Maturnuwun sanget untuk perhatiannya sahabat,
Desa kami Sekaralas agak tinggi, di kaki Lawu, jadi aman karena di atas banjir dan di bawah yang longsor. Malah kemaren ini kali Nglodro yang melalui desa kami setor material senilai sekitar Rp 10 juta berbentuk pasir dan batu-batu yang nyangkut di tikungan-tikungan kali yang banjir menuju Bengawan Solo. Jadi Mas Lodeng, Mas Genggong, Mbah Yo, Kang Sis dan kawan-kawan lain tua maupun muda 'bancakan' pada ceciblon gogo pasir dan batu. Tetapi kecamatan kami bagian Utara, di daerah Gendingan dan Widodaren Lor, air mencapai wuwungan atap. Apalagi didekat tempuran kali Walikukun dengan Bengawan Solo.
Saya bersama Ratuku (yang gratisan) sudah naik bebek ke sana nengoki. Orang-orang yang jadi korban tabah, masih bisa ngguya-ngguyu tuh! Banyak yang tetulung dan ikhlas membantu sodaranya. Mungkin perlu nenuwun tambah-tambah bencana karena dampak positifnya solidaritas sosial jadi lebih keliatan?
Setidaknya selama lereng Lawu dan Wilis serta gunung-gunung lain di Jawa di babat dan dijadikan kebun sayur oleh petani yang bertahan hidup, dan selama hutan-hutan jati yang digunduli saat reformasi di sepanjang aliran Bengawan Solo belon lebat kembali, selama itu pula kita pastikan bahwa banjir akan semakin seru saja. Setiap RT di setiap desa perlu punya beberapa perahu karet, jadi inpentaris RT tak cukup cuman tiker dan kursi plastik lagi.
Tinggal pilih khan? Kalau merasa asyik dengan bencana, silakan teruskan hidup serakah, sembarangan nyampah. Kalau mau tenteram sejahtera, semua sudah tau caranya. Kupikir, dan ini sangat disayangkan, kebanyakan kita memilih bencana, menolak kententraman dan kesejahteraan. Nyatanya gitu loh.
Salam hangat,
Bram