+-

Shoutbox

30/12/2023 22:12 anaknaga: Mudik ke Forum ini.
Mampir dulu di penghujung 2023..
07/11/2021 17:43 santri kinasih: Holaaaaas
10/02/2021 10:29 anaknaga: Salam Silat..
Semoga Sadulur sekalian sehat semua di Masa Pandemi Covid-19. semoga olah raga dan rasa dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita. hampur 5 tahun tidak ada yang memberikan komen disini.
23/12/2019 08:32 anaknaga: Tidak bisa masuk thread. dah lama tidak nengok perkembangan forum ini.
salam perguruan dan padepokan silat seluruh nusantara.
02/07/2019 18:01 Putra Petir: Akhirnya masuk jua... wkwkwk
13/12/2016 10:49 Taufan: Yuk ke Festival Kampung Silat Jampang 17-18 Desember 2016!!!
20/09/2016 16:45 Dolly Maylissa: kangen diskusi disini
View Shout History

Recent Topics

Kejuaraan Pencak Silat Seni Piala Walikota Jakarta Selatan by luri
24/09/2024 15:38

Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi Open Ke 3 by luri
24/09/2024 15:35

Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Panglima TNI 2024 Se-Jawa Barat by luri
24/09/2024 15:22

Berita Duka: Alamsyah bin H Mursyid Bustomi by luri
10/07/2022 09:14

PPS Betako Merpati Putih by acepilot
14/08/2020 10:06

Minta Do`a dan bimbingan para suhu dan sesepuh silat :D. SANDEKALA by zvprakozo
10/04/2019 18:34

On our book: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
13/03/2017 14:37

Siaran Radio ttg. Musik Pencak Silat di Stasiun "BR-Klassik / Musik der Welt" by Ilmu Padi
12/01/2017 16:19

Tentang buku kami: "The Fighting Art of Pencak Silat and its Music" by Ilmu Padi
17/10/2016 20:27

Hoby Miara Jin by anaknaga
19/09/2016 04:50

TALKSHOW SILAT - Silat Untuk Kehidupan by luri
22/06/2016 08:11

Thi Khi I Beng by aki sija
17/08/2015 06:19

[BUKUTAMU] by devil
09/06/2015 21:51

Daftar Aliran dan Perguruan di Indonesia by devil
01/06/2015 14:01

SILAT BERDO'A SELAMAT by devil
01/06/2015 13:59

SilatIndonesia.Com

Author Topic: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)  (Read 85517 times)

EricB

  • Guest
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #150 on: 29/08/2008 01:35 »
Thnx a lot for the explanation, it seems a very interesting story.
it's sad my level of Bahasa Indonesia is not sufficient to totally understand the story.

If you can point me to an English version I would help me understand this legend

Wassalam,

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #151 on: 01/09/2008 12:47 »
heheehehe

If i translate this thread in to English version its make me having a drooping lower lip.. [lucu]

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #152 on: 01/09/2008 12:52 »
Sebagaimana pengakuan pengawal Wikramawardhana kepada Ceng Ho bahwa dia ingin menjadi murid Ceng Ho, maka baru sehari saja kapal berlayar menuju ke timur, dia pun mulai bertanya-tanya lagi. Naga-naganya sebentar lagi dia akan menjadi mualaf pula. Dia benarbenar menjadi sangat berubah.
Di luar itu, harus pula dikatakan bahwa dekatnya dengan Ceng Ho membuat dia terbuka pula untuk mengatakan pelbagai hal menyangkut hal-hal yang tadinya adalah rahasia. Suatu malam dia berkata sesuatu yang sungguh mengejutkan bagi Ceng Ho. Dan oleh karena itu, Wang Jing Hong menyaran kepada Ceng Ho untuk turun ke darat menemui Wikramawardhana. Kata pengawal itu, "Sebetulnya bukanlah garong-garong dari timur yang menyerang orangorang sipil di pasar yang diberikan oleh Wikramawardhana si Wikrawardhana. Mereka yang berpakaian garong, yang hitam-hitam itu, adalah sebetulnya tentara-tentara Wikramawardhana yang Wikrawardhana itu." "Apa?" Ceng Ho terperanjat. "Saya berkata jujur, Tuan," kata pengawal itu, "gagasan itu timbul dari pikiran yang langsung dari Tunggul Petak, tapi memang didukung oleh raja." Setelah termangu beberapa jeda, Ceng Ho pun berkata, "Wikramawardhana harus bertanggung jawab itu kepada kaisara." Mendengar itu Wang Jing Hong -yang secara langsung menderita sakit karena terkena racun keris "garong" yang menyergap mereka di istana musim panas Wikramawardhana di lerengberkata kepada Ceng Ho, "Wikramawardhana yang Wikrawardhana itu harus mengganti rugi yang tidak kecil." Apakah pernyataan Wang Jing Hong yang memberikan sugesti untuk menghentikan kapalkapal di ceruk antara Gresik dan Surabaya, berarti perwira-perwira Ceng Ho dan lain-lain akan masuk kembali ke dalam melalui Brantas?


***


Yang jelas terlihat, kapal-kapal itu memang berhenti di ceruk antara Lintas Barat dan Lintas Timur, yaitu antara Gresik dan Surabaya. Aba-aba diberikan dari kapal induk yang disampaikan kepada semua kapal-kapal pengiring. Serta merta semua kapal pengiring itu pun menarik tambing-tambing *) untuk menganda **) kapal. Juru mudi dari tiap-tiap kapal pengiring itu turun ke sekoci lantas meluncur ke kapal induk. Aba-aba tadi dipahami sebagai perintah untuk melakukan rapat di kapal induk. Itulah cara menarik dan dikagumi oleh anak buah Ceng Ho terhadap laksamana ini yang selalu melakukan kebijakan dengan meminta pendapat bawahannya yang justru menjadi orangorang yang dipimpinnya. Ketika para perwira dan juru mudi dari masing-masing kapal sedang memasuki kapal induk, Tan Tay Seng duduk di buritan, menyanyikan puisinya.
Tiada kata kembali tanpa kata kepergian Kala pergi orang mendambakan kesenangan Kala pulang orang tidur dalam kesendirian Bebas dari keringat dan air mata kesusahan.
Di Jawa konon dibangun cai-qi ***) perantauan Mengimbaukan cai-shen ****) mengatur peruntungan Bukan dengan bei *****) akan kuukir peri pengharapan Setiba di Bali nanti kutanamkan segala yang cai-chan. ******)

***

Masih terdengar sayup-sayup suara Tan Tay Seng. Tapi di ruang rapat, orang semua duduk dengan tenang. Mereka menunggu kata-kata apa yang akan diucapkan oleh Ceng Ho. Alih-alih dalam rapat ini Dang Zhua dan Hua Xiong yang biasanya berdekat-dekatan, kini duduk berjauhan.
"Begini, Saudara-saudara," kata Ceng Ho mengawali rapatnya ini. "Sebetulnya kita mesti ke selatan, melalui Brantas, menemui raja Wikramawardhana, untuk meminta ia bertanggungjawab atas dustanya kepada kita. Bahwa oleh dustanya itu kita telah kehilangan 170 orang saudara-saudara kita yang dibantai dengan keji. Dari pengawal Wikramawardhana sendiri, baru saya ketahui, bahwa para pembantai itu -yang sebelumnya dikambinghitamkan sebagai garong-garong dari raja timur, Wirabhumi, di Blambangan, ternyata yang benar adalah tentara-tentara Wikamawardhana sendiri. Nah, seharusnya, sebelum menjadi dingin, senyampang kita masih berada di mulut muara menuju ke istana Wikramawardhana, kita ke sana saja; Namun, saya punya pertimbangan lain, yang ingin saya sampaikan kepada Saudara-saudara sekalian; Begini. Kalau kita sekarang mampir lagi ke dalam, menemui raja Wikramawardhana, mungkin kita akan berhenti disini sekitar tiga atau empat hari. Padahal, kalau kita terus berlayar ke timur sekarang, melewati selat di depan sana -Selat Madura-dapat dipastikan pekan depan kita akan sudah berada di Bali. Dan, kira-kira itu bertepatan dengan tanggal pertama bulan Ramadhan, bulan yang penting bagi saya dan saudara-saudara yang muslim untuk melaksanakan salah satu dari Arkanul Islam;


Nah, bagaimana pendapat Saudara-saudara?" Wang Jing Hong selaku kepala jurumudi mengangkat tangan. Katanya, "Terus terang, saya ingin cepat tiba di Bali, sebab dari awalnya memang begitu rencananya." Ceng Ho memperhatikan terlebih dulu wajah-wajah orang di ruang rapat itu. Setelah itu dia berkata, "Nah, bagaimana?" Seseorang di antara perwira-perwira yang berapat di situ, yang selam aini belum pernah direbut secara khusus namanya, mengangkat tangan pula. Perwira ini sesuai antara badannya dan seh-nya. Badannya tinggi dan marganya berbunyi pendek, yaitu Su, tapi ditulisnya secara huruf Cina mengandung 22 goresan. Di dalam rombongan misi muhibah ini ada dua orang yang marganya ditulis dengan 22 goresan. Yang satunya lagi adalah Kung. Perwira Su seorang penganut Kong Hu Cu yang taat sekali. Dia mengacung, memberi pendapatnya. Katanya, "Menurut pendapat saya, apa yang dianggap pas menurut pertimbangan laksamana, itu baik saja kita tempuh." "Apa Anda tidak bosan pada warna biru setelah menikmati yang hijau-hijau?" ''Maaf, Laksamana,'' kata Perwira Su. ''Anda tahu, menulis marga saya saja membosankan. Bunyinya singkat, tapi tulisannya terdiri dari 22 goresan. *) Tapi, kenapa harus bosan? Saya rasa ajaran Kong Hu Cu itu benar. Dalam Thay Hak **) ada termaktub dengan indah katakata ini: 'Jika bisa memperbarui diri dalam satu hari, maka hari-hari pun akan menjadi baru'. Jadi, tidak ada kamus bosan bagi orang yang dapat memperbarui dirinya dengan perasaanperasaan baru pikiran-pikiran baru.'' Ceng Ho tersenyum. Dia menghargai pandangan Su. Maka katanya, ''Berarti kita terus saja ke Bali?'' Semua menjawab serempak, ''Teruuus!''


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #153 on: 01/09/2008 12:55 »
Semua kapal, dengan kapal induk yang berada di depan, memasuki Selat Madura, berlayar di tengah-tengah. Pada pekan depan mereka pun telah berada di garis bujur 115 derajat. Dari situ mereka ke arah tenggara, menepi ke darat, ke Buleleng. Di laut lepas mereka menyauhkan jangkar. Dan dengan kapal-kapal yang kecil mereka turun ke darat. Seluruhnya 20 buah sekoci. Sekoci yang digunakan Ceng Ho berada di depan. Ceng Ho duduk di atas papang ***) sambil memegang keliti ****) dan terus memandang ke depan. Ada beberapa lumba-lumba mengiringi laju sekoci berlayar ini. Darat di selatan makin lama makin dekat. Di sana terlihat orang-orang berdiri di pantai, menyaksikan kapal-kapal besar dari Cina itu. Kelihatannya rakyat kagum melihatnya. Belum lagi nanti, melihat busana-busana sutra asli yang dikenakan Ceng Ho dan rombongannya. Sesampai di darat, di tanah tepi, masyarakat pun datang menghampiri, memberi selamat, menyambut dengan ramah.


***


Penerjemah pun menyampaikan kepada rakyat yang mengerumun ini untuk bisa bertemu dengan penguasa di daerah ini.
''Kami ingin menyampaikan salam dari kaisar Cina kepada penguasa di sini,'' kata Ceng Ho yang diterjemahkan oleh penerjemah.
''Ratu Subandar adalah Dewi Laut di sini,'' kata seseorang dengan santun. Namanya Putu.
''Kami sangat bahagia kalau dapat bertemu dengannya,'' kata Ceng Ho.


***


Nanti Putu akan mengantar rombongan Ceng Ho ke sana. Ke istana Ratu Subandar itu lumayan jauh. Dengan kereta mereka harus berjalan menyisir pantai, ke timur, ke daerah Tanjung Bungkulon, dan dari situ ke selatan lagi. Yang menarik di mata Ceng Ho dan rombongannya adalah sawah yang subur bersusun-susun. Ada bagian sawah yang dialiri air yang cukup-dalam bahasa Bali disebut tulaksumur-ada pula sawah yang kurang air-dalam bahasa Bali disebut kertamasa-dengan cara tanam yang dilakukan pada sasih Kapat (biasanya jatuh pada bulan Oktober dalam kalender Masehi) dan sasih Kadasa (biasanya jatuh pada bulan April menurut almanak Masehi). Di sawah yang tanahnya kering, petani memaculkan tanah dengan menggunakan dua alat supaya air masuk ke situ, yaitu dengan pacul yang disebut tambah dan bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi atau kerbau yang disebut tenggala. Petani-petani Bali tidak sembarang memilih waktu untuk bertanam. Mereka pasti menghindar hari-hari yang disebut sebagai prewani, pasah, ingkel wong, odalan Betara Sri. Ketika padi berumur dua puluh hari para petani membersihkan rumput-rumput yang menyelundup dan ngotot ingin tumbuh bersama padi. Membersihkan rumput-rumput dari padi lazim disebut sebagai kerja nglondoin. Kemudian, setelah lima puluh hari, sawah dibersihkan lagi, yaitu mencabut rumput-rumput itu dengan tangan, disebut mejukut. Lalu, memasuki bulan ketiga,
petani mulai membuat gubuk di sekitar sawah, disebut rangguan, dan memasang alat-alat bunyi dari bambu, disebut kepuakan, untuk mengusir burung-burung pipit atau gelatik yang bakal memakan padi, atau juga membuat orang-orangan yang terbuat dari jerami, disebut petakut.


***



Menjelang senja barulah rombongan Ceng Ho tiba di istana Ratu Subandar. Istana sang ratu dipenuhi dengan ukiran yang indah. Sebelum memasuki halaman, di depannya, sebagaimana lazim di kemudian hari dibangun candibentar, begitu pula gerbang gapura dari bangunan istana Ratu Subandar. Candibentar di depan istana Ratu Subandar ini lumayan tinggi. Di sekitarnya penuh pula tempat-tempat menaruh saji, disertai patung-patung dari batu yang telah menghitam oleh hujan dan panas. Sang ratu sedang berbaring di depan kolam ketika rombongan Ceng Ho tiba di istananya. Di kolamnya ada banyak teratai dengan bunga-bunga padma yang merah dan elok. Sebentar-sebentar daunnya bergerak, bukan karena ditiup angin, melainkan karena berkejarannya ikanikan di bawahnya. Di atas pohon yang rindang, yang tumbuh dekat kolam, terdengar burungburung jalak putih, jalak khas Bali, yaitu Leucopsar rothschildi, berkicau ramai. Sang ratu melihat ke atas, ke burung-burung putih dengan warna biru yang memikat di sekitar paruh. Apabila yang jantan merayu yang betina maka jambulnya mengencang lurus ke atas. Burung-burung itu mengenal betul jodohnya. Jika mereka mencari makan, mereka akan terbang sepasang-sepasang, tapi nanti, seperti sekarang, ketika mereka kenyang mereka akan bersama-sama bertengger di atas pohon.  Nanti, ketika Wang Jing Hong melihat burung-burung itu, dia akan mengucapkan syukur dengan girang. Sebab, memang salah satu keinginannya yang berapi-api untuk datang ke Bali adalah memiliki burung jalak putih yang hanya ada di Bali. (Burung ini yang oleh kesetiaannya dalam berpasangan tetap, maka pembiakannya pun sangat terbatas, makin lama makin berkurang.*)


***


Tapi, sebelum sang ratu dan rombongan Ceng Ho berjumpa di istananya, kembalilah dulu sejenak ke kapal induk, ke bagian bawahnya yang telah berbulan-bulan ini seakan-akan hilang dari perhatian banyak orang. Bagian yang manakah itu? Tak lain bagian tempat raja Palembang, Tan Co Gi atau Chen Tsu I atau Chen Zhu Yi, disekap menunggu eksekusinya di Cina. Sekian bulan, disibukkan oleh pelbagai masalah, sejak rombongan kapal ini disauhkan di Sunda Kelapa, Cirebon, dan lain-lain, termasuk yang terakhir Tuban, maka perhatian semestinya terhadap manusia yang berada di dalam sel kapal induk, yaitu Chen Tsu I tersebut seakan-akan ternomorduakan. Malah mungkin menjadi nomor tiga, empat. Apakah Ceng Ho lalai? Sama sekali tidak. Hanya saja waktu di dalam pelayaran yang bakal memakan sekitar dua tahunan sampai kapalkapal ini pulang kembali ke Cina, terlalu banyak persoalan yang menyita perhatian dan tanggung jawab Ceng Ho beserta anak-buahnya. Maka katakanlah sementara: Tan Co Gi di dalam selnya di kapal induk tidak banyak disebut-sebut. Apakah itu berarti penjagaan yang ketat - seperti yang pernah diperintahkan Ceng Ho sekian bulan lampau ketika raja terguling Zhu Yun Wen melarikan diri oleh ulah Hua Xiong dan Dang Zhua - kini menjadi longgar? Mungkin! Jika demikian akan ada bahaya yang mungkin pula merepotkan awak kapal. Dan siapa pula yang dapat menghindar bahaya jika bahaya tidak diantisipasi oleh banyaknya kesibukan yang menyita perhatian dan waktu? Apalagi jika dalam waktu yang tersita mesti ada di sana waktu untuk melakukan suatu prioritas, sehingga prioritas yang lain dapat terabaikan. Belum lagi masalah yang selalu terjadi di antara banyaknya manusia di dalam suatu rumah dalam hal ini rumah itu adalah kapal-kapal yang berlayar di bawah komando satu orang - pasti dapat saja terjadi perbedaan-perbedaan pikiran. Dan, jangan anggap ini perkara enteng atas manusia-manusia berpikir beda. Sebab, perbedaan berpikir yang tidak terejawantah dalam kalimat, dalam kemauan atau keberanian untuk menyatakannya lewat mulut atau lewat verbal, karuan dapat pula membuat orang memelihara prasangka. Prasangka dapat berkembang menjadi curiga, curiga dapat berubah menjadi benci, benci dapat dialirkan kepada orang lain. Dan setelah itu, berujung pada solidaritas dalam kebersalahan. Yaitu, orang yang bersalah, tidak merasa bersalah, dan selanjutnya mencari orang-orang lain untuk menyalahkan orang lain, dan kemudian menjadikannya musuh. Sudah jelas seseorang yang mesti dianggap berbahaya di sini, sebab dalam dirinya terwakilkan frustrasi Liu Ta Xia, dan kemauan buruknya tetap membatu, adalah Hua Xiong.
Ketika sahabatnya Dang Zhua berangsur berubah pikiran, dia tetap menjadi tong sampah pikiran-pikiran culas Liu Ta Xia.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #154 on: 01/09/2008 13:04 »
Tadi, sebelum turun ke darat, ketika semua orang sedang sarapan dan siap-siap ke darat, Hua Xiong turun ke bawah ke sel tahanan Chen Tsu I. Penjaga yang dulu ketat bergiliran menjaga di situ dan kini menjadi longgar kebetulan sedang sarapan bersama di ruang makan. Ini adalah hari terakhir bagi sebagian awak kapal Ceng Ho yang beragama Islam untuk makan pagi. Besok mereka akan berpuasa, sebab besok adalah hari pertama Ramadan. Ketika orang-orang semua sarapan di ruang makan, termasuk penjaga yang bertugas di depan sel Chen Tsu I, maka pada waktu itu pula Hua Xiong memacu Chen Tsu I untuk merancang kebebasannya. "Berdoa saja atas kebebasan Anda, Paduka," kata Hua Xiong dengan suara setengah berbisik sambil celingak-celinguk ke pelbagai arah. (Ya, termasuk kejahatan pun sering beralas pada doa). Chen Tsu I malah meludah. "Berdoa?" katanya geram. "Doa hanya untuk orang-orang yang percaya kepada Tian. Tian sudah tuli. Tian tidak punya kuping. Malahan Tian sudah mati." "Percayalah, Paduka," kata Hua Xiong. "Paduka bisa lepas seperti raja Zhun Yun Wen." "Bacotan itu comberan. Sudah berbulan-bulan saya tunggu janjimu itu. Dan, selama sekian bulan ini saya hanya menggantang asap mengukir langit. Semuanya omong kosong." "Percayalah, Paduka. Nanti, ketika saya turun ke darat bersama rombongan, akan ada orang yang ke sini melepaskan Anda." Ceng Ho terbengong. Dia melihat ayahnya naik kembali ke langit, melejit dengan kencang di sana, melompat dari bintang satu ke bintang lain. Ketika dia memandang dengan menganga seperti itu, dia merasa jubah yang dikenakannya membesar dan dia mengecil di dalam jubahnya itu. Dia menjadi seperti anak kecil berusia di bawah lima belas tahun. Paling tidak rasanya seperti anak kecil yang dahulu dikebiri oleh raja untuk dijadikan sida-sida. Setelah terbengong lama, dia terisak-isak, kemudian terkejut, terbangun dari tidur, dan menyadari apa yang baru saja berlangsung itu adalah mimpi. Lalu dia duduk. Dia terdiam berusaha mengembalikan urutan mimpinya itu. Ada sesuatu yang segera disadarinya. Bahwa di depan seorang ayah dan ibu, seorang anak yang telah menjadi besar, bahkan menjadi pembesar sekalipun adalah tetap seorang anak yang memiliki ayah dan ibu. ''Ya, aku manusia!'' ujarnya dalam hati. Mengapa dia berkata begitu di dalam hati? Adalah ketangkasan nalarnya juga yang membuat dia telah mengaku di dalam hati, sebagai manusia dia manusia sejati: manusia dari darah dan daging yang memiliki sejumlah kelebihan dan sejumlah kekurangan khas. Mungkin benar, selama ini dia bersikap terlalu longgar, dan karena itu bisa saja sikap itu membawa bahaya besar yang tak terduga. Bukankah tanpa setahunya telah berlangsung rencana curang dari Hua Xiong atas Chen Tsu I? Namun sekarang, setelah muncul penampakan dalam mimpinya, kira-kira apa yang akan dilakukan Ceng Ho? Jawabnya, apa pun yang akan dilakukannya, niscaya hal itu akan merepotkan rencana Hua Xiong melalui Si Lihai untuk membebaskan Chen Tsu I dari selnya di bawah sana.


***


Hua Xiong bakal kaget. Dan, apakala dia kaget nanti maka dia merasa jarak budayanya untuk menjadi manusia telah terancam.
Tapi sebelum itu, sebelum Ceng Ho akan membuat kejutan nanti di ruang rapat, dia berjalan seorang diri ke bawah. Pada jam makan pagi ini penjaga yang mestinya menjaga di sel Chen Tsu I tidak terlihat di tempatnya. Dia termangu di situ. Seraya mengingat mimpi yang terjadi tadi malam Ceng Ho menggumam. ''Ternyata ayahku benar. Ayahku melihat dengan mata roh yang lebih sempurna dari mata jasad. Terima kasih, Ayahku.''


***


Maka Ceng Ho menyatakan ihwal ini kepada Wang Jing Hong. Adalah Wang Jing Hong pula orang pertama yang mendengar tentang mimpi Ceng Ho tadi malam.
Setelah itu, kata Ceng Ho, ''kita harus meningkatkan siaga kita, Jing Hong. Hampir saja kita kecolongan. Pendeknya, apa pun yang terjadi di darat, masalah atau bukan masalah, kegirangan atau kesedihan, semua itu jangan membuat kita lengah. Saya ingin penjagaan terhadap Tan Co Gi tidak boleh kendur.''
''Perlu disampaikan secara resmi sebelum kita turun ke darat.''
''Jadi, kau siap turun ke darat?''
''Aku tidak sakit, Sam Po Kong. Kalaupun nanti kumat, percayalah, begitu aku melihat yang aku cita-citakan untuk mendapatkannya, maka aku yakin akan sembuh.''


***

Jadi, sebelum turun ke darat, sehabis sarapan Ceng Ho meminta orang-orang tertentu, para perwira khusus kapal induk, berkumpul di ruang rapat di atas. Di antara perwira-perwira itu terlihat juga Dang Zhua yang duduk berjauhan dengan Hua Xiong. Sebentar lagi Hua Xiong akan geregetan, gemas, dan geram, namun tak berdaya. Di depan orang-orang yang telah duduk di ruang rapat, Ceng Ho berdiri dengan hanya melihat saja ke depan kepada orang-orang yang akan mendengar keputusannya. ''Begini, Saudara-saudara,'' kata Ceng Ho memulai bicaranya dengan jeda beberapa saat. ''Terus terang saya hampir saja tersandung. Ini semua gara-gara kesibukan yang kita hadapi selama ini. Kesibukan bisa kita anggap sebagai berkat sebab dengannya kita bekerja, berhubung manusia yang beriman, yang percaya kepada Tuhan, haruslah bekerja, sebab hanya orang yang bekerja yang berhak makan. Tapi kesibukan bisa juga menjadi seperti pintu air, bahwa siapa yang masuk ke dalamnya sering hanyut sampai jauh ke muara dan terlalu letih untuk kembali ke hulu. Kita telah melampaui hari-hari sibuk, pekan-pekan sibuk, bulan-bulan sibuk, yang semua menyita pikiran kita dan mengucurkan keringat kita. Oleh kesibukan itu acapkali manusia dalam hal ini kita semua, dan saya selaku pemegang tanggung jawab menyeluruh -terlupa pada keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan, serta aturan-aturan yang sudah disepakati. Nah, terlupa apa yang saya maksudkan itu? Begini, Saudara-saudara. Sejak kita meninggalkan Sunda Kelapa, memasuki Cirebon, kita hampir boleh dikata terlupa akan pekerjaan kita yang berat, yang telah kita hasilkan dengan susah-payah, yaitu menangkap dan menahan Chen Tsu I di dalam kapal ini. Oleh kesibukan kita tersebut, kita telah berlaku longgar terhadap penjagaan Chen Tsu I. Sudah tentu kita tidak mau mengalami kesia-siaan atas kerja berat kita itu hanya karena kesibukan tersebut. Makanya, janganlah kesibukan yang mungkin kita hadapi nanti membuat kita lengah.''  Serta-merta Hua Xiong tak tenang. Duduknya usrek. Serasa ada ribuan paku yang panas di kursinya. Butir-butir keringat yang sebesar biji-biji kedelai tampak di kening dan meleleh ke lehernya. Dia menguap. Dan dia melirik ke arah Dang Zhua. Dalam hati dia mengumpat Dang Zhua. "Binatang kau, Dang Zhua. Ini pasti ulahmu. Kau pasti yang melaporkan kepada Sam Po Kong." Hua Xiong semakin mendidih memandang Dang Zhua setelah Ceng Ho meneruskan katakatanya tadi dengan keputusan yang membuatnya pula mati kutu. "Kita akan turun ke darat pada saat matahari kira-kira berada seperempat dari putarannya ke atas kepala kita," kata Ceng Ho. "Dan saya minta Ci Liang mengatur dua orang tentara yang menjaga sel Chen Tsu I."


***


Waktu yang disebut Ceng Ho itu akan jatuh pada kira-kira jam sebelas. Itu artinya orangorang harus sudah siap dua jam sebelumnya. Dalam waktu itu, Dang Zhua tidak menyangka sama sekali, bahwa ketika dia memasuki kamarnya, Hua Xiong telah menunggu di situ dengan menghunuskan pedang. Begitu dia masuk ke dalam kamar, bersamaan dengan itu pula pedang di tangan Hua Xiong terarah ke lehernya. "Kau benar-benar binatang, Dang Zhua," kata Hua Xiong. Dang Zhua kaget. Dia tidak mengerti arah ke mana kata-kata yang diucapkan Hua Xiong. Makanya dia pun berkata bingung, "Ada apa?" "Jangan pura-pura." Dang Zhua tetap bingung."Demi Tuhan, kau bicara apa ini?" Bukannya menjawab pertanyaan bingung Dang Zhua, sebaliknya Hua Xiong menyepak perut Dang Zhua. Yang disebut ini pun terpelanting di bawah. Dalam keadaan jatuh di bawah dan belum bangun, Hua Xiong meloncat ke arah Dang Zhua, menghunuskan kembali pedangnya ke leher Dang Zhua. Karena menyadari bahwa Hua Xiong tidak bermain-main, Dang Zhua berpikir cepat untuk tidak konyol. Dia harus bertindak. Dan ketika dia memutuskan harus bertindak, maka dia pun harus berhitung secara benar. Sebab, perhitungan yang tidak tepat, akan membuat tindakannya mubazir. Tidak akan ada orang yang mau memuji orang yang salah karena bertindak dengan perhitungan yang tidak tepat. Tindakan yang tepat acapkali harus diejawantahkan dengan gerakan yang cepat. Kecepatan gerak bisa membuat lawan tidak siap. Apalagi Hua Xiong memegang senjata dan merasa percaya diri oleh senjata di tangannya itu. Oleh rasa percaya diri itu Hua Xiong tidak menduga bahwa Dang Zhua yang berada di kakinya akan melakukan gerakan cepat, dan gerakan itu adalah gerakan yang tepat. Dang Zhua menendang Hua Xiong dengan cara mendupak ke arah selangkang orang yang memegang pedang ini sehingga tubuhnya terhenyak ke belakang dan dengan begitu dia pun berdiri, menyerang. Maka terjadilah perkelahian yang seru di kamar yang tidak besar ini membuat keadaan kamar ini berantakan dan acak-acakan. Harus diakui Dang Zhua lebih unggul dalam berkelahi. Bahwa walaupun Hua Xiong memegang senjata, Dang Zhua dapat merebut pedang itu dan membuangnya. Setelah itu dalam perkelahian dengan tangan kosong kelihatan sekali ketidaksiapan Hua Xiong. Banyak sekali pukulan-pukulan yang diarahkannya kepada Dang Zhua hanya mengena ruang yang hampa. Di satu kesempatan setelah berkelahi seru, akhirnya Dang Zhua berhasil menangkap tangan Hua Xiong, lantas memuntirnya dengan menekan lehernya. Mestinya Hua Xiong harus mengaku kalah, tapi itu tidak dilakukannya. Dia berusaha menyepak Dang Zhua, dan kakinya tidak mengena ke sasaran yang dia harapkan. Malahan oleh gerakan yang untung-untungan itu membuat Dang Zhua merasa harus menyudahinya dengan pukulan telak. Pukulan yang kuat mengena dua arah sekaligus: ulu hati dan rahang. Hua Xiong tumbang. Dia terkulai di lantai. Dang Zhua mengulurkan tangan untuk mengangkat Hua Xiong dari lantai itu.
"Maaf," kata Dang Zhua sambil menarik tangan Hua Xiong.
Hua Xiong tidak peduli. Dia duduk. Mukanya merengut.
"Saya tidak mengerti, kenapa saya harus memukulmu, sobat," kata Dang Zhua. "Mestinya kita bisa tetap bersahabat. Bahwa kita berbeda pendapat, mungkin ya, bahwa kita berkembang.
Tapi perbedaan pendapat kita tidak seharusnya kita hadapi dengan kekerasan. Nah, kenapa sampai hati kau menyerangku dengan senjata?"

Hua Xiong tidak menjawab. Mukanya tetap merengut. Dang Zhua pun duduk di sebelah Hua Xiong. Setelah itu dia mengarahkan tangannya kepada Hua Xiong. "Mari kita bersalaman," kata Dang Zhua. "Walau kita berbeda, kita tetap bersahabat. Bukankah?"
Hua Xiong berdiri. Kelihatannya dia tidak mau menerima ajakan ketulusan itu. Pernyataannya berikut ini mempertegas apa yang berlangsung di dalam hatinya. Katanya, "Dalam persahabatan kita sudah ada durinya. Mana mungkin kita melanjutkan persahabatan kalau ada duri di dalamnya?"

"Hanya duri, sobatku," kata Dang Zhua. "Duri tidak mungkin bisa mengalahkan pengertian. Saling mengerti dapat mengalahkan kekerasan hati. Tidak ada senjata yang lebih ampuh selain daripada saling pengertian."

"Tidak," kata Hua Xiong. "Bagaimanapun saya masih tetap tidak mengerti bagaimana kau berubah menjadi lembek, menohok pada sahabat seiring. Kau tidak sadar, dalam menohok sahabat seiring, kau telah mengabaikan kesungguhanmu sendiri, dan mengorbankan
sahabatmu."

Dang Zhua terdiam sejenak. Dia tatap wajah Hua Xiong. "Tidak ada yang jadi korban dalam perbedaan kita, Sobatku."

"Ah, kau ikut-ikutan jadi belut," kata Hua Xiong jengkel. "Apa maumu melapor kepada Sam Po Kong tentang maksudku memberdayakan si Lihai itu?"

Dang Zhua terkinjat. "Apa?"

"Alah, pura-pura," kata Hua Xiong, "pasti karena kamu yang melaporkan kepada Sam Po Kong." "Melapor apa?" Dang Zhua benar-benar tidak paham akan apa yang diperkatakan Hua Xiong.
"Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Tunggu," kata Dang Zhua benar-benar ingin mengetahui latar pikiran Hua Xiong, "saya tidak mengerti maksudmu: melapor. Melapor apa. Melapor tentang apa?"

"Alah," kata Hua Xiong dengan kejengkelan yang tidak reda, "buktinya Sam Po Kong menyuruh melakukan penjagaan yang ketat atas sel tahanan Chen Tsu I."
"O?" Dang Zhua mengangguk-angguk. Dia mulai meraba-raba dalam masih tidak  mengertinya untuk menjadi mengerti. "Aku mulai mengerti."
"Ya, kamu mengerti. Tapi kamu tidak punya pengertian. Kamu korbankan aku."
"Tidak," kata Dang Zhua tegas, "kamu berprasangka. Aku bahkan tidak tahu apa rencanamu."
"Bohong!" kata Hua Xiong dengan suara keras hampir menyerupai teriakan - teriakan yang
dalamnya mengandung perasaan putus asa.
"Sumpah, atas nama semua dewa, malaikat, dan Tian," kata Dang Zhua sambil berdiri,"memangnya aku tahu apa yang kamu rencanakan itu? Sudah berbulan-bulan kita tidak saling bertukar pikiran. Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu rencanakan."
"Alah, sudahlah," kata Hua Xiong. "Memang kita tidak perlu lagi bertukar pikiran. Kita sudah berbeda. Sekali kita berbeda, untuk selamanya kita tidak bisa sama."
"Tunggu," kata Dang Zhua.
"Persetan." Hua Xiong meninggalkan kamar.
Untuk sementara acara berpangkai-pangkai tak berlanjut.


***


Di luar kamar, di atas geladak telah bersiap-siap orang yang akan naik ke sekoci untuk turun ke darat. Sepuluh sekoci dipersiapkan untuk membawa orang-orang darat.

***


"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #155 on: 01/09/2008 13:15 »
Demikianlah orang-orang itu telah berada di darat menuju ke istana sang ratu. Ratu Subandar, perempuan setengah baya yang pandai merias diri, berdiri dari tempat beristirahatnya di dekat kolam dan pohon besar di atas yang dikicaui oleh jalak-jalak putih khas Bali tersebut. Dia sangat takzim sekaligus gemulai menyambut tamu-tamu asing ini. Bercakap dengannya harus dilakukan dalam lintas terjemah yang rumit. Penerjemah yang dibawa oleh Ceng Ho harus menerjemahkan bahasa Cina ke bahasa Melayu dan seseorang dari pihak istana ratu menerjemahkan bahasa Melayu ke dalam bahasa Bali.
Ceng Ho menyerahkan bingkisan dari Cina berupa guci keramik yang besar, yang kiranya baru kali ini dilihatnya, dan besarnya lebih tinggi dari ukuran sang ratu sendiri.
"Atas nama kaisar Cina, kami mempersembahkan ini kepada ratu," kata Ceng Ho. "Ini merupakan tanda tali persahabatan kekaisaran Cina dengan negeri-negeri tetangga. Bahwa semua bangsa di negeri yang jauh dari negara kami adalah pada hakikatnya saudara-saudara
jua adanya. Artinya, sebagai saudara, kita menjalinkan perasaan: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Ini menyangkut seluruh bidang dalam kehidupan: kebudayaan, sosial, ekonomi, politik."
Dan Ratu Subandar pun memberi hormat dengan cara yang sangat sopan.

Katanya, "Kami merasa terhormat akan kunjungan Tuan-tuan dari negeri Cina. Segala keperluan yang Tuan-tuan butuhkan dari kami, katakan saja, kami bersedia menolong."
"Tentu saja kami pun merasa terhormat atas kesediaan ratu."
Dan burung-burung jalak putih di atas pohon ramai berkicau.
Wang Jing Hong melihat ke atas. Dan alangkah takjubnya dia. Katanya tak kuasa menahan senang, "Luar biasa. Astaga."
Ratu Subandar seperti tersium dari lena. Melihat takjubnya Wang Jing Hong, dia pun berkata, "Ada apa, Tuan?"

"Maaf, Ratu," jawab Wang Jing Hong, "salah satu dari dendam saya selama ini adalah rindunya tangan saya memegang burung-burung putih di atas itu."

"O ya?" Ratu Subandar tersenyum senang. "Ada empat warna yang mencolok dari burung jalak Bali: putih, biru, kuning emas, dan hitam legam. Putih adalah pada warna seluruh badan, melambangkan kesucian hati orang Bali. Biru di sekitar mata melambangkan kesatriaan dalam darah orang Bali. Kuning emas di paruh melambangkan bahwa kata-kata yang diucapkan orang Bali haruslah bernas, bermutu, berharga, sesuai antara yang diperkatakan
dengan yang diperbuat. Hitam pada ujung sayap dan ekor yang menyerupai garis tegas, bahwa orang Bali yang cinta damai akan menolak segala kejahatan, dan untuk orang Bali yang cinta
damai akan melawan terhadap kejahatan."

"Luar biasa," puji Ceng Ho.
"Justru itu, yang mulia ratu," kata Wang Jing Hong, "saya sudah menekan mimpi-mimpi saya untuk -seandainya boleh- saya memiliki burung jalak itu. Suratan takdir saya menyebutkan bahwa saya bisa berumur panjang jika saya memiliki jalak putih itu."

Ceng Ho terheran mendengar pernyataan Wang Jing Hong. Karena itu, dia pun bertanya, "Betulkah begitu?"
"Ya, konon begitu uraian kwa-miah dan swi-miah saya," jawab Wang Jing Hong.
"Kok kau tidak pernah mengatakan itu?"
"Anda tidak bertanya, jadi saya tidak berkata."
Dan, Ratu Subandar berkata, "Sangat mudah. Nanti saya akan suruh ahli saya menangkap burung itu satu pasang."

"Terima kasih, Ratu," kata Wang Jing Hong. "Satu ekor pun sebetulnya sudah cukup."
"Tidak boleh, Tuan," kata Ratu Subandar. "Kasihan salah seekor dari pasangannya akan menderita sepi, tertekan, lantas mati sebatang kara. Itu yang membuat populasinya menurun."
"Jika memang begitu, asal Ratu berkenan, saya akan sangat senang," kata Wang Jing Hong menundukkan badan memberi hormat.
"Pasti," kata sang Ratu.


***


Dengan cepat rombongan Ceng Ho menerima kesan, Ratu Subandar tulus, baik, jujur, tidak seperti orang-orang yang dijumpai dalam pelayaran sejak di Qui-Nho hingga Tuban. Yang menarik disebut, dan diingat oleh rombongan Ceng Ho, adalah sang Ratu dan banyak perempuan di dalam istana baik yang dayang-dayang maupun janger *) semua berbuka baju atas, sehingga bagian tubuh yang ada hubungannya dengan kasih sayang di satu pihak dan tanggung jawab insani bagi kehidupan generasi manusia di lain pihak tampak merdeka diterpa angin yang sepoi-sepoi basah. Ketulusan itu pula yang tetap terjaga lantaran memang lahir dari hati yang bersih, saat sang Ratu menjamu makan pada malam harinya. Pada malam jamuan makan itu sang Ratu menyajikan para janger yang menarikan tarian indah. Alih-alih bunyi gamelan yang mengiring tarian itu tidak sama dengan yang di Jawa yang berlaras slendro atau pelog. Laras yang dimainkan oleh para niyaga itu adalah selonding. **) Rombongan Ceng Ho, semua enam puluh orang, terpesona pada tarian dan musik yang disajikan di istana Ratu Subandar. Salah seorang yang bermarga Kang, selanjutnya dipanggil Kang King Kong, staf dapur, juru masak yang bukan untuk Ceng Ho, lebih dari terpesona menyaksikan janger di baris depan. Kebetulan janger itu datang menghampiri Kang King Kong, melambaikan selendang di wajahnya. Selendang itu semerbak oleh wewangian dupa bercampur gaharu. Bukan saja terpesona, Kang King Kong terpukau oleh semerbak yang tajam itu. Dia berdiri seperti linglung, menoleh ke kiri dan kanan. "Apa yang harus saya lakukan?" Penerjemah istana berkata kepada penerjemah pihak Ceng Ho bahwa janger itu berharap Kang King Kong turun menari dengannya. Karena itu, dengan kagok dan juga kaku tapi terpukau oleh semerbak wewangian ditambah dengan gemulai sang janger memeragakan tubuh dalam tariannya, Kang King Kong pun berusaha mengikuti irama yang ditabuhkan oleh pemain-pemain selonding sambil mengikuti arah langkah sang janger. Semua yang menyaksikan itu tersenyum-senyum dan tertawa. Mereka senang dan terhibur sebab melihat gaya Kang King Kong yang bukan saja kagok dan kaku namun juga wagu, tiga kali terpeleset dan jatuh, sehingga sang janger merasa perlu mengulurkan tangan supaya Kang King Kong dapat berdiri dan menari lagi.

***


Adegan singkat itu ternyata membawa perkembangan menarik bagi keduanya: sang janger dan Kang King Kong. King King Kong mencarinya di belakang istana. Di luar ruang dandan. Ternyata sang janger juga berharap-harap didatangi oleh Kang King Kong. Begitu mata memandang mata, kedua mata menunjukkan perasaan suka, perasaan senang, perasaan gandrung. Yang lelaki ingin menyatakannya dengan kata-kata, berharap yang perempuan dapat memahami kata-kata. Namun keduanya segera menyadari bahwa kata-kata yang memiliki nilai transenden ternyata terhalang oleh perjanjian-perjanjian umum atas pengertiannya secara bahasa. Keduanya memahami itu setelah mula-mula Kang King Kong menyatakan sesuatu dalam bahasa Cina dan sang janger menanggap dengan bahasa Bali. Keruan keduanya seperti memasuki sebuah terowong gelap. "Ni hau ma?" ***) kata Kang King Kong Sang janger tak paham. Dia menunduk kepala. Diam. "Wo sh kang, hen kau xing ren sh ni," ****) kata Kang King Kong dengan keramahan.  Dan, sang janger tetap tidak paham. Barangkali dia dapat merasakan keramahan itu tapi tidak memahami kata-kata apa yang mengakar dalam keramahan itu. Dia menggeleng lagi. Ada kata-kata yang hendak diucapkannya, tapi tersendat dan luput. Lagi Kang King Kong berupaya menyampaikan isi hati dengan kata-kata dari bahasa ibunya. Kini dia memuji: suatu dorongan alamiah dari kecenderungan-kecenderungan khas lelaki dalam keniscayaannya melakukan sesuatu -yang katakanlah secara modern sebagai jenis emosi yang terkait dengan kompleks gagasan- untuk menunjukkan kesungguhan hati dalam ucapan yang memberikan kesan ketulusan. Kata Kang King Kong seraya merekatkan kedua telapak tangannya dengan sedikit menundukkan kepala tapi dengan mata terbuka terarah penuh kepada sang janger, ''Ni you thian sh'eng te mei li.''*) Sang janger tersipu. Dia tersipu bukan karena mengerti, melainkan justru bingung. Dia ingin menanggapi, tapi dia sendiri tidak yakin apakah dia sanggup mengatakan apa yang ada di dalam hatinya melalui bahasa yang dipahaminya yaitu bahasa ibunya. Karena keadaan bingungnya masih berlanjut, kembali dia menggeleng. Kini Kang King Kong berupaya meyakinkan. Dia pegang tangan sang janger. Dengan begitu dia mengulang lagi kalimat yang baru dia ucapkan bahwa janger itu memiliki kecantikan alami, dan menambahkannya dengan kalimat yang mirip sumpah anak remaja. ''Wo sh'uo te quan sh zh'en hua,''**) kata Kang King Kong. Dan dia duduk di sebelahnya, memegang tangan sang janger dengan lebih kuat tapi juga dengan lebih mesra. ''Wo yuan i p'ei nin ch'u, hsing pu hsing?''***) Sang janger tidak beranjak. Tampaknya dia senang dipegang tangannya dengan cara yang kuat lagi mesra seperti itu. Tapi dia tidak tahu harus berkata apa. Jika dia bisa bersumpah, pasti dia akan mengatakannya berpanjang-panjang dengan bahasa ibunya. Tapi, amboi, dalam keadaan aneh seperti ini, ketika di dalamnya kalbu keburu lahir perasaan suka-ceria karena alasan-alasan yang tidak terjangkau oleh akal, dan memang tidak perlu dibahas dengan nalar yang paling cerdas pun, melainkan oleh nurani, yaitu karena persoalan 'dari mata turun ke hati', syahdan maka satu-satunya kalimat yang melintas secara alami dalam pikiran sang janger adalah pernyataan dalam bahasa ibunya. ''Tiyang bingung,''****) kata sang janger. Akhirnya Kang King Kong menggunakan bahasa isyarat. Dia menunjuk-nunjuk dirinya melalui kedua tangannya yang diarahkan ke dadanya sambil berkata, ''Kang King Kong.'' Dan setelah itu menunjuk-nunjuk juga ke arah sang janger. Rupanya bahasa isyarat ini mudah dipahami. Sang janger segera mengerti bahwa Kang King Kong bertanya siapa namanya. Maka memahami akan pertanyaan isyarat itu sang janger pun menjawab dengan sedikit tersendat tapi tidak ragu, ''Tiyang Ketut.'' Kang King Kong senang. Dia tertawa seperti memperoleh kemenangan tertentu. ''Ketut?'' Lantas tiba-tiba dia bercakap panjang seperti rem blong dan membuat Ketut terbengong. Katanya, ''Hsin li mien ti i su to, k'o shih shuo pu ch'u lai. Chung-kuo jen yu chu su hua shuo, Ch'a hu chu chi tan tao pu ch'u lai, chiu shih che ko i su.''*****) Ketut memandang wajah Kang King Kong. Kang King Kong gemetar melihat mata Ketut. Dia lebih gemetar ketika memandang dada Ketut yang bebas merdeka dari kain sebagaimana lazimnya tradisi pada masa itu bagi perempuan di Bali berbuka payudara. Maka, oleh dorongan naluriah, tanpa sadar Kang King Kong telah mencium Ketut. Ketut kaget. Tapi getaran asmara rupanya sama-sama menjangkitkan gaung sehingga akhirnya kedua insan ini terbangun di dalam berahi yang hebat. Tak berapa lama setelah itu muncul di situ penerjemah yang biasa bertugas menjalinkan pengertian-pengertian. Begitu melihat kedua insan ini sedang masyuk, berkatalah penerjemah itu kepada Kang King Kong, ''O, rupanya untuk menyatakan asmara tidak diperlukan peran penerjemah.'' Kang King Kong kaget, lantas melepaskan rangkulan dan ciumannya atas Ketut.''Kau?'' kata Kang King Kong, ''pergilah. Jangan ganggu kami.'' Sang penerjemah tertawa terkekeh-kekeh. ''Aku sedang membuktikan teoriku,'' katanya. ''Ya, sudah. Kau boleh saja membuat teori. Tapi jangan ganggu kami. Kami sedang mewujudkan praktik, bukan teori. Pergilah.'' Sang penerjemah ketawa lagi. ''Apa kau yakin tidak mau mendengar teoriku? Kau akan menyesal kalau kau tidak mendengar teoriku ini sekarang.'' ''Huh! Aku lebih menyesal kalau sekarang aku kehilangan kesempatan menghayati praktik. Apa kau tidak lihat, praktik lebih mengasyikkan daripada teori?'' ''Tapi teoriku juga menarik. Katakanlah bahwa kau harus mendengarnya supaya praktikmu lebih terbenarkan.'' Kang King Kong jengkel. Tapi katanya, ''Ya sudah, katakanlah.'' ''Baiklah. Aku baru saja menemukan jawaban bahwa asmara adalah bahasa naluri. Dengan naluri maka semua perangkat bahasa verbal tidak berfungsi lagi. Manusia telah menjadi hewan berjubah.'' "Apa katamu?" kata Kang King Kong. Tampaknya dia geram. "Kamu samakan aku dengan hewan?" "Bukan begitu," kata sang penerjemah, "aku baru saja menerangkan perihal hakikat asmara dalam makhluk manusia." "Tapi kamu edan, menyamakanku dengan hewan." Kang King Kong menuding dan menghardik sang penerjemah. "Sudah! Pergi sana kamu!" Sang penerjemah malah tertawa lebih keras. "Sama saja. Juru masak Sam Po Kong kok jatuh cintanya sama penari. Wu Ping jatuh cinta di Sunda Kelapa, kau jatuh cinta di Bali."


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #156 on: 01/09/2008 13:22 »
Besok paginya dilangsungkan percakapan serius. Pada waktu itu bulan Ramadan sudah berlangsung. Ceng Ho berpuasa. Demikian juga yang lain.
Sebelum turun ke darat, pengawal Wikramawardhana yang ikut serta dalam pelayaran ini, dan yang telah banyak bertanya-tanya perihal agama Islam -agama yang diperkenalkan di Jawa oleh orang-orang Cina dan kemudian oleh para wali yang juga sebagian besar adalah orang Cina- bertanya kepada Ceng Ho, maka Ceng Ho tidak sarapan pagi itu.

"Ini yang disebut puasa. Puasa adalah salah satu dari rukun Islam," kata Ceng Ho kepada pengawal Wikramawardhana itu. "Puasa, menahan diri dari lapar, adalah hukum yang fardu, atau wajib dilakukan oleh orang Islam. Fardu merupakan salah satu dari hukum Islam di antara sunah, mandup, atau mustahab, kemudian haram atau mahdur, lantas makruh dan mubah atau jawaz."
"Jadi, Anda akan tidak makan sepanjang sehari?" tanya pengawal Wikramawardhana tersebut. "Ya. Tidak makan dan tidak minum sama sekali."
"Berapa lama?"
"Selama satu bulan penuh, yaitu bulan sekarang ini, disebut bulan Ramadan."
"Anda kuat?"
"Harus kuat."
"Bagaimana caranya?"
"Saya sudah melakukannya sejak kecil."



***


Tapi, pada sore hari menjelang malam, pengawal Wikramawardhana itu kelihatan bingung, mula-mula dia bertanya-tanya di dalam hati, kemudian bertanya langsung kepada Ceng Ho.
Pada saat magrib, Ceng Ho dan lain-lain termasuk Wang Jing Hong dan Wu Ping makan bersama-sama.
“Saya bingung, Sam Po Kong," kata pengawal itu, "tadi Anda bilang, Anda menahan lapar sampai satu bulan. Kenapa sekarang Anda sudah makan?"

"Ini yang namanya berbuka puasa. Yang tadi saya katakan berpuasa selama sebulan adalah menahan lapar dari antara kira-kira jam 4.00 sampai jam 18.00. Pada waktu sekarang, magrib, kami makan, berbuka puasa. Nanti malam menjelang subuh, sekitar jam 2.00 dan jam 3.00 kami makan lagi. Istilahnya, itu adalah makan sahur. Sedang nanti, dalam waktu dekat ini, setelah berbuka, kami akan melaksanakan tarawih."

"Ini dilakukan selama satu bulan?"
"Ya. Setelah itu kami akan membayar zakat fitrah, beramai-ramai melakukan salat, lalu kunjung-berkunjung atau silaturahmi memohon maaf lahir dan batin pada hari raya Idul Fitri."
"Memohon maaf lahir dan batin?"
"Ya," kata Ceng Ho tegas, "sebab tidak ada satu pun manusia di kulit bumi ini yang tidak bersalah. Oleh sebab itu, menginsyafi kesalahan dan kekurangannya, maka di hari yang fitri, wajiblah manusia itu memohon maaf atas kesalahan dan kekurangannya yang mungkin telah melukai hati orang lain."

Pengawal Wikramawardhana itu termangu memandang Ceng Ho. Katanya dengan suara yang pelan dan dalamnya mengandung rasa hormat, "Itu ajaran kasih sayang sejati yang ajaib."

"Betul sekali," kata Ceng Ho pula. Pada kalimat berikut nada suaranya melembut namun tidak kehilangan ketegasannya. "Karena sejatinya adalah Allah yang Khalik seru sekalian alam itu sendiri ar-rahman dan ar-rahim, maha pengasih dan maha penyayang." Pengawal itu menatap lurus. "Tapi bagaimana bisa Anda sebagai seorang pemimpin, laksamana yang memimpin pelayaran besar ini, menaruh hal kesederhanaan di dalam hati sehingga Anda berpenampilan wajar seperti begini?" Ceng Ho tertawa kecil. "Begitukah?" tanyanya singkat. "Ya," kata pengawal itu bersemangat, "biasanya seorang pemimpin yang diberi tugas oleh negara penampilannya tengil, norak, memuakkan. Anda sama sekali tidak begitu." "Seorang muslim tidak boleh sombong. Saya sedang berusaha berpenampilan wajar," kata Ceng Ho, "bagaimanapun saya harus bisa hadir sebagaimana yang diisyaratkan nabi. Sabda rasulullah, nabi junjungan kami, bahwa 'La yadkhulul jannata man kaana fii qalbihii mitsqaala habbatin min khardalin min kibrin.' Artinya 'Takkan masuk surga orang yang hatinya ada sebiji-sesawi kesombongan.' Maka, melalui itu juga saya selalu berkata dalam diri: Tidak boleh sombong. Sombong itu tidak ada gunanya." Dan pengawal Wikramawardhana itu mengangguk-angguk kepala, menyerap kawruh yang diutarakan Ceng Ho dengan kesungguhan yang ajaib. Akhirnya pengawal itu mesti berkata sesuatu dari kesungguhannya itu. Tanpa ragu dia berkata, ''Kelihatannya sebelum kapal ini tiba di negeri Cina, saya sudah memutuskan untuk menjadi Islam.'' ''Alhamdulillah,'' kata Ceng Ho. ''Tapi, kalau Anda mau menjadi Islam, pertama Anda harus mengucapkan kesaksian akan satu Allah dan rasul-Nya Muhammad.'' ''Apa itu?'' tanya pengawal itu. ''Itu adalah kalimat syahadat,'' kata Ceng Ho. ''Dan nanti, jika mampu, pada suatu waktu Anda pergi ke negeri Arab, ke Makah, naik haji.'' Pengawal itu mengangguk. Magrib tengah berjalan ke malam. Sebentar lagi tarawih. Pengawal itu pun menyaksikan dengan sungguh-sungguh.

***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #157 on: 01/09/2008 15:01 »
Lain lagi dari keadaan Hua Xiong dan Si Lihai. Mereka berdua berada di bagian cagak *) yang menggantung sekoci. Dari wajah mereka, jika orang melihatnya dari dekat di antara hari yang telah gelap, akan tampak garis-garis ketegangan. Hua Xiong kelihatan judek, bukan hanya tegang. Keadaan hatinya yang judek itu dilampiaskannya kepada Si Lihai. Dengan itu dia berusaha mengalirkan judeknya itu kepada Si Lihai. Dan Lihai termakan.

''Dang Zhua memang sudah berubah,'' kata Hua Xiong. ''Saya ingin singkirkan dia.''
''Astaga!'' Lihai kaget. Nalarnya masih jernih. ''Mana mungkin?''
''Jangan bilang 'mana mungkin'!'' kata Hua Xiong geram. ''Harus mungkin”
Dia sudah berseberangan dengan aku. Tadinya kami seiring sejalan, senasib sepenanggungan. Sekarang kami sekapal tak sehaluan. Dang Zhua itu air di daun talas. Dia juga musuh dalam selimut. Maka dia harus mati.''
Lihai tercenung. Dia memandang wajah Hua Xiong dalam kegelapan malam. Dia tak berkata apa-apa. Dengan tidak berkata apa-apa dia hanya menyediakan diri sebagai pendengar. Pasti Hua Xiong masih akan berbunyi-bunyi mulutnya. ''Berhubung kamu lihai, saya menyerahkan tugas ini kepadamu.''

Si Lihai terkejut. Dia berdiri dengan kaki tegak. ''Tugas apa maksud Anda?''
''Membunuh Dang Zhua.''
''Tidak mungkin.''
''Kamu takut?''
''Bukan takut.''
''Lantas?''
''Walaupun saya bisa bilang, Anda saja yang melakukan, sebab Anda sekamar dengannya, toh saya tidak akan mengatakan begitu.''
''Kenapa tidak?''
''Sama sekali tidak ada gagasan itu dalam pikiran saya.''
''Justru itu saya sedang memberi ilham buatmu.''
''Sama sekali tidak mungkin. Dang Zhua tidak bermasalah dengan saya. Selain itu saya lebih dulu mengenalnya sebelum Anda.''
''Jadi Anda menolak melakukan itu?''
''Saya memang tidak terpanggil untuk melakukannya. Lain halnya kalau membuka kunci yang tertutup. Saya ini ahli kunci. Saya bukan pembunuh. Saya tidak sanggup.''
''Huh, plinplan,'' kata Hua Xiong sambil mendorong dada Si Lihai sehingga Si Lihai terundur sampai ke pagar kapal. ''Percuma julukanmu Lihai. Ternyata kamu plinplan. Sudah plinplan,
penakut pula. Jauh-jauh meninggalkan tanah air kok tidak punya nyali. Dasar anjing kampung budukan.''
Si Lihai tidak menanggapi. Dia hanya diam. Dia pergi dari situ, sementara Hua Xiong meneriakinya. Tak peduli. Dia kembali ke kamarnya. Tidur.

Hua Xiong tak bisa tidur. Di kamarnya dia hanya duduk di atas tempat tidur sambil merengut melihat sosok Dang Zhua yang melingkar di tempat tidurnya. Alih-alih Dang Zhua mendengkur bagai hewan tertentu di situ.
Hua Xiong keluar lagi dari kamar. Dan begitu Hua Xiong keluar, Dang Zhua membuka mata, mengintai. Rupanya dia baru saja melakukan sesuatu yang mirip pengail....



***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #158 on: 01/09/2008 16:02 »
Ketika malam baru saja menghitamkan bumi, Rabu Subandar memanggil abdinya, menyuruhnya menangkap jalak putih. ''Saya dapat merasakan betapa rindu tamu kita dari Cina itu pada jalak putih bali,'' kata sang ratu. ''Maka malam ini juga, dengan cara bagaimanapun, kamu harus menangkap sepasang jalak putih itu untuk kita hadiahkan kepada tamu dari Cina itu. Di Bali sini kita harus memberi yang terbaik untuk menanamkan kesan mendalam bahwa orang Bali adalah benarbenar bangsa yang berpengertian, berbudaya, bersusila. Walaupun mereka telah memberi cendera mata yang indah bagi kita, mestilah kita berpendirian lebih baik memberi daripada menerima. Ini prinsip-prinsip dasar dari moral kita yang harus diejawantahkan dalam perilaku dan tindakan. Abdi itu menundukkan badan, bersujud, menyatukan kedua telapak tangannya, dan berkata, ''Daulat, Ratu Subandar. Saya akan melakukan perintah Ratu dengan sebaik-baiknya.'' Dan berangkatlah abdi itu di malam yang gelap ini menuju ke hutan arah barat-daya, sampai ke Sungai Sabah yang berhulu di lereng Gunung Batukau, di habitat jalak putih tersebut. Sang abdi sangat cekatan. Di hutan yang pekat dia melebihi keawasan kucing hutan. Matanya dapat merekam objek tertentu pada jarak seratusan meter. Maka tak ayal, dia akan berhasil menangkap sepasang burung jalak putih yang diperintahkan sang ratu.


***


Ketika abdi sang ratu berhasil menangkap jalak putih itu, pada saat yang bersamaan Wang Jing Hong tidak berhasil memejamkan mata karena lamunannya terbang kian-kemari. Tadi dia baru sahur bersama Ceng Ho dan orang-orang Islam yang lain. Setelah itu, di dalam kamarnya, yaitu kamar kemudi, dia duduk sejenak, menjaga asistennya yang memegang kemudi, dan bercakap-cakap akrab sekitar rencana besok untuk turun ke darat, menemui Ratu. Lalu dia pun merasa letih, dan kemudian pergi ke kamar tidurnya. Mestinya dia dapat segera memejamkan mata di atas ranjang sebab badannya yang lebih itu. Tapi begitu dia terbaring di ranjangnya, matanya memandang langit-langit, dan selanjutnya pikirannya terbawa pada keindahan jalak putih itu. Dalam lamunannya ini dia merangkai-rangkaikan anganan untuk mencipta hari esok yang elok, dimana dalam usia tuanya dia akan tinggal di sebuah rumah dekat sungai dengan pohon-pohon rindang dan sebuah kandang burung yang besar sekali di mana dia bisa membudidayakan burung jalak putih itu. Dia menguap benar-benar. Tak lama kemudian dia tertidur. Dan memang benar, dia bermimpi tentang jalak putih itu. Dia terbangun sebab terdengar seruan salat.


***


Manakala fajar menyingsing di timur, semua orang siap-siap melakukan pekerjaannya masing-masing. Sesuai rencana, pertemuan dengan Ratu Subandar akan dilangsungkan sekitar jam 10.00. Mereka akan membicarakan tentang perniagaan, apa yang mereka akan jual dan apa yang akan mereka beli. Janji sang ratu ditepatinya. Abdinya berhasil menangkap sepasang jalak yang akan diberikan kepada Wang Jing Hong. Kini burung itu, jantan dan betina, telah terkurung di dalam sangkar yang indah, yang berhiaskan ukir-ukiran berwarna khas Bali yang musykil dan menawan. Untuk membuat ukir-ukiran yang indah seperti itu, agaknya perajin Bali sangat terampil. Dari kesan yang diperoleh dari segala kerajinan, kriya, maupun seni Bali, keindahan selalu didapatkan melalui keterampilan tersebut. Sang ratu sendiri yang menyerahkan burung di dalam sangkar itu kepada Wang Jing Hong. Sebelum sngkar itu berpindah tangan, dari tangannya ke tangan Wang Jing Hong, berkatalah Sang Ratu, ''Semoga dengan sepasang jalak ini maka segala hal yang Anda cita-citakan, dan sesuai pula dengan suratan tangan Anda sendiri, akan terwujud.'' Dan Wang Jing Hong menerima sangkar itu. Sambil menerima sangkar itu, Wang Jing Hong berkata dengan membungkukkan badan untuk memperagakan rasa hormatnya kepada sang ratu, ''Terima kasih banyak saya ucapkan kepada Ratu.'' Lalu dia melihat dengan senang, girang, dan suka cita pada kedua burung di dalam sangkar itu. Katanya kepada burung-burung itu, ''Tidak ada obat batin yang lebih mujarab daripada warnamu, wahai jalan nan putih bagai salju, putih yang mampu membersihkan kotor jelaga dari tawarikh masa silamku.'' Penerjemah menerjemahkan apa yang dikatakan Wang Jing Hong dan Ratu Subandar menyambut dengan suka cita. Kata Ratu Subandar, ''Memang sakit dalam batin lebih pelik dibanding sakit dalam lahir. Sakit dalam batin bisa membuat seseorang tetap berdiri, sedangkan sakit di dalam lahir membuat orang terus terbaring dalam gerainya.'' Ceng Ho membenarkan. ''Memang betul,'' katanya. ''Selama ini juru mudi kami ini cuma diganggu oleh kerinduannya pada burung-burung itu. Ini seperti dongeng saja. Tapi kenyataannya memang begitu. Betapa tersiksa batin mendamba sesuatu yang jauh dari matanya dan tak terjangkau oleh tangannya.'' ''Tidak,'' kata Wang Jing Hong. ''Sekarang sudah terjangkau. Aku sudah memilikinya. Aku akan sembuh untuk selamanya. Batinku akan menjadi sebuah ladang halwatelinga yang berpengharapan.'' ''Saya selalu irsia*) pada lelaki yang sehat lahir,'' kata Ratu Subandar. ''Seakan-akan saya melihat kenyataan ini sebagai karmapala dari masa lalu ketika nenek moyang kami masih berdiam di Jawa. Masa kini memang merupakan rancangan tanggung jawab terhadap masa depan. Tapi siapakah gerangan di antara makhluk janma**) yang boleh luput dari masa silamnya?''
Ceng Ho segera memahami kias apa yang sedang diutarakan oleh Ratu Subandar. Karenanya, dengan santun dan lembut, dia berkata, ''Ada kesan sangsi di balik kata-kata Ratu.'' Dan Ceng Ho memandang ke dalam mata sang ratu, tapi kemudian merasa rikuh. ''Maaf kalau ternyata saya salah menafsir.'' Sebaliknya sang ratu membuka diri. Dengan segera dia berkata, ''Anda benar sekali, Tuan. Sebagaimana Anda lihat, sejak kemarin saya berdiri di kerajaan saya ini tanpa disertai seorang suami. Mengapa? Apakah saya janda? Atau apakah saya hanya menyukai sesama jenis? Sama sekali tidak. Saya perempuan normal dengan hasrat-hasrat jasmani untuk menyukai dan mencintai lelaki. Tapi, inilah rasa irsia yang saya maksudkan tadi. Barangkali benar, saya tidak merdeka dari karmapala masa silam saya. Suami saya, lelaki yang saya sebut sebagai isyarat yang menyempurnakan janma perempuan, telah empat tahun ini terbaring dalam gerainya, karena raganya tidak sehat, lahirnya dikungkung oleh sakit.'' ''Sakit?'' ''Betul, Tuan. Dan justru karena sakitnya adalah lahir, yang mengganggu raga, telah bertahuntahun ini kami mencari obatnya, dan kami tidak menemukan obatnya.'' ''Sakit apa?'' tanya Ceng Ho. ''Kami membawa ahli tanaman jamu dari Cina. Kalau tanaman itu dapat menjadi obat bagi suami Ratu, kami akan menolong, seperti Ratu telah menolong Wang Jing Hong.'' ''Tanaman? Tanaman apa?'' ''Kami memang membawa tanaman jamu di kapal kami. Sedianya tanaman-tanaman itu kami peruntukkan bagi seorang mubalig asal Cina yang berada di Jawa bagian tengah. Tapi beberapa bulan lalu kami tidak sempat singgah ke situ, karena haluan telah berada jauh ke timur dari arahnya. Katakan, apa sakit yang menimpa suami Ratu, biar ditangani sinse yang menguasai tanaman-tanaman jamu. Insya Allah tanaman jamu kami dapat menyembuhkan.''


***


Ceng Ho meminta sinse, salah seorang di antara beberapa yang ahli tanaman jamu dalam rombongan ekspedisi muhibahnya itu, melihat atau memeriksa keadaan suami sang ratu.
Sinse itu pun memegang lengan suami sang ratu. Dia melihat dengan jelas betapa lelaki gemuk di hadapannya ini bernapas tersengal-sengal dan sulit.
''Ini berpangkal pada gangguan pernapasan,'' kata sinse itu.
''Bagaimana?'' tanya sang ratu, meminta diterjemahkan.
''Begini,'' kata sinse itu. ''Mula-mula Paduka hanya terkena gangguan napas biasa. Tapi gangguan ini menjadi pelik sebab beliau merasa seperti terabaikan, dan kemudian tertekan,
dan ujungnya measa terasing. Jadi, sakit fisiknya lebih banyak dipengaruhi oleh pikiran yang tidak stabil.''
''Baiklah,'' kata Ceng Ho. ''Lantas, obat apa yang bisa kita sumbangkan kepada keluarga kerajaan ini?''
''Untuk penyakit ini, kita bisa sumbangkan delapan jenis tanaman herbalis dari Cina untuk diberikan kepada kerajaan, supaya bisa ditanam di sini.''

''Apa saja itu?'' tanya Ceng Ho.
''K'un-Tsung *), Lin-Mu2 **), Tse-Lan ***), Yin-Hsing ****), Yueh-Kuei ***** ), Hsun-Fu-
Hua *******), Shu-Wei-Ts'ao *******.7), Huang-Lien ********). Jika perlu kita bisa berikan yang lain lagi, yang tidak berkaitan dengan penyakit yang diderita.''

Dan Ceng Ho pun menjanjikan kepada Ratu Subandar untuk membawa tanaman-tanaman jamu itu, yaitu tanaman-tanaman jenis herbalis yang dibawa dari Cina, dengan seorang ahli tanaman yang menjaga tanaman-tanaman itu sepanjang pelayaran.

***
Besok, seperti yang dijanjikannya, Ceng Ho dan rombongan datang membawa tanamantanaman herbalis itu untuk sang ratu. Selain delapan jenis tanaman itu - angka yang berkaitan dengan sendi kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar anggota misi muhibah tersebut juga dibawa khusus pohon leci bibit untuk dapat ditanam di Bali. Tentang pohon leci itu, Ceng Ho berkata, ''Suatu waktu nanti, jika saya bisa kembali ke Bali, mudah-mudahan saya dapat menikmati buahnya. Buah leci manis, mengingatkan pada sikap dan tutur kata Yang Mulia Ratu secara khusus dan masyarakat Bali secara umum. Kami benar-benar terkesan.'' ''Terima kasih atas penghargaan Tuan,'' kata Rabu Subandar. ''Jika Yang Mulia Rabu berkenan bertanya kepada ahli kami untuk bagaimana caranya membudidayakan leci di pulau ini, kami akan merasa senang untuk membagikan pengetahuan itu kepada Yang Mulia Ratu,'' kata Ceng Ho. ''O, tentu saja,'' kata sang ratu.


***


Dan mereka semua pergi ke sebidang tanah, berjalan beramai-ramai ke situ. Matahari sedang menyinar dengan sangat teriknya, membuat semua orang yang berjalan itu tampak gerah dan penuh berpeluh. Lalu, kebetulan saja Ceng Ho menghadap ke utara dan menepuk-nepukkan tangan, dan sekonyong angin datang mengembus dengan lumayan kencang, melenakan tubuh yang kuyup oleh keringat. Diam-diam sang ratu memperhatikan dan menyerap perbuatan Ceng Ho yang kebetulan itu, dan mengira bahwa jika terjadi terik matahari yang membakar bumi, maka orang harus menghadap ke utara dan menepuk-nepukkan tangan supaya angin segera datang menghembus seperti ini. Hal ini kemudian - ketika Ceng Ho telah meninggalkan Bali, diajarkannya kepada rakyatnya yang petani -sebagai suatu pengetahuan. (Hingga kini, tradisi menepuk-nepuk tangan untuk memanggil angin, masih berlanjut di Bali).


***


Ceng Ho memercayakan penanaman bibit leci itu kepada ahli tanaman-tanaman yang disebutnya itu. Ahli itu - sehnya Pu, marga paling gampang ditulis dalam huruf Cina, yaitu hanya dua dua goresan, satu gores lurus atas ke bawah disertai dengan gores miring di sebelahnya ) - adalah seorang Buddha yang sangat taat, sekaligus seseorang yang sangat tradisional. Sebelum menanam leci itu, Pu meletakkan patung Lung *) di tanah yang akan dijadikan kebun, setelah itu ia meminta Fei Huan membacakan doa-doa khas Buddha. Mereka melakukan tradisi itu - tradisi yang sudah dimulai sejak zaman dinasti Shang **) dengan amat tertib. Setelah itu, kata Pu, yang sebentar akan dipertanyakan oleh sang ratu, "Pohon leci ini pasti akan tumbuh dengan subur. Dan pulau ini akan menjadi pulau leci paling kaya di Nusantara." Sebelum menanam pohon ini, ketika Fei Huan akan memulai doanya, dia melepaskan burung merpati - mestinya camar - sebagai isyarat tradisi Cina dari zaman Shang tersebut. (Dalam hal ini orang Cina, dari leluri lama, percaya bahwa naga yang disebut lung itu berhubungan dengan Tien, Tian, atau Tuhan, kombinasi dari sembilan binatang: kepala yang mirip unta dengan mutiara di keningnya, bertanduk mirip rusa, perut seperti katak, tungkai bercakar seperti elang rajawali, telapak tangannya seperti harimau, bersisik dengan kontur yang mencolok seperti ikan arwana dengan punggungnya yang mirip seperti gergaji berjumlah delapan puluh gerigi, lehernya mirip ular, matanya mirip pelanduk, dan telinganya mirip kuping sapi atau lembu yang tidak tajam dalam pendengarannya, sehingga acapkali orang Cina menyebut orang tuli: lung, artinya tidak mendengar). Setelah selesai menyeru kepada lung, dan usai menanam pohon leci itu, Ceng Ho berkata kepada Ratu Subandar, "Apa yang dikatakan oleh Pu, mudah-mudahan akan benar terjadi. Pu adalah seorang ahli. Seorang ahli Cina semestinya memiliki pengetahuan dari catatan-catatan sejarah yang terus ditulis dan diajarkan, dan juga pengetahuan-pengetahuan baru yang diperolehnya dari usahanya sendiri." "Ya, mudah-mudahan harapan Tuan pun akan menjadi kenyataan," kata Ratu Subandar.


***


Dan manakala orang-orang terpusatkan perhatiannya pada tanaman yang membuahkan leci yang manis itu, Kang King Kong memusatkan pula perhatiannya pada tanaman cinta-kasih yang telah dimulai dengan suasana manis tanpa menggunakan kata-kata yang galib untuk mewakilinya. Di bawah pohon yang rindang, yang toh terasa akan kuku-kuku teriknya matahari, Kang King Kong menyatakan dengan bahasa isyarat akan kesungguhan hatinya untuk mempersunting Ketut dan diam di Bali sampai akhir hayat. Dengan menggunakan kedua tangannya, Kang King Kong memberikan pengertian itisal akan hatinya, jiwanya, raganya, yang sungguh-sungguh. Dia mengatakan dengan isyarat-isyarat tangannya itu bahwa dia mempersunting Ketut, kawin, bikin anak, dan menjadi ayah dan ibu yang bertanggung jawab. Untuk isyarat 'bertanggung jawab' dia menunjuk-nunjuk langit sambil menyebut Tian yang berarti Tuhan atau surga. Dan untuk isyarat 'kawin dan bikin anak' dengan membuka telapak kiri, lalu telapak tangannya digerak-gerakkan di atas tangan kiri itu. Ketut pun melihat bingung, tapi kemudian ketawa terpaksa, antara tidak memahami dengan persis tapi kira-kira menangkap maknanya, lantas kelihatan pula tersipu karena malu.


***


Nanti, pada sore hari, di atas kapal, setelah Ceng Ho selesai berbuka, Kang King Kong menyatakan keputusannya itu. Untuk satu hal ini Kang King Kong memang tidak ragu.
Berbeda dari juru masak khusus Sam Po Kong, yaitu Wu Ping, yang juga jatuh cinta pada seorang penari di Sunda Kelapa tapi ragu-ragu mengatakan itu kepada Ceng Ho. Kang King Kong menyatakan dengan blakblakan.

Kang King Kong mengatakan tentang keputusan hatinya itu di ruang kemudi. Katanya, "Saya mohon, sekiranya Laksamana mengizinkan, saya bermaksud menetap saja di Bali ini."
Ceng Ho memandang tajam. "Keputusan apa ini namanya?" katanya.
"Ini soal, eh, tanggung jawab pada masa depan," jawab Kang King Kong. "Saya jatuh cinta pada Ketut, ingin kawin dengannya, punya anak, menetap di sini sebagai bagian dari pulau cinta-damai sampai ajal menjemput."

"Kalau benar itu soal cinta, saya mendukung," kata Ceng Ho.
Wajah Kang King Kong pun berseri-seri. "Benarkah?" tanyanya.
"Tentu saja benar," kata Ceng Ho, "tidak ada satu pun manusia yang boleh menghalangi tali cinta. Sebab cinta itu agung, cinta itu mulia, cinta adalah anugrah ilahi atas diri manusia.
Allah taala jua yang menganugerahkan cinta dalam hati manusia, yang mengamanahkannya kepada manusia supaya manusia bertanggung jawab, supaya manusia beradab, bersusila. Ingatlah akan kata ar-rahman dan ar-rahim."

"Terima kasih, Sam Po Kong," kata Kang King Kong, langsung membungkukkan badan, berlutut, dan memegang kaki Ceng Ho.
Sebaliknya Ceng Ho menjemput lengan Kang King Kong dan menariknya ke atas supaya Kang King Kong berdiri saja di hadapannya. "Saya turut bersuka cita atas adanya cinta," kata Ceng Ho, "alangkah besarnya arti kekuasan cinta itu. Cinta lebih kuat daripada kemarahan, kebencian, bahkan permusuhan dan peperangan. Selamatlah."


***


Manakala Kang King Kong merasa suka cita karena dukungan Ceng Ho akan keputusannya tinggal di Bali karena cintanya kepada seorang janger yang cantik, maka di tempat yang lain di dalam kapal ini Hua Xiong sedang bersoal-soal mengenai dengki dan benci yang memanaskan hatinya. Hua Xiong berada di dalam kamar Si Lihai. Kebetulan kamar yang ditempati oleh delapan orang ini tak terlihat yang tujuhnya. Tadi Hua Xiong masuk ke situ sambil menggebrak, sehingga membuat Si Lihai terkejut dan menurun hikmahnya. Dengan cepat Hua Xiong menabrak Si Lihai dan mencekik leher seperti yang biasa dia lakukan terhadap Si Lihai. "Dengar baik-baik, kamu yang plin-plan dan penakut," kata Hua Xiong. "Berhubung kamu tidak berani membunuh Dang Zhua, maka kamu harus membantu saya. Yang pertama, jaga bacotmu ini. Sebab cuma kamu sendiri yang tahu rahasia ini." "Tolong, jangan libatkan saya lebih jauh," kata Si Lihai, "selama ini saya sudah membantu Anda. Sekarang saya rasa saya tidak sanggup." "Ah, bantu apa kamu?" kata Hua Xiong melecehkan, "yang kamu buat selama ini cuma membuat tulisan-tulisan tentang laporan pelayaran ini. Hanya itu. Lain tidak. Dan kamu toh melakukannya karena kami -aku dan pengkhianat Dang Zhua- yang mendiktekan kepada kamu. Kalau tidak ada yang mendikte kamu, mana mungkin kamu bisa menuliskannya? Selain itu, tulisan-tulisan itu sebentar lagi tidak ada gunanya. Begitu tiba di Cina, tulisantulisan itu akan dibuang oleh Liu Ta Xia. Dan yang akan dipakai adalah tuturan lisan dari mulutku." "Ya, sudah, saya tidak akan menuliskannya lagi." Hua Xiong langsung mengeraskan cekikannya. "Jangan macam-macam kamu. Kalau kamu masih mau hidup lebih lama di dunia ini, jangan coba-coba melawan kehendakku. Ayo, katakan itu. Katakan, kamu tidak akan coba-coba melawanku." Dalam keadaan sulit dan terjepit, Si Lihai mengangguk-anggukkan kepala. Wajahnya sendiri memucat. "Baik, baik," ujarnya. “Nah, dengar. Dan dengar baik dengan telinga, bukan dengan hidung," kata Hua Xiong mengencangkan kembali cekikannya, "kalau sampai terjadi hal-hal yang mencurigakan, yang karenanya membuat gerakanku tersendat, berarti kamu sudah mengundang kematianmu. Mengerti kamu?" Tetap dalam keadaan sulit dan terjepit, wajah memucat, Si Lihai mengangguk-anggukkan kepala. "Ya, ya, mengerti." Hua Xiong menampar muka Si Lihai. "Dengan siapa kamu bicara?" "Ya, ya, mengerti, Hua Xiong," kata Si Lihai. Setelah itu Hua Xiong mengempaskan tubuh Si Lihai sehingga yang disebut ini terkatah-katah di lantai. Setelah itu Hua Xiong keluar dari kamar itu. Kalau saja dia terlambat keluar, penghuni kamar yang lain, yang masuk sekarang, akan melihatnya melakukan ancaman itu.


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #159 on: 01/09/2008 16:33 »
Memangnya apa yang akan dilakukan Hua Xiong?
Sudah jelas, dia merencanakan pembunuhan terhadap Dang Zhua.
Tapi kapan gerangankah itu?

Dia perlu waktu yang tepat.

Demikian di termenung, duduk seorang diri di atas gulungan temberang*) yang terletak di geladu**).

Di sanalah letak terkalahkannya hati oleh akal yang terseleweng oleh dengki dan membuat orang menjadi jahat, laknat, keparat. Dulu kawan kini lawan.

***

Lantas, apakah Dang Zhua tahu akan rencana Hua Xiong? Terus terang Dang Zhua tidak tahu bahwa pikiran Hua Xiong telah berkembang sejauh itu. Memang dia bisa bersiaga-siaga di dalam kamar, berhubung dia tetap masih tidur sekamar dengan Hua Xiong, tapi dia tidak pernah berpikir bahwa berdiam-diam -seperti anak kecil yang jutakan- akan sampai pada pikiran-pikiran jahat Hua Xiong akan membunuhnya. Tapi, barangkali memang begitu alamnya pikiran jahat. Bahwa orang yang berpikir jahat selalu tidak menyukai kebenaran, sementara orang yang tidak bermusuh tidak pula merasa hidupnya tergesa-gesa. Padahal, persoalannya dimulai dari prasangka buruk. Yaitu, Hua Xiong menaruh curiga kepada Dang Zhua yang memang telah berubah pandangan terhadap Ceng Ho dalam beberapa bulan terakhir ini, bahwa Dang Zhua yang menyampaikan sesuatu kepada Ceng Ho sehingga Ceng Ho memperketat penjagaan terhadap tawanan Chen Tsu I. Kepala Hua Xiong seperti dipenuhi asap dan hatinya dipenuhi bara karena dia merasa tak berhasil mewujudkan janjinya yang meledak-ledak kepada Chen Tsu I bahwa Si Lihai sanggup membebaskannya dari kerangkeng dalam kapal induk itu. Harta yang dibayangkannya, yang telah dijanjikan Chen Tsu I kepadanya, dengan sendirinya luput. Sementara sikap benci yang kadung terbawa-bawa dalam pikirannya oleh tenahak Liu Ta Xia terhadap Ceng Ho merupakan alasan awal dari segala alasan cemarnya itu.

***

Dang Zhua dapat berpenampilan wajar, Hua Xiong tidak. Begitu yang tampak, jika orang mau memperhatikan dengan pindaian jeli akan tindak-tanduk kedua orang ini dalam hari terakhir rombongan Ceng Ho berada di Bali.

Alih-alih sore itu, manakala Ceng Ho dan orang-orang muslim lain sedang berbuka puasa, Dang Zhua mendekati pelan-pelan ke belakang Tan Tay Seng yang sedang asyik memandang ke barat, menyaksikan matahari yang pelan-pelan pamit kepada sore. Di belakang Tan Tay
Seng yang berdiri seorang diri di situ, Dang Zhua menyapa dengan cara yang sok akrab.

''Saya berani bertaruh, kau sedang mengamati matahari terbenam itu sebagai bahan ilham buat puisimu,'' kata Dang Zhua.
Tan Tay Seng terkesiap, tersadar dirinya tak sendiri di pagar kapal itu, lantas berkata dengan tidak puas, ''Mungkin Anda keliru. Saya sedang melihat ke bawah.''

yang sok akrab itu dia berkata, ''Saya yakin Anda pun berbakat. Cuma Anda kurang memupuknya. Nah, saya punya resep paling hebat untuk memupuk bakat seni. Bila Anda mau, saya bisa mengatakan buat Anda. Tapi janji jangan bilang pada siapa-siapa, sebab ini
hanya khusus untuk Anda.''

Dang Zhua menjadi serius dan senang sebab dalam rumangsa-nya Tan Tay Seng telah menjadi akrab juga dengannya. Katanya, ''O, ya, bagaimana resepnya?''

''Begini,'' kata Tan Tay Seng disertai jeda seakan-akan berpikir pelik. ''Ini menyangkut hal luar biasa.''
Dang Zhua semakin tergoda mengetahui jawabannya. ''Hal luar biasa bagaimana?''
''Ya, luar biasa,'' kata Tan Tay Seng. ''Sebab khusus untuk bakat Anda itu, Anda harus memupuknya dengan tai babi.''
Dang Zhua terperanjat, dan merasa diguraui, bukan sebaliknya, dan seharusnya merasa dilecehkan. ''Ah yang benar? Anda pasti bergurau.''
Tapi wajah Tan Tay Seng, yang memang berbakat seni yang meyakinkan, kelihatan serius.
Katanya, ''Sumpah. Ini bukan gurau. Memang kalau melihat babi, babi itu jorok, kelihatannya nasihat saya ini seperti gurau. Tapi, cobalah ingat-ingat, binatang apa yang menemani T'ang ke barat? Babi kan?''
Dang Zhua seperti tersihir dan menjadi dungu. ''Ya,'' katanya dengan mulut menganga.
Setelah itu dengan lugu dia bertanya pula, ''Lantas bagaimana cara memupuknya?''
Mestinya Tan Tay Seng sudah ingin ketawa, tapi dia menahan gelinya itu berlagak serius, ''Ya seperti yang dilakukan petani ketika mereka membajak tanah.''
Dang Zhua tampak berkerut. Dia bingung. Buru-buru Tan Tay Seng meninggalkannya, berlari ke kamar, dan tertawa terbahak-bahak di situ, sehingga semua orang yang sekamar pun heran.
"Ada apa yang lucu," kata Bun Hau.
"Si juru tulis pelayaran itu ternyata goblok. Gobloknya asli, luar dan dalam," kata Tan Tay Seng yang masih terpingkal-pingkal.
"Memangnya kenapa?" tanya Bun Hau lagi.
"Aku berhasil mengibuli dia, dan dia percaya saja bahwa bakat seninya harus dia pupuk pakai tahi babi."
Semuanya ikut tertawa.


***

Besoknya Tan Tay Seng masih geli melihat Dang Zhua. Mereka turun dalam sekoci yang sama ke darat. Masih tiga kali besok lagi baru kapal-kapal misi muhibah Ceng Ho ini akan meninggalkan Bali. Sesuai dengan landasan pelayaran, misi ini adalah muhibah, maka di Bali ini sang ratu benar-benar merasa memperoleh berkah dan karenanya syukurnya diucapkannya berulangulang. "Syukur Anda datang ke sini," kata sang ratu, "obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan yang diberikan oleh Pu telah membuahkan hasilnya. Suami saya sudah mulai sembuh." "Kami merasa senang juga karena kami dapat menolong yang mulia ratu," kata Ceng Ho.


***


Jadi, rombongan Ceng Ho meninggalkan Bali dilepas oleh sang ratu dengan keharuan yang tiada tepermanai.
Sebelum meninggalkan Bali, Ceng Ho khusus berpesan kepada Kang King Kong yang telah memutuskan tinggal di Bali agar menjadi pribumi di situ.
Ceng Ho berpesan atas permohonan Kang King Kong sendiri supaya laksamana yang agung ini memberikan petuah berharga yang boleh menjadi suluh atawa pelita bagi langkah-langkah Kang King Kong memasuki hari depan pada sejumlah besok yang entah kapan tamatnya.
"Berikanlah kepadaku petuah yang dapat kuukirkan dalam ingatanku," kata Kang King Kong.
"Sebagai penganut Tao, jadilah orang Tao yang terbaik di bumi ini. Tidak ada pertentangan antara Tao dan Hindu. Dengan yin-yang, seyogianya manusia hidup dengan sikap semadyanya yang sejati. 'Yin' dalam betina merepresentasi gelap, esensi reseptif, atau pasif.
Sedangkan 'yang' dalam jantan merepresentasi terang, esensi generatif, atau aktif. Dari interaksi 'yin' dan 'yang' itulah terjadi 'ada' dalam realitas kosmik di mana manusia merupakan
bagian dari realitas itu."
"Apa yang bisa aku katakan kepada jantung hatiku?" tanya Kang King Kong seraya menunjuk Ketut.
"Jangan lupa pada ajaran Tao sendiri tentang energi 'chi."
"Kalau besok aku punya anak lelaki, nama apa yang kira-kira mewakili realitas itu?"
"Jangan terpatok pada kemestian harapan bahwa anak pertama harus anak lelaki. Mulailah berpikir pada kemestian alami. Anak perempuan dan anak lelaki sama-sama karunia Ilahi."
"Tapi bagaimana kalau betul, menurut kemestian harapan, aku memperoleh anak lelaki lebih dulu?"
Ceng Ho diam sejenak, memandang Ketut, memegang tangannya, lalu berkata, "Percayalah, aku tidak mendahului karunia Tuhan, tapi menurut firasatku, calon istrimu ini akan melahirkan seorang anak perempuan yang akan menjadi jembatan emas yang menghubungkan orang Cina: kau yang Tao, dengan orang Bali: Ketut yang Hindu."

"Betulkah?"
"Ya," kata Ceng Ho, "dan aku harap kau mau menamakan putrimu itu Kang Kim Hwa. Dia bakal jadi orang besar. Dan kalian berdua akan menjadi orang tua yang berbahagia."
Mata Kang King Kong pun tampak berkaca-kaca. Air mata keharuan sedang berlangsung di situ.
Kemudian terdengar ucapan tabik dan salam antara yang akan berlayar dan yang akan tinggal.
"Tsai chien, tsai chien."*)

***


Di kapal induk pada malamnya nanti, setelah haluan mengarah ke barat, penerjemah yang biasa itu mendekati Wu Ping ketika juru masak Sam Po Kong ini sedang melamun memandang air yang kini kelihatan hitam.

"Serupa tapi tak sama," kata penerjemah itu sambil berdiri di sebelah Wu Ping.  Wu Ping tersentak, kaget, lalu memandang dengan tak mengerti akan konteks yang  diperkatakan penerjemah itu. "Apanya yang serupa tapi tak sama?" kata Wu Ping.
"Aku sedang membenarkan teoriku," kata penerjemah itu pula.
Wu Ping makin kelihatan tidak mengerti. "Teori?" katanya, lebih pada dirinya sendiri.
"Ya, teori," kata penerjemah itu, "ada teori yang lahir dari melihat praktik, ada pula teori yang mengabaikan praktik. Mulanya teoriku tanpa melihat praktik. Tapi sekarang teoriku disesuaikan dengan praktik."
"Kau bicara apa ini?"
"Begini, Anak Muda," kata penerjemah itu, "ketika Kang King Hong -sebagai juru masak kapal, seperti halnya kau- pertama kali menyatakan cintanya kepada Ketut, langsung dengan ciuman, bukan dengan kata-kata, maka pada saat itu aku sudah berkata kepadanya bahwa cinta itu perbuatan, bukan omongan."
''Lantas, apa hubungannya?''
''Ya, sudah kukatakan tadi, serupa tapi tak sama. Kang King Kong adalah juru masak, kau juga juru masak. Tapi Kang King Kong praktis, persis seperti teoriku, sementara kau njelimet.
Bayangkan saja, untuk menyatakan cinta, kau harus berpayah-payah belajar bahasa Melayu, supaya cintamu, yang mestinya dapat dilakukan dengan perbuatan, kepada Si Tiwati itu bisa
meyakinkan.''
''Tentu saja,'' kata Wu Ping, ''lain ladang lain belalang.''
''Tapi, kau kan bukan belalang. Kau Wu Ping. Dia King Kong. Dan, kalian sama-sama jatuh cinta pada penari. King Kong sudah berhasil, kau belum.''
''Sudah kubilang, setiap orang berbeda bakat dan kemampuannya.''
''Kenapa orang yang tidak mampu, tidak mau belajar dari yang mampu? Kalau kau merasa tidak mampu menyatakan cinta dengan perbuatan seperti Kang King Kong, belajarlah dari
kemampuannya.''
''Aku bukan tidak mampu.''
''Lantas apa?''
''Setiap soal yang dilakukan manusia ada waktunya. Aku memilih waktu yang tepat.''
''Terlalu banyak memilih-milih, bisa-bisa kau hanya mendapatkan kulitnya. Maaf, Wu Ping, kalau boleh aku bilang dengan jujur, kau ini ibarat pungguk merindukan bulan.''
''Tidak benar,'' kata Wu Ping keras, ''aku marah kalau kaubilang begitu.''
''Aku memang sedang merangsangkan keputusanmu supaya bertindak praktis. Nanti, begitu kapal kita ini singgah lagi di Sunda Kelapa, langsung kawin dengan si Tiwati, minta restu Sam Po Kong. Kau sudah siap kan?''
''Siapa takut?''
Si penerjemah tertawa terbahak. Dia rangkul Wu Ping. ''Nah, begitulah harusnya anak muda,''
katanya, ''Chen chin tzu pu p'a huo lien.''*)
Mereka menoleh ke belakang. Jika ini siang, mata akan melihat darat yang telah sirna di garis horizon.

***


Setelah malam berganti siang dan berulang beberapa kali, pada jadwal yang dirancang, kapalkapal rombongan telah tiba kembali di Surabaya di mulut muara yang menuju ke kerajaan Wikramawardhana yang dipelesetkan menjadi Wikrawardhana tersebut. Pengawalnya, yaitu abdi dalemnya yang ikut dalam pelayaran ini untuk meminta maaf kepada kaisar, dan kini, makin mantap memercayai apa yang diyakini Ceng Ho, memberi saran untuk mengutus wakil Ceng Ho ke dalam istana sang raja. ''Menurut pendapat saya, seharusnya raja Wikramawardhana yang Wikrawardhana itu saja yang datang menemui Anda,'' kata pengawal itu, ''dengan menaruh posisi begini maka raja akan makin menyadari kesalahannya. Dia menyadari, sebab dia tahu bahwa Anda mengetahui dustanya.'' Wang Jing Hong menyetujui itu. ''Saya kira itu benar sekali,'' kata Wang Jing Hong dengan pandangan menghargai kepada pengawal itu. Ceng Ho menyerap pikiran itu. Dengan cepat dia sampai pada pertimbangan memutuskan. Katanya, ''Baiklah. Cukup satu peleton di bawah Ci Liang ke sana menemui raja.''


***

Demikianlah, dengan satu sekoci berisi lebih dua puluh orang, disertai dengan pengawal yang dulunya abdi-dalem itu.
Sang Raja, Wikramawardhana amat terkejut melihat pengawalnya datang terlebih dulu menyembahnya.
''Radhana!'' serunya, ''kenapa kamu sudah pulang?''
''Ampun, Paduka,'' kata pengawal yang namanya disebut Radhana tersebut. ''Lebih dua puluh orang dari anggota misi muhibah kaisar Cina yang dipimpin oleh Sam Po Kong merasa perlu
mampi lagi ke sini sebelum kapal-kapalnya menuju ke barat.''
Wikramawardhana tersentak di atas singgasananya. Wajahnya kelihatan seperti kurang darah.
Dia berdiri dari singgasananya. Maju satu dua langkah. Berhenti. Berputar-putar di sekitarnya. Lalu duduk kembali.
''Ya,'' katanya, ''setiap raja memiliki kekurangan-kekurangannya. Kekuranganku, percaya pada si tolol Tunggul Petak.''
Orang-orang di sekitarnya menunduk kepala. Dengan begitu mereka menunggu kata-kata apa yang hendak diucapkan raja.
''Aku mengerti,'' kata Wikramawardhana, ''memang seharusnya aku yang menemui Sam Po Kong.''


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #160 on: 01/09/2008 16:38 »
Kapal milik kerajaan pun disiapkan. Wikramawardhana menggunakannya untuk berangkat ke muara, ke ujung Brantas (yang kini telah menjadi Surabaya). Sebelum berangkat, Wikramawardhana naik ke Candi Bajang Ratu, gapura di muka keraton -tempat yang tidak boleh sembarang orang menaikinya, sebab kepercayaan yang telah berakar turun-temurun konon dapat membawa rugi- ke bagian keluarganya, antara istri-istri dan anak-anak. Pengawal yang disebut namanya Radhana itu melihat dalam jarak tertentu. Dia tetap hormat kepada rajanya dan kepercayaan rajanya, seraya telah memutuskan untuk menganut kepercayaan yang dianut Ceng Ho. Ketika sang raja menjumpai Ceng Ho di atas kapal induk itu, bukan alang kepalang sikap hormatnya kepada Ceng Ho. Wikramawardhana menundukkan badan dengan cara soja. Katanya tanpa tedeng aling-aling, "Saya mengerti kenapa Anda datang kembali ke sini." Ceng Ho mempersilakan Wikramawardhana berdiri tegak. Katanya, "Kami senang mendengar pengertian Paduka." Dan Wikramawardhana pun memberikan segulungan daun lontar sebagai surat kepada Ceng Ho. Katanya, "Dalam surat ini saya telah menuliskan permohonan ampun saya kepada Kaisar Ming, sekaligus janji untuk mengganti rugi 60.000 tail emas atas terbunuhnya seratus tujuh puluh anggota pelayaran Tuan." Ceng Ho menerima gulungan lontar itu dan menyerahkannya kepada penerjemahnya. "Surat Paduka akan kami serahkan kepada kaisar," kata Ceng Ho. "Seandainya ada hal-hal yang kurang jelas dalam lontar itu, duta saya, Radhana, akan memerincinya secara lisan," kata Wikramawardhana sambil menunjuk dengan jempolnya ke arah pengawal yang abdi itu. "Tapi, mohon juga Tuan pahami, bahwa janji dalam surat itu merupakan keharusan selama-lamanya memberi upeti kepada Kaisar Cina. Janji akan pemberian 60.000 tail emas tersebut adalah sebagai isyarat rasa bersalah-gara-gara si tolol si goblok si dungu Tunggul Petak, yang Tuan saksikan sendiri telah mati di bawah tangan kekuasaan saya-dan sama sekali bukan sebagai janji tetap untuk memberi upeti kepada Kaisar Cina. Ini perlu sekali saya tandaskan, bahwa walaupun negara Cina adalah negara besar dan saya mengakui kebesarannya, tidaklah berarti bahwa dengan janji memberikan 60.000 tail emas maka kerajaan saya otomatis takluk kepada negara Cina."

Memang pelayaran kami ini pun merupakan misi muhibah, bukan ekspansi militer ke sini dan ke mana pun nanti," jawab Ceng Ho.
Wikramawardhana senang. Ketika turun kembali dari kapal induk dan kembali ke kapalnya untuk pulang ke kerajaannya melalui Brantas, dia menghormati Ceng Ho dan semua perwiranya di dalam kapal induk itu.


* * *


Setelah itu kapal-kapal rombongan Ceng Ho mengangkat sauh, mengembangkan layar, menuju ke barat.
Masing-masing orang punya dambaannya sendiri. Wu Ping ingin lekas-lekas tiba kembali di Sunda Kelapa, menemui Si Tiwati, perempuan yang telah membuatnya mabuk kepayang.
Hua Xiong berpikir pelik untuk bagaimana, dalam kesempatan seperti apa, yang dianggapnya paling tepat untuk menghabisi Dang Zhua.
Dengan pelayaran langsung, jadi tanpa singgah-singgah lagi, maka sehari sebelum Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal, bulan kesepuluh menurut perhitungan Tahun Hijriah, rombongan
kapal-kapal Ceng Ho ini akan tiba di Semarang, bersandar di Mangkang.


***


Sepekan sebelum itu terlihat Dang Zhua dan Si Lihai berdiri di buritan. Malam baru saja menghitamkan bumi. Dan Ceng Ho beserta Wang Jing Hong, Wu Ping, dan awak kapal yang muslim masih bertarawih. Di buritan itu mereka berbicara bisik-bisik. Sebetulnya walaupun mereka berbicara dengan suara yang wajar, suara mereka tak terdengar jelas, sebab angin dari depan membawa suara itu ke belakang.
"Jadi, kalau kamu masih sayang hidupmu turuti semua perintahku," kata Hua Xiong.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Si Lihai.
"Nyelinap masuk ke ruang kemudi. Buka pintu kurungan burung jalak putihnya Wang Jing Hong. Pagi-pagi Wang Jing Hong akan geger. Aku akan terus berada di dekatnya. Dan pada saat itu kamu masuk kamarku. Bunuh Dang Zhua. Akan meyakinkan kalau setelah Dang Zhua mati aku akan berpura-pura menangis sedih..."
Di malam yang sama, dalam diskusi singkat pada acara seusai tarawih, Radhana berkata penasaran kepada Ceng Ho. "Saya heran Anda bisa bersikap baik kepada Raja Wikramawardhana."
"Heran?" tanya Ceng Ho. "Heran kenapa?"
"Bagaimana caranya Anda bisa baik begitu?"
"Pertanyaan itu sendiri mengandung perbandingan. Yaitu, bahwa kau mengerti arti baik dan arti buruk. Nah, saya ingin bertanya kepadamu, bagaimana caranya kau mengerti arti baik?"
"Sebab ada pengertian lain tentang buruk, jelek, jahat."
"Betul sekali. Kita belajar yang baik justru dari perbandingannya atas yang buruk, jelek, jahat," kata Ceng Ho. "Kekuasaan sering tergelincir dalam tindak kejahatan. Saya mempelajari itu dari penguasan-penguasa, raja-raja, dan kaisar-kaisar Cina jahat yang ditulis oleh sejarah."
"Apa yang membuat mereka jahat?"
"Kekuasaan itu sendiri. Kemudian harta dan perempuan. Hampir semua raja dan kaisar Cina yang jahat, adalah mereka yang gila pada kekuasaan, harta, dan seks. Kaisar Jie*) menjadi
rusak akhlaknya gara-gara Mei-Xi karena kolam anggur dan pohon daging. Kaisar Zhou**) rusak juga akhlaknya gara-gara Da-Ji. Malah ada kaisar berumur 10 tahun sudah kurang ajar,
gila seks, yaitu Kaisar Hou-Tei."***)

''Jika orang dapat mempelajari tentang kejahatan melalui melihat perbandingan dengan hal-hal yang baik, mengapa penguasa tidak sanggup melakukannya pula bagi dirinya?'' tanya Radhana. Ceng Ho tersenyum, tak segera menjawab. Tampaknya pertanyaan ini telah lama direnungkannya sendiri. Maka apabila dia menjawab, jawabannya merupakan isbat bagi dirinya pula. Katanya, ''Penguasa itu adalah pelaku kekuasaan. Sering kekuasaan mengubh pelakunya menjadi buta: punya mata tetapi tidak bisa melihat. Saya menyebut ini fasik.'' ''Mengapa orang menjadi fasik?'' ''Sebab hatinya bebal,'' kata Ceng Ho. ''Punya hati tetapi tak punya perasaan. Sejarah Cina banyak sekali diisi oleh pelaku-pelaku kekuasaan yang fasik, karena bebal'' ''Sembilan ratus tahun yang lalu Kaisar Xiao Bao Juan *) dibunuh lantaran rakyat bosan melihat kefasikan dan kebebalannya. Dia naik tahta pada usia 17 tahun. Pikirannya masih labil sekali. Dia terobsesi ingin menjadi akrobat. Saban hari dia bikin kursi untuk akrobatnya yang dipamerkannya kepada selir-selirnya supaya dipuji'' ''Pada suatu hari, ketika dia sedang asyik bersetubuh dengan selirnya, dilaporkan bahwa keadaan kerajaan dalam bahaya, istana dibakar. Jawabnya seenaknya, 'Kalau cuma terbakar biar saja. Segera bangun istana yang baru, yang tahan api'.'' ''Lain lagi dengan si fasik dan bebal Mu Rong Xi **). Kaisar ini tergolong yang kefasikan dan kebebalannya menggemaskan. Nafsu seksnya pada Fu, yang kemudian diangkatnya menjadi ratu, telah memboroskan belanja negara dengan kerugian yang luar biasa. Sebab, Fu yang mengocok-ocok supaya melaksanakan perang terhadap Korea'' ''Ketika Fu mati, disuruhnya orang membuat peti mati yang amat besar sebagai tanda cintanya. Akibatnya, ketika peti itu digotong untuk dibawa keluar istana ke tanah pekuburan, ukurannya yang besar itu tidak bisa lewat di gerbang istana. Maka, diperintahkannya orang meruntuhkan gerbang itu. Padahal meruntuhkan gerbang istana kerajaan adalah suatu hal yang tabu.'' ''Betul,'' kata Radhana. ''Meruntuhkan gerbang atau gapura berarti meruntuhkan kerajaan.'' ''Tetapi mau apa lagi, dasar fasik dan bebal,'' kata Ceng Ho mengangkat bahu. ''Seperti semua kaisar yang fasik dan bebal lainnya, Mu Rong Xi pun dibunuh ramai-ramai oleh orang-rang yang benci kepadanya'' ''Contoh lain, kaisar yang fasik dan bebal, yang dibunuh dengan cara tidak terhormat adalah Kaisar Gao Wei ***). Batas kebebalannya telah sampai pada tingkat yang paling absurd. Kaisar ini terobsesi pula untuk menjadi tukang ngamen di hadapan selirnya. Ketika istana diserbu pasukan Yang Jin dari Zhou utara, dia malah asyik cekakak-cekikik bersama selirselirnya di lembah tempat berburu. Saking gemas dan benci pada kebebalannya itu pasukan Zhou membunuhnya dengan cara mengikatnya dan menyumpal bubuk cabai ke hidung dan mulutnya...''


***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #161 on: 01/09/2008 16:50 »
Bersamaan dengan itu, ketika arah cerita Ceng Ho kepada Radhana adalah tentang membunuh orang yang dibenci karena kefasikan dan kebebalannya itu, maka di tempat yang lain Hua Xiong juga berbicara tentang bagaimana membunuh Dang Zhua. ''Tidak ada hal yang lebih sederhana dari memadamkan gagasan seorang musuh selain mencabut nyawanya,'' kata Hua Xiong pada Si Lihai yang dipercayakan dapat melakukan apa yang diharapkannya. Lantas, kira-kira bagaimana cara Si Lihai membunuh Dang Zhua? Yang paling pokok agaknya jawaban akan pertanyaan: apakah Si Lihai akan melakukan perintah Hua Xiong sesuai dengan garis rencana? Jika dia melakukannya di luar rencana yang telah dibuat, berarti dia melakukannya secara, katakanlah, improvisasi. Sudah tentu ada hal mirip kejutan yang dapat dicapai dalam improvisasi. Dan, katakanlah, bahwa pikiran itu sendiri ada di dalam diri Si Lihai.
Kata Si Lihai, ''Percayakan seluruhnya kepada saya. Saya akan melakukan kejutan yang hebat. Pokoknya kawan Anda yang sekarang telah menjadi lawan Anda akan keok, kelepekkelepek, modar...'' Hua Xiong tertawa senang. Inilah tawanya yang paling riang mendengar pernyataan Si Lihai. Dan, akhirnya mesti diperinci dengan tepat bagaimana keadaan wajahnya ketika dia tertawa senang mewakili gagasan-gagasan lancungnya. Mulut Hua Xiong sesungguhnya termasuk dalam bentuk yang disebut secara ming xiang atau membaca wajah sebagai zhu kou , artinya mulut babi, yaitu mulut yang terlalu lebar dengan posisi yang centang-perenang. Ketika dia tertawa senang seperti ini, mulutnya yang lebar itu tampak meluas sampai ke kuping dengan gigi-gigi yang merongos berwarna kekuningan. Dia rangkul punggung Si Lihai dan menepuk-nepuk. ''Ya, ya, saya percaya pada kelihaianmu,'' katanya.


***

Dan waktu yang diharapkan dan ditunggu-tunggu itu sedang mendekati ambangnya. Benar, dua hari sebelum Lebaran kapal-kapal rombongan Ceng Ho memasuki perairan Semarang.
Dengan kapal kecil mereka ke Mangkang dan dari Mangkang dengan sekoci mereka ke Simongan.
Simongan adalah tanah tepi yang indah. Muara sungai berada di bawah bukit - sekarang kira- kira di irigasi Banjirkanal - dan pada latar belakang sana, arah selatan, tampak menjulang
Gunung Ungaran yang membiru tidak tertutup awan.
Di depan sebuah gua mereka mendarat, menyandarkan sekoci-sekoci di pinggir sungai yang berlumpur. Pohon-pohon besar di sekitar gua itu ramai sekali dikicaui pelbagai burung. Ada kepodang, ada perenjak, ada ketilang, ada betet, ada manyar, kemudian ada pula kawanan gelatik yang berputar-putar di atasnya, serta kawanan pipit yang berangkat ke barat, lalu ada juta tekukur, perkutut, balam, punai, dan ditambah lagi dengan ayam alas dan gemak di
semak-semak. Sungguh tanah tepi Simongan ini sebuah taman alami yang asri menawan.
(Sampai 1950 keadaan demikian masih bersisa).


Di pinggir sungai, depan gua itu, Ceng Ho menjongkok, mengambil tanah segenggam, lantas berkata, ''Aku ingin jadikan tanah tepi yang indah ini, yang dihias oleh unggas berbagai macam karya ilahi, sebagai tempat peringatan akan kerinduan pada janabijana. Aku berjanji akan terus datang ke sini selama hayat masih dikandung badan.''
Wang Jing Hong juga melakukan hal yang sama. Dia berlutut dan memegang tanah. Katanya, ''Tanah anganan barangkali menjadi tanah kenyataan.''
Tiada seorang pun yang paham arti kata-kata Wang Jing Hong itu sampai tiba saatnya hari paling memilukan baginya.
Lantas Ceng Ho melangkah ke arah gua. Dia naik ke bagian yang agak tinggi. Di atas sana tampak laut di utara dan Gunung Muria samar-samar di timur laut.
''Cari sampai ketemu pemilik tanah ini,'' ujar Ceng Ho. ''Kita harus minta izin kepadanya.''
''Kelihatannya tanah ini tidak bertuan,'' kata Ci Liang.
''Kenapa Anda bersimpulan begitu?'' tanya Ceng Ho.
''Daerah ini masih perawan.''
''Itu tidak berarti yang perawan tiada berpemilik,'' kata Ceng Ho. ''Pasti ada pemiliknya.
Karena itu, saya minta cari sampai ketemu orang yang berkuasa atas wilayah ini. Kita ke sini bukan hendak mencuri. Kita orang asing di sini. Kita harus berkesopanan untuk meminta izin.
Nah, carilah penguasa daerah ini.''


***


Dalam pikiran Ci Liang, apabila dia menyusuri sungai ke selatan, pasti di suatu tempat pada arah itu dia akan bertemu dengan orang-orang. Maka dengan beberapa prajurit dia berangkat ke hulu, di selatan, sampai di Panjangan. Benar dugaannya, di situ dia disambut oleh seorang lurah yang cerdas, ramah, dan terbuka. Lurah itu memperkenalkan diri sebagai Jawahir - nama khas pesisir, dan dengan demikian bertingkah laku khas pesisir pula, yaitu bercakap blak-blakan, cepat akrab, dan untuk hal-hal tertentu ada kesan jenaka. Melalui penerjemah Ci Liang menerangkan tentang siapa mereka, dan apa tujuannya ke sini, serta meminta izin berkemah di sekitar gua di Simongan. ''Ya, itu tanah saya,'' kata Jawahir. ''Silakan dimanfaatkan seluasanya. Saya senang.''


***


Jawahir datang ke daerah sekitar gua itu menjumpai Ceng Ho, dan memberi hormat. Dia datang dalam satu perahu bersama dengan sembilan orang istrinya. Jika saja dia membawa anak-anaknya di dalam perahu itu, niscaya perahu itu akan tenggelam sebelum tiba di dekat gua, sebab masing-masing istrinya beranak enam, dan - apakah ini azab ataukah berkah -anak-anaknya itu seluruhnya perempuan. ''Terima kasih pada Tuan yang telah memberi izin kami berada di sini,'' kata Ceng Ho. ''Lusa kami akan merayakan hari kemenangan, Idul Fitri, maka kami bermaksud merayakannya di sini.'' ''Saya merasa terhormat,'' kata Jawahir. ''Tapi bagaimana kiranya sampai Tuan memilih tempat ini?'' ''Dalam pengetahuan kami yang telah terwaris berabad-abad ada ilmu yang disebut 'hong-sui' menyangkut pilihan dan penentuan suatu lokasi untuk keperluan-keperluan khas,'' kata Ceng Ho. ''Jika itu suatu pengetahuan, suatu ilmu, ajarkan pula kepada kami,'' kata Jawahir. ''Tentu,'' kata Ceng Ho. ''Itu pula tujuan misi Kerajaan Ming terhadap negeri-negeri di luar Cina. Dan, pengetahuan atau ilmu paling dasar untuk kesejahteraan manusia adalah kesehatan. Terus terang, kami telah berlanglang di antero Nusantara ini dan belum menemukan tanah tepi seperti ini, tanah yang cocok untuk mengembangkan budi daya tanaman-tanaman jamu. Insya Allah, kelak pada kemudian hari, tanah ini, Semarang, menjadi negeri penghasil tanaman jamu yang dikenal di antero Nusantara. Ahli jamu kami akan mengembangkan pengetahuan kesehatan dari warisan Kaisar Kuning, Huang Di Nei Jin*). Kami, orang Cina menghubungkan ini dengan asas-asas dasar Tao Revitalisasi, yakni sistem gerakan untuk mencapai kesehatan itu melalui aspek mental dan fisik.'' Jawahir tersenyum-senyum. ''Walau saya tidak terlalu paham akan apa yang Tuan terangkan, setidaknya saya yakin, ilmu yang Tuan perkatakan itu adalah benar-benar luar biasa, hebat, bermanfaat,'' katanya, ''sekali lagi, saya merasa terhormat karena Tuan telah memilih tempat ini. Silakan manfaatkan.'' Dan, Jawahir menjabat tangan Ceng Ho sebelum berangkat kembali ke selatan. ''Mudah-mudahan Tuan berkenan hadir dalam sembahyang Idul Fitri lusa,'' kata Ceng Ho, ''besok, pada malam takbir kami pun akan memukul beduk-beduk di sini.'' ''Ya, ya, saya pasti hadir.''

***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #162 on: 02/09/2008 11:32 »
Seperti Jawahir dari tanah itu, Ceng Ho pun menugasi perwira dan prajuritnya untuk mencari batu -batu kali ataupun batu gunung- untuk dibuat tugu. Mereka mendapatkan batu gunung yang ada di atas perbukitan Simongan itu, seratus meter dari mulut gua di bawahnya yang menghadap ke timur. Melalui beberapa orang yang bertubuh kekar-kekar, batu gunung itu dicungkil dengan dua buah alabangka. Setelah tercungkil, batu itu menggelinding ke bawah. Kemudian, di bawah, di bagian yang datar, orang-orang membentuknya menjadi persegi empat panjang. Pekerjaan ini tidak mudah. Setidaknya mereka membutuhkan waktu hampir satu hari. Apabila bentuk batu itu telah mencapai bentuk yang diinginkan, ada lagi orangorang yang bertugas memahatnya, menulis sesuatu di batu itu. Ceng Ho meminta mereka menulis larik-larik puisi karya Meng Hao Ran. Ini sekaligus bukti tersendiri bahwa sebagai seorang laksamana, pemimpin perang, Ceng Ho adalah juga seorang budayawan yang mengenal betul akarnya. Adapun kata-kata elok, kata-kata bernas dari larik-larik puisi yang dipahat di batu itu adalah: artinya: yang bisa kulakukan saat ini menabur ke sungai sepasang air mata rindu hubaya-hubaya air sungai ini boleh membawanya ke tempat nun jauh di sebelah barat samudera Tugu ini dipasang di pinggir sungai, seratus depa di depan mulut gua. Setelah memasang di situ -dan orang-orang semua meriung menyaksikannya- Ceng Ho pun berkata, ''Siapa saja di antara kalian semua yang sipil, yang memutuskan untuk memilih tanah tepi ini sebagai tanah air yang baru, silakan tinggal.'' Banyak orang yang segera mengangkat tangan, menyatakan dirinya memilih tanah tepi ini yang kemudian menjadi Semarang- sebagai tempat tinggal yang baru. Sudah tentu, di antara orang-orang yang riang gembira memutuskan untuk tinggal di Semarang adalah Tan Tay Seng. Dia peluk Ling Ling dan berkata, ''Kau harus jadi istriku. Aku tidak punya pilihan lain.''


***


Lusa Lebaran. Sebelum itu, berarti masih ada satu hari orang-orang bertemu orang-orang. Artinya, masih ada satu hari lagi bagi Ceng Ho menyuruh orang-orangnya mengabarkan kepada penduduk di sini -terutama orang-orang Cina yang telah lama tinggal di sini- untuk bertemu bersilaturahmi. Dan orang-orangnya pun berangkat ke pelbagai jurusan, terutama ke bagian pemukiman di pinggir laut, arah utara-timur-laut dari Simongan, mengabarkan tentang telah mendaratnya Ceng Ho di Simongan. Kelihatan betapa sibuknya mereka.


***


Juga kesibukan terlihat di kapal induk. Orang-orang yang ditugaskan membawa alat-alat musik dari Cina, berbagai macam bentuk dan bunyi, mulai dari yang ditabuh, ditakol, ditiup, maupun digesek, semuanya dibawa turun ke Simongan. Beduk-beduk yang besar, yaitu beduk-beduk model khas Cina yang telah digunakan di Cina sejak zaman Kaisar Yao *) dibawa turun dari kapal induk, ditata bersama alat-alat yang lain: la-po yang mirip nafiri, yueh-chin yang mirip gitar, cheng yang mirip cerek, che yang merupakan lira Cina, kin yang dibunyikan melalui dawai, dan banyak lagi, semuanya instrumen-instrumen yang menunjukkan keragaman sekaligus kedibyaan musik Cina. Alatalat itu akan dimainkan nanti pada semalam suntuk menunggu hari raya.


***


Tapi, yang membuat orang di utara-timur-laut berdatangan ke Simongan pada malam harinya, malam takbir, adalah juga karena keramaian membakar mercon. Kembang api yang membentuk bunga-bunga di langit hitam mengherankan penduduk negeri. Keruan mereka semua berdatangan ke Simongan. Simongan yang selama itu sunyi, sekonyong menjadi hirukpikuk. Belum lagi pujian yang tiada berkeputasan dari anggota-anggota misi muhibah Ceng Ho yang beragama Islam kepada Allah nan akbar. Pendek kata suasananya azmat nian. Sebelum itu, usai tarawih, sembahyang sunah terakhir dari bulan Ramadan ini, Ceng Ho masih sempat memberi petuah-petuah kepada anggota misi muhibah, sebagaimana lazimnya dia lakukan selama ini: memberi wejangan dan membuka tanya-jawab. Wejangannya sebelum khotbahnya pada esok pagi, demikian berkesan bagi Radhana yang kian mantap memilih agama yang dianut Ceng Ho. Kata Ceng Ho di depan jemaah yang duduk sila bersusun-susun di depan gua itu, ''Sebagai bangsa beradab, haruslah kita, orang Cina, di mana pun di kolong langit ini, menjadi teladan sejati akan semangat kerukunan. Kita telah teruji oleh waktu, bahwa selama berabad-abad bangsa Cina berhasil menunjukkan kemampuan hidup rukun, menghayati perbedaan justru sebagai karunia ilahi yang luar biasa. Selama berabad-abad, kita yang berbeda keyakinan ini, malah dapat membangun negara menjadi negeri yang paling maju: politik, ekonomi, kebudayaan; ''Lihat saja buktinya, bagaimana agama-agama dalam masyarakat kita dapat berjalan saling bergandengan mesra, tanpa prasangka. Saya muslim, dan saudara-saudara semua ada yang Kong Hu Cu, Buddha, dan Tao, bahkan ada seorang di antara kita yang penghayat ajaran A-Lu-Fen, ajarannya Almaseh Isa ibni Maryam. Semua, kita, bisa hidup rukun begini sebab filsafat primordial kita sendiri, yin-yang, merupakan kekuatan nan tiada terperi dalam menyeimbangkan perbedaan-perbedaan; ''Itulah sebabnya, pesan saya kepada saudara-saudara yang telah memutuskan untuk bermukim di sini, tetap jagalah keseimbangan yang merupakan kekayaan pengetahuan dari nenek moyang kita. Kalau kelak saudara-saudara beristri orang sini, jadikanlah istri saudara semua itu menjadi seperti bangsa kita.''


***


Apa yang dikatakan Ceng Ho itu diterima tak bulat oleh seseorang yang berada di pinggir sungai, di depan tugu yang baru dipancang itu. Tentu saja orang yang dimaksud ini berpendirian lain, sebab dia adalah Tan Tay Seng.
Dia meyakinkan dengan wajah yang sangat serius kepada Ling Ling. Katanya, ''Anjuran Sam Po Kong itu khusus untuk mereka yang tidak punya kekasih dari bangsa Han. Bagi kita, anjuran itu tidak berlaku.''
''Kita?'' kata Ling Ling seperti menolak.
''Ya, sayang, kau dan aku,'' kata Tan Tay Seng.
''Ih, geer banget kamu. Siapa bilang aku mau sama kamu?''
Aku. Aku yang bilang.''

''Boleh saja kamu bilang begitu. Tapi kalau aku tidak mau, mau apa kamu?''
''Ya, aku akan bikin sampai kau mau.''
''Enak saja.''
''Ya, enak.''
''Tidak bisa.''
''Ya, dibikin bisa.''
''Itu namanya pemaksaan. Pemaksaan berarti pemerkosaan.''
''Abis, daripada cari-cari lagi, lebih baik yang sudah ada saja yang dimanfaatkan.''
Dan Ling Ling gemas. Dia cubit Tan Tay Seng. ''Huh, kamu kira aku ini kendaraan: main dimanfaatkan?''
Tan Tay Seng menjerit. ''Ampun!'' Dan dia berlutut di hadapan Ling Ling. ''Maafkan aku, ratuku, kekasihku.''
Ling Ling mencibir. ''Sebel.'' Dia berpaling. Tan Tay Seng cengengesan. Tapi memang begitu tabiatnya. Ling Ling pergi. Tan Tay Seng mengejarnya.

***
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #163 on: 02/09/2008 11:51 »
Wu Ping sempat melihat Tan Tay seng mengejar Ling Ling lantas berlutut seperti memohon-mohon. Tampaknya Wu Ping merasa aneh melihat itu. Oleh karena itu, sang penerjemah yang biasa menggodanya, yang bersila di sebelahnya, lantas menggodanya pula.
Kata sang penerjemah, ''Penyair konyol itu mengerti betul menghadapi situasi dan kondisi.''

''Kenapa Anda bilang begitu?'' tanya Wu Ping terpancing oleh godaan sang penerjemah.
''Ya, sebab dia tidak bertele-tele.''
''Memangnya siapa yang bertele-tele?''
''Kau,'' kata sang penerjemah. ''Lihat, dia sudah mendapat kekasih. Mestinya dari awal, ketika masih di Campa, kau sudah menempel padanya.''
''Ya, tapi Ling Ling bukan seleraku.''
''Ah, kau bicara seperti di darat saja. Di laut, ketika hanya ada satu saja perempuan, maka perempuan itu adalah segala-galanya: tercantik, termolek, tersempurna.''
''Tidak bisa. Bagaimanapun hati tidak bisa dikalahkan oleh mata. Mataku mengatakan Ling Ling tidak betina. Sifatnya sangat kelaki-lakian. Aku tidak suka perempuan yang kelaki-lakian. Rasanya ada yang salah urus dari perempuan yang kelaki-lakian.''
''Itu pikiran kuno. Pikiran yang baru adalah pikiran yang sederhana. Yaitu, syarat seorang perempuan, adalah lubang. Selama perempuan memiliki lubang, selama itu pula mereka berguna bagi kita, lelaki, percayalah.''
''Sinting,'' kata Wu Ping. Mukanya kencang.
''Tapi ini benar,'' kata sang penerjemah.
''Sinting,'' kata Wu Ping lagi. Mukanya kendur.


***


Pada pagi harinya, masih di tanah datar di sekitar Gua Simongan itu, Ceng Ho menjadi imam. Dia masih mengingatkan apa yang telah dikatakannya tadi malam. Bukan hanya anggota misi pelayaran muhibah dari beberapa kapal yang meruah di Simongan, tapi yang penting orang-orang di sekitar negeri -tempat-tempat yang terbilang banyak penduduknya, seperti Bergota, Randusari, Kaligawe, Telagabayam, Peterongan, Wanadri, Banyukuning, Babadang, Gebanganom - berbondong datang ke sana merayakan Idul Fitri. ''Mengapa Idul Fitri penting bagi orang yang berpuasa?'' kata Ceng Ho dalam khotbahnya. ''Sebab, hari ini adalah hari kemenangan dari pelbagai peperangan. Peperangan melawan nafsu, marah, dengki, lapar, pendek kata hal-hal yang sangat insani. Dengan Idul Fitri, orang yang telah menjalankan Ramadan menjadi suci kembali. Idul Fitri bukan hanya sekadar Lebaran. Mengapa? Sebab dalam Lebaran, siapa saja yang tidak melampaui puasa Ramadan bisa merayakannya sebagai hari besar. Hanya orang yang lulus dalam Ramadanlah yang benar-benar merasakan sukacita Idul Fitri, sukacita 1 Syawal, sukacita kembalinya manusia menjadi suci lagi. Melalui mimbar ini, sekalian saya memberi selamat kepada suadarasaudara, sekaligus mohon maaf lahir dan batin.''
Dan semua, seusai salat lantas bersalam-salaman, mengucapkan kata-kata indah dari pribadi orang yang bersih nurani. Tampak wajah semua orang berseri-seri, ceria, damai, berpengharapan.


***


Jika ada wajah seseorang - satu-satunya orang di antara orang-orang itu - agaknya itu adalah wajah Hua Xiong. Memang dia berada di luar umat yang bersila. Namun setidaknya arah kepalanya tertuju ke mimbar tempat Ceng Ho berdiri. Ketika Ceng Ho berkhotbah, mungkin juga dia melihat, tapi percayalah dia tidak mencamkan dengan perhatian yang kafah. Sebab, kendati matanya melihat Ceng Ho, pikirannya berada di tempat lain. Pikirannya terpecah oleh sikap icak-icak setiap kali matanya berpindah ke kiri dan kanan. Apakala matanya menangkap sosok seseorang di deretan belakang Wang Jing Hong, detak jantungnya mengencang. Dia semakin tidak sanggup membendung dengkinya terhadap sosok itu. Padahal sosok itu Dang Zhua yang dalam kenyataannya masih menjadi teman sekamar. Hua Xiong pun berdiri. Dia mencari si Lihai yang berada di belakang, di tempat bambubambu besar yang rimbun, selatan gua. Ditariknya lengan si Lihai, dan dibawanya ke tempat yang sepi di pinggir sungai yang dipenuhi oleh rasau berdaun besar. ''Bagaimana persiapanmu?'' tanya Hua Xiong kepada si Lihai. Si Lihai tertawa remeh. Tanpa berkata apa-apa. Karena itu Hua Xiong agak jengkel. Katanya, ''Aku tidak minta kau ketawa. Aku tanya persiapanmu, dan mau tahu jawabanmu.'' ''Sudahlah, tenang,'' kata si Lihai. ''Jangan terlalu dipikirkan. Ini aku. Sudah kubilang, percayakan hal-hal yang pelik kepada yang lihai.'' ''Aku hanya mau mengingatkan. Setelah semalam melek, banyak orang yang akan letih dan tumbang pagi ini,'' kata Hua Xiong. ''Ya, aku tahu itu,'' kata si Lihai. ''Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bahwa orang yang bergadang tadi malam akan letih pada pagi ini. Ada yang tidur di tenda-tenda di sini, ada juga yang kembali ke kapal, tidur di sana.'' ''Lantas?'' tanya Hua Xiong dalam kesan menguji ingatan si Lihai. Si Lihai bersikap yakin. ''Pokoknya aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan. Aku tidak lupa. Ingatanku sempurna.'' Hua Xiong tersenyum. Namun dia berkata. ''Aku belum mau memujimu sebelum kau dapat melakukan apa yang harus kau lakukan.''
 

***


Yang akan dilakukan si Lihai bertahap. Sebelum itu, saat menunggu waktu, mereka, Hua Xiong, dan si Lihai kembali lagi ke tanah
datar depan gua tempat Ceng Ho kini menerima jabat tangan.
Sesuatu yang alih-alih terjadi. Orang-orang yang berdatangan dari beberapa wilayah, berlomba-lomba ingin memegang tangan Ceng Ho. Semua ingin mencium tangannya. Yang tidak kebagian memegang tangan Ceng Ho, berhubung penuhnya manusia mengitari dirinya,
lantas memegang kakinya. Terpaksa perwira-perwira Ceng Ho turun tangan menjaga supaya orang-orang - antara lain perantau Cina yang telah mukim lama di Semarang - memberi salam dengan antre.
''Harap antre, satu per satu,'' ujar salah seorang dari perwira-perwira Ceng Ho yang memagarinya.
Ceng Ho tidak membatasi diri. Dia tersenyum, membuka diri dengan senang.
"Tinggallah untuk selamanya di sini," kata seseorang yang segera dibukakan jalan untuk menyalami Ceng Ho.
Orang itu kiranya memiliki wewenang untuk berkata demikian, sebab dia tak lain Jawahir, lurah berbini sembilan tersebut.
Ceng Ho mengangguk memegang tangan Jawahir.
Kata Jawahir lagi, "Saya akan merasa bangga jika pengikut-pengikut Tuan yang semua lelaki mau mempersunting anak-anak saya yang semua perempuan."
"Pasti, pasti," kata Ceng Ho. "Memang banyak dari anggota sipil yang memutuskan untuk membumi di sini."
"Seharusnya Tuan juga," kata Jawahir.
"Tentu," kata Ceng Ho. "Percayalah, walaupun tubuh saya jauh dari tempat ini, tanah tepi Simongan, roh dan jiwa saya akan terus dan tetap di sini."
Ketika Ceng Ho berkata begitu, orang-orang yang mendengar pernyataan ini belum lagi mengerti. Kelak pada tahun mendatang, abad mendatang, lewat waktu demi waktu, orang akan menyadari kebenarannya.


***

Sementara hari pun makin lama makin siang. Dan, pada hari siang itu orang-orang yang tadi malam begadang menyongsong Idul Fitri dengan takbir tentang Allah Mahaakbar berangsur-angsur dikunjungi kantuk. Mereka pun mulai memasuki tenda-tenda dan tidur di dalamnya.
Ceng Ho masuk ke gua, tidur di dalamnya. Nanti pada siang hari dia bangun untuk mendekatkan lagi hatinya ke Tuhan. Lalu dia beristirahat lagi. Kemudian bangun kembali menjelang magrib melakukan kewajiban yang sama.
Dan syahdan, justru apada saat itu pula si Lihai berpikir tentang melakukan apa yang harus dia lakukan tersebut.
Kebetulan Dang Zhua hendak kembali ke kapal. Itu berarti, dia akan menggunakan sekoci, perahu kecil dengan perut yang datar sebagaimana layaknya model gondola, menuju ke laut, ke tempat kapal induk, dan kapal-kapal yang lain disauhkan.
Melihat Dang Zhua hendak kembali ke laut, lekas-lekas pula si Lihai naik ke sekoci yang sama, berangkat ke laut. Penampilannya dibuat sewajar mungkin - seperti yang dikenal Dang Zhua selama itu - yaitu pribadi yang mudah akrab. Obrolan kosong dibangkitkannya di dalam sekoci itu untuk menjalin suasana wajar. Padahal dalam omongan yang dibuatnya berkesan basa-basi pun sebetulnya mengandung arah menyelidik di baliknya.
"Kelihatannya pribumi di sini mengagumi alat-alat tabuh yang dimainkan," kata si Lihai kepada Dang Zhua.
"Ya, kau menabuh dengan semangat," kata Dang Zhua.
"Makanya sekarang aku letih sekali dan mengantuk," kata si Lihai.
"Aku yang menyaksikan saja mengantuk, apalagi kau yang menabuh," kata Dang Zhua.
"Pokoknya, begitu tiba di kapal, aku akan langsung mengorok."
Si Lihai tertawa untuk memberi jalinan keterbukaan yang alami pada Dang Zhua. Katanya, "Aku juga."


***

Dan, apakah Dang Zhua langsung tidur di kamarnya?
Ya.
Namun si Lihai tidak.
Dia pergi ke perut kapal. Dia masuk ke ruang istirahat para pendayung. Banyak dari para pendayung itu orang-orang hukuman. Karena itu tidak mengherankan, bila di antara mereka gampang sekali dihasut.

Siapa yang akan ditemui si Lihai?

Orangnya kurus tapi bertenaga. Tampangnya jelek. Antara hidung dan mulut kelihatan berdempetan. Barangkali sebab bibir atasnya tebal dan menaik mendekati hidung, sehingga gampang menggoda orang untuk mengingat-ingat nama hewan tertentu yang jorok dan busuk.
"Mana barangnya?" kata si Lihai dengan suara ditekan pelan begitu dia menemui orang itu.
"Mana dulu uangnya?" jawab orang itu.
Dan, si Lihai mengeluarkan apa yang diminta orang itu, memberikan kepadanya. "Ini," katanya.
Lalu orang itu pun mengambil sebungkus serbuk dan memberikan pula kepada si Lihai. "Ini," katanya pula.
Si Lihai memeriksa bungkusan itu -bungkusan kecil - lalu menatap muka orang itu. "Yakin serbuk ini langsung dapat membuat orang tidak sadarkan diri?" tanya Si Lihai.
"Kau boleh menyebut dirimu Lihai, tapi percayalah untuk membuat tepung pukau, ahlinya hanya Khou Ping, aku. Apa kau lupa, aku menjadi terhukum begini lantaran keahlianku itu."
Si Lihai merasa teryakinkan. Dia menimang-nimang beberapa saat sebelum keluar dari ruang itu.

***


Si Lihai pun menuju ke kamar tidur Dang Zhua. Pintu kamar agak terbuka. Dia lihat ke dalam. Plong hatinya melihat Dang Zhua tidur dengan menutup seluruh badan, dari kaki sampai kepala. Maka dia taburkan tepung pukau itu ke atas ranjang Dang Zhua. Si Lihai ternyata kalah lihai dari Dang Zhua. Ketika si Lihai mengira dia telah melakukan sesuatu yang hebat, tidak diketahui bahwa di belakang pintu itu bersembunyi Dang Zhua, melengketkan tubuhnya di dinding. Setelah menaburkan tepung pukau itu, dan tanpa menoleh ke belakang barang sekalipun, si Lihai pun menghunus pedang pendek yang tersembunyi balik jubahnya, lantas dengan sekuat tenaga menikamkan ke tubuh yang dikiranya Dang Zhua. Namun setelah tikaman kedua, si Lihai merasakan sesuatu yang aneh. Dia merasa pedangnya tidak tertikam pada sebuah tubuh manusia. Karena itu, diwasangkai oleh rasa yang tidak pas, dia tarik kain yang menutup sosok di atas ranjang itu. Dia terperanjat, sebab benda yang berada di bawah kain itu ternyata hanya bantal-bantal yang diatur dan ditata sedemikian rupa seperti tubuh manusia. "Bajingan!" serunya dalam kaget dan menyesal. Dan, ketika dia berseru begitu, dia terlambat berpikir, di belakangnya, di pintu yang terbuka itu, Dang Zhua siap menerjangnya. Dengan sekali loncat, menggunakan kakinya yang kuat, Dang Zhua menyepak si Lihai yang kemudian jatuh mencium ranjang. Karena keadaannya yang tidak siap, maka kalaupun dia hendak bangkit dan membalas, dia terlambat beberapa detik. Dan itu cukup berguna bagi Dang Zhua untuk melancarkan pukulan baru. Pukulan-pukulan Dang Zhua seperti permainan sendiri. Maksudnya, dia memukul dengan leluasa tanpa tangkisan dan kemudian balasan yang berimbang dan sepatutnya dari si Lihai. Setelah berjalan beberapa menit dengan permainan seperti itu, akhirnya apalagi yang hendak dikata bila bukan mengakui bahwa si Lihai ternyata tidak sesuai dengan julukan yang diharapkannya. Dia hanya tong kosong berbunyi nyaring. Dengan mudah Dang Zhua membekuknya. Dia mengaduh-aduh, tapi semua sia-sia. Tadinya Dang Zhua berpikir hendak menendangnya saja keluar, misalnya menceburkannya ke dalam laut. Namun setelah duduk sejenak mengambil napas, tiba-tiba datang gagasan yang
menurutnya cendayam bagi manusia seperti si Lihai.
Berkata Dang Zhua dalam hati, 'Tidak baik memberi kesempatan menjadi manusia bagi
seorang perewa. Lebih baik bajingan tengik itu dihentikan sebagai manusia."
Apa maksud Dang Zhua? Apakah itu berarti dia memutuskan untuk membunuh si Lihai?
Ya!
Ketika tidak ada cadangan maaf dalam hati orang yang kecewa, tindakan yang muncul diujung pertimbangannya adalah membiarkan kehendak-kehendak manusiawinya dikalahkan naluri-naluri hewani.
Yang dia lakukan sekarang adalah menekan bagian tubuh tertentu yang dikuasai betul titik-titiknya, dan dengan seketika selesailah si Lihai. Tidak terbayangkan dalam diri si Lihai, akan  menjadi bekas manusia dalam cara seperti terhadap tikus di dalam kamar ini.
Dang Zhua memperhatikan wajah si Lihai yang berangsur memutih. Lalu dia termenung.
Katanya dalam hati. "Sahabatku Hua Xiong harus terkejut melihatmu, kawan."
Dia tidurkan si Lihai di ranjangnya, mengatur letaknya seperti benar-benar tidur, paling tidak menyerupai kebiasaannya, menutup dengan selimut di sekujur tubuh dari kepala sampai kaki.
Katanya seorang diri, "Jarak kesombonganmu akan berkurang separo jalan, sahabatku Hua Xiong."
Setelah itu dia menunggu kedatangan Hua Xiong. Manakala kelak didengarnya langkah-langkah Hua Xiong berjalan ke arah situ sambil menyanyi-nyanyi dengan nada tidak laras, cepat-cepatlah dia bersembunyi di kolong tempat tidur.


***

Hua Xiong kelihatan amat yakin akan keberhasilan yang didambanya. Dia datang ke sini pada keesokan paginya. Saking yakin akan rencananya, dia berjalan ke kamarnya ini dengan gerakan-gerakan lincah. Kakinya seperti dua batang karet yang melantak-lantak di lantai kapal. Mulutnya yang lebar, yang model zhu kou itu, tumben-tumbennya menyanyikan katakata yang selintas terdengar sebagai hafalan. "Sembunyikan kekuatan kita seraya mengulur waktu  Supaya musuh tidak bisa mengukur kekuatan kita Maka dengan gampang kita mengelabui mereka." *) Lalu dia berdiri di depan pintu kamar. Dia tidak segera mendorong daun pintu dan ke dalam. Dia masih melihat ke belakang dan merapikan peranggul pakaiannya. Dengan begini dia manfaatkan jeda untuk memantapkan rencana yang telah tersusun dalam ingatannya: bagaimana membangkitkan pembenaran terhadap kebohongan yang kreatif. Gambaran yang muncul dalam pikirannya sekarang: Dia akan masuk ke dalam kamar. Dia akan melihat tubuh Dang Zhua tergeletak di atas tempat tidur. Dia akan pura-pura terkejut. Dia akan pura-pura menjerit karena terpukul. Dia akan pura-pura meratap-ratap dan mengerang-erang. Dengan begitu orang-orang yang berada di kamar sebelah-menyebelah akan datang ke situ. Ya, dia mulai. Satu, dua, tiga. Dia dorong pintu. Dia masuk ke dalam kamar. Dia tarik selimut yang menutup sosok di atas tempat tidur itu. Pelan-pelan... Tapi, dia meloncat, kaget sekali. Kepala yang baru tersingkap dari selimut itu adalah kepala Si Lihai. Mata Si Lihai mendelik dan lidahnya menjulur ke luar. Hua Xiong pun menjerit. Dan menjerit benaran. Bersamaan dengan itu pintu kamar tertutup dengan cara dibanting. Dang Zhua telah keluar dari kolong tempat tidur dan kini berdiri di pintu yang baru ditutupnya. ''Satu hal yang kaulupa sahabatku, Hua Xiong, Si Lihai ini muridku. Mana mungkin ilmu murid melebihi gurunya. Kau kira dia benar-benar lihai. Kau keliru, yang menjulukinya menjadi Si Lihai adalah aku, sekadar untuk merangsangnya menjadi perpanjangan tanganku,'' kata Dang Zhua. Sejenak Hua Xiong terbengong. Mulutnya kelu. Dia tak sanggup menggunakan mulutnya untuk mewakili pikirannya. Pikirannya pun butek, buntu, gelap, hitam, aswad. ''Aku tidak sangka, kau, temanku sejak kecil, telah melakukan kebodohan yang menyedihkan. Kebodohan yang menyedihkan berarti: kau mengira dirimu pandai, tapi kepandaianmu ternyata tidak dialas oleh otak yang cerdas. Kau membiarkan otakmu diisi tahi, seperti udang.'' Wajah Hua Xiong memutih. Tapi alih-alih dalam gelagap begini dia memperoleh peluang membuka mulut. Dengan sulit dan ragu dia mencoba menegakkan benang basah. Katanya plegak-pleguk, ''Demi nama Yan Lou Wang*), kalau aku bohong, lidahku langsung dipotong oleh Chu Jiang Wang**). Aku tidak mengerti ini semua.'' ''Babi lu!'' kata Dang Zhua. Serta merta dia meloncat ke arah Hua Xiong dan memberi pukulan yang tidak diduga-duga. Hua Xiong terputar. Tapi dia segera berbalik hendak melawan dengan sikap untung-untungan. Ya, dia bukan orang yang memiliki latar belakang ilmu kelahi seperti Dang Zhua. Dang Zhua memilikinya, walaupun selama beberapa tahun terakhir, sampai dia diselundupkan oleh Liu Ta Xia ke dalam ekspedisi muhibah ini, digunakannya untuk tujuan-tujuan cemar. Maka, ketika Dang Zhua memberi pukulan susulan yang bergerak demikian cepat, kelihatan pula bagaimana Hua Xiong mencoba melakukan persiapan untung-untungannya. Hua Xiong menangkis di arah pukulan dikirim, lalu memberi pukulan balasan di arah yang lain. Tapi memang, sebab pukulannya adalah pukulan untung-untungan, keruan saja pukulan ini membentus udara kosong. Akibatnya tangan yang terarah ke situ telah menyeret tubuhnya untuk doyong dan kemudian menubruk dinding. Dengan cepat kaki Dang Zhua bermain. Dia berputar seperti loncatan kucing, atau barangkali juga loncatan jago, dan pada loncatan yang dilakukan dengan intuitif tanpa kehilangan perhitungan yang cermat, kakinya naik sampai batas kepala, dan kaki itu memang benar-benar mendarat di kepala Hua Xiong. Langsung pening kepala Hua Xiong dan kunang-kunang beratus berkedip-kedip di matanya. Lantas Hua Xiong menyentak-nyentakkan kepala secara naluriah belaka, mungkin supaya terjadi keseimbangan dalam kepalanya itu. Hanya sedetik atau mungkin kurang, bersamaan dengan itu nalurinya yang sebenarnya, yang bilanglah lebih jujur, telah mendesaknya untuk membebaskan diri. Apa maksudnya membebaskan diri? Kelihatannya Hua Xiong menyadari betul ketidaksanggupannya untuk menghadapi Dang Zhua. Pasti ingatan-ingatan masa kanak, di mana dia selalu kalah pada Dang Zhua, telah mendorongnya untuk membebaskan diri. Membebaskan diri baginya berarti menghindar. Dan menghindar baginya pula berarti lari. Tak ada pilihan, memang. Hua Xiong termasuk orang yang bernaluri wandu. Jika dia punya ekor, ekornya pasti akan terlipat masuk ke dalam selangkang. Dia harus kabur. Dia lihat pintu. Dari situ dia akan meloloskan diri, lari, terbirit-birit, tunggang-langgang, aprit-apritan. Itu dia lakukan, memang. Dia meloncat ke pintu, membukanya, dan membantingnya, lalu melesat ke atas, naik tangga-tangga seperti meloncat-loncatinya, bukan satu demi satu melainkan satu lompatan sekaligus dua anak tangga. Di buritan, di dekat andang-andang yang bertali, kakinya tersandung, dan dia pun terpelanting, terkatah-katah, dada jungkang-jangkit, hidung kembang-kempis, napas ngos-ngosan. Tak disangkal dia sangat takut, memang. Dia berdiri sejenak di situ, antara ragu namun kudu, melihat air laut di bawah. Tiada seorang pun di buritan tempat dia berdiri sebelum melompat nekat ke bawah.


***

"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

Putra Petir

  • Pendekar Madya
  • ***
  • Thank You
  • -Given: 0
  • -Receive: 15
  • Posts: 1.359
  • Reputation: 63
    • Email
  • Perguruan: Balerante
Re: Laksmana Cengho (Dari buku Sam Po Kong)
« Reply #164 on: 02/09/2008 12:22 »
Di bawah sana, kira-kira lima puluh meter dari kapal induk ini ada sebuah perahu nelayan yang diam di tempat, hanya teroleng-oleng kecil oleh angin yang menerpanya. Nelayan itu baru saja melemparkan jalanya. Setelah melemparkan jalanya, dia diam sebentar lalu duduk bersandar di barel.

***


Hua Xiong tak punya waktu. Mumpung Dang Zhua belum nampak di situ mengejarnya. Ya, sudah. Daripada dipukul Dang Zhua seperti memukul karung pasir - bersamaan dengan suara di hati yang kian keras mengimbau-imbau kesadarannya pada kesalahan - dia pun melompat ke bawah, ke laut. Byur! Dia berenang mendekati perahu nelayan itu. Dia langsung naik ke atas perahu itu. Nelayan pemiliknya tak dapat berkata apa-apa, apalagi berbuat apa-apa. "Kembangkan layarmu menuju ke darat sana," kata Hua Xiong kepada nelayan itu. Suaranya mewakili perasaan takut, gugup, tapi juga harapan bebas. Nelayan itu kelihatan bingung. Itu tampak di dahinya. Dia tidak paham akan kalimat yang diucapkan Hua Xiong. Walau begitu, dengan melihat isyarat-isyarat tangan yang dibuat Hua Xiong, naga-naganya nelayan itu mengerti juga akan apa yang dimaui Hua Xiong. Dengan segera, dalam keadaan diri yang kagok dan badan agak gemetar, nelayan itu menarik tali layar yang mengikat layar di andang-andang, dan mengembangkannya. Diarahkannya perahu itu ke tenggara. Ketika perahunya bergerak, dia lupa bahwa dia baru saja memasang jala.


***


Setelah perahu nelayan itu berpindah letak, barulah Dang Zhua muncul di geladak, tingaktinguk di situ beberapa saat, menyadari bahwa tidak ada orang yang dicarinya di situ. Dia berlari ke belakang, ke bagian buritan, berdiri di situ, dan melihat ke bawah. Jarak perahu nelayan itu sudah lumayan jauh. Angin bagus telah mempercepat lajunya. Dang Zhua menyerapah, "Bajingan!" Sama sekali Dang Zhua tidak membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Hua Xiong pada waktu-waktu mendatang: besok-lusa-tulat-tubin. Namun sedikit-banyak dia meragukan hati Hua Xiong. Bisa saja Hua Xiong akan melakukan sesuatu yang jahat. Memang begitu ujungnya. Hua Xiong nanti akan menjadi tokoh jahat tersendiri, bukan di Semarang, bukan di Tuban, melainkan di Cirebon. Di Cirebon, dia akan bersekutu dengan tokoh di balik biang kerok yang menciptakan sihir ular siluman.


***


Dang Zhua termenung melihat ke arah perahu yang menjauh itu. Dalam termenung demikian akhirnya dia sampai pada pertimbangan nurani untuk menyingkap rahasia siapa dirinya yang sebenarnya. Katanya dalam hati, "Agaknya sekarang sudah tiba saatnya aku harus berpihak pada nuraniku. Aku kira, sekarang inilah waktunya aku mengaku terus terang kepada Sam Po Kong tentang siapa sebenarnya Hua Xiong dan Dang Zhua, aku. Pengakuan tentang kebenaran memang selalu membawa risiko kesulitan. Tapi aku yakin, kesulitan yang mungkin timbul karena pengakuan akan rahasiaku selama ini malah akan membuatku lebih enteng. Sebab, ketika aku menganggap ada kesulitan yang akan melilit hidupku karena pengakuan yang terus terang akan siapa diriku, hubungannya semata-mata lahiriah. Aku yakin, kesulitan yang lebih menyiksa, yang sebetulnya telah melilit aku selama ini, adalah yang menyangkut keleluasaankeleluasaan batiniah; "Makanya aku harus bicara pada Sam Po Kong. Bicara secara terus terang adalah sama dengan menguras jiwa dari ketertekanan, ketakmerdekaan, ketakberdayaan..."


***


Maka amabakdu, di ujung permenungan dan pertimbangan yang cerdas lagi matang, berangkatlah Dang Zhua ke darat, di Simongan, menemui Ceng Ho, menyatakan segala hal-ihwal dirinya, perkaranya, rahasianya.
Ceng Ho baru saja membasuh muka dengan air yang ditimbanya dari luweng di dalam gua.
"Ada hal mustahak yang harus saya bicarakan dengan Anda, Laksamana," kata Dang Zhua kepada Ceng Ho.
"Soal apa gerangan?" tanya Ceng Ho, duduk di depan gua itu.
"Terlebih dulu saya mohon maaf kepada Anda, sebab selama ini saya tidak jujur kepada Anda," kata Dang Zhua.
Ceng Ho tersenyum. Di luar dugaan Dang Zhua, dan ini membuatnya kaget sekali, Ceng Ho berkata, "Saya tahu. Kau mau mengaku sekarang bahwa kau bukanlah juru tulis asli. Kau adalah mata-mata Menteri Liu Ta Xia."
Wajah Dang Zhua langsung pucat.
Dengan bijak Ceng Ho berkata, ''Tidak perlu kaget. Saya sudah tahu sejak awal, sejak kalian melakukan kesalahan tentang puisi dinasti Tang.''
Wajah Dang Zhua makin pucat. Mulutnya menganga: bahkan burung merpati bisa masuk ke dalamnya. Dia tak mampu bilang apa-apa, tidak ba, tidak pula bu.
''Betul begitu kan?'' tanya Ceng Ho.
Dang Zhua mengangguk. Oleh perasaan aneh yang melintas dalam hatinya, tiba-tiba dia soja,  bersujud di kaki Ceng Ho, dan menangis.
''Ampuni saya, Sam Po Kong,'' katanya.
Ceng Ho malah menarik lengan Dang Zhua supaya tidak usah sujud seperti itu. Katanya, ''Bukan kau yang salah. Kau dan Hua Xiong hanya korban hasut dari Liu Ta Xia. Sudah, berdirilah. Dengan kemauanmu minta ampun, kau telah menyadari kesalahanmu.''
''Apakah Anda memaafkan saya, Sam Po Kong?'' tanya Dang Zhua dengan lugu sekali.
''Saya ini muslim. Sehari lalu baru merayakan Idul Fitri. Sudah merupakan kewajiban yang sukarela bagi saya untuk memaafkan lahir dan batin. Dan, sebagai manusia, yang tidak luput pula dari kesalahan-kesalahan, saya wajib pula meminta maaf lahir dan batin darimu.''
''Oh!'' kata Dang Zhua. Hanya perkataan ini yang terucapkan lewat mulutnya. Keharuannya telah sampai ke titik puncak. Tangisnya berubah sedu-sedan. Setelah beberapa saat kemudian, Ceng Ho menepuk-nepuk bahu Dang Zhua. ''Sudahlah, memang beginilah hidup. Tidak semua waktu dalam faal manusia terus dijubahi kesenangan,
ketegaran, kecukupan. Sebab, di dalam hidup manusia ada juga waktu kesusahan, kelemahan, kekurangan. Ada waktu manusia tertawa, ada waktu manusia kecewa, ada waktu manusia mencederai, ada waktu manusia mengobati, ada waktu manusia merangkul, ada waktu manusia mendengkul. Yang penting, dalam semua waktu, manusia bertanggung jawab atas hidupnya yang diberikan Tuhan kepadanya.''
''Saya insaf, Sam Po Kong,'' kata Dang Zhua, masih menangis.
''Itu paling baik,'' kata Ceng Ho. ''Sekarang, mana Hua Xiong?''
''Itulah yang ingin saya katakan, Sam Po Kong,'' kata Dang Zhua.
''Memangnya kenapa dia?'' tanya Ceng Ho.
''Dia tidak insaf seperti saya,'' jawab Dang Zhua. ''Karena saya insaf, dia marah pada saya, dan dia bermaksud membunuh saya.''
''Membunuhmu?''
''Tapi tidak berhasil. Dia memang menggunakan tangan orang lain. Dan tangan itu sudah saya lumpuhkan. Tangan itu yang ditugaskan membunuh saya, tapi karena tangan itu tidak awas, malah dia yang terbunuh.''
''Tangan katamu?'' tanya Ceng Ho. ''Tangan siapa? Apa itu tangan Ging Jian yang kalian juluki Si Lihai? Orang yang selama ini kalian bayar untuk membuat catatan-catatan tentang pelayaran ini?''
Dang Zhua menganga lagi. Kali ini mulutnya membuka lebih besar dari tadi, kira-kira bahkan ayam betina bisa masuk ke dalamnya. Dalam menganga heran, mukanya tidak pucat lagi, tapi memerah bagai bunga padma. Dia tak sanggup berkata apa-apa, tapi dalam hatinya dia mengakui: Ceng Ho ini sakti.
''Jadi Hua Xiong memperalat Ging Jian untuk membunuhmu?'' kata Ceng Ho dalam nada kalimat tanya yang datar. ''Lantas sekarang di mana Hua Xiong?''
Dang Zhua tak cepat menjawab. Dia masygul, tapi menyesal pula. ''Ini yang membuat saya syak memikirkannya, Sam Po Kong,'' jawabnya. ''Dia telah melarikan diri.''
Ceng Ho pun tak cepat menanggap. Dia mengangguk tapi dia bertanya pula, ''Melarikan diri?''
''Benar, Sam Po Kong,'' kata Dang Zhua. ''Ketika saya menyusuli, saya lihat perahu yang ditumpanginya sudah jauh di tenggara.''
Ceng Ho mengangguk-angguk. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan lembut. Tak ayal, yang dilakukannya ini adalah menekan ji*) untuk turun ke arah tan-dian**).
Ini artinya, dia mendahului mengerti ji-kung***), pengetahuan dasar meditasi.


***

Jadi, sedangkan Dang Zhua yang semula dengki pada Ceng Ho, tapi sekarang memujanya, apalagi orang-orang yang tidak terhasut, seperti para huakiau****) atau pribumi yang memiliki tanah air ini. Mereka semua berharap memperoleh pengetahuan dan ilmu dari Ceng Ho. Sebagai seorang allamah dengan banyak ilmu yang dikuasainya, khalayak membutuhkannya, memintanya tinggal lebih lama lagi di sini. Malah Jawahir memberikan seluruh tanah perbukitan Simongan kepadanya supaya ia betah di sini.
''Bukan saja seluruh tanah perbukitan Simongan ini saya berikan buat Tuan, melainkan juga silakan pilih dan jadikan putri-putri saya sebagai istri ataupun gundik Tuan,'' kata Jawahir.

Keruan Ceng Ho cengar-cengir. Jawahir memang tidak tahu Ceng Ho seorang sida-sida, orang yang dikebiri.
Kalakian berkata Ceng Ho dengan sikap yang khuduk, ''Maksud baik Tuan sangat kami hargai.''
''Ini bukan basa-basi,'' kata Jawahir meyakinkan. ''Kami orang pesisir biasa bicara blakblakan.
Silakan manfaatkan keduanya: ibu pertiwi dan ibu rumah tangga.''

***


Ternyata bukan sekadar omong. Pada esok harinya Jawahir datang menemui Ceng Ho, membawa anak-anak gadisnya yang rata-rata berumur 12 dan 14 tahun, sebanyak 27 orang, dari sembilan istrinya.

Dijajarkannya anak-anak gadisnya itu di hadapan Ceng Ho dan perwira-perwiranya serta anggota misi pelayaran muhibahnya. Anak-anak itu kelihatan lugu, malu-malu, tapi menyerahkan diri pada leluri yang berlaku zaman itu.

Dalam memperkenalkan anak-anaknya Jawahir tidak kalah lugu pula. Katanya, ''Mereka memang masih bau kencur. Susunya belum keluar. Tapi dalam satu-dua tahun lagi sebagian dari mereka sudah ranum, siap jadi kanca wingking.'' ''Terima kasih,'' kata Ceng Ho.

***


Ceng Ho terkesan pada sikap orang-orang Semarang yang ramah dan terbuka. Karena itu dia betah di sini. Setelah tinggal di sini sepuluh hari akhirnya dia memutuskan tinggal lebih lama lagi. Perbukitan Simongan yang telah diberikan oleh Jawahir dimanfaatkannya untuk banyak hal. Antara lain di bawah pohon-pohon rindang dibangunnya tempat orang belajar pelbagai pengetahuan. Banyak orang berdatangan ke situ untuk bertanya tentang ilmu kesehatan, ilmu pertanian jamu, ilmu pemasaran, ilmu pertahanan, ilmu bela diri, ilmu agama, dan ilmu-ilmu lain yang menyangkut pengetahuan tamadun. Sekitar setengah tahun - sampai Sin Cia - Ceng Ho berada di Semarang. Di atas bukit Simongan yang paling depan - yang sekarang, sejak 1954, lokasinya telah menjadi kampus Seminari Teologi Baptis Indonesia yang dibeli dari pemilikan terakhir keluarga Oey Tiong Ham - didirikan rumah-rumah tempat tinggal Ceng Ho dan perwira-perwira serta rohaniwanrohaniwan dari agama-agama yang dianut sebagian besar orang Cina: Konghucu, Tao, dan Buddha. Adapun khususnya Wang Jing Hong, yang kemudian lebih dikenal dalam sebutan Jawa sebagai Dampo Awang, memilih membangun tempat tinggalnya di dekat gua. Di situ dia merasa manunggal dengan alam, seraya menikmati kicau burung jalak yang dihadiahkan kepadanya dari Ratu Subandar di Bali. Ternyata ketenangan jiwanya bergantung pada menikmati warna putih dari dua ekor jalak bali itu - putih salju dengan aksen-aksen kuning emas, biru, dan hitam. Bisalah gerangan dibayangkan betapa kacau pikirannya andaikata kedua burung kesayangannya itu lepas dari sangkar. Mungkin bakal terjadi kiamat kecil bagi jiwanya. Entahlah.


***


Saban hari, di luar tugasnya sebagai juga pengajar bagi orang-orang yang bertanya, Wang Jing Hong memanjakan burungnya dengan sangat telaten. Rupanya berlaku syarat-syarat kewajiban yang sukarela bagi pencinta burung untuk menjadikan dirinya sebagai jongos bagi hewan piaraannya itu: memberi makanan pilihan dua kali sehari, mengganti air minum setelah membersihkan wadahnya, memandikannya, dan membersihkan tahinya dengan ujung jari-jari tangannya sendiri. Selain itu, saban hari pula, sambil menggantung sangkar burung itu di kasau depan rumah tempatnya tinggal, dia mengajak bicara dengan tutur dan tekanan kata yang lembut berirama dan bernada rayu. Jika tidak, dia menyanyi, merangsangkan halwa-telinga bagi burungnya itu. Kalau sekiranya burung yang sepasang itu bisa bicara, niscaya mereka akan mengaku hafal akan nyanyian yang selalu diulang-ulang oleh Wang Jing Hong: ''Zi Wu*) boleh seribu kali mengganti nama Menjadi apa saja selain Chen Cheng Gong**) Tetap saja warnanya ditentukan Zheng Shu***) Tapi warna jalak putihku ditentukan Tian.''****)


***

Melihat tabiat Wang Jing Hong yang kelihatannya damai itu, Ceng Ho menyimpulkan, sebagaimana yang dikatakannya pada suatu hari, ''Kau telah menyatukan jiwamu dengan burungmu itu.''
''Tidak,'' kata Wang Jing Hong menangkis dengan khuduk. ''Aku sedang mengajar dia untuk menyatukan jiwanya dengan jiwaku.''
''Dan, apakah dia mengerti arahanmu?''
''Mestinya mengerti,'' kata Wang Jing Hong. ''Binatang selalu mengenal siapa tuannya.''
''Kau benar sekali,'' kata Ceng Ho. ''Binatang memang mengenal tuannya, tapi sering manusia tidak mengenal Tuhannya. Setelah kita tinggal agak lama di sini, aku lihat pelbagai awak kapal kita mulai kedodoran: minum, mabuk, pendek kata tidak senonoh.''
''Apa itu artinya kita segera saja berlayar lagi?''
''Berlayar ataupun berlabuh, sama, masing-masing ikhtiar memiliki risiko kekuatiran dan masalahnya yang khas.''
''Jadi, apakah itu artinya kita belum akan berlayar dalam waktu yang dekat ini?''
''Kita punya dua masalah di darat sekarang. Pertama kita tidak boleh meninggalkan murid yang kepalang menggantungkan harapan kepada kita sebagai guru. Dan kedua, kita harus memasang perangkap terhadap Hua Xiong.''
Dari dua masalah itu, mana yang menjadi prioritas?''
''Tanggung jawab kepada negara. Kita mengemban misi muhibah.

***

Demikian khairat itu dirancang dan diejawantah!
Kesimpulannya, ekspedisi Ceng Ho memiliki catatan tersendiri di Semarang. Di sini Ceng Ho tinggal lebih lama daripada tempat-tempat lain yang pernah dan yang akan juga dikunjungi di
waktu-waktu mendatang sampai ke Srilangka, India, Arab, dan Afrika.

Itu pula yang diceritakan dengan bangga oleh Tukang Cerita kepada murid-muridnya yang datang dari Jakarta ke Semarang sini.
Murid yang paling suka bertanya itu, kini mengacung lantas bertanya dengan serius, wajah kusam tapi hati berpengharapan. Tanyanya, ''Jadi, kalau saya tidak salah tangkap, alasan Ceng
Ho tinggal lebih lama di Semarang, sebab dia memikirkan orang-orang yang telah menggantungkan diri sebagai murid kepada guru. Benarkah begitu, Pak?''

''Benar sekali,'' jawab sang Tukang Cerita.
''Memangnya berapa bayarannya sebagai guru sehingga dia berkorban begitu rupa?''
''Dia melakukan pelayanan kemanusiaan. Dia adalah utusan negara besar. Yang dia lakukan itu dedikasi, tanggung jawab kemanusiaan, hubungan kebudayaan.''
''Untuk itu dia tidak minta honorarium khusus seperti orang-orang sekarang?''
''Dia tidak mempersoalkan itu.''
''Kok bisa sih?''
''Bisa saja dong.''
''Wah, kalau zaman sekarang, tunggu ayam kentut dulu baru ada orang yang mau mengajar tanpa meminta honorarium.''
Tukang Cerita ketawa, ''Ah, apa iya?''
''Ya, Pak,'' kata murid itu berkeras. ''Buktinya guru-guru zaman sekarang ini, tidak di kota besar ataupun tidak di kota kecil, semuanya komersial. Sekolah dibikin seperti lahan sapi perah. Orang tua murid diperas habis-habisan dengan berbagai macam pungutan disertai alasan-alasan yang tidak masuk akal, supaya mau mengeluarkan uang sebanyaknya saja.''

Kelihatannya muka Tukang Cerita mengencang. ''Siapa bilang itu?'' katanya. ''Itu kemarin, pada zaman Orde Baru, bukan zaman sekarang. Orde Baru memang orde uang. Uang dalam bahasa Jawa dieja 'harto'. Ya, cocok dengan pemimpinnya yang juga bernama 'uang'.''
''Ah, Pak, tapi zaman sekarang, zaman yang konon bernama Orde Reformasi-tapi reformasi setengah hati-toh korupsi yang artinya maling uang negara, masih merajalela dan keranjingan. Buktinya sampai hari ini pun Indonesia tetap sakit.''

Tukang Cerita tertawa terkekeh-kekeh. Dia pegang kepala muridnya itu dan menguyak-uyak rambutnya.
''Nah, saya ingin tanya, Pak,'' kata murid itu. ''Kira-kira, kalau kita bilang Indonesia sakit, apa ada obatnya yang bisa menyembuhkan sakitnya?''

''Wah, repot,'' kata Tukang Cerita. ''Bangsa kita memang sudah rusak, bebal, bejat, kakekane, ditawan oleh pikiran-pikiran yang sepenuhnya bendawi. Di zaman gila seperti ini, nilai-nilai
moral terjungkir-balikkan seenaknya di bawah aksioma: siapa yang berkuasa dia yang menentukan selera dalam tatanan. Nilai-nilai gila yang berlaku sekarang adalah: orang dihormati bukan lantaran harkatnya tapi hartanya, bukan lantaran martabatnya tapi manfaatnya.''

''Pak, memangnya siapa orang berkuasa yang telah merancukan tatanan itu?''
''Banyak sekali. Semua yang pakai jas-dasi, baik yang duduk di lembaga eksekutif maupun legislatif. Huh, capek banget membicarakan kerusakan mereka. Mereka punya kemaluan tapi
tidak punya malu. Berbicara sampai mulut sobek untuk membela hak rakyat miskin sembari duduk berpangku kaki di dalam mobil hitam dan masuk hotel berbintang dengan selibritas.''

''Aduh, sebagai generasi penerus, saya jadi pesimistis, Pak.''
''Iya, kalian generasi penerus, tapi bapak-bapak itu, yang sudah kadung senang menikmati kekuasaan, lantas menjadikan diri mereka sebagai 'generasi terus-menerus'.''
''Ha-ha-ha, saya ingin ketawa, Pak.''
''Ya, ketawalah.''
''Tapi, astaga, tidak ada alasan-alasan lucu yang bisa mendorong perasaan saya untuk ketawa.''
''Kalau begitu, ya sudah, menangislah.''
''Tapi, astaga, cadangan air mata saya juga sudah habis tuh.''
''Kalau begitu, ya sudah, aksi bengong saja.''


*******

"Kedengarannya ini aneh," kata Wang Jing Hong.
Ceng Ho tidak terpengaruh oleh pernyataan itu. Dia tetap mendesak ingin tahu, "Siapa?"
Dan Wang Jing Hong menyebutnya datar, "Tan Tay Seng."
Berkerut dahi Ceng Ho. Tak ayal dia kaget. Tapi tak satu pun kata yang terucapkan lewat mulutnya.
Adalah Ci Liang yang menyambar. Dia memberikan tanggapan tidak percaya. Dan dia mengucapkan dengan gairah ditekan. Katanya, "Itu mustahil. Bukankah dia bermaksud kawin dengan Ling Ling?"
"Ling Ling itu jinak-jinak merpati."
"Kira-kira apa itu maksudnya?"
"Ling Ling tidak tertarik berumah tangga dengannya."
Dan ada jeda. Semua termangu.
Setelah itu Ceng Ho mengencerkan, "Tunggu," katanya, "Dari mana informasi ini didapat?"
"Sumber yang terpercaya," kata Wang Jing Hong.
"Ingat, yang terpercaya belum tentu yang dipercaya," kata Ceng Ho. "Nah, siapa sumber itu?"
"Bun Hau."
Ceng Ho terdiam atas maunya. Dia tercenung. Dia mengucapkan sesuatu yang tidak terkupingkan oleh rapat, "Menyedihkan," katanya.
"Begitulah keadaannya," kata Wang Jing Hong.
Suara Ceng Ho kini terdengar. Katanya, "Sulit dipercaya."

****
"Sugih tanpo bondho,pintar tanpo ngeguru, menang tanpo ngasorake, nglurug tanpo bala, mangan tanpo mbayar."

 

Powered by EzPortal