+-

Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Kejuaraan Pencak Silat Seni Piala Walikota Jakarta Selatan by luri
24/09/2024 15:38

Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi Open Ke 3 by luri
24/09/2024 15:35

Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Panglima TNI 2024 Se-Jawa Barat by luri
24/09/2024 15:22

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

SilatIndonesia.Com

Recent Posts

Pages: 1 ... 8 9 [10]
91
Kebidaban Zionis Israel

Situasi di Jalur Gaza kembali memanas akibat peningkatan eskalasi ketegangan antara Israel dan kelompok militan Palestina. Dalam satu pekan terakhir, tercatat lebih dari 200 orang warga Palestina tewas dan seribu lebih orang lain terluka serta ratusan bangunan hancur akibat serangan udara militer Israel. Kekejaman ini merupakan lanjutan dari agresi Israel di tanah Palestina dan serangkaian pembantaian yang dilakukan kepada rakyat sipil Palestina selama nertahun tahun.
Untuk peduli kepada tragedi kemanusiaan itulah Forum Pecinta Silat Tradisional Indonesia (FP2STI) memprakarsai para pesilat Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat gaza menentang kebiadaban Israel. Acara ini diberi tajuk acara Pernyataan Sikap Pesilat Atas kebiadaban Israel di Gaza. Hadir dalam acara yang diadakan Tanggal 19 Juli 2014 Malam ini sekitar perwakilan Guru Besar, Pendekar dan pesilat sejumlah 100 orang mewakili ribuan pesilat Indonesia.
Bapak Pencak Silat Dunia, juga sesepuh pencak silat dunia bapak Eddie Marzuki Nalapraya yang hadir pada pada kesempatan ini menyampaikan bahwa Perguruan Silat Indonesia yang jumlah ribuan adalah tempat di gemblengnya manusia Indonesia yang berbudi luhur dan cinta damai. Pendiri Persekutuan Pencak Silat Dunia ini juga menyampaikan bahwa Pesilat selalu berperan kontektual terhadap zamannya dan selalu berperan aktif dalam upaya membangun masyarakat yang damai dan sentausa.

Praktisi Silat dan Pendiri FP2STI Edwin Hidayat Abdullah selaku penggagas acara ini menambahkan bahwa menghadapi kekejian Israel , pesilat Indonesia tidak akan tinggal diam dan akan berperan aktif dalam krisis ini. Edwin mengatakan bahwa membantu rakyat gaza bagi pesilat adalah bagai membantu kaum lemah. "Ini adalah kepedulian atas tragedi kemanusiaan, di titik inilah yang jadi salah satu komitmen pesilat Indonesia dan pesilat dimanapun di seluruh dunia", sambung Edwin.

Pernyataan Sikap Pesilat Indonesia.

Dalam acara deklarasi dukungan pesilat Indonnesia untuk rakyat Gaza di sebuah warung di bilangan jaksel ini, ini ratusan pesilat yang hadir membacakan deklarasi mewakili ratusan ribu pesilat di seluruh dunia.

Deklarasi dukungan para pesilat ini adalah sebagai berikut.

Pernyataan Sikap Pesilat Atas kebiadaban Israel di Gaza

    Pesilat Indonesia menyatakan kesedihan yang mendalam atas kematian anak-anak, wanita dan orang tua akibat serangan Israel atas pemukiman Gaza sehingga menewaskan 200 lebih penduduk gaza, Seribu lebih rumah rusak dan ratusan terluka parah.

    Pesilat Indonesia mengutuk kekejian tentara israel yang telah melakukan pembantaian ke wilayah sipil tanpa mengindahkan Hukum International dan peringatan dari berbagai pihak International yang berwenang termasuk PBB.

    Pesilat Indonesia siap membantu Rakyat Gaza dengan siap diberangkatkan ke Gaza menjadi relawan kemanusiaan untuk menghadapi penindasan Israel .

    Pesilat Indonesia mendorong seluruh Pesilat di seluruh dunia untuk membantu rakyat Gaza dengan berbagai bantuan yang dibutuhkan dan siap diberangkatkan ke Gaza untuk missi kemanusiaan menghadapi kebiadaban tentara Israel.

    Pesilat Indonesia meminta semua pendekar dan pesilat di seluruh dunia merapatkan barisan, meningkatkan ukhuwah dan kerjasama untuk dapat membela yang lemah dimanapun ia berada.


Komitmen ini akan dibacakan oleh 100 Pendekar dan Pesilat Indonesia yang hadir sebagai wakil dari semangat luhur ratusan ribu pesilat di seluruh dunia untuk membantu sesama.




Forum Masyarakat Silat Indonesia untuk Palestina

sumber: Silat Indonesia
92
Wow, such a epic story and full with knowledge for newbie like me, Salute :D
93
RM. Sunardi Suryodiprojo (03 Apr 1914 - 05 Jun 1985), atau yang lebih dikenal dengan Romo Nardi dan Den Mas Nardi, adalah tokoh silat tradisional di daerah Yogyakarta. Beliau mulai memasuki dunia Silat pada saat telah menyerap ilmu "Reti Ati" tepatnya pada tahun 1927. Den Mas Nardi (RM Sunardi Suryodiprojo) bersama Den Pono (R. Mangkupujono) dan R. Murkilat Sidik menimba ilmu tersebut, berguru pada R. Djayusman di kampung Pajeksan untuk mendalami serta menyerap ilmu Reti Ati tersebut.

Den mas Nardi serta Den Pono, dua dari ketiga murid dari R. Djayusman, demi mengemban tugas serta menghormati pesan seorang guru tergugah hatinya dan bersepakat untuk mendirikan perguruan bela diri disamping untuk mengembangkan kemampuan diri, juga untuk menggalang para remaja agar bersatu dengan tujuan utama berusaha untuk melawan para penjajah, maka berdirilah perguruan dengan nama PH (Persatuan Hati) yang dalam bahasa Jawa berarti “manunggaling ati atau manunggaling karep” atau kemauan yang sama dan sejalan. Tepatnya pada tahun 1930 perguruan PH ini berdiri, dengan susunan pengurus yang sangat sederhana, Ketua : Den Pono dan Wakil : Den mas Nardi.

Keikut-sertaan dalam GAPEMA (Gabungan Pencak Mataram).
Pada saat itu, tepatnya masa penjajahan Jepang, adalah masa-masa penderitaan bagi seluruh bangsa Indonesia. Disaat itu juga, ada Sembilan pesilat remaja yang tergerak hatinya untuk mendirikan perkumpulan dengan nama GAPEMA (Gabungan Pencak Mataram) dengan tujuan melawan penjajah yang menghuni Tanah Air Indonesia yang dicintainya. Kesembilan remaja tersebut adalah:
1.      Bp. Broto Sutaryo dari perguruan BIMA
2.      Bp. Ki Muh Jumali dari Persatuan Pencak Taman Siswa
3.      Bp. Harimurti (ndoro Harimurti) Tedjokusuman dari perguruan Krisnamurti
4.      Bp. Abdullah dari PK (Pencak Kesehatan)
5.      Bp. R. Sukirman dari RKB (Rahasia Kekuatan Badan)
6.      Bp. Alip Purwowarsono dari Perguruan SHO (Setia Hati Organisasi)
7.      Bp. Suwarno dari perguruan SHT (Setia Hati Terate)
8.      Bp. R. Mangkupujono (Den Pono) dari perguruan PH (Persatuan Hati)
9.   Bp. RM. Sunardi Suryodiprojo (Den Mas Nardi) dari perguruan TH (Tunggal Hati) yang sekarang menjadi perguruan RA (Reti Ati)
     
     Tunggal Hati

    Dengan berjalannya waktu, Den mas Nardi berperakarsa untuk mengembangkan tata bela diri Pencak Silat agar jangan sampai susut ataupun punah dengan mendirikan perguruan baru dengan seijin Den Pono dengan nama TH (Tunggal Hati) yang dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan PH (Persatuan Hati) yaitu “manunggaling ati atau manunggaling karep” atau kemauan yang sama dan sejalan. Dengan berdirinya  perguruan TH ini 'bukan berarti terjadinya perpatahan' di tubuh perguruan Persatuan Hati, 'namun lebih tepatnya bermultiplikasi'. Perguruan Tunggal Hati ini berdiri pada tanggal 11 Juli 1951, keanggotaannya dibagi menjadi dua:
1.    Anggota TH untuk para dewasa.
2.    Anggota THa untuk anak-anak di bawah umur 12 tahun.
Pada masa itu, Den Mas Nardi yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Nardi sedang menjabat juga di IPSI DIY sebagai bagian tekhnik. Beliau berkesempatan melatih di beberapa tempat seperti, Kodim Yogyakarta, AURI Adi Sucipto, BRIMOB, Polisi, CPM, serta Polisi Perintis di wilayah Yogyakarta serta menyebar luas sampai Ponorogo. Di kalangan teman-teman PH, Romo Nardi sering diceritakan sebagai pendekar yang menguasai ilmu pernapasan tingkat tinggi. Ketika muda, beliau diceritakan pernah mematahkan tiang gawang sepak bola dengan sekali pukul, padahal ketika itu tiang gawang dibuat dari kayu yang sangat kuat. Romo Nardi adalah seorang pendekar silat yang memang terkenal dengan kesaktiaannya yang luar biasa. Mendengar kesaktian Romo Nardi, ada seorang ahli silat dan ahli dalam olah batin bernama Ki Syuhadak, pini sepuh di Piyungan, datang ke Brontokusuman menemui Romo Nardi dengan maksud ingin mencoba ilmunya Romo Nardi dengan cara yang unik, hanya tidur berdampingan semalam, Ki Syuhadak mengakui bahwa Romo Nardi betul-betul mempunyai ilmu yang tinggi dan mulai saat itu pula, Romo Nardi dianggap bukan hanya sebagai sahabatnya namun lebih daripada itu sebagai saudaranya. Edwin H. Abdullah pun di alamat:
http://www.kpsnusantara.com/reflect/malay/Pembentukan%20Perguruan%20Silat%20(Kumpulan).html, mengatakan, "Ahli untuk penghancuran benda keras yang paling terkenal ya, mendiang Romo Nardi."

Perguruan Tunggal Hati dibawah asuhan Romo Nardi pada saat itu telah melahirkan beberapa pendekar, diantaranya:
1.      Bp. Drs. Subandi
2.      Bp. NH. Soedirjo
3.      Bp. R. Hadi Suryanto

Namun sejak tahun 1957, perguruan TH mengalami kemunduran, tidak ada lagi kegiatan apapun. Kesemuanya itu dikarenakan beberapa pengurusnya terpaksa berpindah jauh untuk memenuhi kewajiban sebagai guru atau ada tugas lainnya demi hidup keluarganya dan tugas tersebut tidak mungkin dirangkap lagi di perguruan. Melihat perguruan TH yang terbengkalai atau tak terurus, R. Hadi Suryanto (lebih dikenal sebagai Mas Yanto) tegelitik hatinya untuk mencoba membangun serta membangkitkan kembali dengan mendirikan perguruan TH periode ke-2. Maka berdirilah perguruan TH periode ke-2 ini pada pertengahan februari 1962 dibawah asuhan mas yanto dengan bimbingan ayahandanya, Romo Nardi. Di samping mendapatkan bimbingan dari Romo Nardi, berupa ilmu pernapasan seperti halnya pernapasan penyerapan tenaga banyu, geni, angin melalui beberapa tahap jenis pernapasan, juga tentang pernapasan matahari, stroom dan pernapasan khusus, serta pengenalan atas pemomong diri kita, “sedulur papat limo pancer”. Sedulur papat limo pancer ini merupakan saudara kita yang selalu berkenan membantu kita dalam segala hal jika kita mau memeteri nya. Bopo Angkoso, Ibu Pertiwi, Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Sedulur Kang krumat lan Sedulur Kang urakrumat, yang mana kita juga harus selalu ingat terhadap siapa kita harus menyembah, dari mana kita berasal, serta ada dimana kita ini berpijak. Mas yanto sebagai pelatih utama pada saat itu, juga mendapat tuntunan dan bimbingan dari para sesepuh persilatan diantaranya:

1.      Den Pono dari PH
2.      Bp. Sugiman (pak Giman) dari PH
3.      Bp. Ki Syuhadak (seorang pini sepuh di Piyungan) di samping ahli silat juga ahli olah batin

Dari semua pelajaran yang diterima dari para sesepuh tersebut serta dari ayahandanya, kemudian disaring dan diambil maknanya yang akhirnya dengan segala usaha dan ketekunannya dapat ditemukan suatu cara pengumpulan tenaga yang dibangkitkan dari kemampuan pada diri kita sendiri masing-masing yang hanya dilandasi rasa keheningan serta kehendak yang mantap dan kemampuan daya piker untuk memerintahkan tersalurnya tenaga inti tubuh ke tempat bagian tubuh yang kita kehendaki. Dan dari persamaan gerak, tenaga inti dan pikiran, begitulah terciptanya suatu tenaga yang mampu untuk mematahkan benda keras. Pada masa itu, hampir semua perguruan belum mengenal bagaimana cara untuk melakukan suatu cara untuk mematahkan/memecahkan benda keras dengan tangan kosong. Semua perguruan hanya khusus mempelajari olah bela diri, berdasarkan tenaga wadag, belum mengenal istilah karate. Demonstrasi pemecahan benda keras yang pertama kali dilakukan dengan cara yang masih sangat sederhana oleh mas Yanto di halaman rumah Brontokusumas, bertepatan dengan selamatan berdirinya TH periode ke-2. Di perguruan TH periode ke-2 ini, telah lahir pendekar muda pada saat itu, seperti:

1.      R. Sukomartoyo (mas Suko)
2.      Purwoto (mas Pung)
3.      Budi Santoso (mas Budi)
4.      R. Guntur Merdeka (mas Guntur)

Source :
Artikel tentang RM. Sunardi (Romo Nardi atau Den mas Nardi) "BAGAIMANA MENJADI SAKTI DI JAMAN MODERN" di Berita Nasional Mingguan No: 9 Minggu ke 1, bulan Juni 1974
"Di perguruan 'Tunggal Hati', yang dipimpin oleh RM Sunardi (64 th) hanya ada 3 tingkat. Sedang 'Merpati Putih', yang dipimpin oleh Purwoto HP yang pernah menjadi murid  RM Sunardi, mengenal 6 tingkat."
http://silatretiati.blogspot.com/2014/07/rm-sunardi-suryodiprojo-03-apr-1914-05.html
Dokumen pribadi Reti Ati: Sejarah Perguruan Reti Ati
94
Aliran Pencak Silat / Sejarah perguruan Reti Ati
« Last post by halilintar on 14/07/2014 00:08 »
Sejarah singkat perguruan Reti Ati
           
Nama Reti Ati artinya adalah “ngerteni ati” atau “memahami maksud serta tujuan hatinya secara sadar”, sedangkan kata “Reti Ati” itu sendiri kepanjangannya adalah “resiking ati anjalari titising karep” dengan kebersihan atau kesucian hati, akan memudahkan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan symbol atau lambing Perguruan Reti Ati, memiliki arti dan makna tersendiri. Hari ulang tahun Perguruan Pencak Silat Reti Ati secara organisasi berdiri pada tanggal 21 Mei 1977, 37 tahun yang lalu. Namun secara keilmuan, ilmu Reti Ati sudah ada sejak 80 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1927 ketika Den Mas Nardi atau Romo Nardi menyerap ilmu tersebut. Pada waku itu Den Mas Nardi (RM Sunardi Suryodiprojo) bersama Den Pono (R. Mangkupujono) dan R. Murkilat Sidik menimba ilmu, berguru pada R. Djayusman di kampong Pajeksan untuk mendalami serta menyera ilmu Reti Ati tersebut. Den mas Nardi serta Den Pono, dua dari ketiga murid dari R. Djayusman, demi mengemban tugas serta menghormati pesan seorang guru tergugah hatinya dan bersepakat untuk mendirikan perguruan bela diri disamping untuk mengembangkan kemampuan diri, juga untuk menggalang para remaja agar bersatu dengan tujuan utama berusaha untuk melawan para penjajah, maka berdirilah perguruan dengan nama PH (Persatuan Hati) yang dalam bahasa Jawa berarti “manunggaling ati atau manunggaling karep” atau kemauan yang sama dan sejalan. Tepatnya pada tahun 1930 perguruan PH ini berdiri, dengan susunan pengurus yang sangat sederhana, Ketua : Den Pono dan Wakil : Den mas Nardi. Pada saat itu, tepatnya adalah masa penjajahan Jepang, masa-masa penderitaan bagi seluruh bangsa Indonesia. Disaat itu juga, ada Sembilan pesilat remaja yang tergerak hatinya untuk mendirikan perkumpulan dengan nama GAPEMA (Gabungan Pencak Mataram) dengan tujuan melawan penjajah yang menghuni Tanah Air Indonesia yang dicintainya. Kesembilan remaja tersebut adalah:
1.      Bp. Broto Sutaryo dari perguruan BIMA
2.      Bp. Ki Muh Jumali dari Persatuan Pencak Taman Siswa
3.      Bp. Harimurti (ndoro Harimurti) Tedjokusuman dari perguruan Krisnamurti
4.      Bp. Abdullah dari PK (Pencak Kesehatan)
5.      Bp. R. Sukirman dari RKB (Rahasia Kekuatan Badan)
6.      Bp. Alip Purwowarsono dari Perguruan SHO (Setia Hati Organisasi)
7.      Bp. Suwarno dari perguruan SHT (Setia Hati Terate)
8.      Bp. R. Mangkupujono (Den Pono) dari perguruan PH (Persatuan Hati)
9.      Bp. RM. Sunardi Suryodiprojo (Den Mas Nardi) dari perguruan TH (Tunggal Hati) yang sekarang menjadi perguruan RA (Reti Ati)

Dengan berjalannya waktu, Den mas Nardi berperakarsa untuk mengembangkan tata bela diri Pencak Silat agar jangan sampai susut ataupun punah dengan mendirikan perguruan baru dengan seijin Den Pono dengan nama TH (Tunggal Hati) yang dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan PH (Persatuan Hati) yaitu “manunggaling ati atau manunggaling karep” atau kemauan yang sama dan sejalan. Dengan berdirinya  perguruan TH ini bukan berarti terjadinya perpatahan di tubuh perguruan Persatuan Hati, namun lebih tepatnya bermultiplikasi. Perguruan Tunggal Hati ini berdiri pada tanggal 11 Juli 1951, keanggotaannya dibagi menjadi dua:
1.    Anggota TH untuk para dewasa.
2.    Anggota THa untuk anak-anak di bawah umur 12 tahun.

Pada masa itu, Den Mas Nardi yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Nardi sedang menjabat juga di IPSI DIY sebagai bagian tekhnik. Beliau berkesempatan melatih di beberapa tempat seperti, Kodim Yogyakarta, AURI Adi Sucipto, BRIMOB, Polisi, CPM, serta Polisi Perintis di wilayah Yogyakarta serta menyebar luas sampai Ponorogo. Di kalangan teman-teman PH, Romo Nardi sering diceritakan sebagai pendekar yang menguasai ilmu pernapasan tingkat tinggi. Ketika muda, beliau diceritakan pernah mematahkan tiang gawang sepak bola dengan sekali pukul, padahal ketika itu tiang gawang dibuat dari kayu yang sangat kuat. Romo Nardi adalah seorang pendekar silat yang memang terkenal dengan kesaktiaannya yang luar biasa. Mendengar kesaktian Romo Nardi, ada seorang ahli silat dan ahli dalam olah batin bernama Ki Syuhadak, pini sepuh di Piyungan, datang ke Brontokusuman menemui Romo Nardi dengan maksud ingin mencoba ilmunya Romo Nardi dengan cara yang unik, hanya tidur berdampingan semalam, Ki Syuhadak mengakui bahwa Romo Nardi betul-betul mempunyai ilmu yang tinggi dan mulai saat itu pula, Romo Nardi dianggap bukan hanya sebagai sahabatnya namun lebih daripada itu sebagai saudaranya. Perguruan Tunggal Hati dibawah asuhan Romo Nardi pada saat itu telah melahirkan beberapa pendekar, diantaranya:
1.      Bp. Drs. Subandi
2.      Bp. NH. Soedirjo
3.      Bp. R. Hadi Suryanto

Namun sejak tahun 1957, perguruan TH mengalami kemunduran, tidak ada lagi kegiatan apapun. Kesemuanya itu dikarenakan beberapa pengurusnya terpaksa berpindah jauh untuk memenuhi kewajiban sebagai guru atau ada tugas lainnya demi hidup keluarganya dan tugas tersebut tidak mungkin dirangkap lagi di perguruan. Melihat perguruan TH yang terbengkalai atau tak terurus, R. Hadi Suryanto (lebih dikenal sebagai Mas Yanto) tegelitik hatinya untuk mencoba membangun serta membangkitkan kembali dengan mendirikan perguruan TH periode ke-2. Maka berdirilah perguruan TH periode ke-2 ini pada pertengahan februari 1962 dibawah asuhan mas yanto dengan bimbingan ayahandanya, Romo Nardi. Di samping mendapatkan bimbingan dari Romo Nardi, berupa ilmu pernapasan seperti halnya pernapasan penyerapan tenaga banyu, geni, angin melalui beberapa tahap jenis pernapasan, juga tentang pernapasan matahari, stroom dan pernapasan khusus, serta pengenalan atas pemomong diri kita, “sedulur papat limo pancer”. Sedulur papat limo pancer ini merupakan saudara kita yang selalu berkenan membantu kita dalam segala hal jika kita mau memeteri nya. Bopo Angkoso, Ibu Pertiwi, Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Sedulur Kang krumat lan Sedulur Kang urakrumat, yang mana kita juga harus selalu ingat terhadap siapa kita harus menyembah, dari mana kita berasal, serta ada dimana kita ini berpijak. Mas yanto sebagai pelatih utama pada saat itu, juga mendapat tuntunan dan bimbingan dari para sesepuh persilatan diantaranya:
1.      Den Pono dari PH
2.      Bp. Sugiman (pak Giman) dari PH
3.      Bp. Ki Syuhadak (seorang pini sepuh di Piyungan) di samping ahli silat juga ahli olah batin

Dari semua pelajaran yang diterima dari para sesepuh tersebut serta dari ayahandanya, kemudian disaring dan diambil maknanya yang akhirnya dengan segala usaha dan ketekunannya dapat ditemukan suatu cara pengumpulan tenaga yang dibangkitkan dari kemampuan pada diri kita sendiri masing-masing yang hanya dilandasi rasa keheningan serta kehendak yang mantap dan kemampuan daya piker untuk memerintahkan tersalurnya tenaga inti tubuh ke tempat bagian tubuh yang kita kehendaki. Dan dari persamaan gerak, tenaga inti dan pikiran, begitulah terciptanya suatu tenaga yang mampu untuk mematahkan benda keras. Pada masa itu, hampir semua perguruan belum mengenal bagaimana cara untuk melakukan suatu cara untuk mematahkan/memecahkan benda keras dengan tangan kosong. Semua perguruan hanya khusus mempelajari olah bela diri, berdasarkan tenaga wadag, belum mengenal istilah karate. Demonstrasi pemecahan benda keras yang pertama kali dilakukan dengan cara yang masih sangat sederhana oleh mas Yanto di halaman rumah Brontokusumas, bertepatan dengan selamatan berdirinya TH periode ke-2. Di perguruan TH periode ke-2 ini, telah lahir pendekar muda pada saat itu, seperti:
1.      R. Sukomartoyo (mas Suko)
2.      Purwoto (mas Pung)
3.      Budi Santoso (mas Budi)
4.      R. Guntur Merdeka (mas Guntur)

Bersamaan dengan bergulirnya waktu, perguruan TH periode ke-2 inipun telah bermultiplikasi dengan berdirinya perguruan seperti:
1.      TH Merpati Putih pada tahun 1963
2.      RA (Reti Ati) pada tahun 1977
3.      THS – THM (Tunggal Hati Seminari – Tunggal Hati Maria) pada tahun 1985

1.     TH Merpati Putih berdiri pada tahun 1963
            Kata TH ini adalah singkatan dari kata Tunggal Hati, atas restu dari Romo Nardi, Mas Suko, Mas pung, dan Mas Budi mendirikan perguruan TH Merpati Putih pada tahun 1963. Peresmiannya diadakan di Gedung BTN Yogyakarta yang dihadiri oleh:
1.      Mayor Sulaiman (Ketua IPSI DIY saat itu)
2.      Romo Nardi sebagai Guru Besarnya yang pada saat itu juga Romo Nardi menjabat bagian tekhnik di IPSI DIY

Selain peragaan demonstrasi pemecahan benda keras, juga ada acara khusus yaitu pengalungan bunga kepada Romo Nardi sebagai tanda pengakuan mereka bahwa Romo Nardi adalah Guru serta Guru Besar TH Merpati Putih. Tetapi kemudian kata TH ditinggalkannya atau dihilangkannya dan hanya memakai nama Merpati Putih tanpa kata TH di depannya sampai sekarang ini.

2.     Perguruan THS – THM.
Dalam perjalanannya, Mas Sukomartoyo (Romo Hadiwijoyo) mundur dari Merpati Putih karena perbedaan visi dan misi. Waktupun terus bergulir Romo Hadi bersama mas Lilik Subianto dan beberapa siswa seminari Mertoyudan Magelang kurang lebih sebanyak 8 siswa, suwan Romo Nardi untuk memohon restu akan mendirikan perguruan disamping itu kepada mas Guntur mereka datang untuk diajari memainkan trisula. Kemudian tepatny pada tahun 1985, perguruan tersebut berdiri yang diberi nama perguruan THS – THM (Tunggal Hati Seminari – Tunggal Hati Maria) dibawah asuhan Mas Sukomartoyo (Romo Hadiwijoyo). Sampai saat ini Mas Sukomartoyo (Romo Hadiwijoyo) tetap mengakui bahwa Romo Nardi adalah guru dan Guru Besar THS – THM.

3.     Awal berdirinya Perguruan Pencak Silat Reti Ati
            Begitu melihat TH periode ke-2 cukup lama padam, tidak ada kegiatan lagi, Mas Guntur tergerak hatinya untuk menghidupkan kembali kegiatan seni bela diri pencak silat warisan budaya bangsa Indonesia ini.  Mas Guntur bersama adiknya Mas Nugroho (R. Brigadir Nugroho Atmojo) berinisiatif mengajak para pemuda Brontokusuman berlatih pencak silat, ternyata ajakan tersebut disambut baik bahkan mereka sangat antusias. Maka pada awal tahun 1977 datanglah beberapa pendekar ke rumah Mas Yanto di Sleman, mereka adalah:
1.      R. Guntur Merdeka Tingkat Pendekar
2.      R. Sukodanarto tingkat Pendekar Muda
3.      R. Brigadir Nugroho Atmojo tingkat Pendekar Muda
4.      Dan disertai beberapa pesilat lainnya, 7 kader pelatih dan 3 pembantu pelatih

Dalam hal ini membicarakan kemungkinan dibenahi kembali persilatan yang sudah lama padam ini. Dan setelah diketemukan kesepakatan, maka direncanakan untuk mendirikan perguruan pencak silat lagi. Rencana tersebut mendapat restu dari room Nardi, bahkan romo Nardi telah memutuskan bahwa jabatan pelatih utama di dalam tugasnya sebagai guru di perguruan diberikan kepada Mas Guntur sebagai pewaris tunggal perguruan yang telah dinilai mampu serta dipercaya oleh beliau untuk mengelolanya. Pada saat itu, berkumpul lah para pendekar dan para pini sepuh perguruan dan setelah diadakan persepakatan, maka didirikannya suatu perguruan pencak silat dengan nama Reti Ati, tepatnya pada tanggal 21 Mei 1977. Berdirinya perguruan tersebut hanya dibuka dengan acara tumpengan yang sangat sederhana. Sebagai acara pokok adalah pemotongan tumpeng serta penyerahan baju perguruan dari Romo Nardi kepada pelatih utama R. Guntur Merdeka untuk menjalankan tugas sebagai guru di perguruan pencak silat Reti Ati, dilengkapi dengan surat pengangkatan beserta surat mandatnya. Pada kesempatan itu pula, Romo Nardi telah memberikan jabatan wakil pelatih utama kepada R. Brigadir Nugroho Atmojo, adik dari Mas Guntur, untuk menjalankan tugas membantu semua tugas-tugas guru/pelatih utama di perguruan pencak silat Reti Ati yang dilengkapi pula dengan surat pengangkatn beserta surat mandatnya. Pada saat yang bersamaan, dibentuk pula pengurus perguruan Reti Ati yang pertama kali yang terdiri dari para pendiri perguruan, dengan susunan seperti dibawah ini:

1.      RM. Sunardi Suryodiprojo (tk Pendekar Besar) Guru Besar
2.      R. Atmowiyoto (tk pendekar) Sesepuh
3.      Lekol. MH Soedirjo (tk pendekar) Pelindung
4.      Drs. Subandi (tk Pendekar) Penasehat
5.      R. Hadisuryanto (tk Pendekar) Pembina
6.      R. Guntur Merdeka (tk Pendekar) Guru/Pelatih Utama
7.      R. Sukodanarto (tk Pendekar Muda) Ketua Umum
8.      R. Brigadir Nugroho Atmojo (tk Pendekar Muda) Wakil Pelatih Utama

Mas Guntur sebagai pelatih utama di dalam tugasnya sebagai guru di perguruan Reti Ati yang juga menjabat sebagai salah satu dari Dewan Pelatih Daerah IPSI DIY, disamping telah menyerap ilmu serta mendapatkan bimbingan langsung dari ayahandanya Romo Nardi (Guru Besar Perguruan) dan petunuk-petunjuk serta saran-saran dari kakaknya Mas Yanto (Pembina Perguruan), juga mendapatkan tuntunan serta tambahan bekal dari beberapa sesepuh persilatan berupa tata olah bela diri dari:

1.     Bp. R. Atmowiryoto ( sesepuh perguruan Reti Ati)
2.     Bp. Darsono (Mbah Dar) seorang pendekar yang mumpuni, sahabat Romo Nardi di kampong Nyutran dari perguruan PEKSI aliran dari perguruan SH
3.  Bp. Wijihartani dari perguruan Perisai Sakti Mataram, dari kampong Beji Jagalan, beliau sering suwan menemui Romo Nardi yang telah dianggapnya sebagai bapaknya sendiri. (Perguruan Perisai Sakti Mataram salah satu perguruan yang tidak masuk sebagai anggota IPSI namun masuk anggota PPSI pada saat itu)
Sedangkan tuntunan serta tambahan bekal dalam hal olah batin, didapatkan dari:
1.    Bp. Ki Syuhadak (Mbah Hadak) seorang pini sepuh di Piyungan
2.    Pangeran Suryo Kusumo (seorang Pangeran yang sangat mumpuni dalam olah batin dari Surakarta-Solo) yang sempat tinggal di rumah Romo Nardi selama 3 bulan.
Di samping itu mas Guntur sering juga mengadakan try out ataupun sparring partner dengan perguruan lain untuk melatih kemampuannya.

            Perguruan Reti Ati yang mas Guntur asuh telah mendapat kesempatan pula melatih di beberapa tempat, diantaranya:
1.      KOPASANDA grup II kandang Menjangan Kartosuro pada tahun 1978
2.      Kodim Klaten dan juga Kodim Sleman pada tahun 1982

Bahkan sampai saat ini perguruan Reti Ati telah mempunyai beberapa cabang. Dengan bekal yang telah dimilikinya, Mas Guntur didalam menunaikan tugasnya menggembleng murid-muridnya lebih mantap lagi, sehingga pada saat itu para melahirkan para pendekar muda yang baru seperti:
1.      Widiantoro
2.      Benni Guritno
3.      Yoseph Wijokongko
4.      Suwarto
5.      Herri Teguh Priono Hadi
6.      Usman Ismail
7.      Budiarto

Di samping itu beberapa Kader Pelatih seperti:
1.      Bambang Darmaji
2.      Hadi Suwarjo
3.      Adik Supardiman
Serta Pembantu Pelatih:
1.      Indrayadi
2.      Entong Sutarto
3.      Abdul Sholeh
4.      I Nyoman Pradnya Putra
5.      Widagdo Mulyono Petrus
6.      Nur Cahyo

Di samping itu para atlet pesilat dari perguruan Reti Ati pun telah beberapa kali menjuarai pertandingan-pertandingan yang diadakan oleh IPSI, baik ditingkat daerah maupun tingkat nasional. Atlet-atlet tersebut diantaranya:
1.      Indaryadi
2.      Abdul Soleh
3.      Widagdo Mulyono Petrus
4.      Nanang Dwi Prastyono

Di perguruan Reti Ati ada 10 tingkat, mulai dari tingkat 1 sampai dengan tingkat 10. Dan si etiap tingakt disesuaikan dengan kurikulum serta metode latihan pada tingkatnya. Di Reti Ati Pencak dan Silat dibedakan  menjadi 2 bagian yang terpisah:

1.      Pencak Olahraga
Di dalam Pencak olahraga ini lebih banyak menggunakan gerak atau langkah alias mencak-mencak (kalau dalam pewayangan digambarkan seperti Buto Cakil), sedangkan bentuk serangannya jika mengenai lawan, akibatnya tidak begitu fatal. Pencak olahraga ini mulai kita berikan dari anak-anak (RA Kids) sampai orang dewasa dan khususnya bagi para atlet silat, agar dapat digunaka dalam event-event resmi IPSI, baik tingkat daerah maupun nasional.

2.      Silat Bela diri
Di dalam silat bela diri kita tidak perlu banyak gerak ataupun langkah (kalau dalam pewayangan digambarkan sebagai Arjuna) cukup menggunakan pancer, baik pancer atas, pancer tengah ataupun pancer bawah. Bersifat defensive menunggu serangan dari lawan, kemudian membalas serangan dengan serangan yang sesuai dengan sasarannya. Silat bela diri ini, kami berikan pada tingkat-tingkat tertentu dan secara khusus kami berikan untuk para aparat keamanan, TNI, dan POLRI guna menghadapi para penjajah juga musuh Negara. Dikarenakan silat bela diri ini cukup berbahaya, walaupun dengan sedikit tenaga, akibatnya bisa fatal. Di silat bela diri ini akan kami tunjukkan tempat-tempat rahasia kelemahan badan disertai dengan bentuk-bentuk serangannya yang tepat dengan sasarannya (titik lemahnya).
Materi latihan yang diberikan di Reti Ati, diantaranya:

1.      Macam-macam bentuk Kuda-Kuda, pukulan, tendangan, elakan, tangkisan, tangkapan, serta langkah.
2.      Gerak langkah kombinasi serta jurus.
3.      Tekhnik bantingan serta tekhnik menjatuhkan tanpa bantingan.
4.      Krepen/kuncian mati dan juga pelepasannya.
5.      Pancer atas, pancer tengah serta pancer bawah.
6.      Permainan senjata.
7.  Olah pernapasan dengan tingkat pernapasan yang berbeda-beda. Hasil dari olah pernapasan tersebut diantaranya dapat dipergunakan untuk demonstrasi pemecahan benda keras (pernapasan tingkat dasar). Pernapasan ini diserap dari tenaga banyu, geni, angin yang hasilnya lebih cepat namun tidak langgeng.
Olah pernapasan di Reti Ati kini hanya menggunakan unsur banyu dan angin tanpa unsur api lagi di tingkat dasar yang hasilnya lebih lamban namun tetap langgeng, dikarenakan unsur api tersebut membuat siswa cepat mudah tersinggung dan marah. Unsur api ini hanya diajarkan di tingkat pernapasan yang lebih tinggi, ketika siswa dapat lebih menahan dan mengatur emosi. Di tingkat pernapasan yang lebih tinggi ini, dapat menghasilkan talenta penyembuhan, pengiriman sugesti, kontak batin, peka dalam segala hal, serta hal-hal yang tak terduga yang bisa kita alami. Di Reti Ati pada tingkat dasar, jika dapat memecahkan benda keras akan mendapatkan badge “Wing Pemecahan” yang terdiri dari 3 tingkat.

4       Kevakuman dan Bangkitnya Reti Ati
Seiring dengan berjalannya waktu, perguruan Reti Ati pun mengalami kevakuman, tidak ada lagi latihan pencak silat di Brontokusuman dikarenakan sebagian besar para pelatihnya berpindah jauh ke luar kota, bekerja memenuhi tugasnya dan tidak mungkin lagi merangkap lagi di perguruan. Pada tahun 1987, Mas Guntur berpindah ke Jakarta. Mendengar bahwa Mas Guntur berpindah ke Jakarta, Mas Sukomartoyo (Romo Hadi) beserta beberapa murid THS mencari mas Guntur namun tidak pernah bertemu (padahal tempat latihan THS tidak jauh dari tempat mas Guntur bekerja). Setelah 26 tahun tidak bertemu, Romo Hadi dan Mas Guntur akhirnya bertemu di kediaman Mas Guntur di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka sempat bertemu juga dengan Mas pung (Purwoto) setelah 45 tahun tidak bertemu. Menurut istilah mas Suko (Romo Hadi), Mas Pung, Mas Budi, Mas Guntur dan Mas Suko sendiri adalah “sedulur tunggal sepetarangan” yang masing-masing memiliki usia yang sepantaran. Berkumpulnya atau bersatunya lagi dua dari empat “dulur tunggal sepetarangan” atau saudara seangkatan ini antara Mas Guntur dengan Mas Suko, istilah Mas Guntur “Bersatunya kembali dua saudara satu darah” atau “manunggaling eko ludiro”. Mulai saat itu Mas Guntur dengan Romo Hadi serta beberapa murid THS Jakarta sering mengadakan pertemuan dan tetap terjalin baik sampai saat ini.

Kevakuman yang dialami perguruan Reti Ati bertahun-tahun telah berakhir sesuai dengan waktunya Tuhan, Reti Ati kini telah bangkit. Kebangkitan Perguruan Reti Ati ini atas prakarsa Mas Yoyok Sulistyo beserta rekan-rekan Reti Ati khususnya yang berdomisili di Yogyakarta yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu. Dengan berkumpulnya kembali seluruh kader pelatih, pendekar muda, serta pendekar di perguruan Reti Ati ini, saya memberikan apresiasi kepada mas Yoyok yang telah berhasil ngumpulake balung pisah bagi sesama anggota di tubuh perguruan Reti Ati.
95
Kegiatan dan Informasi / Minangkabau Silek Tuo Summer Camp 2014
« Last post by luri on 07/07/2014 09:13 »
Minangkabau Silek Tuo Summer Camp 2014

Yayasan Aluang Bunian kembali menyelenggarakan acara "Minangkabau Silek Camp 2014".
Workshop dan presentasi Silek Tradisional Minangkabau dan "Galanggang Aluang Bunian"
Festival Silek Tradisi Minangkabau,
Di Kenagarian Talang Babungo, Kec Hiliran Gumanti, Kab Solok.

Sekretariat
Dibudpar Kab Solok,
Talang Babungo,

Contack person,
Bpk il : 081374 459 937
Bpk Jufrizal Rj Malano, 082171 152 699
Bpk Buya Zuari Abdullah, 081374 734 034


http://www.silatindonesia.com/2014/07/minangkabau-silek-tuo-summer-camp-2014/

96
Aliran Pencak Silat / Re: THS-THM
« Last post by halilintar on 04/07/2014 16:11 »
untuk PPS Reti Ati memang sudah bertahun2 mengalami kevakuman dikarenakan pisah raga diantara pendekar2nya... Namun, untuk sekarang ini PPS Reti Ati sudah aktif kembali baik latihannya maupun dalam event2 seperti Rancak Pencak dan Malioboro Fest yang diadakan oleh PAS dan Tangtungan Project... R. Guntur Merdeka sebagai guru besarnya sekarang berdomisili di Jakarta, dan setelah kurang lebih 37 tahun tidak bertemu dengan saudara sepetarangannya (Romo Hadi Sukomartoyo), beberapa saat yang lalu kedua tokoh ini telah bertemu beberapa kali di kediaman R.Guntur Merdeka... kini R. Guntur Merdeka sedang aktif membina pemuda-pemudi  di Jakarta Barat, kediaman beliau.
97
Aliran Pencak Silat / Re: PPSB Cingkrig Gerak Cipta
« Last post by abay gcis on 01/07/2014 19:56 »
assalamualaikum wr wb.

 adakah yang berminat mempelajari cingkrig langsung dari tempat cingkrig itu berasal,yaitu kampung Rawa Belong ?atau berminat mengetahui ciri cingkrig ki Ajid yang menjadi sumber keilmuan cingkrig yang berkembang di Rawa Belong?ingin mengetahui,mengapa antara ki Ajid dan ki Ali terdapat perbedaan dalam menurunkan keilmuan cingkrig kepada murid-muridnya? ..........................
 Penasaran ..................
 atau malah sudah tahu jawabannya? .......
   atau malah baru tahu kalau seperti itu .......
..................
98
Pencak Silat Schools and Teachers / Re: Merpati Putih
« Last post by satrio simammora on 16/06/2014 21:40 »
assalammuallaikum
maaf kalo MP pmbukaan tuk anggota baruny kapan ya
dri dulu pngn betul ikut jadi anggota merpati putih
99
Aliran Pencak Silat / Re: Asal-usul dan sejarah silat BEKSI betawi
« Last post by devil on 13/06/2014 23:58 »
helloo kok sepi yaaa :D :D :D :D :D :D :D :D :D
100
Tenaga Dalam (TD) / Re: SILAT BERDO'A SELAMAT
« Last post by devil on 13/06/2014 23:37 »
kalo boleh tau anda belajar SBS sampai tingkat berapa ???? soalnya sampe tingkat 7 yang terakhir yang bisa ijabah / khataman. :D :D :D :D :D :D ;D
Pages: 1 ... 8 9 [10]
Powered by EzPortal