-
Kalau berantemnya pake senjata tajam, yang cepat menang.
Kalau tangan kosong, tergantung akurasi. Kalau akurasi tinggi, yang cepat menang karena bisa langsung menyerang kearah sasaran vital. Kalau akurasi cuma rata-rata, yang kuat menang karena lebih tahan pukul.
Tapi saya jadi ingat filem koboy Unforgiven. Disini si Sherif (Gene Hackman) waktu ditanya wartawan tentang rahasianya memenangkan duel tembak, menjawab
' bukan kecepatan atau ketepatan. Yang terpenting adalah..... nyali '
(dialog persisnya lupa)
-
@mas Godam
Khan bang Rasyid sudah kasih batasan; tingkat, umur, perguruan, kemampuan otak sama dan tdk dlm konteks pertandingan. Bedanya cuma yg satu kecepatannya lebih baik sedangkan pihak lain kekuatannya lebih besar.
Nah mana yg menang?
@Mas Java oh saya kelewat baca ttg. kriteria tidak dalam pertandingan, saya kira dalam konteks pertandingan juga..maaf Bang Rasyid.
Berarti kembali kejawaban saya yg awal yaitu seri kali ato kurang tau juga ya saya orang baru?! :)
-
Berarti kembali kejawaban saya yg awal yaitu seri kali ato kurang tau juga ya saya orang baru?! :)
@mas Godam buka orang baru tapi identitas baru.
Ikutan program witness protection ya, kok ganti identitas? :D
-
Kalo saya pikir-2x pesilat INA-nya karena badannya gede, terbiasa mengandalkan kekuatan. Biasanya kali lawannya lebih kecil ato sepantar. Jadi pas lawan yg lebih gede dan kuat enggak merubah taktiknya kearah mengandalkan kecepatan ?? Mungkin gak ya gitu ?
Salam,
Faiz
salam..
bisa jadi mas.. soalnya merubah pola permainan ga gampang , khususnya untuk pola seperti IPSI, tapi kalo polanya tidak berdasar ukuran badan, tetapi efektifitas serangan, harusnya yg latihan lebih matenglah yg menang...
maksudnya efektifitas serangan, sesuai pancer, jarak, posisi dan arah serangan.. gitu kali mas..
salam hormat
-
8) he he he ...
ayo kembali latihan lagi, teori tanpa latihan cuman jago di kertas doank :w
-
betul..
btw gmn sih..? katanya mau latihan gabungan di Bandung pas tahun baruan.. ko ga ada yg dateng ya..? :o
-
iya tiket juga gak di kirim ke jerman :). Ayo latihan, latihan dan latihan :).
jnagn ngetik melulu ;D
-
maaf karena tidak ada dana, jadi tiket engak bisa kebeli :)
masalah tahun baruan kemarin padahal saya di bandung juga loh :P cuman emang kumpul sama keluarga jadi engak sempat kemana mana :P
jadi kapan atuh ?
-
Kapan ya... Summer nanti kayaknya saya akan ke tanah air. Kalau ada waktu mau main ke Bandung dan ke Padepokan di TMII (kebetulan mertua saya tinggal di Cibubur, jadi gak jauh :) ).
-
Urun ya? Pengalaman saya tidak banyak, jadi mohon masukkannya. Kayaknya
saya cuma menyarikan yang sudah didiskusikan di sini.
Saya melihat ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam membentuk
keterampilan bertarung yang baik, yaitu kecepatan, kekuatan dan ketepatan
(baik dari sisi waktu -timing- maupun sasaran -presisi-).
Karena manusia memiliki karakter yang berbeda, maka tiap orang bisa
mengembangkan pola bertarung yang berbeda pula dengan memanfaatkan
kelebihan masing-masing.
Sebagai dasar pemikiran, otot manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu serabut
putih dan serabut merah. Kedua otot ini memiliki sifat yang berbeda. Serabut
putih adalah otot yang cepat sekali bereaksi, namun cepat pula lelah.
Sedangkan serabut merah adalah otot yang lamban dalam bereaksi namun
memiliki ketahanan yang lebih lama. Manusia memiliki porsi serabut putih dan
merah yang berbeda satu sama lain, yang ditentukan oleh faktor keturunan
(genetis).
Seorang yang ototnya dominan serabut putih biasanya sangat tangkas, gesit
dan cepat, sedangkan orang yang ototnya dominan serabut merah cenderung
lebih lamban, namun sangat kuat dan memiliki daya tahan yang hebat. Kalau di
luar bela diri, orang-orang yang dominan serabut putih biasanya adalah para
juara sprint, sedangkan orang-orang yang dominan serabut merah biasanya
adalah para juara marathon.
Komposisi otot ini menentukan pula gaya bertarung seseorang. Orang yang
dominan serabut putih akan cocok dengan gaya bertarung yang mengandalkan
kecepatan dan ketangkasan, sedang orang yang dominan serabut merah akan
lebih menyukai gaya yang lamban dan beradu kekuatan.
-
Biasanya setelah berlatih beberapa lama, seseorang akan menemukan
kecocokannya. Misalnya seorang serabut merah setelah berlatih tae-kwon-do
selama bertahun-tahun akan merasa tubuhnya tidak bisa optimal lalu akhirnya
memilih bela diri lain yang lebih cocok, katakanlah gulat. Demikian pula orang
serabut putih akan memilih sebaliknya. Tentu saja ini adalah contoh yang
ekstrim, karena setiap orang memiliki kemampuan untuk bisa cepat dan kuat
sampai batasan tertentu, tergantung komposisi ototnya.
Jadi ketika kita dihadapkan pada pertanyaan, mana yang lebih penting,
kecepatan atau kekuatan? Jawaban sederhananya adalah tergantung masing-
masing individu. Seorang yang serabut putihnya dominan sebaiknya
mementingkan kecepatan dan berlatih kekuatan seperlunya, dan orang dominan
serabut merah melakukan kebalikannya.
Lalu siapa yang akan unggul?
Tidak bisa dipastikan.
Seroang petarung yang baik akhirnya akan mengembangkan strategi yang
sesuai dengan kekuatan dan kelemahannya. Pada akhirnya, yang menentukan
adalah kepandaian seorang petarung untuk bisa mengeksploitasi kekuatannya
terhadap lawan, dan melindungi kelemahannya sendiri dari strategi lawan. Orang
yang pertama bisa memasukkan serangan mematikan ke lawan, dialah yang
menang. Bisa jadi si cepat, bisa pula si kuat.
Yang jelas, dia pastilah si tepat. :)
-
mas antara...
GRP sudah saya kirimkan, informasinya sangat bermanfaat makasih....
-
@mas Antara
GRP juga buat sampeyan. Ulasannya bagus meski harus dikonfirmasi ke pakar anatomi ttg serabut merah dan putihnya. Bagaimanapun ilustrasi tsb bagus sekali.
-
Komposisi otot ini menentukan pula gaya bertarung seseorang. Orang yang
dominan serabut putih akan cocok dengan gaya bertarung yang mengandalkan
kecepatan dan ketangkasan, sedang orang yang dominan serabut merah akan
lebih menyukai gaya yang lamban dan beradu kekuatan.
Maaf mas Antara, aku kok sedikit rancu dengan istilah kekuatan (power) vs stamina (endurance) pada uraian anda tentang serabut merah otot. ???
Wassalam.
TP
-
Wah, terima kasih atas kemurahan hatinya. :)
Ijinkan saya tambahkan sedikit untuk Mas Java.
Dua tipe otot ini saya baca dari beberapa artikel dan buku fisiologi. Moga-moga
bisa saya cuplik sedikit (saya bukan dari latar belakang kedokteran, jadi istilah
yang sulit saya juga tidak mengerti)
Serabut otot merah adalah otot yang ditandai dengan pembuluh darah yang
besar dan memiliki kandungan protein pembawa oksigen yang tinggi. Tingkat
mitokondria-nya juga lebih tinggi (mitokondria adalah bagian dari sel yang
berfungsi sebagai penyuplai energi). Serabut tipe ini melepaskan energi dengan
cara sintesis kimia yang relatif panjang sehingga kemampuan berkontraksinya
lamban, namun memiliki cadangan energi yang besar.
Serabut otot putih memiliki kandungan mitokondria yang lebih rendah, namun
memiliki kemampuan untuk memecah protein menjadi energi secara lebih cepat.
Otot ini juga memiliki kemampuan untuk mentransfer informasi melalui proses
elektrokimia secara cepat, sehingga isyarat dari syaraf bisa berjalan dan
diterima otot dalam waktu sangat singkat. Kombinasi ini menyebabkan serabut
otot putih sangat tanggap bila ada perintah dari otak, dan cepat meledakkan
energi.
Jadi kedua otot tersebut memang sudah merupakan klasifikasi yang umum
diketahui di kalangan anatomi.
-
Komposisi otot ini menentukan pula gaya bertarung seseorang. Orang yang
dominan serabut putih akan cocok dengan gaya bertarung yang mengandalkan
kecepatan dan ketangkasan, sedang orang yang dominan serabut merah akan
lebih menyukai gaya yang lamban dan beradu kekuatan.
Maaf mas Antara, aku kok sedikit rancu dengan istilah kekuatan (power) vs stamina (endurance) pada uraian anda tentang serabut merah otot. ???
Wassalam.
TP
Contoh di atas memang agak rancu, karena istilah ketahanan bila dihubungkan dengan
marathon bisa disalahartikan dengan stamina (endurance). Maaf.
Ketahanan yang dimaksud di sini adalah kemampuan otot untuk melakukan kontraksi
secara terus menerus dalam waktu lama, bukan ketahanan stamina yang berhubungan
dengan kapasitas jantung dan paru-paru.
Mungkin contoh yang lebih baik,
Asumsikan ada dua orang yang identik segala sesuatunya, kecuali bahwa yang satu
dominan serabut otot putih dan yang satu lagi dominan serabut otot merah.
Minta kedua orang ini untuk memegang segelas air, meluruskan tangan yang
memegang air tersebut ke depan, dan menahannya selama mungkin. Orang yang
dominan serabut otot putih akan lebih dulu gemetar dan kelelahan.
Percobaan lain, minta kepada kedua orang itu untuk melakukan push up. Orang
berserabut otot putih akan mencetak skor tinggi dalam jumlah push up per-menit, tapi
orang berserabut otot merah akan mencapai total push-up terbanyak.
Power adalah kekuatan (force) dibagi dengan waktu, berbeda dengan kekuatan yang
hanya mengukur daya-nya saja.
Semoga bisa menjelaskan lebih baik.
-
Saya juga ikutan GRP buat Mas Antara,
Ngomong-omong latar belakangnya apa Mas, olahraga ya?
Terimakasih untuk keterangannya. Bener khan ini, artinya dapat dikutip dan gak salah infonya?
Salam hangat
Ranggalana
-
Terima kasih, Mas Ranggalana. salam kenal.
Saya bukan dari jurusan olahraga, cuma suka berolahraga dan untuk itu suka
pula mencari-cari informasi seputar olahraga. Takut kalau salah olahraga bisa
berakibat buruk ke badan.
Informasi tentang jenis otot ini Insya Allah bisa dijadikan rujukan, saya peroleh
dari sumber yang terpercaya yang memiliki otoritas di bidang olahraga dan
kesehatan.
Salah satu buku yang membahas masalah ini misalnya yang ini (http://www.amazon.com/Exercise-Your-Muscle-Type-Smart/dp/1591200660/ref=sr_1_3/105-1649002-2817215?ie=UTF8&s=books&qid=1199707233&sr=1-3).
... atau tadi saya googling sebentar sekedar mencari kalau ada bahan gratis
di internet, saya temukan laman ini (http://www.athletes.com/fun/drobson33.htm). Semoga cukup kuat untuk bisa dikutip.
Maaf saya tidak sempat terjemahkan... disamping Bahasa Inggris saya yang
tidak bisa dibanggakan, melihat postingan Mas Ranggalana di thread lain, jelas
Mas Ranggalana tidak memerlukan penerjemah. :)
-
@mas antara..
yg jago bhs inggrisnya kan cm mas bram.. lah kita2 ini gmn? ;D
salam kenal mas.. [top]
-
@mas Antara
Mantep tenan. [top]
Ada sedikit pertanyaan;
bukankan power = kekuatan x waktu? , dengan asumsi kekuatan adalah massa.
Mohon pencerahan lebih lanjut mas.
-
Waduh, kalau menggunakan persamaan standar fisika, saya harus menyerah
secara jujur. :-X
Istilah power di sini saya gunakan secara bebas sebagai gambaran dari sebuah
tenaga yang dilepaskan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kira-kira
persamaannya bagaimana ya?
Dasar pemikirannya adalah manusia bergerak dengan cara mengontraksikan otot-
otot yang diperlukan. Nah, seseorang dapat bergerak cepat apabila dia dapat
merekrut semua otot yang dia butuhkan untuk bergerak dalam waktu secepat
mungkin.
Misalnya, sebuah gerakan memukul lurus ke depan yang kelihatannya sederhana
sebenarnya adalah kerja berurutan otot bahu bagian depan (frontal deltoid),
lengan belakang (triceps brachii) dan pergelangan atas (exstensor carpi).
Kecepatan diperoleh bila seseorang bisa mengontraksi ketiga otot tersebut
secepat mungkin.
Untuk mengontraksikan otot diperlukan tenaga. Nah, di sini yang saya maksud
sebagai tenaga dibagi waktu. Katakanlah dua orang mengeluarkan tenaga yang
sama untuk menggerakan ketiga otot di atas. Bila orang pertama butuh waktu
satu detik, dan orang kedua butuh waktu dua detik, menurut fisika orang kedua
lebih menghasilkan power, tapi menurut olahraga plyometrics, orang pertama
pukulannya lebih bertenaga (powerful).
Ada yang bisa menjelaskan secara lebih fisikawi? Ini bukan bidang saya sih... :-\
-
Tambahan sedikit, tidak sengaja menyebut plyometrics.
Plyometrics adalah pola latihan dalam olahraga yang bertujuan untuk menghasilkan
gerakan yang cepat dan eksplosif. Dengan berlatih menurut pola ini seorang
atlit bisa melompat lebih tinggi, berlari lebih cepat atau memukul lebih keras.
Contoh plyometrics dalam bela diri adalah latihan push-up yang diselingi tepuk
tangan dua kali di udara atau scott-jump sambil menendang.
-
Mas Antara emang T.O.P. [top]
Bila berkenan, aku usul agar bahasan mengenai plyometric dan aplikasinya dalam beladiri menjadi topik sendiri. Aku yakin hal ini akan menjadi rujukan yang bermanfaat buat pembinaan atlit silat kita.
Wassalam,
TP
-
Salam sejahtera,
selain daripada kekuatan & kecepatan, pernafasan(stamina) juga cukup penting dalam silat. Kekuatan & kecepatan akan menjadi lemah kalau stamina enggak cukup.
[top]
-
Mas Antara emang T.O.P. [top]
Bila berkenan, aku usul agar bahasan mengenai plyometric dan aplikasinya dalam beladiri menjadi topik sendiri. Aku yakin hal ini akan menjadi rujukan yang bermanfaat buat pembinaan atlit silat kita.
Wassalam,
TP
Jadi malu... x-))
Umumnya perguruan sudah melakukan latihan plyometrics, hanya saja mereka punya
nama masing-masing. Ini toh cuma klasifikasi ilmu pengetahuan modern terhadap praktik
yang banyak dilakukan di dunia olahraga.
Saya percaya tiap perguruan pasti punya metode dan kebijaksanaan masing-masing,
kita para murid tinggal mengikuti dengan tekun kurikulum yang ada di perguruan saja.
-
Numpang nanya nih...untuk usia muda mungkin untuk menambah kekuatan dan kecepatan relatif lebih mudah, tapi dengan bertambahnya usia, orang akan semakin tua dan kekuatan dan kecepatan fisik akan menurun. Apakah ada teknik khusus untuk mempertahankan atau menambah kondisi tersebut....?
-
... tapi dengan bertambahnya usia, orang akan semakin tua dan kekuatan dan kecepatan fisik akan menurun. Apakah ada teknik khusus untuk mempertahankan atau menambah kondisi tersebut....?
@mas Herma
Mohon maaf sebelumnya kalau saya sedikit beda pendapat dg sampeyan.
Asumsi bahwa semakin tua atau bertambahnya usia seseorang berdampak kecepatan dan kekuatan fisik akan menurun tidak sepenuhnya benar.
Ada beberapa pesilat yang usianya puluhan tahun di atas saya namun memiliki kecepatan dan kekuatan nyaris dua kali dari yang saya miliki. Entahlah kalau saya tergolong "idiot jalem" - idih otot-otot jadi lemah ;D
Meski umur sudah diatas 50 bahkan 60 tahun namun beliau-beliau benar-benar memiliki kecepatan dan kekuatan nggegirisi! Buktinya; saya tendangin, saya gebukin, saya serang secepat saya mampu, ternyata semua sia-sia.
Beliau hanya mengangsurkan sebelah lengan dan saya bebas menendang dengan punggung kaki selama dan sekeras saya mau! Hasilnya, kaki saya makin lama terasa makin panas, padahal tangan beliau terasa lunak seperti karet...... ;D
Punggungnya saya tendang sekuat saya, hasilnya sami mawon!
Saya dorong pakai toya sedangkan beliau hanya tahan dengan satu jari sampai toya melengkung disekeliling badan beliau, hasilnya hasil saya terlempar bahkan seorang kawan lain toyanya patah jadi dua bagian? ;D
Semua bukan sulap, bukan sihir tapi murni hasil ketekunan berlatih silat berpuluh tahun. :D
Caranya....ya latihan yang benar he...he...he....
-
Benar Mas Herman! Saya juga pernah merasai jari Sang Pendekar yang Mas Java ceritakan.
Suatu hari, saya diuji beliau. Saya disuruh memukul sekuat tenaga saya, dengan tenaga dalam penuh, dengan pukulan yang paling kuat yang saya mampu. Begitu saya lakukan, pukulan saya dipapas dengan jari kelingking beliau. Ya, JARI KELINGKING! Wuih... Rasanya jangan ditanya.... Sakitnya kiut miut sampe rasanya ke ubun-ubun tembus! :'(
Ini wejangan Beliau sewaktu saya meringis kesakitan:
Lho... Lak mestine jenthikku sing cuklek ngelawan pendetamu. Nek sampe pendeta ne sing kalah, mesti ono sing kliru. Nah, mesti digoleki klirune nang ndi. Wis, latihan maneh!
(Lho... Harusnya kelingkingku yang patah melawan pendetamu. Kalau sampai pendeta yang kalah, pasti ada yang salah. Nah, harus dicari di mana kesalahannya. Sudah, latihan lagi!)
Ket: pukulan pendeta = pukulan lurus ke depan dengan tangan mengepal, menggunakan buku-buku jari sebagai titik pusat pukulan.
Gara-gara kejadian itu, saya makin semangat melatih ilmu yang Beliau turunkan kepada saya. Kuncinya memang satu: LATIHAN dan terus LATIHAN!
Salam...
-
ayo latihan yang rajin,
engak ada yang bisa kita kuasai tanpa latihan (kecuali mungkin pake isian) :P
-
... tapi dengan bertambahnya usia, orang akan semakin tua dan kekuatan dan kecepatan fisik akan menurun. Apakah ada teknik khusus untuk mempertahankan atau menambah kondisi tersebut....?
@mas Herman
Mohon maaf sebelumnya kalau saya sedikit beda pendapat dg sampeyan.
Asumsi bahwa semakin tua atau bertambahnya usia seseorang berdampak kecepatan dan kekuatan fisik akan menurun tidak sepenuhnya benar.
[/quote]
@Kang herman, anda bener kang, kaya saya nih udah umur segini baru mau belajar, tulang dah pada kaku, otot dah pada lemah....otak udah lemot, gimana ya??? tolong....
@mas java, anda bener banget mas,[top] [top] [top]
salam
-
Mas Herman memang pinter memberi semangat agar tetap sregep latihan. Dengan sedikit sentilan pesilat balung tuo langsung angkat bicara he....he...he....
-
@all
jadi pada dasarnya semua tergantung jam terbang ya mas :P
engak muda engak tua yang penting siapa yang berlatih keras dan smart maka akan mendapatkan hasil yang terbaik.
meski memang perlu diakui rotan selagi muda mudah di benggokkan, kalau sudah tua dibengkokkan malah patah
-
Kalo di Aceh rotan muda dibakar bisa jadi sayur. Sedang di Jawa rotan tua yg dibakar bisa jadi kerangka atap becak. ;D
-
Jadi kesimpulannya, kalau sudah tua, tulang / otot mesti di pangggang / bakar dulu sebelum dibengkok-bengkokkan :)).
Salam dr yg lagi rajin memanggang tulang / otot tua karena baca forum sahabat silat :D.
Chandrasa
-
memang sahabatsilat top markotop deh [top]
bikin yang males latihan rajin latihan lagi, yang belum belajar silat jadi pengen belajar silat dan yang belum kenal silat jadi pengen tahu silat itu seperti apa.
semoga sahabatsilat tetap mejadi media referesi dan diskusi silat yang top markotop x-))
-
Jadi kesimpulannya, kalau sudah tua, tulang / otot mesti di pangggang / bakar dulu sebelum dibengkok-bengkokkan :)).
Salam dr yg lagi rajin memanggang tulang / otot tua karena baca forum sahabat silat :D.
Chandrasa
ampun, mas...ampun...saya jangan dibakar apalagi dibengkokin...udah bengkok nih.
iya deh, saya mau belajar.
kang kiki, ajarin dong...mas bram, mas java [top] [top] [top]
yang mau belajar
-
Semalem latihan ampe ampir jam 24.00 wib, mujur bisa begebrak ama Senior, hasilnya ancur abis. Ayam jago kesayangan orang rumah hampir ringsek bolak-balik nyaris kena sentil "Senior" balung tuo. Padahal sudah pakai segala cara (halal & tidak halal) untuk ngeles tapi tetap aja gak selamet. Memang terbukti balung tuo Senior bakarannya lebih mateng! [top]
-
waduh ternyata mas java hebat ya masih sering latihan malam,
sepertinya kegilaan sahabatsilat disini sama semua, seperti di gedung hidro kadang mereka engak pada tidur sampe subuk bersilat terus engak ada habis habisnya :P
-
Memang pecandu forum sahabat silat rata-rata "gila" beneran sama silat.
Tuh... di posting ss khan banyak kelihatan indikasinya. :D :D
-
ck ck ck hebat bener nih seperti cerita jaman dulu bisa seperti itu, itu nggak pake aji-aji brajamusti atau lebur saketi ya kang hehehe
Gimana nih caranya biar bisa begitu ya, tolong donk para senior ceritain rahasianye, selama ini hampir tiap hari saya juga latihan sampe dicemberutin sama istri dan diledek sama anak, yah Bapak latian tiap hari bisa cuma begitu-begitu aja hehe
-
Rahasianya gak ada kang, yaitu tadi cuman latihan teratur saja, tiap hari paling tidak 30 menit.
Saya sendiri juga latihannya masih bolong2 nih, makanya tidak sakti sakti [lucu]
Salam
Chandrasa
-
Salam silat buat semua,
Latihan minggu lalu memberi pelajaran berharga sekaligus pahit.
Saat itu saya melancarkan tendangan samping yg yakin tidak akan bisa dihindari kawan berlatih. Kawan sadar takkan sempat menghindar sehingga dia putuskan menutup tendangan ditengah jalan dg dua telapak tangan kearah bawah dilanjut counter perut/ badan kearah datangnya serangan.
Begitu tendangan di counter badan bukannya melingkar atau menarik kaki dg susulan serangan justru saya memperkuat kuda-kuda tumpuan! Itulah kesalahan yg fatal. Posisi badan yg menendang tetap tegak karena kuda-kuda kokoh tapi otot lutut sebelah dalam tidak mampu menahan dua kekuatan yg saling bertolak belakang. Otot tertarik dg keras searah dorongan counter sehingga timbul rasa nyeri lumayan.
Pelajaran dari kejadian itu; dalam kondisi terjepit kekuatan bisa dikalahkan oleh kecepatan.
Mungkin ada pengalaman dari saudara-saudara yg lain?
salam,
-
Semoga cepet sembuh mas...saya juga ada pengalaman pahit kemaren jum'at latihan, waktu waktu latihan mau selesai iseng-iseng latih tanding dengan temen. Karena kurang konsen kaki kiri tertangkap tangan dan dengan cepat kaki kanan berputar menedang melingkar akhirnya kaki kiri lepas dari tangkapan temen. Tapi apesnya kaki kanan karena terlalu keras menendang akhirnya mendarat di konblog dengan kerasnya tepat diujung kaki bukan telapak, hasilnya bisa ditebak kaki ancur total langsung hitam legam, sudah dibawa ke cimande alhamdulillah tulang gak papa tapi menyisakan bengkak dan biru-biru. Jadi ternyata kaki belum kuat melawan konblog hehehe
-
@mas Herman
Terima kasih atas atensinya.
Memang saya masih sering menurutkan "ego" dari pada menurut ajaran Guru atau saya yg lemot hingga kurang mampu menyerap pelajaran silat? :D
Berulang kali saya diingatkan agar rajin berlatih karena pelajaran silat menuntut otak yg encer disamping ketekunan berlatih.
Toh nasehat itu kurang diacuhkan. :'(
-
sepertinya kegilaan sahabatsilat disini sama semua, seperti di gedung hidro kadang mereka engak pada tidur sampe subuh bersilat terus engak ada habis habisnya :P
hehe...gila silat mah masih mending nah kalo jadi gila beneran???
di hydro emang tempat penggodokan kekuatan dan kecepatan : kuat begadang dan cepet ngos2an, hahaha...
nah kalo bersilat terus sampe subuh, apa ga gila tuh???
ampuuun....
-
......Tapi apesnya kaki kanan karena terlalu keras menendang akhirnya mendarat di konblog dengan kerasnya tepat diujung kaki bukan telapak, hasilnya bisa ditebak kaki ancur total langsung hitam legam, sudah dibawa ke cimande alhamdulillah tulang gak papa tapi menyisakan bengkak dan biru-biru....
saya juga pernah ngalamin mas...eh guru salah malah bilang "ah eta mah jauh ti peujit (ah itu sih jauh dari usus..) sampe sekarang kadang kata-kata itu saya pake ngelatih, biar yang dilatih gak terlalu konsen ke itu lebam...padahal kita tau kalo itu sakitnya waaaw.... :'(
menurut saya ketepatan mengenai sasaran jauh lebih penting dari pada kekuatan dan kecepatan...
salam,
one
BBM (baru belajar maenpo)
-
menurut saya ketepatan mengenai sasaran jauh lebih penting dari pada kekuatan dan kecepatan...
[/quote]
Apesnya...yang jadi sasaran ga bisa diem...nge-les terus menghindar...alias gesit.. :w
Kalo saya sih semuanya sama penting ga bisa dipisahin kayak dua mata koin...Tepat,Cepat,Kuat,Akurat,Cermat,Sempat......
"empat kali empat enam belas sempat gak sempat tidak terbalas" [lucu] [lucu]
Salam...Maung Kaduhung
-
yee...orang dibilang tepat.. ;D
cepet gimana juga kalo mukulnya salah sasaran ???, gesit gimanapun kalo yang mukulnya tepat...? kadang cepet bisa dipapas pake pelan tapi tepat, atou sebaliknya...kalo kuat tapi gak tepat mulu juga susah..he he he ;D mending mah tepat aja.....
salam,
one
-
Assalamu 'alaikum,
Berlatih silat menurut saya berlatih mencapai tujuan secara tepat guna (efisien) dan tepat sasaran (efektif) dengan modal kekuatan dan kecepatan. Jadi kalau diadu kecepatan vs kekuatan mana yg lebih penting, ya tergantung tujuan yang ingin dicapai kali yee... 8)
Wassalam,
TP
-
salam..
sebentar.. kalo saya bertanya gini gmn?
perlukah utnuk selalu memukul lawan dengan kekuatan maksimal untuk melumpuhkan/ mengalahkan lawan?
mohon bimbingannya
salam
-
perlukah utnuk selalu memukul lawan dengan kekuatan maksimal untuk melumpuhkan/ mengalahkan lawan?
salam
Salam Mas..
Apa kabar ?
Kalau menurut saya sih tergantung situasi dan kondisi ya ?
Kali kalo dalam keadaan kepepet ato kepaksa, mungkin perlu.
Misalnya lagi dirampok terus walau kita turutin perintah perampok tetep juga kita bakal disakiti.
Tapi kalo utk tanding ato berantem gara-2x pelotot-2xan aja, yg udah-2x suka timbul rasa penyesalan kalo gak mikir panjang.
Kalau pendekar silat ato pesilat yg skill-nya tinggi bisa menetralisir serangan lawan tanpa menyakiti dan dapat merubah niat penyerang.
Kalau kata orang-2x tua..Menyakiti lebih gampang daripada mengobati :'(
Wasalam,
Faiz
-
perlukah utnuk selalu memukul lawan dengan kekuatan maksimal untuk melumpuhkan/ mengalahkan lawan?
Saya rasa tidak perlu.
Tetapi untuk mencapai tahap ini ane juga belum bisa. (Mohon pencerahanya)Kecuali waktu latihan teman kita pasrah sehingga kalo udah posisi terkunci cuma perlu sedikit tenaga untuk melumpuhkan lawan sehigga tidak bisa bertarung lagi dan kita bisa meneruskan pertarungan selanjutnya
-
@ mas godam
baik mas.. alhamdulillah :) semoga mas faiz dan keluarga juga selalu dalam kondisi baik, sehat sejahtera..amin
begini .. maksud saya.. kita dalam konteks pertarungan.. dan memang punya niat untuk melumpuhkan/menyelesaikan pertarungan secepat mungkin.. bukan untuk menghindari atau mengamankan lawan..tapi benar2 menyelesaikan
disini lawan tidak pasrah.. tapi betul2 menyerang..
nah..
apakah teknik untuk melumpuhkan (misal memukul dengan kepalan/telapak/jari) kita harus selalu menggunakan kekuatan penuh?
salam
sunan
-
ikutan ya....
menurut saya melumpuhkan engak mesti pake tenaga atau kekuatan penuh, kita kan bisa memanfaatkan tenaga lawan.
teknik buangan juga efektif kok melumpuhkan lawan...
engak selalu dalam pertandingan menggunakan tenaga penuh, kadang setengah saja udah bisa mengontrol bergerakan lawan.
;D
-
mangga kang ;D
setuju sekali.. dengan teknik buangan tanpa tenaga penuh dan mengikuti tenaga lawan.. lawan bisa kita lumpuhkan..
ok.. biar lebih fokus..
apakah teknik memukul harus selalu menggunakan tenaga penuh? (contohnya pukulan lurus) untuk melumpuhkan lawan? disini kondisi lawan pasif/diam.. sehingga kita tidak bisa memanfaatkan tenaga lawan..
mohon pencerahan rekan2 sekali lagi..
terima kasih ya..
salam
sunan
-
Kalau kata orang-2x tua..Menyakiti lebih gampang daripada mengobati :'(
Setuju sekali mas Godam. Makanya hindari berkelahi baik secara fisik ataupun mental. Meski pihak lain menekan, memprovokasi bahkan mengancam, sebisa mungkin cari jalan damai, kalau perlu kitalah yg minta maaf meski bukan diri pribadi yg memulai suasana konvrontatif.
Bilamana tidak ada jalan damai serta keadaan "memaksa" maka silat perlu dilaksanakan sampai titik darah penghabisan.
Persoalannya tidak lagi sekedar kecepatan vs kekuatan tapi; siapa yg terkapar lebih dulu?
Peace man. :D
-
apakah teknik memukul harus selalu menggunakan tenaga penuh? (contohnya pukulan lurus) untuk melumpuhkan lawan? disini kondisi lawan pasif/diam.. sehingga kita tidak bisa memanfaatkan tenaga lawan..
Pertanyaannya adalah, apakah lawannya adalah lawan yang diketok dikit langsung KO, atau yang badannya kayak Badai Drajat yang tahan gebuk?
Kalo lawan saya, silakan situ pake tenaga sedikit saja mukulnya, insya allah saya nyerah dengan cepat. Kalo lawan Badai Drajat, mungkin Anda bahkan perlu memukulnya pake bemper Hummer 2 *ngiler liat poster Hummer*
-
apakah teknik memukul harus selalu menggunakan tenaga penuh? (contohnya pukulan lurus) untuk melumpuhkan lawan? disini kondisi lawan pasif/diam.. sehingga kita tidak bisa memanfaatkan tenaga lawan..
Salam Rekan-2x..
@Mas Sunan, kalo posisi lawan pasif rada sulit ya minjem tenaganya.
Kalo lawannya cunkring kayak saya sih lagi pasif digebok paling KO :)
Tapi kalo lawannya kuat kayak Hulk gitu digebokin lama-2x kan dia jadi marah..biasanya kalo marah jadi agressif. Nah disitu kita kali bisa pinjem tenaganya ?? ???
Ngomong-2x ttg. pinjem tenaga saya jadi inget waktu dulu.
Ada temen saya sparring. Dia dulu belajar silat Al Azhar. Pas ama wasitnya/gurunya disuruh mulai, lawannya temen saya itu langsung teriak "CIAAAAT" terus melakukan tendangan samping loncat ala Van Dam. Temen saya kaget, lah baru mulai lawannya langsung nyerang, sehingga tangannya temen saya itu dilurusin dua duanya maksud dia kali utk nutup mukanya dia biar gak kena. Dasar nasib sial lawannya, pas temen saya lurusin tangannya gitu rupanya kena muka lawannya. Lawannya langsung jatuh dan pusing. Momentum serangan loncatan dan tendangannya lawannya itu cuman dinetralisir dgn tangan lurus aja.
Satu kelas pada ketawa pas ngeliat ;D
Wasalam,
Faiz
-
@ Mas srdananjaya.
Masalah ane belum pernah berkelahi ;D ;D ;D.
Ane lanjut tentang kuncian , pada prakteknya emang susah dilakukan keccuali dia udah mendarah daging dengan kuncian tersebut.Apalagi kalau lengan teman kita lebih besar lengan kita, dan sebelum sampai titik kuncian dia lolos ane yakin pasti tuh teman kita lolos dan kita di gebuk balik, [lucu]
Kayaknya bagi pembelajar beladiri untuk tendangan maupun pukulan saya rasakan saat ini kalu pukul atau tendang masih tetap gunakan tenaga maksimal, Gimana ndak pakai tenaga maksimal lha wong lawan di tendang/di pukul maksimal aja masih tidak apa2, walalupun ada sedikit (lebh dari 100 mungkin 1 kali) karena pukulan maksimal tersebut ada yg sampai semaput/tdk sadarkan diri (bisa terasa 2 minggu sakitnya) ada yg harus dirawat.ane tidak tahu gimana cara ngontrolnya tenaga, sehingga bloking ataupun pukulan/tendangan memakai tenaga secukupnya .
-
Apalagi kalau lengan teman kita lebih besar lengan kita, dan sebelum sampai titik kuncian dia lolos ane yakin pasti tuh teman kita lolos dan kita di gebuk balik, [lucu]
@mas Agung
Setahu saya prinsip dasar kuncian tidak mengadu tenaga. Artinya ukuran phisik bukan patokan kuncian tidak sukses. Kalau masa badan jadi patokan kuncian ya sama artinya ngadu tenaga.
Kuncian lebih menitik beratkan pada tehnik yg ditujukan pada simpul/ titik lemah anatomi tubuh. Contoh dg sedikit tenaga kalau urat darah tepat dibalik lipatan telinga bagian bawah ditekan seorang Mike Tyson pun bakal kehilangan keseimbangan juga. :D
-
saya setuju Sama Mas Jawa.
Cuman masih susah sebelum benar kena titik kunciannya kalo kalah tenaga dan teknik ya lepas
-
saya setuju Sama Mas Jawa.
Cuman masih susah sebelum benar kena titik kunciannya kalo kalah tenaga dan teknik ya lepas
Makanya BJJ bisa sesumbar ilmunya ampuh, soalna sebelum masukin kuncian mereka bikin mati posisi lawan dulu, sehingga kuncian itu benar2 udah 'hadiah' pasrah dari lawan.
-
Waduh malah jadi binggung .
kalau musuh udah lemes ngapain di kunci lagi..
Ane pernah dengar anekdot dari para pelatih kalau udah guasain kuncian ini musuh setelah di kunci diapainya, apa di kunci terus, apa kunciannya di lepas terus di pukulin aja, atau kunciannya di teruskan, (wah malah bingung )
Mungkin solusinya ane pernah lihat seorang yg pekerjaanya satpam mempratekan kuncian. dia hanya pegang satu tangan musuhnya dan dia bisa digelendeng sambil berjalan.
-
salam..
mungkin yg dimaksud mas dasaman.. dirusak dulu posisinya/perlengkapan geraknya, atau dibuat lengah.. sehingga lebih mudah menguncinya
soal teknik memukul tanpa tenaga penuh.. mungkin temen2 dari aliran tradisional punya komentar lain..?
bang rasyid mungkin..atau kang kiki..?
terima kasih..
salam
sunan
-
wah, kalo masalah ini ane nyerah aja,
Kang Kiki is the right man, mas java ahlinya, bang faiz jagonya, mas agung dan mas sunan pakarnya
ane mau jadi murid yang baik,menyimak dan belajar dari para ahlinya..
salam
-
halah halah halah.. bang rasyid .. nyindir abis nih ;D
saya mah sumpah bukan pakar.. cm pemula yg pengen belajar aja.. mudah2an rekan2 ada yg mau berbagi.. :)
ok d..monggo dilanjut ..
salam hormat
sunan
-
Kang Kiki is the right man, mas java ahlinya, bang faiz jagonya, mas agung dan mas sunan pakarnya
salam
Bang Rasyid salah Faiz kali :)
Saya bukannya merendahkan diri menaikkan mutu..tapi emang masih status pemula Bang.
-
saya setuju Sama Mas Jawa.
Cuman masih susah sebelum benar kena titik kunciannya kalo kalah tenaga dan teknik ya lepas
Makanya BJJ bisa sesumbar ilmunya ampuh, soalna sebelum masukin kuncian mereka bikin mati posisi lawan dulu, sehingga kuncian itu benar2 udah 'hadiah' pasrah dari lawan.
Waduh malah jadi binggung .
kalau musuh udah lemes ngapain di kunci lagi..
Ane pernah dengar anekdot dari para pelatih kalau udah guasain kuncian ini musuh setelah di kunci diapainya, apa di kunci terus, apa kunciannya di lepas terus di pukulin aja, atau kunciannya di teruskan, (wah malah bingung )
Kalau yang saya pahami, cmiiw, kuncian itu sebenarnya adalah teknik patahan
yang tidak dilanjutkan. Gunanya untuk melumpuhkan seseorang, tapi tidak
melukainya secara serius. Teknik ini digunakan dan dikembangkan oleh penegak
hukum, atau untuk keperluan olahraga dan pertandingan.
Dalam kasus BJJ, kuncian adalah penerapan sport dari gaya berkelahi kuno yang
lugas. Di jaman dulu seorang ahli Jujutsu akan berusaha mencapai posisi superior
dibandingkan lawannya, yaitu posisi ketika dia relatif bebas bermanuver
sedangkan lawannya kesulitan untuk bergerak. Dalam posisi superior ini si ahli
Jujutsu dapat dengan mudah menerapkan teknik patahan/cekikan (yang
membunuh atau mencederai)tanpa bisa ditolak oleh lawannya. Jadi kuncian
adalah teknik menyelesaikan perkelahian (yang berakhir dengan tangan patah,
pingsan dan cedera-cedera serius lainnya).
Contoh posisi superior misalnya ketika kita sudah menempel di belakang
punggung lawan, atau menindih lawan (dengan berbagai variasi) sampai dia sulit
bergerak. Dalam hal ini Mas Dasaman lebih kompeten menyebutkan satu-satu...
-
"CIAAAAT" terus melakukan tendangan samping loncat ala Van Dam. Temen saya kaget, lah baru mulai lawannya langsung nyerang, sehingga tangannya temen saya itu dilurusin dua duanya maksud dia kali utk nutup mukanya dia biar gak kena. Dasar nasib sial lawannya, pas temen saya lurusin tangannya gitu rupanya kena muka lawannya. Lawannya langsung jatuh dan pusing. Momentum serangan
Nah, ini juga teknik low cost high yield lho. Bila dilakukan pada momen yang tepat, maka kedua tangan yang dijulurkan itu menjadi serangan yang juga pertahanan, karena akan terjadi incidental blocking.
Tapi kalo momennya gak tepat, itu mah minta mati...
-
Waduh malah jadi binggung .
kalau musuh udah lemes ngapain di kunci lagi..
Nah, di sini mas Agung salah mengerti. Musuh mati gerakan bukan berarti musuh sudah lemes, tapi hanya saja dia sudah mati gerak, tidak bisa meloloskan diri lagi. Anda coba pegang dan angkat kucing kecil dari tengkuknya, nah itu contoh mati gerak, tuh kucing mo meronta2 kayak apa juga sulit lepas, tapi jelas tidak lemas.
Dan yang benar, kalau musuh sudah lemas, bukan dikunci, tapi diinjak ramai2 bareng temen2.
Dalam kasus BJJ, kuncian adalah penerapan sport dari gaya berkelahi kuno yang
lugas. Di jaman dulu seorang ahli Jujutsu akan berusaha mencapai posisi superior
dibandingkan lawannya, yaitu posisi ketika dia relatif bebas bermanuver
sedangkan lawannya kesulitan untuk bergerak. Dalam posisi superior ini si ahli
Jujutsu dapat dengan mudah menerapkan teknik patahan/cekikan (yang
membunuh atau mencederai)tanpa bisa ditolak oleh lawannya. Jadi kuncian
adalah teknik menyelesaikan perkelahian (yang berakhir dengan tangan patah,
pingsan dan cedera-cedera serius lainnya).
Nah ini penjelasan yang bagus...
Contoh posisi superior misalnya ketika kita sudah menempel di belakang
punggung lawan, atau menindih lawan (dengan berbagai variasi) sampai dia sulit
bergerak. Dalam hal ini Mas Dasaman lebih kompeten menyebutkan satu-satu...
Salah, di sini yang lebih kompeten adalah mas ery nugroho.
-
Mati gerak = berhentinya gerakan pada beberapa moment, Seperti kita tangkis atau jatuhkan dst.Setelah itu baru kita masuk kuncian mungkin begitu kan ?..
Kalau mati gerak berarti tidak bisa meloloskan diri bukannya berarti dia sudah terkunci.
-
Mati gerak = berhentinya gerakan pada beberapa moment, Seperti kita tangkis atau jatuhkan dst.Setelah itu baru kita masuk kuncian mungkin begitu kan ?..
Kalau mati gerak berarti tidak bisa meloloskan diri bukannya berarti dia sudah terkunci.
Mungkin perlu dibedakan antara mati gerak sementara dengan mati gerak permanen.
Untuk masuk kuncian kita perlu menciptakan situasi mati gerak sementara yang kondusif kepada kuncian yang kita tuju.
kalo mati gerak permanen, kalo di Judo itu namanya osae-komi, kalo bisa kita buat selama 30 detik sudah menang ippon tuh.
-
kalo mati gerak permanen, kalo di Judo itu namanya osae-komi, kalo bisa kita buat selama 30 detik sudah menang ippon tuh.
Dalam Judo ada yang namanya osae-komi: teknik menindih/menahan, dan kansetsu: kuncian sendi, dan juga shime: cekikan.
Untuk mencapai kansetsu atau shime, dibutuhkanlah penguasaan yang tinggi atas osae-komi, yaitu bagaimana caranya membuat lawan tidak dapat bergerak bebas untuk mempertahankan diri atau menyerang. Prakteknya adalah lawan di bawah kita tindih.
Sehabis itu, sesuai respons lawan, baru kita bisa masuk ke kantsetsu atau shime sesuai keinginan masing2.
-
ikutan komen ah....
dalam maenpo penguasaan atas gerakan lawan bisa terjadi ketika rasa kita lebih tinggi dari rasa lawan. baik itu dalam posisi mengunci maupun tidak.
khusus dalam hal kuncian, memang benar seperti mas dasaman sebutkan, untuk bisa mengunci kita perlu menguasai lawan. dan memahami konsentrasi tenaga dan rasa dari lawan kita.
pada beberapa kasus, teknik kuncian tidak bisa di terapkan pada semua orang karena yang bersangkutan memiliki kemampuan rasa yang cukup tinggi untuk menetralisir gerakan kuncian yang di lakukan.
misalkan meski secara teoritis misalnya kucian tangan ke belakang sukar untuk di buka pada kenyataanya masih ada saja cara dan teknik yang tergantung pada penguasaan rasa orang yang di kunci sehingga kuncian dapat di lepaskan.
penguasaan konsep isi kosong biasanya sangat berperan dalam memberikan penawar atas kuncian yang terjadi.
tentu saja posisi dan reaksi juga merupakan faktor utama yang perlu di perhatikan ketika menghadapi kuncian
-
ini dia susahnya diskusiin "rasa" yang ada di silat Sunda, mirip ngomongin menu makanan yang tersaji, tahu bagi yang pernah merasakan..."meraba-raba" tahu bagi yang belum. Tapi kadang bila dituangkan dalam kata maka akan mirip "rasa manis jambu" yang ditanya pada beberapa penyair, maka akan ada seuntai kata, sepenggal kalimat atau sekumpulan kalimat yang bisa membuat kita penasaran, makin tahu atau akan makin bingung.... :)
trus gimana dong?...ah sama ama sayah...sayah juga bingung kalo ngartiin "rasa" silat Sunda pake kelimat mah .... ;D ;D ;D
punten
salam,
one
-
He he he..
betul sekale kang one, rasa mah susah kalau di omongin doang, kudu di jelmaan ngarah karasa.
makanya orang tua dulu engak pernah ngomongin teori, kalau di gini gimana kalau di gitu gimana. kudu langsung kana prak prakan nana (langsung praktek)
ini ada kaitannya dengan pemahaman kita tentang ah rasa dan kejadian dan sanalika (seketika) yang tentunya tergantung pada waktu, posisi dan emosi ketika kejadian kuncian itu terjadi.
jadi menurut hemat saya meski ada hukum atau kaidah yang secara hukum mungkin akan menghasilkan reaksi yang sama tetapi kita tidak bisa pukul rata berlaku untuk semua.
pemahaman tentang kaedah jurus dan jam terbang akan sangat mempengaruhi reaksi kita ketika menghadapi teknik yang di berikan oleh lawan
-
Kaedah itu hukum atau teori ya ?
Berarti dalam PS teorinya macam2 tegantung aliranya masing2 .
Ane baru faham sekarang.
Untuk kaedah kuncian , teorinya gampang . Aplikasinya sebenarnya saya rasa sangat sulit sekali, kecuali waktu kita beruntung dapat tangan diam didepan kita trus kita kunci/kita kunci tangan lawan dari belakang.
-
Untuk kaedah kuncian , teorinya gampang . Aplikasinya sebenarnya saya rasa sangat sulit sekali, kecuali waktu kita beruntung dapat tangan diam didepan kita trus kita kunci/kita kunci tangan lawan dari belakang.
Ya makanya, ingat tidak betapa kebanyakan orang menganggap maenan groundfighting yang peluk2an kayak homo di lantai itu sungguh menggelikan... soalnya mo nyari kuncian itu repot, harus dapet posisi yang membuat lawan tidak bisa lepas dari kuncian, baru kita bisa masukkan kuncian. Cape deh...
Kan lebih asik main bakbikbuk, kalau hoki 1 detik juga lawan udah KO kena tonjok pas di dagu. Lha main kuncian mah gak bisa hoki2an... seringnya harus dibuat dan dicari, kalo main kunci2an pake hoki2an adanya begitu lihat ada kesempatan ngunci eh kesempatannya dah hilang. Udah gitu main kunci2an di lantai kalo kelamaan keburu diinjekin sama temen2 lawan, cape deh...
-
pada kenyataanya semua orang tidak suka di kunci, dan sering kali lebih suka offensive dan meyerang untuk sesegera mungkin munyudahi mengunci lawan
-
Kan lebih asik main bakbikbuk, kalau hoki 1 detik juga lawan udah KO kena tonjok pas di dagu. Lha main kuncian mah gak bisa hoki2an... seringnya harus dibuat dan dicari, kalo main kunci2an pake hoki2an adanya begitu lihat ada kesempatan ngunci eh kesempatannya dah hilang. Udah gitu main kunci2an di lantai kalo kelamaan keburu diinjekin sama temen2 lawan, cape deh...
salam..
saya sih ga setuju kalo maen pukul dan tendang dibilang hoki2an .. *udah aja ga usah latihan silat kl cuma cari hoki sih.. latihan dadu aja yg sering ;D* gmn rekan2 yg lain?
salam
-
pada kenyataanya semua orang tidak suka di (me?) kunci, dan sering kali lebih suka
offensive dan meyerang untuk sesegera mungkin munyudahi mengunci lawan
Bicara pada tataran praktis, memang hukum pertama berkelahi adalah selesaikan
secepat mungkin... masalahnya, ada pihak-pihak tertentu yang memiliki kewajiban
untuk menggunakan kekerasan secara terbatas, misalnya polisi. Kita-pun kalau meng-
hadapi saudara yang sedang ngamuk karena kesurupan atau stress tentunya tidak
menggunakan teknik mematikan bukan? Kita akan lebih memilih ilmu kuncian...
Jadi memang tergantung pada keadaan dan pilihan moral.
-
saya sih ga setuju kalo maen pukul dan tendang dibilang hoki2an .. *udah aja ga usah latihan silat kl cuma cari hoki sih.. latihan dadu aja yg sering ;D* gmn rekan2 yg lain?
Kamsudnya, kalo main pukul, sering terjadi lucky punch. Tapi kalo ngadu kuncian, hampir gak ada yang namanya lucky lock :D
Tapi secara praktek saya sendiri memang tidak pernah pake kuncian kalo harus main fisik... adanya dorong, banting, lalu lomba lari memotong lalu lintas jalanan :D
-
Kan lebih asik main bakbikbuk, kalau hoki 1 detik juga lawan udah KO kena tonjok pas di dagu. Lha main kuncian mah gak bisa hoki2an... seringnya harus dibuat dan dicari, kalo main kunci2an pake hoki2an adanya begitu lihat ada kesempatan ngunci eh kesempatannya dah hilang. Udah gitu main kunci2an di lantai kalo kelamaan keburu diinjekin sama temen2 lawan, cape deh...
salam..
saya sih ga setuju kalo maen pukul dan tendang dibilang hoki2an .. *udah aja ga usah latihan silat kl cuma cari hoki sih.. latihan dadu aja yg sering ;D* gmn rekan2 yg lain?
salam
Setuju tidak setuju sih... ;D
IMHO, dalam sebuah perkelahian tetap ada hal-hal yang berada di luar kontrol kita.
Ibaratnya maju perang, meski sudah terlatih baik, disenjatai baik dan dikasih strategi
yang baik, kemungkinan gagal tetap ada. Sebaliknya, kemungkinan berhasil karena
mujur juga ada.
Dengan berlatih dan mencermati keadaan dengan baik, kita bisa mengurangi faktor
"X" ini, tapi tidak sepenuhnya menghilangkan (misalnya lagi seru-serunya berantem,
tau-tau mata kelilipan...).
Kalau yang saya pernah denger sih, makanya seseorang dianjurkan untuk selalu sadar
diri, tidak peduli seberapapun hebatnya dia. Karena bukan mustahil bisa kena KO oleh
pukulan mujur dari lawan yang sebenarnya masih anak bawang...
Jadi lebih baik tetap percaya bahwa faktor "X" itu ada.
-
Kamsudnya, kalo main pukul, sering terjadi lucky punch. Tapi kalo ngadu kuncian, hampir gak ada yang namanya lucky lock :D
kan ada Lucky Luke... ?
kaburrrr... [run]
-
Kamsudnya, kalo main pukul, sering terjadi lucky punch. Tapi kalo ngadu kuncian, hampir gak ada yang namanya lucky lock :D
kan ada Lucky Luke... ?
Waduh, mas Antara ini rupanya cepat nangkep maksud saya... harus siap2 nerima sertifikat satu lagi nih ente :D
-
wah, asik nih... ikutan ya...
kalo lucky luke kan menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri. Nah, kalo di silat gimana tuh? jadi inget salah satu kaedah yang pernah diurai oleh sobat di sini,
(aduh lupa siapa ya? :-[) bhasa sunda nya...(lupa juga ???) yang artinya kira2 : musuh baru mau mulai kita udah selesai.
nah kalo yang itu gimana tuh? kecepatan juga atau karena udah menghayati gerakan silat sehingga udah paham ke mana musuh mau menyerang?
salam
-
Waduh ane terus terang tidak tahu mas Rasyid.
Musuh mau menyerang kita kita serang duluan hingga KO , Ane kurang tahu.Mungkin mas java lebih mengerti.
Kalau saya baca di forum lain, sempat ane baca ada pencuri , masuk rumah tapi tangannya lengket hingga tidak bergerak sampai pagi . Jadi musuh mau beraksi udah KO di perjalananya [yahoo] [yahoo] :)p :)p(ini cerita hampir mirip2 dgn kisah dari sang buyut ane , katannya ada pencuri yg mau mencuri tetapi malah ketiduran di samping rumah Si tuan rumah [lucu].
..
Kalau bicara masalah kecepatan vs kekuatan di kuncian bagaimana ya?
-
kalo lucky luke kan menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri. Nah, kalo di silat
gimana tuh? jadi inget salah satu kaedah yang pernah diurai oleh sobat di sini,
(aduh lupa siapa ya? :-[) bhasa sunda nya...(lupa juga ???) yang artinya kira2 :
musuh baru mau mulai kita udah selesai.
nah kalo yang itu gimana tuh? kecepatan juga atau karena udah menghayati gerakan
silat sehingga udah paham ke mana musuh mau menyerang?
salam
Mas Rasyid,
Kalau dalam tradisi bela diri Jepang itu disebut sen-no-sen, kita sebagai pihak yang
bergerak sebelum lawan bergerak.
Hanya ada sedikit catatan, bahwa sen-no-sen bukan berarti kita yang mengambil
inisiatif untuk menyerang duluan, tapi kita langsung bergerak ketika kita melihat lawan
akan menyerang. Jadi inisiatif tetap datang dari lawan, hanya kita mendahului niatnya
itu.
Premis (anggapan dasar) dari sen-no-sen adalah bahwa seseorang perlu menurunkan
dulu pertahanannya sebelum dia bisa menyerang, dan di situ kita masuk. Berbeda
dengan kasus kita menyerang lawan yang masih pasang pertahanan setinggi-
tingginya, sen-no-sen adalah seni melihat lubang dalam pertahanan lawan dan masuk
ke sana. Lubang dalam pertahanan lawan dapat berupa fisik maupun psikologis,
misalnya berat badan yang sedang pindah atau tatapan mata yang beringsut sedikit.
Yang diperlukan untuk bermain sen-no-sen adalah kemampuan untuk mendeteksi
kesempatan yang terbuka sepersekian detik sebelum lawan menyerang, dan tentu saja
menindaklanjutinya dengan timing yang pas. Memang kecepatan merupakan faktor
penting di sini, tapi bukan satu-satunya faktor.
-
Jadi inget film jamannye Yasuaki Kurata, Sony Chiba dan Henry Sanada nih...pernah ada satu scene yang membicarakan hal ini...kalo gak salah film Sintaro ya...?
Sepertinya ungkapan2/semboyan dalam beladiri baik itu silat maupun beladiri impor bukan sembarangan dibuat ya...
Contoh aje Maenpo Sunda,..."Batur Usik Urang Anggeus" = Sen No Sen nya Jepang...terus Betawi "Ente Jual Ane Beli"...dan banyak lagi.
Bagusnye bikin thread khusus mengenai ungkapan/semboyan yang memiliki makna filosofis bagi beladiri tersebut,biar terungkap....
Ayo deh siapa yang mao sponsorin bikin thread ini....
Tabik,...Jali gak Jail....
-
kl kami menyebutnya papasan.. laku..gerak dan lepasan
-
Kalau kita liat gaya Jet Lee dan Bruce Lee maka akan keliatan gerakan meraka sangat cepat dan kuat. Tapi kalau kita liat gaya Jechi Chen maka akan keliatan dia lebih kuat, tidak terlalu cepat karena sering kena pukulan duluan ;D ;D
Nah mungkin sebenarnya tidak cukup hanya cepat, karena kalau hanya cepat tetapi tenaga lemah maka ketika akan mengenai sasaran malah kurang berasa atau malah akan kesakitan sendiri karena sasaran lebih kuat, baik kuat secara fisik maupun metafisik...maksudnya energi/chi ..
Dan kekuatan chi maupun kecepatan ini juga belum tentu segalanya, karena bisa juga lawan lebih jeli sehingga bisa melihat kelemahan kita. Ini bisa kita simak dalam cerita silat misalnya Long Wu Men, dimana Xiohu. Xiolong dan pasukan Perguruan Naga Harimau sering menang melawan musuh yang mempunyai tenaga maupun jurus yang lebih hebat ;D ;D
-
kebanyakan kan menangnya kalo musuh lebih kuat dan cepat main keroyokan tentu lebih menang.
dimana Xiohu. Xiolong dan pasukan Perguruan Naga Harimau sering menang melawan musuh yang mempunyai tenaga maupun jurus yang lebih hebat Grin Grin
hoki dan bernai mati mungkin