+-

Video Silat


Perguruan Silat Pendekar 9
silek harimau performance, Jambore pencak silat -
pencak silat seni ganda
H. Nurali Akbar (Babe Nunung) di FIB UI
Pencak Silat Panglipur Performance in Paris Bercy
Demo Pisau - Silat Seliwa
Maen pukul Langkah Troktok (sambut)
Demo Silat Golok Seliwa
Video Ibing Kacapi Suling Maenpo Badewa

Shoutbox

20/10/2014 15:28 kunderemp: Ya.. om Taufan.. Tanggal 11 lalu saya masih di tengah hutan di Bakan.
04/10/2014 09:20 Taufan: Selamat hari raya Idul Adha 1435 H...
04/10/2014 08:12 Taufan: Kopdar Sahabat Silat 11 Oktober 2014... datang ya :-)
02/10/2014 20:30 Taufan: Temu kangen di FB :p
13/08/2014 03:06 Ekka_Xakra: Salam kenal para sahabat silat semua.
12/08/2014 17:56 Dwi_NGJ: Salam kenal para ksatria. Mohon ijin bergabung... :)
12/07/2014 16:49 one: Pada kemane nih buka puasanya ye?
View Shout History

Recent Topics

Sile Ono Niha, silat pulau nias yang hampir punah by muramasa
18/12/2014 10:01

[BUKUTAMU] by lukas
10/12/2014 21:12

aliran silat seIndonesia by abay gcis
05/12/2014 21:46

PELURUSAN SEJARAH:PITUNG TERNYATA BUKAN ORANG ASLI RAWA BELONG by didit4ditia
27/11/2014 09:25

Hoby Miara Jin by si wiwid
25/11/2014 22:11

BONGKOT, Maen Pukulan Betawi Timur by si wiwid
25/11/2014 22:06

Sejarah Xinyi Liuhe Quan Bag 2 by ifung
23/10/2014 18:28

(Ask) Timbangan di Jakarta by Fanani
20/10/2014 22:41

Serial Xinyi Liuhe Quan I by ifung
16/10/2014 20:02

Selayang Pandang Lu Style Xinyi Liuhe Quan by ifung
16/10/2014 20:00

One Day Workshop Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang by luri
16/10/2014 09:29

silat timbangan by ifung
14/10/2014 15:51

maenpo Cikalong by aki sija
07/10/2014 05:13

Parkour by Taufan
02/10/2014 21:28

SILAT BERDO'A SELAMAT by Taufan
02/10/2014 21:17

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Teknik bertarung silat IPSI, kehilangan ciri perguruan  (Read 28318 times)

Satria Naga

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 22
  • Posts: 172
  • Reputation: 39
    • Satria Naga
Salam,
Bermula dari ngobrol bersama Mas Oong dan Mas Arnowo Adji (Pendekar PD) dari pinggir gelanggang PDIC beberapa saat yang lalu, mas Oong menyampaikan keluhannya ahwa perguruan silat kehilangan ciri khasnya dalam pertandingan pertarungan versi IPSI. Mas Oong dan Mas Arnowo sama sama menjelaskan silat di zaman dahulu tidak seperti sekarang, lebih baik dari sisi teknik dan dari sisi power dan kecepatan...

Hilangnya karakter perguruan silat dalam pertarungan IPSI ini sepertinya sudah akut. Entah disebabkan oleh apa. Apakah ini baik atau buruk? mohon pencerahan teman-teman...

Dolly Maylissa

  • Moderator
  • Calon Pendekar
  • **
  • Thank You
  • -Given: 7
  • -Receive: 12
  • Posts: 519
  • Reputation: 49
  • silat itu ya salaman bukan gebuk2an,,,
    • d01ly's blog
    • Email
rasanya perlu pemberdayaan guru2 silat tradisional dalam TC dan atlit yg dr silat tradisonal biar ga kehilangan khas teknik dr berbagai perguruan
baru belajar nulis

Satria Naga

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 22
  • Posts: 172
  • Reputation: 39
    • Satria Naga
apakah batasan sasaran pukulan dan perhitungan point nilai IPSI menjadi penyebabnya? atau ada penyebab lainnya ya?
Saya kira yang merupakan ciri perguruan bukan hanya kembangan dan salam pembuka, namun ciri serangan, langkah dan hindaran....
saat ini semua petarung IPSI memang mencoba mengembangkan silat yg ringkas dan cepat (walau secara teknik tak banyak perkembangan sejak 90an) teknik yang tak efisien secara alami mengalami mortalisasi dalam gelanggang.....

Tapi era 90an memang perguruan memberi andil yang besar dalam teknik pertandingan...Egos Sabit mas Joko Widodo Perisai Diri, teknik jatuhan Mas Dani Wishnu dari taji malela, ingkling dan lompat kuntul mas Johansyah Lubis Perisai Diri..dan beberapa teknik lain yang jadi trend....

Anehnya saat ini teknik perguruan hanya tersimpan di peragaan teknik dan tak terinpirasikan dalam pertarungan IPSI...atau atletnya yang telah sibuk TC dan menjauh dari para guru teknik di perguruan perguruan...

salam

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Beruntung ada mas Satria Naga yang nangkap pendapat cak O'ong dan cak Arnowo Adjie, mengenai perbandingan dulu dan sekarang.

Saya coba mengurai pengamatan dari  pengalaman dengan kacamata daerah kecil (DIY).
Barangkali bisa ditemukan oleh masing2, dititik mana bisa berperan memperbaiki.

Penyebabnya sangat jelas, yaitu menurunnya peran serta perguruan/pendekar perguruan dalam perkembangan atlit. Disamping berakibat berkurangnya ciri perguruan, dalam jangka panjang, secara umum  menurunkan mutu teknis atlit IPSI.

Hal ini mungkin saja terjadi karena model perekrutan atlit, perekrutan pelatih IPSI, model pelatda/pelatnas, serta model putaran kompetisi.
Aturan pertandingan yang membatasi hanya memberi nilai pada jatuhan dan serangan pada togok (badan, dari perut sampai bawah leher, depan dan belakang), yang dianggap membatasi teknik perguruan, kita abaikan dulu, karena dengan aturan yang sama, toh dulu pernah "lebih baik".

1. Perekrutan atlit.

Pada jalur utama/reguler, perekrutan atlit IPSI sudah dimulai ditingkat cabang (kabupaten/kota). Perguruan menyiapkan atlit pesilatnya HANYA sampai tingkat cabang IPSI/Kabupaten/kota.
Selanjutnya atlit sudah mewakili cabang IPSI, bukan atas nama perguruan lagi. Perguruan sudah mulai acuh, pelatihan pesilatnya sudah di BKO (bawah kendali operasi) ke IPSI cabang. Ketika atlit cabang menjadi juara ditingkat daerah/provinsi, diserahkan begitu saja ke pelatih IPSI daerah.
Tentu ada pengecualian, misal mbah Marto yang sampai akhir hayatnya selalu aktip menggembleng atlit IPSI yang dari perguruannya, PH.

Entry point di kejuaraan tingkat cabang, ditengarai membuat perguruan memandang enteng, mengikut sertakan pesilatnya yang "belum matang".
Dulu ketika perekrutan atlit daerah hanya dari Kejurda Antar Perguruan ditingkat provinsi, perguruan2 begitu bersemangat menyiapkan dan mendukung atlit2nya.
Pelatih daerah hanya menanamkan mengenai peraturan pertandingan, atau meningkatkan stamina aerobic secara umum. Teknik berlaga digali dari perguruan masing2.
Semangat dan kesadaran berlatih atlit sangat tinggi, tidak tergantung ada pelatda atau tidak. Setiap hari mudah ditemukan sedang berlatih lari cross country.
Sebagai contoh untuk kasus DIY, antara lain adalah mas Icok (Syaukat Ali), mas Joko Widodo, keduanya dari PD, mas Purwowasono dan Slamet Latanggang, keduanya dari PH.
Para penerusnya, datang di entry point, dengan bekal warna perguruan yang masih belum mencukupi.

Perekrutan alternatip melalui juara2 antar mahasiswa, juga mendapatkan atlit dengan bekal perguruan yang makin dangkal.

(nanti disambung, silahkan dilanjut).

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Masih dari sisi atlit pesilat.

Pesilat yang masuk entry point, harus sadar sepenuhnya, bahwa jalan menuju puncak sangat panjang. Ada pelatda/TC cabang ditingkat kabupaten kota yang harus dijalani dengan disiplin. Kemudian kalau jadi juara daerah/provinsi harus mengikuti pelatda provinsi. Kalau DIY tidak di asramakan, tidur dirumah/kamar kost masing2 sehingga masih bisa ikut sekolah/kuliah/bekerja.
Lain lagi ceritanya kalau provinsinya luas seperti Jatim, Jateng, Jabar dll. Pesilat pelatda harus masuk asrama meninggalkan keluarga, pekerjaan, sekolah, kuliah.

Makin runyam ketika menjadi juara nasional, atau dapat medali emas PON, atau medali emas POMNAS, atau sirkuit pencaksilat. Bisa 9 bulan dalam setahun tinggal di Pelatnas.

Meski ada uang saku, bonus kalau berprestasi, termasuk beasiswa, pekerjaan, rumah dan tunjangan hari tua, terbukti masih banyak atlit berbakat untuk tidak masuk bursa. Tidak semua bibit atlit   kelas satu  dari perguruan, mau masuk menjadi atlit.

IPSI Daerah sebagai forum dari banyak perguruan dan cabang2 IPSI, tentu harus memakai kriteria terbuka dengan indeks prestasi/matriks prestasi atlit. Tidak mungkin, bidang pemandu bakat/talent scouting IPSI mencomot begitu saja bibit pesilat berbakat dari satu perguruan, untuk masuk TC.
Paling2, kalau kriteria masuk TC adalah peraih medali emas dan perak, pemandu bakat mengusulkan beberapa peraih perunggu.

Kondisi pesilat yang "belum matang" keilmuan perguruannya, ditambah perguruan yang tidak proaktip membina pesilatnya yang masuk TC, membuat pesilat tadi "melahap" teknik apasaja, baik dari pelatih TC maupun dari teman2 atlit sesama TC.

Mantan atlit sukses, katakan Dhani Wisnu yang masuk jajaran pelatih TIMNAS, serta doktor Johansyah Lubis MPd, yang sekarang menjadi tokoh Binpres PB IPSI, mungkin masih menemui hambatan dalam memasukkan teknik dan cara berlatih yang menjadi andalannya, kepada atlit pelatnas, yang notabene berasal dari multi perguruan.

Kesimpulan sementara, perguruan/para pendekar harus menyiapkan pesilat yang lebih matang pohon (matang dikeilmuan perguruannya), serta proaktip memonitor perkembangan kemampuan atlit pesilatnya, meski sedang masuk TC.

2. Model perekrutan pelatih.....


(maaf nanti disambung, silahkan dilanjut)

Satria Naga

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 1
  • -Receive: 22
  • Posts: 172
  • Reputation: 39
    • Satria Naga
Menarik..silakan dilanjut mas....siapa tahu dari sini kita bisa mengurai mengapa secara prestasi petarung IPSI tak terlalu prestatif saat ini...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Lanjutan.

2. Model perekrutan pelatih IPSI.

Paling awal adalah penataran pelatih cabang. Diikuti oleh pelatih perguruan tingkat cabang. Dimaksud agar, minimal pelatih perguruan yang bertugas sebagai pendamping atlit pada kejuaraan tingkat cabang, memiliki kompetensi tentang peraturan pertandingan yang berlaku. Bukan justru menimbulkan keributan karena tidak memahami aturan.

Selanjutnya pelatih perguruan dan pelatih  cabang IPSI mengikuti penataran Pelatih Daerah tingkat Dasar, Penataran Pelatih Nasional Tingkat Muda, Madya dan Utama.

Biasanya, peserta penataran pelatih daerah tingkat dasar yang memiliki nilai tinggi, serta terbukti pesilat yang dilatihnya berprestasi, akan dipanggil untuk menjadi asisten pelatih/pelatih pada pelatda IPSI.

Perekrutan pelatih daerah juga melalui jalur eks atlit daerah yang berprestasi, pernah ikut pelatnas, kemudian mengikuti penataran pelatih IPSI.

Selain tentang seluk beluk peraturan TTGR, secara teknis silat, materinya adalah tentang TGR. Lainnya adalah tentang kepelatihan olahraga. 
Peningkatan kecepatan, kekuatan, stamina, masih bisa diharapkan bertambah pada TC.
Namun karena pelatih pelatda/TC lebih bermodal bagaimana melatih sampai kondisi puncak, perbendaharaan teknis atlit nyaris tidak bertambah, atau sangat tergantung modalnya sendiri, plus "pengalaman" sang pelatih yang bisa ditularkan.

Belum lagi, pelatih perguruan dengan nilai penataran tinggi, tidak mau bertugas menjadi pelatih pada pelatda, dengan alasan lebih diperlukan di perguruannya sendiri.

Pemanggilan untuk tim pelatih pelatnas juga demikian. Diprioritaskan pada pelatih berkelas tingkat nasional didaerah, yang timnya berprestasi tinggi. Kesediaannya dipengaruhi didapat atau tidaknya, ijin meninggalkan pekerjaan berbulan bulan.

Dalam hal penularan teknik, kemungkinan lebih mudah bagi pelatih silat olahraga tanding, kalau diberi kesempatan melatih dari dasar sampai aplikatip. Disini hanya bisa dilakukan di perguruan sendiri. Diluar negeri lebih memungkinkan, karena sang pelatih melatih pesilatnya, nyaris dari nol.

Kembali pada perguruan, sejauhmana bersedia mengirim pelatih handalnya untuk mengabdi bagi kepentingan bersama.

Juga perlu disusun mekanisme, yang bisa memfasilitasi/mempermudah jalur sumbangan teknis dari para pendekar silat tradisional kepada pelatda/pelatnas, selain melalui atlit dari silat tradisional yang sudah disiapkan "matang pohon".

3. Mengenai model pelatda/pelatnas.

Sudah jelas efeknya terhadap pesilat yang belum "matang pohon".

4. Mengenai model putaran kompetisi.

Dengan makin berkembangnya pembinaan pencaksilat, makin bertambah pula pihak2 yang menyelenggarakan pertandingan silat. Sehingga kalau dulu langsung kejurda antar perguruan, ada tuntutan entry poin mulai kabupaten/kota.
Ada Porda yang adu prestasi antar kabupaten kota. Ada tanding antar mahasiswa oleh Bapomi, antar pelajar oleh Bapopsi. Usia dini dan sebagainya.

Perguruan tentu dituntut ikut ribet menggembleng dan mendampingi atlit2nya.
Yang terjadi, tokoh2 perguruan jarang muncul.

Ada pengecualian untuk Jawa Timur, yang selalu membawa/memfasilitasi tokoh perguruan nonton PON, terutama bagi tokoh perguruan yang atlitnya ikut bertanding.

Demikian mudah2an ada manfaatnya untuk diskusi lebih lanjut.

Salam.

f4iz

  • Guest
Salam Rekans,
Waktu itu kalo tidak salah pernah diskusi mengenai topik yg mirip.
Seinget saya ada yg berpendapat peraturan yang mempengaruhi bentuk permainan/pertandingan.
Hal ini terjadi bukan dipertandingan IPSI aja tetapi juga di Sanshou, Karate, UFC...bahkan utk cabang olah raga lain juga misalnya bola ato basket.
Sepertinya dalam pertandingan tekhnik yang bagus atau efektif akan diadopsi oleh peserta lainnya.
Misalnya tekhnik tendangan sabit dari suatu perguruan yang efektif dan menghasilkan nilai yg besar, tentunya akan ada tendensi diterapkan oleh peserta-2x lainnya. Begitu juga gerakan, sapuan dan pukulan. Lama-2x bentuknya akan universal dan susah dibedakan.
Saya jadi inget UFC. Awalnya UFC masing-2x peserta terlihat karakteristik beladiri mereka. Misalnya Karateka atau Judoka terlihat karakteristiknya. Akhir-2x ini susah dibedain..soalnya rata-2x menggunakan teknik Jujitsu ato gulat utk main bawah dan Muay Thai utk tendangan dan pukulan. Padahal seharusnya UFC lebih banyak variasi karena pertandingan lintas beladiri.
Banyak yg berkesimpulan dalam pertandingan peserta-2x cenderung mengambil tekhnik-2x yg efektif utk format pertandingan tsb.
Pendapat saja sih..mohon dikoreksi kalau salah.
Wasalam,
Faiz

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Menyadari keterbatasan TC, baik pelatda maupun pelatnas, serta perlunya FOKUS dalam membina atlit berprestasi, termasuk pembibitan atlit pesilat dan penyediaan pelatih agar lestari,  beberapa perguruan menggelar proyek/program khusus. Diantaranya (konon) PD, TS, PSHT dan terakhir menyusul Persinas ASAD.
Calon atlit disemai, disaring, digembleng, dipersiapkan berjenjang dilingkungan perguruan.
Di MP masih berupa rencana kerja yang sudah disepakati, namun menunggu prioritas anggaran, entah kapan.
Sampai saat ini, kegiatan penyiapan atlit MP untuk ajang IPSI, sepenuhnya diserahkan ke masing2 cabang.

Yang menarik, dari upaya mandiri cabang2, ternyata malah dua cabang "kecil", Kartosuro dan Purworejo yang berhasil menelorkan atlit kelas internasional, meraih medali emas SEAGAMES atas nama Haris Nugroho dan Dian Kristianto Saputra, terakhir emas Kejuaraan Dunia 2010 atas nama Dian Kristianto Saputra di kelas A putra.
Meskipun dari cabang kecil, ternyata kuncinya adalah fokus, sungguh2 dalam pembinaan, termasuk sikap mental atlit yang gigih, dan rajin minta petunjuk pada senior perguruannya.
Pengungkapan ini hanya agar dimaknai, tidak perlu harus  sesuatu yang besar besaran. Kecil dan sederhanapun bisa mengukir prestasi. Sebagaimana prestasi atlit PH, yang digembleng diarena  beralas tanah dihalaman rumah mbah Marto (alm), di dusun Gabusan, Bantul.

Salam.

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
@ kang GODAM.

Setuju. Kalau seorang pesilat hanya mengandalkan teknik ampuh itu2 saja, pada pertandingan beberapa bulan lagi, disamping gerak tipunya sudah ditiru, antisipasi untuk menetralisir, sudah disiapkan oleh lawannya.
Inilah hasil kalau pelatih perguruan, aktip mengikuti jalannya pertandingan dan menganalisa lawan tanding pesilatnya.

Salam.

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Teknik bertarung silat IPSI, kehilangan ciri perguruan
« Reply #10 on: 03/01/2011 07:40 »
Mohon ijin untuk isi daftar hadir....

Mencoba mengerti dan memahami, namun apa daya badan masih kecil, imut, dan nggemesin (halah)...  :P

Terus terang, tadinya saya berniat untuk tanya-tanya dari sudut pandang sistem dan struktur pembinaan,
Quote
silat di zaman dahulu tidak seperti sekarang, lebih baik dari sisi teknik dan dari sisi power dan kecepatan...
karena ini kan masalah kualitas, tapi ternyata sudah dibabar duluan oleh Pak Dhe Suprapto, jadi sambil meluncurkan GRP, saya mau melanjutkan pertanyaan ke sisi lain ...

yaitu sisi yang sudah ternyata sudah duluan dicetuskan oleh kang Godam... (inilah akibatnya kalau libur internet kelamaan... semua jurus sudah didului orang lain :-\) ... penurunan kualitas akibat mengikuti disain pertandingan...

Mencoba memahami keprihatinan yang dicetuskan oleh Mas O'ong dan Pak Arnowo tersebut, saya ingin tahu dulu....

  • apakah dulunya, banyak terlihat ragam dan ciri perguruan tampil di gelanggang?
  • apakah sepanjang perkembangan silat pertandingan sampai hari ini, muncul berbagai larangan dan aturan baru yang mengurangi kreativitas dan keragaman teknik yang bisa muncul di gelanggang?
  • Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan ciri perguruan? Soalnya cerita yang selalu saya dengar, para perguruan tradisional selalu berbicara tentang betapa mematikan teknik khas mereka sehingga tidak layak untuk ditampilkan di gelanggang. Kalau memang begitu adanya, ya tentu tidak ada ciri khas yang akan pernah turun di gelanggang kan?

Seperti juga Mas Godam, saya merujuk ke awal digelarnya Ultimate Fighting Championship (UFC)... yang dulunya sangat variatif, namun sekarang jadi monoton. Walaupun saya masih agak gamang antara dua pilihan...

  • para aliran tradisional menyadari bahwa latihan mereka selama ini didasari asumsi yang keliru, sehingga mereka berjatuhan di UFC ketika melawan para petarung yang memang berorientasi all out semacam Muay Thai, BJJ, Gulat dan sejenisnya. Jadilah mereka meninggalkan asumsi lama dan berlatih dengan gaya baru, yang akhirnya menjadikan ilmu mereka mirip dengan para pemenang UFC.
  • UFC makin lama makin dibatasi oleh peraturan macam-macam. Akibatnya tinggal tersisa sedikit pilihan untuk digunakan... pun kualitasnya merosot.

    Contoh, saya masih ingat dulu di UFC 4 Keith Hackney bertubi-tubi menghajar kemaluan Joe Son... huek... pasti pedesss... :-X adegan semacam itu sekarang sudah dilarang. Padahal kalau kita perhatikan, para petarung papan atas di awal UFC dulu pasti selalu memosisikan diri mereka sedemikian rupa agar kemaluan mereka tidak kena hajar sewaktu bertarung (dan inilah salah satu esensinya latihan beladiri), tapi di UFC belakangan ini sudah lebih ceroboh (toh sudah dilarang)... dus ketelitian berlatih juga sudah dikurangi...

Mohon sumbang sarannya...
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

anolles

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 4
  • Posts: 248
  • Reputation: 9
    • Email
Re: Teknik bertarung silat IPSI, kehilangan ciri perguruan
« Reply #11 on: 03/01/2011 15:26 »
ikut nyimak.....  :) :)


jujur tanding silat emang ga menarik hati... siapa aja bisa klo cuma mukul, nendang atau sapuan kaya gitu2 doang mah....

tarung nya malu-malu ga lepas..... takut kecuri pointnya..... jadi bukan kaya silat aslinya.....

beda ama thai boxing kan kentel banget tuh ciri khas nya....

kisah sedih kidung sundayana

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Teknik bertarung silat IPSI, kehilangan ciri perguruan
« Reply #12 on: 04/01/2011 06:47 »
jujur tanding silat emang ga menarik hati... siapa aja bisa klo cuma mukul, nendang atau sapuan kaya gitu2 doang mah....

Siapa bilang? Saya nggak bisa loh...  x-)) hehehe... peace...  :D

beda ama thai boxing kan kentel banget tuh ciri khas nya....

Nggak juga kok Bang... Muay Thai yang asli setahu saya lebih rumit dari yang dipertandingkan itu... dua leluhurnya Muay Boran dan Krabi Krabong adalah ilmu berantem beneran. Muay Boran punya pukulan telapak, dan Krabi Krabong bahkan punya gaya yang mirip silat... tapi tampaknya saudara kita di Thailand cukup realistis tentang apa yang bisa tampil di ring dan apa yang tidak, sehingga baik-baik saja meninggalkan teknik-teknik yang tidak layak gelanggang.

Selebihnya adalah marketing :D
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Mantrijeron14

  • Moderator
  • Anggota Senior
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 25
  • -Receive: 19
  • Posts: 390
  • Reputation: 50
  • terrorizing people wherever I go
Re: Teknik bertarung silat IPSI, kehilangan ciri perguruan
« Reply #13 on: 04/01/2011 08:35 »
Mangstabh mas Suprapto,
penjelasannya panjang kali lebar, terinci dan jelas. Ini alasan saya utk gak pernah bosen kirim GRP kagem mas Prapto [top]

Teknik tanding yang "gitu-gitu" aja... nah ini juga keprihatinan ane.... dari hasil bbrp kali sowan  ngeliat adek-adek perguruan saya berlatih. Persis kayak nyang diungkapin mas Prapto. Kehilangan cirinya sebage sebuah teknik perguruan, dan ini terjadi justru pada atlet nyang juara!! :'( Jika fokus perguruan adalah menciptakan juara, maka teknik perguruan tidak akan muncul. Nyang dipake persis nyang diutarakan mas Godam....

Kapan waktu ane berkesempatan sowan pendekar sepuh se-angkatan alm Mbah Marto, Mbah Madiyo,di PH juga, beliau pun mengungkapkan keprihatinan yang sama. Jadi ane rasa, issue ini sudah disadari orang banyak. Menurut ane malah ada hal yg lebih buruk dari itu..... keilmuan perguruan yang tidak akan dapat "khatam" dengan sempurna karena metode latihan, teknik yang dipakai, semua orientasinya pertandingan IPSI, ke depannya krisis identitas teknik sebagai pesilat perguruan A, perguruan B, de el el... dahulu ane beruntung menyaksikan ke-khas-an teknik berbagai perguruan:pendeta PD, bantingan SHT, tendangan T PH, de el el....

Orientasi ini yang jadi sumber masalah. Jika perguruan bekutat memunculkan namanya secara instant dalam kancah para juara... ya hal ini pasti nongol terus. Jika perguruan konsisten melahirkan pendekar pilih tanding dalam gelanggang kehidupan yang jao lebih luas dari gelanggang 7 x 7 m persegi itu... niscaya hal ini bisa dihindari....... semoga.

wassalam
"Gerak tak lebih cepat dari pikiran, hati tahu lebih dulu."

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 758
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Teknik bertarung silat IPSI, kehilangan ciri perguruan
« Reply #14 on: 04/01/2011 10:12 »
Sesekali mbok ya dibikin pertandingan best of the best antar perguruan napa. :)

Pada banyak perguruan sudah ada pertandingan internal khas mereka, seperti misalnya pada PD, TS, MP, dan yang lainnya. Toh pertandinga-pertandingan tersebut sudah full body contact semua. Menarik kalau para juara-juara ini ditandingkan lagi di level yang lebih tinggi. Jadi, juara ketemu juara. Tidak kalah menariknya dibanding nonton UFC :) Sponsornya IPSI (kalo mau).

Maaf cuman omong-omong ngalor-ngidul mana-mene. :)

Salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal