+-

Video Silat


Shoutbox

23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
11/02/2016 15:58 Taufan: Alhamdulillah SS sudah ON lagi ;-)
07/01/2016 10:00 luri: wa 'alaikumussalam
04/01/2016 20:21 May Lee: Assalamu 'alaikum
View Shout History

Recent Topics

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

Persilatan Jurus Lima (Sabandar) by Marsudi Eko
14/05/2015 19:36

Kebugaran Merpati Putih by mpcrb
22/04/2015 16:16

PAWAI JAMBORE PENCAK 2015 by luri
20/04/2015 16:20

ALM. Kong Nur ( BEKSI Kampung Sawah) by initial_d
30/03/2015 14:02

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Kisah Shaolin di National Geographic  (Read 6922 times)

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Kisah Shaolin di National Geographic
« on: 04/10/2010 21:37 »
Majalah National Geographic edisi kali ini menurunkan liputan (atau lebih tepat feature) tentang Wushu Shaolin dan kondisinya di jaman modern ini... karena melihat ada manfaat dan hikmah yang bisa sama-sama kita ambil, saya coba salinkan artikel itu di sini... tentunya minus foto-foto khas NG yang indah itu... ;D

Berikut artikelnya dalam beberapa postingan...
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #1 on: 04/10/2010 21:39 »
SANG  GURU melewati hari-hari terakhir hidupnya dalam balutan selimut perca jahitan istrinya. Bunyi napasnya yang parau dan tiada teratur terdengar jelas di dalam kamar yang kecil itu. Sepanjang hari di musim semi yang sejuk tersebut, tak putus- putusnya pengunjung datang ke kota Yanshi di kaki Gunung Song untuk memberi penghormatan kepada Yang Guiwu—guru yang mengajari mereka kungfu. Ada yang berjubah biarawan dan memberikan berkat saat masuk ke rumah bata kecil itu. Istri sang guru, dengan rambut putih yang tersisir rapi, memegang bahu setiap orang yang baru datang, layaknya anaknya sendiri. Lalu ia mengantar seorang pengunjung melintasi dapur, melewati tungku batu bara, untuk bergabung dengan sejumlah anggota keluarga dan murid lainnya yang berkumpul di pinggir ranjang suaminya.

Sang istri membungkuk ke sosok berselimut tersebut untuk memberitahukan kedatangan si pengunjung, murid terakhir sang guru yang diterima di perguruannya 15 tahun lalu. "Ada Hu Zhengsheng," ujarnya. Hu—pria 33 tahun berbahu lebar yang berpakaian olah raga Nike dan bersepatu kain tradisional— pun membungkuk di atas sosok keriput itu. "Suhu," panggilnya perlahan dengan takzim, menggunakan istilah Tionghoa yang berarti guru. "Bapak bisa mendengar?" Kelopak mata lelaki tua tersebut berkedip-kedip. Untuk sesaat, pandangannya terpusat ke wajah si pemuda, kemudian beralih lagi.

Sudah kerap sang guru bercerita kepada Hu bahwa dia terbangun setelah bermimpi didatangi tetua perguruan, para biarawan dari Kuil Shaolin yang telah lama meninggal. Mereka datang membawa hikmat yang dikumpulkan selama berabad-abad oleh sekian generasi—yang kakinya membentuk galur pada lantai batu di ruang latihan kuil, yang tulangnya dimakamkan di Hutan Pagoda tak jauh di luar dinding kuil. Mereka adalah para biksu yang mengabdikan hidupnya untuk menyempurnakan jurus kungfu seperti Bwee-hoa Kun (Tinju Bunga Prem) dan Wan-yo Ciang (Telapak Bebek Mandarin), masing-masing berupa rangkaian jurus yang harmonis, menambah berbagai keragaman jurus yang memaksa otot dan tulang manusia hingga ke batasnya. Bahkan melampaui batas, menurut sebagian orang.

Para siswa yang paling senior merasakan, sangat ironis bahwa paru-paru lelaki tua itu ikhirnya berhenti berfungsi. Dia pasti setuju dengan putaran roda kehidupan, suatu pelajaran terakhir soal kerendahan hati bagi orang yang mengajarkan bahwa bernapas sangat penting untuk mengendalikan chi—daya hidup— manusia. Mantap, tenang, selaras dengan letak jantung dan irama organ lainnya. Belajar bernapas yang benar, ujar sang guru kepada mereka, adalah langkah awal dijalan sulit untuk mengambil kekuatan chi dan dengan melakukan rial itu, membuka salah satu pintu alam semesta vang tersembunyi.

Para siswa menyimak napas sang guru untuk mencari tanda bahwa dia sedang berusaha mengerahkan daya hidupnya untuk perjalanan selanjutnya.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #2 on: 04/10/2010 21:43 »
SEKITAR 19 KILOMETER dari tempat sang pendekar tua berbaring, di lembah yang tak jauh dari Pegunungan Song, bus wisata bersiap menurunkan muatan, para wisatawan, di Kuil Shaolin. Mereka datang dari seluruh pelosok China. Semuanya hendak melihat tempat ke¬lahiran legenda kungfu terbesar China.

Di tempat tersebut, menurut mitos populer, seorang biksu India abad kelima mengajarkan serangkaian latihan, atau jurus, yang meniru gerakan binatang kepada para biarawan di Kuil Shaolin yang baru didirikan. Lalu, para ?iarawan mengadaptasi jurus itu menjadi ilmu bela diri dan kemudian mengubahnya untuk bertarung. Penerus mereka mengasah "seni bela diri" tersebut, dan selama 14 abad selanjutnya memakai ilmu itu dalam pertempuran yang tak terhitung jumlahnya—melawan penguasa lalim, menumpas pemberontakan, dan mengusir kaum penyerbu. Banyak prestasi seperti itu yang terpahat pada batu prasasti di Kuil Shaolin dan diceritakan dalam novel, sejak dinasti Ming.

Para cendekiawan menganggap hal itu hanya legenda yang dihiasi dengan sedikit fakta. Bela diri tangan kosong sudah ada di China auh sebelum abad kelima dan kemungkinan sampai di Shaolin bersama mantan prajurit yang minta perlindungan. Hampir sepanjang sejarahnya, kuil itu pada dasarnya adalah tempat yang makmur dengan pasukan pribadi yang terlatih. Semakin sering para biarawan bertempur, semakin lihai ilmu bela diri mereka, dan semakin tenar pula nama mereka. Namun, tidak berarti mereka tak terkalahkan. Dalam sejarahnya, kuil itu dijarah berulang kali. Kerusakan paling parah terjadi pada 1928 ketika seorang panglima yang mendendam membakar sebagian besar kuil, termasuk perpustakaannya. Kitab-kitab berisi teori dan bentuk latihan kungfu, risalah pengobatan China, dan kitab suci Buddha yang dikumpulkan selama berabad- abad—jiwa kuil itu—hancur, sehingga warisan kungfu Shaolin harus diturunkan dari guru ke murid, lewat orang-orang seperti Yang Guiwu.

Namun, sekarang para pejabat kuil tampak¬nya lebih tertarik untuk membangun nama Shaolin daripada memulihkan jiwanya. Selama dasawarsa terakhir, Shi Yongxin, kepala biara yang berusia 45 tahun, membangun kerajaan bisnis internasional—termasuk rombongan tur kungfu, proyek film dan televisi, toko online yang menjual teh dan sabun merek Shaolin— serta mewaralabakan nama kuil Shaolin di luar negeri, termasuk satu yang direncanakan di Australia yang akan berada di sebuah resor golf. Selain itu, banyak orang yang mengurusi pundi- pundi kuil—orang yang berkepala gundul dan mengenakan jubah biarawan—mengaku bahwa mereka bukan biarawan, tetapi karyawan yang dibayar untuk tampil demikian.

Sambil minum teh di kantornya di kuil tersebut, Yongxin berargumen dengan tenang bahwa semua upaya tersebut bertujuan untuk memajukan agama Buddha. "Berkat kami, semakin banyak orang yang tahu tentang agama Buddha Zen," ujarnya. "Dengan mendaftarkan merek Shaolin di negara lain, mempromosikan budaya tradisional Shaolin, termasuk kungfu, akan lebih banyak orang di seluruh dunia yang lebih paham dan percaya pada Buddha Zen."

Argumen itu sering dia ucapkan kepada pers China maupun asing. Namun, terlepas dari perannya sebagai pendakwah atau pencari untung, Kuil Shaolin tidak dapat dimungkiri telah ikut mendorong kebangkitan kungfu, bersamaan dengan kebangkitan China sebagai kekuatan internasional.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #3 on: 04/10/2010 21:46 »
Penulis stafPeter Gwin meliput Sahara kuno dalam edisi September 2008. Fotografer Fritz Hoffmann tinggal di China selama 13 tahun.terlihat di Dengfeng, kota besar berpenduduk 650.000 jiwa yang hanya berjarak 10 kilometer dari gerbang kuil. Di sana ada sekitar 60 perguruan bela diri yang bermunculan selama dua dasawarsa terakhir dan memiliki lebih dari 50.000 murid. Gedung-gedungnya menjulang, asramanya yang tinggi berhiaskan mural pendekar kungfu, naga, dan harimau.

Murid berbagai perguruan tersebut adalah anak laki-laki—dan kian banyak perempuan— dari setiap provinsi dan kelas sosial, berusia antara lima sampai akhir 20-an. Ada yang datang dengan harapan bisa menjadi bintang film atau mengukir prestasi sebagai atlet bela diri. Ada yang datang untuk mempelajari keterampilan guna menjadi tentara, polisi, atau pengawal pribadi. Ada yang dikirim orang tuanya agar belajar disiplin dan kerja keras.

Enam hari seminggu, 11 bulan setahun, kampus-kampus tersebut tampak sibuk pada waktu fajar dengan pasukan siswa yang berseragam olah raga—ratusan anak yang lahir di China baru, berbaris rapi, berlatih kungfu. Dengan wajah ke depan dan punggung tegak, mereka memukul dan menendang secara serentak, suara mereka yang mengulangi instruksi pelatih membelah udara pagi.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #4 on: 04/10/2010 21:49 »
BEBERAPA HARI SEBELUM Hu Zhengsheng mengunjungi gurunya vang sedang sakit, ia mendapat telepon yang paling dinanti-nantikan oleh banyak pendekar seumur hidupnya: ditawari peran utama dalam film kungfu oleh produser Hong Kong. N'amun, dia masih ragu menerima tawaran tersebut. Dia tidak setuju dengan penggambaran kungfu dalam film—pemujaan kekerasan yang mengabaikan prinsip kunci ilmu tersebut: moral dan hormat kepada lawan. Dia juga khawatir jika murid Yang Guiwu yang lain tidak akan hormat lagi kepadanya jika dia menjadi penghibur. Belum lagi godaan ketenaran. Gurunya pernah menegurnya agar tetap rendah hati saat dia melebihi murid yang lain. Kerendahan hati mengalahkan kesombongan, nasihat Guru Yang. Kesombongan membuat manusia kalah.

Di sisi lain, peran itu dapat menghasilkan publisitas dan uang yang sangat dibutuhkan bagi sekolah kungfu kecil milik Hu. Dengan restu gurunya, dia mendirikan sekolah itu delapan tahun lalu di luar Dengfeng. Tidak seperti perguruan kungfu besar, yang menekankan jurus akrobatik dan pertandingan, Hu mengajari 200 murid laki-laki dan beberapa murid perempuannya jurus kungfu tradisional Shaolin yang diturunkan Yang Guiwu kepadanya.

Namun, pertarungan bukanlah pelajaran kungfu yang terpenting, jelas Hu. Inti kungfu adalah kehormatan. Ilmu yang diajarkannya kepada anak didik disertai dengan tanggung jawab besar. Dia berharap setiap muridnya memiliki kehormatan dan bersedia "menelan kepahitan", belajar menerima kesulitan, menggunakannya untuk mengasah tekad dan menempa kepribadian.

Pada malam hari murid-muridnya tidur di kamar tak berpemanas ruangan. Sedingin apa pun cuaca, mereka tetap berlatih di luar, seringnya sebelum Matahari terbit. Mereka menusuk batang pohon untuk menguatkan tangan dan berlatih jongkok sambil memanggul murid lain untuk membangun kekuatan kaki. Selama latihan, pelatih menggunakan tongkat bambu untuk memukul urat lutut anak-anak yang jurusnya tidak sempurna atau dianggap kurang berusaha.

Ketika ditanya apakah ada murid yang meradang karena perlakuan kasar seperti itu, Hu tersenyum. "Itulah menelan kepahitan. Mereka paham bahwa hal itu membuat mereka lebih baik."

Masalah Hu bukanlah ditinggalkan murid- muridnya, melainkan menambah peserta baru guna menutupi biaya perguruan. Kebanyakan anak-anak itu berasal dari keluarga miskin, dan Hu hanya membebankan biaya makan kepada mereka. Namun, perlahan-lahan dia mulai menawarkan beberapa kursus sanshou (tarung) dan taolu (kungfu akrobatis atau jurus), berharap menarik murid baru lalu memengaruhinya agar mempelajari jurus kungfu tradisional.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Hu tahu bahwa bayangan anak-anak tentang kungfu dapat berubah seiring mereka tumbuh dewasa. Ketika masih muda, dia terobsesi dengan film kungfu, meniru gerakan Bruce Lee dan Jet Li serta berkhayal membalas perlakuan para penyakat di desanya. Pada usia 11, dia berhasil membujuk agar dimasukkan ke Kuil Shaolin, tempat ia menjadi pembantu seorang pelatih kelompok pertunjukan. Kemudian orang itu memperkenalkannya kepada Yang Guiwu.

"Ketika bertemu Suhu, saya sudah hafal banyak bentuk tradisional," ucap Hu, "tapi dia mengajarkan teori di balik gerakan tersebut. Mengapa gerakan tangan harus begitu. Mengapa berat harus berada pada bagian kaki tertentu. Dia berdiri untuk menunjukkan. Pukulan tinju, jelasnya, dilakukan seperti gerakan catur, mengantisipasi berbagai kemungkinan gerakan balasan. "Apa pun respons lawan, saya siap untuk menangkis dan melontarkan pukulan kedua, ketiga, dan keempat, masing- masing ditujukan ke titik lemah tubuh." Dia memperagakannya dalam gerak lambat. "Murid dapat mempelajari hal ini dalam setahun,"katanya. "Namun, untuk melakukannya seperti ini"—tangan dan siku nyaris tak terlihat saat ia mengulangi gerakan itu dengan kecepatan penuh—"perlu bertahun-tahun."

Tendangan tinggi atau gerak akrobatis, kata Hu, hanya akan membuka titik lemah. "Kungfu Shaolin dirancang untuk bertarung, bukan untuk menghibur penonton. Sangat sulit meyakinkan anak-anak agar mau bertahun- tahun belajar sesuatu yang tidak akan membuat mereka kaya atau terkenal." Pikiran itu tampak membebaninya. "Saya khawatir inilah yang akan menyebabkan kepunahan jurus tradisional."Seorang anak laki-laki bersepatu kets dan berjubah sekolah abu-abu muda muncul di pintu kantor dan melaporkan bahwa ada murid yang kakinya terkilir. Saat Hu tiba untuk me¬meriksanya, murid yang cedera itu sudah ber¬latih lagi, menendang kantong sasaran sambil mengertakkan gigi. Hu mengangguk puas. "Dia belajar menelan kepahitan."
« Last Edit: 04/10/2010 21:54 by Antara »
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

Antara

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 28
  • -Receive: 29
  • Posts: 1.168
  • Reputation: 110
  • Malu bertanya tinggal pake GPS...
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #5 on: 04/10/2010 21:52 »
BERITA TENTANG GURU YANG sekarat sampai ke muridnya yang paling misterius di puncak gunung terpencil di atas Kuil Shaolin. Di sanalah Shi Dejian, seorang rahib Buddha berusia 47 tahun, melewati minggu yang berat. Ada kru televisi datang ke kuil itu—setelah mendaki anak tangga berkelok-kelok yang membuat gamang, dipahat di lereng dari batu granit. Mereka membawa seorang ahli bela diri campuran, yang rencananya akan diuji ilmunya melawan para biarawan sambil difilmkan (orang tersebut kemudian pulang dengan memar-memar.) Tim neurologi dari Hong Kong University sudah tiba untuk meneliti efek pola meditasi Dejian yang berat pada aktivitas otaknya, dan dia baru melewati malam yang melelahkan, menerapkan chi untuk meringankan nyeri temannya yang sakit. Dejian yang menginginkan kesendirian merasa terlalu banyak didatangi orang.

Ramainya kunjungan orang asing itu terutama diakibatkan oleh beberapa klip video internet yang berisi dirinya memeragakan jurus kungfu Shaolin tradisional, sering kali sambil menjaga keseimbangan di atas tebing sempit setajam jarum atau di atap miring pagodanya yang berada di pinggir tebing. Salah langkah sekali saja dapat berakibat jatuh ke jurang sedalam lebih dari 100 meter. Klip itu—sebagian besar direkam pengunjung selama bertahun-tahun—tersebar di situs-situs kungfu dan obat China dan menekankan filosofi bahwa hidup yang sehat bergantung pada prinsip chan (meditasi Zen), wu (seni bela diri), dan yi (obat herbal). Tiga prinsip tersebut sama dengan akar filosofi Kuil Shaolin, ujarnya kepada saya. Prinsip itulah—menurut banyak pengkritik Shaolin, baik di dalam maupun di luar China— yang telah diabaikan demi mengejar transaksi komersial dan uang turis. Pesan dari aksinya yang menantang maut itu tampaknya adalah pesan tentang hidup tulus: jika kita melatih Chan Wu Yi sejati, inilah yang mungkin diraih.

Dari dekat, Dejian mirip peri gunung, tubuhnya 160 sentimeter, perawakannya kekar berotot. Dia memakai jubah panjang dari wol dan topi bulat gaya Mongol untuk melindungi kepala gundulnya dari udara gunung yang dingin dan lebih suka bicara sambil bergerak, menanam pohon cedar atau memetik daun dandelion untuk makanan.

Jalannya menuju puncak Song dimulai pada 1982—sebagai anak ajaib kungfu berusia 19 tahun—saat dia meninggalkan keluarganya di dekat perbatasan Mongolia dan berziarah ke Kuil Shaolin. Upayanya mencari guru kungfu membawanya ke Yang Guiwu. Dia pun segera menonjol sebagai murid terbaik. Semakin banyak yang dia pelajari tentang kungfu, semakin tertarik ia pada hubungannya dengan meditasi dan pengobatan China. Akhirnya, dia memutuskan menjadi biksu di Kuil Shaolin.

Seiring pertumbuhan wisatawan pada awal 1990-an, Dejian semakin mengasingkan diri, terkadang berkemah di dekat reruntuhan kuil kecil di puncak gunung di dekat kuil. Para biarawan tua—yang berkecil hati melihat usaha komersial Shaolin yang makin berkembang— mendorong Dejian menjadikan kuil tua itu sebagai pedepokan yang berfokus pada Chan Wu Yi. Dia mempekerjakan tukang batu se¬tempat untuk memotong bongkah granit di lereng gunung, lalu dia dan murid-muridnya mengangkut sak semen dan genting ke tempat itu. Perlahan-lahan, mereka mengubah kuil roboh itu menjadi kompleks pagoda yang seolah melekat pada lereng gunung nan curam.

Dejian dan muridnya merawat rumpun- rumpun bambu dan petak kebun sayuran serta apotek hidup yang dibuat bertingkat. Mereka hanya makan sayur dan mengambil bunga liar, lumut, dan akar-akaran untuk meramu obat berbagai penyakit, mulai dari gigitan serangga sampai penyakit hati. Orang dari seantero China datang meminta nasihat tentang berbagai penyakit. Biasanya mereka hanya ingin diobati gejalanya, ujar Dejian, tetapi "Chan Wu Yi mengobati orang itu seutuhnya. Jika orangnya sehat, gejala pun menghilang."

Dia biasa bangun pada pukul 03.30, bermeditasi, lalu berlatih pernapasan guna memperkuat chi. Dulu Dejian pernah meng¬habiskan enam jam atau lebih berlatih jurus kungfu tradisional setiap hari, tetapi sekarang ia tersedot oleh kekuatan modern yang sama dengan yang mengubah Kuil Shaolin. Mengisi permintaan ceramah, menggalang dana untuk menyelesaikan pembangunan, melatih muridnya, dan tentu saja menemui pengunjung—semuanya menyita perhatian.

"Namun, saya selalu berlatih kungfu," ucapnya. Dia meraih tangan saya dan me¬letakkannya di salah satu otot kuadrisep yang besar di pahanya. Saya bisa merasakan dia menggerakkan otot itu. Lalu dia memindahkan tangan saya ke betisnya yang seperti bola tolak peluru. Ototnya bergerak lagi. "Saya melakukan hal ini sepanjang hari," katanya, sambil menjelaskan bahwa dia menerapkan jurus kungfu ke semua jenis aktivitas sehari- hari, mulai dari mencabut rumput liar hingga mendaki gunung.

Bukankah kungfu pada dasarnya kekerasan, saya bertanya, dan tidakkah hal itu bertentangan dengan prinsip Buddha? Tidak, jelasnya. Pada dasarnya, kungfu adalah mengubah energi menjadi kekuatan. Tanpa lawan, praktiknya be¬rupa serangkaian gerakan. Lawannya berubah menjadi kelemahan fisik dan mental orang yang berlatih. Pada dasarnya, dia bertempur dengan dirinya sendiri. Kadang-kadang ada juga musuhnya. Tidak semua orang datang ke atas gunung dengan niat baik dan Dejian pernah beberapa kali menghadapi upaya pembunuhan.

Pada pagi hari terakhir saya di pedepokannya, Dejian menunjukkan tempat tinggal pribadinya, sebuah kubah batu kecil di ujung tebing curam. Tanpa peringatan, dia melompat ke tembok rendah di tubir tebing. Angin menggelembungkan jubahnya sehingga berkibar mengisi kekosongan di belakangnya. "Takut?" tanyanya setelah melihat ekspresi di wajah saya. "Kungfu bukan hanya melatih tubuh, tapi juga mengendalikan rasa takut." Dia melompat dengan ringan dari kaki ke kaki, menerjang, memukul, berputar, setiap langkah hanya berjarak beberapa sentimeter dari jurang.

"Kita tak bisa mengalahkan kematian," ujar¬nya, suaranya terdengar di tengah deru angin. Dia menendang dengan satu kaki ke atas jurang, sambil menjaga keseimbangan pada salah satu kakinya yang sekekar pohon. "Tetapi, kita bisa mengalahkan rasa takut mati."

Tak lama setelah kedatangan Hu Zhengsheng, Yang Guiwu mengembuskan napas terakhir. Puluhan mantan muridnya berkumpul bersama keluarga sang guru di rumah kecil di Yanshi, yang dihiasi dengan karangan bunga kertas berwarna cerah. Shi Dejian datang bersama dua orang muridnya. Beberapa murid Hu memeragakan jurus kungfu. Bunyi desis dan letusan kembang api memenuhi udara, memberitahukan kedatangan sang guru ke dunia arwah. Trio pemain suling memimpin arak-arakan pemakaman ke luar kota, di ladang gandum keluarga, tempat sang guru akan dimakamkan di samping orang tuanya.

Saat kami berjalan di belakang keranda sang guru, Hu masih memikirkan apakah akan menerima peran dalam film kungfu itu. Tidak hormat jika melakukan hal itu tak lama setelah sang guru wafat. Namun, dia mendiskusikannya dengan beberapa murid yang lebih tua, yang mendorongnya untuk melakukannya. Ini berarti bahwa ada warisan Yang Guiwu yang akan terus hidup melalui penampilan Hu dan, mungkin, mengilhami murid yang akan datang.
Fairy tales don't tell children that dragons are real...
Children always know that dragons are real...
Fairy tales only tell that dragons can be slain...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #6 on: 04/10/2010 23:20 »
pada beberapa kasus ternyata masalahnya sama juga ya, masalah pendanaan. Pergeseran zaman menyebabkan pergeseran budaya. Jika ingin mempertahankan yang sudah ada, tentu harus dengan 'kemasan' yang berbeda.

meskipun motivasi belajar kungfu dari beberapa kisah tersebut (bisa jadi) dianggap salah (karena berharap jadi artis, atau bisa main film terkenal), tetapi sedikit banyak masih bisa jadi pengharapan dan masih banyak yang berminat untuk ikut.

kalau pada silat?
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

pamanah rasa

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 3
  • Posts: 57
  • Reputation: 11
  • Perguruan: Suliwa - Lima Adegan Serong
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #7 on: 05/10/2010 07:26 »
National Geographic Indonesia kan ya?
Cari ah...

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #8 on: 05/10/2010 08:49 »
cari aja kang kiki, lalu linknya kasih dimari... hehehe

:)
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #9 on: 05/10/2010 09:06 »
Ini juga bisa dibuat masukkan bagaimana memajukan pencak silat, memang secara tidak sadar bahwa bagian para pengumpul pundi-pundi uang dan masuknya faham ke-duniawi-an untuk melebarkan sayap sangat diperlukan.

bagaimana dengan kita ? ??!??!?!??!?!
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

pamanah rasa

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 3
  • Posts: 57
  • Reputation: 11
  • Perguruan: Suliwa - Lima Adegan Serong
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #10 on: 05/10/2010 10:45 »
cari aja kang kiki, lalu linknya kasih dimari... hehehe

:)

Ke saya kang?
Salah orang mungkin? Kiki yang dimaksud sepertinya kaka saya, Nagapasa?

Cari majalahnya di toko buku maksudnya, biar enak bacanya :)

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #11 on: 05/10/2010 11:05 »
oh ya? hehehe punten ya kang kalo salah... :)

maklum, kang kiki sering pake nick 'naga pamanah rasa'. Saya pikir sama kang :)

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

pamanah rasa

  • Anggota Tetap
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 3
  • Posts: 57
  • Reputation: 11
  • Perguruan: Suliwa - Lima Adegan Serong
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #12 on: 05/10/2010 11:13 »
Gpp kang...
Salam kenal atuh  :)

Suprapto

  • Anggota Senior
  • ****
  • Thank You
  • -Given: 26
  • -Receive: 86
  • Posts: 418
  • Reputation: 137
  • Sahabat Silat
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #13 on: 05/10/2010 19:01 »
Menyimak kisah Shaolin, bersama sama dengan kisah beladiri di India, Indochina, Korea, Jepang bahkan Brazil sebagai negara tempat pelarian tokoh2 pecundang perang dunia kedua, tentu sangat menarik dan sangat relevan untuk menjadi rujukan perkembangan pencaksilat. Terutama rujukan tentang sikap masyarakat dan pemerintahnya masing2, kemudian upaya beladiri tsb u survive.

Merujuk kisah OKT, GAN K.L., KPH, film dll, serta folklore masing2, termasuk folklore di Indonesia, maka pada jaman doeloe, perguruan beladiri memiliki cukup backup dana. Biasanya memiliki tanah pertanian yg luas untuk hidup mandiri, sebagian digarap para murid/cantrik.
 Ada juga yg disumbang pejabat/cukong/taipan kayaraya. Untuk di Jepang dipelihara para shogun, untuk di Indochina oleh para raja. Untuk yg berpusat di kuil, dari sedekah umatnya.
Pada perguruan kecil, dengan upaya berebut kongcu/siauwcu atau siauwcia kayaraya agar menjadi muridnya, bahkan menggali dana dari premanisme.
Ketergantungan para thayhiap/lihiap dan enghiong kepada pendanaan orang kaya partikelir, bangsawan/raja dan para jendral perang, menempatkan mereka dalam posisi inferior, mudah diadu domba demi fulus. Kalau masalah jay hoa cat, disinipun ada, hehehe.
Diantaranya tentu banyak para bhiksu dan tosu yg menekuni kungfu dengan totalitas. Menjadikan kungfu menjadi "jalan hidup" menurut kepercayaannya.
Sepertinya, beladiri Kali di India, kalah dgn popularitas yoga dan kamasutra.

Pasca oorlog, perang dunia kedua, pemerintah Jepang secara sadar mempelopori pemanfaatan beladiri secara modern. Beladiri Jepang segera dimanfaatkan sebagai diplomasi budaya untuk mempercepat pemulihan akibat kalah perang, baik materiil maupun citra.
Para mahasiswa Asia Pacific yang menerima beasiswa pampasan perang, kuliah di Jepang, diwajibkan berlatih beladiri Jepang secara intensip, dibina kesetiaan yang kuat kepada para senseinya. Dukungan cenderung diberikan kepada aliran beladiri yang lebih modern (sporty) daripada yg tradisional (jalan ksatria). Akhir th 50an-awal th 1960, para sarjana pampasan perang mulai pulang kampung, mendirikan perguruan/klub beladiri Jepang, yang memicu berdirinya perguruan2 pencaksilat, yg semula  melakukan kegiatan secara tertutup/diam2/tidak terorganisir. 
Belakangan, dukungan dana dibantu para industrialis, untuk membuka jalan ekspansi industri Jepang.
Secara sadar/cerdas disusun paket2 beladiri militer, didukung para jendral ex pampasan perang. Sehingga secara efektip, rasa permusuhan terhadap Jepang, menurun drastis.

Kesuksesan Jepang segera ditiru Korea. Dengan mendukung TKD sport dan paket beladiri militer.

Secara tidak terduga, dengan motif yg sama dengan Jepang dan Korea, maka dalam persiapan reformasi ekonomi menyongsong dikembalikannya Hong Kong dari penguasaan Inggris, pemerintah RRC/PRC melakukan salto. Dari pernah mengobrak abrik kekayaan budaya sendiri, berbalik memanfaatkan budaya sebagai alat diplomasi politik, ekonomi dan pariwisata. Tirai bambu dibuka lebar2.

Pilihan pemerintah RRC jatuh pada wushu, yg jurus2 taolu nya merupakan gabungan aliran2, dilengkapi dengan shansou, efektip untuk masuk keranah beladiri sport. Memanfaatkan komunitas overseas, secepat kilat merebak, memenuhi syarat disemua multi event.

Dilain pihak, kuil Shaolin yang legendaris diplot menjadi sekedar tujuan wisata. Difasilitasi pendirian puluhan sekolah2 dan perguruan tinggi kungfu, di mix dgn TMC (pengobatan tradisional China), bertebaran disekitar Shaolin dan Hunan. Murid lokal bisa terus menjadi S1,S2,S3 Kungfu, atau pindah sekolah, atau menjadi pekerja dengan keunggulan disiplin dan keuletan.
Maksud lain adalah untuk menarik wisata belajar bagi orang luar.

Sama saja dengan disini, aliran/perguruan kungfu tradisional sebagai sumber atlit wushu kurang didukung. Lineage bertahan hidup dan mengembangkan diri, antara lain dengan kursus mahal. Dimana sang murid yang lulus bersertifikat dengan biaya mahal, berhak untuk berusaha demi balik modal.

Pada masa presiden Sukarno, IPSI berdiri 1948 untuk menggalang rakyat terlatih, mempertahankan kemerdekaan. Bahkan untuk melawan DI/TII Kartosuwiryo, secara khusus berdiri PPSI di Jabar.
Pres. Suharto memanfaatkan pencaksilat untuk merekatkan brotherhood rumpun melayu di Thailand selatan, Malaysia, Singapore, Brunei dan Philipina selatan. Juga untuk merekatkan ikatan budaya masalalu dengan negara2 Indochina dan India.

Secara periodik, Jepang menggelar festival beladiri dunia di Budokan Hall, Korea  juga sama di Chungju, Amerika menggelar pertemuan beladiri dunia untuk perdamaian dunia.

Bagaimana sebaiknya kita sekarang?

Sumangga dilanjut.

Salam.

mpcrb

  • Pendekar Muda
  • **
  • Thank You
  • -Given: 20
  • -Receive: 91
  • Posts: 759
  • Reputation: 266
  • Sahabat Silat
    • My profile on Kompas cetak (you have to be Kompas member)
    • Email
  • Perguruan: Merpati Putih
Re: Kisah Shaolin di National Geographic
« Reply #14 on: 06/10/2010 12:00 »
selama kita belum bisa meninggalkan rasa 'keakuan', rasa 'superioritas' pribadi atau golongan, akan sulit mencapai titik temu kebersamaan untuk hal-hal seperti itu, kecuali ada kekuatan pemaksa yang membuat itu terjadi (mungkin pemerintah).

but who knows...

salam.
Belajar memahami hidup dalam kehidupan...

 

Powered by EzPortal