+-

Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Kejuaraan Pencak Silat Seni Piala Walikota Jakarta Selatan by luri
24/09/2024 15:38

Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi Open Ke 3 by luri
24/09/2024 15:35

Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Panglima TNI 2024 Se-Jawa Barat by luri
24/09/2024 15:22

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 85586 times)

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #120 on: 26/08/2008 19:00 »
Ceng Ho dan lain-lain pulang dulu ke tenda. Mereka melewati pasar. Lebih dari dua ratus orang sipil anggota pelayaran Ceng Ho itu yang berpasar. Di situ mereka menutup lapak masing-masing dengan semacam tenda yang jika hujan datang mendadak, dengan menarik satu ujung tali tertutuplah tenda itu menyerupai tenda-tenda yang lazim dipakai untuk tidur. Pedagang-pedagang itu telah sepakat menggelar pasar di lapangan luar keraton selama harihari pekan. Dan selama itu mereka tidak lagi berpikir untuk kembali ke kapal. Merekalah di antara orang-orang sipil yang sewaktu di Palembang meminta untuk meneruskan pelayaran ke Jawa, karena mereka berkeinginan mukim di Jawa, bekerja di sini. Kelihatannya mereka senang di sini. Tan Tay Beng berada di tengah-tengah mereka. Juga gadis Ling Ling. Itu mereka katakan kepada Ceng Ho ketika Ceng Ho berjalan di antara mereka yang berpasar di situ. Tanya Ceng Ho, "Apa kalian bermaksud menetap di sini saja?" "Ya, saya suka di sini," kata Tan Tay Seng. "Tapi, kalau ada umur yang lebih bagus, saya akan mencari Mangkang. Dari sana saya akan ke Magelang, menyatukan roh leluhur dan para Buddha." "Itu bagus," kata Ceng Ho. Dan dari kata-katanya berikut ini serta merta orang akan mengenal Ceng Ho yang sejati, sebagai pemimpin yang sangat toleran kepada orang-orang yang tidak sama iman dengannya. "Kalau kau mau menyatukan rohmu dan roh leluhur, ingat kisah Zen
Buddha tentang pejabat istana, Wu, yang berkata kepada Jian Tang: para leluhur menenangkan pikiran dengan diam di gunung, minum air sungai, melupakan kemasyhuran insani, memandang manusia lain karena manfaatnya. Apakah kau bermaksud mencapai ketenangan?"
"Ya, Sam Po Kong," jawab Tan Tay Seng.
"Kebajikan dan kebenaran itu universal. Di dalam menyepi diri kau bisa merenung. Tapi yang lebih sulit di tempat hiruk pikuk kau bisa melahirkan perenungan yang lebih dalam. Kau berbakat. Kembangkanlah itu."
"Terima kasih, Sam Po Kong." Dan Tan Tay Seng menunjuk Wu Ping yang berada di sebelah Wang Jing Hong. "Wu Ping juga berbakat, Sam Po Kong. Puisinya kuat."
Ceng Ho memandang kepada Wu Ping. "Benarkah?"
Wu Ping kelihatan malu. Itu dikatakannya pula. "Saya jadi malu," katanya.

Wang Jing Hong mengorek Wu Ping dan membisiknya. "Inilah waktunya kau perlu bicara."
"Bicara?" Ceng Ho kelihatan terkail oleh bisikan Wang Jing Hong yang memang dimaksudkan supaya didengar pula Ceng Ho. Sambil berjalan, dan mereka semua berjalan bersamanya, Ceng Ho berkata, "Memangnya ada rahasia yang disembunyikan?"
Wu Ping kelihatan lebih salah tingkah. Dia hanya tersenyum dengan kepala terangguk-angguk seperti per.
Kata Wang Jing Hong, "Ya, itu adalah rahasia paling indah yang melahirkan ilham peri hidup di seberang ajal."
''Sudah dapat diterka,'' kata Cang Ho. ''Pasti itu urusan cinta.''
Akhirnya dengan tersipu-sipu Wu Ping mengaku, ''Memang betul. Sudah lama saya akan mengatakan ini tapi masih ragu.''
''Ragu itu bahasa akal. Padahal cinta itu bahasa hati. Begitu ditimbang-timbang dengan akal, cinta akan selalu kehilangan sejatinya sebagai perasaan.''
Ceng Ho masuk ke dalam tenda. Yang lain juga masuk ke tenda masing-masing. Sebentar lagi Tunggul Petak akan menjemput mereka ke istana musim panas, lima belas kilometer dari pesisir

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #121 on: 26/08/2008 19:07 »
Ketika mereka bersiap-siap, dan selanjutnya menunggu dijemput Tunggul Petak, di pendapa yang biasa, yang setiap ujung atapnya digantungi perkutut-perkutut kesayangan Wikrawardhana, berkatakan Wikrawardhana dengan senang, ''Siasat kita akan berjalan sesuai
dengan rencana.''
''Apakah tidak lebih baik malam ini saja kami laksanakan keinginan Paduka?'' tanya Tunggul Petak.
'Pasukan-pasukannya sudah siap?'' tanya Wikrawardhana.
''Siap sekali, Paduka,'' jawab Tunggul Petak.
''Yang di lapangan itu berpakaian garong?'' tanya Wikrawardhana ingin yakin betul.
''Bukan sekadar berpakaian garong, melainkan juga pakaian yang membawa ciri Blambangan, daerah Wirabhumi.''
''Bagus. Untuk hal-hal tertentu, kamu boleh diandalkan, kecuali pembawaan kodratmu yang memang tetap goblok.''
''Jadi, saya melakukan kesalahan?'' tanya Tunggul Petak.
''Kebetulan tidak,'' Wikrawardhana termenung sejenak. Lalu katanya tergesa-gesa. ''Tapi, tunggu, tadi kamu bertanya apakah malam ini kamu melaksanakan pikiranku itu?''
''Ya, Paduka. Kami sudah siap benar.''
''Baik. Jawabannya nanti malam, setelah kita melihat perkembangan. Sekarang, siap-siap saja

jemput mereka, dan bawa dengan kereta-kereta ke istanamu itu.'' ''Baik, Paduka. Saya laksanakan.''


***


Sementara itu, bagaimana pula pikiran yang berkembang di antara kedua tikus yang ditaruh di rombongan Ceng Ho sebagai juru tulis? Dang Zhua dan Hua Xiong berada di luar area pasar.
Mereka berdua berada di luar gapura keraton. Di situ ada sebuah balai-balai untuk petugas ronda malam.
Sambil duduk dengan sesekali melihat ke belakang atau ke samping dengan mata jelalatan, berkata Dang Zhua kepada Hua Xiong.

''Kelihatannya banyak orang sipil yang menyenangi daerah ini. Bagaimana rencana kita? Apakah kita juga berhenti di sini dan tidak kembali ke Cina?''
''Gila lu. Lantas apa tanggung jawab kita kepada Liu Ta Xia nanti?''
''Ah, sebodoh amat sama dia.''
''Jangan bilang begitu.''
''Abis?''
''Bagaimanapun kita harus ikut pulang bersama kapal ini, sebab tugas kita memang
melaporkan kekurangan-kekurangan Sam Po Kong.''
''Tapi...''
''Tapi apa? Ayo bilang. Kamu mau bilang bahwa dia baik, dia bagus, dia justru punya kelebihan?''
Dang Zhua terdiam. Tak bilang apa-apa.
Hua Xiong menyudutkan. ''Ya kan? Kamu mau bilang begitu?''
''Ah, kamu yang bilang begitu,'' kata Dang Zhua. Lalu dia berdiri.



***


Pada saat yang sama, orang yang sedang dirasani Dang Zhua dan Hua Xiong baru saja mengatur pembagian tugas. Ceng Ho tiba-tiba mendapat firasat tak baik. Tapi untuk menguji firasat itu, biasa dia bincangkan dulu dengan Wang Jing Hong.
Mulanya Ceng Ho hanya berkata, ''Saya harus kembali dulu ke kapal.''
''Tapi, bagaimana kalau Tunggul Petak dan Wikrawardhana menjemput kita ke istana musim panasnya?'' kata Wang Jing Hong dalam kalimat tanya yang menyangsi. ''Sebentar lagi mereka menjemput kita.''
''Baiklah,'' kata Ceng Ho. ''Kau berangkat saja. Saya menyusul besok.''

''Kelihatannya ada yang penting sehingga Anda berkeras akan kembali ke kapal?'' kata Wang Jing Hong.
''Supaya kita tidak kelimpungan karena hujan tiba-tiba turun dan kita tidak punya payung,''
kata Ceng Ho. ''Jadi, berangkat saja ke istananya. Saya perlu setidaknya lima puluh orang saja tentara untuk siap-siap di pantai. Orang-orang sipil kita yang berpasar di sini pun harus
merasa aman. Jangan sampai mereka tidak nyenyak tidur di tenda mereka itu.''

''Agaknya Anda kepikiran atas pernyataan Wikrawardhana tentang musuhnya dari timur yang bisa datang ke sini sebagai garong,'' kata Wang Jing Hong. ''Apa begitu halnya?''
"Jadi, apa itu berarti ada prasangka buruk?" tanya Wang Jing Hong.
"Mungkin bukan prasangka, melainkan memang berjaga-jaga," kata Ceng Ho sambil menoleh keluar.


***

Di luar sana Tunggul Petak bersama beberapa orang lain sedang menunggang kuda, mendatangi tenda yang ditempati Ceng Ho.
Ceng Ho dan Wang Jing Hong serta Wu Ping menyambut Tunggul Petak.

"Apakah kita siap berangkat ke atas?" tanya Tunggul Petak setelah turun dari kuda.
"Ya," jawab Ceng Ho. "Tujuh orang."
Tunggul Petak agak tawar hati. Sekelebat dia berpikir: jangan-jangan Ceng Ho tidak ikut dalam hitungan tujuh orang yang baru dikatakannya. Maka dalam keraguan dan ingin yakin
akan jawabannya, dia bertanya, "Tujuh termasuk Anda kan?"
Ceng Ho memahami rasa tawar hati Tunggul Petak. Jawabnya dengan tekanan yang menurutnya tidak mengecewakan, "Tujuh tidak termasuk saya."

Wajah Tunggul Petak langsung berubah mewakili perasaannya yang kecewa. Katanya dengan tekanan tertentu yang berkesan hendak membujuk, "Kenapa?"

"Jangan kecewa," kata Ceng Ho menegakkan harapan. "Saya akan menyusul besok."

Berkerut dahi Tunggul Petak. Ada hal pelik yang dia pikirkan, yang tidak diketahui Ceng Ho.

Dan, walaupun sedang memikirkan sesuatu yang mencelakakan, tak urung dia coba berpenampilan seperti anak domba. Dia coba memberi senyum yang sulit ketika berkata, "Jadi Anda menyusul?"
"Ya."
"Betulkah?"
"Tentu. Berbulan-bulan di laut pasti menjenuhkan. Maka tawaran untuk menginap di istana yang sejuk di daerah pegunungan sungguh menyenangkan."

"Baiklah."
Toh kerut di dahi Tunggul Petak tidak kendur. Artinya, dia belum lolos dari berpikir pelik akan perubahan mendadak ini. Yang dia pikirkan seketika saat ini: bagaimana bisa menyusun siasat, dan siasatnya tidak salah diterjemahkan oleh prajurit-prajuritnya, kemudian bagaimana pula melaporkan perkembangan ini ke Wikrawardhana.


***


Sebentar lagi dia harus mengiring tujuh orang itu untuk berangkat ke atas. Selain Wang Jing Hong dan Wu Ping, tentu di antara tujuh orang itu harus ada juga Dang Zhua dan Hua Xiong. Ketika ketujuh orang itu berangkat menuju ke atas, ke daerah perbukitan, Ceng Ho juga berangkat, dengan sekoci bersama dua orang ke kapal induk yang tak bisa bersandar di dermaga.


***

Yang jadi soal, setelah Tungguk Petak mengiring ketujuh orang itu berangkat ke selatan, ke daerah pegunungan itu, apakah benar prajurit-prajurit Wikrawardhana yang sudah diberi pesan itu dapat menerjemahkan dengan baik siasat tersebut. Mungkin saja prajurit-prajurit Wikrawardhana memahami benar apa yang harus mereka lakukan. Tapi, apakah yang mereka lakukan itu tepat pada waktunya atau tidak. Sebab, terlambat atau terlalu cepat melaksanakan perintah untuk beraksi senjata, nilainya sama, yaitu kesalahan yang membuat tidak seorang pun terpanggil untuk memuji dan menghargai. Kecenderungan itu sangat mungkin terjadi bagi tentara-tentara Wikrawardhana. Mereka terlalu lebih berperang. Dan mereka bukan tentara yang terus-menerus menang. Tentara-tentara itu sebagian besar telah mengenakan pakaian hitam-hitam - asal hitam, dan tidak sama, pendek kata bukan uniform - yang lazim dikenakan para begal, rampok, garong. Mereka semua telah berada di luar wilayah keraton, di pinggir hutan. Di balik pohon-pohon besar, di bagian hutan yang belukar, mereka dapat mengintai kuda-kuda yang ditunggangi ketujuh orang rombongan Ceng Ho bersama Tunggul Petak dan beberapa tentara yang mengawal. Tunggul Petak tahu persis di mana tentara-tentaranya yang berpakaian hitam-hitam bersembunyi dan mengintai. Itu sebabnya beberapa kali dia memutar kuda untuk berjalan di belakang, dan dengan begitu memberikan aba-aba untuk dipahami prajuritnya yang mengintai, agar jangan melakukan gerakan apa-apa. Dengan tangan itu dia memberikan isyarat bahwa tamu-tamunya ini harus aman sampai di istana musim panas. Juga bahwa bukan malam ini mereka bergerak untuk melakukan apa yang diperintahkannya itu. Apakah prajurit-prajurit yang telah mengenakan pakaian hitam-hitam itu mengerti isyarat yang dilakukan Tunggul Petak melalui tangannya? Agaknya tidak! Memang betul, mereka mundur masuk ke dalam belukar yang lebih pekat, yang tidak terlihat oleh Wang Jing Hong dan anggota yang lain, tapi semangat untuk membantai, bukan berperang, kepalang sudah tertanam dalam hati mereka, dan karenanya hati mereka semuanya sudah berasap.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #122 on: 26/08/2008 19:12 »
Ceng Ho tak tenang hati. Dia memang sudah tiba di kapal yang disauhkan di tengah laut-berhubung kapal besar ini dan kapal-kapal setengah besar yang lain tak bisa menyandar di dermaga-dan dia sudah pula menunjuk prajurit-prajuritnya yang akan dibawanya turun ke darat untuk berjaga-jaga terhadap orang-orang sipil yang berpasar di sekitar luar keraton. Tapi, sampai matahari terbenam, Ceng Ho masih belum turun ke darat. Bukankah Ceng Ho berkata kepada Wang Jing Hong bahwa dia baru akan menyusul pada keesokan harinya? Artinya, dia bisa istirahat sejenak di kapal. Tapi perasaan tak tenangnya itu datang lebih keras lagi setelah salat isya. Begitu dia selesai salat, perasaan tak tenangnya diperkuat oleh pikiran-pikiran yang seakan menyuruhnya untuk segera saja, sekarang, turun ke darat bersama-sama dengan prajurit-prajuritnya itu.


***


Firasat Ceng Ho, orang yang memiliki indra yang luar biasa peka, atau katakanlah orang yang menjadi pengambil keputusan dengan kebijakan yang tepat, memang tidak keliru. Apa yang dirasakannya itu, yang telah membuat hatinya tak tenang, memang beralasan. Bersamaan waktunya setelah dia menunaikan ibadahnya, tentara-tentara Wikrawardhana yang telah terbakar oleh semangat membantai itu, ramai-ramai menyerang orang-orang sipil yang berada di tenda masing-masing. Tentara Wikrawardhana yang demikian banyak memang menyulitkan orang-orang sipil yang tiada bersenjata. Dengan gampang tentara-tentara Wikrawardhana yang berpakaian garong itu membantai dan menjarah barang-barang dagangan mereka. Beberapa orang telah menjadi marhum di situ. Tapi di bagian tenda yang ujung, di dekat tenda yang tadi digunakan Ceng Ho, berdiri dua orang sipil yang siap menghadapi serangan tentara-tentara Wikrawardhana-dari satu kelompok yang ditugaskan Tunggul Petak untuk menyerang pasar-mula-mula dengan tangan kosong. Sebab, memang mereka tidak memegang senjata. Kedua orang sipil ini adalah mereka yang kebetulan memiliki cita-cita dan ketetapan hati untuk memilih Jawa Tengah sebagai tujuan. Siapa kedua orang yang dimaksud ini? mereka lelaki muda dan perempuan muda. Yang lelaki Tan Tay Seng, yang perempuan Ling Ling. Ketika tentara-tentara Wikrawardhana menyerang mereka, mereka melawan dengan gigih. Mereka melawan bukan hanya sekadar melawan, tapi mereka juga melawan dengan cara yang teratur: memanfaatkan serangan yang hanya berlandas pada kemauan untuk membantai dan menjarah, dengan tangkisan-tangkisan yang tenang. Dengan mengatakan tangkisan-tangkisan yang tenang, maka dalamnya berarti, mereka bukan hanya menangkis, tapi juga dalam tangkisan itu mereka melakukan pukulan balik. Oleh sikap yang demikian terarah, maka dalam beberapa gerakan saja, mereka berhasil mengalahkan kemudian merebut senjatasenjata yang digunakan oleh tentara-tentara Wikrawardhana yang menyerang mereka. Pada suatu ketika Tan Tay Seng melihat seseorang sedang menumpuki badannya ke atas badan Ling Ling dan siap hendak menikamkan pedangnya. Dengan cepat Tan Tay Seng mengambil tumbak dari salah seorang tentara Wikrawardhana yang baru ditusuknya, lantas melemparkannya ke tentara yang hampir membunuh Ling Ling.

Tombak itu terbang dengan bagusnya ke tubuh tentara Wikrawardhana dan mampuslah dia. Namun gelombang tentara Wikrawardhana itu lebih banyak lagi datang ke lokasi pasar ini. Melihat itu Tan Tay Seng berpikir dengan cepat, dan dia termasuk orang cergas. Dia menarik lengan Ling Ling. Kata Tan Tay Seng kepada Ling Ling. "Kita tidak boleh mati konyol di sini." "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ling Ling. "Menyingkir saja." "Ayo." Dan mereka berdua berlari. Mula-mula mereka menuju ke samping dinding keraton. Tapi kemudian mereka berlari lagi ke arah barat yang pekat oleh hutan. Sekitar sepuluh orang mengejar mereka ke situ. Dan itu lebih baik, sebab menurut pikiran Tan Tay Seng, melawan sepuluh orang di tengah hutan, mengirit tenaga.


***

Lantas bagaimana dengan keadaan Wang Jing Hing, Wu Ping, dan lain-lain di istana musim panas?
Tentara-tentara Wikrawardhana yang berpakaian hitam-hitam itu juga menyerang. Di situlah kehebatan Tunggul Petak yang sering dikata-katai goblok oleh Wikrawardhana. Dengan cepat dia berpura-pura menyembah kepada tentara-tentara Wikrawardhana itu.
Katanya sambil pura-pura menangis, "Jangan bunuh kami. Kalian mau ambil apa saja dari kami, silakan, tapi bukan nyawa kami."

Dan tentara Wikrawardhana, yang sesungguhnya hanyalah bawahan Tunggul Petak, menanggapi sandiwara Tunggul Petak dengan sandiwara yang sama-sama meyakinkan. Dia menyepak perut Tunggul Petak. Cara menyepak itu kelihatan sungguh-sungguh, sehingga Tunggul Petak pun kelihatan sungguh-sungguh pula terpelanting ke belakang.
"Ampun, Tuan," kata Tunggul Petak memohon sambil soja di hadapan tentara berpakaian hitam itu.
"Tutup mulutmu!" kata tentara itu sambil menyepak lagi.
Bagaimanapun ada rasa terinjak-injak bagi Wang Jing Hong melihat adegan yang tidak diketahuinya sebagai permainan pura-pura belaka.
"Tunggu," kata Wang Jing Hong.
Dan secepat kata itu terucapkan, langsung puluhan tentara Wikrawardhana yang menyamar sebagai garong melingkar mengepung Wang Jing Hong dan lain-lain.
 
Apakah Wang Jing Hong gentar melihat kenyataan ini?
Dengan cepat Wang Jing Hong berpikir. Jika dia melawan, itu memang suatu hal yang patut.
Tetapi melawan tanpa memperhitungkan untung-rugi akan menjadi keputusan yang tidak arif.
Dia berhitung. Dia hanya bersama segelintir orang. Tak sampai sepuluh orang. Salah seorang di antara rombongannya ini memang perwira yang termasuk andal, yaitu Ci Liang. Tapi jika hanya dia dan perwira itu yang melawan puluhan orang di depan mata dan ratusan di belakang sana, sungguh keputusan yang tetap tidak arif. Pasti orang-orang yang bersamanya akan menjadi korban sia-sia. Rupanya tentara yang baru tampil sebagai panglima garong ini dapat juga membaca apa yang melintas dalam pikiran Wang Jing Hong. Dengan tanpa diduga-duga, tentara yang menyamar ini langsung mengayunkan keris ke arah Wang Jing Hong. Untung, Wang Jing Hong segera menangkis. Tapi, wai, ujung keris itu telah menggores lengannya, menyobek jubah yang dipakainya. Ci Liang memasang kuda-kuda untuk siap menghadapi kemungkinan lain. Dan begitu melihat hal itu, ratusan tentara lain yang sama-sama berpakaian hitam di luar sana langsung maju, membuat pagar yang ketat. Wang Jing Hong mengangkat tangan kiri. Dengan itu dia memberikan tanda kepada Ci Liang untuk tidak melakukan tindakan apa-apa sebab keadaannya akan membuat mereka konyol.  Tentara-tentara Wikrawardhana pun segera menangkap ketujuh orang itu, yaitu Wang Jing Hong dan rombongannya. Wang Jing Hong tidak menaruh curiga bahwa ini semua suatu permainan, rekayasa, sebab ketika tentara-tentara itu menyekapnya, Tunggul Petak dan pengiringnya yang tadi menjemput Wang Jing Hong dan rombongannya itu juga ditendangtendang. Untuk meyakinkan permainan ini Tunggul Petak tak henti-henti mengulang kata-katanya yang sama, "Tolong, jangan bunuh kami. Ini semua tamu-tamu Wikrawardhana." "Persetan dengan Wikrawardhana," kata tentara yang memimpin penyergapan. "Lantas, kami akan diapakan?" kata Tunggul Petak sambil mengedipkan mata yang tidak dilihat Wang Jing Hong atau Wu Ping atau CiLiang, apalagi Dang Zhua dan Hua Xiong... "Kami akan bawa kalian semua ke hutan, ke tempat kami," kata yang ditanya dengan tetap berpenampilan sangar dan bahkan lebih buas. Lagi Tunggul Petak soja sambil meratap-ratap. "Tolong. Jangan sakiti tamu-tamu kami." Justru kata-kata itu membuat bawahan Tunggul Petak yang menyamar menendang-nendang ketujuh orang anggota Ceng Ho. Sambil menendang, si tentara yang memimpin, berteriak keras kepada Tunggul Petak, "Diam!" Lalu tentara-tentara itu menyeret ke bagian gelap, masuk ke dalam hutan. Mereka bersoraksorai.


***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #123 on: 26/08/2008 19:15 »
Pada menit terakhir sebelum Ceng Ho turun dari kapal untuk ke darat, tiba-tiba mendapat semacam bisikan di dalam hati yang menyuruhnya menggandakan tentara yang akan dibawanya. Maka lekas-lekas dia mempersiapkan lagi lima puluh orang tentara dari pasukan yang paling andal untuk berangkat bersamanya. Maka seratus orang tentara yang ikut bersamanya malam itu juga ke darat. Mereka berlayar ke darat menggunakan sekoci-sekoci biasa. "Dayung cepat," kata Ceng Ho. Firasat Ceng Ho memang beralasan. Setelah meluncur dengan cepat di atas laut dan kemudian mendarat di tepian, dan berjalan pula cepat-cepat ke tanah lapang yang dibuat pasar itu, bukan alang kepalang terkejut Ceng Ho. Semua orang sipil yang memasang tenda di situ untuk tempat menginap mereka sudah menjadi mayat. Alangkah terpukul Ceng Ho melihat orang-orang sipil itu mati dibantai di situ. Dia menyuruh perwiranya menghitung mayat-mayat yang bergelimpangan. "Seluruhnya seratus tujuh puluh orang, Sam Po Kong," kata perwira yang menghitung. Ceng Ho tafakur. Mulutnya komat-kamit. Kelihatannya dia sedang membilang-bilang di dalam hati.
''Apa yang harus kita lakukan sekarang, Sam Po Kong?'' tanya perwiranya.
''Yang jelas Wikrawardhana harus menjawab, mengapa rakyat sipil kita sampai begini,'' kata Ceng Ho. ''Menjawab berarti mempertanggungjawabkan.''

''Jangan-jangan...'' Perwira ini tidak sanggup melanjutkan kalimat dalam pikirannya.
Namun hal itu cukup membuat Ceng Ho memikirkan sesuatu pula. Katanya segera, ''Apa yang ada dalam pikiranmu?''
''Keadaan Wang Jing Hong dan lain-lain,'' katanya.
Mata Ceng Ho membelalak. ''Kau betul,'' katanya. ''Kelihatannya kita harus menggandakan lagi tentara kita. Sekarang juga kau kembali ke kapal. Turunkan lagi seratus prajurit tambahan. Kelihatannya kita sedang menghadapi serigala berbaju domba.''
''Baik, Sam Po Kong,'' kata perwira itu lantas bergegas ke pantai untuk selanjutnya ke kapal-kapal yang disauhkan di tengah laut sana.

***

Dan Ceng Ho pun berangkat pula ke keraton Wikrawardhana. Dari lapangan yang dipakai pasar ini ke keraton tidaklah jauh. Ceng Ho cukup berjalan. Dan sekitar seratusan prajuritnya mengikuti dari belakang. Ketika Ceng Ho dan prajuritnya berjalan ke situ, dari arah gelap di sebelah barat kelihatan dua orang berlari-lari menghampiri mereka. Yang paling depan, yang larinya lebih kuat, menyerunyeru nama Ceng Ho. "Sam Po Kong!'' Semua terhenti, memandang ke arah kedua orang itu. Siapa mereka? Ternyata mereka bukan hanya dua orang. Di belakang kedua orang itu masih ada lagi beberapa orang lain yang sama-sama berlari antara rasa takut dan plong serta harapharap cemas. Yang paling depan, orang yang menyeru nama Ceng Hong, tak lain adalah Tan Tay Seng. Dia menarik tangan Ling Ling. Sisanya yang di belakang mereka adalah orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri di belukar. Tan Tay Seng terengah-engah. ''Mereka semua garong. Jumlahnya ratusan,'' katanya. ''Dan mereka membabi buta.'' Ceng Ho penasaran. ''Kenapa kau yakin mereka itu garong?'' tanya Ceng Ho. ''Mereka semua berpakaian hitam,'' kata Tan Tay Seng lagi. Ceng Ho menyerap keterangan itu. Memang sejak tadi dia berprasangka tentang pernyataan Wikrawardhana mengenai garong-garong tersebut. Tapi sekarang timbul pertanyaan di dalam hatinya, sekejap dan cepat sekali, benarkah yang digambarkan Tan Tay Seng ''membabi buta'' itu sungguh-sungguh garong? Kalau benar mereka garong, di mana hubungan kebenaran pernyataan Wikrawardhana bahwa dia memelihara ayam alas supaya sewaktu-waktu dapat membangunkannya? Pertanyaan lebih spesifik yang timbul dalam pikiran Ceng Ho sekarang: di mana tentaratentara Wikrawardhana saat terjadi pembantaian ini? Tentu saja pertanyaan ini belum dapat dijawab sebelum Ceng Ho bertemu Wikrawardhana di keraton.


***


Bagaimanapun pertanyaan di dalam pikiran Ceng Ho tidak gampang menjadi tawar. Apalagi setelah dia berada di depan gapura keraton milik Wikrawardhana, dan di depan sana ada empat orang tentara berjaga-jaga. Dengan melihat keberadaan tentara yang berjaga di situ, dengan serta merta Ceng Ho menyimpulkan di dalam sana ada Wikrawardhana.
''Kami mau bertemu Raja,'' kata Ceng Ho.
''Tidak boleh,'' kata penjaga.
Ceng Ho heran. Dia memandang dengan syakwasangka lebih besar. Apa sebetulnya yang terjadi?



***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #124 on: 26/08/2008 19:21 »
Yang terjadi, sekarang Tunggul Petak sedang melapor ke Wikrawardhana tentang hasil kerjanya itu.
''Semua yang berpasar sudah mati. Barang-barang mereka sudah diambil...'' Tunggul Petak kelihatan seperti ingin dipuji.

''Aku tidak bertanya soal mereka yang berpasar itu,'' kata Wikrawardhana. ''Yang aku tanyakan, bagaimana keadaan mereka yang ditawan di luar istana musim panasku.''
''Semua sudah berjalan dengan sempurna, Paduka,'' kata Tunggul Petak dengan bangga dan ingin dipuji.
''Dan pemimpin mereka?'' tanya Wikrawardhana.



***


''Tujuh orang kami tawan. Semua kami ikat di pohon dan dijaga ketat oleh dua ratus tentara kita.''
''Yang aku tanyakan: pemimpin mereka,'' kata Wikrawardhana menekankan dengan suara datar.

''Juru mudi mereka berada di sana,'' kata Tunggul Petak.
Wikrawardhana berteriak geram. ''Bukan juru mudinya, goblok!''
Tunggul Petak bingung. Dia berlagak pilon untuk menutupi rasa takut dan bersalah. ''Jadi siapa, Paduka?''
''Goblok kamu!'' kata Wikrawardhana. ''Dasar goblok. Sekali goblok, tetap goblok! Yang aku  maksudkan Sam Po Kong.''

Tunggul Petak berkeringat. Keringat di wajahnya sebesar biji-biji jagung. Dia pun gemetar.

Dia kehilangan kata-kata. Akhirnya dia diam menunggu saja caci maki rajanya.

Wikrawardhana tidak hanya memaki, tapi juga menaruh kakinya di atas kepala Tunggul Petak. "Kamu ini cuma rambut saja yang putih. Tapi di belakang tengkorak kepalamu itu
bukannya otak, tapi tahi. Goblok, otak udang!"
Tunggul Petak tidak berani bilang apa-apa. Dia hanya menyatukan kedua telapak tangannya, membungkuk-bungkukkan badan, menyembah-nyembah.

Wikrawardhana tidak peduli pada sembah Tunggul Petak. Dia naikkan kembali kakinya diatas kepala Tunggul Petak. "Hei, goblok! Sekarang kamu mau bagaimana kalau tiba-tiba Sam Po Kong itu ke sini lantas menyerang kita?"
Dengan stel yakin Tunggul Petak menjawab, "Tidak mungkin, Paduka. Dia pulang ke kapal. Dan baru besok turun lagi ke darat."
"Lo? Apa alasannya kamu bilang begitu?" kata Wikrawardhana.
"Memang begitu, Paduka. Dia pulang ke kapal, menginap di kapal, dan nanti besok baru dia kembali ke sini."
"Lantas?"
"Lantas, nanti besok pagi, tentara-tentara kita akan kita siapkan di pantai.
Kita bikin pagar betis di sana. Jadi sebelum dia masuk ke darat, kita langsung membuat tawar-menawar dengan dia."
"Lantas?"
"Yang namanya tawar-menawar, kita menjual dia membeli."

"Lo? Kalau dia tidak mau membeli?" "Kita paksa supaya dia membeli." Wikrawardhana tertawa. Dia berbalik badan. Kelihatannya dia senang atas pikiran Tunggul Petak yang selalu dikatakannya goblok itu. Kendati dia senang, dia tidak berkata apa-apa untuk menilaikannya. Dia hanya berjalan lantas duduk di singgasananya. Gambaran yang hadir dalam pikirannya adalah bagaimana dia memperoleh keuntungan dengan cara yang hebat begini. "Tapi, bicara soal sandera yang kamu sekap di atas, apakah mereka benar-benar tertawan dengan bagus? Maksudku, apakah penjagaan terhadap mereka memadai?" "Sudah pasti, Paduka," kata Tunggul Petak, "seperti kata saya tadi, ada dua ratus tentara kita yang menjaga mereka. Di sana kami telanjangi mereka. Diikat di pohon. Dan pasti mereka akan kedinginan."


***

Memang benar, ketujuh orang itu semuanya ditelanjangi. Jubah-jubah mereka semua dicopot.
Mereka diikat dengan kuat di pohon-pohon belakang istana musim panas Wikrawardhana.
Wang Jing Hong dapat berlaku tenang. Begitu pula Ci Liang. Satu-satunya orang, di luar juru tulis palsu itu, yaitu Wu Ping yang kelihatan sangat menderita. Itu dikatakannya sendiri kepada Wang Jing Hong yang diikat di pohon sebelahnya.

"Aku takut sekali, Wang Jing Hong," kata Wu Ping, "takut kalau-kalau aku tidak berhasil."
"Tidak berhasil apanya?" tanya Wang Jing Hong.
"Tidak lepas lolos dari lubang jarum," jawab Wu Ping.
"Memangnya mana lubang jarumnya?"
"Kita sekarang adalah benang-benang yang terlalu besar. Kita ingin menembusi lubang jarum, tapi ternyata jarumnya terlalu kecil, lebih kecil dari benangnya."
Wang Jing Hong kelihatan iba. Tapi tak urung dia bertanya juga ke mana arah imajinasi Wu Ping itu. "Sebetulnya apa yang ada dalam pikiranmu itu?"
"Cinta, Wang Jing Hong," kata Wu Ping.
"Cinta? Cinta yang bagaimana?" tanya Wang Jing Hong.
"Ah, kau pasti mengerti," kata Wu Ping, "dalam cinta, kan hanya ada dua rumus. Berhasil atau gagal."
"Ya," kata Wang Jing Hong menunggu sekian jeda, "lalu?"
"Aku takut kita menjadi korban di sini. Kalau kita menjadi korban di sini, mati sia-sia, hanya tinggal nama, maka lenyaplah bersama-samaku akan cinta yang telah menyempurnakan
akalku dan hatiku."
"Jangan pesimistis begitu," kata Wang Jing Hong, "kau pasti akan ketemu lagi dengan si Tiwati."
"Dalam keadaan seperti sekarang, ditawan sebagai tikus, bahkan tidak dihormati sama sekali harkat kemanusiaan, aku takut meneruskan gambar-gambar cinta di dalam pikiranku," kata
Wu Ping.

"Sudahlah," kata Wang Jing Hong, "percayalah, Sam Po Kong pasti akan bertindak."

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #125 on: 26/08/2008 19:25 »
Nun di depan keraton Wikrawardhana, Ceng Ho mencoba sekali lagi dengan santun menjelaskan betapa urgen dia ingin bertemu dengan Wikrawardhana. Walaupun Ceng Ho sudah berlaku sangat sopan dan sangat bersahabat, tetap saja penjaga gapura di depan keraton Wikrawardhana berlaku angkuh. Dia bersikeras melarang Ceng Ho melewati gapura itu. Penjaga itu tidak hanya melarang, tapi juga mengusir dengan sangat kasar sambil mengarahkan lembing yang dipegangnya itu ke perut Ceng Ho. "Pergi sekarang juga," kata penjaga itu, "kalau tidak, saya akan bikin kamu menjadi 'bekas manusia' di sini." Mestinya dengan sikap kurang ajar sebagaimana ditunjukkan oleh penjaga gapura itu, cukup alasan bagi Ceng Ho untuk marah dan langsung menghajarnya. Tapi Ceng Ho sanggup menahan diri sejenak. Dia hanya jengkel saja. Dia tahu benar, bahwa marah kepada orang bodoh seperti penjaga itu, sama dengan membuang mutiara kepada babi. Tidak ada untungnya marah kepada orang bodoh. Ceng Ho sedang mengajar pula hal itu kepada bawahannya. Dia mencoba berlaku ramah sekali lagi. Nanti, kalau sikapnya ini diabaikan dan bahkan dilecehkan, barulah dia akan berteriak. Yaitu, bertindak untuk Bmengajar bersopan-santun. ''Apakah kita tidak boleh masuk menemui raja, karena raja sudah tidur?'' tanya Ceng Ho. Bukannya menjawab dengan baik-baik, malah penjaga itu mendorongkan tombaknya ke muka Ceng Ho. Hanya sekitar lima atau dua senti saja ujung tumbaknya itu berada di depan mulut Ceng Ho. ''Ini sudah keterlaluan,'' kata Ceng Ho dalam hati.

Toh Ceng Ho masih berdiri saja. Belum bertindak apa-apa. Penjaga itu berteriak sekerasnya, ''Pergi!'' Rupanya teriakan itu menjadi aba-aba juga bagi tentara-tentara Wikrawardhana yang berada di dalam, di balik tembok yang mengelilingi keraton. Ternyata di balik itu, ada ratusan tentara yang menjaga. Mereka semua tentara-tentara yang baru saja mengganti pakaian dari pakaian garong yang hitam-hitam, menjadi pakaian tentara yang sebenarnya. Melihat keadaan yang tidak bersahabat itu, dan karena juga merasa bahwa penjaga yang angkuh di depan ini hendak bertindak secara militer, maka dengan tangkas dan segera Ceng Ho bertindak melakukan sesuatu. Dengan gerakan yang tidak terbaca oleh penjaga gapura itu Ceng Ho melenturkan leher sehingga kepalanya mundur ke belakang, dan dengan begitu tangannya menarik tombak yang diarahkan kepadanya. Badan penjaga itu doyong, lalu secepat cahaya, kaki kanan Ceng Ho mendarat di selangkang penjaga itu, tepat mengena lonceng yang bergayut di situ. Tentara-tentara Wikrawardhana yang lain, yang berdiri di belakang penjaga itu lantas ramairamai maju, menyerbu, dan menyerang tentara-tentara Ceng Ho. Maka, apa mau dikata, di malam menjelang larut, yaitu nama waktu yang dalam hitungan Cina, terutama yang dibakukan oleh penganut Kong Hu Cu sebagai jam-jam Sut Si perhitungan waktu dengan menggunakan tian-kan dan te-ci antara pukul 19.00-21.00 sampai Hay Si perhitungan waktu yang sama antara pukul 21.00-23.00, tak terelakkan lagi terjadi pertempuran yang seru antara tentara-tentara Wikrawardhana dan tentara-tentara Ming pimpinan Ceng Ho. Sebentar saja, dalam pertempuran hampir tiga jam, yaitu dari Sut Si sampai Hay Si, telah bergelimpangan mayat-mayat di depan keraton Wikrawardhana. Tentara-tentara yang dibawa Ceng Ho memang bukan tentara-tentara yang biasa-biasa. Mereka termasuk tentara-tentara yang terlatih berperang di banyak wilayah. Jangan lupa, mereka pula yang berperang di Sungai Musi, mengalahkan tentara-tentara garongnya Tah Co Gi atau Chen Tsu I atau Chen Zhu Yi dan menangkap raja maling itu. Sekarang, apa pula yang diandalkan dari tentara-tentara Wirawardhana yang bermental maling ini? Bukankah mereka pun baru saja menggarong pedagang-pedagang sipil yang berpasar di lapangan luar keraton? Sekali militer menjarah, untuk selamanya mentalnya rusak dan tak bisa diperbaiki lagi. Itulah mental tentara-tentara Wikrawardhana. Mereka memang bertempur dan berperang. Tapi dalam pikiran mereka sudah tercemari oleh dorongandorongan bendawi, dorongan-dorongan duniawi. Maka, bertempur atau berperang bagi mereka tak lain tujuannya adalah merampok atau menjarah. Pendek kata, menginjak atau memperkosa hak-hak paling dasar dari harkat dan martabat manusia. Jika pun nanti ada perdamaian-artinya pertempuran dan peperangan selesai-sedapatnya mereka membuat keadaan menjadi tidak aman, sehingga rakyat terteror, takut, dan kehilangan rasa percaya pada sesama. Terhadap tentara-tentara yang bejat itulah Ceng Ho memerintah tentaranya untuk menyikat terus.

****


Tentara-tentara Ceng Ho terus mendesak tentara-tentara Wikrawardhana untuk mundur. Dari pihak tentara-tentara Wikrawardhana yang sok-sokan, yang bertempur hanya mengandalkan kenekatan dan bukan kecekatan, satu per satu tumbang, dan terus bertumbangan berbelasbelas dan berpuluh-puluh. Akhirnya sebagian besar mundur sampai ke dalam, ke tempat Wikrawardhana sedang duduk di singgasananya ditemui oleh Tunggul Petak. Begitu tentara-tentara yang tersisa ini mundur ke dalam, terkejutlah Wikrawardhana. Raja yang baru saja berpikir menang ini benar-benar terperanjat melihat kehadiran Ceng Ho di hadapannya. Lebih-lebih lagi Tunggul Petak yang baru berbual-bual akan keberhasilannya. Karena terkejut di situ, mereka pun berdiri dengan mulut menganga. Sepuluh orang pengawal yang berada di sekeliling Wikrawardhana dengan serempak maju menghunuskan keris kepada Ceng Ho. Mereka kaget setengah mati bahwa Ceng Ho dapat meloncati mereka. Kini Ceng Ho telah berdiri pas di depan Wikrawardhana. ''Apakah permainan akan diteruskan?'' kata Ceng Ho.  ''Mohon dimaafkan,'' kata Wikrawardhana. ''Ini semua gara-gara kesalahan panglima saya, Tunggul Petak. Saya baru saja memarahinya. Gara-gara keteledorannya, keadaan negeri menjadi kacau begini.'' Ceng Ho bersikap sebagai orang yang bertanggung jawab. ''Saya sudah melihat semuanya.'' ''Saya bisa mengerti,'' kata Wikrawardhana. ''Sebagai raja di sini, saya sekali lagi menyatakan maaf saya.'' ''Saya menerima pernyataan maaf Anda,'' kata Ceng Ho. ''Tapi bagaimana dengan keamanan kerajaan, para bayangkari negara, sampai-sampai kecolongan rakyat sipil, anggota rombongan saya terbantai sedemikian rupa?'' ''Seperti saya katakan tadi, ini memang kesalahan panglima saya. Panglima saya yang goblok. Asli goblok.'' Wikrawardhana pun mengeluarkan kerisnya. Lantas dia naikkan keris ke atas. ''Saya bersumpah atas nama leluhur saya dan atas nama Hayam Wuruk akan bertindak adil terhadap orang-orang di bawah saya yang melakukan kesalahan.'' Dengan cepat dia turunkan kerisnya itu, lalu dengan cepat pula dia tikamkan keris itu ke leher Tunggul Petak. Semua terkejut. Tunggul  Petak langsung terkulai di lantai. Mati. ''Saya konsekuen, Sam Po Kong,'' kata Wikrawardhana. ''Tunggul Petak melakukan kesalahan fatal. Dan, dia tidak boleh dimaafkan lagi. Orang yang sekali melakukan kesalahan secara sengaja, jika tidak dihukum sampai mati, pasti akan kulina melakukan lagi lain waktu.'' Ceng Ho tidak menanggapi apa-apa. Dia hanya diam memperhatikan wajah dan tindak-tanduk Wikrawardhana. Sorot mata Ceng Ho itu membuat Wikrawardhana agak kikuk. Dia rumangsa, jangan-jangan Ceng Ho memandangnya dengan cara begitu sebab sedang menyelidik kesejatian kata-katanya. Wikrawardhana kembali beralasan dan berdusta, dan dengannya berharap Ceng Ho percaya kepadanya. Katanya, ''Baru saja Tunggul Petak ke sini meminta ampun karena keteledorannya. Bahwa lantaran keteledorannya itu, perampok-perampok dari timur, pasti pengikut Wirabhumi, dapat masuk ke sini, menjarah, dan membantai.'' Ceng Ho masih belum menanggapi. Ceng Ho tetap memperhatikan wajah dan tindak-tanduk Wikrawardhana dengan sorotan mata yang sama tajam seperti tadi.
''Ini benar-benar gila. Kami bisa kecolongan,'' kata Wikrawardhana. ''Tahu-tahu ratusan garong dari timur itu sudah menyelinap di sini dan melakukan aksinya tanpa diketahui panglima goblok saya ini.'' Dia menaruh lagi kakinya di atas kepala mayat Tunggul Petak. Ceng Ho masih menatap tajam wajah Wikrawardhana. Tapi kali ini dia mengatakan sesuatu yang langsung membuat Wikrawardhana terkinjat. Kata Ceng Ho, ''Padahal melihat tentaratentara Anda yang menyerang kami, tampaknya tentara-tentara Anda cukup banyak untuk dapat menjaga daerah sekitar keraton Anda ini.'' Walaupun Wikrawardhana terkinjat, dan hampir saja kehilangan hikmah untuk bercakap, membuat alasan atau melakukan dusta yang kira-kira masuk akal, toh bisa dengan cepat menemukan jawaban yang membuat Ceng Ho bisa menerima. Setidaknya menerima dalam sesaat untuk melihat kenyataan yang pahit ini. ''Sebagian besar tentara saya itu ikut ke atas, ke istana musim panas bersama-sama Tunggul Petak tadi, mengawal orang-orang Anda yang menginap di sana,'' kata Wikrawardhana. Keruan Ceng Ho teringat mereka yang baru disebut Wikrawardhana itu. Maka kata Ceng Ho dengan mata terbuka, ''Bagaimana keadaan mereka?'' Pandai lagi Wikrawardhana berdusta. Katanya dengan memasang muka masygul di wajahnya, ''Itulah duduk perkaranya. Si goblok ini baru saja melapor ke sini bahwa orang-orang Anda itu dijadikan sandera oleh garong-garong dari timur.'' ''Dijadikan sandera?'' tanya Ceng Ho. ''Apa maksudnya itu?'' ''Entahlah, Sam Po Kong,'' jawab Wikrawardhana. ''Di mana mereka sekarang?'' Wikrawardhana terpaksa harus bisa cepat membuat dusta yang lain, yang dapat meloloskannya dari kemungkinan-kemungkinan tidak menguntungkan. ''Mereka berada di atas gunung. Tapi jangan khawatir. Sebentar lagi tentara-tentara yang akan membebaskan mereka.'' Lalu kepada sepuluh orang pengawal yang tadi secara serempak dan bersama menghunuskan keris mereka ke arah Ceng Ho, berkata Wikrawardhana dengan meyakinkan, ''Sekarang kalian berangkat ke atas. Kalian semua. Perangi garong-garong yang gila itu. Sikat mereka. Jangan kasih ampun. Ayo, cepat!'' Pengawal yang disuruh kelihatan bingung. Karena itu mereka masih berdiri bengong memandang Wikrawardhana. Maka Wikrawardhana berang, lantas menghardik mereka, ''Goblok kalian semua! Cepat berangkat ke atas sana!'' Akhirnya kesepuluh orang pengawal itu keluar.



***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #126 on: 26/08/2008 19:37 »
Di atas sana, di belakang istana musim panas Wikrawardhana, kesepuluh pengawal menyampaikan keinginan Raja dengan kalimat sulit, dilatari oleh kebingungan, keengganan, ketakutan.
"Raja baru saja membunuh Tunggul Petak," kata salah seorang pengawal yang ditugaskan ke sini.
Semua tentara yang mendengar berita itu terkejut.
"Jadi, apa artinya itu?" tanya seorang tentara berpakaian garong yang menjaga di belakang istana musim panas Wikrawardhana.
"Tentara Cina baru saja menyerang kita."
"Apa?"
"Ya. Sekarang Raja ditekan."
"Apa maksudnya itu?"
"Raja tidak berdaya."
"Kalau Raja tidak berdaya, kita tidak boleh mundur. Justru di sinilah tentara harus menunjukkan pengabdian kepada negara dan pemimpin negara."
"Memang betul. Tapi kita sudah terkalahkan."
"Terkalahkan bagaimana?"
"Tentara-tentara yang mengawal istana hampir semuanya tumbang."
"Tidak. Tidak mungkin."
"Kenyataan memang begitu. Sudahlah, kita harus menerima kenyataan ini. Nyata kita kalah bertempur di istana."
"Ini benar-benar gila."
"Memang. Sekarang kalian semua harus menyingkir dulu. Yang menjaga tawanan itu cukup sepuluh orang saja. Kami, pengawal istana akan pura-pura menyerang yang bertugas menjaga
tawanan itu, lantas kami menang. Setelah itu kami akan membawa orang-orang Cina itu ke istana."
"Lantas kami yang di sini?"
"Cepat ganti pakaian. Buang pakaian hitam-hitam itu."
Perintah itu segera dilaksanakan. Ini tidak menyenangkan, Tapi mereka tidak pernah berpikir ke situ.



***


Pada waktu itu Wang Jing Hong, Wu Ping, Ci Liang, serta kedua juru tulis palsu, dan yang lain, sebenarnya sudah tidak tahan menahan kantuk. Tetapi mereka pun tak mudah tidur dalam keadaan diikat di pohon-pohon dengan tidak berbusana. Mereka hanya menggigil. Malam terlalu sejuk. Kemudian Wang Jing Hong melihat tanpa menaruh wasangka bagaimana tentara-tentara Wikrawardhana saling meneruskan bisik-bisik antara satu dan yang lain. Sama sekali Wang Jing Hong tidak mengerti apa yang dibisikkan orang-orang jemahnya yang ditugaskan bertanya. Maka kata penerjemah kepada pengawal itu, "Kita akan ke mana?"
"Raja yang memerintah kami untuk mengalahkan garong-garong itu," jawab pengawal itu.
"Sekarang Raja menunggu Tuan-tuan."
"Di mana?"
"Di istana, Tuan. Pemimpin Tuan juga sudah ada di istana."
"Pemimpin kami? Sam Po Kong?"
"Betul, Tuan."

***
Dan mereka pun menunggang kuda-kuda itu, turun dari daerah pegunungan, dari area istana musim panas Wikrawardhana itu, ke istana inti di bawah. Malam sudah sepi. Waktu sekarang,
menurut perhitungan Cina, yang berhubungan dengan leluri Kong Hu Cu, adalah Cu Si ke Tio Si. Dingin di atas, berangin di bawah. Angin itu menerpa-nerpa wajah mereka di atas kuda masing-masing.
Yang berada di dalam kereta saja yang tidak terterpa angin malam. Wang Jing Hong ditemani Wu Ping berada di dalam kereta itu. Luka yang terkena di tangannya dalam perlawanan tadi itu, mungkin saja beracun, sehingga badan Wang Jing Hong kelihatan menggigil walaupun tidak diterpa angin. Yang berkata bahwa Wang Jing Hong mungkin terkena racun adalah pengawal di dalam kereta.
"Luka ini harus segera diobati," kata pengawal itu. "Nanti di bawah sana, kita berhenti, mengambil air kelapa untuk mencuci luka ini."
"Ya," kata Wang Jing Hong, diterjemahkan penerjemah. "Tapi mudah-mudahan ini tidak serius."
"Ini memang kesalahan Tunggul Petak," kata pengawal itu.
"Di mana sekarang dia?" tanya Wang Jing Hong.
"Wikramawardhana sudah membunuhnya."
"Dia sudah mati?"
"Ya. Wikramawardhana barus saja melakukannya."
Wang Jing Hong termangu. "Tunggu," katanya. "Kenapa banyak orang menyebut Wikrawardhana, sedang Anda menyebutnya Wikramawardhana?"
"Orang yang tidak menyukainya memang menyamakannya sebagai 'kra'. Yaitu 'kra' yang 'ardhana' jadi 'we', artinya 'monyet' yang 'ingin' jadi 'bersinar bagai matahari'. Maka orang-orang itu tidak menyebutnya sebagai 'wikrama' dan 'wardhana' tapi 'wi', 'kra', 'wardhana'."
"Tapi, siapa sebetulnya Wikranawardhana yang Wikrawardhana ini?" tanya Wu Ping.
"Dia menantu Hayam Wuruk. Dia sering mengaku dirinya berdarah Cina. Tapi tidak jelas.
Dulunya dia berasal dari lingkungan Tumapel. Makanya, dulu orang hanya menyebutnya Tumapel."
"Lantas Anda sendiri?"
"Sebetulnya saya ini abdi dalem wiraswara yang sekarang bertugas menjadi pengawal istana."


***


Lantas bagaimana keadaan istana Wikramawardhana yang Wikrawardhana itu? Sang raja memohon-mohon dengan sangat agar Ceng Ho tidak menghukumnya. Dia pandai mencuci tangan. Sekarang semua orang, terutama Ceng Ho, percaya bahwa kesalahan yang baru berlangsung itu adalah karena ketidakmampuan Tunggul Petak menjaga keamanan. "Untuk itu, sebagai raja, saya akan mengutus duta saya ke Cina, meminta ampun kepada Kaisar Ming, atas keteledoran panglima saya," kata Wikrawardhana kepada Ceng Ho. "Saya akan mengutus duta saya dengan berlayar langsung bersama Anda. Dan saya siap menanggung kerugian berapa pun yang akan diminta oleh kaisar."

"Baiklah," kata Ceng Ho. "Itu bisa diatur."
"Plong hati saya," kata Wikrawardhana.
"Kemungkinan besar Anda harus membayar 60.000 tail emas," kata Ceng Ho.
"Berapa pun," kata Wikrawardhana. "Paling tidak, malam ini juga saya berani bersumpah sebagai orang yang bersalah, seraya mengirimkan wakil pribadi, seorang abdi dalem
terpercaya."
"Baiklah," kata Ceng Ho dengan nada yang sama seperti ucapannya tadi. "Utusan Anda boleh
ikut bersama kami ke Cina."
"Terima kasih."
"Tapi, sebelum kami berlayar kembali ke utara, kami akan ke timur dulu, sampai ke Bali."


***


Dua jam kemudian baru tujuh orang dari istana musim panas itu turun ke istana yang satu ini.
Kelihatannya ketujuh orang itu sangat letih. Sang pengawal yang tadi disebut-sebut sebagai orang yang akan menjadi duta kerajaan ini untuk ikut dalam pelayaran Ceng Ho membawa emas 10.000 tail, menyembah di hadapan rajanya, mengatakan bahwa ketujuh orang itu
sekarang sudha berada di sini.
"Daulat Paduka," katanya. "Ketujuh tamu sudah berada di sini. Salah seorang terluka, tapi telah hamba bersihkan lukanya."
"Terluka?" tanya Wikrawardhana.
Ceng Ho sendiri terkejut. "Siapa yang terluka?"
"Ong Hing Tek,"jawab pengawal itu.
"Apa?" Dan Ceng Ho pun bergegas keluar.
Mau tak mau Wikrawardhana ikut pula keluar.

***


Di luar, Ceng Ho terkesiap melihat Wang Jing Hong keluar dari kereta dengan sikap yang gagah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ceng Ho.
"Hanya tergores," jawab Wang Jing Hong. "Sudah dibersihkan, tapi belum diobati."
"Segera bawa tabib ke sini," kata Wikrawardhana.
"Kami dapat mengatasinya sendiri," kata Ceng Ho sambil mengangkatkan tangan tanda menahan. "Tidak usah."
Lalu Fei Huan pun membalas sapaan itu dengan hangat.
Setelah itu Peniti bersila dengan tiada ragu di hadapan Fei Huan, memperkenalkan diri.

''Saya Peniti ....''

Sebelum Peniti melanjutkan, lekas-lekas Fei Huan melambaikan tangan kepada penerjemah supaya datang ke situ. Selanjutnya penerjemah itu yang mengalihbahasakan percakapan antara Peniti dan Feu Huan.

Fei Hua membukakan tangan, memberi isyarat kepada Peniti untuk meneruskan percakapan. Katanya, ''Ya, silakan.''

''Begini,'' kata Peniti. ''Saya ini abdi dalem anggong *). Saya penganut Buddha. Tapi saya penganut Buddha yang kurang baik. Banyak masalah yang saya hadapi. Dan, rasanya saya
tidak sanggup melangkahkan kaki ke depan. Pelajaran apa kiranya yang paling asasi bagi saya untuk menjadikan saya sebagai penganut Buddha yang baik. Setidaknya supaya saya bisa
mengatasi masalah-masalah saya itu.''
''Pertama, harus diketahui bahwa tiada kehidupan tanpa masalah. Tapi kedua, tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi oleh manusia yang percaya.''

''Saya sudah sering mendengar amsal itu, tapi amsal tidak anggup mengubah takdir, sementara masalah saya rumit sekali.''
''Memangnya serumit apa masalahmu?''
''Saya punya istri, namun saya lebih suka bermain seks dengan pelacur.''
Fei Huan tercenung. Dia tatap wajah Peniti dalam-dalam. Lalu dia tersenyum.
''Memang lebih banyak orang senang meniru ahlak Cou,'' ujar Fei Huan.
Peniti berkerut dahi. Tanyanya, ''Siapa Cou itu?''
''Cou adalah kaisar Cina masa lalu. Dia maniak seks. Bayangkan saja, hanya terhadap patung dewi, ketika dia menancapkan hio pada perayaan Tiong Ciu, bisa-bisanya kaisar Cou terangsang dan ingin bersetubuh. Karena itu, Kaisar Cou dikutuk melalui Ni Wa Niang-
Niang. Kerajaannya dihancurkan oleh siluman. Dia dikutuk sebab perzinahannya yang kelewat sering.''
''Jadi, apa yang harus saya lakukan?''
''Tirulah Li Keh Sin. Dia sangat baik untuk menjadi teladan hidup yang bersih.''
''Siapa itu?''
''Li Keh Sin hidup pada zaman dinasti Cin. Istrinya menawarkan untuk memperbini pembantunya yang cantik dan bahenol. Tapi, tahukah kau apa jawabnya? Dua istri dalam sebuah perkawinan pasti akan membawa ketidakharmonisan, tapi sebaliknya kericuhan yang
tidak henti-hentinya. Makanya, bila kau ingin menjadi penganut Buddha yang baik, belajarlah untuk hidup dengan susila luhur, tidak dikotori oleh kecenderungan-kecenderungan daging yang membawa kepada angkara.''

''Apakah ada pegangan yang bisa saya manfaatkan?''
''Saya akan memberikan kepadamu kitab suci Ko Ong Kuan Si Im King. Dan, kau harus baca sampai seribu jurus.''

''Dalam aksara apa?''
''Cina''
''Saya tidak paham bahasa Cina.''
''Jika begitu simpan saja, sampai ada yang dapat menerjemahkan untukmu.''
''Saya berjanji.''
''Bagus,'' ucap Fei Huan. ''Setidaknya lewat bibir kau sudah ungkapkan isi hatimu.''


***


Setelah matahari terbenam, orang-orang Ceng Ho kembali ke kapal, sebab kapal-kapal mereka akan menempuh lagi laut ke timur. Utusan Wikrawardhana, abdi dalem wira swara yang selama itu ditugaskan pula sebagai pengawal ikut dalam pelayaran ke timur. Dia ikut di
situ, sebab dengan demikian sang raja hendak menunjukkan kesungguhan meminta ampun kepada Kaisar Ming dan menyatakan kesediaan membayar berapa kerugian Ceng Ho.
Begitulah pula perkataan Wikrawardhana kepada Ceng Ho.

''Dengan mengirim utusan saya, langsung bersama Anda, maka saya ingin menunjukkan kesungguhan saya untuk meminta ampun pada kaisar Cina. Kepada abdi dalem saya itu, sudah saya pesankan kata-kata sekaligus surat kepada sang kaisar,'' ujar Wikrawardhana.

''Wah kira-kira kapan Anda akan tiba kembali di tanah Cina?''
''Mungkin satu tahun lagi,'' jawab Ceng Ho.
Saya bersandar penuh pada jalannya sang waktu. Sang waktu begitu perkasa. Di dalamnya
sudah tersurat takdir saya.''
''Anda boleh simpan ini dalam ingatan. Ada pepatah dari puisi Li Yi. Sukakah Anda mendengarnya?''

"Tentu saja."

"Li Yi penyair zaman Tang. Katanya, 'Air laut pun menepati janjinya pada waktu, kapan waktunya pasang kapan pula waktunya surut'. Begitu puisinya yang berjudul 'Nyanyian Jiang Nan Q'."
"Jadi apa artinya itu?"
"Itu artinya takdir ada dalam diri manusia terpisah dari waktu yang berputar dalam hari-harinya."



***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #127 on: 26/08/2008 19:41 »
Setelah itu datang waktu berpisah. Ceng Ho meninggalkan Kerajaan Wikrawardhana yang dipelesetkan menjadi Wikrawardhana. Dan, Wikrawardhana tetap di kerajaannya dengan perasaan yang sebetulnya tidak nyaman lantaran tidak aman. Wikrawardhana tahu betul bagaimana keadaan hatinya sekarang. Bagaimanapun cerdik dia berpura-pura dan untuk sementara merasa menang, tapi di dalam hatinya ada gaung kebenaran yang hadir sebagai cermin bening menunjukkan keadaan dia yang sebenarnya. Nanti akan datang saat dia merasa seperti terasing dan kesepian. Apa lagi pada malam hari, saat ayam-ayam hutan peliharaannya tiba-tiba berkokok sahutmenyahut. Memang betul kokok ayam alasnya itu membuat dia terbangun lama. Sebetulnya dia sadar, bukan terbangun oleh kokok ayam-ayam alas itu melainkan memang dia tidak bisa tidur.


***


Justru pada malam pertama pelayaran ke timur sekitar tengah malam, Ceng Ho berbaring ditempat tidurnya, lantas dia pun tertidur di situ. Dan alih-alih, setiap kali Ceng Ho berharap
mendapat visi tertentu untuk memandang permasalahan yang mungkin melintas di hadapan jalannya besok lusa, ndilalah ayahnya, Ma Ha Zhi, hadir dalam mimpinya. Kali ini tampak ayahnya berdiri di atas puadai. Di tangan kanan ayahnya itu ada kayu menaga yang ditunjuk-tunjukkannya ke arah Ceng Ho dan di tangan kirinya ada kayu kendung.

Kata Ma Ha Zhai kepada Ceng Ho dengan suara lamat-lamat, "Apakah kau letih putraku?"
Ceng Ho tampak gelebah. "Mungkin," jawabnya.
"Aku tahu," kata Ma Ha Zhi. "Pekerjaan membuatmu harus serius. Tapi jangan kehilangan waktu untuk kucandan. Tertawa menyehatkan badan. Seperti halnya menangis dengan berteriak keras-keras dapat juga membersihkan jiwa yang mampet."

"Apakah Ayah tidak melihat, seratus tujuh puluh orang sipil baru saja dibantai garong dari timur?"

"Sebaiknya kau mengecek kembali di timur, apakah betul garong-garong itu dari sana."

“Gambaran yang diberikan Wikrawardhana, mereka orang-orang Wirabhumi."

"Kenapa pula kau menyebut namanya begitu. Sudah betul sebutan orang-orang yang mempelesetkan namanya sebagai Wi-kra-wardhana."
"Apakah dia tidak bisa dipercaya?"
"Orang-orang di bumi biasa bicara tidak benar. Tapi Wikrawardhana bukan bicara tidak benar melainkan bohong."
"Bohongnya bagaimana?"
"Pergilah saja dulu ke timur. Cek pada Wirabumi."
"Astaga," kata Ceng Ho. "Ayah baru saja menasihati aku supaya jangan kehilangan kucandan. Tapi sekarang Ayah menasihati aku untuk bekerja lebih serius."

"Pekerjaan serius yang dapat diselesaikan dengan tepat niscaya merupakan hiburan yang boleh melahirkan kucandan."
"Mudah-mudahan."
"Sekarang tangkaplah ini," ujar Ma Ha Zhi seraya melemparkan kayu menaga dan kayu kendung itu.

Ceng Ho pun menangkapnya dan memperhatikannya. "Untuk apa ini?" tanyanya. "Kau harus mempunyai kemampuan untuk membenarkan yang salah, yang keliru, yang sakit. Tapi kau harus juga harus memiliki pribadi kuat untuk menentukan warna pikiranmu dan
warna hatimu. Nah, sampai jumpa."

Pada akhir kata-kata itu kelihatannya puadai yang dipakai Ma Ha Zhi untuk berdiri bergoyang ke kiri dan ke kanan, lantas dijemput awan untuk kemudian sirna di langit benderang.

Ceng Ho terbangun. Terdengar angin timba-ruang pada sisi kiri dan kanan kapal. Ceng Ho berdiri. Sebentar lagi subuh. Orang salih seperti Ceng Ho memang telah bangun lebih awal sebelum waktu salat.

****

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #128 on: 26/08/2008 19:48 »
Biasanya pada saat salat, Wang Jing Hong pun berada di ruang ibadah. Subuh ini Wang Jing Hong tidak tampak. Karena itu, sehabis salat Ceng Ho menemui Wang Jing Hong. Yang tersebut belakangan ini kelihatan amat lelah. Dia masih berbaring di ranjangnya. Maka Ceng Ho duduk di atas ranjangnya itu, menaruh tangannya di atas dahi Wang JIng Hong.
"Badanmu panas," kata Ceng Ho.
"Tapi tidak serius," sambut Wang Jing Hong.
''Kau bisa saja bilang tidak serius, tapi kenyataannya kau sudah diobati dan malah pagi ini badanmu makin panas,'' kata Ceng Ho.
''Percayalah, saya tidak apa-apa,'' kata Wang Jing Hong.
Ceng Ho tidak hendak berselisih pandang. Dia diam, memandang ke kedalaman sosok Wang Jing Hong melalui matanya yang kelihatan kurang gairah.
Menurut pikiran Ceng Ho, pernyataan paling baik bagi Wang Jing Hong saat ini adalah, ''Semoga cepat pulih.''
Dan Ceng Ho keluar.


******

Bagaimanapun, mestilah dikatakan labuda, bahwa pikiran Ceng Ho kini terbebani keadaan Wang Jing Hong. Karena itulah siang nanti dia memutuskan membuat rapat dengan para perwiranya. Selalu, sebagai pemimpin, Ceng Ho membuka diri untuk mendengar pendapat dan pikiran orang-orang yang dipimpinnya. Pertemuan itu dilangsungkan secepatnya, setelah semua sarapan. Wakil juru mudi kapal induk, yaitu orang kedua setelah Wang Jing Hong, memberi tanda ke seluruh kapal dengan menggunakan bendera-bendera kecil supaya setiap kapal agak mendekat, dan dari kapal-kapal itu diharapkan perwira dan juru mudi masing-masing menyeberang ke kapal induk. Karena itu semua segera melaksanakan isyarat itu.

***

Ketika semua orang sibuk untuk memasuki ruang rapat, ada dua orang yang berlama-lama. Kedua orang ini malah berdiri beberapa saat di atas geladak, memperhatikan semua yang memasuki ruang rapat. Siapa lagi kedua orang itu jika bukan Dang Zhua dan Hua Xiong. Kedua binawah ini malah bergunjing di situ. Tapi kelihatannya pada keduanya telah muncul perbedaan pikiran. Hal itu sudah tampak sejak mereka melihat perkembangan-perkembangan yang kasatmata menyangkut kepemimpinan Ceng Ho. Bahwa Ceng Ho bukan hanya seorang laksamana yang tegas, tegar, kuat, dan cempiang sejati, melainkan juga seorang pemimpin yang telah menjalankan prinsip-prinsip demokratis tanpa mengenal deskripsi tentang
demokrasi dengan pendekatan akhlak, adab, budaya.
''Kira-kira bincangan apa lagi yang hendak diperkatakan Sam Po Kong dalam pertemuan ini?''
tanya Hua Xiong kepada Dang Zhua.
''Entah,'' kata Dang Zhua. ''Yang jelas, Wang Jing Hong mengalami hal buruk. Kasihan.''
''Kok kamu jadi cengeng begitu?''
''Apa maksudmu?''
''Untuk apa mengucapkan kata-kata piatu, kata-kata domba, kata-kata merpati. Kita berada di sini, jauh dari Tanah Air, sebab Liu Ta Xia berharap kita akan menjadi harimau, menjadi
singa, menjadi ular.''

''O ya?''
Pernyataan ini mengandung semacam sinisme.
''Ya.''
Pernyataan ini mengandung kemauan untuk meyakinkan diri sendiri dalam kadar yang mengandung keraguan tersamar.
''Kalau betul kita menjadi harimau, jadi singa, jadi ular, memangnya harimau, singa, ular punya tuan, punya majikan, punya juragan?''
''Apa maksudmu?''
''Mestinya kamu tahu maksudku. Harimau, singa, ular selalu hadir menuruti naluri masing-masing. Sedangkan kita, naluri kita tidak bebas, sebab kita hanya orang-orang suruhan Liu Ta Xia.''
''Lantas, apa itu artinya?''
''Pengabdian selalu harus dengan alasan. Kita mengabdi kepada Liu Ta Xia, tapi mengapa kita mengabdi, kita tidak pernah memerinci, atau paling tidak merenung, apa alasannya kita mengabdi. Apa yang kita peroleh dari pengabdian?''
Hua Xiong terbengong sesaat. Setelah itu dia berkata dalam keheranan yang idrak,
''Kelihatannya kamu berubah.''
''Waktu yang berubah, sahabatku,'' kata Dang Zhua. ''Dan di dalam waktu yang berubah, orang-orang yang cerdik mesti bersikap lentur mengenai perubahan.''

''Saya belum menangkap apa yang tersembunyi dalam kepalamu itu.''
''Kalau tidak salah, saya pernah rasan-rasan. Untuk apa lagi kita kembali kepada Liu Ta Xia?''
''Lantas?''
''Seperti orang-orang sipil yang lain, yang bertetap hati untuk memilih Jawa sebagai tanah air kedua. Di negeri leluhur kita hanya menjadi abdi Liu Ta Xia. Di sini kita bisa jadi tuan atas
para wana *). Sebab mereka dapat kita perkuda. Mereka masih sangat lugu. Mereka pun tidak pandai berniaga. Cara berpikir mereka pun sempit, tidak luas, sebatas bisa makan dan kumpul
bersama. Tapi justru di atas kekurangan mereka kita membangun kelebihan kita. Nah, pikirkan.''
''Entahlah.'' Dalam pernyataan ini ada kesan keraguan yang dihadirkan dengan pura-pura tidak peduli.
Namun betapapun pikiran-pikiran Dang Zhua telah mengusik hati Hua Xiong. Karena itu ketika duduk di sebelah Dang Zhua dalam ruang rapat di kapal induk itu, dia termangu, seakan rohnya terbang kian kemari.



***

Di ruang rapat itu semua sudah duduk menunggu. Mereka dapat meraba-raba dalam pikiran bahwa ada suatu hal yang galib berkembang dalam sebuah pelayaran, yang akan disampaikan Ceng Ho dalam pertemuan ini. Ceng Ho memulai percakapan di depan rapat dengan kata-kata yang membuat orang-orang itu tertegun sesaat, menalar-nalar sarinya.
''Daun-daun diterbangkan angin, menghampiri tanah, menjadi bumi. Sungai Yangcekiang menampung Sungai Cangjiang ke Laut Kuning merenda tanah, menghias bumi. Rajawali terbang perkasa di langit Kunlunshan, menukik ke Gobi, menggenggam tanah, mencium bumi. Bayang-bayang tanpa cahaya menyambung dari Palembang sampai Majapahit, di dalam tanah, dicari bumi, dan masih berlanjut kecandan dalam kertak gigi...'' Ceng Ho diam sesaat, memandang ke peserta sidang. Matanya tidak berkedip. Tampaknya dia menunggu salah seorang di antara peserta rapat yang boleh jadi akan mengajukan pertanyaan. Karena tiada seorang pun di antara mereka mengajukan pertanyaan, Ceng Ho yang sekarang bertanya. Katanya, ''Dapatkah kalian semua meraba apa yang tersimpan dalam pikiran dan perasaan saya?'' Hampir semua menjawab, ''Tidak.'' ''Itulah misteri hidup,'' kata Ceng Ho. ''Tidak seperti alam yang bergerak menurut alamnya, manusia bergerak menurut naluri dan nuraninya serta akal dan hatinya. Kita sudah merancang pelayaran kita sampai ke Bali dan terus ke utara sampai ke Ujungpandang, tapi alam yang bergerak menurut alamnya tidak dapat kita taklukkan dengan semata-mata kemauan. Di dalam kemauan masih ada pertimbangan-pertimbangan akal dan pertimbangan-pertimbangan hati yang menentukan ikhtiar. Mengapa hal ini menjadi demikian pelik? Sebab, kita tidak boleh bersikap remeh terhadap salah seorang di antara kita. Rombongan pelayaran kita ini haruslah dianggap sebagai suatu kulawangsa yang besar, yang dalamnya kita mesti merasakan kebenaran asas senasib sepenanggungan. Padahal salah seorang di antara kita yang saya maksudkan itu, yaitu Wang Jing Hong, kepala juru mudi kita sedang sakit. Dan, walaupun dia berkata sakitnya tidak serius, kita harus tetap menganggap serius. Jadi, dilema kita sekarang, kita harus terus berlayar ke timur atau kita harus tunda dulu, dengan memutar haluan...'' Sekonyong dari pintu muncul suara yang diucapkan dengan keyakinan yang tegar. ''Tidak! Kita tidak akan memutar haluan.'' Semua secara serempak mengalihkan pandangan ke pintu, melihat sosok yang berdiri di situ, dan kemudian berjalan ke dalam ruang rapat. Semua terkesima. Termasuk Ceng Ho. Sosok yang baru saja berujar itu, dan siap hendak berkata lagi kalimat susulannya, adalah Wang Jing Hong. ''Wang Jing Hong?'' kata Ceng Ho heran. ''Bukankah saya sudah berkata, sakit saya tidak serius?'' kata Wang Jing Hong dalam nada bertanya, menguji kesungguhannya sendiri. Lantas dia duduk. Sambil duduk di tempatnya, dia berkata, ''Jiwa pelaut adalah jiwa yang teguh terilhami dari batu karang di tengah samudra. Tidak ada gelombang, topan, atau pun angin lengkisau yang boleh memudarkan semangat pelaut. Sekali layar dikembangkan untuk mengarungi samudra, rahasia alam yang paling rahasia, tidak ada ancaman maut ataupun bahaya yang boleh memudarkan semangat, memundurkan kemauan. Sekali kita memutuskan untuk berlayar sampai ke Bali, tidak ada kamus yang sanggup mengganti kata tekad. Kita harus ke Bali. Mohon Sam Po Kong memahami ini.'' Ceng Ho bertepuk tangan. ''Saya sangat terkesan,'' katanya dengan takzim. ''Ayo, mari kita memberi salut kepada Wang Jing Hong. Hidup Wang Jing Hong!'' Dan semua pun mengikuti aba-aba Ceng Ho. ''Hidup Wang Jing Hong!''


***

Semua yang ikut rapat di dalam ruang khusus di kapal induk ini lantas plong, kembali ke
kapal masing-masing, meneruskan pelayaran ke timur sampai ke Bali.
Sebetulnya apa yang membuat Wang Jing Hong berkeras hendak berlayar sampai ke Bali?
Pasti dia akan menjawab tanpa ditanya oleh Ceng Ho. Mungkin besok dia akan berkata itu.
Mungkin pula lusa atau tulat atau tubin.

Yang penting, sekarang kapal sudah berlayar. Kapal induk di belakang. Kapal-kapal yang lain berada di kiri dan kanan melaju membelah laut. Percik-perciknya kelihatan berkilauan bagai intan permata berjuta termandikan cahaya berkilayan bagai intan permata berjuta termandikan cahaya matahari yang sedang berangkat ke tengah hari. Tapi biru masih perjanjian akan warna laut di bawah, langit di atas.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #129 on: 27/08/2008 11:41 »
EPISODE ENAM

Lagi, mari kita kembali ke Simongan, Semarang, di kelenteng yang halaman depannya diparkir bus AC dari Jakarta, dengan anak-anak sekolah yang asyik mendengar kisah sang Tukang Cerita yang tiada lain adalah guru sejarah dari sebuah SD di bilangan Jakarta Barat, wilayah yang selalu, setiap tahunnya menerima berkat sekaligus kutuk karena banjir yang menggenangnya. "Begitulah kisahnya, anak-anak, betapa Sam Po Kong itu seorang pemimpin yang telah mempraktekkan demokrasi, walaupun ia sendiri mungkin belum pernah mendengar tentang demokrasi," kata sang Tukang Cerita. Murid yang selalu bertanya duluan dan karenanya boleh dianggap dirinya kritis, bertanya pula akan apa yang baru diutarakan oleh sang Tukang Cerita. Katanya, "Apa maksudnya 'telah mempraktikkan demokrasi walaupun ia sendiri mungkin belum pernah mendengar tentang demokrasi'?" "Begini lo," kata sang Tukang Cerita. "Demokrasi itu sebetulnya baru benar-benar kita pelajari di sekolah, setelah Belanda menjalankan politik etis, dan dari situ lahir gerakan kebangkitan nasional." "Lalu, bagaimana bisa Sam Po Kong dikatakan telah mempraktikkan demokrasi? Memangnya apa itu demokrasi?" "Demokrasi itu gampang dibuat deskripsinya, tapi tidak gampang dibuat definisinya." "Lo, kok begitu sih?" "Untuk menjawab itu, lihat saja keadaan Indonesia sekarang. Katanya kita ini negara demokrasi. Tapi nyatanya yang lebih tepat adalah sebetulnya 'demon'-'crazy'. "Apa itu, Pak?" "Ya, demon dari bahasa Latin artinya setan atau iblis, sedangkan crazy bahasa Inggris artinya gila." "Jadi, maksud Bapak, Bapak ingin bilang pemimpin-pemimpin Indonesia sekarang ini 'setangila'." "Bukan 'ingin bilang' tapi sedang berkata," kata sang Tukang Cerita. "Coba saja kamu lihat keadaan sekarang ini. Mula-mula Ketua DPR, lantas sekarang Jaksa Agung. Mereka tidak malu melakukan kebohongan publik. Padahal, bukankah dusta kepada rakyat boleh diartikan dosa kepada Tuhan? Tapi, apa mau dikata, pemimpin-pemimpin Indonesia sekarang ini sudah kesetanan, kerasukan iblis. Tuhan mereka adalah uang." "Lo, kok begitu, Pak?" "Ya," kata Tukang Cerita. "Kalau benar mereka bertuhan, sesuai dengan sila pertama Pancasila, dan sesuai pula dengan sumpah semua pejabat ketika mereka diangkat, maka mestinya mereka takut kepada Tuhan, sebab mereka sudah berdusta kepada rakyat. Pemimpin-pemimpin Indonesia sekarang, entah yang legislatif atau pun entah yang eksekutif, serta entah yang yudikatif, setali tiga uang: tidak lagi melihat apa yang masih diinsafi oleh rakyat, yaitu nisbah antara dusta dengan dosa. Kalau mereka masih menginsafi itu, dan memiliki sebiji sesawi saja nurani, niscaya mereka malu dan lekas-lekas mengundurkan diri." "Mungkin saja mereka tidak punya malu, Pak." "Mungkin," kata Tukang Cerita, "Tapi, yang jelas mereka masih punya kemaluan." "Huh, repot banget. Malu kagak diurus, kemaluan malah terus diurus." "Itulah beda pemimpin zaman sekarang dari pemimpin zaman dulu, zamannya Sam Po Kong.
Tokoh kita ini, Sam Po Kong, adalah benar-benar pemimpin teladan. Dalam episode yang lalu kalian sudah menyimak cerita saya mengenai kesejatiannya sebagai pemimpin yang demokratis itu..."
"O, ya, Pak, terus bagaimana? Setelah kapalnya berlayar ke timur, bagaimana kisah selanjutnya? Apa mereka akan tiba di Bali juga, sesuai keinginan Wang Jing Hong?"
"Nah, dengarlah baik-baik cerita selanjutnya."
Dan sang Tukang Cerita pun menceritakannya

***


Dalam pelayaran ke timur Ceng Ho mampir dulu di Lasem dan Tuban sebelum Gresik, Surabaya, dan Mojokerto. Khususnya Tuban, pada masa itu telah menjadi pelabuhan paling ramai. Sebelum Lasem menjadi kota Cina yang tua, Tuban telah lebih dulu dikenal luas. Di sinilah pada tahun 1293, sekitar 20.000 tentara Cina *) mendarat. Sebagian yang tidak pulang lagi ke Cina lantas hidup sebagai sipil dengan pelbagai usaha di sini dan sebagian kota pesisir lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka pun menjadi orang-orang yang sukses di situ. Dengan mengambil perempuan-perempuan pribumi sebagai istri-disebut ca bau kan-maka lahirlah turunan Cina peranakan-disebut kiau seng-tapi setelah berjalan dua generasi berubah menjadi Tionghoa. Mereka adalah gambaran asasi dari pengertian kerukunan. Orang-orang Cina itu berbaur karib antara yang beragama Han San Wei Yi yang merupakan sinkretisme antara Tao-Buddha-Konghucu, dengan orang-orang Cina turunan Hui Hui yang telah pula menjadi bangsa Han yang rata-rata muslim seperti kulawangsa Ceng Ho sendiri, serta pribumi Jawa yang beragama sinkretisme Hindu-Buddha Kebetulan, ketika kapal-kapal Ceng Ho tiba di Tuban, itu bertepatan dengan tanggal 27 bulan 8 Imlik, yaitu hari lahir pemimpin spiritual bangsa Cina yang sangat besar dan dikagumi meluas-oleh penganutnya disebut "nabi"-Kong Kiu atau Tiong Ni yang kemudian lebih dikenal sebagai Kongcu atau Konghucu. Karuan semua orang Cina di Tuban, bukan hanya yang menganut Konghucu, menyambut perayaan ini dengan ramai, suka cita sekaligus khusyuk, mulai saat tiam-hio *), kemudian berlanjut melakukan sajian sembahyang pada bausi **), dan sampai perayaannya yang khas pada ci-si ***).
***
Di antara perwira-perwira dalam misi muhibah Ceng Ho yang langsung merayakan Ci Sing Tan ****) ini, tentu saja Ci Liang, yang memang merupakan bagian dari orang-orang Konghucu. Dengan tertib Ci Liang mengikuti upacara, mulai dari nyanyian-nyanyian bakti. Yang paling menarik lagu bertajuk "Wi Tik Tong Tian" di saat menaikkan surat doa, dan lagu "Tian Po" di saat membakar surat doa. Sebelum itu diuraikan terlebih dulu pendeta Konghucu yang sudah lama diam di Tuban, tentang sejarah Konghucu. Sebelum menguraikan sejarahnya, sang pendeta berkata, "Mengapa kita perlu mengulang kisah kehidupan Konghucu? Sebab manusia memiliki sejarah. Kita yang hidup hari ini merupakan kelanjutan dari kehidupan masa silam dan tidak lepas dari kehidupan di masa datang." Usai menguraikan sejarah Konghucu yang lahir di sebuah desa bernama Ciang Ping, wilayah Lo, jazirah Han Tung, lembah Kong Song, ada lagi nyanyian-nyanyian ritus yang dimadahkan dengan khusyuk, dan Ci Liang tetap tertib di situ. Tapi mesti juga dikatakan, bahwa kedua orang upahan Liu Ta Xia-yang salah seorang kelihatannya sedang berubah, menimbang-nimbang dengan nalar-yaitu Dang Zhua dan Hua Xiong, ternyata ada juga di antara umat Konghucu. Apa yang mereka peroleh dari sebuah kebaktian? Pasti keduanya tidak sama. Nanti sekeluar dari ibadah ketidaksamaan itu akan lebih jelas terucapkan oleh bibir mereka masing-masing.



******
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #130 on: 27/08/2008 11:54 »
Pada malam hari, tak jauh dari kelenteng yang sederhana, kelihatan Dang Zhua dan Hua Xiong berbincang hal yang belum tuntas, dan tidak pernah akan tuntas sebelum kata-kata diwujudkan dengan perbuatan. Apa pasal?

"Tanah Jawa ini begitu kuat memanggil rohku membumi di sini," kata Dang Zhua.
"Jangan ulangi omong kosongmu itu," kata Hua Xiong.
"Mungkin sekarang memang masih omong kosong. Tapi satu waktu, ketika aku memutuskan untuk mewujudkan kata-kata menjadi perbuatan, maka percayalah, omong yang kosong akan berubah menjadi omongan yang berisi."
"Jangan macam-macam."
"Tidak sahabatku. Aku justru makin kuat berpikir untuk melakukan satu saja macam tindakan untuk menggantungkan rohku di atas bumi Jawa ini."
"Mencla-mencle. Bagai air di daun talas. Pekan lalu kau masih menggagas tentang membangun kelebihan Cina di atas kekurangan Jawa. Sekarang kau berubah lagi seakan-akan menjadi seorang yang lebih dari moralis. Apa kau kesurupan?"
"Terserah kau mau bilang apa," kata Dang Zhua. "Yang jelas, apa yang ada dalam pikiranku, harus aku nyatakan dengan jujur."

"Kejujuran ular ada dalam alamnya melungsung."
"Apa hubungannya?"
"Ular boleh saja melungsung beratus kali, tapi kodratnya tetap ular. Tidak mungkin ular menjadi merpati. Kelihatannya kau sedang menjadi lembek seperti merpati."
"Ya," Dang Zhua bersemangat. "Barangkali sebab menjadi ular, walaupun di saat-saat tertentu melungsung mengganti kulit yang baru, sarana hidup dalam kutukan: hanya berjalan di dalam
kalam, melata di semak dan belukar.
Dengan menjadi merpati, aku bisa terbang, melihat bumi dari jarak yang lebih jelas, lebih terbuka, lebih asli."
"Kau bisa berceloteh seenaknya begitu, sebab kau tidak merasakan pengalaman menjadi pemain pura-pura."
"Yang mana?"
"Ingatkah kau siapa yang pura-pura terpenjara untuk membebaskan Zhu Yun Wen? Aku!"
"Kehidupan memang harus selalu begitu. Dalam kehidupan kita bisa bercerita tentang pengalaman yang menyedihkan di masa lalu, mengira dengan begitu takkan ada lagi pengalaman lain yang mungkin lebih pelik di masa depan sana: pekan depan, bulan depan,
tahun depan. Percayalah, setiap waktu ada kepelikannya masing-masing."
"Percayalah juga, 'khutbah'-mu tidak akan mengubah pikiranku. Mesti kau ketahui, shio-ku sendiri ular."
"Lantas kehebatan apa yang kauharapkan dariku untuk memujimu?"
"Aku tidak butuh pujianmu. Aku hanya ingin berkata cara berpikirku tidak bimbang.
Kebimbangan selalu membawa risiko mawut. Bagiku nasi goreng ya nasi yang digoreng, mi goreng ya mi yang digoreng. Nasi dan mi digoreng bareng-bareng itu namanya mawut. Orang yang bershio ular seperti aku selalu berpikir tertib, yang satu tetap satu, tidak mawut."

"Ya sudah, ambil, bungkus. Begitu saja kok mecucu."
Kelihatannya memang mereka sedang berpikir beda.


********



Dan, sungguhpun salah seorang di antara orang upahan Liu Ta Xia ini berpikir beda, dan galib di Timur orang-orang yang berpikir beda: jika dalamnya ada kemauan untuk untuk bertahan, dan ngotot, memang sering berujung dengan suasana tidak senang. Tapi boleh dikata tumben juga kedua orang, yang bisa saling tidak senang, toh merasa senang saja berada di kota pelabuhan ini. Tuban terasa menyenangkan. Di kota ini rombongan Ceng Ho berdiam cukup lama. Karena itu perkenalan dengan rakyat di lingkungan kota ini lumayan pula akrabnya. Pasar digelar di depan laut. Orang-orang pun ramai berdatangan ke sini. Orang dari sekitar Tuban dari Plumpang, Babat, Wedang, Bojonegoro, ramai-ramai datang berdagang di pasar yang digelar di tepi pantai.


***


Di jalanan tanah menuju ke baratlaut, sekitar 10 kilometer sebelum Jembel, ada sebuah padepokan kecil yang dibangun oleh seorang dai asal Cina yang sangat lancar bercakap Jawa.
Dai itu bernama Giok Gak. Tapi orang-orang di Tuban lebih suka menyebutnya Ki Anom.

Dia masih muda, kira-kira baru berjalan 30 tahun, tapi janggutnya memanjang sampai ke perut.
Mengetahui Ceng Ho adalah seorang muslim, dia berjalan kaki dari padepokannya, menemui Ceng Ho. Dia berjalan bererot dengan lima orang muridnya. Setiap murid membawa delupak, berhubung hari baru lepas magrib.

Kepada Ceng Ho, dia memberi salam sebagaimana lazimnya muslim. Dan Ceng Ho pun membalas dengan salam yang sama.

Begitu duduk bersila di hadapan Ceng Ho, Ki Anom langsung menyatakan apa yang ada dalam hatinya. Katanya, "Saya harap Anda jangan buru-buru meninggalkan Tuban. Umat membutuhkan Anda di sini. Ada masalah besar yang sedang mengguncangkan keyakinan para mualaf di sini."
Terkerut dahi Ceng Ho. "Memangnya ada apa?" tanyanya.
"Di Ngimbang ada seorang bekas punggawa yang dipecat dari pusat kerajaan di Majapahit, yang memiliki kekuatan sihir. Dia memanfaatkan kekuatan sihir itu untuk melecehkan iman
para mualaf."

"Apa yang dia lakukan dengan sihirnya itu?"
"Banyak. Dia bisa membuat memedi, genderuwo, dan ular kepala tiga. Pendek kata, ontran-ontran yang dibuatnya benar-benar mengancam iman para mualaf."

Ceng Ho terdiam sesaat. Setelah itu dia menatap tajam ke muka Ki Anom. "Apa betul?"
"Murid-murid saya ini semua dapat memberikan saksinya."
"Aneh," kata Ceng Ho. "Kelihatannya rakyat di sini sangat rukun."
"Bagi kami, di antara sesama Tanglang, memang ya. Tapi di luar itu adalah api di dalam sekam."

Ceng Ho mengangguk-angguk. Dia pandang ke sekeliling. Di sekelilingnya terlihat semua perwiranya, termasuk Wang Jing Hong, Wu Ping, serta Dang Zhua dan Hua Xiong.

"Ini sebuah tantangan baru lagi," kata Wang Jing Hong.
"Kelihatannya keadaannya sama dengan yang di Cirebon itu," kata Wu Ping.
Ceng Ho tidak berkata apa-apa. Dia diam beberapa jenak, mengarahkan potensi rohaninya
untuk menimbang-nimbang. Setelah jeda sekian kejap, berkatalah Ceng Ho dengan sungguh, "Saya akan bantu Anda."

"Terima kasih," kata Ki Anom.
"Walakin, tentu, saya akan minta pendapat Wang Jing Hong dan perwira-perwira saya. Perlu Anda ketahui tentara kami membawa amanah perdamaian, silaturahmi antara manusia dan manusia. Walaupun di dasar ikhtiar pelayaran ini ada kepentingan politik kekaisaran Ming, percayalah, yang kami emban adalah sekali lagi kemanusiaan. Maka tidak ada jurang prasangka kebangsaan, tidak ada pula jurang prasangka agama. Benar, prajurit-prajurit saya ini banyak yang muslim, tapi di samping itu banyak juga yang Han San We Yi." "Tapi, bagaimana jika di balik ontran-ontran yang dilakukan bekas punggawa itu, atau katakanlah saja dia itu dukun, adalah upaya jahat untuk melawan dan melecehkan agama?" "Mari kita melihat dari sudut lain." "Sudut apa?" "Bukankah semua agama baik? Nah, pasti latar belakang dukun itu bukan agama. Mari kita melihat itu sebagai pekerjaan iblis atau setan. Dengan itu kita mengerti siapa lawan kita." Siapa sebetulnya punggawa yang mengganggu kepercayaan umat dengan sihir-sihirnya itu? Orang menyebutnya Naranatha Nastika - harfiahnya berarti ''raja yang tiada bertuhan''. Beda dari raja-raja umum yang beristri banyak, Naranatha Nastika tidak beristri. Kepercayaan yang dipegangnya mengisyaratkan bahwa perempuan dalam kehidupan seorang Naranatha Nastika dapat menumpulkan kesaktian. Sebagai ganti perempuan, dia memelihara banyak lelaki muda yang dijadikannya gemblakan. Karena itulah Naranatha Nastika mesti dibilang sebagai seorang nggemblak, yaitu lelaki yang mencari kepuasan badani dari sesama lelaki. Kendati dia dikelilingi oleh gemblakan berpuluh-puluh, tetap ada seorang perempuan yang dipatuhi Naranatha Nastika. Perempuan yang disebut ini juling, sudah setengah tua, berambut panjang terurai dan menjerungkau, kelihatannya tidak pernah keramas, dan baunya antara kemenyan, dupa, dan wangi-wangian yang menajam di hidung. Kepada perempuan ini Naranatha Nastika bukan hanya patuh, melainkan juga nyaris seperti menghamba kepada ajaran-ajarannya. Tak salah, perempuan itu adalah seorang cenayang. Dialah yang harus dikatakan mengendalikan pikiran-pikiran jahat Naranatha Nastika. Lantas, mengapa simbol gagasan gagasan lancung dalam pikirannya? Apakah itu berkait dengan tujuan politik, ekonomi, atau sosial sebagaimana lazimnya orang melakukan teror? Tidak! Ternyata Naranatha Nastika melakukan teror, mengganggu kepercayaan orang, semata-mata karena keasyikan yang sangat dinikmatinya untuk melakukan kejahatan dan menyaksikan orang lain celaka, rugi, menderita, sengsara, mati. Pikiran-pikiran yang jahat itu mukim dalam dirinya sebagai bagian dari kodratnya dalam tubuh roh dan jiwanya. Benar sangkaan Ceng Ho bahwa Naranatha Nastika melakukan kejahatan bukan berlatar perbedaan keyakinan religius yang pada masa itu boleh dikaji sebagai distorsi dalam pertemuan dan perlintasan etnis yang melibatkan agama. Naranatha Nastika melakukan kejahatan semata-mata - sebagaimana kata Ceng Ho kepada Ki Anom - sebagai perpanjangan tangan iblis dan setan belaka. Maka jika Ceng Ho kelak terpanggil menolong mengatasi keluh kesah Ki Anom, dia akan bertindak sebagai orang yang percaya terhadap orang yang tidak percaya akan kuasa ilahi.


***


Sore menjelang malam, tatkala langit di barat memerah tanda bahwa matahari sebentar lagi pamit kepada tanah air, tampak Naranatha Nastika memperhatikan penuh akan kerja cenayangnya yang perempuan dengan bau aneh itu. Perempuan itu - dipanggil Gawok, dari bahasa Kawi yang berarti ''mengherankan'' - sedang memegang tongkat yang dipakainya untuk mengulak-ulak dasun *) seraya komat-kamit membaca mantra tertentu. Setelah itu Gawok bertanya kepada Naranatha, ''Nah, apa yang kauharapkan dari mantra ini?'' ''Bikin dia kejet-kejet sepanjang hari sebelum mampus. Ki Anom itu terlalu sombong. Padahal dia bukan pribumi.'' ''Kau tidak ingin saya bikin dia langsung mati saja ditelan bumi?'' tanya Gawok. ''Jangan. Jangan terlalu cepat. Biar bumi ini menyiksanya terlebih dahulu. Maka coba kauserap tenaga bumi; buatkan angin puting beliung, hujan kerikil, dan gempa bumi di sekitar
tempatnya. Sanggupkah kau?''

''Itu sepele sekali Naranatha,'' jawab Gawok.
''Kalau begitu lakukan.''
''Aku memang sedang melakukan.''

Lalu Gawok berkomat-kamit lagi. Tampak benar keinginan menjadi pemenang. Berangsur, setelah mulutnya komat-kamit, kini berlanjut dengan tubuh yang celedang-celedok mengelilingi ruang, akhirnya di ambang pintu dia menyemburkan ludahnya ke arah utara dengan kata-kata yang tidak dipahami Naranatha dan mungkin olehnya sendiri.

Setelah itu Naranatha terperanjat. Gawok lemas, bagai kehilangan tulang, tumbang di lantai.

Naranatha cepat berdiri dari silanya dan menarik lengan Gawok untuk duduk di lantai itu.

''Kenapa?'' tanya Naranatha.
''Entah,'' jawab Gawok. ''Tapi roh yang kukirim ke sana agaknya sedang bertempur untuk menembus lapisan antarala **) yang mengubu tempatnya.''
''Apa maksudmu 'bertempur'?''
''Sama seperti pengertianmu. Yaitu beradunya manomaya ***) dan manomaya di bawah wahyasarira ****) dan wahyawarira.''
''Jika begitu, harus ada yang kalah dan yang menang,'' kata Naranatha dengan mulut melengkung. ''Jangan coba-coba kau mengatakan roh yang kaukirim bertempur itu kalah.''
''Percayalah.''
Naranatha tersenyum. Yang dia lakukan adalah menghibur-hiburkan dirinya dengan harapan kering.

Teruskah Naranatha berharap seperti itu?
Naranatha telah kerap mencaring. Dia tidak akan berhenti menyuruh cenayang upahannya itu terus bermain, memainkan perannya, mempermainkan nasib orang, dan dia menikmati kecelakaan orang dengan sukaria.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #131 on: 27/08/2008 12:07 »
Walau gelap, karena matahari telah terbenam di barat sana, kelihatan juga gumpal awan mirip sebuah pohon beringin besar berputar-putar di atas padepokan Ki Anom. Disertai dengan angin yang menggemuruh seru kelihatan putaran awan itu jatuh ke atas halaman padepokan Ki Anom. Atap ilalang yang menutup bangunan yang di tengah-tengah terangkat dan terbang sejauh seratus meter dan jatuh di sana. Orang-orang di padepokan itu berlari tunggang langgang dan terbirit-birit dibayangi ketakutan. Mereka mendatangi bangunan paling belakang, tempat tinggal Ki Anom, memanggil-manggil nama Ki Anom tapi tidak keluar. Dia masih bercakap-cakap serius dengan Ceng Ho.


***


Ki Anom berbesar hati sebab sebelum ia berpisah dengan Ceng Ho, dengan teguh Ceng Ho berkata, "Kalau sampai sihirnya merusak umat, membimbangkan mualaf yang Anda asuh itu, percayalah kami akan membantu Anda di jalan Allah. Segalanya di jalan Allah tiada yang mustahil. Kita akan perangi kuasa iblis itu."

"Terima kasih," kata Ki Anom. "Anda telah menguatkan rasa percaya diri saya."
"Yang mendasar perlu terus kita ingat, bahwa Islam harus membawa damai."
"Itu betul," kata Ki Anom. "saya akan mengingat-ingat itu dan akan menanamkan di hati
sanubari cantrik-cantrik saya."
Ceng Ho menepuk dan menjabat tangan Ki Anom lalu merangkulnya sebelum mereka

berpisah. Kata Ceng Ho, "Pulanglah ke padepokan Anda dengan damai. Kembangkan cantrik-
cantruik Anda itu menjadi santri-santri yang berguna pada sejarah masa depan negeri ini.
Sebagai bangsa yang lebih dulu mencapai tingkat peradaban dan kebudayaan yang lebih maju, kita harus menjadi guru atau suhu *) bahkan sampai sunan **) bagi bangsa yang menurut kita berada di bawah kita."
Ki Anom mengangguk-angguh. "Pasti."



***

Ki Anom tidak menduga setiba di padepokannya, pada malam yang telah larut, didapatkannya beberapa orang cantriknya tergeletak di depan pagar padepokannya. Dia langsung berlutut, memegang kepala cantriknya-cantriknya yang telah menjadi mayat itu. Dia sudah berjanji akan membantu kita. Beliau juga muslim yang takwa." Lotik menarik napas dan mengembuskannya kuat-kuat tanpa berkata sepatah pun. Dan walaupun tanpa berkata-kata apa-apa, dari sikapnya Ki Anom melihat sesuatu yang menunjukkan rasa kebimbangan yang membuatnya doyong nyaris hilang rasa percaya diri dan tergelincir dalam sikap ranyang. Melihat hal itu Ki Anom bertanya singkat, berharap Lotik dapat memberi jawaban yang pasti, "Kenapa kelihatan ragu?" "Tidak apa-apa," jawab Lotik. Tetapi Ki Anom dapat meraba dengan indranya bahwa Lotik tidak bicara apa adanya sesuai dengan perasaan yang berkucak dalam dirinya. "Tidak," kata Ki Anom. "Tidak mungkin jawabanmu begitu sederhana. Pasti ada apa-apanya. Katakanlah. Kau adalah cantrik teladan. Ketika saya berangkat ke Tuban tadi, saya memercayakan padepokan ini kepadamu. Saya percaya pada kamu, sebab selama ini kamu paling maju, ilmu dan imanmu."

Setelah mengembus napas dari tarikan panjang, berkatalah Lotik dengan ragu, sama terputus-putusnya seperti ketika menyampaikan tentang angin yang membawa awan bulat itu. Katanya, "Ya, Ki Anom, rasa-rasanya ada kebimbangan dalam hati saya."

"Perasaan yang disimpan di dalam hati selalu membuat manusia mendekam di dalam kegelapan yojana kebebasan jiwa," kata Ki Anom. "Bicara sama dengan membebaskan hatidari kegelapan itu."
Lotik menatap wajah Ki Anom. Dari tatapan itu saja telah kelihatan kerincuan akan pembebasan atas pelbagai masalah yang saling silang dalam hatinya, yang membuatnya
bercakap terputus-putus seperti itu.
"Ya, Ki Anom," katanya setelah itu. "Ini menyangkut ketakwaan yang Anda katakan tadi."
"Ya?" kata Ki Anom mempersilakan Lotik meneruskan kalimat yang meragu.
"Rasa-rasanya saya sudah takwa..."
"Teruskan."
"Apakah dengan ketakwaan itu kita menghadapi Naranatha?"
"Tentu."
"Bukankah dalam menghadapi serangan musuh kita tidak semata-mata menangkis, tapi juga
melawan?"
"Tepat sekali. Melawan itu berarti juga mengimbangi serangan dengan serangan. Itulah asas
sejati dari arti peperangan."
"Tapi apa yang bisa kita lakukan sekarang, sementara hari ini serangan yang datang ke tempat kita telah memorak-porandakan tempat kita ini? Padepokan kita ini, bangunan inti, masjid,
dan rumah Anda."
"Apa?" Ki Anom terkinjat.
"Ya, Ki Anom," kata Lotik menekankan agar keterangannya itu dipahami. "Lihat saja sendiri."

Ki Anom pun segera melangkah ke dalam hendak menyaksikan apa yang dikatakan Lotik.



*****
Lotik merasa memiliki kelancaran lewat mulut untuk berkata-kata.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #132 on: 27/08/2008 17:53 »
Kini mereka berada di depan masjid. Betapa sedih perasaan Ki Anom melihat kerusakan itu. Dia tercengung pula. Oleh kelancaran yang kini baru muncul di mulutnya, Lotik berkata datar seakan meminta pembenaran atas pikirannya yang meragu. "Agaknya ini musibah alam, Ki Anom," kata Lotik. "Kau masih tidak percaya bahwa ini pekerjaan setan?" kata Ki Anom menjawab pertanyaan Lotik. Lotik tidak menjawab dengan kata-kata khusus atas kalimat tanya Ki Anom itu. Dia hanya memandang wajah Ki Anom dengan pengharapan penuh. "Ya, kelihatannya ini musibah alam," kata Ki Anom. "Sihir sebagai pekerjaan iblis dan setan memang dapat memanfaatkan alam, sehingga orang bisa mengira ini musibah alam. Tapi percayalah, ini pekerjaan setan iblis. Dan orang yang bermain-main sebagai sekutu iblis itu tidak lain Naranatha. Naranatha tidak percaya Tuhan. Hanya orang-orang yang tidak percaya Tuhan yang selalu mudah diperalat iblis untuk merusak tempat suci, tempat sembahyang." Lotik termangu. Mungkin dia memahami apa yang diperkatakan Ki Anom. Mungkin juga dia tidak mudah masuk dalam alur pikiran Ki Anom. Soalnya dia melihat apa yang disebutnya tadi sebagai "angin yang membawa awan bulat, terpusing-pusing menimpa atap, dan atapnya ikut terbang ke sana" dan "dahsyat, mengerikan, berdiri bulu kuduk". Ki Anom pun memahami itu. Karena itu beberapa saat kemudian, sambil menyalakan jamung di sudut-sudut padepokan, dia berkata, mengajak cantrik nya, "Lebih tepat kita berzikir." Dan mereka berzikir terus sampai larut malam, sampai jamung di sudut-sudut padepokan itu padam.
***
Pagi keesokan harinya kembali pasar di Tuban meramai lagi. Anggota-anggota pelayaran Ceng Ho membawa barang-barang dagangan menggunakan jalibut. Barang yang diturunkan dari kapal memanfaatkan jalibut, dan barang-barang yang dibeli dari Tuban pun diangkat ke kapal dengan jalibut. Setiap pagi kesibukan ini mengisi hari-hari anggota ekspedisi Ceng Ho. Setelah hari Jumat, Ceng Ho pula yang berkhotbah Jumat di lapangan tempat pasar diselenggarakan. Ini hari Jumat indah dalam pelayaran di Laut Jawa yang kebetulan kapalnya disauhkan. Nanti Ceng Ho akan berkhotbah lagi di Semarang ketika kapal disauhkan karena Wang Jing Hong sakit.  Khotbahnya Jumat ini didengar banyak orang. Ada juga Ki Anom. Dan abdi Wikramawardhana yang ditugaskan menghadap pada Kaisar Ming juga mendengarkan dari luar jamaah. Kelihatannya dia amat tertarik isi khotbah Ceng Ho. Ceng Ho membuat kias menarik. Sebagai orang Cina, dari kelas pemimpin sejati, yang antara lain membaca karyakarya sastra Cina, dan dia ketahui bahwa karya sastra Cina merupakan wilayah antara filsafat, keindahan, dan pengetahuan kebajikan, Ceng Ho berkhotbah dengan mengambil kias dari petikan sastra Cina. Dan, hebatnya nilai kebajikan, yang mesti dikatakan universal, dalam sastra Cina sangat dipengaruhi oleh Han San Wei Yi antara akhlak dan susila ajaran Konghucu, Tao, dan Buddha. Kerangka khotbahnya Jumat ini tentang firman Allah kepada Ibrahim sesuai dengan ayat Alquran, Ash-Shaffat 110, ''Kadzaalika najzil muhsiniin - Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.'' Dalam menerangkan tentang perikop kesalahan Nabi Ibrahim itu, Ceng Ho membuat beberapa ilustrasi dari sumber sastra Cina yang kaya pengetahuan kebajikan tersebut. Dia mengambil kisah tentang Feng Shen Yen I *) yang merupakan karya sastra dari masa Dinasti Ming. Sebuah dialog dari prosa itu dikutip Ceng Ho dalam khotbahnya. Katanya, ''Di Cina ada cerita tentang tukang potong kayu bernama Wu-Ci dan tukang pancing ikan bernama Fei-Siung. Dalam bahasa Cina, Fei-Siung berarti 'beruang terbang'. Sudah lama dia memancing tapi tidak pernah mendapat ikan. Maka Wu-Ci menarik kail Fei-Siung. Tahukah apa yang terjadi? Kail Fei-Siung itu tidak melengkung sebagaimana lazimnya, tapi hanya sebuah logam lurus mirip paku saja. Maka tertawalah Wu-Ci melihat kedunguan Fei-Siung. Lantas apa kata Wu-Ci? Inilah yang menarik. Kata Wu-Ci kepada Fei-Siung: 'Kebijaksanaan bukan hanya ada dalam manusia yang berusia lanjut. Jika seseorang bodoh, maka ia akan tetap saja bodoh kendatipun usianya mencapai seratus tahun. Hai, Fei-Siung, dengan caramu mengail dengan pancing yang lurus begini maka sampai seratus tahun pun kau tidak berhasil mendapatkan seekor ikan.' Mengapa ilustrasi ini penting dalam pembahasan kita tentang Nabi Ibrahim? Nabi Ibrahim itu bijaksana, ketika suara Allah datang kepadanya untuk pergi ke barat, ia telah memiliki akal yang luar biasa, yaitu kepatuhan dan kesalahan untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Sebelum itu, ketika Ibrahim mengobrak-abrik patung-patung berhala, padahal ayahnya pembuat patung berhala, orang-orang hendak membakarnya di atas tumpukan kayu. Tapi, adalah kepatuhan dan kesalehan, yang merupakan kurnia akal bagi orang yang percaya dan orang yang berakal, maka Allah memenangkannya, mengalahkan orang-orang itu. Yang hendak saya katakan dengan ini adalah kebijaksanaan selalu menyertai orang yang saleh, orang yang takwa, orang yang beriman.''

 
***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #133 on: 27/08/2008 18:00 »
Diam-diam abdi dalem Wikramawardhana menyerap khotbah Ceng Ho. Karena dalam menyerap ada perasaan suka, tapi juga perasaan ini berbaur dengan perasaan asing, nanti dia bakal bertanya kepada Ceng Ho. Abdi itu menemui Ceng Ho pada malam setelah Ceng Ho selesai bersalat. Dia menjadi sangat sopan kepada Ceng Ho. Sambil membungkukkan badan melebihi yang lazim dilakukan orang, dia berkata, ''Apakah saya mengganggu Anda?'' ''Mengganggu?'' kata Ceng Ho balik bertanya, ''Tentu tidak. Ada apa?'' ''Saya berada di luar jamaah pada siang tadi, tapi saya mendengar dengan baik apa yang Anda khotbahkan.'' Ceng Ho mengangguk. Dia tersenyum. Dengan itu dia memberi kesempatan pada abdi itu untuk meneruskan kata-kata yang hendak disampaikannya. ''Saya tertarik pada pernyataan Anda yang menghubungkan antara kebajikan dan kebijakan dengan kesalehan dan ketakwaan...'' Ceng Ho langsung menimpali. ''Dan itu berhubungan dengan akal, dan akal adalah karunia ilahi.'' ''Saya bingung.'' ''Kenapa bingung?'' ''Bagaimana saya menghubungkan hal itu semua dengan keputusan-keputusan Anda yang serbamengejutkan dan sulit dijangkau akal saya.'' ''Misalnya soal yang bagaimana?'' ''Begini. Ketika Anda memutuskan berlayar ke timur, setelah meninggalkan keraton Wikramawardhana di Mojokerto, saya membayangkan akan tiba di Bali pada pekan berikut. Tapi ternyata Anda mengarahkan kemudi untuk kembali ke barat, dan sekarang kita berada di Tuban.'' Ceng Ho tertawa senang. ''Itulah bagian dari kebijaksanaan ciri manusia untuk tidak menjadi bodoh seperti Fei-Siung. Hanya manusia yang bisa berencana dan bisa mengubah rencana.'' Abdi itu bengong sebentar. Setelah itu dia mengaku, "Saya sulit mencerna itu. Seperti Anda ketahui, saya abdi dalem yang dijadikan pengawal yang bersenjata. Sebagai angkatan bersenjata saya harus memutuskan dengan tepat supaya tidak mengubah keputusan yang sudah ditetapkan." "Pikiran dan perasaan manusia bukanlah kembaran jamadat," kata Ceng Ho. "Jadi, apa itu artinya?" "Hanya jamadat yang tidak bergerak. Padahal, yang menarik dari pikiran dan perasaan manusia adalah karena sewaktu-waktu ia berubah menyesuaikan keadaannya dengan waktu yang berubah." Abdi itu mencoba meresapkan kata-kata Ceng Ho. Pikirannyameloncat-loncat. Antara lain, dia mengingat akan keberadaannya di kapal Ceng Ho sebagai wakil Wikrawardhana untuk menghadap Kaisar Ming. Sebelum itu, ketika dia menjadi pengawal di istana, melihat sendiri bagaimana Wikramawardhana yang disebut Wikrawardhana itu menikam Tunggul Petak. Setelah itu dia pula yang melakukan penjagaan terhadap raja dan menyerang Ceng Ho di depan singgasana rajanya. Toh sekarang dia menyadari sendiri bahwa betapa banyak hal yang belum diketahuinya yang ternyata dipunyai oleh pemimpin semacam Ceng Ho. Maka masalah berikutnya, setelah dia terpaksa mesti berpikir dengan sulit karena keterbatasannya, namun juga karena kelebihannya dalam perasaan sebagai seorang yang berlatar wiraswara -yang artinya memiliki kemampuan menimbang-nimbang suasana batin dalam keindahan seleh (istilah karawitan untuk pengertian jatuhnya tel pada akhir larik lagu atau cengkok lagu- adalah menyangkut ilustrasi yang diacu Ceng Ho dalam khotbahnya itu. "Ada lain hal lagi yang membuat saya bingung," katanya.
"Hal apa itu?" tanya Ceng Ho. "Tadi Anda membuat ilustrasi dari agama Cina. Apakah Anda tidak berprasangka buruk terhadap agama lain di luar Islam." Ceng Ho tersenyum. "Mungkin karena saya orang Cina. Orang Cina sangat terbuka pada semua perbedaan. Orang Cina-lah yang memiliki teori keseimbangan antara siang-malam, jantan-betina, langit-bumi, manfaat-mudarat, dalam perlambangan im-yang. Mengapa bisa? Sebab, orang Cina mampu melihat kesamaan dalam kebedaan, dan itu yang membuat kami penganut Tao, Konghucu, Buddha, Islam bisa rukun, dan temurun ke murid-murid A-Lo-Pen (nama seorang rahib Katolik ortodoks yang membawa Kristen di Cina pada tahun 635, melalui Ch 'an-an (kini Sian-fu), dan diizinkan oleh T'ai Tsung (625-649) dari dinasti T'ang setelah berhasil meyakinkannya di bawah pelbagai kesulitan dan hambatan yang memulia Cu-Ye-Su." (raja diraja Yesus).


***


 Bukan hanya abdi itu yang bertanya-tanya. Beberapa orang cantrik Ki Anom di padepokannya sana, pada malam yang sama, tampak mendiskusikan khotbah Ceng Ho tadi siang itu. Hampir semua cantrik hadir. Semuanya bersila di sekeliling Ki Anom. Rupanya ada seseorang yang tidak tampak di situ. Yang disebut ini ikut bersama Ki Anom ketika kali pertama Ki Anom ke Tuban untuk menemui Ceng Ho. Karena tidak melihat cantrik itu di situ, berkata Ki Anom sambil melihat-lihat kepala tiap-tiap cantrik. "Di mana Si Blekok?"
tanyanya. Lotik yang menjawab, "Pulang kampung."


***


Benarkah Si Blekok pulang kampung? Lotik sendiri tidak tahu. Blekok - demikian dia dijuluki sebab kakinya panjang - kelihatannya terpanggil oleh hawa nafsu untuk menjadi
cantrik yang curang. Rupanya memang selalu begitu, di dalam sebuah komunitas mesti ada seseorang yang berkhianat.
Ke mana sebetulnya Blekok pergi?

Ternyata dia berada di Puri Naranatha. Dan kelihatannya dia sudah menyampaikan banyak hal mengenai Ceng Ho sehingga Naranatha memukul dada dengan sombongnya.
Sambil memukul dadanya Naranatha berkata, "Dia belum tahu siapa Naranatha Nastika. Apa dia belum kapok juga?"
Lalu dengan sikap yang sangat menjilat Blekok berkata, "Keampuhan Anda merusakkan padepokan Ki Anom pun telah membuat Ki Anom gemetar."

"Ya, lihat saja," kata Naranatha dengan kesombongan yang tidak surut. "Sekarang baru gemetar, besok-lusa saya akan bikin mereka semua, termasuk laksamana dari Cina itu, terkencing-kencing dan terberak-berak."

“Laksamana Cina itu memang mau mencari gara-gara dengan Anda. Dia belum tahu siapa Anda."
"Ya, lihat saja."
"Apa yang akan Anda lakukan?"
"Mula-mula saya akan membuat mereka pusing dulu. Sampai akhirnya nanti mereka menyembah-nyembah memohon ampun dari Naranatha Nastika ini." Dan dia ketawa.
Ketawanya kayak ketoprak. Kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, dan kepala digoyang-goyang. Setelah itu dia tengadah ke langit-langit, berteriak kepada yang di atas dengan gaya pethakilan yang menyengalkan mata. "Ha, yang di atas langit, katakan lekas, Naranatha Nastika tidak pernah terkalahkan oleh siapa pun." Lalu dia pandang semua gemblakannya yang berada di sekelilingnya. "Betul begitu kan?"
Semua gemblakan menjawab, "Betuuuul!"
Naranatha terlalu kemaruk. Dia tidak pernah mengetahui apa yang sangat diketahui oleh Ceng Ho; bahwa di dalam waktu yang berubah manusia bisa menjadi arif dalam membuat dirinya berubah atau bisa juga menjadi arif dalam membuat dirinya tidak berubah.
Sebab, hanya ada dua ciri manusia yang selalu diperkatakan Ceng Ho. Yaitu manusia yang kalah dan manusia yang menang.


***********
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #134 on: 27/08/2008 18:05 »
Tapi apa pasal utama yang membuat Naranatha secara khusus ingin menghancurkan Ki Anom? Lelaki! Mengapa? Bukankah Naranatha seseorang yang tidak tertarik pada perempuan? Karena dia tidak tertarik pada perempuan, maka sebaliknya dia amat tertarik kepada lelaki. Dia berminat pada lelaki, pada pantat lelaki, dan dengannya mengira telah memperoleh kehidupan yang nyata, karena dia tidak menyadari bahwa pikiran dan perasaannya sakit. Penyakit Naranatha adalah yang sekarang biasa disebut neuroses homoseksual. Nanti Ki Anom akan mengatakan hal yang apa adanya kepada Ceng Ho mengenai persoalan ini, yang dia sendiri masih meraba-raba, karena pengacuannya yang pelik dan rumit. Yaitu, bahwa Naranatha marah, dengki, dendam, kepada Ki Anom, semata-mata karena seseorang yang membuat hasrat dan berahinya tidak tercapai. Naranatha menyukai seorang lelaki, tapi lelaki itu berhasil diinsafkan oleh Ki Anom untuk menjadi lelaki yang wajar, beristri dan beranak. Siapa lelaki yang dimaksud itu? Dia adalah Lotik; cantrik paling cerdas yang telah menjadi asisten Ki Anom untuk pelbagai kegiatan di padepokannya.




***


Bukan kepalang geram Naranatha sekarang. Perkembangan padepokan Ki Anom, dan bertemunya Ki Anom dengan Ceng Ho, dan keadaan Tuban setelah ekspedisi Ceng Ho singgah beberapa hari di sini untuk banyak hal: berdagang, bertukar budaya, mengajar banyak
pengetahuan kepada penduduk di kota pelabuhan itu.
Yang paling menarik bagi Naranatha; menarik karena dengannya dia menaruh dengki, adalah keterangan Blekok tentang anggota ekspedisi Ceng Ho yang mengajar orang-orang datang meminta pelajaran.


"Memangnya pelajaran apa saja yang diberi oleh anggota ekspedisi Sam Po Kong itu?" tanya Naranatha dengan dengkinya.
"Werna-werna. Yang paling penting adalah mengajar tentang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan obat. Malahan, konon mereka membawa juga tanaman-tanaman obat dari Cina untuk seseorang di Semarang dan Kudus."
"Disebut juga nama orang yang dimaksud itu?"
"Tidak."
"Hm. Lantas pengajaran apa lagi?"
"Saya kurang periksa. Tapi, o ya, termasuk juga budi daya ulat sutra dan burung walet."
"Ulat sutra dan burung walet?"
"Ya. Dengar-dengar, ada pelaut Bugis yang sedang bersandar pinisinya di Tuban, mengatasnamakan raja Bugis, meminta ahli ulat sutra itu untuk pergi juga ke Tanah Bugis."

"O, begitu?" Naranatha memicing mata, membalik belakang, berjalan ke pojok sambil menjawil ketimun Blekok dengan cara yang sangat gatal.

Blekok bergerak refleks, walakin kaget, menjawab saja dengan cara yang ketularan tidak jujur, "Ya, itu yang saya ketahui."
"Lantas, apa lagi yang kamu ketahui?"
"Sementara itu saja."


***


Kemudian Naranatha bergegas pergi ke tempat perempuan yang pandai bermain sihir itu.
"Saya meminta saranmu," kata Naranatha.
"Kalau yang kau minta hanya sekadar mencelakakan musuhmu, dan tidak membuatnya mati, maka pikiranmu akan terus bertempur dengan perasaanmu, dan tidak ada yang bisa memenangkan antara pikiran dan perasaan," kata cenayang itu.
"Jadi apa maumu?"
"Kanapa kau masih repot? Bukankah saya sanggup menenung, menyantet musuhmu itu?

Tinggal katakan saja, sekarang atau besok, saya santet, dan kau tidak perlu lagi menempurkan pikiran dan perasaanmu. Santet, dan mati, berarti selesai penasaranmu."

"Memang akhirnya kau harus menyantet sampai mati. Tapi kalau kau lakukan itu sekarang, itu terlalu cepat menyelesaikan persoalan. Saya ingin pengikut-pengikut Ki Anom meninggalkannya, melihat akan kekuatan saya."

"Apa yang ingin kau perlihatkan dalam kekuatan itu?"
"Kekuasaan."
"Ingat, kekuasaan hanya sekali hadir sebagai kesempatan. Kalau kau terlambat memanfaatkannya, untuk selamanya kau tidak pernah memiliki kekuatan."
"Apakah dengan pernyataan itu saya sedang mendengar saran darimu untuk menyantet saja Ki Anom?"
"Bukan saya yang memutuskan," jawab cenayang itu. "Kamu!"
Naranatha diam. Diam bisa berarti berpikir. Diam bisa juga berarti setuju. Selanjutnya, tinggal melihat apakah Naranatha berpikir untuk setuju membiarkan cenayang itu melaksanakan
kemampuan-kemampuan sihirnya.
Setiap cenayang memiliki rasa percaya diri yang beralas pada roh kegelapan. Demikian juga cenayang yang menjadi sekutu Naranatha untuk melakukan tindakan-tindakan kegelapannya.
Jika sampai seorang cenayang salah memperhitungkan rasa percaya dirinya terhadap roh kegelapan, dan ternyata di dalam tindakannya dia kalah, artinya orang lain yang memperoleh kemenangan, tidak pernah ada kamus wirang baginya.

Jika begitu, tunggu saja apa yang akan terjadi. Siapa yang kalah dan siapa yang menang masih merupakan tanda tanya yang jauh. Peristiwa jalannya ikhtiar masih berlanjut bersama dengan
misteri kehidupan dan ketidakpastian cuaca: angin yang membawa awan di langit dan arus yang menggelombangkan air di laut....



***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal