+-

Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Kejuaraan Pencak Silat Seni Piala Walikota Jakarta Selatan by luri
24/09/2024 15:38

Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi Open Ke 3 by luri
24/09/2024 15:35

Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Panglima TNI 2024 Se-Jawa Barat by luri
24/09/2024 15:22

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 85388 times)

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #75 on: 22/08/2008 15:30 »
Di kedai Ling pembantu-pembantu Syahbandar disambut baik oleh pemilik kedai Ling, yaitu perempuan setengah baya, ibu kandung Ling Ling. Dia sangat ramah.
 
"Tuan-tuan mau minum apa?" tanya dia.
"Soal minum itu memang harus. Tapi di luar minum, kami ingin bertemu putrimu, Ling Ling."

Sang ibu, istri Cia, pemilik rumah minum itu, memandang kedua pegawai Syahbandar dengan curiga. "Apa?" katanya. "Apa dia membuat kesalahan? Anak itu memang sering tidak sadar dalam bicara dan berbuat."

"O, tidak usah takut," kata pegawai Syahbandar itu. "Dia memang tidak membuat kesalahan sekarang ini."

"Tapi dia bisa saja membuat kesalahan nanti kalau dia tidak sanggup membuat minuman yang paling enak buat Tuan Syahbandar," kata pegawai Syahbandar yang satunya. "Nah, di mana dia?"

"Dia sedang ke kapal," kata suara lelaki dari belakang, suara Cia, ayah Ling Ling.
"Ke kapal?" tanya kedua pembantu Syahbandar itu.
"Betul," kata Cia. "Dia melamar bekerja di kapal untuk bisa berlayar ke Jawa."
Kedua pegawai atau pembantu Syahbandar itu tertawa.
Yang satunya malah sedikit meremehkan. Katanya, "Mana mungkin diterima?"

"Ah, yang namanya usaha," kata ibu Ling Ling.



***


Yang mungkin buat orang lain, khususnya kedua pegawai atau pembantu Syahbandar tersebut, adalah tidak mungkin - mengingat Ling Ling masih sangat belia dan perempuan pula - lain lagi di mata Ceng Ho. 

Ceng Ho bersedia bertemu anak remaja ini. Di seputar Ceng Ho sekarang ada juga Wu Ping dan Wang Jing Hong. Mereka duduk berhadapan di sana.

Pertanyaan Ceng Ho menunjukkan bahwa dia tidak menyepelekan gadis remaja ini. Katanya dengan memandang lurus ke mata Ling Ling, "Jadi kamu berminat berlayar ke Jawa?"
"Betul, Tuan Sam Po Kong," sahut Ling Ling.
"Tidak takut melihat gelombang laut?" tanya Ceng Ho.
"Saya lahir di atas kapal, Tuan Sam Po Kong," sahut Ling Ling.
"Apa katamu?"
"Memang betul begitu," sahut Ling Ling. "Ayah Ibu datang ke Qui-Nho ketika Ibu hamil tua Saya lahir di kapal setelah berlayar lima hari dari tanah Hok Kian sana."

Ceng Ho mengangguk-angguk. "Begitu?"

Lalu Wang Jing Hong yang bertanya menyangkut bagaimana seandainya Ling Ling dibolehkan ikut ke dalam pelayaran ke selatan tersebut. Kata Wang Jing Hong, "Lantas siapa yang bertanggung jawab?"

"Tanggung jawab apa, Tuan?" tanya Ling Ling.

"Kamu perempuan," kata Ceng Ho. "Sementara itu, di kapal-kapal kami hampir semuanya, seluruhnya, adalah tentara, dan sebagai tentara mereka adalah lelaki."

Dengan santai, tapi tidak dengan kesan kurang ajar, berkata Ling Ling menjawab pertanyaan itu, "Ayah saya juga lelaki."

Ceng Ho tertawa. "Kamu tidak usah bilang, semua orang juga tahu ayahmu, dan semua ayah di dunia, adalah lelaki."

"Maksud saya," kata Ling Ling mengayun namun tidak pula kehilangan sikap kesungguhan. "Ayah saya juga menguasai cara membela kehormatan kalau kehormatan putrinya terancam."

Lagi Ceng Ho ketawa. "Apa dengan kata-kata itu kamu bermaksud juga mengajukan proposal untuk ayahmu?"

"Tidak, Tuan. Saya mewakili diri sendiri. Tapi kalau Ayah mau ikut juga dalam ekspedisi ini, biar Ayah saja yang mengajukan proposal itu."

Ketawa Ceng Ho kini lebih lebar. "Kamu memang cerdas."

"Apa itu artinya saya diizinkan ikut berlayar ke Jawa?"

Ketawa Ceng Ho yang terakhir ini adalah ketawa untuk suatu pertanyaan: boleh. Karena itu Ling Ling pun amat sukacita.



***

Sukacita hati Ling Ling itu dibawa pulang ke rumah. Dari kapal sampai ke kedai, tempat tinggalnya, dia berlari-lari ceria. Seorang anak belia yang ceria dapat dilihat dari larinya, mengangkat dan menjatuhkan kaki ke bumi: dia seperti anak menjangan yang baru menguasai rimba raya.


***


Ketika Ling Ling tiba di kedai Ling, pembantu atau pegawai Syahbandar masih duduk di sana, menunggu. Kelihatannya mereka pun sudah seperti melayang-layang karena terlalu banyak minum. Siapa pun yang suka minum-minum dengan sendirinya telah menjadi hamba minuman-minuman. Karena minuman telah merasuk tubuh kedua orang suruhan Syahbandar ini, bahkan mereka tidak dapat melihat dengan terang bahwa orang yang mereka tunggu itu, Ling Ling, telah berada di kedai ini. "Itu Ling Ling sudah pulang," kata ibunya. Kedua orang suruhan itu menoleh dengan kepala berat seperti engsel yang berkarat dan tahunan tidak terpakai. Mereka menoleh, tapi tidak ngeh.

Karena itu ibu Ling Ling memanggil putrinya datang ke meja tempat kedua pegawai Syahbandar duduk menikmati mabuknya.

"Ling, ke sini sebentar," kata ibunya.

Dan Ling Ling pun datang ke meja itu, berdiri di hadapan ibunya. "Aku berhasil," katanya.
"Berhasil diterima berlayar?" tanya ibunya.
"Ya. Aku berhasil meyakinkan," kata Ling Ling.
"Syukurlah," kata ibunya. "Tapi ini, Tuan-tuan ini diutus oleh Syahbandar untuk membuat minuman yang cepat memabukkan."
"Itu gampang sekali," sahut Ling Ling. "Mereka sekarang sudah ada di bintang-bintang."

"Yang penting siap-siap," kata ibunya.

"Aku tidak pernah tidak siap kok," kata Ling Ling.


***

Kedua pegawai Syahbandar menyampaikan kepada tuan mereka bahwa Ling Ling siap membuatkan minuman yang dahsyat, yang bisa dengan cepat, tanpa menunggu reaksi yang lama seperti biasanya, mabuk dan seterusnya seperti mati suri. Betapa sukacita hati Syahbandar mendengar laporan bawahannya itu

"Jadi, anak itu bilang dia bisa membuat ramuan itu dengan gampang?" tanya Syahbandar kepada kedua suruhannya itu.
Bersamaan mereka menjawab, "Ya, Tuan."

Dan satunya berkata secara tersendiri, "Sekarang pun anak itu sedang meramunya."
"Berapa lama dia membuat ramuan itu?" tanya Syahbandar dengan mata terbuka, tanpa kedip.

"Saya tidak bertanya itu, Tuan," jawab salah seorang di antara mereka. "Tolol!" Syahbandar mendamprat. Mulutnya yang agak mencongor seperti moncong hewan memamah biak makin jelek dari yang sudah jelek. "Pergi kembali ke rumahnya dan tanyakan itu!"
Pegawai Syahbandar itu melongo oleh dampratan Syahbandar, berdiri di hadapan tuannya seperti si begok. Dengan lugu dia bertanya, "Saya harus ke sana lagi untuk bertanya berapa
lama dia membuat ramuan minuman itu, Tuan"
"Huh!" Syahbandar geregetan. "Tolol sekali. Sekali tolol tetap saja tolol."


"Baiklah, Tuan, kami akan pergi sekarang juga," kata pegawai yang satu lagi.
"Kalian bukan hanya pergi untuk mengatakan, melainkan menunggu sampai minuman itu selesai diramu. Saya butuh untuk nanti malam, tolol."
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #76 on: 22/08/2008 15:34 »
Bersamaan kedua pembantu atau pegawai Syahbandar itu mengangguk sambil berkata, "Ya, Tuan."

***


Ketika kedua orang suruhan Syahbandar itu pergi ke kedai Ling, Ling Ling pun sibuk membuat minuman arak yang ditugaskan kepadanya: untuk memabukkan dengan cepat. Sambil membuat minuman itu, dia bersenandung sebagaimana biasanya dia bekerja. Jika orang lain bekerja sambil merengut, Ling Ling bekerja dengan suka ceria sambil merangkairangkaikan kata menjadi larik-larik bernada dan berirama.

Dari pohon berbuahlah anggur Dari buah dibuatlah minuman Dari minuman lahirlah peminum Siapa yang mabuk ketika meminum Menyia-nyiakan waktu untuk kerja Apa yang diharapkan dari pemabuk Selain dari cacatnya dan celanya Tapi aku bebas dari salah dan dosa Karena membuat minuman adalah fiilku Hanya yang bekerja yang berhak makan.



***


Ling Ling tak sadar di belakangnya sudah berdiri dua orang suruhan Syahbandar. Kedua orang itu menunggu sambil memperhatikan gerak-gerik Ling Ling: caranya bekerja, caranya menerima pekerjaan sebagai suatu tanggung jawab - dan untuk itu, kata dia melagu, yang penting adalah kerja itu sendiri.
Setelah mengaduk dan menggoyang-goyang di dalam bejana, dia bermaksud menuangnya ke dalam bambu-bambu. Pada saat itu jugalah orang suruhan Syahbandar menyampaikan amanat tuannya.

''Cepat, selesaikan. Kami yang akan membawa minuman itu kepada Tuan Syahbandar,'' kata seorang di antara orang suruhan Syahbandar itu.

''Tenang saja,'' kata Ling Ling.
''Berapa lama kamu menyelesaikan itu?'' tanya pegawai Syahbandar itu.

Ling Ling memarahi mereka. ''Sudah. Jangan tanya. Yang penting hasilnya.''

''Sebetulnya, yang benarnya, kami disuruh kembali ke sini untuk bertanya dan kami sudah bertanya,'' kata pegawai Syahbandar itu.
''Sekarang kan kalian sudah tahu jawabnya,'' kata Ling Ling.
''Tapi amanat lain dari Tuan Syahbandar, adalah, selain bertanya dan sudah kamu jawab, kami pun disuruh menunggu sampai hasil pekerjaanmu itu rampung dengan mujarab. Hasilnya akan kami bawa sekarang juga.''

''Jadi kalian disuruh menunggu juga,'' kata Ling Ling sambil terus bekerja.

''Ya,'' jawab mereka berdua secara berbareng.

''Kalau kalian disuruh menunggu juga, ya sudah, tunggu saja. Tidak perlu bertanya. Bertanya yang berulang-ulang bisa membuat orang mengganggap kalian tolol.''

Dengan lugu tapi sekaligus juga jujur kedua orang itu membenarkan.
Salah seorang di antara mereka mengaku. ''Ya, memang, Tuan Syahbandar pun mengatakan kami ini tolol.''

Ling Ling, yang masih sangat belia ini, memang cergas dan cerdas menyimpulkan mutu kepala kedua orang itu. Dia maklum saja. Maka dia merasa tidak perlu bicara.

***
Setelah senja, baru minuman itu benar-benar beraroma. Matahari terbenam di balik tanah berbukit, tapi sinarnya melembayungkan riak-riak air laut di timur. Burung-burung bergerombol terbang ke barat. Sebentar langit di arah itu memerah, pudar, dan kemudian gelap.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #77 on: 22/08/2008 15:37 »
Pada saat malam baru saja merangkak, Ceng Ho merasa perlu mengatur siasat baru lagi untuk bertemu Syahbandar. Dia katakan itu kepada kedua perwiranya di ruang khusus untuk rapat. ''Kita jadikan saja pergi ke rumah Syahbandar,'' kata Ceng Ho. ''Kalian semua siap? Ci Liang dan Cun An?''

Kedua perwira itu - yang seumur-umur baru disebut namanya dengan cara begini oleh Ceng Ho -mengangguk bersama-sama, menyepakati kebijakan Ceng Ho.

***

Demikianlah akhirnya Ceng Ho bersama lima orang, termasuk tentu saja Dang Zhua dan Hua Xiong, turun dari kapal di pendahuluan malam, berangkat dengan berjalan kaki ke rumah Syahbandar hanya sekitar 3 kilometer.

Siapa yang memiliki ilmu ming-xiang, niscaya dapat melihat dengan jelas wajah-wajah Dang Xhua dan Hua Xiong yang mirip topeng tertentu untuk peran-peran yang tidak bisa dipercaya.

Wajah mereka yang asli merupakan topeng yang lebih meyakinkan untuk peran-peran buruk perilaku. Mereka berjalan di belakang Ceng Ho dan kedua perwira, Cun An dan Ci Liang, serta Wang Jing Hong.
Sambil berjalan dengan langkah yang panjang, tapi bicara dengan suara dipelankan, berkatalah Wang Jing Hong kepada Ceng Ho. ''Saya curiga.''

''Sama,'' kata Ceng Ho.

''Tapi, apakah kita akan mendapat jawaban yang memuaskan tentang Zhu Yun Wen?'' tanya Wang Jing Hong.

''Memuaskan atau tidak, kita harus mendapat jawaban tentang dia,'' kata Ceng Ho. Yang
penting, kita bukan keledai. Kita harus waspada.''
''Saya mendapat firasat tidak bagus,'' kata Wang Jing Hong. 
''Saya bahkan sudah siap menghadapi segala kemungkinan darurat. Di situlah hidup.''

****
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #78 on: 22/08/2008 15:44 »
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di rumah Syahbandar. Tuan rumah yang berkuasa di Pelabuhan Qui-Nho ini menyambut tamu-tamunya dengan keramahan yang tak lazim. Ada kegugupan, ketegangan, dan gambaran kesenangan yang tersamar di wajah Syahbandar. Ceng Ho bukan tidak melihat itu. Ceng Ho dapat segera melihat itu. Sambil membungkukkan badan melebihi keramahan kemarin, Syahbandar berkata, ''Beritanya pasti menyukacitakan Tuan. Mari silakan duduk.'' ''Terima kasih,'' kata Ceng Ho. Dan Ceng Ho pun duduk di kursi yang diarahkan Syahbandar. Demikian juga yang lain-lain. Dengan memasang dua tangan di dada sebagaimana biasa dilakukan orang di Campa untuk memberi takzim kepada orang yang patut dihormati, Syahbandar berkata untuk membangkitkan rasa sukacita sekaligus simpati bahwa dia telah berhasil, ''Sebagaimana sudah saya janjikan, nama yang Tuan tanyakan pada saya kemarin itu Tuan dapatkan jawabannya hari ini.'' Tawaran akan kesukacitaan itu membuat Ceng Ho seperti tegak duduk di atas kursinya. Katanya, ''Jadi sudah ada jawabannya tentang Zhu Yun Wen.'' ''Betul, Tuan,'' kata Syahbandar. ''Dia adalah raja terguling di utara yang memang bersembunyi di Campa.'' ''Terima kasih atas jasa Tuan itu,'' kata Ceng Ho. ''Sama-sama,'' kata Syahbandar. ''Sama-sama.'' Dan Syahbandar menepukkan tangan ke arah dalam, menyuruh pelayannya membawakan minuman. Pelayan Syahbandar pun dengan segera dan tanggap datang ke situ membawa cawan-cawan minuman lantas menaruh di atas meja. Syahbandar mengambil salah satu cawan dan mengarahkan kepada tamu-tamunya itu. ''Mari, silakan minum. Kita harus bersulang dulu demi keberhasilan Sam Po Kong. Semoga misi Sam Po Kong di semua negeri akan sukses pula.''


Semuanya, mulai dari Ceng Ho, kemudian Wang Jing Hong, Cun An, Ci Liang, dan Dang Zhun dan Hua Xiong, bersamaan mengangkat cawan masing-masing untuk isyarat sulang. Syahbandar menaikkan cawannya.

Katanya, ''Demi keselamatan semua.'' Semua pun mengucapkan kata-kata itu, ''Demi keselamatan semua.'' Tapi Ceng Ho menurunkan kembali cawannya, tidak menaruhnya di mulutnya, melihat terlebih dulu dengan ekor matanya kepada Syahbandar. Ceng Ho mengganti cawannya dengan cawan yang dipegang Syahbandar. ''Maaf,'' katanya sambil mengambil cawan di tangan Syahbandar, memberikan cawan yang berada di tangannya kepada sang tuan rumah. ''Nah, mari kita minum.'' Syahbandar terkesiap namun tak bisa menghindar. Dia meneguk saja minuman itu. Diamdiam dia merasa syukur, sebab yang diduganya bahwa Ceng Ho tidak percaya padanya dan akan mengganti cawannya, ternyata betul. Sebab, justru cawan yang dipegangnya itu adalah cawan yang berisi minuman ramuan Ling Ling yang sangat memabukkan, membuat orang yang minum langsung tak sadarkan diri. Dan, bagaimana Ceng Ho? Apakah dia akan meneguk minuman dari cawan yang baru diambilnya dari Syahbandar? Ceng Ho cerdik. Dia pura-pura memasukkan minuman itu ke mulutnya. Tapi segera setelah itu dia berbatuk-batuk, sehingga isi cawan yang baru masuk sedikit di mulutnya, lantas disemburnya keluar. ''Maaf, saya lupa,''

katanya. ''Rasa senang memang sering membuat orang terlupa sesaat.'' Syahbandar pun pura-pura masygul. ''Ada apa, Tuan?'' ''Maaf, saya lupa. Kami menganggap minuman ini termasuk barang haram dalam kepercayaan kami.'' Syahbandar bingung. Bersamaan dengan itu, pengikutnya, termasuk Dang Zhua dan Hua Xiong, termasuk Cun An dan Ci Liang, kecuali Wang Jing Hong, sama-sama tumbang dan tergeletak di lantai. Hal itu dengan sendirinya membuat Ceng Ho gampang sekali menyergap Syahbandar. Begitu Ceng Ho menyergap Syahbandar, serta merta pembantu-pembantunya atau pegawaipegawainya yang merupakan laskar-laskar terlatih datang memasuki ruangan, siap menyerang Ceng Ho dan Wang Jing Hong, dua di antara anggota ekspedisi yang tidak meminum minuman yang memabukkan itu. Dalam sekejap terjadilah perkelahian seru. Selalu perkelahian terjadi karena satu menyerang satunya dan satunya tidak ingin menyamakan harkat manusia sebagai hewan atau batu. Mulanya Syahbandar mengira dan karena itu berharap begundal-begundalnya dapat mengalahkan hanya dua orang, yaitu Ceng Ho dan Wang Jing Hong. Tapi ternyata sepuluh orang begundal itu satu demi satu tumbang dikalahkan dengan tangan kosong Ceng Ho. Begitu orang yang terakhir dikalahkan, tumbang dengan sia-siapa di lantai, Syahbandar menyadari kesulitan dirinya.

Dia pun cepat-cepat mundur hendak pergi. Namun Ceng Ho segera memburu dan menangkap leher bajunya. ''Kenapa buru-buru pergi, Tuan Syahbandar?'' kata Ceng Ho. ''Maaf, Tuan Sam Po Kong,'' kata Syahbandar dengan wajah pucat. ''O, ya?'' kata Ceng Ho pura-pura tidak paham. Maksudnya sekadar hendak mengayun perasaan Syahbandar yang kadung tidak menentu antara gagal dan tak berdaya. ''Kalau Anda mau mengucapkan maaf, ucapkanlah itu kepada Zhu Yun Wen saja. Katakan kepadanya bahwa Anda tidak berhasil memperdaya saya.''

Lagi Syahbandar mengucapkan kata-kata yang sama, ''Maaf, Tuan Sam Po Kong.'' Ceng Ho mengempaskan Syahbandar dengan mendorongnya di dadanya. Syahbandar pun terpelanting. Kata Ceng Ho. ''Tidak usah bilang maaf. Maaf yang terlalu sering diucapkan, tanpa memahami maknanya, hanya akan menjadi basa-basi yang mubazir.''

Syahbandar menjadi seperti dungu. ''Iya, Tuan Sam Po Kong,'' katanya sambil berdiri.
Ceng Ho maju dan menangkapnya kembali, bukan di bagian leher bajunya, tapi langsung lehernya. Dia mencekik leher Syahbandar dan menyandarkan ke dinding. Katanya dengan nada ancam, ''Sekarang katakan yang sebenarnya di mana ngumpetnya Zhu Yun Wen?''

Syahbandar makin gentar. Orang yang gentar adalah orang yang takut terhadap kematian. Dia mengira Ceng Ho akan melakukannya segera.
''Baik, Tuan Sam Po Kong, baik,'' kata Syahbandar, ''saya akan antar Tuan ke sana.''



***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #79 on: 22/08/2008 15:51 »
Ceng Ho memaksa Syahbandar untuk mengantarkannya sekarang juga ke sana.
Tapi Ceng Ho mengkhawatirkan keadaan perwiranya serta juru tulisnya yang masih tergeletak di lantai.

''Berapa lama lagi mereka siuman?'' tanya Ceng Ho.
''Tidak lama, Tuan.''
Karenanya Ceng Ho memutuskan untuk menunggu beberapa saat sampai orang-orangnya siuman. Dia memutuskan untuk berangkat ke tempat sembunyi Zhu Yun Wen malam ini juga.

Dan manakala mereka semua siuman, berangkatlah mereka semua ke puri sembunyian Zhu Yun Wen.

***


Di purinya itu, seperti biasa, Zhu Yun Wen dikelilingi oleh perempuan-perempuan, telanjang dan setengah telanjang. Dia tahu bahwa Syhabandar akan datang sekarang. 

Maka sambil mengangkat cawannya, Zhu Yun Wen berkata kepada semua yang berada disekitarnya, ''Mari minum. Hari ini adalah hari bersenang-senang. Sebentar lagi Syahbandar akan membawa musuhku ke sini. Dia akan menari-nari di sini di bawah irama cambuk.''
Semua senang. Semua keranjingan.

''Coba, peragakan bagaimana kamu mencambuk,'' kata Zhu Yun Wen kepada algojonya.

Dan, algojonya itu memecut-mecutkan cambuknya di tengah orang-orang di dalam balirung puri. Caranya memecut-mecut itu seperti seekor bajing yang lincah berjungkir-balik di situ.
Semua melihatnya dengan senang, sementara Zhu Yun Wen membayangkan kemenangannya dalam keterasingannya.



***


Begitulah, orang-orang yang sedang dirasani itu, kini sedang menuju ke puri tempat persembunyian Zhu Yun Wen. Mereka semua tujuh orang: Ceng Ho, Wang Jing Hong, Dang Zhua, Hua Xiong, Cun An, dan Ci Liang, serta Syahbandar sendiri. Kaki-kaki kuda yang mereka tumpaki itu berderap-derap leluasa dan liar padahal jalanan ke sana gelap. Setelah melintasi bagian belukar, sampailah mereka ke tempat tujuan.... Seseorang di depan puri, yang bertugas di situ, cepat-cepat memberi aba-aba kepada seseorang lainnya yang berdiri di bagian muka balairung, dan orang yang terakhir disebut ini lantas masuk ke dalam, ke balairung, tempat Zhu Yun Wen bersuka-suka. Dia memberi hormat dengan duduk bersila di hadapan Zhu Yun Wen. Katanya, ''Tuan Raja, Syahbandar dan tamunya sudah berada di luar.'' Zhu Yun Wen berdiri dari kursinya. Tegang badannya namun senang hatinya. Katanya, ''Pasti dia membawa orang yang menari-nari oleh cambukan algojo di balairung ini. Suruh mereka masuk saja.'' ''Baik, Tuan Raja,'' kata penjaga itu. Dan dia keluar. 
Ikut juga keluar algojo yang memegang cambuk itu. Tampaknya dia tak sabar hendak memeperagakan kebolehannya, memecut sambil meloncat-loncat seperti tupai. Pasti dia akan kecele. Malahan bukan hanya dia seorang diri yang kecele. Termasuk Zhu Yun Wen sendiri yang akan terkejut, terperanjat, terkesima. 


***


Di kursinya yang besar, kursi yang dibayangkannya sebagai kursi yang akan membuatnya kembali berkuasa, Zhu Yun Wen menunggu masuknya Syahbandar. Dalam gambarannya Syahbandar dan begundal-begundalnya akan mencampakkan Ceng Ho serta anak buahnya di bawah kakinya.

Gambarannya itu sesuai dengan kenyataan. Syahbandar mendorong tubuh Ceng Ho ke lantai.

Dan Ceng Ho jatuh di situ seperti seorang budak. Padahal itu semuanya hanya pura-pura.

Ceng Ho yang menyuruh Syahbandar melakukan itu kepadanya.
Zhu Yun Wen pun terkecoh. Dia hampiri Ceng Ho yang tersungkur di lantai. Lantas dia menginjak badan Ceng Ho di lantai itu, sambil ketawa keras, mirip monyet tertentu.

''Terima kasih, Syahbandar,'' kata Zhu Yun Wen. ''Kamu sudah membawa musuhku ini ke sini. Ayo, semua tepuk tangan.''
Dan semua orang di situ pun memberi tepuk tangan.
Lalu Zhu Yun Wen berputar, mengganti kakinya yang satu menginjak badan Ceng Ho. 

Katanya, ''Dia inilah yang menggulingkan aku dari singgasanaku atas perintah pamanku. Sekarang aku ingin menonton bagaimana dia terguling-guling dicambuk algojoku, sebelum aku pancung dia dan mati konyol di sini. Ayo, mainkan musik.''

Orang-orang yang diperintah lantas memainkan musik. Tak lama kemudian si algojo berjalan ke tengah balairung mulai memecut-mecutkan udara. Dia pun meloncat-loncat meniru
kegesitan tupai sehingga orang-orang yang berada di situ menyaksikan dengan senang, merasa terhibur.

Ceng Ho bersama orangnya tetap pura-pura tergeletak karena mabuk di lantai.

''Syahbandar,'' kata Zhu Yun Wen, ''Berapa lama mereka mabuk tidak sadarkan diri?''

Syahbandar tak percaya diri. Dia menjawab dengan kalimat yang tidak lancar, plegak-pleguk, dan terpilah-pilah. Katanya, ''Cu, cu, cu-kup, la-ma, eh, Pap-pa-paduka Raja.''

Jawaban yang tak lancar itu membuat Zhu Yun Wen berprasangka: mengapa Syahbandar alih-alih begini. Tapi dia bertanya juga, ''Berapa jarak 'cukup' yang kamu maksudkan itu?''
Syahbandar waham terhadap dirinya. Dia takut dustanya mengakibatkan dua pihak -Ceng Ho dan Zhu Yun Wen -menghabisinya dalam pertarungan yang dipastikannya akan berlangsung
dalam waktu dekat di muka.

Tapi, sekadar berkutat dengan waktu, Syahbandar menjawab, ''Mereka sudah tidak sadar diri sejak kami bawa ke sini.''
Zhu Yun Wen berputar-putar di atas lantai memperhatikan tubuh-tubuh yang tergeletak di bawah. ''Bagus,'' katanya. ''Kalau begitu kita akan cambuk mereka sampai mereka siuman lagi.''
Algojo pun membunyikan cambuk. Dengan begitu dia hendak berkata bahwa dia siap melakukannya sekarang juga.
Lalu kata Zhu Yun Wen kepada algojo itu. ''Ya mainkanlah tarian cambukmu kepada bedebah ini.''

Dan algojo itu pun melakukan dengan congkak apa yang dia pikir bahwa dialah yang paling menentukan nasib orang. Sekali pecut, pecut itu pun berdetas, langsung mengena Ceng Ho.
Kemudian pecut kedua mengena Wang Jing Hong. Dan selanjutnya berurut kepada semua orang Ceng Ho, yaitu dua perwira, termasuk dua juru tulisnya yang palsu itu.
Namun pada cambukan berikut, algojo itu kaget, dan semua yang berada di balirung itu kaget,

sebab sekonyong Ceng Ho berdiri, menangkap ujung cambuk yang baru berdetas di tubuhnya itu, lalu menariknya dengan kuat, dengan ketangguhan tak terimbangi, sehingga algojo itu terseret ke arah Ceng Ho dan terpelanting di hadapannya. Segera laskar-laskar puri yang seluruhnya pelarian dari utara yang dilatih menjadi tentara yang setia pada Zhu Yun Wen bersiap siaga menghadapi perkembangan ini. Begitu mereka maju hendak menyerang Ceng Ho, dua perwira Ceng Ho bersama kepala juru mudinya, yaitu Ci Liang dan Cun An serta Wang Jing Hong, lekas-lekas pula bangkit dari keadaan mereka yang pura-pura mabuk itu, dan siap menghadapi serangan. Hanya dua orang anggota ekspedisi Ceng Ho, yaitu Dang Zhua dan Hua Xiong, yang tidak terlibat perkelahian itu.

Dalam sekejap balairung berubah menjadi pentas pertarungan sengit. Karena laskar-laskar Zhu Yun Wen menggunakan senjata, kedua orang perwira Ceng Ho, terkecuali Ceng Ho, sama-sama bertarung dengan pedang. Pertarungan dengan pedang itu berlangsung seru. Tentu sebagai cempiang sejati, Ceng Ho sanggup mengalahkan laskar-laskar Zhu Yun Wen itu. Mereka adalah laskar-laskar yang lebih banyak tampil sebagai sok jagoan ketimbang jagoan sejati. Laskar-laskar itu dengan cepat - karena hanya sombong dan bersemangat kardus mengira diri mereka paling perkasa - dikirim satu per satu oleh Ceng Ho ke wilayah yang bukan dunia kasatmata, yaitu menyatu daging dengan tanah: menjadi marhum...... Melihat kenyataan yang tak menyukacitakan hati, lekas-lekas Zhu Yun Wen lari tunggang langgang, masuk ke dalam purinya.
***
Memangnya hendak ke mana Zhu Yun Wen pada malam larut yang gelap dan dingin begini? Entah. Dia tak bisa menggunakan nalar lagi. Yang bekerja dalam dirinya sekarang hanyalah naluri ingin hidup semata-mata. Dan ketika dia masuk ke dalam puri untuk melarikan diri karena takut kepada Ceng Ho, dia telah merasa dirinya, tanpa dia perincikan perasaan itu dengan kata-kata, sebagai tikus. Ketika melarikan diri ke dalam, dia tak sadar pula telah menubruk dan menginjak beberapa orang perempuan di dalam balairung yang tadi menghadiri pesta-poranya dengan tidak berbusana. Di dalam Zhu Yun Wen bersembunyi di balik tirai, sebagai tikus yang merasa yakin akan menemukan azabnya....

******
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #80 on: 22/08/2008 16:00 »
Bersembunyi di balik tirai itu tak membuatnya aman. Maka sambil berpikir untung-untungan, dia berlari lagi ke belakang bangunan puri. Di situ ada sebuah taman kecil. Ada kolam di tengah-tengah, serta kandang-kandang, seperti kebun binatang, di mana di sangkarnya banyak burung jenis berkicau, termasuk binatang-binatang berkaki empat yang buas: seekor harimau, seekor serigala, dan lain-lain. Zhu Yun Wen bingung beberapa saat di taman itu. Akhirnya oleh keputusan naluri pula dia cepat menyemplung ke dalam kolam. Di kolam itu tumbuh jenis rumput tinggi yang berongga. Maka dicabutnya batang rumput berongga itu, lantas dia membenamkan diri ke dalam air, menggunakan batang berongga itu sebagai alat bernafas. Dia selipkan batang itu ke dalam mulutnya, dan ujungnya menghirup udara di atas. Menurut dugaannya, dia akan selamat di situ. Dan memang dia selamat untuk sementara. Ceng Ho dan kedua perwiranya datang ke situ. Mereka mencari di setiap tumbuhan taman yang membelukar. Tak menemukan. Mereka tidak secergas Ceng Ho. Yang disebut ini segera melihat air di dalam kolam itu bergerak-gerak. Maka dia berhenti di depan kolam itu. Dia berpikir. Dan akhirnya dia menyimpulkan pasti Zhu Yun Wen baru saja menyemplung ke dalam kolam itu.

Maka berkatalah Ceng Ho dengan suara keras, "Keluarlah dari dalam kolam, Zhu Yun Wen." Cun An dan Ci Liang serta Wang Jing Hong segera berdiri mengelilingi kolam. Berjaga. Kata Ceng Ho lagi,

"Keluarlah, ayo. Sangat tidak terhormat kalau Tuan mati ditikam di dalam kolam. Kalau Tuan mati ditikam di dalam kolam ini, Tuan menista martabat Tuan sebagai Raja Cina. Apakah Tuan ingin mati terhina sebagai hewan buruan? Keluarlah!" Secepat itu Zhun Yun Wen muncul dari dalam air. Dia berdiri di situ. Muncrat serapah dari mulutnya. Katanya, "Kamu memang jahanam, Ceng Ho!" Sebaliknya Ceng Ho memberinya salam. Katanya, "Selamat malam, Tuan Raja." Zhu Yun Wen tidak hirau. Dia naik dari kolam itu. Kepercayaan baru, yaitu kepercayaan sebagai seorang ksatria yang tidak sudi dikalahkan, membuat Zhu Yun Wen siap menghadapi Ceng Ho, apa pun hasilnya.

"Kamu jangan terlalu percaya diri, Ceng Ho," kata Zhu Yun Wen. Dengan santun dan samadya Ceng Ho menjawab, "Tentu saja, Tuan Raja." Kini Zhu Yun Wen telah berada di luar kolam, berdiri dengan kepercayaan baru yang membuatnya tegar.

Katanya dengan berani, "Kalau kamu kira kamu bisa mengalahkan aku seperti pernah kamu lakukan, kamu mengisap jempol." "Kebetulan saya tidak mengira begitu," kata Ceng Ho. "Anda tahu, Zhu Di memberi kepercayaan kepada saya untuk bertindak atas nama kerajaan. Dulu beliau memberikan kepercayaan kepada saya untuk menggulingkan pemerintahan yang korup, pemerintahan Anda, yang marak oleh mesum. Dan sekarang beliau memberikan kepercayaan pula kepada saya untuk menangkap Anda." Zhu Yun Wen tertawa bahak. Tawanya seakan hendak menyaingi guruh musim hujan. "Tidak gampang berbuat seperti yang kamu bayangkan, Ceng Ho." "Saya bukan orang yang pandai membayang-bayang," kata Ceng Ho.

"Saya orang praktis. Saya berbuat berdasarkan apa yang saya yakini benar. Dan apa yang saya yakini setidaknya tumbuh dari pengalaman yang ditempa oleh waktu." "Sombong," kata Zhu Yun Wen. "Buktikan dulu." "Saya terima, Tuan," sahut Ceng Ho. "Kita akan buktikan bersama-sama." "Setuju. Kita harus membuktikannya sekarang," kata Zhu Yun Wen sambil mencabut pedang yang tersandang di pinggangnya. Zhu Yun Wen pun meloncat, menyerang Ceng Ho. Ceng Ho pun menghindar, menangkis Zhu Yun Wen. Setelah itu terjadilah serang-menyerang, tangkis-menangkis. Kedua perwira CengHo hendak ikut menyerang dari dua arah berbeda, tapi segera Ceng Ho melarang mereka. "Biarkan saya yang menghadapinya," kata Ceng Ho seraya menunggu sejenak serangan Zhu Yun Wen. "Beliau menaruh dendam khusus kepada saya. Maka biarkan beliau melampiaskan itu secara sendiri pula." Zhu Yun Wen tertawa lagi. Barangkali itu cara dia mengejek, mempermainkan konsentrasi dan urat saraf Ceng Ho.

Padahal di balik itu semua, di dasar paling tidak teguh dari pendiriannya, sebetulnya Zhu Yun Wen sedang berusaha dengan sia-sia menegakkan konfidensinya. Dia setengah percaya saat ini yang akan berubah menjadi percaya bulat, dia toh akan kalah dalam adu anggar ini. Dan memang betul, setelah adu pedang yang tidak seimbang, akhirnya Zhu Yun Wen tergelincir dan jatuh terjerembap. Bersamaan dengan itu pedang Ceng Ho dengan sangat cepat telah menempel di leher Zhu Yun Wen yang putus asa,

"Bunuhlah." Ceng Ho diam sesaat, memandang dengan keksatriaan tulen. "Tidak," katanya. "Perintah Kaisar Zhu Di, Anda harus dibawa kembali ke Cina."

Zhu Yun Wen mengembuskan nafas yang tadi ditahannya.
"Urus beliau," kata Ceng Ho kepada kedua perwiranya.

Dan Ci Liang dan Cun An pun membekuk Zhu Yun Wen. Dengan begitu putuslah sudah kebiasaan pesta-pora dan kemesuman di negeri orang.


***


Apa boleh buat, Zhu Yun Wen harus menerima takdirnya, digiring dengan tangan terikat melewati balairung, tempat dia baru saja berpesta-pora, disaksikan orang-orangnya. Di antara orang-orang itu, di dekat pintu paling besar, berdiri juga orang yang gagal mengemban tugas, Syahbandar.

Di tempatnya berdiri ketika Zhu Yun Wen lewat dalam keadaan konyol, Syahbandar menundukkan kepala. Katanya, "Maafkan saya, Tuan Raja."

Zhu Yun Wen bahkan tidak melirik.
Dia telah menjadi tikus basah.

***

Setelah itu kuda-kuda bergerak, dipacu kencang dari puri tempat diam Zhu Yun Wen ke pelabuhan. Zhu Yun Wen berada satu kuda dengan Ceng Ho. Dia dilungkarkan di depan, dan Ceng Ho memegang tali sais. Bunyi kaki-kaki kuda seperti gemuruh kecil dan panjang di belantara.

***


Ketika kuda-kuda itu melewati kedai Ling, orang-orang di dalam melihat keluar, tapi tak melihat dengan jelas sebab gelap. Di antara orang-orang yang berada di kedai itu ada juga Tan Tay Seng yang baru saja meneguk minumannya.

Tanpa menengok keluar, Tan Tay Seng berkata dengan acuh tak acuh namun yakin, "Itu sudah pasti."

Orang-orang melihat kepadanya, bertanya-tanya dalam hati. Tetapi mereka tidak bertanya lewat mulut, apa gerangan yang diperkatakan Tan Tay Seng tentang "yang pasti itu"?

Ayah Ling yang masih melayani di situ, yang kebetulan duduk berhadapan dengan Tan Tay Seng, bertanya, "Pasti apanya?"

"Ceng Ho yang Sam Po Kong pasti berhasil menangkap Zhu Yun Wen," kata Tan Tay Seng.
"Apa katamu?" tanya ayah Ling.
"Ah, itu tidak penting buatmu," jawab Tan Tay Seng. "Yang penting buat kita sekarang, aku ingin menyanyikan lagu untuk keberhasilan Sam Po Kong menangkap Zhu Yun Wen."


Ketika Tan Tay Seng berkata begitu, dia melihat ada sebuah pei-pa *) digantung di dinding.
Maka dia berdiri dan bertanya pada ayah Ling, "Boleh aku pinjam itu?"
Ayah Ling melihat dulu pei-pa itu. "Kalau kau bisa memainkannya, kau bahkan boleh membeli dengan murah."

"Betul?" tanya Tan Tay Seng.
"Betul," jawab ayah Ling dan mengambilkan pei-pa itu, memberikannya kepada Tan Tay Seng.

Tan Tay Seng menerimanya, dan memetik-metiknya untuk sekadar mengakrabkan diri dengan instrumen itu. Ada dawai yang didengarnya tidak laras, dilaraskannya. Setelah itu dia memainkannya. Sambil memainkan dia mengarang larik-larik sajak yang muncul tiba-tiba
dalam ilhamnya.

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #81 on: 22/08/2008 16:04 »
Ikan yang berenang di dalam balong Jangan ditangkap dengan tangan kosong Pakai jala supaya semuanya terborong Senanglah hati bagai ditabuh gong Tapi senang jangan lahirkan sombong Zhu Yun Wen sombong ditawan Sam Po Kong.


***

Cun An dan Ci Liang menggiring Zhu Yun Wen, meniti jembatan yang terbentang antara kapal dan darat, masuk ke dalam, ke suatu ruangan khusus - ruangan dengan terali-terali yang memang sengaja dirancang dan dibangun untuk menangkap dua orang yang akan dibawa nanti ke hadapan Zhu Di, yaitu Zhu Yun Wen dan Chen Tsu I. Di dalam ruangan berterali itulah Zhu Yun Wen disekap dengan segala kekalahannya. Dia tidak bisa melihat apa-apa, sebab ruangan ini gelap, bukan hanya pada malam hari seperti sekarang, melainkan juga pada siang hari, besok, lusa, tulat, tubin. Hanya nasib baik yang dapat membuatnya bebas. Dan barangkali harus ada lebih... Ya, dan barangkali harus ada lebih dari hanya pengkhianat yang akan menyusup ke situ. Adakah penghianat dalam ekspedisi ini? Jawabnya: pasti ada.


***


Sebelum itu, perhatikanlah lebih dulu apa yang terjadi di sebuah kamar. Agar Anda cepat mengingat tentang kamar ini, baiklah disebut kamar ini berada di ujung. Yang menempati tak lain tak bukan Dang Zhua dan Hua Xiong. Mereka bicara pelan-pelan di situ, nyaris seperti berbisik-bisik, dan sesekali melihat ke arah pintu.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Hua Xiong. "Keadaannya sekarang telah terbuka."

"Jangan terlalu kreatif," kata Dang Zhua. "Kita jalankan saja apa yang sudah ditetapkan Menteri Liu Ta Xia. Keberadaan kita harus tetap tidak terbaca. Keteledoran kita yang lalu, menaruh kertas secara sembarangan, sehingga kertas-kertas itu 'dicuri' dan membuat siapa pun yang 'mencuri' itu menilai-nilai kemampuan kita, tidak boleh terulang lagi."

"Ah, kalau ada yang mau 'mencuri' lagi kertas-kertas di sini toh kita sudah punya orang yang dapat menulis dengan bagus," kata Hua Xiong.

"Sst, itu juga harus terjaga rahasianya. Menurutkan Cang itu tidak berpendirian. Bisa saja dia ngoceh-ngoceh, dan dalam tidak sadar dia bilang menulis surat yang kita pesan kepadanya."

"Gampang mengurus orang yang tidak berpendirian. Asalkan uang untuknya cukup, dia gampang dibikin seperti kerbau."

"Sst, jangan keras-keras."

Hua Xiong menutup mulut dengan tangannya. "Lantas sekarang, bagaimana?" tanya Hua Xiong dengan suara dipelankan benar. "Di mana kita bebaskan Zhu Yun Wen?"

"Kita tunggu sampai kita tiba di Asem Arang."*)

"Lo? Kan kita masih akan singgah di Si-Li-Fo-Tsi."


"Sst."

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #82 on: 22/08/2008 16:08 »
Pada pagi harinya Ceng Ho datang ke ruang tahanan berterali tempat Zhu Yun Wen mendekam. Walaupun ruang ini sangat kukuh, keruan ada juga penjaga yang bertugas di depan. Kebetulan yang bertugas menjaga tertawan Zhu Yun Wen di pagi pertama setelah dia ditangkap dan disekap di kapal ini adalah Cang, bintara yang disebut Dang Zhua tadi malam sebagai "orang yang tidak berpendirian".

Siapa sebetulnya Cang?


Untuk sementara, katakan saja dia menurut apa yang sudah dikatakan Dang Zhua. Kini dia bertugas menjaga di depan sel Zhu Yun Wen. Dia memberi hormat kepada Ceng Ho yang datang ke situ.

Ceng Ho memandang ke dalam, melihat Zhu Yun Wen masih tidur dengan kedua kaki terbelenggu rantai. Tanpa membangunkannya, Zhu Yun Wen bangun sendiri, menyadari ada Ceng Ho di luar selnya itu. Begitu membuka mata, dia langsung menyerapah pada Ceng Ho.

"Terkutuk kamu, Ceng Ho!" katanya. "Apa-apaan ini? Aku ditawan seperti binatang. Tidak sopan! Tidak tahu adat."

"Maaf, Tuan Raja," kata Ceng Ho. "Kekuasaan memang sering mengabaikan sopan santun dan adat-istiadat. Bukankah ketika Anda berkuasa, Anda melakukan itu juga terhadap Zhu Di?"

"Dasar sinting. Tempat apa ini? Kapal terkutuk. Kandang babi.
Setan keparat!" kata Zhu Yun Wen tak menentu.

"Maaf, Tuan Raja," kata Ceng Ho dengan tenang. "Segera setelah kapal mengangkat sauh, baru rantai itu akan dilepaskan, dan Tuan boleh menikmati keleluasaan di sel ini. Sel ini memang tidak sama dengan puri Tuan di darat sini. Tapi percayalah, kapal ini dirancang sesuai dengan kebutuhan. Di dalam ruang yang Tuan tempati ini ada ranjang yang enak, kakus, dan meja makan yang lumayan. Semoga Tuan betah di sini sampai kita kembali ke Cina."

Di ujung kalimat panjang itu, Ceng Ho pun meninggalkan tempat itu. Itu membuat Zhu Yun Wen berteriak geram dan getir.

"Hei, Ceng Ho! Ke sini kamu!"

Ceng Ho berhenti sejenak, lalu kembali ke depan sel itu, memandang Zhu Yun Wen, membuka diri. "Ya? Ada apa, Tuan?"

"Kapan kapal ini kembali ke Cina?"

"Sabar, Tuan," kata Ceng Ho. "Mungkin satu tahunan lagi."
"Apa?"
"Ya, Tuan. Kapal ini akan berlayar dulu ke Si-Li-Fo-Tsi sebelum menyauh dalam jangka yang lebih panjang di Jawa. Saya ditugaskan mencari seorang 'benalu' di Palembang."

"Apa? Siapa?"

"Mungkin dia teman Anda juga, Tuan," kata Ceng Ho tersenyum. "Nah, selamat pagi."

Ceng Ho berlalu.



***


Menjelang siang Ceng Ho membuat rapat lagi di ruang khusus rapat. Yang hadir adalah mereka yang biasa duduk di situ untuk berembuk mengenai pelbagai hal di bawah keputusan Ceng Ho. Semua perwira, termasuk tentu saja kepala juru mudi Wang Jing Hong, serta Dang Zhua dan Hua Xiong hadir dalam pertemuan ini. ''Tugas kita di sini sudah selesai,'' kata Ceng Ho. ''Besok malam kita melanjutkan pelayaran ke selatan, ke Si-Li-Fo-Tsi, dan terus ke Jawa.'


***


Dan sauh pun diangkat. Kapal-kapal bertolak pada malam hari meninggalkan Pelabuhan Qui-Nho, menyusur ke selatan, melewati batas luar tanah Campa, terus ke selatan lagi, di batas luar semenanjung tanah Melayu, melampaui banyak pulau, sampai akhirnya

singgah di Belitung dan Bangka sebelum memasuki sungai Musi, ke Palembang.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #83 on: 22/08/2008 16:12 »
Ketika kapal berada di tengah gelap, pada hari keempat setelah meninggalkan Qui-Nho, pada malam yang larut, bersamaan dengan gelombang yang membuat kapal oleng, Dhang Zhua dan Hua Xiong mengendap-endap menuju ke ruang tahanan Zhu Yun Wen. Setelah berada di lantai tempat tahanan itu, Hua Xiong dan Dang Zhua membagi tugas: Hua Xiong menjaga di bagian pojok tempat orang berlalu, dan Dang Zhua yang datang ke tahanan Zhu Yun Wen.

''Beri tanda siul kalau ada orang datang,'' kata Dang Zhua kepada Hua Xiong.

''Baik,'' jawab Hua Xiong.

Lalu Dang Zhua pun berjalan ke sel khusus Zhu Yun Wen. Di depan sel itu dia memanggil Zhu Yun Wen.

''Paduka,'' katanya. ''Apakah Paduka sudah tidur?''

Bukan menjawab pertanyaan yang diajukan Dang Zhua, sebaliknya Zhu Yun Wen meloncat ke pintu terali, berdiri, mencoba melihat dengan sulit, karena gelap, siapa yang memanggil ini. Dan, walaupun sudah dekat sekali, berbatas terali tersebut, Zhu Yun Wen tak mengenali.

''Siapa kamu?'' tanya Zhu Yun Wen.
''Apa Paduka sudah lupa?'' kata Dang Zhua balik bertanya.
''Siapa?'' tanya Zhu Yun Wen lagi.
''Saya orangnya Liu Ta Xia.''
''Mau apa kamu?''
''Sabarlah, Paduka. Kami sedang mencari cara untuk membebaskan Paduka. Mudah-mudahan setiba kapal ini di Palembang.''


***

Di malam itu juga, ketika Ceng Ho terlelap sejenak, dia didatangi roh ayahnya dalam mimpinya. Selalu ayahnya datang dalam cara seperti ini. Dan apakala ayahnya, Ma Ha Zhi, datang kepadanya, pasti ayahnya mengingatkan sesuatu atau lebih dari satu hal yang sering terlupakan dalam tindakan Ceng Ho.


Dalam mimpi kali ini, Ma Ha Zhi, ayahnya, muncul dari dalam air lantas mengawang di udara. Setelah diam di udara dibungkus awan gemawan, berkatalah ayahnya, ''Apakah kau sudah dengar kata-kataku yang lalu, Ma He?''

''Aku selalu mendengar kata-katamu, Ayah,'' jawab Ceng Ho, ''Bukan hanya yang lalu, melainkan yang kini dan yang kelak.''

''Baiklah,'' kata Ma Ha Zhi, sang ayah. ''Sekarang buka telinga, mata, dan hati.''

''Aku sudah terbuka, Ayah,'' kata Ceng Ho. ''Katakanlah.''

''Sudah tersurat dalam takdir semua yang johan bahwa seorang johan mesti berkeringat sampai keringatnya tidak lagi terbuat dari bahan air.''

''Lantas apa?''
''Api, Putraku.''
''Api?''
''Ya. Api yang dapat menyucikan jiwa. Sering kali jiwamu masih terkalahkan oleh pertimbangan hati. Padahal hati selalu tidak tetap, seperti air dari gunung, mengalir ke laut lewat sungai. Bagaimanapun kau lelaki. Jangan sampai keringat menetes dari matamu. Sebab keringat yang menetes dari mata, namanya tangis, dan tangis selalu berhubungan dengan haru. Berdirilah, dan ingat, perang mempertahankan kebenaran itu mulia.''

''Ya, Ayahku.''

Roh Ma Ha Zhi pun sirna. Ceng Ho terbangun. Sebentar lagi subuh.
Kapal tetap melaju....


Setelah hari-hari berlalu di atas kapal, siang meninggalkan siang, malam meninggalkan
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #84 on: 25/08/2008 12:42 »
malam, silih berganti dalam keperkasaan sang waktu yang tak tertandingi, akhirnya kapal memasuki muara Sungai Musi, menuju ke Palembang, pusat Si-Li-Fo-Tsi.
Tapi, tunggu sebentar. Dengarkan Tukang Cerita yang bercerita kepada anak-anak muridnya di Kelenteng Sam Po Kong, Simongan, Semarang.
Kata Tukang Cerita, ''Kalian boleh percaya, boleh juga tidak, Si-Li-Fo-Tsi adalah Sriwijaya, dan Sriwijaya itu Palembang. Besok lusa jika ada sanggahan bahwa Sriwijaya bukan di Palembang, melainkan di Muang Thai, anggap saja kesepakatan kita tentang cerita sejarah harus berpihak, masih tetap berdiri di atas pandangan itu.''

Maka bertanya murid yang paling suka bertanya itu, ''Jadi, sekarang kita harus percaya saja Sriwijaya berada di Palembang?''
''Ya,'' jawab Tukang Cerita. "Dan, ke Palembanglah tujuan Sam Po Kong saat ini. Dia ke sana sebab mendapat tugas menangkap Chen, bekas hulubalang yang bertualang dan mengangkat diri sebagai raja di Palembang.''

''Ceritanya bagaimana?'' tanya murid itu lagi.
''Dengarkan saja.''

Dan Tukang Cerita pun bercerita lagi.



******

Malam belum terlalu larut. Rapat dipimpin Ceng Ho di ruang yang biasa itu selesai sembahyang. Semua perwira hadir dalam rapat ini. Tak terkecuali Wang Jing Hong. Yang dibincangkan adalah langkah-langkah yang harus diambil jika kapal ini tiba di Palembang, di wilayah kekuasaan Chen Tsu I. Tapi, sebelum tiba di wilayah itu, kapal masih akan menempuh sisa arus Laut Cina Selatan yang sering tak bisa diduga. Karena itu, ketika Ceng Ho mengarahkan rapat tentang tujuan yang harus dilakukan dengan tertib dan rapi di Palembang, dia juga berbicara tentang cuaca. Kata Ceng Ho, ''Jadi, kalau tidak ada gangguan cuaca, insya Allah, setelah dua belas hari nanti, kita akan memasuki Palembang, ke wilayah kekuasaan raja gila - raja yang memalukan kekaisaran Cina - yang merupakan tugas kita yang penting bagi negara.'' ''Bagaimana sebetulnya gambaran pribadi Chen?'' tanya Ci Liang.

''Apakah dia masih menganggap dirinya jenderal?''

''Bagaimanapun keadaannya sekarang, tidak jelas. Tapi bagaimanapun perkembangannya, yang jelas kita harus mulai dengan pendekatan. Sebab, bagaimanapun kenyataannya, satu hal yang jangan sampai terabaikan adalah pengetahuan kita yang harus sama-sama dicamkan dan dipegang bahwa Chen Tsu I bukanlah pribadi sembarangan. Dia telah mengangkat diri sebagai raja, dan memelihara feodalisme yang unik di negeri seberang, di luar Cung Kuo, dan hal itu harus dipandang sebagai sesuatu yang tidak sederhana.''

''Kita belum tahu kekuatan militernya,'' kata Cun An.
''Sudah jelas kekuatannya harus kita perhitungkan. Kekuatan fisik sudah pasti. Tapi apakah itu sama dengan gambaran kita tentang militer yang resmi - mengingat bahwa dia aslinya militer, desertir - itu yang akan kita ketahui nanti. Dengan mengetahui itu, kita melakukan adaptasi dengannya.'' Cun An merasa perlu mengingatkan armada yang dikomandokannya. Katanya, ''Tapi, dengan armada kita yang besar, yang kita bawa ini, sebetulnya tidak ada masalah serius untuk membangun pendekatan dan adaptasi dengannya.'' ''Tidak,'' sanggah Ceng Ho. ''Jangan terlalu yakin pada apa yang kita punya. Chen Tsu I adalah bekas tentara paling lihai dalam semua siasat perang. Di samping itu, kekuatannya sekarang tidak terbaca oleh kita.''
''Kekuatan macam apa misalnya?'' tanya Ci Liang dengan nada menguji.
''Begini,'' kata Ceng Ho, ''Yang harus kita ingat terus di selatan nanti, mulai di Palembang dan seterusnya di Jawa, pada saat kita berhadapan dengan raja-raja di sana -seperti juga Adipati Uy Lo Tik di Tuban - adalah bahwa kekuatan yang tidak terbaca itu sesungguhnya tersembunyi dalam jati dirinya. Yaitu, rasa percaya diri menjadi dorongan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan baik dan perbuatan jahat. Justru yang tidak terbaca lewat kecerdasan harus kita baca lewat perasaan.'' Tampaknya kedua perwira itu mencoba dengan pelik menyelami pikiran Ceng Ho. Yang tidak tampak mau berpelik-pelik berpikir di situ mungkin hanya Dang Zhua dan Hua Xiong. Dua orang yang disebut ini sejak tadi hanya saling lirik.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #85 on: 25/08/2008 12:45 »
Pada malam yang sama ini pula, tampak di buritan Tan Tay Seng memegang pei-pa, memetiknya di bawah terang bulan. Dia tidak menyanyi malam ini. Dia hanya memetik pei-pa itu. Dan kelihatannya sedang mencari-cari ilham dengan alat petik itu. Atau barangkali dia sedang melamun.

Pada saat seperti itu, tatkala hanya buih-buih air di bawah dan angin di atas menebas-nebas layar, Ling Ling - yang memang diterima untuk ikut berlayar ke tujuannya, Jawa, atau
bilanglah lebih pasti lagi: Semarang - pelan-pelan berjalan menghampiri Tan Tay Seng dari belakang.

Kata Ling Ling di belakang Tan Tay Seng yang membuatnya kaget, ''Bukan begitu bermain pei-pa dengan bagus.''

''Hu, kau?'' kata Tan Tay Seng. ''Memangnya kau bisa bermain lebih bagus?''
''Lo? Apa kau lupa, pei-pa itu kan milik ayahku.''
''O ya?'' Tan Tay Seng tersenyum kalah. ''Kalau begitu coba kau mainkan dengan bagus.

Sementara kaumainkan, aku akan buat puisi tentang kau, bulan, bumi.''

Ling Ling menerima pei-pa yang diberikan Tan Tay Seng kepadanya, lalu memainkannya.

Memang betul, Ling Ling sangat cekatan, lincah menarikan jari-jemarinya di atas dawai-dawai pei-pa itu.

''Tadi aku kira kau hanya berbual,'' kata Tan Tay Seng.
''Bual? Kenapa bual?'' tanya Ling Ling.
''Sebab kau pelayan kedai, tukang bikin minum.''
''Begok,'' kata Ling Ling mencibir. ''Aku bukan pelayan seperti yang kauduga. Aku pemilik kedai itu.''
''Kau aneh.''
''Anehnya kenapa?''
''Kau sudah bekerja, sudah punya kedai, tapi kautinggalkan kedai itu.''
''Kau terlalu sederhana. Buktinya kau sendiri sekarang sedang berlayar ke Jawa. Buat apa kau berlayar ke Jawa?''
''Aku akan ciptakan ladang kerja di sana.''
''Kalau kau bisa begitu, kenapa aku tidak?'' kata Ling Ling mengkritik Tan Tay Seng. ''Aku juga punya cita-cita.''
Tan Tay Seng ceria. ''Kita memang senasib sepenanggungan.''
Ling Ling tidak hirau. Katanya, ''Sudah. Nyanyikan puisimu itu. Aku sudah menunggu puisimu dari tadi.''
''Baiklah,'' kata Tan Tay Seng, dan dia pun langsung mencipta puisinya itu lalu melagukannya,

Aku berdiri di bumi melihat bulan Bulan yang bulat bagai wajah perawan Perawan di depanku membuat keranjingan Telah sering cinta padanya kunyatakan


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #86 on: 25/08/2008 12:48 »
Ketika di laut Tan Tay Seng menyatakan cinta, di darat ada Tan yang lain, yang akan menderita oleh benci. Raja Chen Tsu I, atau dalam sebutan Hok Kian, juga adalah Tan, tidak peduli pada cinta. Sebagai raja lalim, yang karenanya harus ditangkap oleh Ceng Ho untuk dibawa kehadapan Kaisar Ming, menjalankan kekuasaannya di Palembang dengan kebencian. Raja ini bukan hanya memerintah dengan menindas pribumi yang berbeda ras dengannya, tapi juga terhadap orang-orang Cina sendiri di perantauan yang satu ras dengannya. Pada suatu sore dia memerintah perwiranya untuk mengeksekusi seorang petani miskin yang juga bermarga Tan, hanya dengan alasan menunda-nunda membayar pajak tanah yang digunakan Tan sebagai ladang di antara batas Palembang dan Plaju -di wilayah yang sangat banyak monyetnya, di mana pada kemudian hari berdiri sebuah keramat yang disebut Kramat Bagus Kuning.*) Di tempat itu jugalah Raja Chen memerintah tentaranya mengeksekusi Tan dengan cara memenggalnya.

''Berhubung dia selalu menunda-nunda, dan hal itu sama artinya dengan melecehkan kekuasaanku, pancung dia di pinggir sungai biar disaksikan oleh monyet-monyet Plaju,'' kata Chen Tsu I sambil duduk mengembangkan tangan di atas kursi singgasananya, seperti burung merak yang pamer keindahannya. Perwiranya, yang masih berhubungan darah dengannya, lantas menundukkan badan, memberi hormat.

Katanya, ''Kami akan melaksanakan perintah Paduka.''
''Laksanakan segera.''
''Baik, Paduka.''
''Sekarang juga.''
''Baik, Paduka.''


***

Maka berangkatlah sepuluh orang tentara Chen Tsu I ke daerah Plaju, ke rumah petani miskin yang juga bermarga Tan -lengkapnya
Maka berangkatlah sepuluh orang tentara Chen Tsu I ke daerah Plaju, ke rumah petani miskin yang juga bermarga Tan -lengkapnya Tan Tat Hian yang beristrikan pribumi, orang Melayudi dekat Plaju. Tan Tat Hian adalah orang Cina yang sudah lama tinggal di Plaju-Palembang. Kakeknya sudah tinggal di Palembang jauh hari sebelum Chen Tsu I mengangkat diri sebagai raja di situ. Sebagai petani, yang menggarap tanah yang diklaim sebagai milik raja, Tan Tat Hian kurang beruntung. Hidupnya boleh dikata miskin sangat. Dia hidup di situ bersama kedua orang anaknya. Dan justru karena istrinya pribumi, dia dikarunia anak-anak yang sosoknya bagus: kulit tetap kuning tapi mata tidak terlalu sipit sebagaimana lazimnya orang Cina -yang disebut dalam istilah populer: berlipit sipit Monggolid (Belandanya Mongolsche plooi)- yang sulung lelaki berumur 18 tahun, yang bungsu perempuan 16 tahun. Keluarga Tan ini tinggal di sebuah rumah papan, rumah khas Palembang, yang berbentuk panggung. Tapi tidak seperti rumah-rumah panggung yang lazim di sepanjang Musi, rumah milik Tan ini lebih pendek. Balok-balok tiangnya adalah batang pohon yang utuh, masih gelondongan, dan tingginya hanya sebatas leher anak bungsunya. Di kolongnya dipelihara babi-babi, bebek-bebek, ayam-ayam. Dan, karena rumah ini terpencil, tidak ada tetangga di sekitarnya, sunyi kecuali suara-suara unggas di pohon, maka bunyi kaki-kaki kuda yang dipacu kencang menuju ke arah rumah Tan Tat Hian, langsung terdengar di dalam. Orang-orang di dalam rumah itu serta merta terjaga, bertanya-tanya, dan setidaknya yakin bahwa yang datang ini pastilah tentara-tentara raja.


***

Kesepuluh orang tentara Chen Tsu I itu langsung melayangkan panah-panah berapi ke rumah Tan Tat Hian pada jarak yang tidak lebih dari 100 meter. Makin lama makin dekat, sampai akhirnya api-api dari batang obor dengan gampang dilemparkan ke atas atap rumah Tan Tat Hian. Segera atap yang terbuat dari rumbia yang telah kering dan bertahun-tahun menjadi pelindung rumah petani miskin itu terbakar dan menyala dengan bebas. Tan dan keluarganya cepat-cepat keluar dari rumahnya itu, hendak menyelamatkan diri. Mula-mula yang keluar istrinya. Istrinya berlari menuruni anak-anak tangga. Namun sebelum kakinya tiba di bumi, di tanah, sebuah anak panah lepas dari busur tentara Chen Tsu I, melesat dengan tepat dan bersarang di tubuhnya. Istri petani miskin itu tumbang dan jatuh terguling di tangga sampai ke tanah. Tan Tat Hian pun keluar pada giliran berikut. Begitu melihat istrinya sudah tergeletak di tanah dan berusaha hendak berdiri, dia pun meloncat ke bawah, menolong istrinya itu. Tapi apa boleh buat, istrinya tidak tertolong. Anak panah yang terbang dari busurnya seperti anak-anak panah yang lain, semua beracun. Hanya beberapa menit saja, korban yang tertikam anak panah itu akan mati oleh racunnya. Anak sulungnya yang lelaki, melihat ibunya meninggal lantas marah, dan mengambil parang hendak menyerang ke arah salah seorang tentara. Tapi karena kemarahan yang tak terkendali, dia tidak dapat berhitung dengan baik atas segala kemungkinan yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, begitu dia kalap hendak menyerang seorang tentara yang terdekat darinya, maka dari arah belakang tentara yang lain menombak dengan lembing bermata tiga. Besi-besi tajam itu dengan kuat menembus lehernya. Dia kelepar-kelepar di tanah lantas mati sia-sia di situ. Adiknya, perempuan belia itu, berusaha berlari dan entah ke mana dia hendak berlari. Dengan mudah dikejar oleh tentara berkuda, dan menariknya dengan kasar ke atas kuda. Setelah itu, Tan Tat Hian yang baru akan berdiri dari mayat istrinya dicambuk oleh tentara lainnya lagi. Dia terputar-putar di tanah oleh cambukan itu. Ketika dia kehilangan tenaga dan pingsan barulah tentara itu membawanya, menaikkan ke atas kuda dengan dilungkarkan seperti terhadap celeng. Jadi, tentara-tentara itu kini membawa dua orang, ayah dan putri, ke istana Chen Tsu I. Mereka memacu kuda-kuda mereka meninggalkan rumah yang sebentar lagi akan hangus dan rata dengan tanah.

 
***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #87 on: 25/08/2008 12:55 »
Di istananya, Chen Tsu I sedang berbaring di atas ranjang merah berukir warna keemasan. Empat orang perempuan tawanan asmaranya - artinya perempuan-perempuan yang diingu semata-mata lantaran manfaat, bukan martabat, yaitu untuk sewaktu-waktu dipanjati atau ditumpaki - tampak sedang memijat-mijatnya di sekujur tubuhnya. Salah seorang tentara yang tadi menerima perintah itu, masuk dengan memberi sujud terlebih dulu mengatakan bahwa petani miskin itu sudah berada di sini. ''Lapor, Paduka Raja,'' katanya. ''Tan Tat Hian sudah kami tangkap dan kami bawa ke sini.'' Chen Tsu I geram, merasa direcoki. ''Tidak perlu melapor lagi. Eksekusi dia di tempat kalian menangkapnya. Tapi umumkan kepada semua orang supaya mereka tahu dan melihat bahwa siapa pun di tanah kekuasaanku yang berani-beraninya mengingkar bayar pajak, harus mati konyol seperti dia.'' ''Baik, Paduka Raja.''
''Sudah,'' kata Chen Tsu I tak sabar. ''Laksanakan segera.'' ''Baik Paduka Raja, akan segera kami laksanakan.'' Chen Tsu I gembira.

Dia yakin betul akan kekuasaannya, bahwa kekuasaan selalu tidak sepi keharusannya dengan kekerasan-kekerasan. Kekuasaan yang tidak pernah disadari olehnya dan oleh siapapun yang kepalang mencintainya adalah lebih dari sekadar madat. Madat hanya membuat orang ketagihan dengan merusak tubuh. Tapi kekuasaan adalah madat yang merusak tubuh banyak orang.


***


Sesuai dengan perintah Chen Tsu I, maka tentara-tentaranya mengumumkan kepada rakyat di Palembang bahwa hari yang sudah ditentukan -tiga hari dari hari ini - dilaksanakan eksekusi terhadap Tan Tat Hian di pinggir Sungai Musi di daerah dekat Plaju, di bekas tanahyang dulu ada rumahnya. Banyak orang berbondong ke situ menyaksikan peristiwa itu. Dengan menyaksikan peristiwa itu memang betul, rakyat semakin takut kepada Chen Tsu I. Chen Tsu I oleh kekuasaannya itu tidak pernah merasa takut kepada siapa pun. Juga terhadap Ceng Ho. Dan itulah yang menarik. Ceng Ho harus menunggu tiga atau empat hari, jika cuaca bagus akan tiba di Sumatra Selatan, memasuki Sungai Musi yang sangat besar itu, menyusuri dari timur ke barat. Untuk memasuki pedalaman Sumatera Selatan, Ceng Ho tidak menggunakan kapal paling besar, yang biasa dijadikannya kapal pusat, kapal yang memiliki penjaranya: satu untuk Zhu Yun Wen dan satu lagi untuk Chen Tsu I. Ke dalam pedalaman tempat Chen Tsu I berkuasa, Ceng Ho harus memutuskan pilihan untuk menunjuk kapal yang mana, yaitu kapal-kapal kecil yang berlayar bersamanya sebagai rombongan kapal yang berbendera Ming, yang akan masuk ke dalam sana. Karena itu ketika pada hari ketiga mereka tiba di muara Sungai Musi, sebelum memasuki pedalaman tempat istana Chen Tsu I berdiri, Ceng Ho membuat rapat. Kali ini semua nakhoda dari kapal-kapal yang bersamanya ikut dalam rapat, disertai perwira masing-masing. Semua kapal itu berdekatan di muara Musi. Dan setiap nakhoda dan perwira dari kapal-kapal itu berada di kapal inti, kapal paling besar, tempat Ceng Ho memimpin pelayaran. Semua duduk menunggu keputusan Ceng Ho di ruang rapat tersebut. Semua menghormati Ceng Ho sebagai Sam Po Kong. "Untuk memasuki pusat Si-Li-Fo-Tsi, saya membutuhkan kapal kecil. Yang paling kecil di antara kapal-kapal kita dan sekurangnya 20 orang saja tentara dengan pakaian sipil dikomandoi Ci Liang dan Cun An," kata Ceng Ho. "Kapan kita masuk?" tanya Ci Liang. "Besok, begitu matahari muncul di belakang kita," jawab Ceng Ho. "Apa kita tidak lebih baik sedia payung sebelum hujan?" tanya Cun An. "Itu sudah pasti," jawab Ceng Ho. "Tapi jangan lupa, kita datang dengan tema berdamai. Sudah saya katakan, terhadap Chen Tsu I kita harus arif, jangan gegabah, mula-mula pendekatan, dan dalam pendekatan itu kita melakukannya seperti air sungai yang mengalir dari gunung ke laut, mengadaptasi diri dengan keadaan alam: tidak menabrak bukit yang menghalang, tapi mencari bagian-bagian yang paling mudah dilampaui." Mendengar itu Dang Zhua dan Hua Xiong seakan-akan memusatkan pikiran dan berkomatkamit seperti menghafal-hafal untuk dapat menuliskan dalam laporan sebagai juru tulis pelayaran. Padahal, di balik itu mereka berpikir ganda. Dan pikiran itulah yang akan mereka cakapkan di kamar mereka di ujung.


***

Setelah gelap, dan malam makin larut mendekati subuh, Dang Zhua dan Hua Xiong masih mencari-cari jalan keluar atas pikiran yang sudah timbul dalam benak masing-masing.
"Begitu mereka masuk ke pedalaman, turun ke darat, pasti mereka sibuk, dan karena itu mereka pusatkan perhatian ke siasat menangkap Chen Tsu I. Pada saat itulah kita beri minuman buatan Ling Ling ke penjaga sel yang bertugas. Dia mabuk, dan kita ambil kunci sel, membukanya, dan mengeluarkan Zhu Yun Wen, lepas di Palembang."

"Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Bukankah kita juru tulis?"
"Lantas kenapa kalau kita juru tulis?"
"Kita harus ikut dalam pelayaran ke pedalaman. Bukankah kita yang bertugas menulis segala kegiatan Ceng Ho?"

Dang Zhua berpikir sejenak. Dia tidak kehabisan pikiran.
"Kita dua orang," kata Dang Zhua. "Saya punya gagasan hebat."
"Bagaimana?"
"Besok kau pura-pura sakit. Jadi, aku yang ke darat. Dan, kau yang mengeluarkan Zhu Yun Wen."
"Boleh juga," kata Hua Xiong. "Tapi bagaimana kalau sin-she Kim San memeriksa, mau mengobati, dan ternyata dia bilang aku tidak sakit?"
"Percayalah, sin-she tidak akan melakukan pekerjaan yang menjelimet seperti itu," jawab
Dang Zhua. "Di samping itu, Kim San pun pasti akan ikut ke darat."
"Kau yakin?"
"Sepenuhnya."
"Baguslah." Hua Xiong tertawa membayangkan kemenangan.


***


Pada malam yang telah larut itu pula Dang Zhua dan Hua Xiong mengendap-endap ke bagian sel Zhu Yun Wen. Petugas jaga di depan sel itu kelihatan tegak di atas bangku. Rupanya cuma badannya yang tegak. Dia tidak menjaga di situ. Dari jarak dua puluh meter sudah terdengar dengkurnya, persis babi bunting jenis bokek. Karena itu tidak sulit bagi Dang Zhua dan Hua Xiong melangkahinya. Di depan sel itu Hua Xiong melemparkan cangkir ke dalamnya, dan cangkir itu pecah. Zhu Yun Wen terbangun, langsung ke pintu sel. "Siapa?" tanya Zhu Yun Wen. Suara Hua Xiong yang menjawab dengan bisik-bisik, "Kami, Hua Xiong dan Dang Zhua." "Kenapa?" "Ada berita bagus," kata Hua Xiong. "Pagi nanti mereka masuk ke darat. Paduka siap-siap saja. Kami akan bebaskan Paduka." Dang Zhua terkejut. Hua Xiong terkejut. Petugas juga mengorok dengan cara mengguncangkan iman. Sambil menggeliat ke kanan, dia mendengkur panjang menurut dinamika crescendo: makin tinggi makin keras, dan di akhir dengkurnya dia seperti berkumurkumur, lantas meludah. Keruan Dang Zhua dan Hua Xiong terbirit-birit. Padahal, petugas jaga itu tidak bangun. Dia hanya bermimpi seru. Barangkali bermimpi disumpeli bakpao atau lunpia. Sebab, dia tukang makan. Maka badannya gembur dan tambun. Dan orang yang gembur dan tambun biasanya gampang tidur, ngantukan, dan sekali tertidur seperti batu bernafas.


***


Besok paginya semua yang akan masuk ke darat lewat sungai besar itu telah siap-siap. Ceng Ho pun sudah pindah ke kapal kecil diikuti perwira-perwiranya, termasuk Wang Jing Hong dan Wu Ping. "Kalau tidak ada rintangan, insya Allah kita tiba di pusat kerajaan pada sore hari menjelang magrib," kata Ceng Ho begitu berada di kapal kecil itu, berdiri di hadapan perwira-perwira dan laskarnya. "Dan, sekali lagi, jangan lupa, pendekatan kita terhadap Chen Tsu I adalah muhibah. Apa semua sudah siap?" Deng Zhua mengunjuk jari, mendekati Ceng Ho. Katanya dengan hormat tapi dengan hati palsu, "Sayang sekali, Hua Xiong tidak dapat ikut ke darat." Ceng Ho menatap muka Dang Zhua dengan perasaan semadya, mencoba memahami apa yang akan dikatakan Dang Zhua. Katanya, "Apa yang terjadi?" "Entah kenapa, dia terserang gangguan perut," kata Dang Zhua. "Keracunan?" tanya Ceng Ho. Dang Zhua agak gelagapan. Dia tahu, ketika harus berbohong jangan sampai kebohongan itu menjadi masalah tersendiri, dan oleh sebab itu dia harus berpikir cepat untuk memberi alasan yang nalar. Maka katanya, "Kelihatannya hanya gangguan kecil, berak-berak, mencret, dan mules." "Apa?" tanya Ceng Ho, tampak wajahnya menjadi serius. "Harus segera diobati." Menyadari kemungkinan yang menerbitkan masalah, dengan cepat pula Dang Zhua menemukan dusta baru. Katanya, "Menurut pendapat Hua Xiong, sakit seperti itu sudah biasa menyerangnya kalau dia gugup." "Oh?" kata Ceng Ho mengendur. "Jadi, tidak serius?" "Ya, betul, Sam Po Kong," kata Dang Zhua. Dan, yang tidak diduga Dang Zhua, akhirnya Ceng Ho berkata dengan tegas, "Kalau memang tidak serius, ya sudah, ikut saja ke darat." Dang Zhua kaget. Tapi dia tidak punya hak menolak dan tidak punya cara pula mengarangngarang dusta. Dia terbengong dengan wajah pucat, datar, dan kaku seperti tembok Han. Sementara itu Ceng Ho pun langsung menyuruh Dang Zhua kembali ke kapal inti, menjemput Hua Xiong. Katanya, "Cepat jemput dia, suruh segera ikut. Kapal ini akan segera masuk." Apa mau dikata, Dang Zhua akhirnya manut. "Baik, Sam Po Kong," katanya, dan dia pun kembali ke kapal inti tersebut.

 
***


Di kamar ujung, kamar mereka berdua: Dang Zhua dan Hua Xiong, segera terucapkan maki-maki dan sumpah serapah. Begitu masuk ke dalam kamar di mana Hua Xiong berpura-pura berbaring, berkata Dang Zhua jengkel dan putus asa sebagai orang yang kalah, "Setan alas!
Rencana kita semua berantakan."

"Apa katamu?" tanya Hua Xiong penasaran.
"Ya, semua gagal," jawab Dang Zhua.
"Gagal?" tanya Hua Xiong dengan wajah menyesal namun juga geram. "Gagal bagaimana maksudmu?"
Dang Zhua tak hirau. "Sudahlah, jangan banyak tanya," katanya tidak berdaya sekaligus
sumpek. "Siap-siap saja, cepat, Sam Po Kong menyuruhmu harus ikut."
"Lo?" Hua Xiong mencoba bertahan diri dan bertahan harga, berdalih, sembari jengkel
memandang wajah Dang Zhua. "Apa kau tidak bilang, saya sakit?"
"Huh!" kata Dang Zhua. "Sudah." Dia jengkel pula. "Semua rencana sudah saya bilangkan.
Tapi semuanya tidak berhasil. Gagal." Dang Zhua pun melangkah ke pintu, tidak peduli.
Sambil keluar dari kamar dia berkata, "Ayo, cepat. Jangan banyak bicara lagi. Mereka akan
segera berangkat."

Hua Xiong tidak senang, tapi terpaksa berdiri juga dari duduknya. Katanya bersungut, "Goblok!"

***

Kapal yang agak kecil itu, yang akan berlayar ke pedalaman itu, hampir siap memasuki muara. Orang-orang sebagian masih kelihatan sibuk membawa barang-barang dagang ke Palembang, barang-barang dari Cina yang banyak diperlukan orang di negeri-negeri Nusantara: sutra, keramik, dan obat-obatan. Cara orang-orang mengangkut barang-barang itu dari kapal satu ke kapal lain untuk dimasukkan ke kapal yang akan berlayar ke dalam pedalaman lewat sungai, kelihatan terampil sekali. Barang-barang itu rata-rata dikemas dalam bungkusan sebesar enam puluh sentimeter, dialungkan dari satu orang ke lain orang dalam jarak dua-dua meteran. Mereka bekerja dengan cepat sekali. Tidak ada yang meleset. Sambil mengalungkan barang-barang itu -yang akan dibawa ke pasar belantik di Palembang nanti- orang-orang itu membuat hitungan dengan melagukannya. Selintas terdengar nyanyian itu seperti lagu kerja.

Yo, ayo, yang satu alungkan ke bawah Yo, ayo, yang dua alungkan ke bawah Yo, ayo, yang tiga alungkan ke bawah Yo, ayo, yang empat alungkan ke bawah Sudah biasa yang di atas jatuh ke bawah Yang kepalang di bawah tetap di bawah Banting tulang dalam kerja itu lumrah Yang nasibnya buruk terpaksa pasrah


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #88 on: 25/08/2008 13:00 »
Setelah siap semua, berangkatlah kapal itu ke pedalaman Sumatra Selatan melalui Sungai Musi ke Palembang. Ceng Ho berdiri di depan disertai perwira-perwiranya. Sepanjang sungai, selewat muara, sampai ke pedalaman, di kiri dan kanan adalah hutan tropis yang perawan. Di suatu bagian tampak kera-kera bergelantungan, lalu di bagian lain ada juga harimau di batang yang besar sedang diam, dan di atas dahan yang menjorok ke atas sungai tampak juga ular besar yang sedang melingkar, kemudian di ranting satu dan ran-ting laina berjenis-jenis burung berkicau leluasa. Jika Tan Tay Seng ikut dalam kapal ini niscaya dia akan menyanyikan puisi tentang hutan, peri hukum alam yang berlaku dengan pasti: yang kuat memakan yang lemah. Hampir setengah hari kapal ini menyusur ke arah hulu, menuju pusat Kerajaan Chen Tsu I. Menjelang dua puluh kilometer dari kerajaannya itu, tentara-tentara Chen Tsu I sudah ditempatkan di pos masing-masing pada jarak satu kilometeran. Kegiatan tiap-tiap pos adalah memberikan informasi ke pos yang satunya, terus, tahap demi tahap sampai mendekati istana. Mereka mengirimkan informasi itu melalui anak panah. Jika anak panahnya berwarna putih maka dengannya dimaksudkan ada kapal biasa-biasa yang sedang menuju ke hulu. Tapi jika anak panahnya berwarna merah, maka dengannya berarti ada kapal yang istimewa sedang menuju ke wilayah Kerajaan Chen Tsu I. Di pos pertama itulah petugas pos mengirimkan anak panah merah ke pos yang berikut, dan dari yang kedua melanjutkan ketiga, keempat, dan seterusnya. Jadi, ketika kapal yang ditumpangi Ceng Ho masih berada dua kilometer dari istana, orang di dalam istana telah mengetahui kedatangannya. Menteri Penerangan yang menyampaikan itu kepada Raja Chen Tsu I.
Ketika menteri menyampaikan tentang adanya sebuah kapal istimewa tengah memasuki wilayah kerajaan, Chen Tsu I sedang makan siang. Jika raja makan siang maka segala macam menu ada di atas meja. Makanan kesayangannya adalah babi guling. Seekor babi kecil, lengkap dengan congornya, ditaruh di atas baki kayu yang diletakkan pas di hadapannya.

Kelakuan Chen Tsu I di meja makan termasuk aneh. Tidak seorang pun berani mengatakan bahwa raja ini mengidap semacam sakit jiwa. Paling tidak kelainan jiwa dalam menerjemahkan arti kekuasaan. Ketika dia mengunyah-ngunyah daging putih kemerahan itu, dua orang perempuan pelayan bersila di bawahnya, memijat-mijat kakinya. Sementara, oleh semangatnya memakan daging, dengan mulut berbunyi-bunyi seperti angin ribut, keringatnya mengucur di dahi, pipi, dan leher, terus ke bawah badan. Itu artinya, ada dua lagi perempuan pelayan yang berdiri di sebelah kiri dan kanannya, mengipas-ngipas dengan kipas besar berlukiskan burung hong ke
badannya.

Tidak ada orang lain yang makan bersamanya di meja yang panjang, yang semestinya memuat empat puluh orang. Di meja itu dia makan seorang diri. Untuk menghadapinya di meja makan ini, menterinya harus berdiri setelah berlutut di ujung ekor meja - dia di kepala
meja - sambil menundukkan kepala.

Kata menterinya itu, ''Maaf, Paduka. Kami membawa berita yang belum jelas.''

Muka Chen Tsu I langsung cemberut sambil tetap mengunyah-ngunyah.
Katanya, ''Kalau berita itu belum jelas, kenapa kamu sudah mengganggu makanku?''
''Sebab tidak detail yang sampai kepada kami tentang sebuah kapal yang sedang menuju ke sini. Tapi yang jelas kapal itu tergolong lebih istimewa dari yang istimewa.''

''Apa maksudmu?''
''Di anak panah yang merah diikatkan juga pita merah.''
Chen Tsu I tidak peduli. ''Ya, sudah. Urus saja mereka,'' katanya.
''Baik, Paduka,'' kata sang menteri. Dia mundur, namun tidak segera pergi. Dia berhenti,
''Tapi, Paduka...''
''Apa lagi?'' kata Raja jengkel. ''Sudah, keluar sana.''
''Baik, Paduka. Tapi maksud saya, bagaimana kalau kapal istimewa itu dari utara, dari Negeri Cina, utusan Ming untuk menagih upeti yang tidak pernah Paduka gubris?''
''Persetan!'' teriak Chen Tsu I.
Sambil berteriak tak dapat menahan rasa jengkel karena makannya terganggu, Chen Tsu I melempar daging babi di tangannya ke arah menterinya itu. Tak kena. Daging itu jatuh ke ujung ruang. Di situ anjing kesayangannya sejak tadi duduk memperhatikan. Begitu daging
itu jatuh di lantai, anjing itu pun melompat mengambil dan emakannya. Maka, sang raja dan sang anjing lantas sama-sama makan babi.


***


Kapal Ceng Ho terus ke barat. Ceng Ho pun masih berada di bagian depan, duduk di kursi,dikitari perwira-perwira berbusana sipil, makin lama makin mendekat ke pusat kerajaan. Satu-
dua perahu nelayan mulai tampak ketika kapal telah mendekati dermaga khusus kerajaan.

Dari atas kapal ini Ceng Ho dapat melihat di dermaga itu orang-orang penting kerajaan berdiri menunggu masuknya kapal.
''Kelihatannya Chen Tsu I tahu siapa kita ini,'' kata Wang Jing Hong.
''Chen Tsu I memang bukan orang bodoh. Dia juga bukan orang pandai. Yang benar, dia adalah orang cerdik,'' kata Ci Liang.
''Mungkin,'' kata Ceng Ho. ''Tapi kalau tingkat kecerdikan seseorang sama dengan ular, orang itu bukan cerdik lagi, melainkan licik. Maka dalam pendekatan yang paling mesra pun, yang artinya tidak melahirkan prasangka jarak, kita harus terus waspada.''

Tumben-tumbennya Dang Zhua memberi tangggapan. Dan, tak ayal, tanggapannya adalah tanggapan cari muka, suatu cara yang diperolehnya dengan tanpa persiapan karena perasaannya dirundung judek.
''Itu betul sekali,'' katanya.
Yang alih-alih itu keruan membuat Ceng Ho melirik kepadanya.


***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #89 on: 25/08/2008 13:05 »
Sementara itu di darat, di dermaga, di antara mereka yang menunggu merapatnya kapal Ceng Ho ini, kelihatan berdiri di sana menteri yang baru dilempari daging babi itu, diapit dua tentara, salah satu adalah yang paling kejam, yang merupakan tangan kanan Chen Tsu I untuk mengeksekusi rakyat yang tidak membayar pajak. Melihat kapal Ceng Ho mendekat ke dermaga, berkatalah dia kepada menteri itu, ''Saya membayangkan sutra yang baru membungkus badan. Tidak salah lagi, ini kapal dagang Cina yang saya tunggu-tunggu. Siapa nakhodanya?'' ''Siapa pun nakhodanya, dia adalah tempat kita bertanya,'' kata Menteri Penerangan. ''Pasti dia akan membawa cerita yang baru buat kita.'' *) ''Pasti,'' kata si kejam itu. ''Dan, pasti Raja pun senang mendengar ceritanya.'' ''Raja baru saja geram pada saya,'' kata sang menteri. Si kejam tertawa terbahak. ''Kalau penguasa tidak geram, itu bukan penguasa. Di mana-mana kekuasaan bikin penguasa tegang, gandrung marah-marah, penuh rasa curiga. Biasa. Sebagai saudara Raja, kita harus mendukung saja. Yang penting hidup kita senang, semua kebutuhan, lahir dan batin, terpenuhi.'' Catatan: *) Pada zaman itu, sampai tahun 1800-an, nakhoda dari Cina sangat dihormati, karena nakhoda tergolong sebagai cerdik pandai yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang pelbagai hal, dan karena itu nakhoda sering dijamu dari satu rumah ke rumah orang kaya lainnya. Di situ dia menceritakan segalanya. Sang menteri ketawa. Dia tidak bilang apa-apa. Diam bisa berarti emas, bisa juga berarti gemas.


***

Kapal pun mendekat ke dermaga. Rupanya kapal tidak bisa merapat dengan mudah. Kuli-kuli di pelabuhan kelihatan sibuk. Mereka semua bertelanjang baju. Warna kulit mereka kelihatan seperti kayu jati yang divernis, mengilat oleh keringat dan sengatan matahari. Mereka berdiri seperti sebuah barisan di sepanjang dermaga, memegang galah-galah bambu untuk menjaga supaya kapal tidak menabrak kayu dan papan dermaga. Setelah kapal mendekat, tidak merapat sauh pun di turunkan, dan orang-orang di kapal membentangkan jembatan ke dermaga. Di atas kapal itu Ceng Ho dan semua awaknya berbusana sipil, tapi diketahui sebaga para saudagar, turun ke darat. Orang-orang dari kerajaan Chen Tsu I, menteri, dan tentara yang menunggu di dermaga menyambut saudagar-saudagar dari Cina, yang tak lain tak bukan adalah Sam Po Kong beserta anggota ekspedisi utusan Kaisar Ming. Mereka harus menyembunyikan dulu siapa mereka sebenarnya. Untuk sementara, pada saat pertama turun ke bumi yang disebut-sebut sebagai negeri Si-Li-Fo-Tsi ini, mereka cukup dianggap sebagai saudagar-saudagar yang datang untuk berniaga. Sambutan orang-orang Chen Tsu I kali ini boleh dibilang ceria, sebab kapal yang sudah menyauh di muka dermaga tergolong kapal besar - walaupun dalam rombongan pelayaran muhibah Ceng Ho kapal ini justru yang paling kecil - yaitu jenis jung yang didesain khusus.


***

Sang menteri yang juga bermarga Chen atau Tan, sama seperti panglima yang kejam itu, menyambut Ceng Ho dengan hangat. Sebagaimana seisi kerajaan yang bercakap bahasa Hok Kian, demikian juga sambutan ini berlangsung dengan bahasa yang sama-sama terpakai oleh orang-orang Cina perantauan sejak zaman Han ke Tang yang lampau. Tapi sebagai muslim, Ceng Ho memilih kata-kata sejahtera dalam bahasa Arab. Katanya,
"Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."
Dan sang menteri, dengan sopan santun yang lazim di kalangan orang Cina, menguncikan tangan di dada seraya menggoyang-goyangkannya, lantas berkata, "Selamat datang di Tanah
Palembang ini."
"Terima kasih," kata Ceng Ho. "Kami datang untuk berdagang."
Panglima, si kejam itu, membuka tangan dengan keramahan semu. Katanya, "Palembang terbuka. Silakan buka pasar di sini. Tapi, apa persembahan cendera mata dari Tuan untuk Baginda Chen Tsu I?"
"Bukan hanya kepada Baginda, melainkan juga kepada Tuan-tuan sudah kami siapkan," kata
Ceng Ho. "Kepada semua jajaran menteri dan panglima, kami siapkan sutra dan guci paling
eksklusif dari tangan-tangan yang diberkati bakat istimewa."
"Kalau begitu, kami amat merasa terhormat seandainya Baginda berkenan menerima kami,"
kata Ceng Ho.
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal