+-

Video Silat


Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Thi Khi I Beng  (Read 994684 times)

hummdee6

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 3
  • -Receive: 23
  • Posts: 365
  • Reputation: 33
    • Email
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #15 on: 21/10/2010 20:06 »
mantab cerita thi ki i beng.
Lebih mantab lagi ternyata ada saksi hidup yang sempet jadi 'korban'. Bikin saya ngiri. [top]

kira2 ada gak ilmu lawannya?
yg cirinya malah "ngasih" tenaga ke lawan, sampe lawan overload? seinget saya disalah satu serial kho ping ho, ada yg menceritakan ttg itu. Gak tau deh, di serial bu kek siansu, suling emas, pendekar sadis, atau serial lainnya.

soale saya pernah ketemu orang yang harus 'membuang' tenaganya .. sebab kl gak di'buang', tubuhnya bs agak sakit.
Hasilnya, dia gunakan untuk pengobatan demi 'membuang' tenaga yang berlebih itu.

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #16 on: 22/10/2010 10:03 »
Jadinya Thi Khi I Beng itu bahasa Indonesianya apa ya?

Muhun maaf, soalnya perbendaharaan Hokkian saya baru sampai ke Kwee Tiauw, Siomay, Bakpao, Bak So, dan sejenisnya  :w

Dari nama biasanya kita bisa ketahui karakter ilmu yang dimaksud kan?

***

Lalu... ada beberapa hal yang saya penasaran...

kalau benar hawa sakti itu adalah hal yang diakumulasi hingga tak berbatas, mengapa praktisi Thi Khi I Beng harus hati-hati jangan sampai overload ketika menghisap tenaga lawan?

Mengapa bisa ada konsep tenaga berlebih yang harus disalurkan?

Kalau menilik ilmu Banjir Bandang Segara Asat, berlaku kaidah fisika biasa, bahwa fluida mengalir ke tempat yang tekanannya lebih rendah. Berarti praktisi ilmu ini sebaiknya orang yang kosong melompong dong ya?

Bisa salah hisap gak... jadinya malah menghisap hawa sakit dari lawan?

Bukannya gak percaya, ini namanya menyesuaikan informasi baru dengan kaidah yang sudah ada di pikiran. Maklum bukan orang sakti, jadi pemahamannya belum ada x-))
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #17 on: 22/10/2010 10:39 »
Salam Buat Semuanya,
@Mas MPCRB: terima kasih untuk konfirmasi perbedaan TKIB dan BBSA. Sampeyan betul. Hal ini sekaligus juga membuat saya mengkoreksi keterangan saya sebelum ini. Dalam keterangan saya pada posting sebelum ini hanya mengacu pada efek akhir yang ditimbulkan, yaitu sama-sama "tersedot" tenaga dalam lawan.

Kalo TKIB yang versi "saya alami sendiri" (baca: saya "korban"nya  :D, BUKAN praktisinya) aplikasinya bisa keduanya, kalo sesuai dengan apa yang Mas MPCRB jabarkan. Berarti, dengan pendapat Mas MPCRB, sifatnya bisa pasif dan aktif. Hanya (mungkin saja) "syarat" yang berlaku pada BBSA (harus sepadan kekuatan tenaga dalamnya) tidak berlaku pada ilmu ini. Saya setuju dengan Mas MPCRB bahwa memang "rasanya" berbeda, walau akan berakhir sama. Perlu diketahui, nama ilmu yang "dikenakan ke saya" itu tidak ada namanya. Yang memberi nama TKIB itu ya kami-kami ini yang tukang baca KPH dan kebetulan "merasakan" demo itu. Wong Mas Pendekarnya waktu ditanya nama ilmunya, beliau bilang "yo mbuh, pokoke howone nek dilatih yo iso digawe koyok ngene" (ya tidak tahu, pokoknya hawanya kalau dilatih ya bisa dibuat seperti begini).  :)

Yang saya rasakan pada waktu "jadi korban":
Ketika saya menyerang dengan tenaga penuh dan disambut dengan relatif lunak (tetapi tidak nyeplos), tiba-tiba di dantien (tantien) seperti ada vacuum cleaner yang nyedot di dalam, membetot paksa energi dan mbrobos sampai tangan terus seperti lepas tak terkendali. Bola mata saya rasanya seperti tertarik ke dalam soket mata. Kejadian ini mungkin paling lama hanya 1-2 detik saja, tetapi saya rasanya seperti lemah lunglai (lungkrah dalam Bahasa Jawa).
Nah, kalau "rasa" yang diserang duluan (aktif kalau menurut deskripsi Mas MPCRB), bedanya ada semacam bola karet yang kenyal seperti gel sebesar kira-kira kelereng (gundu) berdiameter kira-kira 1cm-an menerobos masuk sampai dantien, lalu kejadiannya sama seperti yang sudah saya ceritakan di atas.

Saya juga percaya bahwa pemilik ilmu semacam TKIB dan/atau BBSA itu bukan hanya 1-2 orang saja atau 1-2 perguruan saja di dunia ini. Hanya saja, para praktisi dan pengamal ilmu itu (bisa dipastikan) tidak akan berkoar dan sesumbar kalo beliau bisa. Yang ga bisa dan sekedar tahu itu (yang ilmunya berdasarkan "katanya") yang (biasanya) berani nggedombos. Ya kayak saya ini contohnya.  [lucu]

@Mas Antara: Thi Khi I Beng = Mencuri Kekuatan Mengganti Semangat. Saya bukan praktisi TKIB, mungkin jawaban saya atas pertanyaan Mas Antara juga belum tentu benar. Sebenarnya, ini semua tidak terlepas dari konsep keseimbangan energi. Kalo kurang bisa sakit, kelebihan juga bisa menyebabkan sakit. Tubuh manusia punya keterbatasan. Manusia hanya bisa memaksimalkan apa yang sudah jadi batas maksimalnya. Tentu saja konsep "tak terbatas" itu disesuaikan dengan batasan maksimal seseorang. Mungkin analoginya begini: dalam charger baterai modern, bila kapasitas baterai sudah maksimal, maka charging akan "terputus", walau pun charger masih ditancepkan ke stop kontak dan masih ada listriknya dan "secara teori" masih nge-charge. Salah hisap? Kemungkinan besar bisa saja. Ga tau juga kalo ada "filternya" ya?  :) Kalo soal praktisi BBSA harus "kosong melompong", lha bagaimana dia bisa melancarkan serangan pembuka untuk menyedot kalo ga punya apa-apa?

@Bang Hummdee6. Singkat jawabnya: ADA. Menurut pendapat saya (CMIIW), kalau ada ilmu yang menyedot, tentu ada ilmu yang menambah. Lagi-lagi ini suatu konsep keseimbangan. Orang sehat, kalo ditambahin banyak energi sampai batas maksimum yang dia bisa tahan, otomatis jadi sakit. Apa yang Bang Hummdee6 ceritakan bahwa ada orang yang melakukan pengobatan untuk "membuang" kelebihan tenaga itu memang ada dan saya percaya.

Salam...


mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #18 on: 22/10/2010 11:45 »
Wong Mas Pendekarnya waktu ditanya nama ilmunya, beliau bilang "yo mbuh, pokoke howone nek dilatih yo iso digawe koyok ngene" (ya tidak tahu, pokoknya hawanya kalau dilatih ya bisa dibuat seperti begini).  :)

Kalau yang seperti ini, sering saya jumpai juga pada senior MP dan juga pada guru-guru aliran lain. Terkadang memang mereka tidak pernah (dan bisa jadi tidak akan pernah) berniat untuk mengilmiahkan penjelasannya. Pokoknya ya kalau dilakukan begini, hasilnya begitu. Persis seperti gambaran mas dsbasuki.

Termasuk ketika juga dilakukan pematahan benda keras dengan getaran (kalo versi MP). Ditanya teknik A dan B, yang keduanya berhasil. Yang satu mukul cuman 'ditempel', yang satu malah sekenanya. Tapi ya efeknya sama aja. Yang satu mengalirkan getaran pada suatu serangan (bisa jari, sisi telapak, atau telapak tangan, atau apa saja) lalu 'ditempelkan' pada sasaran, dan patah. Yang satu lagi, menyalurkan getaran pada alat penyasar sekaligus juga pada sasaran, lalu menarik bersamaan dan kemudian mukul aja sekenanya, dan patah juga. Lucunya ketika dicoba, ya bener juga. Meski masih bingung dengan penjelasan. :)

Ditanya, kenapa bisa begitu mas? Dijawab "yo mbuh... pokoknya kalau kamu lakukan seperti ini, maka akan terasa seperti ini, dan kemudian kamu teruskan seperti ini, maka hasilnya sepert itu". Tugas kita-kitalah sepertinya untuk menjembatani dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #19 on: 22/10/2010 17:30 »
@Mas Don,
Terima kasiuh banyak banget atas keterangannya. Cukup bisa dipahami.

Kalo soal praktisi BBSA harus "kosong melompong", lha bagaimana dia bisa melancarkan serangan pembuka untuk menyedot kalo ga punya apa-apa?
Ini berlaku gak melawan orang yang gak punya hawa macam saya? (kecuali hawa napsu x-))) atau hanya bisa diterapkan ke orang yang sudah punya tenaga sakti?
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #20 on: 22/10/2010 18:01 »
@Mas Antara: Sama-sama Mas. Jelas ilmu semacam TKIB dan/atau BBSA bisa dipakai untuk menyerang orang yang tenaga dalamnya belum terbangkitkan, wong yang disedot itu chi/qi/prana si lawan. Tiap orang pasti punya qi, kalo ga, ya mati. Qi ini yang membuat suhu tubuh konstan sekitar 37 derajat Celcius.

Salam...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #21 on: 22/10/2010 20:46 »
Waduh, kirain udah aman gak ada tenaga dalemnya... ternyata masih ada resiko kena juga ya? :'(

Jadi nambah nanya nih, Mas Don... tenaga dalam itu jadinya dibangkitkan apa dihimpun? Ibaratnya, kita ini batere atau generator? Dari tulisan-tulisan di atas kok kayaknya ada dua konsep nih...
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #22 on: 22/10/2010 23:01 »
kalau menurut terminologi yang saya pahami dan rasakan, kita ini 'generator' mas, bukan batere. :)

Batere itu sifatnya statis, sedangkan generator itu sifatnya potensial.

Saya sering menganalogikan kalau switch dari 'generator' ini ada 3, yakni cipta-rasa-karsa. Ia hanya akan menjadi maksimum kalau ketiganya 'on'.

Tubuh ini adalah mahakarya dari sang pencipta yang tiada berbatas. Memiliki kemampuan tiada hingga sampai pada level sel dan mikro sel bahkan tingkat atomik. Sang pencipta sudah memberikan 'kemampuan' pada tubuh ini, tapi terkadang masih tersembunyi, belum semuanya muncul secara potensial. Harus digali, ditemukan caranya, dan kemudian menjadi bangkit. Istilah yang muncul adalah 'dibangkitkan', bukan 'dihimpun'. 'Dihimpun' baru bisa dilakukan setelah 'kebangkitan' terjadi.

Kalau istilah dibangkitkan, berarti ia sudah ada. Dan memang sudah ada. Itulah sebabnya dikatakan oleh mas dsbasuki kalau Thi Khi I Beng juga berefek pada tubuh normal. Karena meski normal, ia sebenarnya masih memiliki Chi yang belum terbangkitkan. Chi sebagai daya hidup, yang tanpanya manusia akan mati, yang dimiliki oleh setiap manusia, yang juga bisa ikut terhisap.

Meski demikian, ada analogi terbalik untuk ini juga bagi yang menginginkan keterbatasan, yakni bahwa kemampuan tubuh manusia ini dibatasi oleh imajinasi. Seperti halnya konsep chakra, konsep titik meridian, konsep 'organ' yang tidak nyata tapi bisa dirasa. Ia abstrak, imajiner. Karena ia imajiner, maka ia bisa menampung sebanyak-banyaknya tanpa batasan, ia akan bisa terus seperti itu selama praktisinya mampu menembus batas.

Awalnya tubuh dan pikiran menyatu. Kemudian ia memisah karena berbagai sebab. Belajar beladiri merupakan salah satu metode untuk mengajarkan kembali menyatukan keduanya. Ketika sudah menyatu, maka hal-hal luar biasa akan tampak ke permukaan. Berikutnya Sang Pencipta memberikan hati, sebagai 'balancer' untuk mengendalikan keduanya.

Dalam terminologi beladiri disebut dengan cipta-rasa-karsa. Penyebutan urutan ini bukan tanpa alasan. Tidak pula menjadi rasa-karsa-cipta atau karsa-cipta-rasa. Ini yang unik dan menarik. Sering didengar, tapi jarang diperhatikan. 'Rasa' ditempatkan pada tengah diantara 'cipta' dan 'karsa', karena ia bersifat penyeimbang. Kalau rasa tidak seimbang, berat pada salah satunya maka terjadi ketimpangan, muncul anomali. Entah anomali cipta atau anomali karsa.

But again, ini cuma personal opini. Bisa berbeda...

hehehe cuman olahpikir dari anak kemaren sore... :)

monggo ditambah atau dikurangi mas...

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #23 on: 23/10/2010 01:48 »
Sambil menunggu pencerahan dari mas Don;

Pendapat saya, pembangkitan dan penghimpunan itu satu rangkaian.
Pembangkitan itu dari  sesuatu tenaga yang sudah ada.
Penghimpunan yang bersumber dari dalam, energi yang tersebar dikumpulkan untuk didaya gunakan.
Sedang penghimpunan yang dari luar, termasuk dari nafas, adalah energi alam (energi bumi dan angkasa,termasuk tenaga matahari dan bulan. Kalau tetumbuhan katanya anak dari bopo angkoso dan ibu pertiwi...hehehe).

Masalahnya kan, apakah perlu terus menerus, belasan tahun menghimpun dilanjut menyimpan sampai menumpuk, atau hanya nyimpen dikit, lainnya hanya berlatih, agar bisa leluasa menyedot tenaga/ energi alam kapan perlu, menyalurkan dimana perlu.

Salam.

hummdee6

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 3
  • -Receive: 23
  • Posts: 365
  • Reputation: 33
    • Email
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #24 on: 23/10/2010 04:58 »
gile nih thread..
harus bongkar2 novel kho ping ho lagi nih... [top]

Kl begitu, tipe tenaga yg spt John Chang punya (yg ada di youtube) itu masuk yang kelebihan chi kali yaa.. 

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #25 on: 23/10/2010 06:00 »
Salam Buat Semuanya,
Wah, jadi seru juga neh pembahasannya.  [top]
Kalo dijabarkan dan dianalogikan lebih lanjut, tubuh manusia itu sangat kompleks. Wong (sebagian besar dari kita percaya bahwa) tubuh itu merupakan jagad cilik (mikrokosmos). Jadi, apa yang ada di alam raya ini ada di dalam tubuh manusia.

Untuk analogi simple dari tenaga, saya lebih setuju dengan konsepnya Mas Suprapto. Tenaga dalam (qi) dalam tubuh kita ada yang menyebutnya sebagai bioelektrik. Nah, kalo kita sepakat dulu bahwa qi itu mirip atau mungkin bahkan sama dengan bioelektrik, maka akan lebih mudah dikonsepkan. Nah, dari lahir, tubuh kita punya qi, bioelektrik. Perabotan (organ-organ) tubuh, itu adalah perangkat untuk mengolah, menyimpan, menyalurkan, menambah bioelektrik. Dari analogi Mas MPCRB, baterai dan generator, ada persamaannya: alat kelistrikan. Baterai menyimpan listrik, generator menghasilkan listrik. Baterai dan generator adalah alat. Listrik adalah intinya. Dantien adalah tempat menyimpan qi. Cipta-rasa-karsa adalah jalan untuk pembangkitan dan penambahan qi. Dantien, cipta-rasa-karsa adalah alat. Qi adalah intinya. Sebagaimana generator menghasilkan listrik dari energi lain (mekanik menjadi listrik), maka cipta-rasa-karsa menghasilkan qi dari qi lain (bisa angin, tumbuhan, air, matahari, bulan, dll, seperti penjabaran Mas Suprapto).

Kalo soal suhu John Chang Surabaya seperti kata Bang Hummdee6, bisa ya dan bisa bukan. Ya kalau memang hasil qi yang disalurkan suhu John Chang itu dari tenaga ektra yang beliau miliki dari hasil penghimpunan sekian lama. Menjadi tidak bila qi yang disalurkan itu merupakan hasil dari penyedotan energi alam yang kemudian diolah di dalam tubuh dan disalurkan kembali ke pasien. Bisa juga kombinasi dari keduanya. Untuk pastinya, ya para pengamal ilmunya suhu John Chang yang tahu.

Terima kasih banyak buat semuanya. Alhamdulillah, pagi ini saya mendapatkan rezeki bisa menambah ilmu dari diskusi kita ini. Mohon maaf kalau saya keliru dalam menyampaikan pendapat dan mohon koreksi. Terlebih lagi, saya mohon maaf untuk kelancangan saya berani nggedombos dengan ilmu yang cetek dan rendah.

Jabat erat penuh hormat...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #26 on: 23/10/2010 09:09 »
Merujuk hukum kekekalan energi.

Seseorang yang melakukan bantuan penyembuhan kepada pasien, dengan cara menyalurkan energinya, maka untuk menjaga keseimbangan energi di tubuhnya, tentu harus  menggantinya dengan mengambil energi dari luar sistim tubuhnya.
Ada yang perlu sessie khusus untuk "charging", setelah itu baru menyalurkan tenaga simpanannya (discharging) untuk menolong pasien2. Begitu habis, lemes, letoy, dan harus melakukan sessie charging lagi.
Ada model lain, yg menolong berapapun pasien, tetep segar bugar. Energi yang keluar langsung diganti oleh alam, istilah Choa Kok Sui, energy from heaven.

Keseimbangan energi, equilibrium, pada masing2 praktisi bisa berbeda beda derajatnya. Ada yang simpanannya mencapai besaran A pada saat mencapai equilibrium, pada praktisi lain bisa 10xA, atau berapapun.
Tetap balance, seimbang,  equilibrium pada level derajat/kapasitas masing2.
Ibarat makan, tidak boleh kekenyangan, bisa mengganggu kesehatan.
Istilah seorang Mpu, "di ngengehi", disisakan. Jangan ambil semua, jangan dikeluarkan semua.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #27 on: 23/10/2010 12:45 »
Semakin menarik. ;)

Kembali pada konteks apakah dibangkitkan atau dihimpun. Kalaupun memang ia merupakan satu rangkaian, tentu harus ada proses yang mendahuluinya. Saya sepakat kalau tubuh adalah mikrokosmos. Tentunya potensi yang sudah dimiliki by nature oleh tubuh ini masih 'tersimpan'. Dan inilah yang saya sebut dengan istilah proses 'kebangkitan'. Harus ada proses kebangkitan terlebih dahulu untuk memudahkan seseorang melakukan proses penghimpunan meskipun pada hakekatnya ia adalah suatu rangkaian.

Tenaga yang tersedia bisa diambil darimana saja. Seperti yang sudah dijelaskan oleh mas suprapto, dari bopo angkasa dan ibu pertiwi, dari pohon yang sudah demikian tua, dari bintang, bulan, matahari, bisa macem-macem. Tetapi proses untuk mengenali semua itu, untuk bisa menghimpun semua itu tidaklah bisa dilakukan kalau potensi alamiah mikrokosmos seseorang belum terbangkitkan.

Pada teori Reiki misalnya, dikenal reiki tummo, yakni proses pembangkitan kundalini. Ia belum masuk proses penghimpunan. Meskipun serangkaian, tetapi tahap awal tetaplah pembangkitan.

Pada teori yoga, dikenal dengan proses pembangkitan dimana tiap-tiap chakra yang berjumlah 7 memiliki karakteristik yang berkenaan dengan sesuatu dan kemudian terhalang oleh sesuatu. Pada teori ini malah seseorang untuk mencapai jagat makrokosmos harus membangkitkan ketujuh chakranyq. Mulai dari chakra tanah, sampai dengan chakra mahkota. Teori yang melandasinya tetap sama, perlu dibangkitkan terlebih dahulu. Chakra tanah (merah) dikatakan berkenaan dengan bertahan hidup dan terhalang oleh ketakutan. Jadi ketika berlatih, maka ia harus membuang seluruh ketakutannya, meletakkan di depannya, agar chakra dapat terbuka/terbangkitkan. Chakra air, berkenaan dengan cinta dan terhalang oleh rasa malu. Agar terbuka, maka praktisinya harus menempatkan semua rasa malu pada dirinya dan mau menerimanya. Demikian seterusnya hingga chakra mahkota yang berkenaan dengan jagat raya dan terhalang oleh nafsu duniawi. Disini proses pembukaan chakra pada teori yoga dari India ini belum pada tahap menghimpun.

Tahap kebangkitan ini saya sering istilahkan dengan tahap 'kesadaran', tahap pemahaman. Tahap dimana kesadaran mulai muncul, tahap dimana pemahaman mulai muncul.

Lanjutan dari pengalaman diskusi dengan salah satu master Tai Chi di klenteng Cirebon, dikatakan kalau setiap praktisi yang berlatih Chi maka dalam dirinya akan terjadi pengendapan Chi (disadari ataupun tidak). Sehingga terbentuk inti Chi (atau inti prana).

Jadi, menurut yang saya tangkap, ada 3 bagian Chi (monggo dikoreksi kalau salah), dimana Chi yang pertama adalah Chi sebagai daya hidup (jenis chi yang kita perbincangkan pada Thi Khi I Beng), Chi yang kedua adalah Chi yang mengalami transformasi energi (jenis Chi yang dipapar oleh mas suprapto sebagai bagian dari hukum kekekalan energi, yang juga dilakukan oleh Choa Kok Sui, merupakan chi yang mengalami proses kegiatan 'hidup', entah untuk penyembuhan, atau pertarungan), dan Chi yang ketiga adalah Chi yang mengendap sebagai inti Chi (istilah beliau) yang bisa tetap tertinggal meskipun praktisinya sudah meninggal dunia.

monggo ditambahi atau dikurangi ...

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #28 on: 23/10/2010 15:16 »
Setuju, dimulai dengan upaya pembangkitan. Dari pembangkitan kemudian bisa LEBIH terhubung dengan energi diluar tubuh. Setelah terhubung, saluran itu bisa dipakai untuk menyerap/menghimpun  atau menyalurkan keluar.

Bahwa pada kegiatan pembangkitan, seseorang juga/sudah menyerap energi alam, dari udara melalui bernafas, atau makan makanan hasil alam. Energi alam tadi sudah diserap dan digunakan untuk kegiatan pembangkitan.

Dalam "meditasi" berbentuk STATIS, seperti yoga atau bentuk meditasi getaran MP, juga senam pengolahan MP ;  atau yg BERGERAK, seperti senam taichi dan senam pembinaan MP, atau juga melakukan jurus2 tertentu, tahap awal adalah membuka kantong2 energi, melancarkan jalur2 dan membesarkan generator energi dan membuka tempat2 untuk penyimpanan. Bahan bakar atau material dari luar berbentuk makanan (bentuk wadag) dan udara. Setelah itu bisa menghimpun lebih luas lagi, berupa energi alam yang lain.

Intinya, apakah terpisah dengan batas/sekat yang tebal atau tipis, untuk bung Antara, pembangkitan dan penghimpunan, kedua duanya adalah rangkaian suatu proses.

Salam.

crashed brain

  • Guest
Re: Thi Khi I Beng
« Reply #29 on: 23/10/2010 19:38 »
Thread starternya kemana nih?

Coba diuraikan konsep Thi Khi I beng itu sperti apa?

 [[peace2]] gw dah coba... sayang belum nemu spar...

 

Powered by EzPortal