Saya ikutan ngetik di sini ya? Tangan kanan masih belum pulih, jadi sementara sedang tidak bisa pegang golok, saya pegang keyboard saja dulu.

Kalau menurut kebodohan saya, silat itu seperti juga ilmu lainnya, diukur dari manfaatnya bagi manusia. Apabila ilmu itu membawa manfaat bagi orang yang menekuninya, maka luhur-lah ilmu itu. Makin besar dan luas manfaat suatu ilmu, makin luhur pula derajat ilmu itu.
Dengan berpegang pada kebodohan itu, maka buat saya suatu ilmu selayaknya diturunkan pada pihak yang bermaksud menekuni dan bisa beroleh manfaat darinya, lepas dari asal bangsa maupun ras.
Jika seorang bule dari Transilvania (misalnya) mengembara ke Indonesia dengan hati gundah gulana karena kehilangan pegangan hidup, lalu menemukan makna kehidupannya dari belajar silat dan diapun menjadi manusia yang mumpuni lahir batin, lalu kembali ke negerinya, bekerja dan menebar kebaikan ke sekitarnya. Maka berkahlah bagi dia, gurunya, dan ilmu silat yang dipelajarinya.
Si bule mungkin hanya belajar dua gerakan silat... dia hanyalah seorang pendekar setengah jadi, berilmu separuh, dan berpemahaman tidak penuh. Tapi dia sudah jadi manusia yang berguna bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Pun, apakah salah bila seseorang memahami sebatas kemampuannya sendiri?
Mengenai perbedaan pemahaman,
Adalah keniscayaan bila setelah diturunkan pada seseorang, orang itu memiliki interpretasi dan pemahaman yang mungkin berbeda. Bagaimanapun juga manusia punya latar belakang dan cara berpikir yang berbeda, ini adalah fitrah. Interpretasi yang baru dan berbeda inilah yang mengembangkan suatu ilmu menjadi lebih baik, mutakhir dan luhur. Bila pelestarian ilmu dipahami sebagai pelarangan terhadap multi-interpretasi, maka sampai sekarang kita masih percaya bahwa matahari mengelilingi bumi, bukan sebaliknya. Sejauh seorang murid masih menghormati garis keguruan dan para pendahulunya, maka dia boleh melangkah dengan pemahamannya. Seperti kita tidak boleh menganggap anak akan hidup di jaman yang sama dengan jaman kita, seorang guru perlu memahami bahwa muridnya akan menghadapi dunia yang berbeda dengan dunianya.
***
Memang harus diakui silat menghadapi kasus lain yang parah, yaitu adanya pihak-pihak yang dengan sengaja menyalahgunakan, menyalahartikan, dan mengaku-aku tanpa hak. Tapi bukankah itu memang watak sebagian manusia atas sebagian lain yang akan selalu ada? Kita bisa berpegang pada fakta bahwa kegelapan hanya datang karena ketiadaan sinar. Bila silat asli yang hak cukup bersinar, dikenal dan banyak dipelajari oleh orang, maka kaum pengaku-aku itu tidak banyak bisa berbuat.
Tinggal masalahnya,
ketika di luar sana para pengaku yang berilmu rancu, berpandangan picik dan hanya bernafaskan keuntungan merajalela, di dalam sini para guru menutup diri, hanya mengajar separuh, dan tidak tampil ke muka (meski disebabkan oleh kerendahan hati), maka kita harus memaklumi bahwa kaum celaka itulah yang akan lebih dikenal dan dipanuti orang.
***
Simpulan saya, saya setuju dengan Kang O'ong. Ajarkan semua, tunjukkan apa adanya, biarkan murid (termasuk saudara-saudara kita 'bule') melihat ilmunya secara keseluruhan. Semoga manfaatnya lebih besar, pemahamannya lebih lengkap, dan berkahnya bagi semua yang terlibat. Apabila si murid melangkah lebih jauh dengan interpretasinya sendiri -sejauh masih ada dalam koridor moral/akhlak yang baik- kita terima sebagai keniscayaan, dengan tetap menjalin tali silaturahim, rasa hormat dan kasih sayang.
Justru dengan hanya mengajari separuh, kemungkinan ada pemahaman yang keliru akan semakin besar. Seperti dongeng tiga orang buta yang memegang gajah.
Mohon maaf kalau ada salah kata, ini cuma pendapat saya yang sedang gak bisa minum ponstan, jadi sedang ngelantur berat...
