+-

Video Silat


HQ Hikayat Betawi Beksi Kreo Selatan #1
Silat Sera Indonesia by master Gending Raspuzi
eko wahyudi juara dunia 2010 pencak silat
Cingkrik Goning - Performance silat di acara ultah
Cikalong @ Festival seni silat tradisional 3 Juli
cikalong onAction #01
Ensiklopedi Silat Indonesia
Ujungan Macan Ngawahan
Pesilat Anak

Shoutbox

20/03/2014 21:24 akoekoko: tes, tes, satu dua...
10/01/2014 22:16 arip: tessss..... happy new year.. ada event apa ini dunia persilatan tahun ini? :D
28/08/2013 13:28 Bang Gagak: Assalamualaikum... bang..
11/08/2013 16:12 Aku: Untuk semua sahabat...Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin
09/08/2013 05:32 Dolly Maylissa: Maaf lahir batin ya semua, selamat hari raya idul fitri
08/08/2013 23:50 anaknaga: assalamu'alaikum para master dan praktisi MA. selamat hari raya Idul Fitri 1434H, Taqabalallahuminna waminkum.

salam.
01/08/2013 15:35 guebanget: ting nong ding dong
View Shout History

Recent Topics

Latihan Xinyi Liuhe Quan (only moslem) by ifung
19/04/2014 19:30

PPS Betako Merpati Putih by mpcrb
17/04/2014 09:42

Tai Chi Meringankan Depresi pada Lansia by ifung
16/04/2014 19:27

Pencak Silat "NATAR" dari perbatasan sumut dan sumbar by Tiger_Lord
10/04/2014 17:12

13 DASAR TAIJIQUAN BAGIAN 1 by ifung
09/04/2014 22:17

Menangis Dapat Membantuan meringankan Stres, Tapi untuk Kesehatan Optimal Anda P by ifung
05/04/2014 22:06

Dialog Keajaiban Silat - Silat untuk Kehidupan by luri
04/04/2014 14:16

Merpati Putih by alfee
02/04/2014 19:26

Silat Gombel Tradisional by Putra
24/03/2014 15:02

Pencak Silat Tertua Betawi "Silat Gombel aliran Jalak putih" by Putra
24/03/2014 14:18

PABUCI (PANCERBUMI CIKALONG/PASAR BARU CIANJUR) by luri
23/03/2014 17:38

TOKOH-TOKOH SILAT BAMBU LARANGAN by AGUNGP
19/03/2014 12:39

Jeet Kune Do by ifung
16/03/2014 18:18

THE EIGHT BASIC METHODS OF CHEN STYLE TAI CHI CHUAN by ifung
16/03/2014 17:50

Peluncuran Buku KEAJAIBAN SILAT oleh Edwin Hidayat Abdullah by Satria Naga
12/02/2014 01:42

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Kujang  (Read 19255 times)

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email
Kujang
« on: 15/11/2007 15:21 »
Di salah satu gambar di situs ini ada foto kujang Cimande yang dikatakan damascus steel. Ini menimbulkan beberapa pertanyaan pada saya. Apakahj benar kujang itu damascus steel dan bukan pamor? Pertanyaan kedua adalah, apakah memang benar ada jurus-jurus kujang di aliran Cimande tradisional? Saya bertanya begini karena di forumnya Cak O'ong pernah ada keterangan beliau seperti ini, saya copy-pastekan:

Jikalau Kujang kurang terkenal dan tidak dipergunakan sebagai senjata dalam pertandingan pencak silat seni versi IPSI (golok dan toya), itu sebenarnya beralasan sangat kuat.

Kujang dan Keris Jawa dalam tatanan senjata dalam tradisi kita , adalah "pusaka" yang namanya pusaka, dibuka saja setahun sekali untuk dimandikan pada bulan suro, kujang dan keris tidak dipergunakan untuk berperang, hanya diselipkan dipinggang, diperlakukan barang yang sakti dan melindungi pemakainya. orang tua-tua dahulu berperang dengan tombak, pedang, golok dan panah. Jadi Keris atau Kujang adalah simbul keagungan pemakainya. Berbeda dengan di Malaysia, Thailand Selatan dan Filipina Selatan , kerisnya besar-besar seperti keris Bali, mereka pergunakan untuk berperang, Keris pusaka yang kecil dan sakti diselipkan dipinggang dalam arena peperangan.
  ... selengkapnya di :
http://www.kpsnusantara.com/cgi-bin/yabb2/YaBB.cgi?board=Malay;action=display;num=1065514252

Mohon penjelasan para sahabat yang alim.

Salam hangat,
Bram.
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Kujang
« Reply #1 on: 16/11/2007 22:31 »
Salam,
Mas One mengirimkan sebuah foto kujang di bagian Gallery dan menambahkan keterangan tentang kujang.

Pertanyaan saya:
Di mana saya bisa membeli kujang dengan kualitas istimewa (bukan kelas pajangan atau suvenir)? Terima kasih.

Salam...

EricB

  • Guest
Re: Kujang
« Reply #2 on: 17/11/2007 14:31 »
kalau mau beli yang bagus, langsung ke empu, jangan beli di tokoh

di tokoh (apalagi sekaran) benda di jual adalah kwalitas tourist
yang saya lihat di foto juga terlalu rapih sih, dan juga saya ngak pernak lihat ada "crossplate" dalam kujang, saya rasa kalau di pakai latihan cepat rusak.

@ Bram: where did you get the name Damascus steel ??
the technique to make a pamor motive is called damascener technique ;)
That is folding and tempering the various steels together to make the pamor motive.
« Last Edit: 17/11/2007 14:33 by EricB »

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email
Re: Kujang
« Reply #3 on: 17/11/2007 19:09 »
Artinya memang kujang sering dan lazim dipakai latihan? Beda dengan keterangan Pak O'ong yang saya kutip di atas? Apakah latihan kujang ini suatu yang baru, ataukah lama? Apakah kujang dianggap juga sebagai senjata baku di perguruan berbasis Cimande?

Mengenai teknik damascene, setau saya BEDA dengan teknik pamor. Bedanya, dalam teknik damascene hanya satu jenis logan yang dilipat-lipat dengan tujuan kekuatan, kalau di pamor namanya pamor kelengan (hitam, tak berkontrasan) sedangkan pamor, memiliki dua jenis logam dan ditempa-lipat dengan tujuan a)kekuatan dan b) motif keindahan. Pembahasan dan keterangan terperinci tentang ini ada di forum yang sangat informatif tentang keris, yakni di www.vikingsword.com, bagian keris.

Terimakasih sebelumnya,
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

EricB

  • Guest
Re: Kujang
« Reply #4 on: 17/11/2007 21:27 »
Mas Ranggalana,

untuk bikin motif pamor betulĀ² di pakai teknik damascene, bedanya sang empu mengunakan berapa jenis logam, tujuan untuk bikin motif tersebut dan di samping itu juga untuk kekuatan benda yang membuat.
Bisa menjadi keris, golok, tombak, kujang, rencong dll, itulah tergantung yang pesen pada empu.

Tentang kujang sebagai senjata, di Padjadjaran (perg. berbasis Cimande) tidak ada latihan pokok mengunakan kujang, kebetulan saya dapat sedikit ajaran pribadi dari Almarhum Pak Siddiq.
Kujang adalah semacam senjata kuno, dan dalam lambang Kotamadya Bogor juga ada kujang, dalam kota juga ada patung dengan bantuk kujang.

Mungkin ada rekan disini yang bisa kasih penyelasan artinya kujang sebagai senjata dan symboliknya

sedyaleksana

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 17
  • -Receive: 6
  • Posts: 417
  • Reputation: 42
    • PD Germany & Swiss
  • Perguruan: Perisai Diri
Re: Kujang
« Reply #5 on: 18/11/2007 01:06 »
Mas Bram,
pembuatan senjata dgn metode damascus / damascene dipakai dua jenis logam, yaitu yg keras dan lunak. Mula2 dibikin beberapa lapis (mis 8), keras, lunak, keras, lunak dsb, setelah itu baru dilipat2. Saya pernah melihat acara di televisi jerman, bagaimana cara mebuat pisau di Solingen dgn teknologi ini. Logam / baja yg keras diambil dr bekas mocong meriam tank yg sudah diafkir. Pisau yg dihasilkan berpamor, mirip sekali dgn keris, harganya juga tidak tanggung2. Pisau kecil harganya 540 Euro. Sialhakn lihat di link ini:
http://www.solingen-shop.de/images/boekerleob.jpg
Salam dr Jerman
Chandrasa

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email
Re: Kujang
« Reply #6 on: 18/11/2007 05:59 »
Maaf, saya merasa dikasih tau Alan Maisey dkk di forum vikingsword. Beberapa mereka memang beneran Mpu, bikin keris sendiri. Dijelaskan padaku, damascene dan pamor berbeda. Pembuatan keris tidak sama dengan piso Solingen yang bagus itu.

Dalam pembuatan keris berpamor, pertama dibuat kodokan, lalu kodokan ini di tangkupkan bagai sandwich pada lempeng baja, ati-nya keris, mata tajamnya nanti. Setelah di"sandwich" kodokan yang berwujud lapis2 besi dan bahan pamor, lalu di tempa ulang, di gerinda dan kikir sampai ketemu bentuk dhapurnya, baru disepuh untuk mengawetkan tajamnya.

Untuk lebih jelsnya tak tanya lagi ya di forum sebelah.

Salam hangat maaf ngeyel,
Bram
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Kujang
« Reply #7 on: 18/11/2007 08:29 »
Salam...
Kalo saya lebih condong bilang bahwa teknik pembuatan tosan aji berpamor dengan pembuatan baja damaskus adalah sama, yaitu dengan cara dilipat-lipat. Masalah yang satu adalah gabungan 2 atau lebih jenis logam dan satunya lagi adalah hanya dengan satu jenis logam saja, menurut saya itu adalah variasinya saja.

Dalam sebuah literatur (saya lupa baca di mana):
Teknik pembuatan baja damaskus didapatkan dari orang-orang Moor yang berkelana hingga ke Nusantara. Mereka belajar metalurgi dari para empu dan pande tosan aji pada masanya. Bagi saya ini adalah masuk akal, mengingat teknologi besi damaskus (dulu Damaskus adalah negeri Syam) baru mulai ada ca. >1000M, di mana ketika itu penjelajahan suku Moor (mayoritas dari mereka adalah Islam) sudah sampai ke tanah Nusantara. Sedangkan teknologi tosan aji berpamor sudah ada sejak masa sebelum Masehi (tangguh Buda kuno).

Sedikit koreksi Mas Bram, pande keris tidak sama dengan empu keris. Saat ini, empu keris sudah sangat langka, sedangkan pande keris ada banyak di mana-mana, termasuk para pande keris di vikingsword.com.

@Mas EricB:
Betul, bahwa untuk membeli kujang yang berkualitas bagus haruslah dari empu atau pande kujang yang benar-benar ahli. Nah, pertanyaan saya adalah: di mana saya bisa bertemu dengan mereka itu? Atau, paling tidak, di mana mereka "buka toko"?

Saya pernah melihat kujang modern hasil karya Husky (dari Bandung yang kemudian pindah ke Jakarta). Garapannya bagus, tetapi sayangnya tidak berpamor dan berat. Saya tidak tahu apakah kujang itu dibuatnya dengan pakem tertentu, atau "asal mirip kujang".

Salam...

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email
Re: Kujang
« Reply #8 on: 18/11/2007 09:22 »
.... Sedangkan teknologi tosan aji berpamor sudah ada sejak masa sebelum Masehi (tangguh Buda kuno).

Sedikit koreksi Mas Bram, pande keris tidak sama dengan empu keris. Saat ini, empu keris sudah sangat langka, sedangkan pande keris ada banyak di mana-mana, termasuk para pande keris di vikingsword.com.
....Salam...

Terimakasih untuk tanggapannya,

Mas Don, setahu saya tangguh Buddha merujuk pada pembuatan tosan aji di sekitar masa kerajaan historis Mataram I atau kerajaan mitologis Medhangkamulan dengan mPu2 semisal Ramadi dsb. Candi Borobidur yang dibangun sekitar abad 9 Masehi memiliki relief benda mirip keris namun bukan keris, jadi bisa disimpulkan bahwa keris tangguh Buddha dibuat sesudah masa pembangunan Borobudur, atawa, sekian abad Masehi.

Mpu adalah pande yang mumpuni dan biasanya diakui Raja. Karena raja di Jawa sekarang sudah hampir punah perannya, mPu juga sudah (hampir) habis. mPu Djeno Harumbrodjo yang dimPukan oleh Sri Sultan HBIX sudah almarhum. mPu Pauzan di Solo enggan disebut mPu. Pajajaran sudah lama tiada, jadi di Pasundan sudah lama gak ada mPu. Kraton-kratom Madura sudah lama tak berperan karena itu para pengrajin keris di Anengtongtong juga disebut pande bukan mPu meski ahli.

Kembali ke pertanyaan saya semula: Apakah memang ada tradisi permainan Kujang dalam pencak silat Sunda terutama Cimande? Ataukah permainan Kujang sesungguhnya diliputi tabu seperti permainan keris di Jawa (tengah dan timur).

Terimakasih sebelumnya,
Bram
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Kujang
« Reply #9 on: 18/11/2007 10:51 »
Salam...
Pendapat Sampeyan tidak salah... Karena ada yang memang berpendapat demikian. Buda = Buddha, dan diasosiasikan dengan masa Kerajaan Mataram I atau Kerajaan Medang Kemulan. Tetapi, ada juga yang menggolongkan tangguh Buda itu adalah masa di mana belum ada catatan mengenainya, mengingat Buda dilafalkan sebagai "budo" (bukan "budho"), yang dalam Bahasa Kawi berarti "masa silam yang telah sangat lama berlalu". Betul, dalam relief Candi Borobudur, ada senjata semacam keris, tetapi bukan keris, melainkan bethok (lebih mirip ke "dagger").

Saya tetap percaya bahwa teknologi tosan aji berpamor sudah ada sejak sebelum Masehi, mengingat ada potongan besi berpamor di tanah Jawa (walau pun tidak berbentuk senjata, karena hanya merupakan potongan) yang usianya masuk ke era peradaban Dongson akhir atau satu zaman dengan Dinasti Han di Cina. Kalo dibandingkan, peradaban Dongson masih masuk dalam era tembaga, sedangkan Dinasti Han sudah mulai masuk ke peradaban besi. Jadi, bukan satu hal yang kebetulan kalau di tanah Jawa sudah mengenal teknologi besi berpamor, mengingat pada era Dinasti Han, teknik pembuatan besi berpamor juga sudah mulai dikenal, biar pun masih sangat sederhana. Memang, di tanah Jawa belum ada (atau sudah ada tetapi hilang karena berbagai sebab) catatan sejarah yang menyebutkan demikian. Hanya saja, kalau dibaca dari catatan sejarah Bangsa Cina, maka ada yang menyebutkan suatu wilayah yang "kira-kira" adalah wilayah kepulauan Nusantara (Lo Shan Ta La). Disebutkan bahwa di wilayah ini sudah memiliki struktur pemerintahan yang jelas. Artinya, "society" sudah terbentuk. Di catatan itu juga disebutkan bahwa para lelaki dewasa selalu membawa senjata.

Kalau dikaitkan dengan jalan "kuthak kathik gathuk" (dihubung-hubungkan), maka saya mengambil kesimpulan seperti yang saya utarakan pada posting sebelum ini. Dan saya lebih setuju bahwa tangguh Buda adalah masa di mana catatan sejarah belum (atau tidak) ada. Hilangnya atau tidak adanya catatan sejarah ini bisa disebabkan oleh berbagai macam alasan, misalnya saja: perang, kebakaran, bencana alam, dll.

Sorry, bukan mau ngeyel, tapi berdasarkan "bukti-bukti" yang saya baca, makanya saya mempunyai pendapat demikian.

Soal titel empu, bukan saja karena beliau adalah orang yang ditunjuk dan diangkat oleh seorang raja, dan/atau orang yang sangat ahli dalam membuat tosan aji, melainkan juga dari caranya beliau membuat. Seorang empu bila membuat suatu tosan aji HARUSLAH dengan lelaku spiritual, sedangkan pande keris tidak perlu. Nilai-nilai "angsar" ("tuah") inilah yang dimasukkan oleh Sang Empu ke dalam hasil karyanya. Sedangkan pande keris, tidak perlu. Inilah yang sangat membedakan, bukan titelnya itu sendiri. Dan empu itu memperoleh pengakuan juga dari masyarakat, jadi bukan sekedar "titel kosong", atau hasil pengakuan diri sendiri yang kemudian digembar-gemborkan oleh murid-murid atau teman-temannya.

mPu Pauzan enggan disebut empu, karena beliau memang benar-benar empu yang mumpuni! Beliau sungguh menyadari keterbatasan beliau sendiri, yang bagi kita, keterbatasan beliau itu sudah sangat jauh di atas kita yang awam. Berhubung yang beliau lihat adalah langit, maka beliau selalu melihat bahwa hasil karya beliau belum cukup untuk membuat beliau sebagai seorang empu.

Hal ini sangat berbeda bila, saya misalnya, yang selalu melihat ke bawah, alias melihat ke tanah dan lupa kalo di atas masih ada langit. Saya akan selalu beranggapan bahwa karya saya adalah top markotop, gud marsogud, padahal karya saya masih sangatlah buruk. Dan tanpa malu-malu, saya akan proklamasikan bahwa Empu Don Basuki adalah empu terbaik sepanjang masa. Dan bila ada orang yang mengkritik saya, maka saya akan berusaha melegitimasi klaim saya, dengan berbagai macam cara. Kalo perlu, akan saya cari turunan kesekian dari Empu Supo Mandrangi dan saya angkat guru (biar kata cuma beberapa bulan), terus saya suruh beliau untuk tanda tangan selembar kertas yang mengatakan bahwa saya adalah seorang empu yang huebat, telah mewarisi ilmu dari Empu Supo Mandrangi.

Ah, jadi ngelantur ke mana-mana...
Anyway... Itu semua pendapat saya pribadi lhoooo... Kalo salah, ya maaf, karena memang ilmu saya ini masih sangat cetek...

Salam...

EricB

  • Guest
Re: Kujang
« Reply #10 on: 18/11/2007 14:22 »
@Mas EricB:
Betul, bahwa untuk membeli kujang yang berkualitas bagus haruslah dari empu atau pande kujang yang benar-benar ahli. Nah, pertanyaan saya adalah: di mana saya bisa bertemu dengan mereka itu? Atau, paling tidak, di mana mereka "buka toko"?

Hallo Don,

di Bogor ada, cuman lupa di sekitar mana :S
Mungkin kalau tanya Pak Basuki di Jln A. Jani (kantor IPSI) ada lebih jelas,
kalau dia tidak tau, bisa minta informasi ke Pak Abas di Sukabumi

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email
Re: Kujang
« Reply #11 on: 18/11/2007 15:28 »
Pamor dan damscene memang serupa tetapi tidak sepenuhnya sama, sama tetapi tidak sungguh-sungguh serupa. Lebih jelasnya, di bawah saya copy-paste penjelasan Pak Alan Maisey seorang pande keris gagrak Surakarta.

Yeah, they're a bit different.

By "damascene" the writer would be referring to what we call pattern welded steel, or mechanical damascus---damascus steel. This is produced by forge welding alternating layers of ferric material of varying carbon content. This is a similar process to the making of a billet of pamor, but in pamor we prepare the material for further use as the "skin" of a wafer of steel.

Thus, in a pamor blade we have the pamor material on either side of the steel core. The steel core is the part of the blade that can take a heat treat to produce a cutting edge.The pamor is iron, or iron and nickel, and acts as a protective coat for the hardened steel core.Iron will not harden with a heat treat---steel will.

In a damascus blade we have a material that incorporates the qualities that will allow a heat treat for a cutting edge, going all the way through the blade---its the same stuff all the way through and capable of taking a heat treat all the way through.

Pretty much the same process to make both, just with a different end use and different qualities.


Jadi ternyata kalau damascene itu dapat disepuh keseluruhan wilahnya sedangkan di tosan aji berpamor yang disepuh hanyalah bagian baja ditengah-tengah kodokan pamor. Gitu kali ya?

Makasiah banyak,
Bram
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

Rebo Paing

  • Guest
Re: Kujang
« Reply #12 on: 18/11/2007 16:56 »
... saya misalnya, yang selalu melihat ke bawah, alias melihat ke tanah dan lupa kalo di atas masih ada langit. Saya akan selalu beranggapan bahwa karya saya adalah top markotop, gud marsogud, padahal karya saya masih sangatlah buruk. Dan tanpa malu-malu, saya akan proklamasikan bahwa Empu Don Basuki adalah empu terbaik sepanjang masa. Dan bila ada orang yang mengkritik saya, maka saya akan berusaha melegitimasi klaim saya, dengan berbagai macam cara. Kalo perlu, akan saya cari turunan kesekian dari Empu Supo Mandrangi dan saya angkat guru (biar kata cuma beberapa bulan), terus saya suruh beliau untuk tanda tangan selembar kertas yang mengatakan bahwa saya adalah seorang empu yang huebat, telah mewarisi ilmu dari Empu Supo Mandrangi....

Yah Mas Basuki, persis seperti dia yg tak akan disebut namanya  ... heheh!  ;D [top]

Salam,
Krisno

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Kujang
« Reply #13 on: 18/11/2007 19:54 »
Pretty much the same process to make both, just with a different end use and different qualities.

Jadi ternyata kalau damascene itu dapat disepuh keseluruhan wilahnya sedangkan di tosan aji berpamor yang disepuh hanyalah bagian baja ditengah-tengah kodokan pamor. Gitu kali ya?

Salam...
Nah, di sini rupanya "ga nyambung"-nya...  ;D
Saya berpendapat bahwa proses pembuatannya sama (artinya: logam yang dilipat-lipat) dan itu dikuatkan oleh pernyataan si Alan Maisey. Hanya saja, Alan Maisey membatasi besi pamor (kodokan) hanya campuran dari besi dan nikel, padahal bisa lebih dari itu. Kodokan pamor juga bisa saja mengandung titanium, molybdenum (monel) dan unsur logam lainnya. Tentu saja teknik pembuatan besi damaskus dalam perkembangannya menjadi berbeda dengan teknik pembuatan keris (dalam artian mendetil), karena banyak hal dan banyak faktor.

Dan itu bisa kelihatan sekali dengan mata telanjang antara tosan aji vs. besi damaskus. Belum lagi kalo kita bicara soal teknik pembuatan katana yang juga "berpamor" dan tiap "pamor"nya itu juga punya arti sendiri.

Saat ini ada banyak buku tentang keris yang bisa dibeli di Gramedia atau toko buku besar lainnya. Atau, literatur tentang keris dan tosan aji banyak juga yang dijual di Museum Pusaka di TMII.

Salam...

Ranggalana

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 1
  • Posts: 652
  • Reputation: 81
  • sastra jendra hyu ning rad pangruwating diyu
    • Email
Re: Kujang
« Reply #14 on: 18/11/2007 20:14 »
.....  Kodokan pamor juga bisa saja mengandung titanium, molybdenum (monel) dan unsur logam lainnya. .......Saat ini ada banyak buku tentang keris yang bisa dibeli di Gramedia atau toko buku besar lainnya. Atau, literatur tentang keris dan tosan aji banyak juga yang dijual di Museum Pusaka di TMII.

Salam...

Terimakasih Mas Don untuk diskusinya,

Kalau kita ngomong titanium dalam pamor bukankah itu pamor yang terbuat dari meteorit tertentu? ... Sedangkan monel itu pamor kelas embek bukan?

Buku keris sekarang memang bagus-bagus. Setelah ensiklopedi almarhum Pak B Harsrinuksma, khabarnya ada juga buku bagus banget karya Pak Haryoguritno (? ...salah eja namanya gak ya?) ... tetapi saya belum melihatnya.

Kembali ke kujang: apakah memang secara tradisional kujang lazim digunakan dalam permainan silat?

Salam hangat,
Bram
batu kali jadi candi, duka jadi puisi, jagal jadi wali

 

Powered by EzPortal