Assalamu’alaikum.
Maaf, tanggapan dari Abah mungkin terlambat. Maklum, Abah lagi banyak urusan (urusan dapur biar tetep ngebul). Pertanyaan Kang One kayaknya harus dijawab oleh ahlinya, dan Aki Sija sudah membahasnya. Terima kasih, Ki.

Abah hanya akan sedikit menambahkan yang Abah tahu:
Guru saya pernah memberi petuah: “Bahlana maenpo teh tilu ku tilu rupa, nyaeta ku jalan peupeuhan, ririkesan, jeung labuhan”. Artinya bahanyanya maenpo itu karena oleh tiga hal, yaitu jalan pukulan, patahan, dan jatuhan.
Dari pernyataan itu, yang bisa membuat lawan “kesakitan” adalah dengan 3 cara tersebut.
1. Peupeuhan tidak terbatas hanya teknik pukulan dengan tangan, namun juga termasuk serangan dengan anggota badan lain seperti kaki, kepala, dan sebagainya yang sifat geraknya ‘membentur’ ke arah anggota badan lawan.
2. Ririkesan adalah semua teknik yang sifatnya mengunci atau mematahkan anggota tubuh lawan seperti jari, pergelangan tangan, sendi sikut, bahu, dan sebagainya.
3. Labuhan adalah semua teknik yang membuat lawan leungit tangtungan (hilang keseimbangan) dan terjatuh.
Ketiga teknik di atas biasanya dilaksanakan pada eksekusi akhir dalam setiap usik untuk membuat efek jera pada lawannya.
Lalu bagaimana dengan teknik Bendung (menahan), Liliwatan (mengalirkan), Coplosan (menghilang), Nyered (mendesak), dan teknik lainnya?
Menurut saya, teknik-teknik tersebut dikategorikan dalam teknik penunjang dalam usik. Seseorang tidak akan cedera fatal jika hanya dibendung, diliwatkeun (kecuali kalau diliwatkeun ke tembok atau ke jurang

), dicoplos, atau disered. Tapi bagi pesilat yang “surti” (arif, mengerti tanpa diberitahu) ketika melakukan usik dengan lawan yang ilmunya lebih tinggi, akan segera merasakan keunggulan lawannya meskipun tidak sampai dipeupeuh, dirikes, atau dijatuhkan. Karena, setiap usiknya akan selalu dapat dimentahkan oleh lawannya, merasa “beurat” kalau di bendung, merasa “lewang” kalau diliwat atau dicoplos, dan merasa “heurin” kalau disered.
Jadi jika usiknnya masih menggunakan jalan Peupeuhan, Ririkesan, dan Labuhan, menurut saya, usiknya masih menggunakan usik keras, walaupun dalam prosesnya masih menggunakan teknik bendung, liwat, coplos, atau yang lainnya. Sebaliknya jika sudah tidak menggunakan teknik peupeuhan, ririkesan, atau labuhan, maka dapat dimasukkan ke dalam kategori usik lemes, yang sifatnya tidak sampai membuat cedera lawan.
Lawan ngarasa eleh ku lantaran ngarti, lain eleh ku lantaran nyeri....
Untuk pembahasan mengenai gerak, rasa, dan usik, mangga nyanggakeun heula ka Aki Sija.
Hatur nuhun.