+-

Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Kejuaraan Pencak Silat Seni Piala Walikota Jakarta Selatan by luri
24/09/2024 15:38

Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi Open Ke 3 by luri
24/09/2024 15:35

Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Panglima TNI 2024 Se-Jawa Barat by luri
24/09/2024 15:22

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 85529 times)

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #135 on: 27/08/2008 18:11 »
Sebelum itu, perhatikan terlebih dulu apa yang dilakukan dengan semangat bersahabat oleh ekspedisi pelayaran Ceng Ho di Tuban. Waktu telah bertambah, hari-hari bertambah pula, dan dengan begitu mereka telah diam hampir tiga pekan di Tuban. Benar, telah diketahui banyak orang, nakhoda pinisi Bugis yang kebetulan ada di Tuban dari pelayaran dari barat menuju ke timur laut, Ujungpandang, telah meminta Ceng Ho datang ke Sulawesi Selatan. Siang itu, ketika pasar yang digelar di tepi pantai sedang ramai, nakhoda Bugis itu, namanya Ucu, berbincang dengan Ceng Ho di sebuah rumah minum. "Anda tahu, kami orang Bugis-Ujungpandang adalah bangsa yang piawai membuat kapal-kapal pinisi," kata Ucu. "Tapi, melihat kapal Anda yang demikian besar, kami mengaku harus belajar pengetahuan itu dari bangsa Anda." "Pengetahuan membuat kapal, sebagai peranti pelayaran yang sepenuhnya mengandalkan kayu-kayu yang bagus, terlebih dulu yang mesti dipikirkan adalah bahan-bahan kayu itu," kata Ceng Ho. "Artinya, kapal berurusan dengan pohon. Bagaimana merekatkan kayu dari sisi kiri dan sisi kanan badan kapal, itulah pengetahuan dasar yang harus dikuasai." "Benar sekali," kata Ucu. "Sekarang saya ingin tanya kepada Anda, bagaimana caranya Anda mempertemukan dinding kanan dan dinding kiri kapal?" “Pertama, di paling bawah kapal adalah balok besar yang dipahat," kata Ucu. "Itu benar," kata Ceng Ho. "Tapi untuk kapal induk, seperti yang kami punyai ini, memahat batang sepanjang lebih seratus hasta tidak praktis. Pertanyaannya juga, adakah batang sepanjang lebih seratus hasta untuk dipahat dengan cara begitu? Pertanyaan lain, di mana kekuatan dasar kapal, menyangkut dinding-dindingnya jika kapal itu membentur batu karang? Pasti tidak kuat. Maka jawabnya, Anda pasti ingin tahu bukan?" "Ya, Laksamana," jawab Ucu dengan jujur. "Kekuatan paling tidak tertandingi adalah memanfaatkan batang-batang pohon yang bercabang dua dengan sifat cabang simetris. Kami memakai itu dalam kapal induk kami itu. Setelah itu baru kami bicara bagaimana merekatkan sisi kiri dinding dan sisi kanan dinding." Ucu menyerap dengan cerdas. "Meyakinkan." Setelah itu, dia ulangi lagi apa yang pernah dikatakannya. "Maka atas nama Raja Bugis, saya undang Anda meneruskan pelayaran ke negeri kami di Salabassi." Ceng Ho menyambut dengan ramah. "Memang niat kami akan ke sana setelah berlabuh di Bali. Insya Allah. Tapi, andaikata kami tidak jadi mengembangkan layar ke sana, berhubung di dalam pelayaran kami selalu menyesuaikan dengan keadaan yang berkembang, saya berjanji kepada Anda akan mengirim salah seorang ahli kapal kami untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan ahli-ahli pinisi di negeri Anda." "Terima kasih," kata Ucu. "Tapi, baiklah, sebelum saya memberikan ahli kami kepada Anda, mari, saya ajak Anda melihat kapal induk kami."


***


Dan mereka naik ke kapal induk itu. Kapal itu tidak bersandar di pelabuhan, sebab kapal yang disebut ini sangat besar. Untuk mencapai kapal induk itu, mereka menggunakan sekoci. Lalu di sana mereka naik ke kapal itu dengan tangga-tangga tali. Ucu terperangah melihat tali-tali lain yang disimpan khusus di dalam beberapa jegung. Jegung-jegung itu berada di bagian bawah kapal, di dinding pertama setelah papan-papan dari sisi kanan dan kiri direkatkan di atas kerangka batang pohon yang bercabang simetris itu. Di depan jegung paling belakang kelihatan dua orang pekerja sedang merajut dan memperbaiki tali kapal yang tampak cuwil dan rompak. "Saya belum pernah melihat seperti ini," kata Ucu.  Ceng Ho menghargai keterusterangan Ucu. Dengan semadya Ceng Ho berkata, ''Kami pun baru menemukan teknologi ini.''


***


Banyak orang yang tanggap melihat Ceng Ho sebagai sumber pengetahuan. Tidak ada pertanyaan yang tidak dijawabnya. Dengan jawaban yang disertai contoh-contoh membuat orang yang bertanya puas.

Selain pertanyaan-pertanyaan dari para mualaf yang merindukan jawaban tentang tauhid, fikih, dan tasawuf sebagai sendi agama Islam yang dikuasainya - jangan lupa bahwa ayahnya haji dan dia pun telah menunaikan rukun Islam kelima itu pada usia yuwana -maka beberapa anggota ekspedisi dalam pelayaran itu juga merupakan guru-guru yang andal dalam banyak bidang. Yang paling menarik perhatian orang adalah ahli tumbuh-tumbuhan obat. Sekurangnya dua orang ahli jamu ikut dalam pelayaran Ceng Ho. Selain itu yang sudah diketahui khalayak luas, berhubung di pasar yang digelar di dekat laut itu, para ahli tenun sutra, ahli keramik, ahli ukir dan lukis khas Cina, tukang bordir, dan banyak lagi, tak terbilang lagi tukang-tukang masak. Dan, jangan lupa ahli-ahli agama Cina, Tao, Konghucu, dan Buddha, setiap saat dapat diajak bertukar pikiran. Yang tak pernah disebut, karena memang hanya bisa dihitung dengan jari pada zaman Ming: orang-orang melanjutkan ajaran-ajaran A-Lo-Pen di tengah agama negeri Han San Wei Yi. Namun, tak boleh juga dilupakan, di dalam rombongan pelayaran Ceng Ho ada pula seorang yang bisa ditanya dengan diam-diam dan tertutup akan kemampuannya atas pengetahuan klasik India yang melintas ke Cina, yaitu Kamasutra, ilmu tentang seks yang ditulis di negeri asalnya seribu tahun lampau, yaitu antara abad ke-4 sampai seratus tahun kemudian. Semua pengajaran, baik yang dilakukan oleh Ceng Ho maupun oleh ahli-ahli, tidaklah seperti sekolah resmi yang diselenggarakan khusus dalam sebuah ruang, tetapi di pasar tempat orang berdagang bertukar barang, yaitu dengan duduk bersila atau berjongkok. Pendek kata, sebisanya menguping di hadapan orang yang memberikan pengajaran itu.


***


Suatu hari Ki Anom memohon kepada Ceng Ho, seandainya laksamana ini berkenan, untuk berceramah dan mengajar cantrik-cantriknya di padepokannya.
Begitu kata Ki Anom memohon, ''Sekiranya Anda berkenan memberi pengetahuan Anda itu
kepada cantrik-cantrik saya.''
''O ya, tentu,'' sambut Ceng Ho dengan hangat. ''Ini sekalian bersilaturahmi.''

***
Atas sambutan Ceng Ho yang hangat itu, Ki Anom, yang bernama asli Giok Gak langsung mewara-warakan kepada cantriknya, dan mengimbau cantrik-cantriknya supaya orang tua mereka masing-masing yang berada di desa-desa datang ke padepokannya di pesisir untuk mendengar pengetahuan atau kawruh yang akan diberikan Ceng Ho dan ahli-ahlinya. ''Kalau kalian bisa pulang ke desa masing-masing pada esok hari dan datang kembali ke sini pada tulat hari, maka kalian beserta orang tua kalian belum letih untuk mengikuti ceramah yang akan dilakukan Sam Po Kong pada tubin hari,'' kata Ki Anom. ''Nah, apakah hal ini belum jelas?'' Semua cantrik menjawab, ''Jelaaas!'' ''Baguslah,'' kata Ki Anom. ''Jika begitu bersiap-siaplah.''

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #136 on: 27/08/2008 18:19 »
Si Blekok yang berada di sana lebih dulu berkemas dan pergi. Tetapi apakah dia pergi ke kampung untuk mengundang orang tuanya? Jelas, jawabnya: tidak!

Blekok yang kakinya panjang dan juga lehernya, sehingga memang pantas teman-temannya sejak kecil menyamakannya dengan burung bangau di sawah, langsung berangkat ke selatan, ke puri Naranatha, menemui zindik itu.

Naranatha menghampiri Blekok sambil memegang terong yang ada di selangkang Blekok. Katanya dengan gaya yang gemulai tetapi tetap tidak tanggal dari sifat-sifat jahatnya, ''Berita apa yang kamu bawa siang-siang begini, mengganggu tidur siangku bersama dengan kekasihkekasihku?'' ''Ada berita menarik,'' kata Blekok. ''Menarik?'' ''Ya,'' kata Blekok dengan bersemangat. ''Laksamana Cina itu, Sam Po Kong, akan datang berceramah kemudian memberi pengajaran kepada cantrik-cantrik Ki Anom.'' ''Begitukah?'' Naranatha terbelalak senang. ''Kapan itu?'' ''Empat hari lagi dari hari ini.'' Naranatha tertawa terbahak dan menghentikan dengan tiba-tiba tawanya itu. Katanya, ''Itu waktu untuk tandak. Akan kukirim peronggeng dalam puting-beliung yang akan menari-nari di atas padepokannya. Sumpah mampus disambar geledek, Ki Anom bakalan menyesal lahir dari rahim perempuan, dan Lotik akan menangis sedu-sedan seperti yatim-piatu.'' Lalu dia berteriak sambil menengadah ke langit. ''Wahai roh kematian, roh kegelapan yang mewakili segala tarikh kejahatan, masuklah dalam diriku.'' Semua gemblakan di sekeliling Naranatha memandang dengan tegang dan takut kepada zindik ini. Mereka, sebagaimana umumnya orang-orang yang sudah tersihir oleh kemampuan tenung, menunggu dengan kepercayaan yang aneh dan tak masuk akal akan kekuasaan zindik itu menyerapah-nyerapah alam. Termasuk Blekok berharap-harap cemas akan kehebatan Naranatha menaklukkan lawan-lawan dan aral yang melintang di jalannya. Yang membuat Blekok kagum kepada Naranatha, dan karena itu dia telah menjadi pengkhianat kepada Ki Anom, adalah pernyataan Naranatha yang diucapkan dengan mamandang satu per satu gemblakan di kitarannya. Kata Naranatha, "Kalian lihat saja nanti, begitu hari yang tubin itu laksamana Cina berada di padepokan Ki Anom, aku, bersama dengan cenayangku, akan membuat langit menjadi hitam kelam. Nah, aku ingin bertanya kepada kalian semua: apakah kata-kataku tidak punya kekuatan untuk melakukan itu?" Blekok yang bukan gemblakan malah menjawab dengan sikap sangat menjilat, "Saya yakin, Anda sanggup." "Tentu saja," kata Naranatha dengan angkuh, congkak, dan takabur. "Lihat saja dengan mata kepalamu." Dan Blekok cengengas-cengenges dengan gaya yang khas khianat. Memang selalu dunia manusia menjadi menarik, sebab di dalamnya tak henti-henti muncul pengkhianatpengkhianat.


***


Hari yang dirancang untuk mengundang Ceng Ho datang ke padepokan Ki Anom telah dipersiapkan dengan baik. Kebanyakan orang tua cantrik yang tinggal di desa masing-masing datang juga ke padepan Ki Anom untuk mendengar ceramah dan kawruh Cina yang akan dibagikan, diamalkan, ditularkan ke para cantrik Ki Anom dan keluarga mereka masingmasing. "Saudara-saudara," kata Ceng Ho menyapa para cantrik Ki Anom. "Pengetahuan kita sebagai manusia, tentang manusia, terdiri atas dua sifat, yaitu jahat dan baik. Jika dalam uraian-uraian saya nanti saya berkisah tentang raja-raja atau kaisar-kaisar Cina yang jahat-jahat, dengan begitu saya bermaksud melihat betapa mustahak kita berbuat kebaikan, kebajikan, kebijaksanaan. Untuk mengetahui hal yang baik, kita harus mengetahui juga yang jahat. Dengan mengetahui yang jahat, diharapkan kita membuang jauh-jauh yang jahat lantas berbuat yang baik. Supaya kita dapat berbuat baik dan mengenal arti kebaikan sebagai lawan dari kejahatan, sudah barang tentu kita harus mengenal betapa buruk kejahatan tersebut.
Nah, saya akan memulai dengan menyebut kaisar Cina yang jahat. Raja Cina pertama yang tergolong contoh untuk mengenang kejahatannya dimulai dari Ji, hidup pada 3.135 tahun *) lalu. Dia digulingkan oleh Shang yang memenjarakannya di Nanchao sampai mati. Dari kejahatannya antara lain orang mengenangnya dengan pahit akan ungkapan "kolam anggur dan pohon daging!" Sekarang, saya ingin bertanya kepada Saudara-saudara, kenapa orang - dalam hal ini sang penguasa, artinya orang yang memiliki kekuasaan - berbuat kejahatan? Jawabnya, sebab nuraninya tidak menjadi mahkamah Allah. Kejahatan sebagai pelanggaran terhadap kerahmanan dan kerahiman ilahi itu lazimnya kita sebut "dosa". Ini beda dari pelanggaran biasa yang bersifat hukum. Dosa itu adalah suatu skandal rohani, baik tindakan sadar maupun pikiran yang tidak sadar yang tidak taat terhadap kehendak Allah yang paling dasar, yaitu kerahmanan dan kerahiman-Nya, dan oleh karena itu mengancam akan hilangnya rahmat dan rusaknya kodrat alami manusia. Tahukah Saudara-saudara siapa pemberi ilham akan kejahatan itu? Dia tidak lain adalah setan atau iblis. Karena itu jika nurani kita adalah mahkamah-Nya Allah, sudah jelas musuh kita yang harus kita lawan adalah iblis atau setan yang cepat sekali datang menduduki hati kita dan otak kita..."
***
Bersamaan dengan kalimat Ceng Ho yang panjang itu, sekonyong langit yang cerah berangsur berubah menjadi kelam, seakan matahari ditelan malam, bagai gerhana. Semua orang yang mendengar ceramah Ceng Ho tercengang. Mereka semua melihat ke luar, ke langit yang berubah menjadi gelap. Ketika semua terperanjat melihat kenyataan akan perubahan terang menjadi gelap, satusatunya orang yang cuma tenang-tenang adalah Blekok. Dia menikmati betul perubahan ini. Dia tahu pasti ini adalah kerjaan Naranatha. Bukankah zindik itu sudah mengatakan perkara ini pada hari lalu? Dari Lotik terdengar seru bimbang. Kata Lotik, "Apakah ini gerhana?" Ki Anom pun tampak bimbang. Tapi dia bisa menekan perasaannya. Kepada Ceng Ho yang berdiri tenang di depan, Ki Anom bertanya sambil tidak mengedipkan mata melihat langit yang tengah berubah ke hitam, "Apakah betul ini gerhana, Laksamana?" "Tenanglah," kata Ceng Ho. "Inilah yang baru saya sebut-sebut itu. Ini pekerjaan iblis atau setan." "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ki Anom. "Demi Allah, bulatkan hati, kita harus melawannya." Dan, bersamaan dengan itu terdengar gemuruh hurikan menderu dahsyat dari arah selatan ke utara, mengguncangkan atap-atap padepokan Ki Anom. Di utara sana, di laut, hurikan itu terdengar seperti sebuah letusan luar biasa. Bagaimanapun orang-orang yang sedang memusatkan pikiran kepada inti ceramah Ceng Ho, selain terganggu, juga kaget dan gamang. Karena itu mereka semua meloncat, buyar dari tempat sila mereka, lantas berlari keluar kian-kemari, bertubruk di dalam gelap, panik. Dalam keadaan seperti itu mereka benar-benar tak tahu harus berbuat apa sehingga membuat mereka tenang. Maka Ceng Ho menyeru dan mengimbau mereka supaya tenang. Kata Ceng Ho dengan kalimat tutur yang amat fasihat, ''Jangan biarkan hati kalian dirampas oleh pesona hobatan. Ini sepenuhnya pekerjaan hobatan. Pekerjaan hobatan adalah pekerjaan setan. Mari, bersama saya, kita arahkan hati kita hanya kepada Allah. Tidak mungkin iblis mengalahkan kita!'' Ceng Ho pun keluar, lalu berdiri di atas sebuah gelugu. Dia sedakap di atas gelugu itu seraya menundukkan kepala. Bibirnya bergerak-gerak, komat-kamit. Niscaya dia sedang mengucapkan di dalam hati suatu penyerahan diri yang sangat mustakim kepada sang Khalik menghadapi perkara yang jelimet ini. Kata Ceng Ho di dalam hati yang tak terdengar siapa pun di situ, ''Hamba ini hanya seorang kerical, ya Allah ya Rabi, tapi hamba memohon, tunjukkan kuasa-Mu atas alam ini. Kembalilah gelap kepada yang gelap, kembalilah mambang kepada yang mambang, kembalilah datuk kepada yang datuk, kembalilah setan kepada yang setan. Allahu akbar! Kembalikan terang menjadi terang, kembalikan hati menjadi hati, kembalikan nurani menjadi nurani, kembalikan iman menjadi iman. Allahu akbar!'' Tampaknya semua orang benar-benar bersandar kepada doa Ceng Ho. Dan, ketika Ceng Ho berseru-seru kepada sang Khalik dalam keyakinan yang penuh, tulen, sejati, Ki Anom menabuh-nabuhkan galaganjur dan Lotik menabuhkan pula kentongan. Hanya si pengkhianat Blekok yang berdiri dengan mata keladau dalam dengki yang telah menyesatkannya.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #137 on: 27/08/2008 18:23 »
Dan bagaimana gerangan keadaan Naranatha di purinya sana?
Di dalam sebuah pahoman *) tampak perempuan jelek dan berbau aneh yang cenayang terpercaya Naranatha itu masih memainkan tenung dengan sikap yang setel yakin. Sambil memegang daun rasau di tangan kiri dan tongkat kecil dari ranting pohon betutu di tangan
kanan, cenayang itu mengebas-ngebaskan asap kemenyan di atas anglo seraya membaca-baca japamantra yang rancu bahasanya. Pada akhir baca-bacaannya yang dilakukan dengan tubuh gemetar dari bibir sampai bibir, bercampur dengan ludah yang muncrat dari dalam mulut yang seluruhnya gupak kotor oleh sirih, cenayang itu kaget sebab tiba-tiba tubuhnya melantak dari silanya.

''Ada apa ini?'' katanya memandang ke sekitar pahoman, kepada Naranatha dan gemblakan-gemblakan-nya.
Naranatha pun terkinjat melihat orang kepercayaannya terlantak seperti itu. ''Kenapa?'' tanyanya.
Cenayang itu menarik dan mengembuskan nafas keluh-kesah. ''Entahlah,'' katanya.
''Apa maksudmu bilang 'entah'?
''Ya, rasanya kekuatan yang aku kirim ke sana terhalang, dan sekarang sedang kembali ke sini.''
''Apa katamu?'' tanya Naranatha dengan geram.
''Maaf, Naranatha, begitulah hal yang sesungguhnya terjadi,'' kata cenayang itu.
''Tidak!'' seru Naranatha. ''Kamu hanya mau membuat pikiranku tawar. Katakan apa yang sebenarnya terjadi?''
''Saya khawatir, Naranatha.'
''Khawatir apa? Apa yang kamu khawatirkan?''
''Segala sesuatu yang dikirim, dan tidak sampai ke alamat, selalu pulang kembali ke alamat dalam keadaan cacat.''
Naranatha memegang leher cenayang itu dengan kedua tangan lantang mengguncangkannya.
''Apa maksudmu bicara begitu?'' desisnya bimbang bercampur kecewa.
''Maaf, Naranatha,'' kata cenayang itu. ''Saya khawatir, pulangnya bala yang berangkat ke utara ini akan mengguncangkan kita semua.''
''Tidak!'' pekik Naranatha seperti kehilangan kendali urat saraf. Dia mencekik leher cenayang itu, tapi kemudian melepaskan dengan cara mengempas.
''Jangan main-main kamu!'' katanya. ''Tenung apa pula yang kamu rekakan sehingga bisa membuat tenungmu pulang kembali oleh tenung mereka?''
''Entah tenung apa yang mereka tangkiskan di sana...''



***


Ya, cenayang Naranatha dan Naranatha tidak pernah tahu bahwa Ceng Ho tidak menggunakan tenung. Yang dibuat Ceng Ho di padepokan Ki Anom adalah doa, permohonan, dan pengharapan dari kesungguhan hati, dari hati yang mukhlis, dan dengan iman yang teguh kepada hanya satu Tuhan yang Mahakuasa.

''Hanya kepada Allah yang akbar kita menggantungkan falah kita menghadapi serangan mulhid ini,'' kata Ceng Ho. 

Dan langit di atas padepokan Ki Anom berangsur terang, menyingkirkan gelap yang tadi menyelimuti.

Semua orang terbengong.

Hanya satu orang yang tak suka. Dia tak lain adalah Si Blekok. Tapi, aneh bin ajaib, dalam sekejap Blekok dapat berubah pikiran. Dia menangis tersedu-sedu memegang kaki Ceng Ho.

''Sekarang saya benar-benar percaya,'' katanya. ''Anda memang luar biasa.''
''Percayalah pada keluarbiasaan Allah, bukan kepada saya,'' kata Ceng Ho.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #138 on: 27/08/2008 18:31 »
Bersamaan dengan itu, gelap yang berangsur lenyap di atas langit padepokan Ki Anom berangkat pulang ke selatan. Ke mana alamatnya?
Seperti sudah diduga cenayang itu, bala yang dikirimnya ke utara, ke padepokan Ki Anom, terbang kembali ke puri Naranatha, dan pulangnya benar-benar tak terkendali lagi. Bala yang tak berwujud, kecuali gelap dalam hurikan yang dahsyat, menukik ke puri Naranatha dan  membelah atap bangunan inti. Semua orang di dalam puri berlari terbirit-birit keluar, menghambur ke pekarangan dan berlindung di bawah pohon-pohon sekitar.
Tapi sebuah api berekor kelihatan terbang dengan kencang dari utara dan membakar pohon-pohon tempat gemblakan-gemblakan Naranatha berlindung. Tiga orang gemblakan yang berlindung hangus bersama pohon yang hangus seketika. Sebelum ketiga gemblakan itu
hangus di situ, yang seorang, menjerit takut dan putus asa dengan gaya sangat kewanitaan.

''Aduh, masa kita mesti mati dengan cara begini?'' katanya sekarat dan kemudian mampus.
Naranatha sedih melihat gemblakan-nya mati konyol seperti itu. Tapi itu tidak membuat dia insaf dan jera. Malahan hatinya yang cemar itu telah membangkitkan kemarahan baru dendam baru, dan laknat baru, untuk melakukan sesuatu yang dalam pikirannya untuk
mencelakakan orang yang tidak disukainya. Kini orang yang tidak disukainya menjadi dua: Ki Anom dan Ceng Ho.

Di dalam kemarahannya itu dia memegang kembali leher cenayangnya, berkata dengan kedua mata membulat, seakan-akan hendak lepas dari kelopaknya. ''Saya tidak mau menerima kekalahanmu. Sekarang juga lakukan sesuatu untuk memenangi perang ini. Katakan cepat, ayo, katakan bahwa kita tidak kalah.''

Dengan susah dan sulit karena lehernya dicekik, cenayang itu berkata, ''Ya, aku bersumpah.''
''Bersumpah kita akan menang,'' kata Naranatha sambil mengguncangkan badan cenayang itu.
''Saya bersumpah, Naranatha.''
Dan Naranatha pun melepaskan cekikan. ''Bagus,'' katanya.
''Tapi kasih saya waktu untuk mengukur kekuatannya,'' kata cenayang itu.

Naranatha membalik badan. Dia tidak bilang apa-apa. Hatinya saja yang mendidih.


***

Sampai besok berlanjut besok dan besoknya lagi, orang-orang di puri Naranatha sibuk membersih-bersihkan bangunan yang rusak itu. Ada pula tukang-tukang yang memperbaiki gapura di depan puri itu. Sambil berdiri di depan tukang-tukang yang memperbaiki gapura gapura yang sebetulnya tergolong indah karena ukiran dan relief yang asal-usulnya dikerjakan dengan tekun dan terampil oleh perajin berpengalaman - Naranatha memandang dengan hati melaknat akan kegiatan orang-orang itu. Orang-orang yang bekerja memperbaiki puri Naranatha itu adalah para bausuku yang melakukan pekerjaan karena takut dan hanya diberi imbalan makan sangat sedikit, tiap kali dilakukan dengan cengkelong, sehingga tiap hari tubuh mereka pun mengurus dan mengurus tinggal tulang-belulang yang ditempeli kulit berkeringat. Salah seorang bausuku yang bekerja dengan sulit malah disepak oleh Naranatha. Bausuku itu terpelanting dan tidak bangun untuk selamanya. Tapi apa kata Naranatha kepada para bausuku yang setengah mati itu? ''Buatlah kembali gapura ini dengan seindah-indahnya, sebab dengan bekerja membuat patung ukiran, kalian terbebas dari kutukan dewata.''


***


Sementara, waktu yang diminta cenayangnya untuk mengukur kekuatan Ceng Ho - seperti pernyataannya sendiri -telah berjalan lima hari. Sang cenayang telah turun ke Tuban, berbaur di pasar yang digelar di depan laut itu, berpura-pura datang sebagai pembeli dan penjual.

Sudah terjadi selama ini bahwa anggota pelayaran Ceng Ho turun ke darat untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan di Cina, dan barang-barang dari Cina pun, khususnya guci keramik dan sutra, dijual dan dibeli pula oleh anak negeri, para pribumi yang berdatangan dari desa-desa sekitar Tuban.
Dia melihat betapa orang-orang di Tuban, baik Cina dari pelbagai keyakinan, pribumi, maupun para mualaf, sangat menghormati Ceng Ho. 

Maka berkata dia di dalam hati, "Kalau aku berhasil mengalahkan laksamana dari Cina ini, keruan penghormatan yang berlebihan dari orang-orang itu akan segera beralih kepadaku. Lihat saja nanti permainanku."


Dia simpan pikiran itu selama berada di Tuban. Setelah pulang ke selatan, ke puri Naranatha yang zindik mulhid jahanam itu, barulah dia akan menyampaikannya.


***


Mendengar keterangan cenayang itu, bukan alang-kepalang naik pitam Naranatha. Dia berteriak gunjing-gujirak dengan kata-kata nista lepas dari mulutnya seperti sampah yang mengalir di comberan. "Puki-mak itu laksamana Cina. Berani-beraninya dia mengepakkan sayap di tanah leluhurku," kata Naranatha. Cenayangnya menumpahkan pula pernyataan yang membuat hati Naranatha seperti lahar gunung berapi. Katanya, "Dia bukan saja mengepakkan sayap, tapi mencengkeram kakikakinya di tanah leluhur kita, Naranatha." "Jancuk! Asu!" kata Naranatha keras, dan para gemblakannya pun terkejut mendengar gunjing-gujaraknya. Lalu dia berdiri tegak memandang ke atas, menghardik langit yang terbelah oleh langit-langit purinya. "Wahai roh pendendam, roh hitam kelam, roh nenek moyang yang mukim di tempat sembunyi para mambang: mambang kuning, mambang merah, mambang hijau, mambang laut, mambang gunung, mambang sungai, mambang batu, mambang segala mambang, beri telingamu untuk mendengar, beri matamu untuk melihat, beri hidungmu untuk membau, beri hatimu untuk merasa. Aku Naranatha Nastika, darah dan daging yang lahir dari tanah leluhurku, tanah pitarah, tanah nenek moyang, tanah cikal bakal, arwah-arwahnya yang menghadir di atas aksara yang awal dan menyirna di atas aksara yang akhir, satukan rohku dengan roh kalian...." Bersamaan dengan itu sang cenayang menyembur-nyemburkan ludahnya ke mukanya, ke kiri dan kanan memainkan sihirnya. Dan, tampaknya sihirnya memang membuat para gemblakan di sekitar Naranatha itu dapat teryakinkan. Sebab para gemblakan itu melihat di depan matanya masing-masing berlangsungnya suatu perubahan dalam sosok Naranatha. Tampak di mata mereka bagaimana Naranatha berubah pelan-pelan menjadi makhluk tertentu yang mengerikan dan menjijikkan. Karena itu, para gemblakan Naranatha itu semua geling aman di tempatnya. Apa gerangan yang mereka lihat? Mereka melihat dengan mata yang telah ditumpulkan oleh rasa kepercayaan yang aneh, seakan-akan Naranatha adalah sosok campur aduk binatang-binatang: wajah seperti babi yang bertanduk, badan bulat panjang bagai ular, berkaki sepuluh dengan jari-jemari yang semuanya berkuku lancip bagai cengkeram harimau, berekor keriting dengan duri-duri besar mirip buaya, dan di congornya yang berada di bawah lubang hidung yang besar sebesar garis tengah buah kecapi kelihatan lendir berwarna kuning yang meleleh-leleh dari ujung lidahnya dengan bau luar biasa busuk. Bagi segenap gemblakan yang sudah tersihir hatinya, keadaan kasat mata Naranatha yang mengerikan dan menjijikkan itu membuat mereka semakin takut dan karenanya patuh. Mereka semua berlutut di hadapan Naranatha, menyembahnya. Kata cenayang, "Hai Naranatha, berangkatlah rohmu itu ke tempat merdeka yang didiami oleh roh nenek moyangmu. Adukan apa yang telah membuat hatimu menjadi api yang menyala." "Ya, aku akan bakar musuhmu dengan nyalaku," kata Naranatha. "Dulu cuma satu, Ki Anom dari Cina. Sekarang tambah lagi satu, juga dari Cina." "Jangan lupa, dulu nenek moyang kita, Kertanegara, sudah memukul mereka. Sekarang kau harus kembali memukul mereka."
***
Sementara itu hari-hari telah banyak berlalu di Tuban.
Pada Jumat yang cerah, sehabis khotbah, Ceng Ho memutuskan untuk berlayar lagi ke timur.
Ucu, pelaut Bugis itu, berharap sekali untuk Ceng Ho, bukan hanya wakil, yang dapat berkunjung ke Salabassi.
Tapi selalu sebagai pemimpin yang mau mendengar orang-orang yang dipimpinnya, Ceng Ho bertanya lebih dulu pada Wang Jing Hong dan perwira-perwiranya yang lain.

Mereka membuat rapat di ruang rapat yang biasa di kapal induk. Dan seperti biasa pula, semua hadir di situ termasuk dua orang juru tulis selundupan itu, Dang Zhua dan Hua Xiong.
Yang mesti disebut dengan lebih khas, perubahan yang terjadi dalam pikiran Dang Zhua kelihatannya makin kuat. Dia bermaksud menetap saja di Jawa seperti orang-orang sipil lain.
Harus dikatakan, banyak orang yang memilih Tuban. Kelihatannya hanya satu orang, Tan Tay Seng, yang tetap berkeras untuk nanti turun ke Mangkang, pelabuhan Semarang zaman itu.
Di tengah rapat dalam kapal induk itu Ceng Ho mengajukan pandangannya. Katanya, "Saya minta saran dari Wang Jing Hong, kapankah waktu yang paling tepat untuk meninggalkan Tuban ke Blambangan dan terus ke Bali?"

"Kira-kira dua pekan lagi ada tiga macam angin yang mungkin merepotkan pelayaran kita," kata Wang Jing Hong. 

"Tiga macam angin?" tanya Ceng Ho. "Angin apa saja?"
"Angin langkisau, angin lembubu, dan angin membakat," jawab Wang Jing Hong.
"Dari mana kau tahu?" tanya Ceng Ho.
"Dari pelaut Bugis itu, Ucu," jawab Wang Jing Hong. "Tentu dia lebih tahu, sebab dia sangat katam pada perairan di sini."

Ceng Ho diam sejenak. Berpikir. Setelah itu Ceng Ho berkata, "Ya, betul, kita memang harus mendengar dari orang yang lebih mengetahui daerah ini."


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #139 on: 27/08/2008 18:33 »
Ucu sendiri akan berlayar besok ke Salabassi. Ketulusannya untuk menyerap ilmu pembuatan kapal, dengan melihat contoh kapal induk ynag digunakan Ceng Ho itu, bagaimanapun telah disambut oleh Ceng Ho dengan mengirimkan salah seorang ahlinya untuk berlayar bersama Ucu ke Salabassi atau sekarang: Sulawesi Selatan. Menjelang senja, di hari Jumat yang sama ini, Ceng Ho menyediakan diri untuk berbincangbincang lagi soal kemungkinan menerima tawaran Ucu untuk dapat berlayar ke janabijana bangsa Bugis dan Jumpandang (kemudian pada lebih seratus tahun mendatang oleh Portugis disebut Makassar). Ucu diundang bercakap-cakap di kapal induk Ceng Ho. Kata Ceng Ho, dan Ceng Ho dikelilingi oleh perwira-perwiranya, serta Wang Jing Hong, "Saya tertarik untuk mengetahui tiga macam angin yang Anda sampaikan kepada Wang Jing Hong. Bolehkah Anda merinci perwatakan ketiga angin itu?" "Ya, memang angin ini merupakan pertemuan dari semenanjung Melayu, selat Sunda,dan laut utara yang datang dari selat antara Salabassi dan Kalimantan," kata Ucu. "Ciri angin langkisau itu seperti putaran gasing. Jadi, jika ia datang mendadak dari barat, maka ia berputar dengan kencang untuk kembali ke barat." "Bagaimana maksudnya itu?" tanya Ceng Ho. 'Begini," kata Ucu sambil mengeluarkan badiknya dan menaruhnya di atas meja. "Katakan misalnya bagian gagang ini adalah haluan, dan bagian ujung badik ini adalah buritan. Angin langkisau itu adalah angin kencang yang menerpa haluan sehingga haluan berputar ke belakang dan buritan menjadi di depan, dan begitu ia terputar berkali-kali. Kalau layar tidak cepat-cepat digulung, pasti tiang layar akan patah." Ceng Ho mengangguk-angguk. Setelah itu katanya menyimpulkan, "Itu sama dengan taifun."*) Ucu mengangguk pula. "Sering juga orang Melayu menyebutnya angin puting beliung," katanya. Ceng Ho mengangguk-angguk lagi. Lalu katanya, "Dan, dua jenis angin lainnya itu?" "Angin lembubu itu sama merepotkan juga. Angin lembubu itu datangnya dari atas, turun ke badan galiung secara berpusing-pusing, membuat galiung ikut berpusing bersamanya. Angin ini sering muncul di selat antara Kalimantan dan Salabassi, sekitar Masalembo ke utara." Ceng Ho tetap mengangguk. Dan, setelah itu dia bertanya lagi soal angin yang ketiga. "Lalu, angin yang satunya lagi?" "Angin yang satunya itu bisa saja angin membakat," jatab Ucu. "Ini angin yang sama berbahaya dengan kedua angin yang saya sebut tadi. Angin membakat ini menerpa kencang dari atas buritan disertai dengan gelombang yang tiba-tiba bergerak dari bawah karena arus yang mengacaukan haluan." "Begitukah?" tanya Ceng Ho. "Risiko paling buruk apa yang pernah dialami kapal-kapal Bugis?" "Yang paling rentan, tentu saja, bagian apilan bisa saja cedera dan lepas dari rekatannya," kata Ucu. "Dan, kalau bagian apilan rusak, maka otomatis itu mengganggu kerangka badan haluan, dan itu artinya pelan-pelan akan merusak pula bagian gading-gading di antero badan galiung. Kalau gading-gading rusak, tamatlah riwayat kapal." Ceng Ho langsung menanggap. "Insya Allah gading-gading dari kapal kami ini sangat kuat, pegas, dan kokoh. Ia sudah teruji diterpa badai di Laut Cina Selatan," kata Ceng Ho. "Seperti saya katakan, tulang rusuk kapal yang paling kuat terletak pada rahasia bagaimana memanfaatkan batang kayu yang utuh bercabang simetris, untuk dijadikan sebagai kerangka
gading-gading. Di luar gading-gading itulah direkatkan apilan dari bahan yang tebal-tebal.
Pengetahuan ini khas ditemukan oleh ahli-ahli kami di Cina."
"Saya ingin kembangkan itu ke dalam tradisi pinisi kmai," kata Ucu.
"Ilmu memang harus diamalkan," kata Ceng Ho. "Seperti sudah saya janjikan, saya akan mengutus salah seorang dari ahli-ahli kami untuk berlayar bersama Anda ke janabijana Anda."
"Terimakasih," kata Ucu. "Kami akan berlayar besok. Kami akan langsung ke utara, Kalimantan, sebelum ke timur, Salabassi."
Bersamaan dengan itu tampak di darat suatu kebakaran yang memerahkan bumi dan menghitamkan langit. Wang Jing Hong yang lebih dulu melihat itu.
"Astaga. Ada kebakaran di darat," kata Wang Jing Hong.
"Apa yang terjadi?" kata Wu Ping.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #140 on: 27/08/2008 18:40 »
Itu adalah ulah Naranatha. Melalui kerjaan cenayangnya yang telah membuatnya menjadi makhluk aneh, dia menantang Tuhan.  "Dengar semua kalian orang Cina," kata Maranatha yang tampak sebagai makhluk aneh itu. "Aku akan melawan orang Cina yang telah membawa agama baru, agama yang bersembahyang lima kali, dan aku akan membakarnya sampai hangus. Padepokan Ki Anom sudah kuhancurkan, tapi belum hilang, sebab konon dibantu oleh pemimpin pelayaran dari Cina. Nah, mana pemimpin itu. Biar kita beradu kekuatan dan kekuasaan. Tanah janabijana adalah tanah nenekmoyangku. Tanah janabijana adalah tanah kepercayaan Kertanegara."


***


Ketika Maranatha keranjingan seperti itu, kebetulan Lotik berada di pasar yang digelar di depan laut -yang kini tengah terbakar oleh kekuasaan sihir cenayang Naranatha - dan dia menyaksikan sendiri pula kata-kata pedas Naranatha.

Lotik pun segera pula ke padepokan Ki Anom, menceritakan akan apa adanya, tapi tanpa bermaksud memanas-manas hati suhunya itu.
Ki Anom cukup arif menanggapi apa yang diceritakan oleh murid atau cantriknya itu. "Kita tidak boleh masuk dalam sentimen yang hendak dibakarnya. Saya kira pendapat saya ini akan didukung juga oleh Sam Po Kong."

"Kalau begitu, mengapa kita tidak sampaikan ini kepada Sam Po Kong," kata Lotik.
"Mumpung kapal mereka masih tersauhkan di laut Tuhan."
"Saya kira itu baik juga."

***

Maka bergegaslah Ki Anom bersama Lotik dan dua orang cantrik lainnya - tapi tentu saja bukan Blekok - ke Tuban, dan berharap dari dermaga di situ mereka dapat mencari galiung yang bisa membawa ke kapal induk Ceng Ho. Perjalanan mereka dari padepokan Ki Anom di Jembel ke pelabuhan Tuban, tempat kapalkapal kecil jenis fusta, jung, galiung berjajar-jajar bersandar - kecuali kapal induk Ceng Ho yang disauhkan di tengah laut sana -tidaklah bisa dicapai dengan cepat. Hewan yang dipecut, yang menarik pedati yang mereka tumpangi, tak mau berjalan sesuai dengan keinginan yang menumpang kereta yang ditarik hewan itu. Hewan itu memang bukan kuda melainkan kerbau. Dan kerbau, seperti juga sapi yang paling tangguh pun, tampaknya tidak berminat berjalan laju. Baginya pepatah ini berlaku: alon kelakon. Ketika mereka berempat tiba di Tuban, itu terjadi lima jam kemudian. Yaitu, setelah Lotik meninggalkan Tuban tadi, ke Jembel, dan dari Jembel kembali lagi ke Tuban. Tak mereka ketahui bahwa Ceng Ho, yang sedianya akan mereka jumpai di kapal induk dengan menumpangi salah satu dari kapal-kapal pelbagai jenis, jung, fusta, atau galiung, yang bersandar di dermaga, malah telah berada di Tuban. Ceng Ho bahkan tiba di pasar yang sedang terbakar ini, dan menyaksikan beberapa orang yang sibuk memadamkan kebakaran dengan membawa berember-ember air. Dia pun sempat melihat orang-orang yang menangis memandangi tak berdaya barang-barang dagangan mereka yang ludes disikat api, atau dengan bahasa kampungan: si jago merah. Ada seorang perempuan yang bingung, ikut juga membawa ember bersama yang lain-lainnya hendak menyiram api yang berkobar itu. Namun, dalam kebingungannya dia tidak membawa ember berisi air, dia membawa ember berisi minyak. Maka, ketika dia menyiram api itu dengan ember yang dibawanya itu, karuan barang saja dagangannya berupa kain-kain cita dari jenis dewangga dan kelamkari dari Cina, kontan membuat api semakin menggila. Perempuan itu kaget, terkesiap, dan menjerit, lantas menangis meraung-raung. Tetapi tiada air mata dari kelopak matanya. Kelihatannya air matanya telah habis, kering dari cadangan yang tersedia di dalam tubuhnya itu. Dia pun meratap-ratap melihat api yang membakar barang dagangannya itu. Nanti dia pingsan di bawah kaki Ceng Ho. Dan sebelum pingsan, dia menceracau dengan nada yang meletupletup. Katanya, "Kenapa perebutan pengaruh, perebutan kekuasaan, persaingan kekuatan, selalu menggunakan cara-cara tak bermoral seperti ini: membakar pasar tempat orang mencari nafkah..." Ceng Ho sendiri tak dapat menjawab kecuali menyerap dan membenarkan. Katanya, "Ya, begitulah..." "Kenapa Anda tidak bertindak? Sudah jelas dia menantang Anda. Tangkaplah dia." "Pasti," jawab Ceng Ho singkat. "Sekarang, di mana dia?" Tidak seorangpun yang tahu. Naranatha telah berganti sosok.



***



Bagaimana cara Naranatha berubah? Di purinya di selatan, cenayangnya memainkan sihirnya. Dengan satu gerakan tangan di atas kemenyan si cenayang telah mengembalikan tubuh Naranatha menjadi manusia lagi. Dan, sebagai manusia Naranatha berada di tengah-tengah orang yang menyaksikan kebakaran itu dari arah yang agak jauh, yang artinya tidak terbias panas api. Dengan begitu dia dapat pula menyaksikan Ceng Ho tiba dari kapal, dan juga kedatangan Ki Anom dan Lotik bersama dua orang cantrik yang lain di dekat kebakaran itu. Demi melihat Ceng Ho dari jauh, gemeretaklah gigi-giginya menahan dengkinya. Dia menyerapah di dalam hati. Katanya, ''Jadi kamulah itu pemimpin pelayaran dari Cina yang bersembahyang lima kali seperti Ki Anom yang telah merebut Lotik?'' Ketika dia menyerapah seperti itu, wajahnya yang kuyu, keperempuan-perempuan, atau pendek kata tidak jantan sebagai lazimnya orang-orang lelaki yang gandrung pada sesamanya, mendadak berubah menjadi sangat jelek. Dia melangkah-langkah mundur, lantas berputar di belakang sana, pergi.


***


Sepanjang perjalanan pulang ke selatan, dia menghardik-hardik langit. Yang dia lakukan sebetulnya kejengkelan, kemarahan, kekecewaan kepada cenayangnya.

''Panggeeeh!'' katanya menyebut panggilannya kepada cenayangnya itu. ''Terkutuk kamu!
Kenapa kamu ubah diriku menjadi manusia biasa seperti ini, padahal aku sudah berhadapan  dengan orang-orang Cina itu!''
Naranatha pun cepat-cepat pulang ke purinya.


***

Kemudian Ceng Ho berbicara di hadapan khalayak, orang-orang Cina yang beragam: baik yang mayoritas Buddha, Konghucu, dan Tao, maupun Islam tentang kejadian yang baru menimpa. Itu dilakukannya setelah Ki Anom dan Lotik menceritakan tentang serapah-serapah yang mengarah ke pertentangan agama dan pertikaian etnik yang dikoar-kaorkan oleh makhluk aneh yang dapat berbicara lancar. Dan walaupun makhluk itu aneh, Ki Anom dapat menyimpulkan bahwa di balik sosok kemakhlukan yang aneh itu, pasti di dalamnya bersembunyi jiwa, pikiran, dan dendam Naranatha. Maka tak sangsi, Ki Anom berani menyebut makhluk itu adalah Naranatha. Dan dia memang tidak salah. Dia benar sekali. ''Naranatha sengaja memanas-manaskan luka lama Kertanegara, supaya pribumi membenci kita, orang Cina,'' kata Ki Anom. ''Apakah kesimpulan saya ini benar?'' ''Mungkin,'' jawab Ceng Ho, tapi Ceng Ho sendiri sebetulnya sedang berpikir, merenung, menalarkan. Oleh karena itu kata Ceng Ho selanjutnya, ''Mungkin juga tidak begitu.'' ''Jadi, kira-kira apa alasannya?'' tanya Ki Anom. ''Apakah dia bermaksud memicu sentimen agama?'' Ceng Ho seperti kaget. Dia menekan pikirannya dengan memandang wajah Ki Anom luruslurus. ''Kenapa Anda menyimpulkan begitu?'' katanya dengan dahi yang melipat kerut. ''Barangkali saya hanya berprasangka,'' jawab Ki Anom seperti hendak meralat. Nada cakapnya menurun. Tapi melihat sikap Ki Anom yang nada cakapnya menurun, Ceng Ho malah menaikkan nada cakapnya sendiri. ''Tidak,'' katanya. ''Justru kita harus menguji pikiran Anda itu.'' Ki Anom menunggu. ''Bagaimana itu?'' katanya. ''Bisa saja begitu,'' kata Ceng Ho. ''Bisa saja orang itu membangkitkan masalah laten: sentimen pribumi kepada orang Cina dengan menajamkan perbedaan pendapat. Padahal, sebetulnya permasalahan pokoknya adalah: bukan perbedaan pendapat, melainkan perbedaan pendapatan.'' ''Kenapa pula Anda berkata begitu?'' tanya Ki Anom. ''Lihat saja kenyataannya,'' kata Ceng Ho sembari menunjuk sisa pasar yang sudah terbakar habis. ''Kita, orang Cina lebih banyak berdagang dan memperoleh laba yang besar karena memang ketangguhan dan keuletan serta kemampuan bangsa kita dalam berdagang, sehingga memperoleh pendapatan yang tak kecil. Sementara pribumi kelihatannya kurang memperhatikan apa yang kita perhatikan dan membuat kita menguasainya. Justru itu pula, sebagai bangsa yang memahami betul siasat-siasat perniagaan dan perdagangan, sudah menjadi wajib bagi kita mengajarkan pengetahuan kita kepada pribumi. Ini pula tugas yang kami emban dari perintah kaisar kita di Cina. Tapi, hal yang paling pokok dalam menghadapi masalah pelik yang baru saja terjadi ini, yang telah mengguncangkan pikiran dan perasaan khalayak, adalah melihat musuh kita -seperti sudah saya katakan beberapa hari yang lalu itubukan sebagai sosok perbedaan latar belakang agama ataupun latar belakang ras, tapi sepenuhnya sebagai kekuatan iblis.'' Ki Anom setuju. ''Saya setuju,'' katanya. ''Kalau Anda bisa mengatakan itu kepada khalayak ramai, itu akan menjadi kekuatan bagi mereka.'' ''Sudah tentu saya berkewajiban mengatakan itu kepada mereka,'' kata Ceng Ho. ''Mereka semua adalah saudara-saudara kita. Kewajiban kita, sebagai muslim, adalah membuat umat manusia menjadi saudara-saudara kita.''


***

Demikian, di depan khalayak ramai, sebagian besar orang-orang Cina dari pelbagai agama khas Cina yang Han San Wei Yi serta orang-orang Cina yang muslim serta pribumi yang beragam warna agama juga antara Hindu, Buddha, dan kejawen, serta juga para mualaf, berkata Ceng Ho yang berdiri di atas sebuah bangku, ''Saudara-saudara sekalian. Apa yang baru saja terjadi ini samasekali bukan persoalan agama kita yang berbeda-beda. Walaupun konon makhluk yang muncul tadi itu meneriakkan sentimen perbedaan ras dan perbedaan agama, percyalah bahwa sudah sejak dulu kita berbeda, dan dalam perbedaan itu kita tetap rukun. Maka jangan perpanjang.'' Khalayak terbengong. Ada yang melirik ke sebelah kanan atau kiri, kira-kira hendak mengeladau akan reaksi masing-masing mendengar pokok pikiran Ceng Ho tersebut. Ada pula yang hanya diam menyerap ijmal petuah Ceng Ho itu. "Kita semua, sebagai manusia, sama di hadirat ilahi," kata Ceng Ho meneruskan petuah. "Karena kita sama belaka, patutlah kita menggalang persaudaraan sejati, persedarahan tulen, dan toleransi antarsesama. "Orang Cina harus menganggap pribumi sebagai saudara. Karena itu orang Cina pun harus tahu diri di negeri perantauan milik nenek moyang pribumi ini. "Kita harus tenggang rasa. Kalau kita merasa lebih, berikan kelebihan kita kepada yang kekurangan. Kalau kita merasa lebih mengetahui, berikan pengetahuan kita kepada yang belum berpengetahuan. Tapi, kalau kita merasa tidak mengetahui, bertanyalah kepada pribumi yang lebih mengetahui. Hanya dengan begitu kita melakukan suatu lintas budaya dan lintas adab yang sesungguhnya. "Apa sebetulnya inti dari suatu lintas budaya? Jawabnya tidak lain adalah tanggung jawab insani kepada kerahmanan kerahiman ilahi. Dasarnya adalah siapa yang memiliki ilmu wajiblah mengamalkannya kepada umat manusia. "Di satu pihak barangkali orang Cina merasa diri sebagai kakak terhadap pribumi. Tapi, pasti juga, di lain pihak orang Cina akan menjadi adik bagi pribumi. Ini merupakan prinsip tersendiri pula dalam lintas budaya dan lintas adab tersebut. "Saya ingin menandaskan kepada saudara-saudara semua bahwa hanya dengan sikap senasibsepenanggungan, sejalan-setujuan, dan berat sama dipikul ringan sama dijinjing, persaudaraan sejati dapat dicapai. "Sebagai orang yang percaya hanya kepada satu Allah, saya ingin berkata kepada saudarasaudara semua - orang-orang Cina dari segala latar belakang agama serta juga pribumi dari segala latar belakang agama masing-masing - bahwa Islam adalah mencari teman, bukan mencari musuh. Demikian Islam di Jawa ini haruslah berpedoman pada nala-qariin *). "Yaitu, menjadikan semua orang sebagai teman di atas landasan hibat atau kasih sayang. Ini merupakan iktibar yang asasi akan kemanusiaan yang berketuhanan. "Sudah tentu, jika ada pihak, siapa saja, yang menolak tawaran hibat atau kasih sayang itu, boleh jadi kita akan memikirkan sikap bagha **) yang tepat sebagai jawaban, tanggung jawab orang berkepercayaan terhadap orang yang tiada berkepercayaan. Hal ini tentu merupakan pilihan akhir pada orang yang bukan saja menolak, melainkan juga mengacau, seperti pengacau yang baru saja melakukan kejahatan kemanusiaan di sini tadi. "Mengapa kita harus bersikap bagha kepadanya? Sebab dia harus kita anggap sebagai perpanjangan tangan setan atau iblis, atau katakanlah anak sulung iblis. Jadi, tak pelak, musuh kita itu, yang harus kita sikapi dengan bagha, adalah iblis atau setan belaka. Setan atau iblis itulah yang telah memperalat medium melalui jiwa dan raga manusia yang tadi mengacau itu. Maka kita harus bersatu untuk bangsa, untuk melawan kekuasaan setan atau iblis jahanam itu. "Nah, saya ingin bertanya sekarang kepada saudara-saudara semua di sini. Sanggupkah Saudara-saudara, kita semua, Anda dan saya, bersatu-padu melawan satu-satunya musuh umat manusia, yaitu setan atau iblis yang mengacau dan mencabik-cabik kerukunan?"
Khalayak menjawab serempak dengan yakin, "Sangguuup!"
Ceng Ho puas. "Bagus," katanya. "Alangkah indah kerukunan. Alangkah mujarab perasaan  hibat atau kasih sayang. Adalah Allah pula Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang."


***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #141 on: 27/08/2008 18:46 »
Beberapa saat kemudian, alih-alih sekali Dang Zhua menghampiri Ceng Ho dan memujinya.
Katanya,"Saya belum pernah mendengar pernyataan seperti yang Anda kemukakan tadi."
"O ya?" kata Ceng Ho dengan sikap wiweka. Ada senyum kecil di wajahnya, ada pula lukisan kecil menampik. Dengan itu dia menunjukkan kemestiannya untuk berlaku eling. "Memang itu misi Kerajaan Ming yang kita emban: bahwa kita patut menggalang persaudaraan umat manusia."
"Tiba-tiba saya merasa mata saya terbuka," kata Dang Zhua dengan tulus.

"Yang lebih mustahak adalah membuka hati," kata Ceng Ho. "Dan salah satu segi utama dari tugas kita mengejawantahkan penggalangan persaudaraan itu adalah bagaimana kita, yang
merasa lebih maju, wajib memberdayakan bangsa yang belum maju."
"Tadinya malah saya berpikir, bukan memberdayakan melainkan memperdayakan."
"Itu benih-benih yang berbahaya."
"Betul," Dang Zhua kelihatan lebih tulus lagi. Dia memang sudah berubah. Dan itu pula yang membuat Hua Xiong yang sekamar dengannya di kapal induk akan geram dan tidak suka kepadanya. Artinya, kedua kaki tangan Liu Ta Xia ini bisa bertikai sendiri.
Sampai seberapa jauh kemungkinan kedua kaki tangan Liu Ta Xia ini bertikai?
Paling tidak pada tahap awal, kemarin-kemarin, dan berlanjut pula sekarang, adalah saling eyel.


***


Demikian di kamar, pada malam harinya, Hua Xiong berkata, ''Orang yang berubah-ubah pendirian itu sama seperti air di daun talas.''
Barangkali orang itu menyesuaikan diri dengan perubahan waktu di hadapannya,'' kata Dang Zhua semudahnya. ''Memangnya siapa alamat khusus yang hendak kamu tunjuk?''

''Siapa lagi, kalau bukan kamu?''
''O, berbahagialah aku.''
''Tolol. Menjadi air di daun talas kok bahagia.''
Habis?''
''Harusnya malu.''
''Kenapa malu? Justru orang yang bisa berubah pikiran seperti batu adalah orang yang tidak berkembang. Orang yang tidak berkembang adalah orang yang tidak maju. Tidak dapat menyesuaikan diri dengan progresi waktu.''

''Lantas apa arti tanggung jawab bagimu: tanggung jawab kepada Liu Ta Xia?''
''Apa sulitnya sekadar tanggung jawab: menanggung dan menjawab?''
''Huh. Memang repot berbicara dengan cucakrawa. Mestinya kamu berkicau saja di sawah.''
''Asal berbareng dengan kamu, boleh saja.''
''Aku bukan cucakrawa.''
''Tapi sikapmu yang kaku, yang tidak berkembang dengan semestinya di tengah waktu yang berkembang, malah menunjukkan dirimu sama seperti cucakrawa: berkicau bukan hanya disawah tapi celakanya juga di dalam sangkar ukir. Nah, lihat saja kepalamu ini. Kepalamu persis kepala cucakrawa.''
Sambil mengucapkan dua kalimat terakhir itu, Dang Zhua memegang dan menguyak-uyak rambut di kepala Hua Xiong. Keruan Hua Xiong marah dan pun menyampluk tangan Dang Zhua. Tangannya menyabet muka Dang Zhua. Dang Zhua merasa sakit. Maka Dang Zhua pun membalas mengayunkan tangan ke muka Hua Xiong. Maka terjadilah perkelahian di kamar itu....


***


Pada pagi harinya ada berita buruk yang mau tak mau membuat Ceng Ho, sebagai pemimpin pelayaran, iba. Bahwa orang yang kemarin meratap-ratap karena barang dagangnya ludes terbakar oleh api setan Naranatha tak tahan menolak rasa terpukulnya, dan selanjutnya tidak pingsan lagi seperti kemarin tetapi telah tidak bangun selamanya. Maka Ceng Ho pun menyerahkan hal-hal yang berkait dengan kepercayaan kepada Fei Huan, pendeta Buddha dalam pelayaran muhibah itu. ''Lakukanlah penghormatan yang layak baginya sebagai perempuan. Dia patut mendapatkan itu,'' kata Ceng Ho kepada Fei Huan. Orang-orang pun membawa mayat itu ke kelenteng - sebuah kelenteng yang telah ada di Tuban pada kurang dua ratus tahun lalu, sekitar zaman Jayakatwang menjadi raja bawahan di Kediri dan terus memata-matai kelemahan Kertanegara - untuk diurus oleh seorang caima, yaitu biarawati di kelenteng yang bertugas menyembahyangkan orang mati. Setelah itu Fei Huan mengingatkan kepada orang-orang Buddha secara khusus dan penganut agama Cina, Han San Wei Yi secara umum, tentang dasar-dasar menekan kemarahan yang mesti dimiliki manusia betapapun sebagian besar di antara mereka masih menanggung rasa pilu yang bercampur aduk dengan geram akibat kebakaran yang terjadi kemarin. Kata Fei Huan, ''Siapa pun bisa marah melihat kenyataan betapa kejahatan telah diembuskan oleh seseorang di balik sihir yang telah membuat wanita tua ini menderita dan mati dengan cepat. Tapi, bagaimana menekan perasaan marah yang mungkin saja terjadi atas kejahatan ini merupakan sendi pokok ajaran Buddha yang kita anut karena kita percayai. Salah satu nasihat Buddha yang elok bagi hati kita adalah dalam Kakacupama Sutta *). Sabdanya, 'Andaikata ada pejabat menangkap salah seorang di antara kamu lalu memenggal-menggal tubuhmu dengan gergaji, dan jika di saat itu kamu marah, maka kamu bukan pengikut ajaranku.' Jadi, walau kita bisa marah, semestinya kita menekan, dan hidup dengan cara derana. ''Buddha juga menganjurkan sikap derana, mengajarkan kesabaran, ketabahan, ketahanan terhadap derita dan marah, ketika ia mengandaikan tentang batang kayu dengan dua ujung yang kering tapi yang di tengahnya busuk. Kayu itu tak dapat dimanfaatkan. Kayu itu sama rapuhnya dengan kemarahan. Begitu sabdanya dalam Anguttara Nikaya.**) Dan apa yang dikatakannya itu benar sekali.'' Umat menyerap dengan baik kata-kata Fei Huan. Sebab, ajaran Buddha sudah berakar lama di dalam masyarakat Cina: sejak kitab suci Buddha diterjemahkan di Cina pada zaman Kaisar Huan dari dinasti akhir Han oleh An Shih Kao dan diteruskan Yueh Chih dan Chih Lou-chia-ah'an antara tahun Masehi 146-167. Syahdan, tatkala Fei Huan sedang memberikan pengajaran sendi-sendi moral dalam upacara melepaskan salah seorang di antara para perantau Cina yang telah lama mukim di Tuban itu, di sebelah selatan sana, di puri Naranatha, si zindik dan mulhid ini masih belum reda dari kemarahannya yang kemarin. Dia memegang leher cenayangnya itu.


***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #142 on: 27/08/2008 18:48 »
Ketika Naranatha memegang leher cenayangnya, yang lebih tepat mencekiknya, maka semua gemblakan Naranatha berada di sekitarnya, menyaksikan. Tidak terkecuali Blekok. Sepatutnya dikatakan dengan jelas, bahwa kini Blekok pun akhirnya senang dipegang-pegang
terongnya. Dia bukan hanya sekadar senang dipegang-pegang, tapi kini dia bahkan telah menjadi salah seorang dari gemblakan Naranatha. Hanya saja, karena pikirannya tidak ajek, dia masih berpikir untuk datang atau datang-datang ke padepokan Ki Anom.
Blekok menyaksikan juga, seperti yang lain-lainnya menyaksikan bagaimana Naranatha marah, mencekik leher cenayangnya itu. Katanya terengah-engah sendiri, ''Kalau sampai kamu mengubah sosokku sebelum aku menyelesaikan kerjaku, aku bersumpah akan
mencekikmu begini sampai mati.''

''Aku bersumpah,'' kata cenayang itu. ''Aku bersumpah kata cenayang itu. ''Aku bersumpah ini bukan mauku. Ini di luar mauku. Kekuatan sihirku memang hanya sampai di situ. Lebih dari waktunya, maka sihirku akan berakhir dengan sendirinya. Percayalah padaku, Naranatha.''
''Sekarang, bagaimana membuat sihirmu bisa lebih lama, supaya aku bisa lebih leluasabertindak?''

''Tidak bisa, Naranatha,'' kata cenayang itu. ''Kau yang harus bisa berbuat lebih cepat. Waktu tidak bisa menunggumu.''

''Kalau sampai kerjaku belum selesai dan ternyata kekuatan sihirmu sudah berakhir, bagaimana?''

''Jangan sampai.''
''Apa maksudmu?''
''Yang kita lakukan ini tidak sama seperti bermain layangan: mengulur dan menarik.''

Naranatha jengkel. Dia hempaskan tubuh cenayangnya itu.


***
Secepat itu timbul gagasan lancung dalam pikiran Blekok. Tidak ada keuntungan apa-apa yang akan dia peroleh kecuali perasaan senang bertualang belaka. Malamnya dia berangkat menuju ke utara. Pada pagi hari dia akan tiba di padepokan Ki Anom. Kepada Ki Anom dia memilih kata-kata dusta. Dia mengaku baru saja datang dari kampung halamannya. ''Saya cepat-cepat berlari ke sini, sebab di selatan sana saya mendengar dari gunjingan ramai orang-orang desa bahwa nanti malam makhluk aneh yang sekian hari lalu mem
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #143 on: 27/08/2008 18:56 »
bakar Tuban, akan melakukannya lagi,'' kata Blekok. ''Kelihatannya kamu begitu lancar menceritakan ini,'' kata Ki Anom. ''Berarti kamu tahu siapa sebetulnya di balik makhluk aneh itu?'' Ki Anom memandang, menunggu. ''Apa kamu tahu?'' Blekok agak tersendat. Cakapnya plegak-pleguk. ''Seperti sudah diduga banyak orang, dia adalah Naranatha,'' katanya. ''Apa kamu tahu juga alasannya membakar Tuban?'' ''Maaf, Ki Anom,'' kata Blekok. ''Saya tidak tahu.'' Secepat dia berkata begitu, ternyata dengan cepat pula dia menyambungkan dengan keterangan, ''Tetapi, dengar-dengar, dia tidak suka pada orang Cina.'' Ki Anom mengangguk. Ketika dia mengangguk dia teringat akan pernyataan Ceng Ho. Katakata Ceng Ho masih terang mengiang di telinganya. Dan, mulutnya bergerak. Dia berkata sesuatu, tetapi tidak terdengar. ''Itulah hidup.'' Dari Lotik gagasan berikut ini muncul. Kata Lotik, ''Apa tidak lebih baik kita sampaikan hal ini kepada Sam Po Kong? Bagaimanapun Sam Po Kong adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Dia benar-benar memberi pengetahuan yang asasi mengenai Islam.'' ''Memangnya apa yang kamu tangkap dari petuahnya itu?'' tanya Ki Anom menguji ketangkasan Lotik. ''Bahwa perkataan Islam, yang lahir dari 'sin-lam-mim' dan turun dari 'aslama', artinya penyerahan diri kepada Tuhan, benar-benar tercitra dalam sikap dan perbuatan Sam Po Kong.''
''Kamu benar, Lotik,'' kata Ki Anom.
''Makanya, kita perlu menyampaikan ini kepadanya.''
''Barangkali, sebelum kita mengatakan ini kepadanya, dia telah lebih dulu berfirasat.''
Cantrik-cantrik yang lain, yang berada di sekeliling Ki Anom, terkecuali tentu saja Blekok,semuanya diam: mata tak berkedip mendengar pernyataan Ki Anom tentang Ceng Ho, dan
hati menaruh hormat dalam mengingat-ingat wajah Ceng Ho.

***
Siang itu juga Ki Anom, Lotik, beberapa cantrik, termasuk Blekok, sama-sama berangkat ke Tuban. Dalam pikiran Ki Anom, jika Ceng Ho tidak berada di darat, bisalah dia menggunakan sejenis gondola untuk berlayar ke kapal induk yang disauhkan di lepas pantai sana. Kata Ki Anom: ''Pokoknya, kalau bisa sebelum magrib beliau sudah berada di darat.'' Sementara dalam pikiran Blekok yang cemar dan lancung, bila nanti terjadi serangan yang menghancurkan dari Naranatha - yang akan berubah menjadi makhluk aneh itu - maka dia akan menikmatinya sebagai tontonan menarik. Dia pun akan bersorak girang melihat kemenangan Naranatha. Ketika mereka berangkat dengan pedati dari padepokan Ki Anom di Jembel ke Tuban, hari sedang terik-teriknya. Di bumantara kelihatan hanya warna biru melulu yang menyilaukan mata. Tidak ada awan di bumantara sana. Dan, kendatipun pedati itu berjalan di bawah pohonan sombar, tetap saja beringsang alami itu membuat tubuh mereka basah peluh.


***


Apakala pedati itu tiba di Tuban, pada saat yang hampir bersamaan orang-orang baru saja bubar dari upacara sembahyang yang dilakukan sang caima serta kata-kata penghiburan dari Fei Huan terhadap sanak wanita tua yang telah bertahun-tahun mukim di perantauannya ini. Tepat sebagaimana dugaan Ki Anom, dari salah seorang perwira dalam pelayaran muhibah itu, dia mengetahui bahwa Ceng Ho sudah berada di kapal induk. "Beliau baru saja naik," kata Ci Liang. "Tadi beliau memberi wejangan bagi kami sebelum wanita itu disembahyangkan oleh caima". Dengan hormat Ki Anom berkata memegang tangan Ci Liang, "Saya ingin sekali bertemu dengannya sebelum magrib." Ci Liang membawa pikiran Ki Anom. "Ya, saya mengerti. Anda bermaksud untuk bisa ke kapal induk sekarang." Lalu dia pula yang mengarahkan. "Tidak perlu. Sam Po Kong akan segera turun kembali. Dia hanya menjenguk Wang Jing Hong." Ki Anom berkerut dahi. "Wang Jing Hong sakit?" "Setelah terkena racun dari keris di kerajaan Wikramawardhana. Wang Jing Hong tidak ajek, kadang sembuh kadang sakit. Di dalam pelayaran, kami membawa ahli obat-obatan jamu, tapi ahli-ahli itu belum dapat menguraikan penawar apa yang bisa menyembuhkan sakit Wang Jing Hong."


***

Lantas bagaimana keadaan Wang Jing Hong di kapal sana?
Dia berbaring di tempat tidurnya. Selain Ceng Ho di situ, ada juga beberapa orang lain termasuk Wu Ping melihat keadaannya.
"Jangan terlalu dikhawatirkan," kata Wang Jing Hong. "Sakit saya ini tidak serius."
"Kau selalu bilang begitu," kata Ceng Ho memotong. "Tapi sering kau terserang seperti ini."
"Percayalah, saya cuma capek saja," kata Wang Jing Hong. "Matahari di sini lebih panas daripada matahari di Janabijana."


Ceng Ho tidak menanggapi. Dia hanya memandang wajah Wang Jing Hong, dan memegang tangannya.
"Sudahlah," kata Wang Jing Hong. "Lanjutkan tugas kita di darat. Kalau sudah selesai, kita angkat sauh lagi, meneruskan pelayaran ke timur, sampai ke Bali."
"Apa kau yakin?" tanya Ceng Ho.
"Selalu yakin," jawab Wang Jing Hong. "Dalam diri saya ada musim semi *) Jadi, saya tidak kuatir."
"Kalau begitu, saya tinggalkan kau. Dalam firasat saya, ada sesuatu yang akan terjadi malam nanti. Saya harus menghadapinya."
"Apa yang akan Anda lakukan?"

Ceng Ho memegang tangan Wang Jing Hong dengan kedua tangannya. Katanya, "Di mana ada pihak yang mengajak kita berperang dan kita tidak melayani, dia mengira kita kalah. Tapi saat dia kemaruk oleh rumangsa menang, di situlah kita mesti mengambil kebijaksanaan mengalahkannya. Dan berhubung pihak yang mengancam kita adalah pendukung panji iblis,kita terpanggil untuk jihad melawannya dengan nama Allah."
"Oh!" Wang Jing Hong mengeluh. "Betapa rindu saya berada di depan."

Ceng Ho menguatkan pegangan tangannya. "Sudahlah."


***


Bukan cuma Wang Jing Hong sebagai bagian dari pelayaran muhibah itu yang ingin berada di depan melawan makhluk aneh itu. Juga utusan Wikramawardhana yang berada di dalam kapal Ceng Ho, yang akan ke Cina menghadap pada Kaisar Ming untuk memohon ampun atas kekhilafan Wikramawardhana, menawarkan diri kepada Ceng Ho untuk berada di depan menghadapi makhluk aneh itu. Utusan Wikramawardhana - yang terakhir menjabat sebagai pengawal sang raja - berkata dengan berapi-api, "Berikan kesempatan kepada saya untuk melawan makhluk aneh itu, Laksamana. Sebagai pengawal raja, saya merasa lebih memiliki wewenang untuk menghancurkannya. Jika betul dia membangkitkan permusuhan berlatar perbedaan keyakinan, sambil menanamkan sentimen rasial, maka seharusnya sayalah yang menghadapinya, menumpasnya. Entah dia siapa, apa latar belakangnya, tapi menyimak gambaran orang-orang tentangnya, ditambah firasat Anda bahwa kejahatan yang akan dilakukannya nanti lebih menggila, dia harus segera ditumpas. Dia mempermalukan kerajaan. Dan sekali lagi, harus saya yang maju." Wang Jing Hong mengangkat badan dari tempat tidur karena ingin berkata sesuatu yang menurutnya harus ditanggapi dengan serius. Sambil menunjuk kepada abdi-dalem Wikramawardhana itu dia berkata, ''Saya mendukung tawaran pengawal Wikramawardhana ini, sebab menurut pendapat saya hal itu bisa membebaskan kita, orang Cina, dari prasangkaprasangka rasial yang kadung dipertajam oleh sosok di balik makhluk aneh itu.'' Ceng Ho langsung tertarik akan pandangan Wang Jing Hong. Maka dia pun berkata, ''Agaknya kau benar, Wang Jing Hong. Tapi coba perincikan pandanganmu itu, biar kita semua dapat mendengar.'' Wang Jing Hong agak terengah, tapi pikirannya yang baik membuat kalimatnya tersangkai dengan rapi pula, sehingga Ceng Ho memujinya. Kata Wang Jing Hong, ''Kita mesti belajar dari apa yang terjadi di Cina sejak zaman Jengis Khan. Selalu dapat terjadi kerumitan prasangka rasial, dan prasangka itu menjadi sangat tajam dan rentan konflik, ketika di dalamnya ada perbedaan-perbedaan yang mencolok antara satu dan yang lain. Perbedaan paling berbahaya dalam prasangka rasial itu adalah - Anda sendiri sudah mengatakannya menyangkut ekonomi.''

''Saya rasa itu betul,'' kata Ceng Ho.
''Jangan sampai nanti terbit semangat anti-Cina di kemudian hari gara-gara apa yang terjadi sekarang.''

''Betul sekali,'' kata Ceng Ho. ''Kita memang harus menaruh kembali misi Ming ini sebagai gagasan perdamaian.'' Dan Ceng Ho pun memandang abdi dalem Wikramawardhana itu.

''Kalau begitu saya menyerahkan tanggung jawab ini kepada Anda.''
''Saya siap melaksanakan,'' kata pengawal Wikramawardhana itu. ''Saya sendiri sedang belajar untuk berketetapan hati. Bahwa masalah pribumi biar diselesaikan sendiri oleh pribumi.

Adapun urusan saya mewakili Raja Wikramawardhana untuk pergi ke Cina bersama tuan-tuan, untuk meminta maaf kepada Kaisar Ming, hal itu adalah kewajiban yang bersifat sukarela dari kami. Dalam hal ini berlaku pepatah bagi kami: 'siapa meminta maaf mengakui kesalahannya'.''

Ceng Ho menjabat tangan pengawal itu. Katanya, ''Pribadi Anda sangat satria.''

''Tapi saya membutuhkan dukungan Anda.''

Ceng Ho memberikan pedang yang pernah dipakainya di Cirebon dulu itu. ''Pedang ini sakti,'' katanya. ''Ada doa yang teriring di dalamnya untuk mengalahkan setan atau iblis.''

Pengawal itu menerima pedang yang diberikan Ceng Ho. ''Terima kasih,'' katanya.



***

Dan mereka pun turun ke darat. Matahari belum jatuh. Matahari baru condong ke barat sana.
Biasnya yang kemilau di gelombang kecil mungkin tidak punya arti apa-apa buat para awam, tapi kiranya menjadi menarik bagi Tan Tay Seng Bersama dengan kepergian Ceng Ho dan rombongan kembali ke darat, terdengar suara Tan
Tay Seng menyanyikan puisinya:

Kilau-kemilau cahaya dari satu matahari
Membias dalam percik ombak sepuluh warna
Kunci hidup harmoni kepada di bawah ki*)
Karena hubungan mesra antara seisi buana


***

Ki Anom dan cantriknya merasa besar hati melihat dari tepi pantai akan kedatangan ke situ rombongan Ceng Ho. Banyak orang yang berdiri di dermaga menunggu merapatnya kapal kecil yang ditumpangi Ceng Ho dan rombongan. Dari jarak yang cukup untuk mengenali orang, Ki Anom melihat bahwa di dalam rombongan Ceng Ho tidak kelihatan Wang Jing Hong. Sementara itu di darat, di dermaga, kelihatan antara lain Ci Liang yang tadi bersama-sama dengan Fei Huan dan lain-lain mengikuti upacara sembahyang yang dilakukan oleh caima.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #144 on: 27/08/2008 19:10 »
Ketika Ceng Ho baru saja menginjakkan kaki di dermaga, berkata Ki Anom dengan tidak sabarnya, ''Saya harus mengatakan kepada Anda bahwa nanti malam ini Naranatha akan menantang Anda untuk bertempur satu lawan satu.''

''Saya tahu,'' kata Ceng Ho. ''Tapi saya tidak akan meladeni.''
''Kenapa?''
''Saya akan menyatakannya sekarang.''

***


Semua orang, terutama orang-orang Cina dari pelbagai latar belakang yang telah lama mukim di Tuban, diminta untuk berkumpul di lapangan yang pernah dimanfaatkan Ceng Ho untuk berbicara. Dan, bukan hanya orang-orang Cina, melainkan juga pribumi, yang berada di pasar, datang berbondong ke lapangan itu. Kembali Ceng Ho berdiri di atas bangku, sehingga sosoknya dapat dilihat oleh orang-orang itu. ''Saya minta perhatian yang sangat kepada Saudara-saudara semua warga Cina - baik yang telah lama merantau di sini maupun yang datang bersama saya ke sini, dan berniaga di sini untuk bahu-membahu menghadapi masalah rumit yang mungkin terjadi dalam waktu singkat ini. Nah, pertanyaan saya: sanggupkah kita?'' Agaknya semua orang yang terhimpun di situ menyambut seruan Ceng Ho itu dengan semangat sama. Bahwa ada yang memekik, ada pula yang bersuara pelan, itu merupakan kodrat tiap orang yang berbeda. Lalu kata Ceng Ho, "Begini, saudara-saudara, menurut saudara kita Ki Anom, sebentar malam akan terjadi heboh lagi di sini, karena seseorang dari selatan menantang saya untuk melawannya..." Ceng Ho belum selesai berbicara, ada seseorang di kerumunan tadi bersama-sama dengan Ki Anom, memekik untuk membangkitkan asut. Dia membakar provokasi kepada kerumunan orang melalui seruannya yang kerasa kepada Ceng Ho. "Ya, lawan saja, Sam Po Kong!" katanya. Siapa provokator itu? Dia tak lain adalah Blekok. Provokasinya membuat Ki Anom agak terkesiap pula. "Tidak," kata Ceng Ho di atas bangku. "Saya harap orang-orang Cina perantauan di sini jangan gampang diadu-domba. Orang Cina harus bisa menjaga keutuhan dan kerukunan seperti yang sudah ada di Tanah Air. Pusaka paling berharga dari kearifan-kearifan Cina berkaitan dengan kemampuan insani manusia menyeimbangkan antara 'yin' sebagai prinsip alam maskulin dan sekaligus positif. Jangan sampai kita berpikir tegang karena keadaan. Berpikir tenang berarti menjaga kesehatan. Dan kesehatan dapat dicapai melalui keselarasan roh dengan energi vital. Pengetahuan ini sudah kita miliki dari warisan Q-Bo *) untuk Huang Di **). "Oleh karena itu, berprinsip pada keharusan menjaga keselarasan dalam diri untuk tidak ditumpulkan oleh kerancuan berpikir yang membuat ketegangan dalam hati, karena masalah yang pelik ini, yang keruan bisa saja mengganggu kesehatan. Maka saya telah setuju pada saran Wang Jing Hong tadi untuk menyerahkan penanganan ancaman dan kekacauan yang mungkin terjadi sebentar lagi kepada orang yang berwenang di negeri ini, yaitu pengawal kerajaan Wikramawardhana. Kebetulan pengawal ini sendiri pula yang yang menawarkan kebajikan itu dan menyanggupi pelaksanaannya. "Terus terang saya merasa sangat terkesan pada pendirian abdi dalem Wikramawardhana ini yang oleh sang raja dititipkan kepada kami untuk berlayar bersama ke Cina - atas tawarannya untuk menanganani masalah pelik ini. Ia berkata - dan saya sangat menghargainya -"biarkan masalah pribumi diurus oleh pribumi sendiri". Mungkin di tempat lain kita bersikap berbeda. Tetapi di sini, di tanah Jawa ini, di negeri yang tingkat peradaban dan kebudayaannya sudah tinggi, kita harus menghormati lelurinya. "Bertalian dengan itu, patutlah kiranya saya menasihati kepada saudara-saudara sekalian, para perantau Cina di Tuban ini - baik yang sudah lama di sini, yang sudah turun-temurun di sini lebih seratus tahun yang lalu, sejak zaman Kertanegara, maupun yang baru membumi di sini hendaknya memahami dengan akal yang campin akan persoalan-persoalan pribumi. Dengan memahami berarti menghormati lelurinya. Jangan sampai nila setitik merusak susu sebelanga.  "Artinya, janganlah satu-dua orang Cina di antara kita yang acuh tak acuh lantas akan dianggap tidak hormat, dan kemudian generasi mendatang akan menanggung kealpaan-kealpaan kita sekarang. "Seyogianya kita memperhatikan dan mendukung gagasan-gagasan baik pihak pribumi. Yang kurang dari kita, kita serap dari mereka. Yang lebih dari kita, kita lintaskan kepada mereka. Itulah prinsip-prinsip adab yang sejati. Itulah pula hakikat-hakikat budaya yang alami. Terhadap prinsip dan hakikat ini, kita harus menjadi seperti air sungai: mengalir di tempat yang semestinya. "Saya sendiri sudah menyerahkan senjata kepada pengawal Wikramawardhana ini untuk menghadap angkara yang konon akan datang menyerang malam ini. Insya Allah, senjata yang dalamnya teriring doa untuk menumpas kebatilan dan kejahatan setan, dapat dimanfaatkan untuk menumpas setan itu. Sebagai orang beriman kepada hanya satu Allah, saya percaya akan kekuasaan-Nya..."


***


Di kerumunan orang-orang yang mencamkan wejangan Ceng Ho itu, lagi-lagi Blekok melancarkan provokasinya. Tetapi kali ini tidak seperti tadi. Kali ini dia berbisik-bisik dengan orang yang justru sangat mengagumi Ceng Ho, yaitu Daeng Ucu dari Jumpandang.
 
"Apa kalian percaya senjata yang dikasih Sam Po Kong kepada pengawal Wikramawardhana itu bisa mengalahkan kekuatan Naranatha?" kata Blekok. Dan dia tertawa mencibir. "Kalau
pertanyaan itu ditujukan kepada saya, saya langsung meragukan, dan menjawab dengan berani: mustahil!"

"Apa alasannya?" tanya Ucu.
"Itu biasa. Pemimpin-pemimpin perang selalu mengira dirinya paling kuat," kata Blekok.
"Memangnya pemimpin pelayaran Cina ini diragukan kekuatannya?"
"Dia memang kuat. Tapi yakinlah kekuatannya tidak mungkin mengalahkan cenayang Naranatha. Berani bertaruh."

"Bertaruh?"
"Ya, bertaruh. Naranatha akan bikin Sam Po Kong keok.
"Kamu yakin?" tanya Ucu.
"Yakin sekali." Dan Blekok pun semakin keranjingan. "Lihat saja. Kalau sampai pengawal Wikramawardhana yang memakai senjata Sam Po Kong itu tidak keok, klepek-klepek, modar, nih, potong kuping saya."

"Wah, kelihatannya kamu tahu betul," kata Ucu.
Tentu saja. Cenayangnya Naranatha itu sakti sekali."

***


Bersamaan dengan itu, di puri Naranatha, cenayang yang buruk rupa dan baunya tidak keruan itu, berkata dengan kedua telapak tangan di atas asap kemenyan: "Menangkan peperangan. Buatlah hitam menjadi lebih hitam supaya musuh tidak bisa melihat sosok. Jika musuh melihat sosok, sosok mesti berubah dari kodratnya. Bajukan zirah kebencian untuk menangkis serangan balik." Lantas tampak Naranatha bergerak-gerak seperti digigit ribuan semut. Katanya, "Aku sudah siap melanglang lewat bumantara ke utara sebagai makhluk aneh..."


***


Di utara sana, di Tuban, matahari sedang memerah di barat, tanda bahwa magrib sedang menyapa bumi. Terdengar pula muazin mengimbaukan umat untuk sembahyang. Dan tampak Ceng Ho, Wu Ping, Ki Anom. Lotik, dan lain-lain menunaikan kewajibannya selaku orang-orang berpercaya kepada Tuhan. Dan astaga, sebelum mereka menyelesaikan kewajiban itu, sekonyong terdengar hiruk-pikuk di luar. Kedengarannya seperti orang-orang yang menjerit-jerit ketakutan sambil berlari tunggang-langgang. Jeritan-jeritan itu bercampur-aduk dengan tangis anak-anak. Sudah tentu kegaduhan itu membuat konsentrasi mereka yang sedang melakukan sembahyang itu terganggu. Walaupun hiruk-pikuk di luar itu mengganggu orang-orang yang bersembahyang, toh Ceng Ho dengan tenang, kalem, dan khusyuk sekali menyelesaikan sembahyangnya. Setelah selesai, barulah dia melihat ke luar, ke tempat orang-orang berlari panik berteriak-teriak. Tak terlihat apa-apa selain orang-orang yang ketakutan tersebut. Di mana gerangan sumber dan biang kerok yang membuat orang-orang itu takut? Ceng Ho menoleh ke belakang. "Astaga!" serunya. Dari arah sana kelihatan makhluk aneh itu sedang mendatangi ke arah Ceng Ho sambil mengeluarkan lidah, dan dari lidahnya itu kelihatan api yang menyembur-nyembur ke bawah ke atas ke kiri ke kanan. Dia sedang mengejar seseorang. Siapa pula orang yang secara khusus dikejarnya itu? Orang yang dikejarnya itu tak lain adalah pengawal Wikramawardhana yang memegang senjata dari Ceng Ho. Dia memegang senjata itu. Tetapi dia tidak menghadapi makhluk aneh itu. Dia malah berlari menemui Ceng Ho. Oleh larinya yang terdorong karena rasa waswas dan keyakinan yang sekonyong sirna, dia berkata terengah-engah, "Apa yang harus saya lakukan? Kelihatannya dia ampuh juga." Blekok mendengar pernyataan pengawal Wikramawardhana itu. Dia melirik pada Ucu. Seakan-akan dia hendak berkata, "Betul begitu kan?" Ucu sendiri termangu dan sedikit bimbang. "Jangan ragu," kata Ceng Ho kepada pengawal itu. "Betapa sering iblis memanfaatkan orangorang yang ragu." "Jadi, ke arah mana pedang ini saya ayunkan?" "Dari kiri ke kanan, atau kanan ke kiri, ataupun atas ke bawah, dan bawah ke atas, sama saja. Makhluk aneh yang kelihatan di matamu itu, sebetulnya hanya khayalan sihir dari setan. Sabet saja ke depannya, pasti kau berhasil. Tidak satu setan pun, setan dari maha dua, yang sanggup mengalahkan Tuhan yang maha satu. Dalam pedangmu itu ada kalimat doa, kalimat iman. Ayo, maju!" Pengawal itu masih berdiri bengong, sedangkan makhluk aneh itu sedang mendekat, dan makin dekat ke arahnya. Akhirnya Ceng Ho mendorong punggung pengawal itu. "Jangan buang-buang waktu!" kata Ceng Ho sambil mendorongkan tubuh pengawal itu. "Ayo, tebas, demi Allah, kau menang!" Akhirnya pengawal itu maju, meloncat. Sambil memejamkan mata, menyabetkan pedang pemberian Ceng Ho itu, ke kiri dan ke kanan, ke bawah dan ke atas. Katakanlah, dia melakukan itu tanpa sasaran yang diketahui karena dilihatnya. Terus terang dia melakukannya secara untung-untungan. Tetapi memang, yang untung-untungan bisa saja benar-benar untung.

Didorong oleh kemauan, walaupun hal itu dilakukan dengan tidak berani melihat sosok makhluk aneh - makhluk yang kelihatannya menyeramkan - pengawal itu berharap akan menang. Bagaimanapun wejangan Ceng Ho yang telah diserapnya itu, benar-benar diharapkan tuahnya. Mungkin di situlah letak kemampuan orang meyakinkan tentang iman kepada seseorang yang tidak memilikinya karena latar-belakang kepercayannya yang berbeda, dan karena itu berbeda pula sendi-sendi pengajarannya. Boleh dikata karsa pengawal Wikramawardhana untuk berbuat, menyabet ke kiri dan kanan serta atas dan bawah, semata-mata lantaran dia membayangkan harapan dari kata-kata Ceng Ho yang memiliki sugesti kuat. Ketika nanti bayangan itu menjadi kenyataan, dan dengannya mengubah pikirannya, itu urusan lain.

Dia pejamkan mata. Dengan begini dia melakukan itisal. Terasa ada angin yang deras menerpa tubuhnya. Telinganya pun mendengar langkah kaki-kaki yang menginjak bumi.

Dia menunggu. Tapi dia memegang senjatanya dengan sekuat tenaga. Jika terasa sesuatu yang mendekat dirinya, dia akan segera dan langsung mengayunkan pedangnya itu.

Makhluk aneh itu pun meloncat. Ekornya dikebaskan ke kiri dan kanan. Angin yang dibuatnya oleh gerakan itu terasa pula di telinganya.

Dengan cepat, tanpa membuka mata, pengawal itu mengayunkan pedangnya. Dia kaget sendiri sebab dia merasa pedangnya itu telah mengena sesuatu. Rasanya kasap, tapi rasanya
pula pedang itu baru saja memotong benda tertentu, seperti sebuah ubi yang masih mentah dan besar sekali.

Dan ada teriakan kesakitan....

Pengawal itu pun membuka matanya. Dia terkejut karena takjub, sebab ternyata teriakan itu berasal dari makhluk aneh yang ekornya terpotong. Makhluk aneh itu pun lantas bercakar-
cakar kesakitan, siap hendak menyerang kembali.

Melihat itu Ceng Ho menyeru, "Sabetkan lagi pedang itu!" Orang-orang yang tadi menyingkir, kini mulai menonton dari arah jauh.

Makhluk aneh itu meloncat dengan kedua kaki depan yang seakan siap mencengkeram.
Pengawal itu menutup kembali matanya, tapi dengan harapan akan kembali memotong kaki kaki makhluk aneh itu. Arkian harapannya berhasil pula. Makhluk aneh itu memang
menyeramkan, tapi tampaknya gerakannya lamban, tidak gesit, dan hanya bergerak ke satu
arah saja, yaitu ke arah pengawal yang sedang memegang pedang milik Ceng Ho itu.
Maka, begitu makhluk itu bergerak ke arah pengawal itu, dan suara kakinya terdengar di telinganya, dengan campin dia mengayunkan pedang Ceng Ho itu.
Teriakan kesakitan terdengar lebih keras.
Pengawal itu membuka mata. Bersamaan dengan itu orang-orang yang mulai menonton dari arah jauh, bersorak-sorai girang. Kini tampak nyata bagaimana makhluk aneh itu terhuyung dan jatuh terguling di tanah.
Di antara yang bersorak-sorai itu terlihat juga Lotik. Lotik berteriak memberi semangat.

"Sikat terus!"

Dan semuanya yang menonton itu mulai maju dan berteriak menyuruh pengawal itu menyelesaikan tugasnya.

"Bunuh!"

Maka, di antara hiruk-pikuk orang yang berteriak memberi semangat kepada pengawal itu, yang disebut itu pun mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, lantas memenggal leher makhluk aneh itu.

Semua yang menonton kembali berteriak antara kagum, ngeri, dan bergidik.
Sekonyong terdengar suara ledakan.



***


Ketika terdengar suara ledakan dan semua orang kaget, di selatan sana, di puri Naranatha tampak sang cenayang yang mengerjakan sihirnya, terpelanting dan menjerit pula kesakitan. Dia mencoba berdiri, tapi kelihatannya tidak mudah. Dia harus terpayah-payah memegang tiang yang berada di puri itu dan berkuat diri menegakkan kakinya di lantai. Ketika kelihatannya dia hampir tegak di tiang itu, kakinya tertekuk seperti kehilangan tulang, dan dia jatuh kembali ke lantai sambil berteriak keras disusul mengerang meminta ampun. "Ampun! Jangan bunuh aku!" katanya. Dan dia meratap-ratap. Kemudian dia kelepar-kelepar seperti ayam yang baru disembelih tapi belum mati.


***


Demikian jugalah gerangan yang terjadi atas diri Naranatha di tanah yang datar depan laut.

Manakala leher makhluk yang aneh itu ditebas oleh pengawal Wikramawardhana, tubuhnya pelan-pelan dan berangsur-angsur berubah menjadi manusia biasa. Dan sebagai manusia biasa, dia sedang menjadi seseorang yang dikenal oleh banyak orang: dikenal oleh Lotik,dikenal oleh Ki Anom, dikenal oleh Blekok, dan dikenal oleh yang lain-lain sebagai Naranatha Nastika.


"Saya memang sudah curiga dari awal," kata Ki Anom kepada Ceng Ho. "Terima kasih, Sam Po Kong."
"Jangan berterima kasih kepada saya," kata Ceng Ho. "Berterima kasihlah kepada pengawal Wikramawardhana." Dan Ceng Ho berjalan menghampiri pengawal itu, menepuk bahunya.
"Anda sudah melakukan yang paling benar."
"Kalau tanpa dukungan Anda pun, saya tidak akan berani," kata pengawal itu. "Senjata Anda ini benar-benar ampuh." Dia berlutut di hadapan Ceng Ho dan memberikan pedang itu. 

Ceng Ho mengambil kembali pedangnya itu. "Pedang ini memang bertuah, dibuat untuk memberi kedamaian bagi umat."

"Ada tulisan di bilahannya," kata pengawal itu. "Apa bacaannya?"

"Ini adalah kalimat syahadat," kata Ceng Ho. 

''Luar biasa saktinya,'' kata pengawal itu.

''Kesaktiannya terletak pada akal yang memercayai kebenarannya,'' kata Ceng Ho.

Orang-orang yang tadi berada di sekeliling sana, satu per satu mendatangi Ceng Ho yang berbincang dengan pengawal Wikramawardhana itu. Mereka semua mengerumuni untuk mendengar kata-kata Ceng Ho. Satu-satunya orang yang tidak bisa datang mendekati Ceng Ho hanya Blekok. Daeng Ucu melihat bagaimana Blekok pelan-pelan menghindar dan memasuki warung.

Untuk sementara Ucu membiarkan dulu. Pasti dia akan menemuinya untuk bertanya tentang taruhannya yang pongah tadi. Sekarang dia merasa tertarik, seperti orang-orang yang lain, mendengar kata-kata Ceng Ho. Apa yang diperkatakan Ceng Ho sungguh merupakan pengetahuan, kawruh, atau ilmu baru - yang sebetulnya sudah beberapa tahun ini diajarkan juga oleh seorang guru dari Cina, Giok Gak, yang kini lebih akrab dipanggil Ki Anom.



***


Sebagai orang yang secara langsung baru saja mengalahkan sihir melalui peranti yang bertuah milik Ceng Ho, keruan pengawal Wikramawardhana itu ingin bertanya lebih banyak tentang sendi-sendi kebenaran yang baru diperkatakan Ceng Ho. ''Terus terang saya belum dapat menangkap intisari sendi-sendi kebenaran yang Anda perkatakan,'' kata pengawal itu. ''Tapi tanpa Anda perkatakan, saya telah melihat buktinya. Ternyata dengan percaya pada apa yang Anda perkatakan, saya telah melakukan, dan apa yang saya lakukan itu memang benar berhasil mengalahkan angkara itu. Di mana letak kebenaran yang Anda sebutkan itu?'' ''Di hati saya, yang saya tularkan kepada Anda. Kebenaran yang saya maksudkan itu ada dalam keyakinan saya. Dan keyakinan saya ini terletak pada akal yang memercayai bahwa ada kuasa yang tidak nampak secara mata tapi nampak secara hati, yang menjadi khalik atas serwa sekalian alam. Jika Anda bertanya kepada saya tentang kekuatan apa yang melatari fiil dan ikhtiar untuk hidup - sebagai pengertian puitis akan penundaan akan kematian - jawab saya adalah kesungguhan hati memercayai akan suatu maha roh yang wajib qudrah *) dan mustahil 'ajs **) yaitu Allah taala semata. Bukti akan qudrah-Nya Allah taala menurut dalil 'aqli ***) adalah melihat adanya alam semesta ini yang kasatmata, kemudian menerima
firman-Nya yang seyogianya kasathati sebagai suatu dalil naqli ****) dalam pernyataan 'Innallaaha alaa syai-in qadir', artinya 'Sesungguhnya Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu'.
Dalam keyakinan saya, ini merupakan sendi pertama agama, yaitu tauhid.''

''Sendi pertama?'' tanya pengawal. ''Berarti ada sendi kedua pula?''
''Ya,'' jawab Ceng Ho. ''Kedua dan ketiga. Yang kedua adalah arkanul Islam atau rukun-rukun Islam, yaitu, dimulai dari kalimat syahadat, kemudian mendirikan salat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa, dan beribadah haji. Ini disebut hukum fikih.*****) Dan yang ketiga adalah tasawuf, yaitu, mencakup pengetahuan-pengetahuan tentang maksiat yang lahir dan batin di satu pihak dan ketaatan-ketaatan lahir dan batin pula di lain pihak.''

''Rasanya saya sedang memutuskan untuk menjadi murid Anda, Sam Po Kong,'' kata pengawal itu.

''Insya Allah,'' kata Ceng Ho.

Beberapa orang yang berkerumun di sekitar Ceng Ho juga ramai-ramai menyatakan keinginan yang sama seperti yang diucapkan pengawal itu.

''Kami juga ingin menjadi murid Anda,'' kata mereka.
Dan dengan sangat santun Ceng Ho menunjuk Ki Anom. Katanya, ''Pokok-pokok yang saya sebutkan tadi bisa diajarkan Ki Anom yang telah membuka padepokan di sebelah barat. Datanglah kepadanya. Pasti beliau akan memberi pengajaran yang sama. Kepercayaan saya
sama dengan kepercayaan Ki Anom. Kami bersaudara. Semua orang Islam di dunia adalah saudara-saudara dari keluarga yang besar. Bukankah begitu, Ki Anom?''

''Betul sekali,'' kata Ki Anom.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #145 on: 27/08/2008 19:19 »
Berbincang-bincang hal yang menarik itu berlangsung lumayan panjang. Setelah orang-orang bubar, karena Ceng Ho mengingatkan mereka untuk bersembahyang, barulah Daeng Ucu teringat akan wajah Blekok yang tadi bicara sombong. Seingatnya Blekok belum keluar dari warung yang tadi dimasukinya. Dia pun tidak melihat Blekok bersembahyang pada malam ini. Maka buru-buru Daeng Ucu ke warung itu. Dan memang benar, tukang saut yang kalah itu karena orang yang dikaguminya sudah binasa di bawah tangan pengawal Wikramawardhana masih duduk menopang rahang di warung itu.

Minuman di depannya menunjukkan bahwa dia telah menghabiskan banyak, dan kelihatannya kepalanya pusing, pening, mabuk. Ucu langsung duduk di hadapannya. Sambil duduk Ucu berkata, ''Rasanya Anda berutang pada saya. Saya mau menagihnya sekarang.'' ''Tidak semua utang harus dibayar,'' kata Blekok. ''Kedengarannya aneh di kuping,'' kata Daeng Ucu. ''Budaya apa pula namanya itu?'' Blekok mengangkat kedua kaki di bangku bambu dengan sikap sangat tidak acuh. ''Budaya yang tidak peduli terhadap budaya,'' katanya. Ucu sengit. ''Hanya hewan yang tidak peduli terhadap budaya, sebab hewan tidak punya sejarah,'' katanya. Blekok malah jemawa.

''Kenapa pusing?'' katanya dengan sikap yang meningkat menjadi pongah. ''Yang membuat budaya itu manusia-manusia. Karena manusia yang membuat budaya itu, galib saja kalau manusia juga yang menggantinya.'' ''Maksud Anda: melanggar?'' ''Kok melanggar? Ini tidak ada hubungannya dengan undang-undang.'' ''Memang tidak. Sebab ini berhubungan dengan niyama *) hati.'' ''Saya tidak kewajiban terhadap niyama hati. Sebagai manusia saya bisa mengatakan bahwa akal yang menentukan untuk tidak peduli terhadap budaya.'' ''Kalau begitu, kita berbeda. Saya sangat menghormati niyama hati. Sebab di situ juga saya menghormati budaya.''

''Lantas Anda mau apa kalau kita berbeda?''

Saya memiliki kewajiban hati untuk menyuruh Anda memotong telinga Anda.''
''Berarti Anda memaksa saya untuk berkelahi?''
''Terhadap manusia yang tidak setia pada niyama hati, memang bentuk paksa lebih tepat.''

''Bangsat!'' Blekok melempar cawan di depannya ke muka Daeng Ucu.
Blekok tidak menduga bahwa Ucu telah siaga. Begitu cawan dilemparkan kepadanya, Ucu menghindar, sehingga cawan itu mengenai orang lain di dalam warung itu.

Kendati begitu Ucu tidak melakukan apa-apa, kecuali berdiri dengan mata terbuka lebar.

Artinya, dia menunggu, membiarkan emosi Blekok terbakar dulu. Dia dapat melihat dengan jelas bahwa di kepala Blekok sekarang sedang ada asap yang sebentar lagi berubah menjadi api.

Sekarang Ucu cukup mengipas asap itu dengan kata-kata yang akan membuat apinya menyala. Kaca Ucu, ''Hati yang panas membuat akal yang Anda banggakan itu terkalahkan.''

Blekok berteriak marah. Dan memang api di dalam dirinya sekarang telah menyala.

''Bangsat!'' serunya. Dan dia menyerang dengan keris ke arah Ucu.
Ucu pun langsung menghindar ke luar warung. Blekok mengejar pula keluar.

Serangan Blekok kelihatannya membabi buta. Dia menikam-nikamkan keris ke udara kosong.

Ucu dapat membaca segala kemampuan Blekok. Pada serangan keris yang berikut ini Ucu melepaskan sarung, tinggal seluar **), dan menggulung-gulung sarungnya itu untuk kemudian disabet-sabetkan ke arah Blekok yang menikam-nikamkan keris. Di suatu gerakan
sarung yang tergulung itu berhasil mengikat tangan Blekok sehingga Blekok tidak bisa menikamkan kerisnya, dan dengan cepat sekali, tanpa membuang waktu Ucu menangkap tangan Blekok yang memegang keris itu, merampas keris itu dan dengan cepat pula
mengarahkan keris itu ke telinga Blekok. Keris itu mengenai telinga Blekok. Serta merta keluar cairan merah dari situ.
''Anda telah menyesuaikan diri dengan niyama hati,'' kata Daeng Ucu. ''Itu namanya senjata makan tuan.''

Api di dalam diri Blekok tak terkendali. Dan karena Blekok bukan orang yang berpengalaman berkelahi kecuali orang yang mudah marah, dia tidak pandai mengatur diri untuk bertindak.
Dia meloncat didesak oleh kemarahannya itu menyerang Ucu, dan dengannya dia melakukan suatu tindakan yang sia-sia. Kerisnya yang sekarang berada di tangan Ucu telah menancap di rusuknya. Sebentar lagi dia akan tumbang disaksikan banyak orang yang berdatangan ke situ.
Sebelum tumbang dia terhuyung-huyung hendak berdiri dengan kaki-kakinya itu, tapi setelah jatuh tiga-empat kali dan mencoba berdiri berkali-kali, akhirnya dia jatuh untuk selama-lamanya.
Di depan orang-orang yang datang ke situ Ucu berkata, ''Saya yang bertanggung jawab. Ini bagian dari kemestian menghadapi siri.''

Di antara orang-orang yang datang ke situ, ada suara seorang lelaki di tengah sana. Katanya,

''Blekok telah memilih upahnya sendiri.''

Semua orang mengalihkan mata ke arah lelaki yang baru saja bicara ini. Dia tak lain adalah KiAnom.

''Selama ini dia banyak berdusta,'' kata Ki Anom. ''Dia mengira saya tidak tahu segala dustanya. Selama ini hatinya telah bercabang dua. Dan cabang yang lebih panjang ternyata berada dalam asutan-asutan yang sesat dari Naranatha. Untung, hari ini Naranatha telah lebih  dulu memilih upahnya. Yaitu, upah segala kejahatan adalah maut. Bahwa semua orang akan menghadapi mautnya masing-masing. Tapi orang yang berbuat jahat akan menghadapi maut
seperti seekor tikus yang dibunuh dengan benci.''

Jadi, Blekok sudah selesai.

Sebelumnya, biang keroknya, Naranatha, juga selesai dalam cara yang sangat nista.
Tapi bagaimana dengan cenayang Naranatha?
Dia lenyap dari cerita ini. Tapi percayalah, itu tidak berarti dia jera melakukan kejahatan.


***



Setelah semuanya selesai, akhirnya rombongan kapal Ceng Ho meninggalkan Tuban.
Demikian pula kapal yang dinakhodai oleh Daeng Ucu berlayar menuju ke Salabassi.
Sebelum berpisah, Ucu mengutarakan sekali lagi undangannya bagi Ceng Ho untuk berlayar ke pulaunya orang Bugis dan Jumpandang.

Ada hal menarik yang dicakapkan Ucu dengan Ceng Ho sebelum mereka berpisah, yang belum pernah dibincangkan selama ini.
Kata Ucu, "Sebenarnya sudah lama tersiar kabar, bahwa Sawerigading membutuhkan kekuatan, yang dipercayainya, bahwa kekuasaannya akan langgeng jika berliau dapat menyunting seorang putri Cina."

"Saya juga sudah pernah mendengar itu," kata Ceng Ho. "Apakah pernah ada utusan dari Setelah semuanya selesai, akhirnya rombongan kapal Ceng Ho meninggalkan Tuban.
Demikian pula kapal yang dinakhodai oleh Daeng Ucu berlayar menuju ke Salabassi.
Sebelum berpisah, Ucu mengutarakan sekali lagi undangannya bagi Ceng Ho untuk berlayar
ke pulaunya orang Bugis dan Jumpandang.
Ada hal menarik yang dicakapkan Ucu dengan Ceng Ho sebelum mereka berpisah, yang
belum pernah dibincangkan selama ini.
Kata Ucu, "Sebenarnya sudah lama tersiar kabar, bahwa Sawerigading membutuhkan kekuatan, yang dipercayainya, bahwa kekuasaannya akan langgeng jika berliau dapatmenyunting seorang putri Cina."

"Saya juga sudah pernah mendengar itu," kata Ceng Ho. "Apakah pernah ada utusan dari Jumpandang ke tanah Cina untuk meminang putri We Cu Dai?"

"Terus terang, saya yang ditugaskan untuk itu."
"Ya," kata Ceng Ho. "Dua tahun lalu saya sudah mendengar, bahwa raja dari Jumpandang bermaksud meminang putri We Cu Dai."

"Betul sekali," kata Ucu. "Moga-moga 'impian' itu akan terwujud menjadi kenyataan."
"Selalu ada jalan jika ada hasrat."
"Ya. Saya pun percaya itu," kata Ucu. "Tau dongo'ka nakanai kalenna tale'baka sala, mingka tau cara'deka nangai appilang-ngeri pappakainga."*)


***

Dan layar-layar pun dikembangkan. Tampaknya semua haluan diarahkan ke timur.
Tapi sebelum berlayar ke timur-barangkali langsung ke Bali atau singgah lagi di wilayah kerajaan Wikramawardhana, atau di wilayah kekuasaan musuh Wikramawardhana, yaitu Wirabhumi di Blambangan-Ceng Ho bertukar pikiran terlebih dulu dengan Wang Jing Hong.

Wang Jing Hong kembali kelihatan sehat. Dia berada di bagian atas kapal, sedang mengencang tambong.**)
"Bagaimana pendapatmu soal ke timur?" tanya Ceng Ho.
"Sama sekali tidak ada masalah," jawab Wang Jing Hong.
"Maksud saya, soal kesehatanmu."

Wang Jing Hong tersenyum. "Seperti Anda lihat, saya sehat wal afiat," katanya. "Layar mesti terkembang. Kita harus mencapai Bali. Bukankah itu rencana kita?"
Ceng Ho senang. Tapi dia tetap bertanya untuk memberikan kesempatan bagi Wang Jing Hong untuk memutuskan tanpa merasa dibujuk, apalagi ditekan. "Benarkah?"
"Sepenuh hati, sepanjang akal," kata Wang Jing Hong.



***


Akhirnya, berlayarlah kapal-kapal rombongan muhibah Ceng Ho ini menuju ke timur. Dua kakak-beradik yang bertugas mengintai di tiang yang biasa itu kini mendapat tugas memperhatikan keadaan laut bagi kepentingan navigasi.
"Sudah lama kita tidak berdebat," kata yang adik.
"Aku tidak mau berdebat dengan orang yang tidak pernah siap ilmunya," kata yang kakak.

"Apa kau kira aku tidak siap?"
"Ya."
"Buktinya, selama ini kau yang tidak pernah siap. Coba saja bilang, haluan kita sekarang berada di mana?"
"Aku tidak mau menjawab. Menjawab kepada orang yang ilmunya belum siap, sama seperti membuang mutiara kepada babi."
"Siapa yang babi?"
"Yang jelas, aku bukan babi."
"Lantas, berarti kau menyebut aku babi?"
"Ah, tidak. Itu kan kau yang bilang sendiri."

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #146 on: 27/08/2008 19:24 »
Dari ruang kemudi, berdiri di atas dadung yang lazimnya bagi seorang nakhoda, Wang Jing Hong kebetulan melihat ke atas, ke tiang pengintai. Maka katanya kepada Ceng Ho. "Kelihatannya kedua saudara, kakak-beradik, di atas sana sedang dalam masalah. Lihat." Ceng Ho pun melihat ke arah sana. Dari tempatnya dia melihat bagaimana sang kakak mengeplak wajah sang adik. Oleh karena itu buru-buru Ceng Ho keluar dari ruang kemudi lantas berdiri pula di bagian geladak pertama di atas geladak utama***). Dari situ dia berseru ke atas, kepada kakak-beradik yang biasa berdebat dan biasa pula berakhir dengan tinjumeninju. "Hei! Jangan bakupukul soal mata angin lagi. Kita sedang berlayar ke timur. Dan kita menuju ke Bali. Nah, berdamailah." Sekarang mari kita kembali lagi ke kelenteng Sam Po Kong di Simongan, Semarang, mengikuti tuturan guru sejarah, yang atas mau sendiri menyebut dirinya sebagai tukang cerita. Tukang cerita itu mengipas-ngipaskan mukanya yang berkeringat oleh udara Semarang yang panas. Dia mengambil napas. Katanya, "Begitulah selalu cerita tentang laut, pelaut, dan pelayaran. Begitu pelat-buaya - yaitu pelat tegak yang terletak paling atas dan paling depan dari haluan kapal*) - terpercik-percik gelombang, maka kehidupan dengan segala kejutan, dan acap kali di luar dari jalannya rencana, selalu menjadi masalah yang menarik." "Tapi, tunggu dulu, Pak," kata murid yang paling suka bertanya, menyelonjorkan kakinya sebab merasa semutan. Sambil menyelonjorkan kakinya itu dia bertanya dengan wajah agak cemberut, "Kok Ceng Ho-nya belum datang juga ke Semarang?"
"O? Jangan khawatir," kata tukang cerita. "Pasti cerita saya tentang Ceng Ho ini akan sampai di sini: Semarang. Belum sekarang."
"Kapan?" tanya murid itu. "Apa rombongannya masih harus ke Sulawesi Selatan dulu?"
Tukang cerita menguyak-uyak rambut muridnya itu dengan cara yang dimaksudkan untuk memanjakan. "Mudah-mudahan," katanya.
"Kok jawabnya mudah-mudahan sih, Pak?"
"Sebab, pelayaran selalu harus disesuaikan dengan cuaca. Memang pelaut dari Sulawesi Selatan itu sudah menyampaikan secara langsung undangan kepada Ceng Ho untuk datang ke Jumpandang. Di samping itu, bahkan Ceng Ho sendiri yang sudah menyebut-nyebut nama We Cu Dai. Siapa tahu cuaca bagus akan mengantar rombongan Ceng Ho ke Sulawesi Selatan."

"Nah, siapa sebetulnya We Cu Dai itu. Kok nama ini belum pernah disebut-sebut?"

"Nanti. Kalau memang dia harus tampil, dia akan tampil. Entah kapan. Apakah Ceng Ho akan datang ke Sulawesi Selatan pun dalam waktu dekat ini, belum dapat dipastikan. Sebab, kalau bisa Ceng Ho berperan sebagai juru damai antara Wirabhumi dan Wikramawardhana, sudah pasti upaya itu akan menjadi prioritas utama baginya selaku pemimpin sebuah ekspedisi dengan tanggung jawab kemanusiaan dan misi muhibah. Baru setelah itu terlaksana, maka kapal-kapalnya akan berlayar lagi."

"Ke mana?"
"Pasti ke Bali."
"Balinya di mana? Kira-kira ke selatan Bali, ke Legian, Kuta, yang baru dibom oleh bedebah keparat jahanam tak berperikemanusiaan itu?"

"Tampaknya Ceng Ho tidak ke selatan. Kapal-kapalnya akan menyauh di utara, mungkin sekitar Buleleng, Singaraja. Tunggu saja cerita saya kepada kalian. Tapi di mana pun Ceng Ho mendarat, menyauhkan kapalnya di laut, selama itu berada di perairan Bali, maka itu tidak ada bedanya. Pokoknya kalian tidak perlu tanya secara terperinci di mana Ceng Ho berada di Bali.

Sebab, di mana pun di Bali, sama. Yaitu, bahwa Bali itu sungguh-sungguh bumi yang amat indah. Dan penduduknya, yaitu anak negerinya, adalah orang-orang yang paling cinta damai, ramah, tidak usil, dan kreatif. Justru orang-orang dari luar saja yang selalu merusak keindahan Bali."
"Lo, Pak?" Murid yang kritis itu mengacung dengan duduk tegang. "Berarti Ceng Ho termasuk orang luar juga dong?"
"Jangan samakan Ceng Ho dengan orang-orang biasa," kata tukang cerita dengan tandas, tegas, cergas. "Ceng Ho terpilih oleh Kaisar Ming sebab pribadinya yang luar biasa. Keluarbiasaannya antara lain, sudah saya ceritakan kepada kalian semua, adalah sikapnya yang sangat menghormat budaya di tempat dia menginjakkan kaki. Jangan lupa, ekspedisinya
itu disebut misi muhibah, artinya misi kasih sayang."
"O, begitu to?"
"Ya, begitulah."
"Jadi, omong-omong, sekarang Ceng Ho ke mana dulu?"
"Duduklah baik-baik, nanti saya ceritakan kepada kalian."
Dan tukang cerita itu pun menceritakannya...

***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

EricB

  • Guest
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #147 on: 27/08/2008 23:53 »
maaf, saya sama sekali tidak mengerti topic ???

terlalu banyak teks untuk baca dan mengerti semua, disini saya benar bule yang cuman bisa bahasa sedikit  :-\

ada yang bisa kasih penyelasan sedikit ? Bapak bingung disini

Dodol Buluk

  • Moderator
  • Pendekar Madya
  • **
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 1
  • Posts: 1.081
  • Reputation: 25
  • Alone but never lonely
    • Email
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #148 on: 28/08/2008 10:07 »
Gampang kang Eric, itu mah lagi kejar tayang versi kang Sarkem..heheheheh :D

D'Boels
"Jangan pernah bilang kagak kalo kagak pernah bilang jangan"

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #149 on: 28/08/2008 10:21 »
Hello Meneer Eric B,

This story about The Legend admiral of all seven fleets was Ceng Ho, the great-grandson of a Mongol warrior. His original name was Ma Ho, the Chinese version of Muhammad, for his father was a Muslim who had made the pilgrimage to Makkah. In 1404, the emperor conferred on him the honorific Cheng, and he was appointed Grand Eunuch, thenceforth to be known as  Ceng Ho.

Ceng Ho’s first argosy called at Java, Sumatra, Aceh, Sri Lanka, Calicut, Champa, Malacca, Quilon and other ports. It brought so many goods to Indian Ocean ports that pricing them took three months. His second expedition, said to have set off in 1407 and returned in 1409, consisted of 249 ships; it visited Thailand, Java, Aru, Aceh, Coimbatore, Kayal, Cochin and Calicut, where it spent four months. The third expedition sailed in 1409 and returned in 1411, and although it was composed of only 48 ships, it allegedly carried 30,000 troops, stopping at Champa, Java, Malacca, Sumatra, Ceylon, Quilon, Cochin and Calicut.


Best regards
Cengho / Zeng He /Zeng Colt
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal