+-

Video Silat

Shoutbox

23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Rahasia Tenaga Dalam  (Read 24804 times)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #30 on: 29/10/2010 11:43 »
Mas mpcrb, Saya masih bingung apa betul listrikkita sendiri itu bisa kita rasakan ( kaitan dengan rasa ) . Tapi saya iseng2 pernah ngukur dengan volt meter ( di telapak tangan ) biasanya meningkat setelah latihan.

Pertanyaan ini juga pernah juga bergelayut pada diri saya kang SG. Ketika kemudian hawa panas merambat naik dari pusar ke ulu hati, lalu ke jantung, lalu disalurkan ke telapak tangan dan kemudian telapak tangan berasa sepert kebas, seperti tebal, dan menghangat. Apakah ini hanya 'sensasi otak', ataukah benar-benar kalor sesuai kaidah fisika yang sesungguhnya. Kalau hanya sensasi pada otak, berarti ia imateri. Tapi masalahnya, ia berefek pada materi. Berarti ada transformasi energi.

Saat ini, teori saya yang paling mudah dipahami (buat saya pribadi) adalah ya karena teori konduksi, konveksi, dan radiasi tadi kang. Tubuh manusia, mengandung 3-4 gram besi. Tersebar pada aliran darah yang fluid/cair. Jadi, ada penghantar dan yang dihantar. Dari mana besi dalam tubuh ini bisa memanas? Darimana munculnya kalor pada perut? Itu yang menjadi pertanyaan besar. Sejauh ini, jawaban versi saya adalah dari efek radiasi yang bersumber dari pikiran, dari otak.

Jadi kalau urutan transformasi energinya demikian (menurut saya):
(1) Energi Ilahi --> (2) Pikiran (cipta) --> (3) Materi (tubuh) --> (4) Panas --> (5) Listrik

(1) Sifatnya energi potensial, sudah ada dari sononya. Sudah sunatullah.
(2) Pikiran (cipta), 'alat' olah. Potensi yang diberikan Sang Maha Pencipta yang berbeda dengan makhluk lain.
(3) Materi (tubuh), sebagai medium, sebagai wadah.
(4) Panas, energi awal yang dipahami dari abad jadul sampe modern. Proses penciptaan alam semesta juga diawali dari panas.
(5) Listrik, salah satu bentuk transformasi energi dari panas. Juga simbol dari transformasi energi dalam bentuknya yang lain.

Pertanyaannya, dimana potensi 'rasa' ? Disitulah menariknya. Pada dasarnya, meski tanpa 'rasa', manusia tetap dapat mencipta, tetap dapat melakukan karsa. Tapi ia, diberikan oleh Tuhan sebagai balancer, sebagai penyeimbang, agar potensi lain menjadi terarah. Sehingga tepatlah penyebutan cipta-rasa-karsa yang sesuai urutan dimana rasa berada di tengah antara keduanya. Disitulah juga kenapa manusia dinilai dari HATI, dari 'rasa', dari 'roso'. Karena kalau tanpa ini, potensi yang diberikan Tuhan akan bisa sangat merusak.

But again, itu hanya pemikiran kang. :)

Duuh, kayak guru besar aja ngomongnya. Wong anak kemaren sore nie... iseng-iseng aja kang...  x-))

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Irwansyah

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 5
  • -Receive: 2
  • Posts: 276
  • Reputation: 5
    • Email
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #31 on: 30/10/2010 22:20 »
Orang yang berusaha menjelaskan TD itu seperti apa dengan mengambil teori-teori Fisika atau mencomot teori-teori ilahi seperti seorang yang poligami berusaha mencari pembenaran dengan ayat-ayat agama  [[peace2]]

Eh, gak nyambung ya?  x-))

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #32 on: 31/10/2010 05:20 »
Oalah... ternyata untuk menguasai tenaga dalam itu harus poligami dulu... pantes dari dulu saya nggak bisa-bisa ...  :w

***

Mengamini Bang Irwansyah,

Saya pribadi tidak menyukai penjelasan tenaga dalam yang dipaksakan secara ilmiah, karena kalau mau ditelusuri lebih jauh, teori-teori itu harusnya gugur karena skala yang tidak mencukupi.

Misalnya, teori tentang ATP,
tidak cukup banyak mitokondria dalam sel tubuh manusia untuk bisa menghasilkan kekuatan super. Seluruh ATP yang diproduksi oleh seluruh sel di dalam tubuh manusia dewasa normal akan habis hanya dengan melakukan olahraga angkat beban dalam waktu dua puluh menit (ini saya baca dalam sebuah jurnal binaraga), dus, sebatas kemampuan fisik biasa.

Adapun kandungan zat besi dalam tubuh manusia,
sekian mikrogram zat besi dalam darah tentu tidak cukup banyak untuk bisa melakukan induksi, apalagi menjadikan tubuh sebagai elektromagnet kuat yang bisa menghasilkan kekuatan super.

Saya menganggap penjelasan-penjelasan itu sebaiknya dipahami sebagai usaha menjelaskan prinsip kerja dari fenomena tenaga dalam, sebuah analogi, tapi bukan dinamika fisika yang melatar-belakangi tenaga dalam.

Apalagi buat saya yang daleman cuman taunya Hings, Crocodile, dan GT-man  [lucu]
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #33 on: 31/10/2010 15:24 »
Orang yang berusaha menjelaskan TD itu seperti apa dengan mengambil teori-teori Fisika atau mencomot teori-teori ilahi seperti seorang yang poligami berusaha mencari pembenaran dengan ayat-ayat agama  [[peace2]]

Dalam konteks diskusi, perbedaan pendapat tidak masalah mas. Pendapat saya dan kang irwansyah tidak masalah berbeda, bahkan bisa jadi sangat kritis perbedaannya.

Buat saya pribadi, proses pencerahan atau pemahaman mengenai TD akan sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana praktisi tersebut berada. Dan buat saya pribadi, proses pencerahan ini sangat unik dan khas pada tiap-tiap orang, meskipun metode yang diajarkan tetap sama.

Lingkungan praktisi yang kental dengan nuansa agamis, akan membentuk pemahaman TD yang berbeda dengan praktisi yang kental dengan nuansa sains. Demikian juga, lingkungan praktisi yang 'keras' akan membentuk pemahaman yang berbeda dengan lingkungan praktisi yang 'lembut'. Praktisi yang banyak besar di 'jalanan', akan berbeda dengan praktisi yang banyak besar di tempat latihan. Praktisi yang sarat denga keriangan akan berbeda dengan praktisi yang sarat dengan kesedihan. Masing-masing ada jalan sendiri untuk mencapai pencerahan/pemahaman.

Pada kondisi demikian, buat saya tidak penting itu poligami atau monogami. Selama yang ditemukannya berguna bagi dirinya dan berhasil bagi dirinya, itu adalah suatu pencerahan. Meskipun buat sebagian orang dipandang konyol. Ujungnya tetap hasil akhir, yakni keberhasilan. Selama mengarah pada keberhasilan, maka teori apapun bisa dipandang benar.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #34 on: 31/10/2010 15:50 »
@kang Antara, saya pribadi tidak pernah memaksakan teori ini adalah teori yang benar. Tidak sama sekali. Wong sampe detik ini benang merahnya saja masih belum ketemu jelas kok. Meski demikian, sebagai salah satu bentuk mersudi (yang berhasil memberikan pencerahan pada diri saya), tidak ada salahnya saya utarakan. Bukan untuk diikuti. Tidak sama sekali. Kalau dirasa cocok, tinggal diambil manfaatnya. Kalau tidak, ya dianggap sebagai cerita. :)

Seperti halnya begitu konyolnya teori kundalini yang mengatakan bahwa TD digambarkan dengan ular yang meliuk-liuk dari chakra tanah hingga chakra mahkota. Kenapa harus ular? Kenapa bukan singa, naga, atau binatang lain. Show me the snake? Nooo, this is imagination only! But it works! Saya sendiri ketika menanyakan pada praktisi kundalini, mereka sendiri tidak pernah melihat 'sosok ular' seperti apa. Bahkan terkadang, pencerahannya juga tidak dengan teori seperti 'ular', tetapi teori lain yang dipahami di pikirannya. Jadi konteksnya sangat individual.

Seperti halnya ketika saya memandang BESI dalam tubuh yang menurut saya sangat istimewa. Lha bagaimanamungkin hanya 3-4 miligram saja bisa 'menangani' rumitnya proses di dalam tubuh kita selama berpuluh tahun berjuta generasi? Hanya 3-4 miligram saja, yang bahkan nol koma sekian dari berat tubuh kita. Tentunya ini sangat istimewa. Bisa jadi bukan seperti gambaran besi (misal: tiang bangunan, stang motor, dsb) yg kita lihat pada kehidupan sehari-hari. Tetapi bisa jadi BESI dalam perwujudannya yang sangat unik dan istimewa. Kalau BESI normal, bisa jadi ia tidak sehebat gambarannya untuk menghasilkan teori induksi, dsb, seperti yang kang Antara gambarkan. Saya sepakat itu. Tetapi kalau memang ia adalah unsur yang istimewa, kemungkinan bisa lebih banyak.

Btw, sejujurnya, pengetahuan yang kita miliki adalah mutlak dari hasil poligami. Apapun itu.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #35 on: 31/10/2010 16:01 »
Eh kalau bicara poligami, saya adalah penganut poligami. Karena istri saya dua. Hihihihi..  [top]

Kalo yang itu beneran. :)

hehehe

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

dsbasuki

  • Calon Pendekar
  • *
  • Thank You
  • -Given: 11
  • -Receive: 24
  • Posts: 528
  • Reputation: 56
    • Who? Me?
  • Perguruan: Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #36 on: 31/10/2010 20:08 »
Buat saya pribadi, menceritakan tenaga dalam sama seperti menceritakan rasanya coca cola. Buat orang yang sudah pernah mengicipi, merasakan dan meminum coca-cola, bisa membayangkan kalo saya bilang rasanya coca cola itu manis, ada nggremet-nggremetnya di lidah. Buat orang yang belum pernah minum coca cola, konsep apa pun dan penjelasan apa pun yang saya jabarkan semaksimal mungkin, bisa jadi disangkal dan dianulir serta tidak sanggup dibayangkan, apalagi dicerna. Manisnya permen dan manisnya gula, sama-sama manis, toh tidak sama dengan manisnya coca cola.

So, tenaga dalam, apa pun namanya, ya kayak minum coca cola. Sampeyan harus merasakan sendiri.

Tentu saja, saya bisa saja keliru soal pendapat ini, dan bisa disanggah.

Salam...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #37 on: 01/11/2010 08:09 »
@Mas mpcrb,

lah ya justru itu yang saya maksut... penjelasan ilmiah yang berfungsi hanya sebagai simbolik, bukan kaidah ilmu pasti yang nyata. Pemuas kebutuhan kita terhadap penjelasan, namun bukan penjelasan itu sendiri. Kalau untuk tenaga dalam saya lebih menyukai teori dualisme partikel dan relativitas dibanding fisika Newtonian. Toh, tetep ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan oleh dua teori canggih itu...

Hehehe... itulah bedanya antara orang yang mencari dan orang yang nyasar, orang yang nyasar kayak saya selalu menemukan ada cacat dalam teori sehingga hidupnya tidak pernah bisa ditenangkan dengan penjelasan  :w moga-moga suatu hari nanti dapet petunjuk yang lurus supaya tidak selalu jadi orang tersesat  x-))

***

@Bang Don,

Saya setuju bahwa tenaga dalam saat ini masih merupakan bidang yang eksperential dan subyektif. Tapi sekaligus saya melihatnya sebagai kekurangan dari bahasa, khususnya bahasa Indonesia dalam mengungkapkan sesuatu. Tidak semua pengalaman berada dalam tataran abstrak, misalnya, tanpa perlu dijelaskan kita bisa membedakan antara sakit, nyeri, ngilu, linu, dan pedih. Itu adalah kemampuan bahasa merinci suatu hal. Jika ada topik yang tidak bisa dijelaskan, maka ia hanya belum cukup didalami melalui pengamatan keilmuan obyektif.

Kalau yang pernah saya dikuliahi dulu, keilmuan itu dibagi menjadi subyektif dan obyektif. Ketika suatu ilmu masih terbatas pada pengalaman beberapa orang dan tidak bisa dijelaskan ke orang lain, dia masih berada pada tataran subyektif, namun pada saatnya sudah berkembang bahasa dan catatan yang cukup tentang pengalaman itu, maka ilmu itu bisa dilihat dari kacamata orang luar dan menjadi obyetif (walau obyektif sebenarnya subyektif yang rame-rame x-)))

Misalnya kasus kundalinii,
mungkin dia adalah khayalan semata, tapi sekian banyak orang yang melatih ilmu ini merasakan aliran tenaga yang bergerak meliuk-liuk di sepanjang tulang belakang menuju anahataa di atas kepala, sehingga dibuatlah simbol ular. Simbol ini adalah pengetahuan obyektif dari sekian banyak pengalaman subyektif yang konsisten, yang bisa membantu para pencari berikutnya untuk belajar dari pengalaman orang-orang sebelum mereka.

Saya percaya bahwa pada akhirnya semua ilmu yang nyata dan ada, haruslah bisa didefinisikan dan diukur dengan baik, kalau tidak ilmu itu sesungguhnya tidak ada atau cuma khayalan. Tinggal kesediaan kita-kita untuk mau membawa ilmu-ilmu subyektif itu ke ranah yang bisa dipahami oleh banyak orang, dan bukan terus-menerus menjadikannya abstrak demi menjaga ekslusivitasnya.

Tinggal memastikan bahwa kita punya alat yang cukup. Saya pernah diberitahu orang bahwa di Bahasa Arab ada enam puluh lebih kata yang menggambarkan orang menunggang kuda... sedangkan di Bahasa Indonesia kita cuma tahu tiga, yaitu berderap, mencongklang, dan berpacu... tuh, kita masih kekurangan alat. [lucu]

***

Hmm... jadi gitu triknya... kalau istri cuma satu, dia punya wewenang menghalangi kita latihan. Tapi kalau dua atau lebih, mereka akan bertengkar sendiri sehingga tidak sempat mengganggu aktivitas dan hobbi kita...  [lucu]

***

btw, jadi ada pertanyaan,
berarti tenaga dalam itu tidak ekslusif untuk mereka yang selibat dong ya? Seperti sering kita dengar seputar ilmu dari Shaolin dan Wudang?
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #38 on: 01/11/2010 08:48 »
@kang Antara, agar tidak menjadi kesalahpahaman, pada penjelasan versi saya selalu saya ikuti dengan kata "apa mungkin", "mungkinkah", "bisa jadi", dan kata-kata yang bersifat nisbi lainnya.

Pertama, pendapat saya masih sangat prematur karena bukan berasal dari ilmuwan sejati dengan kaidah empiris dan alat ukur yang dapat dipertanggungjawabkan. Itupun saya nyatakan sejak awal pendapat itu dimulai. Bukan pula datang dari seorang master tenaga dalam. Saya memahami TD dalam konteksnya yang berbeda. Kalaupun kemudian saya menyinggung teori-teori lain karena pada saya prinsipnya saya meyakini bahwa potongan pengetahuan itu akan saling melengkapi. Hanya perlu dicari saja benang merahnya agar ketemu "it works"-nya bagi yang menjalankan. Dalam hal ini, teori prematur tersebut terbukti sangat berguna menimbulkan pemahaman pada diri saya. Ada hal yang saya tangkap tapi tidak bisa saya temukan bagaimana cara menuliskannya. Ini subyektivitas. Bisa dianggap keliru bagi orang lain. Sejauh yang saya mengerti, teori apapun selama ia menghasilkan pencerahan bagi praktisinya, dapat dianggap bagian dari kebenaran (meski kecil). Sayapun terkadang ketika mencapai kebuntuan, ketika arahan dari senior tidak nangkep di diri (karena kebodohan saya pribadi), kemudian tergerak untuk mencari jalan lain untuk menuju hasil akhir yang diinginkan.

Kedua, saya meyakini kalau tenaga dalam dibangkitkan berdasarkan konteks ruang dan waktu serta kearifan lokal lingkungan praktisinya. Artinya, meski teknik yang diajarkan seragam, tetapi pencerahannya bisa jadi akan berbeda tiap-tiap orang.

***

Kalau istri satu, diskusi kita terbatas kang. Tapi kalau istri dua, kita bisa diskusi lebih banyak karena banyak kepala berarti banyak pemikiran. Plus kalau lagi pada ribut, bisa gunakan getaran untuk menetralkan kembali. Hehehhe. Kalau karakteristik yang pertama, ia logis. Tapi yang kedua, ia sangat perasa. Jadi kayaknya pas dengan karakteristik pribadi.  x-)) Dah ah, ntar malah disangka ngajarin buat poligami lagi. Hehehehe  [[run2]]

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #39 on: 01/11/2010 09:29 »
@mas Don (kok dipanggilnya mas Don? emang namanya Dona ya? hehehe becanda kang jangan diambil hati yaaa) :)

Saya sepakat kalau yang namanya menjelaskan itu sangat subyektif. Bisa jadi hanya dimengerti oleh yang ngomong (disebut omong doang) dan bisa jadi juga dimengerti oleh orang lain (disebut omong bener). Semua teori yang solid yang berkembang saat ini dimulai dari teori prematur yang mengalami proses pemikiran, pengembangan, uji coba, dsb. Barulah kemudian terjadi suatu teori yang solid. Kalau ranahnya sains, ini mudah dijabarkan karena memang sudah disusun sedemikian rupa alat ukur dan teorinya. Plus kalau sudah masuk pada jurnal ilmiah internasional, maka berarti sudah bisa dianggap sesuatu yang solid.

Tapi kalau ranahnya kanuragan, lha ya itu yang sulit. Masing-masing punya cara dan penjelasan bagaimana itu terjadi. Ukurannya dilihat dari hasil akhir yang dicapai. Kalau sama, ya bisa dianggap bener. Terlepas apapun dan bagaimanapun prosesnya. Ketika saya mengatakan "Pemahaman/pencerahan", jangan disamakan dengan pakem (how-to) bagaimana melatihnya. Itu wilayah yang berbeda.

Pencerahan, buat saya pribadi adalah suatu keadaan substansial yang mengarah pada hasil akhir yang dipengaruhi oleh kearifan lokal pelakunya. Jadi mau kundalini, chakra, getaran, prana, chi, ki, qi, whatever, adalah hasil akhir yang telah dinamai. Pencerahannya? Sangat subyektif.

Jadi ketika bicara "coca cola itu manis", substansinya adalah mencapai 'rasa manis' dari coca cola. Ketika kemudian 3 orang menenggak coca cola yang sama, yang satu ternyata langsung merasakan 'manis', dan yang satu 'manis plus gremet-gremet' di lidah. Tapi yang terakhir (bisa jadi karena fisik sedang drop, sehingga lidah kehilangan kemampuan untuk merasa) mengatakan 'ini rasanya hambar, tidak sesuai dengan gambaran pada umumnya'. Menurut saya pribadi, menjabarkan fenomena-fenomena (atau analogi, atau teori dasar) dengan poligami pada disiplin ilmu manapun dapat dilihat sebagai bagian dari 'memecah kebuntuan'. Bukan dalam konteks menganggap paling benar.

Demikian yang saya pahami kang. Saya pribadi, banyak belajar dari para pendekar dan sesepuh disini lewat tulisan-tulisannya. Setidaknya, dari tulisan saya sedikit banyak bisa menyelami karakteristik penulisnya. Semuanya hebat-hebat...

salam.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Irwansyah

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 5
  • -Receive: 2
  • Posts: 276
  • Reputation: 5
    • Email
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #40 on: 01/11/2010 11:39 »
@Mas mpcrb,

lah ya justru itu yang saya maksut... penjelasan ilmiah yang berfungsi hanya sebagai simbolik, bukan kaidah ilmu pasti yang nyata. Pemuas kebutuhan kita terhadap penjelasan, namun bukan penjelasan itu sendiri. Kalau untuk tenaga dalam saya lebih menyukai teori dualisme partikel dan relativitas dibanding fisika Newtonian. Toh, tetep ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan oleh dua teori canggih itu...

Hehehe... itulah bedanya antara orang yang mencari dan orang yang nyasar, orang yang nyasar kayak saya selalu menemukan ada cacat dalam teori sehingga hidupnya tidak pernah bisa ditenangkan dengan penjelasan  :w moga-moga suatu hari nanti dapet petunjuk yang lurus supaya tidak selalu jadi orang tersesat  x-))

***

Kalau yang pernah saya dikuliahi dulu, keilmuan itu dibagi menjadi subyektif dan obyektif. Ketika suatu ilmu masih terbatas pada pengalaman beberapa orang dan tidak bisa dijelaskan ke orang lain, dia masih berada pada tataran subyektif, namun pada saatnya sudah berkembang bahasa dan catatan yang cukup tentang pengalaman itu, maka ilmu itu bisa dilihat dari kacamata orang luar dan menjadi obyetif (walau obyektif sebenarnya subyektif yang rame-rame x-)))

Misalnya kasus kundalinii,
mungkin dia adalah khayalan semata, tapi sekian banyak orang yang melatih ilmu ini merasakan aliran tenaga yang bergerak meliuk-liuk di sepanjang tulang belakang menuju anahataa di atas kepala, sehingga dibuatlah simbol ular. Simbol ini adalah pengetahuan obyektif dari sekian banyak pengalaman subyektif yang konsisten, yang bisa membantu para pencari berikutnya untuk belajar dari pengalaman orang-orang sebelum mereka.

Saya percaya bahwa pada akhirnya semua ilmu yang nyata dan ada, haruslah bisa didefinisikan dan diukur dengan baik, kalau tidak ilmu itu sesungguhnya tidak ada atau cuma khayalan. Tinggal kesediaan kita-kita untuk mau membawa ilmu-ilmu subyektif itu ke ranah yang bisa dipahami oleh banyak orang, dan bukan terus-menerus menjadikannya abstrak demi menjaga ekslusivitasnya.

btw, jadi ada pertanyaan,
berarti tenaga dalam itu tidak ekslusif untuk mereka yang selibat dong ya? Seperti sering kita dengar seputar ilmu dari Shaolin dan Wudang?

Hasil dari pencarian saya selama ini, kesaktian, kanuragan, TD, chi, dan sebagainya yang belum dapat diungkapkan dengan bahasa menurut saya merupakan hasil samping dari para pejalan spiritual. Gambaran yang paling saya suka terhadap perjalanan spiritual adalah gambaran dari Al Ghazali dimana dia menggambarkan, sebelum kita menemui sang Raja (Tuhan) maka kita harus melewati halaman istananya dulu. Halaman istana tersebut penuh dengan taman-taman yang menakjubkan mata. Bila kita berhenti di taman tersebut maka kita tidak akan mencapai tujuan kita semua, yaitu menemui sang Raja (Tuhan). Ilmu tasawuf dan meditasi ala Hindu dan Budha mewarnai corak kesaktian, kanuragan, dan TD di Indonesia, begitu juga Tao dengan teori Chi-nya.

Saya mengangkat topik ini dengan mengatakan Rahasia Tenaga Dalam dan hubungannya dengan GMC karena saya berteori, semua rahasia TD dan kanuragan itu letaknya di otak manusia. Untuk GMC tidak usah dibahas karena sepertinay sudah terbukti ada yang ditutup-tutupi :P. Bisa dibilang, TD itu muncul karena praktek meditasi yang dilakukan secara terus menerus yang akhirnya membuat bagian otak tertentu menjadi aktif dan bagian lainnya menjadi kurang aktif. Taichi, Wiridan, olah nafas, semuanya bagi saya merupakan varian dari meditasi. Namun, sayangnya pengalaman ini subjektif sekali seperti pengalaman merasa bersatu dengan Tuhan. Dan bila ditilik dari sisi medis atau neuroscience, ada bagian-bagian dari otak yang bila diakses maka kita akan merasa sangat dengan Tuhan atau ada juga yang mengakibatkan prophet syndrome dimana orang merasa menjadi utusan Tuhan. Seorang yang mengikuti aliran sufi tertentu pernah dites gelombang otaknya ketika dia wiridan (meditasi) dan kemudian menusuk pipi nya dengan obeng (entah obeng entah kikir) tajam. Dan menurut ilmuwan yang melakukan tes, katnaya otak orang tersebut masuk ke state (entah alpha, beta, gamma :P) yang membuat dia tidak merasakan sakit. Yang paling menakjubkan tentunya para biksu yang melakukan protes dengan membakar diri.

Namun tidak menutup kemungkinan, selain faktor otak, ada faktor lain atau mungkin bahasa gampangnya ada energi lain yang bisa kita tangkap dan kita kumpulkan. Kalau menurut istilah Chi, chi itu ada chi alam semesta, chi bumi, dan chi manusia. Chi alam semesta mempengaruhi chi bumi dan chi bumi mempengaruhi chi manusia. Teori chi ini sejalan dengan penjelasan Al Ghazali yang mengatakan Allah (Tuhan) itu sebenarnya selalu mencurahkan rahmatnya seperti "gelombang radio". Namun, tubuh kita harus disetel pada posisi tertentu untuk dapat menangkap gelombang radio tersebut. Setelah bisa menangkap "gelombang radio" atau "energi" tersebutlah kita bisa melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan orang normal. Selain itu, energi (gelombang radio) tersebut juga dapat kita serap dari tempat-tempat tertentu, seperti air sungai, batu, dan lain-lain.

Saya pribadi tidak tertarik dengan TD, kesaktian, kanuragan, namun saya pribadi tertarik dengan pembuktian Tuhan itu ada atau tidak. Namun, kalau dilihat dari sisi science, sepertinya Tuhan itu hanya konsep yang ada di otak manusia (silahkan baca buku How God Changes Your Brain). Malahan lebih ekstrim lagi, ada yang bilang, dalam sejarah manusia tidak ada tuh yang namanya utusan Tuhan namun yang ada adalah orang-orang yang mencari Tuhan dan setelah merasa menemukan akhirnya mereka menceritakan pengalamannya dan mendapatkan pengikut. Begitu juga dengan orang-orang yang terpesona dengan taman istana sang Raja, mereka menceritakan pengalamannya dan mendapatkan banyak pengikut.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #41 on: 01/11/2010 12:31 »
@kang Irwansyah, menarik sekali pembahasannya. Hehehe, sekarang Chi dipoligami dengan pemahaman Al Ghazali. :) Berarti kita sama-sama penganut poligami kang. Meskipun belum tuntas menjadi keilmuan obyektif yang bisa diterima di masyarakat.

Sudut pandang pemikiran sampeyan sekarang terlihat, dan karakteristik kearifan lokal apa yang mempengaruhi sudut pandang kang Irwansyah juga jadi terlihat. Mengenai teori chi, rasanya tidak perlu jauh-jauh, di dalam khasanah nusantara sudah ada 'tubuh tetumbuhan, bopo angkasa, dan ibu pertiwi'. Itu mirip-mirip dengan chi angkasa, chi bumi, dan chi manusia. Beda sudut pandang saja. Maknanya saya yakin kesana juga. :)

Saya melihat TD juga dalam konteks yang berbeda seperti kang Irwansyah. Lha kok bisa sama ya... hihihihi :)

Saya jujur tidak bisa mendefinisikan tenaga dalam dalam pemahamannya yang bisa diterima secara universal, karena konteks ruang dan waktu pembicaraan sangat berbeda. Yang bisa dilihat adalah teori awal yang mendasarinya dan hasil akhir. Prosesnya ada pada kearifan lokal dimana ia ditemukan. Memaksakan dengan menjejalkan filosofi Al Ghazali juga mungkin hanya akan diterima oleh sebagian orang. Bisa jadi malah sangat absurd bagi sebagian orang.

Secara tidak langsung, sebagian dari teori transformasi yang saya jelaskan juga sedikit banyak mirip seperti yang dijelaskan. Pendekatan kita berbeda, tetapi kesimpulannya saling mendekati.

Kalau pemahaman saya adalah:
Energi Ilahi --> Pikiran (otak) --> Tubuh (wadah) --> ??? (wilayah yang diperdebatkan)

Dimana energi ilahi ini kalau dalam beberapa istilah bisa jadi "energi from heaven" (versi master Choa Kok Sui) atau "gelombang radio" (versi Al Ghazali). Sama-sama berasal "dari langit". Terserah mentafsirkan kata "dari langit" apakah Tuhan atau yang dianggap tuhan atau dari suatu kekuatan maha dahsyat yang diyakini.

Ketika kemudian "energi from heaven" atau "gelombang radio" ini senantiasa melingkupi lingkungan, adalah tugas praktisi untuk menggunakan potensi pikiran (otak) untuk 'menangkap'-nya. Dengan potensi pikir, hasil 'tangkapan' ini kemudian diolah pada tubuh (wadah). Terserah, mau ditampung, mau di ubah jadi bentuk baru, mau disalurkan, atau disimpan sendiri. Setelah itu, barulah pengetahuan lain mengikuti sesuai dengan kearifan lokal praktisinya. Yang cenderung sufistik, akan berusaha mencari kaitan dengan teori-teori diseputar dunia sufi. Yang cenderung rasional, akan berusaha mencari kaitan-kaitan dengan teori-teori diseputar ilmu pengetahuan. Yang cenderung tidak mau repot, akan berusaha mengikuti saja pengetahuan apa adanya dari yang sudah diajarkan gurunya. Semuanya toh terbukti masih prematur. Meski demikian, se-prematur apapun, bagi praktisi yang meyakini kebenarannya dan mau merenungi, maka ia memiliki nilai guna yang khusus. Setidaknya bagi dirinya. Pada akhirnya, berujung pada pemahaman bahwa adanya Sang Supreme, Yang Maha Tinggi. Jadi, memang ini adalah proses "perjalanan" yang belum berhenti. Sudah diketahui awal dan akhirnya, tetapi jalan menuju kesana yang sedang ditelaah. Berharap suatu hari nanti, entah pada generasi keberapa, akan muncul orang-orang yang memahami olahraga, olahrasa, dan olahpikir secara holistik.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #42 on: 01/11/2010 12:45 »
Dalam pemikiran saya, teori apapun yang melandasi suatu tenaga dalam, adalah suatu cara untuk "memecah kebuntuan". Itulah kesimpulannya.

Jadi, ketika selama hampir 20 tahun ikut MP sudah sangat banyak "dijejali" dengan teori ala MP, sebagian mengena, dan sebagian lagi tidak mengena. Yang tidak mengena bisa jadi karena karakteristik kearifan lokal saya berbeda dengan yang ada sehingga batin tidak bisa menerima. Akhirnya, mencari tahu melalui pengetahuan lain. Bukan dalam rangka mempelajari teknik (how-to) dari yang lain, tetapi lebih kepada menemukan potongan yang hilang. Mencari "missing-link" sehingga mencapai "it works". Menjadikannya kelengkapan untuk menambah kearifan lokal pada diri sendiri.

Pada akhirnya, apapun jalannya, haruslah mengarah pada ujung yang sama yakni pemahaman akan adanya Sang Maha Tinggi, pemilik sejati dari "diatas langit masih ada langit".

Demikian yang saya pahami.

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #43 on: 01/11/2010 14:30 »
Nah loh saya ketinggalan berita... Apa kabar terakhir dengan GMC?
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Rahasia Tenaga Dalam
« Reply #44 on: 01/11/2010 14:41 »
Entahlah, sepertinya baik-baik saja tuh kang. :)

Berminat waralaba? Cuman 1M kok. Hehehehe (1M kok cuman... )  [lucu]

 :w

 [[run2]]
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal