Forum Sahabat Silat

Bahasa Indonesia => Aliran Pencak Silat => Topic started by: Hambamu on 23/10/2007 14:19

Title: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Hambamu on 23/10/2007 14:19
Dear all,

Kebetulan saya adalah anggota baru di forum ini, mohon penjelasan dan komentarnya dari para sesepuh disini mengenai perguruan pencak silat bela diri tangan kosong merpati putih, karena saya cukup tertarik untuk membahas mengenai jurus serta olah nafas yang terdapat didalamnya.

Ditunggu ya pencerahannya, Bro2 yang terhormat...........  :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: aircadas on 13/12/2007 23:32

Waduh Thread ini kok belum ada yg jawab, padahal yg di tanyakan perguruan terkenal di Indonesia, dengan jurus pernafasan dan kepekaannya. siapa sih yg nggek kenal MP apalagi ATPnya yang katanya dasyat.

Dahulu pemimpin MP, Om solihin GP dalam sebuah majalah, pernah bilang " MP memang tidak ikut bertanding, krn bisa berbahaya, lawan bisa pecah kepalanya" he he he, lalu skr MP sdh bisa bertanding di kejuaraan umum, salut deh buat MP yang udah terbuka dan udah punya jurus sport untuk pertandingan.

Lalu gimana sih sejarah MP ini sesungguhnya, kapanya temen2 dari MP harus hadir disini untuk meluruskan yang salah, namanya juga diskusi salah2 dikit harus diperbaiki.

Ayo bang dari MP, sok atuh, mangga!!
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 14/12/2007 11:00
Dahulu pemimpin MP, Om solihin GP dalam sebuah majalah, pernah bilang " MP memang tidak ikut bertanding, krn bisa berbahaya, lawan bisa pecah kepalanya" he he he, lalu skr MP sdh bisa bertanding di kejuaraan umum, salut deh buat MP yang udah terbuka dan udah punya jurus sport untuk pertandingan.

Apa sekarang atlet wiralaga IPSI waktu tanding pakai "head protector"?
Belum ada beritanya yg pecah kepalanya tuh, atau mungkin kasusnya di peties kan ya? ;D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: EricB on 14/12/2007 11:15
wiralaga ???? itu sistem pertandingan yang sudah KUNO

sekarang namanya TTGR (Tanding, Tunggal, Ganda dan Regu)

pernah juga ada pencobaan memakai "headprotector" tetapi ngak jadi di pakai dalam pertandingan

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 14/12/2007 11:23
mas...mas yang bisa dipecahin itu sasaran diam, bentuknya bisa beton, kikir, besi cor, es atau batu kali.

selama pertandingan seingat saya tak pernah dengar ada yang pecah kepala. Baik dari kejuaraan antar kelompok latihan (kolat), kejuaraan antar daerah (cabang), kejuaraan mahasiswa, kejurnas.

meski boleh ke kepala boleh nendang, waktu pertandingan IPSI gak sedikit atlit MP yang tumbang.  

Jadi kesimpulannya apa yang kita latih itu yang akan kita dapat. kalau latihannya berantem mecahin kepala orang dan udah ratusan kepala pecah...mungkin kalo diadu bisa mecahin kepala orang. tapi kalo yang dilatih mecahin beton, besi cor, kikir dll maka yang dia bisa ya itu...

apalagi kita tau kalo benda-benda itu diam...jelas aja bisa dipukul coba kalo latihannya mukul ayam / apalagi tikus (dilepas) sampe patah tulangnya...pasti susah...he he he

iya kang EricB, istilah wira laga udah diganti jadi silat tanding
 [top]
salam [top],

one
BBM
(baru belajar maenpo)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sosro_Birowo on 14/12/2007 11:25
sambil nunggu dedengkot dan para tokoh MP bersuara...
berikut hasil konsultasi dengan oom gugel:
==
1. dari wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Merpati_Putih

Arti dari Merpati Putih itu sendiri adalah suatu singkatan dalam bahasa Jawa, yaitu:

Mersudi Patitising Tidak Pusakane Titising Hening yang dalam bahasa Indonesia berarti "Mencari sampai mendapat Kebenaran dengan Ketenangan" sehingga diharapkan seorang Anggota Merpati Putih akan menyelaraskan hati dan pikiran dalam segala tindakannya. Selain itu PPS Betako Merpati Putih mempunyai motto: "Sumbangsihku tak berharga, namun Keikhlasanku nyata".

Merpati putih (MP) merupakan warisan budaya peninggalan nenek moyang Indonesia yang pada awalnya merupakan ilmu keluarga Keraton yang diwariskan secara turun menurun, yang pada akhirnya atas wasiat Sang Guru ilmu Merpati Putih diperkenankan dan disebarluaskan dengan maksud untuk ditumbuhkembangkan agar berguna bagi negara.

Awalnya aliran ini dimiliki oleh Sampeyan Dalem Inkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro kemudian ke BPH Adiwidjojo (Grat I). Lalu setelah Grat ke tiga, R. Ay. Djojoredjoso ilmu yang diturunkan dipecah menurut spesialisasinya sendiri-sendiri, seni beladiri ini mempunyai dua saudara lainnya. yaitu bergelar Gagak Samudro dan Gagak Seto. Gagak Samudro diwariskan ilmu pengobatan, sedangkan Gagak Seto ilmu sastra. Dan untuk seni beladiri diturunkan kepada Gagak Handoko (Grat IV). Dari Gagak Handoko inilah akhirnya turun temurun ke Mas Saring lalu Mas Poeng dan Mas Budi menjadi PPS Betako Merpati Putih. Hingga kini, kedua saudara seperguruan lainnya tersebut tidak pernah diketahui keberadaan ilmunya dan masih tetap dicari hingga saat ini ditiap daerah di tanah air guna menyatukannya kembali.

Pada awalnya ilmu beladiri Pencak Silat ini hanya khusus diajarkan kepada Komando Pasukan Khusus ditiap kesatuan ABRI dan Polisi serta Pasukan Pengawalan Kepresidenan (Paspampres).

Didirikan pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, mempunyai kurang lebih 35 cabang dengan kolat (kelompok latihan) sebanyak 415 buah (menurut data tahun 1993) yang tersebar di seluruh Nusantara dan saat ini mempunyai anggota sebanyak satu juta orang lulusan serta yang masih aktif sekitar 100 ribu orang dan tersebar di seluruh Indonesia.

Sang Guru Merpati Putih adalah Bapak Saring Hadi Poernomo, sedangkan pendiri Perguruan dan Guru Besar sekaligus pewaris ilmu adalah Purwoto Hadi Purnomo (Mas Poeng) dan Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi) sebagai Guru Besar terakhir yaitu generasi ke sebelas (Grat XI).

PPS Betako Merpati Putih berasal dari seni beladiri keraton. Termasuk diantaranya adalah Pangeran Diponegoro.

Berikut Silsilah Turunan aliran PPS Betako Merpati Putih:

BPH ADIWIDJOJO: Grat-I
PH SINGOSARI: Grat-II
R Ay DJOJOREDJOSO: Grat-III
GAGAK HANDOKO: Grat-IV
RM REKSO WIDJOJO: Grat-V
R BONGSO DJOJO: Grat-VI
DJO PREMONO: Grat-VII
RM WONGSO DJOJO: Grat-VIII
KROMO MENGGOLO: Grat-IX
SARING HADI POERNOMO: Grat-X
POERWOTO HADI POERNOMO dan BUDI SANTOSO HADI POERNOMO: Grat-XI
Amanat Sang Guru, seorang Anggota Merpati putih haruslah mengemban amanat Sang Guru yaitu :

Memiliki rasa jujur dan welas asih
Percaya pada diri sendiri
Keserasian dan keselarasan dalam penampilan sehari-hari
Menghayati dan mengamalkan sikap itu agar menimbulkan Ketaqwaan kepada Tuhan.
Pada tahun 1995, seorang anggota PPS Betako Merpati Putih cabang Jakarta Selatan, Mas Eddie Pasar mendapat piagam penghargaan Rekor dari Musium Rekor Indonesia (MURI) karena mendemonstasikan menyetir mobil terjauh dari Bogor ke Jakarta dengan mata tertutup.

Hingga tahun 1998 PPS Betako Merpati Putih masih hanya untuk Warga Negara Indonesia saja. Namun karena minat dari luar negeri sangat banyak dan antusias, MP mulai membuka diri untuk menerima anggota dari luar negeri. Adalah Nate Zeleznick dan Mike Zeleznick sebagai orang berkulit putih pertama yang diajarkan pencak silat ini pada tahun 1999 dan menjadi Guru Merpati Putih Pertama di Amerika. Pada awal bulan Oktober 2000 Mas Pung dan Mas Budi meresmikan American School of Merpati Putih yang pertama berlokasi di Ogden City Mall, Utah. MP adalah satu-satunya Pencak Silat yang diselidiki secara ilmiah mengenai masalah adanya tenaga dalam.
==

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sosro_Birowo on 14/12/2007 11:27
lanjuttt...ah..: sumber : http://www.geocities.com/mp_uii/KOLAT/Ilmu_keluarga/ilmu_keluarga.html
=
ILMU KELUARGA KERAJAAN

Menurut silsilahnya dapat diuraikan sebagai berikut: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro

Grat I  : BPH. Adiwidjojo
Grat II  : PH. Singosari
Grat III : RA. Djojoredjoso
Grat IV :  RM. rekso Widjojo
Grat V : R. Bongso Djojo
Grat VI : Djo. Permono
Grat VII : RM. Wongso Widjojo
Grat VIII : Saring Hadi Poernomo (Sang Guru)
Grat IX : Poerwoto HP dan Budi Santosa HP (guru Besar-Pewaris)
 

Grat I, mempunyai saudara BP. Amangkurat Amral
Grat III, membuat jalan Margoyoso, dalam legenda  menjadi demang Margoyoso
Grat IV, mendirikan perguruan yang pelaksanaannya dikembangkan oleh 3 orang puteranya/keturunannya, yaitu :
Gagak Samodra, mendirikan perguruan di Gunung Jeruk (Peg. Menoreh)
Gagak Handoko, mendirikan perguruan di daerah Bagelen, yang akhirnya pindah ke daerah utara P. Jawa.
Gagak Seto, mendirikan perguruan di daerah sekitar Magelang (Jawa Bagian Tengah).
Gagak Handoko mengembara di daerah timur Pulau Jawa melalui/menyelusuri Pantai Selatan hingga sampai di daerah G. kelud dengan tujuan mempelajari dan mengetahui keadaan daerah, disamping itu juga mencari dua saudaranya yang terpisah. Di dalam pengembaraannya, beliau menyamar sebagai Ki Bagus Kerto.

Sebelum beliau mengembara, Perguruan Gagak Handoko yang didirikan di Gunung Jeruk telah berkembang dengan cepat. Dan sepulang dari pengembaraannya, dimana beliau tidak berhasil menemukan dua saudaranya, maka beliau melanjutkan pengembangan perguruan yang telah lama ditinggalkan.

Beliau sadar akan usia ketuaannya tang tidak sanggup lagi melanjutkan pengembangannya, maka beliau memberi mandat penuh dan amanat kepada keturunannya yang pada silsilah termasuk dalam Grat V, yaitu R. Bongso permono ing Ngulakan Wates, untuk melanjutkan perkembangan perguruan. Dan setelah Gagak Handoko menyerahkan tumpuk kepemimpinan perguruan beliau lalu pergi menyepi/bertapa hingga sampai meninggalnya di G. jeruk.

Dalam kepemimpinan R. Bongso Permono, perkembangan perguruan semakin suram/mundur, R. bongso Permono sadar akan keadaan itu. Maka setelah menurunkan ilmunya kepada keturunannya, beliau mengikuti jejak ayahnya mencari kesempurnaan. Keturunannya itu bernama R.M. Wongso Widjojo.

Pada masa kepemimpinan R.M. Wongso Widjojo, perguruan juga tidak dapat berkembang seperti yang diharapkan ayahnya, oleh karena tidak mempunyai keturunan, maka beliau mengambil murid yang kebetulan dalam keluarga masih ada hubungan cucu yang bernama R. Saring Siswo Hadi Poernomo. Yang selanjutnya masuk dalam garis keturunan ke VII (Grat VIII). Perlu diketahui pula, bahwa ajaran perguruan tersebut sebenarnya kurang lengkap, maka beliau tidak segera mengembangkan/menurunkan kepada keturunannya, akan tetapi berusaha keras menelaah dan menjabarkan ilmu tersebut lalu menuangkan dalam gerakan silat dan tenaga tersimpan yang ada di naluri suci. Tidak berhenti di situ saja, beliau juga berusahamencari kelengkapannya, yaitu dari aliran Gagak Samodra dan Gagak seto. Akan tetapi beliau belum berhasil menemukan langsung, hanyanaluri beliau, bahwa dua aliran yang punya materi sama tersebut mengembangkan ilmu di daerah pantai utara P. Jawa dan bagian tengah P. Jawa.. Hasil dari pengembangan ilmu tersebut lalu diturunkan kepada puteranya Mas Poerwoto HP dan adiknya Mas Budi Santosa HP.

Sekitar tahun 1960 Bapak Saring HP aktif membina kedua puteranya yang menguasai ilmu beladiri Mataram yang kemudian Merpati Putih, kedua putera sekaligus merupakan pewaris termuda dikenal dengan panggilan Mas Poeng dan Mas Budi.

Pada tahun 1962 kedua putera beliau medapat amanat dari Sang Guru agar ilmu beladiri yang sebelumnya merupakan milik keluarga itu disebarluaskan kepada umum demi kepentingan bangsa. sejak inilah ilmu beladiri Mataram yang kemudian di kenal sebagai  Merpati Putih dikenal masyarakat berkat usaha yang keras dan tekun dari kedua putera Sang Guru Saring Hadi poernomo, yang tidak segan-segan turun langsung menangani latihan atau dengan wejangan-wejangan yang pada dasarnya untuk membangkitkan gairah dan perkembangan Merpati Putih.

Tahun 1968 kedua putera Sang Guru sebagai pucuk pimpinan menjadi motor untuk mencoba mengembangkan sayap menjadi lebih lagi dengan dibentuknya cabang pertama Madiun Jawa Timur. Selanjutnya pihak militer juga mulai ditembus dan berhasil. dari hasil peragaannya mendapat kehormatan melatih seksi I Korem 072 dan Batalyon 403/Diponegoro di Yogyakarta. Ketika itu suasana memasuki era Orde baru.

Pada Tahun 1969 atau tepatnya 2 april 1969 Sang Guru Sarengat Hadipoernomo wafat, Keadaan ini sampai membuat para anak murid yang sedang semangat dalam pengembangan perguruan berduka. Namun diambil hikmahnya oleh para murid sebagai cambuk untuk menggugah perkebangan Merpati Putih menjelang kedewasaannya.

Tahun 1973 melalui perkenalan-perkenalan sebelumnya dengan pihak AKABRI Merpati Putih mendapat undangan untuk diadakan penelitian dari segi-segi yang menyangkut metode latihan yang diselenggarakannya. Penelitian di AKABRI udara ditangani langsung oleh tenaga-tenaga ahli, antara lain Prof. Dr. Achmad Muhammad Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM dibantu beberapa ahli lainnya dari AKABRI udara sendiri. Hasilnya menggembirakan dan ini mendorong pengembangan yang lebih luas wawasan Merpati Putih.

Di ibu kota Jakarta pada tahun 1976 setelah dilakukan pendekatan berhasil mendapat kehormatan melatih para anggota Pasukan Pengawal Presiden (PasWalPres). Tahun 1977 komisariat cabang Jakarta dibentuk. Dan pada tahun inipun Merpati Putih mendapat peluang melatih para anggota Koppasandha di Cijantung sampai para anggota Kopassandha sanggup memperagakan keahliannya pada kemeriahan acara peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1978. selanjutnya dari tahun ke tahun Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih berkembang di tanah air malahan mendapatkan tempat di berbagai kalangan sebagai salah satu kebudayaan bangsa yang patut dibanggakan.

Sampai saat ini PPS Betako Merpati Putih telah mempunyai Cabang/Calon Cabang di berbagai Propinsi dan tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sosro_Birowo on 14/12/2007 11:31
GETARAN dalam MP

(dikutip dari : http://mpkalsel.wordpress.com/2007/04/30/fakta-ilmiah/ )

MERSUDI PATITISING TINDAK PUSAKANE TITISING HENING
(Mencari sampai mendapatkan suatu titisan kedamaian lahir bathin, akan segala tindakan yang terpuji, untuk bekal/pusaka ketentraman salama hidup didunia sebagai insan suci ciptaan Tuhan Yang Maha Esa)

Merpati Putih adalah Perguruan Pencak Silat yang ilmiah, tidak ada mantra dan klenik. Semua realitas dan logis. Kemampuan pesilat Merpati Putih mematahkan benda-benda keras seperti kikir, baja, gagang pompa, pipa beton, dsb. didapat dari zat yang disebut Adenose Triposphat (ATP).


Setiap saat kita melakukan suatu kegiatan yang tidak kita sadari yaitu bernapas. Menghirup napas bisa dikatakan sebagai usaha membersihkan paru-paru. Peristiwa pernapasan melibatkan oksigen (zat asam), sehingga terjadilah peristiwa kimiawi yang disebut oksidasi dan menimbulkan panas atau energi.

Dalam teori listrik, kekurangan satu elektron dari satu atom akan menimbulkan gaya listrik. Ketika kita menghirup napas yang kemudian ditahan, akan terjadi pula kekurangan zat asam. Pada saat berlangsung kekurangan ini, timbul suatu zat baru yang sangat aktif untuk membantu mempercepat pengulangan peristiwa kimiawi tadi. Zat ini dikenal sebagai Adenose Triposphat atau disingkat ATP. Tenaga yang ditimbulkan ATP ini adalah 5 kali tenaga yang dihasilkan oleh peristiwa oksidasi itu sendiri.

Untuk mendapatkan ATP diperlukan syarat-syarat, seperti penegangan otot, kemudian digabungkan dengan kemampuan psikis dan biologis. Kalau proses oksidasi terus berulang dengan cepat maka akan timbul getaran. Getaran bisa ditingkatkan frequensinya bila kita mengenal ciri-cirinya.
Teknik getaran inilah yang dimanfaatkan Merpati Putih untuk memecahkan benda-benda keras seperti balok es, batang pompa dragon, beton cor, kikir atau per mobil.

Dengan mengirim getaran lewat tangan, kaki atau kepala akan mempengaruhi susunan molekul pada benda yang akan dipatahkan. Pada saat molekul pada garis yang kita jadikan sasaran itu berada dalam keadaan labil, maka sasaran itu kita hantam. Jadi yang terpenting disini bukan kekuatan tetapi momentum pukulan.

Dengan alat yang disebut osciloscope telah berhasil dideteksi lima macam getaran yang ada pada murid Merpati Putih. Sedangkan menurut Dewan Guru masih ada getaran keenam, tetapi masih dalam taraf pengujian. Apakah getaran keenam ini merupakan “Senjata Pamungkas” dari MP kita tunggu saja kiprah Merpati Putih lebih lanjut.....
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 14/12/2007 11:57
wiralaga ???? itu sistem pertandingan yang sudah KUNO
sekarang namanya TTGR (Tanding, Tunggal, Ganda dan Regu)
pernah juga ada pencobaan memakai "headprotector" tetapi ngak jadi di pakai dalam pertandingan

Kang Eric,
Hatur nuhun koreksinya [muka]

Memang kuno tapi orang kadang hobi mencari yg kuno. Aneh :D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Elang on 14/12/2007 13:55
GETARAN dalam MP


Merpati Putih adalah Perguruan Pencak Silat yang ilmiah, tidak ada mantra dan klenik. Semua realitas dan logis. Kemampuan pesilat Merpati Putih mematahkan benda-benda keras seperti kikir, baja, gagang pompa, pipa beton, dsb. didapat dari zat yang disebut Adenose Triposphat (ATP).


Kalau ikut TD seperti SN, NAMPON, ML, DLL dech, saya nggak pernah denger istilah ATP, walaupun di jelaskan secara teori di atas, apakah perguruan TD seperti ML dan NAMPON juga mengolah ATP ini.

 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Elang on 14/12/2007 14:08
Tabah Info dari Intisari nih :

---------


MELIHAT TANPA MATA


      Selain mata, manusia rupanya diberi “indera penglihatan kedua”. “Mata kedua” itu bisa berupa ujung hidung atau ujung telinga, sentuhan tangan, ujung jari, atau ujung siku. Dengan latihan tertentu, seorang tunanetra bahkan mampu “melihat” seperti halnya orang biasa.


Suatu hari di tahun 1945 seorang pria bernama Kuda Bux menunggangi sepeda, lalu mengayuhnya, menembus lalu lintas New York. Ia menerobos Times Square yang ramai, dan akhirnya tiba di tempat tujuan, tanpa celaka sedikit pun. Tampaknya, itu peristiwa biasa. Namun ternyata ia melakukannya dengan mata tertutup rapat. Bagaimana ia bisa “melihat” arah tujuannya? Pertanyaan yang tetap belum ditemukan jawabannya itulah yang membuat Bux terkenal pada 1930 - 1940-an.Jauh sebelum itu ilmuwan Irlandia Robert Boyle (1627 - 1691) menemukan kasus tentang seorang pria yang dapat mengenali warna lewat sentuhan tangannya. Kemudian pada tahun 1893 beberapa dokter di Brooklyn, New York, menceritakan bagaimana Mollie Fancher yang tunanetra membaca buku cetak standar - bukan berhuruf braille - dengan ujung jarinya.

Pada saat bersamaan di Italia ahli saraf dr. Cesare Lombroso mengamati gadis tunatera berusia 14 tahun yang dapat “melihat” dengan telinga kiri dan ujung hidung. Ketika Lombroso mencoba menusuk hidungnya dengan sebatang pinsil, gadis itu tersentak menyingkir dan menangis, “Kamu ingin membuatku buta, ya?”

Orang abnormal
Kasus-kasus ajaib itu menantang ilmuwan Prancis, Jules Romains. Setelah bertahun-tahun meneliti, pada 1920 Romains menerbitkan risalah panjang berjudul Eyeless Sight. Ia mencatat, beberapa subjek “melihat” tanpa menjalin kontak dengan objek sasaran, tapi ada juga yang menggunakan alat berupa ujung jari, pipi, bahkan perut. Meski karyanya itu sedikit sekali ditanggapi oleh kalangan kedokteran, kasus yang lalu ia sebut kemampuan pandang paroptik atau setingkat dengan mata itu beberapa kali menjadi berita utama.

Perhatian kalangan ilmiah terhadap fenomena itu baru muncul setelah tahun 1963, ketika peneliti kesehatan Rusia melaporkan kasus Rosa Kuleshova. Dalam beberapa penelitian yang diawasi ketat, Rosa yang benar-benar tidak dapat melihat dapat membaca koran dan catatan lagu dengan ujung jari dan siku tangannya.

Penelitian terhadap Rosa membangkitkan minat dr. Richard P. Youtz, psikolog di Columbia University, New York City. Saking penasaran, ia melakukan sendiri beberapa tes. Kesimpulannya, Rosa dan yang lainnya adalah orang yang sensitif abnormal terhadap jumlah panas yang diserap oleh warna yang berbeda.

Membaca tanpa mata bisa dilakukan karena cetakan hitam menyerap lebih banyak panas dan terasa lebih hangat dibandingkan sekelilingnya yang putih, yang lebih efisien dalam memantulkan panas. Pertimbangan itu masuk akal untuk orang yang dapat “melihat” dengan ujung jari atau siku. Tetapi bagaimana dengan fenomena Kuda Bux yang dapat melihat benda tanpa menyentuhnya?

Bagi Budi Santoso Hadi Poernomo, pewaris dan guru besar PPS Betako Merpati Putih, fenomena seperti itu mudah dijelaskan menggunakan “ilmu getaran”. Ilmu yang mulai dikembangkan sejak 1970-an - 1987 ini sebenarnya metode pembinaan latihan pernapasan. Menurut generasi ke-11 dari Pangeran Prabu Amangkurat dari Kerajaan Mataram pada abad XVII di Kartosuro, Jawa Tengah, yang menciptakan betako Merpati Putih ini, dengan ilmu getaran seseorang akan mampu menangkap berbagai macam getaran dari benda apa pun, bahkan yang tidak tertangkap oleh kelima indera fisik. Misalnya, getaran otak atau makhluk halus.

Manfaat ilmu itu ialah untuk mendapatkan tenaga yang lebih kuat, terutama saat melaksanakan tugas yang dianggap tidak mungkin dilakukan dalam keadaan biasa. “Misalnya, dengan mata tertutup dan konsentrasi orang mampu menebak benda yang tersembunyi, atau menembak sasaran dengan tepat dari jarak jauh,” ujar Budi yang bersama kakaknya, Poerwoto Hadi Poernomo, mendirikan PPS Betako Merpati Putih pada 2 April 1963 di Yogyakarta.

Sumber :http://www.indomedia.com/Intisari/1999/Mei/melihat.htm
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: sedyaleksana on 14/12/2007 18:26
Saya pernah mendengar bahwa mas Suko (skr Romo Hadi), pendiri THS-THM adalah saudara seperguruan mas Budi & mas Pung, dan beliau juga ikut mendirikan MP. Pertanyaan ini saya lemparkan ke THS-THM dan dijawab, memang mereka bersaudara dgn MP, hal ini bisa juga dilihat dr gerakan silat/istilah dan ilmu pernapasan bahwa memang ada persamaan yg tdk bisa dipungkiri. (lihat posting THS-THM).
Hanya kalau melihat sejarah MP, kok tdk disebut2 ya. Makanya saya coba tanya lagi langsung ke anak2 MP.
Salam
Chandrasa
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: aircadas on 18/12/2007 21:09

Saya kok agak pesimis bila anak2 MP mau share disini, mengapa??? karena di dalam  milisnya sendiri banyak anggota MP yang membuat aturan bahwa untuk pembahasan ATP dll hanya khusus MP Saja.

Padahal apapun namanya ATP adalah ilmu yang sangat umum kok, di perguruan seperti KATEDA hal ini sama saja. jadi tidak adalah yang harus di rahasikan kalo hanya untuk kesaktian sih sayang banget loh.

MP yang rata2 anggotanya adalah pemuda berwawasan tinggi, kenapa kok sama ilmu pelitnya bukan main ( lagi2 ini saya baca di milisnya MP loh, mereka sendiri yang tulis kalo masalah ke Ilmuan silahkan gabung di Milis khusus anggota MP) jadi kapan dong silat mulai maju, dan saya tahu ini adalah rahasia perguruan. dan sayangnya kita juga tahu jamannya susahnya MP dahulu.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 26/12/2007 14:18
Padahal apapun namanya ATP adalah ilmu yang sangat umum kok, di perguruan seperti KATEDA hal ini sama saja. jadi tidak adalah yang harus di rahasikan kalo hanya untuk kesaktian sih sayang banget loh.
Hal biasa kalau dirahasiakan khan pamornya bisa naik. Sebaliknya sesuatu yang luar biasa kalau jadi konsumsi publik ya jadi barang biasa saja. ;D

Contoh riilnya Mercy type C230 yg dipakai untuk taxi di jakarta. Coba siapa yg masih bangga naik Mercy di Jakarta?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: EricB on 26/12/2007 14:36
disini Taxi semaua adalah Mercy

hayoo pindah ke Belanda :P
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 26/12/2007 15:05
@kang Eric memang top [top]

BTW kalau di Holland taxi umum pakai Mecry, apakah ATP MP sudah banyak didiskusikan juga? :D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: EricB on 26/12/2007 15:44
kebetulan hari ini saya berangkat ke Den-Haag ke temam saya, yaitu Mas Supriyono ketua MP disini

saya akan diskusikan ATP dan mampir dulu ATM :P
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 26/12/2007 15:55
Ditunggu oleh-oleh diskusi ATP nya kang eric. :D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Priyono on 26/12/2007 23:15
Informasi tentang ATP dapat kang Java peroleh dari url di bawah ini :
 
http://en.wikipedia.org/wiki/Adenosine_triphosphate

Kang Eric ada di tempat saya...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: EricB on 27/12/2007 04:46
@ Kang Java,

saya cerita panjang tentang ATP dengan mas Supriyono
tenyata anda harus menstudi halaman internet yang di atas ini dulu,
supaya mengerti betul² apa sebetulnya ATP
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: adi_sa35 on 27/12/2007 11:00
[quote ]
Saya kok agak pesimis bila anak2 MP mau share disini, mengapa??? karena di dalam  milisnya sendiri banyak anggota MP yang membuat aturan bahwa untuk pembahasan ATP dll hanya khusus MP Saja.

Padahal apapun namanya ATP adalah ilmu yang sangat umum kok, di perguruan seperti KATEDA hal ini sama saja. jadi tidak adalah yang harus di rahasikan kalo hanya untuk kesaktian sih sayang banget loh....
[/quote]

dulu sempat bergabung merpati putih seingat saya pelatih di kolat memang jarang membicarakan detail keilmuan kecuali apa yang dilatihkan (enggak tahu kalau yang tingkatnya sudah tinggi dulu cuma 1 tahun), tahu beberapa hal soal ilmu-ilmu MP dan guru besarnya justru jauh setelah keluar itu pun ada hasil acara bergosip hehehe :D.
 
yang paling diingat sampai sekarang acara pembajaan nya habis pembajaan biasanya muridnya selalu berkurang, awalnya yang seangkatan hampir 100
habis pembajaan pertama untuk bisa menggunakan baju latihan (polos) langsung hampir 1/2  hilang, berikutnya setelah ujian hilang juga
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 27/12/2007 11:43
Informasi tentang ATP dapat kang Java peroleh dari url di bawah ini :
http://en.wikipedia.org/wiki/Adenosine_triphosphate
Kang Eric ada di tempat saya...
@mas Supriyono
Terima kasih atas info link ATP.
Jujur saja sangant susah memahami bahasa kimiawi ATP dalam web tsb. Sekiranya berkenan bisa dijelaskan secara umum metode latihan MP dalam konteks mensimulir ATP kapanpun dibutuhkan.

BTW beberapa minggu lalu saya baca artikel di Kompas ttg kiprah mas Supriyono mengembangkan MP di Holland. Top, tetap semangat. [top]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Java on 27/12/2007 11:50
saya cerita panjang tentang ATP dengan mas Supriyono
tenyata anda harus menstudi halaman internet yang di atas ini dulu,
supaya mengerti betul² apa sebetulnya ATP
@kang Eric
Saya pusing baca ATP meski dalam bahas Indonesia apalagi English version. :D

Ngomong-ngomong, apakah metode latihan pernafasan MP ada kesamaan prinsip dengan yang kang Eric latih di PS Padjadjaran?

salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Elang on 09/01/2008 16:19

Di Padjadjaran pernafasannya tidak di ajarkan kepada murid yang baru. biasanya yg sudah asisten pelatih. Modelnya pasti sama dengan pernafasan lainnya. yg beda saya rasa tradisinya saja. mungkin kang Eric Bisa Lanjut...

Note : sayang betul Thread MP ini sepi dari anak MP itu sendiri, apakah anak MP masih se Exlusive seperti dahulu, segalanya harus tertutup??? dan di tutupi?? ( Maaf kalo saya salah dan Mohon di ralat)



Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: dsbasuki on 09/01/2008 16:38
Note : sayang betul Thread MP ini sepi dari anak MP itu sendiri, apakah anak MP masih se Exlusive seperti dahulu, segalanya harus tertutup??? dan di tutupi?? ( Maaf kalo saya salah dan Mohon di ralat)
Salam...
Bisa jadi, memang ga ada anak MP lagi nongkrong di warung SahabatSilat.com. Bisa jadi juga, mereka pada semedi semuanya. Bisa jadi juga, mereka adalah pendengar (baca: pembaca) obrolan ngalor-ngidul kita-kita ini.

Ayo pesilat MP... Ngobrol duooong.... Rame nih warungnya....

Salam...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: srdananjaya on 09/01/2008 16:54
Salam..
kalo memang ga ada, kita undang aja.. kirim undangan ke guestbooknya website MP, gmn..?
kynya bagiannya mas moderator nih ...
silahken...

 [run]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 09/01/2008 17:20
salam semua,

mengenai MP dan ATP-nya sebenarnya tak ada yang ditutup-tutupi, beberapa anggota forum ini malah berlatar belakang MP yang boleh dibilang udah karatan, kalo gak salah ada yang tingkatan khusus II (khusus kaki), sewaktu dia aktif terakhir 10 tahun lalu.  

pembahasan ATP terkesan tidak terbantahkan di MP karena para pesilat MP, tidak memiliki referensi padanan lain untuk pernapasan (menurut saya) selain karena di MP studi banding dengan perguruan lain  tak pernah dilakukan.

Yang akan membuat kita bingung adalah banyak dari anggota-nya hanya mengiyakan rumusan pernapasan yang katanya menggunakan ATP. Apalagi untuk di tingkatan D1, D2, B1, B2  bahkan kombinasi 1 belumlah diperbolehkan menyampaikan riset pribadinya mengenai pernapasan karena dianggap masih terlalu hijau tentang ilmu ini, padahal di MP adalah salah satu perguruan paling lama masa pelatihannya. Bayangkan aja D1 dan D2 antara 1/2 sampai 1 tahun, B1 dan B2 1 tahun, untuk B2 ada pengabdian...(dulu 1 tahun jadi asisten pelatih) baru naek ke K1... jadi untuk Kombinasi 1 (K1) sekitar -/+ 4-5 tahun masih dikatakan baru memasuki "gerbang" keilmuan MP, nah kalo begitu berapa tahun untuk pembahasan "mumpuni"nya ilmu? kapan risetnya personalnya?

Tapi coba bahasnya dengan master Taichi, Chikung, yoga atau reiki yang sejenis yang memiliki pedoman dan panduan yang sudah seribu tahun lebih...pasti rame.

salam hangat :),


one
(pernah belajar dan aktif di MP)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Elang on 15/01/2008 23:43
@one
Akhirnya ada anggota MP kolat BBM turun juga neeh heheheheheeee, betul juga sih kang One, mungkin bukan di Tutupi masalah ATP ini, mungkin krn kurangnya Informasi yang bisa di cerna oleh otak kita ini hehehehe

@dsbasuki
Ada banyak mas anggota MP kok, terutama di milis silatindonesia, kutang... eh kurang lebih 20an ada kali..., bang Nizam Al Jamjami juga salah satu anggota MP yang di tuakan ( paling tua) hehehehe...

Karena banyak anggota MP yang hanya menjadi pembaca saja maka saya cross posting dengan milisnya MP


Hasyim wrote:

Salam perguruan,

Nah.. bagaimana kalau kita mulai dengan sharing tentang ATP.

Dalam literature selalu disebutkan adanya tenaga extra yang timbul akibat latihan pernafasan ala MP.

Dimana ATP akan pecah menjadi ADP + energi dan bahkan menjadi AMP + energi.

Pertanyaan yang selalu mengganggu benak saya adalah :

Bagaimana memastikan bahwa latihan pernafasan yang kita lakukan telah benar sehingga timbul tenaga ATP tersebut…?  ( Bukan dengan pemukulan benda keras ya… )

Maaf jika pertanyaannya agak ndeso…

U’ul

MPJUnior


rekan MP semua,

Maaf ikutan nimbrung nih,

Kalau boleh sampaikan masukan ttg perntanyaan Mas U,ul dibawah sbb:

Bagaimana memastikan bahwa latihan pernafasan yang kita lakukan telah benar sehingga timbul tenaga ATP tersebut…?  ( Bukan dengan pemukulan benda keras ya… )
Oke, saya sudah berlatih (katakan bertahun-tahun) lalu apa indicator bahwa saya sudah naik ke level berikutnya…? Apakah ada break down nya sehingga terlihat jelas, bahwa latihan pengolahan saya sudah tahap 1, 2, 3 atau A, B, dll..?
Selama ini kita sudah diuji hasil latihannya dng:  1.Uji coba, 2. UKT,

Dimana dlm kedua event tersebut ada bbrp tes yg harus dilalui peserta. Saya rasa itu sudah mewakili sebagian dari cara utk mengetahui sampai dimana hasil yg sudah diperoleh peserta latihan. (Ada uji gerak, bela diri/ fight, power, stamina, tutup mata—salah satu dari aspek metafisik). Jadi batasan jelas anda sudah mampu di tahap/ tingkat di MP ya lewat ujian. Setahu saya saat ini dua kegiatan tersebut yg bisa jadi wahana uji hasil latihan peserta. Penyempurnaan metode ujian tentu para sesepuh perguruan ini sudah lebih memahaminya, namun tidak menutup kemungkinan bila ada masukan dari rekan-rekan demi perbaikan mutu.          Bila ingin lebih lengkap parameter yg diujikan, anda bisa minta langsung ke senior atau sesepuh perguruan biar dites selengkap mungkin, tentunya ada syarat/ lelaku yg harus dipenuhi utk itu, utk jelasnya bisa langsung menghadap ke yang berwenang J

Satu karakter yg unik dari ilmu MP adalah pesertanya tdk merasakan bhw dirinya sebenarnya sudah punya kemampuan lebih dari yg lain, tahunya kalo sudah diuji baik sengaja (UKT) maupun tdk sengaja (keadaan terpaksa, terdesak oleh keperluan, diminta bantuan org lain, bertemu dg org yg mampu metafisik, dsb), rekan2 pasti banyak pengalaman yg unik ttg ini. Maaf silahkan sharing di japri saja, jgn sampai nanti malah ada yg salah sangka dikira pamer ilmu, hehe,…

Utk bisa makin tanggap dg situasi/ keperluan kita perlu penghayatan akan nafas, meditasi, dan tehnik pengarahan diri lainnya (detilnya bisa ditanyakan di langsung ke para senior), kesadaran/ kepekaan akan kemampuan ini adalah kesadaran bhw kita “bisa dan telah diperbolehkan oleh Tuhan dan alam utk bertindak demi satu kepentingan/ tujuan tertentu jadi bukan sepenuhnya percaya bahwa kemampuan ini adalah dari “saya tetapi ini adalah kehendak dari “saya+alam+Tuhan = (baru boleh utk) bertindak/ aplikasikan ilmu MP

Ada bbrp parameter/ hasil yg bisa dipakai utk mengukur hasil latihan MP antara lain (maaf kalo kurang lengkap):

Power/ tenaga dng tes kemampuan mematahkan benda keras (antara lain: jumlah benda, tingkat kesulitan pemukulan, tingkat kekerasan benda, kecepatan, ketepatan pukulan)
Aspek Bela diri : bisa dilihat dari kemampuan bela diri peserta baik dari :efektifitas teknik, daya rusak(penghancur—identik dg power diatas) dan daya tahan (kebal), keindahan gerak, dll (pasti anda banyak yg lebih paham dg aspek ini)
Kemampuan metafisik: dg melihat kemampuan dlm deteksi benda (tutup mata), penyembuhan, kepekaan terhadap sinyal dari alam dan Tuhan, ketepatan dlm penyelesaian berbagai masalah dg spontan dll
Peningkatan kematangan diri (ini agak subyektif sifatnya krn melibatkan tingkat penerimaan orang lain thd kepribadian si peserta latihan): peningkatannya bisa dilihat dg apakah dng segala kemampuan hasil latihan yg dicapai si peserta latihan jadi makin mampu bersikap bertindak dg tepat dimana efek dan hasil tindakannya tsb adalah sesuai dg prinsip/ nilai2 kebenaran yg universal: misal : bijaksana, kejujuran, welas asih, tdk sombong,  dll. (nilai kebenaran universal disini adalah perilaku/ sifat yg bisa dditerima oleh semua orang tanpa batasan kelas/ kelompok)
Sebenarnya pertanyaan tentang ATP tersebut bermula dari keprihatinan anggota terhadap perkembangan MP sekaligus dari rasa kagum rekan saya dengan kehebatan MP pada tahun 90-an, dimana banyak atraksi heboh dan spektakuler di zamannya yang dilakukan oleh anggota MP seperti pemukulan benda keras, getaran deteksi & halang rintang, pengobatan, dll.Namun dengan semakin menjamurnya perguruan, perkumpulan dan personal yang non-MP yang ternyata juga bisa melakukan hal tersebut diatas, maka rekan saya bertanya :

·        apakah mereka meniru teknik nafas MP ? atau

·         ada cara lain yang mungkin lebih cepat, lebih hebat dibanding teknik nafas MP…?

Bukan bermaksud untuk tidak percaya dengan teknik ATP atau hal negatif lainnya terhadap MP, namun terbersit dalam pikiran, apakah ini adalah salah satu alasan  faktor kemunduran MP selama ini…?                                                           

Ada bbrp kemungkinan kenapa makin banyak org/ pihak lain yg punya kemampuan mirip dng MP:

Mereka sama2 belajar mengembangkan potensi diri dan alam bisa saja ada teknik berbeda namun hasilnya ada yg mirip: Misal lihat Karate Kyo Kushin, Kungfu Shaolin, mereka juga mampu mematahkan benda dlm jumlah tertentu, di National Geografi bahkan pernah ditayangkan sesorang mampu mematahkan puluhan beton cor dg punggung sikunya dlm posisi tegak/ labil. 
Ada ilmu MP yg bocor keluar entah darimana L, ke pihak lain sehingga dimanfaatkan utk menambah kemampuan mereka.
Bbrp kemungkinan kemunduran MP bisa jadi a.l.karena : (mohon maaf kalau salah ya,… J) salah satunya adalah:                                                                                                         

Orientasi kita akan pemanfaatan kelebihan/ kemampuan di MP, apakah selaras dng harapan para pendahulu kita, juga selaras dng Tuhan dan Alam? Atau lebih kepada pribadi? Krn motivasi diri dlm mempelajari MP sangat beragam, sesuai keinginan pribadi masing-masing, masalahnya seberapa besar prosentase yg selaras dng para pendahulu, Alam dan Tuhan dng yg demi kepentingan pribadi,… mari kita menelisik dng jujur ke diri masing-masing. Perbedaan orientasi ini vital sekali, krn akan mempengaruhi kita mulai dari cara berlatih, melatih org lain, mengaplikasikannya, berkiprah di dalam perguruannya dst.  Wajar saja tak ada yg sempurna di dunia ini, namun utk lestarinya satu budaya atau metode adalah dng menjaga kesempurnaan pelaksanaannya dan pemanfaatanya.
Perlakukan/ adab kita terhadap ilmu MP sendiri, mungkin secara tak sadar sebagai titah/ makhluk tentu kita jauh dari sempurna, kadang ada lupanya, secara tdk sadar kita telah menggunakan ilmu/ kemampuan yg dimiliki dng kurang benar. Kita menganggap ilmu MP adalah sebagai alat semata demi memenuhi kepentingan diri sendiri. Darimana-kah sebenarnya segala ilmu ini? Bila di-urut tentu dari pada akhirnya adalah dari Sang Pencipta (Tuhan), bila sudah terbukti keunggulan baik metodenya maupun hasilnya, apakah kita akan menganggap/ gunakan ilmu MP sebagai alat saja? Tentu ini bukan bermaksud utk menyuruh kita menyembah ilmu MP, namun kiranya kita perlu belajar lebih keras lagi utk dapat menemukan hasil yg prima, dan agar kita ditunjukkan cara menghargai anugrahNYA dng sebaik-baiknya.
Asumsi publik terhadap MP, saat ini mayoritas orang lebih suka hasil yg instan terkait dng metode, waktu, dan dana. Sedangkan di MP kan butuh tenaga, waktu dan biaya (dirangkum dlm mersudi),  Well,siapa yg tdk suka hasil yg cepat terlihat dibanding proses yg makan waktu, tenaga dan biaya. Namun utk hasil yg prima tentu saja akan lebih kualitasnya bila melalui proses dibanding jalan pintas. Lebih bagus mana samurai yg jadi lewat ditempa, dibakar, diasah berulangkali dibanding dng logam yg di-press dan di-bubut? Semua berpulang pada pribadi masing-masing.
Apakah tidak ada distorsi informasi tentang teknik pernafasan pengolahan yang benar…? (Sikap tubuh, Pacul, Muka Sapi, Niat, dll)
Sering terlihat ada kecenderungan tiap pelatih memberikan informasi / materi sesuai dengan gaya mereka sendiri (terutama yang berhasil dalam satu atraksi dan sudah punya “nama”)..
Kenyataan bahwa tidak semua anggota / pelatih yang sudah mahir , MAMPU untuk menjelaskan dengan pendekatan ilmiah kepada anggota lain / muridnya.
Ada trend kultus individu, dimana seorang pelatih yang “sakti” mempunyai murid yang mampu beratraksi hanya jika sang pelatih mendampinginya.  L sehingga faktor sugesti yang lebih berperan.
Pakem MP tidak terjaga dengan baik, terbukti hanya beberapa anggota tingkat khusus yang bisa membedakan mana ilmu MP murni dan mana yang serapan atau aplikasi dari anggota. (Mana pukulan jarak jauh atau pukulan mentalin orang..?)
 Rekan saya pun semakin bingung dengan materi pengolahan ‘halus’ yang diharapkan bisa ‘mengangkat’ energi dari rongga bawah perut dengan ‘membayangkan’ atau ‘berimajinasi’ atau ‘berkhayal’ energi yang keluar bisa menggerakan / mengangkat tangan dengan kekejangan dari ‘dalam’.  “/J L|”                                                                                                           

Nah, bagaimana cara mencari senior yang bisa mengarahkan dengan benar..? bukan senior yang aktif buka kolat “basah”, trus kalo udah “kering” ditinggal untuk cari lahan basah lain…..? :-/
Terjadinya distorsi penyampaian tata nafas sangat mungkin terjadi, krn orang pasti ada saja yg kurang dlm pemahaman dan cara penyampaiannya. Namun seberapa besar distorsinya hendaknya tetaplah dijaga agar tdk terlalu jauh apalagi sampai membelokkan pemahaman. Utk itu banyak-banyaklah berlatih pada para senior dan sesepuh perguruan, coba ambil benang merahnya dan manfaatkan dng benar. Utk tahu senior yg bisa mengarahkan dg benar, bisa dng banyak bergaul dg MP-ers, pasti ada banyak yg mampu membimbing anda. Ini juga bagian dari mersudi (mencari sampai dapat org yg dimaksud haha,…).

Berdasarkan pernyataan Mas Dono tentang group yang ngos-ngosan, apakah ada rekan-rekan atau senior yang saat latihan pengolahan :

setelah buang nafas tidak ngos-ngosan dan
malah “nagih” untuk terus nahan nafas. (sensasi extasié).
dan waktu maksimal (bukan minimal) sekitar 50-60 detik….? (dihitung sejak tarik nafas pertama)
setelah latihan, badan terasa segar
timbul aliran tenaga (zat baru yang sangat aktif) yang berlipat-lipat dalam tubuh dan tak tertahankan.
setelah latihan, timbul rasa lapar yang luar biasa melebihi kuli panggul di tg priok… :-]
tidak cepat lelah, mudah untuk tidur.
Saya kira jika ini ada, maka mungkin inilah indikasi terjadinya transformasi ATP dalam tubuh kita menjadi energi yang meledak-ledak. ( Baru teori loooh )….

Lanjutttttttttt.................. ;D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Elang on 15/01/2008 23:59
Lanjutan.............

Dalam latihan setahu saya saat ini yg terjadi dlm latihan yg baik sbb:

Tahap penyampaian teori terdiri dari bentuk,cara nafas, hitungan dan metode penghayatan.
 Praktek dng pengarahan penuh dari pelatih
Tes hasil latihan bila diperlukan.
Setelah bbrp kali sesi latihan peserta akan menjadi mampu menyesuaikan tenaga, nafas, tubuhnya, dan kontrol diri/ menghayati dan merasakan apa yg sedang terjadi saat olah nafas, bahkan kadang ada gejala yg terjadi di luar latihan krn interaksi dg alam dan org lain. Disini perlu konsultasi dng pelatih agar terjadi pemahaman yg baik ttg latihan yg dijalani. Ini tdk melulu ttg gejala/ hasil fisik semata, namun juga efek psikologis yg terjadi, ini penting agar peserta tdk menjadi kurang kontrol dirinya sehingga terjadi perubahan negatif dlm kepribadinya, atau hasil yg diperoleh menyimpang dr yg diharapkan krn kesalahan penghayatan walau teknik nafasnya benar.
Gejala tubuh yg dialami setelah latihan akan berbeda-beda tergantung karakter dari materi yg sedang di-latihkan. Apakah api, air, angin.

Hasil latihan yg sempurna dlm MP (maaf ini opini pribadi lho) sebaiknya adalah : mampu secara fisik/ kasat mata, metafisknya ok, namun kepribadiannya juga bisa diterima banyak orang, namun jangan kemudian menjadi pribadi yg eksklusif krn itu akan menutup potensi pengembangan diri kita yg bisa didapat dari asah,asih dan asuh dng org lain, alam dan Tuhan tentunya.

Rekan MP semua,                                                                                                                                                                                                                                                  Mohon maaf demi terjaganya kualitas latihan, juga agar ilmu MP tdk jatuh ke tangan yg kurang bertanggung jawab, diskusi ke-ilmuan MP sebaiknya dibatasi di hal yg umum, misal gejala, efek samping dan hal yg teoritis, utk penjelasan yg spesifik ttg teknik nafas, bela diri adalah ibarat pusaka atau aji-nya org MP, jadi mohon bila ingin lebih jauh mendalami lebih baik / afdhol orang bilang dengan datang langsung ke pelatih / senior yg berwenang dan berlatihlah se-jauh yg kita mampu. Dan saya rasa memang dengan berguru langsung ke orangnya-lah etika berguru yg baik, baik penghargaan kita terhadap ilmu yg akan dipelajari, juga terhadap perguruan ini.

Mas Admin mohon ini menjadi perhatian ya, Pasti deh, ada saja dari kita yg bersedia mengarahkan rekan yg ingin memperdalam ilmu MP dng baik dan benar kepada sumber yg baik.

Maaf numpang diperkenalkan yg di-cc dlm email ini adalah bbrp anggota dan senior MP Cabang Tembagapura, Mas Admin please di-invite ya.

Terima kasih, Salam Perguruan,

Arif
----------------


Salam perguruan,

Terima kasih untuk mbak Tree_masketir, mas Lasetiyo dan mas Dono atas tanggapan yang sangat berharga.

 Sebenarnya pertanyaan tentang ATP tersebut bermula dari keprihatinan anggota terhadap perkembangan MP sekaligus dari rasa kagum rekan saya dengan kehebatan MP pada tahun 90-an, dimana banyak atraksi heboh dan spektakuler di zamannya yang dilakukan oleh anggota MP seperti pemukulan benda keras, getaran deteksi & halang rintang, pengobatan, dll.

 Dalam literatur MP serta majalah MP (saat itu) juga dijelaskan tentang kehebatan ATP yang digunakan oleh MP dan dipaparkan oleh Ir Surato dari BPPT.

Namun dengan semakin menjamurnya perguruan, perkumpulan dan personal yang non-MP yang ternyata juga bisa melakukan hal tersebut diatas, maka rekan saya bertanya :

-          apakah mereka meniru teknik nafas MP ? atau

-          ada cara lain yang mungkin lebih cepat, lebih hebat dibanding teknik nafas MP…?

Bukan bermaksud untuk tidak percaya dengan teknik ATP atau hal negatif lainnya terhadap MP, namun terbersit dalam pikiran, apakah ini adalah salah satu alasan  faktor kemunduran MP selama ini…?                                                           Dimana teknik pernafasan yang selama ini kita olah dan bina ternyata “salah” tanpa kita sadari.                                  Saya sering melihat latihan pengolahan yang “santai” dengan jeda waktu yang relative agak lama dan stabil. Ternyata jika kita ikut latihan dari Guru Besar (seperti di TMII ) maka akan terlihat adanya faktor timing waktu istirahat yang berbeda dan kelihatan sedikit  “menyiksa”. Karena belum hilang ngos-ngosan sudah harus buang nafas lagi J.

Dan saya yakin mereka yang gagal dalam pemukulan benda keras (contohnya) pasti tidak mengikuti timing istirahat yang ketat ala Mas Poeng. Hal diatas hanya satu dari sekian faktor materi latihan yang harus didokumentasikan dan disebarkan ke pelatih-pelatih lain ( Maaf kalo ini adalah resep rahasia MP).

Nah, yang saya maksud adalah dengan latihan pernafasan pengolahan yang telah kita lakukan bertahun-tahun dan turun temurun dari pelatih A ke B sampai  .. Z , maka :

Apakah tidak ada distorsi informasi tentang teknik pernafasan pengolahan yang benar…? (Sikap tubuh, Pacul, Muka Sapi, Niat, dll)
Sering terlihat ada kecenderungan tiap pelatih memberikan informasi / materi sesuai dengan gaya mereka sendiri (terutama yang berhasil dalam satu atraksi dan sudah punya “nama”)..
Kenyataan bahwa tidak semua anggota / pelatih yang sudah mahir , MAMPU untuk menjelaskan dengan pendekatan ilmiah kepada anggota lain / muridnya.
Ada trend kultus individu, dimana seorang pelatih yang “sakti” mempunyai murid yang mampu beratraksi hanya jika sang pelatih mendampinginya.  L sehingga faktor sugesti yang lebih berperan.
Pakem MP tidak terjaga dengan baik, terbukti hanya beberapa anggota tingkat khusus yang bisa membedakan mana ilmu MP murni dan mana yang serapan atau aplikasi dari anggota. (Mana pukulan jarak jauh atau pukulan mentalin orang..?)
 Rekan saya pun semakin bingung dengan materi pengolahan ‘halus’ yang diharapkan bisa ‘mengangkat’ energi dari rongga bawah perut dengan ‘membayangkan’ atau ‘berimajinasi’ atau ‘berkhayal’ energi yang keluar bisa menggerakan / mengangkat tangan dengan kekejangan dari ‘dalam’.  “/J L|”

Mohon maaf jika ini adalah ‘resep’ atau ‘simpanan’ MP yang tidak boleh di-expose.

Karena pertanyaan ini pun adalah hasil dari ‘mersudi’ nya anggota terhadap ilmu MP, yang mana saya yakin bahwa makin banyak ilmu yang keluar, maka akan banyak pula ilmu yang akan masuk…

Seperti wejangan mas Poeng pada Penataran Cibubur 1994: Ilmu yang anda tuntut akan menuntut anda….

Mungkin atinya jika kita ingin MP menjadi lebih besar lagi, maka dibutuhkan pengorbanan yang juga besar. Dst,………..(lihat attachment)

Kembali ke ATP,

Mas Dono mengatakan :

 Ø      Indikasi latihan kita menghasilkan ATP selain dengan
> mukul benda keras, adalah rasa ekstasi (nikmat yang
> luar biasa) YANG harus dibingkai dengan bintal.
> Tentu saja kalau mampu mengecek dengan hasil
> laboratorium akan lebih baik.

Ø       Saya jelasi dikit. Hasil latihannya pengolahan misalnya,
terindikasi dengan rasa nikmat yang luar biasa.

 Wah nikmat nya seperti nenggak pil koplo ya mas..? Kalo yang belum pernah bagaimana….? Apa harus dicoba…? ;-) ( just kidding).

Nikmat itu sendiri kelihatannya subjektif sifatnya.

Trus hasil lab, kira-kira apa yang harus diperiksa nich …?

Masalahnya, bagaimana mencapai perasaan nikmat itu,
selama ini kan yang ada seringnya ngos-ngosan sehabis
disuruh angkat barbel, apalagi kalau disuruh pengolahan
dengan nafas halus. Processnya ya harus berlatih, berlatih,
dan berlatih sampai bisa mencapai itu.

Oke, saya sudah berlatih (katakan bertahun-tahun) lalu apa indicator bahwa saya sudah naik ke level berikutnya…?                                                                                                Apakah ada break down nya sehingga terlihat jelas, bahwa latihan pengolahan saya sudah tahap 1, 2, 3 atau A, B, dll..?
Nah hal ini setelah mencapai level itu pun tetap harus
dibina dengan bintal. Harus diarahkan ke arah yang benar.

Disitulah peran ngobrol2 ke senior dan teman seangkatan
penting.
Nah, bagaimana cara mencari senior yang bisa mengarahkan dengan benar..? bukan senior yang aktif buka kolat “basah”, trus kalo udah “kering” ditinggal untuk cari lahan basah lain…..? :-/

Maaf kalau jawabannyamasih abstract. Karena memang diskusi2
seperti ini cenderung abstract, dan bisa dipahami oleh
yang sudah berpengalaman. Saya sendiri masih dalam grup
yang "ngos-ngos"an kalau pengolahan. ^_^
Tapi bukan berarti ilmu MP itu abstract-kan mas…?

Saya kira alm Guru Besar selalu berusaha untuk mengilmiahkan yang masih abstract. Untuk itu beliau mengajak anggota MP dan simpatisan yang master atau doctor dalam ilmu pengetahuannya untuk dapat lebih mengembangkan keilmuan MP lagi…

Nah berarti ada grup yang tidak ngos-ngosan kalau pengolahan ya mas Dono….?  ;=O

> Power untuk memukul benda keras itu adalah hanya
> sekedar efek samping dari hasil lain. Tujuan utamanya
> itu sendiri adalah latihan yang berkesinambungan,
> control terhadap diri sendiri, dan control terhadap
> alam. Mari kita artikan secara luas terhadap 2 point
> terakhir, control terhadap diri sendiri, dan control
> dan terhadap alam/lingkungan.
>
> --> Makanya segitia pribadi itu penting sendiri
> dimantapkan sebelum maju ke segitiga alam (bumi dan
> angkasa).
>

Setuju mas…, tapi mohon di share donk pengalaman senior yang sudah mantap segitiga nya.

> Terutama untuk tingkat Kombinasi satu ke atas, jangan
> lupakan adanya diskusi dengan teman seangkatan dan
> tentunya konsultasi ke senior/pelatihnya. Tanpa itu,
> latihan pernafasan MP bisa membuat anggota "tersesat".
> So, hati-hati untuk yang latihan sendiri ya.
>
> Sebetulnya ada juga pembedaan hasil latihan segitiga
> pribdai, bumi, dan angkata. Saya tulis lain kali,
> karena sekarang udah ngantuk. Hehehe.
>

Ditunggu tulisan nya mas...

BTW, udah ketemu NONG-nya mas…?

> Salam,
> Danardono
>

 Kembali ke LAPTOP, eh ATP.

 Berdasarkan pernyataan Mas Dono tentang group yang ngos-ngosan, apakah ada rekan-rekan atau senior yang saat latihan pengolahan :

setelah buang nafas tidak ngos-ngosan dan
malah “nagih” untuk terus nahan nafas. (sensasi extasié).
dan waktu maksimal (bukan minimal) sekitar 50-60 detik….? (dihitung sejak tarik nafas pertama)
setelah latihan, badan terasa segar
timbul aliran tenaga (zat baru yang sangat aktif) yang berlipat-lipat dalam tubuh dan tak tertahankan.
setelah latihan, timbul rasa lapar yang luar biasa melebihi kuli panggul di tg priok… :-]
tidak cepat lelah, mudah untuk tidur.
 Saya kira jika ini ada, maka mungkin inilah indikasi terjadinya transformasi ATP dalam tubuh kita menjadi energi yang meledak-ledak. ( Baru teori loooh )….

 Kalimat yang mungkin sering kita dengar dalam tiap literatur MP adalah :

Ketika nafas ditahan, akan terjadi kekurangan zat asam. Ketika ini berlangsung, timbul zat baru yang sangat aktif untuk mempercepat pengulangan peristiwa kimiawi tersebut.
Zat ini dikenal sebagai ATP (Adenosin Triphosphate) yang besarnya lima kali lipat dari tenaga yang dihasilkan peristiwa oksidasi itu sendiri.
 Dan ini ada sedikit hasil mersudi di dunia maya tentang ATP versi MP….

Merpati Putih adalah Perguruan Pencak Silat yang ilmiah, tidak ada mantra dan klenik. Semua realitas dan logis. Kemampuan pesilat Merpati Putih mematahkan benda-benda keras seperti kikir, baja, gagang pompa, pipa beton, dsb. didapat dari zat yang disebut Adenose Triposphat (ATP).

Setiap saat kita melakukan suatu kegiatan yang tidak kita sadari yaitu bernapas. Menghirup napas bisa dikatakan sebagai usaha membersihkan paru-paru. Peristiwa pernapasan melibatkan oksigen (zat asam), sehingga terjadilah peristiwa kimiawi yang disebut oksidasi dan menimbulkan panas atau energi.

Dalam teori listrik, kekurangan satu elektron dari satu atom akan menimbulkan gaya listrik. Ketika kita menghirup napas yang kemudian ditahan, akan terjadi pula kekurangan zat asam. Pada saat berlangsung kekurangan ini, timbul suatu zat baru yang sangat aktif untuk membantu mempercepat pengulangan peristiwa kimiawi tadi. Zat ini dikenal sebagai Adenose Triposphat atau disingkat ATP. Tenaga yang ditimbulkan ATP ini adalah 5 kali tenaga yang dihasilkan oleh peristiwa oksidasi itu sendiri.

Untuk mendapatkan ATP diperlukan syarat-syarat, seperti penegangan otot, kemudian digabungkan dengan kemampuan psikis dan biologis. Kalau proses oksidasi terus berulang dengan cepat maka akan timbul getaran. Getaran bisa ditingkatkan frequensinya bila kita mengenal ciri-cirinya.
Teknik getaran inilah yang dimanfaatkan Merpati Putih untuk memecahkan benda-benda keras seperti balok es, batang pompa dragon, beton cor, kikir atau per mobil.

Dengan mengirim getaran lewat tangan, kaki atau kepala akan mempengaruhi susunan molekul pada benda yang akan dipatahkan. Pada saat molekul pada garis yang kita jadikan sasaran itu berada dalam keadaan labil, maka sasaran itu kita hantam. Jadi yang terpenting disini bukan kekuatan tetapi momentum pukulan.

Dengan alat yang disebut osciloscope telah berhasil dideteksi lima macam getaran yang ada pada murid Merpati Putih. Sedangkan menurut Dewan Guru masih ada getaran keenam, tetapi masih dalam taraf pengujian. Apakah getaran keenam ini merupakan "Senjata Pamungkas" dari MP kita tunggu saja kiprah Merpati Putih lebih lanjut.

Note :

Mohon maaf jika ada perkataan yang menyenggol di hati....  Mari kita serahkan MP ke tangan yang ahlinya…. J

sumber :
Milis merpatiputih@yahoogroups.com
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 27/03/2008 20:57
aduh kok MP gak ada yang bahas ya? sok atuh anggota MP share disini...

kita nanti kan kabagian tau...

bukankah "sumbangsihku tak berharga namun keikhlasanku nyata....?

salam

one
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: pendekar on 04/05/2008 00:07
Iya kang One kok Sepi dari anak MP, padahal anggotanya paling banyak dari mahasiswa.

btw saya mo minta pendapat masalah ini

Quote
Sebenarnya pertanyaan tentang ATP tersebut bermula dari keprihatinan anggota terhadap perkembangan MP sekaligus dari rasa kagum rekan saya dengan kehebatan MP pada tahun 90-an, dimana banyak atraksi heboh dan spektakuler di zamannya yang dilakukan oleh anggota MP seperti pemukulan benda keras, getaran deteksi & halang rintang, pengobatan, dll.

Apakah bener anggota th 90 sakti? sakti? artinya kang One dan Kong Nizam salah satu anggota yg udah sakti dong???

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 04/05/2008 11:36
Dalam bela diri, keilmuan itu mirip dengan sinar lampu....semakin dekat kita, maka semakin terang demikian juga jika semakin jauh kita maka akan semakin redup.

Lingkar terluar dan terjauh mungkin saja akan lebih meredup. Tapi bukan jaminan kalau yang sekarang tidak sebagus dulu, mungkin saja belum diketemukan metodenya untuk bisa jauh lebih baik.

Sakti mah jauh buat saya....orang saya mah masih bisa sakit  ;D

salam,


one
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Raya on 05/05/2008 07:48
Mas one,

untuk topik MP ini saya agak bingung, karena bila dilihat dari materi yang dibahas tentang ATP dan getaran. saya rasa wajar bila orang MP tidak membuka rahasia. karena di perguruan lain pun kalau ditanya soal pernafasan belum tentu mau jawab.
teknik fisik mudah ditiru, teknik nafas lebih sulit ditiru (dulu saya menganggap teknik dalam tidak bisa ditiru, tapi kebetulan pernah bertemu orang yang menggagalkan teori saya yang cupu ini).

kalau boleh saya mau berkenalan dengan mas one.

thx

Raya
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 05/05/2008 08:28
biarlah thread ini bergulir....

Pembahasan ATP bisa dibahas siapa saja, kita tunggu saja....

senang berkenalan dengan anda

salam

one
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: EricB on 05/05/2008 10:57
Betul kita harus tunggu saja.

Saya tahu bahwa ada berapa orang MP sudah member disini, mereka juga cukup jam terbang untuk bisa memberi input yang luas



duduk dulu dan nongkrong, sambil menunggu ;)
Title: Teknik Getaran
Post by: pastorbonus on 10/05/2008 12:01
Salam silat semua...

Mumpung di MP ni... ayo donk dishare teknik getarannya... cuman mau bandingin tekniknya MP yg hebat ni dgn apa yg dah pernah ta latih (siapa tau teknikku ada yg kurang) ato dengan teknik getarannya Krida Yudha Sinalika...

Ilmu itu khan untuk kemanusiaan palagi ilmu getaran khan terbukti banyak membantu manusia dan tidak ditujukan untuk "merusak".

Lanjut akang... :o
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 13/05/2008 18:54
kayaknya lebih baik kita "mengundang dan membiarkan" para juragan di MP sendiri yang membahas elmunya......kalo kita yang ngebahas, takuta ade salah kate, ntar bukannya silaturahmi yang kite dapet malah silat raga yang jadi... :D :D :D

ayo mas, mbak di MP...ditunggu, monggo... 8) 8)

salam


one
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Aguswin on 29/05/2008 13:37
Mohon informasi contact person PPS Betako Merpati Putih di Kota Batam. Kalau ada, tolong diinfokan via email kepada saya ke agus@perisaidiri.cjb.net
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: atenkkkkk on 29/06/2008 07:53
hai, nubie di sini nih gue..

gw juga anak MP kok hehe masih baru banged (baru D2)

itu ada yang post klo lama mo ukt di MP emang bener kok, gw aja yang ke D2 aturan 6bln jadi 1tahun, hehehe, trus juga klo mo ke kombi1 jg harus ada pengabdian. klo dah masalah getaran dll, gw lom sampe deh, hehehe
cuma bisa ngasih yang enteng2 aje gue



thx
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 30/06/2008 20:39
selamat datang buat mas dan met gabung.........

meski kita banyak yang berbeda perguruan dan aliran namun kita tetap menjaga tali silaturahmi. Beberapa member forum ini malah ada yang khusus II karatan (karena UKT nya sekitar 10 taon lalu), kita harapkan pembahasan MP dikemukakan oleh anggota MP sendiri (kalo bisa yang masih aktif...) agar semua seluk beluknya jauuuh lebih gamblang.

salam,


one  :)
MP Bdg angkatan XIII-92 Gudut Rabu-Minggu sore
MP Jaktim Halim PK (aktif 93-2000)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mahesajenar on 22/08/2008 16:47
Kulo Nuwun...

Setelah baca-baca thread ini dari A-Z rupa2nya banyak anggota MP yang masih "Mersudi" Mas dan Mbak semua, jadi yaa pasif saja.

Nuwun..  :-X
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 16/09/2008 00:55
ya udah deh, ane mulai deh, dulu waktu ujian di Lembang ane nanya ame senior di Bandung dan belon kejawab, pertama sebenernya lambang MP itu bulu sayap dan ekornya kok beda-beda gambarnya antara yang dibadge ama yang dipapan sekretariat, sebenernya berapa yang bener? eh malah diketawain dan gak dijawab, padahal menurut ane lambang itu perlu dan sangat harus seragam....trus siapa yang tau ya yang membuat desain lambang MP? keliatannya keren kan?! silahkan bagi anggota MP share di sini sekaligus memberikan info tentang perguruannya...


salam


one / seta dewangga
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: pusakane on 02/01/2009 15:53
Assalamualikum...
Punten ikutan ya...

ada tambahan dikit nih dari semua posting yang disampein, baik menenai MP atawa panjangnya PPS Betako Merpati Putih dan  ATP.

ATP sebenarnya merupakan bisa dibilang zat kimiabiologis yang ada di dalam cell, proses metabolisme tubuh tidak terlepas dari ATP itu sendiri, penguraian ATP -> ADP menghasilkan energi yang kita pake sehari-hari, proses ini terus berualang sehingga kita tetep idup :)... Selain terurai menjadi ADP, energi juga ada limbah (residu) dari proses yaitu Asam Laktat, makanya kalo kita sering kerja terus menerus timbul pegel, nah ini disebabkan asam laktat tersebut.
Asam laktat tersebut sebenarnya secara biasa kembali mengalami proses seperti diatas tetapi melalui proses yang cukup lama, melalui siklus metabolisme tubuh.

Mekanisme pernapasan yang ujung-ujungnya menimbulkan energi (bio energi-inner power) sebenarnya adalah upaya memperpendek siklus metabolisme terutama pada penguaraian asam laktat tadi, dan ini tidak terlepas dari Oksigen atau yang lebih dikenal lagi eter, dengan sedikit oksigen asam laktat akan semakin cepat berubah dan menghasilkan energi yang besar. Proses ini sama seperti reaksi berantainya reaktor atom... (makanya klo orang yang udah nguasain tenaga dalam kan tenaganya kayak bom atom).

Kata kuncinya kekejangan tubuh, sedikit oksigen, konsentrasi, tahan latihan, doa.

dari kata kunci tersebut itulah kenapa di MP dalam berlatih pernapasan ataupun gerak diperlukan kekejangan, dan olah pernapasannya memakai nafas tahan bukan tarik-buang seperti umumnya, meditasi untuk konsentrasi.

Untuk pematahan/pemecahan benda keras tidak terlepas dari teknik yang baik dan hasil olah metabolisme tadi, walau kita tau tekniknya tapi power yang kita punya biasa, berdasar pengalaman gak sukses tuh. (berdasar pengalaman saya loh..) hal ini terkait dengan kembali ke proses fisika momentum dan energi nya Newton.

Setiap benda terdiri dari unsur yang membangunya, sedikit dipersingkat Benda terdiri dari molekul-molekul yang kepadatannya tergantung jenis benda tersebut, benda padat molekulnya rapat, cair molekulnya sedikit renggang dan gas molekulnya sangat renggang. Kerapatan molekul tersebut jika dipanaskan akan merenggang atau ikatannya melemah.

energi yang dihasilkan oleh tubuh melalui proses metabolisme salah satunya energi panas, nah kalo bisa membuat energi panas yang tinggi sehingga bisa merenggangkan ikatan molekul tadi maka dengan teknik yang baik pula blok es tumpuk tujuh atau kikir rangkap 8
 dapat kita patahkan.

Kata kunci baru energi, panas, molekul.

sekian dulu ya..ntar disambung lagi...Mohon maaf kalo kalimatnya buat yang baca rada puyeng abis bukan tukang tulis... :) dan mohon maaf kalo apa yang saya utarakan salah...
Satu lagi merpati putih bukan untuk kalangan elite tapi untuk berguna bagi masyarakat sesuai amanat Sang Guru.

"Mersudi patitising tindak, pusakane titising hening"

Wassalam...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 04/01/2009 18:23
makasih atas penjelasannya mas,


ATP sebenarnya merupakan bisa dibilang zat kimiabiologis yang ada di dalam cell, proses metabolisme tubuh tidak terlepas dari ATP itu sendiri, penguraian ATP -> ADP menghasilkan energi yang kita pake sehari-hari, proses ini terus berualang sehingga kita tetep idup :)...

ada yang saya tanyakan ulang mengenai ATP yang terurai menjadi ADP menghasilkan energi...lalu energi yang dipakai untuk menjadikan dan proses penguraian ATP tersebut apa?

saya rasa menyamakan proses pernapasan tubuh dengan reaktor atom jauh centang perenang, penggunaan bahan reaksi pun berbeda, dapatkah menjelaskannya jauh lebih membumi? saya sendiri banyak belum mengerti proses di dalam tubuh apalagi mengenai reaksi berantai dari reaktor atom.


Setiap benda terdiri dari unsur yang membangunya, sedikit dipersingkat Benda terdiri dari molekul-molekul yang kepadatannya tergantung jenis benda tersebut, benda padat molekulnya rapat, cair molekulnya sedikit renggang dan gas molekulnya sangat renggang. Kerapatan molekul tersebut jika dipanaskan akan merenggang atau ikatannya melemah.

energi yang dihasilkan oleh tubuh melalui proses metabolisme salah satunya energi panas, nah kalo bisa membuat energi panas yang tinggi sehingga bisa merenggangkan ikatan molekul tadi maka dengan teknik yang baik pula blok es tumpuk tujuh atau kikir rangkap 8
 dapat kita patahkan.


pernyataan menarik mas, apakah energi panas tersebut yang mematahkan bendanya? Bukankah yang mematahkanya adalah energi gerak (tangan)? Jika energi panas tubuh dapat meregangkan ikatan molekul baik es balok maupun kikir, saya menanyakan kembali berapa derajat panas yang dikeluarkan tubuh untuk mencapai titik regang ikatan es yang merupakan ikatan hidrogen dan oksigen ? atau berapa derajat panas tubuh yang diperlukan untuk meregangkan ikatan besi (Fe) yang kita tahu titik didihnya sangat tinggi....? Bukankah tubuh derajat panasnya tak sampai 50 derajat celcius?

Kalau hanya energi panas tubuh yang diperlukan maka tak perlu memukul dong???

Kekejangan tubuh yang dimaksudpun saya rasa bukanlah kekejangan, karena tubuh yang kejang tak mungkin melakukan gerakan terkontrol....mungkin maksudnya adalah pengerasan sebagian anggota tubuh. Misalnya : pengerasan atau pengejangan bagian tertentu untuk memukul benda keras adalah tangan dari mulai ujung jari hingga bahu, namun tidak mengencangkan engsel bahu. Karena tak mungkin bergerak jika kita melakukan pengejangan atau pengerasan pada engsel bahu....silahkan dicoba,
salam,

one
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Kelik on 23/01/2009 09:48
udah kita gak usah ngributin masalah atp ato apalah, yang penting kita latihan dengan teratur, disiplin nafas haru kita jaga, karena seberapa lama kita kuat tahan nafas dengan mengencangkan semua bagian tubuh kalau kita tidak disiplin dalam arti kita kadang sedikit mencuri nafas ( karena kita sudah gak tahan menahan nafas lalu kita buang pelan - pelan lalu tarik lagi dengan sembunyi sembunyi dan tubuh kita juga kendor lalu kencang lagi) tiu hasilnya akan percuma, lebih baik nafas pendek tapi kita disiplin dan kuat menahan nafas serta tubuh kita semakin kencang selama tahan nafas pasti hadilnya akan lebih baik.
oh ya.... teman - teman dari MP ada yang sudah pernah latihan nafas GUPITA gak gimana rasanya...... crita pengalamannya dong......


Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: pusakane on 26/01/2009 03:54
salam....
waduh dapet tanggepan dari mas one nih...

bicara masalah atp ataupu metabolime sebenarnya materi ini ada di pelajaran kalo dulu saya dapetin waktu pelajaran biologi sma atau smp ya:(? atau lebih jelas masalah metabolime dapat dibaca di http://www.cptips.com/bscphys.htm lengkap tuh..

Kalo pertanyaannya apakah energi panas yang mematahkan benda rangkap 8, itu gak lepas dari gabungan energi potensial dan energi mekanik. sebenarnya jika dijelasin bakal panjang banget, energi panas hasil olah nafas yang baik dari disiplin latihan seperti kata mas kelik tidak salah bisa mendidihkan air bahkan mematahkan kikir kayak matahin lidi (sudah jadi rahasia umum di kalangan mp ada para senior sering "adu demo" kalo lagi ngumpul), ini sangat susah dibuktiin dijaman sekarang karena senior atau sepuh atau jawara yang sudah capai tahap ini jarang bahkan tidak mau mendemokannya. Balik ke poin diatas energi panas merenggangkan molekul benda pada bagian atas + energi mekanik dari kecepatan tangan memukul menghasilkan energi kinetik terus.. hingga energi tersebut mematahkan benda dan kembali kealam (cyrcle of energi) semua itu merupakan perpindahan energi (ini ilmu fisika dasar kok).

jadi pada intinya semua ilmu dasar (biologi, fisika, kimia) dapat menjelaskan hal ini, Meta fisika? jangan tanya saya  :)

Maaf Mas One jika penjelasan saya gak dapat diterima, saya pun masih mencari sampai mendapatkan. :)

Buat Mas Kelik, monggo duluan ceritaain pengalamannya..."disiplin nafas pada olah pernafasan sama kayak orang belajar ngaji, gak boleh maling nafas".

Itu dulu tanggepan dari saya, maaf bila tak berkenan...

Salam

"Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening"
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 26/01/2009 14:40
he he he selamat datang mas Kelik, ini mas Kelik dari Jaktim? berlatih terus menerus  [top] [top] [top]

pendapat kita berbeda merupakan hidupnya suatu diskusi....
energi panas  memang dapat memanaskan air dan meregangkan molekul logam, tapi dari panas tubuh....itu suatu yang harus diteliti jauh. karena sejauh ini panas tubuh mustahil meregangkan ikatan molekul pada logam. meski saya pernah melihat dalam "Rippley show" ada seorang sinshe dari Chikung yang dapat menaikkan suhu handuk basah ditangannya hingga menjadi panas....itupun bersentuhan alias dipegang lama bukan memukul....

jika energi panas tubuh yang dimaksud dalam pemukulan benda keras, saya berpendapat energi tersebut berguna melindungi otot tangan dari cidera. Dengan teknik pengejangan sebagian anggota badan dan di "dalam" anggota badan yang akan diarahkan berbenturan dengan benda keras tersebut dialiri energi guna melindungi cidera otot dan tulang maka pemukulan yang dilakukan akan berhasil tanpa cidera.

.....energi panas merenggangkan molekul benda pada bagian atas + energi mekanik dari kecepatan tangan memukul menghasilkan energi kinetik terus.. hingga energi tersebut mematahkan benda dan kembali kealam (cyrcle of energi) semua itu merupakan perpindahan energi (ini ilmu fisika dasar kok)....

energi panas meregangkan molekul bagian atas??

Bukankah benda tersebut tidak mengalami perubahan temperatur pada saat kita bersiap mau memukul? Bagaimana bisa meregang?? benda tersebut juga tidak pula mengalami perubahan bentuk ...bukankah yang akan memukul belum menyentuhnya? Dalam meregangnya suatu molekul benda biasanya disertai perubahan temperatur / suhu, perubahan bentuk atau volume.

Meregangnya logam (kikir misalnya) bahkan patahnya kikir saya berpendapat adalah hasil tumbukan antara tangan (energi kinetis) yang terlindung di dalamnya oleh energi panas tubuh dan otot juga tulang yang terlatih untuk berbenturan, bukan dari energi panas. Karena dalam latihan MP, sejak saat tingkat dasar dibiasakan "pisau" tangannya berbenturan dengan melatih memukul lantai. Ini menandakan bahwa untuk menghindari cidera pada otot dilakukan latihan menahan benturan secara bertahap. Dengan membiasakan diri mematahkan benda keras / memukul benda keras maka akan menjadikan badan terbiasa dengan benturan. Hal ini sama seperti yang pernah ditampilkan di tv mengenai daya tahan tubuh manusia yang dapat memecahkan benda keras bahkan menancapkan paku beton pada sebuah penggorengan teplon atau menggulung penggorengan tersebut dengan tangan. setelah diteliti ternyata susunan tulang yang terbiasa berbenturan berbeda dengan yang tidak alias lebih rapat, begitu juga dengan kekuatan ototnya. jadi energi panas tubuh adalah bagian pelindung tubuhnya. sementara untuk yang meregangkan bahkan mematahkan kikir adalah tetap kombinasi antara kekuatan bagian tubuh atau tangan yang memukul plus kecepatan serta ketepatan sasaran.

Jika kekuatan bagian tubuh (misalnya tangan) saja namun tidak disertai kecepatan dan ketepatan sasaran saya yakin tak akan sukses. jika kecepatan dan ketepatan saja dalam memukul maka andaikan dapat mematahkan, saya yakin akan terjadi cidera entah itu otot ataupun tulang. Faktor tersebutlah yang membuat suatu bentuk pemukulan sukses.

di sini tak ada menerima tau tidak menerima mas Pusakane...yang ada cuma berbeda pendapat. Suatu yang wajar jika berbeda, lha wong kita beda emak ama bapak kok!! Itu sah sah aja... :).

silahkan kemukakan pendapatnya, lha ini kan khusus untuk membahas MP......ini kan memang seharusnya orang MP lah yang berpendapat [top].

salam hangat,


one

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: samber gledek on 27/01/2009 08:05
Ini kalau juragan2 sudah diskusi pasti berat nich ..

Saya coba urun rembug sebatas pengetahuan saya.

Ada ungkapan dr china berbunyi" Dimana pikiran mengarah maka energi akan berkumpul disitu" . Latihan yang saya lihat di MP maupun beberapa perguruan lain juga memakai teknik pengejangan. Pada saat kita menahan napas dan melakukan pengejangan maka energi ini akan berkumpul di bagian yang mengejang.

Dengan latihan terus menerus maka energi ini akan melindungi otot maupun jaringan2 di bawah kulit. Disamping itu energi ini juga mengenergize otot kita sehingga memampukan kemampuan otot. Menurut penelitian otot kita ini bisa menahan beban hingga 400 kg. Artinya dengan di energize terus menerus maka kemampuan otot akan semakin besar.

Sehingga saya sependapat dengan kang one untuk taraf2 tertentu dimana dengan berlatih secara tekun maka energi yang melindungi jaringan dibawah kulit ditambah teknik pemukulan yang tepat dapat mematahkan benda maupun sekaligus juga melindungi kita otot maupun tulang dari cidera.

Cuma ada juga pertanyaan yang timbul dimana saya pernah melihat orang yang pernah mematahkan benda keras tanpa memakai awalan pukulan , hanya dengan di tempel dan disentak perlahan maka benda tersebut sd patah. Dan saya lihat tekmik mekanis disini sd tidak berlaku lagi.

Apakah ini bisa tercapai karena energi tadi atau ada hal2 yang lain? Mungkin ada teman2 dari MP yang bisa menjelaskan?

Sialhkan dilanjut diskusinya.. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 03/02/2009 21:21
terima kasih atas penjelasannya, Kang Samber Gledek [top] pasti nonton Metro TV atau National Geographic Chanel ya?!

mengenai melakukan pukulan tanpa awalan sebenarnya memiliki kesamaan prinsip dengan memukul dengan awalan dan jarak, teknik mekanis saya rasa tetap berlaku.

mengutip penyataan Kang Samber Gledek di atas "Dimana pikiran mengarah maka energi akan berkumpul disitu" sepengetahuan saya, bahwa memukul dengan awalan dan jarak adalah menjatuhkan "beban tangan" agar tertumbuk dengan jarak antara tangan dengan benda, dibarengi oleh power/energi yang telah terkumpul di telapak tangan pada bagian pisau tangan (misalnya). Biasanya terlihat dengan mengejangnya tangan

sementara memukul "tanpa awalan" adalah memukul dengan mempergunakan jarak antara tangan benda yang pendek atau tipis. Power/energi yang yang akan digunakan tidak langsung terkumpul pada telapak tangan namun di"tahan" terlebih dahulu di pangkal bahu ataupun di siku. Pada saat akan terjadi pemukulan maka jarak bukan lagi antara jarak telapak tangan dengan benda tapi "jarak antara bahu/siku ke benda" atau dengan beban power yang diturunkan dari bahu atau dari siku ang diturunkan dengan cepat, dan bagi yang terbiasa jarak sesiku atau sebahu ke benda cukup bisa mematahkan benda.

Hal ini dapat dibedakan dengan memukul dengan awalan yang biasanya kejang, memukul tanpa awalan biasanya tanpa pengejangan, karena "mengandalkan" mengalirnya power/energi sebagai jarak antara jika terjadi pengejangan terlebih dahulu maka berarti jarak antara bukan lagi bahu/siku tapi tangan ke benda.

dengan kata lain keduanya memiliki kesamaan prinsip dengan memindahkan jarak saja dan pola pengerahan tenaganya. Namun lain halnya jika tangan ditempelkan ke benda, badan kejang seluruhnya dan menekan benda tersebut patah....itu mungki baru tidak bisa dijelaskan

salam hangat :)


one
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: makdekipe on 04/02/2009 00:15
salam

mo tanya, trs kalo mukulnya milih gimana ya teorinya, misalnya dr 5 buah batu bata yg di tumpuk dia hanya milih bata no.3 aja yg pecah, maka setelah di "pukul" ternyata bata no.3 lah yg pecah, tanpa memecahnya tumpukan yg paling atas yg pecah, secara teori seharusnya bata pertamalah yg pecah. hal ini tidak berlaku dengan teori yg sudah di bahas sebelumnya, pls dong para "TD" er penjelasannya ...  :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: samber gledek on 04/02/2009 08:17
Mas Makdikipe,

Saya coba menjelaskan sepengetahuan saya. Salah seorang suhu saya bisa melakukan ini tapi saya koq belum bisa2 ya?

Energi tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Pada saat melakukan pemukulan dia konsentrasi di bata nomer 3 maka .Memakai istilah dimana pikiran kita tertuju maka disitulah tenaga mengumpul sehingga pada waktu dia memukul maka bata nomer 3 ini yang akan patah. Dan menurut saya disini hanya diperlukan hawa murni.

Sekitar tahun 90an saya pernah diundang acara pertemuan membahas tentang pembukaan energi mikrokosmik dengan seorang master dari taiwan.

PAda akhir sesi beliau meminta 5 orang berdiri berjejer sambil tangan ditaruh diatas pundak rekan didepannya . Kemudian beliau bertanya dari lima orang ini siapa yang ingin merasakan energi listriknya. Lalu kami sepakat nomor 3 yang hanya merasakan. Waktu itu yang timbul dipikiran saya apa bisa? Karena kalau nomor 3 kena tentunya nomor satu harus merasakan yang paling duluan.

Setelah kami siap beliau memegang tangan peserta nomor satu dan mulai memancarkan energinya. Ternyata betul hanya peserta nomor 3 yang bisa merasakan energi listrik tersebut. dan peserta lain tidak.

Dengan contoh diatas saya kira sama pada saat kita memukul bata dimana hanya nomor 3 yang bisa patah.

Yang menjadi pertanyaan saya apa disini hanya yang ada hawa murni saja?

Mungkin ada pendapat dari rekan lain?

Lanjut kang...

 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Kelik on 06/02/2009 21:27
salam

mo tanya, trs kalo mukulnya milih gimana ya teorinya, misalnya dr 5 buah batu bata yg di tumpuk dia hanya milih bata no.3 aja yg pecah, maka setelah di "pukul" ternyata bata no.3 lah yg pecah, tanpa memecahnya tumpukan yg paling atas yg pecah, secara teori seharusnya bata pertamalah yg pecah. hal ini tidak berlaku dengan teori yg sudah di bahas sebelumnya, pls dong para "TD" er penjelasannya ...  :)


saya sendiri juga pernah melihat pelatih saya melakukan pukulan terhadap batu bata yang ditaruh di dalam kaleng bekas cat, lalu kaleng itu dipukul tanpa tersentuh, dan batu bata yang didalam sudah dalam keadaan hancur, pernah beliau (Almarhum) memberi teknik olah nafas dan olah rasa-nya, yang intinya kita harus memfokuskan tenaga kita pada satu titik.
dalam olah nafas misalnya, ada bentuk senam nafas tertentu yang secara khusus dilatih terus menerus dengan menggunakan beban (bambu raut atau paving block), dimasing - masing beban (beban tangan kanan dan kiri) diikat dengan karet atau pentil, di ujung karet diberi gantungan jeruk kecil. setiap kali senam nafas semua tubuh kencang tapi gantungan jeruk tadi tidak boleh bergerak sedikitpun, itu salah satu teknik memfokuskan power dari pusat genta. dan masih banyak bentuk senam nafas dan olah konsentrasi tertentu yang secara rutin harus dilatih. memang latihannya sangat sulit, dari sekian lama dan sekian banyak dari kami yang dilatih baru satu anak yang berhasil menguasainya.

salam :-P
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Wahyu Taqwa on 16/04/2009 22:01
Gerakan Pernapasan MP Dibagi dua:
Sikap Pengolahan
Sikap Pembinaan
Sepanjang melakukan jurus banyak menggunakan tahan nafas, menurut saya, TD yang dibangkitkan berhawa panas dan dingin secara bersamaan


Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Wahyu Taqwa on 16/04/2009 22:08
Gerakan Pernapasan MP Dibagi dua:
Sikap Pengolahan
Sikap Pembinaan
Sepanjang melakukan jurus banyak menggunakan tahan nafas, menurut saya, TD yang dibangkitkan berhawa panas dan dingin secara bersamaan
gerakan yang pernah hapal:
garuda
garuda silang
garuda benteng
garuda tidur
garuda gantung
garuda terbang
dll
moyo seto
toto rogo
lupa lagi !!!


Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: samber gledek on 17/04/2009 11:31
Mas Wahyu anngota MP?

Beberapa waktu lalu teman saya mencari gendewa buat latiha pernapasan. Kalau di MP bisa dicari dimana?

Mohon infonya.

Salam

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Wahyu Taqwa on 17/05/2009 00:32
Mas Wahyu anngota MP?

Beberapa waktu lalu teman saya mencari gendewa buat latiha pernapasan. Kalau di MP bisa dicari dimana?

Mohon infonya.

Salam


bukan saya anggota LSBD HI murid kang dicky
cari gendewa? cari di sekre MP jg ada, temen saya mah pesen bareng2 satu angkatan hehehe praktis kata nya
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Taufan on 29/09/2010 15:29
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mumpung mas Suprapto dan mas Mpcrb sedang dolan2 di beberapa trit SS, bila berkenan mampir kesini dong mas... masih banyak pertanyaan dan misteri yg belum terjawab di trit ini tentang MP.  [top]

Wassalam,
TP
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/09/2010 16:29
Saya sendiri nyari thread ini tapi ngga nemu-nemu. Hehehe...

kalo dibanding sama mas Suprapto sih saya masih belum apa-apa kang. Masih tahap mersudi... :)

saya coba share sesuai kemampuan ya kang. Insya Allah ada manfaat.

(lagi baca-baca dulu dari page 1)

terima kasih.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/09/2010 16:38
Keliatannya banyak yang bicara mengenai getaran ya... :)

ini memang materi sensitif dan sekaligus yang paling menantang. Banyak yang berharap ada penjelasan ilmiah mengenai ini. Satu-satunya penjelasan resmi yang diberikan oleh MP adalah mengenai ledakan tenaga akibat dari efek kimia ATP. Itu saja. Tetapi itu juga tidak menjelaskan mengenai getaran itu sendiri.

Teori kemudian bermunculan. Dan kebetulan saya juga punya pemahaman sendiri yang semoga menjadi bahan wacana baru bagi rekan-rekan yang haus akan hubungannya keilmuan MP dengan science.

Saya mulai dari gambar berikut ini:

(http://i.livescience.com/images/070226_light_A_02.jpg)
(credit to: LiveScience.com)

Yang menarik adalah pada dua penjelasan terakhir:

-- Your brain, interprets the vibration information to mean 'blue'. --

-- your brain processes billions of signals per second. Other materials in the vase send color signals that your brain integrates with the blue. Various types of atoms communicate additional information, such as texture, specularity, and reflectivity.---

Disitu disebutkan oleh scientist istilah warna 'biru' (dengan menggunakan tanda kutip). Artinya bahwa 'biru' tidaklah biru seperti yang mata kita lihat. Warna 'biru' sesungguhnya adalah representasi energi dengan panjang gelombang tertentu yang mengenai atom dan diserap olehnya. Atom ini kemudian 'terlempar keluar' pada jalur energi yang lebih besar dan memancar dengan panjang gelombang yang sama. Panjang gelombang itu mengenai mata untuk kemudian otak kita menterjemahkan itu sebagai 'BIRU'.

Hal ini sangat sejalan dengan metode latihan getaran merpati putih (semoga berkah pahala untuk anggota Merpati Putih yang menemukan teknik getaran ini) dimana hal ini dipelajari pada getaran secara sistematis yakni:

- getaran pribadi (ini mutlak harus dikuasai dulu)
- halang rintang (deteksi obyek)
- deteksi jarak, volume, dan bentuk benda
- deteksi warna
- membaca

Melalui artikel tersebut, saya jadi mengerti mengapa MP mengajarkan materi 'getaran pribadi' sebelum masuk pada halang rintang, deteksi obyek, deteksi benda, volume dan jarak serta warna. Getaran pribadi ini hukumnya WAJIB dikuasai dulu. Awalnya saya manut-manut aja (karna ngga ngerti). Tetapi setelah membaca penjelasan Dr. William tersebut, ternyata tiap obyek memiliki atom-atom yang membentuk 'warna', 'bentuk', 'struktur', 'tekstur', dan 'karakteristik lain' dari obyek. Nantinya obyek tersebut akan 'dikenai' atau 'ditabrak' oleh gelombang dari tempat lain. 'Tabrakan' ini akan menimbulkan suatu efek fotolistrik dengan 'terlemparnya' foton.

Jadi 'getaran pribadi' pada MP tidak lain adalah bagaimana kita mengenali STRUKTUR ATOM tubuh kita sendiri untuk menemukan 'bentuk', 'warna', 'tekstur', 'struktur', dan 'karakteristik lain' pada tubuh kita! Dengan begitu, ketika ada energi yang lepas dari atom tubuh kita akibat pancaran energi dari dalam tubuh (yakni nafas). Ingat, hasil olah nafas pada MP menghasilkan energi akibat dari proses respirasi yang menbentuk senyawa kimiawi ATP (adenosin triphospat) menjadi ADP (adenosin dwiphospat) + sejumlah energi di dalam sel-sel mitokondria pada otot. Energi yang dihasilkan ini mengakibatkan tumbukan elektron pada struktur atom tubuh dan membuat elektron keluar dari jalur ikatannya dan naik pada tingkat energi ikatan yang lebih tinggi. Pada kondisi ini, terjadilah efek fotolistrik dimana ia akan mengeluarkan gelombang (foton) dengan panjang tertentu dan memancar keluar sedangkan elektron itu sendiri kembali ke tempatnya semula sehingga tidak terjadi perubahan struktur atom. Pancaran gelombang (foton) dari tubuh ini kemudian mengenai obyek diluar tubuh dan menimbulkan kembali efek yang sama pada obyek yang dikenainya. Pantulan dari obyek yang dikenai gelombang dari tubuh ini kemudian 'ditangkap' kembali oleh tubuh (bisa tangan, badan, atau apapun yang digunakan sebagai 'detektor') dan sinyal-sinyal ini kemudian dikirimkan ke otak untuk diterjemahkan sebagai 'sesuatu'.

Oleh karena kita sudah mengetahui 'getaran pribadi' dan menguasainya, maka tidak sulit bagi pesilat untuk mendeteksi foton yang dipancarkan oleh obyek diluar akibat 'tabrakan' dari pancaran foton si pesilat. Dan proses latihan 'getaran pribadi' yang mengharuskan pesilat menggunakan 'detektor' lain selain mata (bisa tangan, telapak, punggung tangan, atau apapun) menyebabkan otak dapat merespon adanya sinyal-sinyal foton dari luar (yang sebelumnya ditangkap oleh mata saja) melalui detektor tersebut dan menterjemahkannya.

But, again itu hanyalah hipotesis versi saya. Masing-masing orang mendapatkan pemahamannya sendiri mengenai getaran ini.

Semua orang mendapatkan besar kecilnya manfaat dari apa yang diketahuinya berdasarkan pengetahuannya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/09/2010 16:47
(lanjutan)

pada tahap tersebut, muncul gejala seperti pada remote sensing. Yakni kondisi pencitraan non visual (tidak menggunakan elemen optik tetapi menggunakan gelombang). Di dalam otak, gelombang yang diterima oleh pancaran getaran luar tubuh si pesilat kemudian diterjemahkan secara visual (sesuai teori remote sensing).

Pada konsep remote sensing, yang ditembakkan adalah gelombang dan yang dideteksi juga gelombang. Dan hasil pencitraan pada remote sensing ini sama persis dengan elemen optik.

Jadi singkatnya, di dalam tubuh praktisi getaran terjadi efek fotolistrik dengan keluarnya gelombang dari tubuhnya untuk kemudian mengenai obyek lain dan kemudian diterimanya kembali gelombang dari obyek luar dan ditangkap oleh detektor tubuh (bisa karena benturan gelombang dari dirinya atau bisa karena pancaran getaran yang kuat dari obyek itu sendiri) untuk kemudian diterjemahkan pada otak menggunakan teori remote sensing sehingga terbentuk pencitraan pada obyek.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/09/2010 02:24
Mohon maaf, sy sering berkunjung di thread2 sebelah,  malah blm mampir di sini. Nambah semangat ada mas mpcrb (sy PM kok blm respon).
Ada beberapa catatan, untuk sedikit klarifikasi :

1. Memang blm lama baru pada gabung di FDSS.

2. Tentang hubungan dengan mas Sukomartoyo(romo pastor Hadiwijoyo)/THS-THM, sudah saya sampaikan klarifikasi dari mas Pung melalui thread THS-THM.
Selain itu, meskipun program latihan THS-THM (termuat di threadnya) jauh berbeda dengan kurikulum MP, mungkin masih ada yg ragu kok ada senam pernafasan MP di beberapa cabang THS-THM. Saya pernah meredam gejolak di internal MP, ada pelatih MP (mas M Yb, Cijantung) yg melatih THS-THM di paroki sekitar Durensawit dan sekitar Priok. Ternyata disebabkan kesalah pahaman  menyikapi persahabatan mas Pung/mas Budi dengan mas Suko masa pra MP sampai sekarang. Sudah clear.

3. Kami mohon maaf pada saudara2 kami di KYS yg sempat merasa dirugikan, karena pernah mendengar ada beberapa anggota
MP yg mengasumsikan ada hubungan keilmuan KYS dengan MP.
Difahami ada salah pengertian SESAAT waktu itu (sekitar 1983-1986). Dimana mas Agus Suherman, Ketua MP Komda DKI merangkap Koordinator MP Wilayah I ( Jabar-DKI-Sumatera- Kalbar), yg diberi privelege untuk membantu mas Pung mentranskrip ilmu2 pamungkas (semacam Bayuseto, Kidang telangkat, Kere wojo dll 22 macam), begitu selesai tiba2 mengajukan pengunduran diri sesuai hak sbg warganegara. Kebetulan kalau pas ke Jkt, sy beberapa kali ikut mas Pung ke rmh mas Agus di Pondok Karya, mampang, dalam kegiatan mentranskrip tsb. Ketika mas Pung menunjukkan surat pengunduran diri mas Agus, atas pertanyaan sy, tegas2 mas Pung mengijinkan/mempersilahkan, tdk ada masalah. Asumsi anggota MP DKI, mas Agus mendirikan perguruan BARU di Trisakti, dengan promosi, apa yg didapat di MP selama 6 bulan, diperguruan mas Agus cukup 2 bulan. Situasi anggota kian memanas. Gejolak bisa diredam dengan penjelasan, bahwa KYS adalah perguruan lama yang berada di Wonosobo dengan keilmuan yg mapan dan punya sejarah panjang/lama, mas Agus Suherman hanya pendiri cabang pertama KYS, di universitas Trisakti, Jakarta, bukan pendiri perguruan baru. Clear, cuma mas Pung jadi ogah mentranskrip. Katanya sambil mau disaring dulu, mana2 yg SESUAI JAMAN aja.

Rejeki nomplok, atas ijin dan ancer2 terbatas dari mas Dimas (Mpu Anom Cakraningrat), beberapa hari lalu sy mencari tempat tetirah romo Mpu R. Samiadji Niti Yudho Negoro, pendiri KYS, yg sedang tetirah menjalani rawat jalan di Yogya.
Ketemu rumahnya, ditemui mbak Arum, adik mas Dimas. Karena beliau sudah masuk kamar, sy pamitan, yg penting sdh tahu tempatnya.
Tiba2 mb Arum ditimbali, sy diijinkan menemui beliau di kamarnya.
Terbaring seorang satrio pinandito tulen. Diwejang dari siang sampai sore, tidak terusik oleh badai besar/angin ribut yg melanda sekitarnya. Kadang lembut, kadang tertawa, kadang menggelegar. Luar biasa untuk seorang sesepuh yg berusia 97 th. Menegaskan bahwa ke 45 jurus KYS punya sejarah panjang sejak jaman Majapahit (meski penerusnya bersilsilah trah HB II), bagaimana beliau teteki, merenung di gisik pantai sampai Sapto argo Dieng, menegaskan ngelmu harus pakai laku. Jalankan dulu, kalau ketemu buntu baru tanya. Beliau mencontohkan, kalau saya tadi kesasar sasar terus putus asa, tidak jadi ketemu beliau.
Masalahnya sekarang, tidak bisa memaksa putro2 untuk menjalankan "laku" seperti yg beliau lakukan. SESUAI JAMANnya saja.

4. Mengenai teori ATP dsb, MP baru dengar pada tahun 1973.
Saat itu terjadi kontroversi ketika salah satu tim yg dipimpin jendral Mung Parhadimulyo, mencari beladiri pencaksilat untuk pasukan elit termasuk pengawal presiden, ingin membawa MP. Ada kelompok jendral yg menganggap klenik. Sebagai jalan tengah, Dephankam menggelar Operasi Seta I. Bertempat di AKABRI UDARA, dengan sampel para karbol/kadet udara, dibandingkan dengan latihan standar aerobik militer, bekerja sama dengan bagian Fisiologi, fak Kedokteran UGM, dipimpin oleh profesor doktor dr Ahmad Muhammad.
MP lolos positip, para ilmuwan menyodorkan hipotesa menuruti teori ATP, untuk teori pendekatan menjelaskan "ledakan energi" hasil latihan anaerobik/senam pernafasan MP.
Yg ingin sy tegaskan disini, teori ATP adalah upaya ilmuwan untuk menjelaskan pengolahan energi MP, bukannya  teknik pengolahan MP , disusun karena teori ATP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 30/09/2010 08:50
untuk point terakhir, benar sekali mas Suprapto. Itulah sebabnya saya selalu katakan pada mereka yang haus kaitan antara keilmuan MP dengan science bahwa MP belum pernah sekalipun secara resmi melakukan penelitian lanjutan selain daripada teori ATP tersebut.

benang merah antara science dengan getaran masih belum tertata rapi, meski mungkin disiplin ilmunya sudah tersedia.

Seiring dengan perkembangan, tentunya di kemudian hari akan ada anggota-anggota MP yang berlatar belakang pendidikan science (seperti saya) tergelitik untuk membuat hipotesa (sekali lagi ini hanya hipotesa dari sudut pandang berbeda, bukan penjelasan dari seorang ilmuwan sejati) dengan teori efek fotolistrik dan remote sensing. Karena menurut saya (ini menurut pribadi) teori itu dapat menjelaskan konsep dari getaran tutup mata, bukan getaran secara hakiki, tetapi lebih spesifik pada tutup mata (vibravision), karena inilah yang sering diperdebatkan dan dipertanyakan oleh masyarakat.

Masyarakat selalu menganggap getaran pada MP adalah getaran tutup mata (seperti halnya ada anggota pada forum KYS yang membandingkan bahwa getaran versi KYS jauh lebih hebat dibanding itu). Mungkin mereka hanya melihat getaran pada level tutup mata saja, tidak secara hakiki. Perbedaan cara melihat melahirkan perbedaan penafsiran.

Demikianlah seterusnya hingga nanti muncul lagi ada anggota MP yang berprofesi sebagai scientist untuk membuka gerbang cakrawala baru hubungan antara keilmuan MP dengan ilmu pengetahuan modern.

Pergeseran budaya, pergeseran pola pikir antar zaman, sungguh sudah berbeda. Kalau dulu, untuk membuktikan kesaktian seseorang maka ia diharuskan turun gunung untuk mengasah keilmuannya, bertarung melawan para penjahat, tetapi sekarang hal itu rasanya cukup sulit untuk dilakukan. Manusia sudah mulai memahami hakekat hidup dan perdamaian sehingga sisi aplikatif keilmuan seharusnya dapat digunakan untuk aspek kemanusiaan. Inilah mungkin yang membuat demonstrasi 'kesaktian' sering mendapat kesan negatif karena dianggap kurang realistis pada era teknologi dan informasi ini, dianggap hoax, atau bahkan dianggap pembodohan masyarakat. Tingkat pemikiran dan realisme zaman sekarang kurang bisa menerima hal-hal seperti itu. Disinilah tantangan MP untuk bisa masuk pada era dimana pemikiran dan realisme berada di tengah-tengah kita.

Meski demikian, yang terbaik adalah melatihkan pada diri sendiri, merasakan sendiri, dan mengamalkannya sebatas kemampuan kepada masyarakat umum. Cukuplah diri sendiri sebagai buktinya, dan Tuhan sebagai saksinya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/09/2010 13:23
Betul mas mpcrb.
"SESUAI JAMAN" bisa diimplementasikan pada berbagai aspek.

1. Penyesuaian/pengembangan keilmuan kearah manfaat yg lebih luas. Dari pemberatan hanya pada kanuragan, ada yg dikonversikan kepada manfaat lain. Tanpa memperhatikan manfaat lain yg sepatutnya bisa dilakukan, pelan2 pencaksilat bisa  ditinggalkan masyarakat.

2. Peningkatan/penyesuaian metoda latihan termasuk "laku" tertentu, dengan kondisi dan pemahaman masyarakat jaman sekarang (dalam aspek aqidah/aspek spiritual, aspek medis, aspek science, aspek resiko/keselamatan dsb), tanpa kehilangan makna pakem hakekat keilmuannya.

3. Scientific examination terhadap metoda latihan MP.

Penelitian pada Operasi Seta I (1973) membuka jalan untuk melatih militer, sekaligus dimanfaatkan untuk menepis vonis "klenik" guna pengembangan ke masyarakat luas.

Sukses yg memakan biaya besar dalam ujicoba pelatihan massal di beberapa daerah secara simultan tentang pelatihan peningkatan  OM (orientasi dan mobilitas) penyandang tunanetra dengan teknik getaran/"vibravision",  LUPA mem "build in" para penelti dalam program kerjanya.
Sehingga sekarang, lembaga donor u kegiatan kemanusiaan, kesulitan memberi partisipasi dana, karena tiada/kurangnya scientific examination.

BTW, belum lama, salah seorang "ajudan" mas Pung, yaitu mas Teuku Amir Hamzah, khusus II, menemukan metoda latihan untuk tunanetra buta total. Dalam data awal menunjukkan hasil luar biasa. Sy ingatkan u merancang, agar dari awal melibatkan peneliti ilmiah. Sehingga efisien dan tidak sia sia. Mas Pung menyatakan, metoda tsb murni temuan pribadi mas Amir. Saat ini mas Amir sibuk menyusun rancangan2 pengelolaannya.

4. Dalam melakukan bantuan penyembuhan pasien , akan lebih efisien apabila memungkinkan, praktisi MP terlebih dulu konsultasi dgn dokter yg merawat, mendengarkan diagnosanya dan apa yg diharapkannya.
Apakah hanya perlu penguatan umum, perlu menenangkan organ yg hiperaktip, perlu memperkuat/membantu vitalitas organ yg lemah, melokalisir penyebaran anasir tertentu dsb....
Dilain pihak bisa saja praktisi  menyampaikan hasil deteksi, dengan cara dan sikap yang tetap menghormati dokter yg merawat sebagai penanggung jawab terhadap kesembuhan pasien.

  Kesimpulannya, kerja sama memanfaatkan science adalah keniscayaan, musti terjadi. Terus menerus dilakukan.
Sejauh belum ada titik temu, ya dijalankan paralel. Setidaknya mendapat analogi dgn  teori yg sudah terbukti.
Begitu ada titik temu, langsung bisa saling isi, asah dan asuh. Hehehe.....

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 30/09/2010 15:26
Zaman yang membentuk perbedaan pemikiran inilah yang pada akhirnya menghasilkan sudut pandang 'dunia persilatan' yang berbeda. Di zaman sekarang, urusan 'kesaktian' sudah mulai beralih pada teknologi, sudah mulai dipercayakan pada teknologi. Semakin mutakhir teknologi, maka semakin dianggap 'sakti' penggunanya.

Sebagai contoh, tanpa belajar getaran, cukup dengan menggunakan alat ini:

(http://i.livescience.com/images/060109_military_hears_02.jpg)

maka seseorang sudah dapat 'melihat' tembus pandang melewati benda. Artinya, kalau ia menggunakan alat ini, maka ia akan menjadi lebih 'sakti'.

Lucunya, terkadang apabila ada individu yang mampu melakukan itu, seringkali dianggap hoax dan tipu-tipu. :)

Jika ada orang yang menggunakan alat itu dan mengatakan bahwa ia bisa melihat obyek di belakang benda, maka orang percaya dan tidak mempermasalahkan. Tetapi kalau pesilat MP dengan getaran tutup mata bisa melakukan hal yang sama, maka akan dianggap hoax. Ini paradox pemikiran. Masyarakat (dengan kecanggihan teknologi) mulai menganggap sepele hal-hal seperti itu, dianggap sebagai aksi tipu-tipu dan kemustahilan. Padahal dalam MP, hal itu sangat mungkin.

Ketika seseorang menggunakan meriam untuk menghancurkan dinding suatu rumah, yang melihat percaya dan tidak mempermasalahkan. Akan tetapi ketika MP menggunakan bayu seto untuk menghancurkan dinding yang sama, pasti langsung dicemooh dan dianggap tipu-tipu. :) Begitulah kondisi real di lapangan. Ketergantungan terhadap teknologi mulai menggeser arti dari 'kesaktian'. 'Kesaktian' itu sudah lewat masanya, sekarang saatnya 'kesaktian' diberikan pada teknologi-teknologi.

Ketika RADAR digunakan untuk mendeteksi benda dalam radius tertentu, orang tidak permasalahkan. Tetapi ketika MP mampu mendeteksi benda, narkoba, dan sebagainya, dianggap hal yang tidak lazim. :) Begitulah pergeseran sudah mulai dirasakan.

Ketika orang menggunakan mesin untuk membuat sepatu yang dapat melambungkan pemakainya hingga beberapa meter, orang tidak mempermasalahkan. Tetapi ketika seorang MP mampu melakukan hal yang sama pasti akan dianggap hoax. :) hehehe

Jadi, memang benar, apabila keilmuan tradisional yang berdasar pada 'teknologi' olahrasa masa lampau apabila ingin diterima di zaman sekarang maka harus diparalelkan dengan science. Jika tidak bisa diambil sebab musababnya, maka dievaluasi dari prosesnya. Jika masih sulit juga, maka dievaluasi efek dari hasil akhirnya. Hal ini seperti pada Discovery Channel yang membahas gerakan pamungkas dari beberapa beladiri terkenal. Yang dibahas oleh para scientist adalah efek dari hasil akhirnya. Setidaknya, masyarakat bisa menerima karena 'orang sakti'-nya sudah bicara. Siapa orang sakti zaman sekarang? Yakni para scientist. Selama belum ada bukti dari para scientist, maka masih dianggap klenik.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 30/09/2010 15:51
Hal ini tidak lantas menjadikan MP harus mengilmiahkan segala hal mengenai keilmuannya, atau memaksakan mengilmiahkan segalanya. Ada area-area yang mungkin memang cukup sulit untuk dibabar, tetapi jalan keluar tetap saja pasti ada. Tetapi karena MP masih eksis di zaman teknologi modern ini, maka sedikit banyak mulai dimunculkan benang merah antara keilmuan MP dengan science. Suka atau tidak suka hal ini harus mulai dilakukan dan disosialisasikan pada setiap penataran pelatih nasional dan cabang sebagai tambahan dari sisi aspek pengetahuan modern. Hal ini akan membuat kesan klenik menjadi hilang dengan sendirinya (wong memang ngga ada klenik kok, hanya butuh cara dan penjelasan dari orang 'sakti' yakni scientist saja sebenernya).

Kreativitas-kreativitas cabang digali, dirumuskan teori dan bukti-bukti keberhasilannya, lalu secara paralel dianalisa oleh ilmuwan. Memang cukup rumit pada tahapan awal (karena belum terbiasa), apalagi biasanya kaidah-kaidah empiris menuntut penjelasan gamblang dari topik yang ingin dibahas yang seringnya penjelasan gamblang ini sangat sensitif (karena pelit pada keilmuan).

Sebagai contoh, banyak orang yang memiliki hipotesis masing-masing mengenai teori pematahan benda keras, tetapi apabila sudah melewati alat ukur, alat uji, berdasarkan kaidah-kaidah empiris, tentunya teori yang dimunculkan kemudian akan sangat menolong untuk membuka wawasan di dalam aspek pematahan benda keras untuk siapapun. Bagaimana dari mulai tubuh mulai menghimpun getaran, bagaimana kinerja otak, kinerja otot, syaraf, wujud aura,dsb, sebenernya sudah bisa diukur dengan alat-alat modern hingga pada tahap akhir pematahan itu sendiri. Berapa KG tekanannya, berapa gaya yang harus dibutuhkan, dan sebagainya.

Jika selama ini MP selalu mengatakan tidak adanya unsur klenik di dalam latihannya, maka sudah saatnya kita tunjukkan pada dunia bahwa selain tidak adanya unsur klenik, keilmuan MP juga dianalisis secara modern oleh scientist.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/09/2010 17:47
Ada masalah juga.

1. Pendekatan teori science masih terus berkembang. Yang ada, masih belum sepenuhnya menjelaskan. Jadi sebaiknya berdampingan, paralel.
2. Menjelaskan dgn teori science pada saat untuk dan akan melakukan latihan, bisa membuat penghayatan makin baik, tapi bisa juga membuat melenceng dari tujuan. Konsentrasinya bisa berbeda. Bisa berakhir dengan hasil yg kurang memuaskan.
Apalagi kalau yg dilatih memang bukan logika, tetapi rasa dan seluruh tubuh.
Jangankan membayangkan dgn teori science, terlalu berpikir tentang tahap2 yang akan dicapai saja, bisa menimbulkan hambatan.
Makanya ada metoda latihan, lakukan dulu suatu bentuk latihan dengan benar dan sungguh2. Kalau ada kemajuan (timbul efek tertentu), baru diberi petunjuk lebih lanjut....

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 30/09/2010 22:34
maksud pemikiran saya memang bukan meng-science-kan segalanya mas. Tetapi memang dibuat berdampingan, paralel sebagaimana point pertama yang mas tekankan.

Keilmuan ya tetap jalan sebagaimana mestinya, tetapi secara paralel diluangkan waktu untuk dianalisa, agar bisa masuk pada zaman sekarang. Hasilnya, bukan lantas menggantikan teori sebelumnya (saya sebut saja tradisional) tetapi sebagai pelengkap, penunjang informasi saja, lebih seperti tambahan pengetahuan.

Jadi di dalam pengajarannya tetaplah menggunakan teknik yang sudah baku dan sudah banyak menghasilkan keberhasilan nyata.

Kenyataannya, demo-demo MP (dan juga perguruan lain) yang menunjukkan 'kesaktian' lebih banyak dipermasalahkan oleh masyarakat (meski tidak semua). Mungkin dalam hal ini, apabila bisa disandingkan dengan pengetahuan tambahan maka sedikit banyak akan lebih membantu kenapa hal itu bisa terjadi dan bahwa peragaan seperti itu sangat mungkin dilakukan oleh manusia.

maaf kalau pendapat saya agak keluar dari pakem mas ;) maklum, tipikal anak muda yang sedang punya gairah tinggi untuk menimba ilmu. Terkadang, dengan keluar dari kotak, kita bisa lebih lepas dan obyektif melihat keadaan. Tanpa sedikitpun bermaksud menggurui ataupun menganggap diri sendiri paling hebat.

saya masih menunggu petuah-petuah dari para senior dan sesepuh...

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/09/2010 23:26
Setuju, memang tidak keluar dari pakem.
Penjelasan ilmiah terutama untuk menambah "bahasa" komunikasi dengan pihak luar, serta untuk referensi litbang/dewan guru.
Untuk anggota ditempat latihan, tetap memakai terminologi standar perguruan.
Temuan keilmuan/pengalaman yg spesifik dari anggota dicabang cabang, termasuk menemukan artikel/jurnal ilmiah yg terkait, dikirim ke dewan guru untuk ditindak lanjuti. Minimal kan bisa temu konsultasi pas acara tahunan tradisi MP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Mantrijeron14 on 01/10/2010 08:09
Mangstabh...  [top]

Kehadiran mas Suprapto dan mpcrb menambah warna forum SS yang sejenak sempet hybernate :). Dari ulasan dan bahasa tutur yang dewasa, dalam, runtut namun tegas dalam isi jelas mencerminkan kedalaman pribadi. Ane cuman bisa kirim GRP buat mas berdua.... ^:)^ KOP _ keep on posting!!

Back to the screen... hehehe.. menurut ane penilaian awam / publik bahwa pencaksilat bergerak di tubir klenik dan sekitarnya adalah karena penggunaan metoda immateri. Kalopun jagat non material meniko bisa di jangkau dengan monitor atau segala peralatan display nyang mutakhir.. kecurigaan berikutnya masih akan berlanjut... bagaimana pengolahannya??? Pengolahan tenaga/ daya linuwih yang tidak/ belum bisa dijelaskan/ dimonitor secara elmiyah tentu berdampak menambah akutnya skeptis awam dalam masyarakat yang sudah kadung mengedepankan logika. Dus usaha pencarian logika ilmiah ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena beladiri adalah hal yang sangat mendukung penghapusan pencitraan negatif klenik tsb.

 Masalahnye adalah jikalao tak satupun metoda elmiyah saat ini yg bisa menjelasken semua fenomena non materi dari pencaksilat: tenaga dalem misalnye (selama ini bekutat bahwa tenaga dalam ada tapi gak selalu berhasil dalam segala situasi, kalo ilmu eksakta ndak bisa begini, kalo saya sudah memenuhi parameter A dan mencapai sekian jam waktu latihan dan parameter laen ceteris paribus ya harus dapet!!).... apakah kalangan pengamalnya mau berkontemplasi untuk melihat kembali ke dalam dirinya masing-masing.... darimana sebenarnya "the force" itu berasal?? Perlu kebesaran jiwa, pembebasan dari kefanatikan beladiri bahkan perguruan dan melepaskan kelebihan yang sudah dipunya untuk sekedar menjadi ordinary lagi....  (note: TD hanya ilustrasi, mohon trit tdk dibawa membahas TD)

Lanjut mas...

wassalam,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/10/2010 09:14
maturnuwun kang mantri atas GRP-nya.  [top]

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya bahwa science bisa jadi belum bisa seutuhnya menterjemahkan 'kesaktian' Pencak Silat. Akan tetapi pasti ada area yang bisa dievaluasi. Jika tidak bisa dievaluasi dari sebab musababnya, maka dievaluasi dari prosesnya. Jika masih sulit juga, maka dievaluasi efek dari hasil akhirnya. Saya rasa dari ketiga bagian ini salah satunya (atau bisa jadi malah semuanya) dapat menjelaskan fenomena 'kesaktian' pada beladiri.

Contoh, ketika seseorang sedang menghimpun energi, saya yakin pasti terjadi perubahan proses dalam tubuhnya seperti proses kimiawi, metabolisme, aura, dsb. Terjadi hal-hal diluar kondisi normal. Dan tentunya hal ini sudah pasti bisa di deteksi oleh ilmu pengetahuan. Science tidak musti harus bisa menjelaskan bagaimana tenaga itu mengalir, darimana tenaga itu berasal, bagaimana tenaga itu diolah atau mengolah. Bisa jadi karena teknologinya belum nyampe, tetapi science saya yakin bisa menjelaskan perubahan pada tubuh akibat terhimpunnya energi oleh praktisi beladiri. Setiap pengerahan energi pasti ada efek samping pada tubuh pelakunya (kecuali metafisika). Jadi, dalam konteks ini kita bisa melihat efek yang ditimbulkan, bukan dari proses.

Kenapa ketika getaran dialirkan pada telapak tangan untuk melakukan pemukulan terjadi rasa kebas, seolah menebal, hangat, dan bahkan bisa diubah menjadi panas, keras tapi ringan. Apakah ini hanya 'rasa' pada otak kita saja (secara immateri), atau memang tangan kita benar-benar panas dan kebas (secara materi)? Tanpa alat ukur dan alat uji, kita masih masuk pada kondisi immateri. Jika getaran (atau TD, atau prana, chi, ki, dan sejenisnya) adalah immateri, lalu kenapa ia bisa berefek pada materi? Jadi pasti terjadi 'sesuatu' pada materi yang dialiri oleh tenaga ini.

Kenapa hampir semua sepakat bahwa dewi ular, solar plexus, dan tien, titik pusat (atau istilah sejenisnya), sering digunakan sebagai pusat tenaga. Apa yang terjadia disana ketika energi dimunculkan dari situ? Sensasinya umumnya adalah munculnya rasa hangat, panas membara. Dengan science tentunya bisa dideteksi dengan alat uji panas atau alat uji gelombang pada titik tersebut dengan menempelkan alat pada titik tersebut. Memang tidak bisa mengungkap darimana tenaga itu muncul, tetapi bisa mengungkap efek dari akibat munculnya tenaga.

Seorang praktisi getaran MP, ketika mendemonstrasikan getaran tutup mata tentunya akan mengalami proses metabolisme dan kimiawi yang berbeda dibanding orang normal. Ada alat-alat yang memungkinkan ditempel pada tubuh manusia untuk mendeteksi gelombang (seperti pada scanning otak). Nah, hal itu tentu bisa dilakukan dan dicatat perubahannya. Organ apa yang mengalami perubahan, apakah kelenjar pituari, amygdala, otak belakang, dan sebagainya. Dengan teknik PET scan atau MRI scan secara kedokteran modern, tentu efeknya akan sangat bisa dilihat dan divisualisasikan.

Problemnya adalah teknik PET scan atau MRI scan ini cukup mahal (terakhir berkisar antara 15-30 jt sekali melakukan).

Hasil akhirnya dapat menjadi penunjang tambahan informasi yang saya yakin sangat berguna sebagai 'bahasa' untuk berkomunikasi dengan mereka yang realistis.


salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/10/2010 09:53
Kenapa saya sering katakan bahwa science suatu hari nanti akan bisa menjelaskan fenomena ini karena pada dasarnya immateri tidak akan bisa menyentuh materi kecuali salah satunya bertransformasi.

Getaran (atau TD, prana, chi, ki, atau sejenisnya) merupakan sesuatu yang immateri. Selama dalam bentuknya yang immateri, ia tidak akan bisa dijelaskan secara ilmiah. Tetapi kalau ia sudah bertransformasi pada materi, maka science sudah pasti (relatif) bisa menjelaskan fenomena ini. Karena energi harus tunduk pada hukum kekekalan energi dan hukum kesetaraan energi.

Dalam bentuk yang immateri (tenaga fisika) tidak akan dapat menyentuh tubuh wadag manusia atau benda-benda keras. Ia harus bertransformasi menjadi energi materi untuk bisa 'bertemu'. Dan ini sudah masuk pada ranah ilmu pengetahuan. Jadi, start dari pemahaman inilah sebenarnya (menurut saya) keilmuan itu bisa dievaluasi.

Sama halnya ketika dulu orang masih rancu mengartikan 'kecerdasan'. Mereka yang jago seni, mereka yang jago science, memiliki pengaruh yang berbeda pada organ-organ di dalam otaknya. Sehingga kemudian muncul kecerdasan emosi, kecerdasan logika, kecerdasan spiritual, kecerdasan kognitif, dan banyak lagi.

Ketika dideteksi oleh MRI scan, maka kita bisa melihat aspek visual dari 'pekerjaan' otak dan dimana bagian yang berperan.

(http://www.biologyreference.com/images/biol_01_img0057.jpg)
(credit to: www.biologyreference.com)

Misal, untuk menganalisa getaran tutup mata pada MP. Secara intesif dapat dibandingkan tentunya kondisi ketika belum melakukan getaran dan setelah melakukan getaran. Pasti terjadi perbedaan mencolok area-area mana yang bereaksi.

(http://www.colin-studholme.net/research/ipag/mrdspect/mrspect_files/mrspect1.jpg)
(credit to: www.colin-studholme.net), gambar bukan menunjukkan hasil pengujian getaran, tetapi hanya sebagai informasi saja.

Bahkan lebih lanjut, MRI scan dapat dilakukan untuk seluruh tubuh:

(http://msnbcmedia2.msn.com/j/msnbc/Components/Photos/070510/070510_thinfat_vmed_11a.grid-4x2.jpg)
(credit to: http://www.msnbc.msn.com/id/18594089)

Pada gambar terakhir, akan sangat menarik secara visual bagaimana seandainya seorang praktisi getaran (atau bisa jadi praktisi prana, TD, chi, ki, dan sejenisnya) 'diterawang' oleh science.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Taufan on 01/10/2010 14:19
Kalau para pendekar MP sudah membabar ilmu, saya jadi speechless dan hanya bisa berdecak kagum  [top]
Dengan hadirnya pendekar PH, mas MJ14 ... tinggal nunggu pendekar THS dan KYS ikut mampir ngopi bareng di sini biar tambah mantab [top]

Ehmmm... kalo bayu seto, kidang telangkat, kere wojo dll itu seperti apa ya mas Suprapto?  x-))

Wassalam,
TP
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/10/2010 15:52
sebenarnya diluar sana, beladiri itu memiliki science tersendiri yang tidak kalah menarik dibanding dengan science itu sendiri dan menjadi pembahasan yang cukup spektakuler.

Pada kolom LiveScience sampai masuk pada topik tersendiri: http://www.livescience.com/topic/fight-science

Dimulai dari penelitian terhadap individu beladiri, kemudian merambat pada teknik, pada bentuk, lalu pada tenaga, pada daya ledak, dan banyak lagi. Aspek-aspek dilihat secara cermat oleh para ilmuwan untuk didapatkan data-data pendukung menuju suatu pengetahuan baru.

Setelah di dapat hasil, maka selanjutnya (oleh mereka) akan dimasukkan kemana bergantung pada kebijaksanaan mereka. Ada yang memasukkan pada aspek kemanusiaan, ada juga yang memasukkan pada aspek militer.

Ini menunjukkan bahwa beladiri sangat menarik untuk diuji dan dievaluasi oleh para ilmuwan. Beladiri sangat lengkap dari aspek jiwa dan raga, materi dan immateri, kosong dan isi, hidup dan mati, inner power outer power, dan banyak lagi. Lengkap sekali. Penetrasinya yang luas memungkinkan aspek-aspek beladiri diterima pada bidang lainnya.

Pada artikel ini contohnya: http://www.livescience.com/technology/top10-bionic-tech-1.html

Urutan pertama adalah ... BIONIC EYES!!

Saya kutip dari link tersebut sebagai berikut:

"When you're blind, being able to see even the basics of light, movement and shape can make a big difference. Both the Argus II Retinal Prosthesis, currently in FDA trials, and a system being developed by Harvard Research Fellow Dr. John Pezaris record basic visual information via camera, process it into electronic signals and send it wirelessly to implanted electrodes. The Argus II uses electrodes implanted in the eye, which could help people who've lost some of their retinal function. Dr. Pezaris' system, still in the early stages of research, would bypass the eyes entirely, sending visual data straight to the brain. Both systems will work best with people who could once see because their brains will already know how to process the information. "The visual brain depends on visual experience to develop normally," Pezaris explained."

(http://i.livescience.com/images/070427_bionic_eye_hf.jpg)
(Credit: D.H. Hubel)

Bionic eyes, menjadi pembahasan sendiri sebagai salah satu dari top 10 teknologi bionik yang paling diteliti dan diminati. Kita di MP sudah terbiasa dengan teknologi 'bionic eye' ini melalui .... GETARAN.

Pada militer contohnya, http://www.livescience.com/history/090429-military-experiment-1.html.

Disana dikatakan:
"The U.S. Navy wanted to boost sailors' night vision so they could spot infrared signal lights during World War II. However, infrared wavelengths are normally beyond the sensitivity of human eyes. Scientists knew vitamin A contained part of a specialized light-sensitive molecule in the eye's receptors, and wondered if an alternate form of vitamin A could promote different light sensitivity in the eye. They fed volunteers supplements made from the livers of walleyed pikes, and the volunteers' vision began changing over several months to extend into the infrared region. Such early success went down the drain after other researchers developed an electronic snooperscope to see infrared, and the human study was abandoned. Other nations also played with vitamin A during World War II - Japan fed its pilots a preparation that boosted vitamin A absorption, and saw their  night vision improve by 100 percent in some cases."

(http://i.livescience.com/images/090429-xmen-night-02.jpg)
(Credit: U.S. Army/Sgt. Mike Alberts)

Di luar sana diteliti habis, dicari teknik-tekniknya seabrek-abrek, dianggap sebagai top 10 teknologi paling diteliti dan diminati, dilakukan eksperimen jutaan dolar. Lha kita di MP sendiri sudah tidak aneh dengan kondisi infrared melalui ... getaran.

So, kenapa saya katakan sebelumnya kalau seandainya getaran MP bisa ditelisik secara ilmiah, melibatkan ilmuwan, tentunya aspek-aspek lebih besar akan terkuak dan ini akan ... mengguncang dunia..

10 ten bionic technology, salah satunya adalah bionic eyes. Dan MP sudah punya itu melalui getaran.
The 10 Most Outrageous Military Experiments, salah satunya adalah infrared seeing. Lha MP sudah punya itu juga dan sudah teruji nyata keberhasilannya melalui getaran.

MP punya ilmu getaran yang memiliki bargaining positiong di dunia internasional sangat besar yang apabila dapat digali, dijelaskan secara ilmiah, maka akan mengguncangkan dunia. I believe...

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/10/2010 16:19
@ mas mpcrb.
Saya dukung/setuju.
 Science bisa berperan memberi bukti ilmiah secara bertahap.
Misal pada tahap paling awal memberi pernyataan akademik, bahwa secara umum, metoda latihan tidak membahayakan kesehatan, bahkan patut diduga dapat meningkatkan performa fisik.(penelitian Operasi Seta I 1973).
Selanjutnya secara lebih detil, statemen bahwa paket latihan dari penguluran-pemanasan-latihan pokok-pendinginan,  secara medis telah dinyatakan aman, merujuk kurva bpm (detak jantung, beep per minute) yang didapat. Tidak menyebabkan cedera pelan2 terhadap jantung, apalagi akut.(penelitian/pengukuran prof. Dr.dr.Dede Koswara di rs Jantung Harapan Kita(1986).
Kedua statement tadi lumayan u melindungi kalau ada klaim cedera karena latihan.
Peluang penelitian yg diharapkan lebih lanjut, adalah pengukuran  efek lain dari hasil latihan. Bisa dengan basis efek penyebaran thermal, konsentrasi/aliran muatan listrik, body glow, biokimia dan seterusnya. Akan bisa memetakan hasil latihan secara lebih lengkap.
Kalau nanti sdh meneliti metoda pembangkitannya, jangan kaget kalau dunia science bisa membuat robot super/manusia super, berdasar informasi data penelitian tersebut.
Btw, yg diperlukan lembaga donor untuk pelatihan tunanetra, sebenarnya bukan teori lengkap, cukup bahwa sebelum latihan, peserta diteliti, kemudian mengikuti dan mencatat proses latihan, kemudian mengukur tingkat keberhasilan serta memberi statemen ilmiah (harus dipimpin salah satu gurubesar dari universitas yg termasuk centre of excelent). Kabarnya Ketum sdg mempersiapkan kerjasama antara pemda DKI dengan FKUI untuk penelitian tsb.

@ mas Taufan.
Nama keilmuan kanuragan tsb juga dipakai perguruan lain.
Kalau di MP, bayu seto adalah salahsatu pukulan jarak jauh, yg harus dibuktikan dengan sasaran benda mati lebih dulu.
Kere wojo/tirai baja, adalah semacam ilmu tahan pukulan, semacam ilmu baju besi di perguruan lain. Salah satu peningkatan aplikasi dari olah nafas tingkat khusus badan.
Kidang telangkat adalah untuk memudahkan pola langkah, memperingan loncatan , dilain pihak memperkuat serangan kaki. Merupakan peningkatan aplikasi olah nafas tingkat khusus kaki.
Semua berbasis olah nafas.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Antara on 01/10/2010 16:34
Muhun maaf, permisi numpang tanya ya? ... muhun jangan ditembak dari jauh... :-\

Saya cuma dengar samar-samar tentang MP, jadi tidak begitu paham. Dari sedikit yang saya dengar, MP sebelumnya tidak mengajarkan tata gerak tarung dan baru belakangan ini mengadopsi ilmu pertarungan sebagai bagian dari kurikulumnya (kalau tidak salah lagi, untuk menggenapi diri sebagai silat).

Apakah dari dulunya MP memang suatu ilmu olah TD saja? Sebagaimana Yoga atau sejenisnya, yang cenderung spiritual tanpa faktor kekerasan. Kalau memang benar begitu, saya agak bingung mengapa TD-nya punya kedekatan dengan ilmu perkelahian, seperti nama-nama yang disebut Pak Suprapto di atas... ilmu-ilmu tersebut mengindikasikan bahwa MP dari sananya adalah ilmu 'bertarung'?

Muhun komentarnya para penekun sekalian ya? Muhun maap saya tukang nyasar seringkali lebih banyak nanya-nya... :-P
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/10/2010 17:03
Pendapat mas sangat menarik. Izinkan saya menjawab secara obyektif.

Jawaban saya adalah, hal tersebut kurang benar mas.

Meski demikian, kita perlu sepakat mengenai apa itu pengertian dari 'tata gerak tarung'. Jika asumsi mas adalah teknik-teknik di dalam pertarungan, tentunya itu sudah MP miliki lewat tata gerak keilmuannya.

Sebagai sebuah perguruan pencak silat beladiri, tentunya MP juga memiliki teknik pertarungan yang didasarkan pada keilmuan tata gerak. MP memiliki pola langkah, hindaran, tangkisan, tangkapan, bantingan, sampai pematahan persendian juga itu diajarkan pada tata gerak. Dan ini semuanya aplikatif untuk pertarungan.

Di beberapa daerah, di Cirebon misalnya, pada kabupaten, MP langganan juara mas dan namanya cukup disegani. Beberapa rekan MP di Cirebon berhasil meramu teknik-teknik pertarungan yang didasarkan pada tata gerak MP sehingga alhamdulillah kita juga bisa mendapatkan juara disana. Tanpa memahami teknik-teknik tarung, rasanya sulit bagi kami untuk bisa menjadi juara. Tata gerak sudah ada di dalam kurikulum MP, tinggal bagaimana kita menerapkanya secara aplikatif.

Hanya saja, mungkin demonstrasi yang sering kita lihat mengenai MP kebanyakan ya isinya getaran dan pematahan. Sehingga kesan yang muncul di masyarakat ya seperti itu, seperti ilmu olah TD murni. Branding image yang terbentuk ya seringnya demikian. Coba aja search di Youtube mengenai Merpati Putih, hampir 90% isinya pematahan dan getaran. :) Padahal MP juga punya juara nasional dan juara dunia silat juga.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin bisa melahirkan juara apabila tidak mengerti teknik tarung?

Bahkan kejuaraan internal event merpati putih salah satunya juga berisi pertarungan bebas. :)


salam.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/10/2010 19:25
Memang dari awal2nya, ilmu MP adalah ilmu bertarung, bersamaan dengan kahusadan/penyembuhan. Dengan pengertian setiap pelatih harus mampu, sekurang kurangnya harus mampu memberi pertolongan pertama apabila ada peserta latihan yg cedera/salah latihan.
Dari tingkat calon anggota(Dasar I) dan selanjutnya selalu diajarkan tata gerak beladiri sesuai tingkatan dan diujikan di ujian kenaikan tingkat.

Pada awal diadakan pertandingan IPSI (sekitar 1973), tanpa body protector, aturan pertandingan belum jelas, atlit dianggap mewakili perguruan (menimbulkan efek gegap gempita, dilain pihak pertarungan dilanjut diluar arena..), atlit MP dikenal sering mencederai lawan (kaki, tangan, tulang iga retak dsb). Diberitahu juga susah, tangan dan kakinya sering nyelonong ke area terlarang.
Efeknya panjang, atlit MP merasa dikucilkan.

Evaluasi dari pimpinan perguruan:
1. Kondisi ini melenceng dari misi perguruan, bahwa pertandingan di IPSI adalah ajang SILATURAHMI. Jajaran IPSI harus bersatu padu memajukan pencaksilat budaya bangsa. Selama ini dalam kegiatan promosi IPSI, (dulu) berupa arak2an dan peragaan bersama (show of force) IPSI, MP selalu diberi peran pemukulan benda keras, sebagai salahsatu unggulan kekayaan budaya pencaksilat.
2. Disadari sepenuhnya, bahwa banyak bentuk tata gerak dalam beladiri MP, sejak dasar sampai lanjut, baik lintasan maupun perkenaan dan sasarannya, tidak dibenarkan dalam pertandingan IPSI.
3.  Disadari sepenuhnya, dalam tata beladiri MP, semua teknik tata gerak, termasuk rangkaian gerak(tidak ada istilah jurus), gerak praktis, tangkap  kunci, bantingan dst, diposisikan sebagai gerak PENGARAHAN untuk gerak naluri, yg menjadi inti tata beladiri MP.
Jadi kalau pesilat MP sudah terlanjur latihan gerak naluri, perguruan tidak bisa begitu saja menyalahkan, kenapa serangannya sering nyelonong ke area diskwalifikasi.
4. Diambil kebijakan, pesilat MP yg mau ikut pertandingan IPSI, dari awal harus mengurangi  pukulan/serangan/tangkisan patah tebu dll yg dilarang, dan mutlak tdk boleh latihan gerak naluri(maksimum tingkat kombinasi I). Tidak konsisten, ujian kenaikan tingkat tanpa ampun, tata gerak tetap harus lengkap. Atau kalau serius jadi atlit, ujian ditangguhkan, nanti dapat ujian sendiri(kasus para atlit MP peraih medali emas pencaksilat SEAGAMES).
5. Tentu bukan cuma dunia persilatan Indonesia saja yg gerah dengan banyaknya pesilat Indonesia yg dilibas pesilat Thailand dan Vietnam. Atlit2 mereka digembleng dari usia dini secara profesional di camp muaythai , setelah lulus diseleksi berlanjut dilatih silat tanding oleh pelatih dari Indonesia (tekniknya standar IPSI). Tapi keunggulan fisik/daya tahan mereka membuat atlit kita keok.
6. Bidang Binpres MP telah menyusun program panduan untuk cabang2, sejak talent scouting, pedoman bibit atlit ideal/antropometri, program latihan khusus atlit termasuk materi penunjang yg dicuplik dari materi lanjut.
Calon atlit dipisah dari tingkat Dasar II, dengan materi gerak sesuai aturan IPSI/PERSILAT, diberi bonus materi latihan yg sesuai, tetap tanpa latihan gerak naluri (cukup sampai reflek saja). Apabila atlit Thailand makin merajalela, program ini dipersiapkan untuk menanggulanginya (perlu waktu 2-3 tahun sejak talent scouting sampai mulai ikut seleksi di cabang IPSI). Jer basuki mawa bea. PPMP harus menyiapkan matras/sandsak dsb untuk seluruh cabang dan beaya operasional tim pelatih pusat.
Meski program sudah disetujui RAKERNAS MP 2010, anggaran masih menunggu sponsor.  Demikian.

Salam.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/10/2010 20:36

2. Disadari sepenuhnya, bahwa banyak bentuk tata gerak dalam beladiri MP, sejak dasar sampai lanjut, baik lintasan maupun perkenaan dan sasarannya, tidak dibenarkan dalam pertandingan IPSI.


Hehehe, membaca tulisan ini jadi teringat masa lalu (kejadian tahun 90-an) ketika ada atlet Cirebon bernama Mas Marwan (Kombinasi 1, sekarang sudah jadi tentara AD), sudah menang 2 babak, di babak terakhir tiba-tiba melakukan sodokan melingkar. Lawannya tumbang dengan rahang retak, terpaksa harus digotong keluar arena dan hampir terjadi keributan besar dan dia kalah di diskwalifikasi. Ditampar oleh pelatihnya kenapa melakukan hal seperti itu padahal sudah menang, dijawab dengan ketawa "itu nyelonong sendiri mas..." :)

Di Cirebon sendiri, untuk bina atlet, beberapa gerakan MP memang tidak diajarkan pada atlet yang ingin berkiprah pada IPSI seperti patah tebu (mematahkan persendian tangan), cecakan (mematahkan persendian lutut), trap samping (mematahkan persendian lutut), sodokan melingkar (lintasan rahang), sodokan atas, dan banyak lagi. Sekitar 40-50 persen lebih gerakan MP untuk atlet IPSI harus dikurangi. Memang terjadi degradasi gerakan, tetapi mau tidak mau memang harus dikurangi.

Saya pikir, ide dari salah satu sesepuh silat (Mas O'ong Maryono) dalam facebook pribadi beliau berharap ada pertandingan silat yang tidak lagi dibatasi aturan, bisa cukup menarik. Meskipun dipastikan akan ada pertentangan disana-sini karena akan dianggap membahayakan pesilat. Tetapi argumen yang diusung adalah kalau sampe terjadi masalah pada pesilatnya ya itu salah perguruannya kenapa tidak menyiapkan pesilatnya dengan baik. Pengalaman beliau berkelana di Thailand menyaksikan bagaimana beladiri mereka terbentuk dan dibentuk oleh lingkungan sering berbeda jauh dengan bagaimana silat dibentuk di Indonesia. Masing-masing memang punya keuntungan dan kerugian, akan tetapi disadari atau tidak bahwa pertandingan silat versi IPSI tidak menunjukkan 'pertarungan' yang sesungguhnya.

Mungkin ilmu beladiri memang sudah kehilangan relevansi dgn kehidupan modern sekarang ini. Dulu seseorang mempelajari ilmu beladiri memang karna merasa perlu suatu ilmu yg bisa digunakan ketika menghadapi keadaan yg mengancam keselamatan hidupnya. Sehingga tempo dulu ilmu beladiri memang battle tested - teruji dalam pertarungan sesungguhnya.

Tata gerak MP yang berisi lintasan pada rahang, kepala, rusuk, pematahan sendi tangan, lutut, sikut mengarah ke wajah, sesungguhnya merupakan esensi pertarungan. Akan tetapi bertemu dengan sport, maka hal itu mutlak harus dihilangkan.

Pada pelatihan Pencak Silat tempo dulu setiap murid yg telah selesai mengikuti tahap pelatihan tertentu diharuskan untuk turun gunung. Mengamalkan ilmu beladiri nya - dalam perjalanan membantu yg lemah menghadapi para perampok dsb. Hingga akhirnya Pesilat tersebut memiliki ilmu Pencak Silat yg battle tested. Setelah pesilat ini merasa memiliki cukup pengalaman "bertarung" barulah pesilat ini menurunkan ilmunya kepada orang lain. Dengan metode pelatihan seperti ini Pencak Silat tempo dulu secara turun temurun memang benar-benar battle tested.

Bisa dilihat dari pengalaman hidup para pendekar silat jaman dulu seperti Pitung, Sabeni dan Bang Kari ( Betawi ), Bang Madi dan M Qosim ( Pagaruyung ), Haji Ibrahim ( Cikalong ) Abah Khohir ( Cimande ) dsb.

Pertandingan tanpa batasan dan aturan juga dilakukan Pendekar Silat jaman itu. H Ibrahim menciptakan Cikalong setelah kalah dari Bang Madi dan akhirnya berguru dgn Bang Madi. Abah Khoir pun dikenal pernah mengalahkan Pendekar Kungfu dgn selendangnya. Sabeni tak terkalahkan melawan jago-jago dari India, China dan Jepang di atas ring di Prinsen Park pada masa penjajahan dulu. Pitung begitu "turun gunung" banyak melawan jago-jago tuan tanah Belanda saat itu untuk membela rakyat kecil.

Sekarang ini tidak ada lagi pola pelatihan "turun gunung" seperti ini sehingga banyak pesilat yg tidak memiliki ilmu beladiri yg battle tested. Jadi saya rasa perlu ada pola pelatihan pengganti dari metode latihan "turun gunung" yg dulu ada dalam pola pelatihan Pencak Silat untuk mempertahankan essensi ilmu beladiri yg ada dalam Pencak Silat.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/10/2010 20:41
berdasarkan diskusi ini (sebagai koreksi dari tulisan saya belumnya yang menyatakan kalau pertarungan tanpa aturan, seharusnya pertarungan full body contact yang aturan tentu saja ada tetapi harus didefinisikan kemudian):

http://www.facebook.com/video/video.php?v=408940366148

O'ong Maryono : Beberapa perguruan besar seperti Perisai Diri(PD) Tapak Suci(TS) Persaudaraan Setia Hati Teratai(SHT) KPS Nusantara (KPSN), Batako Merpati Putih (MP), PS Tenaga Dasar (PSTD) dsb. sudah memiliki tradisi didalam perguruan pertandingan tanpa body protector. Bagaimana jika kita mulai mempertandingkan full body contact dari perguruan perguruan yang pesilatnya sudah terbiasa dengan melakukan tradisi seperti ini dengan membawa bendera perguruan masing masing. Sebuah inovasi pertandingan pencak silat....lama dibungkus baru. Kemungkinan dapat menghilangkan kejenuhan selama ini.

Saya sendiri merasa ide ini cukup baik, agar para pesilat memiliki wadah untuk melatih tanding dgn berbagai aliran beladiri. Seperti dulu Jigoro Kano mengirim Judoka nya dalam pertandingan bebas yang full body contact, atau seperti Brazillian JiuJitsu yang mengirimkan praktisinya Royce Gracie dan Rickson Gracie yang menjuarai turnamen UFC dan PRIDE berulang kali - atau seperti pelatihan "Turun Gunung" yg ada pada pelatihan Pencak Silat tempo dulu.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/10/2010 23:45
Sambil menunggu arena yg lebih menonjolkan beladiri dibanding sportnya, ada alternatip "pembuktian" lain didepan mata.

Yaitu aspek beladiri pencaksilat  MP yang diabdikan untuk penunjang kedinasan TNI/POLRI.
Rata rata pelatih internal di TNI adalah "cucu murid" dari pelatih internal yg pernah dilatih oleh pelatih reguler MP. Tentu ada degradasi greget.
Program latihan MP yg diintegrasikan dalam program BDM, sudah sangat perlu dievaluasi. Karena yang lalu lebih ditekankan pada senam pernafasan saja. Beladiri praktisnya diabaikan (hanya dilestarikan di kelompok kecil terpilih).
Meskipun akan didiskusikan dalam acara tradisi MP akhir tahun ini. Tapi mengingat padatnya acara pokok, ditambah lagi diskusi tentang pengobatan, senjata , kebugaran, tunanetra dll, sy perkirakan akan dibentuk tim kecil/adhoc untuk menyusun evaluasinya. Pada saatnya akan perlu banyak masukan.

Salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/10/2010 09:40
masalahnya adalah 'pembuktian' seperti hanya diketahui oleh sedikit orang mas. MP belum memaksimalkan potensi internet sebagai sumber informasi tiada batas kepada masyarakat umum.

Informasi-informasi berharga seperti aspek keilmuan praktis, aspek keilmuan kemanusiaan, dan hal-hal yang berguna jarang sekali muncul di masyarakat. Tentunya hal ini akan menyulitkan ketika orang ingin mengetahui informasi mengenai merpati putih. Berharap mereka datang untuk menemui kolat MP terdekat rasanya mustahil, kecuali bagi mereka yang serius ingin masuk. Dengan mudahnya sebuah perangkat handphone atau laptop + akses internet yang murah, maka akan lebih menyenangkan melakukan browsing di internet untuk mengetahui informasi.

Informasi-informasi MP yang tersebar di internet kebanyakan dibuat oleh personal dengan tingkat informasi yang terkadang rancu, kecuali beberapa yang digarap secara serius (saya lihat hanya MP USA yang menggarap secara serius dan menganggap penting jejaring internet). Hal ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah serius.

Informasi-informasi kemudian menjadi sangat bebas sehingga menjadi bola liar yang tidak terkendali yang pada akhirnya menjadikan branding image terbentuk yang kurang baik.

Sebagai contoh, pada salah satu postingan forum Kaskus, terdapat sebuah link yang mencemooh habis Merpati Putih akibat kegagalan pada test James Randy (pada sahabatsilat, hal yang sama disikapi dengan sangat berbeda karena kita semua sudah mengetahui. Tetapi bagi yang belum mengetahui, ini menjadi bola liar). Kenyataannya, hampir tidak ada rekan-rekan dari MP yang tergerak untuk mengcounter hal ini secara serius. Kebetulan saya tergelitik dan kemudian menjadi orang yang sangat vokal memberikan bantahan dan argumen hingga kemudian dengan 'pertarungan' argumen sejak halaman 1 hingga halaman 53 (berlangsung 53 babak) diselesaikan dengan ditutupnya thread tersebut akibat dari argumen  yang tidak bisa dibantah lagi oleh mereka-mereka yang skeptis yang berusaha menjelekkan Merpati Putih Linknya disini: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4836703.

Thread pada akhirnya ditutup karena argumen ini tidak bisa dibantah oleh mereka yang skeptis: http://www.kaskus.us/showpost.php?p=274337764&postcount=1042

Ketika saya tanya pada beberapa senior, kebanyakan dijawab, "ah biarkan sajalah. Nanti juga hilang sendiri". Tetapi kenyataannya tidak hilang-hilang, thread tersebut terus tumbuh dan dengan banyak jawaban-jawaban yang ngawur, tidak berdasar. Inilah yang saya katakan sebagai bola liar. Ada banyak lagi link pada forum diskusi yang modelnya seperti itu. Para senior ini belum memahami bahwa jika sebuah artikel didiamkan di internet, tidak berusaha di counter, maka artikel tersebut akan diindex oleh Google (mesin pencari lainnya) sehingga ketika seseorang berusaha mencari informasi mengenai merpati putih melalui sebuah mesin pencari (Google, Yahoo, Bing, atau yang lainnya) maka informasi yang salah itulah yang akan muncul. Dan ini tentu tidak baik mas.

"Pertarungan" pada thread tersebut pada akhirnya membawa hikmah dengan semakin tertariknya masyarakat pada Merpati Putih dan penetrasi MP pada daerah semakin meningkat. Ini adalah blessing in disguise. Plus apabila dilakukan pencarian mengenai kata kunci "Merpati Putih" pada Google atau mesin pencari lainnya akan mengarah pada jawaban-jawaban logis counter dari jawaban-jawaban mereka yang skeptis. Seandainya tidak dilakukan counter seperti ini, tentunya informasi yang salahlah yang akan di dapat masyarakat.

Di era informasi mudah di dapat melalui internet, sebaiknya MP juga sudah mulai menganggap penting setiap penyebaran informasi resmi secara terpusat. Hal-hal yang berhubungan dengan aspek implementasi kemanusiaan, penelitian ilmiah, keilmuan yang dibolehkan untuk di sharing, dan hal-hal yang telah mendapat restu untuk untuk dipublikasikan sebaiknya memang sudah harus dipublikasikan.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/10/2010 10:05
Kondisi tersebut juga tidak hanya terjadi di MP, tapi pada PPS lain. Jika tidak disikapi secara bijak dan di counter secara benar, tentunya akan membuat informasi yang salah yang akan di dapatkan oleh masyarakat umum.

Sehingga tidak heran munculnya anggapan bahwa MP adalah beladiri yang TD murni (sebagaimana pertanyaan dari penanya sebelumnya), MP bukan beladiri silat, MP tidak punya gerakan-gerakan silat, dan sebagainya. Meskipun itu pada kenyataannya tidak benar, tetapi itulah yang masyarakat temui.

Kita tidak bisa mengharapkan mereka yang ingin masuk pada MP kemudian naik kuda dan mendatangi tempat latihannya. Di zaman sekarang, cukup gunakan jari untuk mencari informasi yang dibutuhkan, lalu disimpulkan sendiri.

Semakin banyak artikel-artikel yang tidak berasal dari sumber resmi beladiri tersebut, maka (relatif) akan semakin liar informasi. Apabila ditambah lagi dengan tidak adanya counter dari anggotanya, maka artikel tersebut akan terindeks oleh mesin pencari, menjadi informasi yang salah, yang dalam jangka panjang akan merugikan karena terbentuknya branding yang salah di masyarakat.

saya rasa kondisi ini juga dialami oleh PPS lain.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/10/2010 11:34
Betul juga mas.
Bisa juga dikatakan terlambat memanfaatkan internet. Asal kemudian disadari dan ditindak lanjuti dengan tepat.

1. Dalam kasus James Randi Challenge, kenyataannya memang gagal. Resiko kegagalan dgn efek negative campaign harus diterima, berimbang dgn kemungkinan pemanfaatan positive campaign ketika berhasil. Suatu calculated risk.
Upaya counter mas Nate cukup tepat. Yaitu tentang medical swap/tissue basah yg biasa dipakai u desinfectan operasi bedah lapangan oleh dokter militer, yg menimbulkan efek sangat pedas ketika dipakai membersihkan sekitar  mata sebelum diplester berlapis, (faktor "disturbance" yg tdk fair).
Kemudian fakta bahwa test di fak Kedokteran Univ of Utah (center of excellent spesialis mata), didepan semua dosen dan resident spesialis mata, berhasil 100%, termasuk tunanetra yg kita bawa, mas Sardi.
Statement mas Nate musti diterima sbg pertanyaan, ada apa dilokasi test James Randi, sebuah lab fisika di Weber University, Ogden, Utah, sementara test dilokasi yg lain selalu sukses?
Persoalan menjadi lebih jelas ketika tantangan James Randi ditutup stlh berjalan 10 tahun. Tidak ada SATUPUN dari seluruh dunia yg berhasil diruang itu, sebuah bangunan yg disebut "planetarium", yg terhitung sangat pendek dibanding planetarium yg biasa kita lihat, cenderung spt bunker dgn sungkup kubah beton tebal, penuh peralatan  science yg dihidupkan.
2. Latar belakang mas Nate adalah manager pemasaran internet provider. Dia penuh keyakinan meninggalkan profesinya, sepenuhnya berjuang di MP, yakin bahwa dgn manajemen yg modern, MP USA bisa hidup dan menghidupi. Faktor website MP USA menjadi penting.
3. Website resmi PPS di Indonesia perlu ada, sbg sumber informasi resmi. Tapi tdk bisa diharap sebagai public forum.
Kritikan terlalu keras bisa dianggap sebagai tantangan terhadap lembaga perguruan.
Untuk public forum memang lebih elok kalau diselenggarakan oleh lembaga independen, sebagaimana yg dilakukan di fdSS ini.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/10/2010 12:06
Dalam forum publik independen, kita bisa keluar dari kotak.
Semua dalam posisi setara, tidak ada hambatan senior-junior, praktisi jagoan-pengamat/sastrawan dsb.
Semua pandangan, termasuk yg skeptis karena informasi yg diterima blm lengkap, musti dihormati dan disikapi dengan dewasa dan lapang dada.
Tanpa ada pertanyaan yg tajam apa adanya, kan jadi tidak ada penjelasan.
Namanya juga forum diskusi. Hehehe

Salam..

Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/10/2010 12:09
Untuk kasus yang pertama, tentunya kita anggota MP sepakat bahwa terjadi 'something' disana yang membuat gagal. Tetapi masalahnya kalau saya lihat bukan disitu mas, tetapi pada bagaimana informasi tandingan bisa muncul secara official sebagai bentuk perimbangan informasi kepada masyarakat. Selama ini masyarakat tahunya ya sepihak saja, perimbangan informasinya belum keluar dari MP secara resmi. Masalah mereka mau percaya yang mana ya itu diserahkan kepada pembaca sekalian, biar mereka yang menilai. Dengan demikian, apabila ada masyarakat yang mencari informasi melalui mesin pencari (Google, Yahoo, Bing, dsb) mereka juga akan mendapatkan perimbangan informasi dari jawaban MP seperti apa.

Sepanjang pengetahuan saya, ini adalah website "resmi" merpati putih. Saya gunakan tanda kutip karena saya tidak tahu yang mana yang resmi.

1. www.merpatiputih.or.id
2. www.merpatiputih.org

Yang mana yang benar-benar 'resmi'? Sepertinya keduanya di handle oleh personal yang bukan ditunjuk oleh pusat atau guru besar atau dewan guru atau pewaris. Ketika kita ingin tahu informasi mengenai merpati putih, mencarinya di internet, mereka akan bertemu dengan link tersebut. Masalahnya ketika dibuka, isinya tidak seperti yang diharapkan. Minimnya informasi, minimnya data-data pendukung, video-video, gambar-gambar, dsb, membuat ketidakjelasan mereka yang ingin tahu mengenai merpati putih.

Jika kondisi ini dibiarkan, tentunya ini akan menjadi bola liar juga mas.

Sekedar perbandingan, dengan website resmi Brazillian JiuJitsu ini: http://www.gracieacademy.com, terlihat sangat profesional, sarat informasi, daftar pelatihnya ada, daftar cabang lengkap, foto-foto, sejarah, dsb. Mereka kemas dengan baik sehingga siapapun yang mencari informasi akan mendapatkan informasi yang tepat dan benar langsung dari sumber resminya.

Kita belum membuat seperti itu. Belum membuat bukan berarti belum bisa. Tetapi (mungkin) belum ada keseriusan dari MP pusat dalam hal ini untuk memaksimalkan potensi internet. Atau mungkin status masih menunggu hasil pertemuan dari tradisi bulan Desember ini sepertinya.

Saya membayangkan, seandainya kita bisa meramu, mengkemas, seperti pada website contoh tadi, apalagi ditambah data-data pendukung cabang, informasi kegiatan cabang, foto-foto kegiatan cabang, video-video kegiatan cabang, publikasi keilmuan yang sudah diuji oleh ilmuwan, hasil implementasi keilmuan pada aspek kemanusiaan, pelatihan tunanetra, testimoni-testimoni, teknik-teknik pertarungan, video laga, hasil temuan para senior, hasil seminar keilmuan yang dibolehkan untuk dipublikasikan, dan banyak lagi, tentu ini akan sangat luar biasa dampaknya. Website resmi akan benar-benar menjelma menjadi pusat informasi resmi MP yang sarat informasi. Di dalamnya tidak harus ada publik forum mas, sifatnya hanya informatif saja. Atau boleh saja ada publik forum tetapi dengan aturan yang dibatasi. Seperti FDSS, yang boleh mengedit hanya moderator. User biasa tidak boleh. Saya setuju biarlah wadah seperti FDSS ini sebagai wadah pertemuan obyektif pemikiran dari para pesilat.

Sekali lagi mohon maaf apabila ada kata-kata yang lancang. Saya cinta Merpati Putih, dan ingin agar informasi mengenainya dapat disesuaikan dengan zaman. Dengan demikian, Merpati Putih akan lebih peka zaman.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/10/2010 12:59
Setuju, mari sama sama kita dorong.
Personil di PPMP punya kapasitas untuk itu. Mungkin koordinasinya yg perlu ditingkatkan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/10/2010 13:07
semoga mas. :)

Jika perlu bantuan, jangan ragu untuk PM, lokasi saya di Jakarta, dan saya siap bantu sesuai dengan kemampuan saya. Insya Allah manfaat.

[top]


salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/10/2010 13:25
Alhamdulillah.
Kebetulan para pewaris muda, terutama mas Hemi, sejalan dengan pemikiran mas mpcrb.
Mudah2an segera ada tindak lanjut positip.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/10/2010 13:36
Great!

Kembali pada penanya sebelumnya, beberapa gerakan MP yang tidak dipakai pada aturan IPSI:


hehehe banyak juga ya... :) yang kalau dibabar semua, maka tentu degradasi gerakan MP menjadi minim untuk digunakan pada sport. Mau tidak mau, jika tidak mau dihilangkan, ya harus disesuaikan. Efeknya, akan berbeda dengan pakem awalnya gerakan. Atlit yang terbiasa ikut fight IPSI, ketika turun pada fight ala MP, lebih mudah tumbang karena tidak terbiasa dengan lintasan-lintasan kritis (yang justru pada IPSI dianggap ilegal).

Lintasannya, gerakannya, alat penyasarnya, sasarannya, dari kebanyakan gerakan MP adalah bukan untuk gerakan sport, tetapi gerakan untuk pertarungan mematikan dengan cepat. Bukankah demikian esensi dari pertarungan? Melumpuhkan lawan dengan cepat.

Seperti pada contoh cerita kawan MP di Cirebon (mas Marwan, Kombinasi 1, sekarang sudah jadi tentara AD). Lawan bisa bertahan 2 babak dengan aturan IPSI, ketika kena sodokan melingkar lintasan rahang, maka tumbang seketika dengan rahang retak. Lintasan-lintasan yang di diskwalifikasi adalah lintasan-lintasan yang efektif di dalam pertarungan yang sesungguhnya.

But again, sport is a sport. :) Karena memang sudah beda tujuannya.

Ini bisa jadi seperti kisah salah satu aliran yg berasal dari peperangan klasik yakni Xinyi yg asalnya adalah dari ilmu tombak. Xinyi juga sama seperti Silat pada umumnya yang (kebanyakan) tidak memiliki teknik ground fighting.

http://www.shenwu.com/hsingi.htm

Ketika keadaan damai ilmu tombak ini diubah menjadi ilmu beladiri tangan kosong Xinyi. Tapi strategy dan style pertarungannya masih menyisakan cara berpikir pertarungan massal. Dalam pertarungan massal yg terpenting adalah melumpuhkan lawan secepatnya agar bisa cepat menghadapi lawan lainnya. Menyerang titik vital lawan ( tipikal stand up fighting ),  teknik grappling yg terlalu lama ( tipikal ground fighting ) sangat tidak praktis dalam pertempuran massal.

Style bertarung Xinyi adalah menyerang secara terus menerus dgn pukulan keras ( Fa Jin ) yg bisa menggoyahkan lawan hingga lawan roboh secepatnya. Dgn Style bertarung seperti ini Xinyi dikenal sebagai beladiri yg sangat fighting oriented dan efektif, tidak ada kembangan dalam jurus-jurusnya.

Sebelum perang Dunia ke 2 - Seorang Master Xinyi pernah mengalahkan dgn telak seorang Master Judo Jepang Dan 5. Dan akhirnya Master Judo ini menjadi murid Master Xinyi tsb selama 10 tahun sebelum akhirnya kembali ke Jepang setelah Perang Dunia ke 2. Jika melihat waktu kejadiannya mungkin ini sejaman dgn Mitsuyo Maeda ketika membawa Judo ke Brazil yg nantinya berubah menjadi Gracie BJJ (http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,578.30.html).

Jika informasi-informasi gerakan-gerakan MP, video-video kejurnas MP atau event internal Kejurda MP (yang full body contact) bisa ikut dipublikasikan, tentunya akan menambah khasanah wawasan MP yang memang sebenarnya fight oriented.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Antara on 02/10/2010 14:12
Hehehehehehe... jadi takut nanya lagi deh x-))

Keterangan itu saya dapat dari seorang kenalan yang praktisi MP beberapa tahun lalu, dan mengingat memang ada saja aliran penempaan yang tidak berorientasi pada silat, seperti misalnya Satria Nusantara, maka saya anggap hal itu wajar-wajar saja. Termasuk wajar juga kalau kemudian ada aliran penempaan yang kemudian mengadopsi teknik bertarung sebagai kelengkapan, misalnya cerita Perguruan Sin Lam Ba... (yang saya denger sih).
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/10/2010 14:39
memang disadari ataupun tidak, media ikut berperan membentuk opini. Yang paling banyak dilihat, itulah yang dianggap sebagai kebenaran. Ada ironi, kebohongan, apabila diulang secara terus menerus akan menjadi kebenaran.

Disitulah mengapa sebaiknya PPS memiliki website resmi yang berisi semua informasi official. Tujuannya agar 'bola-bola liar' informasi tidak berkembang meluas di masyarakat yang pada akhirnya akan membentuk penilaian yang salah.

pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. :) Di forum SS ini berarti kita mulai saling mengenal mas kalau MP ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. :)

saya pribadi juga membaca forum-forum sebelah, tidak habis nyeruput kopi 1 kardus.. hehehe suaking buanyakkknyaa informasi... ;)

enaknya disini, semua bisa diverifikasi, divalidasi, oleh para praktisinya yang kompeten, dan oleh pelaku sejarahnya langsung. Sedikit banyak, itu akan lebih memberikan penilaian obyektif.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/10/2010 03:22
Secara obyektip, tatagerak MP memang tidak terlalu kaya, namun khas. Mungkin karena menyatu dengan aplikasi olah nafas. Hampir semua bentuk baku, rangkaian gerak dst, akan saling dukung dengan hasil/aplikasi olah nafas.
 
Hanya pada gerak naluri kadang ada sedikit bergeser (belum sampai tahap menyimpang).
Misal gerak baku tidak mengenal bentuk cakar macan, namun dalam latihan naluri, jari2 bisa berbentuk cakar macan ketika menangkis dan menyerang. Mas Pung bilang tidak mengapa, itu nalurinya sendiri mengantisipasi gerakan lawan, lebih pas untuk mencengkeram titik lumpuh lawan yang terdeteksi.

Dalam nomor kerapihan teknik TGR (tunggal-ganda-regu) IPSI/PERSILAT, atlit MP atau perguruan lain, tidak mungkin menang kalau tidak latihan/melengkapi rangkaian geraknya dengan perbendaharaan tata gerak ibingan maenpo tatar sunda dan silek Minang, yang bentuknya "pencak banget".
Karena harus nambah banyak gerakan baru, nyaris tidak ditemui atlit MP di nomor TGR. Setidaknya sulit ditemui yg bisa melaju sampai ke tingkat nasional.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/10/2010 04:07
(lanjutan)

Meski cukup banyak pelatih MP, baik mewakili perguruan atau mewakili IPSI Daerah, mengikuti penataran pelatih tingkat nasional IPSI, tetap saja kesulitan mencari  calon atlit TGR dari lingkungan anggota MP sendiri.

Jadi kalau MP kekurangan perbendaharaan gerak untuk nomor seni dan nomor  kerapihan teknik/TGR versi IPSI/PERSILAT, sehingga penata gerak harus mengadopsi tata gerak maenpo dan silek Minang, memang benar adanya.
Kalaupun ada, hanya dilatihkan pada atlit kerapihan teknik versi  IPSI (banyak perguruan yg masih menganggap tabu muridnya berlatih tata gerak aliran lain, sehingga medali emas enam nmr kerapihan teknik IPSI, menjadi langganan perguruan2 dan provinsi tertentu saja).
Materi tata gerak aliran lain tersebut samasekali tidak ada yg masuk kurikulum MP.
MP mempunyai kerapihan teknik versi sendiri.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/10/2010 13:25
Cocok dengan prediksi antropolog profesor doktor Edi Sedyawati, yg juga tokoh KPS Nusantara, yg disampaikan di Munas IPSI 1992, bahwa interaksi di IPSI, lambat laun akan membentuk toleransi satu aliran terhadap aliran lain, tanpa meninggalkan pakem masing2. Ekstrimnya akan terbentuk percampuran aliran yg bisa saja berbentuk perguruan baru, atau satu aliran mengijinkan atlitnya yg di BKO kan (bawah kendali operasi) ke pelatda/pelatnas IPSI, diberi tambahan teknik aliran lain, baik dalam nomor tanding maupun nomor kerapihan teknik.
Pada penataran pelatih IPSI, diberikan juga teknik2 aliran2, termasuk teknik bersenjata, lengkap dengan uraian gerak dan cara melatihnya.

Yang paling tanpa beban berlatih hal ini adalah para atlit pesilat luar negeri. Bahkan dengan mendatangkan/mengontrak pendekar2 kita yg paling top dibidangnya.
Yang lebih mudah juga adalah bagi atlit2 yang berasal dari perguruan2 yang dalam program latihan resminya, memang sudah melengkapi dirinya dengan tata gerak maenpo Pasundan dan silek Minangkabau. Misalnya PD, TS, SHT, KPSN, BAKTINEGARA, SMI, Persinas ASAD dll.

Pada kasus atlit MP di nomor tanding IPSI, disatu sisi karena terbatasnya teknik MP yg dilegalkan dalam tanding, disisi lain harus ada langkah silat dan sikap pasang yg variatip, maka dalam SIKAP PASANG (yg di MP agak terbatas, apalagi kalau sikap pancer dengan satu tangan diatas, akan diperingatkan karena dikawatirkan akan ada lintasan tebangan dari atas yg terlarang), atlit MP cenderung terpengaruh oleh sikap pasang atlit PD dan SHT.
Atas hal2 tersebut, wajar kalau timbul berbagai presepsi mengenai perbendaharaan tata gerak MP.

Masalah lain, MP agak terbelenggu tambahan nama Betako ( beladiri tangan kosong). Padahal ada teknik bersenjata, termasuk senjata khas MP, "kudi" dll. Teknik bersenjata baru diberikan ditingkat lanjut dengan kemasan "teknik pengenalan senjata dan pati gaman". Teknik pola langkah mengantisipasi senjata panjang (tombak, tongkat, tempuling, pedang panjang dsb), dengan pola langkah cepat, dinamakan teknik "langkah setan", sudah dari semula masuk program latihan tingkat lanjut, yang akan sangat manjur bila dilandasi dengan "kidang telangkat".
Atas desakan kuat dari bawah, mungkin akan menyamai kisah latihan getaran, yg semula hanya untuk tingkat lanjut kemudian bergeser mulai diajarkan ditingkat Dasar/Balik, maka direncanakan pada acara tahunan Tradisi MP Desember 2010, akan diumumkan program baru, dengan judul/kemasan "SENI", yang hakekatnya adalah teknik penguasaan senjata sejak tingkat bawah.
Demikian, semoga bisa sedikit memberikan gambaran banyaknya kekurangan dan sedikit kelebihan pada program latihan/keilmuan  MP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/10/2010 22:34
setuju mas. pada akhirnya gerakan akan mengikuti naluri. gerakan tertinggi adalah tanpa bentuk... spt gambar & coretan.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/10/2010 00:30
@ mas mpcrb.

Soal gerak naluri, kita tidak pada posisi untuk setuju atau tidak setuju. Karena itu adalah inti beladiri  MP, bahkan sebelum mas Pung.

Pernah pada suatu periode (78-90 an), banyak anggota yg merasa sudah jagoan dengan prestasinya di pemukulan benda keras, protes tentang latihan getaran.
Latihan getaran (yg mengkonversi hasil olah nafas "bertenaga" menjadi tenaga getaran) diprotes karena menurunkan skor mereka pada pemukulan benda keras. Lagipula mereka mengalami kesulitan/susah berhasil dalam latihan getaran.
Padahal inti keilmuan MP, gerak naluri, hanya bisa dilatih dengan cara, melatih tata gerak dengan penghayatan getaran.

Memang repot, dijelaskan rinci tentang tahap2 yg akan dicapai/dirasakan, malah maunya straight, hasil akhir aja yg dipikir, ujungnya  gagal.
Kalau tidak diterangkan, ujungnya gak mau diajak meningkat.

Beruntung dengan bertambahnya anggota dewan guru serta perubahan kurikulum, presepsi salah bisa dinetralisir.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/10/2010 00:39
maksud sy adlh meski gerak mp trbatas tp pd akhirnya kalau dilatih serius dgn penghayatan akan sampai pd tahap naluri...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/10/2010 01:20
ah posting dari hp kawan, ternyata tidak bisa lebih dari 120 karakter. :( Rasanya tergelitik untuk posting lebih detail agar tidak terjadi salah persepsi.

berbicara mengenai tata gerak mp, memang benar seperti yang dikatakan mas suprapto kalau gerakan mp tidak banyak berisi ibingan seperti halnya pada silat sunda atau silek kumango. Gerakan MP aplikatif pada kaitannya dengan olah nafas yang ada. Pada tahap selanjutnya, getaran turun tangan sebagai pelengkap untuk menuju gerakan naluri.

yang saya coba garis bawahi adalah, meskipun karakteristik gerakan yang tidak sebanyak ibingan pada silat sunda, tetapi pada tahap akhir implementasi, bisa jadi keefektifan gerakan akan sama dengan yang lain. Melihat pada jumlah dan gerakan malah akan bisa terjebak sendiri. Tapi melihat pada hasil akhir (yang tentunya dimulai dari proses yang benar), akan bisa jadi sama dengan yang lain. Saya tidak membicarakan aspek seni, tetapi masih pada aspek efektifitas dari sisi fight seperti penanya sebelumnya maksudkan. Karena ini aspek fight, tentu gerakan-gerakan sederhana yang mematikan yang dapat dengan cepat melumpuhkan musuh adalah yang terbaik. Jadi, buat apa kembangan? (bukan saya merendahkan kembangan, ini sifatnya argumen saja, bukan sebagai pembanding) Tetapi lain halnya apabila kita bicara gerak sebagai seni, tentu yang mas suprapto jabarkan sangat benar sekali.

Ketika sudah masuk pada gerak naluri, yang mas maksudkan tentu arahnya pada aspek fight (mohon koreksi jika salah) sehingga tidak masalah meski tidak ada bentuk cakar tetapi bisa melakukan cakar karena memang disesuaikan dengan keadaan. Pada akhirnya akan terbentuk gerakan yang mengikuti kreteg hati, yang mengalir, keluar dengan sendirinya. Aspek seni, biasanya dirancang runut, teratur, enak dilihat, sarat kembangan, dan sangat variatif. Sedangkan aspek fight biasanya agak kaku, telengas, terkesan kasar, dan mengarah pada titik-titik mematikan. But again, inipun debatable karena bukan kesimpulan akhir. Sesuatu yang masih berkembang di masa yang akan datang.

meski demikian, menurut hemat saya, gerakan naluri bisa juga dilatih apabila pesilat tersebut sering melakukan gerakan terrsebut dan setiap kali melakukan ia melakukan penghayatan dengan benar (terlepas ada atau tidaknya getaran). Pada kondisi demikian, getaran bisa jadi akan muncul dengan sendirinya pada kondisinya yang lain. Jika asumsi pengertian dari 'gerakan naluri' pada MP sama halnya dengan istilah wudang 'lupa jurus' atau istilah beberapa PS yang 'jurus tanpa bentuk' atau JKD (bruce lee) yang pada pagoda kelima harus berhadap dengan musuh yang 'tanpa jurus, tanpa bentuk' maka sesungguhnya maknanya adalah bergerak alamiah mengikuti kreteg hati, maka pencapaian itu bisa saja didapatkan.

Akan tetapi, pengertian 'benar' juga bisa relatif bergantung waktu dan tempat dan siapa yang melakukan.  Meski pakem sudah diajarkan, sudah diberitahu, tapi bisa saja sedikit banyak ada perbedaan (meski tidak krusial. Kalo sudah krusial ya berarti salah gerakan atau salah pemahaman). Aspek terbaik dari gerakan adalah pada sisi aplikatifnya, pada sisi implementasi, menerapkan, mencoba, mengulang, mencoba lagi, sehingga mendapatkan intinya, bentuknya, pengembangannya, dan kegunaannya.

Seperti misalnya Kodokan Judo yang mulai aktif menggunakan Randori dibanding Kata. Sehingga pada akhirnya, lebih battle tested. Pada Kata, kesalahan gerakan cukup diulang dan dikoreksi tanpa adanya efek serangan balik dari lawan. Pada randori, kesalahan gerakan bisa berakibat fatal pada diri sendiri karena efek serangan balik yang bisa jadi mematikan. Gerakan yang sama, tetapi ketika sudah mulai masuk pada implementasi, maka bentuk penghayatan akan berbeda. Hal ini bukan lantas Kata itu jelek dan Randori itu terbaik. Tetapi apabila konteksnya adalah battle tested, maka randori lebih punya nilai lebih dibanding Kata. Dasar pembentukan lahir dari gerakan dasar, lalu melatih Kata, tetapi efektifitas dan pengalaman arti gerakan lahir dari Randori.

hehehe pembahasan jadi tambah luas dan menarik mas :) terima kasih atas sharingnya, dan mohon maaf apabila ada kekurangsopanan saya di dalam menyampaikan...

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/10/2010 06:51
ngomong-ngomong yang posting di sub forum mp anggota yang lainnya mana ya? hehehe...salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Mantrijeron14 on 04/10/2010 08:27
. Jadi, buat apa kembangan? (bukan saya merendahkan kembangan, ini sifatnya argumen saja, bukan sebagai pembanding) Tetapi lain halnya apabila kita bicara gerak sebagai seni, tentu yang mas suprapto jabarkan sangat benar sekali.

salam.

Menarik nih mas....
ane yakin kok bahwa sekian banyak user di marih walopun bukan warga MP rajin ngikutin posting sampeyan berdua [top]

banyak bener topik bertebaran di trit enih: Seni vs Efektifitas, Kosong sbg tingkatan tertinggi, getaran sebagai bridging gerak naluri, de el el.

nah ane cuba ikutan nanyak di efektifitas vs seni:
Ane kire buanyak banget gerakan silat entu yg sangat berseni, bbrp memang keliatan kelewat ribet bahkan non applicable!! Kalo nyang dimaksud adalah setiap bergerak langsung merubuhkan lawan(direct attack/ block)  ke depannye silat jadi kaya Karateatau JKD dong??

Sementara ane pernah liat aplikasi bantingan bahu di pertarungan... asli artistik dan lethal as well!! Tendangan diterima dg hindaran, kaki ditangkap, bahu berputar dibawah lutut lawan, tangan masuk nenyeruak mencengkeram leher, posisi badan naek dg leverage kuda-kuda dan gedebummmmmm.....lawan jatuh head first!! hasilnya?? Ya bisa ditebak.... kayaknya si penendang perlu minimal citiscan atau sekalian MRI untuk memastikan keadaan kepalanye..

lanjuut mas...

wassalam,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/10/2010 12:14
terima kasih kang mantri... :) saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat dan pahami.

ketika saya mengatakan 'buat apa kembangan?', bukan dalam konteks merendahkan kembangan. Tidak sama sekali. Saya menyukai kembangan, karena itu indah.

Jika seni dimasukkan pada seni, saya sepakat. Tapi jika seni dimasukkan pada aspek pertarungan, relevansinya sampai sejauh mana? Ini yang masih diperdebatkan bukan hanya oleh pesilat, tetapi juga masyarakat. Saya bukan dalam konteks merendahkan silat sebagai seni, tetapi apakah tidak pada akhirnya beladiri digunakan untuk pertarungan? Memang ada banyak sebab kenapa seseorang mencintai pencak silat. Ada yang menyukai dari keindahan gerakannya, ada yang dari filosofinya, ada yang dari kekuatannya, ada yang dari keluwesannya, kelembutannya, dan banyak lagi. Masing-masing punya sudut pandang sendiri. Tetapi melihat sejarah panjang silat yang berawal (kebanyakan) dari battle, maka sejauh mana aspek seni berperan? Kenyataannya, pada pertandingan IPSI saja, hampir dipastikan sangat jarang ada atlet yang multitalent (Ia juara para seni, dan juara pula pada laga. Ia luwes pada gerakan, tapi telengas pada efek). Karanteristik gerakan pembentuknya menghasilkan 'wujud' berbeda. Yang dibentuk lewat seni, terkenal dengan keluwesannya. Yang dibentuk dengan battle, terkenal ke-telengasan-nya. Ini menjadi berbeda dan pembeda.

Hal inilah yang mungkin sering dipandang 'sebelah mata' oleh beladiri lain yang berorientasi pada fight. Pencak Silat dianggap tidak memiliki aspek praktis di dalam fight yang sesungguhnya. Asumsi ini jelas salah bagi yang memahami, tetapi itulah yang sering dilihat oleh umum.

Model 'turun gunung' hampir sudah tidak ada lagi (sangat sedikit yang melakukan). Untuk membuat konsep 'open dojo', tentunya akan berbenturan dengan filosofi dan aspek ketimuran. Pada konsep 'open dojo', siapapun boleh mencoba dan dicoba. Monggo mampir ke padepokan, dan kita fight. Sudut pandang silat sebagai 'beladiri' menuntut adanya 'battle tested'. Memasukkan pada pertandingan IPSI, tentu bukan jaminan. Bahkan seorang juara dunia juga belum tentu bisa bertahan pada kondisi pertarungan massal. Ini dilematis. Mendobrak pola pikir seperti itu sama halnya mendobrak filosofi, adat ketimuran. Membiarkan seperti itu apa adanya, mau tidak mau sering berhadapan dengan pengaruh teknik dan beladiri lain.

Dulu, waktu masih ada TPI Fighting Championship, MP cab cirebon pernah mengirimkan wakilnya untuk ikut. Menang 2x dengan standing fight, dan yang ketiga kalah dengan teknik grapling. Hal ini kemudian menimbulkan evaluasi gerakan yang mau tidak mau terpaksa mengadopsi gerakan lain. Miris, tapi kenyataan.

Baik itu silat yang memiliki gerakan ibingan, sarat kembangan, sarat jurus dan teknik, pada akhirnya bermuara pada efektivitas ketika bertemu pertarungan. Jika tidak mau dihilangkan, maka harus disesuaikan. Jika tidak mau bertemu dengan pertarungan, maka ia hanya menjadi 'senam kesehatan' saja. Masing-masing memiliki tujuan akhir yang sama, meningkatkan potensi tubuh, dan pada akhirnya berusaha menjadi insan yang memahami hidup dan Tuhannya.

Silat sebagai seni, sangat banyak kita lihat di sekeliling. Tapi silat sebagai beladiri, sangat jarang kita lihat. Ketidakmau-an membuka diri dengan mengikuti turnamen 'bebas' seperti UFC, TPI FC, PRIDE FC, Vale Tudo, sering membuat silat dianggap sebagai anak bawang.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/10/2010 12:35
Wah, ya setuju banget kangmas Mantri.

Beladiri tanpa seni jadi berkurang maknanya.

Koridor yang membatasi dalam aturan tanding IPSI, harus dimaknai sebagai tantangan munculnya kreativitas teknik. Meng KO lawan tanding tidak harus dengan pukulan/tendangan fatal, sebisa bisa biar karena badan, gerakan atau momentum tenaganya sendiri (muncul istilah meminjam tenaga lawan).

Aspek spiritual harus bisa menumbuhkan kesadaran atas keterbatasan manusia.
Muncul pengertian, "kasekten ora ngalahke pepesthen", kesaktian tidak bisa melawan takdir, meskipun konon "kodrat biso diwiradat".
Pengertian bahwa orang yg sudah tidak berdaya, kalau batinnya nangis kepada Sang Pencipta, bisa mendapat perlindungan yg sulit ditembus. Memaknai "menang tan ngasorake" , menang tanpa merendahkan harga diri lawan.

Aspek beladiri yg teruji, jangan menjadikan pongah, sesongaran. Bisa berpengaruh menambah rasa percaya diri disemua bidang kehidupan.
Masih kebul2 wejangan sesepuh pencaksilat, romo Mpu  Samiadji, pendiri KYS. Pada saat sudah merasa bahwa ilmu kanuragannya sudah mencapai tataran yg membuat beliau sangat percaya diri, malah tidak ketemu lawan berantem. Muncul kekuatan Sabdodadi, yg ditegaskannya beda dengan "idu geni"(yg berkorelasi dengan kekuasaan). Efeknya, begitu ketemu musuh (jaman perang), musuhnya mundur sendiri. Begitu mendatangi tawuran, yg tawuran mundur sowang sowangan.
Percaya diri dalam tingkat "nglurug tanpo bolo".

Aspek seni menumbuhkan rasa, bahwa belajar pencaksilat itu indah. Mempengaruhi tingkat harmoni di kehidupan. Di MP sendiri, bahkan ketika melakukan pemukulan benda keras multi sasaran, ada aturan bahwa pendekatan sasaran2 harus dilakukan dengan langkah dan gerakan silat. Tidak boleh "nganyur" asal brag-brug.
Gerakan kembangan , pasti ada artinya dalam beladiri, meski agak tersamar, setidaknya merupakan pengerahan tenaga "kendo - kenceng" yg memuncak pada timing yg diperlukan.
Harus juga ada pemahaman, kenapa pada seni tari jawa, penari kaputren hanya mengangkat kaki sampai setinggi matakaki, ksatria sakti mengangkat sampai betis. Kecuali dalam gagahan/olah kaprajuritan dengan pakaian yg sesuai, penari putri boleh angkat kaki sampai setinggi dengkul/lutut. <btw dalam urusan kostum, pelatih/asisten pelatih kadang mbeling pada peserta Dasar I  baru, menunda nunda distribusi pakaian latihan silat, membiarkan peserta putri pakai celana olah raga yg stretch, menunggu latihan bentuk kedua, melirik barang "nyeni" yg terbentuk, vw kodok.....hehehehe>

Dalam aspek olahraga kesehatan, gerakan
kembangan, bisa berfungsi melancarkan aliran darah, persendian kelenturan dan kesamaptaan jasmani yg lebih lengkap, yg menjadi landasan gerak beladiri.

Sekali lagi, kita tidak bisa langsung kesana. Tapi agar "laku" bisa berproses terarah, tidak kesasar sasar.

Salam. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/10/2010 13:01
@ mas mpcrb.

Saya yakin, bahwa materi tata gerak MP bisa disusun dalam bentuk kerapihan teknik yang indah, nalar/logis, penuh greget dan bertenaga.
Namun dalam kerapihan teknik IPSI disepakati bersama, bahwa musti mengandung perbendaharaan tata gerak pencaksilat se nusantara.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Mantrijeron14 on 04/10/2010 13:02
saya kalo dah merhatiin tulisan pak Prapto... waduhh.. kaya pitutur dari sesepuh sendiri, idiom jawanya kental dg kiasan khas jawa yang filosofis... hasilnya? pengen meramaikan sub forum ini malah terbuai dg atmosfir filosofi kejawa-an...ndomblong, ayem, inget kampung... langsung logat "betawi maksa" saya menguap... :D

Matur nuwun pak Prapto....

wassalam,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/10/2010 14:54
@mas suprapto, saya setuju memang harus ada aspek seni, beladiri, dan spritual pada Pencak Silat yang pada akhirnya seperti yang mas jabarkan.

mohon maaf kalau yang saya katakan terkadang nyeleneh dan kontroversial.

Saya tidak dalam konteks merendahkan seninya, tidak sama sekali. Saya mencintai mencintai pencak silat, juga mencintai seninya juga. Saya hanya berandai-andai, seperti apakah teknik fight silat yang sebenarnya sehingga masyarakat bisa melihat lengkap, utuh. Spesifiknya adalah seperti apa teknik fight MP yang sesungguhnya (atau yang sebaiknya). Pertanyaan ini sesungguhnya banyak juga ditanyakan oleh anggota dan juga rekan beladiri lain. Kita semua tahu, ketika kesadaran mengenai pemahaman itu datang, maka ceritanya seperti yang mas gambarkan. Sebisa mungkin, hindari perkelahian, sebisa mungkin, menang tanpa merusak, sebisa mungkin... nglurug tanpo bolo, damai.

Konsep 'open dojo' yang saya katakan bukanlah dalam konteks kesombongan. Tidak sama sekali. Ini hanya pemikiran, dari diskusi dengan salah satu kawan MP via email. Sebenarnya kita juga sudah sedikit banyak mulai ada 'open dojo' dengan latihan bersama antara MP dengan TS, atau antara MP dengan PD, atau antara MP dengan PN, dan sebagainya dalam bentuk latihan gabungan antar perguruan. Dalam scope-nya yang kecil, itulah 'open dojo'. Tapi masih belum open dalam artian yang sebenar-benarnya open. Membuka diri dengan beladiri lain, membuatnya berani dicoba, pada teknik, pada taktik, pada kekuatan, pada keilmuan. Sebagai salah satu alternatif wadah yang 'battle tested' dan bisa dibuktikan lewat pertarungan yang sesungguhnya. Tidak lantas menjadi liar dan brutal, tetapi tetap ada pengawasan dan kesepakatan. Bukan dalam rangka mencari popularitas atau kesombongan, tapi sebagai pengujian teknik dan keilmuan. Saya tahu ini jelas kontroversial dan akan banyak pro dan kontra (bisa jadi banyakan kontra-nya dibanding pro-nya karena pasti akan mendobrak pakem). Tapi tidak ada salahnya juga sebagai pengganti dari 'turun gunung' masa lampau.

KungFu, MMA, Karate, TKD, Muay Thai, BJJ, adalah beberapa yang dikenal dunia lewat  'open dojo' ini di zaman sekarang sehingga tidak heran mereka sering digolongkan sebagai aliran-aliran yang paling banyak dikenal.

Silat memang tidak menjadikan seseorang menjadi petarung. Tapi dengan pengujian teknik-teknik pada disiplin beladiri lain, seharusnya masih bisa dimungkinkan. Saya membayangkan, bagaimana seandainya ada pesilat MP tingkat Balik 2 bertemu dengan penjahat yang belajar teknik grappling? bagaimana seandainya ada pesilat TS tingkat Melati 4 bertemu dengan penjahat yang belajar teknik Muay Thai? Bagaimana kita bisa mengetahui bagaimana serangan mereka kalau kita juga tidak pernah bersentuhan dengan mereka? Pesilat-pesilat seperti mas prapto, mas mantri, dan para sesepuh lainnya sudah dalam tahap memahami hidup dalam kehidupan, berpikir lebih baik menghindar, berpikir lebih baik nglurug tanpo bolo, lebih baik damai, tapi tidak semua orang sudah mencapai tahap tersebut.

Pada kasus militer bisa lain lagi? Bagi militer, beladiri hanya sebagai alat. Sedangkan pada silat, beladiri bukanlah sebagai alat, tapi sebagai jalan. Ini perbedaan yang mencolok sehingga tidak heran mungkin silat lebih banyak kurang cocok diterapkan di militer. Karena ia diperlakukan sebagai alat, tidak bedanya dengan pisau, pedang, pistol, senapan. Filosofinya kurang bisa masuk, otomatis seninya juga bisa jadi hilang atau banyak yang terdegradasi. Tapi ia battle tested, diuji dalam pertarungan hidup dan mati sesungguhnya.

salam.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: samber gledek on 04/10/2010 14:59
Mas Mantri setuhu denghan pendapat sampean. kalau saya baca tuturannya mas Suprapto dan mas Mpcrb saya jadi kehabisan kata kata. Grp lagi ah buat mas berdua. Salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/10/2010 15:55
maturnuwun kang atas GRP-nya  [top]

pendapat saya didasarkan pada fakta dimana saat ini beladiri asing mulai deras. MMA mulai bermunculan. Ia bisa dipelajari oleh siapapun (yang kebanyakan) tanpa perlu berurusan dengan filosofi, sikap moral, kaidah-kaidah, tanpa ada unggah-ungguh, dsb. Fight is a fight. Titik. Pernahkah kita membayangkan anggota/murid kita yang masih tingkat belajar 3-5 tahun tapi belum tahu apa itu pertarungan? sedangkan pada beladiri lain rentang waktu 3-5 tahun sudah bisa mencapai hampir sabuk hitam dengan beragam pengalaman tarung? Bagaimana kalau pesilat kita bertemu dengan 'bad guy' dengan teknik-teknik BJJ, TKD, Muay Thai, dengan clurit, pisau, pedang, seperti itu di jalanan?

Saya mengungkapkan ini karena saya mengalaminya sendiri. 21 jahitan di tangan kiri, 4 cm luka sobek di tangan kanan, 8 jahitan pada dagu, dan 12 cm luka gores pada lengan kiri, adalah karena bertemu dengan 'lawan' pada kondisi non pertandingan. Bertemu dengan pertarungan sesungguhnya, di jalanan, tanpa saya minta, tanpa saya cari. Ia datang menghampiri kita, menempatkan kita pada kondisi sulit yang maju salah mundur salah. Pada keadaan tersebut, saya belumlah seperti sekarang pemikirannya. Masih mersudi di level terendah, memahami gerak yang saklek (karena baru tingkat Balik 2, dengan sedikit sekali pemahaman mengenai gerak pengarahan), fight selalu dengan aturan IPSI. Hanya karena mengikuti kreteg hati dalam bergerak dan berkat kemurahan Tuhan sajalah masih selamat hingga sekarang. Ini bisa jadi dialami juga oleh anggota/murid lain. Battle tested artinya harus siap dalam kondisi apapun dan bertemu dengan siapapun.

Saya tahu, sifatnya memang insidental dan tidak bisa dijadikan alat ukur (sebab hanya pengalaman pribadi), tapi tidak menutup kemungkinan itu bisa terjadi disekeliling kita tanpa kita ketahui. Jika sudah demikian, wajar rasanya pertanyaan seperti itu muncul. Pada akhirnya, saya 'mewariskan' pengalaman ini pada murid, 'mewariskan' perasaan dan kondisi ketika semua itu terjadi. Pada saat itu, menggunakan gerakan-gerakan kritikal yang mematikan adalah yang terbaik, sehingga mulai memperdalam gerakan-gerakan dasar yang fatal dengan lintasan sasaran berbahaya (yang memang sudah ada dalam MP, tinggal digenjot saja secara intensif). Menggunakan medium rautan bambu sebagai sasaran 'hidup'. Akibatnya, kolat tempat melatih jarang menjadi juara karena lintasannya selalu bentrok dengan aturan pertandingan IPSI. Tapi murid menjadi lebih berani dan lebih yakin. Basic keyakinan bahwa gerakan yang battle tested sudah ditanamkan. Berikutnya adalah tugas memberikan 'sentuhan' moral dan spritual.

Saya sering bertanya, apakah silat hanya akan dianggap sebagai 'additional aspect' untuk melengkapi beladiri lain? Apakah silat hanya dianggap sebagai 'warga kelas dua'? padahal semangat dan cita-cita para senior dan sesepuh adalah bagaimana silat bisa mendunia, dikenal oleh dunia.

Aji Susilo, salah satu juara TPI FC, yang juga pernah jadi juara PRIDE FC di Jepang, belajar MP sebagai pelengkap power (lewat pernafasannya). Ia memasukkan silat hanya sebagai pelengkap. Pada kenyataannya ia mengadopsi banyak teknik tarung dari beladiri lain dan dijadikan sebuah aliran miliknya sendiri. Memang tidak ada ruh, tapi ia battle tested.

Menyiapkan kondisi 'battle tested' di zaman sekarang inilah yang cukup sulit. Sehingga konsep 'open dojo' adalah satu-satunya yang memungkinkan. Barangkali ada cara lain, monggo dibabar oleh para sesepuh sekalian.

Ironisnya, untuk dikenal pada dunia, maka harus dibuktikan lewat aspek fighting sehingga bisa setara dengan mereka yang sudah dulu ada. Silat memang tidak akan menjadi TKD, silat tidak akan menjadi BJJ, tidak sama sekali, dan tidak akan pernah. Tetapi kalau ia setara, harusnya ia bisa tampil ke permukaan sehingga sekejap saja kita melihat gaya bertarungnya maka kita akan tahu "oh itu silat" atau lebih spesifiknya lagi "oh itu MP", "oh itu TS", "oh itu PD", dan seterusnya. Tapi kalau cuman ingin masuk pada aspek kemanusiaan, ya tinggalkan aspek fighting. Atau paling banter, kurangi. Konswensinya, silat akan dikenal sebagai warga kelas dua atau paling tidak sekedar sebagai pelengkap beladiri lain. Hal ini sama ironisnya ketika pembukaan olimpiade kemarin dimana Afrika menampilkan silat, tetapi apa yang masyarakat katakan 'hey, is this KungFu from Chinesse?', semua mengatakan KungFu. Dijawab silat juga malah ditanya balik 'what is silat? is it a kind of KungFu?'. dan demikianlah adanya. Pelatih silat Al Azhar sana miris, tapi tidak bisa berbuat banyak karena pamor silat tidak secerah KungFu.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: srdananjaya on 04/10/2010 19:22

Ironisnya, untuk dikenal pada dunia, maka harus dibuktikan lewat aspek fighting sehingga bisa setara dengan mereka yang sudah dulu ada. Silat memang tidak akan menjadi TKD, silat tidak akan menjadi BJJ, tidak sama sekali, dan tidak akan pernah. Tetapi kalau ia setara, harusnya ia bisa tampil ke permukaan sehingga sekejap saja kita melihat gaya bertarungnya maka kita akan tahu "oh itu silat" atau lebih spesifiknya lagi "oh itu MP", "oh itu TS", "oh itu PD", dan seterusnya. Tapi kalau cuman ingin masuk pada aspek kemanusiaan, ya tinggalkan aspek fighting. Atau paling banter, kurangi. Konswensinya, silat akan dikenal sebagai warga kelas dua atau paling tidak sekedar sebagai pelengkap beladiri lain. Hal ini sama ironisnya ketika pembukaan olimpiade kemarin dimana Afrika menampilkan silat, tetapi apa yang masyarakat katakan 'hey, is this KungFu from Chinesse?', semua mengatakan KungFu. Dijawab silat juga malah ditanya balik 'what is silat? is it a kind of KungFu?'. dan demikianlah adanya. Pelatih silat Al Azhar sana miris, tapi tidak bisa berbuat banyak karena pamor silat tidak secerah KungFu.

sumbang GRP dulu sebelumnya buat kang mpcrb  [top]

saya teringat dengan tai chi china.. tidak ada unsur fight yg ditonjolkan disitu.. tapi bisa mendunia..

mutiara, walaupun disimpan di kuburan/tempat sampah, tetaplah mutiara..

demikian pula silat..

saya rasa silat tidak perlu hanya fokus pada salah satunya..kemanusiaan/fightingnya..
yg unik dari silat.. dari ilmu fightingnya lah akan muncul keluhuran budi pekertinya..

adapun kenapa silat tidak mudah di publikasikan adalah karena ilmunya yang terlalu sadis.. silat adalah ilmu membunuh.. prakteknya silat adalah membunuh.. jika dilunakkan maka sudah tidak menarik lagi.. namun karena silat adalah olahraga dan ketangkasan, tetap dibutuhkan permainan yang sudah tidak berbahaya, seperti amengan, usik, dll.. cuma ya begitu.. akan terlihat tidak menarik bagi orang asing yang lebih suka praktikal..

ilmu luhur sifatnya berjodoh.. ilmu pasaran akan mudah didapat dan dikenal.. hanya orang beruntung yang dapat mempelajari silat..

jadi jangan minder dengan silat dianggap kelas dua..

mutiara tetaplah mutiara, bagaimanapun dia diperlakukan :)

salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/10/2010 21:26
@ kangmas Mantri dan mas Samber gledek, trims GRP nya.

@ mas mpcrb.
Kodrat MP adalah lembaga beladiri. Tentunya masalah mempersiapkan real fight adalah salah satu core business nya.
Masalah pencaksilat adalah masalah yg harus dipikirkan komprehensip. Justru agar core businessnya lestari.

1. MP sebagai organisasi nirlaba, harus membentuk komunitasnya sendiri untuk mendukung jalannya organisasi. Ada biaya sewa tempat latihan, sekretariat, program kerja perguruan, baik tingkat kolat, cabang,daerah dan pusat, transport pelatih, biaya mengirim pelatih ke penataran pelatih, biaya pelatcab/pelatda, pengiriman kontingen ke acara tradisi, pengiriman kontingen ke kejuaraan2 dst.
Seluruh beban dana harus disiapkan mandiri oleh komunitas MP ditingkat masing2. Dari sisi pendanaan, ada yg perlu subsidi transport dan honor dlm menjalankan tugas, ada yg pas2an bayar iuran reguler, ada kelompok yg secara sukarela menjadi donatur.

2. Komunitas MP yang  terdiri dari berbagai macam kelompok masyarakat tersebut, harus merasa pas untuk mencintai MP dari sudut pandang dan prioritas kebutuhannya.
Semua anggota komunitas harus diusahakan terlayani, baik melalui program latihan reguler maupun program penunjang (termasuk penyembuhan dan kebugaran).

3. Dalam menjalankan "laku" pengabdian masyarakat dan kemanusiaan dengan ikhlas, MP samasekali tidak merasa kalau pakem kanuragannya terkikis.
Pengabdian itu antara lain:
a. Menerjunkan personil MP dalam memperkuat kepengurusan, atlit, pelatih dan wasit juri IPSI. Selalu siap mengikuti program pengenalan pencaksilat IPSI/PERSILAT keluar negeri, bahkan kalau perlu menyiapkan sebagian dana sendiri.  Tunduk kepada aturan pertandingan IPSI, yang dilakukan dengan program khusus, tanpa harus mendegradasi program latihan reguler MP.
b. Program latihan beladiri praktis penunjang kedinasan TNI/POLRI.
c. Program latihan tunanetra.
d. Program latihan rehabilitasi penderita narkoba.
e. Program latihan SAR, deteksi survivor gurila (gunung-rimba-laut).
f. Program latihan penyegaran sel u ibu2.
g. Program pengembangan metoda penyembuhan.
h. Pengembangan program latihan penunjang untuk peningkatan prestasi atlit cabang olahraga lain. Dst.... makin banyak yg jadi pe-er para anggota dewan guru, karena memang merupakan aplikasi yg bisa dikembangkan dalam keilmuan MP, dipicu oleh tuntutan kebutuhan masyarakat.

4. Dengan demikian, program latihan reguler MP memang dirancang u membimbing peserta latihan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan rata2, dimana tingkat kerontokan anggota, cenderung tergantung pada tingkat kematangan pelatih kolat.
Untuk pengembangan  program tanding "battle test" sebagaimana dimaksud, dalam pemikiran saya perlu tim riset untuk secara khusus mengembangkan teknik2 dalam menghadapi pertarungannya, khususnya untuk petarung MP yg blm ke tingkat naluri.

Kalau u penyusunan program binpres di IPSI "hanya" diserahkan ke pelatih bidang binpres. Saya yakin dari lima orang guru MP, sekurangnya yg tiga, mas Pung, mas Nardjo dan mas Mulyanto Tambak, akan langsung terjun sendiri dalam tim penyusun program dimaksud. Mereka benar2 battle tested plus "hobi". Tentu ada  skala prioritas karena faktor  pendanaan dan faktor kuatnya desakan. Silahkan dibuat ngengrengan proyek, integrated sampai target kapan dimana mau laga.

Untuk promosi lewat jalur lain, kita analisis selanjutnya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 00:10
terima kasih atas pencerahannya mas prapto.

mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan pada ucapan saya.

Kalau tidak diawali dengan statement-statement kontroversial, tentunya saya tidak akan dapat menimba ilmu dari mas prapto. :) sebenarnya ini bukanlah terlalu kontroversial, ini kita temukan dalam keseharian kita, yang bisa jadi juga dirasakan oleh diri sendiri, tetapi tidak berani diungkapkan khawatir menyinggung perasaan senior atau kehormatan perguruan. Tetapi saya yakin, selama dilandasi dengan niat baik dan hati yang ikhlas serta bertanggungjawab, sedikit banyak benang merahnya mulai terurai. Saya sendiri meyakini bahwa menerima kekurangan diri bukanlah sesuatu yang rendah, karena belajar legowo adalah satu bagian dari laku yang harus dilewati. Kalau saya memungkinkan sowan ke tempat mas prapto, saya pasti dengan senang hati akan mampir untuk bertukar pikir dan menimba ilmu.

Saya memang bisa jadi terlalu lancang berbicara, tapi itulah yang ada pada hati ini. Saya menemukan 'energi' yang berbeda dengan menulis semua ini. Seolah getaran ikut terpahat pada setiap tulisan yang saya rangkai. Terinspirasi dari postingan pewaris muda, Mas Hemi pada facebook yang menyatakan kalau (alm) Mas Budi menggunakan media memancing ikan untuk lebih memahami getaran, dan mas Hemi menggunakan media fotografi untuk memahami getaran, saya merenung, dimanakah potensi dimana saya bisa masuk pada tahap seperti itu? Merenung, mengingat, menelusuri perjalanan hidup, dan pada akhirnya menggunakan kekuatan pena dalam memahami getaran. Mulai dari saat tumbuh pemahaman itulah saya mulai menulis. Dimulai pada forum Kaskus, pada sahabatsilat, mulai membuat buku, menulis, menulis, dan menulis. Rasanya sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Belajar getaran dengan menulis. Awalnya tidak percaya, tetapi kawan yang membaca tulisan saya seperti merasakan kalau saya berbicara, seolah tulisannya seperti 'hidup', menyelami jiwa pembacanya, mengaduk-aduk perasaan, membuat tergelitik, gatal, memancing untuk dikomentari, dan sebagainya. Ini hanyalah salah satu bentuk mersudi yang saya rasakan cocok pada diri saya. Suatu proses pencarian yang akan berbeda pada tiap orang. Sangat unik, susah dijelaskan, hanya bisa dirasakan. Meski demikian, insya Allah manfaat.

***

Menarik pendapat bahwa silat adalah mutiara. Jika kita menganggap silat adalah mutiara, meski berada ditempat sampah/kubangan juga tetaplah mutiara. Itu memang benar. Tetapi alangkah lebih baiknya apabila mutiara itu bisa benar-benar terlihat bercahaya sepenuhnya dari berbagai sudut pandang yang melihatnya dan tidak berada pada kubangan atau ditempatkan pada kubangan. Jika bukan para pesilatnya yang mengangkatnya dari kubangan, tentunya keindahannya tidak akan terlihat utuh.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 05/10/2010 03:00
@ mas mpcrb.

Memang mungkin dengan niat yg sungguh2 demi kemajuan MP pada khususnya dan pencaksilat budaya bangsa pada umumnya, apapun upaya kita, seperti mendapat tambahan kekuatan.
Sebelumnya saya terlalu terikat kotak. Sebagai eksekutip PPMP, setiap pendapat yang saya sampaikan, dianggap mewakili PPMP, jadi harus normatif. Mengkritisi perguruan, sama saja dituntut memperbaiki sendiri. Mengusulkan suatu terobosan, ya harus menggalang dana dan melaksanakan sendiri.
Setelah lepas dari eksekutip, masuk ke dewan pertimbangan, menjadi lebih leluasa mengolah ide terobosan dari teman2.
Kebetulan, menjelang ulang tahun MP ke 50, insya Allah 2 April 2013, mas Pung memerintahkan untuk melakukan evaluasi di semua bidang, termasuk manajemen organisasi maupun manajemen keilmuan, untuk menyongsong paruh abad kedepan.
Artinya, mas Pung sebagai gurubesar, dua orang pewaris muda dan empat orang guru, sedang membuka pintu lebar2 untuk kritik-saran, termasuk saran terobosan guna menyongsong zaman.  Saya kebagian u terutama mengkaji masalah padepokan  pusat MP, berangkat dari fungsi strategisnya.

Oleh karena dimungkinkan adanya evaluasi mendasar bila memang diperlukan, kita bisa mulai dengan mengkaji isi forum diskusi SS, tentang model2 pengelolaan perguruan2, termasuk kungfu, karate, TKD, wushu dll sebagai referensi, dan menggali kritik saran dari para sohib persilatan. Sehingga perenungan dan diskusi kita memang masih panjang.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 07:21
terima kasih mas prapto.

saya rasa usulan tersebut menarik mas. Di era sekarang, kita dituntut untuk menjadi modern, ya modern dalam arti pengelolaan SDM, modern dalam manajemen, dan bisa jadi modern dalam keilmuan. Menjadi modern tidak lantas meninggalkan aspek-aspek traditional yang sudah melekat dan menjadi ciri khas serta telah teruji bertahun-tahun. Dengan demikian, 'ruh'-nya tetap ada tapi modernitas tetap bisa dirasakan terutama bagi anggotanya dan lebih jauh lagi bagi masyarakat umum.

Silat sudah identik dengan ciri tradisional. Memberikan sentuhan 'bumbu' modern bisa jadi akan membuat 'rasa' menjadi segar dan lebih baru sehingga memperluas jangkauan para 'penikmat' silat.

Ada yang mengatakan sebelumnya kalau silat adalah seni membunuh. Kalau konteksnya diterapkan pada zaman dahulu, mungkin iya benar. Mereka yang belajar silat memang wajib karena alamnya memang demikian. Tapi di zaman sekarang, terkadang orang bertanya apa gunanya belajar seni membunuh di zaman yang (relatif) sudah damai ini? Padahal, ketika dipelajari dengan sungguh-sungguh, pencapaian akhir ternyata dapat mengungkap hukum alam lewat gerakan-gerakannya dan getarannya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 09:07
'Ruh' esensi beladiri itu yang sejak awal menjadi perbedaan mendasar. Saat ini, 'ruh' dari MP identik dengan pematahan benda keras dan getaran. Sejauh mana aplikasinya untuk pertarungan nyata, saya sendiri belum melihat secara spesifik. Ruh pada MMA tidak ada karena gerakannya yang comot sana comot sini.

Saya sendiri juga tidak tahu apakah 'ruh' ini memang diarahkan kesana atau tidak.

Efektivitas penggunaan getaran di dalam pertarungan juga masih belum teruji. Kebanyakan argumennya adalah jangan mengujikan pada manusia. Sedangkan pertarungan sesungguhnya diuji ya dengan manusia. Jadi agak paradox dan sulit mencapai titik tengahnya.

Ditambah lagi, karakteristik MP yang menjadi 'soft' pada tingkat lanjut membuat kesulitan mencari tahu keilmuan ini dan penerapannya, apalagi pada mereka yang secara geografis memang cukup jauh. Yang sering kita dengar seringnya hanyalah 'cerita' begini dan begitu. Kehebatan ini dan itu. Kebenarannya sendiri saya belum tahu persis. Saya sejauh ini hanya menyaksikan beberapa saja. Mendobrak kebiasaan ini berarti mendobrak adat ketimuran dan sekaligus memaksa dewan guru untuk 'turun gunung'. :) Ini menarik sekaligus yang paling menantang.

Kadang berpikir, apa iya bisa memberikan masukan kepada MP untuk membuat semacam 'pilot project' pada beberapa orang yang dilatihkan teknik mematikan dan kemudian ditandingkan diluar dengan beladiri lain sebagaimana BJJ dengan Royce dan Rickson Gracie-nya? Saya rasa, kalau teknik getaran + gerak MP disandingkan bersama dengan benar hal itu akan (relatif) bisa mengalahkan teknik manapun.

Ini bayangan saya mas mengenai style fighting MP (idealis saya):

Tahap awal, petarung MP harus menguasai teknik getaran (ini sebagai basic) dan kemudian ditambah dengan teknik pertarungan lanjutan brdasar gerakan-gerakan MP.

Pesilat harus bisa membentuk 'medan pertarungan' dengan getaran dengan luas tertentu. Kemudian dikirimkan getaran pada tubuh lawan untuk mengetahui bagaimana ia bergerak.

Ketika bertemu lawan di arena, maka medan getaran diperluas menjadi selebar arena. Dengan demikian, pesilat MP bisa merasakan semua pergerakan lawannya dan mencapai tahap 'weruh sadurunging winarah' atau 'tahu sebelum terjadi' dengan getaran naluri. Setiap serangan dan tangkisan selalu didasarkan pada efek ledak getaran. Pada prinsipnya gerakan apapun kalau itu hanya fisik maka akan sia-sia saja bertemu dengan getaran. Maka bekal getaran harus diberikan lebih kokoh di awalnya. Pada kondisi ini, style MP dapat menggunakan gerakan apapun yang ada pada tata gerak MP (ayunan untuk 'melempar' serangan bawah dari BJJ, pancer untuk menahan tendangan muay thai, dan banyak lagi). Bertemu dengan BJJ yang melakukan ground fighting, dapat dilakukan 'sentuhan' ayunan dengan mengirimkan getaran perusak. Bertemu muay thai, juga demikian. Pesilat MP sudah tahu kemana arah gerakan dari lawan karena medan getaran melingkupi lawan dan arena. Tak ada yang tersembunyi, semua terlihat.

Pesilat mempelajari teknik getaran secara mutlak + gerakan MP yang sudah ada. Serangan dan tangkisan tidak hanya fisik, tetapi harus dibarengi dengan getaran di dalamnya. Selalu harus seperti itu.

Hehehe, itu idealnya. Tidak terlalu berangan-angan tetapi tidak musykil untuk dilakukan. Karena keilmuan getaran yang sangat luas aplikatifnya.

Saat berlatih getaran pribadi juga kita dilatih untuk membentuk medan energi tubuh yang berbentuk bola yang makin lama makin luas. Dan ketika medan ini menyentuh 'benda' maka kita akan bisa merasakan keseluruhan benda tersebut. Kalau itu diterapkan pada pertarungan, tentu sangat efektif.

Simpul-simpul tenaga getaran harus sudah dibuka karena dari sinilah nanti asal muasal tenaga perusak digunakan kepada lawan.

Kalau pilot project ini bisa dilakukan, saya yakin ini akan menjadi legenda pertarungan baru yang selama ini cuman ada di cerita-cerita silat.

Dengan mengoptimalkan sisi aplikatif dari getaran, maka teknik apapun menjadi powerful.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 09:17
Jadi jika dibikin summary kira-kira demikian:

A. Tahap Pelatihan
Ini meliputi basic dari persyaratan keilmuan yang harus dikuasai.

   1. Tata nafas (ini sangat wajib karena basic untuk power dan getaran)
   2. Getaran pribadi (wajib dikuasai)
   3. Getaran naluri (wajib dikuasai, tutup mata hanya sebagai tambahan)
   4. Getaran perusak/penghancur (bayu setho, cs. ini sudah ada tapi jarang diajarkan karena kecenderungan pergesera pemikiran yang semula perusak menjadi penyembuh)
   5. Getaran untuk perlindungan tubuh (dari benturan-benturan fatal)
   6. Pengetahuan mengenai titik-titik vital pada tubuh manusia dan bagaimana memperbaikinya (regenerasi penyembuhan).
   7. Tata gerak MP (kenapa diberikan terakhir karena olahgerak lebih mudah dari olahrasa)


Latihan dilakukan dalam waktu 1,5 tahun dengan fokus hanya pada getaran dan di akhir diajarkan tata gerak MP (serangan, hindaran, tangkisan, itu relatif mudah dipelajari oleh mereka yang sudah memahami getaran karena belajar getaran juga akan meningkatkan kecerdasan pengetahuan dan pemahaman penggunanya).

B. Tahap Pengujian Getaran Pada Benda Mati
Pada tahap ini pesilat dihadapkan pada uji kemampuan getaran perusak pada dua kondisi yakni:

   1. Benda mati diam (diletakkan pada sasaran diam seperti yang selama ini dilakukan oleh MP melalui UKT-nya)
   2. Benda mati yang bergerak (misal batu dilempar, atau beton cor dipatahkan dalam kondisi di udara, mematahkan kikir pada kondisi di udara, mematahkan baru kali pada kondisi bergerak, sodokan pada batu kali yang dilempar, dan sejenisnya).

Selama ini yg selalu menjadi permasalahan dalam uji pematahan benda keras statis adalah efektifitas nya pada pertarungan sesungguhnya. Hampir tidak ada korelasi antara kemampuan pematahan benda keras statis dgn kemampuan tarung praktisi beladiri.

Dengan melakukan ujian pematahan benda keras dalam kondisi dinamis setidak bisa didapat suatu korelasi yg lebih baik antara kemampuan power dgn kemampuan tarung seorang praktisi. Saya bayangkan dgn melakukan ujian pematahan benda keras dinamis dgn cara melemparkan 30 besi dragon dalam 1 menit ke arah seorang praktisi MP bisa dilihat tingkat kemampuan penerapan power praktisi MP dalam suatu pertarungan yg jauh lebih lebih baik dibanding uji pematahan 3 balok beton.

Dengan melemparkan 30 besi dragon dalam 1 menit ke berbagai arah atas, bawah, kiri, kanan, tengah dsb pada seorang praktisi MP dan praktisi MP tsb - yg dalam keadaan melakukan shadow boxing - diharuskan mematahkan dgn berbagai teknik pukulan dan tendangan dgn menggunakan bermacam anggota tubuh misalnya pisau tangan, pukulan, sodokan, bahu, kepala, kaki dsb - praktisi MP jadi terkondisikan untuk mengerahkan power pada sasaran yg bergerak.

Dari metode pengujian seperti ini juga bisa dilihat tingkat stamina praktisi dalam pertarungan sesungguhnya - seberapa cepat stamina praktisi MP habis dalam suatu pertarungan dan seberapa cepat tingkat recoverynya.

Apa lagi jika pengujian ini dilakukan dalam beberapa sesi uji, misalnya pada sesi pertama 30 besi dragon/menit kemudian istirahat 10-15 detik - sambil praktisi MP tsb tetap melakukan shadow boxing dan berusaha merecovery staminanya - kemudian dilakukan sesi berikutnya 30 besi dragon/menit. Jika ini diujikan selama 3 menit bisa didapat gambaran bagaimana kemampuan stamina dan power praktisi jika melakukan pertarungan satu ronde.

Suatu metode pembentukan Style Bertarung MP yg cukup baik saya rasa - dgn melakukan shadow boxing dgn sasaran besi dragonyg dilemparkan tidak perlu kuatir mencederai lawan tetapi tetap bisa mengkondisikan praktisi MP dalam situasi pertarungan sesungguhnya.

Banyak sekali varian pengujian pematahan benda keras dinamis lain yg bisa diujikan untuk melihat tingkat kemampuan praktisi. Jika besi dragondianggap terlalu mudah kemudian bisa ditingkatkan dgn menggunakan materi uji yg lebih berat misalnya batu kali atau beton cor atau bisa juga kombinasi ( 20 besi dragon+ 2 beton cor ) / menit jadi bisa dilihat kemampuan power untuk melakukan pukulan ringan dan pukulan berat seorang praktisi MP dalam satu rondenya..

Pada kondisi ini akan membuat kemampuan pesilat jadi lebih mumpuni. Kurang lebih 3-6 bulan dengan koreksi dan perbaikan-perbaikan dengan standar yang ditingkatkan dari setiap keberhasilan pematahan/penghancuran. Pada tahap ini, pesilat dapat menggunakan sisi telapak tangan, pukulan, ujung siku, jari (totokan), bahu, kepala, kaki, sisi telapak kaki, dan semuanya. Karena ia sudah memiliki kemampuan untuk menyalurkan getaran pada anggota tubuh manapun yang ia inginkan.

C. Tahap Orientasi Pertarungan
Pada tahap ini pesilat harus bisa memancarkan getarannya untuk melingkupi arena dan lawan. Ia harus bisa melakukan menebak kemana arah serangan lawan dengan getaran naluri. Ia juga harus bisa melakukan hindaran dan tangkisan dan juga serangan pada setiap serangan lawan pada dirinya dengan energi ledak getarannya.

Pada tahap ini, mau tidak mau harus sudah diujicobakan pada manusia dengan terlebih dahulu dipikirkan aspek pengamanan (seperti misalnya jika terjadi cedera berat). Ini resiko pertarungan. Misal, tingkat kekuatan getaran dikurangi sehingga efek daya rusaknya menjadi lebih rendah. Pada tahap ini hanya untuk mengujicobakan keberhasilan getaran perusak pada lawan sehingga lawan menjadi tidak berdaya.

Lawan dari pesilat harus menggunakan teknik-teknik beladiri lainnya (yang ditirukan). Tahap ini belum bersifat open dojo karena lebih kepada mobilitas pertarungan dan latihan penggunaan getaran pada pertarungan.

Salah satu kelebihan yg dimiliki MP yg sangat jarang dimiliki perguruan Pencak Silat lain adalah akses untuk melatih militer. Kesempatan untuk melatih militer ini saya rasa bisa dimanfaatkan untuk membuat semacam pilot project untuk metode pelatihan yg sudah ada dalam bayangan saya ini.

Pada satuan Militer ini seakan sudah siap menyediakan tempat bagi pilot project bagi metode latihan yg sudah saya rencanakan - terutama Tahap C ( Orientasi Pertarungan ). Sedang Tahap B ( Pengujian Getaran Pada Benda Mati - Dinamis ) - seperti yg saya uraikan di atas - saya rasa bisa diterapkan pada kolat-kolat MP yg ada di masyarakat sipil tanpa perlu menghadapi kendala yg berarti.

Personel Militer memiliki kelebihan yg tidak dimiliki masyarakat sipil, mereka memiliki kesiapan fisik di atas rata-rata orang sipil pada umumnya. Dan selain itu mereka juga terlatih dgn berbagai latihan beladiri dari aliran beladiri lain. Ada satuan militer yg dilatih dgn Judo, Karate, Jiu Jit Su, Krav Maga, Systema dll.

Jadi tidak terlalu sulit mencari sparring partner untuk Tahap C ini. Selain banyak personel militer yg bisa menggunakan teknik beladiri lain ( Judo, Jiu Jit Su, Krav Maga, Systema dsb ) - Personel militer juga memiliki kesiapan Fisik yg jauh lebih baik untuk melakukan sparring yg berat.

Resiko cidera juga bisa dihindari dgn cara mengurangi daya rusak getaran yg digunakan seperti yg saya katakan. Dari sparring ini bisa didapat gambaran tingkat getaran yg diperlukan untuk melumpuhkan lawan tanpa sampai menimbulkan resiko cidera. Ketahanan tubuh personel militer saya rasa jauh lebih siap dibanding ketahanan tubuh orang sipil dalam Tahap C ini.

Efektivitas penggunaan getaran di dalam pertarungan yg masih belum teruji - bisa dilihat pada Tahap C ini. Untuk Tahap D saya rasa bisa ditunda setelah dilakukan evaluasi dari hasil yg didapat dari Tahap C ini.

D. Tahap 'Turun Gunung'
Ini adalah tahap 'mengirimkan' pesilat pada pertandingan-pertandingan full body contact seperti UFC, PRIDE, atau free fighting di Thailand. Disini barulah adanya konsep open dojo dimana beladiri lain silahkan mencoba atau dicoba.

Sepertinya idealis saya terlalu berlebihan. Tetapi saya sendiri merasakan, gerakan MP tanpa getaran adalah seperti tubuh tanpa ruh. Kosong, hanya wadag saja. Apa bedanya dengan belajar gerakan pada beladiri lain. Tetapi gerakan MP + getaran itu sangat powerful dan mumpuni. Itu yang harus dijadikan basic pemahaman awal mereka-mereka yang ingin jadi petarung di MP.

hehehe, hanya cerita kemarin sore dari mantan 'petarung'. Sekarang malah jadi 'soft' karena kebanyakan 'keracunan' filosofi perguruan... :)

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 11:03
Apa yang saya jelaskan adalah pemikiran dari hasil merenung, menyaksikan banyak pertandingan IPSI, non IPSI, MMA, KungFu, TKD, Karate, dsb, sehingga bertanya-tanya seperti apakah 'style fighting MP'? Hal ini juga berdasarkan dari hasil diskusi dari salah seorang kawan MP senior melalui email yang memiliki pemikiran yang sama. Seperti apakah style bertarung MP?

Melihat pesilat MP menang di kejuaraan dengan aturan IPSI, senangnya bukan main. Tapi lantas jadi pertanyaan apakah itu style bertarung MP? Jawabnya tentu saja tidak. Itu bukan style MP. Melihat juara nasional, juara dunia dari MP, senang bukan main. Ada kebanggan tersendiri. Tapi masih menyisakan pertanyaan 'apakah itu style MP?'. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayut dan memancing pemikiran hingga akhirnya mencoba meramu, merumuskan, mencari, bagaimana style bertarung ala MP yang tidak keluar dari pakem, yang tidak perlu mempelajari gerakan beladiri lain secara besar-besaran, tapi efektif, powerful, adaptable, dan bisa diterapkan untuk segala pertarungan tanpa melupakan aspek-aspek keilmuan MP itu sendiri. Saya tidak berbicara mengenai bayu seto, kidang telangkat, kere wajo, dsb. Mungkin keilmuan itu hanya ada pada tahapan lanjutan yang sangat selektif dan ada faktor berjodoh. Tapi fighting rasanya bukan masalah jodoh-jodohan, tapi masalah penerapan teknik dan latihan. Dengan menerapkan kombinasi keilmuan yang baik, dengan didukung sumber daya yang ada, potensi yang ada, seharusnya bisa muncul suatu pola.

Yang saya lihat, pola pemetaan yang sekarang ini (dan bisa jadi dalam tahun-tahun belakangan) sedang terfokus pada aspek kemanusiaan. Aspek untuk menjadikan style fighting MP sendiri seperti apa masih belum muncul. Membiarkan cabang-cabang terasimilasi pada gerakan-gerakan lain. Disadari atau tidak, ini juga terjadi pada perguruan lain. Jika yang menang di dalam kejuaraan IPSI adalah Tapak Suci, apakah ia murni menggunakan teknik dengan style Tapak Suci? Jika yang menang dalam kejuaraan IPSI adalah SHT, PD, SMI, dsb, apakah mereka menggunakan teknik mereka sendiri? Tentu kita sepakat menjawab, TIDAK. Teknik mereka asimilasi, percampuran dari teknik-teknik lain. Ini tidak salah, sama sekali tidak. Akan tetapi kita jadi tidak tahu bagaimana teknik asli mereka sendiri. Sudah jadi bias karena terlalu banyaknya percampuran. Sebagai contoh, Tai Chi mampu bertarung tanpa mengadopsi gaya gerakan dari beladiri lain. Ia bisa murni menggunakan apa yang dimiliki, segala potensi Tai Chi. Ya gerakannya, ya kelambanannya, ya kecepatanya, ya tendangannya (yang kadang bentuknya agak lucu seperti orang belajar menendang), termasuk aspek 'chi'-nya. Seharusnya kita juga bisa meramu hal seperti itu. 

Getaran sudah terbukti tidak mustahil untuk dilatih. Sudah banyak yang bisa, dan sudah banyak yang merasakan. Tinggal mengubah menjadi bentuk lain, mengadaptasikan pada medan laga, dan membiarkan ia mengikuti kemana lawan bergerak. Karena getaran seolah 'hidup', ia bisa 'memberitahu' kita kapan dan kemana serta bagaimana kita bergerak. Pada kondisi demikian, 'tahu sebelum terjadi' tidak mustahil untuk dicapai. Pada tahap ini, semua kembangan, gerakan apapun yang dimiliki, sudah jelas bisa diterapkan. Ingin menunjukkan 'main cantik' dengan kembangan, monggo. Ingin menunjukkan 'main keras' dengan serangan telengas, ya monggo. Semua jadi bisa dilakukan.

hehehe, mohon maaf lagi-lagi topiknya kontroversial. :)

cuman olahpikir kecil dari anak kecil yang lagi gemar 'mainan'...

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Taufan on 05/10/2010 11:51
Assalamu 'alaikum,

Hehehe... mas mpcrb mengingatkan saya pada pemikiran teman2 MP era 80an waktu kuliah di Bandung. Nah mumpung DPR sudah menyatakan Indonesia darurat preman, momennya pas banget untuk kembali menghidupkan tradisi pendekar "turun gunung" nih  x-))  [[peace2]]

Wassalam,
TP 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 12:06
Menurut saya, tidak demikian juga mas Taufan.

Di era sekarang pengertian mengenai 'turun gunung' musti di reduce. Atau paling tidak, musti didefinisikan ulang. Karena di zaman sekarang sudah ada perangkat-perangkat hukum yang sudah mengurusi hal-hal seperti itu. Melakukan konsep 'turun gunung yang 'membabat' preman hanya akan berbenturan dengan aspek hukum. Lain halnya kalau koridornya memang beladiri. Kalau terjadi kecelakaan, tentu tidak ada yang menuntut dan tidak akan dituntut dari sisi hukum.

***

Konsep 'tahu sebelum terjadi' bukan didasarkan pada melampaui pengetahuan Tuhan, atau seolah dewa yang bisa tahu segalanya. Petarung tidak dididik untuk menjadi sekelas dewa yang sekali sentil dari jarak jauh maka musuh jadi tumbang. Atau dengan tatapan mata membuat musuh bertekuk lutut. Tidak demikian. Tetap ada aspek sport dan rasionalitas disini. Kita semua tahu, bahwa setiap serangan apapun pada gerakan, melibatkan organ tubuh. Kaki yang akan menendang diawali dengan kedutan pada otot. Tidak mungkin kaki bisa menendang tanpa diawali dengan gerakan otot. Gerakan otot juga tidak mungkin muncul dengan sendirinya tanpa gerakan syaraf, tanpa ada respon-respon elektrik pada syaraf. Dan getaran sudah teruji mampu masuk pada level ini.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 05/10/2010 13:59
@ mas mpcrb.

Secara umum, pola tahapan para dewan guru nggak jauh2 amat dari pemikiran mas mpcrb. Untuk mendapat peluang PUNCAK PRESTASI, maka secara ilmu keolahragaan, tentu masih ada faktor lain, antropometri, bakat dan latihan penunjang sejak dini.
Secara managemen profesional, tentu diperlukan elemen pendukung yg terorganisir rapi, dari pendanaan, ofisial, talent scouting, biaya latihan, persiapan, pelaksanaan, pasca tanding dst. Apalagi mengarah pada tarung diluar negeri. Jer basuki mawa bea. Kalau ada atlit MP belum mateng yg mau buru2 ikut tarung MMA, sy sarankan menemui dewan guru, untuk mendapat petunjuk antisipasi teknik lawan.

Mas2 bule di MPUSA sudah gerah, ngebet pingin ikut tarung MMA. Biaya ikut/jadi peserta disana lebih murah. Cuma untuk pematangan datang kesini atau mengundang dewan guru kesana, disamping hambatan tugas kedinasan, juga menunggu sponsor dana. Mudah2an terbuka pintu rejeki untuk komunitas MP yg dermawan. Sehingga program bikin padepokan pusat sebagai pusat keilmuan segera terwujud, program ikut tarung MMA bisa dipersiapkan lebih matang.
"Agal-alus keturutan"
(hard maupun soft bisa terlaksana)
"Kaneman- kasepuhan" terakomodasi semua. Amiin.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/10/2010 14:51
sumangga kang mas prapto...

semoga benar-benar bisa menjadi kenyataan, Insya Allah...

sekali lagi mohon maaf kalau ada kata yang salah dan agak lancang dalam bertutur...

 [[peace2]]

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/10/2010 01:37
@ mas mpcrb.

Kisah MP adalah kisah paguron tradisional, yg dengan filsafat keilmuan tradisional yang menjadi akar budayanya, ingin tetap lestari di era modern saat ini dan masa depan.
 
Mas Pung menyadari, setelah perjalanan sekian lama, diperlukan evaluasi mendasar. Dimulainya dengan keputusan tak lazim, melimpahkan jabatan pewaris kepada putra bungsunya, mas Amos, Mas Pung minta masukan evaluasi, yg akan dikoordinir dua pewaris muda, mas Hemi dan mas Amos, sebagai bahan untuk menyusun dasar kebijakan kedepan.

Momentum evaluasi ini diperkuat oleh momentum diluar, yang digulirkan oleh sohib2 FP2STI, ESI, SS, TANGTUNGAN Project dll, yg dengan caranya sendiri, berusaha mengangkat paguron tradisional kepermukaan, agar lestari di era "modern" ini. Jadi ini menjadi persoalan bersama, bisa sharing pemikiran.

Masukan dari pengurus, pelatih bahkan anggota dewan guru, masih kurang lancar. Sepertinya ada hambatan psikologis akibat aturan pelaksanaan tugas yg ketat. Tidak klop dengan cara "ngedumel"nya.
Dari anggota yang "diluar kotak", mungkin termasuk kita, lebih leluasa memberi masukan . Meski begitu akan lebih afdol kalau berusaha memahami kondisi obyektip luar dalam, sebagai dasar evaluasi.

Karena obyek evaluasi  cukup lebar, sedangkan saran pertimbangan musti komprehensip, bisa dimulai dengan brainstorming. Sistematika pemasalahan bisa ditata kemudian, bila perlu dijadikan bahan untuk menyusun SWOT analisis.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/10/2010 03:25
Asumsi asumsi:

1. Capoeira diasumsikan jauh lebih populer. Apakah image populer karena media? Atau karena "barang baru" dan tampil beda? Betul pernah ada periode/ musim dimana capoeira sering ditampilkan sebelum pertunjukan band. Sekarang sudah tidak. Apakah ketika puncak populer, anggotanya membludak? Atau orang hanya asyik nonton, tanpa ada driving force yang cukup yang mendorong orang2 melangkah ikut latihan? Berapa usia rata2 mereka mulai masuk? Mungkin segmen 19-25 th. Kalau melihat di Bulaksumur, sudah makin habis.
2. Apakah komik2 Jepang secara signifikan meningkatkan anggota baru beladiri Jepang? Atau hanya mendorong ikut festival Matzuri? Banyak teman2 di karate yg ngeluh kalah pop lawan TKD. Apalagi judo,kempo.
Dilain pihak, TKD juga ngeluh, anggotanya merosot tajam.
3. Apakah dengan melesatnya cabang wushu diseluruh dunia, diikuti secara signifikan oleh peserta latihan umum? Bisa ditanya pada rekan2 perguruan kungfu. Kalaupun ada, tidak massal. Kalaupun massal cepat rontok, tinggal yg betul2 serius.

Sampai usia tertentu, masih dipegang TKD, begitu dilatih jadi atlit, yang porsi latihannya lebih berat dari silat, banyak rontok. Yang buka latihan di fitness center/mall, hanya TKD.
Aikido juga hanya eksklusip, tidak massal.
4. Saya tidak punya perkiraan tentang BJJ. Apakah hanya penuh setingkat gym, atau sampai sewa tempat di gedung2 lain.
5. Sejauh mana pengaruh kehebatan juara MMA, muaythai, dsb terhadap peserta umum yg ikut MMA,Muaythai dsb. di Indonesia?

Saya tidak pandang enteng, tapi juga tidak "blereng"/silau.
Menurunnya peserta beladiri, cenderung menyeluruh.

Pencaksilat bisa mengakomodir multi segmen, baik SES (status ekonomi sosial), maupun nyaris semua usia., dari desa sampai kota. Dari yg jelata sampai eksklusip.


Apabila ekskul  pencaksilat mulai jalan, kondisi nyata peserta silat diperkirakan trend meningkat.

Mekanisme bertahan aliran/paguron silat bila tertekan:
a. Meng "cyste", mengecilkan jumlah murid, hanya yg terpilih, lestari, bertahan, tetap jalan.
b. Memperbaiki diri, main ofensip pasar, termasuk upaya promosi multimedia/media mix/IT.
c. Melakukan pressure kepada pemerintah, tentang hak istimewa pelestari budaya.

Kalau memungkinkan, disemua lini persinggungan, pencaksilat harus unggul. Tentu saja tidak sambil lalu, harus dipersiapkan serius/profesional.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 08/10/2010 09:34
Apabila ekskul  pencaksilat mulai jalan, kondisi nyata peserta silat diperkirakan trend meningkat.

Saya sangat sepakat dengan hal tersebut. Beberapa pemetaan memang sudah sangat mengena sasaran. Saya coba menambahkan mas:

1. Himbauan perguruan kepada para orang tua pesilat, seyogyanya memasukkan anak-anaknya ke dalam pencaksilat. Adalah sangat miris ketika kita mengetahui ada orang tua yang pesilat (pelatih silat, atau senior, atau sesepuh) tetapi anaknya bukan pesilat dan bahkan memasukkannya pada beladiri asing. Kebanyakan berlindung pada kata 'demokratis'. Tapi saya tidak pernah melihat ada anak-anak yang 'demokratis' untuk memilih. Anak dikursuskan matematika, di les-kan fisika, biologi, les piano, renang, dsb, apakah mereka memilih? Tentu tidak. Orang tua mengarahkan untuk kesitu. Tapi kenapa tidak mau diarahkan pada silat? Ini buat saya, meski secara signifikan, tidak menurunkan jumlah anggota tetapi efeknya sangat kurang baik. Dalam perjalanan hidup kita, banyak sekali keadaan dimana awalnya kita tidak cinta, tapi karena kita masuk ke dalamnya, kemudian jadi suka, dan pada akhirnya cinta. Toh kita bertemu istri kita juga bukan langsung karena cinta, tapi karena suka dulu. Witing tresno jalaran soko kulino. Temukan anak-anak kita dengan silat, ajak mereka bersilat, ajak ikut kegiatan silat bapaknya. Berapa banyak juga dari ayah/suami yang pesilat tapi istrinya tidak pernah diajari silat? Bagaimana sang anak melihat pencaksilat sehari-hari kalau lingkungan keluarga pesilatnya saja sudah seperti itu. Mereka jarang melihat ayah/ibu nya yang tahu guru silat memperagakan gerakan-gerakan di depan mereka, atau mengajak mereka serta. Sedangkan ketika sang anak duduk manis di depan TV selama berjam-jam yang ditontonnya adalah beladiri asing? Jadi ini sifatnya hanya himbauan personal saja. Mekanisme internal perguruan tetap memang harus menggunakan mekanisme SWOT untuk melakukan analisa komprehensif.

3. Memaksimalkan forum-forum besar untuk penyebarluasan informasi silat. Dimulai dengan giat menulis artikel-artikel mengenai silat. SahabatSilat adalah salah satu forum khusus beladiri. Bagaikan lautan luas yang sarat informasi. Meski demikian, masih kalah populer dibanding forum-forum kaliber seperti Kaskus (www.kaskus.us). Alangkah mantapnya apabila hal-hal yang menarik pada forum SS ini juga ditulis pada forum Kaskus, toh tinggal copy paste dan disebutkan itu diambil dari mana. Ini akan meningkatkan hits pada mesin pencari. Segmen kaskus sangat beragam, potensi penyebaran informasi sangat luar biasa. Tapi juga mereka sangat liberal, jadi harus siap kalau tiba-tiba nyelonong cemoohan atau ucapan yang bikin kuping panas. Hal-hal yang terkadang tidak disadari oleh perguruan adalah ketika suatu informasi yang buruk beredar di internet dan tidak dilakukan counter kepadanya, tentunya hal ini akan terindex oleh mesin pencari (Google, Yahoo, Bing, dsb). Efeknya, ketika ada orang yang ingin mengetahui hak ikhwal mengenai suatu perguruan silat, mesin pencari tersebut akan menunjukkan link yang berisi informasi yang salah tersebut. Jika tidak cepat dilakukan counter, minimal dibuat perimbangan berita, maka akan sangat merugikan perguruan itu sendiri. MP sudah mengalami ini, Bambu Kuning juga. Diperlukan suatu 'customer service online' dari perguruan. Media online, saat ini begitu efektif mengenai penyebaran informasi. Analisis Gartner mengatakan kalau tarafnya sudah setara bahkan lebih dari koran fisik. Itulah juga sebabnya kenapa setiap surat pembaca online (pada Kompas, pada Detik, Republika, dsb) yang isinya merugikan suatu institusi akan cepat tanggap dibalas. Kekuatan media online mampu membuat kasus Prita Mulyasari dibebaskan dari penjara. Kekuatan media online juga mampu 'menelajangi' tunanetra Rama mengenai kebohongannya dengan mengatakan bahwa ia adalah komposer lagu-lagu game terkenal. Jadi, media online sungguh sangat ampuh. Kecenderungan orang muda zaman sekarang untuk ber-online-ria sudah tidak bisa dibendung. Tanpa memanfaatkan ini, sebaran informasi menjadi sempit.

Pada poin ini sangat dilematis, karena akan terkait dengan pakem untuk tidak menonjolkan diri. Khawatir disangka jumawa atau khawatir muncul kesan jumawa. Tapi niat itu urusan kita dan Tuhan. Biarlah Tuhan yang menilai apakah ikhlas atau ada maksud terselubung.

4. Aspek-aspek praktis dari gerakan-gerakan silat, sudah mulai harus diposting pada video online semacam Youtube, Vimeo, atau sejenisnya sebagai salah satu 'oleh-oleh' belajar silat. Tidak masalah meski hanya kulit. Syukur kalau bisa dibungkus dengan filosofi. Membuat video + text di dalam video sudah sangat mudah dilakukan di saat sekarang. Tidak perlu menjadi ahli desainer atau gratis untuk sekedar melakukan itu. Yang belum ada hanya actionnya. 'Bungkus'-nya silahkan disesuaikan dengan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dipublikasikan. Bombardir informasi silat dibanding informasi beladiri asing pada YouTube (video online) sangat jauh perimbangannya. Kecenderungan masyarakat yang serba ingin tahu, sangat cocok sebagai salah satu media pemasaran.

5. Sudah mulainya kita rutin memposting pesilat-pesilat muda yang berprestasi pada media online. Jangankan website Merpati Putih, website SilatIndonesia.com sendiri belum mempunyai topik khusus yang berisi informasi mengenai pesilat-pesilat daerah yang menjuarai event-event tertentu. Hal ini akan sangat membanggakan pesilat tersebut karena namanya tertoreh. Profil-profil potensi pesilat daerah belum diangkat secara maksimal. Baru-baru ini Jabar menjadi Juara Umum POPWILNAS di Palembang dengan menggondol 12 emas dari cabang Silat saja. Beritanya bahkan belum masuk ke SilatIndonesia.com. :( Untuk MP sendiri, alhamdulillah pesilat MP Cirebon, Rifki, mendapat emas untuk kategori Laga. Hal-hal seperti ini contohnya harus sering diangkat ke media. Sehingga sedikit banyak orang bisa melihat kalau silat punya potensi.

Ada beberapa SWOT yang sedang saya susun sebenarnya di sela waktu luang rutinitas sehari-hari. Saya akan kirimkan pada mas Suprapto sebagai bahan masukan dan diskusi. Beberapa SWOT juga sudah kami lakukan di Cirebon (meski hanya diskusi antar teman yang sepaham). Pengalaman Cirebon mengirimkan atlet ke TPI Fighting Championship, kekalahannya, dsb, sedikit banyak bisa menjadi masukan. Kawan-kawan di Cirebon memang tidak terbiasa dengan SWOT, mereka alamiah saja, maka saya membantu mencoba memberikan analisa dari apa yang mereka lakukan dan terapkan. Terutama pada aspek-aspek yang berhubungan dengan laga. Target kita, ada juara nasional silat dari Cirebon, bahkan tidak menutup kemungkinan, juara dunia. Rencana sudah disusun, pelatihan sudah berjalan. Hasilnya, pesilat alhamdulillah mulai merangkak naik. Dari juara Kejurlat, Kejurda, kemudian Kejurnas, lalu bisa masuk ke kejuaraan IPSI, dari mulai POPKOTA, POPWIL, POPWILNAS, dan sekarang akan masuk PORDA. Dua langkah lagi masuk ke level dunia.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/10/2010 09:41
Beladiri militer.

Benar bahwa beladiri Jepang dan Korea terkesan meningkat. Ada paket2 baru, ada aktivitas ATHAN /ATMIL, ada dukungan kelompok bisnis, ada  persaingan, ada upaya ekstra negara2 tertentu membendung ekspansi produk China. Paket beladiri mereka mudah dilatihkan secara massal. Belum tentu advance pada praktek sesungguhnya.
Banyak kejuaraan BDJ nempel pada kegiatan TNI/POLRI.
Terbukti, masih terpelihara unit2 kecil pencaksilat, yg bisa menjadi cantolan untuk peningkatan.


Kompetisi Olahraga.

Kalau disimak, sekurangnya di Jawa/BALI, jumlah kompetisi pencaksilat, mulai dari tingkat SD/SMP/SMA, Kejurda, Kejurwil, Sirkuit , kejuaran mahasiswa, kejuaraan antar perguruan tinggi dst, trend meningkat, meski pada puncak prestasi (mis SEAGAMES) ada trend penurunan prestasi, diidentifikasi karena menurunnya kinerja klub/perguruan dibidang talent scouting dan penggemblengan atlit untuk atlit IPSI.

Liputan media.

Liputan pencaksilat dalam media elektronik terkesan kurang, tapi bukan tidak ada. Muncul beberapa production house yang memberi perhatian kepada peliputan/pendokumentasian pencaksilat, yang bisa dimainkan lebih lanjut.

Peran pemerintah.
Meski kurang, mulai ada kemajuan.

Mengamati perkembangan beladiri selain silat, sekedar mengamati KOMPETITOR, bukan MUSUH.
Kita tidak boleh "gembeng"/cengeng, terlalu mengandalkan proteksi, karena bisa kurang berotot dan kurang kreatip.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 08/10/2010 09:53
disitulah mas, kreativitas terkadang akan berbenturan dengan pakem. Sejauh mana berani menerapkan, tentu bergantung pada banyak faktor.

Saya memahami tingkat kompleksitas pengurus pusat. Pemetaan-pemetaan yang dibuat tentu tidak sesederhana seperti Cirebon. Apa yang kita alami di Cirebon, sifatnya hanya mungkin insidental. Sebarannya tidak merata untuk cabang-cabang lain. Tapi minimal dengan forum ini, sedikit banyak kita bisa memberikan masukan langsung jika bertatap muka belum dimungkinkan, dan menjadi sharing bagi rekan-rekan lain. Kita berangkat dari niat baik, niat yang ikhlas. Melatih anak-anak atlet pada laga setiap hari Sabtu/Minggu, tidak pernah ada bayaran. Itu tidak masalah buat kami. Ikhlas saja. Bayarannya hanyalah kemenangan anak-anak saat kejuaraan. Itu sudah lebih dari cukup. Yang sulit adalah menumbuhkan rasa percaya diri dan keyakinan kalau silat bisa menjadi jalan.

sekali lagi mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Tanpa bermaksud menonjolkan diri sebagai yang paling bisa. Saya hanya sumbang saran. Cirebon tidak lebih baik dari cabang lain, kami menyadari itu. Dan disitulah kami akan berbenah. Melakukan apa yang bisa kami lakukan.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/10/2010 13:49
@ mas mpcrb.

Lebih2 kita dalam tahap evaluasi. Tidak ada "saru siku" (takut kalau saru, kurang sopan, atau takut kesiku, kuwalat). Sejauh apa yg bergolak adalah untuk kebaikan, sedapat mungkin disampaikan.
Konon ada phenomena yg terkadang dialami pesilat MP, tahap "topo ngrame". Nalurinya bergolak, terkadang protes mengenai prosedur keilmuan yg dijalani, menurut dia begini begitu. Para guru tidak mungkin marah, malah memperhatikan protesnya.
Kalau pada teman2 yg sedang mendalami kahusadan/penyembuhan, perwujudan topo ngrame, pasti tidak nolak kalau ada yg minta tolong. Tidak bisa diam melihat orang sakit. Ekstrimnya, begitu ketemu orang sakit, ngodor aja nawarin mau nolong gratis.

Ikutin aja gejolak itu, asal tetap terkendali.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/10/2010 14:43
Dalam kasus keilmuan  diatas, para guru akan memperhatikan, setelah ketemu , akan memberi petunjuk kunci, sehingga pesilat tadi mendapat pencerahan tentang permasalahan keilmuannya. Terkadang ada pesilat yg perlu prosedur khusus, tidak pas kalau prosedur umum.

Kembali ke falsafah keilmuan tradisional.
Adalah hasil perenungan oleh para local genius kita. Petunjuk pemahaman keilmuan yg justru untuk kebaikan hasil latihan .

Falsafah keilmuan tradisional  bisa dimanfaatkan sebagai akar pijakan bagi pesilat MP dalam kiprahnya. Fondasi yg kuat, tahan cuaca, menjadikan titis, empan papan dalam implementasi.

Ada pengertian, warisan budaya tidak dapat diterapkan presis sama dengan keadaan aslinya. Ambil apinya, bukan abunya.

Pemahaman keilmuan tidak bertentangan dengan agama manapun. Bahkan tercermin dalam bentuk salam MP. Nalar dan rasa, aqli dan naqli.
Kalau akal/nalar tdk bisa terima, jangan lakukan. Kalau rasa tidak sreg, tunda dulu. Kalau mantabs, silahkan dilatih.

Falsafah keilmuan, akan tut wuri handayani.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 08/10/2010 15:51
Konon ada phenomena yg terkadang dialami pesilat MP, tahap "topo ngrame". Nalurinya bergolak, terkadang protes mengenai prosedur keilmuan yg dijalani, menurut dia begini begitu. Para guru tidak mungkin marah, malah memperhatikan protesnya.

kalo itu saya yakin sepenuhnya mas, karena termasuk yang mengalami sendiri. Bahkan saking hampir putus asanya saya 'gantung baju' dan vakum total selama 3 tahunan. :( Kemudian disadarkan oleh salah satu rekan senior dan mulai lagi mempelajari dari hakekat, dari filosofi, lalu masuk ke gerakan, dan pemahaman. Hasilnya alhamdulillah sangat berbeda jauh. Banyak belajar dari situ.

tahap 'topo ngrame' itulah istilah yang dikatakan oleh rekan senior MP. Persis seperti yang mas katakan. Seperti ada yang banyak berputar-putar pada kepala, pemahaman, gerakan, makna gerakan, gejolak batin, jiwa, seperti meretas, lahir, seperti juga air bah, pengen keluar, mencuat, sesuatu yang tadinya tidak ketemu titik temu malah jadi ketemu. Pengetahuan yang berlarian yang awalnya tidak bisa dicerna, malah jadi kelihatan 'bentuk'nya. Rasanya, tahap latihan menjadi sangat berbeda. Melihat gerak, melihat materi. Kondisi memandang juga menjadi sangat berbeda. Lebih terang, lebih jelas, lebih bisa memaknai sedikit demi sedikit. Mulai ada keberanian untuk mengungkap isi hati, pengalaman-pengalaman, yang sebelumnya hanya bisa ditahan.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 08/10/2010 16:39
meski demikian, saya tidak mau mengklaim terlebih dahulu sebelum senior memberikan masukan. Salah satunya lewat forum SS ini melalui mas Suprapto dan yang lainnya. Perjalanan masih panjang... yang jelas, tidak akan berhenti sebagaimana upasara wulung terus belajar dan terus berusaha memahami hidup di dalam kehidupan...

salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/10/2010 21:15
Kembali ke hulu.

Alkisah mas Pung diusia 14 th, mulai dikenalkan pada dasar keilmuan MP oleh ayahandanya, bp Saring Hadi Poernomo, kemudian ditemani mas Budisantosa, adiknya.
2 April1963, mas Pung dan mas Budi, dua orang dari 13 bersaudara (anak pertama dan ketiga), mendirikan MP, atas perintah ayahandanya. Pada saat itu usia mas Pung belum genap 19 tahun, mas Budi belum genap 17 tahun. Yang diajak mikir dasar2 berorganisasi MP, menyusun kurikulum dst, adalah teman2 seusianya. Kondisi objektip itulah yg mewarnai perjalanan MP kedepan. Ada disana sini yg kurang sempurna.
Secara organisasi, AD/ART yg disusun oleh teman2 mas Pung dan mas Budi, sudah menetapkan adanya lembaga pewaris, yg dipegang mas Pung dan mas Budi(sebagai bentuk pengakuan sumber keilmuan, yang sebelumnya hanya untuk internal keluarga). Ada pengurus, dari pusat, komda, cabang dan kelompok latihan(kolat). Sumber pendanaan dari iuran, sumbangan dan usaha2 lain. Meskipun merupakan lembaga nirlaba, tentu semua berharap, MP bisa hidup dan menghidupi. Perjalanan mengalir begitu saja, satu demi satu cabang baru berdiri, dengan pola, bila ada pelatih pindah ke suatu kota, dia didukung untuk mendirikan kolat, calon cabang kemudian meningkat menjadi cabang. Atau ada kelompok yg sangat berminat, sanggup mendatangkan pelatih dgn konsekwensi dana, sanggup mengorganisir sampai mandiri.

Dibelakang hari, selalu timbul dilema, antara prinsip nirlaba dengan prinsip hidup dan menghidupi. Minimal untuk basic need guru/pewaris (permasalahan tipikal para guru paguron tradisional).

Bukan masalah saru atau tidak saru, membahas pemenuhan kebutuhan dasar para guru/pewaris paguron, tapi sepatutnya, mereka berhak untuk dipikirkan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 09/10/2010 07:41
Sepakat mas. Semoga Allah memasukkan kita ke dlm golongan org yg tahu berterimakasih & mmberikan yg trbaik bagi prguruan
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 09/10/2010 08:45
saya menyadari, sumbangsih saya terhadap perguruan masih belum banyak. Tetapi niat baik selalu ada, dan semoga dari pemikiran-pemikiran, tulisan-tulisan yang saya tulis di tempat-tempat lain mengenai merpati putih, sedikit banyak akan membawa kebaikan dan perubahan di tengah menyusutnya jumlah anggota perguruan silat secara umum. Dengan demikian, secara tidak langsung, saya coba membantu mengenai masalah klasik tersebut.

dengan latar belakang IT yang sangat kental, yang bisa saya lakukan adalah menjadi 'pendekar pena' di dunia maya ini. menulis hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek merpati putih agar masyarakat menjadi tertarik, mau bergabung, yang pada akhirnya akan mampu menghidupi perguruan dengan sendirinya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 10/10/2010 09:39
dulu spt mrasa mengerti, pdhl blm mengerti. lalu mengalami prgolakan. kmudian mjd tdk mngerti malah mulai bisa mengerti.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 10/10/2010 20:21
@ Mas mpcrb.

Membahas review, evaluasi, MAWAS DIRI perjalanan 47 tahun MP, seperti membahas  sebagian persoalan pada paguron tradisional. Kiranya teman2 di paguron lain juga mengungkapkan evaluasi masing2, sehingga akan didapat banyak pola alternatip yg bisa dipilih.
Membahas pengalaman khusus/spesifik, balik ke umum, balik lagi ke mana yg sesuai secara spesifik perguruan.

Sepakat dengan statemen mas mpcrb, bahwa pada umumnya, disemua paguron, secara KEILMUAN tidak ada masalah. Yang perlu mendapat perhatian adalah organisasi dan managemen perguruan.

Mengalir saja dalam forum2 SS, yang bisa memberi pencerahan kepada kita, bahwa kearifan lokal, falsafah keilmuan, pakem2, bahkan tradisi dalam kegiatan keilmuan paguron tradisional, bisa sangat BERPENGARUH pada pola organisasi paguron dan manajemen keilmuannya.

Ada asumsi2 / mitos tentang ciri2 manajemen paguron/aliran modern :
> didukung secara proaktip oleh pemerintahnya, diposisikan menjadi faktor penting demi kepentingan bangsa dan negara, setidaknya melalui setingkat federasi perguruan sejenis.
> memiliki pusat litbang keilmuan, sebagai rujukan bagi penyebarannya yang luas/mendunia, termasuk bangunan yg menjadi ikon pusat perguruan.
> keilmuannya ditranskrip secara lengkap, termasuk foto dan audio visual. Cabang2 yang jauh/dekat, tinggal melaksanakan pedoman kurikulum, sambil menerima perkembangan keilmuan dari pusat. (sy belum konfirm, apakah di Indonesia, beladiri Jepang/Korea/Brazil punya hubungan dengan pusat perguruan, baik bentuk maupun intensitasnya).
> memiliki organisasi yg jelas, aturan2 internal yg mengatur periodisasi kepengurusan, saluran2 u berpendapat, kalender kegiatan organisasi/keilmuan  yg mencerminkan adanya kegiatan pendidikan dan latihan, pencetakan pelatih dan evaluasi hasil kegiatan diklat (kejuaraan internal dan eksternal).
> adanya penilaian publik, berupa , massa anggotanya sering terlihat di ruang publik, menonjol pada beladiri militer, penyumbang medali dalam multi even, tersedia berbagai program untuk berbagai segmentasi, mudah dijangkau ditempat eksklusip, banyak menang di nomor MMA, mudah ditemui didunia maya. ....dan seterusnya.

Sedangkan nyaris semua peguruan tradisional berfondasi kepada kearifan lokal, atau melakukan ritual yg berakar pada nilai budaya tradisi masyarakatnya. Yang antaralain bisa berbentuk:
> pemahaman keilmuan berdasarkan kearifan lokal (meski merupakan kearifan universal dan " ilmu kasunyatan").
> pembatasan penyebaran pada keluarga atau kalangan menak/bangsawan.
> pengayaan keilmuan dengan prinsip keagamaan dengan tujuan membangun akhlakul karimah justru pada pesilat yang belajar berantem.
> adanya bermacam ritual "keceran", harkatan dan sebagainya, yang menandai dicapainya suatu tahap/tingkatan......dst.

Saya berpendapat, bahwa mau modern (bukan pseudo modern) demi pelestarian pencaksilat/paguron tradisional ke masa depan, tidak harus meninggalkan nilai kearifannya, lebih2 bila memang menjadi fondasi, bukan kebijakan carangan.
Sebagai contoh, kebijakan yg sudah berlaku turun temurun, penyebaran terbatas pada keluarga, bisa saja dirubah menjadi penyebaran ke masyarakat luas. Sebagaimana perubahan kebijakan penyebaran, keilmuan MP dimasa mas Pung, dan keilmuan KYS dimasa romo Mpu Samiadji.....

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 10/10/2010 23:54
Kembali ke kisah MP.

Mas Pung menuturkan, bahwa gemblengan yang diterimanya saat remaja ke dewasa, berlangsung sangat keras dan dalam waktu yg relatip singkat, tidak merata. Ada periode dimana mas Pung harus sowan menerima petunjuk/berguru ke guru2 silat di Yogya.

Ibarat "durung kolu wis didublak", yg dimulut belum seluruhnya ditelan, sudah disuapi lagi.
Masih banyak yg belum dicerna, berupa  catatan/ kidungan. Ternyata setelah beberapa tahun MP didirikan, sang Guru, ayahandanya, bp Saring Hadi Poernomo, wafat.

Beruntung, dibantu teman2nya di STO (Sekolah Tinggi Olahraga), dari raw material (istilah mas Pung, kranjangan), tersusun kurikulum Dasar I sampai Kombinasi II (tingkat 6), yang penulisanya berlangsung terus menerus sampai sekarang, mencapai program latihan tingkat Kesegaran (tingkat 10). Tidak termasuk beberapa aplikasi2 pamungkas.
Sampai belasan tahun MP, mas Pung tidak mau disebut Guru, hanya Pelatih Utama. 
Sampai sekarang tidak mau menyandang tingkat tertinggi, Inti II, tingkat 12, hanya Inti I. Sehingga puluhan senior menumpuk ditingkat Kesegaran. Dengan alasan, mas Pung merasa belum layak. Merasa belum mampu memenuhi persyaratan perilaku keluhuran pendekar.

Upaya mentranskrip keilmuan kategori sensitip mengalami hambatan. Selalu dikatakan MP ilmu tumbuh. Kalau suatu tingkat dihayati benar2, akan menemukan kelanjutannya. Mas Pung juga menegaskan, semua kail pancing sudah diberikan, silahkan cari ikan sendiri.
Tata gerak, olah nafas,  latihan getaran, latihan naluri beserta falsafah keilmuan sudah diberikan. Pengembangannya di mersudi sendiri, mas Pung siap jadi konsultan saja. ( Apakah mas Pung ogah, atau itu cara mas Pung agar para senior  dan pelatih sungguh2 mersudi. Walahualam). Pengembangan keilmuan oleh para senior dan para pelatih dilapangan, dikoordinir dan diolah  oleh dewan guru (muncul esensi padepokan keilmuan pusat, sebagai pusat dokumentasi keilmuan dan pengembangannya, sebagai kantor/tempat pertemuan dewan guru, yg berdomisili berjauhan).
Muncul rumor, keilmuan MP sudah mentok.
Eeeh, ada juga di SP nya bung Arswendo, " biar aja dibaca oleh burung, oleh ikan, biar saja DITEMUKAN OLEH MATA HATI.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 11/10/2010 01:28
Dalam hierarki JABATAN keilmuan MP, dibawah pewaris,  adalah guru besar (mas Pung), kemudian dibawahnya ada dewan guru (empat orang, termasuk ketua dan wakil ketua merangkap anggota). Keempatnya diluar garis keluarga.
Pada masa kepemimpinan Ketum bp Solihin GP, pecah telor dengan diangkatnya mas Yadi Mintorogo, Madiun, sebagai anggota dewan guru menemani mas Pung dan mas Budi. Mas Yadi termasuk kelompok murid paling senior. Disusul mas Sunardjo, Purwokerto. Terakhir dua orang bersama sama, mas HMA Purwono, Yogya dan mas Mulyanto Tambak. Dua terakhir menuai protes ngedumel. Karena relatip muda, padahal masih banyak angkatan yang lebih senior.
Mas Pung menegaskan, biar kemampuan sundul langit, kalau tidak punya mental guru, mental pendidik, dan tidak mau aktip  menjadi pelatih yg baik, jangan harap jadi anggota dewan guru. Jabatan Guru adalah target pencapaian bagi pelatih. Bagi anggota biasa, silahkan latihan sampai menyamai mas Pung. Atau masuk jalur pengurus, naik sampai Ketua Umum.

Jadi di MP, ada tiga jalur pembinaan sesuai minat bakat kemampuan dan kesempatan.
Yaitu jalur anggota biasa, yg biasanya ditingkat senior akan memperdalam spesialisasi keilmuan tertentu. Kemudian jalur pengurus. Selanjutnya yang ketiga adalah jalur diklat/keilmuan. Mulai dari asisten pelatih, pelatih, pengurus di bidang2 keilmuan sampai ke anggota  dewan guru.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 11/10/2010 10:56
membaca 3 tulisan mas terakhir membuat saya terbuka. Mohon maaf atas kekurangsopanan saya sebelumnya dan atas kedangkalan informasi yang saya miliki.

Tipikal cabang, yang bisa jadi belum sepenuhnya mendapat update informasi se detail ini, terkadang seperti kacamata kuda, mengukur dari apa yang dialami dari proses yang dirasakan. Meski tidak semuanya salah, juga tidak seutuhnya benar. Saya sedikit banyak jadi mengerti mengapa mas Poeng tidak pernah mau naik pada tingkat Inti II. Sepertinya, tingkatan ini adalah tingkatan dimana 'biarlah dibaca oleh burung, oleh air, oleh mata hati'. Tingkatan yang bisa jadi memang disediakan oleh mereka yang selalu mersudi. Tingkatan spesial yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang selalu mencari jalan pendekar yang sebenarnya. Yang bisa jadi mustahil atau sangat sulit dicapai, bahkan menurut Mas Poeng sekalipun. Tapi tidak mustahil dicapai oleh yang lain.

Jika demikian, ini sangat menarik. Karena ini sangat menunjukkan betapa mas Poeng sudah memikirkan hingga jauh ke depan. Kedewasaan ajaran perguruan. Membiarkan 'dibaca oleh burung, oleh ikan, biar saja ditemukan oleh mata hati'. Tingkatan tertinggi yang siapapun bisa meraihnya apabila terus mersudi, terus berada pada jalan pendekar.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 11/10/2010 11:08
di zaman sekarang, apalah artinya 'kesaktian tiada tara'? Toh pesilat sakti masih bisa sakit, masih bisa terluka, masih memakan nasi, dan masih belum bisa mengubah struktur atom tubuh kita.

Menempati tingkat tertinggi sama halnya mencapai batasan. Sedangkan keilmuan itu tanpa batasan. Jadi harusnya, tingkatan tertinggi itu memang sebaiknya tidak ada, atau ditiadakan. Kalaupun ada, ia adalah simbol. Inti II memang sebaiknya dibiarkan 'open', karena bisa jadi (menurut pemahaman saya) itu adalah tingkatan simbolis. Tingkatan dimana keilmuan yang tidak pernah berhenti. Tingkatan dimana ia adalah simbol dari 'zaman' yang disediakan oleh generasi sesudahnya. Simbol dari 'ruang waktu' dimana keilmuan MP akan tumbuh berkembang. Simbol dimana 'ruang tumbuh' selalu ada, selalu bisa dicapai. Dan ketika seseorang sudah akan mencapainya, ia akan kembali pada keadaan 'apakah sudah?', 'apakah pantas?', 'apakah memang demikian?'. Kembali lagi batinnya akan menolak, dan ia akan terus melakukan eksplorasi karena saya percaya kesimpulannya akan sampai pada 'langit tanpa tiang'.

Jika ulasan saya sedikit banyak ada benarnya, maka ini sangat inovatif. Sesuatu yang belum pernah terjadi di perguruan silat manapun. Membiarkan 'ruang kosong' yang sesungguhnya akan 'berisi'. Umumnya, tingkatan tertinggi ada 'penunggu'nya. Tapi mas Poeng membiarkan tingkatan tertinggi 'open'. Meski 'kosong', tapi sesungguhnya ia akan sangat 'berisi'.

salam hormat saya untuk mas Poeng...

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 01:26
@ mas mpcrb, saya sepakat.
Sepertinya ungkapan hasil pena/pencetan keyboard anda makin nyambung dengan rasa, makin tajam namun indah. Hehehe, Alhamdulilah.

Saya tanya ke mas Poeng, meski menunjuk dan  mengangkat seorang guru merupakan hak prerogatip guru besar dan pewaris, yg kemudian disahkan oleh Munas, maka demi masa depan yg tetap tertib, apakah bisa dijelaskan maksud "bermental guru", agar sedapat mungkin diimplementasikan secara konsisten.
Mas Poeng memberi ciri sederhana.
Tentu sang calon harus memenuhi syarat standar, yaitu keilmuan yang cukup, dan prestasi kepelatihan yg tercermin pada terpeliharanya kualitas dan kuantitas  muridnya. 
Apabila pelatih sengaja menunda nunda ujian kenaikan tingkat murid/adik tingkat, karena kawatir tingkatnya didekati atau disamai adiknya, pelatih tsb bisa diberi catatan merah.
Karena seseorang pelatih yg bermental guru, akan selalu mersudi, agar muridnya bisa lebih berhasil.
Karena mungkin saja seorang murid berhasil melebihi gurunya dalam suatu keilmuan, oleh karena si murid memiliki kelebihan2 dalam berbagai hal (yang melebihi gurunya) , yang bisa lebih menunjang pencapaian hasil yg lebih baik dalam keilmuan yg dilatihkan oleh guru tsb.


Merpati Putih, "mersudi patitising tindak, pusakane titising hening" (mencari sampai mendapat tindakan yang benar, dengan ketenangan).

Dulu pernah dipertanyakan tentang "titising hening" yang diterjemahkan menjadi "ketenangan".

Betul, "titising hening" memang bukan "ketenangan" . Ketenangan adalah salah satu sikap untuk membaca "titising hening".
Titising hening adalah MATA HATI.
Sehingga memang bisa lebih tepat kalau diterjemahkan dengan : "mencari sampai mendapat tindakan yang tepat dan benar, dengan menggunakan mata hati".

Namun akan terjadi pertanyaan lebih lanjut (penjelasan yang malah menjadi/mengundang pertanyaan), apa itu mata hati ?

Mas Poeng menjelaskan, dalam khasanah Jawi ada istilah "roso sak jroning roso" (rasa didalam rasa).
Dicontohkan, keadaan mabuk kepayang. Apabila lewat didepan rumah sang kekasih aja, RASA nya udah berbunga bunga. Apalagi duduk berdekatan, RASA nya tentu selangit. Ketika tangan mulai menggerayang, meski dalam RASA mabuk kepayang, maka "roso sak jroning roso" akan memberi alarm, " bocah bagus, jangan, belum waktunya, belum menjadi hak mu".

Itulah salah satu contoh pengejawantahan " mata hati".
Murid pasti seneng, dijelaskan dengan contoh itu. Tapi terlalu  panjang.
Biar saja seperti terjemahan yang ada, mudah diterima. Kalau nalarnya mempertanyakan, baru dijelaskan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 03:30
Kembali ke masalah MP, sebuah paguron tradisional.

Awal tahun 90an, bp Eddie M. Nalapraya, selaku anggota dewan pembina MP  memberi sinyalemen dan masukan.
A. Bahwa MP mempunyai potensi yang bisa dikembangkan, membuat berbagai program latihan, yang bisa mengakomodasi berbagai kepentingan dan berbagai kelompok usia.

B. Sedini mungkin harus diupayakan, rekayasa untuk mencegah kemungkinan perpecahan yang bisa berujung pada berdirinya perguruan sempalan. Upaya bp Eddie selaku Ketum PB IPSI waktu itu, untuk menyatukan perguruan2 sempalan agar kembali ke induknya, bersatu menjadi paguron yang lebih kuat, nyaris tidak menunjukkan hasil. Jadi lebih baik preventip daripada merekonsiliasi setelah  pecah.

Kedua saran itu tentu memiliki dasar, sehingga entah mengalir entah sengaja, mewarnai kebijakan MP.

Kita review dulu saran B.

Yang berpotensi untuk memisahkan diri, adalah senior yg sudah memiliki modal keilmuan yang cukup untuk mendirikan perguruan baru.
 
Sedangkan sifat keilmuan MP, justru berpotensi mengakibatkan perbedaan diantara para senior. Keilmuan MP ditingkat atas, justru bersifat menggali dan meningkatkan jatidiri masing2 praktisinya sesuai pribadi masing2, bukan mengkloning atau mencetak orang2 yang seragam.

Juga dengan bertambahnya kelonggaran untuk memisahkan diri oleh senior, setelah mas Poeng menghapus JANJI ALAM,  semacam janji kesetiaan yg disaksikan alam seisinya, yang bisa berakibat buruk bagi yang melanggar.

Upaya pertama yang dilakukan, adalah dibentuknya korps Wira Adiguna, yang bertugas menyelesaikan konflik antar senior, atau konflik yang tidak seimbang, antara senior dengan pengurus cabang. Sehingga konflik2 bisa diselesaikan dengan adil, bijaksana dan terhormat, tidak perlu mutung dan keluar.
Upaya kedua, mengatur ujian kenaikan tingkat menjadi lebih tertib dan termonitor. Dasar I sampai ke Kombinasi I dilaksanakan di Cabang, Kombinasi I ke Kombinasi II di Pengda atau gabungan beberapa Cabang (yang menguji bukan pelatihnya sendiri). Sedangkan yg terpenting, ujian Kombinasi II ke Khusus I dan selanjutnya, hanya diselenggarakan di Parangkusumo, Yogyakarta. Baik untuk peserta dari dalam maupun luar negeri.

(bersambung)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 11:15
(lanjutan)

Sebelumnya, antar senior yang berjauhan, bisa kurang mengenal akrab satu dengan yang lain. Dengan ujian multi cabang dan ujian nasional, maka tingkat hubungan, ke saling terikatan, menjadi lebih meningkat. Merasa berasal dari sumber yang sama, mengurangi drive untuk memisahkan diri. Disamping tentu saja, standar mutu bisa lebih termonitor, terjadi tukar pengalaman, dst....

Bahkan karena menyadari esensi jangka panjangnya, pada awal2 ujian nasional, tim penguji dan dan peserta ujian bersama sama naik kereta api dari Jakarta ke Yogya, melakukan ujian tata gerak di Sasono Hinggil, ujian getaran di alun-alun Kidul kraton, uji stamina lari dari alkid Yogya ke Parangkusumo, langsung uji tenaga di Parangkusumo. Kemudian sama2 pulang ke Jakarta lagi.
Dengan padatnya wisatawan di alkid dan Sasono Hinggil, sekarang seluruh mata acara ujian kenaikan tingkat nasional/UKT Nas., dilaksanakan di Parangkusumo dan sekitarnya.
Upaya lain adalah mengurangi sumbatan komunikasi keilmuan antar senior dan dewan guru. Mengurangi distribusi informasi yang tidak merata.  Menurut hasil kajian, bisa dengan memanfaatkan intranet atau internet. Tapi tetap saja harus didukung pusat data dan pusat kajian, yang idealnya ada di padepokan pusat. Menambah lagi esensi pentingnya merealisasikan padepokan pusat keilmuan di Yogya, kota kelahiran MP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 12/10/2010 13:13
@ mas mpcrb, saya sepakat.
Sepertinya ungkapan hasil pena/pencetan keyboard anda makin nyambung dengan rasa, makin tajam namun indah. Hehehe, Alhamdulilah.

Entahlah mas, sejujurnya saja juga tidak tahu. Akhir-akhir ini, setiap kali saya membaca suatu tulisan (apa saja), seolah saya bisa menyelami masa saat itu ditulis, keadaan, maksud kearah mana, dsb. Dulu, pengalaman membaca buku Senopati Pamungkas dan Tembang Tanahair tidaklah sedahsyat seperti sekarang. Dulu hanya menikmati sebatas cerita saja, sebatas novel, hiburan, tidak lebih. Tapi entah setelah diri ini mengalami proses perenungan hidup, kegagalan, ketakutan, kejatuhan, hampir putus asa, menthok, dan pada akhirnya memulai kembali latihan dari awal, rasanya benar-benar berbeda. Sebelumnya tidak demikian.

Saat menulis sesuatupun demikian. Rasanya bila membaca catatan, kidungan, atau sesuatu yang ada di depan mata ini, seolah saya terjun kesitu, seolah mengikuti, masuk, larut, mencari celah, mencari jalan keluar, mencari jalan tikus, yang saya sendiri tidak pernah pikirkan. Mengalir begitu saja, mengikuti kreteg hati. Tidak berani mengklaim selalu benar, karena masih dalam proses.

Sejujurnya, apa yang ditanam itulah yang dipetik kemudian.

Perbedaan di level Senior bahkan sangat terasa di daerah mas. Termasuk kondisi melarang/mempersulit kenaikan tingkat seorang anggota yang umumnya dikarenakan ia lebih bisa dari pelatihnya, lebih maju dari pelatihnya. Merasa tersaingi, merasa seperti direndahkan. Secara pribadi saya melihat masih wajar ini terjadi. Ya namanya manusia, tentunya hal seperti itu memungkinkan muncul. Yang ingin saya soroti dengan kondisi tersebut adalah penanaman filosofi nilai-nilai yang masih kurang. Pelatih, dapat menjadi standar mutu keilmuan. Tetapi seringkali standar mutu moralitas pada nilai-nilai diabaikan. Bahkan terkadang oleh senior sendiri. Ini juga memang terjadi di perguruan-perguruan lain. Tapi spefisik untuk MP saya rasa pelatih yang diangkat, ditunjuk jadi pelatih harus juga memiliki standar nilai-nilai kepatutan. Ini yang terkadang jarang disadari.

Saya mengerti, menjadi legowo itu sulit. Perlu kebesaran jiwa. Apalagi melihat murid yang dulu tingkatannya jauh diatas kita, tapi sekarang sudah satu tingkat dengan kita. JIka tidak dibarengi dengan nilai-nilai filosofi perguruan, yang muncul kepermukaan adalah sikap-sikap kurang terpuji seperti itu (mempersulit kenaikan tingkat). Pada akhirnya akan berimbas pada nama perguruan sendiri.

Ada beberapa pengalaman yang saya dapat ketika berinteraksi dengan rekan dari beladiri lain. Seringkali saya menjumpai mantan MP tingkatan tertentu yang masuk pada beladiri lain. Meskipun itu pilihan dan hak orang tersebut, tapi yang menggelayut di pertanyaan saya adalah ... apakah penyebabnya? Apakah keilmuan MP tidak menarik? Kurang sakti? Ataukah bagaimana? Gerakan-gerakan sudah diberikan, olah nafas juga sudah diberikan (sesuai standar tingkatan, dan bahkan terkadang nafas-nafas penunjang yang sifatnya khusus juga sudah diberikan), tetapi masih juga keluar dan pindah perguruan. Ada apa ini?

Saya sepakat dengan penjelasan mas Poeng kalau pelatih yang mempersulit anggotanya untuk naik tingkatan akan dikenakan catatan merah, kecuali memang anggota tersebut melakukan tindakan indisipliner atau melanggar aturan perguruan. Membaca perjalanan 'karir' pesilat MP, saya melihat mas Poeng sesungguhnya sangat moderat. Memberikan 3 jalur yang berbeda untuk tiga tipe karakteristik sudah sangat memenuhi semua ruang. Mau jadi pesilat murni, silahkan masuk pada jalur pesilat murni, hingga memungkinkan menyamai mas Poeng atau lebih dari itu. Mau jadi pengurus, silahkan main di organisasi hingga mencapai puncak yakni Ketua Umum. Ingin jadi pengajar, silahkan masuk pada jalur kepelatihan hingga menjadi dewan guru. Ini sangat moderat. Masalahnya, apakah distribusi informasi ini nyampe ke cabang-cabang, dan apalagi ke para pelatih? Yang sering saya lihat, missing link sering terjadi. Kesan yang muncul, pusat tidak konsisten. Sering berubah-ubah. Tahun kemarin X, tahun sekarang Y, tahun depan Z. Alasan yang mendasari terjadinya perubahan tidak diketahui oleh kebanyakan pengurus cabang atau bahkan pelatih.

Seperti misalnya (mohon maaf mas suprapto), saya ingin mengkritik terhadap materi tata gerak. Yang seringkali berubah dari waktu ke waktu. Memang tidak prinsipil, tetapi perubahan tetaplah perubahan. Pada gerak langkah misalnya. Dahulu saya menyukai MP karena setiap gerak langkah selalu dibarengi dengan entah itu tangkisan bawah, tangkisan atas, ayunan, potongan, atau tepakan dua atas. Ini unik, dan sangat khas. Sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah tidak ada bedanya dengan Karate. Pada gerak langkah, tangan selalu mengepal disamping pinggang. Hanya pinggang dan kaki saja yang bergerak. Where is the art in MP movement? Padahal seni di dalam suatu gerakan, seringkali menyimpan rahasia tersembunyi yang bahkan cukup mematikan. Saya mengerti, bisa jadi ada proses diskusi yang cukup alot yang terjadi di pusat ketika memutuskan untuk merubah ini.

Ketika saya mengatakan untuk apa seni apabila fokus pada efektivitas itu bukan tanpa dasar. Ternyata gerak dasar MP sekarang lebih mengarah pada efektivitas. Masih nanggung. Dibilang seutuhnya menuju efektivitas ya nggak, dibilang menuju seni ya nggak. Gerak langkah dengan kembangan, mungkin dianggap tidak efektif di dalam fight, hingga akhirnya dihilangkan kembangannya dan diganti dengan posisi tangan mengepal disamping pinggang. Ini memang efektif dalam bergerak, ya namanya gerakan langkah ya cukup langkah saja. Arahnya jelas, ke arah efektivitas. Tapi lucunya, gerak dasar pada kaki masih menyertakan gerakan tangan. Pada tendangan belakang contohnya. Gerakan tangan tangkisan atas dan tangkisan bawah masih disertakan. Kenapa? Bukankah tendangan cukup menggunakan kaki saja? (wong namanya juga tendangan). Kenapa tangan harus ikut main? Kenapa pada langkah gerakan tangan dihilangkan, tapi pada tendangan gerakan tangan masih dipertahankan. Ini yang saya sebut dengan nanggung.

Kalau memang fokusnya pada efektivitas, no problem. Tapi sudah seharusnya harus dipikirkan seperti apa 'style fighting ala MP'. Karena akhir dari suatu gerakan dibuat seefektif mungkin tak lain dan tak bukan adalah mengarah pada teknik pertarungan. Itu yang awalnya jadi pertanyaan pada diri saya. Mengamati gerakan, gerak praktis, gerak terikat, gerak bebas, gerak naluri, hasil akhirnya pada efektivitas. Tetapi tidak sampai memunculkan seperti apa style fighting MP yang ada di pemikiran pusat. Yang menjadi paradox adalah gerakan-gerakan dievaluasi, tapi tetap tidak menemukan 'pencerahan' mengenai style bertarung MP itu seperti apa? Pada akhirnya, cabang-cabang, khususnya pesilat MP akan menjadi liberal dengan mengadopsi gerakan apapun yang menunjang kebutuhan aspek fight dirinya. Ia tidak menemukan itu di MP, ia tidak menemukan style fighting di MP, maka ia mencarinya diluar. Apakah ini baik? Apakah ini bagian dari proses mersudi yang diizinkan? Entahlah. Pengurusnya berusaha moderat, tapi anggotanya sudah (terpaksa) liberal duluan. Ini kenyataan di lapangan. Berapa banyak pesilat kita yang 'terpaksa' harus belajar diluar perguruannya. Iya kalau kembali lagi, kalau nggak? Kita akan kehilangan asset berharga.

Saya mengerti, namanya ngelmu ya boleh dengan siapa saja. Seperti halnya mas Poeng yang disuruh berguru pada guru-guru silat di Yogya. Bedanya adalah Mas Poeng sudah memahami hakekat, maka beliau tetap di ke-MP-annya. Beliau tidak 'silau' dengan yang lain. Tapi pada anggota biasa? Belum tentu. Kecenderungan ia balik lagi ke MP 100% itulah yang menjadi tidak jelas.

Saya ingin mengambil contoh MP di USA.

Sekarang ini MP di USA masih seperti MP pada tahun 80-an di Indonesia, masyarakat US masih cukup terkagum-kagum dgn demo peragaan pemecahan benda keras yg dilakukan MP. Tetapi masyarakat US memang jauh lebih kritis dibanding dgn masyarakat di Indonesia - dalam waktu tidak lama masyarakat US bisa cepat melihat kekurangan MP yg tidak fighting oriented. Sudah mulai muncul keraguan akan kemampuan tarung MP di kalangan masyakat US - khususnya bagi mereka yg pernah belajar MP.

Saya rasa tidak lama lagi akan bermunculan praktisi MP USA yg mulai gatal untuk mencoba melakukan pertarungan dgn praktisi beladiri lain dan mencoba kemampuan Power MP dalam situasi pertarungan sesungguhnya. Dan jika mereka pun mengalami situasi di mana Power MP ternyata tidak memberi efek seperti yg mereka bayangkan - saya rasa implikasinya akan lebih serius daripada yg terjadi di Indonesia.

Di internet akan bermunculan komentar dari mantan praktisi MP USA yg tidak puas. Dan jika ini menyebarluas - mungkin ini akan menjadi pukulan yg lebih kuat bagi MP dibanding kegagalan MP di Tantangan Randi. Jika dulu hanya kemampuan vibravision MP yg dianggap hoax maka kali ini MP akan dianggap sebagai beladiri hoax - latihan power MP yg dilakukan secara khusus bertahun-tahun akan dianggap tidak memberi efektifitas beladiri yg cukup bagi praktisinya selain daripada aspek kesehatan.

MP USA akan dianggap sebagai Mc Dojo yg hanya bertujuan untuk mengeruk keuntungan finansial dari praktisi-praktisinya tanpa memberi hasil yg sesuai dgn uang yg sudah di investasikan. Saya rasa kemungkinan ini juga harus kita cermati.

Mohon maaf atas kalimat yang kurang berkenan. Semua saya lakukan demi kemajuan MP. Pahit, getir, MP adalah perguruan yang saya cintai.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 15:17
@ mas mpcrb.

Tentang latihan langkah. Yang  terjadi adalah perubahan latihan gerak baku langkah, agar lebih fokus. Bukan kemudian melarang sikap tangan yg menyertainya. Atau mengebiri kelengkapannya. Ada rencana lanjutan untuk menambah latihan pola langkah ditingkat awal. Sepenuhnya kehendak  mas Poeng. Yang menjadi sasaran tembak malah para perangkat dewan guru/PPMP, dianggap tidak konsisten.

Memang tidak melibatkan dewan guru, yang saat itu terlibat kontroversi cengkok madiun dan barat pada bentuk latihan gerak baku. Sehingga mas Poeng memberi penegasan, cara latihan gerak baku, yg menjadi standar MP, menyelipkan sedikit perubahan, yang bukan tiada maksud.
Tidak dilibatkannya dewan guru, menyebabkan rumor yg menyerang PPMP didiamkan berkembang. Kurang bisa memahami maksud mas Poeng, boleh ada perbedaan, tapi jangan membingungkan anggota. Dilain pihak juga harus disadari, mengikut sertakan para pihak, akan meningkatkan tingkat partisipasi.

Penataran pelatih (tingkat nasional), memang masih jauh dari ideal, tapi berangsur angsur ada kemajuan. Setidaknya terselenggara sekali dalam setahun.
Ada kendala keterbatasan dalam jumlah waktu ideal. Menyangkut cuti kerja peserta penataran maupun implikasi biaya.
Mengenai materi penataran, juga sudah melibatkan pakar ilmu kepelatihan dari perguruan tinggi. Kalau dulu hanya mendengarkan dan praktek, sekarang ada hand out lengkap, baik materi pokok dan penunjang, termasuk vcd. Waktu lebih dihabiskan untuk materi keilmuan, termasuk praktek dan tanya jawab yang tiada habisnya.
Bintal dan falsafah keilmuan belum mendapat porsi yg cukup, termasuk bentuk dan cara penyampaian. Mas Poeng terbiasa enjoy dengan bentuk dialog,  ngobrol sambil wedangan, pada kesempatan latihan luar/alam.

Koordinator pelatih MPUSA, mas Mike Zeleznick, adalah lulusan terbaik saat UKT Nas di Parangkusumo, baik di uji stamina, uji tenaga, uji tata gerak beladiri dan ujian getaran.
Dikala remaja, mas Mike Zeleznick adalah petarung MMA tak terkalahkan di Utah. Badannya nyaris tdk tersentuh serangan lawan. Ketika dirumahnya, sebuah farming di Huntsville, Ogden, Utah, dia mau nyoba pesilat MP yg kami bawa. Hasilnya blag blug, sampai Mike tidak berkutik. Itu mungkin yg kemudian memotivasi Mike rajin latihan, dan bawa rombongan ke Indonesia. Jelas temen2nya penggemar tarung MMA ngumpul di MP. Oleh kakaknya, Nate, tidak boleh dipublikasikan. Krn tarung MMA adalah show biz. Saya tidak kaget kalau tiba2 dapat berita tentang petarung MP di MMA USA. Mike pengalaman dan ambisius, Nate bijaksana dan penuh perhitungan. Terserah mereka.

Salam. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 12/10/2010 15:39
Sepertinya saya mulai paham benang merahnya.

informasi-informasi seperti ini, apakah seluruh cabang mengetahui? atau apakah PPMP pernah melakukan semacam riset mengenai tingkat penetrasi pengetahuan hal-hal seperti ini pada pengurus cabang? sangat disayangkan, betapa banyak informasi berharga dari mas suprapto pada forum ini yang saya yakin tidak diketahui oleh cabang, khususnya pelatih. Sebaran informasi lintas geografis hanya bisa dijembatani oleh internet.

Untuk itulah saya rasa, perlu disegerakan untuk membuat website resmi yang didalamnya berisi informasi-informasi lengkap, detail, mengenai hal ikhwal kegiatan merpati putih atau segala sesuatu yang diizinkan untuk dipublikasikan. Agar tidak terjadi perbedaan informasi secara signifikan. Saya perhatikan dari awal thread mengenai MP ini, rasanya ada sangat banyak pengetahuan, informasi-informasi, yang kalau diketahui bersama oleh anggota MP lainnya, maka akan berdampak sangat baik. Meskipun kenyataannya, thread ini diisi (kebanyakan) oleh kita berdua. :) Saya juga sudah mengkontak kawan-kawan MP lainnya untuk memanfaatkan fasilitas forum diskusi SS ini.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 15:57
@ mas mpcrb.

Permasalahan MP yang se gudang, diantaranya sebagai yang anda ungkap, memang harus di review dari dasar fondasinya, kebijakan strategis dan dampaknya, kebijakan taktis dan seterusnya. Harus dikupas habis, seperti misal besaran iuran, kaitannya dengan partisipasi jangka panjang, dst.....
Yang harus berujung pada lebih patitisnya penyusunan road map MP, garis2 kebijakan dasar, dalam meretas jalan sukses dimasa depan.

Salam.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 12/10/2010 16:52
hehehe, benar sekali mas.

Membaca dari awal thread ini, saya jadi lebih mengerti beratnya jalur pengurus. Jalur pesilat murni, lebih aplikatif dan lebih mudah diterapkan karena sifatnya yang personal atau paling banter local area. Tidak perlu ribet dengan pertimbangan ini itu. Langsung bisa diterapkan, selama sudah dipahami benar dari pengalaman pelatihnya. Sedangkan jalur pengurus tidak demikian. Apalagi dewan pertimbangan. Mengakomodir banyak keinginan tentu mustahil. Pasti ada yang tidak berhasil diakomodir. Efeknya, tetap akan ada ketidakpuasan. Memang sudah konsekwensi. Meski demikian, saya tetap optimis yang terbaiklah yang akan dipilih. Hasil akhirnya, harus sama-sama legowo menerima kenyataan.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 19:23
@ mas mpcrb.

1. Sasaran dan ukuran utama dari road map MP, adalah mutu dan jumlah PESILAT MP. Yang diusahakan unggul disemua matra, baik matra pokok maupun pengembangannya.

2. Jalur keilmuan, pelatih dan dewan guru, bertugas untuk melaksanakan pendidikan dan latihan, melakukan penelitian dan pengembangan keilmuan dan seterusnya demi tercapainya sasaran no 1 tersebut. Tentu harus ada mekanisme timbal balik, resiprokal dengan perkembangan dan tantangan yang dihadapi pesilat dilapangan. Idealnya mekanisme ini dilembagakan.

3. Jalur pengurus, adalah kelompok pendukung agar pelaksanaan rangkaian kegiatan keilmuan bisa terlaksana dan sukses. Tentu disamping kemampuan manajerial menyangkut internal dan hubungan external, juga harus familiar dengan keilmuan dan permasalahannya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 12/10/2010 20:13
Saya jadi penasaran, apakah peta pemikiran di kalangan sesepuh, senior di internal MP, terutama yang pusat sedikit banyak seperti mas? Sebab jujur, beberapa yang saya temui dan ajak diskusi, hampir tidak pernah se-moderat seperti halnya diskusi saya dengan mas. Termasuk ketika menyinggung masalah-masalah yang cukup sensitif yang bisa jadi tidak bisa diterima atau malah dianggap saru-siku. Memahami jawaban-jawaban mas suprapto, membuat pemahaman saya pribadi jadi bertambah. Tidak skeptis dengan pertanyaan atau argumen saru. Ini baru saya temui selama perjalanan panjang di MP. Mungkin karena di daerah, sehingga sedikit banyak komunikasi dengan pihak pusat menjadi lebih sedikit. Lebih sering berinteraksi dengan senior daerah.

Saya jadi memahami pentingnya perbaikan management di MP.

Mas bagaimana sebenarnya peta pemikiran dalam kalangan internal dl MP itu sendiri. Apakah memang sedikit sekali senior yg memiliki keterbukaan pemikiran ? dan bagaimana di kalangan jajaran pelatih muda di MP - apakah tidak banyak yg sepemikiran dgn mas Suprapto?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 12/10/2010 20:54
Jika memang pembabaran keilmuan 'sakti' sudah dilakukan, dan sudah mencapai hasil (meski belum maksimal) mungkin ada baiknya untuk mulai dipikirkan bagaimana penetrasi filosofi menjadi dikuatkan dari sejak awal murid baru masuk menjadi anggota. Sebab jika tidak, maka efeknya akan bersifat jangka panjang. Murid jadi kurang memahami keluhuran keilmuan MP. Mungkin bisa dipikirkan untuk harus adanya semacam 'fit and proper test' bagi pelatih mengenai penguasaan keilmuan filosofi dibanding keilmuan standar MP sesuai tingkatannya. Sehingga kaitan antara apa yang diajarkan dan nilai-nilai menjadi klop. Tidak musti ideal, tetapi setidaknya bisa menjadi lebih baik. Karena saya lihat, pada tataran ini, penguasaan keilmuan MP (yang saya pahami) adalah sejatinya berawal dari pemahaman yang baik akan filosofinya. Dengan demikian, maka target penguasaan keilmuan menjadi ikutan baik.

Sebagai contoh, pemahaman mengenai 'titising hning' dimana kebanyakan diterjemahkan sebagai 'ketenangan', meskipun makna sejatinya adalah MATA HATI. Sedangkan ketenangan adalah suatu sikap untuk masuk pada 'titising hning'. Dengan demikian, untuk mencapai kondisi ketenangan yang maksimal tak lain dan tak bukan adalah dengan memasrahkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Pada kondisi itulah ketenangan sejati akan didapatkan sehingga proses mersudi untuk menemukan 'roso sak jroning roso' bisa lebih mudah tercapai. Disini masuk filosofi nalar dan rasa. Terkait pada salam hormat MP dimana tangan kiri dengan dua jari menunjuk pada kening dan tangan kanan yang mengepal berada tepat di depan dada. Simbolis dari salam hormat saja jujur masih banyak yang kurang paham, apalagi membabar maknanya. :( Satu sisi sedih, tapi sisi lain juga tantangan. Kendalanya adalah... menunggu ditanya, barulah kemudian jawaban diberikan. Kenapa tidak jemput bola? Karena itu sifatnya pengetahuan yang merupakan hal yang basic yang nantinya akan menunjang keberhasilkan suatu pelatihan materi tertentu seyogyanya sudah diberikan dan diinformasikan.

Berapa banyak anggota yang tidak memahami makna dari salam hormat MP? Padahal ini esensi untuk pemahaman pada latihan di dalamnya.

Tangan kiri dengan dua jari (jari tengah dan telunjuk) menunjuk pada kening, memiliki simbol makna nalar, makna pemikiran. Yang dipergunakan adalah tangan 'kiri', dimana kiri sering disimbolkan dengan jalan yang bisa (cenderung) salah. Jalan yang benar adalah jalan ke 'kanan'. Itulah kenapa tangan kanan digunakan untuk mengepal dengan kuat, menggenggam di dapan dada. Sebagai perwujudan dari 'roso sak jroning roso' yang harus digenggam kuat. Arah 'kanan' yang merupakan simbolis dari arah kebenaran berada pada posisi roso karena memang sejatinya 'roso sak jroning roso' itu akan selalu benar. Sebab ia adalah fitrah dari Tuhan, maka akan selalu mengajak kepada kebenaran. Akal bisa diakali. Nalar bisa diutak-atik. Tapi 'roso sak  jroning roso' tidak bisa. Dari salam hormat MP saja kalau ini bisa dijelaskan secara baik, dilaksanakan, dan dijadikan pedoman dasar di dalam melatih suatu materi, saya rasa efeknya sangat luar biasa. Dua jari mensimbolkan keeratan hubungan antara guru dan murid. Bisa jadi, jari tengah adalah simbol dari murid dan jari telunjuk adalah simbol dari guru. Kenapa menggunakan jari tengah untuk murid, karena bisa jadi murid bisa lebih melampaui gurunya. Jari tengah akan selalu lebih panjang dari jari telunjuk. Ini juga bisa disimbolkan agar para guru/pelatih tidak mengekang murid yang ternyata lebih maju. Ia harus tut wuri handayani sebagaimana jari tengah yang selalu sedikit lebih panjang dari jari telunjuk. Ini juga sekaligus simbol dari bahwa generasi yang akan datang (umumnya) akan lebih baik dari generasi sekarang. Akan lebih maju selangkah.

Ini juga sedikit banyak menjelaskan alasan kenapa Mas Poeng 'turun takhta' dan memberikan kepada pewaris muda. Sesuatu yang sangat berani, sangat beresiko, tapi juga sarat harapan. Bisa jadi, sintesa pengetahuan para pewaris muda (diharapkan) dapat meningkatkan kualitas keilmuan MP itu sendiri di masa datang. Lebih bisa menyesuaikan dengan keadaan, dan sesuai prinsip ilmu tumbuh, akan muncul 'pohon' baru keilmuan yang membawa perubahan. Apakah itu tercapai atau tidak, saya tidak tahu. Kita tunggu saja.

Dari filosofi salam hormat MP saja sudah sedemikian luas. Yang kalau dibabar akan membuka mata anggota dan mendidik mereka sedari awal untuk menyadari pentingnya makna filosofis.

Kenyataannya, pengajaran filosofis ini sangat minim. Belajar hanya dari tulisan saja yang sudah diberikan pada buku panduan. Dibaca ketika akan ujian sebagai persyaratan pengetahuan pada ujian tulis. Tapi (kebanyakan) pelatih tidak melakukan proses pembabaran kepada anggotanya. Hasilnya, anggota hanya terjebak pada kata-kata kiasan dan hafalan. Tanpa mengerti makna apa yang bisa dikembangkan dari situ.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 21:24
Banyak mas mpcrb.

Hanya mungkin masih sering terjebak mana sebab mana akibat, kadang terbalik balik.

Kemudian ada yg "melik", sehingga kurang  waspada terhadap kebenaran. Kebanyakan saling sikut untuk lebih "sakti". Atau membanggakan diri dengan posisi koordinator pelatih, tapi tipis mental guru.

Para guru sudah mengidentifikasi kelemahan ini. Entah bagaimana solusi yg mereka susun.

Kalau secara periodik kita mawas diri, melihat dari luar kotak, kelemahan ini memprihatinkan. Tapi masih banyak yang sehat daripada yang "sakit". Maklum ngumpulin anak macan, kadang nyakar. Keilmuan yg didesain ditularkan dengan hubungan dekat yang intens antar guru-murid, atas nama pemassalan, terpaksa meminta pelatih yg belum matang, untuk melatih murid.

Perjalanan sudah cukup panjang, berbagai eksperimen sudah dilakukan. Tinggal dievaluasi mana yg tidak efektip,  mana yang tidak efisien, revitalisasi  apa yang perlu dilakukan dst.

Tentu konyol dan kurang mensyukuri anugerah, apabila modal keilmuan yang "lumayan", tidak dikelola dengan baik sesuai tujuan.

Untuk itu kita perlu tahu, fakta obyektip yang terjadi, dengan mengupas semua masalah yang ada.

Keilmuan tidak ada masalah, organisasi dan manajemen perlu berbagai perbaikan.

Salam. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 23:25
Kembali membedah manajemen MP.

SEKRETARIAT.

MP belum memiliki sekretariat pusat yang permanen. Masih n/a, numpang alamat, dan pindah2.
Ketidak seriusan mengusahakan sekretariat permanen, bisa jadi terpengaruh periode kepengurusan PPMP, tiga tahunan. Meski tidak membatasi berapa kali bisa dipilih lagi, biasanya kabinetnya dirombak. Orientasi program kerja hanya sebatas masa kerja.
Sekretariat yang seharusnya menjadi pusat pengendali operasi, sering kosong dari para eksekutipnya, terlebih ketika antar pengurus mengandalkan komunikasi email dst. Baru ramai kalau ada rapat2 event.
Sekretariat yg seharusnya menjadi "hub", interchange kegiatan, kehilangan fungsinya. Data otentik tercerai berai diberbagai personil dan berbagai tempat, sampai nggak keruan juntrungnya. Data base anggota, data base sertifikat tingkat, data base hasil ujian dst, tersebar di komputer pribadi pengurusnya. Apalagi surat2 masukan dari bawah!. Rancangan intranet dan internet sudah diketok palu.
Tapi dijamin kandas kalau sekretariat sebagai pengolah data, lebih berfungsi sebagai alamat surat.

Betul, komunikasi email pusat-cabang cukup lancar, tapi dari cabang ke pusat, sering tidak ditanggapi.

Disinilah biang berbagai sumbatan.

Sekretariat pusat adalah sebuah prasarana sangat penting yang harus segera direvitalisasi.

Demikian juga sekretariat cabang. Dengan alasan efisiensi, komunikasi bisa diganti dgn milis, fb dan sms, cabang2 yang biasa menyewa/meminjam property untuk sekretariat, mengganti dengan numpang alamat dirumah pengurusnya.  Fungsi sebagai "youth center" lenyap. Tidak ada tempat ngumpul, ngobrol keilmuan dsb. Yang menjadi nilai tambah MP dikalangan segmen muda.

Yang belum ada, kemudian harus ada, adalah PADEPOKAN PUSAT, sebagai pusat keilmuan.
Saat ini, dokumen2 penting keilmuan, hasil penelitian, catatan2/buku otentik, laporan perkembangan latihan dari para pelatih dan senior, dokumentasi foto/vcd/pita video/pita suara event keilmuan, tersebar "diselamatkan" para anggota senior.
Rapat dewan guru hanya kalau ada event  di Parangkusumo atau di padepokan Madiun, tanpa referensi dokumentasi.

Kalau konon katanya MP masih moncer, ya ajaib. Harus disyukuri. Masih ada dewan guru dan pelatih yang rajin bekerja tanpa fasilitas. Apalagi gaji!
Hehehehe.

Properti "permanen" yg dipakai sebagai prasarana kegiatan keilmuan ada tiga.

1. Padepokan MP di Madiun. Sekaligus ditempati mas Yadi Mintorogo, Ketua Dewan Guru. Berfungsi sebagai tempat latihan pendalaman para senior, didukung tempat latihan alam di Ngebel, pantai SRAHU di Pacitan dan pantai Ngliyep di Malang selatan. Juga biasa untuk latihan pendalaman sekaligus 1-2 peleton AD/AU/AL, bergantian.
Mas Yadi rajin mentranskrip materi2 latihan pendalaman.
Status tanah padepokan, milik mas Yadi. Sebagian bangunan, gotong royong anggota MP.
2. Padepokan MP Cirebon. Atas upaya ketua MP Cirebon waktu itu, mas E.M.Wongkaren, diserahkan ke MP Cirebon. Berfungsi sebagai tempat latihan dan gedung pertemuan.
3. Pesanggrahan MP di Parangkusumo. Fasilitas pendukung u acara Tradisi MP, UKT Nas dan latihan luar/alam bagi semua cabang. Status tanah, magersari kraton, bangunan, gotong royong MP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 12/10/2010 23:51
Masih kurang dua topik lagi, yaitu diversifikasi program latihan dan last but not least, potensi pendanaan u MP/ perguruan tradisional.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Mantrijeron14 on 13/10/2010 08:32
Pak Prapto, Mas mpcrb... ane numpang ngadem di marih....

Sik ane setel dulu language mode saya... beeeep... click!

Nah... sekarang lebih enak.
Sodara-sodara sekalian mengikuti perbincangan sampeyan-sampeyan ini rasanya kok sayang kalo dilewatkan. karena masalah yang disentuh pada dasarnya ya hal yang sama yg menjangkiti perguruan tradisional bukan hanya MP, utk hal ini saya mohon ijin nyimak dan mengambil kesimpulan dari pembicaraan sampeyan semua, dus kalo dilain hari jangan sampe ada tuntutan hak cipta  ;D

Belom lagi nilai-nilai yang diwedar oleh pak Prapto.... [top]

Saya boleh atur pertanyaan kan ...pak, mas:

Tujuan olah nafas bermuara ke terbukanya mata hati, banyak banget nih kalau saya ikuti muara hampir bbrp aliran silat utama yang mendefinisikan demikian. beberapa sub aliran bahkan menjadikan nama perguruan: Setia Hati, Persatuan Hati, Hati-hati komplek militer... hehehe yg terkahir papan peringatan ding bukan papan perguruan. [lucu]. Jikalau beladiri berhenti di tataran gerak, kenapa harus melibatkan hati?? Di manakah fungsi hati/ roso sakjroning roso dalam menuntun gerak pembelaan diri? Atau memang prosesnya adalah melalui gerak dahulu, baru ketemu "obahing ati".....

secondly, ketidakseragaman gerak. nah ini juga jadi polemik di lingkungan saya. Pelatih ini bilang A, pelatih itu bilang A+, dsb. Menurut saya/ IMHO beladiri adalah kepribadian. gerakan detil tentu tidak akan sama dari setiap individu. Hal itu tergantung pemahaman, pengolahan pribadi dan tentu saja kesenangan/ preference.. tugas pelatih/ guru ya memberikan substance yang benar, dus melenceng dikit ya ndak papa... asal jgn substancenya yg beda.

Fighting style MP?? Saya sangat menyayangkan kalau masih ada yg beranggapan tidak bisa buat fight dan terpaksa mencari diluar. Saya kenal pesilat MP mas Gatot, waktu itu si mas di fakultas Fisipol Bulaksumur State Univ (ssst....biar kayak LN), saya di FE jurusan ekonomi lemah... kami lumayan sering bertanding mewakili tempat nongkrong kami, bedanya mas Gatot di kelas H, saya kelas gurem :'(, yang saya amati walopun badan segede gaban tapi gerakan secepat pesilat kelas D!! Amazing saya dan bahkan praktisi yang lain dibuatnya. Menurut saya lagi... pencarian di luar tak lebih dari proses pendewasaan, proses menemukan jati diri..... kata uda SK, dimano juo dicari, di rumah ambo temukan (bener ra ki nulise' dab??). Hanya saja senior perlu memberikan hook/ kaitan supaya si petualang ini bisa mengerti keluhuran perguruan yang bersangkutan jadi kalopun nemu metode.... sekali lagi metode, bukan basic concept yang dirasa lebih pas, ya pasti dia cuma memakai metode bukan prinsip dasar. Bahkan tidak mustahil, jika dengan pemahaman diluar, si murid makin yakin dengan keluhuran perguruan dan balik maning mersudi di muasalnya kembali.

sumonggo warga MP yg laen mbok yao nderek... ikut berbagi disini.

wassalam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 13/10/2010 09:42
kang MJ, saya memahami maksud kakang. :)

Ketika saya berbicara fighting style MP, sebenarnya ini hanyalah suatu perenungan. Setiap fight adalah khas. Saya hanya merenung, apakah mungkin ketika kita melihat suatu teknik pertarungan, kita bisa tahu 'oh itu MP', atau 'oh itu SHT', atau 'oh itu Tapak Suci', dan yang lainnya. Fight is a fight. Semua gerakan tentu (relatif) boleh untuk dilakukan. Kalau sudah tidak ada jalan lain kecuali dengan membenturkan jidat kita ke muka lawan, ya silahkan dilakukan. Meski tidak ada pengajarannya pada tataran keilmuan.

Seperti Jiujitsu yang terkenal dengan grapplingnya, atau Muay Thai yang terkenal dengkulan dan sikutannya. Saya tidak bermaksud untuk silau terhadap mereka, tidak sama sekali. Dan tidak berharap MP atau Pencak Silat menjadi seperti mereka. Ini hanya suatu pemikiran saja. MP punya gerakan tangan, kaki, hindaran, tangkisan, tangkap kunci, bantingan, guntingan, getaran, dsb, yang (dalam pemikiran saya) bagaimana bisa diramu secara khas sehingga semua potensi bisa dimaksimalkan. Bagaimana uji pematahan benda keras statis mulai dicobakan diganti dengan dinamis, dengan cara melempar beton cor atau kikir atau besi dragon ke udara dan kemudian dipatahkan. Dicoba dilakukan selama 30 detik dengan 20 besi dragon, dsb. Ini hanyalah bentuk pemikiran sehingga ada sesuatu yang baru dari yang selama ini ada. Tidak mengganti yang sudah ada, hanya mengembangkan menjadi lebih baik.

Ini lebih pada masalah bagaimana mengatasi krisis identitas. Sepanjang yang saya amati, krisis identitas juga terjadi pada perguruan lain. Berapa banyak demonstrasi pencak silat yang tidak mirip pencak silat? To catch the fish? I agree. Tapi seringnya kebablasan dan membawa itu terus. Kalau yang belajar ini dilakukan oleh yang sudah memahami hakekat, yang sudah cukup matang, tentu tidak masalah. Ia bisa memilah dan memilih. Ia juga tidak akan silau. Masalahnya kalau ini dilakukan oleh orang biasa-biasa saja, dimana pengajaran pemahaman filosofi sudah mulai jarang ditanamkan sejak dini, sejak awal masuk, tentu akan menyebabkan asimilasi yang kurang pas. Sebagai suatu proses pencarian jati diri, saya sepakat. Tapi tanpa kesiapan mental, kesiapan nilai-nilai, tentu kita tidak bisa menjamin hasil akhirnya akan lebih baik dari sebelumnya.

Itulah yang kemudian membuat jadi terlalu liberal. Belum lagi minimnya pengkondisian untuk menciptakan ruang battle di zaman sekarang di setiap cabang.

Selain itu, tidak semua berpikir sama seperti saya, kang MJ, mas Suprapto. Kebanyakan dari anggota pencak silat, belajar silat bukan sedari awal diajarin filosofinya, tapi langsung masuk pada gerakan-gerakannya, olah nafasnya, berharap jadi sakti instant, dsb. Masuk MP berharap langsung belajar getaran, bisa merasa sakti, bisa matahin ini itu, sudah merasa keren, dsb. Ini kenyataan di lapangan. Dan terjadi juga pada beladiri lain. Tubuh wadag terisi oleh gerakan-gerakan silat, tapi tubuh batin (seringkali) kosong oleh nilai. Plus itu tadi, atas nama pemassalan, terpaksa mengangkat pelatih yang belum matang. Kalau perguruan itu hanya ada pada satu daerah saja, rasanya tidak akan masalah. Karena terpusat, mudah diketahui segalanya. Tapi kalau sudah lintas geografis, tentu harus menjadi sub pembahasan yang harus diperhitungkan.

Kondisi pekerjaan, kedinasan, atau sebab musabab lain tidak memungkinkan untuk berguru langsung pada seorang guru selain daripada senior di daerah dimana ia berada. Atau kebalikannya, sang guru datang ke daerah secara rutin, tersebar, dan mengajari secara khusus juga cukup sulit dilakukan. Kecuali ya saat-saat liburan. Lain dengan cerita zaman dulu, yang tinggal naik kuda saja lalu ngelmu.

Mengenai kalimat ini:

"Hanya saja senior perlu memberikan hook/ kaitan supaya si petualang ini bisa mengerti keluhuran perguruan yang bersangkutan jadi kalopun nemu metode.... sekali lagi metode, bukan basic concept yang dirasa lebih pas, ya pasti dia cuma memakai metode bukan prinsip dasar. Bahkan tidak mustahil, jika dengan pemahaman diluar, si murid makin yakin dengan keluhuran perguruan dan balik maning mersudi di muasalnya kembali."

Saya sepakat. Tapi yang sering terjadi di lapangan kenyataannya tidak seperti itu. Gelitikan untuk mencoba-coba lebih besar dibanding penanaman keluhuran budi. Plus ditambah minimnya penanaman filosofi. Sudah berlatih 1 minggu 2x, masing-masing paling banter hanya 2-3 jam maksimal. 5 hari x 24 jam berada di masyarakat, melihat televisi, berita di koran, dsb. Tentu penetrasi inilah yang sangat kurang. Metode penyeimbang antara pemberian nilai-nilai itu mutlak berada di tangan pelatih. Sambil mengajarkan gerak, berikan nilai-nilai. Sambil mengajarkan nafas, berikan nilai-nilai. Proses seperti ini yang sudah sangat jarang saya lihat pada hampir kebanyakan PPS. Membiarkan si murid tumbuh sendiri, gede sendiri, baru nanti diajarkan keluhuran keilmuan. Lha wong kita bisa nulis sekarang ini karena dulunya sedari kecil 'dipaksa' untuk nulis toh? Kita bisa baca karena dulunya sedari kecil 'dipaksa' untuk baca? Pada akhirnya kita berterima kasih atas 'paksaan' tersebut. Kenapa pembabaran keluhuran filosofi dan nilai tidak bisa kita tanamkan sedari awal murid masuk menjadi anggota?

Btw, pernah ketemu mas Gatot juga ya? Salam saja mas. Kebetulan saya juga pernah dilatih oleh beliau. Beliau waktu menjelang Kejurnas MP 97 juga melatih saya dan kawan-kawan. Dan sempat merasakan fight juga sama mas Gatot. :) Dulu saya sering bilang kalau mas Gatot adalah 'Samo Hung'-nya Indonesia. :) hehehe

Kalo ketemu, salam dari mas Agung, Cirebon. Yang tendangan sampingnya menyamai kecepatan tendangan mas Gatot. Hehehe (itu dulu tahun 90-an). Sekarang yo perut wis maju... :)


salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 13/10/2010 10:08
2. Padepokan MP Cirebon. Atas upaya ketua MP Cirebon waktu itu, mas E.M.Wongkaren, diserahkan ke MP Cirebon. Berfungsi sebagai tempat latihan dan gedung pertemuan.

Kebetulan saya adalah mantan Sekretaris Cabang Cirebon untuk 3 periode kepengurusan. Ketika ketua terpilih dipegang oleh Mas Hasan, kemudian ketua terpilih dipegang oleh Mas Benyamin (mas Ben) dan saat ini ketua terpilih dipegang oleh Mas H. Toto. Untuk yang terakhir, karena ngikut kantor ke Jakarta, terpaksa melimpahkan ke wakil sekretaris untuk handle operasional di Cirebon. Kendala kedinasan saat ini tidak memungkinkan untuk stay sepenuhnya di Cirebon.

Meski bukan yang terbaik, tapi saya mengamati sepenuhnya pengurusan padepokan MP Cirebon untuk beberapa periode, plus kendala-kendalanya kepelatihan dan kelebihannya. Juga kendala-kendala manajemen di daerah. Saru-siku antar senior, dsb. Jadi, sedikit banyak, saya memahami kondisi yang pusat alami (meski jauh lebih rumit dibanding daerah).

Pendanaan memang masalah klasik yang abadi. :) Beberapa inovasi pengurus MP Cirebon adalah dengan menyewakan padepokan untuk event-event musik dan event olahraga senam (seperti senam Tai Chi, senam berbasis kickboxing, dsb). Beberapa group Band sudah sering manggung di padepokan MP (sekaligus promosi juga kepada pengunjung) seperti KLA Project, Dewa 19, Boomerang, dll, bahkan luar negeri seperti Firehouse. Tujuannya untuk 'tambal sulam' pendanaan. Jaringan-jaringan ke pemerintahan dijalin. Mulai dibuat proposal untuk masuk pada sektor-sektor vital sehingga dengan demikian sedikit banyak mulai bisa 'mengamankan' asset. Kepelatihan, yang atas nama pemassalan, juga kami alami disini. Perbedaan gerak juga demikian. Kami berterima kasih atas sumbangsih dari pak Mike Wongkaren, karena berkat beliaulah padepokan masih tetap megah berdiri (dengan kualitas besi baja super pada rangkanya). Tinggal menjadi PR Cirebon untuk menggali keilmuan dan memajukan perguruan. Saat ini yang masih sangat aktif adalah pembibitan pesilat untuk seni dan laga. Untuk laga, sudah mulai menampakkan hasil dengan pesilat Cirebon yang mulai 'merangkak' naik dari daerah hingga ke nasional. Sedikit banyak mulai dibenahi, agar potensi perpecahan bisa dihindari.

Sejujurnya, jangankan di pusat mas. Untuk Cirebon sendiri juga bahkan mulai jarang ngumpul-ngumpul ngebabar keilmuan dari pada senior. Egosentris masih terjadi, yang kalau tidak disikapi dengan bijak, tentu potensi perpecahan akan muncul. Terkadang bertanya, kenapa ini muncul di level senior? Merenung, melihat urut-urutan peristiwa, mengamati apa yang mereka berikan kepada saya, kemudian sampai pada kesimpulan dimana sejak awal pengajaran pemahaman filosofi kalah dengan pengajaran keilmuan. Bisa jadi di perguruan lain juga demikian. Kalau ini tidak dibenahi juga, maka generasi senior yang akan datang akan 'mewarisi' juga seperti yang sekarang. Instruksi dari pusat memang seharusnya lebih jelas dan lebih keras mengenai pentingnya penanaman dan pemahaman filosofi bagi mereka yang ditunjuk untuk masuk pada jalur kepelatihan (terutama pelatih utama).

salam.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 13/10/2010 11:39
Tujuan olah nafas bermuara ke terbukanya mata hati, banyak banget nih kalau saya ikuti muara hampir bbrp aliran silat utama yang mendefinisikan demikian. beberapa sub aliran bahkan menjadikan nama perguruan: Setia Hati, Persatuan Hati, Hati-hati komplek militer... hehehe yg terkahir papan peringatan ding bukan papan perguruan. [lucu]. Jikalau beladiri berhenti di tataran gerak, kenapa harus melibatkan hati?? Di manakah fungsi hati/ roso sakjroning roso dalam menuntun gerak pembelaan diri? Atau memang prosesnya adalah melalui gerak dahulu, baru ketemu "obahing ati".....

Punten untuk beranikan diri menjawab, mohon jangan diketawakan jika jawabannya seperti jawaban anak kecil. Maklum, masih proses mersudi.

Menurut pemahaman saya, hati adalah sumber dari segala 'kesaktian'. Ya 'kesaktian' lahiriah, ya 'kesaktian' batiniah. Tak ada yang tidak bisa 'dilihat' oleh hati. Plus ia adalah satu-satunya 'alat kontak' terhadap Sang Maha Pencipta. Apabila baik hatinya, maka baik pula tindakannya. Apabila buruk hatinya, maka buruk pula tindakannya. Dari dalam hati, tercermin lisan, meluas kepada tindakan.

Akan tetapi, untuk menuju kearah situ tidaklah mudah. Ada tangga yang harus dilalui, ada ruang yang harus dilewati. Kita tahu bahwa hidup adalah proses yang amat rumit. Hidup adalah proses pencarian, proses mersudi. Semua pengetahuan lahir dari proses mersudi. Semua kesaktian lahir dari proses mersudi. Kalau sudah tidak bisa mersudi, maka sudah mengalami kematian. Selama masih ada hayat di kandung badan, maka proses itu masih berlangsung. Kemudian diwujudkan melalui tindak, melalui tindakan.

Dan gerak adalah SALAH SATU dari sekian banyak proses mersudi, proses mencari hati sejati yang diwujudkan melalui tindak, melalui tindakan. Gerak dalam beladiri adalah salah satu jalan pencapaian ke arah hati sejati. Seringkali berisi filosofi, kenapa gerak tangan harus mengarah keatas, kenapa kepalan diarahkan kebawah, dsb. Ini adalah salah satu jalan untuk mersudi yang telah ditemukan oleh para local genius kita.

Para sufi, pendeta, biksu, melakukan proses mersudi untuk pencapaian yang sama melalui semedi atau meditasi atau tirakat atau sejenisnya. Meski berbeda, tapi bisa menuju hasil yang sama. Keragaman tidak terlepas dari intinya. Disimbolkan, gerak adalah aspek syariat, aspek lahirian yang (relatif) mudah dipelajari oleh siapapun. Aspek hakekat ada pada nilai-nilai yang ditanam di dalamnya.

Dalam konteksnya dengan beladiri, pencapaian tertinggi adalah pencapaian hati, pencapaian pemahaman tertinggi, pencapaian pencerahan. Ketika hati sudah mencapai langit, maka ruang dan waktu menjadi kecil. Dimensi menjadi bisa dilewati. Raga sudah tidak jadi penghalang. Pada tahap ini, manusia sudah mampu mengungkap hukum alam. Sulit sekali untuk dicapai, tapi tidak mustahil.

Kecepatan gerakan, tidak akan dapat mengalahkan kecepatan pikiran. Tetapi hati bisa tahu lebih dulu. Dalam kondisi ini, maka gerakan seperti apapun akan bisa dideteksi, arah lintasan apapun akan dapat 'dilihat', niat seperti apapun akan bisa diketahui. Kalau sudah begini, teknik apapun akan tunduk dengan sendirinya karena sudah terbaca.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 13/10/2010 12:24
kangmas Mantri.

Sumangga, falsafah keilmuan kan nilai2 umum dari kearifan lokal, sudah milik umum.

Agak capek ngurusi masalah itu2 aja , pelatih atau "senior" yg baru lucu2nya, saya memang tanya/mempermasalahkan ke mas Poeng, ada apa dengan penanaman nilai luhur/falsafah keilmuan. Pemberian materi falsafah di penataran pelatih, hanya ditanggapi dgn bagaimana cara menulis/mengucapkan yang benar, nyaris tidak nyambung.
Mas Poeng bilang, memang perlu "sangat/saat", atau sengaja diciptakan agar situasinya nyambung, nanti tinggal diwedar, lebih mudah masuk. Mas Poeng terbiasa medar kalau pas santai wedangan. Perlu momentum.

Baru saja kita alami sendiri di forum SS.
Sepertinya sudah lama akang Taufan mengungkapkan tentang GG, "tata gerak dilatih sampai masuk dalam lahir batin pesilat" ; kangmas Ajigineng tentang " dibolan- baleni nganti nyawiji karo badaniro".
Ketika uda Suporter melontarkan  "aplikasi jurus dalam bertarung" yang memancing penghayatan tata gerak/jurus dengan rasa, kemudian bang Antara dengan "Olah Jemparing", dan terakhir mas mpcrb dengan SP dan TT, maka filosofi keilmuan menemui momentum untuk dibahas.

Nilai2  "ngelmu kelakone kanti laku" dan "sopo temen bakal tinemu", sebenarnya sudah masuk sejak awal melalui program latihan.
Bahwa kalau tidak MELAKUKAN latihan dengan niat dan cara yang benar, maka dalam ujicoba nanti akan kelihatan, sasaran patah atau malah tangannya yang memar. Postur preman bisa kalah dengan putri yang lembut.
Sifat premanisme, tdk mau kerja, minta hasil seketika, akan tereliminasi disini.

Waktu mas SOLIHIN GP, terpilih menjadi Ketum MP, beliau minta penjelasan selengkap mungkin mengenai falsafah keilmuan, agar tidak salah dalam melakukan gemblengan ke anggota. Karena tingkatnya sudah cukup (kombinasi II reguler, bukan kehormatan, kolat Bina Graha), maka mulai latihan getaran dan dasar gerak naluri, untuk persiapan ujian ke Khusus I di Yogya.
Beliau telpon :

 "mas, kalau tata gerak dan pematahan benda keras saya beres, tapi latihan getaran nggak bisa2. Emang yang bisa hanya orang Jawa ya, abis pakai filosofi Jawa."

Beliau berani ngeluh ke saya krn saya ketua harian, bukan pelatih, apalagi guru.
Saya menjawab sekenanya: " coba pa, sholat yang khusuk. Selesai sholat, dengan sikap khusuk tadi, langsung latihan getaran". Besoknya beliau telpon dengan ceria : " wah mas ,  udah bisa, getaran terasa kuat. Bener juga nih elmu. Hahaha".

Kejadian tadi saya sampaikan ke mas Poeng, yang kemudian menyimpulkan, harus dicari cara yang pas. Kalau memasukkan falsafah Jawa secara "letterlijk", lawaran, tulisan singkat, mudah terjadi salah paham. Kemudian mas Solihin GP dalam melakukan pidato gemblengan ke anggota, dipersilahkan kalau lebih sreg dengan memakai ungkapan2 luhur prabu Siliwangi.
Sama saja.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 13/10/2010 14:33
semakin ketemu lagi benang merahnya :)

jika gerakan jauh dari tuntunan, jika panutan abaikan kepatutan, jika sesepuh tak lagi mau patuh, maka kemana jiwa awam nan kering ini hendak berlabuh?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 13/10/2010 14:43
Apapun yang telah terjadi, itu adalah suatu kenyataan. Apapun yang nanti akan kita hadapi, itu adalah suatu keniscayaan. Seandainya bisa informasi-informasi berharga (yang meski sudah jadi milik umum, tapi banyak yang tidak diketahui) ini bisa didistribusikan kepada seluruh cabang, pelatih, di semua daerah...

Jadi ingat pesan terakhir Kyai Haji Ahmad Dahlan di film 'Sang Pencerah':

"Hidup ini singkat dan hanya sekali, jangan hanya mengurus diri sendiri, Allah bersama orang-orang yang peduli..."

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 14/10/2010 00:24
DIVERSIFIKASI PROGRAM LATIHAN.

Dalam perjalanan MP, mudah ditengarai adanya berbagai macam kebutuhan/interest menyangkut program latihan.
 
Sekurangnya ada kebutuhan pendalaman yang berbeda beda dalam kecabangan keilmuan pencaksilat.

Kemudian ada kebutuhan khusus yang merupakan pengembangan pencaksilat untuk manfaat yang lebih luas.

Dilain pihak, program latihan standar/reguler yang ada, memang dirancang moderat, sehingga pembobotan beban latihan dirancang untuk kondisi pesilat rata2/umum, untuk rentang usia yang lebar, baik putra maupun putri.

Dalam perjalanan waktu, sudah semakin mendesak, kebutuhan program latihan yang berbeda beda.
Bahan sama, tapi racikannya beda.
Antara lain:
* Program latihan khusus penunjang kedinasan (TNI/POLRI). Sedangkan untuk petugas SAR/KSR PMI/ICRC, ditambah materi latihan deteksi survivor.
* Program latihan khusus/pendalaman bidang penyembuhan.
Bidang ini, saat ini menjadi favorit pendalaman para senior, bergeser dari trend kanuragan. Menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi. Termasuk disini riset deteksi aura/jenis energi berbagai tumbuhan, guna keperluan pengembangan pengobatan herbal .
* Program latihan khusus beladiri praktis. Diperlukan oleh wanita/pria yang tidak cukup waktu untuk ikut latihan reguler.
* Program latihan atlit IPSI.
* Program latihan yang memberi pembobotan lebih pada aspek beladiri. Termasuk disini penyiapan atlit tanding MMA.
* Program latihan untuk usia dini (dibawah 14 tahun), tanpa olah nafas.
Dan seterusnya.

Pelatih tinggal melihat catatan tentang racikannya, sedang unsur/bahan2 sudah tahu/sudah dikuasai.
Penyusunan program latihan harus teliti, fokus,berdasar kebutuhan dan kondisi lapangan.

Program latihan untuk pemanfaatan yang lebih luas:
* Program senam kebugaran berbasis pencaksilat.
* Program latihan tunanetra , tunarungu (bisu tuli).
* Program latihan penunjang rehabilitasi korban narkoba.
* Program latihan penyegaran sel.
* Program latihan penunjang prestasi atlit olahraga selain silat.
* Program latihan penderita diabetes.
Termasuk menyusun bentuk senam pasien, merujuk garis energi/meridian, untuk mempercepat penyembuhan sakit tertentu.
Dan seterusnya.
Beberapa program yang sudah disusun dan dilaksanakan MP, perlu evaluasi dan ditingkatkan.

Masing masing perguruan tradisional tentu memiliki kekhasan masing masing yang berpotensi untuk dikembangkan.
Bertujuan agar pencaksilat mengcover seluas mungkin, segmen2 di masyarakat. Serta memberi manfaat seluas luasnya kepada masyarakat, dengan segala sesuatu yang berbasis pencaksilat.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 14/10/2010 05:11
POTENSI PENDANAAN
UNTUK MP/PAGURON TRADISIONAL.

Potensi sumber dana, kita bagi tiga kelompok:

A. Kelompok Pemerintah/BUMN/Industri Besar.
B. Kelompok Masyarakat dan lembaga donor.
C. Internal perguruan.               -

A.

Perhatian pemerintah pusat dan daerah kepada pencaksilat, dari hari kehari terus meningkat.
Sebagaimana pemerintah negara lain, perhatian pertama tentu pada aspek sport. Demikian juga sikap pemda. Barangkali karena lebih terukur, prestasi medali, lebih mudah mempertanggung jawabkan anggaran kepada DPR/DPRD.
Belum menyentuh anggaran untuk perguruan/klub.
Tapi setidaknya memberi kesempatan/ajang kepada pelatih dan atlit pesilat untuk berkiprah dan berprestasi, dengan peluang mendapat fasilitas dana, bonus, kesempatan jadi PNS, tambahan nilai, tunjangan rumah, tunjangan hari tua dsb, baik dari pemda maupun pemerintah pusat. Ada jalur pelajar, jalur mahasiswa dan jalur umum.
Sedikit banyak menambah apresiasi masyarakat terhadap pencaksilat.

Belakangan mulai dibuka kesempatan mengisi kegiatan ekstra kurikuler disekolah sekolah. Disini perguruan bisa mulai berperan dan mendapatkan dana, dengan mengorganisir pelatih2nya. Tentu ada kegiatan pemenuhan syarat administratip, penyiapan program, penyiapan pelatih dan pengawasan pelaksanaan/kendali mutu. Selalu siap mengantisipasi mutasi pelatih.
Apabila kegiatan di DKI dan Cianjur berjalan sukses, kemudian merebak kemana mana, tentu skala dananya tdk bisa dipandang enteng oleh perguruan2 silat.

Peluang selanjutnya adalah dibidang pariwisata dan budaya. Perguruan bisa mengisi kegiatan pariwisata dan budaya. Ada peluang kecil, tunjangan bagi guru silat sebagai seniman budaya nasional.

Dari BUMN/INDUSTRI BESAR, ada dua macam kesempatan. Yaitu dana CSR (corporate social responsibility), dan peluang untuk melatih karyawan dalam skala besar, terutama pada industri agro (mis pabrik gula dgn lahan tebu ribuan hektar) dan industri pertambangan ditempat terpencil.
Ada juga peluang kerjasama dengan grup swasta nasional besar, dengan chemistry yang sama, mendukung brand Indonesia. Kalau peluang dari perusahaan rokok ada sih, tapi ada trend pengendalian produk tembakau yang semakin ketat.

Mengikuti trend di China, bahwa karyawan yg ex sekolah kungfu, terbukti diatas rata2 dibidang disiplin dan keuletan fisik. Maka pencantuman "pesilat" pada cv, mulai mendapat prioritas pada perusahaan asing ex Asia. Menguntungkan bagi pesilat, "tergantung"  bagi perguruan.

B.
Potensi dana dari masyarakat , berkaitan langsung dengan program perguruan yang "melayani"/memberi nilai tambah pada masyarakat. Program2 yang termasuk manfaat lebih luas dari pencaksilat, apalagi yang berdampak finansial bagi penggunanya.

Sebagai misal, pada perguruan tradisional yang mempunyai keistimewaan pada patah tulang dan ilmu lulut (salah urat, keseleo, cedera otot), bisa serius mengembangkan dan menambah personil yg handal. Perguruan mengorganisir dan mentarget pemain bola kelas dunia yang bergaji milyaran rupiah, dimana kalau sembuh lebih cepat, ada dampak finansial. Tentu ada perjuangan bertahap dimulai menangani atlit nasional dan modal kerja yg disiapkan perguruan. Sasaran lain adalah pemain tenis yg cantik dan kaya. Kenapa tidak.? Hehehe..
Tidak cukup hanya kesian pada pendekar ahli lulut dan patah tulang.

Sedangkan potensi dana lembaga donor, dibahas dibawah.

C.
Potensi pendanaan INTERNAL PERGURUAN.

Kita tinjau dulu beberapa model pendanaan perguruan.
1. Perguruan yg merupakan badan otonom dari organisasi kemasyarakatan (besar). Sudah punya komunitas yang tentunya mendukung pendanaan. Misal TS oleh Muhammadiyah, Persinas ASAD oleh LDII, Pagar Nusa oleh NU. Persebarannya nyata.
2. Perguruan yg pendanaannya didukung pembina yang kaya raya.
Apakah perkembangan perguruan maju pesat? Ataukah drive untuk menggali potensi dana alternatip, malahan melemah? Kita tunggu kabar dari teman2 di PSTD dan SMI.
3. Ada model PSHT. Menurut penuturan salah satu tokohnya, mas Arti Siswoyo, PSHT mendapat kontribusi dari sekurangnya 8 SPBU di Jakarta, lumayan untuk anggaran pengurus. Ada kontribusi kecil dari iuran. Model, perguruan punya sumber dana dari saham di suatu usaha bisnis.
4. Model MP.
Modal dasar dari iuran anggota, ada biaya sertifikat tingkat, KTA.
Tetap saja, andalan utama adalah dari kontribusi pengurus dan partisipasi anggota selain iuran. Belum bisa menggaji/tunjangan guru.

Mengenai BESARAN IURAN:
Tidak boleh menyentuh batas psikologis, sehingga terkesan "jual beli", sehingga mematikan tingkat partisipasi anggota/pengurus.

(bersambung)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 14/10/2010 09:16
Terima kasih mas atas kesediaan untuk sharingnya. Ini sungguh sangat berharga. Tidak hanya bagi diri saya pribadi, juga saya yakin akan manfaat bagi perguruan lain yang membacanya. Tidak musti harus mengikuti, tetapi minimal sebagai bahan masukan dan perbandingan.

Ada yang sedikit menjadi pertanyaan saya mas. Kalau melihat paparannya, semua hampir didasarkan pada keilmuan dan implementasi keilmuan. Porsi dimana penanaman filosofi dan nilai-nilai perguruan sepertinya belum ada. Atau memang bukan bagian dari paparan tersebut? Maksudnya, mungkin itu ada pada divisi Bintal tersendiri dengan SWOT-nya. Sebab kalau melihat 2 paparan tadi, sepertinya merupakan sebagian garis-garis besar haluan MP (saya istilahkan saja demikian) yang berarti mencakup semua hal. Tidak mencantumkan penanaman nilai-nilai filosofis perguruan berarti memang tidak (atau belum saatnya) dimasukkan. Apakah ini sengaja atau memang belum mendapat perhatian?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 14/10/2010 13:01
@ mas mpcrb

Urutannya, Untuk memberi masukan PPMP menyusun analisa SWOT, adalah mengumpulkan kelemahan-kekuatan-tantangan-peluang, makanya kita brainstorming mengevaluasi filosofi, visi/misi, garis besar haluan kerja, program umum, fakta lapangan dan anev nya (analisa dan evaluasi) baru ke usulan/rekomendasi program kerja.
 
Kalau menyusun program kerja terkait anggaran, diluar kompetensi diskusi.

(sambungan):

perihal "pengabdian masyarakat"

MP ada peluang untuk memanfatkan ilmunya. Ada batas moral, antara kita mengabdikan/mempersembahkan sesuatu, sementara dilain pihak perguruan memang butuh dana untuk program lain. Misal tentang tunanetra. Kita menolong mereka, atau justru lebih memanfaatkan mereka untuk cari duit untuk kita sendiri? Harus proporsional, menjaga kepatutan dan batas moral.
 
Hal ini berlaku apabila kita mendapat bantuan dana dari luar, apakah sumbangan pribadi atau lembaga donor.
Kita masih bisa memasukkan penataran pelatih, honor pelatih dilapangan dan SEDIKIT manajemen fee untuk perguruan.

Pada SKALA yg terjadi/dicapai sampai saat ini, MP perlu badan usaha yang memang bisnis oriented, profesional, akuntabel, modal dikumpulkan dari gotong royong. Sehingga ada dana tetap yang patut untuk menfasilitasi dewan guru dan perguruan, mengurangi beban dan fluktuasi perolehan dana oleh PPMP dan berdampak pada subsidi anggaran kegiatan pada cabang cabang.

Barangkali para senior sudah terikat pada rutinitas, seolah olah atas nama pakem, padahal nggak juga.
Generasi penerus berpeluang melakukan terobosan, tanpa mengorbankan JATI DIRI nya.
Terbukti pada kasus MP, setelah sekian lama terbatas untuk keluarga, th 1963 terbuka/diabdikan untuk BANGSA dan negara Republik Indonesia, th1985 Munas MP merubah ayat di AD/ART, yang memungkinkan warganegara asing belajar dan menjadi anggota MP.

Bagaimana kalau kedepan, semua bertekad pada target yang "ambisius", tapi tidak utopis? Mandiri dan cukup, hidup dan menghidupi?

Saat ini, aturan di MP, ada pemasukan dari sertifikat tingkat anggota untuk dewan guru dan kegiatan keilmuan, relatip lancar. Ada prosentase iuran ke pusat,  2 ribu dari rata2 10 ribu rp iuran bulanan anggota. Tidak lancar/macet karena dana sudah habis di kolat/cabang. Setoran ke pusat tsb sangat berharga di kolat/cabang, sementara bagi PPMP dianggap duit kecil, relatip dibanding kebutuhan anggaran. Dilain pihak bidang dana usaha juga fluktuatip, sehingga pelaksanaan kerja menjadi berbasis dana yg tersedia/fluktuatip, bukan pada program yg sudah ditetapkan.

Kenapa? Karena skala ekonomi iuran kecil. Padahal rentang kendalinya luas. 

Bagaimana kalau semua sepakat, dengan segala konsekwensinya, mentarget skala menengah sampai besar? Target jumlah besar yg pasti harus didukung oleh jaminan mutu, promosi, humas dst ?
Kalau pelayanan baik, dan MP bisa mengusahakan satu juta anggota menjadi AKTIP (di data base ada 2,5 juta orang tercatat sbg anggota/pernah jadi anggota, sy yakin kalau lebih), atau dengan ekspansi anggota baru, maka setoran ke pusat menjadi 2 milyar rp perbulan.Kalaupun tercapai separuh, ada 1 milyar rp perbulan. Itu kalau iuran 10 rb perbulan. Padahal dibanyak cabang, sudah 25 rb per bulan.
Dengan skala makin besar, setoran bisa dikurangi, ditetapkan bersama, akuntabel.
Para pelatih, guru, gurubesar, pewaris bisa terpikirkan, segala sesuatunya bisa bergulir lebih ideal.

Kalau semua perguruan tradisional mentarget dengan skala masing2, sy yakin, uda Suporter harus meninjau ulang skala produksinya.

Salam.


SING SOPO OBAH, MAMAH. (letterlijk: barang siapa bergerak, mengunyah).
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 14/10/2010 14:05
@ mas mpcrb

Kalau tdk salah tangkap, fokus keprihatinan anda:

1. Pemanfaatan IT, baik untuk kehumasan maupun komunikasi internal.

2. Perlunya program latihan yg mencetak pesilat MP lebih "combat ready".

3. Dari pengalaman pribadi anda di Cirebon, dinilai sudah mendesak, penanaman filosofi keilmuan/perguruan sejak dini, apalagi bagi senior/pelatih.

Saya sepakat, karena itu merupakan sebagian masalah  di MP, bukan cuma satu dua cabang.

Tentunya harus dimulai dengan meninjau sistem yang berjalan di MP.
Apakah sistemnya kurang sehingga harus ditambah, apakah sistemnya yang salah sehingga harus dirombak, atau sistem sudah benar tapi ada kendala operasional.
Dari anev yang lengkap kemudian disusun usulan langkah2 solusinya.

Salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 14/10/2010 16:00
Benar sekali mas.

Saya jadi lebih bisa melihat secara keseluruhan ketika mas memaparkan sebagian dari SWOT dan anev di level Pusat. Sedikit banyak saya sudah mulai membaca benang merahnya. Sedikit banyak juga saya jadi memahami bagaimana saya 'dicetak' di MP Cirebon.

Sudut pandang saya memang cabang, mohon maaf seperti kacamata kuda. Dan juga pendapat saya tidak mewakili cabang Cirebon. Meski demikian, saya yakin juga memiliki karakteristik yang sama terjadi di beberapa daerah. Kebetulan saat ini ikut membantu Jakarta Selatan (sudah izin dengan Ketua Cabang JakSel, mas Marsyel). Tapi tidak dalam tahap melatih, hanya membantu saja pelatih yang sudah ada sambil melihat metode, mengevaluasi untuk pemahaman diri sendiri. Walau bagaimanapun, beda cabang biasanya beda karakter. Memunculkan karakter Cirebon, tentu akan berbenturan. Apalagi kalau keilmuan, tentu akan cukup signifikan perbedaannya. Jadi lebih enak diskusi berbasis filosofi, sesuatu yang jarang saya temui di kolat manapun. Sambil sharing-sharing pengalaman dan pendapat untuk mempererat silaturahmi.

Dari beberapa kali muteri ke beberapa cabang, kendala yang saya lihat juga sama. Kebetulan karena dulu saya sering menjadi pembicara IT, sering 'berkelana' dari propinsi ke propinsi. Saya sempatkan untuk muteri cabang dimana saya singgah. Untuk sekedar tukar pikiran, dan sharing pengalaman. Pada saat itu tidak berpikir akan tumbuh keprihatinan karena pikiran belum nyampe kesitu.

Kekhawatiran saya adalah dalam jangka panjang efek 'bentukan' dari minimnya filosofi perguruan ditekankan sedari awal akan mencetak senior yang hebat dalam keilmuan kanuragan, tapi miskin nilai. Apalagi dengan database anggota 2,5 jt (bisa lebih), tentunya efeknya sangat terasa. Mohon maaf terpaksa mengatakan demikian. Karena menjumpai cukup banyak senior yang pola pikirnya seperti itu. Berapa kali 'sempalan' MP nongol, termasuk juga yang di deket-deket Cirebon seperti Benteng Cipta Garuda (BCG) dan Merpati Seto (MS). Dan bahkan hampir saja dulu pelatih saya (Khusus 2, sudah almarhum sekarang, semoga amal ibadahnya diterima dan pahala atas segala kebaikan yang telah dilakukan olehnya) akan mendirikan perguruan sendiri. Bukan saya menganggap baik diri sendiri. Tidak mas, tidak bermaksud seperti itu. Ini sekali lagi hanyalah perenungan dari seorang anggota, yang bukan pesilat MP terbaik, tapi setidaknya ingin menjadi baik dan mengajak berbuat baik, dan yang masih peduli akan nilai-nilai.

Apa yang ditanam, itulah yang nanti dipetik.  Seberapa banyak senior yang memahami potensi perbedaan di tataran atas keilmuan? Seberapa banyak senior yang memahami bahwa MP tidak berusaha mencetak pesilat secara seragam? Seberapa banyak anggota MP yang memahami bahwa MP adalah ilmu tumbuh? Untuk mereka-mereka yang secara geografis dekat dengan pengurus pusat, dewan guru, atau mas Poeng, tentu tidak akan ada masalah apabila ada hal-hal yang tidak dimengerti, bisa ditanyakan langsung. Tapi bagi mereka yang secara geografis cukup jauh, bisa jadi kendala serius. Filosofi dan kearifan lokal memang sudah menjadi milik umum, tapi penekanannya di daerah tidak demikian. Sehingga kemudian batin ini berani berucap:

"jika gerakan jauh dari tuntunan, jika panutan abaikan kepatutan, jika sesepuh tak lagi mau patuh, maka kemana jiwa awam nan kering ini hendak berlabuh?"

atau lebih lengkapnya:

"jika gerakan dan olah nafas jauh dari tuntunan, jika panutan abaikan kepatutan, jika sesepuh tak lagi mau patuh, maka kemana jiwa awam nan kering ini hendak berlabuh?"


Pengalaman saya, begitulah dulu saya 'dicetak'. Dijejali keilmuan. Dijejali teknik-teknik. Diajak ikut kejuaraan, kejurlat, kejurda, kejurnas, IPSI, seleksi PORDA, POPWILNAS, dsb. Semuanya keilmuan. Pelatihan yang keras (sekarang pelatihan MP kolat sudah sangat moderat, tidak seperti dulu. Efeknya, anggota jadi lebih 'cengeng'). Cirebon, bisa jadi merupakan satu-satunya cabang yang (relatif) paling sering dijadikan 'eksperimen' oleh dewan guru. Hal ini bisa jadi tidak heran karena hanya ada 3 padepokan MP di seluruh Indonesia yang salah satunya di Cirebon. Para senior Cirebon, sudah mengenal bayu seto, kidang telangkat, kere wojo, dsb. Salah satu 'sarang getaran' ya Cirebon. Dengan jumlah praktisi getaran yang cukup banyak, maka keilmuan getaran yang pada kota besar masih dianggap istimewa dan dicari, disini informasinya relatif mudah didapat. Mungkin karena memang sejarah Cirebon cukup akrab dengan dunia persilatan sehingga hal tersebut dianggap tidak aneh lagi. Meski demikian, bobot materi tetap lebih ditekankan pada keilmuan dan nyaris tidak masuk filosofi. Bukan asumsi pribadi, tapi karena memang pernah berinteraksi selama 3 periode menjadi sekretaris cabang pada 3 model kepemimpinan ketua cabang yang berbeda.

'Cetakan' keilmuan MP sudah sangat baik, alangkah baiknya apabila dibarengi dengan 'cetakan' nilai. Sehingga klop sekali. 'Kesaktian' getaran musti diimbangi dengan kesalehan pribadi. Saya rasa kita semua sudah memahami ini. Tapi para pelatih daerah belum banyak yang paham dan sadar akan hal itu. Terutama atas nama pemassalan yang pada akhirnya terpaksa membiarkan pelatih yang belum matang untuk melatih. Toh jago getaran juga masih makan nasi, yang kalau berantem fisik sama yang tidak bisa getaran juga masih bisa berdarah. Saya mengerti, memang agak sulit karena seperti ngurusin anak macan yang kadang nyakar (istilah mas suprapto). Tapi kalau tidak diperhatikan serius, efeknya akan jangka panjang.

Selain itu, keprihatinan mengenai website resmi Pusat yang tidak kunjung datang membuat bola-bola liar informasi mengenai MP menjadi tidak terkendali. Padahal, membuat website saat ini sudah sangat mudah dan murah. Yang sulit hanya niat dan konsistensi maintenance. Entah sudah berapa kali saya mencoba mengutarakan ini pada banyak senior, termasuk pewaris muda pada fb beliau. Tapi tidak ada tanggapan berarti. Tetap saja bola-bola liar dan informasi yang salah nongol disana-sini dan diindeks oleh mesin pencari (google, yahoo, bing, dsb).

Kalau masalah 'combat ready', dari penjelasan mas mengenai MP USA, dan paparan dari sebagian GBH-MP, saya sudah melihat benang merahnya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 14/10/2010 16:24
Tentunya harus dimulai dengan meninjau sistem yang berjalan di MP.
Apakah sistemnya kurang sehingga harus ditambah, apakah sistemnya yang salah sehingga harus dirombak, atau sistem sudah benar tapi ada kendala operasional.
Dari anev yang lengkap kemudian disusun usulan langkah2 solusinya.

Disinilah yang tadi saya bilang dilematis. Pusat sendiri sudah memahami kendala dimana komunikasi pusat-cabang tidak ada masalah, tapi cabang-pusat mengalami kendala.

Mereka, para pelatih daerah, bisa jadi tidak begitu memahami kesulitan dari pusat. Tidak memahami gambaran SWOT, GBH-MP pusat. Mereka bisa jadi memang tidak tahu, atau memang tidak mau tahu. Yang mereka tahu di lapangan adalah melatih dan dilatih. Yang mereka dapat dari senior, itulah yang mereka rekam dan yang kemudian akan diberikan kepada anggota dibawahnya. Menjadi apa mereka, ya bergantung dari bagaimana senior 'mencetak'. 'Buku' keilmuan banyak sekali diminati anggota. Tapi 'buku' filosofi nilai-nilai perguruan itu sendiri sudah tidak diminati dan sangat jarang diminati. Jika filosofi tidak bisa dibukukan, maka ia harus diajarkan. 'Pemaksaan' tentu harus ada, karena tanggungjawab keberhasilan anggota adalah di tangan pelatih, bukan pengurus. Secanggih apapun keilmuan hasil riset pusat, ujung-ujungnya berakhir pada pelatih. Karena merekalah 'petugas lapangan' yang mengetahui benar kondisi anggota yang sesungguhnya. Yang melihat kenyataan, yang menerima keluhan, caci maki, dsb. Mohon maaf, bukan bermaksud menggurui. Saya yakin mas lebih tahu masalah ini dibanding saya. Saya hanya orang lapangan, yang berinteraksi langsung dengan anggota. Yang menyaksikan anggota pindah perguruan, pindah ke beladiri lain. Yang menyaksikan langsung anggota keluar tidak mau latihan karena tidak bisa-bisa getaran. Pada saat itu, kalau saja nilai-nilai mereka pahami, kalau saja para senior-nya memberikan wawasan filosofi yang maksimal, tentu tidak akan terjadi.

Jadi, ketika momentum menurut mas sudah dirasa tepat. Setidaknya tidak lama lagi saya pribadi bisa menyaksikan diskusi mengenai filosofi diantara anggota-anggota MP itu sendiri. Seperti ketika saya diskusi dengan mas ajigineng yang mengatakan juga memang sangat langka anggota MP yang membabar filosofi perguruannya atau mengajak diskusi mengenai filosofi. Kebanyakan ya keilmuan, kesaktian, dan sejenisnya. Saya pribadi bukanlah orang yang paling memahami keseluruhan nilai-nilai yang terkandung pada filosofi. Masih panjang jalannya. Tetapi yang saya pahami adalah ketika pemahaman mengenai filosofi ini didapatkan, latihan menjadi semakin terarah dan semakin baik. Itu saja. Kecintaan pada perguruan semakin tumbuh. Dan silat benar-benar menjadi sesuatu yang 'ajaib' di kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana MP adalah ilmu prajurit, maka ROH dari prajurit adalah PENGABDIAN. Dan SUKMA dari prajurit adalah KESETIAAN. Kembali kepada 'jiwa' prajurit yang sejati yakni pengabdian dan kesetiaan.

Sekali lagi mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 14/10/2010 16:31
Setelah sekilas mereview sistem yg berjalan, dimana aspek2 tidak bisa jalan sendiri2, tapi akan saling pengaruh mempengaruhi, sementara sy bisa berpendapat, mungkin agak  konservatip, tentang 3 masalah tersebut:

1. Masalah penggunaan website yang representatip, sebagai sarana keHUMASan dan komunikasi umum dgn anggota/cabang, harus didukung pusat data resmi di PPMP. Dalam hal ini sekretariat, bidang organisasi/humas. Informasinya harus akurat dan mengikat.
Pusat data/sekretariat, yang punya kewenangan untuk mengumpulkan, mengolah dan menyimpan data harus dibenahi dulu. Minimal, setelah ada kesepakatan pembenahan, official website bisa mulai on.

Website lain yang ada, dari bidang Diklat Pusat, baru ramai disekitar event kediklatan, mis UKT Nas, Tradisi tahunan MP, Penataran Pelatih,Kejuaraan2 MP didaerah, Kampus dan sebagainya. Tidak melayani konsultasi keilmuan, khalayaknya adalah cabang2 (internal).
Kemudian ada juga website Padepokan Madiun. Melayani konsultasi keilmuan anggota senior (internal terbatas). Diasuh langsung Ketua Dewan Guru.  Pengunjungnya sepi. Para senior cenderung konsultasi per telepon atau langsung datang ke Madiun.

2. Dengan anggota yg multi segmen dan multi interest, perlu program khusus yg combat ready. Dalam pandangan saya tidak terlalu repot.
Misalnya jadwal latihan ditambah, dari dua kali seminggu menjadi tigakali seminggu. Latihan alam lebih intensip, Materi tata beladiri, baik gerak praktis dan RGB mendapat porsi lebih. Dan seterusnya hanya merobah racikan, hari lathhan per minggu, beban latihan dan standar ujian yang lebih berat.
Masih dalam batas toleransi yang bisa dilakukan, sebagai program khusus di cabang.

3. Harus menyampaikan kepada guru besar dan dewan guru, sinyalemen perlu diperhatikannya materi Bintal dan filosofi keilmuan dan perguruan, mengingat dampaknya yg makin terasa. Ini kompetensi mereka.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 14/10/2010 17:15
Untuk point 1:

TARGET AWAL:



TARGET LANJUTAN:


KEKUATAN

a. Potensi Penduduk dan Internet
Kurang lebih 250 juta penduduk Indonesia yang menjadi penduduk sebuah negara terbanyak ke-lima di dunia.
Yang 180 juta-nya adalah pengguna ponsel. Yang 40 juta di antaranya adalah pengguna internet. Yang 80% dari pengguna internet itu punya facebook. Yang menjadi negara pengguna Facebook nomer 2 di dunia. Yang jadi pengguna Twitter terbanyak nomer 3 di dunia. Yang, artinya, 240 juta orang dengan hobi berbagi yang amat sangat teramat dahsyat.

b. Pemahaman Data Digital
Para pengurus cabang, pelatih cabang, sudah sangat familiar dengan kata 'digital'. Ponsel berkamera sudah sangat umum dimiliki oleh mereka. Foto-foto digital, flashdisk, memory card, scanner, sudah sangat akrab di telinga masyarakat zaman sekarang dan paham bagaimana cara menggunakannya. Foto-foto kegiatan cabang sudah mulai di scan, dibuat digital. Video-video yang masih pada kamera digital atau video cam sudah mulai ditransfer ke dalam media penyimpanan khusus seperti flashdisk/hardisk. Berikutnya, data-data tersebut tinggal di-upload ke website resmi pada tempat yang sudah disediakan. Ini lebih mudah dan murah dibanding mengirimkan melalui paket pos dan dikerjakan oleh pusat. Sekaligus membantu salah satu kesulitan pusat yakni pengumpulan data.

(bersambung)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 15/10/2010 08:29
(lanjutan)

Foto-foto kegiatan cabang atau pusat, sudah mulai di push untuk di digitalkan. Semua informasi yang berhubungan dengan Merpati Putih, harus sudah di scan, dibuat menjadi digital. Kliping koran, informasi dari majalah, dsb. Saat ini foto atau video Merpati Putih dari masa ke masa hanya dapat disaksikan secara terbatas pada event-event tertentu seperti Kejurnas, atau Tradisi.

Belum lagi foto-foto atau video pelatihan tunanetra, militer, normalisasi diabetes, dsb, yang masih tersebar entah dimana.

c. Potensi Jejaring Sosial
Sebagai top 3 pengguna facebook terbesar di dunia, jejaring sosial memiliki dampak yang sangat signifikan untuk aspek marketing. Viral marketing dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hampir tidak ada orang muda zaman sekarang yang tidak kenal facebook. Group-group berupa kolat atau cabang sudah memiliki account facebook tersendiri dan sangat aktif memposting berbagai informasi.

Pelatih kolat atau asisten pelatih kolat, dipastikan adalah mereka yang (kebanyakan) memiliki handphone berkamera dan kebanyakan juga memiliki account di facebook. Bisa saja dibuatkan sebuah group yang berisi kumpulan pelatih-pelatih MP seluruh Indonesia. Informasi latihan kolat, foto-foto latihan, atau video, dapat dengan mudah dikumpulkan dari cabang-cabang seluruh Indonesia. Target awal tidak perlu ideal harus memiliki resolusi tinggi dan tajam, cukup kebiasaan untuk mulai melakukan dokumentasi kegiatan. Ini sekaligus dapat menjadi ajang silaturahmi dan tukar-menukar informasi dan sharing keilmuan secara alamiah. Plus apabila dapat dilakukan agregat informasi maka informasi akan begitu terpusat dan akan sangat kaya. Distribusi informasi jadi lebih mudah dan membantu di dalam pengumpulan data.

d. Anggota-anggota MP yang berlatarbelakang IT
Saat ini, MP cukup banyak masuk pada perguruan tinggi berbasis IT seperti misalnya Universitas Bina Nusantara. Hampir kebanyakan universitas memiliki jurusan IT di dalamnya. Potensi anggota yang mengerti IT bisa dimanfaatkan sebagai tenaga pembantu apabila pelatih kesulitan di dalam melakukan proses dokumentasi kolat/cabang dimana ia berada.

e. Munculnya forum-forum besar
Saat ini ada cukup banyak forum-forum besar yang non-silat di internet. Forum seperti Kaskus, sangat menarik untuk dijadikan media penyampaian informasi. Member yang lebih dari 2 juta, dengan total posting lebih dari 200 juta lebih menjadikannya sangat powerful.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 15/10/2010 18:02
@ mas mpcrb.

1. Bagus sekali. Memang budaya IT sudah marak. Kolat /UKM/Cabang mulai terbiasa upload ke FB dan website masing2.
Saya pernah baca naskah proposal mas Chandraprawira dan mas Toto Wahyu (dept. Organisasi PPMP), bahkan lengkap tentang administrasi keanggotaan dan keilmuan ONLINE. Kalau mas mpcrb pas main ke MP Jaksel, saya sarankan untuk minta ketemu/dihubungkan ke mereka. Atau ke mas A'ip/ Arief Wiriadinata (salah satu Ketua PPMP), juga dari Jaksel, untuk ngobrol masalah website. Smg bermanfaat u kita semua.

2. Masalah di MP Cirebon memang unik.

Alkisah, sebuah batalion di sekitar Gombong, markasnya disebuah benteng eks belanda, dilatih MP oleh mas Mulyanto Tambak. Seperti biasa ada unit kecil yg dilatih khusus, digeber intensip, dgn kurikulum militer, sedikit tata gerak, banyak gerak praktis dan nafas tenaga. Salah satu anggota pasukan yg digembleng khusus tadi(lupa namanya, mas mpcrb skrg pasti tahu),  dipindah ke Brigif Slawi. Kemudian krn kreatipnya, bintara tadi berhasil mendekati tokoh2 di Cirebon untuk merintis Kolat MP di Cirebon. Sampai pada tingkat siap untuk diresmikan menjadi cabang (cabang bisa didirikan, minimal sdh ada beberapa Kolat, dan didaerah tsb ada potensi anggota yg berkelanjutan). Dalam acara peresmian dan pelantikan pengurus yg sangat meriah, di kediaman resmi Walikota Cirebon, (dimana beliau juga dilantik jadi anggota pengurus), ternyata mas bintara tadi pakai sabuk dengan strip putih, Inti I, sama dengan mas Poeng.

Saya bisiki agar nanti strip dilepas, nurut. Beberapa hari kemudian kami baca liputan koran, ada foto2 dan dalam wawancara media, mas bintara tadi ngaku sebagai GURU MP.
Mulai dilakukan pembinaan, pelan2, dengan pertimbangan MP Cirebon baru mulai moncer, antara  lain disarankan agar mas bintara mulai ikut ujian pertingkat, dan dipercepat. Seperti biasa bilang ya, tapi bulan demi bulan, tahun demi tahun berjalan, kalau ditanya selalu bilang belum siap dengan materi reguler MP, masih latihan terus.
Didepan anggota sering sesumbar, strip tingkatan tidak perlu, yang penting sakti.
Ujung2nya mas bintara tadi keluar dan mendirikan PS MERPATI SETO. Sasarannya ke anggota tentara. Business oriented.

Entah karena pengaruh mas bintara atau karakteristik Cirebon, baik anggota yang muda2 atau bahkan yang sepuh2, cenderung mengejar "kesaktian" sampai hil hil yang mustahal. Nguber tanya pelatih kesana kemari (terutama ke jalur Maos dan Cilacap). Saling sikut. Secara kasat mata banyak yang overload, overtraining, "nggege mongso" dengan konsekwensi ringan sampai "eksentrik". Solusi umum musti banyak nafas pembersih kepala/punggung. Mengurangi  nyimpen tenaga di blk kepala, sampai adem dulu.

BTW, di masa itu olah nafas MP baru laris dipasar gelap, banyak kolat gelap/kursus gelap dengan bayaran tinggi. Ketahuan karena klaim dari peserta ke MP karena berbagai hal. Baik cedera latihan atau merasa tertipu. 90% pelatih/penyelenggara kursus gelap yg kegrebek adalah anggota pasukan. Dalam pendekatan ke Danjen, Dan Yon dst disepakati perjanjian, komandan kesatuan bertanggung jawab untuk menanamkan pengertian, bahwa keilmuan MP bersifat rahasia, dilain pihak MP juga menjaga rahasia pasukan, dengan tidak mempublikasikan adanya latihan.

3. Mas Solihin GP/ mang IHIN , dalam menggembleng anggota, ada dua hal yang sering disebut sebut:
a. Salah satu strategi prabu Siliwangi yang berhasil adalah, menyebar pasukan sandi yudha ke pelosok/seluruh pedesaan pasundan. Menjadi panutan, melatih pemuda2 dengan ilmu silat dan menanamkan semangat belanegara. Alhasil setiap jengkal tanah pasundan terjaga, bahkan Majapahitpun, yang menguasai nusantara, tidak bisa masuk. Dalam konteks sekarang, pesilat harus menjadi panutan dilingkungannya dan menjadi penggerak semangat belanegara dalam berbagai perwujudan.
b. Meskipun sudah (merasa) jagoan, setiap mau latihan, harus pasang sikap kalau masih belum bisa, belum sempurna. Masih ingin meningkat. Kalau sikapnya begitu, bisa cepet maju. Kalau sikapnya sudah merasa jagoan, malah tidak maju2. Disiplin menurut petunjuk pelatih, tahap demi tahap.  (ini kalimat biasa, tapi karena pengalaman pribadi beliau, dianggap sangat penting untuk disampaikan).

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 16/10/2010 02:45
Mengenai posisi tata gerak beladiri didalam program latihan MP, saya berpandangan sbb :

1. Dalam program latihan MP, yang tercermin dalam materi latihan dan materi ujian, dari tingkat Dasar I dan seterusnya, selalu mengandung tiga pokok materi. Yaitu,
a. Kesamaptaan jasmani, stamina.
b. Tata gerak beladiri.
c. Tata olah nafas (tenaga dan getaran).
Yang kemudian digabung dalam gerak naluri.

2. Ketika masuk Dasar I, dalam minggu2/bulan awal, yang dilakukan adalah pembinaan fisik. Kekuatan otot dan kelenturan. Dilatih bertahap, diukur misal dengan skor kemampuan push up, sit up, squad jump, ngayang , senam tangan, kaki, leher, pinggang dst. Setelah mencapai standar rata2, baru mulai dengan dasar tata gerak. Gerak/bentuk baku, dimulai dengan kuda2, langkah, tangkisan, serangan dst dengan uraian gerak. Dilanjut secara bertahap bentuk2 senam pernafasan.

3. Setelah bentuk materi mulai lengkap, setiap latihan (rata2 2 jam), dibagi tiga sesi. Materi pembinaan fisik dimasukkan dalam latihan penguluran/pemanasan, skor standar performance harus terus dipelihara. Sesi kedua tata gerak dan sesi akhir senam pernafasan, ditutup dengan pendinginan.

4. Ketiga materi tersebut menjadi materi pokok ujian.
Tata gerak menjadi penilaian pertama. Kalau tidak bisa lewat ambang minimal, peserta ujian langsung gugur. Tidak bisa ikut materi selanjutnya. Dilanjut dengan ujian stamina, berupa jalan-lari 20 km (standar Alun2 kidul ke Parang kusumo), apa bila contour naik turun atau cross country, jarak bisa disesuaikan. Apabila peserta melebihi limit waktu tempuh, tidak bisa melanjutkan ke uji tenaga. Uji tenaga dilakukan sesegera mungkin setelah uji stamina. Dengan asumsi, modal fisik sudah rada ngedrop, sehingga hasil uji tenaga lebih mencerminkan sbg hasil olah nafas. Skornya jelas.
Ujian getaran bisa bersama dengan uji tata gerak. Dilakukan dengan cara tutup mata, lewat halang rintang, mendeteksi sasaran2, seluruh gerakan harus mencerminkan tata gerak beladiri. Skornya juga sulit dimanipulasi.
Ujian gerak naluri, bila dilakukan sendiri, adalah melakukan tata gerak beladiri dengan dilambari getaran. Apabila "dicolek" dari jauh oleh penguji (tidak terlihat oleh peserta ujian) , kemudian tdk ada gerakan reaksi, berarti bo'ong alias kethoprakan alias sandiwara.

Jadi posisi tata gerak beladiri, mendapat tempat yang seimbang, bisa menjegal kelulusan peserta ujian disetiap tingkat.

Apakah tanpa sungguh2 berlatih teknik tata gerak beladiri, seseorang bisa melakukan naluri  gerak beladiri dengan baik dan terkendali? Bisa ya bisa tidak. Walahualam.

Fakta yang tergelar dalam pelaksanaan program latihan MP  menyatakan lain.

Sekurang kurangnya, merujuk pada penilaian materi ujian, pesilat MP "dipaksa" untuk tidak main2 dalam tatagerak beladiri.
Tahap pertama dipaksa untuk melakukan dengan benar.
Tahap kedua dipaksa harus hafal , baik RGT(rangkaian gerak terikat, istilah jurus wajib di MP , dari nomor satu sampai sekian, sesuai tingkat), tangkap kunci, gerak praktis, dst. Dipaksa menganalisis gerak dengan menyusun sendiri atau berpasangan (RGB dan RGBp).
Setelah benar dan hafal dilanjutkan dengan di ulang2 dan kombinasi penghayatan pelan, cepat, lemas, bertenaga. Yang karena sudah hafal, penggunaan nalar dikurangi dengan meningkatkan rasa dan tubuh untuk menghayati tatagerak. Sehingga didapat gerak reflek atau setidaknya bisa melakukan dengan benar, hafal, penuh penjiwaan, ada dinamika semangat, tenaga dan tempo yg pas.
Kalau sudah begitu barulah dilatih dengan dilambari penghayatan getaran, yang bila digabung dengan latihan gerak naluri, maka tatagerak beladiri itu  menjadi presepsi/perbendaharaan, yang menyatu dengan rasa dan tubuh, menjadi perbendaharaan gerak naluri beladiri.

Kalau hanya dibaca dan dipikir, ilmu tatagerak beladiri sebentar saja tuntas dan mentok.
Giliran ditanya, apakah sudah menyatu dengan rasa dan tubuh, maka ceritanya jadi lain.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 17/10/2010 13:56
Untuk kasus yang Merpati Seto, saya rasa tidak perlu kita sebut nama. Sejarahnya memang sudah dipapar oleh mas dengan runut. Dan memang kenyataannya demikian. Bahkan ada lagi mas, namanya Benteng Cipta Garuda (BCG). Itulah sebabnya kenapa buat kami, di MP Cirebon, keilmuan-keilmuan seperti itu sudah bukan istilah baru lagi (terlepas menguasai atau tidak). Yang saya ingin urai adalah ya kondisi mengapa ini terjadi? Jika memang penanaman nilai dan filosofi sedari awal sudah ditanamkan, maka hal itu relatif akan lebih bisa diredam.

Dulu, jujur merasa senang karena perbendaharaan keilmuan yang cukup (materi dari dasar 1 hingga kesegaran, padahal tingkat masih kombinasi 1). Kejurda MP di Bandung dulu (tahun 90-an), semua peserta pematahan dengan jarak dan lintasan tinggi, tapi dari cirebon, semua pake lintasan 1 jengkal bahkan kurang. Bikin melongo panitia dan peserta lain. Dan kita juara umum. Tapi lama kelamaan, kok merasa ada yang aneh. Ada yang hilang, ada missing link, ada sesuatu yang ngga beres. Sehingga memberanikan menanyakan kepada mas dan juga beberapa dewan guru mengenai pentingnya penanaman filosofi. Porsi latihan bintal di tingkat dasar yang berkisar maksimum 15% pada kenyataannya sangat jarang sekali diberikan. Efeknya ya itu tadi, ngegeber keilmuan, mengejar kesaktian. Apalagi iklim Cirebon yang memang tidak aneh dalam hal seperti itu (dari sejarah kotanya sendiri).

Saya tahu ini bisa jadi hanya ungkapan pribadi dari saya, tetapi rasanya tidak mustahil ini terjadi di tempat lain (yang bisa jadi lebih parah). Saya memang tidak melakukan analisa komprehensif sejauh mana kolat-kolat menerapkan penanaman filosofi perguruan di dalam latihannya. Hanya beberapa kolat yang saya lihat saja yang kebetulan hadir dalam perjalanan hidup, yang masih saya ingat. Termasuk yang saat ini sedang saya ikuti, Jakarta Selatan.

Kesimpulan dari mas Solihin GP sudah sangat tepat, meski saat sekarang sangat jarang diterapkan. Mungkin, setelah momentum tradisi bulan desember nanti plus saresehan semuanya, bisa diusulkan untuk lebih mulai mendapat porsi yang cukup. Dari database 2,5 jt siswa, tingkatan yang masih aktif bisa jadi hanya 10-30 persen saja, artinya lebih dari separuhnya tidak setia. Ya memang penyebabnya banyak, tapi umumnya kalau sudah massal seperti ini, berarti ada something wrong. Yang kalau tidak dibenahi, akan jadi bumerang di masa datang. Saya yakin dewan pertimbangan sudah memahami ini. Saya pribadi berharap, suatu hari nanti bisa bertemu dengan pesilat MP di kolat manapun yang saya jumpai yang punya rasa suka terhadap filosofi perguruan.

Saya pribadi meyakini, para local genius MP yang 'menciptakan' simbol-simbol tersebut, bukan tanpa makna. Warna hitam, merah, putih, jumlah jahitan, warna sabuk, warna strip, salam hormat, motto, janji anggota, dsb, 'diciptakan' melalui perenungan oleh local genius MP dengan makna yang luar biasa. Yang bisa jadi, memahaminya akan juga ikut membantu dalam memahami keilmuan MP. Kalau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak bisa ikut menyatu pada diri pesilat MP, rasanya sia-sia pekerjaan luhur local genius MP mendesain semua simbol-simbol tersebut.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 17/10/2010 17:32
Pengalaman di lapangan dibandingkan membaca apa yang dipaparkan oleh dewan pertimbangan, rasanya sangat njomplang. Betapa banyak hal-hal luhur yang dipaparkan oleh mas prapto, termasuk di dalamnya masalah teori, dasar pengetahuan, dasar keilmuan, dsb, yang jarang sekali diterapkan di kolat.

Setidaknya, ini sangat berguna untuk diri sendiri dan kolat yang nanti dimana akan coba saya evaluasi. Secara umum, sejujurnya gambaran kenyataan lapangan tidak seperti itu.

Saya mengerti, memang tidak ada hal ideal di dunia ini. Meskipun sudah dirancang ideal sekalipun, tetapi tetap saja pelaksanaan di lapangan masih ada kendala. Saya coba akan temui salah satu ketua PPMP di Jakarta Selatan seperti yang mas sarankan. Insya Allah sumbangsih saya akan ada gunanya bagi Merpati Putih, sedikit ataupun banyak. Tanpa bermaksud menggurui atau menganggap diri paling bisa. Hanya kebetulan masih ada yang peduli dan berharap rekan-rekan lain juga bisa peduli. Semata-mata demi masa depan Merpati Putih yang lebih baik. Insya Allah...

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 17/10/2010 17:59
Ada hal yang menggelitik yang ingin saya tanyakan kepada mas prapto. Begini mas, mohon dikoreksi jika salah.

Saya pernah diskusikan dengan mas Pur (dewan guru) melalui facebook chat. Saya katakan, kenapa porsi penanaman filosofi di MP itu rendah sekali dibanding keilmuan? Kenapa porsinya sangat banyak pada keilmuan dan implementasi keilmuan dimana hal ini akan 'mencetak' mereka yang menguasai kanuragan tapi (seringnya) miskin nilai? Siapa yang harus dijadikan contoh dan panutan?

Jawab mas Pur dengan bijak "yang dijadikan contoh adalah teladan Rasulullah". Saya katakan dengan tegas, "sebagai muslim saya sepakat 100%. Tapi konteks saya adalah Merpati Putih. Kalau memang demikian, lalu buat apa ada filosofi perguruan? Buat apa ada simbol-simbol warna, simbol jahitan baju, simbol strip, warna strip, simbol hormat anggota, motto dan juga janji anggota? Bukankah para local genius MP waktu dulu membuat konsep dari simbol-simbol itu punya tujuan? Yang kalau dipelajari, dipahami, dipastikan akan mengarah pada pemahaman keilmuan yang lebih baik? Kalau anggotanya sendiri tidak memahami dan tidak mau memahami simbol-simbol yang ada pada apa yang MP miliki, itu berarti para local genius MP terdahulu secara tidak langsung telah dilecehkan oleh generasi sesudahnya. Apakah seperti ini maksudnya?"

Dan kemudian mas Pur terdiam cukup lama. Entah karena merenung, atau kesal dengan ucapan saya yang 'telengas' dan 'tragis'. Kemudian chat di fb berakhir dengan status mas Pur yang offline. Entah apakah marah, atau bisa jadi malah ikutan merenung. Meski demikian, saya sudah meminta maaf sebelumnya mengenai jawaban ini. Dan beliau mengerti maksud saya.

Saya yakin, para local genius MP masa lalu yang membuat simbol-simbol yang melekat pada MP, pastilah melekatkan juga aspek keilmuannya. Berharap suatu hari ada yang bisa 'membuka kunci'. Tapi kalau tidak diajarkan sedari awal, tentunya ya sulit juga.

Pertanyaannya adalah ... apakah ada kaitan antara simbol-simbol yang melekat pada MP dengan keilmuan MP itu sendiri?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 17/10/2010 18:20
Pemikiran saya simple saja mas.

Pertama, tidak semua orang beruntung mendapatkan 'akses' pada dewan guru/guru besar/pewaris sehingga proses konsultasi keilmuan bisa terjalin. Mereka-mereka yang secara lintas geografis cukup jauh, tentunya hanya mengandalkan informasi dari senior daerah dan konsultasi hanya pada senior daerah. Iya kalau senior daerahnya meng-update informasi dengan baik, dan memahami tataran keilmuan MP. Kalau tidak? Ini bisa jadi bottle neck (kebuntuan). Tentunya harus ada mekanisme lain mengenai 'membuka kunci' dari keilmuan MP ini. Sehingga bisa jadi (menurut saya) 'kunci' sudah ditempel pada sesuatu.

Kedua, para 'pencipta' gerakan silat atau jurus silat, seringkali 'menulis' menggunakan kidungan atau juga gambar/coretan yang tentu saja ini hanya dipunyai oleh kalangan terbatas. Meski demikian, terkadang pada local genius tersebut juga 'menuliskan'-nya dalam bentuk lain seperti filosofi, simbol-simbol ketika suatu perguruan didirikan. Tujuannya dalam jangka panjang agar dapat 'ditemukan' oleh generasi sesudahnya. Apakah di MP simbol-simbol yang melekat pada Merpati Putih memiliki fungsi demikian? Ataukah memang tidak ada sama sekali. Dengan kata lain, anggota yang ingin memperdalam keilmuan harus datang ke tanah jawa, bertemu dengan dewan guru/guru besar/pewaris secara langsung?

Demikianlah alasan yang mendasari saya bertanya seperti itu mas. Mohon maaf kalau pertanyaan ndeso banget. :)

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 17/10/2010 20:25
@ mas mpcrb.

Pemikiran anda benar adanya dan memang berdasar kenyataan yang terjadi.

Pola jaman dulu, dimana murid pemula tinggal nurut apa yang dilatihkan pelatihnya, dan murid tingkat lanjut memang harus bertemu langsung Guru2nya untuk pembekalan filosofi keilmuannya, belum sepenuhnya diantisipasi oleh MP, ketika penyebaran keilmuan sedemikian rupa, menembus batas2 geografis, atau sedemikian rupa jumlah anggota, sehingga para Guru jarang bertatap muka langsung dengan para anggota/sebagian besar murid.

Kebetulan, sabtu malam 16 Oktober 2010 kemarin, di padepokan Madiun, disela sela   acara ngunduh mantu putra mas Yadi Mintorogo, ketua dewan guru, dalam ngobrol santai guru dan para senior yang hadir, untuk sementara disepakati , bahwa MP perlu membuat buku pengantar keilmuan/penjelasan umum, sebagai aplikasi filosofi keilmuan, serta penjelasan umum kurikulum MP.

Pengantar keilmuan tersebut harus memiliki spesifikasi, agar murid bisa memahami pola pendidikan latihan  MP, dan memahami aplikasi/rangkuman filosofi keilmuan MP, harus bisa membuat murid lebih memahami, tujuan2 latihan, penyikapannya dst, harus bisa meningkatkan kesadaran para murid, untuk belajar/berlatih secara bertahap.

Dilain fihak, harus bisa mencegah murid berlatih bypass, "nggege mongso".

Pengalaman buruk yang terjadi, dimana ada salah penyikapan, pada murid yg mempunyai catatan kurikulum tingkat atasnya, kemudian melakukan bypass, maka dengan pengertian bahwa penyebaran catatan  akan lebih sulit dicegah karena kemajuan teknologi, setiap murid harus bisa  TETAP menyadari, untuk berlatih sesuai tahapan keilmuan tingkatnya.

Mudah2an draftnya bisa segera tersusun, dirapatkan dalam forum dewan guru, guru besar dan pewaris, sehingga bisa melengkapi paket kurikulum/penataran pelatih.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 17/10/2010 23:03
Sebenarnya, perubahan pola penyebaran, dari tertutup dan terbatas, menjadi terbuka dan agak terbatas(hanya untuk bangsa Indonesia), kemudiaan menjadi terbuka sepenuhnya, agar bisa dimanfaatkan u seluas luasnya umat manusia, sudah diantisipasi MP, meski secara bertahap, belum sepenuhnya.

1. BIDANG KEILMUAN.
Perubahan dari sepenuhnya tatap muka, menjadi penyebaran  melalui pelatih2 di tempat2 yang berjauhan.
Maka disusun buku pedoman kurikulum latihan setiap tingkat. Diadakan penataran2 pelatih secara bertahap, bertingkat dan berkesinambungan.
Diangkat koordinator pelatih, yang mengatur para pelatih dan asisten pelatih di suatu wilayah kerja.
Dirancang ada inspeksi kunjungan terjadwal atau insidental oleh pelatih senior/dewan guru.
Memanfaatkan acara tahunan Tradisi MP untuk koordinasi keilmuan. Disusun program2 khusus. Dan seterusnya.

Dalam suatu periode, everything is ok, aman terkendali.

Ketika ada perkembangan baru yang mendesak, sesuatu tambahan atau penyempurnaan program keilmuan, niscaya harus dilakukan.

2. Demikian juga di BIDANG ORGANISASI.

Disusun AD/ART dan Peraturan Perguruan yang berkembang dari waktu ke waktu.
Baik menyesuaikan rentang kendali berdasar melebarnya persebaran geografis maupun jumlah anggota.

Sistim administrasi keanggotaan, dari manual harus bergeser memanfaatkan teknologi informasi.

Media komunikasi, baik untuk tujuan internal maupun eksternal, harus bergeser, dari "getok tular", dari mulut ke mulut, menjadi memanfaatkan pamflet, bulettin MP, media cetak (hard copy), audio, audio visual. Sudah tergolong memakai "multi media mix".
Berangsur angsur, terus menerus, akan meningkat ke cara yang lebih efektip dan efisien, jangkauan lebih luas dan CPM (cost per million) yang jauh lebih murah, antara lain dengan teknologi internet. Cara baru yang di adopsi,   bisa menambah cara, atau sepenuhnya mengganti cara yang lama.

Perjalanan panjang paguron tradisional MP, yang ingin maju dan lestari dimasa depan, membawa konsekwensi logis berupa perubahan2, tanpa harus mengorbankan nilai jati dirinya. Amin.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 09:07
untuk sementara disepakati , bahwa MP perlu membuat buku pengantar keilmuan/penjelasan umum, sebagai aplikasi filosofi keilmuan, serta penjelasan umum kurikulum MP.

Pengantar keilmuan tersebut harus memiliki spesifikasi, agar murid bisa memahami pola pendidikan latihan  MP, dan memahami aplikasi/rangkuman filosofi keilmuan MP, harus bisa membuat murid lebih memahami, tujuan2 latihan, penyikapannya dst, harus bisa meningkatkan kesadaran para murid, untuk belajar/berlatih secara bertahap.

Dilain fihak, harus bisa mencegah murid berlatih bypass, "nggege mongso".


Saya sepakat mas. Dan benar-benar berharap itu dapat terwujud. Saya menyadari bahwa proses memang butuh waktu. Tentunya mekanisme organisasi yang akan dipakai. Setidaknya, kalau wacana sudah ada, tinggal penyusunan dan pelaksanaan plus kontrol secara periodik.

Entah apakah pusat pernah melakukan kajian dilapangan mengenai banyaknya pelatih yang mem-bypass anggota tingkat dasar untuk berlatih materi keilmuan yang bukan tingkatannya. Kalau membaca forum-forum selain SahabatSilat yang berisi forum diskusi Merpati Putih, maka berapa banyak ungkapan dari anggota MP yang pada tataran tingkat dasar sudah belajar materi tingkat Kombinasi 1 ke atas. Dan ini dilegalkan oleh pelatihnya.

Mereka bangga berlatih materi diluar tingkatannya dan cerita ke teman-temannya, sehingga pada akhirnya menimbulkan kesan yang kurang baik bagi rekan yang lainnya yang bisa jadi merasa 'iri' atau 'cemburu' kok di kolat X sudah diajarkan materi Z sdangkan di tempatnya belum.

Sekali lagi terima kasih atas informasinya mas.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 09:24
Perjalanan panjang paguron tradisional MP, yang ingin maju dan lestari dimasa depan, membawa konsekwensi logis berupa perubahan2, tanpa harus mengorbankan nilai jati dirinya. Amin.

Sepakat mas. Menjadi modern tidak lantas meninggalkan jati dirinya. Hanya perlu penyesuaian dengan abad dimana ia berada. Sehingga keilmuan bisa diterapkan peka zaman.

Kalau dulu orang yang tidak kenal internet masih dianggap 'normal', sekarang mereka yang tidak kenal internet sudah mulai dianggap tidak 'normal'. Meskipun ia tidak mau, tapi kantornya, lingkungannya, keluarganya, anak-anaknya, sudah dipastikan hampir semuanya internet based.

Kadang suka berpikir konyol, di zaman dulu orang bisa kirim 'sesuatu' lewat udara, lewat angin, atau mimpi. Tapi kenapa gak ada inovasi untuk kirim 'sesuatu' via email atau via facebook? huehehehe... atau teknologi macam gini lebih 'sakti' dibanding keilmuan sehingga tidak bisa dirambatkan? :) Just kidding. Jangan dianggap serius mas. ;)

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 18/10/2010 14:41
Konsekwensi logis atau problem utama dari sebuah paguron tradisional untuk meluas, antara lain terletak pada tersedianya PELATIH yang kompeten di lapangan.

Akan melekat masalah2, tentang penyediaan jumlah pelatih yang cukup, tentang mutu yang baik/berkemampuam merata dan up to date(selalu menerima informasi dari pusat keilmuan) , tentang distribusi/penyebarannya baik (terkadang pelatih menumpuk di satu wilayah, sementara wilayah lain kekurangan, tidak bisa melayani animo masyarakat).

Ada masalah pemerataan kemampuan melatih, yang mana setelah digembleng oleh pelatih cabang/daerah untuk menjadi asisten pelatih, selanjutnya harus dikirim ke penataran pelatih. Ada konsekwensi pendanaan oleh cabang, berkembang masalah, cabangnya sehat apa tidak.

Harus dibedakan, antara distribusi materi latihan dengan penyediaan pelatih yang kompeten.

Distribusi materi latihan lebih mudah. Dikirim via attachment email bisa langsung sampai pada yang berhak. Kalaupun kemudian dicopy pakai flash disc, juga tidak banyak makan memori.

Ada masalah, mana duluan, cabang "sehat" dulu, agar bisa ongkosin pengiriman banyak pelatih ke penataran, atau mengundang pelatih senior/guru.
Ataukah harus disediakan pelatih yang kompeten lebih dahulu, agar cabang berangsur sehat.

Peninjauan keliling untuk pengendalian mutu, masih tergantung kondisi tebal tipis isi kantung pribadi personil PPMP.

Belakangan cabang2 minta protap, bagaimana rumusan sharing dana antara tuan rumah (cabang), dengan PPMP, apabila cabang mendatangkan guru atau pembina organisasi PPMP.

Ada masalah, ketika tingkat keilmuan pelatih di satu cabang,  yang hanya boleh melatih maksimal dua tingkat dibawahnya, atau kalau mendesak, satu tingkat dibawahnya, maka tingkat disuatu cabang akan mentok, misal mentok di Kombinasi I,  ketika tingkat tertinggi pelatih cabang "hanya" Kombinasi II. Ketika murid2nya yang Kombinasi I lulus ujian wilayah, naik Kombinasi II, maka pelatih dan murid, sudah dalam tingkat yang sama. Posisinya menjadi "latihan bersama".

Sehingga masalah "kesenjangan" pelatih antar cabang2, adalah masalah "rutin" yang niscaya selalu ada dan  selalu diusahakan untuk diatasi.

Ada pengertian yang keliru, bahwa suatu tingkat dianggap mentok, stagnan, apabila pelatih tidak memberi materi latihan baru. Meremehkan bahwa latihan terus menerus materi latihan yang sama, mengulang ulang dengan penghayatan meningkat, tidak sekedar untuk lulus ambang UKT, adalah ESENSI latihan MP.

Masalah "BONUS" materi latihan dari tingkat diatasnya, atau beberapa materi penunjang, ada batas2 toleransi. Sifatnya pengenalan terbatas, untuk menambah semangat peserta latihan agar terus berlanjut sampai tingkat diatasnya. Biasanya bonus berupa bentuk nafas pembinaan tenaga atau getaran, bukan nafas pengolahan. Pemahaman2 deteksi ringan sampai merasakan getaran energi alam. Pemahaman awal metoda penyembuhan, bentuk2 tata gerak/tangkap kunci, dsb.

Yang dilarang adalah apabila porsinya bisa mengacaukan materi latihan pokok tingkat yang bersangkutan.
Terlebih apabila memberi materi latihan non MP, atau pengembangan keilmuan MP yang belum di ratifikasi dewan guru.

Masalah PEREKRUTAN PELATIH.
Sampai sekarang, tugas melatih mempunyai pembobotan tinggi sebagai pengabdian. Meski pelatih di suatu Kolat atau cabang adalah personil yg mempunyai urutan prioritas tertinggi dalam mendapat pendanaan, sesuai kemampuan Kolat/Cabang. Mulai dari sekedar ganti ongkos cuci pakaian latihan, ganti bensin sampai sekedar uang saku. Malahan banyak pelatih yang menyumbang fasilitas dan dana pribadi, selain fikiran, tenaga dan waktu.
Selain merekrut kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai asisten pelatih dan pelatih, untuk kesinambungan suatu cabang, maka cabang harus serius merekrut dari kalangan karyawan dan pengusaha lokal, untuk mengantisipasi mutasi pelatih ex mahasiswa keluar kota, setelah lulus kuliah.

Rencana2 untuk meningkatkan promosi paguron tradisional, harus didukung dengan penyediaan jumlah pelatih yg kompeten.

Dalam mengatasi problema KEPELATIHAN, ada beberapa jenis/tingkatan tindakan:
1. Dengan peningkatan materi penataran pelatih.(memfasilitasi pertemuan2 dewan guru, guru besar dan pewaris serta elemen pendukung bidang keilmuan).
2. Dengan peningkatan frekwensi, penyebaran tempat dan mutu pelaksanaan penataran pelatih. (menyangkut besaran dana penyelenggaraan, besaran subsidi kontribusi cabang/PPMP.
3. Kunjungan terjadwal dan insidental untuk peningkatan dan pengawasan mutu pendidikan dan latihan (menyangkut pendanaan cabang/PPMP).
4. Dukungan untuk pelatih yang sedang merintis Kolat/cabang baru (menyangkut dukungan dana dan personil PPMP).
5. Dukungan dana untuk pelatih di kesatuan TNI (pada umumnya "uang transport" pelatih, turun/cair tiap 4-6 bulan).
6. Apabila PPMP proaktip untuk membuka cabang didaerah baru atau diluar negeri, harus disiapkan dana, menyangkut dukungan biaya hidup dan operasional pelatih.

(bersambung)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 18/10/2010 15:10
(sambungan)

Tindakan tanggap darurat atau pelaksanaan tugas rutin maupun pelaksanaan proposal pengembangan, fluktuatip tergantung fluktuasi dana di PPMP.
Kadang tidak ideal pada pilihan program yang diprioritaskan serta timingnya.

Sekali lagi, akan lebih ideal dan lebih bermartabat kalau MP lebih mandiri.
Meningkatkan jumlah anggota aktip, sehingga mencapai skala yang memungkinkan terkumpulnya dana mandiri untuk dukungan pengembangan yang lebi baik.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 15:42
Paparan mas sudah sangat lugas, dan dapat saya pahami. Alhamdulillah melalui forum SS ini ada banyak masukan yang sangat berharga. Saya mengerti kompleksitas PPMP dalam menangani semua ini. Dengan memahami ini semua, sedikit banyak saya jadi lebih mengerti ketika ada permasalahan pada cabang terjadi hingga puncaknya terjadi murid 'murtad' yang mbalelo. Semoga apa yang sudah dicita-citakan dan dirumuskan bersama, dapat diwujudkan. Saya pasti akan bantu dengan doa dan tentu saja tenaga kalau memang diperlukan.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 15:52
Izinkan saya sedikit membabar pengetahuan yang saya dapat dari hasil diskusi dan perenungan dengan rekan MP lainnya.

Permasalahan MP ternyata sangat luas dan dalam. Saya yakin ini juga terjadi pada paguran tradisional lainnya. Sedikit ataupun banyak. Pemahaman Filosofi Perguruan ternyata juga menjadi masalah yg pelik. Pada beberapa perguruan beladiri Filosofi Perguruan biasanya sangat tercermin dalam seluruh aspek beladirinya. Sehingga setelah mempelajari beladiri suatu perguruan selama puluhan tahun - sadar atau tidak aspek filosofi perguruan akan mengendap dalam diri praktisinya.

Mungkin ini ada kaitannya dgn Filosofi perguruan MP. Dalam beladiri dikenal istilah Soft Style dan Hard Style. Misalnya Aikido dikenal sebagai Soft Style - Filosofi perguruan yg mendasari aliran Aikido pun bersifat Soft. Seorang yg memiliki kepribadian "hard" mungkin akan sulit mencapai puncak dalam aliran ini karena bertentangan dgn Filosofi yg mendasari terciptanya aliran ini.

Baji Quan dan Xinyi bisa dikatakan beladiri yg berlandaskan Filosofi Prajurit yg bersifat Hard. Seorang berpribadi "keras" yg biasanya mencapai puncak dalam aliran ini. Li Shu Wen dan Guo Yun Shen adalah Master aliran ini yg dikenal keras dan telengas. Mereka dikenal sebagai Master Beladiri yg sering mengalahkan lawannya hanya dgn satu pukulan saja. Dan biasanya lawan berakhir dalam keadaan tewas atau terluka parah. Pribadi yg bersifat "soft" mungkin tidak akan mencapai tingkat seperti Li Shu Wen dan Guo Yun Shen.

Bagaimana dgn MP - Filosofi apa yg mendasari Perguruan MP apakah Filosofi yg bersifat "hard" atau "soft" ?

Sebenarnya aspek ini juga yg menjadi dasar pertanyaan saya mengenai Style bertarung MP. Saya mulai berpikiran tentang Style bertarung MP berawal dari video yg ada di MP USA.

Ada beberapa yang ingin saya diskusikan, dengan mengambil sample MP USA. Karena kebetulan mereka adalah pesilat dengan nilai terbaik menurut penilaian pusat.

Selama ini saya selalu berpikiran, dalam benak saya, Style bertarung MP "seharusnya" lebih mengandalkan jurus telengas ke arah daerah berbahaya dgn mengerahkan Power dan Getaran MP. Style bertarung MP dalam benak saya lebih mirip Style bertarung Xinyi atau Baji yg sangat mengandalkan Fajin dgn pukulan serta tendangan yg sederhana tetapi efektif. Filosofi keilmuan MP dalam bayangan saya bersifat "keras". Sedikitnya kembangan pada MP, mencerminkan efektivitas gerakan di dalam fight yang sesungguhnya.

Tapi ketika saya menyaksikan video MP USA saya jadi berpikir - bagaimana Style bertarung MP yg sebenarnya karena apa yg diperagakan MP USA itu sangat jauh dari pemikiran saya. Dalam video MP USA saya melihat ternyata Style bertarung yg digunakan lebih mirip TaiChi, Bagua atau bahkan Aikido - yaitu dgn prinsip memanfaatkan tenaga lawan, membuat lawan off balance kemudian jika memungkinkan baru melakukan pukulan pamungkas. Filosofi keilmuan MP dalam MP USA lebih bersifat "soft".

Pada Chapter 1 MP USA pada menit 0:29 - Mike melakukan gerakan memanfaatkan aliran tenaga lawan dgn teknik tangkapan untuk menghadapi banyak lawan - demo seperti ini sering kita lihat pada Aikido yg juga menggunakan Style bertarung memanfaatkan tenaga lawan.

http://www.youtube.com/watch?v=9MczKIaOasI

Bisa dilihat Chapter 2 MP USA pada 2:12 - kembali Mike memperagakan dgn baik sekali bagaimana memanfaatkan tenaga lawan dan membuat lawan off balance baru melakukan tendangan pamungkas - Style bertarung yg biasa digunakan Tai Chi ataupun Bagua dalam CMA yg biasanya serangannya di arahkan agar lawan menjadi off balance. Pukulan dan tendangan biasanya hanya dilakukan pada saat lawan sudah off balance dan hanya pada daerah "kosong" ( tidak terlindungi atau terisi tenaga lawan ).

http://www.youtube.com/watch?v=0uYEgdkPRUs

Dari pengamatan saya tampaknya konsep gerak naluri diterjemahkan MP USA sebagai "Spontaneous Adaptability". "Spontaneous Adaptability" ini sesuai dgn sifat air yg selalu berubah mengikuti keadaan sekitarnya - konsep yg ada pada kitab Tao Te Ching - prinsip yg sering dijadikan acuan dalam Taichi. Dan memang dalam Taichi, Bagua ataupun Aikido juga mengenal konsep "naluri" seperti ini untuk membaca situasi pertarungan dan aliran tenaga lawan untuk kemudian memanfaatkannya. Filosofi keilmuan MP USA terlihat "soft" seperti Aikido ataupun TaiChi.

Pola latihan MP USA pun tampaknya diarahkan ke Style bertarung yg "soft" ini. Misalnya bisa dilihat di Chapter 5 link berikut ini pada menit 1:53 praktisi MP USA melakukan light tap sparring sambil berusaha membuat lawan off ballance dgn membaca secara naluri aliran serangan lawan serta titik berat tubuh lawan.

http://www.youtube.com/watch?v=MoPmJK4kZJA

Hampir seluruh video MP USA menafsirkan "Spontaneous Adaptability" dalam gerakan "soft" yg secara naluri mengalir mengikuti tenaga lawan dan memanfaatkannya agar lawan off balance bukan "Spontaneous Adaptability" dalam gerakan "hard" yg telengas dan mematikan yg secara naluri masuk mengincar daerah berbahaya lawan seperti pemahaman saya tentang keilmuan MP. Saya pribadi beranggapan "Spontaneous Adaptability" ini bisa digunakan untuk ke dua nya baik Soft Style maupun Hard Style.

Saya tidak tahu apakah ini memang pemahaman yg didapat oleh Mike dan Nate Z dari latihan "getaran naluri" selama ini - ataukah memang Style bertarung "soft" seperti ini yg diajarkan oleh Pelatih mereka. Kemungkinan lain Mike dan Nate Z memang mengkombinasikan dgn pola latihan TaiChi, Bagua ataupun Aikido dalam pola latihan di MP USA.

Jika ini memang hasil pemahaman Mike dan Nate - saya pribadi cukup salut dgn mereka karna selama saya belajar MP dulu saya sama sekali tidak berpikir MP bisa digunakan dgn Style bertarung seperti Taichi atau Bagua. Demo-demo MP yg melakukan pematahan benda keras secara extreem dan juga teknik-teknik pukulan yg ada di MP telah membuat saya berpikir MP adalah aliran "keras" seperti Xinyi.

Tetapi jika ini adalah Style bertarung yg diajarkan Pelatih mereka - yg jadi pertanyaan mengapa ini tidak dijadikan Style bertarung MP yg baku ?

Apakah memang kebijakan MP adalah praktisi dibebaskan memilih Style bertarungnya sendiri sesuai pencariannya ( tidak diarahkan ) - entah nantinya berakhir dgn Soft Fighting Style ataupun Hard Fighting Style semua tergantung praktisi MP sendiri. Jika demikian sangat disayangkan karna nanti MP tidak akan memiliki sistem keilmuan yg baku pada setiap cabangnya. Dan akhirnya masing-masing praktisi memiliki tafsir tersendiri terhadap Filosofi Keilmuan MP - hal yg tidak mungkin terjadi pada Aikido ataupun TaiChi.

Video-video ini yg membuat saya berpikir tentang bagaimana sebenarnya Style bertarung MP. Apakah memang filosofi ilmu MP begitu luasnya sehingga masing-masing praktisi akhirnya menemui jalannya sendiri-sendiri.

Misalnya praktisi MP yg bersifat "keras" dan "agresif" akan menjabarkan ilmu getaran MP dalam Style bertarung yg juga "keras" dan "agresif" - seperti Style bertarung Xinyi atau Baji - yg mengandalkan pukulan dgn ledakan "getaran". Gerak naluri yg keluar dari praktisi MP yg bersifat "hard" ini akhirnya adalah pukulan yg telengas dan mematikan yg secara naluri mengarah ke daerah berbahaya. Filosofi Keilmuan MP ditangan praktisi ini akan bersifat "keras"

Sedang praktisi MP yg bersifat "lembut" dan "halus" akan menjabarkan ilmu getaran MP dalam Style bertarung yg "lembut" dan "halus" seperti Style bertarung TaiChi atau Bagua yg lebih menitikberatkan pemanfaatan tenaga lawan - gerak naluri yg keluar dari praktisi MP yg "soft" adalah kemampuan mengalir mengikuti aliran tenaga lawan. Filosofi Keilmuan MP ditangan praktisi ini akan bersifat "lembut"

Apakah memang seperti ini sifat Filosofi Keilmuan MP ?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 16:01
Saya pribadi menganggap kedua style bertarung ini sama-sama bisa efektif digunakan dalam pertarungan. Jadi ada baiknya Soft Style ataupun Hard Style keduanya di-explore lebih dulu secara lebih maksimal untuk memperkaya perbendaharaan keilmuan MP.

Kadang kita memang perlu Fight secara Hard Style tapi dilain saat Soft Style pun mungkin bisa jauh lebih efektif dalam situasi pertarungan tertentu.

Sebagai perbandingan bisa dilihat pada film "The One" dimana Jet Li ( Antagonist ) yg menggunakan Xinyi ( Hard Style ) sedang Jet Li ( Protagonist ) awalnya melawan keras dgn keras.

http://www.youtube.com/watch?v=C7woLiTBrB0

Setelah dipukul jatuh dgn pukulan Fa Jin beruntun Jet Li ( Protagonist ) mengubah Style bertarungnya menggunakan Bagua ( Moderate Soft Style ) yg ternyata efektif meredam kekerasan Style bertarung Xinyi. Bagua juga memiliki pukulan Fa Jin hanya Style bertarungnya lebih soft dibanding Xinyi dan Bagua lebih banyak memanfaatkan tenaga lawan.

Saya rasa bagi yg familiar dgn beladiri China begitu melihat Jet Li bertarung di film tsb langsung bisa melihat ... ooo itu Xinyi ... ooo itu Bagua ... suatu saat nanti saya membayangkan pada silat orang pun akan mengatakan  ... ooo itu MP ...

Tapi yg menjadi permasalahannya adalah masing-masing Style bertarung baik itu "soft" ataupun "hard" mengharuskan praktisinya melakukan pola latihan ( Drill ) yg berbeda pula - pada beberapa perguruan hal ini sudah inherent dalam keilmuannya. Misalnya Style bertarung "soft" sudah inherent dalam keilmuan TaiChi ataupun Aikido sedang Style bertarung "hard" sudah inherent dalam keilmuan Baji, Xinyi ataupun Muay Thai misalnya.

Jadi pada akhirnya di dalam perguruan tsb pola latihannya sudah terbentuk sejak awal untuk mendukung Style bertarung masing-masing aliran tsb. Pola latihan TaiChi sejak awal jelas mengarah kepada Style bertarung "Soft" sedang Pola Latihan Muay Thai sejak awal juga jelas mengarah kepada Style Bertarung "Hard" - bukan sebaliknya.

Bagaimana pola latihan MP yg inherent dalam keilmuan MP apakah memang sudah mengarahkan kepada Style bertarung tertentu entah itu "soft" atau "hard" ?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 16:08
Seandainya keilmuan MP seperti ini - saya jadi ingat cerita Upasara Wulung, yaitu ketika Eyang Puspamurti mengajarkan pada ( Gajah ) Mada tentang Getaran Sukma Sejati ... ajaran ini dimulai dari Sukma Sejati yg "bergetar" dalam diri setiap manusia  dan semua tenaga dimulai dari sana baik itu "soft" ataupun "hard".

Misalnya Mada yg memiliki dasar keilmuan Sukma Sejati ketika melawan Pangeran Hiang secara naluri mampu bertarung dgn Style "soft" Tenaga Air nya Genduk Tri yaitu dgn Ilmu Ngeli Tanpa Keli walaupun belum pernah mempelajarinya ilmu ini sebelumnya - Tenaga Air ini menurut saya sangat mencerminkan Style bertarung seperti TaiChi.

Ini yg akhirnya membedakan antara Tenaga Dalam dan Tenaga Sukma Sejati yaitu Tenaga Sukma Sejati dimulai jauh lebih dalam lagi dibanding Tenaga Dalam ( Chi ) - jika Tenaga Dalam ( Chi ) dimulai dari memanipulasi gerakan Chi dalam tubuh maka Tenaga Sukma Sejati dimulai lebih ke dalam lagi yaitu dimulai dari getaran Sukma Sejati yg ada dalam setiap manusia - getaran Sukma Sejati inilah yg nantinya menuntun aliran Tenaga Dalam ( Chi ) pada tubuh. Mungkin dalam terminologi China ini yg disebut Shien / Xin ( Jiwa ).

Akhirnya Mada dgn dasar ilmu getaran "Sukma Sejati" ini bisa memainkan baik Style bertarung "Tenaga Air "( Lembut / Soft ) ataupun Style bertarung "Tenaga Bumi" ( Keras / Hard ) walaupun belum pernah mempelajari sebelumnya. Bagi Mada tidak masalah lagi apakah Style bertarungnya itu "soft" ataupun "hard" karna semua itu datang dari getaran Sukma Sejati.

Sedikit Catatan tentang Upasara Wulung - dan Sukma Sejati nya. Bagi saya cerita ini unik dan khas Indonesia. Jika dalam Cerita Silat China biasanya hanya Pendekar Tingkat Tinggi lah yg mampu menyatukan dan memainkan dua Style bertarung "soft" ( im ) dan hard ( yang ).

Pada kisah Sia Tiauw Eng Hiong - Kwee Ceng yg memiliki dasar keilmuan lembut Kiu Im Cin Keng justru Style bertarungnya "sangat keras" yaitu Hang Liong Sip Pat Chiang yg didapat dari Ang Cit Kong. Sedang dalam To Liong To - Thio Bu Kie yg memiliki dasar keilmuan keras Kiu Yang Cin Keng tetapi dgn mudah bertarung dgn Style "soft" ( im ) yg diajarkan Thio Sam Hong. Dengan gerak naluri Thio Bu Ki dgn mudah mengalahkan lawannya walaupun baru diajarkan  Style bertarung soft yg dimiliki Thio Sam Hong.

Cara pengajaran Thio Sam Hong juga cukup unik karna Bu Kie diharuskan melupakan jurus yg diperagakan oleh Thio Sam Hong. Mungkin Eyang Puspamurti akan bilang lupakan bentuk ikuti theg  - Sukma Sejati akan bergetar dan tubuh akan mengikutinya. Mada pun dgn mudah bisa bertarung dgn Style "soft"  Tenaga Airnya Genduk Tri. :)

Tetapi contoh-contoh ini dalam terminologi Cerita Silat China biasanya hanya dicapai oleh Pendekar yg sudah mumpuni. Uniknya dalam Upasara Wulung - kemampuan tingkat tinggi ini justru menjadi dasar keilmuan Sukma Sejati. Jika Arswendo menuturkan ini semua berdasar keilmuan beladiri yg memang benar ada di Indonesia khususnya Jawa - mungkin ini memang menunjukan bahwa bangsa Indonesia memiliki khasanah keilmuan yg tidak kalah hebat dibanding China yg dianggap sumber ilmu beladiri di Asia ini.

Jika dasar keilmuan MP memang seperti Sukma Sejati dalam Upasara Wulung ... wah penerapannya tentu luar biasa jika digali dgn baik. Tapi tentunya pola latihan keilmuan seperti ini pun harus berujung pada efektifitasnya dalam pertarungan sesungguhnya - yg dibuktikan secara nyata dan tidak hanya berakhir dalam cerita fiksi seperti Upasara Wulung saja.

Kita tentu tidak mau dianggap bangsa - khususnya para Pesilat - yg hanya larut dalam mitos dan fiksi semata. Suatu stigma yg sangat melekat pada bangsa kita dan khususnya para pesilat yg kadang karena itulah kita - pesilat - dianggap rendah oleh praktisi beladiri lainnya. Dalam dunia Pencak Silat Indonesia kadang sulit membedakan mana yg mitos dan mana yg realita. Suatu bahan introspeksi bagi kita semua ...

Salah satu wujud agar tetap berpijak pada realita adalah merancang metode latihan yg membumi pula baik itu Style bertarung "soft" ataupun "hard". Untuk salah satu latihan Style bertarung "hard" ala MP yg terlintas di pikiran saya adalah Boneka Kayu Rautan Bambu ala MP - mungkin untuk metode latihan Style bertarung "soft" ala MP - para praktisi MP yg memiliki getaran pribadi "soft" bisa merancang metode latihan yg membumi juga.

Tapi tentu saja aspek Filosofi Perguruan MP sendiri seharusnya bisa lebih tegas mengarahkan apakah MP akan dibawah ke "soft atau "hard". Di satu sisi MP adalah ilmu keprajuritan yg tentunya bersifat "keras" di sisi lain MP adalah ilmu dari tanah jawa yg memiliki Filosofi "lembut".

Mungkin perlu dikaji lebih mendasar lagi aspek Filosofi Keilmuan MP - TaiChi melandasi aspek filosofi keilmuannya dgn landasan ajaran Tao - seperti dalam Tao Ta Ching - dgn Filosofi Tenaga Airnya. Semua tercermin dalam seluruh aspek keilmuan TaiChi. Dengan belajar TaiChi mau tidak mau kita dipaksa belajar Filosofi Tao dan segala aspek kelembutannya. Tanpa mempelajari filosofi Tao akan sulit mencapai puncak pada TaiChi. Tampaknya ini yg tidak terjadi pada MP - Filosofi Jawa yg lembut pada MP tidak menyatu dgn aspek Keilmuan Beladiri Keprajuritan MP yg bersifat "keras" - filosofi seakan lepas dari keilmuan beladirinya. Sehingga tidak heran asumsi saya dimana keilmuan TERPISAH dengan filosofinya terlihat nyata pada anggota.

Dan jika aspek Keilmuan MP adalah Tenaga Sukma tentunya menimbulkan masalah yg jauh lebih pelik lagi. Karna bisa jadi bola liar yg hasil akhirnya bergantung pada masing-masing getaran sukma praktisinya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/10/2010 16:25
Dari evaluasi tersebut, ada hal menarik yang saya bisa ambil kesimpulan sementara (sebelum dibantah atau dibenarkan oleh guru besar/pewaris/dewan guru).

Terkait dengan Style "Soft" and "Hard" dan filosofinya, ada suatu perkecualian yaitu mungkin sifat Filosofi Keilmuan MP secara inherent itu memang unik dan berbeda dgn keilmuan beladiri lain - ini yg sempat terlintas dalam pikiran saya  - yaitu Style bertarung "soft" atau "hard" MP akan sangat bergantung terhadap karakter getaran pribadi masing-masing praktisinya. Jadi secara Filosofi Keilmuan MP memang tidak membatasi praktisinya seperti Aikido yg membatasi praktisinya dgn Filosofi "lembut" dsb.

MP menciptakan pola latihan "getaran pribadi" yg yg memang sesuai dgn karakteristik dan sifat praktisinya. Praktisi yg memiliki kecenderungan "soft" akan memiliki Getaran Pribadi yg "soft" yg kemudian akan menuntun praktisi MP untuk menemui Gerak Naluri yg "soft" pula - begitu juga sebaliknya. Misalnya getaran pribadi yg "soft" nantinya akan melahirkan Style bertarung "soft" seperti yg saya lihat di video MP USA sedang getaran pribadi  bertipe "hard" akan melahirkan Style bertarung yg "hard" seperti yg ada di benak saya sebelumnya.

Yang lebih menarik lagi adalah jika "Getaran Pribadi" akhirnya juga berkembang sesuai kepribadian praktisi sehingga akan melahirkan Style bertarung yg berbeda pula dalam perkembangan praktisi tsb. Konsekwensi yang sesuai dengan prinsip ilmu tumbuh yang sarat pengembangan tapi juga sarat potensi terjadinya perbedaan/perpecahan di masa datang apabila tidak dijelaskan sedari awal dan dipahami dengan benar.

Saya ambil contoh kondisi mas Pung ketika muda (sesuai penuturan mas prapto pada posting sebelumnya).
Misalnya ketika muda, karakter dan pribadi mas Pung yg keras akan membawa getaran pribadi mas Pung menjadi "hard" pula yg menuntun gerak naluri mas Pung untuk menjadi "hard". Style bertarung mas Pung pun akhirnya akan bersifat "hard". Ketika fight maka akan muncul pukulan, tangkisan, tendangan dgn selalu disertai "ledakan getaran" yg secara naluri mengarah ke daerah berbahaya pada tubuh lawan.

Tetapi ketika mas Pung sudah mencapai tahap 'soft" seperti sekarang ini - maka getaran pribadi mas Pung juga akan menuntun gerak naluri mas Pung untuk menjadi "soft" juga. Berbeda dgn masa muda mas Pung kali ini setiap bertarung Style bertarung mas Pung akan diarahkan gerak naluri yg soft - gerak naluri mas Pung akan mencari dan mengalir berusaha membuat lawan off balance tidak ada lagi gerak naluri yg mengarahkan pukulan telengas dan mematikan seperti dulu.

Apakah seperti ini Style bertarung berdasar Filosofi Keilmuan MP - semua bermuara kepada Getaran Pribadi dan nantinya menjadi Style bertarung "soft" ataupun "hard" semua tergantung dari pribadi praktisinya?

Mohon masukannya dan pencerahannya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 18/10/2010 19:23
@ mas mpcrb

1. Mas Mike Zeleznick adalah peserta UKT Nas dengan skor tertinggi pada UKT Nas waktu itu. Bukan otomatis menjadi pesilat terbaik MP apalagi pelatih terbaik.

2. Prinsip keilmuan MP adalah mengasah gerak naluri beladiri pesilatnya.
Postur mas Poeng yang langsing dan postur alm mas Budi yang "tebal", terbukti memunculkan gerak naluri yang berbeda dalam menghadapi serangan yang sama. Mas Poeng cenderung bergerak lincah mengikuti tenaga lawan, mas Budi cenderung langsung potong dan serang dengan kuda2 sederhana tapi sangat kekar, langsung to the point. Ini menjelaskan, keilmuan MP  bisa soft bisa hard. Padahal dari segi karakter, jelas mas Poeng lebih hard dan mas Budi cenderung soft.
Meskipun dalam gerak naluri akan muncul kepribadian masing2, atau menyesuaikan dengan kondisi, pesilat MP mendapat pembekalan tatagerak beladiri lengkap yang sama, sebagai tatagerak pengarahan untuk gerak naluri beladiri.
Gerak naluri beladiri yang muncul dalam latihan sambung/sparring, bisa berbeda perwujudannya dibanding tarung yang sebenarnya. Ancaman yang terdeteksi akan jauh berbeda. Pada pertarungan sebenarnya, gerak naluri telengas cenderung muncul, toh perbendaharaan gerak memang sudah ada.

Sudah diatur, bahwa pelatih WAJIB  mengajarkan teknik tata gerak beladiri yang sudah ditetapkan secara LENGKAP dan SERAGAM, sebagai modal gerak pengarahan bagi pesilat muridnya.
Bahwa nanti, pada gerak naluri muncul berbeda beda, malah tidak mengapa.

3. Mahaguru prana, Choa Kok Sui dari Philpina, pernah berkunjung ke MP Yogya, diantar manager Gramedia Yogya. Beliau membawa dua ahli dari Thailand yang bisa "melihat" warna aura dan energi.
Beliau saya persilahkan untuk memilih sendiri diantara pesilat2 muda yang ada di sekretariat MP di Wijilan, Yogya, waktu itu.
Pesilat A tsb diminta memperagakan pemukulan benda keras, tanpa ayunan. Berhasil, beliau tidak banyak reaksi.
Kemudian pak Choa Kok Sui memilih lagi seorang pesilat, pesilat B. Pesilat A diminta mendeteksi cedera yg tidak terlalu dirasakan oleh pesilat B. Ternyata ketemu, ada cedera di ruas tulang belakang. Mereka mulai manggut2. Kemudian pesilat A diminta melakukan penyembuhan dengan getaran. Barulah Choa Kok Sui bertiga geleng2 kepala tersenyum kagum.

Kemudian beliau menjelaskan, bahwa ketika melakukan pemukulan benda keras, "terlihat" pesilat tadi menarik energi alam yang destruktip, berwarna merah. Ketika beberapa menit kemudian, melakukan penyembuhan, pesilat "terlihat" menarik energi alam penyembuh, yang katanya berwarna putih, istilah beliau "energy from heaven".
Katanya, dia baru ketemu pertama kali, ada praktisi, muda (21 th) yang mampu menarik energi yang sifatnya bertolak belakang. Choa Kok Sui sendiri melakukan latihan 20 tahun sampai bisa "leluasa" menarik dan menyalurkan energi penyembuh. Dan tidak berani coba2 menarik energi merah, karena bisa mengganggu kemampuannya.
Choa Kok Sui juga mengatakan, kalau pesilat MP bisa memiliki kemampuan mendeteksi cedera, menarik dan menyalurkan energi alam. Beliau memberi kenang2an bukunya yg terakhir tentang penyembuhan dengan prana. Dengan harapan metode praktisnya bisa dimanfaatkan oleh MP.

Kesimpulan pribadi saya, tidak perlu terpengaruh pola umum, musti memilih pola hard atau soft.
Dua duanya bisa digali bersama.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 19/10/2010 10:41
Kesimpulan pribadi saya, tidak perlu terpengaruh pola umum, musti memilih pola hard atau soft.
Dua duanya bisa digali bersama.

Apa yang saya coba tanyakan memang dalam proses menggali mas. Semakin banyak pemahaman, termasuk juga dari disiplin beladiri lain, tentunya menambah khasanah pengetahuan saya pribadi. Sebab bagi suatu organisasi massal yang secara jumlah anggota 'nyeremin' dan lintas geografis begitu terentang. Terkadang ada kondisi 'langit' dan 'bumi'. Dimana 'langit' adalah mereka-mereka yang memiliki akses dengan pusat, akses dengan guru besar/dewan guru/pewaris/senior pusat. Sedangkan 'bumi' adalah mereka-mereka yang di lapangan, di daerah, berinteraksi langsung dengan siswa daerah, dan relatif tidak/sulit akses pada 'langit'.

Ketika saya menyodorkan sample Tai Chi, Aikido, Muay Thai, Xinyi, dsb, bukan dalam konteks agar MP ingin jadi seperti mereka. Tidak sama sekali. Ini benar-benar murni sebagai bagian dari perenungan dan proses 'mengumpulkan potongan pengetahuan' agar memberikan gambaran bentuk yang lebih baik.

Sama halnya Tai Chi melandasi aspek filosofi keilmuannya dgn landasan ajaran Tao, seperti dalam Tao Te Ching, dgn Filosofi Tenaga Airnya. Semua tercermin dalam seluruh aspek keilmuan Tai Chi. Dengan belajar Tai Chi mau tidak mau kita dipaksa belajar Filosofi Tao dan segala aspek kelembutannya. Tanpa mempelajari filosofi Tao akan sulit mencapai puncak pada Tai Chi. (sumber: http://www.chebucto.ns.ca/Philosophy/Taichi/what.html).

Ini yang setidaknya belum saya lihat pada MP. Atau mungkin, pengetahuan saya belum bisa menemukan benang merahnya. Seperti para orang-orang saleh yang berlandas teori pada kitab yang mereka yakini, maka ia akan bisa mencapai puncak penerangan sempurna sesuai filosofi yang diajarkan oleh kitabnya. Seperti juga jurus Payung Rasul pada Margaluyu yang akan sulit dipelajari bagi mereka yang tidak memahami hakekat ilmu keislaman. Yang belajar tanpa pemahaman filosofi, tetapi ia akan terhenti pada belajar 'gerak', bukan belajar hakekat keilmuan. Kondisi-kondisi dimana ketika filosofi 'dibenamkan' pada 'sesuatu', entah gerak, entah simbol, maka harusnya ia bisa menjadi 'kunci pembuka'.

Saya hanya membayangkan, betapa banyak praktisi MP yang notabene tidak bisa getaran. Yang ia berlatih, berlatih, berlatih, dan bisa jadi puncaknya adalah mencapai kejenuhan, stagnan. Yang tidak pernah join dengan forum-forum diskusi seperti ini, yang tidak memiliki senior daerah yang cukup 'mumpuni' untuk ditanya atau tidak memiliki akses pada pusat.

Sebab saya sepakat, ketika gerak hanya menjadi 'gerak', maka ia akan terhenti begitu saja ketika sudah dihafal. Untuk menembus level lebih tinggi dari 'gerak', maka gerak harus bertemu filosofi nilai. Dengan demikian, ia akan punya 'ruh', punya 'jiwa', punya 'rasa'. Pada akhirnya, 'ruh' atau 'jiwa' inilah yang akan menuntunnya menjadi 'gerak naluri'. Pengejawantahan 'jiwa', 'ruh', atau 'rasa' ini bisa berbeda pada tiap beladiri, baik cara meraihnya ataupun bisa jadi istilahnya. Dalam terminologi MP dinyatakan dengan gerak + getaran = gerak naluri. Jadi disini getaran berfungsi sebagai 'ruh', 'jiwa', atau 'rasa', atau juga ... filosofi nilai.

Pada tataran atas keilmuan, jelas akan menjadi tidak seragam dan mengarah pada spesialisasi tertentu. Karena proses pemahaman filosofinya yang bisa jadi berbeda. Ada yang mengambil dari agama yang dianut, atau ada juga yang diambil dari nilai-nilai universal kehidupan. Saya tidak tahu apakah simbol-simbol yang melekat pada MP ini punya pengaruh besar di dalam 'pembukaan kunci' pengetahuan dan pemahaman keilmuan karena banyak dari para senior yang juga tidak mengerti hal ini. Kesimpulan awal, simbol-simbol yang melekat pada MP hanyalah sebagai simbol saja, yang masih belum tuntas dibabar oleh pusat, yang masih belum tuntas dicarikan benang merahnya untuk lebih memahami keilmuan MP selain daripada harus datang berguru ke tanah Jawa dan bertemu dengan para supreme atau dari suatu proses mersudi yang totalitas.

Semoga pemahaman ini tidak melenceng ... dan mohon dikoreksi jika ada yang kurang tepat.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 19/10/2010 11:14
Tidak sadar sudah hampir 200 postingan di forum SahabatSilat ini. :)

Sekali lagi terima kasih atas begitu banyak nasehat, masukan, diskusi, dari mas suprapto. Rasanya, informasi berharga semacam ini sangat sayang dilewatkan dan tidak 'dinikmati' sebagai bagian dari proses pendewasaan. Sebagaimana halnya ilmu tumbuh pada MP dan 'ruang kosong' pada tingkatan akhir yang suatu hari nanti akan menjadi 'saksi' apa-apa yang akan 'tumbuh' dari sintesa pengetahuan keilmuan MP masa depan...

salam...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 19/10/2010 11:28
Btw, good news mas. Tim MP Kabupaten Cirebon menjadi juara umum POPKAB antar perguruan silat se-Cirebon dengan merebut 9 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Setelah sebelumnya sukses membawa seorang pesilat muda Cirebon menggondol medali emas untuk kategori laga pada POPKOTA Cirebon dan setelahnya yakni POPWILNAS di Palembang. Sebentar lagi akan masuk pada tim PORDA Jabar... dan Insya Allah akan masuk pada event nasional. Semoga saja lancar....

Pesilat adalah pesilat yang sama yang di gembleng secara intensif untuk 'berkarir' pada jalur IPSI (meski ia kalah telak pada jalur internal kejuaraan MP. hehehe).

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 19/10/2010 13:25
@ mas mpcrb

1. Selamat atas prestasi pesilat MP Cirebon, semoga terus melaju.
Tiada prestasi bisa dicapai tanpa usaha yang serius dan fokus.

2. Mudah2an filosofi keilmuan sebagai salah satu bahan dalam pengantar keilmuan MP, segera dapat disusun.
Mungkin semula, filosofi "kejawen" tsb tidak ditonjolkan secara jelas/rigid, antara lain :
a. Mengurangi dugaan negatip, yg bisa hanya suku jawa. Diusahakan seuniversal mungkin, bahwa semua orang bisa.

b. Kalau ketentuan2 keilmuan dituruti sesuai petunjuk, termasuk  minta petunjuk pelatih/senior/guru ketika macet, sebenarnya tidak ada kesulitan. Tidak ada alesan bingung. Karena untuk tingkat2 puncak, tentu ada kesempatan/harus sempat bertemu dengan Guru.

c. Derajat kearifan lokal di MP, posisinya jauh dibawah kemuliaan kepercayaan Taoisme, apalagi kemuliaan agama Islam.

3. Entah bagaimana mereka akan menyusun pengantar keilmuan/silabus MP, saya tetap akan minta, agar diusahakan sejauh mungkin, filosofi keilmuan melekat dalam prosedur latihan, aplikatip, jelas  secara universal.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 19/10/2010 16:36
Tao memang memulai ajarannya berdasarkan keyakinan bangsa cina (mental spiritual). Sementara MP bukan ajaran yang berbentuk keyakinan spritual atau berangkat dari keyakinan spiritual. Saya memang tidak berusaha untuk menganggap nilai-nilai yang terkandung dalam simbol-simbol MP itu 'menyamai' dengan kasus Taoisme atau Islam. Tidak sama sekali. Hanya saja, penasaran dan ingin tahu apakah ada korelasi langsung antara simbol-simbol ini dengan keilmuan MP. Kalaupun tidak ada dan hanya sebatas sebagai panduan moriil untuk menjadi lebih baik, saya memahami sepenuhnya. MP lahir dikarenakan kesadaran nasionalis pendirinya sehingga memang bisa jadi belum ada benang merah yang jelas antara simbol-simbol yang melekat pada MP dengan pemahaman dari keilmuan MP itu sendiri yang tentu saja ini sudah masuk wilayah dewan guru.

3. Entah bagaimana mereka akan menyusun pengantar keilmuan/silabus MP, saya tetap akan minta, agar diusahakan sejauh mungkin, filosofi keilmuan melekat dalam prosedur latihan, aplikatip, jelas  secara universal.

Itu memang harapan saya, dan juga kita semua. Semoga bisa terealisasi secara maksimal. Sekali lagi, terima kasih atas sharingnya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 21/10/2010 09:49
Sekedar sharing dan urun rembug, pengetahuan yang saya dapat di daerah bisa jadi cukup berbeda ketika melihat jalur 'sanad' hingga ke dewan guru.

Pertama mengenai teknik olah nafas.

Selama ini pola latihan olah nafas pada tataran bawah (dibawah tingkat Khusus) memang mengacu pada kurikulum standar yang penerapannya diserahkan pada kearifan lokal cabang melalui pelatih cabang yang tentunya tidak boleh keluar dari pakem. Hasil keberhasilan yang dicapai juga berbeda, meski relatif umumnya agak seragam. Memang ada yang berbakat dan lebih cepat terbentuk, tetapi jumlahnya tidak massal.

Tetapi ketika dulu mas Mulyanto Tambak datang dan memberikan satu bentuk olah nafas (pengolahan Dasar 1, bentuk yang sama persis) untuk latihan tingkat Khusus 1 ke atas dengan teknik bernafas dan visualisasi versi beliau, kelihatannya cukup berbeda dengan teori yang sering diajarkan di tataran bawah. Pada saat itu, latihan memang hanya untuk tingkat Khusus 1 ke atas dan dibagi menjadi 2 tahap, yakni tahap melatih satu nafas tertentu di rumah (sebagai PR, yang dilakukan dengan hitungan tertentu setiap harinya selama 1 bulan penuh yang semakin lama semakin 'menggila' dalam jumlah) dan kemudian dua minggu sekali melakukan nafas pengolahan Dasar 1 dengan teknik beliau. Tujuan awalnya dikatakan untuk ujicoba pematahan benda keras tanpa ayunan dengan jarak kurang dari 1 jengkal (meski saya yakin tujuan akhirnya bukan itu). Sasaran adalah dragon R1 (yang terkeras) yang memang sudah disiapkan. Efeknya memang lebih terasa dan sangat mantep dibanding mengikuti pola umum.

Bentuk yang sama, dengan teknik nafas yang berbeda akan menghasilkan hasil akhir yang lebih cepat. Ini berarti terjadi percepatan yang entah berapa kali lipat dibanding metode yang umum. Awalnya tidak mempertanyakan, dijalani saja karena hasilnya cukup baik dan sama-sama terasa dalam menunjang keberhasilan latihan. Tapi setelah saya baca-baca lagi uraian mas prapto disini, merenungi setiap kalimat, pada akhirnya saya mengerti kalau 'kemacetan' berlatih memang harus diselesaikan dengan menanyakan pada senior yang lebih mumpuni. Meski demikian, pengetahuan dari senior mutlak harus perlu karena kalau ia sendiri tidak pernah mencoba, tidak pernah melatih, dan belum pernah berhasil, tentunya bottle neck tetap akan terjadi. Akhirnya jadi lebih memahami apa maksud dari 'akselerasi' metode berlatih termasuk juga lebih memahami kenapa bisa terjadi 'black market' mengenai keilmuan yang seharusnya berlatih 6 bulan, cukup 2 bulan saja, atau bahkan bisa kurang atau bahkan bisa dalam hitungan jam.

Kemudian teringat dengan teknik membuka simpul yang dulu pernah dilakukan oleh alm. Mas Imam Santoso (Khusus 2) kepada kami, yang tentu saja ini jalur 'kilat khusus' yang saya tidak tahu ini legal atau ilegal.

Pertanyaannya adalah, jalur-jalur percepatan seperti ini apakah memang dilegalkan di Merpati Putih, sebab keliatannya hanya jalur-jalur yang sanad-nya mencapai dewan guru saja yang cukup mengerti teknik ini yang kalau tidak dibarengi dengan keluhuran budi tentunya akan menyebabkan munculnya 'black market' keilmuan dan memahami kalimat mas prapto yang mengatakan 'MP Cirebon memang agak unik'.

Pertanyaan kedua, mengenai teori sebagai dasar pengetahuan.

Selama ini senior daerah menggunakan teori rasa (panas, dingin), dan sintesa pengetahuan muncul ketika mas Toto Wardoyo mengenalkan teori warna di dalam pelatihannya (kejadian sudah cukup lama sekali). Khusus untuk teori warna ini yang kalau dirunut sedikit banyak ada kemiripan dengan teori warna pada yoga (chakra) meski pada akhirnya menjadi sedikit berbeda. Kemudian muncul juga teori warna dari jalur Maos, yang juga berbeda dibanding teori mas Toto Wardoyo. Demikian juga teori dari Mas Joko (Khusus 3) yang juga sedikit berbeda dari keduanya. Melihat dan mendengar paparan teori dari (alm) Mas Imam Santoso (Kh2), mas Toto Wardoyo (Kh3), dan Mas Joko (Kh3), serta senior jalur Maos, cukup berbeda dan beberapa sangat signifikan. Meskipun pakem getaran yang dilatihnya tetap sama.

Pertanyaannya, apakah teori-teori ini sudah dibakukan atau sudah diratifikasi oleh dewan guru, ataukah memang hasil mersudi dari para senior. Saya memahami kalau berlatih seperti itu harus dengan pelatih yang sama, karena pelatih tersebutlah yang memberikan metode dan teori yang lebih dipahaminya. Tapi banyak di tataran bawah yang 'memburu' hal seperti ini dan berlatih sendiri di rumah tanpa bimbingan/pembimbing.

Entahlah, saat sekarang ini semakin muncul banyak sekali pertanyaan. Sebagian memang sudah terjawabkan melalui senior daerah, melalui sharing dengan senior luar daerah, dan beberapa dari pusat. Mohon maaf jika mas prapto saya 'recoki'. :)

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 21/10/2010 14:13
@ mas mpcrb.

1. Olah nafas tingkat dasar memang mendasari tingkat selanjutnya, termasuk "pendalamannya",termasuk penghayatan yang meningkat. Kalau tidak melaksanakan olah nafas dasar standar dengan benar, dibelakang hari bisa ada handicap jalur tenaga, yg bisa mengganggu latihan lebih lanjut.

2. Setahu saya, sifat warna bukan/belum menjadi  standar MP. Mungkin merujuk literatur lain, atau mungkin hasil mersudi masing2 yang belum diratifikasi dewan guru. Yang ada dalam kurikulum adalah sifat penjuru, timur barat utara selatan, dimasukkan dalam teknik meditasi nafas segitiga pembersih.

3. Betul, dalam beberapa hal, terkadang hasil tidak seragam. Tentu karena ketika masuk MP, bahkan satu kolat satu angkatan, kondisi awalnya berbeda beda. Baik kondisi fisik, umur, jenis kelamin, dan motifasi/penghayatan. Ada yg digeber makin melekat, ada yang malah mencelat.

Disini akan terlihat, derajat kepelatihan seorang pelatih, untuk  memberi perhatian bagi masing2 peserta tentang tingkat handicapnya dibanding teman2 yang lain.

Mekanismenya, pertama bertanya pada teman latihan yang berhasil, biasanya langsung bisa mengoreksi sendiri. Masih belum hasil, konsultasi dengan pelatihnya. Kalau belum hasil, pelatih akan konsultasi  dengan koordinator pelatih/senior/dewan guru.
Dewan guru inilah yang menampung laporan handicap dan metoda penyelesaian hasil pengalaman dilapangan oleh para pelatih. Suatu saat, semua pengalaman spesific dilapangan, bisa dirangkum dalam  FAQ, yang akan meningkatkan derajat keberhasilan kelompok latihan.

4. Beberapa pengalaman spesifik, terutama pada latihan getaran (konversi hasil pengolahan nafas "tenaga" menjadi tenaga getaran), biasanya ada masalah pada PENGHAYATAN si pesilat(kasus paling banyak). Antara lain, masih saja seperti menyalurkan tenaga penghancur. Dengan indikasi bila diminta menyalurkan tenaga penyembuh kepada teman latihannya, tempat terpijit malah biru sakit, bukan tambah enteng.
Adalagi yg bermasalah adanya SUMBATAN disimpul  tenaga. Penyelesaiannya bisa dengan dibantu atau dibimbing agar bisa membuka sumbatan oleh diri sendiri.
Pelatih bisa membantu dengan menstimulir di telapak tangan pesilat, sehingga pesilat merasakan apa itu getaran. Pelatih bisa membuka sumbatan dengan pijatan dititik tertentu di jalur tenaga (pakai pentol batang korek api dan jeruk purut ?) seperti yg dilakukan alm mas Imam Santosa. Ini legal.
Sedapat mungkin, pesilat dibimbing agar bisa membuka simpul sendiri. Biasanya dengan nafas dasar dengan penghayatan penuh dan pembinaan bolak balik.
Kalau masih belum lancar, antara lain diminta latihan nafas segitiga pembersih. Kalau dalam latihan biasa dilakulan satu set/ putaran, kali ini puluhan kali set/ putaran nafas pembersih. Biasanya jalur tenaga getaran akan terbuka lancar. Dewan guru tentu punya berbagai cara.

5. Program latihan pokok di MP kan ada tiga, pembinaan fisik, tatagerak beladiri dan olah nafas. Latihan standar duakali seminggu. Setelah tata gerak dasar (kuda2, langkah dan serangan/tangkisan tangan dan kaki, maka kalau konsentrasi hanya latihan INTENSIP pada gerak praktis dan latihan pengolahan nafas, jangankan satu tingkat dua bulan, bahkan 6 bulan cukup untuk sampai  tingkat 6 (kombinasi II). Dilaksanakan pada tim khusus di kesatuan pasukan khusus. Dengan resiko "cedera" yang lebih tinggi.
Karena keilmuan MP terbuka bagi siapa saja, dengan syarat mau mengikuti latihan teratur dan bertahap, semata mata agar berhasil dengan resiko sekecil kecilnya, black market akan tereliminasi sendiri. Ngapain latihan sembunyi2 tidak bisa kumpul teman2 tunggal ilmu, atau mau "sakti" malah cedera?

6. Mas Mulyanto Tambak, yg belum lama diangkat menjadi anggota dewan guru termuda MP, adalah phenomena unik.

"Ditemukan" oleh mas  Nardjo ketika berdinas di Polsek Tambak, Banyumas, pemuda bernama Mulyanto ini memang istimewa. Digeber, digembleng keras, tetep "wadah", latihan di ruangan atau dialam yg ganas, agal dan alusan, termasuk teknik penyembuhan, dilewati biasa2 saja, tidak "salin srengat", tidak berubah sikap perilaku.
Giliran melatih, rupanya diukur diri sendiri, diindikasikan beberapa muridnya overload, korslet, termasuk pendiri Merpati Seto.
Dengan bergabungnya ke dewan guru, mudah2an segala sesuatunya akan lebih baik dan lebih bermanfaat untuk semua.

Salam.   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/10/2010 09:15
Setelah saya membaca ulasan mas prapto, merenungi kalimat demi kalimat, sedikit banyak jadi lebih mengerti mengapa materi yang diberikan oleh Mas Mulyanto Tambak cukup berat dijalani termasuk korslet-nya beberapa yang dilatih beliau. Meskipun berat, pelatihannya sangat membekas karena efeknya yang tidak terlupakan. Termasuk juga beliau sangat ramah di dalam menjelaskan sesuatu yang kita tidak mengerti (saya yakin semua dewan guru juga demikian).

Ada hal yang ingin saya tanyakan lagi mas... mengenai latihan pasir besi.

Selama beberapa kali mengalami latihan oleh dewan guru (secara bersama-sama tentunya dengan anggota lain) di padepokan MP Cirebon, kebetulan belum pernah mengalami langsung latihan pasir besi oleh beliau. Tetapi meski demikian, sejak tingkat Kombinasi 1 kami sudah diajarkan untuk berlatih pasir besi yang secara rutin dilakukan setiap 1 atau 2 bulan sekali. Diawali dari (alm) Mas Imam Santoso, kemudian dilanjut dengan senior-senior lain. Syaratnya adalah sudah bisa merasakan power diri sendiri dan sudah bisa mrasakan getaran. Kalau yang belum bisa, belum boleh, karena efeknya yang bisa mencederai. Latihan dilakukan dengan terlebih dahulu melumuri tangan dengan ramuan yang sudah disiapkan sebelumnya yang terbuat dari campuran dedaunan dan campuran lain yang menimbulkan bau yang khas.

Tetapi lambat laun saya perhatikan kecenderungan sepertinya diberikan juga pada atlit-atlit yang akan berlaga pada fight (baik IPSI maupun internal MP) yang meski ia baru tingkat Dasar 2 atau Balik 1 dan bahkan belum menerima pelatihan getaran pada tingkatannya. Untuk kasus-kasus seperti ini, apakah latihan pasir besi dibenarkan? Karena sepanjang pengalaman saya, kalau belum bisa merasakan power diri sendiri, belum bisa merasakan getaran, maka penarikan hawa panas dari pasir besi tidak akan berefek banyak selain daripada tangan yang beresiko mlepuh cedera. Termasuk juga pemahaman pada titik penyimpanan dimana hawa panas yang diserap itu akan disimpan. Toh bagi yang belum bisa 'mengenal' getarannya sendiri, tidak akan punya kemampuan untuk menyerap hawa panas ke dalam tubuhnya pada bagian-bagian tertentu, apalagi menyalurkannya. Gesekan antara permukaan kulit yang tidak dilambari getaran dengan pasir besi yang membara akan sangat beresiko menyebabkan mlepuh dan bahkan sobek. Belum lagi tiap butiran pasir yang panas yang digenggam untuk kemudian diserap hawa panasnya, tentu akan sangat mencederai apabila tanpa perlindungan getaran.

Mereka (para atlit laga) yang belum mengenal getaran dirinya dan berlatih tapi tidak cedera, biasanya hanya menggerakkan tipis saja dan mengambil bagian yang sudah 'dingin' dari pasir besi sehingga manfaat maksimal tidak bisa dirasakan. Efeknya hanyalah memunculkan 'sugesti' pada dirinya kalau ia seolah sudah dibekali sesuatu. Pada tingkatan apakah sebenarnya atau sebaiknya latihan ini diberikan? Saya tidak mau memberikan latihan yang melampaui kewajaran pada murid.

Terima kasih atas pencerahannya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 22/10/2010 14:42
@ mas mpcrb.

Latihan (pukulan) pasir besi tidak termasuk program latihan/kurikulum wajib, tapi ekstra/bonus.
Syaratnya jelas, seperti yg mas sebutkan. Jadi kalau belum memenuhi syarat, hanya mengenali kulitnya, bukan isinya. Kalau power olah nafas belum cukup, tentu melepuh kena pasir besi panas. Kalau cukup, biarpun putri yang tangannya mulus, ya tetap aja mulus.
Efek pukulan juga agak jahat. Di "tebak"/sodok didada, bekasnya bisa dipunggung/ agak hangus(gosong).
Seharusnya dilatih satu paket dengan metoda penyembuhannya, termasuk ramuan2 jawa.
Karena meski cuma di"dulit"/ditowel efeknya kelihatan, efektip untuk latihan penyembuhan pukulan.
Kapan2 ketemu mas guru Mulyanto, minta aja diajari.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/10/2010 16:34
Terima kasih mas atas nasehatnya. Kalo udah ketemu dewan guru, rasanya hilang hasrat untuk meminta sesuatu mas. Karena mungkin jiwa saya tidak seperti itu. Saya hanya mencoba melihat pada diri sendiri apa yang sudah pernah didapatkan dari senior daerah dan start mulai menggali dari situ. Dari potongan-potongan pengetahuan yang ada, dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki. Kalau dulu, merasa haus berburu ilmu, setelah dapat malah hanya mengkoleksi. Ketika kesadaran mulai muncul, berasa malu sendiri, dan ingin kembali memulai dari apa yang semestinya. Jadi kalau dikasih ya terima kasih, kalau tidak ya melatihkan saja dari apa yang dipunyai.

Saat ini, jujur mulai lagi berlatih materi dari mulai Dasar 1 kembali. Rasanya, ada yang berbeda ketika dulu Dasar 1 dan ketika sekarang melatih kembali materi 'Dasar 1'. Sudut pandang, pemahaman, penghayatan, dsb.

Saya sepakat dengan mas Solihin GP kalau di dalam berlatih, tidak boleh merasa paling bisa. Jadi, menikmati kembali 'hidangan' materi Dasar 1 terasa lebih 'nikmat' dibanding dulu. :)

Sekarang, lebih banyak mencari benang merah pengetahuan sembari melatihkan kembali apa yang sudah pernah diberikan oleh para senior dari catatan-catatan yang ada.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: samber gledek on 23/10/2010 10:00
Setuju banget mas mpcrb. Itulah yang saya alami juga sekarang. Salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 23/10/2010 12:51
terima kasih kang samber gledek.

Kalau saya pribadi, tujuan belajar semua ini adalah untuk memaksimalkan potensi tubuh. Untuk lebih memahami diri sendiri, untuk mencapai tahap kesadaran dan pemahaman yang lebih baik.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/10/2010 13:49
Mas Suprapto, beberapa hari ini jadi teringat sebagian souvenir MP yang sering saya jumpai setiap kali ada event-event berskala lokal (daerah) maupun nasional. Yang menarik pada souvenir MP itu adalah pada kalimat "MP is a way of life". Dipakai dalam bentuk tas, gantungan kunci, kaos, dsb.

Saya memahami kalau derajat filosofi MP tidak semulia seperti suatu agama. Meski demikian, ini sekedar pengamatan dari melihat bagaimana beladiri tetangga berkembang.

Mengenai filosofi dan way of life menarik sekali jika kita mengamati apa yg terjadi pada bangsa Jepang. Pada bangsa Jepang ada 2 bentuk filosofi dan way of life yg sangat mempengaruhi pola pikir dan pola prilaku bangsa Jepang hingga hampir terasa pada semua bidang kehidupannya. Yaitu Bushido dan Zen Budhism kedua filosofi ini sudah menjadi way of life yg cukup melekat dalam kehidupan bangsa Jepang.

Salah satunya bisa kita lihat pada Karate, Karate sendiri berasal dari negeri China. Bahkan di Jepang sendiri Karate baru populer pada tahun 1930an. Pada tahun 1922 Jigoro Kano yg merupakan bapak pendidikan Jepang meminta Gichin Funakoshi  (Shotokan Karate) untuk mengajarkan Karate di Jepang. Funakoshi kemudian merubah arti Kara-te yang awalnya berarti Pukulan China menjadi Karate yg berarti Pukulan Tangan Kosong. Pada tahun 1928 Kano kembali memotivasi Chojun Miyagi (Goju Ryu Karate) untuk menjadikan Karate beladiri yg khas Jepang yg berdiri independen dari Kungfu China. Dan sejak itu Karate mulai diterima secara luas oleh masyarakat Jepang.

Uniknya masing-masing pendiri Karate tsb bisa memberikan "Ruh" baru pada Kungfu China menjadi Karate yg sangat kental dgn filosofi Bushidonya. Hampir sulit melihat ada "ruh" China pada Karate, jurus-jurus Kungfu asal China ketika diisi "ruh" Bushido menjadi sangat berbeda dan sangat khas Jepangnya.

Bahkan ketika Karate masuk ke Indonesia pun "ruh" Bushido ini tetap terbawa dalam pola pelatihan Karate. Dan Filosofi Bushido disadari atau tidak mulai merasuk dalam praktisi Karate di Indonesia. Luar Biasa bukan apa yg dilakukan bangsa Jepang ini - khususnya para pendiri Karate ini.

Karate awalnya adalah Kungfu China dan bukanlah milik bangsa Jepang tetapi ketika para pendiri Karate meniupkan "ruh" Bushido pada Kungfu China ini maka sepenuhnya Karate menjadi milik bangsa Jepang. "Ruh" Bushido ini begitu terasa pada pola pelatihan Karate sehingga dimanapun Karate diajarkan akan membuat praktisi Karate dibius oleh Filosofi Bushidonya.

Apakah tidak mungkin para sesepuh MP memasukan "ruh" Filosofi MP kedalam pola pelatihan MP sehingga setiap praktisi MP nantinya akan terbius oleh "ruh" MP? Tampaknya ini menjadi PR yg belum tuntas dijabarkan para sesepuh MP hingga saat ini. Tampaknya sesepuh MP belum menemukan cara memasukan "ruh" yg sama seperti dulu para sesepuh MP ini belajar keilmuan MP ke dalam pola pelatihan MP yg ada sekarang ini.

Jika para sesepuh MP bisa meniupkan "ruh" yg sama pada pola pelatihan MP seperti halnya para pendiri Karate meniupkan "ruh" Bushido pada pola pelatihan Karate - tentu ini akan menjadi warisan yg berharga bagi MP ke depannya. Seluruh praktisi MP di dunia akan terbius dgn "ruh" Filosofi MP seperti halnya seluruh praktisi Karate terbius "ruh" Bushido.

Dengan adanya kesamaan "ruh" ini mungkin kita bisa harapkan adanya Kesatuan dalam setiap elemen yg ada pada MP. Jika adanya Kesamaan "Ruh" ini didukung dgn Kesamaan Tujuan Bersama yg bisa memotivasi setiap elemen MP - kita bisa harapkan MP akan semakin besar di masa depan nantinya.

Mungkin ini yg perlu dipikirkan bersama adalah apakah "Ruh" MP itu dan apakah Tujuan Bersama MP di masa depan yg sekiranya bisa mempersatukan seluruh elemen MP.

Terima kasih atas pendapatnya mas dan mohon maaf atas pendapat yang dangkal ini.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 28/10/2010 16:04
@ mas mpcrb.

Ide itu bukan dangkal, akan lebih lengkap dan mantap kalau MP mempunyainya. Kita merenung bersama, kira2 bagaimana sosoknya.
Adopsi kungfu, menjadi beladiri jepang, memang dimasak dengan penghayatan penuh oleh praktisi jepang, dengan modal fisik, karakter dan budaya masyarakat jepang.
Bushido adalah jalan/way of life samurai, nilai semangat dan kesetiaan kepada shogun, kaisar dan negara. Lebih mudah dirumuskan
Sedangkan Zen budhisme dan Confusianisme, menyangkut kepercayaan yang mendasari semangat beladiri jepang/kungfu. Saya tidak faham bentuknya/pengejawantahannya dalam latihan kempo, karate maupun kungfu.
Barangkali mas mpcrb bisa mengurai.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/11/2010 14:22
Saya coba mengurai mas, tetapi ada beberapa asumsi yang harus saya jelaskan di awal. Saya bukan praktisi Karate yang sesungguhnya. Informasi ini di dapat dari diskusi dengan kawan dan komunikasi email dengan praktisi Karate di Jepang. Jadi, dalam kondisi ini, bisa jadi apa yang saya urai tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, meskipun juga (semoga) tidak akan melenceng terlalu jauh. Kalau salah, mohon dikoreksi.

Saya tidak akan coba membahas sejarah bagaimana zen bisa mempengaruhi kungfu china hingga berevolusi menjadi karate dan benar-benar dihilangkan ruh dari china pada karate. Itu bisa panjang lebar.

Saya mulai dari filosofi awal yang berkembang sebagai berikut: "Karate adalah jalan Zen" (Master Oyama). Seorang master Shorin Ryu berkata "Karate and Zen as one" (Shoshin Nagamine). Disebutkan kalau zen dan karate terkait satu sama lain dan dipercaya jika mereka melakukan teknik meditasi zen, mereka dapat menendang lebih baik (Sensei Jeffrey Tesshin Brooks, aliran Shorin Ryu). Aliran karate lain yang ortodoks kurang lebih sama pemahamannya.

Saya akan coba urai dari kesimpulan sementara yang saya tangkap dari penjelasan kawan. Disini tampak kalau Karate adalah 'jalan keras' sedangkan Zen adalah 'jalan lembut'. Yang kalau keduanya disandingkan, akan terjadi harmonisasi dan peningkatan kemampuan praktisinya ke tahap yang lebih tinggi. Pemahaman terhadap zen, melalui samadhi, akan meningkatkan kemampuan keilmuan karate praktisinya. Ini yang diyakini. Jadi, dengan mempelajari zen, mereka akan setingkat lebih tinggi tingkatannya dibanding yang tidak.

Pada perkembangan, makna zen sebagai 'jalan lembut' mulai diartikan berbeda dan mulai bergeser. Dimana para guru karate, sudah jarang/tidak lagi mengajarkan filosofi zen, tetapi menggantinya dengan teknik yang sama (mirip). 'Jalan lembut' dicari dengan memasukkan unsur filosofi tertentu (entah agama, ataupun nilai-nilai universal) dalam bentuk 'meditasi' atau 'semedi' atau suatu kondisi yang mirip dengan itu. Hingga akhirnya, saya melihat ada portability kalau karate bisa disandingkan dengan 'jalan lembut' kritiani, atau hindu, atau bahkan agnostik sekalipun. Entah ini inovasi, atau malah akan menjadi kehilangan ruh dari aslinya.

Yang menarik disini adalah, praktisi karate+zen meyakini kalau harmonisasi keduanya ('jalan keras' dan 'jalan lembut'), akan melahirkan suatu tahapan yang setingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Ini yang saya coba garis bawahi.

***

Ketika saya bertanya, apakah nilai-nilai filosofi pada MP akan membawa praktisinya menjadi 'setingkat' lebih tinggi pemahamannya dibanding sebelumnya, sebenarnya arahnya kesitu mas. Apakah filosofi yang telah dibuat oleh local genius MP mengenai warna, bentuk, simbol, jumlah jahitan, strip, dsb, merupakan suatu 'jalan lembut' dimana ketika ia mampu dipahami, dibuka, maka anggota MP yang berlatih 'jalan keras' akan lebih mudah memahami keilmuan MP atau lebih mudah menguasai suatu keilmuan MP tertentu.

Jadi, ada korelasi antara nilai-nilai yang ditanam pada filosofi dan keberhasilan pelatihan suatu keilmuan.

Saat ini, korelasi tersebut sepertinya tidak ada dan digantikan dengan sistem kontak pada dewan guru/pewaris/guru besar/senior pusat untuk mendapatkan pencerahan. Tetapi mekanisme 'pencerahan' ini tidak terdapat pada nilai-nilai filosofi yang dilekatkan pada MP.

Sebagai contoh, misal untuk memahami getaran, pahami juga salam hormat MP. Untuk memahami mengenai prinsip ilmu tumbuh, pahami juga arti dari "Merpati Putih", dsb. Disini, akan tampak korelasi kalau antara 'jalan keras' yang diberikan dalam bentuk latihan inherent kurikulum (reguler dan 'sisipan') juga sinkron dengan 'jalan lembut' pada nilai-nilai yang dilekatkan. 'Jalan lembut' ini juga bisa sekaligus sebagai 'rem alamiah' untuk mencegah 'murtad'-nya anggota MP karena korslet atau mbalelo.

Mohon maaf atas pendapat yang dangkal ini mas. Bisa jadi, karena kebodohan saya, saya tidak bisa menangkap benar makna-makna tersebut.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/11/2010 13:39
@ mas mpcrb.

Setuju. Membayangkan belasan atau puluhan tahun kedepan, bilamana para sesepuh yang memahami filosofi keilmuan makin banyak yg berpulang, maka dari sekarang harus disiapkan petunjuk/pedoman. tentang filosofi keilmuan. Disusun dan dikaji bersama, agar jelas, tidak multi tafsir dan bermanfaat.

Jalan keras kemudian digabung dengan jalan halus, kemudian  cenderung lebih ke jalan halus sesuai perkembangan praktisinya,  sudah menjadi kesatuan dalam program latihan MP saat ini.

Penjelasan, terutama dititik/garis transformasi dari jalan keras dengan/ke jalan halus, masih sangat diperlukan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 14:00
Izinkan saya coba sedikit membabar bagaimana perjalanan Zen dan Budhism pada beladiri. Semoga bisa mendapat manfaat dari ini. Apa yang saya paparkan disini, adalah rangkuman dari diskusi bersama kawan praktisi Zen dan pecinta Zen. Tidak lantas paparan ini menjadi lebih benar, tetapi sekedar wacana tambahan bagaimana proses menyatunya antara filosofi dan keilmuan.

***

Filosofi Zen Budhisme sama seperti ajaran agama lain memiliki makna yg sangat dalam dan sulit dijelaskan. Biasanya akan jauh lebih mudah memasukan nilai-nilai Zen Budhism melalui anekdot ataupun cerita yg menggambarkan apa itu Zen - cerita dan anekdot ini akan jauh lebih memudahkan kita menyampaikannya nilai-nilai Zen.

Zen sama seperti dasar agama Budha yg lain menitikberatkan pada bagaimana cara berpikir dan memandang yg "benar". Semua pola latihan yg ada dalam agama Budha semua diarahkan ke arah melatih penganutnya agar memiliki pola pikir dan pola pandang yg "benar" terhadap sekitarnya. Jika seseorang sudah mencapai tahap pola pikir dan pola pandang yg "benar" maka orang ini biasanya disebut sudah mencapai pencerahan.

Tetapi sedikit berbeda dgn pola latihan pada aliran Budha pada umumnya yg lebih menitik-beratkan pada meditasi agar mencapai pencerahan - dalam Zen seluruh kehidupan kita bisa dianggap meditasi itu sendiri. Zen akan memasukan pola latihan itu di dalam setiap aspek kehidupan penganutnya. Setiap momen dalam kehidupan seseorang bisa dijadikan sarana untuk mencapai pencerahan itu sendiri.

Setiap momen kehidupan bisa dijadikan sarana latihan untuk melatih bagaimana cara berpikir dan cara memandang yg "benar". Ada anekdot menarik yg bisa menggambarkan bagaimana pola latihan Zen bisa digunakan dalam setiap momen kehidupan penganutnya.

Suatu saat ada seorang murid Zen Jepang mendatangi seorang Pendeta Zen Budha. Di depan Pendeta Zen ini si murid mengatakan dgn penuh keyakinan pemahaman yg sudah didapatnya tentang Zen selama ini. Dengan penuh percaya diri murid ini mengatakan " Hakikat semua hal adalah kosong. Tiada yg disebut kesadaran, tiada yg disebut kekotoran, tiada yg disebut kebijaksanaan ... "

Pendeta Zen ini hanya mendengarkan dengan sabar uraian murid Zen ini. Sampai suatu saat dgn tiba-tiba Pendeta Zen ini tanpa diduga-duga langsung menampar pipi murid Zen ini dgn sangat kerasnya. Murid Zen ini kaget dan marah mendapat perlakuan yg tak diduganya dari Pendeta Zen tsb. Tetapi dgn santainya Pendeta Zen ini mengatakan " Kalau semua itu kosong lantas mengapa anda harus marah sewaktu saya memukul anda ". Mendengar penjelasan Pendeta Zen ini, murid Zen tsb pada saat itu juga mengalami "pencerahan"..

Murid Zen itu memang sudah memiliki pengetahuan tentang Zen tetapi belum memiliki "kesadaran" yg benar tentang Zen. Pendeta Zen ini memanfaatkan momen pertemuan ini untuk memberikan "pelatihan Zen" pada murid Zen ini tentang "kesadaran Zen" ini.

Filosofi Zen adalah "Kesadaran" yg bersifat praktis bukan teoritis.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 14:21
Aspek Zen ini sebenarnya banyak kita temui dalam setiap aspek kehidupan bangsa Jepang. Dalam seni bisa dilihat aspek Zen dalam Sumi-e ( lukisan ), Ikebana ( Seni merangkai bunga ), Haiku ( Puisi ) bahkan Komik :D

Saya jadi teringat pada saat pertama kali saya membaca komik Chinmi pada tahun 90an. Komik Jepang yg ditujukan untuk anak-anak ini pun banyak memasukan pola pelatihan Zen pada ceritanya. Ini salah satu alasan mengapa saya tertarik membaca Chinmi pertama kalinya - pada saat itu jarang sekali komik yg memberi isi lebih dalam dari sekedar hiburan semata.

Di awal cerita ketika Chinmi mengikuti pelatihan di gunung, Chinmi dgn semangat meminta dilatih Kempo oleh Pendeta Zen Tendo. Tetapi dgn santai Tendo hanya menyuruh Chinmi memancing di sungai - karna Chinmi mengalami kesulitan akhirnya Tendo memberi contoh kepada Chinmi bagaimana memancing ikan dgn "benar". Pada pelatihan Kempo pertama Chinmi yg disuruh menangkap tangan Pendeta Zen Tendo selalu gagal. Pendeta Zen Tendo hanya mengatakan "Chinmi ... Memancing Ikan dan Kempo itu sama !! "

Di saat lain Tendo melatih Chinmi bagaimana melakukan meditasi - bagaimana menyatu dgn alam menjadi seperti batu, pohon dll. Setelah diberikan contoh dan penjelasan seperlunya Chinmi diminta untuk berlatih sendiri. Sampai suatu saat akhirnya Chinmi terjatuh di dalam lubang yg berisi banyak sekali ular. Tendo yg mengetahui ini sama sekali tidak membantu Chinmi dan hanya mengatakan "Jangan manja Chinmi !! Ini pun bagian dari pelatihan " Pada saat inilah Chinmi mengalami "pencerahan" dan mengerti yg dimaksud Tendo menyatu dgn alam.

Dalam pola pelatihan Zen, ini biasanya yg disebut Koan ( Teka-Teki Zen ). Seorang murid diberikan suatu Koan dan dibiarkan memecahkan sendiri arti dari Koan tsb. Guru hanya memberikan petunjuk pada momen-momen tertentu - yg dirasa tepat - untuk membantu mentrigger muridnya mencapai "pencerahan". Selebihnya semua tergantung si murid sendiri - keberhasilan murid sangat bergantung pada kesiapan murid dan Koan yg tepat yg diberikan pada momen yg tepat pula. Di sinilah peran Guru Zen.

Hampir seluruh cerita Chinmi episode awal ( Kungfu Boy ) berisikan metode latihan Kempo yg sejalan dgn metode latihan Zen. Dengan metode latihan Koan Zen - dari satu momen ke momen lain terjadi transformasi perubahan pola pikir dan pola pandang Chinmi yg "salah" menjadi pola pikir dan pola pandang yg "benar" yg akhirnya mengasah ilmu beladiri Chinmi - transformasi ini yg biasa disebut "pencerahan" dalam Zen.

Dalam komik Chinmi bisa kita lihat pola latihan spartan gila-gilaan dan semangat bertarung pantang menyerah yg mencerminkan Filosofi Bushido Jepang dan juga transformasi pola pikir dan pola pandang Chinmi dari momen ke momen yg sangat mencerminkan Filosofi Zen Jepang.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 14:22
Dalam dunia beladiri Jepang ada beberapa tokoh yg biasanya menjadi inspirasi bagi praktisi beladiri Jepang modern. Antara lain Takuan, Yagyu Munenori dan Miyamoto Musashi kebetulan ketiganya hidup pada masa yg sama dan ketiganya juga menulis buku tentang beladiri yg memiliki aspek Bushido dan Zen di dalamnya. Takuan adalah seorang Pendeta Zen yg menjadi guru bagi Musashi dan Yagyu.

Walaupun Filosofi Zen jauh lebih sulit dipahami tetapi aspek Zen sepertinya sudah menjadi bagian dari masyarakat Jepang. Bangsa Jepang biasanya menganggap setiap persoalan itu seperti Koan Zen yg harus dipecahkan - dan trigger untuk pemecahan biasanya bisa didapat dari semua yg ada disekitar kita, yg diperlukan hanya sikap reseptif untuk menangkap kunci pemecahannya yg muncul dari lingkungan sekitar kita.

Pendeta Zen Takuan hanya memberikan dasar Filosofi Zen pada Musashi, kemudian Musashi dgn bekal petunjuk Filosofi Zen dari Pendeta Takuan ini melakukan pengembaraan dan pelatihan ilmu beladirinya sendiri hingga akhirnya menjadi seorang Master Kendo yg jarang ada tandingannya. Dan semua kemampuan itu didapat Musashi tanpa memiliki Guru Beladiri resmi. Metode Pelatihan Zen lah yg memberi dasar bagi Musashi untuk mencapai itu semua.

Perjalanan Musashi ini saya bayangkan mungkin seperti Chinmi yg - bisa dikatakan - sebenarnya tidak memiliki Guru Beladiri yg mengajarkan teknik ataupun jurus beladiri. Semua kemampuan Chinmi didapatnya sendiri - guru hanya memberikan petunjuk yg bersifat Filosofi saja. Perjalanan Musashi saya pikir tidak jauh berbeda dgn Chinmi. Musashi selalu mengatakan alam lah yg mengajarkan ilmu beladiri padanya.

Masutatsu Oyama adalah salah seorang tokoh Karate yg sangat terinspirasi oleh perjalanan hidup Musashi. Oyama pernah membangun pondok kecil di gunung - mengucilkan diri - untuk melatih pikiran dan tubuhnya sama seperti yg dilakukan Musashi dulu. Perjalanan hidup Musashi mungkin dijadikan sebagai Koan Zen yg harus dipecahkan oleh Oyama pada pelatihan tsb.

Musashi biasanya lebih menjadi panutan karna bukunya "The Book of Five Rings" bersifat lebih praktis beladiri dan lebih menekankan aspek Bushido yg lebih mudah dipahami dibanding Filosofi Zen yg jauh lebih dalam dan lebih sulit dipahami. Sedang Takuan dan Yagyu lebih menarik minat praktisi beladiri yg ingin mendalami aspek Filosofi Zen dan penerapannya pada ilmu beladiri.

Jika aspek Bushido jauh lebih dominan di dalam beladiri Jepang, saya rasa ini sangat wajar karna Bushido bisa dikatakan Jalan Hidup Samurai yg memang asli dibentuk oleh masyarakat Jepang itu sendiri. Berbeda dgn Filosofi Zen yg baru masuk Jepang kemudian. Tetapi metode pelatihan Zen yg menganggap setiap momen dalam kehidupan juga suatu bentuk meditasi yg akhirnya melandasi perjalanan bangsa Jepang hingga kini.

Alasan lain mengapa Zen sangat digemari para Samurai Jepang - yg sudah memiliki Bushido sebagai way of life nya ini - adalah aspek praktis Zen tentang bagaimana memiliki sikap mental yg "benar" dalam setiap pertarungan. Pertarungan ini harus dipahami dalam arti luas - bagi seorang Bushido setiap permasalahan dalam hidup adalah pertarungan hidup mati.

Setiap individu yg memiliki jiwa Bushido diharapkan memiliki keseriusan yg sama dalam menghadapi persoalan hidupnya seperti seorang Samurai menghadapi pertarungan hidup mati - dan Zen inilah yg membantu setiap individu mengatasi persoalan hidupnya seperti seorang Samurai mengatasi pertarungan hidup mati yg dijalaninya. ( Karakter Semangat Bushido dan Zen ini sangat kental mewarnai Beladiri Jepang )
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 14:23
Sebagai ilustrasi mungkin bisa kita bayangkan situasi pertarungan hidup mati yg dihadapi seorang Samurai. Ketika lawan mengayunkan pedang Katana nya yg sangat tajam ke arah seorang Samurai - apa yg terlintas dalam pikiran Samurai itu ? apa yg harus dilakukan Samurai itu dalam situasi menegangkan hidup dan mati ini ?

Situasi yg hanya berjalan sepersekian detik ini sangat menentukan hidup matinya seorang Samurai. Permasalahan seperti inilah yg biasanya dihadapi seorang Samurai - hidup dalam situasi menegangkan yg setiap saat bisa merenggut nyawa. Bukan hanya dalam situasi pertarungan hidup mati saja tetapi juga dalam keadaan non pertarungan pun seorang Samurai tetap diharapkan dalam keadaan siaga. Lawan bisa menyerang kapan saja - ini prinsip dasar dalam peperangan.

Bagaimana cara berpikir dan memandang yg "benar" dalam segala situasi dan bagaimana mempelajarinya itu semua ?

Aspek paling mendasar dari Zen - Zen selalu memandang setiap momen kehidupan adalah meditasi jadi dalam setiap momen kita harus memiliki cara berpikir dan memandang dengan "benar". Dengan bahasa sederhana mungkin bisa dikatakan dalam setiap momen kita harus dalam keadaan "complete awareness" - selalu waspada - atau lebih umum disebut sebagai "Kesadaran". Aspek inilah yg akhirnya bersesuaian dgn Bushido yg menjadi way of life para Samurai. Dalam Bushido para Samurai juga diharapkan dalam segala situasi harus selalu dalam keadaaan "complete awareness".

Lantas bagaimana cara mempelajari dan mendapatkan "Awareness" ala Zen ini ?

Dalam Zen - Awareness ini hanya bisa dicapai jika pikiran kita terbebas dari keterikatan. Tanpa sadar sering kali pikiran kita terikat dgn sesuatu. Ketika kita melihat gelas separuh terisi - kita tidak lagi memiliki "awareness" bahwa gelas tersebut sebenarnya juga separuh kosong karna pikiran kita terikat dgn kosep "isi" sehingga melupakan "kosong". Keterikatan pikiran inilah yg disebut "penyakit" dalam Zen.

Puncak "Kesadaran - Awareness" dalam Zen adalah bebasnya pikiran dari segala bentuk ikatan yg ada yg disebut Tahap "Kekosongan" yg lebih jauh dibahas didalam Zen Budhism sebagai suatu bentuk ajaran agama. Tetapi pada Zen beladiri biasanya hanya dibahas keterikatan kecil yg biasanya dialami pikiran khususnya praktisi beladiri.

Misalnya dalam kasus Chinmi ketika pikiran Chinmi terikat dgn konsep "Memancing adalah memancing" maka Chinmi gagal melihat hubungannya "Memancing dgn Kempo". Ketika pikiran Chinmi hanya terikat dgn konsep "Meditasi sebagai meditasi" maka Chinmi gagal melihat hubungannya "Meditasi dgn Situasi Aktual". Tetapi begitu Chinmi menyadari cara berpikir dan memandang yg "salah" dan menemukan cara berpikir dan cara memandang yg "benar" terjadi perubahan yg cepat dalam diri Chinmi.

Terbebasnya pikiran dari keterikatan inilah yg membawa kepada " Pencerahan " ataupun yg biasa disebut sebagai Peningkatan " Kesadaran " dalam Zen. Inilah Metode Belajar ala Zen - setiap momen dalam hidup bisa dimanfaatkan untuk mencapai "Pencerahan". Dalam Terminologi Islam mungkin ini yg biasa terjadi pada orang yg insaf total - begitu "kesadaran baru" masuk ke dalam hati maka seluruh perilaku orang itu berubah total.

Dalam Zen " Kesadaran Baru " ini bisa digunakan dalam metode latihan beladiri. Musashi yg belajar beladiri tanpa guru juga menggunakan Filosofi Zen ini.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 14:25
Sekarang mengenai pikiran yg "benar" ala Zen dan situasi pertarungan, Pendeta Zen Takuan pernah mengatakan : " Kemana menaruh pikiranmu ? Jika kamu menaruh pikiranmu pada tindakan lawanmu, kamu akan membiarkan pikiranmu dikalahkan oleh tindakan lawanmu. Ketika kamu menaruh pikiranmu pada pedang lawanmu, kamu akan membiarkan pikiranmu dikalahkan pedang lawanmu ... Ketika melihat pedang lawanmu terayun kearahmu, jika kamu berpikir untuk menghindar maka pikiranmu akan terpaku dgn pedang lawanmu. Gerakanmu akan terhambat akibat adanya ikatan ini "

Bagaimana mengatasi masalah ini ?

Takuan mengatakan " Ketika kita bertepuk tangan, bunyi tepukan langsung terdengar tanpa adanya jeda. Bunyi tidak keluar beberapa saat setelah tepukan - bunyi langsung keluar ketika kita bertepuk tangan. Jika pikiranmu terikat dan terpaku pada saat pedang lawan mengayun, maka untuk sesaat akan ada jeda dan pada saat jeda inilah tindakanmu menjadi ragu-ragu ... Pikiran yg "benar" itu seperti bunga api. Ketika batu api dipukul, bunga api akan segera keluar tanpa jeda sedikitpun - tidak ada jeda bagi pikiran untuk berhenti dan terpaku dalam suatu ikatan apapun "

Dari penjelasan Takuan bisa kita gambarkan ketika pedang lawan terayun, pada saat itu yg diperlukan hanya melihat saja momen ini dengan tenang ( meditasi ) - ketenangan hanya akan datang jika pikiran tidak terikat pada apapun. Pada kondisi seperti ini maka akan muncul "Kesadaran" tindakan apa yg harus diambil. "Kesadaran" ini terjadi tanpa jeda seperti bunga api yg muncul dari benturan batu api - tidak ada ruang keraguan di sana.

Keputusan yg tepat pada momen yg tepat ini berbeda dgn kecepatan gerak reflek yg tidak disadari, keputusan ini diambil dilandasi dgn penuh "Kesadaran - Awareness" akan situasi yg dilihatnya.

Sama seperti bunga api setelah terjadi benturan - bunga api pun segera menghilang maka ketika satu serangan lawan berhasil dihindari - kesan dalam pikiran pun hilang bersamaan dgn hilangnya serangan tsb. Dan pada saat itu juga pikiran baru sudah siap menghadapi serangan lain. Sepuluh serangan lawan seperti sepuluh benturan batu api yg menimbulkan 10 percikan api tanpa jeda dalam setiap benturannya - seperti itulah pikiran Zen dalam pertarungan.

Seperti yg dikatakan Takuan berikut ini " Melihat benda-benda dgn sekejap dan tidak terikat pada kesan yg timbul dalam pikiranmu disebut pikiran yg tak tergoyahkan ... Seandainya 10 orang memukulmu bergantian. Setelah menangkis pukulan yg pertama, jika kamu tidak membiarkan pikiranmu terikat dgn kesannya, tetapi menghadapi mereka satu demi satu dan melepas setiap ikatan kesan yg muncul dalam pikiranmu. Kamu tak akan terkalahkan menghadapi sepuluh lawanmu "

Memiliki cara berpikir dan memandang seperti ini yg disebut sebagai memiliki "Persepsi yg Benar". Seorang Guru Zen ketika memberikan pelajaran tentang "Persepsi yg Benar " ini pernah ditantang sekelompok Samurai yg mengatakan " Jika menyangkut Filosofi kamu memang lebih unggul dari kami tetapi jika menyangkut Kenyataan Sesungguhnya maka kamilah yg jelas lebih unggul "

Melihat momen yg tepat untuk memberikan "pencerahan" Guru Zen itu menantang sekelompok Samurai ini untuk bertarung. Walaupun mereka sudah berusaha menyerang dari segala arah hingga kecapaian tetapi Guru Zen ini bisa menghindari dgn mudah semua serangan hanya dgn menggunakan kipasnya. Sampai akhirnya mereka menyerah dan menanyakan bagaimana Guru Zen ini bisa melakukan itu.

Guru Zen itu mengatakan " Sederhana saja ... saat persepsi kita benar, kita tidak akan kehilangan satu pun dari sepuluh ribu"

Ketika satu serangan datang, Guru Zen ini dgn sadar tahu harus menghindar kemana dan pada saat yg bersamaan diapun sadar akan gerakan pedang lawan lainnya yg siap menyerangnya. Begitu seterusnya dia menghidari setiap serangan tanpa pikirannya sempat terikat pada apapun. Jika pikiran sempat terikat pada satu lawan saja mungkin dia tidak akan menyadari serangan dari lawan yg lainnya.

Ini sesuai dgn ajaran Zen yg dikatakan Takuan " Jika kamu menatap selembar daun pada sebuah pohon, kamu tidak melihat daun lainnya. Jika kamu menghadapi pohon dgn tanpa maksud dan matamu tidak terpaku pada sebuah daun maka kamu akan melihat semua daun "

Setiap momen kehidupan dalam pandangan Zen adalah meditasi - terbebasnya pikiran dari segala ikatan adalah esensi meditasi Zen.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 14:28
Mudah-mudahan penjelasan saya sedikit tentang Zen ini bisa memberikan gambaran penerapan Zen dalam ilmu beladiri. Saya sendiri bukan ahli dalam Filosofi Zen ini - saya hanya berusaha menerangkan sejauh yg saya bisa saja. Zen bisa masuk ke dalam beladiri karena Zen memberikan dasar bagi praktisinya agar memiliki suatu "Kesadaran - Awareness" dalam setiap momen kehidupan.

Tetapi yg perlu diingat Zen bukan hanya menyangkut aspek Filosofi yg bersifat teoritis tetapi Zen sudah masuk dalam aspek "Kesadaran - Awareness" yg sangat bersifat praktis. Memahami Teori Filosofi Zen tidak ada artinya jika tidak membawa praktisinya ke arah "Kesadaran - Awareness" dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti yg bisa dilihat pada anekdot awal tentang Murid Zen ataupun tentang Guru Zen yg ditantang para Samurai di akhir tulisan ini.

Filosofi Zen sangat bersifat praktis bukan teoritis - setiap momen dalam kehidupan adalah meditasi.

...

Saya rasa sebenarnya yg terjadi antara "Kesadaran - Awareness" Zen ini tidak terlalu berbeda dgn yg dilakukan dgn Getaran MP. Hanya saja fokus perhatian dalam Zen adalah " Pikiran " yg ada pada praktisinya sedang pada MP fokusnya terhadap " Getaran " yg ada pada praktisi MP bukan " Pikiran " yg ada pada praktisi MP. Perbedaan fokus perhatian ini yg nantinya menimbulkan perbedaan Filosofi Keilmuannya.

Pembahasan Filosofi Keilmuan seperti ini mungkin bisa menjadi bahasan menarik di kalangan MP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 05/11/2010 15:01
Salah satu yang menjadi masalah mendasar pada MP di tataran bawah adalah memandang "getaran adalah tutup mata". Dan itulah yang dikejar. Sehingga makna menjadi sempit. Persis seperti gambaran Chinmi ketika berlatih Kempo yang memandang bahwa "memancing adalah memancing" dan bukan "memancing adalah Kempo". Ia tidak bisa menemukan kaitannya, sebelum kemudian mendapatkan pencerahan. Padahal aspek aplikatif dari "tutup mata" adalah seperti kopi yang dibuat dari secangkir air yang diseduh.

Sejauh pengamatan saya (mohon dibetulkan kalau salah), proses transformasi dari tiap tingkatan pada MP tidak berisi nilai-nilai transformasi ke arah perubahan sifat hingga menuju ke puncak kesadaran MP yakni "ilmu tumbuh". Menjadi PR bersama untuk dirumuskan bagaimana baiknya.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 13/11/2010 15:06
wah mas mpcrb tetap tidak kehilangan fokusnya.. mantap..
salut mas buat anda..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 13/11/2010 18:58
Selamat datang mas Ace di thread merpati putih. Monggo diramaikan mas :)

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 19/11/2010 21:29
 :)
makasih mas..  [top]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 19/11/2010 22:38
Btw, lali aku. Mas Ace ini dari cabang mana ya? Ingetnya di Kaskus doank. Karena dulu kita "pejuang" MP di Kaskus dengan thread yang super seru itu. :)

Monggo sharing "kehidupan" MP disana mas. Sekedar pengetahuan. Siapa tahu ada hal baik yang bisa di dapat oleh yang baca. Yang penting niatnya baik mas.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 22/11/2010 00:02
hahahaha, thread itu lagi, wah kalau mau jadi pejuang lagi ada yang ngebahas thread itu juga lho mas di :
http://metafisis.wordpress.com/2010/08/22/tantangan-sayembara-dengan-hadiah-1-juta-usd-bagi-praktisi-tenaga-dalam-dan-ilmu-metafisika/#comment-4109

mungkin tipikal yang bikin blog diatas itu ini mirip sama vakabit yaitu :
- cuma omong doang
- tidak mau melakukan pembuktian dengan 1001 alasan

siap mas, saya sekitar tahun 1996 masuk cabang bekasi, sekarang jadi kolat bekasi kota karena sekarang daerahnya berkembang jadi ada kabupatennya..
mulai 2006an mutasi ke cabang malang kolat univ brawijaya sampai sekarang..

oiya mas saya mau tanya prosedur pemilihan kektua cabang itu bagaimana?
karena di cabang saya sekarang tidak ada ketua cabang dan sekarang ada pengurus yang bikin ganjel, memang orang tersebut dituakan tetapi sekarang malah semena-mena padahal posisinya bukan ketua cabang, contoh kecilnya aja kemaren minta ijin untuk menyelenggarakan kejurlat tetapi ditolak tanpa alasan, padahal kejurlat tersebut sudah didukung oleh senior2 lain dan semua persiapannya sudah matang..
mohon pencerahannya para sesepuh..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/11/2010 09:31
Semua yang dibahas pada link tersebut sudah tercover pada forum Kaskus mengenai tantangan randy itu mas. :) Jadi, tinggal merujuk kesana saja dan semua sudah terselesaikan. :) Termasuk kesalahan pemikiran dari mereka-mereka yang skeptis yang menganggap gagal = hoax juga sudah saya paparkan dengan logika matematika yang pada akhirnya (dengan izin Allah) tidak bisa mereka bantah dan menyebabkan thread itu ditutup dengan sendirinya. Alhamdulillah.

***

Mengenai pemilihan Ketua Cabang, sesuai dengan AD/ART Merpati Putih, disebutkan bahwa:

"Pengurus Cabang dapat dibentuk dengan persetujuan pengurus Daerah jika di daerah yang bersangkutan telah terdapat 3 (tiga) kelompok latihan atau jika dipandang mampu oleh Pengurus Daerah untuk melaksanakan Pembinaan,Pengembangan dan pelestarian organisasi PPS Betako Merpati Putih di daerah tersebut sedikitnya untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun dengan persetujuan Pengurus Pusat."

Kondisi ini terjadi apabila pada daerah tersebut BELUM memiliki cabang sehingga PENGDA wajib membantu terbentuknya cabang pada daerah tersebut. Melihat kondisi di tempat mas, kalau tidak ada pengurus cabang, tetapi MEMPUNYAI pengurus cabang, solusinya adalah melaksanakan Musyawarah Cabang (MUSCAB) saja mas. Kalau sudah masanya, laksanakan Muscab secara normal, tapi kalau diluar normal, laksanakan Muscablub (musyawarah cabang luar biasa). Detail teknisnya sudah ada dalam panduan AD/ART bagaimana seharusnya.

Selain itu, mas secara organisatoris harus kontak Pengurus Daerah. Biar nanti PENGDA yang akan turun tangan untuk masalah tersebut. Demikian mas yang saya ketahui.

Semoga membantu.

Salam.

PS: Disini juga ada mas Suprapto yang merupakan anggota dari dewan pertimbangan. Mungkin beliau akan memberikan nasehat kepada mas Ace bagaimana semestinya. Atau kalau beliau berkenan, lewat jalur khusus bisa menginstruksikan pengurus daerah untuk turun ke cabang dimana mas berada untuk menyelesaikan masalah disana. Tentunya setelah didapat informasi pendukung lain yang menunjukkan keadaan seperti yang mas gambarkan.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 22/11/2010 13:28
oh begitu, oke berarti tinggal nunggu wejangan om suprapto.. :D

oiya mas saya mau tanya, mas poeng itu keturunan kerajaan pajang (mataram surakarta /solo) ataukah kerajaan mataram yogyakarta?
saya tadi berkunjung ke forsup disitu ada yang membahas tentang kere wojo / kere waja / baju besi / tirai besi, yang kabarnya sudah ada sejak zaman majapahit, kalau itu betul mungkin saja ilmu kere wojo yang kita pakai adalah turunan dari majapahit yang mungkin turun lewat keraton solo ataupun jogja yang notabene kedua kerajaan tersebut masih keturunan majapahit..
sumber :
http://www.kaskus.us/showpost.php?p=301530595&postcount=718
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/11/2010 14:40
Sejujurnya kalau kaitan sejarah sampai sejauh itu, pengetahuan saya belum nyampe mas.  x-))

Yang bisa saya lihat adalah konteks dari istilah kata "kere wojo" hanyalah pada sisi terminologi atau penamaan pada bahasa yang digunakan (yang kalau pada rujukan bahasa Indonesia disebut dengan "baju besi" atau "tirai besi") yang mengacu pada suatu pemodelan penempaan tubuh sehingga bisa (seolah) sekuat besi atau bahkan lebih dari itu. Pada zaman dahulu, logam terkuat yang umumnya diakui adalah besi. Kemudian berkembang menjadi baja, lalu titanium, dan sekarang graphene (lebih kuat 100x dibanding baja). Mungkin kalau sekarang, penamaannya akan bisa berubah menjadi "tirai graphene". :) Kalau pada saat itu kebudayaan Cina yang berkembang pesat, kata serapannya bisa jadi bukan itu. Tetapi bisa berubah pula ketika berada di tangan orang Jawa. Seperti misalnya teori Yin Yang, teori Bumi Langit, yang pada khasanah jawa diistilahkan dengan "bopo angkasa dan ibu pertiwi". Tidak menggunakan kata aslinya "Yin Yang" meskipun beberapa menggunakannya (kalau ia beladiri yang merupakan turunan dari CMA), selain itu biasanya sudah mengalami transformasi dan metamorfosis (entah reduksi makna atau malah hiperbola pada makna). Serapan-serapan seperti ini sudah sangat banyak sehingga terkadang kita kesulitan sendiri mengkategorikan apakah penamaan itu murni / original ataukah hasil serapan.

Adapun apakah masih adanya kaitan secara langsung atau tidak, wallahualam. Cara termudahnya adalah dengan melihat teknis penempaannya (HOWTO-nya). Tapi inipun harus ada pembanding pada keilmuan sejenis yang diakui merupakan turunan dari kerajaan yang sama (atau dari turunan dari induk kerajaan yang sama). Kalau model penempaannya mirip, berarti ya sedikit banyak ada kaitan. Kalau HOWTO-nya berbeda, tapi hasil akhirnya sama, itu bisa jadi. Keragaman tidak terlepas dari intinya. Jadi jawabanya masih ngambang "bisa ya bisa tidak". Saya tidak punya kapasitas untuk merunut sampai sejauh itu selain daripada yang memiliki jalur akses langsung kesana yang bisa memberitahu.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: raditya on 30/11/2010 10:21
halo master-master skalian. Nubie muhun izin gabung yaaak... :)

oh iya, numpang nanya nie . nubie boleh nanya apaan aja dimarih? tulisannya berat-berat nie.. nubie rada bingung bacanya.

makasih sbelomnya yaa...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/11/2010 13:37
@ mas Ace.

1. Kalau yg tdk ada adalah Ketua Cabang, sebaiknya segera mendorong pengcab u muscablub untuk memilih Ketua Cabang /pengcab definitip, agar semua keputusan bisa diambil dan ditindak lanjuti dgn baik.
Ada kesempatan dekat, tradisi MP Desember 2010, bisa sy fasilitasi ketemuan dgn senior/pengcab Malang dan Pengda Jatim-PPMP.

2. Mengenai sejarah keilmuan MP, memang tidak disebutkan penciptanya. Bahkan sampai yang terdahulu, Amangkurat, Nyi Ageng Joyorejoso, Gagak Handoko (Loano/Bagelen), Gagak Seto, Gagak Samodra dan seterusnya, adalah PENERUS KEILMUAN.
MP adalah penerus keilmuan dari Gagak Handoko, bukan keturunan darah ( yg keturunan darah Gagak Handoko adalah alm bp Tjokropranolo, mantan Ketum PB IPSI).
Sampai sekarang, MP masih melacak kelengkapan keilmuannya pada penerus Gagak Seto dan Gagak Samodra, yang masih saja tertutup, belum muncul ke permukaan.

Menurut penelitian bertahun tahun oleh Jean-Marc de GRAVE, yang antara lain dituangkan dalam bukunya "INITIATION RITUELLE ET ARTS MARTIAUX, Trois ecole de kanuragan javanais" , yang meneliti trah Tedjokusuman, Margaluyu Yogya dan Merpati Putih, ditemukan bahwa silsilah di MP adalah silsilah penerus keilmuan, bukan silsilah keturunan darah.

Para pewaris Puri Agung Karangasem Bali, sebelum 20an tahun lalu mulai belajar MP, diijinkan oleh para pedandanya, yang mengatakan keilmuan MP seperti "pulang kandang".

Mengapa, diantaranya keilmuan MP, "menyembunyikan diri", menempel/berlindung pada bangsawan kraton dan keturunannya?

Mas Pung menyaring dengan teliti, jangan sampai ada ritual yang diajarkan/dilakukan di masa kini, yang bisa menimbulkan kontroversi aqidah.

Berdasar hal2 diatas, SAYA PRIBADI menduga keras, keilmuan MP sudah ada sebelum Mataram Islam.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 30/11/2010 23:29
oh begitu mas, insya allah saya ikut tradisi, kalau panjenengan ikut tradisi juga apakah kita bisa ngobrol2 tentang masalah di pengcab malang ini? mohon bimbingannya om..
oh penerus keilmuan toh, tapi masih ada hubungan darah dengan keraton surakarta kan om?
saya mau tanya lagi om, kalau gambar http://mp-usa.org/images/ranking_clip_image002.jpg
tingkat inti ada tulisannya "royal heirs only" itu maksudnya khusus untuk keluarga kerajaan atau untuk pewaris MP saja?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/12/2010 00:05
@ mas Ace.

1. Kalau ketemu di acara tradisi nanti, sy siap untuk kita sharing masalah MP Cabang MALANG. Cuma untuk tindak lanjut, sy hanya bisa memfasilitasi agar bisa berembug dengan para pengurus yg berwenang/bertugas.

2. Tentang silsilah yang dituturkan turun temurun, hanya sampai ketika belum pecah menjadi Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogya. Selanjutnya ke Nyi Ageng Joyorejoso dan seterusnya.

3. Untuk MP sekarang, setiap anggota punya kesempatan untuk sampai ke tingkatan (keilmuan) Inti I, bahkan sampai Inti II. Pembatasan/syarat khusus(keluarga) hanya untuk posisi JABATAN Pewaris dan Guru Besar. Anggota biasa bisa sampai ke posisi Ketua Dewan Guru dan Ketua Umum  perguruan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/12/2010 08:58
Menurut penelitian bertahun tahun oleh Jean-Marc de GRAVE, yang antara lain dituangkan dalam bukunya "INITIATION RITUELLE ET ARTS MARTIAUX, Trois ecole de kanuragan javanais" , yang meneliti trah Tedjokusuman, Margaluyu Yogya dan Merpati Putih, ditemukan bahwa silsilah di MP adalah silsilah penerus keilmuan, bukan silsilah keturunan darah.

...

Berdasar hal2 diatas, SAYA PRIBADI menduga keras, keilmuan MP sudah ada sebelum Mataram Islam.


Untuk mendapatkan bukti-bukti, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya dengan mewawancarai pelaku sejarah yang masih hidup, atau dari garis keturunan langsung yang masih hidup. Kemudian dari buku-buku, kitab, tembang, atau kidungan yang masih ada. Dari prasasti, dsb. Keilmuan sejarah dapat mengkondisikan ini.

Secara logika memang ketika nusantara berada pada kepemimpinan Majapahit, tentulah pasti akan banyak sekali ilmu kanuragan bertebaran. Tidak mungkin suatu kerajaan bisa memimpin tanpa dibarengi juga dengan kekuatan fisik yang mumpuni. Jadi, memang bisa jadi kalau diurut secara vertikal akan bertemu pada satu sumber yang sama. Yang kemudian bisa jadi terpecah atau terdiversifikasi secara alamiah karena berbagai sebab. Bahkan terkadang yang bergaris keturunan langsung karena tidak memiliki keturunan laki-laki maka melimpahkan pada cucunya atau adiknya atau kerabat yang lain yang kemudian mengembara entah kemana dan menetap hingga mendirikan perguruan baru atau malah bahkan hilang karena tidak mendapatkan keturunan yang dianggap layak.

Akan tetapi dugaan bahwa keilmuan MP, dan bisa jadi keilmuan perguruan lain, sudah ada sebelum Mataram Islam selain dari penelitian para ahli berdasarkan kaidah ilmu sejarah juga dapat dilihat dari "lelaku" keilmuan yang terkadang masih bersifat animisme/dinamisme. Dengan melihat model penempaannya (yang bisa jadi terkadang menyimpang dari akidah, meskipun bisa dimaklumi bahwa pada saat itu terjadi penetrasi dan sintesa kebudayaan pada masanya) maka dapat dilihat bahwa kentara sekali keilmuan ini berada jauh sebelum kebudayaan Islam masuk ke tanah air.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 01/12/2010 10:06
Berbicara masalah MP USA, saya melihat ini cabang yang sangat fleksibel yang bahkan malah (dalam penilaian saya, mohon dikoreksi) diversifikasinya sangat banyak dan terkadang nyeleneh dari sisi aturan MP.

Pertama, adanya tingkatan "Balik 3". Di dalam AD/ART tidak ada tingkatan jenis ini. Is it legal?

Sebab aturan tingkatan MP hanyalah: Dasar 1, Dasar 2, Balik 1, Balik 2, Kombinasi 1, Kombinasi 2, Khusus 1, Khusus 2, Khusus 3, Kesegaran, Inti I, dan Inti II.

Pada websitenya, sesuai link dari mas Ace, memang tidak menyebutkan secara eksplisit "Balik 3", tetapi pada foto-foto yang dipublish dan dari komentar-komentar anggota MP USA mereka menyebut diri mereka "Balik 3". Tingkatan yang menurut MP USA tidak berniat untuk menjadi asisten pelatih, hanya anggota biasa saja yang masih ingin tetap latihan. Here, in Indonesia, we don't have such level like that. Setelah Balik 2 ya Kombinasi 1, terserah apakah dia mau masuk jalur kepelatihan ataukah pesilat murni. Saya juga tidak tahu seperti apa "strip" yang dipergunakan. Kalau stripnya jingga, ya jelas Kombinasi 1. Tidak lantas diistilahkan baru menjadi "Balik 3". Tapi kalau stripnya lain, jelas ngawur.

Kedua, pelatihan bernama "Youth program" untuk anak-anak mempergunakan tingkatan sabuk yang bukan spesifikasi MP seperti (putih, kuning, oranye, biru, merah). Is it legal?

Link: http://mp-usa.org/PK-Landing-Page-1.htm

Lebih jelasnya disini: http://www.youtube.com/watch?v=a5ZtR5_zYpU&feature=related

I don't know why? :) Kalau memang itu diizinkan, apakah cabang lain juga boleh? Sebab dalam pemahaman saya, tingkatan yang sudah dibakukan pada AD/ART itulah yang benar. Kalau ada tingkatan selain itu, ya jelas melanggar aturan AD/ART sendiri. Implikasi dari pemodelan jenis ini pada MP USA adalah sbb:

1. Kalau memang itu strategi marketing untuk menjaring anggota, kenapa tidak dibuat saja sesuai tingkatan yang sama tetapi dengan proses yang lebih lama. Misal, tingkatan tertinggi hanyalah Dasar 2 saja. Diversifikasi hanya pada materi keilmuan yang diberikan, tapi bukan dengan merubah tingkatan. Dengan adanya level berupa sabuk tingkatan yang berbeda, berarti memang itu sudah jadi kurikulum baru dengan sabuk tingkatan baru. Ini seperti "negara di dalam negara". Mohon dikoreksi kalau saya salah.

2. Jika memang tidak bermaksud sebagai simbol tingkatan baru, seharusnya gunakan pemodelan seperti Kebugaran yang menggunakan KAOS yang sama saat berlatih (tidak menggunakan simbol tingkatan). Dalam hal ini tidak ada aturan yang dilanggar, dan juga mudah dipahami sebagai bagian dari diversifikasi program latihan pada target market yang berbeda seperti Kebugaran.

***

Mohon maaf kalau saya agak "lancang" di dalam berbicara. Sebab dikatakan kalau MP USA adalah contoh pemodelan cabang yang (diharapkan) lebih modern.

Saya coba berikan analisa singkat MP USA menurut pandangan saya.

Perkembangan MP secara jaringan memang mengalami kemajuan dan sejak tahun 2000-an MP sudah membuka cabangnya di USA. Ini pertama kalinya MP terbuka untuk non WNI. Tetapi ternyata perkembangan ini tidak cukup mulus karena diawali dgn kegagalan MP pada Tantangan Randy.

Perkembangan MP di USA ini yg saya pikir MP berharap akan menjadi indikator daya tahan MP menghadapi perkembangan zaman. Sebagaimana harapan dari PPMP ketika membentuk cabang MP disana. Masyarakat USA jauh berbeda dgn masyarakat Indonesia, mereka sangat kritis tentang segala sesuatu. Dunia mereka pun penuh persaingan dan mereka pun hampir bisa dibilang memandang dunia lebih realistis, praktis dan materialistis dibanding masyarakat Indonesia. Masyarakat di sana pun penuh dgn para skeptis yg mungkin jauh lebih kritis dari orang-orang skeptis di Indonesia.

Untuk bertahan hidup MP USA harus mampu bersaing dgn dojo-dojo dari ilmu beladiri lain yg ada di sana dan juga harus mampu mejawab tantangan para skeptis. Sebagai orang yg asli USA tentunya Mike Z dan Nate Z paham betul karakteristik bangsanya. Di satu sisi dgn banyaknya tantangan di sana, saya melihat mungkin justru di MP USA ini bisa muncul benih kemajuan MP tapi di sisi lain saya juga merasa di MP USA ini bisa menjadi benih kehancuran MP. Selalu ada dua sisi mata uang.

Sesuai panduan memberikan masukan pada PPMP agar suatu program dapat DIAKUI oleh pusat dan mendapat ratifikasi dari dewan guru adalah harus menggunakan mekanisme SWOT. Pertanyaan sederhana, apakah MP USA juga melakukan demikian? Apakah hanya karena SWOT yang dibuat kemudian misalkan setelah ditelaah kemudian diizinkan untuk dilaksanakan apakah tetap boleh untuk membentuk sabuk tingkatan baru? Apakah ini tidak melanggar pakem yang sudah digariskan MP selama bertahun-tahun? Kondisi ini akan menimbulkan implikasi berupa "kalau cabang USA saja boleh, kenapa cabang lain tidak?". Dengan publikasi MP USA yang gencar di internet (sesuai sisi profesi dari Mike dan Nate yang juga merupakan orang marketing), adalah mudah mendapatkan informasi MP USA dimana-mana di internet. Jauh sekali dibanding informasi MP di Indonesia itu sendiri.

Dari karakter westerner seperti Mike dan Nate saya percaya mereka akan melakukan apa saja untuk bisa bertahan hidup menghadapi persaingan yg ada dalam dunia beladiri USA dan juga gempuran para skeptis di sana. Untuk mengembangkan MP USA mereka bisa melakukan hal-hal yg tidak bisa dilakukan cabang MP di Indonesia yg masih terbuai dgn kondisi "Kejayaan Masa Lalu". Dari kondisi MP USA ini saya melihat pusat mengharapkan tumbuh inovasi baru dari MP.

Walaupun sebenarnya saya miris ketika melihat pemikiran yang seperti itu. Mengapa justru kepada orang bule inilah MP lebih percaya inovasi baru akan muncul - mengapa bukan kepada orang asli Indonesia MP percayakan itu semua. Saya jadi berpikir apakah MP terlalu under-estimate karakter bangsa sendiri?

Sekali lagi mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 03/12/2010 11:29
berdasarkan percakapan saya dengan mas agung dan mas suprapto yang saya copy-paste di facebook ada yang bertanya :

"Kalo Misal Sampai Mentok Tidak Ada Solusi Ikut Cabang Kota Laen Bs Tidak Neh Mas ???"

mohon bimbingannya sesepuh sekalian..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 03/12/2010 11:31
ada yang menulis lagi :

- Terima kasih sebelumnya. Tapi permasalahan di Malang lebih krusial, daripada soal aturan AD/ART. Sepertinya...sepertinya loh..berdasarkan pengamatanku, ada konflik interes antar senior. Pada ranah ini, aku tidak berani masuk. Karena butuh energi lebih untuk berpartisipasi..dan yang bisa menyelesaikannya ya senior-senior itu sendiri. Atau turun tangannya pihak ke-3, yang punya energi lebih. Dalam hal ini, Pengurus Pusat atau kelegowoan Pengda Malang untuk mengundang senior-senior di Malang...Salam Perguruan

- masalah ada karena mereka...masalah selesai juga hrs karna mereka...integritas jd hal yang vital saat nee..
smg cabang bisa mnyelesaikan semua masalah dengan bijaksana...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/12/2010 13:13
Saya coba berikan pandangan ya mas. Semoga tidak menyimpang terlalu jauh. Mohon dikoreksi oleh mas Suprapto kalau jawaban saya menyimpang.

Saya melihat ada dua konflik disini, yakni konflik interest yang bersifat senioritas dan organisatoris. Saya coba kasih pandangan mengenai apa yang pernah terjadi dulu di Cirebon.

Mengenai conflict of interest ini, dulu Cirebon juga pernah terjadi. Antara cabang Cirebon dan Indramayu. Konflik ini murni antara senior dan senior. Terkesan seperti "rebutan wilayah kekuasaan". Padahal MP sesungguhnya bukan organisasi finansial, tetapi itulah sifat manusia. Selalu ingin merasa lebih unggul dibanding yang lain. Selalu menginginkan mendapat "kepentingan lebih" berupa pengakuan identitas. Entah identitas sebagai senior atau identitas sebagai pengurus. Malu, dulu saya juga dihinggapi perasaan seperti ini. Tapi kemudian, setelah kembali kepada hakekat pesilat murni, hal seperti itu bisa disingkirkan. Konflik seperti ini selalu menimbulkan kerugian pada anggota tataran bawah. Mereka jadi bingung harus bagaimana dan kemana. Seperti yang juga dialami oleh cabang dimana mas Ace berada.

Sebenarnya kalau mau balik lagi ke tujuan MP, harusnya ini tidak terjadi. Pertanyaannya mengapa bisa terjadi? Ini yang menarik untuk dirunut.

Saya pernah bahas juga pada thread ini mengenai pentingnya penanaman nilai-nilai filosofi dibanding keilmuan itu sendiri. Jadi, meskipun secara idealis filosofi itu bersifat tut wuri handayani, mengikuti dari belakang, akan tetapi pada prakteknya di lapangan tidaklah demikian. Kalau hanya bersifat insidental, kasus pada beberapa senior, atau 1-2 cabang, saya bisa maklum. Tetapi persoalan ini sudah bisa dikatakan bersifat massal, sehingga memang sedari awalnya sepertinya ada yang salah di dalam penyampaian keilmuan.

Contoh nyata beberapa cabang yang pernah konflik sehingga muncul ke permukaan : Cirebon, Indramayu, Sukabumi, Bogor, Jakarta Timur, Malang (sekarang terjadi, sesuai informasi dari mas Ace), dsb, yang kalau saya sebutkan lengkap disini rasanya kurang etis. Tetapi itulah kenyataannya. Senior-senior yang seperti ini bersikap seperti "raja kecil". Dari kondisi ini, pusat memang terlihat belum memikirkan bagaimana sebaiknya penetrasi filosofi agar membentuk mental dan karakter yang baik. Terjadinya anomali fenomena ini dikarenakan memang seperti itulah dahulu mereka melihat.

20 tahunan saya di MP, kemudian berhenti 5 tahunan, dan balik lagi ke cabang asal, ketemu masalah yang sama juga. :)

Dari beberapa kali melihat kasus ini, solusi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

- Jika konflik yang muncul antar senior DIUSAHAKAN untuk ditengahi oleh senior lain yang dituakan dan dianggap lebih senior, terutama dari sisi keilmuan dan pengaruh. Jadi, cari senior pihak ketiga yang masih netral dan memahami karakteristik permasalahan secara bijak. Jika tidak bisa, undang senior pusat untuk menengahi. Jika masih tidak bisa juga, terpaksa harus masuk pada jalur Guru Besar.

Dulu Cirebon pernah punya konflik interest antar senior, dan bahkan sampai ke pusat hingga Mas Pung dan Mas Budi turun tangan sendiri. Ada salah satu senior yang cukup nyeleneh hingga terpaksa harus "disidang" dan akan "dicopot" statusnya sebagai anggota MP. Akan tetapi, berkat masukan dari senior-senior lain pula pada saat tu, senior ini kemudian menyadari kekeliruannya dan dipulihkan kembali hak-haknya sebagai anggota Merpati Putih. Alhamdulillah terjadi ISLAH, damai antar semuanya.

- Jika konflik yang muncul dari sisi organisatoris, harus menggunakan jalur organisatoris juga. Naik ke tingkat yang lebih tinggi. Kalau masalah ada pada cabang, berarti naik ke Pengurus Daerah (pengda). Pengda, memiliki kewenangan untuk melakukan hal-hal yang dianggap perlu demi kelangsungan cabang yang dinaunginya. Mereka punya kekuatan organisasi untuk itu. Kalaupun ternyata nantinya si senior yang konflik ini tidak terima dan mundur dari status pengurus, itu sudah resiko. Dan harus dicari penggantinya. Biarkan saja. Kalau tidak bisa dinasehati dengan baik dan tidak mau berubah, ya silahkan menentukan jalannya sendiri. Ambil jalur pesilat murni saja, latihan sebagaimana anggota biasa lainnya. Tidak perlu jadi pengurus lagi. Namanya pengurus, harus ada kewajiban mengurus, dan terikat dengan hak dan kewajiban pengurus yang sudah diatur sedemikian rupa. Kalau tidak mau dan tidak bisa ngurus, ya lepaskan statusnya.

Kalau jalur PENGDA tidak mempan (seharusnya sih harus mempan), terpaksa PUSAT harus turun tangan untuk membenahi. Membubarkan pengurus cabang tersebut kalau perlu, dan membentuk pengurus definitif yang baru (entah seluruh atau sebagian). Atau terpaksa membuat kebijakan untuk meminta wilayah tersebut masuk pada cabang yang lain.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/12/2010 21:11
@ mas Mpcrb dan mas Acepilot.

Terimakasih atas masukannya.

Secara umum, masalah di cabang2, memang sesuai dengan pengamatan mas Mpcrb.
Prinsip penanganan, diusahakan bertingkat lebih dulu. Tidak ada yang mentok, karena terakhir ada yang punya hak veto.
Penanganan tentu sesuai konstitusi perguruan, yang penerapannya harus dikomunikasikan dengan baik, agar bisa terhindar dari ekses yang tidak perlu. Dihindari cara penilaian hitam putih. Biasanya miskomunikasi saja.

Prinsip pengembangan cabang/pembentukan cabang baru, harus berbasis pengembangan, bukan karena perpecahan.

Cara penanganan seperti yang diuraikan mas Mpcrb benar adanya. Ada peran organisasi secara bertingkat.
Apabila diduga ada kemacetan karena  menghadapi masalah senioritas, ada korp Wira Adiguna untuk itu. Tentu ada cara yang bijaksana, bagaimana anggota/pengurus melakukan komunikasi dengan senior2nya.
Istilah "senior", sebenarnya tidak resmi tapi penting dalam berkomunikasi.
Kalau menurut tingkatan, keempat anggota dan pimpinan Dewan Guru, beserta puluhan anggota aktip lain, ada ditingkat yang sama, tingkat Kesegaran. Akan tetapi karena didalamnya ada yg pernah jadi guru bagi guru yang lain, maka ada pertimbangan senioritas dalam cara mereka berkomunikasi.

Biasanya, kalau dipertemukan dalam suasana setengah resmi, akan diperoleh titik temu yang akan ditindak lanjuti/memperlancar pertemuan formal, dimana akan diambil suatu keputusan formal.

Yang klasik dan kalau tidak disikapi dengan baik bisa berpotensi kurang harmonis adalah antara UKM dan cabang diwilayahnya. Ada sedikit "otonomi" di UKM/Universitas (termasuk adanya subsidi anggaran kegiatan), disisi lain  cabang  punya otoritas mengenai kegiatan MP diwilayah kerjanya. Kalau stel kenceng bisa berpotensi gesekan, kalau stel kendo/bersinergi, akan memberi manfaat. Bagaimanapun cabang akan bertanggung jawab pada kelestarian dan prestasi UKM, terlebih apabila para senior di UKM telah lulus kuliah dan meninggalkan kampus.
Secara organisatoris, tidak mungkin suatu kolat diwilayah cabang tertentu, menginduk ke cabang lain. Kecuali pada masa perintisan, karena ada peran kontak person. Kalau kurang pelatih, bisa minta bantuan cabang lain dengan koordinasi antar cabang sepengetahuan pengda.

Dengan latar belakang yg bermacam macam, maka faktor CARA mengkomunikasikan pendapat, menjadi penting.

Mengenai MP USA, akan saya konfirmasikan pada yang berwenang.
Salah satu ekses karena PPMP kurang cepat menyusun  pedoman/peraturan perguruan, menindak lanjuti program yang dicanangkan, tentang program khusus bagi segmen2 tertentu.
Terimakasih.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 04/12/2010 00:06
betul yang dibilang oleh mas suprapto, saya tadi bertanya ke teman saya ternyata dulu pengcab pernah stel kenceng dan akhirnya perwakilan kolat universitas sempat melakukan walkout waktu rakercab karena cabang stel kenceng terhadap kebijakan SPP yang terlalu tinggi..

posisi saya disini hanya melaporkan dan meneruskan laporan, apakah kami ini salah secara prosedural karena melangkahi PENGDA?
dan apakah ada perlindungan dari pusat untuk kolat kami, soalnya ada teman yang takut kalau kolat kami di incar atau ditandai oleh pengcab atau pengda?

kami tidak mau niat baik kami ini malah berujung masalah, dan jangan sampai ada istilah "niatnya sih baik tapi jalannya yang salah"..
mohon pencerahannya mas, mohon maaf kalau saya kebanyakan bertanya, saya hanya ingin pengcab malang maju, soalnya katanya senior - senior hal ini sudah sangat lama sekali terjadi..
trimakasih mas..
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/12/2010 09:31
@ mas Acepilot.

Tidak salah. Kalau tidak dikomunikasikan, tidak ada yang tahu.
Tentunya yang mendapat laporan juga harus both sides cover sebelum bertindak.
Sering masalah malah memberat hanya karena gengsi masing2. Ketika ditengahi, ternyata "no case".
Masalah iuran anggota di cabang memang kadang menjadi dipermasalahkan di UKM, dilain pihak anggota umum menganggap mahasiswa sbg bukan kelompok "miskin".
Sebaiknya iuran cabang ditentukan bersama dengan mempertimbangkan rencana anggaran belanja yang transparan.
Sehingga rencana kegiatan yang dituntut, proporsional dengan potensi pendapatan. Terkadang harus subsidi silang.

Iuran anggota adalah modal dasar untuk kegiatan cabang. Lebih terasa maknanya ketika anggota2 yang sukarela menjadi "ujung tombok" disuatu cabang, menjadi berkurang.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/12/2010 10:18
@mas Ace, saya rasa momen yang tepat memang pada acara Tradisi bulan ini karena dipastikan perwakilan dari seluruh cabang akan hadir. Tentunya pengurus cabang Malang juga akan hadir disana. Hal ini bisa dikondisikan untuk dijadikan ajang pencarian solusi terbaik dari permasalahan yang ada. Mendengar dari kedua sisi untuk kemudian dilihat benang merahnya dan solusi yang pas.

Tidak perlu takut mas nantinya akan "diincer". Ini sudah bukan zaman purba. Justru orang-orang yang memiliki pola pikir seperti itu dipastikan BUKANLAH PESILAT SEJATI. Baju pesilat, tapi mental preman. Orang seperti itu dipastikan TIDAK MEMAHAMI apa yang melekat pada baju Merpati Putih itu sendiri.

Selamat berdjoeang mas Ace!

Salam.

PS: Masih ingat perjuangan mas di thread Kaskus mengenai tantangan Randy sehingga akhirnya thread itu ditutup? Bukankah hikmahnya adalah "jangan berhenti menyuarakan kebenaran?". Sebab ketika kita berusaha menyuarakan kebenaran, maka langit akan menolong kita. Percayalah. Yang penting, keep on the track.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 04/12/2010 14:43
terimakasih mas agung dan mas suprapto sudah mau memberi pencerahan dan bimbingannya..
oh iya apakah mas berdua ini punya facebook?

kalau punya biar saya add dan langsung bisa melihat diskusi di facebook..
kalau ada alamat facebook saya mohon untuk private message ke saya..
trimakasih..  :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/12/2010 20:23
fb saya dan fb mas prapto sudah saya kirim via pm. :)

silahkan di add untuk menambah daftar silaturahmi.

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: raditya on 04/12/2010 22:06
mas2 senior, nubie mau nanya nie.

temen nubie prnah ad nyang nanya kayak ginie "sob, napa sih latian silat elu ga pake sansak? gak kayak eskul beladiri laennya?". nah, nubie bingun jawabnya nie mas2 senior.

bantuin nubie yak...

 [top]

trimz.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 06/12/2010 11:39
Mas mpcrb saya juga mau alamat fb nya dong,thanks
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 09/12/2010 15:28
temen nubie prnah ad nyang nanya kayak ginie "sob, napa sih latian silat elu ga pake sansak? gak kayak eskul beladiri laennya?". nah, nubie bingun jawabnya nie mas2 senior.

Mas Radit, kalau pada kurikulum resmi sih memang tidak ada pelatihan berbasis sansak. Medium yang dipergunakan oleh MP hanyalah:
1. Rautan bambu (untuk berlatih pengerasan)
2. Beban (terbuat dari cor beton dengan ukuran tertentu, misal Dasar 2 berbentuk seperti batu bata, Balik 1 berbentuk pot dengan 5  lubang seukuran jari untuk menancapkan jari, Balik 2 menggunakan rautan bambu plus di tengahnya menggunakan pot pada Balik 1 yang digantung di tengah, Kombinasi 1 menggunakan barbel dengan berat tertentu yang bentuknya seperti yang mas sering lihat pada atlit angkat besi, Kombinasi 2 menggunakan barbel tengah pendek dengan beban ditengah barbel, Khusus 1 menggunakan Gandewa, dst.)

Sansak itu umumnya digunakan untuk pelatihan atlit. Meski demikian, kurikulum juga memberikan keluwesan pada kearifan lokal pelatih setempat untuk menggunakan medium yang dimungkinkan untuk melatih anggota menjadi lebih baik. Seperti misalnya penggunaan punching pad, sansak, dsb. Terkadang, untuk cabang atau kolat yang cukup "kaya", maka kelengkapan seperti itu bisa disediakan. Tetapi pada cabang yang standar, tidak akan ada. Gunakan rautan bambu standar MP plus beban pada saat olah nafas.

Kalaupun tidak menyediakan sansak, tidak masalah mas. Sansak, hanyalah salah satu metode untuk melatih daya serang dan kekuatan serang serta efek benturan pada otot. Ada metode-metode lain yang bisa digunakan meski tanpa sansak.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 09/12/2010 16:26
kalau saya dulu waktu SMA ada teknik melatih kekuatan pukulan yang sangat murah mas,karena saya orang kampung dan ga punya uang buat beli2 peralatan dan ga punya kreatifitas buat ngebikinnya,
sedangkan saya begitu terobsesi dengan beladiri dan juga kekuatan pukulan akhirnya saya melatih pukulan saya kesemua benda keras yang saya jumpai mas ,apakah itu batu,tiang listrik,pohon,dinding sekolah,dinding rumah,apalagi kalau pohon pisang sudah banyak yang tumbang sama saya karena sangat empuk hehe makanya sering dimarahin tetangga.sekian tip biar dimarahin tetangga mas hehe
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 09/12/2010 17:04
Terima kasih kang bayu sudah mampir ke thread Merpati Putih. :)

Ada beberapa cara untuk meningkatkan kekuatan daya serang. Sejauh ini diketahui ada 4 jenis cara menghasilkan tenaga untuk serangan:


Ini juga tidak saklek, terkadang terjadi overlap antara keempatnya. Bisa jadi, menggunakan metode 1 dan 2, atau metode 1, 2, dan 4. Atau kombinasi lainnya. Bergantung pada sifat dan karakteristik beladiri itu sendiri.

Kesemuanya akan bermuara pada proses yang disebut dengan "HASIL LATIHAN". Yakni sejauh mana murid melakukan repetisi/perulangan untuk mendapatkan makna dan hasil dari gerakan. Di dalam keseluruhan metode tersebut, semuanya melibatkan otot tubuh. Sehingga memahami sifat unik dari otot menjadi penting. Termasuk bagaimana cara kerja mekanika otot.

Bahkan beberapa beladiri asing seperti Brazillian JiuJitsu, Judo, menggunakan pemahaman mengenai otot ini untuk melakukan teknik penguncian. Mungkin tampak oleh kita tangan praktisi hanya menekan tempat tertentu, tapi kok korban tidak bisa bergerak dan merasa begitu kesakitan. Hal ini bisa dipahami karena yang ditekan adalah lokasi otot tertentu yang apabila mendapat tekanan tinggi, maka akan mengakibatkan efek penderitaan bagi si korban.

Ilmu sains modern sudah punya mengenai ini. Ada yang namanya Exercize Physiology, yakni disiplin ilmu modern untuk mengamati adaptasi akut dan kronis pada suatu kinerja dari suatu latihan fisik. Beladiri khan suatu bentuk latihan fisik, maka analisa dari sudut pandang ilmu ini dapat mencari benang merah yang diharapkan bisa lebih lengkap untuk menambah khasanah pengetahuan pesilat. Pelatihan-pelatihan fisik seperti Isometric Exercize, Dynamic Tension Exercize, dan Plyometric Exercize, dapat dianalisa dengan Exercize Physiology ini.

Sementara kita tinggalkan dulu Exercize Physiology. :-)

Dengan melakukan gerak secara berulang-ulang dengan repetisi yang ekstrem (misal 10 ribu kali, atau 100000 kali, atau lebih dari itu), maka akan di dapat memory otot dan kekuatan otot pada gerak apa yang dilatih. Kekuatannya bisa sebanding dengan latihan memukul dengan sasaran seperti sansak, kayu, atau pohon atau besi atau sejenisnya. Jadi, pelatihan tradisional tetap tidak kehilangan makna kekuatannya meskipun dilatih tanpa alat bantu benturan.

Saya coba ambil hikmah dari suatu kisah silat legendaris yang sering kita kenal, yakni Memanah Burung Rajawali dan Kembalinya Pendekar Rajawali.

***

Saya coba paparkan singkat mengenai kisah Sin Tiaw Hiap Lu (Kembalinya Pendekar Rajawali) dengan tokoh Yo Ko, lanjutan dari kisah Siaw Tiaw Eng Hiong dengan tokoh Kwee Ceng yang legendaris. Kalau dalam cerita silat Sin Tiaw Hiap Lu, ini seperti Ang Cit Kong yg mengajarkan Tah Kauw Pang Hoat (Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing) tetapi tidak mengajarkan Kouw Koat (Teori - Filosofi Ilmu - Formula) nya. Dengan hanya mengajarkan Jurus Tah Kauw Pang Hoat nya saja tanpa Kouw Koat nya - si murid tidak akan bisa menerapkan Jurus tsb dalam pertarungan.

Walaupun Tah Kauw Pang Hoat itu ilmu tongkat tingkat tinggi tapi jika pengajarannya seperti ini ya tidak ada gunanya. Apalagi jika pelatihan jurus tsb juga asal-asalan tentunya hasilnya adalah murid jadi-jadian ... iya kan.

Yo Ko ( Yang Guo ) pertama kali diajarkan jurus Tah Kauw Pang Hoat tanpa Kouw Koat ( Teori - Filosofi Ilmu - Formula ) nya oleh Ang Cit Kong ( Hong Qigong ). Pertama kalinya Yo Ko menggunakan Tah Kauw Pang Hoat (Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing) dalam pertarungan dgn dibantu Oey Yong yg selalu memberi petunjuk berupa Kouw Koat selama pertarungannya tsb. Tanpa Kouw Koat dari Oey Yong maka Yo Ko tidak bisa menggunakan Tah Kauw Pang Hoat dalam pertarungan.

Jadi dalam CMA (Chinesse Martial Arts) dikenal adanya Jurus dan Teori Jurus. Dalam beberapa aliran Karate, mengingat Karate pun sebenarnya Kungfu China, pelatihan seperti ini masih berlaku juga yaitu ada pelatihan Kata (Jurus) dan Bunkai (Interpretasi Jurus). Setelah seorang Karateka berlatih Kata biasanya akan ada pelatihan Bunkai baru setelah itu latihan aplikasi dari Kata dan Bunkai dalam pertarungan. Sama seperti proses yg dialami Yo Ko ketika mempelajari Tah Kauw Pang Hoat pada cerita di atas. Jadi Kata dan Bunkai adalah satu kesatuan.

***

Demikian juga, pelatihan berbasis gerak yang tanpa alat sasaran tertentu, tetap masih bisa menghasilkan kekuatan yang tidak kalah dengan pelatihan yang menggunakan alat sasaran tertentu (seperti sansak, kayu, pohon, tiang listrik, dsb). Asalkan pemberian pelatihannya menggunakan gerakan dan teori gerakan yang benar dan murid melakukan repetisi yang dipersyaratkan dengan jumlah yang extreem. Apabila ditambah lagi dengan olah nafas, maka hasilnya tentu sangat dahsyat.

Silat memang menarik, bukan? :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 09/12/2010 17:39
Jadi tambah cerah saya baca penjelasan lengkap dari mas mpcrb, [[peace2]] [[peace2]] [[peace2]]
saya dulu sangat suka sama film seri return the condor heroes dan  golok pembunuh naga, cuma saya ga tau sampai sedetail itu,pokok e mas mpcrb paling mantap deh babarannya,salut [top] [top] [top]
terima kasih banyak nih mas tambahan ilmunya :)
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: raditya on 09/12/2010 20:37
makasih ya mas atas penjelasannya. nubie mulai faham skarang. di kolat nubie emang ga poenya sansak sie. secara skolahnya emang gak nyediain atau gimana jg nubie ga tau.

tapi nanti nubie mau mampir di latian usmp itu ya mas.

makasie sbelumnya...

trimz...

 [top]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 10/12/2010 13:37
Terima kasih mas Radit, monggo mampir dan ikut berlatih disana.

Semoga jawaban saya dapat memupus rasa dahaga mas Radit. Cobalah untuk baca-baca pada thread lain, ada banyak sekali pengetahuan yang bertebaran disini yang mungkin belum mas Radit ketahui.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: raditya on 21/12/2010 11:37
mas-mas senior, radit mo nanya nie...

kalo leyek tuw gunanya buad apa sie? kata pelatih radit cuman buad hindaran ajah. bner gag?

trimz!

 [[peace2]]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: one on 21/12/2010 17:54
memperkuat kaki atau kuda-kuda yang bertumpu pada sebagian besar satu kaki, membiasakan pola perpindahan beban tubuh dan tenaga (jika untuk pemukulan)....silahkan dilanjut
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 21/12/2010 23:47
wah senang sekali rasanya ikut tradisi kemaren, sayang saya nggak ketemu mas agung..
secara keseluruhan tradisinya  [top]
tapi sayang beberapa acara gagal karena diguyur hujan lebat..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/12/2010 10:05
Bentuk "tradisional" pemahaman leyek memang demikian adanya seperti yang sudah disebutkan kang one. Akan tetapi ada sesuatu yang "tersembunyi" pada sikap leyek.

Bahwa leyek bertujuan untuk memperkuat kuda-kuda yang bertumpu pada sebagian besar satu kaki, itu benar. Bahwa leyek juga bertujuan untuk membiasakan pola perpindahan beban tubuh dan tenaga (jika untuk pemukulan), itu memang benar.

Sebelum saya masuk pada hal "tersembunyi" pada leyek, saya ingin menjelaskan dulu bahwa ketika kita mengamati secara detail dan teliti gerakan-gerakan MP maka kita tidak akan menemukan pola-pola serangan dengan alat penyasar bahu, punggung, lutut, pinggul.

Apakah memang demikian adanya? Ternyata tidak.

Bahwa pada leyek terkandung aspek serangan dengan alat penyasar bahu, kepala, punggung, dan lutut. Ini yang tidak pernah disadari oleh anggota. Kebanyakan anggota hanya melihat gerakan dan menirukan gerakan, tetapi bagaimana pemanfaatan gerakan secara maksimal jarang sekali di-mersudi atau dicari. Kebanyakan ketika sudah bisa melakukan gerakan, sudah hafal gerakan, dan sudah cukup sampai disitu.

Dari model pertahanan, leyek juga sekaligus berisi 4 serangan tersembunyi yakni serangan berbasis bahu,  serangan berbasis punggung, serangan berbasis kepala, dan serangan berbasis lutut.

Aspek pertahanan terdapat pada kondisi antara AWAL SIKAP dan AKHIR GERAKAN. Ini adalah makna tradisional yang umum diketahui oleh anggota.

Sedangkan aspek serangan berbasis bahu terdapat pada kondisi antara AKHIR GERAKAN dan AWAL SIKAP (untuk leyek depan dan belakang). Bahu yang digunakan adalah bahu pada posisi depan yang mengarah pada sisi lawan. Jadi kalau posisi leyek berada pada tumpuan berat badan kaki kanan maka serangan bahu akan menggunakan bahu kanan KETIKA akhir gerakan menuju awal sikap.

Demikian juga untuk aspek serangan berbasis sundulan kepala (ini seperti XinYiBa pada kungfu China yakni gerakan dengan hantaman kepala).

Aspek serangan berbasis punggung terdapat pada kondisi ketika AWAL SIKAP dan AKHIR GERAKAN (pada leyek belakang).

Aspek serangan berbasis lutut terdapat pada kondisi ketika AKHIR GERAKAN dan AWAL SIKAP (pada leyek depan atau belakang).

Berikut gambar kasarnya:

(http://i51.tinypic.com/160yf7o.png)

Inilah sisi tersembunyi aspek serangan dari leyek yang tidak diketahui anggota.

Menarik, bukan? :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 22/12/2010 10:56
Mantab sekali ternyata mas manfaat sikat leyek  [top] [top] [top]
cuma saya ga ngerti apa itu artinya atau dari bahasa mana leyek itu mas,mohon penjelasan
terima kasih
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/12/2010 13:12
Hahaha, saya sendiri tidak tahu kata "leyek" ini dari bahasa mana?  [[peace2]]

Tetapi menurut (alm) pelatih saya dulu, bahwa leyek artinya "gerak bahu". Karena memang gerakannya dengan memutar bahu (meskipun pinggang juga ikut berputar). Tetapi menariknya kenapa tidak disebut "gerak pinggang" malah justru "bahu" yang dimunculkan. Dari sinilah kemudian (dulu) "penggalian" dimulai.

Kalau itu ditanyakan oleh mas radit, itu wajar saja karena gerakan inipun sering ditanyakan oleh murid tingkat dasar lainnya. Tetapi yang sering terjadi adalah bahwa penjelasan jawaban dari pelatih wilayahnya sempit. Hanya menjelaskan yang terlihat saja. Istilahnya yang tersurat saja, tidak yang tersirat.

Dahulu almarhum pelatih sekaligus guru saya selalu mengajarkan pentingnya melatih kuda-kuda DAN leyek (depan dan belakang). Itu selalu menjadi "makanan" sehari-hari setiap latihan. Terkadang melatih kuda-kuda dan leyek (juga langkah yanglain) dalam gerakan yang pelaaaan banget. Bahkan pernah hanya DIAM saja mematung seperti pohon. Latihan yang cukup menyebalkan (pada saat itu). Beliau tidak tahu secara ilmiah penjelasannya. Bahwa kemudian setelah saya analisa dengan disiplin ilmu Physiology, diketahui bahwa prinsip dasar kuda-kuda dan pelatihan leyek (depan dan belakang) ini melandasi prinsip dasar pengolahan tenaga, yakni prinsip "whole body movement". Salah satu bentuk Isometric Exercize dimana murid mempertahankan postur tubuh pada posisi tertentu selama beberapa waktu. Almarhum pelatih/guru saya selalu mengatakan bahwa "melatih kuda-kuda dan leyek ini HARUS menggunakan tenaga pikiran". Maksudnya, menggunakan MIND, pikiran. Awalnya memang bingung, sebab ketika melakukan bentuk kuda-kuda dan bentuk leyek bukankah membuat kaki menjadi kokoh, kuat, dan melatih keseimbangan tubuh? Yang tentu saja menggunakan TENAGA dan bukan PIKIRAN. Ternyata tujuan utamanya bukan itu. Seiring waktu saya memahami bahwa yang diajarkan almarhum adalah prinsip dasar "whole body movement" yang baik yang mengajarkan murid untuk memahami cara kerja otot mereka dan melakukan kontrol mekanika otot dengan pikiran.

Bahwa di dalam tubuh manusia, terutama yang berkaitan dengan beladiri yakni dari aspek PENGUNAAN, secara umum terdapat DUA jenis otot yakni yang berfungsi POSTULAR (stabilising atau tonic) dan yang berfungsi sebagai pergerakan (mobilising atau phasic). Seringkali disebut otot postular dan otot phasic atau stabilising dan mobilising.

Apa yang menarik dari otot postular adalah bahwa ia bereaksi/berpengaruh terhadap gaya gravitasi dan ia bertindak diluar dari kehendak kita. Secara normal kita tidak bisa mengontrol otot postular secara langsung. Tidak bisa bukan berarti tidak mampu. Ada cara untuk mengontrol otot postular, yakni melalui KEHENDAK. Sebagai contoh, ketika kita mengendarai sepeda kita menjaga keseimbangan dengan menggunakan otot-otot postural. Kehendak kita adalah bahwa kita tidak ingin jatuh dari sepeda tapi kita tidak mengontrol secara sadar  bagaimana kita akan tidak jatuh. Kalau kontrol menjaga keseimbangan pada sepeda ini secara sadar, maka iaakan lambat - sebelum kita bisa bereaksi, kita akan jatuh. Ini adalah kondisi mengapa ketika kita dulu belajar sepeda, kita mulai dengan otot phasic (mobilising) dan melalui kondisi jatuh-bangun itulah otot postular mengambil alih sehingga kita menemukan "keseimbangan tubuh".

Contoh lain, ketika seseorang mendorong tubuh kita dan kita tidak ingin terjatuh maka secara reflek kita akan bertahan dengan menggunakan tenaga. Jika ini dilakukan, berarti kita menggunakan otot phasic. Tapi hal berbeda apabila ada seseorang yang mendorong kita pada sisi bahu. Pada kondisi ini, kita tidak akan mendorong balik menggunakan tenaga, tetapi secara alamiah  'menyerap' tenaga dorongan itu tanpa upaya berarti melalui otot postural. Jadi jika pada contoh pertama kita sudah menggunakan otot postular, maka tenaga dorongan akan secara mudah 'diserap' melalui daya kerja otot postural untuk kemudian dinetralkan.

Ketika kita bergerak (gerak apa saja), sebelum gerakan dimulai ada waktu sepersekian detik penundaan yang digunakan tubuh untuk mempersiapkan stabilisasi tulang belakang pada pinggang menggunakan otot-otot perut dalam (salah satu otot postural). Secara normal kita tidak akan merasakan "persiapan" ini. Tapi itu terjadi. Seiring dengan kesadaran yang meningkat, maka "persiapan" ini bisa dirasakan oleh kita.

Kondisi pelatihan kuda-kuda dan leyek, sesungguhnya melatih kemampuan ini.

Jadi, pada leyek saja sudah terdapat pelatihan dengan makna yang dalam, berisi pertahanan, hindaran, dan sekaligus serangan mematikan. Itu kalau mau digali. :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 22/12/2010 15:20
Sangat lengkap sekali ya, melatih otot postular untuk menjaga keseimbangan tubuh dari serangan lawan, memang hal ini harus praktek langsung ya kalau ga rada bingung ngebayanginnya seperti apa menyerap tenaga dorongan dan menetralkannya.
tapi secara umum prinsip latihan "whole body movement"nya mantap sekali mas [top] [top] [top]
thanks mas
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/12/2010 16:21
Kang bayu, contoh yang saya berikan untuk menunjukkan perbedaan pada cara kerja otot postular dan otot phasic. Intinya bukan bagaimana menyerap tenaga dan menetralkan, tetapi pada pola pelatihan untuk menghasilkan prinsip dasar pengolahan tenaga berdasar "whole body movement" ini.

Pada setiap pergerakan tubuh manusia, tidak akan pernah ada suatu gerakan APABILA "persiapan" di dalam tubuh sendiri belum siap. Dengan kata lain, kita hanya akan bisa bergerak normal apabila "persiapan" dalam tubuh kita sudah dalam fase stabilisasi. Semakin lama penundaan (delay) yang dilakukan oleh tubuh untuk menghasilkan proses stabilisasi ini, maka gerakan akan semakin lamban. Ini tidak masalah kalau memang kita ingin bergerak lamban, tetapi kalau kita ingin bergerak cepat, maka delay ini harus dihilangkan atau paling tidak diminimalisir dengan cara mempertahankan postur tubuh dimana otot postural kita siap untuk diikutsertakan.

Jadi, prinsip dasar pada "whole body movement" adalah ketika kita menggunakan otot-otot postural dibanding otot-otot phasic. Hal ini dikarenakan otot-otot postural berkoordinasi pada keseluruhan tubuh.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 22/12/2010 16:32
mempertahankan postur tubuh untuk mmenghilangkan atau meminimalisir delay dari gerakan tubuh,maksudnya berat badan gitu mas?wah kalau gitu saya harus agak diet dikit nih,
walaupun masih dalam batas2 normal dan perlahan2 tapi perut sama dada udah mulai balapan nih,makasih mas tipsnya
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/12/2010 16:46
Hehehe, prinsip dasar pada whole body movement tidak ada kaitannya dengan berat badan mas. :) Apalagi masalah perut yang maju mundur.  x-))

Kita memang orang-orang yang perutnya maju mundur ngga jelas sepertinya. HUehehhe.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 22/12/2010 16:59
Soalnya selalu tergoda dengan yang enak2 mas, jadinya latihan "whole belly movement" hehe :D :D :D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/12/2010 17:31
Huehehe, kalau yang seperti itu sih semua juga doyan mas :)

Back to postural muscle and phasic muscle.

Meski demikian, tidak lantas otot phasic menjadi terpinggirkan fungsinya. Masing-masing memiliki tempatnya tersendiri. Akan tetapi, pada prinsip dasar pengolahan tenaga yang dihasilkan dari prinsip "whole body movement" ini otot postural lah yang memegang peranan penting. Jadi, melatih otot postural ini sangat penting. Meski demikian, otot ini juga bisa mengalami disfungsi postural. Kapan? Yakni ketika otot-otot ini TIDAK DILATIH sebagaimana mestinya. Otot juga dapat mengalami syndrome lupa. Sehingga dikenal istilah "memory otot". Semakin sering otot dilatih, maka ia akan menghasilkan "memory otot" yang cukup. Semakin jarang dilatih, maka kinerja memory otot akan semakin lemah.

Misal kita akan melakukan gerakan pukulan. Nah, darimana kekuatan serangan pukulan itu muncul kalau melihat prinsip whole body movement ini? Umumnya pukulan berprinsip pada "melepas tenaga", yaitu yaitu hentakan tenaga yg dikeluarkan dalam suatu saat. Pada konsep ini, pukulan dimulai dari ujung kaki, telapak kaki, betis, lutut, paha, pinggang, punggung, bahu, lengan atas, siku, lengan bawah, pergelangan tangan dan berakhir di telapak tangan. Semua rangkaian otot ini bekerja hanya dalam satu hentakan pukulan saja.

Bayangkan otot-otot yg bekerja ini sebagai suatu rangkaian lokomotif, ketika otot ujung kaki berkerja – bayangkanlah sebuah lokomotif yg mulai bergerak dan ketika mencapai kecepatan maximum maka lokomotif ini menghantam lokomotif kedua (otot telapak kaki) – lokomotif kedua akibat dorongan dari lokomotif pertama mulai bergerak – pada saat yg bersamaan, lokomotif yg kedua mulai menjalankan mesinnya dan ketika mencapai kecepatan maximum lokomotif kedua menghantam lokomotif ketiga (otot betis) begitu seterusnya hingga lokomotif yg terakhir (otot telapak tangan).

Jika masing-masing lokomotif mempunyai kecepatan maximum 100 km/jam maka bisa dibayangkan berapa kecepatan lokomotif yg terakhir. Lokomotif 1 menghantam lokomotif 2 dgn kecepatan 100 km/jam, lokomotif ke 2 akan menghantam lokomotif ke 3 dgn kecepatan 200 km/jam dst. Dan pada saat lokomotif terakhir bekerja mungkin kecepatan sudah mencapai 1000 km/jam.

Teorinya memang sederhana tetapi dalam prakteknya sangat sulit, bisa saja salah satu lokomotif mendadak mogok – ketegangan berlebih bisa menyebabkan otot tidak bekerja sesuai dgn keinginan kita. Atau bisa saja pada saat salah satu lokomotif menghantam lokomotif berikutnya, ternyata lokomotif berikutnya ini terlalu cepat atau terlambat menjalankan mesinnya, tentunya hasil yg didapat tidak optimal.

Jika rangkaian lokomotif ini tidak bisa bekerja sama dgn baik yg terjadi adalah masing-masing lokomotif hanya akan menghilangkan kerja dari lokomotif lainnya. Pada kasus terburuk adalah jika akhirnya kita hanya berhasil menggerakan 2 – 3 lokomotif terakhir saja secara berurutan dgn baik – hasil yg seharusnya bisa mencapai 1000 km/jam mungkin hanya akan menghasilkan kecepatan 200-300 km/jam saja. Pukulan yg seharusnya whole body movement akhirnya menjadi pukulan biasa saja.

Ini menarik, bukan?

Sekarang bagaimana melatih agar bisa mendapatkan "melepas tenaga" pukulan tsb. Kunci agar mendapatkan "melepas tenaga" adalah kemampuan untuk merasakan otot-otot tubuh bekerja sebagai satu rangkaian kesatuan utuh. Kita harus mampu merasakan kapan dan dimana terdapat otot yg mulai bekerja dan otot yg mulai berhenti bekerja. Jika kita mampu merasakannya maka kita akan mampu mengerakkan seluruh otot tubuh kita dalam satu rangkaian kesatuan yg saling bekerja sama seperti rangkaian lokomotif yg saya jelaskan di atas.

Nah, pelatihan kuda-kuda dasar dan leyek ini bertujuan untuk memberikan kemampuan whole body movement berikut memory otot yang cukup yang dikendalikan oleh pikiran. Jadi, tujuan utama pelatihan kuda-kuda dan leyek ini bukan hanya untuk menguatkan otot kaki saja atau sebagai hindaran saja. Tujuan utamanya adalah agar murid mempunyai kepekaan merasakan tubuh sebagai satu rangkaian kesatuan utuh.

Jadi, bentuk dasar kuda-kuda yang dilatih dengan pemodelan jenis ini akan menghasilkan kondisi stabil otot-otot bagi tubuh. Ketika kondisi stabil otot-otot ini sudah dicapai, maka kekuatan akan meningkat. Meskipun tampaknya seorang praktisi hanya berdiri saja, tetapi sesungguhnya di dalam tubuhnya terjadi proses stabilisasi otot yang tinggi sehingga efek tenaga yang dihasilkan menjadi semakin besar. Itulah makna "tersirat" dari proses latihan dasar kuda-kuda dan leyek ini.

Di dalam Merpati Putih sendiri, kebanyakan tidak demikian penjelasannya. :) Saya mungkin keluar dari kotak "pakem" pemahaman kebanyakan pelatih yang ada pada pola pengajaran yang sudah umum.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 22/12/2010 17:56
Salute mas mpcrb [top] [top] [top]
penjabarannya sangat sistematis dan complit sekali sekali,


Sekarang bagaimana melatih agar bisa mendapatkan "melepas tenaga" pukulan tsb. Kunci agar mendapatkan "melepas tenaga" adalah kemampuan untuk merasakan otot-otot tubuh bekerja sebagai satu rangkaian kesatuan utuh. Kita harus mampu merasakan kapan dan dimana terdapat otot yg mulai bekerja dan otot yg mulai berhenti bekerja. Jika kita mampu merasakannya maka kita akan mampu mengerakkan seluruh otot tubuh kita dalam satu rangkaian kesatuan yg saling bekerja sama seperti rangkaian lokomotif yg saya jelaskan di atas.

Nah, pelatihan kuda-kuda dasar dan leyek ini bertujuan untuk memberikan kemampuan whole body movement berikut memory otot yang cukup yang dikendalikan oleh pikiran. Jadi, tujuan utama pelatihan kuda-kuda dan leyek ini bukan hanya untuk menguatkan otot kaki saja atau sebagai hindaran saja. Tujuan utamanya adalah agar murid mempunyai kepekaan merasakan tubuh sebagai satu rangkaian kesatuan utuh.

Jadi, bentuk dasar kuda-kuda yang dilatih dengan pemodelan jenis ini akan menghasilkan kondisi stabil otot-otot bagi tubuh. Ketika kondisi stabil otot-otot ini sudah dicapai, maka kekuatan akan meningkat. Meskipun tampaknya seorang praktisi hanya berdiri saja, tetapi sesungguhnya di dalam tubuhnya terjadi proses stabilisasi otot yang tinggi sehingga efek tenaga yang dihasilkan menjadi semakin besar. Itulah makna "tersirat" dari proses latihan dasar kuda-kuda dan leyek ini.


Salute mas mpcrb [top] [top] [top]
penjabarannya sangat sistematis dan complit sekali sekali,
jadi gatal pengen nyoba nih
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: raditya on 22/12/2010 21:06
makasih mas mpcrb mau jelasin sampe kayak gnie.  [top] [top] [top]

radit jadi lebih paham skrg. meski lom smuanya nangkep, tp dikit2 mulai ngena. tulisan mas radit copy ke flesdisk buat dibaca ntar dirumah. soalnya panjang bener sie. tapi asyik bacanya,radit suka.

oh ya mas,mo nanya lagi bole ga?

gini, knp sie kalo latian napas tu sering males? kalo latian gerak sie msh mayanlah. aplagi pengolahan. pegel mas. ada tips gag biar smangad?

trimz...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 23/12/2010 09:10
Mas Radit, seseorang akan berlatih dengan rajin kalau ia berada dalam dua kondisi ini:


Kuncinya adalah KESABARAN.

Sanggup atau tidak, bergantung kekuatan hati pelakunya.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 24/12/2010 13:36
Ada banyak manfaat dari olah nafas ini. Beberapa diantaranya sudah dievaluasi dan dianalisa oleh ilmuwan.

Saya coba posting salah satu artikel yang ditulis oleh Dr. Victor. S.U.

"Teknik pernafasan yang merupakan inti dari latihan-latihan diarahkan pada upaya mengaktifkan organ-organ tubuh. Pengejangan otot-otot (muscle) yang disertai penciptaan kondisi kekurangan oksigen, akan menimbulkan reaksi komplek dalam tubuh (organ-organ manusia) sehingga dicapai kondisi akhir berupa pengendoran otot, normalnya peredaran darah, normalnya syaraf dan organ-organ tubuh (yang tidak berpenyakit) menjadi lebih baik fungsinya. Hasil dari latihan akan sangat cepat terlihat baik langsung dirasakan oleh peserta latihan begitu selesai melakukan latihan. Dengan kata lain segala ketegangan dan hambatan substansi yang beredar ditubuh manusia, yang menimbulkan rasa lelah, lesu, loyo menjadi hilang.

Ilmu kedokteran olahraga menjelaskan gejala ini dengan teori aerobik dimana melibatkan Adenosin Tri Phosfat (ATP), hasil latihan Merpati Putih memperoleh manfaat yang lebih luas, seperti kelancaran peredaran darah, pengendoran syaraf, pengaktifan metabolisme dan kelenturan tubuh. Kelenturan tubuh bagi manusia merupakan indikasi tingkat kesempurnaan bekerjanya organ-organ tubuh yaitu bekerja secara sempurna. Bahkan pada tingkat kelenturan yang sangat baik akan membawa kondisi orang itu ketingkat kebijaksanaan normal, tidak emosional, bahkan menunjukkan penampilan tenang serta peningkatan kecerdasan (IQ,EQ,SQ). Dalam kondisi ketenangan bathin dan fisik, kemudian program latihan dilanjutkan dengan menitikberatkan pada pengendalian organ-organ tubuh. Pada periode ini kesadaran dipergunakan untuk menuntun/memandu signa-signal kemauan (niat/karsa) melalui syaraf-syaraf yang telah diaktifkan menuju sasaran-sasaran yang dikehendaki oleh otak. Kemudian signal-signal ini “diterjemahkan” melalui organ-organ yang sangat komplek dalam diri manusia, yang bekerja sebagai pengubah bentuk energi (energy conventer) menjadi getaran-getaran universal yang meyebabkan organ-organ lain menjadi “mengerti” dan “tanggap”. Kerjanya dengan prinsip resonansi/getaran melalui pengantar syaraf. Karena bekerjanya secara resonansi/getaran maka signal-signal kemauan yag dikeluarkan oleh kesadaran otak akan merupakan daya penyulut (triger energy,detonator) terhadap organ-organ tubuh sehingga energi resonansi ini dapat berkembang berlipat-lipat ganda besarnya.

Jadi latihan-latihan pada tahap ini adalah mengaktifkan fungsi organ-organ tubuh untuk bisa meresonir (mencapai kondisi resonansi) dengan signal-signal kesadaran. Namun dalam tahap ini manusia terbatas pada kesadaran intern dalam diri sendiri. Hasil nyata dari latihan ini adalah terciptanya stamina tinggi serta timbulnya daya kolosal. Dimana daya kolosal yang ditimbulkan oleh peserta latihan merupakan gabungan dari gaya mekanik oleh reaksi ATP. Kemampuan resonansi organ terhadap daya ATP dan pengarahan energi gabungan itu oleh kehendak outputnya berupa daya mekanik, daya getaran komplek dan daya medan energi magnito-bioelectric yang disebut sebagai POWER. "

(Sumber: Merpati Putih Pasuruan: http://silatmerpatiputih.blogspot.com/2009/12/aspek-kedokteran-dari-kebugaran-merpati.html)

Semoga berguna.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 24/12/2010 14:20
Ada banyak pendekatan di dalam menghasilkan tenaga. Ada yang didasarkan pada olah gerak, pada prinsip whole body movement, ada yang dari olah nafas, dsb. Masing-masing bisa saja saling overlap satu sama lain, dan bisa jadi ada yang begitu fokus pada salah satunya saja.

Bahwa sesungguhnya MP memiliki kelebihan dimana olah nafas diajarkan sedari awal anggota masuk pada tingkat dasar (meski dengan nafas kasar), tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membentuk suatu dasar tenaga dan pembentukan tenaga di dalam tubuh. Kurikulum baku pada tata nafas sudah sangat baik dan sudah mengcover bagaimana seharusnya anggota mendapatkan tenaga lebih.

Saya coba kupas singkat mengenai kurikulum tata nafas pada Merpati Putih dari tingkat Dasar hingga Kombinasi. Kenapa hanya sampai tingkat Kombinasi? Karena tingkatan ini adalah tingkatan produktif. Dan sekaligus juga tingkatan yang paling sering membuat anggota jadi bosan berlatih hingga akhirnya vakum. Padahal, kalau saja mereka melihat dengan benar ISI materinya maka sesungguhnya banyak manfaat yang bisa di dapatkan. Beberapa dari banyaknya olah nafas bisa berbeda bergantung pada kearifan lokal cabang dimana anggota berlatih, akan tetapi pakem tetap sama. Apa yang saya tulis disini adalah apa yang saya dapatkan dahulu. Beberapa sudah saya sesuaikan dengan kurikulum baku yang ada sekarang.

Dasar 1


Dasar 2


Balik 1


Balik 2


Kombinasi 1


Kombinasi 2


Jadi memang sesungguhnya MP sudah pas sebagai beladiri yang mengedepankan kualitas power anggotanya. Kalau ternyata ada anggota MP yang kualitas power anggotanya minim, wah ini harus dipertanyakan.  :o

Kalau olah nafas ini dipahami dengan benar, maka selain manfaat kesehatan, juga manfaat lain akan didapatkan.

Saya coba analisa pada posting berikutnya.

(berlanjut)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 24/12/2010 14:57
(lanjutan)

Secara garis besar metode pelatihan dan pengolahan tenaga dari senam pernafasan di Merpati Putih dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :

1. Senam Pernafasan Pengolahan

Fungsi dari Senam Pernafasan Pengolahan adalah membangkitkan tenaga yang berasal dari pusat tenaga dan terletak di antara pusar dan kemaluan (ada yang menyebutnya kundalini, prana, chi, dan lain sebagainya) untuk selanjutnya disalurkan ke bagian anggota badan yang dikehendaki. Pada Senam Pernafasan Pengolahan pola nafas dilakukan dengan membuang nafas melalui mulut (berdesis), menahannya dalam beberapa detik, lalu menarik nafas melalui hidung, menahannya di dada, pindahkan ke perut, dan seterusnya. Setiap kondisi menahan nafas di dada ataupun di perut disebut dengan saf. Lama setiap saf pada umumnya 5 sampai 7 detik. Batas maksimal 7 saf, artinya total menahan nafas menjadi 35 atau 49 detik, terdiri dari 4 saf dada serta 3 saf perut.

2. Senam Pernafasan Pembinaan

Senam ini diarahkan untuk pengaktifkan tenaga yang sudah di salurkan hasil dari proses Senam Pernafasan Pengolahan dan selanjutnya dapat menggunakannya sesuai dengan tujuan dari bentuk-bentuk Senam Pernafasan Pembinaan yang dilakukan. Pola Senam Pernafasan Pembinaan berbeda dengan Senam Pernafasan Pengolahan, di dalam Senam Pernafasan Pembinaan ini hanya dilakukan penahan nafas di dada saja, sedangkan cara buang dan penarikan nafas sama dengan yang dilakukan pada Senam Pernafasan Pengolahan. Setiap selesai Senam Pernafasan Pengolahan selalu dilanjutkan dengan Senam Pernafasan Pembinaan, dengan maksud agar tenaga yag baru saja dibangkitkan dapat langsung diaktifkan. Sedangkan Senam Pernafasan Pembinaan dapat dilakukan tanpa Senam Pernafasan Pengolahan terlebih dahulu, tentunya sesuai dengan tujuan latihannya seperti hanya memelihara keberadaan tenaga agar siap difungsikan setiap saat atau ditujukan untuk lebih memperlancar atau terbukanya tenaga tersalur.

***

Mari kita lihat pada tingkat Kombinasi 1, misalnya. Dengan beban halter pinggir seberat 14 kg, untuk kondisi 14 bentuk (padahal jumlah bentuknya lebih dari itu) akan dicapai:

14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

14 bentuk x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) x 14 kg (beban halter) = 392 kg total tubuh anggota menahan beban.

Dalam waktu kurang lebih 16 menit, tubuh pesilat mengalami pengejangan otot maksimum dengan kondisi respirasi oksigen extreem di dalam tubuh PLUS pengangkatan beban seberat 392 kg. Ini adalah salah satu bentuk pelatihan Isometric Exercize yang extreem dengan repetisi extreem! Apalagi apabila jumlah bentuknya bertambah, maka total beban yang harus diangkat oleh tubuh bisa hampir 500 kg untuk tiap kali latihan olah nafas pengolahan.

Kalau Isometric Exercize normal dengan standar gym saja sudah akan meningkatkan kinerja otot 3-5 persen setiap minggunya, apalagi dengan pelatihan extreem seperti ini. Jelas peningkatan kekuatan daya otot akan jauh lebih besar diatas rata-rata orang normal yang berlatih fitness atau aerobic berat sekalipun.

Saya teringat ucapan Mas Pung, bahwa apabila ada truk bermuatan batu dengan berat total 400 kg, maka seorang anggota MP tingkat Kombinasi 1 harus bisa memindahkannya SENDIRIAN dalam waktu 15 menitan saja. Dan apabila ada sebuah truk bermuatan batu dengan berat total 1 ton, maka seorang anggota MP tingkat Kombinasi 2 harus bisa memindahkannya SENDIRIAN dalam waktu kurang lebih 30 menitan saja. Kenapa? Karena tubuhnya terbiasa terlatih untuk menahan beban seberat hampir 400 kg dalam waktu 15 menitan saja.

Saya coba analisa lagi dari sudut pandang lain. Seorang anggota tingkat Kombinasi 2, ketika akan ujian naik tingkat nasional maka ia harus melakukan pematahan 9 jenis sasaran dengan tingkat kekerasan material standar nasional dengan perincian sbb:


Pernah dijelaskan dahulu oleh Mas Pung bahwa tingkat kekerasan beton cor standar nasional yang sudah mengalami uji laboratorium adalah 1 beton cor akan bisa dipatahkan oleh daya sebesar 600 kg. Jadi beton cor Merpati Putih standar ujian nasional sudah mengalami standarisasi dan uji laboratorium pada daya tekan. Dragon rel memiliki daya tekan patah 2x dari beton cor, dan batu kali memiliki daya tekan patah sama dengan beton cor. Adapun kikir, dan dragon R1 (dari yang saya ketahui) akan patah kalau kena daya 50 kg.

Artinya, dari daftar pematahan yang ada di tingkat Kombinasi 2 akan melibatkan :

2 dragon rel x 1200 kg = 2400 kg
2 batu kali x 600 kg = 1200 ton
5 beton cor x 600 kg = 3000 kg
5 dragon R1 x 50 kg = 250 kg
5 kikir x 50 kg = 250 kg
1 dragon R1 x 50 kg = 50 kg
1 batu kali x 600 kg = 600 kg
5 beton cor x 600 kg = 3000 kg
2 beton cor x 600 kg = 1200 kg

Total = 11.950 kg atau sekitar 12 ton!

Jadi untuk melewati uji pematahan benda keras dari tingkat Kombinasi 1 ke Khusus 1, seorang pesilat harus bisa memiliki daya minimal 12 ton yang didistribusikan pada semua sasaran yang ada. Artinya, kalau ada truk bermuatan 12 ton, maka seorang tingkat Khusus 1 (ideal) harus bisa memindahkan batu dalam waktu 1-2 jam saja. Demikianlah dulu mas Pung menjelaskan.

Hal ini dikarenakan karena memang jumlah pelatihan olah nafas pada tingkat yang lebih tinggi akan meningkat pada repetisi dan jumlahnya sehingga jumlah berat beban yang diterima tubuh juga menjadi lebih extreem.

Masalahnya adalah, sedikit sekali anggota yang MAU MELEWATI TAHAP LATIHAN INI. Kebanyakan sudah menganggap berat pelatihan olah nafas seperti ini. Hingga akhirnya, tujuan utama terbentuknya power tidak tercapai. Tentu saja hal ini akan menurunkan standar kualitas kekuatan pesilat itu sendiri.

Jika mau kembali pada hakekat olah nafas Merpati Putih, maka seharusnya SELURUH BEBAN OLAH NAFAS PENGOLAHAN dilatih oleh anggota sesuai tingkatannya. Jika ini terjadi, maka kualitas standar power anggota MP akan mencapai kondisi standar yang ada.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 24/12/2010 19:26
Sebagai tambahan ilustrasi.
Pada UKT dan Tradisi MP 15-19 Desember 2010 yang baru lalu, ada peserta ujian Dasar II ke Balik I dari Kaledonia Baru/Nouvelle Caledonie, yang   datang terlambat menyusul rombongannya karena harus ulangan dulu di sekolahnya.
Urutan ujian dibalik, uji stamina dulu (route gunung Butak), disusul uji tenaga, baru uji tata beladiri.
Materi uji tenaga dilalap habis.
Mengingat bahasa sehari hari adalah bhs Perancis, maka ketepatan dan kecepatan menerima instruksi gerakan, baik tunggal maupun rangkaian gerak yg panjang, instruksi nmr rangkaian gerak , tangkap kunci dll dalam bhs Indonesia, sungguh mengagumkan. Para seniornya menjamin, bahwa peserta hanya dilatih sesuai materi tingkatan apa adanya.
Karena peserta luar negeri yang ikut UKT Nas, tidak dibatasi dari tingkat Kombinasi II ke Khusus I dan seterusnya, prestasi yang sangat baik juga ditunjukkan oleh peserta ujian Kaledonia yang lain.

Pesan yg ingin saya sampaikan adalah, mereka BERLATIH SUNGGUH2.
Selain menabung untuk bisa bergantian ikut UKT di Yogya, meski sampai Kombinasi I ke Kombinasi II bisa ujian di Kaledonia baru.
Yang terlihat, peranakan suku Jawa yg datang makin berkurang, lebih banyak suku asli dan peranakan perancis, lengkap dengan upacara kulonuwun khas pasifik. Sikapnya juga takzim pada senior2nya.
Prestasi nilai ujian peserta anak negri ini yang makin kurang memuaskan, mencerminkan latihan sekedarnya, yang tentu menjadi keprihatinan kita bersama.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 24/12/2010 19:35
Beberapa tahun yang lalu saya pernah berdiskusi dengan kawan praktisi beladiri diluar negeri. Ia tertarik dengan uraian saya bahwa Merpati Putih di dalam pelatihannya telah menggunakan pendekatan Isometric Exercize, Dynamic Tension Exercise, dan Plyometric Exercize secara extreem. Ia penasaran dan ingin tahu bagaimana analisa saya mengenai kemampuan tenaga explosive pada Merpati Putih yang di dapat dari hasil latihan extreem tersebut.

Apabila dianalisa sejak tingkatan Dasar 1 hingga Kombinasi 2 akan didapat kondisi yang sangat menarik.

Berikut saya sarikan dari apa yang pernah saya diskusikan dengan beliau. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Merpati Putih sesungguhnya TELAH melakukan Isometric Exercize, Dynamic Tension Exercize, dan Plyometric Exercize SECARA EXTREEM.

Dasar 1

Analisa:
Lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah : 14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

Daya tahan otot tubuh terhadap beban : BELUM ADA.

Pada tingkatan Dasar 1 ini, tubuh akan dipaksa untuk berusaha menyesuaikan dengan ritme olah nafas pengolahan yang bersifat Isometric Exercise. Persiapan untuk menuju olah nafas berikutnya pada tingkatan yang akan datang dengan menggunakan beban. Pada kondisi ini, otot-otot seharusnya sudah siap untuk menerima tingkat isometric yang lebih tinggi.

Dasar 2

Analisa:
Lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah : 14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

Daya tahan otot tubuh terhadap beban adalah : 14 bentuk x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) x 2 kg (beban bata) = 48 kg, atau dibulatkan menjadi 50 kg total tubuh anggota menahan beban.

Repetisi normal dilakukan setiap minggu minimal 1x latihan olah nafas. Jadi dalam 6 bulan terjadi 1 x 4 (minggu) x 6 (bulan) = 24 kali. Meskipun seringkali di dalam implementasi setiap kali berlatih, olah nafas pengolahan ini selalu diberikan. Jadi, kondisinya menjadi 24 x 2 = 48 kali latihan olah nafas.

Total isometric exercize selama 6 bulan adalah 24 x 50 kg = 1200 kg (1,2 ton). Artinya total beban otot tubuh pada kondisi nafas pengolahan pada rentang waktu tingkatan ini adalah 1,2 ton. Kondisi ini dicapai APABILA berlatih olah nafas pengolahan HANYA 1x seminggu. Kalau berlatih 2x seminggu artinya 1,2 ton x 2 = 2,4 ton.

Balik 1

Analisa:
Lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah : 14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

Daya tahan otot tubuh terhadap beban adalah : 14 bentuk x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) x 4 kg (beban pot semen) = 112 kg total tubuh anggota menahan beban.

Repetisi normal dilakukan setiap minggu minimal 1x latihan olah nafas. Jadi dalam 6 bulan terjadi 1 x 4 (minggu) x 6 (bulan) = 24 kali. Meskipun seringkali di dalam implementasi setiap kali berlatih, olah nafas pengolahan ini selalu diberikan. Jadi, kondisinya menjadi 24 x 2 = 48 kali latihan olah nafas.

Total isometric exercize selama 6 bulan adalah 24 x 112 kg = 2688 kg atau dibulatkan menjadi 2700 kg (2,7 ton). Artinya beban total otot tubuh pada kondisi nafas pengolahan pada rentang waktu tingkatan ini adalah 2,7 ton. Kondisi ini dicapai APABILA berlatih olah nafas pengolahan HANYA 1x seminggu. Kalau berlatih 2x seminggu artinya 2,7 ton x 2 = 5,4 ton.

Balik 2

Analisa:
Lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah : 14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

Daya tahan otot tubuh terhadap beban adalah : 14 bentuk x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) x 8 kg (beban pot semen yang digantung ditengah bambu raut) = 224 kg total tubuh anggota menahan beban setiap kali berlatih.

Repetisi normal dilakukan setiap minggu minimal 1x latihan olah nafas. Jadi dalam 6 bulan terjadi 1 x 4 (minggu) x 6 (bulan) = 24 kali. Meskipun seringkali di dalam implementasi setiap kali berlatih, olah nafas pengolahan ini selalu diberikan. Jadi, kondisinya menjadi 24 x 2 = 48 kali latihan olah nafas.

Total isometric exercize selama 6 bulan adalah 24 x 224 kg = 5376 kg atau dibulatkan menjadi 5400 kg (5,4 ton). Artinya beban total otot tubuh pada kondisi nafas pengolahan pada rentang waktu tingkatan ini adalah 5,4 ton. Kondisi ini dicapai APABILA berlatih olah nafas pengolahan HANYA 1x seminggu. Kalau berlatih 2x seminggu artinya 5,4 ton x 2 = 10,8 ton.

Kombinasi 1

Analisa:
Lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah : 14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

Daya tahan otot tubuh terhadap beban adalah : 14 bentuk x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) x 14 kg (berat halter beban pinggir) = 392 kg total tubuh anggota menahan beban setiap kali berlatih.

Repetisi normal dilakukan setiap minggu minimal 1x latihan olah nafas. Jadi dalam 6 bulan terjadi 1 x 4 (minggu) x 6 (bulan) = 24 kali. Meskipun seringkali di dalam implementasi setiap kali berlatih, olah nafas pengolahan ini selalu diberikan. Jadi, kondisinya menjadi 24 x 2 = 48 kali latihan olah nafas.

Total isometric exercize selama 6 bulan adalah 24 x 392 kg = 9408 kg atau dibulatkan atas menjadi 9500 kg (9,5 ton). Artinya beban total otot tubuh pada kondisi nafas pengolahan pada rentang waktu total tingkatan ini adalah 9,5 ton. Kondisi ini dicapai APABILA berlatih olah nafas pengolahan HANYA 1x seminggu. Kalau berlatih 2x seminggu artinya 9,5 ton x 2 = 19 ton.

Kombinasi 2

Analisa:
Karena berat beban sama dengan tingkat Kombinasi 1, maka hitungan normalnya akan menghasilkan jumlah yang sama pada kondisi 14 bentuk (meskipun jumlah bentuk tata nafas pengolahan Kombinasi 2 lebih dari 14 bentuk).

Lama waktu yang diperlukan untuk olah nafas pengolahan adalah : 14 bentuk x 35 detik (ambil nilai minimum) x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) = 980 detik (16 menit).

Daya tahan otot tubuh terhadap beban adalah : 14 bentuk x 2 (jumlah pelaksanaan untuk 1 bentuk) x 14 kg (berat halter beban pinggir) = 392 kg total tubuh anggota menahan beban setiap kali berlatih.

Repetisi normal dilakukan setiap minggu minimal 1x latihan olah nafas. Jadi dalam 6 bulan terjadi 1 x 4 (minggu) x 6 (bulan) = 24 kali. Meskipun seringkali di dalam implementasi setiap kali berlatih, olah nafas pengolahan ini selalu diberikan. Jadi, kondisinya menjadi 24 x 2 = 48 kali latihan olah nafas.

Total isometric exercize selama 6 bulan adalah 24 x 392 kg = 9408 kg atau dibulatkan atas menjadi 9500 kg (9,5 ton). Artinya beban total otot tubuh pada kondisi nafas pengolahan pada rentang waktu total tingkatan ini adalah 9,5 ton. Kondisi ini dicapai APABILA berlatih olah nafas pengolahan HANYA 1x seminggu. Kalau berlatih 2x seminggu artinya 9,5 ton x 2 = 19 ton.

***

Demikianlah analisa dari hasil latihan Isometric Exercize ala Merpati Putih bernama Nafas Pengolahan dari tingkat Dasar 1 hingga Kombinasi 2 yang pernah saya share dengan rekan di luar negeri. Setelah saya berikan analisa statistik data ini, kemudian ia berkata "Man, that's crazy! Unbelievable! That's really extreem!".

Dan memang benar, bahwa ini adalah salah satu pelatihan Isometric Exercize paling extreem di dunia.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 25/12/2010 12:35
wah mas agung emang paling oke, penjelasannya lengkap kap kap, salute  [top]  [top]  [top]

oh iya mau mengumumkan lagi ah :


PENGUMUMAN

di tawarkan kepada agan - agan atau temannya yang sudah bisa getaran dan berdomisili di daerah jabodetabek untuk mendemokan getaran kepada salah satu moderator forum martial arts di kaskus karena beliau sangat penasaran menurut percakapan saya dengan si moderator beliau sudah mendatangi lebih dari 10 kolat, 2 gagal, 8 menolak, sisanya nggak enak karena terkesan menantang..

Dari pengalaman tersebut kan bisa saja beliau beranggapan kalau getaran itu hoax, kan sayang banget tuh, bagi yang cinta dengan perguruan kita ini mohon bantuannya atau tolong dicarikan temannya yang bisa getaran untuk di demokan ke beliau itu, diutamakan yang berdomisili di sekitaran jakarta..

saya juga sudah bertanya ke mas hemi, apakah boleh mendemokan getaran ke orang yang penasaran dengan getaran, jawab mas hemi :

"tidak ada larangan mas selama itu baik, dan BUKAN untuk aksi gagah2an atau pamer.."

kalau demonya sukses kan nama perguruan kita akan clear lagi di kaskus setelah di cemari oleh orang yang bikin thread MP itu hoax..
soalnya si moderator akan memposting hasilnya di kaskus..
bagi yang bersedia silahkan PM saya..

-mohon bantuannya dengan sangat-
-trims-
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 25/12/2010 13:09
Prestasi nilai ujian peserta anak negri ini yang makin kurang memuaskan, mencerminkan latihan sekedarnya, yang tentu menjadi keprihatinan kita bersama.

Salam.
iya betul sekali itu mas, saya juga merasakannya koq, kalau saya bandingkan dengan ujian saya dulu tahun 96-98an, yang sekarang ini ujiannya kurang greget, kurang keras, tidak seperti dulu, mungkin karena faktor pelatihnya dan juga faktor pesertanya..

kalau boleh tanya yang kemarin itu setelah saya meninggalkan pagupon untuk kembali mengikuti tradisi, mas s*** (pengda) bilang apa saja mas?
firasat saya dan kawan kurang enak, soalnya ada beberapa fakta yang beliau ungkapkan ada beberapa yang kontradiksi dengan yang saya dan teman2 saya slihat di lapangan..

terimakasih banyak atas bantuannya tempo hari mas..
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/12/2010 13:42
@ mas Acepilot.

1. Setelah pertemuan itu, Pengda Jatim gak bilang apa apa. Silahkan dilanjut dengan baik2 menyelesaikan masalah MP cabang Malang dgn kolat UKM UNIBRAW. Kan dikawal Ketua I PPMP Sebaiknya nanti, dari kolat UKM ada yg masuk kepengurusan cabang, sehingga tidak ada overlaping semua kebijakan.

2. Sebaiknya tlp mas Hemi untuk ditunjuk peraganya. Syukur kalau mas Mpcrb bersedia.

3. Saya baca sekilas, model di kaskus kok berkembang sampai tantang2an. Bukan sharing pengetahuan dan saling menghormati spt di forum SS. Beda pendapat gpp, tidak perlu "ngasorake" pihak lain.
Namun demikian, kalau sudah terlanjur ditantang ya harus diselesaikan dengan baik, agar sama2 puas.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/12/2010 18:11
@mas Prapto, forum Kaskus memang bersifat liberal, bahkan sangat liberal. Satu-satunya batasan ketika suatu thread akan ditutup adalah apabila ada klaim resmi secara hukum dari suatu instansi terhadap pencetus thread ATAU apabila terjadi kesadaran dari si pemilik thread untuk menutupnya sendiri ATAU kebijaksanaan dari moderator dengan pertimbangan subyektif. Selain itu, thread akan dibiarkan berkembang entah bagaimana sampai titik yang tidak bisa ditentukan akhirnya.

Ada beberapa keuntungan dan kerugian pada pemodelan jenis ini. Keuntungan utama adalah bahwa semua orang berhak untuk berbicara apapun, terlepas apakah yang berbicara memperhitungkan norma atau tidak. Ia tetap punya porsi yang sama untuk berbicara. Pun seandainya topiknya begitu kontroversial yang menyangkut kredibilitas suatu instansi/perguruan silat (apabila kasusnya mengenai martial arts). Selama dari perguruan ybs tidak mengajukan nota protes resmi dengan mekanisme Kaskus yang ada, maka thread itu akan tetap dibiarkan sebagai bagian dari hak berbicara. Kerugiannya adalah Kaskus bisa dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk membentuk opini (terlepas benar atau tidaknya). Mau dibentuk menyesatkan atau mengarahkan ke jalan yang benar juga bisa. Terutama apabila dari pihak perguruan/instansi yang merasa kredibilitasnya dirugikan tidak melakukan counter balik, maka forum ini menjadi "tempat hidup" yang luar biasa untuk ekosistem semacam ini. Itulah sebabnya terdapat thread-thread yang aneh, ngawur, luar biasa aneh, luar biasa ngawur, dan "uedhaan". Kita tidak punya kuasa untuk menghentikan selain daripada fight back melalui argumen (kalau personal) atau fight back secara formal institution dengan mengirimkan nota protes kepada moderator/admin forum ybs.

Demikian analisa singkat saya mengenai Kaskus.

***

Terkait masalah tantang menantang, hal itu sudah banyak sekali di forum Kaskus. Mengenai perguruan-perguruan silat di Indonesia sudah banyak diulas, bejibun kalau mau dicek satu persatu. Ada yang komentarnya umum, biasa-biasa saja, ada yang nyelekit, ada juga yang menghina dan merendahkan hingga kuping panas. :)

Spesifik untuk Merpati Putih, thread "Ternyata Merpati Putih itu Hoax" adalah thread terseru sepanjang masa. :) Karena begitu panjang perdebatan untuk mengcounter opini-opini menyesatkan yang berkembang disana dibanding perguruan-perguruan lain yang dibahas disitu. Bahkan thread yang disinggung oleh mas acepilot juga tidak sepanjang thread MP itu hoax. :)

Sejujurnya saya melihat bahwa sudah saatnya Merpati Putih memiliki semacam Public Relation untuk dunia maya. Karena apabila dibiarkan, maka informasi-informasi yang salah akan menjadi "bola liar". Pada akhirnya akan merugikan institusi itu sendiri. Sebagai contoh, di zaman sekarang untuk mencari informasi mengenai perguruan silat X tidak perlu lagi kita datang ke tempat ybs, cukup gunakan jari melalui internet, maka kita akan bisa melihat informasi-informasi yang dibutuhkan mengenai perguruan X tersebut. Bayangkan apabila informasi ini salah atau ngawur, maka efeknya akan tidak baik. Yang seharusnya di dapat penyeimbang informasi dari perguruan X tsb malah kalah ditelan informasi lain yang menyesatkan. PPMP saya lihat belum menyentuh masalah ini.

Saya sudah mengatakan kepada mas Arif dari PPMP saat kebetulan diajak ikut meeting membahas USMP bersama Mas Pung, mas Hemi, mas Avi, mas Pempi, dan senior-senior lain (Jakarta Selatan) di Prapanca, Kemang, Jakarta, dengan menawarkan bantuan apabila ada tenaga dan kemampuan saya yang dirasa bisa digunakan. Jadi, tinggal tunggu informasi dari beliau saja.

Yang jelas, memang sudah sebaiknya PPMP memiliki satu website yang central yang berisi semua hal ikhwal mengenai Merpati Putih secara terpusat. Semua link-link diluar yang berhubungan dengan informasi Merpati Putih, bisa didapatkan pada website ini. Entah kapan akan terwujud. :) Kita tunggu saja.

***

Mengenai thread tantangan tersebut, saya baru dikabari oleh mas acepilot dan sedang membaca dari halaman pertama untuk mengetahui sudut pandang penanya seperti apa.

Saya tidak berkeberatan untuk mendemokan jika memang dirasa perlu.

Ada sebuah pengalaman menarik pada kaskus yang saya coba share. Awal join saya pada Kaskus adalah karena thread Menggugat Genius Mind Consulting (GMC). Kenapa? Karena penasaran melihat demo GMC di Cirebon dimana anak-anak bisa berjalan dengan mata tertutup, bisa menebak kartu, menggambar pola, membaca, dsb. Ini begitu mirip dengan getaran pada Merpati Putih. Beberapa senior getaran Cirebon juga akhirnya mengadakan pertemuan untuk membahas ini. Hadir mas Ngadingu (Khusus 2), saya, mas Edi Lay (Khusus 1), mas Joko (Khusus 3), dll. Intinya membahas apakah ada "bocoran" teknik pelatihan getaran MP pada GMC? Kemudian salah satu dari kami mencoba mengikutsertakan seorang anak pada pelatihan GMC. Dilihat bagaimana metode pembelajarannya. Beberapa ambigu, karena arahnya tidak menuju kecerdasan holistik (seperti yang ditawarkan), tetapi malah kemampuan "supranatural". Disitulah awal saya berkenalan dengan forum Kaskus.

Awalnya tidak berniat untuk ikut-ikutan tantang menantang, tapi pada suatu posting pada thread tsb, ada seseorang yang bersedia memberikan sejumlah hadiah yang cukup menggiurkan dengan mengatakan bahwa siapapun yang bisa berjalan, halang rintang, dan membaca dengan mata tertutup akan diberikan hadiah besar (saat itu kalau tidak salah bernilai puluhan juta juga plus mobil Avanza). Benar atau tidaknya, saya tidak tahu. Saya iseng berniat menjawab tantangan tersebut dengan mengirimkan PM yang berisi jawaban tantangan. Kenapa saya lakukan? Karena disitu penanya mengkaitkan dengan Merpati Putih, jadi sebagai anggota, tergerak saja untuk "ingin tahu seperti apa".

Percakapan dimulai dari Private Message yang berisi jawaban dari tantangan orang tsb. Tetapi dijawab "ngeles" dengan dikatakan bahwa "hadiah ini bukan untuk anggota Merpati Putih, tapi hanya untuk member GMC yang mengklaim bisa melakukan itu". Kemudian saya katakan lagi bahwa "tidak apa-apa, kita tidak butuh hadiahnya, kita hanya ingin Anda merekam dan mempublikasikan pada Kaskus bahwa Merpati Putih tidaklah seperti yang Anda bayangkan". Guess what? He never answer my email. :) Sampe detik ini tidak pernah dijawab lagi, tapi diskusi dan tantangan pada thread tetap muncul.

Kondisi ini cukup menarik. Pertama, secara tidak langsung mereka sesungguhnya mengakui bahwa Merpati Putih tidak hoax. Keilmuan getaran adalah real. Hanya saja, posisi mereka di dunia maya rupanya "sudah cukup bergengsi", sehingga akan menjadi "rendah" apabila mereka mau mengakui itu. Tidak semua orang bisa punya keberanian untuk posting mengenai pengakuan kekalahan atau kekurangan pada posisi yang "sudah dianggap tinggi" oleh diri mereka sendiri. Terutama oleh pengakuan tidak resmi dari para crowds (para simpatisan pendukung).

Kedua, bahwa tidak pernah ada seorangpun yang bersedia memberikan sejumlah uang dalam jumlah besar (apalagi plus Mobil Avanza baru) secara sia-sia TANPA SYARAT. Ini tipikal James Randy, yang saya yakin kalaupun Tuhan dihadirkan di depan dia juga akan dicara cara agar dianggap hoax. :)

Ketiga, tipikal forum liberal adalah tipikal "keyboard fighter" karena kita tidak akan pernah tahu siapa mereka, tidak akan pernah bisa ketemuan dengan mereka, kecuali dalam lingkup kecil pertemanan.

Keempat, tantangan saya membuahkan hasil berupa pertemanan dengan salah seorang rasionalis yang tergabung di dalam Indonesia Rationalist Institute (IRI). Saya akan jelaskan pada post terpisah diskusi apa yang terjadi antara saya dan si rationalist ini, tapi ini menarik dan bisa menjadi masukan untuk Merpati Putih.

***

Demikianlah tanggapan saya. Jadi, kalaupun mas Ace "merasa tertantang", itu wajar karena bahasanya memang bahasa tantangan :) Tapi ketika kita coba jawab tantangannya, belum tentu seperti yang diharapkan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/12/2010 19:15
Diskusi saya akan saya sarikan berikut ini:

Para skeptis menganggap bahwa ada kemungkinan praktisi getaran MP mengintip pada saat melakukan demo. Kecurigaan ini didukung dari pengamatan selama demo MP, banyak praktisi getaran MP yg melakukan demo dgn kepala mendongak ke atas. Sehingga kecurigaan praktisi getaran MP mengintip semakin besar. Bisa dilihat di Youtube :


Teknik mengintip ini memang biasanya dilakukan pesulap ketika melakukan aksi tutup mata, itu sebabnya para pesulap mencurigai praktisi MP juga melakukan teknik yg sama. Untuk membersihkan kecurigaan yg berkembang saat ini, mungkin ada baiknya MP memperbaiki sistem penutup mata yg digunakan dan juga dibuat SOP pelaksanaan demo yg baku untuk seluruh cabang MP.

***

Di bawah ini ada beberapa metode yg sering ditawarkan orang yg skeptis - dan juga pesulap - untuk menguji kemampuan melihat dgn mata tertutup.

http://www.sabdaspace.org/cara_mudah_menguji_genius_mind_consultancy_gmc

Seorang user bernama Hai-Hai mengatakan : "Gunakan tiga jari tangan kanan untuk menutupi mata kanan dan gunakan tiga jari kiri untuk menutupi mata kiri. Kedua ujung jari tengah berhadapan di puncak hidung. Apabila jari tangan menutup mata dengan baik, maka anda mustahil melihat apapun. Yang anda lihat hanya kegelapan. Handai taulan sekalian, itulah cara paling sederhana untuk menguji apakah anak-anak GMC memang mampu melihat dengan mata tertutup."

Saya rasa metode Hai-Hai yg sederhana tanpa penutup mata dan hanya menggunakan 3 jari menekan kelopak mata bisa dijadikan metode yg efektif untuk menjawab keraguan pesulap. Karna bagi pesulap semakin canggih penutup mata akan semakin mengundang kecurigaan, ini bisa dilihat komentar Gustomy dari (Indonesia Rationalist Institutes) IRIs :

"Soal teknik2 MP dalam menutup mata, sebagai pengamat sulap saya juga menyangsikan beberapa hal. 1) mengapa perlu koin? dan plester/lakban, 2) mengapa perlu di beri rangkap penutup mata, 3) mengapa ketika sudah "seperti" tidak bisa melihat itu, masih diperlukan kantong untuk menutup semua kepala ??

Bagi saya justru semakin mencurigakan, sehingga saya pernah meminta mereka untuk menggunakan ikat kepala mereka sendiri, tanpa embel2 lain, tapi susah payah kemudian ditolak. Sampai hari ini tak satupun yang mau saya uji, sekedar memastikan tidak ada trik dan kebohongan. "

Dikutip dari : http://www.alambawahsadar.com/forum/viewtopic.php?f=14&t=1012&start=15  ( by Gustomy » Thu Jul 15, 2010 11:23 am )

Jadi justru metode 3 jari Hai-Hai yg sederhana ini yg mungkin bisa menjawab keraguan para pesulap. Misalnya pada saat demo getaran penonton - dari belakang - menutup mata praktisi getaran MP dgn 3 jari tangannya kemudian praktisi getaran MP dgn menggunakan telapak tangannya membaca tulisan, menebak warna, membaca jenis kartu dll dsb. Untuk meminimalkan tuduhan mengintip sebaiknya object yg ingin dideteksi diletakan sejajar kepala. Metode yg sederhana tapi efektif - saya rasa.

Mungkin teknik 3 jari Hai-Hai ini bisa dijadikan standard pengujian dan demo MP untuk menjawab keraguan para pesulap.

***

Pada artikel yg sama dgn di atas  ( http://www.sabdaspace.org/cara_mudah_menguji_genius_mind_consultancy_gmc  ) Seorang pelatih sulap  - Vantillian- menantang GMC untuk menggunakan penutup mata yg biasa digunakan dalam trik sulapnya. Penutup Mata tsb bisa dilihat pada kolom comment artikel tsb. Terdiri dari besi tipis dan dijamin tidak bisa mengintip setelah itu masih ditutupi kain hitam.

Mungkin ada baiknya MP memesan alat penutup mata tsb kepada Vantillian, dan menggunakan penutup mata tsb pada demo getaran MP. Ini bisa menjawab tantangan Vantillian dan juga kecurigaan berbagai pihak. Tapi tentu saja jika praktisi getaran MP mampu melakukan dgn penutup mata tsb belum tentu bisa menghilangkan kecurigaan semua kalangan terutama para pesulap.

Vantillian berani menggunakan penutup mata tsb, tentunya sebagai pesulap dia sendiri tahu dimana titik lemah penutup mata tsb. Dan tentu saja dia tahu bagaimana melakukan aksi tutup mata dgn penutup mata tsb dgn menggunakan trik sulap. Seperti yg dia katakan sendiri :

"Metode Blindfold ala M2MC sebenarnya juga dapat dilakukan oleh orang lain. Namun dalam pengaktifannya, metode ini butuh sedikit teknik. Ketika alat di atas dipakaikan ke orang lain, maka org tsb tidak akan bisa melihat apalagi mengintip. Tetapi ketika anak M2MC yang memakainya, bahkan sekaligus langsung, maka mereka dapat MENEBAK KARTU ataupun OBJEK di depan hidung dengan mudah.

Apalagi teknik ini akan digabungkan dengan METODE CERMIN, teknologi CANGGIH lainnya ( yang salah satunya sudah dibongkar di blog Hai-Hai). Bahkan anak yang blindfold dapat disuruh BALIK dan masih dapat MENEBAK kartu di belakangnya."

Jadi cara ini memang tidak bisa menjawab semua keraguan tetapi setidaknya MP sudah menjawab tantangan Vantillian bahwa MP yg tidak mengetahui trik sulap tetap mampu melakukan aksi tutup mata dgn penutup mata tsb.

***

Sedang Lucifer - seorang pesulap lain - pada (http://www.alambawahsadar.com/forum/viewtopic.php?f=9&t=729&start=30) mengatakan :

"Dari detail yang disampaikan oleh bro Sakera, sebenarnya prosedurnya sudah tidak asing lagi di dunia sulap (bukan hal baru),....tapi tentang bagaimana cara kerjanya saya dan mungkin juga temen2 pesulap lain tidak akan membongkarnya disini (kode etik pesulap)... Cuman, kalo memang mau membuktikan, Sedikit masukan aja,...kalo mau benar2 menguji, silahkan dilakban matanya dari segela sisi dan jangan sisakan 1 celahpun"

Metode pengujian yg diajukan Lucifer adalah melakban mata dari segala sisi, dari atas-bawah, kanan-kiri, diagonal kanan-kiri, diagonal kiri kanan dgn lakban yg cukup panjang hingga menetupi semua celah. Metode ini agak beda dgn metode Band-Aid MP yg biasanya hanya satu dan menutup secara mendatar saja.

Pada ( http://www.alambawahsadar.com/forum/viewtopic.php?f=9&t=729&start=45 ) Lucifer berhasil membuktikan GMC Hoax, yaitu dgn meletakan kartu sejajar kepala dari anak GMC yg sudah diaktifkan otak tengahnya dan tangan penguji menekan kelopak mata anak tsb - anak tsb ternyata gagal menebak kartu tsb karna tidak bisa mengintip.

***

Saya rasa ada baiknya MP mengumpulkan berbagai metode lain yg mungkin diajukan para skeptis - dan juga pesulap - untuk menguji kemampuan getaran. Kemudian menjadikan semua metode tsb sebagai standard pengujian Getaran dalam kurikulum MP.

Selain itu saya rasa perlu perbaikan SOP dalam demo misalnya praktisi getaran MP dilarang mendongakan kepalanya pada saat pelaksaan demo. Jika melakukan pendeteksian (tulisan, warna, kartu dsb) dilakukan dgn meletakan object deteksi sejajar kepala bukan di bawah kepala. Dan perbaikan lainnya.

Penutup mata model pesulap seperti yg ditawarkan Vantillian juga bisa dijadikan rujukan untuk membuat penutup mata standard MP yg anti ngintip - misalnya mengapa tidak menggunakan kacamata model perenang yg kacanya diganti besi tipis dan sebelum itu mata praktisi getaran MP ditutup dgn lakban besarnya melebih besar kacamata dan dilakukan dari segala sisi seperti saran Lucifer . Kemudian penutup mata ini dijadikan standard penutup mata MP.

Dengan perbaikan kurikulum getaran MP maka diharapkan bisa mengurangi kecurigaan pihak luar pada MP. Mas Agung tolong disampaikan kepada Dewan Guru MP ataupun pihak yg berwenang di MP tentang kemungkinan perbaikan kurikulum metode getaran ini demi kemajuan MP.

Kegagalan MP pada Tantangan Randi dan juga tuduhan MP Hoax dari para skeptis - dan juga pesulap - saya rasa sebaiknya kita sikapi dgn melakukan perbaikan dalam Metode Pelatihan dan Pengujian serta SOP pelaksanaan demo Getaran MP. MP sudah menjadi kebanggaan bukan saja praktisi MP tetapi juga bangsa Indonesia - jadi sudah sewajarnya MP menjawab semua tantangan dan keraguan yg berkembang selama ini.

***

Saya, dan beberapa kawan menggunakan metode Lucifer (lihat penjelasan saya diatas). Metode pengujian yg diajukan Lucifer adalah melakban mata dari segala sisi, dari atas-bawah, kanan-kiri, diagonal kanan-kiri, diagonal kiri kanan dgn lakban yg cukup panjang hingga menetupi semua celah. Metode ini agak beda dgn metode Band-Aid MP yg biasanya hanya satu dan menutup secara mendatar saja.

(http://i54.tinypic.com/211p35u.png)
(http://i56.tinypic.com/2a7u2di.png)
(http://i56.tinypic.com/2m454zn.png)
(http://i53.tinypic.com/30rxqvq.png)
(http://i54.tinypic.com/esnlmc.png)

Demikian, semoga ada manfaatnya bagi kemajuan Merpati Putih.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/12/2010 19:29
Dari sisi Merpati Putih sendiri, khususnya dari kacamata praktisi getaran, tidak masalah pemodelan tutup mata seperti apapun juga karena memang tidak menggunakan mata. Akan tetapi, para skeptis ini tentunya melihat dari hasil akhir. Kalau ada pesulap yang bisa melakukan itu dan hasil akhirnya sama, dimana yang satu menggunakan teknik sebenarnya (praktisi MP) sedangkan pesulap menggunakan trik, masyarakat tidak akan tahu.

Menariknya adalah, para pesulap ini menggunakan pendekatan yang cukup ilmiah di dalam "merancang tutup mata" versi mereka. Mereka tahu, area mana yang bisa digunakan sebagai "celah melihat". Meski sebesar lubang jarumpun. Jadi, kalau orang normal menggunakan tutup mata mereka, dijamin mereka tidak akan bisa "melihat". Tetapi kalau praktisi mereka sendiri, maka mereka akan bisa "melihat".

Dari seringnya diskusi intens dengan rekan-rekan sahabat dari Indonesia Rationalist Institutes (IRIs), saya melihat bahwa memang ada baiknya beberapa dari metode tutup mata mereka kita gunakan sebagai bagian dari kelengkapan pada SOP demonstrasi getaran seperti yang saya sebutkan pada posting saya sebelum ini. Setidaknya, bisa digunakan sebagai masukan bagi Merpati Putih bahwa kita tahu beberapa teknik yang biasa digunakan oleh para pesulap saat melakukan "tutup mata", dan kita bisa lewati itu semua dengan getaran karena memang keilmuan getaran MP (terutama vibravision) adalah memang real dan bukan trik sulap.

Ini menarik, bukan?

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/12/2010 20:05
Sesungguhnya ada beberapa pendekatan untuk "menjawab" tantangan para skeptis.

Pertama, kita menggunakan pemodelan tutup mata seperti yang dipersyaratkan oleh para skeptis. Kemudian merekamnya satu persatu menggunakan video. Jadi, kalau ada 5 metode pemodelan tutup mata versi mereka yang skeptis, maka bisa dilakukan 5 video peragaan pada masing-masingnya. Hal ini cukup murah dan mudah. Untuk mengetahui metode-metode apa yang biasa digunakan oleh para pesulap di dalam melakukan trik blindfold ini sudah saya jelaskan beberapa pada posting sebelumnya. Jumlahnya tidak sampai puluhan kok. Hasilnya nanti di upload pada Youtube dan dijadikan argumen bagi mereka yang skeptis. Ini sekaligus bisa menjadi referensi bagi SELURUH anggota MP yang berselancar di dunia maya apabila mendapatkan "tantangan" yang sejenis. Dari diskusi saya dan para skeptis, merekapun sesungguhnya menggunakan argumen yang dibuat oleh para pesulap terkenal tersebut.

Contoh, jika ada yang menantang untuk memperagakan demo halang rintang dengan tutup mata, maka rujuklah pada video-video yang telah MP posting pada Youtube tersebut, lalu tanyakan metode mana yang ingin ia gunakan untuk pengujian.

Jadi, ini cara yang simpel sekaligus juga akan stay di internet sebagai referensi.

Akan tetapi konsekwensinya adalah bahwa pusat harus memberikan SOP pada cabang mengenai demo getaran tutup mata ini seperti yang saya jelaskan pada postingan sebelumnya agar terjadi kesamaan antara publikasi resmi dari pusat dan demonstrasi dari cabang.

Kedua, meladeni tantangan satu-persatu. Ini melelahkan dan saya percaya tidak akan habis-habisnya. Muncul satu penantang, diladeni, akan muncul lagi penantang-penantang baru.

Ketiga, membiarkan tantangan tersebut menggelembung dengan segala implikasi komentar negatif yang ada. Efek sampingnya akan menjadi bola liar yang kalau semakin dibiarkan, maka akan semakin menjadi informasi negatif mengenai MP di dunia maya.

Menurut hemat saya pribadi, solusi yang termudah dan termurah memang solusi pertama.

Demikian pendapat saya. Semoga berguna.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/12/2010 20:16
Beberapa bulan lalu sy dapat tlp dari rekan senior MP JAKSEL, tentang kemungkinan tuduhan yang sama kepada GMC oleh dosen kedokteran UI, yg akan ditujukan kepada MP. Tentu juga dikaitkan dengan trik pesulap.
Saya bilang jangan kawatir. Kalau yang memperagakan adalah tunanetra buta total, bukan low vision, mau ngintip darimana?
Ada baiknya cabang2 kalau menemukan tunanetra buta total (cacat tunggal), memenuhi syarat/mampu untuk melakukan senam olahnafas Dasar I, untuk dilatih getaran deteksi. Tidak akan diragukan lagi mengenai kemampuan deteksi getaran MP.

Saya jg sudah menyarankan pada mas Siwi Dwi Sudarto (pengda Jatim merangkap bidang pengabdian masyarat PPMP), agar padepokan MP Batu Malang, kembali melatih tunanetra buta total, sampai secanggih alm mas Mustofa.
Melatih tunanetra memang harus ekstra sabar, termasuk nyangoni u transport dan ganti jam kerja mijat. Hehehe.

Namun demikian, perlu perbaikan penampilan dalam peragaan. Misal kalau baca kartu harus dibelakang badan, yang kalau melek pun tidak bisa ngintip. Juga jangan mendongak spt saran mas Mpcrb.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 26/12/2010 11:01
@ mas Acepilot.

1. Setelah pertemuan itu, Pengda Jatim gak bilang apa apa. Silahkan dilanjut dengan baik2 menyelesaikan masalah MP cabang Malang dgn kolat UKM UNIBRAW. Kan dikawal Ketua I PPMP Sebaiknya nanti, dari kolat UKM ada yg masuk kepengurusan cabang, sehingga tidak ada overlaping semua kebijakan.

2. Sebaiknya tlp mas Hemi untuk ditunjuk peraganya. Syukur kalau mas Mpcrb bersedia.

3. Saya baca sekilas, model di kaskus kok berkembang sampai tantang2an. Bukan sharing pengetahuan dan saling menghormati spt di forum SS. Beda pendapat gpp, tidak perlu "ngasorake" pihak lain.
Namun demikian, kalau sudah terlanjur ditantang ya harus diselesaikan dengan baik, agar sama2 puas.

Salam.

1. iya mas, akan saya usahakan ada anak UKM yang masuk kepengurusan cabang malang..

2. waduh mas saya sungkan dengan mas hemi, soalnya saya di MP kan bukn siapa2, sedangkan dia itu pewaris.. :)

3. iya mas, syaa sangat setuju sekali, sudah sering itu ada kejadian tantang menantang d forum martial artsnya kaskus bahkan sampai mau bunuh - bunuhan segala, jadi mungkin karena hal - hal seperti itu jadi membentuk karakter kaskuser di forum martial arts tersebut. saya pun coba mengcooling down orang yang penasaran tersebut soalnya terkesan menantang, saya arahkan biar kesannya ke dia adalah keingintahuan / ingin mengetahui kebenaran dan bukan menantang.. :)

@ mas mpcrb : wah kalau saya tidak merasa tertantang mas, lha wong saya belum bisa getaran koq, saya hanya bermaksud meluruskan anggapan akan getaran merpati putih, syukur2 kalau saya bisa membuktikan (berharap)..hehehehe .. :)

salam..  :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 26/12/2010 12:16
Pembuktian harus berakhir dengan silaturahmi yang makin baik.
Kalau peraganya tunanetra buta total (nyaris tdk punya bola mata/putih semua), yg skeptis malah jadi terharu dan simpati.

Atau yang sering dilakukan mas Edi pasar cs. Diajak main pingpong. Mas Edi pasar/pemain MP ditutup mata dengan cara monggo kerso, yg skeptis tanpa tutup mata. Setelah main, dijamin si skeptis akan geleng2 kepala sambil senyum2.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 26/12/2010 17:16
@mas ace, saya akan coba jawab pada thread yang dimaksud. Semoga bisa jadi silaturahmi dengan rekan moderator disana. Insya Allah manfaat. :)

Dari beberapa alternatif solusi, dari metode yang digunakan oleh para skeptis PLUS ditambah peragaan video dari tunanetra yang buta total seperti saran mas Prapto. Ini akan cukup bisa menjadi argumen kuat di dunia maya terhadap para skeptis.

Saat ini, saya dan beberapa rekan Cirebon yang sepaham sedang menggodok demonstrasi getaran dengan menggunakan tutup mata berdasarkan metode-metode para skeptis. Hasilnya akan diunduh di Youtube. Kebetulan akhir tahun ini ada rencana ketemuan dengan kawan-kawan lama, jadi bisa sharing sekaligus tukar pendapat mengenai banyak hal. Semoga nanti ada manfaatnya.

Btw, mas Prapto, bisakah saya diinformasikan kontak person atau siapa pesilat MP yang mengalami buta atau buta total yang sudah memahami vibravision? Terima kasih.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 26/12/2010 18:17
Sy dukung program mas Mpcrb. Smg sukses.

Ada baiknya menghubungi mas Nardjo, mengingat putri2 SMU di Banyumas banyak yang konsisten dan handal, untuk variasi peraga.
Pelatihan tunanetra sdh 14an tahun yang lalu, akhir2 ini tdk/kurang diopeni, buyar kemana mana.

Yang lama antara lain ada I Nyoman Tanggal di Bali, alih profesi jadi penyembuh yg dicari pasien, susah diajak keluar. Yg kelompok Yogya, low vision (jarak 5 cm).

Kontak person mengenai pelatihan dan peraga tunanetra, mas Siwi, 081233580181 (hp)
 , 0341469015 (rmh), Batu, Malang.

Untuk mas Edi pasar (u variasi peraga), bisa tanya MP Jaksel.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 26/12/2010 18:36
Terima kasih atas informasinya. Oh ya, apakah Mas Siwi ini yang beberapa tahun lalu menikahkan putrinya (atau putra??) di Cirebon? Kalau iya, berarti nomornya masih saya simpan. Sebab pada saat itu cukup "darurat" juga prosesi pernikahannya sehingga melibatkan semua lini MP Cirebon, jadi teringat kembali. :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 26/12/2010 19:52
Kebetulan sy tdk dengar/diundang waktu mas Siwi mantu di Cirebon. Syukurlah kalau jajaran MP Cirebon membantu.

Mas Acepilot dari Bekasi ya?
Dari Bekasi ada mas Ahmad Buzaizi, eks atlit IPSI Jabar. Dia termasuk tim peraga MP yang ikut di James Randi Challenge. Bisa dikontak untuk masalah getaran.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 27/12/2010 16:22
Barusan kontak cabang Jakarta Selatan, kok "stok" getaran sedikit ya? Padahal dulu daerah ini cukup terkenal sebagai salah satu sarang getaran.

Yang baru masuk data saya:
- Mas Bary (sudah diklarifikasi)
- Mas Yatno
- Mas Nana
- Mas Venal

Kalau memang dari Jakarta Selatan cukup sulit, atau bahkan tidak ada tunanetra yang bisa dihadirkan, sepertinya harus meminta bantuan dari Cirebon.

Untuk tunanetra di Jakarta, memang tidak ada ya? Atau barangkali mas Prapto ada informasi mengenai ini? Terima kasih.

Saya sudah dikontak oleh ybs, ternyata ybs bukan bertujuan menantang tetapi ingin pembuktian. Dan disepakati untuk dilakukan pengujian setelah tahun baru. Hari Kamis ini ketemuan dulu untuk silaturahmi, sekalian sharing berbagai hal. Ybs merupakan salah satu member yang cukup berpengaruh, juga dengan posisi pekerjaan yang juga cukup berpengaruh. Ybs merupakan salah satu kepala cabang dari bank swasta di wilayah Cinere (kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya).

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 27/12/2010 19:53
Sebaiknya dibackup Cirebon. Di Jakarta banyak, cuma pada sibuk. Getarannya di applied ke naluri, bukan u demo. Jaksel sdh lama tdk ikut ramai2 getaran.
Coba tlp mas Hemi.  Atau mas Dayat, 08128390707/0818166393, akan lbh mudah manggil yg sempat.

Salam.   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/12/2010 13:45
@mas Prapto, ada satu pertanyaan yang menggelitik pada saya yang belum bisa tuntas saya temukan jawabannya yakni :

"Apakah getaran memang sudah ada dari sononya?"

Maksudnya, apakah ilmu getaran itu memang sudah ada dalam latihan keilmuan dari sang Guru kepada Mas Poeng dan Mas Boedi atau dengan kata lain memang sudah bagian integral di dalam Merpati Putih itu sendiri? Ataukah ia ditemukan setelahnya (dari hasil mersudi anggota) yang kemudian dijadikan keilmuan Merpati Putih? Saya jadi teringat tulisan mas Prapto pada thread ini dimana bahwa getaran dianggap menurunkan standar kualitas power MP itu sendiri (protes dari praktisi power). Dan dikatakan bahwa tenaga getaran merupakan konversi dari tenaga power.

Barangkali ada informasi yang bisa saya dapatkan untuk memperjelas sejarah getaran tersebut?

Terima kasih.

Salam.

PS: Ada beberapa sumber senior yang mengatakan kalau sejarahnya muncul ilmu getaran adalah ketika senior generasi pertama sedang latih tanding dengan anggota di tingkatan bawah. Dikisahkan (konon) kalau senior ini ceritanya dikeroyok oleh anggota tingkatan bawah dengan ditutup matanya (karena akan dianggap tidak adil kalau buka mata). Tetapi kemudian meski ditutup mata, si senior ini juga tetap bisa bergerak lincah, menghindari pukulan, tendangan, dan membalas setiap serangan yang ada. Darisitulah muncul cikal bakal ilmu getaran. Is that true? :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: makdekipe on 28/12/2010 14:23
@ Mas Prapto ...

nambahin pertanyaan dong, apakah "getaran" ini cm bisa di pelajari org2 yg mempunyai basic MP?
karena di thread yg lain, ada jg dr KYS (mungkin dgn nama yg lain) bisa jg mempelajari "getaran".
Apakah artinya ini "getaran" ini sesuatu yg "netral" ? bisa jg di pelajari oleh berbagai macam perguruan TD?

makasih ya mas ...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/12/2010 15:53
Sambil menungu jawaban dari mas Prapto, untuk pertanyaan dari mas makdekipe saya coba berikan jawaban versi saya.

Saya adalah orang yang meyakini bahwa keragaman tidak terlepas dari intinya. Artinya, bahwa hasil akhir pada suatu keilmuan bisa saja dimiliki oleh perguruan lain (dengan nama yang berbeda). Jadi tidak mustahil bahwa hasil akhir yang dilihat akan sama. Kalau ada pesilat MP yang bisa melakukan aplikasi getaran untuk tutup mata, maka bisa jadi perguruan lain juga bisa melakukan itu. Untuk mengetahui kesamaannya adalah dengan melihat dari proses penempaan / teknik latihannya. Kalau sama, maka tentu ada kaitannya, tetapi kalau berbeda sama sekali, berarti memang berbeda sedari awalnya. Bahwa yang namanya tenaga dalam itu juga dilatih tidak hanya pada Merpati Putih, tetapi pada perguruan lain juga ada. Bahwa yang namanya olah nafas juga dilatih tidak hanya pada  Merpati Putih, juga pada perguruan lain juga ada. Masing-masing dengan karakteristiknya. Pada kondisi tersebut, intinya adalah "tenaga dalam" dan keragamannya adalah (bisa) penamaan, teknik penempaan, aplikasinya, dsb. Jadi memang keragaman tidak terlepas dari intinya.

Ibarat kata misal kita bicara roti. Tentu ada roti Sara Lee atau roti Monas, ada roti yang lainnya. Hasil akhirnya sama saja, roti. Tetapi proses pembuatannya saya yakin akan berbeda. Intinya adalah "roti", dan keragamannya ada pada proses pembuatannya, cara marketingnya, komposisinya, dsb.

Akan tetapi bahwa terminologi (secara kaidah bahasa) istilah "getaran", setahu saya memang dimulai dari Merpati Putih yang mencuat ke masyarakat yang mengarah pada aplikasi untuk "tutup mata" atau "vibravision". Setelah itu, pada perguruan lain, bisa jadi istilah penamaannya berbeda.

Jadi kalau ditanya pada anggota Merpati Putih mengenai "getaran" maka akan merujuk pada aplikasi tutup mata, meskipun sebenarnya itu ibarat secangkir kopi yang airnya diambil dari lautan melalui suatu proses tertentu. Demikian yang saya ketahui. CMIIW.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/12/2010 16:01
Kalau melihat pada istilah "keragaman tidak terlepas dari intinya", maka tidak ada proses tiru-meniru. Yang ada adalah proses pencapaian yang (bisa jadi) sama dari suatu jalan yang berbeda.

Disadari atau tidak, bahwa memang kalau mau dikumpulkan seluruh keilmuan dari semua perguruan, maka saya yakin akan didapat banyak kemiripan pada hasil akhir. Kearifan lokal dari perguruan tersebutlah yang menjadi pembeda antara satu dengan yang lain. Dan kearifan lokal inilah yang saya istilahkan "keragaman" yaitu pada teknik penempaan, proses pencapaian, komposisi, sudut pandang, teori, filosofi yang melandasinya, dsb. Keragaman-keragaman itulah yang menjadi khasanah perbendaharaan pencak silat nusantara.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: limpato on 28/12/2010 19:53
Kalau ada pesilat MP yang bisa melakukan aplikasi getaran untuk tutup mata, maka bisa jadi perguruan lain juga bisa melakukan itu.
.......
 Keragaman-keragaman itulah yang menjadi khasanah perbendaharaan pencak silat nusantara.
Saya sependapat dengan Kang mpcrb dalam hal ini, hal yang sama juga terjadi secara tradisional di Ranah Minangkabau, para pesilat yang sudah ahli biasanya bermain silat pada tempat yang gelap, mereka mengatakan bahwa di dalam tahap ini mereka memakai RASO (rasa) karena mata tidak bisa lagi digunakan untuk melihat gerakan lawan. Tentu saja "rasa" pesilat mahir tidak sama dengan "rasa"orang yang tidak pernah bermain silat sama sekali. Mereka mengatakan menangkap garak dan garik dengan raso(rasa).  Di dalam tingkat yang paling halus, jangankan gerakan (di dalam terminologi minangkabau disebut garik), niat atau (garak) saja akan menghasilkan "getaran" tertentu yang dapat ditangkap oleh orang yang sensitif dan terlatih. Di dalam pepatah pemain silek (silat), level tertinggi dalam menangkap "getaran" disebut sebagai "alun manggarak angkau, alah manggarik aku" (belum terniat oleh engkau menyerang, aku sudah bergerak melakukan tindakan antisipasi atau balasan). 

Hal yang mirip mungkin juga terjadi pada, misalnya, pemain musik  terutama untuk jazz yang berimprovisasi bebas dan juru ketik saat sidang di pengadilan (silakan di lihat pada film Hollywood) , boleh dikatakan sedikit sekali melihat apa yang sedang mereka lakukan tapi tetap saja hasilnya bagus.

Saya membaca diberbagai situs web tentang MP yang menyatakan bahwa  MP secara sistematis telah mengembangkan kepekaan yang biasa dimiliki oleh pesilat mahir ke dalam bentuk aplikasi lain yang berguna tidak hanya untuk "perang" saja, melainkan di saat-saat damai. Upaya ini dapat menjadi pelajaran bagi silat-silat tradisi atau peguruan lainnya untuk mengembangkan seni beladiri mereka di dalam saat damai untuk keperluan non-beladiri, ya tentu saja dengan cara mereka sendiri.

Jika mereka bertanya dan belajar dari MP, kemudian melakukan kombinasi dengan apa yang mereka miliki, tentu saja mereka harus mengatakan dengan sejujurnya di dalam sejarah dan latar peguruannya. Toh kombinasi bukanlah hal yang tabu dan memalukan, bahkan bisa dianggap satu genre baru dan bisa dianggap karya asli atau orisinil (A+B=C) tanpa harus menghilangkan unsur pembentuknya A dan B, tapi ya, kadangkala ada saja pihak yang tidak mau mengakuinya. Kita bisa mendapatkan pelajaran dari perkembangan IPTEK sekarang adalah wujud dari kerjasama dari berbagai pihak dan aliran ilmu tanpa harus merendahkan siapa yang belajar dan siapa yang mengajar sepanjang itu berguna untuk umat manusia dan peradaban.

Pengembangan kepekaan menangkap getaran oleh MP di masa mendatang menarik sekali jika dikupas secara ilmiah oleh para ilmuan jika fenomena ini terbukti. Salah satu syarat penerimaan dari masyarakat ilmiah adalah selain dapat dibuktikan (scientifically proved) juga harus resiprokal (dapat diulang lagi) dengan hasil yang kira-kira sama (100% benar juga tidak diharapkan, saya kira diatas 80-90% sudah bisa dikatakan "terbukti secara ilmiah" ). Inilah tantangannya dan semoga celah-celah untuk menutup keraguan dari pihak skeptis dapat ditutup dengan rapi dan baik. Walau bagaimanapun, keberhasilan dari karya keras MP atau dari peguruan yang mengembangkan hal yang sama dengan teknik beda akan membawa nama baik bagi silat secara keseluruhan dan bangsa kita.   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 28/12/2010 21:31
 Menurut pengamatan pribadi, ilmu olah nafas, meditasi getaran/naluri sudah melekat pada keilmuan MP sejak dulu, sebelum muncul spt akhir2 ini.
 Karena tuntutan perkembangan jaman, terjadi perbaikan/perobahan kurikulum. Yang niscaya akan terus terjadi.

1. Sebelum alm  mas Budisantosa HP pada akhir 80an merilis latihan getaran untuk aplikasi orientasi dan mobilitas dgn tutup mata spt kita lihat akhir2 ini, sudah ada aplikasi getaran untuk deteksi, beladiri/gerak naluri dan pukulan2 pamungkas, ambil/nyerap tenaga alam, penyembuhan dsb.
Ada garuda benteng, ada latihan tenaga matahari, tenaga bulan, bintang dsb(tenaga alam). Pukulan pasir besi dsb adalah latihan getaran. Ada latihan menyerap memutar dan mengirim balik tenaga lawan.
Ketika latihan luar, masing2 dengan merem (mata tertutup) mencari titik latihan sendiri. Ketika kemudian membuka mata, bisa kaget sendiri, bahwa tadi melewati semak berduri tapi tidak merasa.
Ketika latihan gerak naluri ditempat gelap,  merem/memejamkan mata, dilakukan ditempat sempit, maka dalam gerak tidak akan bersenggolan. Mau menyentuh/disentuh akan geser sendiri (terasa seperti pegang magnit yang tolak menolak, atau sebaliknya).
Latihan getaran (versi dulu), dilakukan di alam, terutama yang ada "natural magi", energi alam yang akan cepat men trigger munculnya energi getaran peserta (pantai, gunung, sungai yg mengalir, kerimbunan hutan dsb).

Alkisah mas Budi ada masalah, seseorang yg disayangi mengalami butawarna. Beliau mersudi, mencari metoda agar ilmu getaran yang ada di MP bisa diaplikasikan untuk menolong anak kesayangannya, tanpa melewati tingkat pernafasan sesuai pakem. Setelah nafas dasar I langsung dilatih getaran deteksi/OM(orientasi dan mobilitas). Ternyata berhasil, anak kesayangan bisa tajam membedakan warna (meski mungkin berbeda dengan pandangan mata normal).
Metoda tadi kemudian  diujicoba ke tunanetra buta total (sekitar 10 orang). Berhasil!
Kemudian dicobakan secara massal diberbagai tempat. Berhasil juga.
Kalau pelatihan tuna mau makin dikembangkan, jelas perlu banyak pelatih, sedangkan para senior banyak yang sibuk tdk ada waktu.
Maka latihan getaran deteksi mulai dimasukkan dalam kurikulum lebih   awal/ tingkat balik, meski diujinya ditingkat Kombinasi II  ke Khusus I.

Ternyata aplikasi getaran tingkat awal bisa dikembangkan untuk non beladiri, rehabilitasi narkoba, penyegaran sel untuk berbagai keperluan, deteksi bom, narkotika, radio aktip, deteksi survivor dst.
Para tunanetra peserta bisa mendeteksi tulang retak tanpa nyentuh, sehingga tidak langsung salah pijat.

2. Dari metoda mas Budi ini, maka (pendapat saya), setiap praktisi TD yang sdh bisa merasakan penyaluran tenaga di tubuhnya, menyalurkan keluar kemudian latihan mendeteksi "rasa" didepannya ada halang rintang atau kosong, tentu akan bisa (sekurangnya membedakan warna, menembus halang rintang, dengan mata tertutup).
Selain itu latihan getaran menjadi bisa dilakukan dimana saja. Meski gemblengan alam akan sangat bermanfaat.

3. Latihan olah nafas, yg hasilnya di MP diistilahkan "tenaga dan getaran", tentu banyak sekali jenis dan metodanya pada semua perguruan. Bahkan sebagaimana dijelaskan kangmas Ajigineng (KYS) dalam salah satu thread, bahwa praktisi yang berlatih jurus, dengan tahan napas/buang napas secara teratur, napas keras atau napas halus, tanpa sadar sedang berlatih pengolahan napas (meski bilang tidak ada latihan pengolahan napas).

4. Mengenai penamaan jurus serangan, mis bayu seto, pasir besi, bayu bajra, bayu geni, sosrobirowo dst, ketahanan spt kerewojo, lembu sekilan dst, adalah penamaan Jawa yang bukan monopoli MP. Yang membedakan adalah "isi"nya. Apakah dengan olah napas atau tenaga supranatural yg lain.

Demikian juga dengan istilah pola/bentuk langkah, leyek(condong/doyong), simpir, srimpet dll. Adalah istilah Jawa yang banyak dipakai perguruan2 ex Yogya. Bahkan dipakai dalam gerak beksan/tari jawa.

5. Pergerakan metoda latihan/kurikulum MP dari metoda klasik tradisional ke metoda modern BELUM SELESAI.
Perlu digarisbawahi, metoda pelatihan, bukan pakem keilmuan.
Metoda klasik adalah, siswa melakukan latihan tanpa penjelasan lengkap (alasannya yg berlatih tubuh dan rasanya), ibarat masuk ruangan gelap. Sampai menemukan sendiri pintu/tangga ke ruangan berikutnya. Kalau tidak latihan, tidak mampu mendekat pintu selanjutnya, ya tidak akan dibukakan pintu.

Adapun yang dianggap lebih modern (alasan, perguruan jadi "modern" menyebar kemana mana, pelatihan diwakili pelatih), yaitu ada penjelasan lengkap tentang maksud tujuan, filosofi keilmuan dsb dari awal sampai akhir. Mungkin ada semacam pengantar keilmuan.
Belum tuntasnya ini bisa meresahkan anggota, sebagaimana dirasakan mas Mpcrb.
Terakhir perobahan latihan pola langkah tanpa isian tangan yang tanpa penjelasan. Baru jelas pada tradisi kemarin, di rilis pengenalan senjata. Dimana pada hut awal April 2011, seluruh diklat cabang dipanggil untuk permainan senjata khas, Kudi dan pedang Tritunggal.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: limpato on 28/12/2010 22:04

Pengembangan kepekaan menangkap getaran ...... harus resiprokal (dapat diulang lagi)
Maaf salah ketik, maksudnya reprodusibilitas (dapat diulang lagi),

Terima kasih juga pada Mas Suprapto atas penjelasannya...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: f4iz on 28/12/2010 23:28
Salam Rekans..
@Mas mpcrb dan Mas Suprapto,
Saya mau tanya kalau boleh, mumpung ada senior-2x MP disini :)
Kalau getaran tutup mata yg dipelajari oleh praktisi MP dan Tuna Netra, hasilnya apakah-2x objek-2x yang mereka lihat sama dengan penglihatan biasa ? Atau merek mendeteksi objek-2x tsb. dari bentuk getaran.
Misalnya, objek yang berwarna merah dgn penglihatan biasa orang melihat warna merah. Dgn getaran tutup mata apakah orang tsb. dapat melihat warna merah atau getaran warna merah ? Sehingga mereka harus belajar juga membedakan getaran dari objek-2x yang lain warna utk dapat membedakannya? Atau huruf abjad, apakah mereka melihat A, B, C, dst atau mereka mendeteksi getaran dari huruf A, B,C, dst. Jadi mereka juga harus mempelajari getaran-2x dari berbagai abjad utk dapat membedakannya ?

Terima kasih sebelumnya,
Wasalam.
Faiz
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 29/12/2010 00:51
Untuk warna, mereka merasakan dan mengingat getaran warna. Misal diberitahu itu warna merah, mereka merasakan dan memasukkan memori tentang warna merah dst.
Untuk halang rintang, melatih bertahap merasakan benda2 disekitarnya. Kalau sdh terlatih, bisa melintas setengah berlari. Demikian juga mencari barang tersembunyi.
Untuk gambar, huruf, bentuk, tunanetra hanya bisa menirukan (menggambar ulang). Kecuali kebutaan didapat setelah dewasa.
Anehnya mereka bisa mencari pemilik barang, mis disuruh cari pemilik dompet/ktp dll disekitarnya.
Kalau praktisi non tunanetra, bisa dilatih membaca.
Kalau main pingpong, seperti sudah tahu lawan mau mukul kemana.
Begitu "rasa" sdh dikenalkan dengan radio aktip, bisa tepat membedakan botol2 air yg mengandung radio aktip dan yang netral...dst.
Awalnya yang dilatih kepekaan telapak tangan, lama2 akan menyebar ke permukaan tubuh yang lain, terakhir langsung terasa di sanubari.
Demikian kira2.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: f4iz on 29/12/2010 01:54
Terima kasih Mas Suprapto atas penjelasannya.
Kalau yang MP demo sparring tutup mata itu sama ya konsepnya dgn main ping pong ?
Maksudnya, merasakan getaran dari niat ato kehendak lawan.
Wasalam,
Faiz
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 29/12/2010 02:35
@ kang Godam.

Betul, tujuannya kesana. Tentu bertahap dimulai dari merasakan sambaran tenaga/getaran lawan. Tetapi kalau tubuh belum punya perbendaharaan tata gerak beladiri yang cukup dan meresap, reaksinya tidak mencukupi. Disinilah fungsi latihan tata gerak beladiri dengan penuh penghayatan dengan berbagai tahap penghayatan dan berulang ulang, sampai meresap menjadi memori tubuh dan rasa.

Suatu contoh dilatih menjadi kiper pada tendangan penalti (12 pas) dengan ditutup mata. Reaksi kearah bola pasti benar, tapi jangkauannya belum tentu sampai.
Penjelasan uda Limpato mengenai garik-garak sangat mengena untuk pemahaman mengenai hal ini.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: f4iz on 29/12/2010 07:15
@Mas Suprapto,
Iya Mas, jangankan merem..buka mata aja latihan tata gerak beladiri penting apalagi tutup mata :)
Untuk ilmu kedokteran bisa juga ya digunakan untuk mendeteksi penyakit internal spt. stroke, kanker ato tumor ?
Mungkin organ yang ada kanker ato tumor mempunyai getaran yang berbeda dgn organ yang sehat.

Wasalam,

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 09:38
@kang godam, sepanjang pengalaman saya (bisa saja berbeda dengan praktisi getaran lain), ketika tenaga getaran itu keluar maka warna hitam pada "pandangan" mata (saya gunakan tanda kutip, karena mata ditutup jadi tidak akan ada pandangan secara visual normal) akan berubah awalnya seperti TV rusak (istilah umum TV yang banyak "semutnya"). Terkadang bergaris-garis persis seperti TV jaman dulu yang rusak. Pada tahap awal, aspek visual ini sering tidak muncul, yang digunakan adalah murni kepekaan seperti dua kutub yang saling bertolak atau saling menarik. Setelah kemudian tenaga getaran ditingkatkan untuk (istilah saya) menyesuaikan dengan frekwensi alam. Pada saat itu, akan muncul sillouhuete (siluet) dari obyek di depan kita. Uniknya metode getaran MP adalah bahwa ini bisa memunculkan aspek visual selain daripada faktor "rasa" tadi. Tetapi gambaran visualnya sama sekali berbeda dengan gambaran visual alat optik (mata). Beberapa senior yang sudah sangat mahir bahkan tahap visualnya lebih tinggi lagi.

Untuk "membaca", teorinya kebanyakan didasarkan pada pola perbedaan terang-gelap dari suatu obyek yang "tertangkap" atau "terkena" pancaran getaran. Apabila obyek yang akan "dibaca" terlalu halus/lembut, maka selisih perbedaan ini akan sangat tipis sehingga menyulitkan. Itulah terkadang untuk pembacaan, praktisi harus mendekatkan obyek pada jarak jangkau terkuat dari pancaran getaran tubuhnya agar didapat selisih perbedaan terang-gelap dengan lebih baik.

Saya sering menganalogikan ini dengan sistem penginderaan jarak jauh (remote sensing). Dimana visual obyek di dapat BUKAN dari alat optik, tetapi dari gelombang yang ditembakkan oleh alat dan ditangkap kembali sehingga memunculkan pencitraan. Meski tanpa alat optik, tetapi hasil pencitraan tidak berbeda jauh seperti menggunakan alat optik. Ini hanya pendapat saja, belum teruji secara ilmiah oleh ilmuwan.

Meski demikian, keberhasilan aplikasi getaran juga dipengaruhi berbagai faktor. Sebagaimana suatu kemampuan tubuh, terkadang bisa "macet" karena suatu hal. Seperti halnya seorang pesilat yang punya pukulan cepat (anggaplah) 100 km/jam. Tetapi ketika suatu hal, misal otot sedang cedera, maka kemampuan akan berkurang sehingga pukulan tidak maksimal. Jadi getaran jangan diasumsikan sebagai suatu keahlian supranatural yang akan selalu berhasil (karena dianggap misalnya dibantu oleh jin). Tidak ada unsur supranatural disini.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 09:45
Mungkin organ yang ada kanker ato tumor mempunyai getaran yang berbeda dgn organ yang sehat.

1. Kalau dari prinsip ilmu pengetahuan, dapat dijelaskan secara singkat, bahwa semua benda tersusun atas sel dan di dalam sel ada molekul, dan di dalam molekul terdiri dari atom-atom. Setiap atom jelas "bergetar" sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Jadi memang ada getaran untuk masing-masing benda, baik yang terlihat oleh mata, terhalang oleh obyek lain, atau yang tersembunyi dari pandangan.

2. Kalau dari prinsip agama Islam, bahwa SEMUA yang ada di dunia ini "bertasbih" kepada Allah. Konteks "bertasbih" apabila dikaitkan pada ilmu pengetahuan akan masuk pada penjelasan sebagaimana point 1.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 10:13
5. Pergerakan metoda latihan/kurikulum MP dari metoda klasik tradisional ke metoda modern BELUM SELESAI.
Perlu digarisbawahi, metoda pelatihan, bukan pakem keilmuan.
Metoda klasik adalah, siswa melakukan latihan tanpa penjelasan lengkap (alasannya yg berlatih tubuh dan rasanya), ibarat masuk ruangan gelap. Sampai menemukan sendiri pintu/tangga ke ruangan berikutnya. Kalau tidak latihan, tidak mampu mendekat pintu selanjutnya, ya tidak akan dibukakan pintu.

Adapun yang dianggap lebih modern (alasan, perguruan jadi "modern" menyebar kemana mana, pelatihan diwakili pelatih), yaitu ada penjelasan lengkap tentang maksud tujuan, filosofi keilmuan dsb dari awal sampai akhir. Mungkin ada semacam pengantar keilmuan.
Belum tuntasnya ini bisa meresahkan anggota, sebagaimana dirasakan mas Mpcrb.

Benar sekali mas. Sesungguhnya inilah yang seringkali tidak disadari oleh anggota. Sehingga terjadi anggapan bahwa murid dibiarkan begitu saja tanpa ada pencerahan yang berarti. Murid harus mersudi sendiri dengan caranya. Iya kalau tekun dan ulet, kalau tidak? Tentu murid menjadi bosan dan kemudian menjadi malas berlatih. Metode klasik inilah yang memang sebenarnya yang membuat banyaknya murid yang kemudian vakum. Tidak bisa disalahkan karena memang seperti ini dari awalnya. Tetapi yang dipermasalahkan adalah bahwa informasi-informasi semacam ini seringkali tidak nyampe ke cabang (balik lagi ke faktor komunikasi pusat-cabang). Anggota yang dikirim untuk penataran pelatih tidak pernah menyampaikan hal-hal seperti ini.

Dahulu angkatan saya yang hampir 100-an orang, sekarang ini hanya tinggal saya, Mas Salim (organisasi dan IPSI Cirebon, Khusus 1), Mas Anki (pelatih atlit, Khusus 1), dan Mbak Yusniah (pelatih atlit, Kombinasi 2). Hanya tinggal 4 orang saja yang masih bertahan. Sisanya entah berantah kemana. Kalau pas kebetulan ketemuan, rata-rata keluhannya sama. Mereka seperti ditaruh di ruangan gelap. Ilustrasi yang persis digambarkan oleh Mas Prapto. Kalau tidak mau mersudi sendiri, tidak akan masuk pada tahap lebih lanjut pada "pintu" di depannya. Akhirnya jadi mentok dan begitu-begitu saja. Mending kalau keilmuan masih dilatih, tapi seringkali sudah tidak dilatih lagi. Ini juga terjadi secara massive pada cabang-cabang yang lain. Tanpa penjelasan lengkap, memang akan menimbulkan banyak penafsiran sesuai kehendak.

Kalau dianalogikan secara modern, saya memandang bahwa metode klasik MP ini adalah metode hermeneutika.

Saya akan jelaskan tulisan saya mengenai kaitan antara Metode Klasik MP dan metode hermeneutika ini secara terpisah.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 10:51
Metode Klasik Merpati Putih dan Hermeneutika

Secara sederhana, hermeneutika diartikan sebagai seni dan ilmu untuk menafsirkan teks-teks yang punya otoritas, khususnya teks suci. Dalam definisi yang lebih jelas, hermeneutika diartikan sebagai sekumpulan kaidah atau pola yang harus diikuti oleh seorang mufassir dalam memahami teks keagamaan. Namun, dalam
perjalanan sejarahnya, hermeneutika ternyata tidak hanya digunakan untuk memahami teks suci melainkan meluas untuk semua bentuk teks, baik sastra, karya seni maupun tradisi masyarakat, termasuk juga pemahaman terhadap beladiri.

Teks yang dimaksud disini dapat dirujuk pada "tembang" atau "kidung" atau "kitab" dari suatu keilmuan Merpati Putih. Atau singkatnya kita padanankan kata TEKS dengan KEILMUAN.

Hermeneutika terdiri dari 3 macam, yakni hermeneutika obyektif, subyektif, dan liberasi (pembebasan).

Pertama, hermeneutika objektif yang dikembangkan tokoh-tokoh klasik, khususnya Friedrick Schleiermacher (1768-1834), Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan Emilio Betti (1890-1968). Menurut model pertama ini, penafsiran berarti memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarangnya, sehingga seperti juga disebutkan dalam hukum Betti, apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidak didasarkan atas kesimpulan kita melainkan diturunkan dan bersifat instruktif.

Untuk mencapai tingkat seperti itu, menurut Schleiermacher, ada dua cara yang dapat ditempuh; lewat bahasanya yang mengungkapkan hal-hal baru, atau lewat karakteristik bahasanya yang ditransfer kepada kita. Ketentuan ini didasarkan atas konsepnya tentang teks. Menurut Schleiermacher, setiap teks mempunyai dua sisi: (1) sisi linguistik yang menunjuk pada bahasa yang memungkinkan proses memahami menjadi mungkin, (2) sisi psikologis yang menunjuk pada isi pikiran si pengarang yang termanifestasikan pada style bahasa yang digunakan. Dua sisi ini mencerminkan pengalaman pengarang yang pembaca kemudian mengkonstruksinya dalam upaya memahami pikiran pengarang dan pengalamannya.

Menurut Abu Zaid, diantara dua sisi ini, Schleiermacher lebih mendahulukan sisi linguistik dibanding analisa psikologis, meski dalam tulisannya sering dinyatakan bahwa penafsir dapat memulai dari sisi manapun sepanjang sisi yang satu memberi pemahaman kepada yang lain dalam upaya memahami teks.

Selanjutnya, untuk dapat memahami maksud pengarang sebagaimana yang tertera dalam tulisan-tulisannya, karena style dan karakter bahasanya berbeda, maka tidak ada jalan bagi penafsir kecuali harus keluar dari tradisinya sendiri untuk kemudian masuk kedalam tradisi dimana si penulis teks tersebut hidup, atau paling tidak membayangkan seolah dirinya hadir pada zaman itu. Sedemikian, sehingga dengan masuk pada tradisi pengarang, memahami dan menghayati budaya yang melingkupinya, penafsir akan mendapatkan makna yangob jektif sebagaimana yang dimaksudkan si pengarang.

Kaitan dengan Merpati Putih
Hermeneutika obyektif ini adalah posisi Mas Pung atau Mas Budi, pewaris, atau senior generasi pertama, atau yang diberikan mandat untuk melakukan transkrip keilmuan Merpati Putih. Ini adalah sesuatu yang sering disebut dengan PAKEM di dalam beladiri. Merupakan penjelasan asli dari suatu keilmuan langsung dari sumber pengarangnya.

***

Kedua, hermeneutika subjektif yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh modern khususnya Hans-Georg Gadamer (1900- 2002) dan Jacques Derida (l. 1930).9 Menurut model kedua ini, hermeneutika bukan usaha menemukan makna objektif yang dimaksud si penulis seperti yang diasumsikan model hermeneutika objektif melainkan memahami apa yang tertera dalam teks itu sendiri. Penekanan mereka adalah isi teks itu sendiri secara mandiri bukan pada ide awal si penulis. Inilah perbedaan mendasar antara hermeneutika objektif dan subjektif.

Dalam pandangan hermeneutika subjektif, teks bersifat terbuka dan dapat diinterpretasikan oleh siapapun, sebab begitu sebuah teks dipublikasikan dan dilepas, ia telah menjadi berdiri sendiri dan tidak lagi berkaitan dengan si penulis. Karena itu, sebuah teks tidak harus dipahami berdasarkan ide si pengarang melainkan berdasarkan materi yang tertera dalam teks itu sendiri. Bahkan, penulis telah "mati" dalam pandangan kelompok ini. Karena itu pula, pemahaman atas tradisi si pengarang seperti yang disebutkan dalam hermeneutika objektif, tidak diperlukan lagi. Menurut Gadamer, seseorang tidak perlu melepaskan diri dari tradisinya sendiri untuk kemudian masuk dalam tradisi si penulis dalam upaya menafsirkan teks. Bahkan, hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena keluar dari tradisi sendiri berarti mematikan pikiran dan "kreativitas". Sebaliknya, justru seseorang harus menafsirkan teks berdasarkan apa yang dimiliki saat ini, apa yang dilihat, dan apa yang akan diperoleh kemudian.

Jelasnya, sebuah teks diinterpretasikan justru berdasarkan pengalaman dan tradisi yang ada pada si penafsir itu sendiri dan bukan berdasarkan tradisi si pengarang, sehingga hermeneutika tidak lagi sekedar mereproduksi ulang wacana yang telah diberikan pengarang melainkan memproduksi wacana baru demi kebutuhan masa kini sesuai dengan subjektifitas penafsir.

Kaitan dengan Merpati Putih
Inilah metode yang disebut Mas Prapto dengan istilah "metode klasik MP" yang berkembang pada anggota. Pada akhirnya, mereka bebas mentafsirkan sendiri sesuai dengan kapasitasnya sesuai subyektivitas anggota, bahkan tanpa perlu berurusan dengan "pakem" bagaimana tafsiran awal keilmuan itu berasal. Ini pemodelan yang memunculkan celah inovasi sekaligus juga perpecahan apabila tidak dicapai kedewasaan oleh yang akan mentafsirkan. Akan terjadi banyak perbedaan, baik secara umum maupun prinsipil pada hal-hal yang diyakini oleh anggota yang mentafsirkan.

***

Ketiga, hermeneutika liberasi (pembebasan) yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh muslim kontemporer khususnya Hasan Hanafi (l. 1935) dan Farid Esack (l. 1959). Hermeneutika ini sebenarnya didasarkan atas pemikiran hermeneutika subjektif, khususnya dari Gadamer. Namun, menurut para tokoh hermeneutika pembebasan ini, hermeneutika tidak hanya berarti ilmu interpretasi atau metode pemahaman tetapi lebih dari itu adalah aksi, yaitu bagaimana makna-makna tersebut berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan modern.

Menurut Hasan Hanafi, ada 3 kriteria hermeneutika liberasi yakni (1) memiliki "kesadaran historis" yang menentukan keaslian teks dan tingkat kepastiannya, (2) memiliki "kesadaran eiditik" yang menjelaskan makna teks dan menjadikannya rasional, (3) "kesadaran praxis" yang menggunakan makna-makna tersebut sebagai sumber teoritis bagi tindakan dan mengantarkan pada tujuan akhirnya dalam kehidupan manusia.

Hanafi mempersyaratkan: (1) bahwa penafsir harus melepaskan diri dari dogma atau pemahaman-pemahaman yang telah ada. (2) Setiap fase dalam teks, yang secara bertahap dan mengalami "perkembangan" harus difahami sebagai suatu keseluruhan yang berdiri sendiri. Masing-masing harus difahami dan dimengerti dalam kesatuanya, dalam keutuhannya dan dalam intisarinya. (3) Kritik praksis. yakni kebenaran teoritis tidak bisa diperoleh dengan argumentasi tertentu melainkan dari kemampuannya untuk menjadi sebuah motivasi bagi tindakan.

Hasil tafsiran, akan dianggap positif dan bermakna jika dapat dikenali dalam kehidupan, bukan atas dasar fakta-fakta material. Karena itu, pada tahap terakhir dari proses hermeneutika ini, yang penting adalah bagaimana hasil penafsiran ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan manusia, bisa memberi motivasi pada kemajuan dan kesempurnan hidup manusia. Tanpa keberhasilan tahap ketiga ini, betapapun hebatnya hasil interpretasi tidak ada maknanya.

Kondisi pada Merpati Putih
Ini adalah kondisi dimana "Metode Klasik MP" akan berusaha ditransformasikan pada "Metode Modern" seperti penjelasan Mas Prapto. Kondisi yang apabila tidak dicapai kehati-hatian, maka potensi kerusakan pada hermeneutika subyektif akan muncul dan bahkan lebih parah. Ini merupakan kombinasi antara subyektif dan obyektif.

***

Tulisan tersebut hanya sekedar tambahan pengetahuan saja dari sudut pandang yang berbeda. Kalau pusing, dilewat saja ya. Hehehe.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 29/12/2010 10:58
@ kang Godam.
Oleh karena setidaknya ada materi program wajib, yaitu ujicoba pematahan benda keras (ada resiko cedera), maka dalam program latihan MP melekat program latihan mempercepat penyembuhan sendiri (self healing) dan membantu penyembuhan orang lain.
Untuk self healing, ada bentuk senam pernafasan khusus penyembuhan/pemulihan untuk cedera memar, juga ada dengan meditasi getaran.
Prinsip self healing dengan meditasi getaran :
a. Nafas pembersih, "membersihkan" dan melancarkan lalulintas energi per bagian organ tubuh. Scanning ini bisa memberi tanda/petunjuk organ mana yang tidak normal dan minta energi, atau membuang energi berlebihan atau energi buruk dari suatu bagian organ, keluar tubuh.
b. Melakukan  penyaluran energi penyembuh dari seluruh tubuh ke organ sakit. Atau melakukan "penyapuan" dengan tangan yg sdh disaluri getaran, mengarah organ sakit.
c. Menyerap energi/getaran  penyembuh dari alam.

Sedangkan untuk menolong orang lain, seorang pelatih dibekali latihan standar untuk sekurangnya menolong siswanya yang cedera:
a. Men-scanning/mendeteksi cedera.
Biasanya, untuk cedera, kekacauan energi pasien mudah terdeteksi, mana yang harus ditarik, mana yang harus ditembak/disuntik dgn energi penyembuh. Kadang berupa titik2 kecil yang berdekatan tapi beda sifat, dilakukan dengan bantuan alat batang korek api.
Untuk tulang retak, hanya boleh menembak energi penyembuh, selanjutnya diserahkan ke tenaga medis.
b. Setelah pelatihan dan pendalaman, praktisi bisa mendeteksi organ2 interna, bahkan melalui visualisasi jarak jauh.
c. Karena penyembuhan getaran  MP adalah penyembuhan alternatip, harus memposisikan diri mendukung/tidak mengganggu upaya primer, yaitu upaya medik. Sehingga hasil deteksi harus dirujuk dengan diagnosa medik. Bahkan untuk efisiensi, mendengarkan diagnosa dokter, termasuk hal2 apa yang diharapkan berkembang pada pasien. Kalau secara umum, datang menyapukan energi kepada pasien, ekstra pada bagian2 yg lebih menyedot energi penolong, setidaknya akan menambah vitalitas pasien.
Pengiriman energi penyembuh bisa juga jarak jauh dengan visualisasi. Dilakukan sendiri atau bersama dengan tim pendukung (satu orang sbg ujung tombak, yang lain mendukung menyalurkan/ mendorong energi).

Dalam perkembangannya, ada sarana/media pembantu, antara lain air mineral yang sdh "diisi" getaran penyembuh. Bahkan akhir2 ini ada perkembangan, keluarga pasien pegang botol air mineral, berhubungan telpon dengan praktisi penyembuh. Signifikan pada pasien yang akan dan paska operasi berat.

Tentu banyak cerita pengalaman2 khusus para praktisi, yang di share satu sama lain.

Salam. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 11:29
Ada pengalaman waktu muda dan masih semangat 45. Jadi sangat merasakan sekali manfaat dari tenaga getaran ini.

Dahulu, waktu masih muda dan masih tingkat Balik 1, pernah mengalami suatu benturan di selangkangan. Terjadi pembengkakan yang cukup menyulitkan pada alat vital. Diobati oleh Mas Rahmat (adik Mas Mulyanto Tambak) dengan salah satu metode yang disebutkan oleh mas Prapto. Posisi telapak tangan mas Rahmat terbuka mengarah pada bagian yang sakit sambil menyalurkan tenaga getaran beliau. Terasa seperti ada aliran listrik pada permukaan kulit dan ada aliran hangat mengalir pada area yang bengkak. 2 sampai 3 kali pengobatan, bengkak berkurang drastis. Dari situ kemudian belajar sedikit demi sedikit pemahaman pentingnya metode pengobatan oleh pelatih, karena kalau melatih saja tapi tidak tahu teknik pengobatan akan bermasalah manakala ada anggota yang kebetulan kena insiden. Sampai sekarang teknik itu masih sering saya gunakan untuk mengobati anggota yang bengkak dan juga anggota keluarga yang bengkak.

Regenerasi sel tubuh pernah juga saya lakukan waktu tangan kiri kena bacok clurit 2x hingga ada 21 jahitan karena berkelahi di jalanan dikeroyok 5 orang. Saat itu masih tingkat Balik 2. Dikatakan oleh dokter bahwa proses penyembuhan bisa memakan waktu 2 bulanan. Tapi dengan teknik pengobatan yang dulu pernah diajarkan, penyembuhan jadi lebih singkat. Saat itu hanya 1 minggu saja dengan kulit yang tersayat merapat lebih cepat.

Ketika Kombinasi 1 juga pernah mendapatkan luka sobek pada dagu (sedikit mengarah ke leher) sepanjang 5 cm akibat sayatan (masa muda lagi "lucu-lucunya"). Dengan pemahaman teknik pengobatan yang diajarkan, penyembuhan dengan tenaga getaran mempercepat regenerasi sel sehingga sembuhnya juga jadi lebih cepat.

Pengobatan lanjutan dengan menggunakan tenaga getaran dengan memanfaatkan latihan pasir besi pernah dilakukan saat Kombinasi 2 ketika terjadi sobek pada tangan kanan sepanjang 4 cm karena suatu hal (maklum masih muda). Dengan memanfaatkan teknik pengobatan tertentu plus ditambah tenaga getaran, luka sayat tersebut jadi lebih cepat merapat dan tidak saya jahit. Padahal selisih waktu kejadian dengan UKT nasional ke tingkat Khusus hanya 2 hari.

Sekarang ini, kalau anak demam, penggunaan tenaga getaran untuk deteksi dan "membuang" energi buruk dari tubuh anak sangat berguna mempercepat proses penyembuhan. Setidaknya, bisa menjadi pertolongan pertama kalau kebetulan stok obat-obatan sedang tidak ada.

Dahulu almarhum Mas Budi pernah memberikan materi getaran untuk "lepas kaca mata" di Cirebon, dan sampai sekarang teknik itu masih selalu saya pakai karena kebetulan pekerjaan saya yang berhubungan di dunia IT menuntut selalu di depan komputer minimal 8-10 jam sehari. Alhamdulillah sampai sekarang mata masih normal dan tidak menggunakan kaca mata.

Alhamdulillah manfaat-manfaat dari latihan seperti itu terasa sekali pada tubuh sendiri dan juga pada orang-orang disekeliling kita (terutama keluarga).

Yang terpenting adalah, mencoba mengaplikasikan teknik-teknik tersebut di kehidupan nyata dan merasakan sendiri hasilnya. Minimal pada diri sendiri.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 29/12/2010 11:53
wah mantap tuh mas teknik getarannya [top] [top] [top]
mau dong diajarin biar bisa ngobatin diri sendiri dan keluarga, soalnya ongkos ke dokter mahal sekarang mas hehe :D :D :D
makasih mas
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 13:08
@kang bayu, dulu di wilayah daerah saya tinggal merupakan wilayah yang "cukup rawan" sehingga memiliki kemampuan beladiri adalah suatu keharusan. Termasuk juga ketika almarhum ayah mengajari kami (sebelum masuk MP). Akibat efek dari pembangunan pemerintah, sekarang wilayah tsb sudah relatif lebih "damai" dan "aman" dibanding pada waktu saya muda dulu. Jadi ya memang mau tidak mau, lingkungan membentuk kami harus bisa hal-hal seperti itu. Minimal adalah menolong diri kami sendiri ketika ditengah jalan terjadi sesuatu.

Tapi masa muda yang "bandel" ini jangan ditiru. :) Untung masih selamat dan tidak cacat, kalau sampai cacat, tentu akan sangat disayangkan masa depannya. Kalau dulu almarhum ayah ajarannya keras tapi begitu meresap hingga kini. Ajaran yang keras ini membuat kami bisa bertahan hidup dalam keadaan bagaimanapun tanpa harus kehilangan jati diri. Bahkan ada ucapan ayah yang selalu saya ingat yakni "kamu harus bayangkan diri kamu itu sendirian, tanpa saudara, tanpa siapa-apa, bahkan meski ada saudarapun, berusahalah dengan diri kamu sendiri dulul. Ibarat kata kalaupun kamu mati, kamulah yang menggotong mayat kamu sendiri. Karena itulah kamu harus memiliki pengetahuan mengenai banyak hal yang diperlukan untuk bertahan hidup!".

Saat kemudian berumah tangga dan memiliki putra-putri, hal ini juga saya turunkan pada anak-anak. Tentunya dalam batasan yang sesuai dengan kadar usia mereka.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 29/12/2010 14:45
Beberapa aplikatif dari latihan dasar getaran sudah saya terapkan pada anak-anak saya. Sebagai contoh, nafas pembersih, berguna untuk menguatkan konsentrasi anak, membuat tubuh serta otak mengalami relaksasi, pengenduran otot, dan tercapai kondisi tenang pada jiwa. Efeknya, anak jadi lebih tenang, lebih bisa berpikir jernih, dan prestasi sekolah alhamdulillah meningkat.

(http://i51.tinypic.com/262tdt3.jpg)
Akbar Putra Riyadi (9 thn), sudah berlatih nafas pembersih saja sejak usia 8 tahun. Bentuk kaki pada posisi sila tidak benar, tapi foto ini yang terjelas karena foto lain buram. Hehehe. Sejak usia 6 tahun sudah mulai berlatih gerak dasar. Usia 7 tahun sudah mulai diajarkan teknik beladiri. Usia 8 thn sudah bisa dimulai pelatihan nafas dasar yang ringan.

Beberapa video anak-anak saya:

Akbar Putra Riyadi (9 thn)

Mentari Ayu Putri Kamila

Bayu Aji Putra Riyadi

Lengkapnya disini: http://www.youtube.com/user/MerpatiPutihCirebon

Asalkan diberikan sesuai porsinya, dengan kadar yang pas, hasilnya insya Allah maksimal. Menumbuhkan kecintaan terhadap Pencak Silat sedari dini memang harus dimulai dari tumbuhnya kesadaran pada para praktisi silat itu sendiri.

***

Dari apa yang saya alami di dalam hidup, bahwa ada 2 (dua) macam pengetahuan di dalam beladiri. Pertama, pengetahuan yang di dapat dari kurikulum yang kita terima dari aliran beladiri yang kita pelajari melalui pelatih/guru kita. Ini pengetahuan yang bersifat baku/pakem dengan pemahaman yang ada. Kedua, pengetahuan yang di dapat dari hasil pengalaman hidup kita (kristalisasi pengetahuan).

Saat ini, anak-anak saya mendapatkan pengetahuan dari hasil kristalisasi apa yang saya alami dalam hidup ini. Mereka belum mendapatkan apa yang menjadi pakem dari pemahaman umum Merpati Putih. Apa yang dulu saya berhasil di dalam suatu pencapaian pengetahuan, maka anak-anak akan dan harus mendapatkan bagian yang terbaik dari apa yang pernah saya rasakan terdahulu.

Uuh jadi curhat OOT.  x-))

Back to track Merpati Putih saja. Hehehe.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 29/12/2010 16:32
Sangat menginspirasi sekali mas [top] [top] [top]
terima kasih mas
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 29/12/2010 23:09
Kebetulan sy tdk dengar/diundang waktu mas Siwi mantu di Cirebon. Syukurlah kalau jajaran MP Cirebon membantu.

Mas Acepilot dari Bekasi ya?
Dari Bekasi ada mas Ahmad Buzaizi, eks atlit IPSI Jabar. Dia termasuk tim peraga MP yang ikut di James Randi Challenge. Bisa dikontak untuk masalah getaran.

Salam.

@mas suprapto : iya mas betul dari bekasi, tapi saya tidak kenal dengan beliau, mungkin karena dulu saya masih kecil jadi kurang kenal senior - senior lain.. hehehe..


@mas mpcrb : mas nanti hasil test getarannya tolong di publish ya..

oh iya, mau tanya mas, apakah dulu dasawarsa 80an and 90an di MP pusat ada bagian publikasi dan dokumentasi?
soalnya menurut pengamatan saya dasawarsa segitu MP sangat populer di media - media, apakah karena divisi piblikasi dan dokumentasinya hebat ataukah karena faktor lain?
katanya pas dasawarsa 80an and 90an anggota MP membludak, sampai - sampai kala mau daftar ada seleksi and test wawancaranya segala..
kepingin MP seperti itu lagi, masak kalah populer sama beladiri asing yang padahal tidak lebih baik dari pencak silat..  :'(
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 30/12/2010 13:14
@mas Acepilot

Insya Allah nanti akan dipublish sesuai keinginan ybs.

Seharusnya kamis malam ini sesuai agenda ketika terakhir ybs telpon saya. Tetapi ybs mengundurkan waktunya diatas tanggal 13 Januari 2011 dengan argumen loading kerjaan lagi banyak. Padahal malam ini ybs melatih salah satu aliran beladiri di daerah Jakarta. Saya balik tanya, bagaimana kalau saya yang mampir untuk mendemokan ke tempat latihan ybs. Disaksikan murid-murid ybs juga tidak apa-apa.

Argumen kedua karena perlengkapan tidak dibawa: kamera, tutup mata, dan ktp. Saya kasih solusi dimana kamera/handycam biarlah saya yang bawa, ybs tinggal siapkan tutup mata dan ktp. Kalau ktp ybs juga tidak ada, saya minta ktp milik murid-murid ybs saja (3 orang atau lebih tidak apa-apa). Tetapi belum ada jawaban lagi.

Masih menunggu statusnya. :)

Demikian informasi terakhir.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/12/2010 14:21
@ mas Acepilot.

Betul, pada masa itu, kondisi umum  perguruan2 silat dan juga khususnya MP  memang demikian adanya. Tentu ada masalah2 internal dan eksternal yang berpengaruh pada kondisi saat itu dan saat ini.

Namun dari laporan cabang Banyumas pada penerimaan anggota baru Maret 2010 (penerimaan anggota baru diseragamkan secara nasional, pada bulan Maret dan September), jumlah pendaftar melebihi jumlah kapasitas total ruang2 latihan, yang hanya cukup untuk 700 orang, sehingga harus ada seleksi. Mudah2an cabang2 lain segera menyusul.

Mengenai PUBLIKASI/MEDIA MASSA.

TV swasta baru muncul sekitar th 93. Sebelumnya hanya ada TVRI, media cetak dan radio. Lebih mudah kerjasama. Tinggal pilih radio yg bekerja di target audience sesuai segmen yang kita sasar (untuk publikasi pendaftaran dll). Atau undang wartawan media cetak dan TVRI.

Melihat pangsa pasar komunitas2 beladiri termasuk pencaksilat menggeliat naik, beberapa media cetak mulai memperhatikan  pencaksilat. Diantaranya majalah BOLA dengan tokoh wartawannya mas Zaenal Abidin. Didaerah juga demikian. Tokoh wartawan mas Herdjoko dari PD, selalu mencari angle (angel?) yang menarik dari kegiatan pencaksilat untuk dikirim ke media2.
Bahkan majalah khusus tentang seni beladiri mulai bermunculan dimana mana.
MP mendapat momentum ketika pada peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1978, ada peragaan utama, berupa peragaan MP oleh resimen para komando, yang datang dengan terjun payung. Hampir semua media memasang berita dan gambar sebagai headline. TVRI menayangkan berulang ulang.
MP menjadi ujung tombak publikasi pencak silat, hanya karena ada pematahan benda keras serta tembak tepat, yang menjadi faktor pembeda pencaksilat terhadap beladiri asing.
Pada kesempatan lain, tentu juga ada pengaruh karena Mamiek Soeharto menjadi bintang peragaan MP IPB.
 
Lama2 publikasi pencaksilat di media mulai menurun .
Bisa karena KEKURANGAN BAHAN BERITA (sehingga cepat2 memuat kalau ada bentrokan massa pesilat di Madiun), bisa karena kecilnya sumbangan pencaksilat dalam mendongkrak rating.

Kemudian dengan diangkatnya pak Eddie oleh Bimantara menjadi presiden komisaris RCTI, kebetulan juga dirutnya adalah menantu pak Eddie. Pemuatan pencaksilat di RCTI marak lagi. Setiap ada kegiatan pencaksilat yg dihadiri pak Eddie diliput.
Diikuti dengan produksi serial Pencak silat menembus dunia.
Kemudian melempem lagi.
Akhir2 ini, dengan dekat/bergabungnya wartawan2/produser acara TV swasta ke SS,  serta suksesnya film Merantau, beberapa TV swasta mulai melirik lagi peliputan silat tradisional.
Apakah penempatan akan ditingkatkan ke PRIME TIME, atau TETAP atau malahan  diHAPUS lagi, sangat tergantung semangat masyarakat pencaksilat dalam memberikan BAHAN SIARAN, disamping tanggapan publik yang tercermin dalam RATING acara.

Jadi, acara2 penayangan pencaksilat, harus lebih PUBLIC ORIENTED, bukan hanya memuaskan bagi kita sendiri.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 30/12/2010 21:58
@mas suprapto :
oh begitu ya mas, wah berarti mungkin kita sendiri harus berusaha mempublikasikan MP ke dunia luar..
wah kalau MP banyu mas memang luar biasa, kalau orang jakarta bilang "mas nardjo nggak ada matinye"..  [top]  [top]  [top]

mas tadi saya ngobrol dengan tukang siomay langganan saya yang berusia paruh baya, dan asalnya dari daerah klaten..
and kita ngobrol ke hal2 mistis and keilmuan kejawen dan keilmuan jaman dulu, pas ngobrol ternyata dia lumayan tahu banyak ilmu2 kanuragan, lalu saya tanyakan beberapa nama keilmuan di MP saya kaget ternyata dia mengenali beberapa ilmu MP seperti :

1. bayu seto -> katanya dia itu artinya  "angin putih" atau bisa diartikan pukulan jarak jauh and mendapatkannya dengan murni tenaga dalam bukan menggunakan mantra, puasa, atau mistik apalagi jin.

2. kere wojo / tirai besi -> katanya dia malahan ilmu ini datang dari china dan katanya sudah ada sejak sebelum jaman majapahit.

3. kidang telangkat -> katanya seperti meringankan tubuh / loncat tinggi sekali seperti kijang / antelop yang berlari.

berarti beberapa ilmu MP tersebut bukan hanya monopoli MP saja ya mas?
saya nggak tahu apakah cara mendapatkannya and aplikasinya sama dengan MP ataukah ada yang berbeda saya kurang tahu..

kalau di MP apakah harus mendapatkan getaran dulu baru bisa melangkah ke ilmu - ilmu tersebut?
maaf kalau lancang memperbicangkan kulit luar bidang keilmuan..
jika karena beberapa alasan pembahasan saya ini tidak boleh diperbincangkan disini akan saya stop sampai  sini saja mas..  :-X
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 30/12/2010 23:10
@ mas Acepilot.

1. Mungkin karena faktor mas Nardjo, mungkin juga banyak faktor yang bisa di studi banding oleh cabang2 lain. Terutama kekompakan, kedisiplinan yang bisa terpelihara dalam waktu yang lama. Kekompakan antar kolat2 UKM, kolat2 SMU/SMK , Kolat2 Umum, Kolat dokter, Kolat pengusaha, bahkan kolat2 kebugaran, terpelihara sangat baik. Selalu bersemangat dalam kebersamaan, isi mengisi, bantu membantu.
Alumnus yang sdh keluar Banyumas tetap terpelihara jaring komunikasinya.
Terakhir mereka sepakat membangun tempat latihan/padepokan. Lahan sudah siap, sekarang urunan sedikit demi sedikit untuk biaya pembangunannya.
Banyak hal "sepele" yang bisa dipelajari/diadopsi untuk kemajuan cabang2.

2. Dikalangan kanuragan kejawen, penamaan yang sama sudah biasa, toh mereka tahu isinya beda2, ciri2 masing2 beda. Kalau dari ungkapan tukang siomay asal Klaten itu, berarti dia tahu ciri2 keilmuan MP, yang sudah biasa diperbincangkan di kalangan kanuragan.

3. Keilmuan2 itu memang aplikasi beladiri dari tatagerak, olahnafas dan getaran MP.

Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 31/12/2010 00:01
oh begitu, terimakasih atas jawabannya mas..  [top]
oiya mas mau tanya lagi nih, maaf banyak bertanya soalnya masih newbie.. :)
belakangan ini kalau saya sedang meditasi atau lagi nafas segitiga ataupun lagi coba deteksi di telapak tangan saya seperti ada yang nggremet - nggremet (seperti ada yang bergerak2)  gitu mas..
apa itu karena efek awal dari latihan getaran ya mas?
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/12/2010 00:22
Jangan lupa setiap kali berlatih getaran, tutup dengan nafas pembersih lagi ya setelah tutup benteng. :)

Nanti akan merasakan manfaatnya.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/12/2010 00:26
Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Tutup mata adalah primadona dimana-mana. Kebanyakan anggota hanya mengejar itu saja. Entah kenapa. Mungkin dari semua keilmuan MP, tingkat prestise keilmuan ini yang paling tinggi. Harus dikoreksi ulang pemberian pemahaman pada anggota di tataran bawah agar tidak jadi salah tafsir.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 31/12/2010 00:44
@ mas Mpcrb.

Maaf maaf beribu maaf, kalau bhsnya melintir bisa multi tafsir.

"Tidak terlalu mahir" berarti tetap harus bisa. Kalau nggak bisa, tidak naik ke Khusus I , berarti tdk bisa belajar aplikasi lanjut.
Maaf.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/12/2010 10:55
Saya memahami sudut pandang mas Prapto. Apa yang saya ungkapkan adalah kondisi nyata di lapangan secara umum. Kalau diperhatikan, baik melalui forum online khusus Merpati Putih (pada beberapa forum Martial Arts baik lokal maupun luar), itulah yang bisa kita lihat mas. Bahkan dari mulai Dasar 1 gejala ini sudah nampak. Saya tidak menyalahkan keilmuannya, tetapi pemahaman dari pelatih kepada anggota yang harus dikoreksi.

Saat ini pengerti "GETARAN" yang diterima oleh anggota tataran bawah adalah 'vibravision' alias tutup mata. Sempit. Hanya sampai disitu. Bahwa tidak banyak pelatih kolat yang memberikan pemahaman bahwa getaran itu luas, tidak hanya tutup mata. Tetapi justru pengertian sempit inilah yang diterima oleh anggota tataran bawah, dan tidak ada koreksi komprehensif dari pelatih ybs.

Saya tidak tahu, apakah pusat pernah melakukan semacam studi tingkat keberhasilan pelatihan getaran secara reguler pada tingkatan yang dipersyaratkan. Misal, dari sekian banyak Kombinasi 1 dan Kombinasi 2 dari N kolat, di dapati sampel subyek sebanyak 200 orang (misalnya). Kemudian dari 200 orang reguler ini, berapa yang berhasil dan berapa yang belum berhasil. Memang, kalau bicara yang namanya "keberhasilan" tentu melibatkan banyak faktor. Tidak bisa digeneralisir. Tetapi kalau misalkan dari 200 orang kemudian yang berhasil hanya 10 orang saja, maka artinya prosentasenya sangat kecil, hanya 5% saja. Yang perlu dipikirkan adalah mau dikemanakan sisanya? Yang 190 orang itu mau dikemanakan? Pada akhirnya, akan muncul beragam kondisi pada mereka yang gagal. Beberapa kondisi tsb diantaranya:

1. Menyadari bahwa ia belum bisa karena belum maksimal berlatih dan terus berlatih (ini kondisi ideal)
2. Sudah malas berlatih, karena mengalami kesulitan akibat berbagai sebab.
3. Mutung, vakum dengan jangka waktu yang tidak bisa diperkirakan.
4. Menganggap keilmuan ini hoax, atau paling tidak diragukan

Point nomor 1 sampai 3 masih bisa ditolerir, ada harapan anggota akan kembali suatu saat nanti. Tapi point 4 ini yang menjadi masalah. Dan ini sudah terjadi.

Seperti misalnya satu komunitas skeptis terbentuk dari mahasiswa UGM dan UII di Yogyakarta pada tahun 2003. Komunitas ini mayoritas beranggotakan dari komunitas beladiri asing yg ternyata sangat antusias dan sedikit dendam karna merasa sudah lama dibohongin oleh praktek Tenaga Dalam dan sejenisnya. Mereka kemudian membekali ilmu beladiri mereka dgn kemampuan hipnosis dan dgn kemampuan hipnosis ini mereka ingin "membongkar" kebohongan Tenaga Dalam.

Salah satu anggota komunitas ini mengatakan sbb "sekedar informasi, saya dulu juga belajar MP, namun sayang termasuk yang gagal total - kami tidak meyakini ada bahwa orang bisa membaca tanpa menggunakan indera penglihatan tanpa alat bantu ... yang dinamakan getaran, energi dan lain2 adalah hal2 yang absurd dan tidak ada pendefinisian bahkan fakta identifikasi yang sama. Sehingga, seringkali semua aktifitas yang terasa berbeda dengan normalitas, seringkali diklaim getaran, energi, dll. contoh sederhana, sekarang anda coba dekatkan kedua telapak tangan anda berhadapan 20cm, dan anda bayangkan menciptakan bola api diantara kedua tangan anda, tangan anda akan terasa panas. atau anda bayangkan jadi magnet dengan kutub sama, maka kedua tangan anda akan seperti saling menolak. Kalau anda seorang praktisi hypnosis, tentu anda tahu fenomena apa ini? dan sangat mudah mempraktekkannya."

Satu generasi baru sudah lahir di Indonesia yaitu para skeptis. Saya sudah sering menjumpai orang-orang semacam ini, termasuk tantangan terakhir juga berasal dari kalangan yang sama. Para skeptis inilah motor penggerak dari generasi baru ini.

Dan ini yg tampaknya tidak/belum disadari para petinggi MP (atau sudah???). Perlu pendekatan baru untuk menghadapi generasi baru ini. Pendekatan yg lebih realistik dan teruji. Misalnya pernahkah kalangan MP mencoba menjawab argument tentang fenomena getaran dgn fenomena yg serupa dalam hipnosis seperti yg diajukan skeptis di atas? Apakah fenomena getaran memang sama seperti fenomena sugesti hipnosis - autosugesti hipnosis dalam kasus MP - seperti pada kasus mendekatkan ke dua tangan itu? Kalau sudah pernah dilakukan, dimana infomasi tsb bisa didapatkan?

Generasi baru ini tidak bisa lagi didekati dgn cara pendekatan yg lama.

***

Adalah benar bahwa statement saya bisa multitafsir, meskipun kenyataanya itu terjadi di lapangan. Saya coba jelaskan mengapa saya mengatakan demikian.

Kalau saya melihat pendapat mas Prapto disini:

1. Sebelum alm  mas Budisantosa HP pada akhir 80an merilis latihan getaran untuk aplikasi orientasi dan mobilitas dgn tutup mata spt kita lihat akhir2 ini, sudah ada aplikasi getaran untuk deteksi, beladiri/gerak naluri dan pukulan2 pamungkas, ambil/nyerap tenaga alam, penyembuhan dsb.

Sebenarnya itu bisa menimbulkan dualisme makna.

Makna Pertama, bahwa proses dari Sang Guru kepada Guru Besar belumlah memuat materi vibravision (saya gunakan istilah itu saja). Artinya kurikulum yang ada pada saat itu TIDAK MENGENAL keilmuan vibravision. Istilah "Getaran" yang digunakan adalah istilah yang umum di dalam dunia beladiri, merujuk pada gerak naluri / rasa / raso. Vibravision disini belum lahir sebagai suatu keilmuan spesifik. Masih general, yang maknanya bisa sama dengan beladiri lain pada hasil akhir namun beda istilah. Ini saya menyebutnya adalah jalur keilmuan murni dari penurunan Sang Guru kepada Guru Besar. Saya memandang, kalau ingin melihat "warna asli MP", maka aspek pertama inilah warna asli MP (yang belum mengalami inovasi).

Makna Kedua, bahwa kemudian terjadi kurikulum keilmuan MP akhirnya DITAMBAHI dengan vibravision (saya pakai istilah ini saja untuk merujuk secara spesifik, tidak menggunakan bahasa "getaran" karena lebih general). Artinya, kalau kita coba eleminasi pelatihan vibravision, tidak akan memberikan dampak berarti pada keilmuan pamungkas MP sebagaimana penjelasan saya pada makna pertama. Karena memang "getaran" sudah ada SEBELUM vibravision resmi ditemukan.

Ini jugalah maksud dari ucapan:

@ mas Acepilot.
...
Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Dari makna kedua ini, bahwa terlihat vibravision adalah "pohon baru" yang tumbuh di dalam area tumbuh kembang keilmuan MP hasil dari mersudi Guru Besar sehingga menempati tempatnya tersendiri di dalam daftar keilmuan MP. Kejeniusan dari mengolah yang sudah ada menjadi bentuk yang baru. Inilah inovasi keilmuan. Sehingga ditemukanlah OLAH NAFAS GETARAN.

Dari penjelasan saya diatas, bisa dilihat bahwa terdapat 2 (dua) jalur di MP yang terjadi di lapangan:

Jalur 1 : Olah nafas murni --> Tenaga power
Jalur 2 : Olah nafas vibravision --> Vibravision

Jalur 1 adalah makna pertama, yang saya sebut sebagai jalur warna asli yakni keilmuan Merpati Putih yang MINUS vibravision. Jalur 2 adalah makna kedua, yakni jalur khusus keilmuan vibravision atau keilmuan Merpati Putih yang mengalami inovasi (warna asli + inovasi).

Jika:

Olah nafas murni = A
Tenaga power = B
Olah nafas vibravision = C
Vibravision = D

Makna A adalah :

A --> B --> Tahap Memory Power --> Tahap Aplikatif --> Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas

Yaitu dgn Olah Nafas MP dihasilkan Tenaga Power kemudian Tenaga Power ini dikonversi menjadi "getaran" (bukan vibravision) dan akhirnya Tenaga Getaran inilah yg menjadi dasar Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas lainnya. Kondisi ini tidak memerlukan Olah Nafas Vibravision (C). Kondisi ini pada istilah saya adalah bisa dikatakan kondisi Idealnya MP dan bahwa Vibravision (C) adalah bentuk dari Tahap Aplikatif saja sesuai pendapat berikut ini:

2. Dari metoda mas Budi ini, maka (pendapat saya), setiap praktisi TD yang sdh bisa merasakan penyaluran tenaga di tubuhnya, menyalurkan keluar kemudian latihan mendeteksi "rasa" didepannya ada halang rintang atau kosong, tentu akan bisa (sekurangnya membedakan warna, menembus halang rintang, dengan mata tertutup).

Makna B adalah :

A --> B
C --> D

Masing-masing berbeda sendiri. Pada kondisi ini diberikan 2 jalur pelatihan yaitu pelatihan Tenaga Power dan pelatihan Vibravision. Sayangnya yg menjadi fokus utama pelatihan MP pada anggota tataran bawah HANYA pelatihan vibravision saja yaitu proses C ke D saja dengan sering melupakan pelatihan A ke B. Inilah titik kesalahan pemberian pemahaman dari pelatih pada murid di kebanyakan kolat. Memang tetap ada pelatihan Tenaga Power yaitu proses A ke B tetapi pada pelatihan ini tidak ada Tahap Merasakan Tenaga Power yang dibarengi dengan pengetahuan mengenai aspek penyaluran tenaga power pada setiap gerakan MP. Nafas penyaluran yang digunakan juga seringkali tidak menyentuh substansial mengenai korelasi antara tenaga power dan gerakan MP.

Tahap Memory Power ini yg menjadi dasar Tahap Aplikatif yaitu Penyaluran Tenaga Power MP. Tahap Aplikatif inilah yg kemudian menjadi dasar Tahap Pelatihan Vibravision nantinya. Dengan kata lain pada Proses B ke D pada kondisi A sebenarnya dibagi menjadi 2 Tahap yaitu Tahap Memory Power dan Tahap Penyaluran. Ini yg hilang pada pelatihan MP sekarang ini.

Jika saya simpulkan sementara bahwa penemuan Vibravision ( D ) yang dimasukkan di dalam muatan kurikulum reguler adalah suatu kesalahan.

Mungkin lebih tepatnya kesalahan terjadi pada penerapan pelatihan Olah Nafas Vibravision pada pelatihan reguler MP sebagai suatu Perguruan Beladiri. Olah Nafas Vibravision ( C ) ini seharusnya hanya diterapkan pada pelatihan Tunanetra atau yang mengalami masalah pada mata. Ini bisa dilihat dari kondisi awal aplikatif vibravision yang semuanya SELALU berhubungan dengan organ mata saja (tutup mata, lepas kaca mata, buta warna, halang rintang, warna, dsb). Memberikan Vibravision (D) sebagai keilmuan dasar utama sejak tingkat Dasar 1 reguler hingga Kombinasi 2 reguler inilah yang saya sebut salah letak. Dan bahwa Vibravision adalah merupakan TAHAP APLIKATIF dari Tenaga Power ( B ). Sedang pada pelatihan reguler MP seharusnya tetap dilakukan seperti kondisi A yaitu :

A --> B --> Tahap Memory Power --> Tahap Aplikatif --> Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas

Jika pola pelatihan seperti ini yg dilakukan, MP sebagai Perguruan Ilmu Beladiri tetap bisa mempersiapkan para muridnya dalam suatu pertarungan yg sesungguhnya. Sayangnya pola pelatihan seperti ini yg hilang pada MP sekarang ini.

Pada makna A ini, Olah Nafas Vibravision (C) dan Vibravision (D) BELUMLAH ditemukan. Bahkan bisa dikatakan penemuan C terjadi setelah penemuan D bukan sebaliknya. Inilah makna yang saya tangkap dari statement dibawah ini yang sekaligus juga membenarkan analisa saya:

Alkisah mas Budi ada masalah, seseorang yg disayangi mengalami butawarna. Beliau mersudi, mencari metoda agar ilmu getaran yang ada di MP bisa diaplikasikan untuk menolong anak kesayangannya, tanpa melewati tingkat pernafasan sesuai pakem. Setelah nafas dasar I langsung dilatih getaran deteksi/OM(orientasi dan mobilitas). Ternyata berhasil, anak kesayangan bisa tajam membedakan warna (meski mungkin berbeda dengan pandangan mata normal).
Metoda tadi kemudian  diujicoba ke tunanetra buta total (sekitar 10 orang). Berhasil!
Kemudian dicobakan secara massal diberbagai tempat. Berhasil juga.
Maka latihan getaran deteksi mulai dimasukkan dalam kurikulum lebih   awal/ tingkat balik, meski diujinya ditingkat Kombinasi II  ke Khusus I.

Solusinya akan coba saya paparkan pada posting berikutnya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/12/2010 12:14
(lanjutan)

Memasukkan materi vibravision (langsung atau tidak langsung) pada tingkatan produktif di dalam muatan kurikulum reguler inilah yang menjadi penyebab utama begitu banyaknya anomali yang terjadi di lapangan. Apalagi ditambah pemahaman pelatih yang tidak mengetahui perbedaan secara prinsipil pada sudut pandang keilmuan. Jadi tidak heran mengapa saya katakan bahwa vibravision (rasanya lebih baik menggunakan kata itu dibanding istilah "getaran") menjadi primadona. Karena memang istilah "getaran" menjadi begitu absurd dan rancu kalau melihat apa yang diberikan oleh muatan kurikulum reguler yang ada.

Solusinya adalah kembali pada makna A, yakni makna hakekat dari beladiri murni:

Olah nafas murni --> Tenaga Power --> Tahap Memory Power --> Tahap Aplikatif --> Gerak Naluri dan Ilmu Pamungkas

Dan memberikan porsi Vibravision sesuai hakekatnya, yakni berada pada Tahap Aplikatif yang diberikan sesuai kearifan lokal cabang atau pelatih yang ada. Sebagaimana nafas-nafas seperti : Tepak Gilang, Tapak Jalak, Surung Geni, Fatma, Jagolet, Belalang, Gupita, dll, yang TIDAK DIMASUKKAN sebagai bagian kurikulum reguler baku yang tertulis pada buku kurikulum.

Solusi ini mengandung banyak keuntungan dimana anggota akan berlatih sesuai dengan hakekat warna asli beladiri MP yang sangat kental dengan nuansa power. Dan bahwa ketika power sudah terbentuk, vibravision adalah salah satu alternatif penguasaan pada tahap aplikatif. Tidak lebih. Pada posisi ini, vibravision menjadi netral.

Pada kurikulum reguler yang ada sekarang, vibravision menempati 3 keahlian utama yakni deteksi obyek dan halang rintang (ujian tingkat Kombinasi), sedangkan warna dan membaca ada pada Khusus 1. Padahal kenyataannya, ketika seseorang sudah memahami halang rintang, latihan warna dan membaca akan cepat sekali dipahami (dari pengalaman, 2-4 minggu dengan latihan normal). Tidak perlu rentang waktu selama dua tingkatan (dari Kombinasi 1, 2 ke Khusus, belum lagi jegal menjegal dari senior).

Tidak adanya jenjang lain selain dari pada HARUS menguasai vibravision inilah yang saya lihat sebagai sumber dari "tumbang"nya anggota. Ada yang tidak mau latihan lagi, ada yang non aktif, ada yang vakum tidak jelas, ada yang bahkan keluar. Ada missing link disini akibat dari masuknya vibravision sebagai SYARAT UTAMA dari Kombinasi 2 ke Khusus 1.

Kalau dikatakan bahwa vibravision BUKANLAH segala-galanya, lalu mengapa ia menjadi syarat utama pengujian seperti pendapat berikut ini:

"Tidak terlalu mahir" berarti tetap harus bisa. Kalau nggak bisa, tidak naik ke Khusus I , berarti tdk bisa belajar aplikasi lanjut.
Maaf.

Bukankah ini jadi paradox? Sebab tidak pernah ada ujian alternatif SELAIN dari vibravision pada Kombinasi 2 ke Khusus 1. Tidak pernah ada saya menemukan anggota yang gagal ujian vibravision kemudian diarahkan untuk mengikuti ujian alternatif seperti misalnya pengobatan. Banyak yang diluluskan karena pertimbangan subyektif.

Kalaupun sekarang tidak terlalu mahir getaran tutup mata, tidak usah khawatir. Hanya sebagai salah satu ukuran latihan getaran. Aplikasi getaran untuk beladiri / penyembuhan yang sesungguhnya, banyak yg tidak perlu tutup mata.

Dan bukankah bahwa keilmuan pamungkas MASIH DAPAT dikuasai tanpa musti berurusan dengan vibravision sebagaimana penjelasan saya pada makna pertama posting sebelum ini?

Inilah jenjang yang hilang atau missing link penguasaan. Disadari atau tidak, vibravision seringkali menimbulkan kecemburuan anggota reguler. Pun seandainya ada pilot project anak-anak atau tingkat Dasar 1, tetap saja kecemburuan itu tidak hilang. Mengapa terjadi kecemburuan? Karena olah nafas getaran masuk di dalam kurikulum reguler. Kenyataannya, pada pilot project tim vibravision anak-anak, mereka tidak memiliki POWER yang sebenarnya dari keistimewaan olah nafas MP pada warna asli jalur turunnya (sanad) keilmuan MP. Ini jugalah yang menjadi protes dari para praktisi power dengan menyebut bahwa vibravision akan menurunkan kualitas standar power MP. Mengapa? Karena memang vibravision adalah untuk tunanetra, bukan orang normal. Tidak lantas dianggap tidak perlu. Tidak demikian adanya. Bahwa di dalam vibravision tidak diperlukan standar power tertentu yang semakin meninggi (bisa dilihat pada analisa saya mengenai olah nafas pengolahan plus beban) tetapi bisa langsung aplikatif pada orientasi dan mobilitas pada bentuk olah nafas standar Dasar 1.

Dengan menempatkan vibravision sebagai Tahap Aplikatif pada Tenaga Power, implikasinya menjadi lebih netral dan jelas. Bahwa ia adalah suatu keilmuan inovasi yang setara dengan Bayu Seto, Kidang Telangkat, Kere Wojo, dkk.

***

Coba saja eleminasi materi vibravision pada kurikulum reguler yang ada. Apakah MP kehilangan maknanya? Tidak sama sekali. MP tetap kokoh dengan nuansa power pada kurikulumnya.

Jadi, yang membuat rancu disini adalah olah nafas getaran yang masuk pada kurikulum reguler. Olah nafas getaran ini adalah shortcut dari pelatihan vibravision dimana tanpa olah nafas getaranpun seorang praktisi dengan kadar power yang cukup akan bisa melakukan hal yang sama. Cukup dengan "pemahaman", maka pemodelan seperti halang rintang, warna, dan membaca akan bisa dilakukan.

Mohon maaf kalau ada ucapan saya yang kurang berkenan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/12/2010 13:07
Kenapa saya katakan bahwa vibravision ini setara dengan Bayu Seto, Kidang Telangkat, Kere Wojo, dkk? Adalah karena ini benar-benar suatu terobosan di zaman modern ini dengan aplikasi yang hampir tanpa batas.

Bahwa sesungguhnya tahap awal dari vibravision adalah tahap kepekaan, kemudian masuk pada tahap deteksi. Kebanyakan begitulah pemahaman yang umum. Tetapi ada pemahaman yang hilang, yakni tahap visual (bukan visualisasi, tetapi visual). Tahap dimana muncul gambaran visual seperti negatif film pada "gelap" yang mengembang tanpa batasan ini. Jadi, ada 3 tahap di dalam vibravision yakni tahap kepekaan, tahap deteksi, dan tahap visual.

Beberapa praktisi getaran Cirebon (mungkin daerah lain juga) sudah masuk pada tahap visual ini. Beberapa sedang melakukan "penjajakan" untuk menembus batas visual.

Pada tahap visual inilah aplikatifnya yang bisa tanpa batasan. Dan sesungguhnya tahap inilah yang layak disebut sebagai "vibravision" yang sesungguhnya. Kalau sudah masuk pada level ini, maka apapun bisa "divisualkan".

Jadi memang vibravision sangat istimewa dan berbeda dengan sekedar deteksi biasa dari hasil pancaran energi tubuh.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 31/12/2010 18:04
@ mas mpcrb.

Memang demikian adanya.
Wacana pendalaman getaran tingkat lanjut, tidak bisa dicampur aduk apalagi diperbandingkan dengan getaran tingkat dasar, yang ditargetkan hanya untuk manfaat OM/orientasi dan mobilitas tunanetra serta self healing oleh pasien.
Penglihatan TV/gambaran2 melintas,  yang menjadi ukuran2 bagi aplikasi getaran beladiri/penyembuhan/kawaskitan pada tingkat pendalaman, memang tidak diwacanakan pada pembelajaran getaran tingkat dasar, yang hanya mempunyai intensitas/kapasitas terbatas.
Demikian juga halnya, aplikasi getaran tingkat menengah, berupa latihan tatagerak dengan penghayatan getaran, latihan gerak naluri, baru mulai diwacanakan  pada tingkat yang ditentukan. Hasilnya lebih mantap.

Keputusan dilatihkannya program latihan dasar getaran pada tingkat lebih awal, ada dua alasan penyebab:

1. Ada kondisi, keilmuan getaran MP diperlukan untuk menolong tunanetra akan peningkatan kemampuan OM, dengan teknik deteksi dasar, juga latihan untuk anggota masyarakat tertentu untuk kemampuan self healing.
Yang digunakan tetap ilmu getaran MP, dengan kapasitas yang didapat dari latihan pengolahan napas tingkat dasar MP, yang melalui meditasi MP hasilnya dikonversi menjadi getaran, selanjutnya dimanfaatkan. Katakanlah kalau tingkat lanjut bisa mengolah 500 watt, disini cukup 3-5 watt.
(ada alasan kemanusiaan/pengabdian masyarakat/ keilmuan MP untuk pemanfaatan yang lebih luas).

2. Perkembangan pelatihan tunanetra waktu itu, serta latihan kebugaran khusus (aplikasi getaran dasar), diproyeksikan akan menjadi salah satu ujung tombak ekspansi cabang2 (masuk dengan penyembuhan dan latihan kebugaran khusus, kemudian dikembangkan menjadi kolat reguler)
Dengan demikian (dengan terbatasnya pelatih tingkat khusus I keatas) diperlukan terjaminnya produksi asisten pelatih/pelatih yang mampu melatih getaran dasar. Sehingga disusun program latihan getaran mulai tingkat lebih rendah. Kalau masuk program latihan, tentu harus lengkap dengan target kemampuan dan ukuran2 ujicoba.
(ada alasan kebutuhan aspel/pelatih getaran).


Phenomena yang terjadi dilapangan :

1. Pelatih tunanetra terkadang kalah tajam kemampuan deteksinya dengan tunanetra yang dilatihnya. Masih bisa dijelaskan kemungkinannya. Yaitu, setiap kemajuan kemampuan yang dicapai tunanetra, akan terus menerus dipakai kecuali sedang tidur, sedangkan sang pelatihnya hanya kadang2 menerapkan kalau sedang peragaan tutup mata.

2. Pelatih getaran dasar, terkadang kalah tajam kemampuan OM nya dibanding murid2nya (reguler).
Ini yang BIKIN RUNYAM dan kurang ditindak lanjuti dengan baik.
Ternyata latihan getaran pada tingkat lebih awal, lebih mudah untuk "mulai merasakan" getaran.

3. Meski pada awal2 UKT Nas memasukkan mata ujian deteksi/halang rintang, hasilnya variatip, selanjutnya lancar.
Jumlah peserta juga cukup baik dan stabil, sehingga tidak terasa menyolok, kalau ada anggota kombinasi II dari suatu cabang yang tidak ikut ujian. Meski peserta didominasi kombinasi  II baru. Yang jilid 5 keatas pada kemana? Banyak sebab tidak ikut UKT NAS selain karena "terlambat" atau "buntu" dalam latihan  OM.
Meski setahu saya belum ada survey, masalah2 bisa dimunculkan di UKT Nas, penataran2 pelatih maupun tradisi.

Kedepan ada dua pilihan.  Didrop, kembali ke program semula, atau dilanjut dengan perbaikan.

Keputusan yang ada resiko mendrop program kemanusiaan sepertinya bukan pilihan yang ideal.

Kalau diteruskan, harus ada tindakan pelatihan khusus dan perbaikan program latihan getaran yang lebih terintegrasi.

Sebagai awal, perlu roadshow, safari coaching clinic, ditujukan untuk anggota di cabang2, yang masih "macet" di getaran OM, sampai tuntas. Begitu ketemu slah nya, takkan terlupa.

Salam.   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 01/01/2011 15:21
mas saya maubertanya, dulu saya pernah bertanya ke mas amos tentang syarat untuk naik ke kombinasi syaratnya :

1. adalah surat rekomendasi dari cab bersangkutan
2. pernah ikut tradisi min 2 x absensi lat di pengda bersangkutan

dan dulu sekitar tahun 1999/2000an saya pernah bertanya ke pelatih sekaligus pendiri kolat saya katanya syarat untuk naik ke kombinasi adalah :

1. berusia minimal 17 tahun

nah yang saya rasa agak janggal adalah saya menemukan beberapa anomali dari syarat2 tersebut :
1. ada beberapa teman yang naik ke kombinasi tapi tidak pernah ikut tradisi
2. ada anak berusia 12 tahun dengan tingkatan kombinasi-1 waktu tradisi kemaren (saya tau umurnya soalnya saya sendiri yang nanya ke anak tersebut)

soalnya saya kepingin naik ke kombinasi, sudah 12 tahun mentok di balik-2..  :D
mohon pencerahannya, trims..
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/01/2011 15:50
Balik II ke kombinasi I ujian oleh cabang. Kombinasi I ke Kombinasi II oleh pengda, atau gabungan cabang (pengujinya lintas cabang).
Syarat ikut tradisi atau pengabdian jadi asisten pelatih, menurut kebijakan cabang masing2.

Anak umur 12 tahun yang kombinasi I dari cabang mana/namanya siapa?
Jangan2 cucunya mas Poeng. Hehehe.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/01/2011 16:04
Kalau disuatu cabang oleh karena suatu sebab tidak bisa menyelenggarakan ujian Balik II ke Kombinasi I, anggota tsb bisa minta surat rekomendasi cabangnya untuk ikut ujian di cabang lain terdekat.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 01/01/2011 19:34
Balik II ke kombinasi I ujian oleh cabang. Kombinasi I ke Kombinasi II oleh pengda, atau gabungan cabang (pengujinya lintas cabang).
Syarat ikut tradisi atau pengabdian jadi asisten pelatih, menurut kebijakan cabang masing2.

Anak umur 12 tahun yang kombinasi I dari cabang mana/namanya siapa?
Jangan2 cucunya mas Poeng. Hehehe.

wah itu yang saya kurang tau mas namanya and dia dari cabang mana, apakah dia cucunya mas poeng?
seingat saya sih cucunya mas poeng itu masih balik 1..
kalau syarat no.1 and 2 apa itu hanya wacana saja?
kebetulan kemaren saya foto, nanti saya upload via facebook..
trims..
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 01/01/2011 21:45
@ mas Acepilot.
Sdh sy terima di FB. Sayang foto dari samping/belakang Trims. Kalau ada kejanggalan, sudah ada bagian yg ngurus.

Untuk suatu cabang, biasanya tingkat kombinasi akan diarahkan jadi aspel dan diikutkan dalam penataran kepelatihan. Adalah janggal kalau seorang asisten pelatih/pelatih (di Indonesia). belum pernah ikut acara tradisi tahunan, padahal punya tugas mendorong murid2nya ikut acara gathering/silaturahmi nasional berupa acara tradisi tahunan.
Ini yang dijadikan alasan beberapa cabang.
Tentu bisa ada kebijaksanaan/keringanan dari internal cabang kalau ada alasan kuat.

Untuk pengda DKI ada tambaham syarat, harus ikut kegiatan latihan bersama kombinasi II yang cukup, sebelum mendapat rekomendasi ikut UKT Nas. Tentu dimaksud untuk meningkatkan mutu ujian dan tertib organisasi.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/01/2011 17:38
Penglihatan TV/gambaran2 melintas,  yang menjadi ukuran2 bagi aplikasi getaran beladiri/penyembuhan/kawaskitan pada tingkat pendalaman, memang tidak diwacanakan pada pembelajaran getaran tingkat dasar, yang hanya mempunyai intensitas/kapasitas terbatas.

Di lapangan, hal itu tidak terjadi. Lebih banyak runyamnya dibanding benernya. Menurut saya, hal ini dikarenakan terjadi pemahaman yang overlap antara GETARAN dan VIBRAVISION. Kalau sudah bicara getaran, pasti larinya ke vibravision. Makanya kenapa saya akhir-akhir ini cenderung lebih suka menggunakan istilah demikian, agar bedanya jelas. Atas dasar itulah saya katakan bahwa menggunakan istilah getaran yang merujuk pada vibravision hanya akan menimbulkan kerancuan. Hasil akhirnya bisa dilihat bahwa GETARAN menjadi sempit maknanya.

Bahwa GETARAN, merupakan sesuatu yang memang sudah ada dari pada awalnya keilmuan MP itu ada (makna A seperti penjelasan saya sebelumnya). Jadi sesungguhnya pelatihan olah nafas getaran itu BUKANLAH pelatihan untuk vibravision. Inilah yang sering disalahkaprahkan oleh anggota di tataran bawah.

Termasuk mas Acepilot juga pertanyaannya demikian. Ketika ia menanyakan, apakah harus mengerti getaran dulu baru bisa menguasai ilmu pamungkas? Saya yakin maksud mas Acepilot adalah vibravision. :) Ini terjadi dimana-mana. Apalagi kalau iseng lihat di forum Kaskus mengenai group Merpati Putih, akan nyatalah kerancuan ini di lapangan.

Sebagai contoh, ketika anggota bertanya, "mas, mau donk latihan getaran", saya yakin seyakin-yakinnya bahwa yang ada di pikiran anggota tersebut adalah "tutup mata". Dijamin.

Singkatnya, harus diberikan pemahaman bahwa Vibravision merupakan salah satu pengembangan dari GETARAN. Itulah yang benar dan tidak memberikan kerancuan. Kerancuan ini entah mulainya dari mana. Apakah dari pusat? Atau salah tangkap pelatih daerah ketika penataran pelatih.

Mengapa hal ini saya soroti? Karena ini tidak semata-mata masalah istilah KATA. Tetapi sesuatu yang sangat berbeda secara prinsipil. Menyamakan sesuatu yang sangat berbeda secara prinsipil adalah memang suatu kesalahan. Asalnya adalah pertidaksamaan, kemudian dijadikan persamaan. Disinilah sesungguhnya kerancuan yang sudah terjadi bertahun-tahun dan dibiarkan. Itulah sebabnya kenapa saya menggunakan penjelasan Makna Pertama dan Makna Kedua setiap kali ada murid yang ingin berlatih getaran ATAU berlatih vibravision. Sebab memberikan pemahaman yang benar di awal ini penting, agar murid menyadari perbedaan antara keduanya. Hasilnya cukup berhasil.

Saya mengajar salah satu kolat pelajar di Cirebon bersama asisten saya (Mas Masdi, Kombinasi 1, getaran untuk vibravisionnya sudah mencapai tahap visual negatif film), dan kemudian pada anggota tingkat Balik 2 kita mulai mengajarkan getaran dasar DENGAN SEBELUMNYA memberikan pemahaman yang benar perbedaan antara getaran dan vibravision ini. Hasil akhirnya, tingkat keberhasilan menjadi lebih tinggi (diatas 80%, artinya dari 10 orang yang dilatihkan dengan pendekatan ini, 8 orang berhasil). Mengapa ini bisa lebih berhasil? Karena setiap anggota yang berlatih memahami perbedaan karakteristik apa itu getaran dan apa itu vibravision. Mereka tidak bercampur aduk. Tidak bingung yang mana getaran dan yang mana vibravision. Mereka akan tahu bahwa ini adalah tahap getaran dasar, ini untuk masuk ke tahap pelatihan untuk vibravision, ini adalah tahap untuk power, ini adalah tahap untuk pengobatan, dsb. Analoginya seperti murid yang sedang berdiri dimana di depannya banyak sekali arah jalan. Tetapi karena SETIAP arah jalan tersebut dipasang PAPAN PETUNJUK ARAH, maka ia bisa tahu jalan ini mau kemana, jalan itu kemana, dsb.

Lain halnya dengan yang sudah ada sekarang ini. Anggota tidak bisa memahami perbedaan antara getaran dan vibravision.

Asisten pelatih juga melatihkan seorang rekan tunanetra yang kebetulan mengalami kebutaan karena satu peristiwa sehingga syaraf retina-nya putus. Selama 3 tahun, dan alhamdulillah berhasil (namanya Mas Jhon, hingga tahap visual negatif film). Bahkan kebetulan menemukan metode unik untuk menimbulkan efek "menyambung" dari syaraf retina yang putus yang merupakan pengembangan dari metode "lepas kaca mata" dari (alm) mas Budi. Kalau pada tunanetra memang tidak diperlukan memberikan pemahaman awal perbedaan antara getaran dan vibravision, tapi langsung masuk pada inti materi.

Jadi, kalau dilihat pada dua hal tsb, memang kerancuan terjadi pada anggota reguler.


Meski setahu saya belum ada survey, masalah2 bisa dimunculkan di UKT Nas, penataran2 pelatih maupun tradisi.

Ada "penemuan" aneh yang kami temui pada praktisi getaran. Kbetulan ini baru terjadi pada 2 orang (saya dan Mas Masdi). Saat ini Mas Masdi saya minta bantuannya untuk mengumpulkan data mengenai "kecurigaan" saya terhadap EFEK penggunaan getaran pada orang normal terhadap praktisi getaran lain di Cirebon. Kalau sudah terkumpul cukup sampel, saya akan buatkan makalah mengenai ini.

Saya akan posting lanjutan mengenai gambaran "penemuan" ini.

Kedepan ada dua pilihan.  Didrop, kembali ke program semula, atau dilanjut dengan perbaikan.

Keputusan yang ada resiko mendrop program kemanusiaan sepertinya bukan pilihan yang ideal.

Kalau diteruskan, harus ada tindakan pelatihan khusus dan perbaikan program latihan getaran yang lebih terintegrasi.

Sebagai awal, perlu roadshow, safari coaching clinic, ditujukan untuk anggota di cabang2, yang masih "macet" di getaran OM, sampai tuntas. Begitu ketemu slah nya, takkan terlupa.

Sepakat mas, tidak perlu dihilangkan, tetapi diperbaiki program latihannya agar anomali-anomali yang terjadi di lapangan bisa diminimalisir, atau syukur-syukur bisa dihilangkan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/01/2011 18:20
Metode unik mengena efek "menyambung" syaraf retina yang putus diilhami dari kegiatan kami sehari-hari, dimana mas Masdi adalah seorang teknisi HP, dan saya kebetulan juga orang teknik.

Syaraf retina yang putus memang tidak mungkin disambung kembali secara fisik, TETAPI efek "menyambung" ternyata masih bisa dilakukan. Analoginya, misal syaraf yang putus seperti ilustrasi kabel terputus berikut ini:

(http://www.calsci.com/motorcycleinfo/Images/MirrorLED2.jpg)

Kalau pada kabel fisik aslinya, untuk menyambung digunakan cara memotong kulit pelindung kabel pada kedua sisinya sehingga serabut tembaga terbuka, dan kemudian menyambungkan lagi.

Pada metode "penyambungan", menggunakan pendekatan olah nafas "lepas kaca mata" dari (alm) Mas Budi dan kemudian mengalirkan getaran untuk menjadi "arus listrik lemah" yang menjadi penghubung diantara dua ujung syaraf terputus. Dan "arus listrik" inilah "penyambung"-nya. Tentunya harus bisa "dilihat" terlebih dahulu ujung syaraf terputusnya untuk kemudian dicapai kondisi "penyambungan" dengan arus listrik. Tanpa pendekatan ini, tahap visual negatif film tidak bisa dicapai. Jadi, memang metode ini khusus "diciptakan" untuk kasus Mas Jhon yang buta akibat putusnya syaraf retina ini agar bisa "melihat" lagi. Alhamdulillah berhasil.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/01/2011 21:01
Getaran dasar yang diterapkan di tingkat awal, ya memang getaran untuk deteksi halang rintang dan seterusnya. Tidak ada kerancuan.
Yang rancu kalau melompat tidak urut.
Meski demikian, terserah otoritas keilmuan dalam memberi nama/istilah.
Secara umum, nurut dengan istilah atau urutan yang masih berlaku. Tidak akan rancu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/01/2011 02:15
Metoda lepas kacamata adalah salah satu aplikasi penyegaran sel. Boleh diajarkan karena harus dilakukan sendiri oleh pasien.
Banyak tunanetra yang mengalami efek peningkatan fisikal dengan latihan ini. Misal semula melihat hanya bisa membedakan gelap-terang, berangsur menjadi low vision. Jadi pada latihan OM dia meningkat kemampuan deteksinya, pada latihan perbaikan sel ada perbaikan fisikal pada organ mata.

Memang benar, kemungkinannya bisa meluas. Sebagaimana perbaikan sel pada pasien diabetes type-2, jenis cukup insulin tapi selnya tdk bisa proses. Meski keberhasilan ini sudah ada penelitian di RS Persahabatan. Baru akan di publish setelah memaksimalkan penajaman metoda.

Silahkan memperluas ujicoba prinsip2 itu.

Yang harus hati2 adalah pada tahap pencapaian "visual", konon harus dilandasi kematangan praktisinya, agar dalam mengexplore tidak kesasar/membahayakan.

Salam.


 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/01/2011 10:14
Meski demikian, terserah otoritas keilmuan dalam memberi nama/istilah.

Alangkah baiknya juga apabila selain juklak, tersedia juga juknis, terutama bagi para pelatih yang ditatar secara nasional untuk kemudian ketika ia kembali datang ke cabang maka menjadi satu suara dan satu pemahaman. Saya lihat ini memang masih wacana, sebagaimana jawaban mas sebelumnya. Semoga 2011 ini sudah ada kemajuan dari pemegang otoritas keilmuan.

Mengemukanya anomali tenaga getaran disamakan dengan vibravision adalah karena kurangnya pemahaman-pemahaman tadi sehingga tujuan utama dimana olah nafas akan menjadi tenaga power yang kemudian diaplikatifkan untuk menjadi gerak naluri dan memahami keilmuan panmungkas seringkali menjadi tidak sinkron di lapangan.

Ada baiknya para penyusun, peramu, dari kurikulum ini memperhatikan hal-hal yang sifatnya prinsipil dan substansial, agar didapat perbaikan-perbaikan di dalam deliverables kepada anggota. Dan kalaupun memang sudah, mungkin penataran pelatih nasional bisa dibuat lebih komprehensif untuk menyentuh hal-hal substansial tersebut. Anggota di tataran bawah seringkali sedikit sekali pengetahuan untuk akses pada level atasnya. Mereka berpatokan pada senior yang ada. Kalau seniornya tidak punya cukup pemahaman, missing link akan terjadi. Dengan kondisi lintas geografis yang "menggurita", juklak saja saya rasa tidaklah cukup.

Dari hasil observasi di lapangan, beberapa yang sering kali menjadi missing link:
- prinsip dasar pengolahan tenaga
- korelasi filosofi dengan keilmuan
- korelasi antara tata gerak dan hasil olah nafas
- perbedaan tenaga getaran dan vibravision
- pemanfaatan tenaga getaran di dalam fighting
- pemanfaatan vibravision di dalam fighting (kalaupun tidak ke arah sini, tidak ada pemahaman lanjutan bahwa ini untuk aspek kemanusiaan bagi pelatihan thd tunanetra)
- korelasi antara pematahan benda keras dengan fighting

Semoga bisa menjadi bahan masukan bagi PPMP. Kalaupun tidak, ya setidaknya apa yang ada di hati ini sudah bisa saya ungkapkan melalui forum ini. Thx to SS. :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/01/2011 11:09
Banyak tunanetra yang mengalami efek peningkatan fisikal dengan latihan ini. Misal semula melihat hanya bisa membedakan gelap-terang, berangsur menjadi low vision. Jadi pada latihan OM dia meningkat kemampuan deteksinya, pada latihan perbaikan sel ada perbaikan fisikal pada organ mata.

...

Yang harus hati2 adalah pada tahap pencapaian "visual", konon harus dilandasi kematangan praktisinya, agar dalam mengexplore tidak kesasar/membahayakan.

Saya tidak tahu apakah pusat pernah melakukan studi kasus mengenai efek penggunaan tenaga getaran untuk vibravision pada praktisi dengan mata normal terhadap fungsi organ.

Sebenarnya hal ini sudah pernah saya dan beberapa rekan praktisi getaran Cirebon perbincangkan sejak 2-3 tahun yang lalu. Tetapi baru sebatas wacana saja, sambil mencari sampling data subyek lainnya. Terakhir ketemuan bareng saat membahas tantangan forum Kaskus yang kemudian dicapai kesimpulan sementara (belum final, masih bisa berubah karena berbagai faktor).

Sekedar urung rembug, barangkali ada pandangan lain mengenai ini.

Keilmuan vibravision, sejauh pengamatan dan pengalaman kami, sangatlah cukup menguras tenaga getaran. Selain para tunanetra, saya belum pernah menjumpai praktisi getaran yang mampu melakukan demonstrasi lebih dari 2 jam nonstop tanpa efek. Ketika dulu MP mengadakan event MURI yang naik kendaraan sambil tutup mata dari Jakarta-Bogor, ada hal yang luput dari pengamatan pusat. Yakni apa yang terjadi terhadap praktisinya setelah itu?

Beberapa praktisi ternyata "tumbang", dengan fisik drop. Perwakilan Cirebon, juga demikian. Awalnya mungkin merasa bahwa memang hal itu sesuatu yang biasa. Tapi ternyata tidak demikian.

Dari beberapa pengamatan (sampel subyek baru 5 orang terdiri dari 4 praktisi normal dan 1 praktisi tunanetra), didapati kondisi yang sejenis pada praktisi normal. Yakni bahwa vibravision cukup menguras tenaga getaran apabila digunakan oleh praktisi dengan mata normal. Sampel subyek dilakukan test darah dan urine. Di dapati terjadi gejala gangguan ringan pada lever dan ginjal. Pengakuan dari sampel subyek adalah bahwa mereka merasa sehat dan normal-normal saja, tidak melakukan hal-hal yang aneh atau aktivitas fisik berlebih. Berlatih olah nafas normal (pengolahan, pembinaan, getaran, vibravision, dsb) yang tidak melampaui batas. Tetapi gangguan ringan terhadap level dan ginjal tetap terjadi. Sampel subyek adalah para praktisi getaran yang sudah pernah melakukan demonstrasi lebih dari 20 kali selama hidupnya, dan sering menggunakan vibravision di dalam hidupnya.

Semua sangat terkejut dengan hasil ini. Dari pembahasan tahap awal, dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh terhadap penggunaan tenaga getaran untuk vibravision pada orang normal. Menariknya, hal ini tidak terjadi pada tunanetra, terutama yang mengalami cacat mata. Dari pengamatan pada Mas Jhon yang mengalami kebutaan akibat terputusnya syaraf retina mata, ia hanya merasa "nyaman" pada matanya, terutama pada "penglihatan" yang dihasilkan dari tahap visual vibravision ini.

Beberapa asumsi kemudian dibuat.

Pertama, asumsi bahwa mungkin ada yang kurang pada pemberian pakem pelatihan vibravision yang sudah ada sekarang ini. Pakem harus dibedakan antara praktisi normal dan praktisi tunanetra. Para praktisi normal (dengan mata normal), sementara ini ditemukan bahwa nafas pembersih HARUS diberikan di awal dan di akhir setelah berlatih. Dan nafas pembersih harus dilakukan setelah praktisi melakukan demonstrasi vibravision ( vv ).

Saat berlatih:
Awal pakem -- nafas pembersih --> pakem vv --> aplikatif --> nafas pembersih --> akhir pakem.

Saat demonstrasi:
demonstrasi --> selesai --> nafas pembersih.

Kedua, perlu ada proses untuk melindungi organ tubuh terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan nafas pembersih DILANJUTKAN dengan regenerasi sel-sel tubuh pada organ atau metode lain (belum kami temukan, masih di riset bersama) untuk mencegah terjadinya gangguan akibat dari efek penggunaan tenaga getaran pada vibravision.

Dari pengamatan sementara, bahwa efek ini hanya muncul pada pengguna vibravision untuk orang normal, dan bukan untuk tunanetra. Sebaliknya, tunanetra merasa nyaman. Jadi dapat kami simpulkan sementara bahwa penemuan vibravision sejatinya adalah "OBAT" bagi tunanetra atau yang mengalami gangguan pada mata. Kami mengasumsikan bahwa vibravision adalah semacam obat "ANTIBIOTIK" bagi tunanetra. Tunanetra kami analogikan adalah orang yang sedang "sakit pada organ mata". Dan vibravision adalah "obat" bagi mereka. Semakin obat itu dikonsumsi oleh tunanetra, maka sakitnya akan semakin sembuh dan membaik. Tetapi pernahkah dibayangkan bagaimana kalau orang sehat mengkonsumsi obat yang sama terus menerus padahal ia tidak sakit? Tentu akan terjadi masalah.

Dua subyek mengalami bola mata yang putih-putihnya menjadi berwarna lebih kemerahan secara permanen. Tidak berakibat sama sekali pada penglihatan normal mereka, malah terasa lebih nyaman menurutnya. Tetapi tampilan mata menjadi lebih merah (seperti mata merah akibat iritasi mata).

Setelah melihat kondisi ini, kami benar-benar merubah pakem getaran untuk orang normal dan membedakannya terhadap tunanetra atau yang mengalami gangguan pada mata. Memasukkan materi yang memang berguna untuk perlindungan organ, terutama regenerasi sel-sel tubuh pada organ yang terkait setiap kali selesai berlatih dan selesai melakukan demonstrasi. Efeknya sangat terasa.

Saat ini sedang diriset dua hal: pertama, mencoba melakukan deteksi jalur PRA VIBRAVISION sebelum tenaga getaran berubah menjadi vibravision untuk mengetahui JALUR tenaga mengalir melalui apa saja. Dari jalur tenaga inilah proses perlindungan akan diberikan. Sebenarnya praktisi sudah bisa merasakan jalurnya, tetapi untuk lebih meyakinkan (karena proses latihan reguler-nya tidak melibatkan pengetahuan sejauh ini) maka kami akan coba rumuskan jalurnya. Artinya, ketika kemampuan vibravision ini akan digunakan, maka jalur inilah yang akan menjadi jalur tenaga getaran mengalir. Kedua, memanfaatkan olah nafas regenerasi sel-sel tubuh yang sudah ada untuk beberapa organ termasuk untuk organ mata sambil mencari pendekatan metode lain yang lebih baik.

Sehingga hasil akhirnya adalah sbb:

Saat berlatih:
Awal pakem -- nafas pembersih --> perlindungan organ --> pakem vv --> aplikatif --> nafas pembersih --> regenerasi sel --> tutup simpul --> akhir pakem.

Saat demonstrasi:
nafas pembersih --> perlindungan organ --> demonstrasi --> selesai --> nafas pembersih --> regenerasi sel --> tutup simpul.

Dan inilah yang saat ini diberikan pada anggota normal yang akan berlatih vibravision. Adapun untuk yang tunanetra masih menggunakan pendekatan sebagaimana adanya kurikulum baku saat ini.

Sebagai suatu hipotesa, kami masih bisa salah. Dengan tingkat subyek yang belum cukup untuk menjadi suatu pembuktian, hipotesa ini juga masih lemah. Untuk itulah kami sedang berusaha mencari sampel subyek praktisi getaran sebanyak mungkin yang bersedia di test darah dan dilakukan pengujian metode tersebut untuk membuktikan analisa kami ini. Atau barangkali pusat pernah punya studi kasus sejenis?

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/01/2011 13:45
Apakah "efek samping" sudah dilaporkan/dikomunikasikan kepada otoritas keilmuan/dewan guru?

Atau apakah dibahas sendiri dengan hasil menemukan antisipasi dengan nafas pembersih?

Apakah sudah diisolir kemungkinan praktisi2 tersebut overload dalam latihan pengolahan nafas regulernya?

Cukup gizikah dalam menjalani latihan reguler yang berat?

Mengingat tunanetra yang terus menerus menerapkan getaran tidak mengalami efek samping yang sama, sudahkah dicurigai ada sebab lain?

Tentu kejadian itu merupakan salah satu bukti bahwa kegiatan transmit-receive getaran adalah merupakan konversi energi tubuh, yang bisa menguras tenaga.

Sebagai gambaran, pada praktisi pemula penyembuhan dengan getaran. Setelah memberi pertolongan pasien dengan klasifikasi agak berat,  praktisi tsb bisa lemas lunglai. (Kalau diteruskan bisa cedera). Biasanya berselera minta sop buntut biar cepat pulih, kemudian latihan menyerap energi alam, atau istirahat lama.

Pada praktisi yg "traffic"nya sudah lancar, nyaris tidak merasa terkuras tenaganya. Ambil/serap-->salurkan...terus menerus. Saldonya jarang minus.

Pelatihan getaran untuk kepekaan, deteksi halang rintang, deteksi bentuk/gambar/tulisan, deteksi warna serta normalisasi sikap/gerak tubuh yang diterapkan pada tunanetra, menyebabkan peningkatan kemampuan OM/orientasi mobilitas tunanetra.

Kondisi tunanetra yang identik dengan "seolah olah" melihat dengan mata, kemudian ada yang menterjemahkan dengan rumusan nama "VIBRAVISION". Memang tidak sepenuhnya tepat dan bisa menimbulkan salah interpretasi.

Diposisikan saja seperti  ketika para ilmuwan menginterpretasikan mekanisme dan merumuskan latihan pengolahan napas MP adalah LATIHAN ANAEROBIC YANG MENGHASILKAN ATP.

Dengan petunjuk/istilah yang ada, serta mekanisme umpan balik yang sudah disiapkan, mudah2an bisa lancar.
Tentu dengan cara, permasalahan2 disampaikan ke tujuan yang tepat.

Salam. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/01/2011 14:57
Januari ini rencana akan urung rembug dengan Mas Rahmat (adik Mas Mulyanto Tambak) terlebih dahulu untuk kemudian nanti akan dibicarakan dengan dewan guru setelah di dapati sampel subyek yang lebih banyak dengan gejala yang sama. Menunggu masukan dari dewan guru melalui Mas Rahmat.

Pembahasan tahap awal adalah bahwa metode yang kami lakukan tersebut bisa mengurangi dampak dari tenaga getaran untuk vibravision. Antisipasi awal cukup berhasil dengan nafas pembersih dikombinasikan dengan regenerasi sel dan tutup simpul. Kenapa harus tutup simpul? Sebab terkadang kemampuan ini "keluar sendiri". Sebagaimana kita ketahui, bahwa vibravision merupakan salah satu keilmuan multidimensi yang tidak memiliki "benang pengaman" selain daripada agama dan nilai-nilai yang dianut oleh praktisinya. Agak berbeda semisal dengan "pengisian kesaktian" menggunakan khodam atau isim atau jimat atau sejenisnya yang harus mensyaratkan suatu agama tertentu. Vibravision ini sangat netral, bisa dipergunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Disadari oleh tidak, bahwa kemampuan ini seringkali di dalam keseharian "muncul" dengan sendirinya ketika seorang praktisi "menutup mata" entah karena iseng atau karena ia ingin beristirahat sejenak atau karena ingin tidur. Saat menutup mata inilah, tenaga getaran tiba-tiba mengalir tanpa kita sadari. Yang kalau tidak dilakukan tutup simpul, maka tenaga ini akan mengalir terus. Efeknya tadi, tenaga tubuh jadi terkuras.

Semua menyadari bahwa ketika tenaga getaran untuk vibravision ini muncul, maka simpul menjadi terbuka, terutama otak kecil yang terasa menjadi lebih panas dari sebelumnya. Itulah sebabnya kami menempatkan nafas pembersih dan tutup simpul pada akhir pelaksanaannya. Nafas pembersih digunakan untuk membersihkan daerah yang terlewati oleh efek samping vibravision ini, dan regenerasi sel digunakan untuk memulihkan kembali fungsi organ sebagaimana awalnya.

Kalau masalah overload, praktisi yang dijadikan subyek mengaku tidak berlatih aneh-aneh di dalam aktivitas dan intensitasnya. Dalam artian mereka sejawarnya saja berlatih. Kalau masalah gizi, saya rasa karena semua praktisi sudah dewasa jadi sudah cukup memahami hal ini. Semua juga memahami bahwa ini merupakan konversi energi tubuh, maka dari itu diperlukan olah nafas pembangkit energi secara terus menerus secara periodik. Umumnya adalah senam pengolahan minimal tiap 3 hari sekali agar energi tubuh tetap terjaga.

Khusus mengenai tunanetra, menurut ybs bahwa mata menjadi sangat nyaman baik secara mental maupun fisik. Secara mental adalah bahwa kondisi kebutaan yang diderita tidak begitu menjadi derita bagi praktisi dikarenakan mereka mendapatkan metode lain untuk bisa "melihat". Secara fisik adalah bahwa pada organ mata mereka memang terjadi kenyamanan setiap kali menggunakan tenaga getaran untuk aplikasi vibravision ini. Dugaan kami sementara ini karena memang vibravision merupakan "obat" bagi mata mereka sehingga mereka secara fisik benar-benar terasa nyaman pada organ tersebut (langsung maupun tidak langsung).

Ada pembicaraan juga bahwa kemungkinan untuk orang normal (dengan mata normal) penggunaan teknik vibravision jangan sepenuhnya dari energi tubuh, tetapi melibatkan tenaga alam. Saat ini masih dilakukan riset mengenai bagaimana metode yang baik agar efek samping tidak terjadi. Kalau bicara aplikasi untuk pengobatan, tentunya penggunaan energi alam menjadi lebih mudah karena fokus perhatian lebih sedikit dibanding melakukan getaran untuk demo vibravision (halang rintang, warna, membaca) yang jauh lebih kompleks dari sekedar deteksi untuk pengobatan. Loading otak kecil dan energi tubuh pada ketiga aktivitas tersebut sangat tinggi dibanding getaran untuk pengobatan. Dari sharing oleh salah satu senior memang dikatakan bahwa penggunaan tenaga alam untuk pengobatan memang lebih mudah dibanding untuk vibravision ini.

Kenapa saya katakan penggunaan tenaga alam tidak sesederhana itu? Karena memang loading otak, terutama konsentrasi, pada ketiga aktivitas vibravision (halang rintang/OM, deteksi warna/benda, membaca) sangat tinggi. Pecah sedikit konsentrasi, buyar. Memang lebih rumit pada aplikasinya. Lebih rumit bukan berarti tidak bisa, dan itulah yang sekarang sedang dicoba dipecahkan.

Pada tunanetra, tidak ada kondisi untuk "mengembalikan pada kondisi normal penglihatan" setelah vibravision dilakukan. Sedangkan pada orang normal harus dilakukan. Ketika suatu peragaan vibravision selesai, maka semua "penglihatan" akan dikembalikan pada fungsi organ optik yang sebenarnya, yakni mata. Disadari atau tidak, terjadi juga loading tenaga getaran pada mata. Saat tenaga getaran untuk vibravision dimulai, maka simpul-simpul mulai dibuka, kepekaan ditingkatkan, aspek visual dimunculkan. Tubuh menjadi begitu peka dengan posisi seperti generator yang memancarkan energi terus menerus.

Awalnya memang tidah diperhatikan secara jangka pendek, tetapi kemudian sedikit demi sedikit wacana ini mengemuka diantara kami akibat seringnya sharing. Dari kesamaan-kesamaan itulah di dapati kemungkinan seperti yang saya utarakan. Bahwa efek ini terjadi secara jangka panjang, dan bukan jangka pendek.

Saat ini solusi untuk nafas pembersih di awal dan di akhir, regenerasi sel, dan tutup simpul cukup bisa meminimalisir efek sampingnya bagi praktisi dengan mata normal. Dipikir-pikir, canggih juga para perumus kurikulum vibravision ini. :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/01/2011 16:30
Semoga bermanfaat untuk semua. Amin.

Pendapat saya, anggota semacam mas mpcrb, yang tekun mersudi, membuat jalur kontak langsung dengan dewan guru. Sehingga segala sesuatu perkembangan yang mempercepat, mempertajam, memperkuat, atau indikasi ekses negatip beserta upaya antisipasi yang sudah ditemukan atau belum, bisa didiskusikan dan ditindak lanjuti.
 Mersudi/litbang tentu  memakai norma2, sehingga sampai pada kesimpulan yg bisa direkomendasi oleh otoritas keilmuan untuk dipakai spesifik  terbatas, ditambah kurangi, atau dipakai secara umum.
Pada dasarnya, napas pembersih kadang menjadi kunci pembuka simpul buntu, menyapu sehingga ketemu mana yang "mbrenjul" dsb.
Mudah2an akan banyak "penemuan" yang muncul dimana mana.

Mungkin hanya selera pribadi saya, tidak "sreg" dengan istilah vibravision maupun ATP, yang memang tidak ada dalam peristilahan keilmuan MP, hanya istilah yang merujuk pendekatan ilmiah yang ada sampai saat ini. Yang pada titik tertentu sudah tidak bisa menjelaskan lagi.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/01/2011 17:10
Saya rasa istilah "vibravision" tidaklah begitu menyalahi aturan keilmuan. Sebab ini merupakan suatu bentuk inovasi, yang tentu saja harus dinamai. Seperti halnya "Bayu Seto", "Kidang Telangkat", "Kere Wojo", dsb. Juga nafas-nafas lain yang tentu saja harus memiliki nama. Dengan nama inilah menjadi pembeda antara yang satu dengan yang lain. Kesepahaman mengenai suatu pengertian juga di dapat dari suatu penamaan.

Antara "Andi" dan "Bambang" pada penyebutan nama orang tentu akan merujuk pada sosok yang berbeda. Meskipun sama-sama berwujud manusia.

Justru menggunakan nama "getaran" yang merujuk pada aplikasi "tutup mata" ini malah jadi melebar kemana-mana yang pada akhirnya bisa dilihat kerancuan pemahaman anggota pada tataran dasar. Betapa banyak dari mereka yang kebingungan dengan penggunaan istilah ini sebelumnya sehingga merasa kalau tidak bisa getaran (maksudnya pasti merujuk pada "tidak bisa vibravision") ya berarti tidak akan bisa masuk pada keilmuan lain. Meskipun kenyataannya tidak demikian.

Jadi, tidak heran kalau pada salah satu thread sebelah ada yang mengatakan kalau ilmu getaran MP itu dangkal. Sebab yang dirujuk oleh user tsb sebenarnya mengacu pada "vibravision" yang sering mereka lihat. Karena user ini menilai bahwa kebanyakan orang-orang MP memahami getaran ya ilmu tutup mata. :)

Sama halnya ketika berlatih "Bayu Seto", tentu penggunaan nama ini akan menjadi pembeda mengenai proses, teknik, dan aplikasi keilmuannya. "Wujud" Bayu Seto, "wujud" kere wojo, dll, tentu berbeda dengan tenaga getaran itu sendiri. Demikian juga halnya dengan penamaan "Vibravision".

Lafal "vibravision" terdengar cukup 'modern' di zaman sekarang sebagai suatu keilmuan beladiri, sebelum nanti otoritas keilmuan menemukan nama yang lain yang dirasa lebih pas.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 03/01/2011 19:08
Silahkan kalau lebih mempertimbangkan untuk konsumsi orang luar. Termasuk sbg istilah untuk bahasa inggris.
Tapi kalau mewacanakan kedalam termasuk kepada para dewan guru , pelatih  dan para anggota, saya sarankan lebih baik  memakai istilah baku.

Sekedar saran saja.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/01/2011 10:15
Memang benar kalau menggunakan istilah harus pada tempatnya. Saat ini akses saya terhadap dewan guru baru akhir-akhir ini lewat facebook. Alhamdulillah sudah cukup banyak memberi warna baru. Saya juga pernah diskusi ini dengan salah satu dewan guru dan beliau juga tidak paham istilah vibravision. Ketika kemudian saya pakai istilah "tutup mata", barulah paham. :)

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/01/2011 14:06
Tulisan ini saya copy dari sebagian data makalah penelitian pribadi saya terhadap Merpati Putih. Dimulai dari pengamatan dan penelitian terhadap sport modern, kungFu, dan kemudian Merpati Putih. Memang tidak lengkap utuh, tetapi saya sarikan intinya. Semoga bermanfaat bagi sahabat silat sekalian, terutama anggota Merpati Putih, untuk menambah pengetahuan.

Selama ini saya sering menggunakan istilah Isometric Exercise, Dynamic Tension, Plyometric Exercise, dsb, bukan tanpa alasan. Istilah-istilah tersebut merupakan hasil penelitian dari suatu diskursus keilmuan modern yang sudah teruji baik pada konsep, hasil, maupun proses. Disadari benar bahwa pasti ada keterkaitan antara diskursus keilmuan modern tersebut dengan beladiri. Adapun mengapa KungFu? Sebab ini adalah salah satu jenis beladiri tertua yang saya ketahui. Perjalanan panjangnya, meski tanpa embel-embel ilmiah, disadari atau tidak dan diakui atau tidak ternyata banyak diadopsi sebagai pengetahuan dasar dalam membentuk keilmuan modern di dalam sports. Sehingga memahami karakteristik sebagian unsurnya akan bisa membuka jalan pengetahuan baru yang bisa saja buntu terhadap Merpati Putih. Bahwa disadari atau tidak, tak pernah ada keilmuan di dunia ini yang sempurna. Kesempurnaan adalah mutlak milik Allah. Meski demikian, tidak perlu menutup diri terhadap pengetahuan luar yang dirasa bisa menjadi pelengkap pengetahuan beladiri yang kita geluti. Sebab pada intinya, pengetahuan itu seperti puzzle. Terkadang, salah satu potongannya berada pada pengetahuan pada disiplin ilmu lain sehingga ketika dirangkai utuh, maka wujud dari puzzle tersebut akan terlihat nyata.

***

Pelatihan Sport Modern
Plyometric Exercises bertujuan untuk meningkatkan kecepatan muscle contraction sehingga tubuh bisa menghasilkan explosive power yg paling optimal. Cara kerjanya biasanya dengan mengaktifkan ( Stretching ) terlebih dulu otot yg akan digunakan kemudian dengan melakukan suatu hentakan ( Contraction ) otot tsb "dipaksa" untuk bergerak secara cepat dan explosive.

Berdasarkan analisa mekanika otot - bisa dikatakan Otot bekerja seperti layaknya pegas ( per ). Pegas yg ditekan akan berusaha kembali ke panjang semula demikian pula otot yg dibebani ( Stretching ) akan berusaha kembali kebentuk semula ( Contraction ).

Sedang dari analisa System Syaraf, ketika otot melakukan Stretching maka system syaraf akan bekerja lebih aktif untuk melindung otot dari cidera. Ada semacam energi potential yg bekerja agar otot tidak over stretching - ini dikenal dengan Stretch Reflex. Stretch Reflex ini mengaktifkan lebih banyak serat otot yang akan menyimpan energi potensial yg siap digunakan untuk melakukan suatu aktifitas dan juga untuk melindung otot dari cidera.

Hanya saja jika energi potential yg timbul sesaat akibat Stretch Reflex ini tidak dimanfaat dengan segera maka energi potential ini akan segera hilang. Plyometric Exercises berusaha memanfaatkan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex ini.

Misalnya dalam Squat Jump Exercise - Sebelum melakukan suatu loncatan badan harus direndahkan terlebih dahulu untuk memberi beban sesaat pada otot-otot kaki ( Stretching ) - pada saat inilah timbul energi potential dari Stretch Reflex. Dan begitu badan direndahkan ( Squat ) harus segera diikuti dengan gerakan meloncat ( Jump ) secepat dan sexplosive mungkin untuk memanfaatkan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex.

Waktu antara Stretching ( mis. Squat ) dan Contraction ( mis. Jump ) harus seminimum mungkin. Dan Contraction harus dilakukan secepat dan se-explosive mungkin - ini prinsip pelatihan Plyometric.

(Sumber: http://www.sport-fitness-advisor.com/plyometricexercises.html)

***

Analisa KungFu Dari Sudut Pandang Mekanika Otot

Jika kita amati pola pelatihan Xinyi Quan ( ataupun Neijia lain khususnya yg mengandalkan Fa Jin ) sangat menarik sekali. Karna pola latihan Xinyi Quan benar-benar memanfaatkan pola latihan Isometric dan Plyometric secara berkesinambungan.

Latihan Zhan Zhuang merupakan pelatihan dasar Neijia yg bersifat Isometric Exercise.  Berdasarkan analisa mekanika otot bisa dikatakan Pelatihan Isometric bertujuan melatih otot Postural yaitu otot-otot yg mempertahankan suatu postur tubuh secara keseluruhan. Dengan pelatihan Isometric ini bisa dikatakan seluruh otot tubuh yg digunakan untuk mempertahankan suatu postur dipaksa untuk bekerja.

Otot Postural ini tersebar pada seluruh tubuh - ini yg menjadi dasar prinsip "Whole Body Movement" dari Neijia CMA berbeda dengan "Sectional Power" dari Waijia CMA yg lebih memanfaatkan Otot Phasic yaitu otot yg digunakan untuk melakukan suatu gerakan.

Ketika kita akan mengambil sesuatu dengan tangan kita biasanya kita hanya akan menggerakan otot-otot lengan saja tidak otot tubuh lainnya seperti otot kaki misalnya - ini yg disebut Otot Phasic. Kecuali mungkin praktisi Neijia yg sangat mahir mungkin akan menggunakan Otot Posturalnya ( dari otot kaki hingga otot jari ) ketika tangannya akan mengambil sesuatu.

Dari analisa System Syaraf juga tidak kalah menariknya, seperti dalam penjelasan di atas dikatakan dengan melakukan latihan Zhan Zhuang ( ataupun latihan Isometric lainnya ) maka otot Postural lah yg aktif bekerja. Dan karna Otot Postural tersebar diseluruh tubuh kita maka bisa dikatakan pada pelatihan Isometric, system syaraf yg tersebar pada seluruh tubuh juga dipaksa untuk bekerja lebih aktif lagi. Dan system syaraf bisa dikatakan dikontrol melalui pikiran kita. Ini sebabnya bisa dikatakan pelatihan Zhan Zhuang dan pelatihan Isometric lainnya lebih menitikberatkan pada penggunaan Pikiran dibanding Otot Tubuh.

Pelatihan Zhan Zhuang yg menitikberatkan pada pelatihan otot Postural yg tersebar diseluruh tubuh kita ini yg akhirnya melatih pikiran kita - melalui System Syaraf kita - untuk merasakan tubuh sebagai satu kesatuan yg utuh.

Dalam artikelnya Tim Cartmell mengatakan : " At the outset of training, the internal arts place the greatest emphasis on refining and training the nervous system to control the body. In contrast, most external styles emphasize increasing strength and endurance (external power) as the base upon which martial technique will be built. "

Contoh Extremenya : Bisa dilihat perbedaan antara pelatihan Taiji Quan yg menitikberatkan melatih Nervous System ( Sistem Syaraf ) untuk mengontrol tubuh dengan pelatihan Karate yg lebih menekankan Strenght  and Endurance misalnya. Nervous System ( Mind / Pikiran ) erat kaitannya dengan Postural Muscles sedang Strength and Endurance ( Body / Otot Tubuh ) erat kaitannya dengan Phasic Muscles.

Jadi pelatihan Zhan Zhuang ( ataupun pelatihan Isometric Lainnya ) pada Xinyi Quan dan Neijia CMA lainnya bertujuan meletakan basic dasar untuk pelatihan Postural Muscle dan juga System Syaraf tubuh secara keseluruhan.

***

Pelatihan dalam Xinyi Quan ( ataupun Neijia lainnya khususnya yg mengandalkan Fa Jin ) tidak berhenti pada latihan Isometric  saja tetapi kemudian berlanjut dengan latihan Plyometric. Tahap berikutnya pada pelatihan Xinyi Quan setelah Zhan Zhuang ( Isometric Exercises ) adalah pelatihan Power ( Plyometric Exercises ) yang dilakukan dalam bentuk pelatihan Wuxing Quan ( Five Element Fist ).

http://www.youtube.com/watch?v=ePEsgnTMd1c

Pada video di atas bisa dilihat pelatihan ini benar-benar mencerminkan pelatihan Plyometric yg biasa dilakukan pada pelatihan modern. Semua jurus diawali dari suatu sikap awal tertentu kemudian dilanjutkan dengan gerakan menghentak yg cepat dan explosive untuk memanfaatkan energi potential ( Stretch Reflex ) yg didapat dari sikap awal tsb. Setelah beristirahat sejenak kemudian gerakan jurus tsb diulangi lagi - terus menerus dalam repitisi yg biasanya sangat extreme.

Bandingkan dengan pelatihan Plyometric dibawah ini - pada pelatihan Plyometric Modern ini digunakan bola sebagai beban :

http://www.sport-fitness-advisor.com/plyometric-drills.html

Bandingkan Power Training dari pukulan ke arah bawah Xinyi Quan ( Jurus Pertama dalam video tsb ) dengan Slams dari Plyometric Exercise - terlihat kemiripannya yakni keduanya dimulai dengan menarik tangan ke arah belakang kepala ( Stretching ) terlebih dahulu kemudian membanting tangan ( Contraction ) ke bawah secepat dan se-explosive mungkin.

Begitu pula bisa dilihat Power Training dari pukulan ke arah depan ( Jurus kedua dalam video tsb ) menggunakan prinsip yg tidak jauh berbeda dengan Explosive Start Throws dari Plyometric Exercise. Gerakan dimulai dengan menarik tangan ke arah belakang ( Stretching ) diikuti dengan melempar tangan ke depan secepat dan explosive mungkin.

Semua dimulai dengan suatu Sikap Awal ( Posture Awal ini untuk mengaktifkan Postural Muscles ) diikuti dengan Gerakan cepat dan explosive. Waktu antara Sikap Awal dan Gerakan Cepat Explosive diusahakan seminimum mungkin agar tidak ada kehilangan Energi Potential yg didapat dari Stretch Reflex.

Baik Power Training Xinyi Quan ataupun Plyometric Exercise dilakukan dengan cara melakukan Gerakan Sederhana tsb berulang kali.

***

Latihan Fa Jin yg dilakukan melalui pelatihan Wuxing Quan ini benar-benar memanfaatkan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex dengan optimal. Cepat, penuh tenaga dilakukan dengan satu hentakan yg semua dimulai dari Potural Muscle ( Sikap Awal ) yg bertujuan untuk mengaktifkan Stretch Reflex.

Bisa dikatakan Zhan Zhuang yg bersifat Isometric menjadi dasar untuk mengaktifkan System Syaraf dan Postural Muscle yg digunakan pada Sikap Awal suatu jurus. Dengan semakin aktifnya System Syaraf dan Postural Muscle maka akan semakin besar energi potential yg didapat dari Strecth Reflex ketika melakukan Sikap Awal. Energi Potential yg dihasilkan dari Sikap Awal ini kemudian digunakan dengan baik pada pelatihan Wuxing Quan yg bersifat Plyometric.

Dari sini bisa dilihat suatu kesinambungan pola latihan Isometric dan Plyometric dalam Xinyi Quan. Tujuan pelatihan Zhan Zhuang adalah agar tubuh memiliki energi potential yg besar - sedang pelatihan Wuxing Quan bertujuan untuk memanfaatkan energi potential tsb sebaik mungkin.

Jadi bisa dikatakan Zhan Zhuang ( Isometric ) mempersiapkan praktisi untuk mendapatkan energi potential sebesar mungkin sedang Wuxing Quan ( Plyometric ) mempersiapkan praktisinya untuk mampu mengubah energi potential tsb menjadi energi kinetik seoptimal mungkin.

Dalam pelatihan modern Plyometric Exercise dikenal rentan menimbulkan cidera karna sifat latihannya yg menuntut dilakukannya sebanyak mungkin repitisi gerakan yg bersifat explosive dalam waktu sesingkat mungkin. Tampaknya para master beladiri di dunia Timur seperti di China ini sudah mengetahui hal ini.

Untuk itu sebelum melakukan pelatihan yg bersifat Plyometric ( seperti Wuxing Quan ) perlu dilakukan suatu pengkondisian terlebih dahulu pada tubuh. Dan pelatihan yg bersifat Isometric ( seperti Zhan Zhuang ) inilah yg diperlukan.

***

Sebagai pembanding mungkin kita bisa lihat link di bawah ini bagaimana Strength Training Programs dalam Olahraga Tinju - yang diyakini juga menjadi program latihan standard untuk cabang beladiri lain seperti MMA misalnya :

http://www.sport-fitness-advisor.com/strengthtrainingprograms.html

Perhatikan tabel "Strength Phases for Boxer" sebelum Pertandingan ( F ) untuk periode latihan pada bulan Sep-Dec. Strength Training Programs dibagi menjadi program Basic Strength, Maximal Strength, Conv to P, Mantain P and ME hingga hari F ( Fight ).

(http://www.sport-fitness-advisor.com/images/strength_training_programs_boxer.gif)

Pelatihan diawali dengan program Basic Strength ( BS ) biasanya fokus pelatihan pada tahap ini adalah pada Core Strength Training ( Pelatihan Core Muscle ) - tujuan program ini mempersiapkan otot tubuh agar tidak mudah mengalami cidera pada program latihan yg lebih berat. Kemudian pelatihan dilanjutkan dengan program latihan Maximal Strength ( MS ), program latihan ini melibatkan pelatihan angkat beban seperti Bench Presses, Dead Lift dsb. Tujuan latihan ini untuk meningkatkan kekuatan maksimal otot.

Setelah otot mengalami peningkatan kekuatan maksimal dari program Maximal Strength kemudian program latihan selanjutnya adalah mengconvert kekuatan maksimal otot ini menjadi Power ( Conv. to P ). Pada tahap inilah pelatihan explosive power seperti Plyometric digunakan. Sebelum hari F ( Fight ) program selanjutnya hanyalah memaintain Power dan Muscular Endurance si atlet dengan program latihan ringan.

Jika kita lihat perbedaan antara pelatihan modern pada Tinju dengan Neijia seperti Xinyi, Baji dsb terletak pada program latihan Maximal Strength. Pada Neijia biasanya tidak ada pelatihan angkat beban baik itu yg bersifat Isometric sekalipun untuk mendapatkan peningkatan kekuatan maximal otot - berbeda dengan Isometric MP yg sudah menggunakan beban. Selebihnya bisa dikatakan program pelatihannya tidak jauh berbeda.

Pada Neijia Basic Strength didapat dari pelatihan Isometric seperti Zhan Zhuang sedang Convert to Power nya dilakukan dengan pelatihan Plyometric seperti Wuxing Quan. Sedang Program untuk me-maintain Power dan Muscular Endurance didapat dengan melakukan latihan ringan Wuxing Quan secara rutin setiap hari.

Selain itu juga terdapat perbedaan utama antara program Basic Strength pada olahraga Tinju dengan Neijia yaitu pada Neijia program Basic Strength mengutamakan pelatihan yg bersifat Isometric Extreme untuk melatih Otot Postural sedang pada Tinju biasanya Basic Strength tidak menggunakan pelatihan Isometric tetapi lebih menggunakan pelatihan bersifat Dynamic yg lebih melatih Otot Phasic.

Itu sebabnya bisa dikatakan Neijia menggunakan prinsip "Whole Body Movement" sedang Tinju menggunakan prinsip "Sectional Power" sebagai dasar pengolahan tenaganya. Inilah yang dimaksud prinsip dasar pengolahan tenaga.

(bersambung)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/01/2011 14:45
(lanjutan)

Studi Kasus Pada Merpati Putih

Jika dilakukan studi banding dengan MP, memang benar pelatihan MP bisa dikatakan memiliki dasar pelatihan Isometric yang extreme dengan berbagai posture-nya melalui oleh nafas pengolahan dan olah nafas pembinaan. Plus juga beban yang digunakan di dalam pelaksanaan olah nafas tersebut.

Dan jika kita belum pernah melihat beberapa alat yg digunakan pada pelatihan Isometric, maka kita akan terkejut ketika mengetahui bahwa ada salah satu alat pada pelatihan Isometric modern yang mirip dengan Gandewa yang biasa digunakan pada pengolahan tingkat Khusus.

Hanya saja sayangnya latihan Isometric MP yg extreme ini tidak dilanjutkan dengan pelatihan Plyometric yg extreme juga seperti yg ada pada pelatihan Xinyi Quan. Pada Xinyi Quan setelah pelatihan Zhan Zhuang yg extreme ( Isometric ) kemudian dilanjutkan dengan pelatihan  Wuxing Quang yg juga tidak kalah extremenya ( Plyometric ) untuk mendapatkan "rasa Fa Jin" dan  juga pada Ten/Twelve Animal Fist ( Advanced Plyometric ) yg lebih aplikatif untuk pertarungan.

Inilah perbedaan yg mendasar antara MP dan Neijia CMA seperti Xinyi Quan ataupun Baji Quan yg juga mengandalkan explosive power seperti MP - yaitu hilangnya ( Missing Link ) pelatihan Power berbasis Tata Gerak ( Kinetik ) pada pola latihan MP. Pada pelatihan Xinyi ataupun Baji pelatihan Isometric ( Energi Potential ) hanya menjadi dasar untuk pelatihan Plyometric ( Energi Kinetik ) pada tahap selanjutnya.

Pelatihan Isometric dan Plyometric adalah suatu pola pelatihan yg berkesinambungan.

Ini yg tidak ada pada pola pelatihan MP. Pada pola pelatihan MP - energi potential ini kurang dimanfaatkan dengan suatu latihan Tata Gerak tertentu untuk mengubahnya menjadi energi kinetik seoptimal mungkin. Jadi bisa dikatakan energi potential yg didapat dari pelatihan Isometric yg extreme tidak dikonversikan menjadi energi kinetik melalui latihan Plyometric yg extreme juga. Kalaupun terjadi kondisi dilapangan seperti yang dimaksud, terjadinya tidaklah massive/massal tetapi sporadis/insidental berdasarkan kedalaman pengetahuan pelatih. Artinya, secara substansial kurikulum resmi belum memuat hal-hal prinsipil seperti itu.

Jika kita analogikan pada pelatihan Tinju memang pelatihan Isometric MP bisa kita masukan sebagai program latihan Basic Strength (BS ) dan juga Maximal Strength ( MS ) karena sudah adanya penggunaan beban pada latihannya. Tetapi dalam pelatihan MP tidak ada program latihan "Convert to Power" - tidak ada bentuk latihan untuk meng-convert Maximal Strength yg didapat dari pelatihan Isometric menjadi Explosive Power dalam bentuk Kinetik ( Gerakan ). Yang ada adalah konversi dari konversi pelatihan Isometric menjadi Tenaga Getaran kemudian masuk pada keilmuan kanuragan. Adapun bagaimana korelasi antara Tenaga Getaran yang dihasilkan ini dengan Tata Gerak yang sudah ada sering diabaikan.

***

Pada kondisi ini, bisa dibuat suatu studi kasus dimana dipilih beberapa Gerak Dasar Serangan MP untuk dijadikan semacam Wuxing Quan ala MP. Gerak Dasar Serangan MP ini yg nantinya bisa dijadikan semacam Pelatihan Plyometric ala MP yg juga tidak kalah extremenya. Hasilnya diperbandingkan dalam jangka waktu tertentu mengenai kekuatan otot, daya tahan melakukan repetisi pukulan, dan kekuatan daya pukulan.

Tetapi yg perlu diingat adalah Latihan Gerak Dasar Serangan MP ini juga harus dilakukan dengan Prinsip Pelatihan Plyometric yg benar juga - yaitu pemanfaatan energi potential yg didapat dari Stretch Reflex ( Sikap Awal ) menjadi energi Kinetik seoptimal mungkin dengan gerak yg cepat dan explosive. Waktu antara Sikap Awal dan Gerakan Cepat Explosive diusahakan seminimum mungkin agar tidak ada kehilangan Energi Potential yg didapat dari Stretch Reflex.

Meskipun sebagian pada prinsip dasar ini termuat di dalam Nafas TO (tenaga otomatis) ala MP, akan tetapi korelasi dengan tata gerak masihlah belum maksimal. Dalam arti tidak ada instruksi lanjutan di dalam kurikulumnya untuk memasukkan bagian dari aspek aplikatif pada tata gerak yang dilambari tenaga explosive ini.

Sebagian dari pelatihan tradisional MP yang berprinsip LEMAS, CEPAT, KERAS, BERTENAGA, sudah mulai ditinggalkan. Padahal pelatihan tradisional MP dengan prinsip tersebut benar-benar cukup mewakili prinsip dasar pengolahan tenaga seperti yang saya sebut diatas. Sehingga tidak heran kualitas pukulan anggota MP pada tataran dasar rata-rata lebih rendah dibanding mereka yang memahami prinsip dasar pengolahan tenaga berbasis whole body movement ini. Padahal, pelatihan tradisional ini terbukti sangat baik dan sesuai dengan kaidah dasar di dalam Plyometric Exercize.

Prinsip Dasar Plyometric Exercise adalah seperti Mekanisme yg bekerja pada Pegas ( Per ).

Pelatihan Plyometric ini sebenarnya yg menjadi salah satu missing link -yg menjadi topik pembahasan makalah ini. Yaitu pelatihan Explosive Power berbasis Tata Gerak ( Kinetik ) - pelatihan berdasarkan prinsip mekanika otot dan energi kinetik yg dihasilkan dari Tata Gerak MP. Selain missing link pada latihan Kepekaan ( Olah Rasa - Getaran ) berbasis Gerakan ala Pushing Hand (tuishou atau tempel) yang dapat menyiapkan praktisinya untuk berada pada kondisi fighting secara fisik.

Disinipun hilang jenjang penguasaan berbasis tata gerak dengan prinsip mekanika otot. Pada studi kasus salah satu silat tradisional, di dapati teknik pushing hand yang menghasilkan kemampuan "rasa usik", "rasa nempel", dan "rasa sinar". Kalaupun anggota tidak bisa mendapatkan "rasa sinar", maka ia masih bisa mendapatkan "rasa usik" dan "rasa nempel".

Pada Merpati Putih, kalau seorang anggota tidak bisa menguasai tenaga getaran untuk deteksi yang menuju gerak naluri (yakni gerakan yang dilambari getaran), maka ia akan "kehilangan" daya. Kesimpulan sementara, ia harus meraih keberhasilan menguasai tenaga getaran. Kalau masih gagal, berlatih terus hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Prinsip seleksi alam. Seleksi alam memang baik, tetapi semestinya perlu dipikirkan juga terhadap anggota-anggota yang gagal ini. Minimal ada alternatif dari sejak awalnya ia memulai berlatih olah gerak, kemudian bisa menghasilkan tenaga yang tidak kalah besar dengan yang dihasilkan oleh tenaga getaran. Tentunya dengan batasan-batasan yang tetap tidak akan mampu melampaui kemampuan dan kualitas tenaga getaran. Jenjang penguasaan ini, minimal menjadi "obat" bagi mereka yang tidak berjodoh dengan getaran.

Kurikulum Baku MP masih terlalu bersifat Kanuragan sehingga melupakan pelatihan berbasis Tata Gerak. Jika Pelatihan Isometric MP ( Nafas Pengolahan dsb ) yg extreme didukung dengan Pelatihan Plyometric ( Wuxing Quan ala MP ) yg juga extreme - mungkin akan bisa didapat pesilat MP yg benar-benar mumpuni. Cepat, Keras, Explosive dan juga telengas yg tidak akan kalah dalam pertandingan IPSI ataupun ajang lainnya. Tetapi hal ini tidak terjadi.

Pelatihan Pernafasan MP yg bersifat Isometric ini sebenarnya sudah mempersiapkan kondisi otot tubuh praktisi MP untuk mampu melakukan suatu aktivitas fisik yg berat - tetapi tidak terdapat suatu bentuk pelatihan Plyometric dalam Kurikulum Baku MP untuk memanfaatkan Energi Potential yg sudah tersedia itu dan mengubahnya menjadi Energi Kinetik seperti yg ada dalam pelatihan Xinyi Quan ataupun Baji Quan.

Sehingga sangat disayangkan hasil latihan pernafasan MP yg bersifat Isometric dengan pelatihan yg sangat extreme ini jika tidak dilanjutkan dengan suatu bentuk pelatihan Plyometric yg juga bersifat extreme.

Tidak ada alternatif lain bagi mereka yang mengalami kegagalan terhadap penguasaan tenaga getaran untuk mencapai tahap kanuragan pertama yakni "tutup mata" atau istilah umum 'getaran'. Sehingga disinilah banyak sekali anggota yang pada akhirnya tumbang tidak mau berlatih lagi atau terpaksa mengambil jalur lain semisal organisasi.

Prinsip dasar yang diterapkan adalah hanya berbasis tenaga yang dihasilkan dari olah nafas yang menjadi tenaga power dan dikonversi menjadi tenaga getaran. Sedangkan prinsip dasar berbasis tata gerak sama sekali tidak ada. Gerak naluri pun menggunakan pendekatan ini, yakni pendekatan berbasis tenaga getaran, tidak berbasis alternatif lain.  Meskipun bisa jadi ada pemahaman lain, tetapi tidak massive terhadap anggota tataran dasar, terutama pada tingkat-tingkat produktif (tingkat Dasar hingga tingkat Kombinasi).

Tulisan ini berusaha mengurai apa yang sudah melekat pada MP yang menjadi kekuatan pada pelatihan yang ada berbasis kurikulum baku, dan bagaimana mencari alternatif solusi untuk melengkapi apa yang menjadi kekurangan MP. Tidak lantas membuat MP menjadi ke-KungFu-KungFu-an, tetapi mengambil pemahaman pada prinsip dasar yang dipakai oleh mereka untuk dicoba melihat perbendaharaan apa yang dimiliki MP yang mirip atau mendekati prinsip tersebut. Hasil akhirnya, tetaplah suatu bentuk pelatihan MP yang (diharapkan) lebih komprehensif, berjenjang, dan memiliki prinsip dasar pengolahan tenaga yang lengkap dari sebelumnya.

***

Semoga berguna.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/01/2011 15:24
Alhamdulillah.

1. Ada phenomena, pada anggota/kolat/cabang, dimana basis bahasa-nya (bahasa sehari hari) adalah bhs Inggris, bhs Perancis, Belanda, Jerman, Jepang, Maori bahkan bhs Arab (mis tunanetra kerajaan Oman), mereka berkeras hati untuk tetap memakai ISTILAH TRADISIONAL MP dalam nama2 bentuk sikap, kuda2, pola langkah, gerakan tangan, gerakan kaki dan seterusnya (ternyata mempermudah instruksi penguji ketika UKT NAS, dan komunikasi konsultasi keilmuan).
Bahkan di Amerika pun, istilah vibravision hanya dipakai sebagai bridging, agar ada sedikit gambaran dengan memakai istilah bahasa yang familiar. Selanjutnya, dengan tegas dan bangga mereka memakai istilah "IGMP", ilmu getaran merpati putih.

2.  Dalam upaya melestarikan keilmuan MP, pertama tentu diperlukan otoritas keilmuan, yang diposisikan bertanggung jawab menetapkan garis2 keilmuan yang menjadi pedoman seluruh anggota dan pelatih. Antara lain untuk meminimalisir kerancuan umum.

Didalamnya tentu melekat persoalan mengelola/me-manage, perkembangan keilmuan dari banyak sisi. Dari sifat mersudi keilmuan MP, belum lagi pengembangan naluri praktisinya, niscaya akan ditemukan hal2 baru, baik dibidang beladiri maupun non beladiri, apakah peningkatan ramuan dengan mengotak atik porsi dari variabel yang sdh terdapat dalam ramuan itu, atau menambah variabel MP yang semula belum dimasukkan, atau menyusun ramuan baru, dengan tetap memakai bahan2 variabel MP.   

Kalau sifat dan manfaatnya mendasar, tentu dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam metoda pokok. Atau bisa disebarkan ke pelatih2 sebagai catatan perbendaharan keilmuan menghadapi keadaan khusus.
Atau akan diteliti lebih lanjut oleh otoritas, atau memberi petunjuk2 khusus kepada praktisi bersangkutan dalam melanjutkan mersudinya.

Pada titik/garis singgung dengan dengan keilmuan non MP, dimungkinkan ada penggabungan, saling dukung sesuai fungsinya, terutama dalam kategori keilmuan MP untuk pengabdian masyarakat.
Sekecil apapun porsi variabel keilmuan MP dalam gabungan tersebut, otoritas keilmuan akan terus mengawal perkembangannya.

Masih dalam angan2 yang mudah2an bisa segera terwujud, adanya satu padepokan pusat MP, yang didalamnya antara lain ada pusat dokumentasi keilmuan, yang menyimpan, mengoleksi temuan mersudi oleh anggota, dalam berbagai kategori. Sehingga bisa menjadi bahan dan pertimbangan bagi proses perkembangan keilmuan MP. Amiin.

Salam.
 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/01/2011 17:42
(lanjutan)

Apa yang saya analisa barulah pada tahap tata gerak, belum pada pemahaman olah nafas mengapa begini dan mengapa begitu. Memang untuk tataran dasar, lebih baik melakukan saja dulu apa yang sudah diperintahkan oleh pelatih untuk kemudian sambil berjalan prosesnya barulah pemahaman diberikan. Begitulah idealnya. Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan tidaklah seperti itu. Lebih banyak anggota yang "terjebak di lorong gelap" untuk kemudian berusaha mencari sendiri dengan caranya. Bagi yang menemukan, ia akan mendapatkan pemahaman. Tetapi bagi yang tidak menemukan, maka ia akan terhenti.

Belajar olah kanuragan sangat berbeda dengan belajar olah gerak. Pada olah gerak, relatif mudah dan relatif bisa ditiru. Pemahaman sederhana ada pada bentuk gerakan dan latihan dasar yang melandasi prinsip dasar pengolahan tenaga pada gerakan tersebut. Selebihnya adalah faktor repetisi. Semakin extreem repetisi yang dilakukan, maka semakin baik hasilnya. Hampir tidak diperlukan shortcut untuk menguasai suatu olah gerak dibandingkan olah nafas atau kanuragan.

***

Misal, pada pelatihan Zhan Zhuang ala CMA. Pelatihan ini sangat sederhana, tetapi efeknya begitu besar sehingga menjadi dasar dari segala bentuk aliran kungfu China.

Berikut adalah salah satu posisi Zhan Zhuang:

(http://i53.tinypic.com/2uzply0.jpg)

Kaki dibuka selebar bahu (tidak terlalu lebar dan tidak terlalu sempit, ukur selebar bahu sendiri. Seluruh tubuh berada pada satu garis lurus dengan titik utama pada simput perut utama (dan tian/hara).

Pada Merpati Putih, ternyata hal itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan posisi sikap sempurna. Entah apakah suatu kebetulan atau tidak, posisi sikap sempurna Merpati Putih sangat mendekati salah satu posisi pelatihan Zhan Zhuang ini. Jadi, dengan memanfaatkan posisi sikap sempurna yang ada, salah satu prinsip dasar dari pengolahan tenaga berbasis whole body movement telah di dapatkan. Tidak meniru gerakan kungfu, tetapi memanfaatkan yang sudah ada dengan diambil konteks pemahaman untuk didapat hasil yang sama.

Melatih secara khusus sikap sempurna Merpati Putih dengan pemahaman ini akan membuka cakrawala baru dimana anggota mendapatkan tiga keuntungan sekaligus, yakni pertama bentuk sikap sempurna yang baik, kedua pemahaman dasar mengenai prinsip dasar pengolahan tenaga berbasis whole body movement serta ketiga pengetahuan mengenai otot-otot postular tubuh.

Menarik, bukan?

Saya akan post pada tulisan selanjutnya untuk pendekatan yang lain.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 04/01/2011 18:46
Mungkin perlu sedikit pelurusan mengenai ruang "gelap" yang tidak diketahui dimana letak pintu selanjutnya.

Bukan berarti praktisi didiamkan begitu saja. Tetapi mendapat satu paket program latihan, yang kalau dilatih secara benar, bertahap dengan penghayatan penuh, akan melaporkan perkembangan2 tertentu, rasa, pengalaman2 dan sebagainya, yang tentu sudah dipahami pelatihnya, sehingga bisa memberi petunjuk penyelesaian maupun kelanjutannya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: anakbawang on 10/01/2011 10:13
assalammualaikum.wr.wb. mas prapto/mas mpcrb..saya newbie n jg blum lama latihan mp, baru balik 2...saya cuma minta sedikit penjelasan pada setiap latihan dasar getaran / gerak naluri saya merasa dari tangan kanan saya energi (rasa grmet2) yang keluar warnanya   putih/ kuning tetapi yang kiri  agak gelap, apakah inic uma sugesti saya saja yang blum benar sehingga gambaran yang muncul seperti tsb,, sebab dari pelatih digambarkan bahwa warnanya putih. mohon maaf jika pertanyaan ini kurang berkenan cm terkadang jadi mneggangu proses ke"khusyu"an latihan saya. terima kasih .. salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 10/01/2011 13:00
@ mas Anak bawang.

Bisa karena latihan bagian kiri dan kanan belum seimbang, bisa juga karena ada anasir "hitam" yang sudah ngendon di tangan kiri.

Perbanyak sesi napas pembersih. Karena sifatnya "membersihkan" dari anasir yg tidak dikehendaki, mengepras energi yang "mbrenjul" tidak pada tempatnya, mengisi lobang2 energi dst.

Jangan pusing/terganggu dengan keadaan itu, latihan terus sesuai prosedur, sambil lebih ditambah pas sessi napas pembersih, Insya Allah lancar.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: anakbawang on 10/01/2011 14:59
terima kasih banyak mas atas penjelasannya...semoga merpati putih semakin memberi manfaat bagi bangsa dan negara, saya sebagai murid yang belum bisa berbuat banyak dalam membalas budi u/ perguruan cm bisa mengirim doa bagi para leluhur, guru, pewaris dan keluarga besar perguruan agar selalu di berikan keikhlasan dan kebaikan di dunia & akhirat. amien. terus terang semenjak saya ikut latihan (terutama latihan dasar getaran) kesadaran religi semakin saya rasakan (walaupun disetiap latihan tidak pernah disinggung masalah tersebut), tapi itu yang saya alami dan rasakan.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 11/01/2011 10:06
@mas anakbawang,

Pada tahap awal, visualisasi biasanya akan diberikan pelatih untuk mempermudah di dalam proses mendapatkan pemahaman "rasa" pada area yang sedang difokuskan. Bahwa pada tahap awal sesungguhnya yang dilatih adalah "rasa" dan bukan sekedar warna tadi. Kalau konsentrasi bagus, visualisasi warna akan mudah dilakukan (umumnya menggunakan warna putih). Tetap ketika "warna" tersebut muncul atau tidak muncul, "rasa" pada tangan mas itulah yang menentukan.

Saya sering berkata pada anggota yang sedang belajar getaran. Bahwa tahap awal belajar getaran itu "JANGAN PAKAI OTAK" .... Maaf, bukan lantas menyuruh anggota "tidak pakai otak atau menjadi bodoh" ... tetapi berlatih pakai HATI. Jangan konsentrasi pada nalar, tetapi pada rasa. Semakin "membuka hati" maka semakin lancar. Tidak lantas tidak menggunakan otak sama sekali. Tidak demikian. Nantinya ada peran tersendiri antara kaitan nalar-hati ini. Tidak perlu saya jelaskan detail, nanti akan dirasakan sendiri kaitannya.

Gremet-gremet yang dirasakan di tangan itu JANGAN DIPIKIRKAN, tetapi dirasakan. Semakin konsentrasi penuh pada hati, maka semakin besar efeknya. Kalau pada teori umum "kemana pikiran mengarah, kesana tenaga mengalir", sedangkan pada latihan getaran "kemana hati mengarah, kesana getaran mengalir". Silahkan dicoba.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 11/01/2011 10:54
@mas Anakbawang, tahap melatih getaran pribadi adalah tahap sangat penting. Yakni tahap pembangkitan tenaga getaran. Jadi, konsentrasikan disitu sehingga mas benar-benar bisa merasakan secara maksimal tenaga getaran yang ada pada tubuh ams.

Kalau nanti mas anakbawang sudah berhasil, jangan lupa untuk sering-sering "menjaga kondisi" tubuh dengan melakukan olah nafas pengolahan dan pembinaan secara periodik. Tujuannya agar "generator" tubuh selalu ON dan siap pakai.

***

Pada setiap praktisi getaran yang cukup sulit adalah mencari "arena" untuk melatih aplikasi di kehidupan nyata. Sebenarnya hal ini sudah harus mulai dipikirkan oleh cabang dengan berusaha melatih para praktisi getaran ini di dunia nyata sehingga aplikatifnya cukup terasa dan bisa bermanfaat.

Baru-baru ini rekan-rekan melakukan suatu "langkah menarik", yakni dengan mempekerjakan praktisi getaran (secara sambilan) sebagai pengawas keamanan suatu event. Alkisah ada suatu event kesenian, dimana yang hadir tidak boleh membawa makanan dan minuman ke dalam area pertunjukan. Ditempatkanlah dua praktisi getaran di depan pintu masuk pengecekan. Tugasnya simpel, yakni "menembakkan" getaran deteksi untuk mengetahui ada atau tidak ada makanan atau minuman yang dibawa oleh pengunjung TANPA membongkar tas. Efeknya jadi sangat menarik.

Seorang ibu-ibu kedapatan membawa biskuit dan di stop di depan pintu, "maaf bu, biskuitnya ditinggal disini. Masuk tidak boleh bawa makanan". Si ibu ngeles, "nggak kok, saya tidak bawa biskuit". Dijawab, "bener nih bu? Saya priksa ya?", Jawab si ibu, "nggak deh mas, ya udah saya keluarin biskuitnya" (dengan wajah bingung dan sedikit malu). Saya yakin si ibu ini pasti penasaran, kok bisa ketahuan ya?

Masuk lagi seorang pengunjung yang "ngumpetin" aqua kecil di tasnya. Di stop di depan pintu, "maaf mas, aquanya ditinggal. Masuk tidak boleh bawa minuman". Si mas ini ngeles, "nggak kok mas". Dijawab, "bener nih? saya periksa ya?", dan dengan setengah malu "ngga usah deh, ini saya titipin aqua-nya". Dan ngeloyor dengan wajah bingung, kok bisa ketahuan ya?

Sampai dengan yang membawa "roti sepotong" juga ketahuan. Banyak wajah-wajah bingung yang bahkan sebagian menengok ke kanan kiri dan atas bawah seperti berpikir kalau mungkin ada kamera CCTV tembus pandang yang bisa mengetahu isi tasnya. :)

Demikian seterusnya hingga banyak pengunjung yang akan masuk "dideteksi" oleh praktisi getaran ini apakah kedapatan membawa makanan/minuman. Banyak wajah "bingung" dan "aneh" melihat bahwa tim keamanan dari Merpati Putih tidak perlu memeriksa tas dengan membuka-buka tas/dompet. Sayang saya tidak sempat merekam "wajah" dari pengunjung yang keheranan ini.

Pertanyaannya, bagaimana sesungguhnya mekanisme getaran untuk deteksi ini secara ilmiah?

***

Di dalam sains, setiap benda memiliki molekul. Dr. William P Blair dari John Hopkins University pernah mempublikasikan jurnal ilmuah mengenai ini. Perhatikan gambar berikut ini:

(http://i.livescience.com/images/070226_light_A_02.jpg)
(credit to: LiveScience.com)

Yang menarik adalah pada dua penjelasan terakhir:

-- Your brain, interprets the vibration information to mean 'blue'. --

-- your brain processes billions of signals per second. Other materials in the vase send color signals that your brain integrates with the blue. Various types of atoms communicate additional information, such as texture, specularity, and reflectivity.---

Disitu disebutkan oleh scientist istilah warna 'biru' (dengan menggunakan tanda kutip). Artinya bahwa 'biru' tidaklah biru seperti yang mata kita lihat. Warna 'biru' sesungguhnya adalah representasi energi dengan panjang gelombang tertentu yang mengenai atom dan diserap olehnya. Atom ini kemudian 'terlempar keluar' pada jalur energi yang lebih besar dan memancar dengan panjang gelombang yang sama. Panjang gelombang itu mengenai mata untuk kemudian otak kita menterjemahkan itu sebagai 'BIRU'.

Melalui artikel tersebut, jadi cukup bisa dimengerti mengapa MP mengajarkan materi 'getaran pribadi' sebelum masuk pada halang rintang, deteksi obyek, deteksi benda, volume dan jarak serta warna. Meskipun MP belum pernah meneliti secara khusus, tetapi pakem urutannya sudah sesuai dengan penjelasan ilmu pengetahuan yang ada. Getaran pribadi ini hukumnya WAJIB dikuasai dulu. Tetapi setelah membaca penjelasan Dr. William tersebut, ternyata tiap obyek memiliki atom-atom yang membentuk 'warna', 'bentuk', 'struktur', 'tekstur', dan 'karakteristik lain' dari obyek. Nantinya obyek tersebut akan 'dikenai' atau 'ditabrak' oleh gelombang dari tempat lain. 'Tabrakan' ini akan menimbulkan suatu efek fotolistrik dengan 'terlemparnya' foton. Dan inilah sesungguhnya yang di deteksi.

Setiap obyek memiliki "Getaran Tinggal" dari suatu konsekwensi logis pada benda bermolekul yang dilingkupi udara disekitarnya. Besar kecilnya getaran tinggal ini sangat variatif.

Ketika getaran tubuh "ditembakkan" pada suatu benda, maka ia akan mengenai struktur atom benda tersebut dan dari situlah kemudian terbentuk karakteristik dari benda (sesuai penelitian dari Dr. William). Para praktisi getaran (terutama yang matanya normal) memiliki sangat banyak perbendaharaan pencitraan obyek pada memori ingatanya. Jika ia sudah hidup selama 30 tahun (misalkan) maka dalam rentang waktu itulah ia mengingat obyek-obyek yang pernah dilihat oleh matanya. Dan basis dari ranah ingatan inilah yang kemudian "mengemuka" sebagai suatu pengetahuan obyek yang baru melalui "rasa getaran". Sehingga ketika "ditembakkan" dan mengenai "biskuit" atau "aqua", maka karakteristik dari "biskuit" atau "aqua" yang ada pada memori otak praktisi ini akan secara otomatis/reflek muncul sebagai suatu informasi seperti halnya ketika orang normal melihat obyek bernama "biskuit" atau "aqua" ini. Akhirnya, otak menyimpulkan sebagai obyek "biskuit" atau obyek "aqua" (sesuai yang muncul pada memori ingatannya) dan "mengabari" sanubari bahwa itu adalah "biskuit" atau "aqua" atau obyek lain.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: anakbawang on 11/01/2011 13:15
terima kasih banyak mas atas semua petunjuknya.....sangat berarti sekali utk latihan saya ke depannya.
salam hormat utk para senior.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: anakbawang on 11/01/2011 13:43
terima kasih banyak mas atas semua penjelasan & petunjuknya...sangat berarti utk latihan saya ke depannya.
salam hormat saya utk para senior.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: anakbawang on 11/01/2011 14:40
salam.
yang dijelaskan mas mpcrb tertang teori di atas pernah saya alami saat latihan di kolat, pernah suatu ketika datang senior cabang yang sdh mahir getaran mengarahkan kami yang balik II, katanya dia mau tahu perkembangan latihan dikolat. sampai pada saat dicoba untuk deteksi warna setelah melakukan rangkaian nafas dasar getaran dengan  kondisi mata tertutup di depan kami di taruh kertas warna, saya merasa seperti ada dorongan dari hati (keyakinan) untuk mengatakan warnanya 'kuning' dan kebetulan benar kuning... saya katakan masih kebetulan karena dilatihan2 selanjutnya lebih banyak salahnya dari pada benernya..hehe.
mas apakah suasana hati/mood kita saat juga mempengaruhi getaran yang dihasilkan? soalnya kesimpulan saya dari hasil benar-salah saat menebak obyek, biasanya klo lagi mood latihan bagus tebakannya benar begitupun sebaliknya.
karena saya lebih 'sreg' latihan getaran utk gerak bebas naluri daripada deteksi obyek. jadi klo disuruh deteksi obyek malah seperti ada yang mengganjal di hati, lain dengan disruh gerak bebas naluri 'energi' seperti mengalir..
salam.
   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 11/01/2011 15:09
@ mas Anak bawang.

1. Kebetulan anda menyinggung tentang doa dan dzikir untuk para leluhur, guru, pelatih yang sudah mendahului kita maupun yang masih ada.
Memang tidak/belum  ada petunjuk khusus ataupun prosedur resmi, meski terkadang menjadi kunci keberhasilan dalam latihan, khususnya latihan getaran pribadi. Penyikapan tsb akan sangat membantu.

Termasuk apabila berkesempatan ziarah ke makam para leluhur MP, diantaranya ke makam Gagak Handoko di Loano dan para penerusnya di Ngulakan, doa dan dzikir itulah yang tepat. Jangan sekali kali "minta sesuatu" kepada para leluhur.
Akan dirasakan "respon alam" apabila  penyikapan kita benar.

2. Tentang "sikap berdoa" di awal setiap latihan, duduk bersila, telapak tangan ditangkupkan, posisi didepan dada.

Dulu banyak yang keberatan, kok seperti sikap "sembahyangnya" agama tertentu (sebagaimana juga adanya berbagai tanggapan terhadap bentuk salam silat di IPSI/PERSILAT).
Bisa saja, sesaat sebelumnya melakukan doa dan dzikir, termasuk mohon ridhaNya, agar latihan berjalan selamat dan bermanfaat/berkah, baru masuk "sikap berdoa".
Karena pada "sikap berdoa" MP tersebut, dengan buang nafas halus, tarik dan tahan, kondisi energi tubuh dan jalur2nya, mulai disiapkan untuk latihan (ada fungsi/manfaat yg lain) .

3. Mengenai luasnya kemungkinan2 pengetrapan getaran MP sebagaimana yang  diantaranya diterangkan oleh mas Mpcrb, beberapa sudah dicoba.
Selain pasien/obyek dilatih untuk menolong diri sendiri, ada pula jenis2 pengabdian yang bisa dilakukan praktisi getaran MP.
Misal seperti yang dipaparkan mas Mpcrb diatas, juga yang pernah dilakukan selama sebulan di rig offshore pantura, yang semula banyak sekali pencurian peralatan yang sangat merugikan, menjadi nol kasus, karena perahu pencuri/calon pencuri bisa terdeteksi meski berada ditengah2 puluhan perahu nelayan, sehingga bisa dilakukan tindakan lebih lanjut.

Ketika musim bom beberapa tahun lalu, banyak praktisi MP yang diperbantukan ke aparat maupun ke mall-2/ tempat umum.

Juga bantuan pada OPAL, untuk mendeteksi pencurian listrik, baik melalui kabel atas maupun kabel tanah (diduga keras ada kerjasama dengan orang dalam, internal kalangkabut, sehingga bantuan MP ditarik).
  Yang klasik bantuan untuk deteksi narkoba. Sering sulit membedakan, antara pelaku sebenarnya dengan reserse yang ngantongi narkoba yang katanya karena tugas.
Praktisi detektor MP sampai mampu mendeteksi narkoba ketika pesawat yang membawa narkoba hampir mendarat.

4. Pengoperasian praktisi getaran MP menemui berbagai persoalan.

a. Nyaris semua praktisi MP, sudah memiliki pekerjaan tetap, atau sekolah/kuliah.

b. Pada lini tugas yang berbahaya, tidak jelas statusnya.

c. Walau menjadi "bintang tamu" di perusahaan layanan  keamanan, secara bisnis dirasakan kalau terlalu dimanfaatkan. Jadi harus mendirikan perusahaan sendiri, dengan segala permasalahannya (belum mendapat prioritas dari pimpinan MP).

Disamping juga karena instansi2 mulai punya peralatan deteksi yang canggih, kebijakan sementara adalah melatih personel instansi2 tersebut, antara lain Satbrimob Polda dibeberapa daerah, KSR PMI untuk penugasan didaerah bencana, dll. Praktisi perguruan hanya bertugas sebagai "sapu kawat", baru diturunkan kalau sangat diperlukan.

Semoga menambah semangat berlatih. Semoga para penerus bisa menemukan inovasi keilmuan dan managemen pengelolaan, sehingga semua pihak mendapat manfaat yang optimal. Amiin.
 
Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 11/01/2011 16:47
@mas anakbawang,

seringkali kasus yang terjadi di lapangan adalah macetnya deteksi. Hal ini ada banyak faktor. Pada saat berlatih, sebaiknya perkuat untuk menggunakan rasa / hati dibanding logika. Sebenarnya kalau istilah saya pribadi tidak ada istilah "tebak-tebakan". Tetapi ini adalah suatu proses dimana kepekaan harus dilatih.

Beginilah urutan latihan getaran yang kami lakukan:

Tahap Kepekaan --> Tahap Deteksi --> Tahap Visual

Jadi, kalau mas ingin deteksi dengan baik, maka perkuat tahap kepekaan. Latih getaran pribadi hingga tahap benar-benar bisa merasakan tenaga getaran. Latih getaran alam hingga tahap benar-benar bisa merasakan antara tenaga getaran pribadi dan getaran alam. Kedua latihan tersebut (getaran pribadi dan getaran alam) bertujuan melatih KEPEKAAN terlebih dahulu. Kalau sudah peka, deteksi obyek akan jauh lebih mudah mas. Jadi nanti yang terjadi adalah, tidak diperlukan "tebak-tebakan" untuk warna "kuning", "merah", "biru", dsb. Mas menggunakan tenaga getarannya untuk mendeteksi rasa dari warna. Yang pada tahap awal berlatih adalah menajamkan kepekaan rasa warna ini (atau deteksi obyek) pada otak kecil sehingga di dapat naluri. Di tahap itulah nanti tebak-tebakan akan menghilang akan terganti dengan suatu teknik baru pada otak.

Otak sesungguhnya "merekam" semua hal ikhwal yang kita lihat di dunia ini selama rentang waktu hidup kita. Kalau kita yang normal, otak akan menterjemahkan warna "biru" menggunakan sensor optik pada organ mata. Tapi sebelumnya (saat kita kecil), kita dilatih untuk dikenalkan bahwa "INI BIRU", "INI MERAH", "INI KUNING", dsb. Dari situlah otak memiliki rekaman ingatan mengenai "biru", "kuning", "merah", dsb. Secara berulang-ulang dan terus menerus otak dilatih untuk mengingat hal yang sama. Sehingga ketika suatu waktu tertentu mata kita melihat obyek dengan warna "biru", maka otak akan otomatis menterjemahkan sebagai "BIRU" dan memberitahu sanubari kalau itu "biru". Demikian juga pada obyek-obyek lain.

Kalau pada getaran MP metodenya mirip tetapi agak berbeda, dimana otak kecil akan BELAJAR HAL BARU berupa "rasa getaran" terhadap benda. Ini tidak kalah hebatnya dibanding sensor optik pada mata. Otak kecil juga akan menyimpan "ingatan" mengenai rasa getaran ini secara berulang-ulang sehingga menjadi pengetahuan tersendiri pada otak kita. Dan nanti, ketika pancaran tenaga getaran kita mengenai suatu benda, maka "rasa getaran" pada otak kecil ini akan "membuka" ranah obyek yang disimpan pada memori otak sehingga sanubari menjadi tahu bahwa rasa itu adalah "sesuatu" (warna, obyek, dsb).

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 11/01/2011 17:46
Top markotop, mas mpcrb baru turun dari pertapaan ya, kmana aja. Btw welcome back. Saya orang luar boleh ga diajarin getaran mas?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 12/01/2011 09:33
@kang Sawer Wulung,

Kebetulan loading kerjaan lagi santai, jadi bisa browsing-browsing dan nulis-nulis artikel lagi. Beberapa hari kemarin kebetulan balik kandang ke Cirebon untuk konsolidasi pengurus baru plus latihan gabungan se wilayah III Cirebon. Sekaligus juga pembinaan terhadap tingkat Kombinasi 1 ke atas dan mewajibkan kepada tingkat Kombinasi 1 ke atas untuk mulai aktif lagi latihan getaran reguler. Bagi yang sudah lancar, diwajibkan untuk membantu 2 orang rekannya yang belum lancar sehingga diharapkan ke depannya akan muncul lebih banyak lagi praktisi getaran. Termasuk juga penyamaan pakem materi yang ada sehingga semua berlatih dengan metode, dan komposisi materi yang seragam. Pendalaman pemahaman akan dilakukan per 2 minggu sekali tiap sabtu malam di Padepokan MP Cirebon untuk melakukan evaluasi sejauh mana perkembangan belajar anggota.

***

Kalau belajar getaran menurut terminologi umum, sebenarnya sudah bisa dilatih oleh siapapun juga. Sebab setiap siapapun yang sdh bisa merasakan penyaluran tenaga di tubuhnya, kalau mencoba menyalurkan keluar kemudian latihan mendeteksi "rasa" didepannya ada halang rintang atau kosong, tentu akan bisa (sekurangnya membedakan ada benda-tidak ada benda, dengan mata tertutup). Itulah latihan getaran tahap dasar yang juga menjadi pelatihan awal di Merpati Putih pada tingkat 4 (Balik 2).

Kalau pengertian dari belajar getaran menurut terminologi Merpati Putih, tentunya hanya anggota tingkat 5 (Kombinasi 1) yang memiliki hak resmi sesuai tingkatan untuk belajar pakem getaran. Jadi, kalau non anggota tentu tidak diizinkan. Kecuali otoritas keilmuan MP memberikan izin untuk itu secara khusus.

Demikian mas.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Toyosu on 16/01/2011 00:25
Salam kenal ke senior2 MP di sini, saya juga praktisi MP sejak tahun 1990. Tapi ilmu masih cetek.
Mau tanya ke mas Suprapto dan mas mpcrb tentang sejarah & keilmuan MP. Mudah2an berkenan menjawab.

1. Saya lihat foto2 masa lalu MP pakaiannya putih2, sejak kapan seragam yang sekarang dipakai?

2. Pernah dengar juga kalau dulu tingkat di MP tidak seperti sekarang yaitu D1, D2, B1, B2 dst, melainkan belajar sistem paket yaitu paket pasir besi, pukulan bayu seto, lembu sekilan, dan lain sebagainya, apa benar?

3. Yang ini gak ada hubungannya dengan sejarah, suatu saat sekitar tahun 90an awal, saya berkunjung ke Musium Diponegoro di Jogja, guide kami waktu itu mengatakan saat menunjukkan tembok yang dijebol pangeran Diponegoro. Seingat saya waktu itu tingginya sekitar 2m, tebal min. 50cm, dan lebar 3m.  Guide itu dengan tenangnya berujar, bahwa kalau sekarang yang bisa melakukan hal seperti ini murid2 MP. Apakah kalau sudah memainkan dan menyerap getaran alam, penyalurannya bisa berupa tenaga destruktif seperti itu?

Salam hormat

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 16/01/2011 02:12
@ mas Toyosu.

1. Benar, pada masa awal berdiri, seragam latihan MP adalah putih2, mengambil seragam karate. Kemudian ketika melatih TNI-AU, ganti oranye, seperti pakaian pilot.

Ketika MP didirikan oleh mas Poeng dan mas Budi ( 2 April 1963), usia keduanya baru 19 tahun dan 17 tahun. Teman2nya, dipimpin oleh mas Harno, mahasiswa STO (kemudian menjadi Ketua Umum yang pertama), bergerak cepat, menyusun AD/ART, termasuk lambang dan seragam latihan, kurikulum tingkatan dan lain2. Masih dibimbing oleh Sang Guru, bp Saring Hadi Poernomo, sampai beliau Sang Guru wafat pada 2 April 1968.
Ide dasar mengenai seragam dan lambang, oleh mas Poeng, teknis artistik dan hasil akhirnya diputuskan bersama teman2nya.

2. Dulu hanya pakai istilah tingkatan Dasar, Balik, Kombinasi, Khusus Tangan, Khusus Kaki, Khusus Badan, Khusus Kepala dst.
Oleh karena situasi khusus pada waktu itu (situasi panas menjelang/setelah ontran ontran G30S), dilakukan prioritas pemberian pukulan2 pamungkas. Tentu SETELAH melewati latihan2 kombinasi keatas.

Baru ketika menyusun materi kurikulum (tersusun kurikulum 6 bulanan, duakali latihan seminggu, dengan pedoman materi SETIAP latihan, baik pembinaan fisik, tata gerak beladiri dan olah nafas, dilarang ikut ujian kalau ikut kurang dari 75 persen waktu latihan dst), maka materi Dasar harus dipecah menjadi Dasar-1 dan Dasar-2. Demikian juga pada tingkat Balik dan Kombinasi.
Belakangan tingkat lanjutan juga ditata ulang.

3. Sebelum dipakai beton cor dengan ketentuan standar pembuatan seperti sekarang, materi untuk ujian dan peragaan pemukulan benda keras, berupa pemukulan balok es, batu kali/batu candi, kikir dan per mobil.
Dulu IPSI sering arak2an/pawai/show of force. MP selalu kebagian pemukulan benda keras, termasuk balok es  rangkap 10 bahkan lebih, batu kali rangkap 5 dst.

Jadi kalau guide punya presepsi seperti itu, dimaklumi saja. Belum pernah dengar, ada anggota MP yang mukul tembok.

Kalau Pangeran Diponegoro, konon dari jalur keilmuan yang kemudian menjadi KYS (Krida Yudha Sinalika).

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 17/01/2011 14:36
MP Dengan Fenomena Pematahan dan Getaran, serta Mekanika Newtonian dan Quantum Physic

Tulisan ini saya sadur sedikit dari koleksi penelitian dan riset saya. Kebanyakan memang hanya berupa hipotesa-hipotesa, menunggu perkembangan pengetahuan pada diri sendiri dan juga tambahan pengetahuan dari luar untuk melengkapi yang sudah ada. Semoga bermanfaat untuk Merpati Putih dan dunia persilatan pada umumnya.

Saya pribadi percaya Getaran bukanlah suatu delusi (khayalan), tetapi keyakinan saya ini bukan berawal dari Kemampuan Tutup Mata (vibravision) MP. Ketika saya berlatih MP dahulu, kemampuan "Tutup Mata" ini di dalam MP belumlah bersifat massive seperti sekarang ini. Pada saat itu MP masih sangat kental dengan Power-nya. Dan memang dahulu saya dididik untuk itu. Bahkan 5 tahun pertama sama sekali TIDAK PERNAH mengetahui, atau mengenal apa itu getaran. Ini sangat baik menurut saya.

Jadi pemahaman saya akan Tenaga Getaran lebih diawali dari Tenaga Power MP. Pada saat itu saya sering sekali terkagum-kagum melihat demo internal yg dilakukan para senior. Para senior sering kali mendemokan sesuatu yg "tidak masuk akal" bagi saya.

Misalnya memecahkan botol Coca Cola hanya dengan sebatang sedotan, memecahkan balok es hanya dengan sabuk, memecahkan balok es dengan tepukan ringan yg dimata saya seperti mengelus saja - saya sendiri saat tingkat dasar pernah mematahkan balok es yg sudah "dielus" sama seorang senior, balok es tsb patah walaupun saya hanya menepuk ringan saja.

Mungkin hal seperti ini suatu yg biasa didemokan sekarang ini tapi pada saat itu demo seperti ini hampir tidak pernah dilakukan dimuka umum.

Sebagai murid SMA dari salah satu sekolah favorit di Cirebon dan mengambil jurusan IPA, saya tidak habis mengerti bagaimana mungkin sedotan (atau Sabuk) yg begitu lemas bisa memecahkan botol Coca Cola (atau Balok Es).  Walaupun sedotan digerakan dengan percepatan seperti apapun sedotan tsb tidak akan memiliki kemampuan untuk mentransfer momentum pada saat terjadi tumbukan yg bisa menyebabkan botol tsb pecah - sedotan tidak memiliki kerapatan (kekerasan) massa yg cukup untuk itu.

Saya juga tidak mengerti bagaimana tepukan saya yg begitu ringan bisa mematahkan es balok yg sudah "dielus" sama senior saya. Ini sama sekali tidak masuk akal - hal ini bertentangan dengan Hukum Mekanika Newtonian. Kesimpulan saya pecahnya botol (balok es) bukan hanya disebabkan energi kinetik yg ditimbulkan oleh sedotan (sabuk, tepukan) - tetapi ada faktor lain yg menyebabkan itu bisa terjadi.

Penjelasan klasik paling mudah adalah ya inilah Tenaga Dalam (Chi) - yg tetap belum bisa menjelaskan dengan baik bagaimana proses terjadinya. Tetapi semua ini menjadi lebih jelas bagi saya ketika MP mulai memperkenalkan konsep Getarannya.

***

Saya sempat membaca pernyataan Ir Surato M.Sc. tentang Tenaga Getaran ini pada tabloid Bola yang terbit tahun 80-an. Ir Surato M.Sc. yg bekerja untuk BPPT ini mengatakan :

"Jadi dengan mengirim getaran lewat tangan, kaki atau kepala. Kita akan mempengaruhi susunan molekul pada benda-benda yang akan kita patahkan. Pada saat molekul pada garis yang kita jadikan sasaran itu berada dalam kondisi labil, maka sasaran itu kita hantam. Yang penting bukan kekuatan pukulannya tetapi momentumnya"

Penjelasan Ir Surato M.Sc. ini merupakan penjelasan yg bukan lagi berdasarkan Mekanika Newtonian tetapi sudah masuk kepada Quantum Physics. Pada Quantum Physics tidak ada lagi perbedaan antara energi dan materi. Pada skala atomic, partikel - seperti elektron, proton, neutron dsb -  selain memiliki sifat materi juga bersifat energi. Sehingga bisa dikatakan Mekanika Newtonian tidak lagi berlaku pada skala atomic ini.

Pada skala atomic, Partikel - elektron, proton dsb - bukanlah lagi suatu materi yg bersifat "Rigid Body" yg menempati ruang dgn volume tertentu seperti anggapan dalam Mekanika Newtonian tetapi Partikel juga bisa dikatakan suatu bentuk energi yg memiliki sifat Gelombang ( Getaran ) dgn frekuensi dan panjang gelombang tertentu.

***

Dan bagi saya pribadi sampai saat ini memang hanya penjelasan berdasarkan Quantum Physics ini yg bisa menjelaskan tentang Fenomena Pemecahan benda keras dengan menggunakan benda lunak ataupun "elusan sayang" seperti yg sering didemokan senior-senior saya dulu.

Ketika tenaga getaran disalurkan ke benda yg akan dipatahkan biasanya digunakan beberapa pendekatan. Yang menarik bagi saya adalah pendekatan dimana dilakukan teknik penyamaan Tenaga Getaran yg akan dikirim dengan getaran benda yg akan dipatahkan. Pada saat inilah terjadi benturan antara energi yg dihasilkan Tenaga Getaran dengan elektron-elektron penyusun benda tsb - disebabkan adanya kesamaan frekuensi Tenaga Getaran dgn frekuensi elektron benda tsb.

Seperti kita tahu pada skala atomic - menurut Quantum Theory - tidak ada beda lagi antara energi dan materi.

Akibat berbenturan dgn Tenaga Getaran ini maka Elektron-elektron tsb akan bergerak keluar orbitnya secara massive dibagian yg "diserang" Tenaga Getaran tsb. Pergerakan elektron-elektron yg bersifat massive menyebabkan ikatan molekul benda keras tersebut menjadi labil. Pada saat inilah walaupun benturan fisik yg mengenai benda keras tsb hanyalah benturan ringan, sudah cukup untuk mematahkan benda keras tsb.

Prinsipnya sama persis seperti penjelasan saya mengenai bagaimana warna biru dihasilkan dan ditangkap mata berdasar penelitian dari Dr. William dari John Hopkins University pada postingan saya sebelum ini. Ketika terjadi benturan cahaya dengan elektron yg frekuensinya sama dengan cahaya (biru) yg tidak diserap benda tsb. Elektron tsb kemudian terlempar dari orbitnya dan menghasilkan photon yg ditangkap oleh mata kita dan diterjemahkan otak kita sebagai warna biru.

Akhirnya terjawab sudah kenapa pada MP getaran pribadi mendapat porsi awal yang harus dikuasai untuk bisa masuk pada tahap berikutnya yakni getaran alam. Dalam bahasa modern dapat dikatakan bahwa getaran pribadi adalah tahap latihan yang bersifat atomic level untuk diri sendiri dan kemudian getaran alam adalah tahap atomic berikutnya untuk obyek-obyek diluar tubuh kita sendiri. Jadi, antara getaran pribadi dan getaran alam semuanya bersifat atomic level.

Kembali pada kondisi pematahan benda keras. Pada pematahan benda keras, yg membentur elektron adalah Tenaga Getaran yg sengaja dikirimkan praktisinya (entah dari dirinya sendiri atau gabungan dengan getaran alam). Benturan Tenaga Getaran dgn elektron ini yg menyebabkan ikatan molekul benda keras tsb menjadi labil dan akibatnya benda keras tsb mudah patah walaupun hanya dengan benturan fisik ringan saja.

Jadi - bagi saya pribadi - penjelasan Tenaga Getaran berdasarkan Quantum Physics membuat bukan hal yg aneh lagi jika praktisi MP memiliki kemampuan Getaran "Tutup Mata". Semuanya hanyalah masalah penyamaan frekuensi Tenaga Getaran dengan keadaan sekitarnya (Getaran Alam). Bahkan keilmuan Pamungkas MP seperti Bayu Seto pun masih bisa dijelaskan dengan Quantum Physics ini.

Konsep Getaran dalam MP ini menurut saya jauh lebih baik dibanding konsep Chi/Qi. Konsep Chi/Qi lebih sulit dihubungkan dengan pemahaman keilmuan modern saat ini. Statement saya ini bersifat subyektif, bisa disanggah. Setidaknya, inilah yang saya pahami saat ini.

***

Tapi tentu saja pernyataan Ir Surato M.Sc. tentang Getaran sampai sejauh ini masih sebatas Hipotesa saja karena memang belum adanya penelitian yg valid tentang ini. Seandainya saja ada kerjasama antara MP dengan para ahli Fisika secara intensif - tentunya akan semakin terkuak lebar misteri dari Tenaga Getaran ini.

Bagi saya pribadi keberadaan Getaran MP ini jauh lebih mudah diterima melalui pendekatan Tenaga Power - misalnya dengan pematahan benda keras yg tidak bisa dijelaskan dengan Mekanika Newtonian seperti yg saya jelaskan di atas. Mungkin karna efek yg diakibat dari Getaran MP lebih tampak nyata (Real) dalam pematahan benda keras seperti ini.

Jika Getaran MP hanya suatu khayalan tidak mungkin benda tsb patah.

Saya bayangkan se-rasional apapun seseorang tentunya pada akhirnya akan bisa menerima bahwa Getaran MP adalah suatu yg real jika dalam suatu percobaan (Uji Lab) dengan alat yg terukur ternyata membuktikan bahwa sabetan Sabuk yg ringan (mungkin tidak lebih dari beban 10-20 kg berdasarkan alat ukur pada test Lab) ternyata mampu mematahkan beton cor yg seharusnya hanya bisa dipatahkan dengan beban 600 kg - misalnya.

Se-rasional apapun seseorang pastinya harus mengakui ada faktor lain yg mengakibatkan beton cor tsb bisa patah. Atau yg lebih extreme adalah seperti yg dilakukan pada Kejurnas MP yg lalu - mematahkan kikir dengan rumput misalnya - Mekanika Newtonian tidak mungkin bisa menjelaskan fenomena ini.

Dan jika tidak ada satupun penjelasan berdasarkan Mekanika Newtonian mampu menjelaskan fenomena ini - mau tidak mau akhirnya para Scientists yg menguji akan  mencari penjelasannya berdasarkan Quantum Theory yg bisa menjadi dasar penjelasan tentang keberadaan Getaran MP ini.

Begitu Getaran MP terbukti keberadaannya dan bisa dijelaskan dengan Quantum Theory - semuanya Keilmuan MP seperti Bayu Seto, Kidang Telangkat, Kere Wojo, Vibravision dsb hanyalah masalah di frekuensi getaran dan mekanisme penyalurannya saja.

Saya ingat Ir Surato M.Sc. pernah mengatakan dalam pengujian dgn menggunakan Osciloscope dideteksi ada 5 jenis Getaran yg dimiliki praktisi MP dan 1 jenis lagi masih dalam tahap pengujian saat itu. Sayang sekali tidak terdengar bagaimana kelanjutan penelitian yg dilakukan Ir Surato M.Sc. sekarang ini. Saya sendiri kurang mengetahui apakah penelitian Ir Surato M.Sc. ini hanya bersifat riset pribadi saja ataukah sudah merupakan riset suatu intitusi tertentu.

Tapi seandainya saja dilakukan Uji Labs - misalnya pengujian pematahan beton dgn sabuk ataupun kikir dgn rumput - seperti yg saya tulis di atas, mungkin keberadaan Getaran MP bukanlah suatu yg perlu dipertanyakan lagi.

Sayangnya setiap kali berbicara Getaran MP selalu yg menjadi fokus perhatian adalah Vibravision. Bagi saya pribadi pematahan beton cor dgn sabuk, kikir dgn rumput ataupun yg sejenisnya sudah merupakan bukti keberadaan Getaran MP adalah suatu yg real.

***

Ada buku menarik yang berjudul "The Tao of Physics" yang dibuat oleh Fritjof Capra mengenai korelasi antara Fisika - khususnya Quantum Theory - dengan Eastern Wisdom seperti Tao, Zen, dsb.

Saya coba kutip sebagian:

"I was sitting by the ocean one late summer afternoon, watching the waves rolling in and feeling the rhythm of my breathing, when I suddenly became aware of my whole environment as being engaged in a gigantic cosmic dance.

Being a physicist, I knew the sand, rocks, water and air around me made of vibrating molecules and atoms, and that these consisted of particles which interacted with one another by creating and destroying other particles  " - Fritjof Capra

Fritjof Capra pun bicara tentang Getaran  - yaitu Getaran Alam yg digambarkan sebagai Gigantic Cosmic Dance.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 17/01/2011 19:32
@ mas mpcrb.

Menambahkan sedikit tentang tim-nya mas Surato cs.
Kira2 15 tahun yang lalu, pada era Ketum PPMP dipegang mas Solihin GP/mang Ihin, kolat MP BPPT termasuk kolat yang kuat dan sangat antusias meneliti keilmuan MP.

Didepan tim BPPT yang dikoordinasi mas Surato dan mas Ronny Rondonuwu, mas Budisantoso diminta menjelaskan apa yang dilakukan para pelatih senior MP ketika "mengelus" sasaran benda keras bahkan yang tanpa menyentuh.
Antara lain mas Budi menjelaskan tentang mendeteksi/merasakan energi benda dititik sasaran, menyalurkan energi ke garis/titik tersebut, setelah "bergabung" ditarik bersama sama, kemudian dipukulkan langsung ataupun tanpa menyentuh (istilah para senior MP, dicari "yoni"nya, tarik, ditambahi tenaga pribadi, kirim balik).

Mereka juga minta penjelasan, apa yang dilakukan beberapa praktisi MP, yang dikenal  sebagai "pawang hujan" dadakan. Dijelaskan, kalau mendung tebal, dideteksi "telenging udan", inti energinya, kalau ketemu/terasa, bisa digeser.

Selanjutnya saya tidak tahu, apakah tim BPPT melakukan pengukuran2 atau tidak, karena ketika menyampaikan kesimpulan/hipotesa/teori pendekatan, tidak melampirkan data.

Saya menduga (karena berturutan), setelah menerima penjelasan teknik beladiri dalam gelap, tim tsb ikut mendesak mas Budi, agar mencari cara agar kemampuan beladiri dalam gelap, bisa dilatihkan ke tunanetra, dari sisi peningkatan OM.

"Tumbu oleh tutup", kebetulan mas Budi sedang ingin menolong putra kesayangannya.

Sekurangnya setelah melakukan ujicoba deteksi bahan radio aktip (dimana alat detektor baru mampu mendeteksi dalam jarak dekat, sedang praktisi MP bisa mendeteksi dari jarak yang lebih jauh), tim BPPT berkeyakinan, bahwa sejauh ini, keilmuan MP adalah kegiatan yang sesuai dengan pendekatan teori fisika, tinggal menyambung beberapa missing link.
Paralel dengan penelitian para ahli di BPPT dan BATAN yang antusias meneliti TOSAN AJI (keris, kujang, tombak dll yang dianggap bertuah), dimana disimpulkan, para empu pembuatnya memasukkan "sesuatu" dalam benda pusaka tsb, bisa makhluk halus (diluar kompetensi mereka), bisa energi alam/natural magi, baik dari sisi metalurgi maupun energi pribadi yang dihimpun dan dimasukkan dalam bendapusaka tsb, yang membuat bendapusaka menjadi  "berenergi";
maka mereka berkeyakinan,  pengenalan enegi alam/natural magi/getaran alam oleh keilmuan MP, sepenuhnya ilmiawi.
Mengenali dan memanfaatkan energi alam, benda, lokasi dsb, tidak sama dengan ANIMISME, yang mem-BERHALA-kannya.

Tim BPPT juga menduga keras (berdasar teori fisika mereka),  bahwa keilmuan MP bisa diterapkan untuk "mengambang" diatas  tanah (dalam ketinggian tertentu), seperti yang diterapkan dalam teknologi kereta super cepat, yang mengambang diatas rel. Beberapa praktisi MP mulai mencoba, bisa bergeser, tapi masih terasa gesekan dengan pasir yang didudukinya.

Sayang kegiatan tsb kemudian "berbelok". Tim mas Surato dan tim MP melaksanakan bisnis membuat peralatan teknologi tepat guna (menerima orderan dari presiden), antara lain memproduksi dan memasarkan mesin pembuat es portable untuk para nelayan.

Kemudian PPMP juga disibukkan dengan kegiatan divisi pembinaan TUNANETRA,  dengan segala konsekwensinya, yang makan banyak dana, tenaga dan waktu.

Pada akhir Nopember 2010, anggota MP Surabaya, mas Oki (doktor, salah satu national project director di BPPT) mengajak/minta bantuan pada mas Warih Prabowo (MP Surabaya, PPMP bidang pengabdian masyarakat, sub bidang penyembuhan dan bantuan peningkatan prestasi atlit olahraga), untuk menolong bos-nya, yang karena cedera punggung, duduk maupun berbaring tidak tahan lama, kesakitan. Upaya medik sudah tak kurang2.  Ketika beliaunya segera pulih, termasuk beberapa tokoh lain, mereka berkeras untuk melakukan penelitian, mengukur apa yang terjadi, dengan alat ukur yang jauh lebih maju dibanding 15an tahun lalu.
Mas WP baru bersedia insya Allah setelah kelahiran anak ketiga, yg HPL nya akhir bulan ini.

Kalau memungkinkan, diatur agar mas Mpcrb  bisa terlibat dalam tim pendamping MP, agar ada yang se "bahasa ilmiah" dengan para doktor penelitinya, dalam memberi masukan.

Pembuka pintunya mas WP, tapi momentumnya bisa dimanfaatkan lebih luas. Insya Allah.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/01/2011 09:56
@mas Suprapto, jika memang ada kesempatan dan bisa digunakan untuk kemaslahatan, insya Allah saya akan bantu dengan senang hati semaksimal mungkin mas. Ada beberapa hal yang juga masih menjadi hipotesa saya yang kebetulan mentok karena ketiadaan alat pengujian. Barangkali saja nanti ada kesempatan untuk menjajal hipotesa ini, saya rasa ini bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Pemahaman saya saat ini barulah ditunjang dengan data-data dari pihak ketiga berupa jurnal-jurnal ilmiah kedokteran, fisika, kimia, fisiologi, dan beberapa disiplin ilmu lain yang kemudian saya coba cari benang merahnya dan mengerucut menjadi hipotesa. Beberapa menjadi alternatif solusi bagi suatu kasus tertentu, tetapi kebanyakan masing "nongkrong" di laptop sebagai teori-teori dan hipotesa.

Kalau diperkenankan, insya Allah kesempatan yang ada akan saya manfaatkan semaksimal mungkin mas. Terima kasih.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/01/2011 11:38
Salah satu hipotesa saya yang saya kembangkan dari teknik regenerasi sel-sel tubuh berbasis metode MP saya coba ulas seperti di bawah ini (sebagian detail saya hilangkan dan coba to the point pada maksud dan tujuan).

***

Ilmu Getaran Merpati Putih dan Sel Batang (Stem Cell)
Selama ini, metode pengobatan MP mengenai teknik regenerasi sel-sel tubuh baru dipublikasikan tidak resmi sekitar tahun 2003 dan tahun 2005 baru dipublikasikan secara resmi. Meski demikian, metode yang digunakan masihlah belum maksimal dari sisi pengetahuan terhadap praktisi yang melakukannya. Secara aspek teknis memang berhasil, tetapi secara pemahaman banyak sekali anggota yang cukup kebingungan mengenai ini. Apalagi kalau harus dijelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Tidak mengherankan karena memang sudut pandangnya masih pada sudut pandang tradisional. Akan lebih baik kalau sudut pandang tradisional ini dilengkapi dengan referensi dan pengetahuan (umum ataupun spesifik) dari multidisplin ilmu pengetahuan lainnya.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengkritisi apa yang sudah dicapai oleh kemajuan inovasi Merpati Putih, tetapi sebagai pelengkap dari apa yang kurang dan berharap juga bisa menambah pengetahuan dan cakrawala baru untuk inovasi yang akan datang.

Sesungguhnya regenerasi sel-sel tubuh ini bisa membuka cakrawala yang lebih luas apabila dikombinasikan dengan pengetahuan mengenai stem cell (sel batang).

Sebagai contoh, bagaimana mata minus/plus/silinder subyek setelah dilatihkan metode pengobatan regenerasi ala MP ini bisa menjadi normal. Diduga, teknik yang ditemukan MP mengenai pengobatan dengan regenerasi sel-sel tubuh ini ada kaitannya dengan stem cell (sel batang) pada tubuh ybs (tetapi belum disadari benar).

Sel Batang (stem cell)

Latar Belakang

Dunia riset stem cell digemparkan oleh penemuan baru yang diumumkan melalui dua jurnal bergengsi, yakni Science, yang melaporkan hasil penemuan dari James Thomson dari Universitas Wisconsin di Madison, dan jurnal Cell yang melaporkan hasil penelitian Shinya Yamanaka dari Universitas Kyoto dalam edisi 20 November 2007. Thomson inilah orang pertama yang berhasil mengisolasi dan mengembangkan stem cell babi pada tahun 1996 dan stem cell manusia in vitro tahun 1998.

Stem cell, yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sel induk, adalah sel yang mempunyai kemampuan untuk membelah diri tanpa terspesialisasi. Dengan kata lain, stem cell mempunyai kemampuan untuk otoregenerasi (mereplikasikan diri) dalam waktu yang tak terbatas dengan tetap tidak terspesialisasi untuk menjadi sel tertentu; dengan rangsangan dan kondisi tertentu, stem cell bisa menumbuhkan sel yang terspesialisasi. Ini berbeda dengan sel manusia lainnya di mana sel-sel itu sudah terspesialisasi sehingga sel-sel itu hanya bisa menjadi jaringan yang menjadi bagiannya dan tidak bisa menjadi sel lainnya.

Oleh karena sifatnya yang bisa menjadi banyak macam sel itu, stem cell bisa dipakai untuk terapi regeneratif dan reparatif dari penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh karena kerusakan sel, misalnya parkinson, alzheimer, huntington, dan masih banyak yang lainnya. Sel-sel yang rusak itu akan diganti oleh sel baru yang berasal dari stem cell itu.

Sampai sekarang yang banyak diteliti oleh para ahli ialah stem cell yang diambil dari embrio (embryonic stem cell) dan stem cell yang diambil dari antara sel-sel somatis (somatic stem cell atau juga disebut adult stem cell). Para ahli lebih memilih mengembangkan embryonic stem cell karena adult stem cell itu jumlahnya sedikit, lebih sulit didapat dan hanya bisa menjadi beberapa jenis sel saja. Sedangkan embryonic stem cell persis kebalikannya, yakni pluripotent (bisa menjadi sel apa saja dalam diri manusia kecuali plasenta dan air ketuban), lebih mudah di dapat dalam jumlah yang banyak.

Hanya saja, embryonic stem cell terhadang masalah moral yang sangat berat. Pengambilan stem cell dari embrio itu pasti mengakibatkan kematian embrio itu sehingga program ini terhadang masalah etika yang disamakan dengan aborsi. Oleh karena sifat abortif inilah, banyak pihak menentang pemakaian embryonic stem cell. Bahkan Presiden George Bush memveto dua undang-undang pemakaian dana federal untuk riset stem cell ini.

Dalam aplikasinya, stem cell ini berkolaborasi dengan sangat erat dengan kloning manusia (therapeutic cloning). Supaya tidak timbul penolakan dari tubuh si pasien, stem cell yang diinjeksikan ke dalam tubuh pasien perlu kesamaan genetis. Untuk mendapatkan stem cell yang cocok secara genetis dengan pasien, maka dilakukan kloning dari sel somatis pasien itu. Dari kloning itu akan dihasilkan embrio yang kemudian diambil stem cell-nya.

Poin inilah yang sangat krusial karena dengan membuat embrio melalui kloning ini, banyak pihak berpendapat bahwa telah terjadi makhluk hidup baru yang harus dihormati hak hidupnya dan tidak boleh dibunuh. Salah satu prinsip etis yang disodorkan ialah: tidak boleh menyembuhkan orang dengan cara membunuh orang lain.

(http://stemcellupdate.net/files/2612/6316/2188/what-is-a-stem-cell.jpg)

Stem cell atau sel batang atau sel induk adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai 2 sifat:

Penemuan ini sangat spektakuler dilihat dari pelbagai aspeknya, khususnya dari aspek etikanya, karena tidak menimbulkan debat etika dari pelbagai sudut pandang, baik agama maupun humanisme.

Berdasarkan kemampuan berdiferensiasi, stem cell dibagi menjadi:

(http://masarie.files.wordpress.com/2007/12/stemcell1.jpg)

Stem cell ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh. Berdasarkan sumbernya, stem cell dibagi menjadi:

Ada beberapa alasan mengapa stem cell merupakan calon yang bagus dalam cell-based therapy:

Teknik Regenerasi Sel-Sel Tubuh Versi Merpati Putih
--- saya lewati, karena terlalu panjang ---

MP dan Peluang Pemanfaatan Tenaga Getaran Berbasis Stem Cell
Oleh karena tenaga getaran MP bersifat atomic level, maka adalah lebih mudah untuk mendeteksi keberadaan stem cell ini dengan terlebih dahulu ditunjukan spesimen dari stem cell pada laboratorium, kemudian praktisi mendeteksi "rasa getaran" dari stem cell ini. Rasa getaran yang ditangkap praktisi ini kemudian digunakan untuk mendeteksi stem cell pada tubuh subyek atau tubuh sendiri, dan kemudian "memindahkan" atau "mengarahkan" stem cell yang terdeteksi tsb seperti halnya teknik injeksi/transplantasi pada dunia kedokteran modern. Dalam hal ini media yang digunakan adalah tenaga getaran MP. Apakah jalur perpindahan ini menggunakan jalur yang diakui kedokteran modern ataukah menggunakan jalur meridian ala timur menuju organ/bagian yang akan diobati. Masih hipotesa, menunggu informasi lebih lanjut.

Jadi urutannya (hipotesa awal saat ini) adalah sebagai berikut:

Praktisi getaran --> deteksi penyakit pasien --> deteksi stem cell pada tubuh pasien --> pindahkan stem cell tubuh pasien yang terdeteksi pada bagian yang sakit --> regenerasi stem cell dipercepat dengan memberikan energi penyembuh pada stem cell tsb untuk berkembang biak lebih cepat pada bagian yang sakit ATAU membiarkannya menggunakan energi tubuh si pasien sendiri agar stem cell berregenerasi ulang pada tempat yang dituju.

Karena stem cell berasal dari tubuh pasien sendiri maka tidak akan ada penolakan sebagaimana yang terjadi pada transplantasi organ dan karena sifat unik dari stem cell ini maka ia akan berregenerasi sesuai dengan sifat karakteristik dimana stem cell itu ditempatkan. Kalau ia ditempatkan di kulit, maka ia akan "bersosialisasi" dengan sel kulit dan akan berregenerasi menjadi sel kulit (tidak mungkin menjadi sel tulang).

Untuk organ-organ yang rusak/cacat juga demikian. Praktisi mendeteksi "rasa getaran" dari stem cell ini, kemudian "memindahkan" stem cell ini pada organ pasien yang sakit. Stem cell kemudian diberikan "nutrisi" berupa energi penyembuh agar lebih cepat berkembang biak atau membiarkan menggunakan kemampuan penyembuhan dari tubuh si pasien itu sendiri.

Peluang ini akan membantu untuk meningkatkan kemampuan pengobatan Merpati Putih dan sekaligus membuka peluang lebih luas untuk terapi ala Merpati Putih (terapi getaran) bahkan tidak menutup kemungkinan kebutaan pasien pada tunanetra benar-benar bisa dibuat NORMAL.

(http://pramareola14.files.wordpress.com/2010/04/330px-stem_cell_treatments-svg.png)

Kendala
Terdapat kesulitan untuk mendapatkan sampel spesimen dari stem cell tubuh manusia. Hal ini bisa dipecahkan dengan bekerja sama pada laboratorium yang sudah melakukan penelitian terhadap stem cell dengan mengamati bentuk stem cell dan mendapatkan "rasa getaran" dari stem cell ini.

Beberapa rumah sakit yang sudah pernah melakukan pengobatan berbasis stem cell ini diantaranya:

Sumber

Disarikan dari berbagai sumber dengan olah bahasa sendiri. Diantaranya :
- Wikipedia
- http://stemcells.nih.gov/info/basics/basics1.asp dan link-link terkait di dalamnya yang menyertainya dengan olah bahasa yang disesuaikan.
- Kalbe Farma research and development
- Antara news
- Indonesia.go.id
- Jurnal ilmiah kedokteran internasional
- dsb (link-link saya truncate)

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/01/2011 12:10
Artikel ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi siapapun anggota MP yang berselancar di dunia maya ketika menemukan pertanyaan mengenai kegagalan MP pada tantangan Randy sehingga MP dianggap hoax oleh sang penanya tersebut. Apa yang saya sodorkan ini adalah argumen logis, yang berdasar pada fakta, obyektif, serta rasional.

MP dan Bagaimana Mensikapi Kegagalan Tantangan Randy Secara Proporsional dan Ilmiah

Sudah bukan rahasia umum di dunia maya dan dunia beladiri bahwa MP begitu terkenal karena kegagalannya pada tantangan Randy sehingga dikenal sebagai hoax terbesar di dalam beladiri. Tidak heran sebab MP diajarkan pada special force Indonesia selama bertahun-tahun.

Ketika percobaan melibatkan manusia selain faktor teknis tentu juga menyangkut non teknis. Banyak sekali faktor yg bisa menyebabkan suatu kegagalan jika suatu percobaan melibatkan faktor manusia sebagai subyek penelitian di dalamnya. Jadi untuk mendapat kesimpulan yg valid perlu diadakan banyak sekali percobaan untuk mengeliminir sebab kegagalan yg mungkin terjadi.

Dengan banyak percobaan baru akan terlihat pola prilaku yg jelas tentang subject penelitian tsb. Saya rasa bagi yg terbiasa melakukan riset ilmiah menyangkut human behavior tentunya memahami ini. Hanya dari satu percobaan kita tidak bisa mendapat kesimpulan yg valid.

Mengenai kemungkinan MP hoax sebagai penyebab kegagalan MP pada tantangan Randi, berbeda dengan pada saat pembuktian Natalia Lulova (http://www.time.com/time/columnist/jaroff/article/0,9565,199773,00.html) dimana pihak Randi menunjukan bukti berupa photo yg menunjukan Natalia mengintip pada saat itu.

Sedang pada kegagalan MP sama sekali tidak ditunjukan paktisi MP melakukan kecurangan pada saat Tantangan tsb. Walaupun pada Pre Trial Demo praktisi MP berhasil 100 % dalam 6 kali percobaan – pihak Randi ternyata sama sekali tidak mengatakan telah terjadi kecurangan pada Pre Trial Demo dalam Test Result yg dikeluarkannya. Tidak ada photo yg menunjukan pihak MP melakukan kecurangan pada saat Pre Trial Demo tsb.

Saya pribadi menganggap prosedur test yg dilakukan pada Natalia Lulova jauh lebih baik dibanding prosedur test terhadap MP. Saya rasa pada test terhadap MP terdapat kesalahan prosedur pengujian dilakukan pihak Randi – pihak Randi sudah mengubah 2 variable dalam pengujian tsb. Pertama pihak Randi mengganti blindfold yg digunakan MP ( Pre Trial Demo ) dgn blindfold yg disiapkan Randi ( Preliminary Test ). Kedua penggunaan alkohol pada Preliminary Test yg sebelumnya tidak digunakan pada Pre Trial Demo.

Jika pihak Randi hanya mengganti blindfoldnya saja tanpa menambah penggunaan alkohol – maka bisa dipastikan penyebab kegagalan MP ada di blindfoldnya. Pada pengujian terhadap Natalia Lulova, Randi malah tetap menggunakan blindfold yg dibawa Natalia tetapi Randi kemudian menutup celah yg mungkin masih ada pada blindfold tsb. Pada pengujian Natalia Lulova pihak Randi hanya mengubah satu variable saja yaitu pada blindfoldnya saja. Secara detail dijelaskan tahap pengujian terhadap Natalia Lulova – tanpa alkohol tentunya.

http://www.randi.org/jr/022202.html

Pada penelitian ilmiah kita tidak boleh mengubah variable pengujian lebih dari satu pada setiap percobaan. Dengan mengganti 2 variable – akan sulit bagi kita untuk menyimpulkan variable mana yg menyebabkan kegagalan tsb. Jadi penyebab kegagalan MP saya rasa tetap masih belum bisa disimpulkan. Selain kemungkinan hoax ( variable 1 – trick pada blindfold MP ) saya rasa faktor alkohol ( variable 2 – gangguan konsentrasi ) tetap harus diperhitungkan sebagai penyebab kegagalan.

Sedang pembuktian – apakah alkohol yg digunakan bisa mengganggu konsentrasi ketika melakukan vibravision sehingga menyebabkan kegagalan – bisa dilakukan dgn mudah. Nate, anggota MP dari USA, sudah mengatakan jenis alkohol yg digunakan 85% ethanol (grain alcohol) and 15% Methanol (wood alcohol) – Harrald tidak membantahnya jadi saya asumsikan jenis alkohol ini benar seperti yg digunakan pada pengujian tsb.

Harrald (wakil dari James Randy Foundation) juga sudah mengakui memang ketika itu kelopak mata ( eyelids ) dan wajah praktisi MP disapu dgn alkohol tsb. Walaupun dalam keadaan mata tertutup dan tidak ditujukan secara langsung ke dalam mata hanya ini yg diakui Harrald. Tapi Harrald sendiri tidak menyangkal menyapukan wajah dgn alkohol tsb bisa mengganggu konsentrasi dan ada kemungkinan uap alkohol masih dapat masuk ke mata ketika disapukan di bawah mata.

Nate sendiri mengatakan dia sudah melakukan penyapuan terhadap matanya dgn alkohol jenis yg sama – dan juga dilakukan dgn cara yg sama seperti yg Paul Bernhardt lakukan terhadap praktisi MP pada Tantangan tsb. Nate mengatakan matanya mengeluarkan air mata selama 3 jam setelah melakukan percobaan tsb.

"I did this last night to myself, first with Isopropyl and then with the same kind fo surgical swab used at the test containing methanol and ethanol. The surgical swab was much more uncomfortable than the isopropyl. Granted, I made my brother stop applying it once it started hurting really bad, so I didn’t get the same effect as our athletes. It still hurt like crazy though."

Jadi sederhana bukan – lakukan saja percobaan sendiri dgn menyapukan perban beralkohol 85% ethanol dan 15% methanol ke atas wajah dan mata dalam keadaan tertutup. Apakah memang uap alkohol bisa masuk ke mata dan menyebabkan iritasi mata yg mengganggu konsentrasi seperti yg dikatakan Nate atau tidak – saya rasa ini bisa dibuktikan dgn mudah.

Pihak MP sendiri sebenarnya sangat penasaran dgn kegagalan ini karna merasa dicurangi pihak Randi. Pada perdebatan antara Nate dgn Harrald – Nate dgn tegas meminta test diulang. Pihak Randi mengatakan test hanya bisa diulang jika MP mengajukan application baru pada tahun berikutnya.

MP sebenarnya sudah menyiapkan diri untuk mengajukan application baru untuk mengikuti Tantangan Randi tahun berikutnya ( 2001 ). Hanya saja pada tahun 2001 terjadi peristiwa 11 September yg membuat negara paman Sam tsb mengumumkan perang terhadap Teroris. Dan Indonesia sudah dicap sebagai negara Teroris – untuk mendapatkan visa bagi warga negara Indonesia lebih dipersulit. MP akhirnya membatalkan application untuk mengikuti Tantangan Randi tahun 2001. Masalah ini kemudian sudah dilupakan pihak MP hingga akhir-akhir ini kembali muncul di Kaskus.

Kesimpulannya adalah pada saat Tantangan Randi tsb – MP memang gagal tetapi MP sama sekali tidak terbukti melakukan kecurangan seperti yg dilakukan Natalia Lulova. Pihak Randi sama sekali tidak menunjukan bukti-bukti DAN ATAU statement-statement bahwa MP melakukan suatu tipuan ataupun trick saat itu yg bisa disimpulkan bahwa MP itu hoax dalam bentuk foto-foto atau rekaman video sebagaimana yang dilakukan pada Natalia Lulova baik pada Pre Trial Demo dan Preliminary Test.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 18/01/2011 17:15
Artikel berikut ini merupakan hipotesa yang sudah dalam tahap realisasi dan sudah masuk pada fase awal (fase pelatihan) oleh beberapa praktisi getaran Cirebon. Semoga sharing ini bisa berguna bagi Merpati Putih khususnya dan dunia persilatan pada umumnya. Sebagian saya reduksi agar tidak terlalu panjang.

***

MP dan Penghancuran Batu Ginjal Melalui Teori Dasar Aplikasi Bayu Seto

Batu Ginjal

Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Gejala
Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.

Diagnosa
Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa air kemih rutin (urinalisis). Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas. Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti. Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu. Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit. Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi retrograd.

Pengobatan
Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala, penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati. Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu; jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera. Kolik renalis bisa dikurangi dengan obat pereda nyeri golongan narkotik. Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal shock wave lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air kemih. Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit (percutaneous nephrolithotomy, nefrolitotomi perkutaneus), yang diikuti dengan pengobatan ultrasonik. Batu kecil di dalam ureter bagian bawah bisa diangkat dengan endoskopi yang dimasukkan melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih. Batu asam urat kadang akan larut secara bertahap pada suasana air kemih yang basa (misalnya dengan memberikan kalium sitrat), tetapi batu lainnya tidak dapat diatasi dengan cara ini. Batu asam urat yang lebih besar, yang menyebabkan penyumbatan, perlu diangkat melalui pembedahan. Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu diberikan antibiotik.

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Saat ini di Indonesia masih banyak yang belum mengenal Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), sebagai salah satu terapi penyembuhan penyakit batu ginjal. ESWL sebenarnya sudah bukan merupakan barang asing dalam dunia kedokteran khususnya bagi para urologis. Sejak diperkenalkan penggunaannya di awal tahun 1980-an, ESWL semakin populer dan menjadi pilihan pertama dalam kasus umum penanganan penyakit batu ginjal.

Beberapa keuntungan dari ESWL diantaranya adalah dapat menghindari operasi terbuka, lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah, terutama untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga tidak memerlukan perlakuan berkali-kali.

ESWL merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan pembedahan atau memasukkan alat kedalam tubuh pasien. Sesuai dengan namanya, Extracorporeal berarti di luar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu (ginjal) dengan menggunakan gelombang kejut (shock wave) yang ditransmisi dari luar tubuh.

Dalam terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu ginjal sampai hancur dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah dengan urinasi. Ilustrasi sederhana teknik ESWL dapat dilihat pada Gambar 1.

(http://web.archive.org/web/20060615211225/http://www.beritaiptek.com/images/sandro1.JPG)
Gambar 1. Penampang interior ginjal A) Sebelum penembakan, B) Gelombang kejut yang difokuskan pada batu ginjal, C) Tembakan dihentikan hingga serpihan batu cukup kecil untuk dapat dibuang secara natural bersama air seni. (credit to: www.beritaiptek.com)

Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agar shock wave yang ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu, sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal akibat salah tembak.

Bagaimana lithotripter bekerja?

Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengetahui cara lithotripter bekerja, yaitu bagaimana shock wave dihasilkan, kemudian merambat masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan sasarannya, tanpa merusak media yang dilewatinya.

Saat ini ada 3 jenis pembangkit shock wave yang digunakan dalam ESWL: electrohydraulic, piezoelectric, dan electromagnetic generator. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, namun ketiganya menggunakan air sebagai medium untuk merambatkan shock wave yang dihasilkan.

Electrohydraulic generator menggunakan spark gap untuk membuat “ledakan” di dalam air. Ledakan ini kemudian menghasilkan shock wave. Sedangkan piezoelectric generator, memanfaatkan piezoelectric efek pada kristal. Sedangkan electromagnetic generator, menggunakan gaya elektromagnetik untuk mengakselerasi membran metal secara tiba-tiba dalam air untuk menghasilkan shock wave.

Dari 3 jenis generator di atas, electrohydraulic lithotripter merupakanlithotripter yang paling banyak digunakan saat ini [1]. Diagram skematik dari lithotripter ini dapat dilihat pada Gambar 2.

(http://web.archive.org/web/20060626153125/www.beritaiptek.com/images/sandro2.JPG)
Gambar 2. Diagram skematik electrohydraulic lithotripter

Pada awalnya, shock wave yang dihasilkan generator hanya memiliki tekanan yang rendah, kemudian difokuskan pada satu lokasi dimana batu ginjal berada. Hanya pada titik fokus inilah shock wave memiliki tekanan yang cukup besar untuk menghancurkan targetnya, sehingga tidak akan merusak bagian di luar daerah fokus ini.

Dalam proses pengobatan, karena titik fokus lithotripter ini sudah fixed, sebaiknya posisi pasien digeser sedemikian rupa sehingga batu ginjal tepat berada dalam titik fokus tersebut. Untuk menghantarkan shock wavedari lithotripter ke tubuh pasien, digunakan air atau gelatin sebagai media perantaranya, dikarenakan sifat akustik keduanya paling mendekati sifat akustik tubuh (darah dan jaringan sel tubuh), sehingga pasien tidak akan merasakan sakit pada saat shock wave masuk ke dalam tubuh.

Penerapan Teori Dasar Bayu Seto Pada Penghancuran Batu Ginjal
Terdapat kondisi yang cukup sulit dimana lokasi obyek sasaran (batu ginjal) terhalang/tertutup oleh medium penghalang (kulit, otot, dan jaringan lain) sehingga diperlukan kecermatan untuk mengukur kadar tenaga getaran untuk mengenai obyek sasaran tsb.

Teori Dasar Bayu Seto
--- saya lewati karena terlalu panjang ---

Aplikasi Bayu Seto
--- saya lewati karena terlalu panjang ---

Latihan Tahap Awal
Tidak seperti Bayu Seto yang menembakkan tenaga getaran pada medium udara secara polos sehingga mengenai obyek, pada aplikasi untuk penghancuran batu ginjal ini tenaga getaran yang ditembakkan dan mengenai obyek sasaran harus bisa menembus suatu lapisan penghalang di depan obyek sasaran tersebut TANPA merusak obyek sasaran tersebut.

Perbedaan teori dasar ini akan melahirkan perbedaan pemahaman bagaimana tenaga getaran disalurkan.

Latihan dimulai dengan mengarahkan praktisi untuk melatih kepekaan tenaga getaran pada suatu obyek dibelakang obyek lain. Dalam hal ini dapat digunakan medium TELUR sebagai uji coba latihan tahap awal. Dipilih telur karena cukup mewakili karakteristik dimana ia mudah didapatkan, murah, tidak memiliki efek samping, dan tersusun atas lapisan-lapisan dari mulai kulit luar telur, kemudian putih telur (jaringan), kuning telur (jaringan), dan barulah inti telur. Praktisi harus bisa menembakkan tenaga getarannya dan menembuskan tenaga getarannya melewati medium-medium tersebut hingga sampai pada inti telur atau kuning telur dan kemudian mengubah tenaga getarannya menjadi panas untuk kemudian mencoba mematangkan telur tersebut. Pengubahan tenaga getaran menjadi panas ini tidak boleh merusak lapisan lain selain daripada yang diinginkan (kuning telur) dan kemudian barulah meluas pada putih telur dan terhenti sampai disitu. Pada kondisi ini, praktisi diharapkan bisa mengontrol penggunaan tenaga getarannya pada suatu titik fokus yang kecil.

Mungkinkah? Sangat mungkin. Pada Quantum Physics tidak ada lagi perbedaan antara energi dan materi. Pada skala atomic, partikel - seperti elektron, proton, neutron dsb -  selain memiliki sifat materi juga bersifat energi. Sehingga bisa dikatakan Mekanika Newtonian tidak lagi berlaku pada skala atomic ini.

Pada skala atomic, menurut Quantum Physics, partikel-partikel (elektron, proton dsb) bukanlah lagi suatu materi yg bersifat "Rigid Body" yg menempati ruang dgn volume tertentu seperti anggapan dalam Mekanika Newtonian tetapi Partikel juga bisa dikatakan suatu bentuk energi yg memiliki sifat Gelombang ( Getaran ) dgn frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Sehingga tidak ada beda lagi antara energi dan materi.

Dengan menyamakan frekwensi pada level atomic, berarti tenaga getaran yang dipancarkan menggunakan prinsip Quantum Physics untuk mengenai sasaran dan sekejap pada saat mengena ditransformasikan menjadi tenaga panas yang dihantarkan pada obyek sasaran.

Berikut adalah flow (hipotesa awal) mengenai teknik ini:
Praktisi getaran --> pancarkan getaran pada telur --> deteksi setiap lapisan-lapisan --> deteksi kuning telur (atau yang diinginkan) --> transformasi energi menjadi panas --> matangkan kuning telur --> matangkan putih telur

Tujuan Pelatihan
Tujuan pelatihan ini ada 3 yakni:

a) Untuk mendapatkan pemahaman mengenai "rasa getaran" ketika tenaga getaran menembus suatu lapisan obyek dan mengenai obyek sasaran.

b) Untuk mendapatkan pemahaman mengenai transformasi tenaga getaran menjadi tenaga panas

c) Melatih untuk mendapatkan kemampuan memperkecil luas area penampang pancaran tenaga getaran hingga mengenai sasaran yang kecil.

Teknik Pelatihan
--- saya lewat karena terlalu panjang ---

Subyek Pengujian
Dipersiapkan 3 orang praktisi getaran yang sudah bisa memancarkan dengan baik. Satu orang wanita (tingkat Kombinasi 1) dan 2 orang pria (tingkat Kombinasi 1).

Hasil Pengujian
Bagan hasil: --- saya lewati ---

Kesimpulan: Dalam waktu 1 minggu, praktisi getaran yang menggunakan teknik awal ini sudah berhasil mematangkan telur ayam mentah menjadi matang. Kemudian semakin lama semakin cepat (dapat terlihat pada minggu berikutnya dimana hari ke-3 sudah berhasil mematangkan telur). Terakhir proses pematangan telur dapat dilakukan dalam waktu 2-3 jam saja (pada minggu keempat).

Latihan Tahap Lanjutan
Setelah penggunaan medium telur ayam secara normal sudah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, tahap berikut akan lebih sulit, dimana telur ayam akan disuntikkan suatu cairan kimia yang akan menjadi keras pada kuning telur (dianggap diperlakukan sebagai "batu ginjal") dengan ukuran "batu" yang kecil (0,5 cm s/d 1 cm). Cairan kimia ini masih hipotesa dan belum didapatkan komposisi yang pas yang bisa mengeras seperti "batu" di dalam ruang fluid/cair.

Penerapan Bayu Seto
--- saya truncate karena cukup panjang ---

Hasil Pengujian
Belum ada

Kesimpulan: Belum ada

Rujukan Sumber
--- link-link saya truncate karena terlalu panjang ---

***

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 18/01/2011 23:31
@ mas mpcrb.

1. Saya setuju, bahwa dalam pelaksanaan uji James Randi, diduga keras ada perubahan konstanta, yang menjadikan berbeda dengan kondisi normal.
Surgical swap tissue hanyalah SALAH SATU saja untuk mengganggu konsentrasi. Yang patut dicurigai adalah kotak panjang di "planetarium" yang dipakai sebagai meja pembatas antara penguji dan yang diuji. Sampai sepuluh tahun setelah ujicoba MP, TIDAK ADA SATUPUN dari sekian banyak peserta dari seluruh dunia yang berhasil menunjukkan bermacam kemampuannya. Padahal hampir semuanya berhasil melakukannya diluar "planetarium".
 Tidak banyak gunanya diperdebatkan, kalau mereka tidak mau melakukan ujicoba ditempat netral.

2. Mekanisme pengembangan aplikasi keilmuan MP, BEKERJASAMA TIMBAL BALIK dengan disiplin keilmuan diluar MP/pencaksilat,  dilakukan sbb:

Phenomena yang dimiliki MP, teori maupun prakteknya, diukur, diteliti, dianalisa dengan kacamata/pisau analisa ilmiah, oleh disiplin keilmuan non MP, untuk disusun hipotesa dan dalil2nya. Bisa memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan dan MP sendiri.

Demikian juga, penemuan2, persoalan yang belum ada maupun sudah ada solusinya, termasuk teori2, hipotesa, harapan2 dari disiplin keilmuan non MP ( utamanya fisika dan medis), oleh MP bisa dijadikan acuan untuk pengembangan aplikasi keilmuannya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 19/01/2011 09:29
Benar sekali mas. Dulu saya punya kenalan rekan yang sekarang sudah jadi dokter spesialis dan sering saya jadikan rujukan pengetahuan kalau dirasa mentok, tetapi sekarang kebetulan ybs sedang melanjutkan studi keluar negeri sehingga belum sempat lagi "ngoprek-ngoprek" dengan update perkembangan terakhir. Kawan ini bukan praktisi MP tetapi dia sangat tertarik dengan pendekatan keilmuan (seperti gambaran dari BPPT yang mas jelaskan bahwa memang Ilmu Getaran MP setelah dijelaskan ternyata rasional dan bersifat ilmiah). Dari kawan inilah saya mengetahui prosedur-prosedur ilmiah pada penelitian kedokteran modern, bagaimana teorinya, bagaimana menyusun hipotesa, dsb. Sehingga kemudian tergerak menggunakan pengetahuan ini untuk mencoba menggali benang merah antara MP dan disiplin ilmu modern.

Pernah juga terjebak untuk mensikapi fenomena keilmuan melalui sudut pandang science, tetapi ternyata pada akhirnya akan terbentur pada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa sepenuhnya terjawab. Bagaimana menjelaskan fenomena tenaga dalam, biolistrik, panas, bagaimana menjelaskan fenomena A, B, C, dsb. Masing-masing akhirnya meyakini apa yang dianggapnya benar. Puncaknya, manfaat maksimal tidak tercapai. Akhirnya, saya coba putar arah untuk memadukan pengetahuan yang sudah solid pada science dengan kemampuan yang dimiliki oleh MP. Sedangkan bagaimana proses detailnya mengapa semua itu bisa terjadi, saya juga tidak bisa menjelaskan secara rinci. Tetapi key point yang ada sudah saya dapatkan dan sudah mengerucut menjadi hipotesa-hipotesa. Tinggal disusun secara sistematis berdasar kaidah science oleh disiplin ilmu terkait. Hipotesa ini nantinya akan "dilempar" pada ilmuwan yang berminat mengkaji untuk dibuat lebih baik lagi.

Jadi, kalau ada kesempatan untuk bertemu dengan para scientist pada momen khusus seperti yang mas tawarkan untuk masuk pada tim pendamping MP, tentu dengan senang hati akan saya laksanakan sebaik-baiknya.

Khusus untuk stem cell (sel batang), ini sebenarnya "tantangan" dari rekan saya yang dokter spesialis itu apakah getaran MP mampu mendeteksi lokasi stem cell pada tubuh manusia? Ia terpesona pada metode "lepas kacamata" yang dulu pernah saya ajarkan pada putrinya yang akan masuk jadi pramugari. Alkisah putri kesayangannya ini menderita mata minus 1,5 sedangkan cita-citanya ingin jadi pramugari. Secara fisik sudah sangat memenuhi syarat, hanya kekurangannya ia berkacamata. Alhamdulillah, akhirnya metode pengobatan MP untuk "lepas kacamata" saya ajarkan padanya dan berhasil. Dalam waktu 3 bulan, matanya kembali normal. Kawan saya tsb berkata bahwa ini merupakan teknik ajaib yang pernah ia temui, dan ia kemudian teringat dengan stem cell (sel batang) kemudian menjelaskan secara rinci kepada saya dan mengatakan bahwa ada kemungkinan MP menggunakan stem cell ini untuk me-regenerasi sel pada mata putrinya. Saya jawab bahwa saya tidak pernah tahu apa itu stem cell, saya hanya merasakan sensasi "rasa" ketika aliran tenaga getaran ini "berjalan" menuju mata. Menurutnya, regenerasi sel tubuh hanya bisa dilakukan oleh kerja stem cell ini.

Setelah saya runut kembali, metode MP untuk regenerasi sel tubuh yang melewatkan tenaga getaran melalui tulang belakang memang sejalan dengan salah satu lokasi stem cell ini (pada tulang belakang, tepatnya pada sumsum), kemudian jalur aliran tenaga getaran yang mengarah ke mata juga sesungguhnya melewati lokasi stem cell. Demikian juga teknik-teknik dan metode regenerasi MP yang sudah ditemukan oleh MP secara alamiah semuanya MELEWATI jalur produksi stem cell ini. Entah ini suatu kebetulan atau bagaimana. Praktisi sebenarnya "merasakan" bahwa ketika aliran tenaga getaran ini sedang menuju ke target yang akan diobati terjadi sensasi "rasa". Besar dugaan saya adalah bahwa sensasi "rasa" itu adalah stem cell yang ikut terbawa. Sehingga untuk lebih jelasnya memang harus masuk laboratorium dimana ditunjukkan spesimen stem cell untuk kemudian didapatkan rasa getarannya. Kalau rasa getaran itu sama, berarti teknik regenerasi sel pada MP ini BERHASIL MENGENALI STEM CELL pada tubuh. Dan ini selangkah lebih maju dibanding ilmu kedokteran modern yang bahkan untuk mengenali stem cell sangatlah sulit (memerlukan begitu banyak alat canggih dan dengan tingkat akurasi serta kehati-hatian yang sangat tinggi dan tentunya berbiaya sangat mahal).

Kalau bisa "dikenali", "dirasakan", "ditangkap", dan "ditranportasikan", untuk kemudian "dibiakkan" dengan tenaga getaran maka tentu proses regenerasi pada hampir SEMUA bagian tubuh bisa dilakukan. Dan ini akan membuka cakrawala baru pengobatan. Seperti kita ketahui bahwa praktisi getaran MP yang mumpuni dengan kemampuan deteksi, akan bisa mendapatkan rasa getaran dari stem cell ini yang sesungguhnya apabila ia benar-benar dihadapkan pada sampling/spesimen stem cell pada laboratorium. Sehingga kedepannya proses pengobatan bisa ditingkatkan pada level yang lebih tinggi dengan efektivitas yang lebih baik.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: samber gledek on 19/01/2011 13:17
Grp dulu ah buat mas mpcrb...mangstabbb
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 19/01/2011 16:21
@ mas mpcrb.

Terminologi stem cell di Indonesia adalah "sel punca". Sehingga ada ASPI (Asosiasi Sel Punca Indonesia), sehingga ada komunikasi terus menerus dari para peneliti dan dokter2nya. Untuk pasien dewasa, yang dipraktekkan baru  mengambil sumsum tulang belakang kemudian dimasukkan ke vena.
Sel punca punya sifat "pluripotent" yang bisa berubah bentuk setelah menerima "sinyal regulasi" dari jaringan setempat, sehingga bisa meregenerasi sel/jaringan setempat.
Akan menjadi revolusi medik dibidang penyakit degeneratip, yang diduga hanya bisa disembuhkan dengan memperkuat regenerasi sel/jaringan tertentu.

Sel punca juga diketahui banyak terdapat pada embrio 5-9 minggu  setelah pembuahan, juga masih banyak terdapat pada placenta.

Tentu ada hambatan etika untuk mengisolasinya (sulit untuk mendapatkan sel punca "murni", untuk mengenali rasa getarannya)

Sel punca juga banyak didapati pada tali pusar bayi.
Ini lebih memungkinkan bagi teman2 untuk mencari "rasa" sel punca, dari latihan mendeteksi berbagai tali pusar bayi.
Sehingga nantinya bisa  diharapkan, untuk bisa mendeteksi, dimana saja sel punca pasien "ngendon", guna dimanfaatkan untuk penyembuhan dirinya. Karena sel punca dari orang lain mengundang masalah baru, berupa resistensi yang bisa saja timbul.

Jadi ingat, pada sebagian masyarakat Jawa, acara puputan/puput puser/lepasnya tali pusat, dianggap penting dalam tahap kehidupan bayinya.
Bahkan kedua almarhum orang tua saya, menyimpan talipusar kedelapan anaknya, setelah kering, dibungkus kain dan diberi nama masing2. Dulu pernah saya tanya untuk apa. Beliau bilang kalau bisa "di pek gawene", diambil manfaatnya, sebagai sarana dalam memohon kesembuhan kepada Allah swt, apabila masing2 sakit berat, lebih khusus kalau terluka parah. Tidak boleh diminum dsb. Sekarang baru bisa bisa menduga, ada praktek quantum physic disini, hehehe.

Karena tidak tahu caranya, tidak seorangpun dari kami yang masih menyimpannya.

Salam.   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 20/01/2011 08:35
Sel punca juga diketahui banyak terdapat pada embrio 5-9 minggu  setelah pembuahan, juga masih banyak terdapat pada placenta.

Tentu ada hambatan etika untuk mengisolasinya (sulit untuk mendapatkan sel punca "murni", untuk mengenali rasa getarannya)

Sel punca juga banyak didapati pada tali pusar bayi.

Pada awalnya memang demikian mas, itulah sebabnya penelitian awal mengenai ini banyak ditentang habis oleh para agamawan dikarenakan faktor etika tadi. Para peneliti kesulitan untuk mendapatkan sampling/spesimen dari sel punca(stem cell) ini karena memang baru tersedianya dari placenta bayi. Otomatis harus ada bayi yang dikorbankan untuk penelitian ini. Tidak heran, kondisi awal penelitian dihujat disana-sini. Tidak boleh menyembuhkan orang dengan membunuh orang lain.

Akan tetapi dunia riset stem cell digemparkan oleh penemuan baru yang diumumkan melalui dua jurnal bergengsi, yakni Science, yang melaporkan hasil penemuan dari James Thomson dari Universitas Wisconsin di Madison, dan jurnal Cell yang melaporkan hasil penelitian Shinya Yamanaka (http://en.wikipedia.org/wiki/Shinya_Yamanaka) dari Universitas Kyoto dalam edisi 20 November 2007. Yamanaka berhasil mengembangkan stem cell dari sel kulit pasien hingga menjadi iPS (induced Pluripotent Stem) cell.

Pusat Riset Jerman mengatakan :

"Dr. Shinya Yamanaka. Yamanaka has succeeded in endowing normal skin cells with almost every characteristic of an embryonic stem cell."

(sumber: http://www.dkfz.de/en/presse/pressemitteilungen/2007/dkfz_pm_07_72_e.php)

Kemudian dikembangkan lagi oleh Yukio Nakamura berdasarkan riset dari Dr. Shinya Yamanaka yang kemudian dipublikasikan pada jurnal ilmiah stem cell berikut ini: http://www.pubstemcell.com/monthly/006010200002.htm.

Jadi memang berdasarkan penelitian dari Dr. Shinya Yamanaka sudah tidak diperlukan lagi placenta bayi untuk mendapatkan stem cell ini, dan dapat diambil dari sel kulit yang dikembangkan sedemikian rupa. Saya tidak tahu apakah ASPI sudah sejauh itu meneliti.

Jadi teringat pada suatu ayat di Quran dimana Allah memberikan penilaian khusus pada KULIT manusia karena keistimewaannya. Ternyata memang KULIT menyimpan potensi yang luar biasa. Entah kalau Dr. Shinya Yamanaka ini pernah membaca Quran mungkin akan terbukanya tabir hati seperti terbukanya tabir hati ahli farmakologi Thailand Profesor Tajaten Tahasen, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Chiang Mai Thailand ketika meneliti kulit manusia sehingga menjadi muallaf. Maha Benar Allah Terhadap Apa Yang DiciptakanNya.

Jadi ingat, pada sebagian masyarakat Jawa, acara puputan/puput puser/lepasnya tali pusat, dianggap penting dalam tahap kehidupan bayinya.
Bahkan kedua almarhum orang tua saya, menyimpan talipusar kedelapan anaknya, setelah kering, dibungkus kain dan diberi nama masing2. Dulu pernah saya tanya untuk apa. Beliau bilang kalau bisa "di pek gawene", diambil manfaatnya, sebagai sarana dalam memohon kesembuhan kepada Allah swt, apabila masing2 sakit berat, lebih khusus kalau terluka parah. Tidak boleh diminum dsb. Sekarang baru bisa bisa menduga, ada praktek quantum physic disini, hehehe.

Disitulah hebatnya Timur. Dengan segala keterbatasan, tetapi sesungguhnya sudah selangkah lebih maju. Hanya saja, tidak tahu kenapa bisa begitu. Mengikuti naluri dan pengetahuan alamiah sesuai kodrat saja.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 20/01/2011 08:44
Ada yang ketinggalan, begini bunyi ayatnya:

"Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka terbakar hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain agar mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagiMaha Bijaksana." (An-Nisa ayat 56)

Ayat ini sesungguhnya menceritakan mengenai terjadinya REGENERASI atau kalau bahasa biologinya menceritakan mengenai POTENSI stem cell (sel punca) karena hanya dari sel inilah sesungguhnya potensi regenerasi bisa terjadi. Dan itu bisa didapatkan pada kulit. Jadi tidak heran, Dr. Shinya Yamanaka diberikan ilham oleh Allah SWT untuk meneliti kulit dan mengembangkan sel punca dari kulit. Hasilnya tentu saja akan benar dan berhasil karena sumber pengetahuannya berasal dari pemilik sejati keilmuan kulit, yakni Allah SWT.

Subhanallah. Maha Benar Allah Dengan Segala FirmanNya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 21/01/2011 00:33
@ mas mpcrb.

Diyakini bahwa, siapapun yang bersungguh sungguh berusaha "membaca" phenomena alam, apakah dari pendekatan fisika, medik maupun bagian dari olah beladiri, niscaya akan makin menyaksikan kebesaran Illahi.  Berpeluang mendapat hidayah makin tebal keimanannya.

Dalam salah satu konteks MP, alm mas Budi pernah mengatakan dalam penataran pelatih, bahwa karena praktisi MP sudah dihadapkan langsung pada pengaruh besar dari "niat"/nawaitu/nawaetu/niat ingsun, maka harus hati2 dan benar dalam berniat.
Bahwa kalau kita berniat sungguh2, maka seluruh unsur tubuh, seluruh sel dan jaringan, tenaga, getaran pribadi dan naluri, segera menyesuaikan diri pada yang diniatkan tersebut.
Kalau niatnya menyembuhkan, otomatis semua unsur tubuh, getaran yang keluar, akan mendukung itu.
Sebaliknya kalau niatnya menghancurkan/menyerang, sikap seluruh tubuh termasuk getaran dan nalurinya,  akan TERPROGRAM kesana.
Kalau niatnya belum "nyawiji"/menyatu, ragu2, maka terjadilah, peserta penataran pelatih yang latihan memijat penyembuhan, salah penyaluran, malah membuat temannya kesakitan.
Sementara yang lain bisa menemukan titik lemah temannya untuk disembuhkan.

Menjadi bertambah kesadaran, makin punya "daya/tenaga", harus makin hati2 jangan salah niat.

Barangkali dengan mekanisme itulah, naluri plus niat, hanya berharap pada tuntunan Illahi, maka cara Timur menemukan sesuatu yang dikemudian hari "ketemu" dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 21/01/2011 15:56
Benar sekali.

Bahwa jagat raya "bertasbih" di dalam terminologi Islam bisa dideteksi dengan getaran. Ketika disebar ke sekeliling, maka akan didapatkan "rasa" yang unik pada tiap benda.

Dan sesungguhnya, "rasa getaran" ini adalah pencapaian suatu pengetahuan baru pada otak SELAIN rasa visual melalui pengalaman organ optik mata.


Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 21/01/2011 20:10
mas mpcrb bisa ga kalo teknik regenrasi selnya di babar, saya tertarik nih.
yang umum aja kalo keberatan.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 21/01/2011 22:25
Kalau dibabar secara teknis saya rasa bisa panjang x lebar. Kalau mau lebih jelas, bisa dicoba gabung ke kelompok Kebugaran MP mas. Disana nanti akan di dapatkan materi mengenai teknik regenerasi sel ala MP.

Meski demikian, kalau versi saya pribadi (bukan versi pakem MP) saat ini adalah yang dikembangkan dari titik lokasi stem cell mas. Jadi mas bisa lihat artikel saya sebelumnya mengenai stem cell ini pada lokasi-lokasi dihasilkannya stem cell ini, kemudian getaran dilewatkan pada jalur tersebut sambil memvisualisasikan "menangkap" stem cell. Setelah itu getaran diarahkan pada area yang bermasalah dan mulailah memberikan energi penyembuh pada tempat tersebut sekaligus visualisasi energi untuk "membiakkan" stem cell ini.

Meskipun teknik ini masih prematur dan niscaya menyisakan segudang pertanyaan seperti "bagaimana bisa stem cell ikut terbawa?" atau "bagaimana rasanya?" atau "bagaimana cara menangkapnya?" dsb. Pendekatan tersebut saat ini terbukti berhasil saya terapkan pada diri sendiri dan keluarga.

Kalau pada diri sendiri saya melakukan uji coba kurang lebih setahun yang lalu dengan menyayat kulit (don't try this at home) sehingga terjadi luka. Kemudian saya terapkan metode versi saya, dan alhamdulillah luka tersebut sembuh sangat sangat cepat. Dengan panjang luka 3 cm, menutup rapat di hari kedua, dan hari ketiga sudah kering total dengan kulit menutup penuh.

Sedangkan pada anak saya yang ketiga, barusan tadi siang kakinya terkena paku ketika bermain di rumah pada lantai 2. Terjadi luka sayat sedikit (sekitar 1 cm). Dengan teknik yang sama, alhamdulillah sore tadi sudah tidak perlu dijahit lagi. Dan malamnya sudah bisa ikut mengaji pada TPA dan bermain lari-lari bersama teman-temannya.

Saya pribadi juga belum tahu penjelasan detailnya. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Apakah memang "stem cell" ini terbawa secara fisik dari jalur produksi stem cel? Ataukah stem cell yang ada pada kulit yang bertransformasi karena tenaga getaran? Ataukah ada sebab lain? Wallahualam. Masih mersudi mencari kenapa-nya.

Tetapi saya meyakini bahwa apa yang sudah ditemukan oleh para ilmuwan mengenai lokasi keberadaan stem cell ini bisa saya manfaatkan pengetahuannya untuk kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan Merpati Putih yang saya miliki.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 21/01/2011 22:28
@ mas mpcrb.

Mengingat "self healing" termasuk dalam kelompok keilmuan yang diabdikan untuk masyarakat luas yang memerlukannya, bahkan bila perlu bisa disusun "short cut" beberapa bentuk latihan agar yang bersangkutan bisa melakukannya; apalagi sampai saat ini praktek regenerasi  sel nyaris harus dilakukan sendiri. Silahkan dibabar prinsip umumnya. Lebih detil kalau bisa ketemuan dengan kang Sawer wulung, selanjutnya tentu akan dikembangkan dengan caranya sendiri.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/01/2011 00:28
Baiklah karena sudah mendapat izin, saya coba berikan penjelasan sesuai kemampuan saya. Saya coba tidak membahas secara detail teknis versi MP karena bisa jadi akan membingungkan yang baca. Tetapi saya coba gunakan pendekatan yang (semoga) lebih baik untuk dimengerti dari sisi penjelasan.

Saya mencoba mengkombinasikan dengan literatur yang pernah saya pahami mengenai CMA (chinesse martial arts). Ada beberapa kemiripan pada konsep Chi, dimana saya akan gunakan pendekatan itu untuk menjelaskan teori regenerasi MP. Tanpa bermaksud merendahkan penjelasan versi MP tradisional aslinya, saya rasa penjelasan versi saya ini bisa menjadi pelengkap untuk memperkaya pengetahuan bersama. Insya Allah.

Seperti halnya teori dasar di dalam tenaga dalam, selalu dimulai dari simpul utama perut (dantian/hara). Dari sinilah hal ikhwal yang berhubungan dengan konsep tenaga dalam berawal. Tidak terkecuali pada Merpati Putih juga demikian. Hasil olah nafas akan menghasilkan energi yang kemudian disimpan pada titik tersebut. Sebagai ruang imajiner tanpa batas, yang hanya dibatasi oleh imajinasi, ia sudah cukup untuk bisa menampung energi alam semesta. Asal jalur nadi dalam yang ada di dalam tubuh praktisinya cukup kuat.

(http://www.qigongchi.info/health-martial-arts/images/66_39_26.jpg)

Teori dasar regenerasi sel tubuh pada MP dimulai dari jalur simpul utama perut (dantian/hara) kemudian turun ke bawah, perineum, tulang ekor, kemudian naik merambat melalui tulang belakang hingga melewati tulang leher, melewati otak kecil, trus ke dahi, dst ,dst (saya tunjukan melalui gambar saja karena ia akan mewakili seribu kata-kata).

(http://www.qigongchi.info/exercises/images/13_21_8.jpg)

Gambar tersebut saya ambil dari Jalur Air (Water Path) pada teori Chi. Dimana jalur air ini berfungsi dari mulai penguatan organ, nadi dalam, hingga pada regenerasi sel. Saya tidak tahu apakah ini terlalu kebetulan, ataukah memang proses mendapatkan pengetahuan yang kebetulan bisa mendekati (ada kearifan lokal yang mirip antara teori regenerasi MP dan teori Jalur Air Chi). Wallahualam. Yang jelas, teori dasarnya sama.

Jadi, ketika menghirup nafas, maka seketika itu nafas diturunkan pada titik utama simpul perut, dan kemudian munculkan tenaga getaran untuk kemudian disalurkan mengikuti Jalur Air (Water Path) seperti pada gambar. Menariknya adalah, jalur-jalur ini adalah jalur-jalur yang berisi produksi stem cell juga (lihat pada artikel saya mengenai stem cell sebelum ini). Jadi memang ada kemungkinan terjadi kondisi aktivasi atau "transportasi" dari stem cell ini secara tidak sadar. Untuk memperkuat, biasanya dilakukan visualisasi warna putih terang seperti lampu neon ketika tenaga getaran itu mengalir merambat melalui tulang punggung sehingga praktisi seolah melihat tulang punggungnya "menyala" terang. Visualisasi lain berdasar teori warna juga bisa dilakukan pada warna-warna yang menimbulkan efek penyembuhan seperti warna ungu dan kuning emas.

Satu kali nafas dilakukan 1x putaran. Umumnya 5 sampai 7 detik. Biasa dilakukan 5 sampai 7 saf. Pada kondisi ini, kalau dilakukan dengan penuh penghayatan, biasanya "gerbang rasa" akan terbuka. Ketika gerbang ini terbuka, maka terjadi sensasi seperti kejutan listrik statis pada punggung kemudian diikuti dengan menghangatnya tulang punggung dengan rasa yang nyaman. Berturut-turut pada jalur yang dilewati pada Jalur Air ini.

(http://www.qigongchi.info/health-martial-arts/images/66_39_27.jpg)

Kalau pada pengobatan mata minus/plus/silinder, jalur dihentikan hingga ke belakang otak kecil kemudian menembus pada kedua bola mata dan bola mata tersebut divisualisasikan seperti "direndam" di dalam tenaga getaran. Efek dari "rendaman" ini nantinya akan menimbulkan sensasi "rasa" nyaman pada mata. Diduga awal (menurut saya) terjadi aktivasi stem cell disini. Entah berasal pada organ mata atau yang berhasil "dibawa" oleh tenaga getaran. Untuk memperkuat bisa dilakukan visualisasi menggunakan teori warna yang berguna untuk penyembuhan seperti ungu atau kuning emas. Biasanya ungu.

Mudahkah melatih Jalur Air ini? Dari pengalaman, ini tidak mudah. Sebab terkadang nafas "habis" sedangkan aliran tenaga masih merambat (belum naik). Hingga kemudian harus dipacu berulang-ulang kali baru bisa. Tidak apa-apa. Itu efek awal. Bahkan pada teori Jalur Air aslinya (pada teori Chi) pun disebut bahwa teknik ini merupakan level tertinggi dari latihan chi. Konon para biksu yang melatih chi melewati Jalur Air ini mampu mengurangi efek penuaan sehingga dapat hidup ratusan tahun.

Kalau melihat jalur yang dilewati oleh Jalur Air ini, maka bisa diduga memang terjadi proses aktivasi stem cell di berbagai tempat. Sehingga ya tidak heran praktisinya akan selalu tampak lebih segar dan bugar serta awet muda. Wong sel-nya selalu di-regenerasi ulang setiap kali berlatih. Apalagi kalau berlatih sampai berjam-jam. Efeknya tentu lebih dahsyat lagi. Jadi tidak mustahil cerita para biksu yang bisa menunda efek penuaan adalah benar adanya.

Bagaimana selanjutnya apabila kita ingin mengarahkan pada bagian yang bermasalah? Gunakan pikiran untuk mengarahkan kemana tenaga mengalir seperti biasa.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 22/01/2011 14:07
Mas MPCRB,

Nuhun ah tos di waler,
Memang ada kemiripan antara beladiri China dan Indonesia, itulah kearifan para leluhur menemukan ilmu yang garis besarnya sama.
Saya sudah sering mempraktekan jalur tersebut, memang tidak sebagus kalo ada gurunya langsung karena saya mempelajarinya otodidak dari membaca dan sharing sama temen.
Kalo ndak salah TCM/CMA banyak menyebutnya orbit mikrokosmik, kalo di yoga jalur nadi ida dan pingala.
Memang terasa ada "sesuatu" yang merambat di sekitar area tulang belakang tembus ke kepala dan titik puncak di kepala / PaiHui suka berdenyut, malah kadang sedang tidak latihan pun suka kerasa.

pertanyaannya, apakah sudah betul apa yang saya rasakan dan saya latih?, kurang lebihnya sama lah teknik napas yang digunakan

trus jika ada gangguan, misal di daerah perut , bisakah menggunakan teknik stem sel dengan merambatkan arah getaran dari tulang belakang ke arah perut?

apakah dilakukan dengan pengejangan otot atau tidak?

Terus jika untuk mengobati orang lain, stem sell nya pasienkah yang di ambil ? caranya gimana ?

Terus menghubungkan dengan  getaran yang ada di alam caranya gimana ?

mudah-mudahan ga bosen ngejawabnya.

Nuhun
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 22/01/2011 15:02
@ kang Sawer wulung.

Demikianlah gambaran umumnya.

Disitu diasumsikan, praktisi sudah memiliki kemampuan mengumpulkan "energi" (melalui berbagai cara dan bentuk senam pengolahan dsb.), sehingga bisa mulai menyalurkannya untuk berbagai keperluan.

Berbeda dengan senam pengolahan reguler MP, tingkat Dasar I sekalipun, yang prestasi hasil latihannya akan diukur dalam ujian kenaikan tingkat (UKT), ada lagi kelompok non prestasi, yang disebut kelompok kebugaran. Lebih santai, fun, mengutamakan kebugaran, dan latihan "penyegaran sel" masuk kedalamnya. Kalau usia prestasi, biasanya kurang berminat disini, kurang menantang, kurang porsi beladiri.

Dalam latihan kebugaran MP, disamping latihan sesuai metode tradisional MP, juga mengadopsi senam2 aerobik serta kaidah pemanasan, penguluran, penguatan dan pendinginan modern (memperhatikan prinsip perkembangan cardiovascular yang aman).

Peserta kebugaran akan dilatih senam aerobik, senam anaerobik (senam pengolahan dasar I atau derivatnya/penyederhanaan menyesuaikan kemampuan peserta, bentuknya penguluran yang disertai penegangan dan tahan napas), senam terapi khusus (untuk penderita sakit tertentu), kemudian latihan getaran penyembuhan, termasuk didalamnya latihan penyegaran sel. 

Latihan2 aerobik dan anaerobik tsb, sedikit demi sedikit akan memperkuat organ, melancarkan peredaran darah, melancarkan jalur tenaga, dan mampu membangkitkan tenaga.

Kemudian diberikan latihan2 "tradisional" MP dalam memanfaatkan hasil latihan lebih lanjut.

Diantaranya adalah latihan napas pembersih.

DiNIATkan untuk melakukan napas pembersih, napas halus, membayangkan yang akan diserap adalah udara bersih atau air bening yang membersihkan, tarik melalui hidung, langsung masuk rongga otak/kepala seperti masuk spons, hembuskan melalui mulut, dibayangkan air beserta kotoran akan terbuang keluar. Jangan sampai ditahan di mulut, bisa sariawan. Demikianlah napas pembersih kepala. Dilakukan berulang ulang dan diteruskan melakukan di bagian tubuh yang lain(dada perut/punggung/kaki/tangan). Bisa juga untuk penderita tertentu, membersihkan jantung serambi kiri/kanan, bilik kiri/kanan, dst sesuai kebutuhan khusus.
Disamping juga akan melancarkan jalur energi, salah satu manfaat lainnya, praktisi maupun pelatihnya, bisa  tahu tempat2/jalur yang abnormal dalam scanning tsb. Sukur2 kalau dengan napas pembersih sudah bisa membaik. Toh masih ada kelanjutannya.

Kemudian ada latihan mengumpulkan "energi penyembuh".
Energi penyembuh yang ada di seluruh tubuh ditarik, dikumpulkan di bawah pusar. Sekali lagi, kunci tradisionalnya adalah NIAT.
(Perkembangan dalam menarik energi penyembuh dalam tubuh, adalah makin peka/tahu, dimana energi2 tersebut "ngendon", yang kemudian dalam rujukan medik, diduga sebagai konsentrasi2 sel punca)

Dalam latihan lanjut, dilatih juga menyerap energi penyembuh dari luar/alam.

Selanjutnya diterapkan seperti yang dijelaskan oleh mas mpcrb.

Pengembangan "self healing" maupun menolong orang lain, selain merujuk pada ilmu pengetahuan lain  (antara lain medik maupun fisika), secara tradisional, MP juga memiliki koridornya.
Dari NIAT, melakukan, akan ada perkembangan, dari manfaat, merasakan sensasi, bertambah peka lebih detil, harus urut pada titik2 kecil (dengan batang korek api), cukup "menyapu" bidang tertentu yang kena titik2nya, jarak jauh, sampai tahap"waskita"/visual.

Arahan/pendapat dokter, rujukan2 lain, dimanfaatkan untuk lebih memfokus, tanpa mengabaikan rasa getaran yang ada. 

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/01/2011 15:26
@kang Sawer Wulung,

Nah kalau ditanya apakah sudah betul atau tidak, jawabnya ya relatif mas. Kalau dari sudut pandang MP mungkin akan berbeda dengan apa yang mas pelajari/yakini.

Kalau pada pemahaman saya pribadi, getaran ini unik dan agak berbeda dengan pemahaman tenaga dalam seperti pada umumnya.

Kita coba kilas balik ke belakang sebentar mengenai bagaimana otak "merekam" suatu pengetahuan obyek. Nanti akan terlihat perbedaannya antara hal yang umum, tenaga dalam yang umum, dan getaran pada terminologi MP.

Bahwa pengetahuan mengenai "wujud" obyek di dalam otak kita sebagian besar di dapat dari apa yang dilihat oleh mata kita. Itulah sebabnya sedari kecil kita diajarkan untuk MENGENALI benda-benda di sekeliling. Mata melihat dan otak merespon. Dari dasar pengetahuan penglihatan inilah terekam pada otak menjadi suatu memori yang menempati "ruang" tersendiri. Semakin difungsikan secara maksimal, maka kuantitas dan kualitas memori pada otak semakin meningkat. Kemudian dikenalkan pada pengetahuan mengenai warna (primer, sekunder, tertier), dikenalkan pada pengetahuan bahasa (tulisan, abjad), dsb. Pengetahuan-pengetahuan mengenai jenis dan karakteristik benda yang dilihat juga semakin meningkat. Akhirnya, ribuan atau jutaan benda beserta karakteristiknya kita ketahui dan kita serap menjadi apa yang disebut dengan PENGETAHUAN BENDA. Otak kemudian sedemikian canggihnya hingga mampu melakukan sintesa pengetahuan secara otomatis untuk kemudian menjadi suatu pengetahuan baru. Hal itu berlangsung bertahun-tahun selama hidup dan tanpa kita sadari.

Kita tidak pernah diajarkan untuk mengenal kata "SILAT", tetapi kita hanya diajarkan pengetahuan dasar mengenai huruf "S", "I", "L", "A", dan "T". Nanti, otaklah yang melakukan sintesa pengetahuan baru sehingga dari huruf bisa dirangkai menjadi kata, dari kata bisa dirangkai menjadi kalimat, dst, dst. Dari bangunan-bangunan dasar pengetahuan itulah otak bersintesa menjadi pengetahuan baru yang lebih luas dan lengkap.

Di dalam Merpati Putih, ilmu getaran memiliki keistimewaan yang unik dan berbeda dengan tenaga dalam pada umumnya. Kenapa saya katakan ilmu getaran MP ini istimewa dan unik? Karena ia merupakan SUMBER PENGETAHUAN BARU selain dari pengetahuan visual yang selama ini dimiliki oleh manusia melalui mata seperti yang saya jelaskan tadi. Pengetahuan baru ini bisa menjadi pelengkap bagi manusia normal, ataupun bisa menjadi pengganti bagi yang tidak normal (tunanetra).

Prinsip dasar getaran hampir sama dengan prinsip dasar organ optik visual (mata) dari sisi proses dan fungsionalitas. Semuanya pada level atomic. Perbedaannya adalah bahwa medium pada pengetahuan benda pada otak normalnya diserahkan pada mata, sedangkan pada getaran diserahkan pada tenaga dalam yang dikonversi menjadi tenaga getaran.

Kalau diringkas, pada mata terbentuk pengetahuan visual mengenai suatu benda sehingga terbentuk "memory visual benda". Sedangkan kalau pada getaran terbentuk pengetahuan "rasa getaran" dari benda. Rasa getaran inilah yang saya sebut sebagai PENGETAHUAN BARU untuk otak dan terekam disuatu tempat sebagai "memory getaran benda". Ketika pancaran getaran mengenai suatu benda, maka akan didapat "rasa getaran" dari benda tersebut. Rasa getaran ini kemudian disimpan pada otak kecil sebagai pengetahuan baru mengenai benda tsb. Ketika kemudian praktisi memancarkan lagi getarannya dan mengenai benda yang sama, maka secara otomatis otak akan memuat pengetahuan benda tersebut mengenai "rasa getaran" yang dimilikinya. Semakin banyak rasa getaran yang dimiliki oleh otak, maka semakin kaya praktisi tsb mengenai obyek-obyek. Lama kelamaan, akan menjadi reflek dan naluri sebagaimana halnya saat ini mata kita.

Normalnya, kalau mata melihat "AQUA", maka otak menterjemahkan sebagai obyek "AQUA" berdasarkan pengetahuan yang sudah dilihatnya. Sedangkan ketika getaran mengenai "AQUA" maka otak akan mengambil "rasa getaran" mengenai "AQUA" ini dan memberitahu otak bahwa itu obyek "AQUA". Demikian seterusnya pada obyek-obyek yang lain. Jadi, semakin dilatih maka pengetahuan obyek akan semakin banyak dan beragam.  Demikian juga pada warna, huruf, dsb.

Untuk membuktikan ini mudah sekali, silahkan baca satu kata berikut ini:

"таблице"

Ada yang bisa?

Kalau yang memahami bahasa Rusia tentu mudah sekali. Tetapi bagi yang tidak memahami bahasa Rusia maka kata tsb tidak akan dimengerti. Alasannya simpel, karena otak kita tidak punya pengetahuan mengenai kata tersebut sehingga otak tidak mampu mengambil database pada memory otak mengenai pengetahuan obyek tulisan tsb. Dari pembuktian ini jelas sudah bahwa sesungguhnya APA YANG DILIHAT oleh mata itu akan menjadi dasar dari pengetahuan benda.

Sehingga bagi praktisi getaran Merpati Putih sekarang pada otaknya terdapat DUA pengetahuan, yakni pengetahuan visual melalui mata secara normal DAN pengetahuan "rasa getaran" melalui ilmu getaran Merpati Putih.

Lalu apa perbedaannya dengan tenaga dalam yang umum?

Perbedaannya adalah bahwa tenaga power (tenaga dalam) yang dilatih di MP itu sudah terkonversi menjadi tenaga getaran. Sedangkan pada tenaga dalam yang dilatih oleh aliran beladiri lain tidak demikian. Perbedaan perlakuan ini akan menghasilkan perbedaan karakteristik pada kemampuan akhir. Boleh dikatakan bahwa pelatihan tenaga dalam pada aliran lain adalah mengolah energi tubuh dan mengubahnya menjadi KEKUATAN. Sedangkan pada MP, pelatihan tenaga dalamnya menghasilkan KEKUATAN dan meningkatkan menjadi KEPEKAAN. Terjadi proses tambahan pada MP. Kekuatan dihasilkan dari olah nafas power, dan kepekaan dihasilkan dari olah nafas getaran. Inilah yang terkadang menjadi titik pembeda.

Pada MP, pelatihan getaran akan berusaha sebanyak-banyaknya mendapatkan "rasa getaran" dari alam sekitar sehingga praktisi memiliki kemampuan DETEKSI yang jauh lebih baik dibanding yang mempelajari tenaga dalam secara normal.

Kalau diringkas:

Tenaga Dalam Umum
---------------------------
Olah gerak --> olah nafas --> tenaga dalam --> memory TD --> kekuatan

Merpati Putih
-----------------
(a) Jalur power:
Olah gerak --> olah nafas --> tenaga power (tenaga dalam) --> memory power --> kekuatan

(b) Jalur getaran:
Olah gerak --> olah nafas --> tenaga power (tenaga dalam) --> memory power --> tenaga getaran --> memory getaran

Jadi memang pelatihannya sangat berbeda.

Semoga ilustrasi tsb membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/01/2011 15:53
@kang Sawer Wulung, terkait dengan pertanyaan:

apakah dilakukan dengan pengejangan otot atau tidak?

Tidak diperlukan pengejangan otot maksimal untuk ini. Secukupnya saja. Toh yang berperan bukan otot, tetapi tenaga getaran.

Terus jika untuk mengobati orang lain, stem sell nya pasienkah yang di ambil ? caranya gimana ?

Metode tradisional tidak sejauh ini, hanya niat dan konsentrasi pada titik-titik tertentu (yang diduga konsentrasi sel-sel punca/stem cell). Jadi perlu ada pengetahuan mengenai lokasi dan jalur titik-titik tersebut mas. Kalau pada metode MP, karena sudah terbiasa dengan "rasa getaran" maka proses deteksi menjadi lebih mudah mas. Karena praktisi sudah cukup memiliki pengetahuan "rasa getaran" pada otak kecilnya. Tinggal dikeluarkan saja dan "ditempelkan" pada tenaga getaran untuk kemudian dipancarkan pada pasien. Ketika getaran ini mengenai pasien, tentunya akan didapatkan "rasa getaran" pada tubuh pasien. Nah ini yang dideteksi sehingga bisa diketahui bagaimana nanti memperlakukannya.

Saya tidak tahu bagaimana rasa getaran dari stem cell yang sesungguhnya. Teori yang saya jelaskan masih prematur, meskipun ada keberhasilan dan ada manfaat bagi saya. Langkahnya sudah saya jelaskan pada postingan mengenai "MP dan Sel Batang (stem cell)". Monggo dibaca mas. Barangkali ada manfaat.

Terus menghubungkan dengan  getaran yang ada di alam caranya gimana ?

Di MP, sebelum masuk pada getaran alam, maka proses melatih getaran pribadi adalah suatu keharusan. Karena melalui pemahaman yang baik terhadap getaran pribadi inilah praktisi akan bisa membedakan getaran dirinya dengan getaran alam. Umumnya dilakukan dengan memancarkan getaran pribadi kesekeliling (secara menyebar), kemudian mendeteksi medan terbesar yang ada disekeliling tubuh praktisi. Setelah terdeteksi, lalu difokuskan dan dikonsentrasikan untuk kemudian diikuti kemana medan terbesar ini mengalir (biasanya akan mengalir secara acak pada lintasan tertentu). Saat mengikuti kemana medan energi alam ini mengalir inilah kita akan benar-benar bisa merasakan bahwa "alam rayapun bertasbih...". Sensasinya sangat unik. Sinkronisasi antara getaran pribadi dan getaran alam ini begitu unik dan buat saya pribadi sering saya jadikan semacam "stress therapy" ketika terjadi jenuh terhadap pekerjaan.

mudah-mudahan ga bosen ngejawabnya.

Nuhun

Insya Allah tidak mas.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 22/01/2011 16:06
@Mas Suprapto
@Mas Mpcrb

Terima kasih mas, penjelasannya cukup gamblang  [top]  [top]  [top], sudah mulai terang nih jalannya.
Sebenernya banyak yang pengen ditanyain, tapi bingung mulai darimana.  Sepertinya memang harus terjun langsung dan masuk ya biar bisa mendapatkan "Rasa" yang bener dari getaran MP. Sejauh ini masih bingung dengan "Rasa" yang dirasakan, karena memang baru apa yang sebatas diketahui secara otodidak bukan dari sisi praktisi.

Monggo dibabar lagi mas mas, saya menyimak lagi. Mudah mudahan tambah pencerahannya.

Salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 22/01/2011 19:57
Latihan getaran MP tidak mengajarkan APA rasa getaran, tetapi mengajarkan  metode BAGAIMANA cara mendapatkan APA rasa getaran itu. Sebab terkadang APA rasa yang dialami oleh praktisi bisa berlainan antara satu dengan yang lainnya.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/01/2011 14:41
Sebenernya banyak yang pengen ditanyain, tapi bingung mulai darimana.  Sepertinya memang harus terjun langsung dan masuk ya biar bisa mendapatkan "Rasa" yang bener dari getaran MP. Sejauh ini masih bingung dengan "Rasa" yang dirasakan, karena memang baru apa yang sebatas diketahui secara otodidak bukan dari sisi praktisi.

Monggo dibabar lagi mas mas, saya menyimak lagi. Mudah mudahan tambah pencerahannya.

Otak sesungguhnya menyimpan potensi tidak terbatas. Dari hasil pengamatan dan analisa saya, ilmu getaran Merpati Putih merupakan suatu PENGETAHUAN BARU bagi manusia mengenai cara pandang terhadap obyek.

Saya pernah menjelaskan bahwa tenaga power di MP dihasilkan dari suatu latihan Isometric Exercize secara extreem dengan repetisi yang extreem sehingga didapati kondisi tubuh yang mampu menghasilkan tenaga tambahan sebagai akibat dari suatu reaksi kimiawi dalam tubuh.

Lain halnya dengan latihan getaran, latihan getaran sesungguhnya adalah suatu latihan Visualisasi secara extreem dengan repetisi yang tidak kalah extreem dibanding Isometric Exercize seperti halnya pada olah nafas pengolahan MP. Lama waktu di dalam berlatih pakem getaran minimal 2 jam (itu sangat minimal sekali). Umumnya antara 2-4 jam latihannya saja untuk 1 sesi, belum termasuk aplikasi. Kalau plus aplikasi bisa mencapai 5-6 jam untuk 1 sesi latihan.

Kalau pada penelitian dimana melatih visualisasi (tanpa gerak) pada jari yang pernah saya informasikan terdahulu bisa menguatkan otot jari secara fisik, apalagi latihan dengan visualisasi extreem seperti ini. Tentu hasilnya lebih extrem lagi. :)

Jadi bisa disimpulkan sementara bahwa latihan getaran adalah semacam latihan visualisasi extreem yang melibatkan pikiran dan rasa secara komprehensif. Kalau pada kondisi ini kemudian terjadi munculnya energi tubuh, tentu bisa dimaklumi ada benarnya. Sebab pada kondisi pengujian visualisasi tanpa olah gerak pada jari saja bisa menimbulkan kekuatan jari secara nyata toh? Belum lagi pengaturan nafas (segi empat, segitiga, halus) yang tentunya akan membuat metabolisme tubuh menjadi semakin luar biasa.

Artinya, latihan ini sesungguhnya akan membuat praktisi menjadi lebih mengenal dirinya sendiri dan alam sekitar DENGAN pikiran dan rasa yang dimilikinya. Nafas yang teratur menyebabkan gelombang otak akan sinkron dengan gelombang alam. Jadi kalau muncul fenomena supranatural, itu bisa dimaklumi karena efek resonansi dari gelombang-gelombang yang ada ini.

Tahap dimana praktisi melatih getaran pribadi, kemudian masuk pada getaran alam, kemudian pada deteksi, dan berturut-turut meningkat menjadi lebih tinggi memiliki jenjang yang sudah sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan. Ini tidak disadari benar oleh praktisinya, tetapi ia melakukan itu sebagai bagian dari aktivitas rutin latihan yang dilakukan berdasarkan kearifan lokal yang diberikan kepadanya.

Muncul pertanyaan, lalu bagaimana dengan kondisi dimana praktisi getaran MP bisa "menemukan" obyek yang ingin dicari (ktp, dragon, beton cor, kain berwarna, dsb) meski ia tidak tahu benda itu ada dimana?

Sebenarnya ini tidak terlalu sulit dijelaskan sebab otak kecil kita sudah merekam obyek-obyek ini. Tinggal mengeluarkan "rasa getaran" terhadap obyek ini dan menyalurkan pada telapak tangan (bagian tubuh yang akan digunakan sebagai transmitter) dan memancarkannya. Teori tradisional ada pada niat, sedangkan pada prakteknya, praktisi harus bisa "menangkap" persamaan rasa pancaran di telapak tangannya dengan getaran alam yang mengenai obyek tersebut. Begitu terasa, tinggal diikuti saja pancarannya dan dijamin getaran akan mengarahkan pada lokasi obyek yang akan dicari/ditemukan dengan tepat. Ingat, setiap obyek/benda memiliki karakteristik khas tertentu dan ia dikenai oleh getaran alam. Dan karena getaran MP ini bersifat atomic level, adalah relatif mudah bagi praktisi untuk melakukan deteksi obyek ini dimanapun obyek ini berada. Otak memiliki kemampuan hebat untuk melakukan proses rumit dalam waktu sepermilidetik atau untuk "mencari" pengetahuan mengenai obyek ini dan memunculkannya menjadi suatu sintesa pengetahuan baru.

Saya coba ambil satu contoh studi kasus untuk membuktikan bahwa otak kita punya daya hebat mengenai kemampuan sintesa. Sebelumnya kita sepakat bahwa kita belajar HURUF/ALFABET, dan bukan belajar kata atau belajar kalimat atau paragraf. Kata, kalimat, atau paragraf, beserta pemahamannya adalah hasil sintesa dari pengetahuan otak sedemikian rupa.

Mari kita buktikan.

Paragraf di bawah ini sepintas terlihat seperti kalimat kacau untuk Test Kecepatan Mata dan Otak, tetapi apabila kita membacanya dengan suara keras, kita tidak akan mengalami kesulitan membaca dan memahaminya:

Quote
Hnaya ynag bisa. Sluit dipreacya bawha ktia mamehmai apa ynag sdeang ktia bcaa. Kuketaan fonemanel fiikarn muniasa. Trenayta uuratn hruuf daalm stau ktaa tdaik mnajedi maasalh, tatepi ynag trepenntig aadalh huurf pratema dan trahkeir braeda pdaa laetk smeesityna, seblehiyna bsia sjaa lteakyna kcaau blaau tpai ktia msiah bsia mameabcnya. Hal ini desibbaakn faikirn ktia tdiak membaacyna per stau hruuf, ttaepi stau ktaa kseeruluahn. Dangen bgeini eajan mneajdi tdaik trellau pnetnig!

Otak manusia memang pintar khan? :)

Kalau sudah begini, tidak heran proses deteksi benda untuk menemukan siapa pemilik benda tersebut bisa dilakukan. Atau untuk hal-hal lain seperti deteksi penyakit, stem cell, titik-titik yang macet, dsb. Sebab level atomic dari benda sudah terdeteksi, tinggal mendeteksi "getaran tinggal" dari yang menyentuh obyek tersebut. Selisih perbedaan inilah yang kemudian oleh otak dideteksi sepersekianmilidetik. Begitu ketemu "Rasa getarannya", tinggal diikuti saja kemana mengarah.

Demikian ilustrasinya. Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: anakbawang on 25/01/2011 15:34
saluut untuk penjelasannya mas  [top]  [top]  [top]
mas kalo getaran2 alam / benda bisa ditangkap sehingga bisa mencari "sesuatu" yang ingin dicari., seperti sekarang ini yang lagi hangat masalah crop circle di sleman apakah bisa dideteksi itu buatan manusia ato bukan manusia? maaf mas klo pertanyaannya agak ngawur cuma jadi penasaran aja pandangan dari praktisi getaran. terima kasih sebelumnya.
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/01/2011 16:22
Kira-kira lima tahun yang lalu, saya pernah mengalami hilang laptop pribadi ASUS high-end karena tertinggal di angkutan kota di Cirebon. Saat itu saya sedang mengantar anak saya main ke rumah neneknya. Karena terburu-buru dan memang keadaan sedang ramai, saya jadi terlupa kalau saya bawa laptop (untung ngga lupa lagi bawa anak, hehehe). Akhirnya panik, karena di dalamnya ada satu set laptop dengan data-data pekerjaan saya, riset, tulisan-tulisan, artikel-artikel,dsb, plus GSM modem plus flashdisk 4 GB, hardisk external, plus IPod 8 GB, plus Zune 8 GB. Kalo yang nemu dijamin itu rezeki nomplok dah.

Saat itu kemampuan masih minim, akhirnya minta bantuan ke pelatih getaran saya, Mas Joko Dwi Priono (tingkat Khusus 3) via telpon saja. Beliau meminta saya menggambarkan karakteristik laptopnya, warna tas, warna laptop, dsb. Setelah itu ditanya, apakah itu laptop pegangan sehari-hari? Saya jawab ya, laptop itu sudah bertahun-tahun bersama saya. Akhirnya diminta menunggu kira-kira 10 menitan sebelum beliau telpon saya kembali.

Jawabannya sangat mengejutkan (saya masih ingat, karena akibat dari kondisi inilah yang memulai riset mengenai getaran), dijawab oleh Mas Joko sbb:

"Mas, nanti tunggu di pinggir jalan yang dilalui angkot GP (Gunung Sari - Plered). Nanti perhatikan angkot yang kaca depannya ada tulisan GP pake warna putih besar-besar. Dan dibelakangnya ada tulisan GP juga tapi warna kuning."

Dengan penuh was-was, saya tunggu setiap angkot yang dilewati. Dan benar saja, kurang lebih 5 menitan angkot yang dimaksud datang menghampiri. Langsung saya stop, dan memang benar tas laptop saya masih utuh dengan isi-isinya. Aneh, padahal didalam angkot tsb ada penumpang. Tapi seolah "tidak melihat" keberadaan tas laptop saya. Akhirnya saya menemukan kembali tas laptop saya. Alhamdulillah.

Setelah itu saya mampir ke rumah beliau untuk berterima kasih sambil minta dijelaskan bagaimana bisa seperti itu?

Dari penjelasan mas Joko inilah saya mengenal teori-teori getaran versi beliau, bagaimana aplikasinya, pemahaman terhadap tubuh, dsb, termasuk apa yang disebut dengan "getaran tinggal". Jadi yang dilakukan mas Joko saat itu (menurut beliau) adalah mendeteksi getaran tubuh saya, menyimpannya sebagai pengetahuan pada otak kecilnya. Kemudian menggunakan pengetahuan "rasa getaran" tubuh saya untuk "mencari" rasa getaran yang sama. Ketika ditemukan, maka tahap selanjutnya adalah menyebar tenaga getarannya untuk mendapatkan scanning "tampilan visual" dari tempat disekitar lokasi tas laptop melalui nafas gunung yang mampu melipatgandakan jangkauan scanning. Akhirnya didapatilah gambaran tempat lokasi dimana tas laptop saya berada. Getaran tinggal pada tas laptop ini adalah getaran yang merupakan sinkronisasi dari getaran tubuh saya secara alamiah dengan getaran alam yang mengenai tas. Jadi, dengan melakukan sinkronisasi getaran mas Joko dengan getaran alam inilah dia "menelusuri" kemana arah hilangnya benda. "Alamat"-nya adalah "rasa getaran" yang ada di otak kecil mas Joko mengenai "rasa getaran" tubuh saya. Dan "kurir"-nya adalah getaran alam yang dipakai sebagai media untuk mencari benda. Karena tidak begitu paham getaran, saya hanya mencatat dan mengingat benar setiap penjelasan-penjelasan tsb.

Meski demikian, menurutnya getaran tinggal pada suatu benda memiliki batasan. Bahwa kalau terlalu lama, maka getaran tinggal saya pada tas laptop ini akan teresonansi dengan getaran alam hingga menjadi netral. Efeknya, jadi sulit dan tidak bisa ditemukan lagi "rasa getaran" yang sama. Analoginya seolah "alamat" yang dituju sudah tidak ada lagi, atau sudah milik umum sehingga keberadaan lokasi tidak diketahui.

Dengan memanfaatkan getaran alam, dan pancaran getaran pribadi melalui nafas gunung, maka akan didapat kondisi sebaran tenaga getaran pribadi yang jangkauannya sangat luas (istilah mas Prapto seisi kota jadi kecil).

Terkait dengan crop circle, selama "rasa getaran" itu bisa didapatkan maka praktisi detektor MP, akan (relatif) bisa menemukan "pelakunya". Tapi kalau sudah terlalu lama, maka getaran tinggal ini akan hilang dan kembali ke alam sebagaimana energi sesuai dengan hukum kekekalan energi.

Demikian menurut pandangan saya mas.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 26/01/2011 09:02
Woww amazing [toop] [toop] [toop],ternyata imu getaran itu bisa dahsyat seperti itu,yang saya saluutnya penjelasan getarannya mas agung bisa sangat logis dan realistis sekali,kalau zaman dulu masyarakat awam hanya tau yang bisa melakukan hal seperti itu adalah orang yang bergelar dukun atau paranormal dengan ilmu kebatinannya dengan menggunakan khodam atau melalui perantaraan jin,tapi ini sangat luar biasa semuanya melalui teknik yang real dan alami tanpa ada bantuan apapun,kira2 benar begitu mas mpcrb,takut saya salah?terima kasih mas atas pencerahannya
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 26/01/2011 10:32
@kang Bayu, demikianlah adanya.

Saya hanya menterjemahkan berdasarkan pengetahuan yang saya miliki kang. Adapun kalau mendengar penjelasannya sendiri sih mungkin tidak akan segamblang ini.

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Mungkin itulah peribahasa yang tepatnya. Setelah mengenal getaran, maka akan tumbuh sayang, setelah sayang, maka akan tumbuh cinta. Ketika sudah cinta, maka semua yang dilihat, semua yang didengar, semua yang dipahami akan menjadi sangat positif dan sangat indah.

Ilmu Getaran Merpati Putih murni salah satu diversifikasi brilian dari olah tenaga pada level frekwensi. Dan memang dari level frekwensi inilah hal-hal yang kita lihat sebagai fenomena "supranatural" bisa dijumpai.

Menurut saya pribadi, kalau tenaga dalam biasa, levelnya adalah energi. Sedangkan getaran, levelnya adalah frekwensi. Perbedaan karakteristik inilah yang menjadi pembeda pada inovasi kemampuan yang ada di dalamnya. Inilah juga yang membuat saya jatuh cinta pada Merpati Putih dan belum berniat untuk mendua hati mempelajari beladiri lain. Seolah ada suatu "ruang tumbuh" dari keilmuan ini dengan aplikasi yang hampir tanpa batas. Ilmu Getaran Merpati Putih (IGMP) adalah suatu PENGETAHUAN BARU pada diri manusia mengenai bagaimana suatu obyek diterjemahkan. Selama ini manusia menterjemahkan wujud obyek melalui organ optik yakni mata. Pada getaran, obyek diterjemahkan dengan "rasa getaran" pada obyek tersebut,  yang kalau merujuk pada penelitian Dr. William dari John Hopkins University dapat dikatakan bahwa tenaga getaran itu bersifat atomic pada tingkat frekwensi. Sama halnya dengan fungsi mata yang juga bersifat atomic pada tingkat frekwensi, maka otak manusia akan bisa COCOK menterjemahkan karakteristik benda berdasar frekwensi yang ditembakkan/mengenai kepadanya. Sebab fungsi nalar penterjemahan sebelumnya yang menggunakan mata memang demikian adanya. Getaran sederhanya bisa dikatakan sebagai suatu teknik untuk mendapatkan pengetahuan baru mengenai benda dengan proses seperti halnya proses pada mata. Dapat pula dikatakan ia akan bisa "mengganti" fungsi mata (mediumnya saja yang diganti tetapi proses dan bagaimana otak menterjemahkan tetap saja sama sehingga tidak akan terjadi penolakan terhadap otak). Bahkan ia lebih luas jangkauannya dibanding fungsi mata yang terbatas.

Getaran/gelombang sangat banyak digunakan di dalam dunia medis maupun militer. Karakteristiknya yang unik dapat masuk pada beragam kegunaan yang bahkan militer mengeluarkan dana jutaan dolar untuk melakukan riset ini dan merupakan salah satu riset terbesar di dunia (berdasarkan www.livescience.com). Artinya, ada keistimewaan pada getaran/gelombang ini. Resonansi pada level frekwensi ternyata memunculkan fenomena-fenomena unik dan dahsyat. Bagaimana atom-atom yang beresonansi bisa melemahkan struktur molekul hingga benda padatpun bisa menyerpih menjadi debu, dsb. Potensinya sangat luas. Dari mulai pengobatan hingga pembunuhan. Dari mulai bersembunyi hingga merusak. Alat penghancur batu ginjal, berprinsip pada getaran. Pesawat udara tercanggih STEALTH juga berpinsip pada getaran/gelombang. RADAR berpinsip pada getaran. Alat tembus benda berbasis inframerah juga berprinsip pada getaran. Mata bionik, alat militer untuk menembus benda, dsb, yang kalau ditulis satu persatu akan sangat banyak. Intinya riset getaran/gelombang ini menyimpan potensi luar biasa.

Kalau selama hidupnya praktisi sudah melihat ribuan obyek melalui matanya dan terekam pada otak sebagai suatu pengetahuan, ketika ia menguasai tenaga getaran maka akan didapat sebanyak itu pulalah pengetahuan obyek yang ada, plus visualisasi memori otak yang ada di dalamnya termasuk diversifikasi dan sintesa lain yang dihasilkan. Inilah topik yang begitu menarik buat saya untuk diteliti dan dipahami.

Demikian pendapat saya.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 26/01/2011 11:27
Woow ternyata sangat menarik sekali getaran ini, ilmiah dan logis, mudah2an suatu saat kelak saya diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk memahami dan menguasai getaran ini secara real,amiin. seperti kata mas agung: tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak kawin, tak kawin maka tak punya anak hehe :w :w :w maaf mas becanda, jadi intinya saya harus kawin dulu dengan MP baru akan lahir getaran bukan begitu mas?
matur nuwun mas
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 26/01/2011 13:10
hehehe kang bayu bisa aja. :D

Banyak yang tak cinta tapi bisa kawin kang? Punya anak pula. Tapi bukan nikah looh.  :w

***

Kang Bayu, sebenernya mas Prapto sudah pernah mengatakan bahwa siapapun yang sudah bisa merasakan tenaga dirinya dan bisa menyalurkan, maka sekurang-kurangnya bisa digunakan untuk mendeteksi ada benda atau tiada benda di depannya. Setelah itu silahkan dikembangkan.

Bahwa MP kenapa bisa sejauh ini, menurut saya karena memang ini sudah inheren pada kurikulum keilmuannya saat ini dan sudah dikembangkan selama bertahun-tahun sejak generasi (alm) Mas Budi. Berturut-turut hingga detik ini. Lengkap dengan segala kemungkinan, teori-teori, pemahaman, aplikasi (baik yang resmi maupun yang berkembang sendiri pada masing-masing cabang). Pengetahuannya memang sudah mengarah kesitu (setidaknya para kurikulum resminya hingga tingkat Kombinasi dan Khusus). Berbeda apabila ada orang lain yang ingin belajar keilmuan ini, maka tentunya ia akan meninggalkan sementara apa yang sudah pernah ia pelajari sebelumnya untuk masuk pada teori, metode, dan aplikasi pada ilmu getaran versi Merpati Putih. Hal ini tentunya akan ada implikasi ybs terhadap keilmuan aslinya. Apakah ia akan menunda sementara (karena sedang belajar teori dan aplikasi getaran MP) atau malah melupakan dulu sementara. Barangkali kalau jenius, mungkin akan lebih cepat. Tapi bagi orang normal, tentu akan berpikir ulang. Kalau yang dipelajari olah gerak, tentu relatif mudah. Tapi kalau olah rasa, tentu perlu waktu lama untuk memahami hingga mendetail. Kecuali pada tahap sekedar bisa dan sekedar tahu.

Saya tidak dalam posisi menempatkan bahwa ilmu getaran Merpati Putih ini paling sakti diantara ilmu-ilmu yang lain pada beladiri lain. Tidak sama sekali. Saya hanya menemukan (secara subyektif) bahwa ini sangat menarik bagi saya. Itu saja. Hingga akhirnya dimulailah penggalian dan pemahaman seperti sekarang ini. Kalau bicara kehebatan/kesaktian, tentu diluar sana ada banyak yang jauuh lebih hebat. Masing-masing dengan kearifan lokal versi masing-masing. Tetapi yang menarik secara personal bagi saya sedikit sekali. Untuk itulah saya belum berniat untuk mempelajari hal lain selain daripada membaca atau sharing literatur-literatur, teori-teori dasar, pemahaman dasar, mengenai suatu hal. Dari pengetahuan itulah kemudian saya mencoba mengembangkan kemampuan saya. Dan ini aktivitas yang menyenangkan bagi saya. Seperti menemukan "mainan baru" yang tidak bosan-bosannya "dimainkan" sehingga membuat hati riang gembira. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Beberapa tahun yang lalu saya menulis sebuah artikel yang berisi teori yang masih bersifat hipotesa mengenai teori menghilang menurut pendekatan getaran Merpati Putih. Pernah dibahas juga dikalangan terbatas antar teman. Ada dua hipotesa saat ini. Pertama, kalau kita bisa mencapai frekwensi penglihatan pada mata, lalu kemudian kita tingkatkan frekwensi tersebut menjadi lebih tinggi, maka mata manusia normal tidak akan bisa melihat kita (karena jangkauan frekwensi diatas normal rata-rata). Dengan kata lain kita akan terlihat "menghilang" dari jangkauan pandangan mata normal. Kedua, kalau kita bisa memancarkan getaran melingkupi tubuh kita lalu mengkondisikan tenaga getaran agar membelokkan cahaya dengan prinsip fisika pada hukum pembiasan, maka mata normalpun akan menganggap kita seolah "menghilang". Again, ini masih teori. Menunggu nanti tenaga getaran yang dilatih benar-benar maksimal, barulah insya Allah apa-apa yang pernah saya riset dan sudah menjadi teori dasar, akan coba dipraktekkan sendiri.

Kemajuan adalah memahami hal-hal yang kecil dan dapat mengambil intinya serta bisa mengembangkannya. Sedangkan kemunduran adalah mengumpulkan hal-hal yang kecil tapi tanpa memahami intinya.

Demikian pandangan saya.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 26/01/2011 13:28
Seringkali dalam kehidupan beladiri, kita mengumpulkan banyak hal tetapi tanpa kita pahami intinya. Disitulah justru kita sebenarnya mengalami kemunduran. Sedangkan kalau kita mendapatkan hal-hal yang walaupun kecil atau sepele tetapi kita bisa pahami intinya, maka tentunya kita bisa mengembangkannya. Itulah hakekat dari kemajuan yang sebenarnya.

Seringkali juga kita silau oleh "rumput tetangga" sehingga terkadang menganggap rendah rumput dihalaman rumah sendiri. Padahal sama-sama rumput, yang kalau kita jaga, rawat, kembangkan, dijamin tidak akan kalah "indah" dibanding rumput tetangga.

Menurut saya, fokus, repetisi, konsistensi, eksplorasi, dan implementasi adalah kunci keberhasilannya.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: f4iz on 28/01/2011 02:19
Salam,
@Mas mpcrb,
Kalo didemo-2x Merpati Putih sering kita melihat pemecahan benda-2x dan getaran tutup mata.
Saya mau tanya, kayaknya jarang MP melakukan demonstrasi jurus senjata atau ketahanan/kekuatan tubuh (spt. tirai besi) ? Itu kenapa ya ? Apa kali sering cuman kebetulan saya enggak pernah liat aja kali :)
Saya pikir soalnya ilmu pernafasan MP selain utk pemecahan juga tentu ada juga yg utk ketahanan tubuh.
Terima kasih sebelumnya.
Wasalam,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/01/2011 11:20
@kang Godam, kalau dulu waktu saya awal-awal masuk MP, awal tahun 90-an, demo MP di Cirebon yang seringkali saya lihat adalah seperti ini:


Tapi tambah kesini, demo-demo seperti itu sudah mulai hilang. Sudah bergeser menjadi demo seni, fight (mata terbuka), pematahan benda keras, dan getaran saja (halang rintang, baca tulisan, ktp, dsb).

Demikian kang.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: f4iz on 28/01/2011 11:48
Salam,
@Mas mpcrb,
Terima kasih Mas penjelasannya. Selama yang saya liat rata-2x demo MP lebih ke Pemecahan benda keras dan getaran (fight tutup mata ato deteksi).
Padahal kalau dari bicara dgn temen-2x yg pernah ikut MP, ilmu pernafasan MP luas spt. meringankan tubuh, ketahanan pukulan, dsb. Maka itu saya penasaran nanya kenapa jarang terlihat didemo-2x MP.

Terima kasih.
Wasalam,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/01/2011 13:55
Saya kira banyak faktor sehingga kemudian bisa terjadi pergeseran demo MP.

Beberapa diantara bisa disebabkan karena :

1. Anggota menjadi lebih sadar bahwa demo-demo seperti itu umumnya akan bersifat kontroversial sehingga lebih banyak "diarahkan" pada aspek kemanusiaan (pengobatan, tunanetra, batu ginjal, dsb).

2. Penurunan penguasaan keilmuan kanuragan pada anggota (bisa jadi). Sehingga demonstrasi yang dilakukan hanya sebatas maksimal yang bisa dikuasai/lakukan. Tapi ini tidak massive, mungkin pada cabang-cabang tertentu yang sedikit senior (atau yang banyak migrasi ke tempat lain krn pekerjaan, mutasi, dsb)

3. Karakteristik masyarakat yang lebih realistis kemudian mengubah pandangan cara demonstrasi tim peraga MP ybs. Sehingga meskipun kemampuan ada dan memungkinkan, tetapi dikurangi dalam porsi-porsi yang sifatnya umum.

4. Dan sebab-sebab lain yang tidak kita ketahui.

Kalau untuk kota-kota besar, rasanya demo kanuragan pasti akan begitu kontroversial dibanding kota-kota kecil yang relatif bisa lebih menerima hal-hal seperti itu.

Demikian menurut pandangan saya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Bayu Umbara on 29/01/2011 23:51
Mau nanya mas-mas pendekar mp kalau untuk pematahan benda keras itu butuh latihan berapa lama dan urutannya apa saja dalam pematahan benda keras kalau dihubungkan dengan lamanya latian tadi misalnya tingkat anu bisa mematahkan anu dst..,mohon penjelasan, terima kasih
salam
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/01/2011 16:25
Kalau melihat kurikulum normal sih hingga mencapai tingkat Balik 2 (tingkat 4) rata-rata 6 bulan. Setelah itu nanti akan ada istilahnya PENGABDIAN, yakni dimana anggota MP akan diterjunkan ke kolat-kolat untuk mengaplikasikan keilmuannya. Biasanya diisi dengan membantu melatih. Lama waktu pengabdian ini berbeda-beda untuk tiap tingkatan mulai dari tingkat Balik 2. Diawali dari rentang waktu pengabdian 6 bulan hingga bertahun-tahun.

Jadi untuk 3 tingkat pertama hanya ada MASA BELAJAR KEILMUAN saja. Lama waktunya rata-rata 6 bulan. Kemudian setelah masuk tingkat 4 keatas akan ada PENGABDIAN + MASA BELAJAR KEILMUAN.

Tingkat 1 (Dasar 1) : pematahan 2 sasaran
Tingkat 2 (Dasar 2) : pematahan 2 sasaran
Tingkat 3 (Balik 1) : pematahan 3 sasaran
Tingkat 4 (Balik 2) : pematahan 5 sasaran
Tingkat 5 (Kombinasi 1) : pematahan 7 sasaran
Tingkat 6 (Kombinasi 2) : pematahan 9 sasaran
Tingkat 7 (Khusus 1, khusus tangan) : pematahan 9 sasaran
Tingkat 8 (Khusus 2, khusus kaki) : pematahan 5 sasaran
Tingkat 9 (Khusus 3, khusus badan) : pematahan 5 sasaran
Tingkat 10 (Kesegaran) : belum pernah ada yang ikut ujian untuk naik ke tingkat 11 (Inti 1)
Tingkat 11 (Inti 1) : saat ini hanya diisi oleh Mas Pung dan (alm) Mas Budi
Tingkat 12 (Inti 2) : ruang tumbuh keilmuan ... (mungkin) merupakan tingkat simbolis

Demikian kang bayu.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 31/01/2011 17:23
Beberapa tahun yang lalu ada pemikiran menarik, setelah membaca pernyataan Ir Surato M.Sc. di Tabloid Bola. Banyak hal yg menjadi pertanyaan saya seputar MP dan juga diluar MP yg mulai menemui titik terangnya. Konsep Getaran MP yg dikemukaan Ir Surato M.Sc ini bisa menjadi kunci banyak hal - walaupun semua masih sebatas Hipotesa semata.

Awalnya saya mulai menemui titik terang tentang fenomena pematahan benda keras dgn menggunakan benda lunak ataupun benturan ringan berdasarkan konsep Getaran MP ini. Kemudian pemahaman saya tentang Getaran "Tutup Mata" MP pun makin terbuka. Dan akhirnya Konsep Getaran MP ini membuat saya makin berspekulasi lebih jauh lagi. Memberanikan untuk membuka pikiran di dalam bereksperimen berbasis Quantum Physic. Ada banyak sekali pengalaman menarik dan pengetahuan menarik.

Apa sih yang menarik dari Quantum Physic? Yakni pada konsep dualisme materi. Misal pada cahaya. Gelombang cahaya dapat sebagai partikel dan partikel juga dapat sebagai gelombang. Sudah tidak ada bedanya lagi antara "benda" dan "energi". Pada tataran atom, semuanya adalah energi.

Fisika kuantum mempelajari struktur dasar materi (fundamental element). Yaitu mempelajari susunan atom dan struktur pembentuk atom. Disebut kuantum karena dari kata dasar quanta/quantised = terukur. Maksudnya mempelajari ukuran-ukuran / nilai-nilai / sifat-sifat dasar dari "bahan" pembentuk "materi". Mulai dari massa atom, proton, neutron, elektron sampai yang dianggap terkecil saat ini adalah quark sebagai "bahan" penyusun proton, neutron maupun elektron. Tidak hanya nilai massanya saja yang dipelajari, tetapi juga orbitnya, spin-nya, weak-force, gravitasi, sifat gelombang elektromagnetnya, dll.

Fisika Kuantum mutlak diperlukan oleh karena penelusuran fenomena fisis yang melibatkan sistem berdimensi mikroskopis ini tidak lagi dapat dipecahkan dengan memuaskan hanya dengan pendekatan Fisika Klasik yang dilandasi oleh Mekanika Klasik (Mekanika Newtonian). Sistem fisis mikroskopis yang dimaksudkan disini adalah sistem fisis berskala molekul, atomik, sub-atomik atau partikel atau mungkin lebih kecil lagi.

Teori kuantum terasa asing dalam kehidupan kita sehari-hari karena teori ini bertentangan dengan ide kita tentang realisme – ekspektasi bahwa benda memiliki sifat-sifat yang dimilikinya terlepas apakah kita sedang melihatnya atau tidak. Teori kuantum juga mengizinkan sebuah sistem untuk merespons sebuah peristiwa yang terjadi sangat jauh dari lokasi sistem tersebut – ini menentang prinsip lokalitas, yang tidak mengizinkan komunikasi terjadi lebih cepat daripada kecepatan cahaya.

***

Fenomena Getaran MP dan "Memory" Benda

Dalam banyak cerita ataupun film seringkali kita diperlihatkan tentang fenomena kemampuan paranormal untuk mengetahui hal yg terjadi hanya dengan menggunakan medium suatu benda. Misalnya hanya dengan memegang suatu boneka kesayangan seorang anak kecil, paranormal ini bisa mengetahui peristiwa apa saja yg sudah dialami oleh anak tsb bersama boneka itu selama ini.

Sebelum mendengar konsep Getaran MP yg dikemukakan Ir Surato saya tidak bisa menjelaskan bagaimana fenomena seperti ini bisa terjadi. Penjelasan sederhana tentu saja ini adalah fenomena mistis yg memang tidak ada nalarnya. Tetapi konsep Getaran MP berdasarkan Quantum Physics ini membuat saya mulai berspekulasi lebih jauh.

Jika semua energy tidak berbeda dengan materi pada skala Atomic. Bukankah apapun bentuk energy yg terpancar dan berbenturan dengan partikel sub Atomic akan akan mempengaruhi "Susunan" partikel sub atomic ini secara "tertentu" juga. Saya mulai berspekulasi jangan-jangan memang setiap benda menyimpan "Memory" dari segala peristiwa yg terjadi disekitarnya.

Bisa dikatakan semua benda seperti sebuah Compact Disc ( CD ) yg menyimpan "Data" dari semua peristiwa yg ada disekitarnya. Peristiwa yg terjadi disekitarnya akan mengaktifkan proses "Burning Data" pada benda tsb.

Kembali pada contoh boneka dan paranormal dalam film yg saya sebutkan di atas. Seorang anak kecil mencurahkan seluruh perasaan sayangnya ketika bermain dengan boneka tsb - bisa dikatakan "perasaan sayang" ini juga suatu bentuk energy yg dipancarkan anak itu pada boneka tsb. Dan semakin kuat pancaran "perasaan" yg dicurahkan anak tsb pada boneka itu maka semakin kuat "Memory" yg tertanam pada boneka itu.

Termasuk juga pohon-pohon tua yang kebetulan berada pada lokasi lintasan lintang timur dan barat di bumi yang dilewati oleh "getaran energi" dari alam sedemikian rupa sehingga "mengendap" pada pohon tua tersebut. Atau keris-keris, kujang, tosan aji, yang ketika dibuat oleh sang mpu dengan penuh kecintaan dan perasaan yang mendalam akhirnya ikut juga "menempel" dan mengendap pada benda tersebut sehingga kita kenal sebagai "bertuah", atau hal-hal sejenis yang mirip dengan keadaan itu.

Semua seperti proses burning CD Data pada komputer kita.

Dan "Memory" inilah yg dibaca oleh paranormal dalam film tsb untuk mengetahui apa yg sudah terjadi pada anak itu selama ini. Sama seperti CD Film yg dimasukkan kedalam CD Player, Memory dalam CD ini diterjemahkan oleh CD Player dalam bentuk gambar dan suara di TV - Begitu pula yg dilakukan oleh Paranormal tsb, "Memory" yg tersimpan dalam Boneka itu diterjemahkan dalam bentuk kilatan "Visual", Kilatan "Kesan" dsb.

Saya bahkan sempat berspekulasi jangan-jangan fenomena penampakan pada suatu tempat angker tidak lebih hanyalah "Holographic Movie" yg secara spontan terlepas dari "Memory" yg tersimpan di tempat angker tsb. :) Terlepas dari adanya perihal ghaib yang harus diimani kebenarannya, sebagai suatu pembahasan ilmu pengetahuan, rasanya ini bisa dijadikan suatu dasar pengembangan untuk hal-hal lain.

***

Konsep Getaran MP berdasarkan Quantum Physics ini memang bisa membuka kemungkinan-kemungkinan yg cukup luas - yang walaupun baru bersifat Hipotesa tetapi menarik untuk dicermati.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 31/01/2011 18:44
Menambah sedikit penjelasan atas pertanyaan kang Godam diatas.

Pada dasarnya senam pengolahan nafas dari  Dasar I sampai Kombinasi II sudah meningkatkan daya tahan tubuh terhadap pukulan/tendangan. Maka pada tanding/laga dalam pertandingan internal perguruan (tanpa body  protektor), harus pada tingkat yang sama.
Sering juga ada peragaan tangan/kaki/badan di sabet besi tuang, atau pematahan balok es rangkap dengan kepala/dahi.

Mungkin berbeda dengan PSTD,  penguatan badan secara khusus di MP baru dilakukan di tingkat Khusus III (khusus badan/kepala). Dengan tambahan alat bantu latihan (tradisional) berupa dua buah bangku untuk menyangga kepala dan ujung kaki. Adapun kere wojo/tirai besi adalah bonus aplikasi ekstra, contoh aplikasi bentuk pengolahan nafas plus pengolahan getaran.
 
Tentang "meringankan tubuh".
Yang dikenal di MP adalah "meringankan langkah", sebagai tenaga hasil latihan khusus kaki/Khusus II dengan tambahan alat bantu latihan berupa gendewa kembang payung/gendewa kembang tanjung (berbeda dengan alat bantu gendewa kembar untuk khusus tangan/khusus I), ditambah aplikasi getaran.
Biasanya praktisi tingkat2 ini sudah ogah ikut peragaan/demo umum.
               *

MP memakai pengertian/mengenal istilah "getaran/energi" yang tertinggal. Setidaknya mas Poeng dan banyak senior bisa menggambarkan ciri2 pelukis suatu lukisan, dengan cara mendeteksi lukisan tersebut (meski lukisan sudah berusia puluhan tahun, tapi dibuat dengan curahan energi). Sekarang praktisi getaran yang muda2 sudah mulai bisa.

Sampai ada istilah, harus bisa melacak " tapak tilase kuntul mlayang" (melacak rute  burung kuntul yang terbang/sudah lewat.
@ mas mpcrb, sumangga di eksplorasi.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Toyosu on 01/02/2011 23:02
@Mas Suprapto,

Terima kasih atas jawaban pertanyaan saya tentang sejarah MP.

@Mas mpcrb

Berkaitan dengan teori "mengilang", saya ada sedikit cerita.
Waktu saya masih tingkat Balik, saya mendapat cerita (entah benar apa tidak), senior2 tingkat Kombinasi di kolat kami, dilatih Mas Hermandes (Kh3 atau Kesegaran). Dan dalam suatu demonya, senior2 saya disuruh melihat suatu bintang di langit oleh mas Mandes. Beberapa saat kemudian, disuruh lihat lagi, dan bintangnya sudah "menghilang"...

Mungkin ada komentar?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/02/2011 00:12
@mas Toyosu, mungkin bingtangnya 'ngumpet' mas.  x-))

Saya masih kurang jelas gambaran cerita dari mas Toyosu. Beberapa kemungkinan bisa terjadi. Bisa jadi, dengan nalurinya mas Mandes ini tahu bahwa bintang tsb nantinya akan 'bergeser' sebentar lagi sesuai naturalnya. Tidak disebutkan juga apakah 1 bintang, 2 bintang, atau semua bintang yang terlihat di langit. Sehingga ketika yang kedua kalinya dilihat, otomatis seperti seolah "menghilang".

Kalau pada teori saya, meski sudah pernah dicoba oleh beberapa rekan disini, ternyata tidak semudah teorinya.  :o Diperlukan pancaran tenaga getaran yang cukup besar. Terutama untuk "menutupi" tubuh kita dan membelokkan cahaya. Kemudian dicoba dengan sedikit tenaga, cukup pada telapak tangan saja. Tahap awal, tenaga getaran yang dipancarkan harus bisa beresonansi dengan molekul udara untuk kemudian "diniati" menjadi satu. Jadi tahap awal harus bisa mendeteksi dulu molekul udara padat untuk kemudian diresonansikan agar didapati energi yang sama. Setelah itu "diniatkan" untuk mengubahnya menjadi "cermin" atau bersifat cermin yang nantinya akan "melewatkan" cahaya tampak. Ketika dicoba, efeknya malah seperti "memadatkan" udara. Apalagi ketika "diniati" untuk mengubah sifat menjadi bersifat "cermin", malah udara yang sudah teraliri oleh getaran menjadi terasa "berat" dan bisa "dipegang" (seolah seperti nyata).

Memang tidak sesuai dengan tujuan awalnya. :(

Akhirnya uji coba sementara dihentikan sambil nanti disusun teori-teori baru yang mungkin. Meski demikian, apapun hasilnya selalu dicatat sebagai pertimbangan untuk ke depannya. Malah terkadang, dari teori A ketika diimplementasikan justru mendapatkan hasil B. Terkadang hasil B justru merupakan implementasi dari teori C yang belum dilakukan. Disinilah proses yang saya sebut menarik. Seolah mendapatkan hal-hal baru yang unik. Masih prematur, tetapi tidak pernah bosan untuk melakukan explorasi ketika ada waktu. Prinsip dasarnya diambil dari teori fisika quantum sesuai yang dipahami.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/02/2011 00:30
Sedikit meluruskan tentang "permainan" yang ditunjukkan oleh mas Mandes (Ir. Hermandes Simanungkalit), bukanlah masalah praktek getaran untuk "menghilang", tapi efek dari mengambil tenaga bintang.

Sejak mahasiswa peternakan di Yogya, mas Mandes rajin berlatih itu. Katanya ada efek samping disukai cewek2, hehehe...(padahal hanya boleh untuk membantu penyembuhan ke orang lain).
Pada latihan tenaga bintang, ditetapkan dulu secara bersama sama, bintang yang mana, biasanya yang paling terang dalam suatu gugusan. Setelah getaran "antene" dikirim dan nyambung, langsung ditarik/ambil. Phenomenanya, bintang tadi terlihat meredup,  sementara yang disekitarnya tidak. Meredupnya juga terlihat oleh teman2 yang disekitarnya. Selang setengah jam setelah itu, sinarnya kembali terang lagi.

Silahkan mas mpcrb menganalisa phenomena tersebut.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/02/2011 01:55
BTW, ketika awal 80an, mas Mandes adalah pelatih favorit pilihan murid2nya.

Rajin kalau ditugaskan peragaan pemukulan benda keras multi sasaran. Sampai2 dipuji Menpora waktu itu.
Ketika dilatih getaran, tidak serius, sambil terang2an protes, karena skor pemukulan benda kerasnya dirasa menurun. Mas Budi cuma senyum2 saja.

Kebetulan waktu itu kelompoknya digembleng tugas penyembuhan dgn kasus yang berat2, mas Budi mengajarkan "permainan" latihan tenaga bintang pada mas Mandes dan kelompoknya. Karena merasa ada "efek sampingnya", sejak itu mas Mandes jadi rajin latihan getaran.

Entah kebetulan, atau memang disengaja oleh alm mas Budi. Bermacam cara untuk membuat muridnya jadi rajin latihan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/02/2011 10:11
@mas Suprapto, kalau mengenai tenaga bintang dan tenaga bulan dulu pernah mengalami apa yang mas Mandes alami. Efek disukai oleh para wanita. Hehehe. Kalau meredup, itu benar. Tetapi apakah bintangnya benar-benar meredup seperti apa yang kita lihat? Nah itu yang kemudian saya explorasi.

Sesungguhnya pada saat penarikan tenaga bintang sama sekali tidak menyebabkan menurunnya kualitas pancaran cahaya bintang. Sebab kalau suatu bintang kualitas cahanyanya menurun maka secara fisika dapat disimpulkan bahwa bintang tersebut sedang menuju ke "kematian". Dan menariknya (saya tidak tahu apa ini kebetulan atau tidak), bahwa unsur warna MERAH itu dominan ketika kondisi tarik tenaga bintang ini dilakukan. Coba saja kalau kita tanya, apa yang "ditarik" dari tenaga bintang, maka jawaban "merah" inilah yang didapat.

Setelah dianalisa dengan pendekatan fisika kuantum, hasilnya adalah hipotesa yang "menakjubkan". Mari kita lihat.

Kita coba analisa dari sisi praktisi getaran.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi? Teori kuantum menjelaskan fenomena loncatan elektron (kuanta-kuanta energi) suatu partikel yang mengalami eksitasi, yang diakibatkan oleh pengaruh getaran, pemanasan, atau pemancaran. Efek fotolistrik dan Compton menjelaskan hal ini. Pada kasus logam yang dipanasi, ia dapat memancarkan elektron. Logam yang disinari, terjadi kuantum. Hal ini menyebabkan perubahan struktur atomik suatu partikel tertentu. Perubahan itu melibatkan pemindahan elektron yang sekaligus memancarkan energi foton. Pendek kata, fenomena di atas terjadi karena transfer energi elektromagnetik.

Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya sampai batas energi ambang, maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum. Sama persis dengan energi ambang yang dibutuhkan suatu logam untuk dapat melakukan kuantum. Manifestasi dari kuantum ini adalah memungkinkan seseorang ini mengirimkan sinyal jarak jauh, sinyal yang berupa medan elektromagnetik melalui pancaran getaran. Jika dapat mengubah partikel diri seolah menjadi susunan-susunan elektron yang tereksitasi, maka terjadilah loncatan secepat cahaya.

Bagaimana kondisi analisa dari si "bintang" yang diserap tenaganya ini? Mari kita lihat.

Tenaga bintang memang bisa terserap, tetapi tentu masih dalam kapasitas yang sangat sangat kecil dibanding massa bintangnya. Kecuali tubuh kita memiliki kemampuan khusus untuk dijadikan wadah untuk menampung seluruh tenaga bintang ada. Di dalam teori fisika quantum, semuanya adalah energi pada level atomic. Jadi, dipastikan terjadi resonansi antara getaran praktisi dengan jalur lintasan yang dibuat hingga sampai ke bintang (disebut dengan istilah tradisional "getaran antena"). Jalur yang dilewati ini tentunya mengenai pula gaya gravitasi. Sebab gaya gravitasi ada dimana-mana, baik di dalam bumi maupun diluar bumi.

Yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa terjadi pengaruh pada medan gravitasi dan cahaya bintang pada lintasan yang dilalui oleh energi getaran sang praktisi. Cahaya bintang "dibelokkan" oleh medan gravitasi pada jalur lintasan getaran praktisi akibat terpengaruhinya medan gravitasi pada lintasan jalur getaran antena sehingga kesan yang muncul seolah bintang tersebut "meredup", padahal tidak sama sekali. Itu adalah sudut pandang pengamat untuk melihat kondisi "redup" ini. Dari sisi bintang tidak ada perubahan sama sekali. Ini sesuai dengan teori relativitas umum Einstein.

Fenomena seperti ini diteliti selama lebih dari 40 tahun oleh para pakar dalam rangka membuktikan fenomena pada teori Einstein yakni teori relativitas umum dimana terjadi kondisi pembelokan cahaya bintang oleh medan gravitasi. Pembelokan ini juga telah dibuktikan oleh astronomiwan-astronomiwan seperti V. Pound dan G.A. Rebka di universitas Harvard pada tahun 1959 dengan menggunakan teknik yang disebut sebagai efek Mossbauer,  juga seperti yang dilakukan oleh I.I. Saphiro dari universitas Harvard di tahun 1964. Fenomena seperti apakah yang diajukan oleh Einstein ini?

Fenomena yang diajukan oleh Einstein adalah berhubungan dengan hilangnya sebagian energi cahaya ketika sebuah berkas cahaya keluar dari medan gravitasi sebuah benda angkasa. Ketika sebuah berkas sinar kehilangan sebagian energi, panjang gelombangnya berubah menjadi lebih panjang mengakibatkan warna cahaya tersebut akan bergeser ke arah warna merah. Itulah sebabnya fenomena ini disebut sebagai pergeseran warna merah akibat medan gravitasi (red shift).

Dari sisi MP bagaimana?

Dari sisi tradisional MP, penarikan warna "merah" tidaklah aneh (seperti ketika demo yang dilakukan praktisi getaran MP di hadapan master Choa Kok Sui). Karena kondisi red shift pada bintang ini akan memancarkan sejumlah energi yang besar dan dengan panjang gelombang yang bergeser menjadi merah maka praktisi getaran MP menggunakan kemampuan deteksi via getarannya untuk mengambil energi yang dihasilkannya. Kalau para ahli memerlukan waktu lebih dari 40 tahunan dengan alat-alat canggih, maka MP cukup menggunakan GETARAN untuk mengenali ini.

Dari sudut pandang ilmiah, maka kita semakin meyakini bahwa ilmu-ilmu fisik (fisika) dewasa ini sudah menyatu dengan dimensi gaib dan spiritualitas. Jika kita sempat membaca tulisan Frictof Capra pada bukunya Titik Balik Peradaban, terang sudah bahwasanya khazanah ilmu barat dan timur dewasa ini sudah dalam tahap penyatuan. Khazanah barat yang unggul dalam riset, eksperimentasi, dan rasionalitas; serta timur yang lebih dominan dalam aspek spiritualitas.

Oleh karena itu, era pasca-Einstein telah menjadi pembuka tabir penyatuan paradigma timur dan barat. Dan, kuantum adalah laksana jembatan antara peradaban timur dan barat. Kuantum yang secara empiris ditemukan pada abad 20, maka di dunia timur sudah mengakar cukup kuat sejak peradaban Cina Kuno dan India Kuno, 25 abad yang lalu. Dunia timur mengenal hukum paradoks lebih awal. Kita tahu, salah satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks.

Menarik bukan?

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/02/2011 10:29
Dari penjelasan tersebut bagaimana MP dengan getarannya berhasil mengenali tenaga berwarna merah yang dihasilkan dari efek pergeseran bintang (red shift theory) sebenarnya membuktikan bahwa tenaga getaran MP benar-benar berada pada level atomic. Sebab kalau tidak, bagaimana mungkin pemahaman tradisional mengharuskan untuk menarik warna merah dari angkasa?

Diduga keras bahwa ketika getaran dilepas keangkasa kemudian mengenai spektrum cahaya, maka didapati spektrum gelombang cahaya merah inilah yang memiliki energi paling besar sehingga sering digunakan untuk pematahan benda keras atau untuk fight atau hal-hal yang sifatnya keras. Kalau getaran MP tidak berada dalam level atomic, maka mustahil pemahaman warna MERAH ini didapatkan. Sebab kita tahu bahwa pancaran spektrum warna yang terjadi di alam ini sangat banyak. Kenapa bisa didapatkan warna "Merah"? Tentu karena energi yang dihasilkan dari red shift theory berhasil dideteksi oleh getaran sang praktisi. Dan itu dijadikan dasar pengetahuan selama bertahun-tahun dari generasi ke generasi.

Jadi, ketika seorang praktisi melatih olah nafas getaran dan masuk pada tahap getaran pribadi maka sesungguhnya praktisi ini sudah berlatih dengan metode kuantum pada level atomic. Disadari ataupun tidak.   Bahwa sesungguhnya keilmuan getaran kalau dikombinasikan dengan pehamaman fisika kuantum tampaknya akan sangat bisa membuka cakrawala pengetahuan baru tidak hanya pada pemahaman juga pada ruang tumbuh keilmuan. Tidak musti mengilmiahkan segala sesuatunya (ya syukur-syukur kalau bisa didapatkan ilmuwan yang mau meneliti khusus), tetapi bisa saja diambil dari bagaimana kemungkinan pada fisika kuantum dan kemudian mencoba mengaplikasikan dengan "teknologi tradisional MP" bernama getaran.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: wolvie74 on 02/02/2011 11:14
"Dari sisi tradisional MP, penarikan warna "merah" tidaklah aneh (seperti ketika demo yang dilakukan praktisi getaran MP di hadapan master Choa Kok Sui)"

baru baca nih kalau rekan2 di MP sempat bertukar ilmu dengan master CKS. bisa dibantu link cerita selengkapnya ?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 02/02/2011 11:46
Bukan bertukar ilmu, tetapi kebetulan mendapat kunjungan dari mas Choa Kok Sui.

Berikut ini gambaran kisahnya:

3. Mahaguru prana, Choa Kok Sui dari Philpina, pernah berkunjung ke MP Yogya, diantar manager Gramedia Yogya. Beliau membawa dua ahli dari Thailand yang bisa "melihat" warna aura dan energi.
Beliau saya persilahkan untuk memilih sendiri diantara pesilat2 muda yang ada di sekretariat MP di Wijilan, Yogya, waktu itu.
Pesilat A tsb diminta memperagakan pemukulan benda keras, tanpa ayunan. Berhasil, beliau tidak banyak reaksi.
Kemudian pak Choa Kok Sui memilih lagi seorang pesilat, pesilat B. Pesilat A diminta mendeteksi cedera yg tidak terlalu dirasakan oleh pesilat B. Ternyata ketemu, ada cedera di ruas tulang belakang. Mereka mulai manggut2. Kemudian pesilat A diminta melakukan penyembuhan dengan getaran. Barulah Choa Kok Sui bertiga geleng2 kepala tersenyum kagum.

Kemudian beliau menjelaskan, bahwa ketika melakukan pemukulan benda keras, "terlihat" pesilat tadi menarik energi alam yang destruktip, berwarna merah. Ketika beberapa menit kemudian, melakukan penyembuhan, pesilat "terlihat" menarik energi alam penyembuh, yang katanya berwarna putih, istilah beliau "energy from heaven".
Katanya, dia baru ketemu pertama kali, ada praktisi, muda (21 th) yang mampu menarik energi yang sifatnya bertolak belakang. Choa Kok Sui sendiri melakukan latihan 20 tahun sampai bisa "leluasa" menarik dan menyalurkan energi penyembuh. Dan tidak berani coba2 menarik energi merah, karena bisa mengganggu kemampuannya.
Choa Kok Sui juga mengatakan, kalau pesilat MP bisa memiliki kemampuan mendeteksi cedera, menarik dan menyalurkan energi alam. Beliau memberi kenang2an bukunya yg terakhir tentang penyembuhan dengan prana. Dengan harapan metode praktisnya bisa dimanfaatkan oleh MP.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/02/2011 20:53
Sedikit menambahkan tentang kunjungan master Choa Kok Sui.

Kalau tidak salah kunjungannya pada awal September 1993.

Siang hari saya ditelepon mas Budi, manager Gramedia Yogyakarta, bahwa dia ada tamu, master Choa Kok Sui dan rombongan. Semestinya hari itu sudah janjian dengan Drs. Maryanto, Guru Besar Satria Nusantara, untuk bertemu di padepokan pusat SN , didepan KRKB Gembira Loka. Tapi sampai siang, yg bersangkutan ternyata keluar kota, tidak bisa dihubungi.(SN adalah perguruan TD/pernafasan dengan  penekanan pada kesehatan, penyembuhan disamping beladiri).
Pihak Gramedia minta MP bisa menerima sore itu juga, karena besoknya, master Choa Kok Sui cs sudah meninggalkan Yogya.
Saya persilahkan, karena kebetulan jam 16 ada kumpul2 di sekretariat, membahas acara MP di padepokan Kartasura.

             *

Tadi buku dari master Choa Kok Sui saya buka2. Yaitu "Penyembuhan Dengan Tenaga Prana Tingkat Lanjut" , terjemahan dari bukunya, "Advanced Pranic Healing". Penyembuhan dengan teknik chakra dan prana berwarna. Detil untuk berbagai macam penyakit.

Yang menarik, karena kebetulan akhir2 ini mas mpcrb membabar analisa fisika,  di lembar depan master Choa Kok Sui menulis :

"mukjizat" adalah kejadian fantastis yang mendayagunakan hukum alam tersembunyi yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Mukjizat tidak melanggar hukum alam, ia sesungguhnya berlandaskan hukum alam!

Baru sekarang terasa menariknya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: wolvie74 on 04/02/2011 08:22
pak mpcrb dan pak suprapto,
terima kasih sharing. saya sempat jadi "penggembira" latihan prana di gramed thn  95an di surabaya. bangga juga karena budaya bangsa ini diakui oleh seorang master yg cukup dikenal di dunia
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 04/02/2011 16:52
Yang menarik, karena kebetulan akhir2 ini mas mpcrb membabar analisa fisika,  di lembar depan master Choa Kok Sui menulis :

"mukjizat" adalah kejadian fantastis yang mendayagunakan hukum alam tersembunyi yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Mukjizat tidak melanggar hukum alam, ia sesungguhnya berlandaskan hukum alam!

Baru sekarang terasa menariknya.

Salam.

Statement itu benar sekali. Bagaimana mungkin Tuhan memberikan mukjizat pada seseorang yang melampaui hukum alam yang dibuatNya sendiri? Tentu tidak mungkin. Kecuali orang itu tidak berada di dunia ini (terkait dengan hukum alam yang lain).

Dengan melakukan explorasi antara Timur dan Barat, seharusnya bisa didapat pertemuan antara missing link yang ada selama ini di beladiri.

Beberapa bulan yang lalu, sebelum Kejurnas MP di TMII, sebelum ada peragaan dari Mas Yossi saat upacara pembukaan dimana mas Yossi melakukan pematahan satu besi dragon dengan sehelai rumput yang diambil dari sekitar TMII, alkisah berkumpullah secara "iseng" orang-orang yang juga "iseng".

Saat minum teh botol, Mas Tunjung memegang sedotan dan kemudian iseng menyalurkan getaran pada sedotan dan kemudian dipukulkan perlahan pada botol. Tak disangka botol pecah dan mengagetkan yang ada disitu. Ditanya, "kok bisa begitu?". Dijawab, "ya tidak tahu, tadi barusan iseng begini begini, kemudian coba dipukulkan pelan pada botol, eeh pecah". Muncul iseng dari Mas Yossi, "bagaimana kalau dicoba dengan sehelai rumput?". Lalu akhirnya bisa. Semua ketawa. Tidak bisa menjelaskan kenapa bisa begitu, tapi hasilnya nyata. Dan tampillah Mas Yossi saat upacara pembukaan Kejurnas dengan melakukan peragaan getaran tutup mata plus pematahan 1 besi dragon dengan sehelai rumput. Berhasil. Bahkan sampai diabadikan oleh kang O'ong pada facebook beliau.

Fenomena yang menarik dimana ketika tenaga getaran disalurkan pada benda rapuh, maka benda rapuh itu seolah menjadi benda padat yang keras. Apakah memang sedotan/rumput itu mengeras? Ataukah rumput/sedotan tetap sebagaimana adanya, tetapi aliran getaran inilah yang mematahkan botol/besi dragon? Ini menarik untuk dianalisa. Dua-duanya memiliki kemungkinan yang benar.

Secara kuantum, hal ini sangat dimungkinkan. Sebab pada level atomic, semua adalah energi. Jadi dipastikan terjadi resonansi antara tenaga getaran yang disalurkan dengan struktur atom dari sedotan. Kunci tradisionalnya tetap pada "niat" untuk mengeraskan sedotan/rumput sambil mengerahkan tenaga getaran dan "konsentrasi" untuk memadatkan sedotan/rumput. Menariknya, pada kondisi kuantum ini tidak terjadi perubahan struktur atom dari benda. Artinya ya sedotan tetap akan menjadi sedotan meskipun dialiri oleh getaran. Rumput ya tetap akan menjadi rumput meskipun dialiri getaran. Tetapi pada level atomic, energinya bisa sedemikian berbeda pada struktur atom yang sama. Kalau getaran merubah struktur atom, maka akan mengubah bentuk benda. Ini tidak mungkin. Jadi, dimana sesungguhnya "lokasi" tenaga getaran yang sudah menjadi energi ini berada? Besar kemungkinan "ruang kosong" diantara inti atom itulah lokasi dari tenaga getaran. Ketika praktisi mengeluarkan "niat" untuk menyaluri benda dengan tenaga getaran terjadi resonansi dan kuantum disini. Kemudian ketika "konsentrasi" untuk mengeraskan benda ini, maka tenaga getaran yang sudah menjadi energi ini kemungkinan akan menempati ruang kosong diantara inti atom dari benda tersebut. Dengan demikian terjadi penguatan struktur ikatan dikarenakan ruang kosong diantara inti atomnya sudah terisi dengan energi. But again, ini cuman hipotesa. Belum tentu demikian.

Di dalam fisika kita tahu bahwa setiap benda padat sesungguhnya di sekitar inti atomnya berisi ruang kosong. Dimana kalau Monas tercinta kita "dipadatkan" pada level atomic, maka besarnya hanya akan menjadi sebesar satu ruas ibu jari saja.

Meskipun masih hipotesa, beberapa waktu yang lalu dengan teori yang sama, diujicobakan lagi pada salah satu anggota untuk "meluruskan benang" dengan getaran. Berhasil. Lalu dicoba untuk "meluruskan kain" dengan getaran. Berhasil juga. Jadi teorinya sudah dapat, dan hasilnya juga nyata. Praktisi tidak tahu bagaimana bisa begitu, yang dia tahu adalah metode melatih tradisionalnya saja yakni niat dan konsentrasi. Setelah itu, biarkan hukum alam yang bekerja. :)

Jadi memang dengan sedikit pemahaman kuantum, kita bisa membuka cakrawala baru terhadap sesuatu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 04/02/2011 21:13
Hmmm, makin lama makin seru yah. Lanjut mas...
btw, dikelas kebugaran diajarin ga teknik teknik pengolahan getaran kaya gini?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 06/02/2011 17:29
Kalau olah nafas getaran tentu diajarkan pada kelompok Kebugaran, terutama pada aplikasi yang berhubungan dengan regenerasi sel-sel tubuh.

Tapi kalau aplikasi seperti yang saya sebut diatas atau hal-hal yang sifatnya kanuragan, itu biasanya bergantung pada kearifan lokal pelatih kebugaran. Biasanya pelatih kebugaran akan mengarahkan pada yang berhubungan dengan kesehatan peserta. Aplikasinya biasanya akan diarahkan kesana. Paling yang sering itu menjatuhkan bohlam ke lantai yang sebelumnya dilindungi dulu oleh tenaga getaran. Itupun biasanya sekedar untuk mengukur apakah peserta sudah memahami getaran atau belum.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 06/02/2011 20:43
Kalo di bandung kelas kebugaran ada ga? Saya tertarik pengen bisa ngelurusin kain, sapa tau bisa ngelurusin "yang lain" , hehehe. Heureuy mas. Pengen lebih jelas tentang regenerasi sel. Sama teknik penyembuhan. Secara pengen bisa meringankan kakinya bapa. Ada teknik buat ngatasin pengapuran ga mas?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 07/02/2011 12:36
Mohon maaf kang Sawer Wulung kalau informasi Kebugaran di Bandung saya tidak tahu, tapi mungkin bisa kontak Pengurus MP Cabang Bandung untuk lebih jelasnya.

Alamat MP Cabang Bandung:
Jl. Pajajaran No. 37, GOR Padjajaran Gd. Sasakawa
Telpon: 022-4205395

Semoga membantu.

Salam.


Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 07/02/2011 12:38
Untuk MP Kabupaten Bandung:
Jl. SMP No.12
Batu Jajar Barat, Kab. Bandung
Telpon: 022-6865051

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: smntri on 08/02/2011 16:17
Salam kenal mas-mas, ijin menyimak dan membantu. 
Untuk Kolat kebugaran MP ada di Kantor Pusat Telkom, ITTelkom, Giri mekar dan Bumi Parahyangan. Pusatnya yang di kantor pusat Telkom:

Alamat            : Kantor Pusat Telkom Jl. Japati No. 1 (depan lapangan Gasibu)
Lokasi              : Di Basement 2
Jadwal latihan :  Selasa & jumat jam 06.00 - 08.00.

Pelatihnya adalah Mas Budi Prayogo (Tingkat Kesegaran). Materi latihannya terdiri dari senam pengolahan dengan berbagai modifikasi bentuk untuk pengobatan, senam pembinaan dan senam gerak. Pada beberapa kesempatan juga dilakukan latihan di alam.
Direncanakan juga untuk membuka paket pengobatan penyakit tertentu ( gula darah, jantung, stroke, ginjal, dll) dengan lab. Untuk penanganan penyakit tertentu memang ada gerakan tertentu yang disesuaikan dengan penyakit peserta. Dalam setiap gerakan diberikan penjelasan mengenai manfaat dan efek gerakan termasuk regenerasi sel dan penyembuhan.
Seperti mas kata MPCRB, sering juga dilakukan pemecahan bohlam yang dilindungi tenaga getaran, pematahan dragon dan kikir untuk menguji tenaga peserta yang diperoleh dari hasil latihan.
Kolat kebugaran Bandung ini sedang dalam pembenahan untuk menjadi pilot project dari Ketua dewan guru Mas Yadi agar dapat dijadikan benchmark oleh kolat kebugaran lain (terutama USMP yang berencana membuka kolat kebugaran disana).
Awal februari  minggu ini selama 3 hari , Mas Yadi dibantu 3 pelatih dari Madiun (Mas Juhana, mas Muntaha dan Mbak Rukayah) telah  melakukan evaluasi terhadap kolat ini,  juga hadir Mas Joko dari Cirebon.
Kolat kebugaran Bandung setiap saat siap menerima anggota baru, tidak berbatas waktu.
Demikian semoga membantu.

Salam,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: searcher on 08/02/2011 18:04
Salam kenal mas MPCRB dan mas Suprapto, serta semua sesepuh disini...

Mas saya dari Surabaya.. Pernah ikut MP di kolat SMA Kompleks th 1986-1987. Waktu itu pelatihnya Mas Didik, kombinasi 2. Berhenti karena sesuatu hal, tapi kecintaan saya kepada MP tidak pernah hilang. Sampai sekarang saya masih berlatih olah nafas di rumah sendiri. Bbrp waktu ini hampir setiap hari saya membuka thread ini serta di forum tetangga tentang MP. Wah, rasanya makin cinta pada MP. Apalagi membaca penjelasan dari mas MPCRB dan mas Suprapto yang menurut saya brilliant dan sangat menarik saat menjelaskan tentang tenaga dalam dan ilmu getaran MP  [top]  [top]  [top]. Rasanya jadi ingin berlatih MP di kolat lagi. Tapi dengan umur serta kesibukan saya saat ini, rasanya hal itu tidak mungkin atau paling tidak terlalu berat untuk orang seumur saya  :-[ . Jadi kalo memang ada di Surabaya/ Sidoarjo, saya ingin berlatih di kelas Kebugarannya saja, yang mungkin lebih sesuai untuk saya  x-)). Apakah ada yang bisa memberi saya info ttg kelas kebugaran di Sby/ Sda? Terima kasih sebelumnya..

Salam hormat,
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/02/2011 19:24
@ mas searcher.

Sambil menunggu info detil dari teman2 di Surabaya, bisa kontak ke mas Kusbandi (081586286921) dan atau mas Warih Prabowo (081330637900) untuk mendapat petunjuk lebih lanjut.
Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 08/02/2011 23:02
@mas prapto, itu yang BPPT bersama mas Warih yang dulu direncanakan apakah tetap jadi pelaksanaannya? Atau diundur?

Terima kasih atas informasinya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 08/02/2011 23:38
Alhamdulilah tgl 28 januari 2011 putra ketiganya baru lahir. Nanti kalau sdh bisa ditinggal wira wiri ke Jkt baru dibicarakan segala sesuatunya. (maklum tweedevrouw, hehehe).
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: searcher on 09/02/2011 11:30
Alhamdulillah, terima kasih mas Suprapto atas infonya. Saya akan segera menghubungi beliau-beliaunya.

Salam hormat
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 09/02/2011 15:45
Alhamdulilah tgl 28 januari 2011 putra ketiganya baru lahir. Nanti kalau sdh bisa ditinggal wira wiri ke Jkt baru dibicarakan segala sesuatunya. (maklum tweedevrouw, hehehe).

Alhamdulillah. Turut senang mendengarnya. Semoga putra tercinta mas Warih sehat dan menjadi anak yang sholeh. Amin.

Salam.

PS: btw tweedevrouw itu apa mas? hehehe maklum belum pernah merasakan hidup zaman inlander :D
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 21/02/2011 13:15
Alhamdulillah pada hari sabtu di Pekan Raya Jakarta (PRJ) bertempat pada area khusus untuk beladiri, MP Cirebon (sebagai backup dari MP Jakarta yang berhalangan) sudah melakukan silaturahmi dengan para pecinta seni beladiri.

Kami menampilkan peragaan tata gerak diiringi musik tradisional (via CD) kemudian disusul peragaan getaran.

Halang rintang menggunakan halang rintang hidup yakni para penonton dan puluhan praktisi beladiri yang hadir disitu. Alhamdulillah meski berusaha dihadangi sedemikian rupa juga, tetep nemu celah untuk keluar dari himpitan rintangan yang sengaja dibuat oleh penonton. Meski juga "ditodong" dengan pisau, nunchaku, dst, alhamdulillah juga bisa dilewati dengan baik tanpa menabrak. Diakhiri dengan membaca tulisan di selembar kertas yang dibuat oleh penonton. Semua mulus, alhamdulillah. Penonton memberikan applause luar biasa.

Saya mengemban amanat dari cabang, kemudian izin ke ketua pengda DKI (Mas Bagyo) agar tampil secara maksimal, alhamdulillah tim tidak mengecewakan perguruan dan tampil baik pada saat itu. Bahkan diliput oleh salah satu televisi swasta.

Peragaan seharusnya 2 (dua) sesi. Untuk sesi pertama adalah demo atas nama perguruan. Sukses. Alam raya mendukung. Setelah itu kami istirahat dan acara diisi oleh Aikido. Diagendakan setelah aikido selesai, MP akan tampil kembali pada sesi kedua untuk live performance membaca kartu nama dari "sang penantang". Kira-kira sepuluh menitan kemudian sebelum MP show pada sesi kedua, muncul hujan rintik, makin lama makin besar. Disusul kemudian angin berhembus sangat besar, dan terjadi badai yang meluluhlantakkan arena disekitar beladiri. Terjadi kepanikan, penonton dan yang berlindung dibawah tenda PRJ berlarian menyelamatkan diri. Tenda yang dipersiapkan untuk area beladiri rubuh, patah, pecah, hancur, luluh lantak menimpa semua yang ada disitu (untungnya cuman ada sedikit orang). Saya dan tim mengambil barang-barang yang sudah basah kuyup dan mencari tempat perlindungan. Setelah itu kami berkumpul di musholla. Setelah itu kami semua memusatkan pikiran untuk menajamkan mata batin, mencari tahu kenapa seperti itu.

Kami mengingat kembali setiap proses dari sejak kami datang, lalu masuk ke PRJ, kemudian deteksi medan gelombang disekitar. Semua rasanya masih fine-fine saja. Belum ada yang aneh. Medan gelombangnya bagus.

Suasana getaran alam agak sedikit berbeda ketika kami istirahat setelah peragaan, persiapan untuk menjelang sesi kedua. Kok dirasa medan energi alam semakin besar, semakin tidak beraturan, dan semakin mengarah ke tempat kami. Kami sepakat mendeteksi ulang kondisi medan energi disana, hasilnya mengejutkan, medannya menjadi "liar". Saya katakan, barangkali ini gejala alam biasa, jangan terpengaruh. Pendeteksian ulang medan gelombang dan menyebarkan getaran ke sekitar untuk mendapatkan "rasa getaran" dan "citra benda" serta "keadaan" tiba-tiba menjadi tertolak, seperti terbentur 'dinding'. Kami sontak tidak bisa mendapatkan "citra getaran" dari gelombang alam. Saya paksakan, dan tetap me-NIAT-i untuk pembuktian ke 'sang penantang', saat itu malah medan gelombang seperti 'menyerang' ke area beladiri, tepat ke lokasi dimana kami menaruh barang-barang kami. Lalu turunlah hujan rintik (beberapa detik), langsung hujan deras, dan langsung muncul badai yang kemudian puncaknya adalah memporakporandakan arena beladiri disana, meluluhlantakkan tenda yang sudah dipancang oleh panitia. Badai tidak menerjang area yang lain, tetapi hanya mengenai area beladiri saja. Saat itu jujur dada saya seperti di palu godam, tak terasa air mata ini meleleh ... teringat kembali "janji alam" yang dulu pernah diucapkan ketika ujian khusus. Termasuk janji bahwa keilmuan tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan pribadi, mengambil keuntungan pribadi. Saat itu saya merasa begitu bersalah. :(

Pada saat sesi pertama, niat saya dan tim benar-benar untuk perguruan. Berniat benar-benar untuk menunjukkan salah satu bentuk pencapaian dari seni beladiri Merpati Putih yang bernama "getaran". Diuji oleh penonton dengan halang rintang sedemikian rupa, dikerubutin, dihadangin lengan, pisau, nunchaku, dsb, juga berhasil dilewati. Tapi menjelang sesi kedua, ketika saya merubah niat (karena ada imbalan finansial dari pembuktian tersebut), alam raya sontak seperti "marah" dan tidak mengizinkan.

Jam 10.30 malam, setelah menunaikan sholat isya, saya hanya terduduk diam di mushola. Air mata ini masih meleleh, merasa bersalah terhadap salahnya niat yang mengakibatkan cedera bagi orang lain. Akhirnya turun dan berjalan-jalan ke sekeling sekedar meredakan kesedihan. Bertanya pada satpam PRJ di pintu G apakah pernah ada kejadian seperti ini. Dijawab, "belum pernah pak. Kalau hujan sih sering, tapi kalau sampai ada badai dan yang hancur hanya arena beladiri saja itu aneh banget ya pak?". Saya semakin sedih. Akhirnya cuman bisa memohon maaf pada alam raya dan memohon ampun pada Tuhan YME.  :(
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 21/02/2011 13:18
Mod, jangan di aggregate ke facebook ya.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 21/02/2011 22:55
Beberapa bulan yang lalu, sebelum Kejurnas MP di TMII, sebelum ada peragaan dari Mas Yossi saat upacara pembukaan dimana mas Yossi melakukan pematahan satu besi dragon dengan sehelai rumput yang diambil dari sekitar TMII, alkisah berkumpullah secara "iseng" orang-orang yang juga "iseng".

Saat minum teh botol, Mas Tunjung memegang sedotan dan kemudian iseng menyalurkan getaran pada sedotan dan kemudian dipukulkan perlahan pada botol. Tak disangka botol pecah dan mengagetkan yang ada disitu. Ditanya, "kok bisa begitu?". Dijawab, "ya tidak tahu, tadi barusan iseng begini begini, kemudian coba dipukulkan pelan pada botol, eeh pecah". Muncul iseng dari Mas Yossi, "bagaimana kalau dicoba dengan sehelai rumput?". Lalu akhirnya bisa. Semua ketawa. Tidak bisa menjelaskan kenapa bisa begitu, tapi hasilnya nyata. Dan tampillah Mas Yossi saat upacara pembukaan Kejurnas dengan melakukan peragaan getaran tutup mata plus pematahan 1 besi dragon dengan sehelai rumput. Berhasil. Bahkan sampai diabadikan oleh kang O'ong pada facebook beliau.


asskum..
maaf baru mampir lagi setelah lama nggak mampir ke sahabat silat..
membaca penjelasan diatas jadi ingat seorang teman saya salah satu anggota delegasi cabang malang yang datang dan kebetulan melihat demo mematahkan stang dragon menggunakan rumput, beberapa saat setelah dia melihat demo tersebut dia kagum dan menulis status di facebook seperti berikut :

Dulu..ktk mendengar cerita Joko Tingkir membelah dada Dadungawuk,seorang prajurit dg sehelai rumput,ayas masih ragu.Tp setelah kemarin,ayas melihat sendiri seorang pesilat mematahkan besi dg rumput.Penasaran?Ayas punya rekamanya.Bravo merpati putih...
July 13, 2010 at 1:54pm via BlackBerry


jika cerita tersebut benar maka para leluhur kita dulu memang sakti-sakti dan sudah dahulu menemukan prakteknya ketimbang teorinya, dan banak sekali kasus seperti itu (ketemu praktek baru teorinya) contohnya keris (titanium) dan warangannya (arsenik), hebat ya..  [top]
wasslm..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: makdekipe on 22/02/2011 08:15
@ Mas Suprapto,

Mo tanya dong, Mas Kusbandi ini rasanya saya pernah kenal, apakah Mas Kusbandi ini mantan ABRI?

tx
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 23/02/2011 11:53
Betul, purnawirawan TNI-AL/ Kipam, panggilannya mas Thole.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: smntri on 23/02/2011 14:18
Mas Suprapto dan Mas Mpcrb,
Saya sangat tertarik dengan kejadian yg dialami mas Mpcrb diatas. Sedemikian beratkah janji alam ini jika dilanggar? apakah sering terjadi kejadian seperti ini? Saya hanya membayangkan jika ilmu MP digunakan kemudian berimbas kepada alam, maka alam akan memberikan respon juga. Saya juga mendengar penuturan dari senior lain bahwa kadang2 ilmu sisipan/kanuragan juga tidak selalu berhasil digunakan bila ada hijab/niat kita terganggu dengan suatu kepentingan atau kejadian yang sedang dialami oleh orang yang akan melakukannya. Apakah memang demikian?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 23/02/2011 16:03
Sejujurnya seumur hidup baru ngalamin yang seperti ini. Kalau perasaan saya saat kejadian itu dimana persis tepat kira-kira 5 meter di depan saya dan tim, seolah alam mengatakan "nih loh akibatnya kalau kamu mempermainkan janji alam". Makanya saya cuman bisa bengong, lemes, dan tidak bisa berkata apa-apa. Langsung buru-buru beristighfar. Badai hanya sekitar 1 menitan saja tapi sangat keras dan menghancurkan tenda tempat arena beladiri saja. Tenda-tenda lain tidak terkena dampak yang berarti. Cuman miring-miring akibat angin saja, kalau yang patah kayu, rubuh, rusak, tercabut, dsb, ya tenda beladiri saja yang kami tempati. Bahkan panggung tempat demo juga tidak tersentuh sama sekali. Merenung apakah itu hanya gejala alam biasa yang kebetulan terjadi. Tapi kalau itu gejala alam biasa, kenapa yang hancur porak poranda hanya tempat beladiri dimana kami sebelumnya berada? Kenapa tidak satu arena tertentu (misal arena beladiri plus arena-arena yang lain). Berusaha menguatkan perasaan hati kalau itu murni gejala alam, murni gejala alam, murni gejala alam (sampai saya ucap berulang-ulang). Tapi naluri hati ini tidak bisa dibohongi. :(

Getaran, sesungguhnya melibatkan energi alam di dalam penggunaannya. Metode tradisional memiliki urutan pelatihan getaran yang melibatkan penyerapan tenaga langit dan tenaga bumi. Jadi memang sudah berinteraksi dengan alam. Termasuk munculnya pencitraan visual juga karena memanfaatkan pantulan gelombang alam pada suatu benda yg dideteksi sedemikian rupa. Jadi dalam peragaan getaran tutup mata, gelombang alam jelas berinteraksi dengan tubuh si praktisi. Berinteraksi pada niat si praktisi. Getaran sendiri tidak memiliki benang pengaman. Artinya bisa digunakan untuk kebaikan dan kejahatan sesuka hati penggunanya. Agak berbeda dengan konsep seperti khodam atau yang bersifat suatu agama tertentu. Satu-satunya benang pengaman getaran hanyalah niat praktisinya, yang kalau pembimbingnya tidak memberitahukan ini maka berarti getaran sama sekali tidak memiliki pengaman. Jadi faktor pembimbing menjadi berperan.

Janji alam sesungguhnya akan melindungi perguruan dari perilaku praktisinya plus juga perlindungan terhadap diri si praktisi itu sendiri. Meskipun tanpa janji alam, sebenarnya agama juga menjadi benang pengaman penggunaan segala jenis keilmuan. Tetapi janji alam menurut saya pribadi memiliki posisi yang unik di dalam suatu keilmuan MP. Saat ini, Mas Poeng sudah menghapuskan janji alam. Mungkin karena berbagai pertimbangan. Salah satunya bisa jadi karena efek yang ditimbulkannya.

Sebagaimana suatu sisi mata uang, meresapi janji alam sekaligus juga menjadi pintu pembuka (dan umumnya) mempercepat keberhasilan penguasaan suatu keilmuan. Sebaliknya, melanggarnya juga sekaligus juga menjadi pembuka murka alam yang berakibat kurang baik bagi praktisinya. Bentuknya bagaimana? Saya tidak tahu. Alam sendiri yang menentukan.

Kalau masalah sering atau tidaknya kejadian seperti itu, saya pribadi tidak tahu. Barangkali mas Prapto bisa memberikan informasi lain. Yang jelas, pengalaman itu sangat membekas dan tdk akan terlupa seumur hidup. Menyaksikan betapa perbedaan perlakukan alam raya pada perbedaan niat ternyata bisa sangat besar ketika suatu keilmuan dikeluarkan.

Jadi baru merasakan benar-benar ucapan mas prapto mengenai "makin besar memiliki daya/linuwih harus makin hati-hati. Jangan salah niat". Sekarang benar-benar harus sangat berhati-hati dengan yang namanya NIAT.

Semoga kejadian ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Amin.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 24/02/2011 02:35
Sekedar berbagi cerita.

1. Janji alam, adalah suatu janji yang diucapkan, dengan embel2, agar alam seisinya menyaksikan.
Biasanya berupa pernyataan tidak akan menyalah gunakan keilmuan. Atau berupa pernyataan untuk setia kepada perguruan. Dulu, pelatih baru ikhlas memberi latihan keilmuan yg sensitip/getaran/sisipan, kalau murid sudah mengucapkan janji alam.
Kata mas Poeng, "menungso iku panggonane salah", manusia tempatnya khilaf, maka janji alam dihapus. Cukup dengan janji anggota/Tri Prasetya. Meski terkadang ada saja, yg setelah kenaikan tingkat mengucapkan janji anggota bersama sama, bergandengan tangan sambil berendam dipantai, diterpa ombak. Katanya lebih mantap.

2. Niat, niat ingsun, nawaitu, dengan bahasa dan cara masing2 praktisi, akan ber efek terprogramnya seluruh energi dan tubuh, menyesuaikan dengan niat tersebut.
Niat berlandaskan memohon ijin dan ridhaNya. Tentu harus bersih, sesuai nurani/naluri, bebas guilty feeling/rasa bersalah. Kalau melawan nurani(negatip), efeknya bisa mencederai diri sendiri, meski sedikit demi sedikit.
Bak memegang senjata tajam, harus "bener lan pener". Niatnya benar, caranya pun harus tepat. Apalagi energi getaran, bisa nyenggol dimensi lain (meski konon "cedak tan senggolan, adoh tan wangenan", dibilang dekat, tidak bersinggungan, dibilang jauh, tidak ketahuan jaraknya).

3. Berkaitan konteks ini, saya ulangi menceritakan suatu kejadian.
Pada th  '90, tim SARDA DIY minta bantuan MP, mencari survivor yang sudah hampir sebulan hilang di Merapi, operasi SAR sudah lewat batas waktu.(dua orang menwa, nama A dan B, meninggalkan kamp pelatihan di SELO , lereng utara Merapi, melintasi puncak menuju Kaliurang. Menwa B, peserta pelatihan, ditemukan kebingungan di pos II, sedangkan menwa A, sang komandan pelatihan, hilang.).

Ketika tim MP datang di posko SAR di Kinahrejo, di rmh mbah Wir, lebih atas dari rmh mbah Maridjan, mas Giyo/MP, langsung menunjuk satu titik di peta, sambil bilang, survivor ada dikaki bukit yang berbentuk seperti tumpeng,(ternyata bernama bukit Kukusan). Para senior mapala/dedengkot sar, kontan tidak sepakat, karena posisi menwa B ditemukan, jauh lebih tinggi dan jauh kebarat.
Malamnya, dari posisi posko dilakukan deteksi arah. Semua deteksi mengarah pada arah yang sama.
Selain itu "dirasakan" ada banyak "ampak ampak, pedut" atau halimun pekat pada arah tersebut.
Diputuskan untuk dilakukan "pembersihan" dengan formasi anak panah, satu didepan, yang lain dibelakang mendorong. Lumayan "bersih".
Besoknya sampai beberapa hari, operasi SAR terkendala cuaca buruk, btw tim MP sering beraksi mindah hujan guna melindungi regu2/SRU yang jalan.

Tapi apa lacur?
Flying camp selalu porak poranda dihantam badai. Para personil mapala bawaanya mau berantem saja antar kelompok.
Puncaknya, anggota SARDA yang kualifikasinya berani ke puncak gunung sendirian dimalam hari, ternyata tidak berani keluar rumah mbah Wir dimalam hari, (kalau posko ditinggal menwa MP/tim MP). Katanya suasananya sangat menakutkan. Sapi2  memberontak mau keluar kandang, anjing2 melolong lolong.

Saya putuskan untuk menelpon mas Poeng di Jkt untuk segera ke Yogya. Mas Poeng diantar mas Jo ( Johanes Iskandar), saya jemput di airport langsung ke Kinahrejo.

Mas Poeng berpendapat:
A. Mustinya deteksi arah dilakukan dari dua titik berbeda, sehingga ada dua garis arah yang bertemu di satu titik.
B. Survivor tidak dibunuh, tapi terpeleset dilereng sungai, kepalanya tertusuk kayu tajam.
C. KESALAHAN tim MP yang cukup fatal, kenapa musti "bersih2" segala.
Sesuatu, entitas apapun yang dibersihkan, adalah ciptaanNya, yang memang disitu tempatnya.
Ibarat mau makan diwarung tenda, orang2 yang sedang makan diusir, dipukuli. Mereka terpaksa pergi. Giliran  yang ditakuti pergi, teman2 kita ganti diganggu.
Sebaliknya bila kita sopan, kulonuwun, mereka akan bergeser memberi tempat. Bahkan kalau kita celingukan mencari lauk, mereka akan mengambilkan lauk yang ada didekatnya.

Niatnya sih baik nyari survivor, tapi caranya kurang ajar.
Jadi prosedur harus benar. Mengakui keberadaan entitas lain ciptaanNya, samasekali BEDA dengan mempersekutukannya. Mas Poeng langsung minta diantar pulang ke airport.
Malamnya, mas Yuli Purwanto alias mas Ipung Tokyo (skrg pelatih MP di Jepang), melakukan meditasi , menyebar getaran dengan niat baik.

Aneh bin ajaib, dua hari cuaca cerah mendukung. Hari ketiga, dituntun dengungan rombongan lalat hijau, survivor terlihat didasar kali Bebeng, dibawah bukit Kukusan. Tiap hari tim lewat didekat situ, rupanya tertutup pasir. Bekas ditebing (tempat terpeleset), jelas kelihatan. Di kepala, tertancap ranting tajam.

Mudah2an dari kejadian ini, bisa kita ambil hikmahnya. Amin.

Salam. 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: smntri on 24/02/2011 07:58
Terimakasih mas Suprapto dan Mas Mpcrb atas sharingnya, telah menambah pengetahuan dan wawasan kami.
Mas Suprapto, saya sering memperhatikan beberapa senior ataupun pendekar dari perguruan lain yang sudah masuk kategori "mumpuni" ilmunya seringkali mengalami sakit parah pada akhirnya.
Padahal mereka sudah pada level "memahami" tenaga dalam/power/getaran dengan sangat baik. Sudah dapat mendeteksi sumber penyakit, sudah pada level mampu meramu tenaga/getaran menjadi berbagai macam metoda penyembuhan dan aplikasi. Tetapi ketika digunakan untuk mengobati diri sendiri nampaknya tidak berhasil. Dari dulu saya sangat tertarik dengan hal ini.
Apakah ini juga merupakan suatu "teguran" alam? ataukah konsekwensi dari suatu laku/syarat pencapaian suatu keilmuan?
Saya selalu berusaha memahami suatu laku/syarat dari pendekatan sudut pandang ilmu fisika/kimia/biologi, dan sejauh ini selalu dapat difahami. Tetapi selalu saja ada unsur metafisis yang sulit difahami/dijelaskan.

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 24/02/2011 09:29
Terimakasih mas Suprapto dan Mas Mpcrb atas sharingnya, telah menambah pengetahuan dan wawasan kami.
Mas Suprapto, saya sering memperhatikan beberapa senior ataupun pendekar dari perguruan lain yang sudah masuk kategori "mumpuni" ilmunya seringkali mengalami sakit parah pada akhirnya.
Padahal mereka sudah pada level "memahami" tenaga dalam/power/getaran dengan sangat baik. Sudah dapat mendeteksi sumber penyakit, sudah pada level mampu meramu tenaga/getaran menjadi berbagai macam metoda penyembuhan dan aplikasi. Tetapi ketika digunakan untuk mengobati diri sendiri nampaknya tidak berhasil. Dari dulu saya sangat tertarik dengan hal ini.
Apakah ini juga merupakan suatu "teguran" alam? ataukah konsekwensi dari suatu laku/syarat pencapaian suatu keilmuan?
Saya selalu berusaha memahami suatu laku/syarat dari pendekatan sudut pandang ilmu fisika/kimia/biologi, dan sejauh ini selalu dapat difahami. Tetapi selalu saja ada unsur metafisis yang sulit difahami/dijelaskan.

wah koq yang saya temui dilapangan juga begini adanya mirip dengan istilah "dokterpun butuh dokter lain untuk berobat", koq bisa begini ya?  ???
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 24/02/2011 11:32
Cerita dan pengalamannya bawa pencerahan, ada getaran aneh dihati. Salut buat mas Agung dan mas Suprapto.

Salam takzhim
Diky Permana / Sawer wulung
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 24/02/2011 16:07
Koreksi. Nama pemilik rumah yg untuk posko SAR, bukan mbah Wir tapi mbah Wignyo.

@kang Sawer Wulung, trims. Salam takzim juga, terimakasih sdh di add di FB.

@ mas Smntri dan mas Acepilot.

Membahas kesehatan para senior/pendekar memang agak sensitip hehehe..
Ada hambatan psikologis dan etika untuk mengumpulkan data dan mewawancarai para pendekar.
Tapi dengan maksud demi pedoman perbaikan kedepan, tentu ada manfaatnya.

Beberapa pointers:

1. Dari unen-unen (konon dari Sunan Kalijaga), "kasekten tan ngalahake pepesten", kesaktian tidak bisa mengalahkan kepastian Tuhan. Dan "kodrat biso diwiradat", kodrat bisa dirobah. Maka penyikapan kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin, tapi kalau ada ketetapan dari Tuhan YME, kita harus ikhlas/legawa.

2. Khususnya di MP (penerus jalur Gagak Handoko), disadari bahwa kelengkapan ilmu kahusadan dan kasusastran masih pada penerus Gagak Seto dan Gagak Samodra, yang sampai sekarang belum muncul.
Meski demikian, dengan dasar keilmuan yang ada, praktisi MP dimungkinkan untuk terus mersudi/mencari, sampai mendapat keilmuan kahusadan tersebut.

3. Ada beberapa hal yang sedang dicermati MP, antara lain:
a. GAYA HIDUP /lifestyle di usia keemasan para beliau (ketika masih gotot, kokoh, kuat, penuh percaya diri, tampan dst). Apakah melakukan gaya hidup yang buruk, mis suka mabuk2an, mengumbar nafsu seks, tidak memperhatikan asupan gizi, dsb.
Diduga ada jarak yang cukup lebar, antara MENGETAHUI mana yang baik disatu sisi, dengan MENJALANKANnya disisi yang lain (termasuk para dokter).

b. Apakah ketika merasa keilmuan sudah cukup, para pendekar tetap latihan, minimal untuk menjaga kesehatan, atau malas latihan, atau disibukkan mencari nafkah?

c. Apakah ada konsekwensi di program latihan yang tidak cukup diantisipasi? Dari pengalaman praktisi penyembuhan MP, untuk pasien pendekar MP atau non MP, ada ketidak seimbangan jalur depan dan belakang yang bisa berakibat buruk pada organ2 dalam. Secara teknis, gerak pukulan tendangan dsb cenderung mengarah kedepan. Sehingga jalur2 energi tidak imbang. Terlebih kalau latihan serang hindarnya ngejut2 cepat. Kalau tanpa pemanasan yang baik, lama2 ada cedera jantung dan perut.
Sebenarnya bentuk senam Dasar sudah komplit untuk memelihara semua jalur energi. Pada pasien non MP diberikan derivatipnya.
Contoh antisipasi, adalah seperti yang ditemukan mas mpcrb, memperhatikan napas pembersih di awal dan akhir latihan.

d. Apakah setelah bertahun tahun latihan fisk yang keras, tiba2 berhenti?
Banyak kasus kena diabetes kalau begini.

e.  Meski menjadi rahasia pribadi, para pendekar yang sekarang berusia 70an, bukan tidak mungkin dimasa mudanya, entah disengaja atau tidak sengaja(masuk/ikut sendiri ketika berkelana dialam bebas), ditubuh para pendekar masih ada "isian" atau "susuk", kemudian lupa "lukar ageman/sipat kandel",  maka sesuatu yang semula mendukung penampilan, berbalik menggerogoti kesehatan.
Untuk hal ini, praktisi penyembuh MP hanya bisa menunggu apabila diminta menolong.

Mungkin masih banyak pointers lain untuk menjadi perhatian.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Sawer Wulung on 24/02/2011 21:28
Sama Sama mas. Memang kalo frekwensi getaran energi tubuh sudah diolah sedemikian rupa, efek bersinggungan dengan dimensi lain ga bisa dihindari ya mas. Kalo kasus yg "ngikut" berdasarkan pemahaman mas bisa disebabkan oleh apa mas? Indikasinya seperti apa? Kalo energi tubuh jadi liar indikasinya seperti apa?
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 24/02/2011 22:07
@ mas suprapto : terimakasih banyak mas penjelasannya..  [top]

oiya mau tanya mas, waktu itu ada yang bilang kalau MP itu ilmu untuk prajurit sedangkan aliran X (aliran mereka) adalah ilmu untuk para raja, apa itu betul mas kalau MP adalah ilmu untuk prajurit?

dulu pernah ada banyak anak MP dan bahkan katanya ada senior2 MP yang tingkatannya sudah lumayan ikut pindah ke perguruan Z, alasan mereka pindah ke perguruan Z kalau boleh tau apa ya mas?
eh kemaren ada anggota yang sudah lama ikut perguruan Z itu bilang ke saya kalau dia kepengen ikut latihan MP tanpa bergabung dengan MP, saya merasa koq jadi aneh ya?

memang rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri, tetapi kan itu baru kelihatannya..
tetapi sebagus-bagusnya rumput tetangga kan jauh lebih nyaman di rumput sendiri.. :)
salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/02/2011 00:06
@ mas Sawer Wulung.

Mengenai dimensi lain yg terasakan, rata2 iya. Tentu bisa tidak saling ganggu. Tentang cerita kasus diatas, masalahnya adala, kemudian teman2 sengaja menyerang/menyingkirkan.
Soal katanya "ngikut", apakah itu semacam mahluk maupun suatu energi alam yang berupa "benda" yang masuk tubuh, mungkin karena memang diniatkan. Teman2nya apalagi pelatihnya tentu tahu/bisa merasakan. Makanya di MP ada prosedur/teknik menyaring, memfilter, agar anasir yang tidak dikehendaki tidak ikut masuk. Kalau terlanjur ikut ada teknik membersihkannya.

Latihan tenaga di MP biasanya diakhiri dengan pengendapan. Tenaga hasil latihan diseluruh tubuh ditarik, dikumpulkan, disimpan. Mengenai tenaganya berputar liar, sy kurang faham. Barangkali mas mpcrb ada pengalaman.

@mas acepilot.
Keilmuan MP adalah ilmu keprajuritan, yang dilengkapi dengan kahusadan/penyembuhan dll. Bahwa ilmu keprajuritan dipakai oleh panglima atau adipati atau malah raja, bisa saja, sesuai kebutuhan atau aplikasinya. Jaman dulu, panglima atau adipati tentu perlu menguasai beladiri, baik agal maupun alusan (kasar atau halus).
Bahwa ada perguruan yang memiliki paket latihan/ritual khusus untuk keperluan adipati (kewibawaan, kata2nya dilambari daya linuwih sehingga yg diperintah menurut atau disegani lawan bicaranya, tahan santet, dsb) bisa saja, jenisnya banyak. Getaran bukan mustahil bisa diaplikasikan kesana.

Mengenai peristiwa beberapa senior MP yang pindah perguruan lain (tahun 80an), bisa jadi karena "merasa" sudah khatam di MP, ingin ilmu baru, atau disana merasa akan lebih eksis atau apa, semata mata keputusan pribadi mereka. Toh perguruan tsb punya kepribadian keilmuan sendiri yang mantap, tidak butuh keilmuan MP yang mereka bawa.
Bagi kita, cukup one stop shopping di MP. Meski ada kekurangan disana sini, kalau mau didalami nggak ada habisnya.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 25/02/2011 05:56
nah itu yang saya bingung mas, yang katanya mereka MP itu adalah ilmu prajurit tapi koq dipakai oleh pangeran diponegoro yang notabene pewaris dan calon raja (meskipun akhirnya tidak mau jadi raja) kesultanan jogja dan beliau dikenal sakti mandraguna..

oiya mas, apa ada bukti otentik yang menunjukkan bahwa pangeran diponegoro itu betul2 salah satu yang mengamalkan ilmu merpati putih?

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/02/2011 10:53
Sejauh ini hanya dari cerita yang dituturkan turun temurun selama hampir dua abad.

Bahkan perguruan x, y, z pun mengklaim demikian juga.
Perguruan2 yang di jalur Margoyoso-Dieng (jalur Bagelen-perbukitan Menoreh sampai Dieng) yang merupakan basis kekuatan pangeran Diponegoro, menceritakan turun temurun kepada para penerusnya. Termasuk yang kemudian menjadi MP dan KYS.

Jadi tidak perlu dipersoalkan lagi, karena yang jelas, leluhur2nya dulu teman seperjuangan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 25/02/2011 12:49
Sejauh ini hanya dari cerita yang dituturkan turun temurun selama hampir dua abad.

Bahkan perguruan x, y, z pun mengklaim demikian juga.
Perguruan2 yang di jalur Margoyoso-Dieng (jalur Bagelen-perbukitan Menoreh sampai Dieng) yang merupakan basis kekuatan pangeran Diponegoro, menceritakan turun temurun kepada para penerusnya. Termasuk yang kemudian menjadi MP dan KYS.

Jadi tidak perlu dipersoalkan lagi, karena yang jelas, leluhur2nya dulu teman seperjuangan.

Salam.

hehehe, mohon maaf mas kalau rasa keingintahuan saya begitu besar soalnya saya selama ini sedang mengumpulkan data2 tentang perguruan kita yang rencananya akan saya satukan dan saya jadikan pegangan dan dipublikasi untuk mengembangkan MP kedepannya mungkin sampai zaman anak cucu, insyaallah saya akan mengembangkan MP sampai saya menutup mata suatu hari nanti.. :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/02/2011 13:26
Amiin.
Betul mas Acepilot. Kita kumpulkan semaksimal mungkin dari banyak perspektip. Insya Allah benang merah sejarah  keilmuannya akan makin jelas.
Dari pendekatan antropologi budaya, ada penelitian dari Dr Jean-Marc de Grave (pendekatan olah kanuragan kejawen), sempat mewawancarai ibu Saring Hadipurnomo dan para senior yg sekarang sdh wafat, serta meneliti dari arsip silsilah kraton.  Kemudian ada Dr Hiroshi Mizukami PhD, yang meneliti praktek latihan MP.
Sebenarnya masih diperlukan penelitian dengan pendekatan antropologi budaya di jalur Margoyoso, serta kaitan dengan jalur banyuwangi-blambangan-malang selatan. Penduduk sekitar rmh dan makam Eyang Gagak Handoko di Loano, punya perilaku unik, cenderung "mboro"/mengembara/merantau ke  daerah di Jatim itu. Diduga ada kaitan lama.
Mudah2an segera ada antropolog budaya yang meneliti hal tersebut. Anehnya yang survey awal kok selalu calon peneliti asing.
Peneliti lokal malah nggak nyambung kalau dipancing masalah tersebut.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: limpato on 25/02/2011 13:29

@mas acepilot.
Bahwa ada perguruan yang memiliki paket latihan/ritual khusus untuk keperluan adipati (kewibawaan, kata2nya dilambari daya linuwih sehingga yg diperintah menurut atau disegani lawan bicaranya, tahan santet, dsb) bisa saja, jenisnya banyak. Getaran bukan mustahil bisa diaplikasikan kesana.


Bagi kita, cukup one stop shopping di MP. Meski ada kekurangan disana sini, kalau mau didalami nggak ada habisnya.

Salam.

Mas Suprapto, saya merasakan ada nuasa bijak di dalam tulisan yang Mas tulis.. Ketika kita sudah memiliki satu jenis beladiri tertentu (apakah dari Kraton Jawa, Sunda, Betawi, Minangkabau, Aceh, Kalimantan, Bugis dll), tugas kita mengembangkan dan membesarkannya apa yang kita miliki atas dasar cinta dan penghargaan terhadap karya leluhur, semaksimal mungkin, lalu terserah orang menilai. Kita menjadi besar karena kekuatan yang ada di dalam diri peguruan itu sendiri (reputasi MP yang harum dan baik karena kerja keras teman2 di MP kan?) bukan karena "memadamkan lampu" atau merendahkan aliran lain. Kita tetap setia dengan peguruan disamping juga respek dan hormat terhadap peguruan lain sembari menjaga ikatan silaturrahmi dan terus belajar...

Karena namanya manusia, sesempurna apapun, tidak akan ada yang bisa mamanuhi sakalian runggo manutupi sakalian alam (memenuhi sekalian rongga, menutupi sekalian alam) , hanya Tuhanlah yang sempurna. Ilmuan pemenang Nobel pun masih mengaku apa yang mereka miliki ada kekurangan dan butuh penyempurnaan, saya kita di dalam silatpun hal yang sama berlalu. Kekurangan akan selalu ada, kita hanya bisa memperbaiki dan belajar dari kesalahan.

Pepatah lama mengatakan : Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.. Namun, yang pasti kita tetap bertemu belalang dan ikan (sama-sama beladiri dan memiliki kekayaan filosofis sendiri2 hehehe)...


 
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Satria Piningit on 25/02/2011 15:36
saya liat ini adalah tread yang sangat panjang dan sarat dengan ilmu,trusin bro,sukses buat MP,mudah2an bisa mendobrak MA dunia,Amiin [top] [top] [top]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/02/2011 16:26
Latihan tenaga di MP biasanya diakhiri dengan pengendapan. Tenaga hasil latihan diseluruh tubuh ditarik, dikumpulkan, disimpan. Mengenai tenaganya berputar liar, sy kurang faham. Barangkali mas mpcrb ada pengalaman.

Kalau dibilang tenaga berputar liar, saya sendiri jujur belum pernah merasakan langsung. Yang pernah dirasakan hanyalah keluar tidak terkendali. Sebenarnya inipun tidak demikian adanya (masih ada pemicunya). Suatu hari dalam hidup ini pernah mengalami suatu kondisi dimana emosi benar-benar terpancing habis oleh seseorang dan keadaan. Tiba-tiba tangan kanan ini memanas, bergetar halus sendiri, rasanya pengen dipukulkan saja ke yang membuat emosi. Diingatkan oleh istri agar jangan terpancing emosi, akhirnya beberapa saat kemudian mulai reda. Tangan mulai menghangat (tidak memanas), dan getaran di tangan mulai hilang.

Apakah hal ini bisa disebut tidak terkendali? Bisa ya bisa tidak. Sebenarnya keluarnya getaran ya karena terkendali oleh hawa amarah. Terpancing, tersulut, dan keluar. Tapi kalau pengertian "LIAR" dalam arti tidak beraturan dan tidak bisa dikontrol sama sekali, saya belum pernah merasakan.

Kalau dalam pemahaman saya, selama tenaga itu milik kita sendiri, berasal dari diri kita sendiri, diolah dan terolah oleh diri kita sendiri, tentu tidak akan ada tenaga yang sifatnya liar. Kecuali memang "isian" atau memasukkan "sesuatu" yang bukan bagian dari diri kita. Itu bisa jadi.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/02/2011 16:28

Kemudian ada Dr Hiroshi Mizukami PhD, yang meneliti praktek latihan MP.


Mas Prapto, jika berkenan, barangkali bisa dibabar penelitan praktek latihan MP seperti apa yang diteliti oleh Dr. Hiroshi Mizukami PhD tersebut pada aspek-aspek apa saja. Terima kasih.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 25/02/2011 16:48
Mengenai peristiwa beberapa senior MP yang pindah perguruan lain (tahun 80an), bisa jadi karena "merasa" sudah khatam di MP, ingin ilmu baru, atau disana merasa akan lebih eksis atau apa, semata mata keputusan pribadi mereka. Toh perguruan tsb punya kepribadian keilmuan sendiri yang mantap, tidak butuh keilmuan MP yang mereka bawa.
Bagi kita, cukup one stop shopping di MP. Meski ada kekurangan disana sini, kalau mau didalami nggak ada habisnya.

Kalau dalam pemahaman saya pribadi, tidak ada istilah khatam di dalam beladiri. Dalam pandangan saya, ketika seseorang sudah mencapai puncak, maka sesungguhnya ia sedang dalam proses titik balik. Apakah akan jatuh, stagnan, atau dinamis untuk kemudian meramu ulang keilmuannya sehingga menjadi sesuatu yang baru yang lebih tajam, halus, lebih inovatif, dengan didasarkan dari pengetahuan yang sudah ada. Titik balik ini nantinya akan berotasi lagi ketika kemudian ia sudah dirasa mencapai puncak. Demikianlah seterusnya.

Kalau pemahaman pemikirannya seperti itu, maka sesungguhnya keilmuan itu tiada habisnya. Akan selalu ada ruang tumbuh dan memunculkan "pohon" tumbuh yang baru setiap kali mencapai puncak dan memasuki tahap TITIK BALIK. Akan Terjadi peningkatan keilmuan, peningkatan level, wawasan, dsb, yang melahirkan pengetahuan baru bagi generasi yang akan datang.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/02/2011 18:05
Tulisan mas Hiroshi Mizukami yang diberikan ke saya sebelum pulang ke Jepang ini, perkiraan saya baru semacam pengantar. 140 halaman HURUF KANJI.
Plus daftar literatur yang cukup panjang. Mengenai pencaksilat mulai dari terbitan dinas2 budaya masing2 provinsi, terbitan Amerika, Filipina, Muhammadiyah, PBNU, bahkan tulisan2 tahun 50an. Dari penelusuran sampai bisa mendapat kepustakaan ini, sudah membuat saya kagum.
Yang bisa di intip cuma nama2 orang, buku2, karena ditulis dalam huruf latin.
Dia bertekad untuk meneruskan penelitian lebih lanjut (dgn catatan ada sponsor dari almamaternya). Sambil ikut latihan MP  sampai Balik II.
Juga selalu datang di pelatda IPSI, bahkan mengikuti sampai PON.
Resminya, yang diteliti pendekatan budaya pencak silat. Tapi dia memperhatikan penuh tata gerak/tata beladiri dan pelatihannya (terlihat dari cara mendokumentasi foto dan video). Katanya sambil untuk mempersiapkan penelitian lebih lanjut.

Tidak banyak tanya tentang kanuragan (beda dgn Jean-Marc).

Demikian.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 25/02/2011 19:13
Tulisan mas Hiroshi Mizukami yang diberikan ke saya sebelum pulang ke Jepang ini, perkiraan saya baru semacam pengantar. 140 halaman HURUF KANJI.
Plus daftar literatur yang cukup panjang. Mengenai pencaksilat mulai dari terbitan dinas2 budaya masing2 provinsi, terbitan Amerika, Filipina, Muhammadiyah, PBNU, bahkan tulisan2 tahun 50an. Dari penelusuran sampai bisa mendapat kepustakaan ini, sudah membuat saya kagum.
Yang bisa di intip cuma nama2 orang, buku2, karena ditulis dalam huruf latin.
Dia bertekad untuk meneruskan penelitian lebih lanjut (dgn catatan ada sponsor dari almamaternya). Sambil ikut latihan MP  sampai Balik II.
Juga selalu datang di pelatda IPSI, bahkan mengikuti sampai PON.
Resminya, yang diteliti pendekatan budaya pencak silat. Tapi dia memperhatikan penuh tata gerak/tata beladiri dan pelatihannya (terlihat dari cara mendokumentasi foto dan video). Katanya sambil untuk mempersiapkan penelitian lebih lanjut.

Tidak banyak tanya tentang kanuragan (beda dgn Jean-Marc).

Demikian.

Salam.

wah kalau tulisan Jean-Marc itu dalam bahasa apa ya mas?
wah saya juga tertarik yang ada kanuragannya..
kapan2 kalau saya ke jogja boleh nggak saya sowan ke rumah panjenengan, sekalian mau tanya2 and sharing2.. :)
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 25/02/2011 20:34
@ mas Acepilot, silahkan.
Syukur kalau 1-3 april 2011 bisa ikut workshop/pelatihan senjata Kudi MP di Parangkusumo.

Dari mas Jean-Marc de Grave, saya diberi salah satu bukunya yang sudah di cetak, bahasa perancis (374 halaman plus). 

Sebenarnya sy dapat ijin dari dia untuk diterjemahkan dalam bhs Indonesia. Termasuk ditunjukkan anak2 yang bisa menterjemahkan.

Dalam bukunya juga dibahas silat dan ritual/rituelle trah Tedjokusuman (RM Harimoerti termasuk trah tsb)  dan satu lagi  perguruan TD.
Karena dalam pengetahuan saya, perguruan TD tersebut ternyata sempalan/duplikat dari perguruan MLP di Bandung, maka  penerjemahan saya tangguhkan, sampai masalah sempalan ini diselesaikan. Saya menghindari ikut menyebarluaskan sejarah keilmuan perguruan TD tersebut, yang menurut keyakinan saya, menyimpang dari sumber aslinya, perguruan MLP.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 25/02/2011 21:05
waduh kedua2nya bahasa asing..  :'(
sayang saya tidak mengerti kedua bahasa itu..
yang pakai kanji mungkin suatu saat bisa diterjemahkan oleh mas ipung tokyo, yang pakai bahasa perancis mungkin bisa diterjemahkan oleh mehdi alias dewa mabuk..

kalau saya sekarang baru jadi pendekar belakang keyboard dulu mas, saya sekarang selain sedang mengumpulkan tentang sejarah MP juga sedang membandingkan ilmu MP dengan ilmu diluar yang bernama sama misalnya :

- bayu seto
- lembu sekilan
- kere wojo
- kidang telangkat
- pasir besi

saya mencoba menjelaskan secara singkat dari versi yang saya temukan di dunia maya :
- lembu sekilan ternyata ada beberapa versi ada yang menyebutkan harus puasa, merapal mantra dan ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar kalau mau ilmunya nggak melempem.
- pasir besi ada yang versi lain dari daratan china seperti yang dahulu pernah saya diskusikan dengan mas mpcrb, ini juga saya temukan di komik "kungfu boy".
- kere wojo juga ada versi lain yang mengatakan bahwa kere wojo itu pusaka berbentuk pakaian perang.

untuk yang lainnya saya belum dapat menemukan karena belum tau ke-22 ilmu MP itu namanya apa saja..  ???

salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Toyosu on 26/02/2011 05:13
Niatnya sih baik nyari survivor, tapi caranya kurang ajar.
Jadi prosedur harus benar. Mengakui keberadaan entitas lain ciptaanNya, samasekali BEDA dengan mempersekutukannya. Mas Poeng langsung minta diantar pulang ke airport.
Malamnya, mas Yuli Purwanto alias mas Ipung Tokyo (skrg pelatih MP di Jepang), melakukan meditasi , menyebar getaran dengan niat baik.

@Mas Suprapto,

Beberapa kali saya dengar cerita yang sama dari mas Ipung dengan kesederhanaannya. Tampaknya peristiwa itu cukup membekas di beliau.   
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 26/02/2011 13:45
@ mas Toyosu

Saat itu, yang mudah dimobilisasi untuk SAR adalah anggota MP di kolat mahasiswa/menwa. Antara lain mas Ipung  cs dari kolat ISI/ASRI,  mas Tresno Amor dari  UGM (paling canggih mindah hujan), mas Koko Sudjatmoko dari UII (posisi ujung anak panah pada formasi getaran menyerang), mas Purwono dari STTNAS, mas Damar cs dari STIE YKPN, juga ada dari UPN dan Atmajaya.

Gerakan tim MP (dengan alat komunikasi HT), banyak dimonitor oleh masyarakat di bawah/Yogya. Sedikit banyak ada sikap bangga cenderung jumawa.

Gemblengan alam dan arahan mas Poeng jelas sangat membekas. Menjadi makin takwa, menghargai apapun dan siapapun yang dipandang lebih "rendah" derajatnya.
Lebih sadar dalam memaknai arahan mengutamakan dialog. Bahkan seandainya dialog jadi buntu, "sulayaning rembug dadi perang", tetap harus menunggu sampai lawan betul2 menyerang. Siapa tahu pada saat terakhir lawan melunak.
Saya baca di forum diskusi SS, kearifan ini  juga menjadi kearifan keilmuan di banyak perguruan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: ogebang on 26/02/2011 18:37
Salam Perguruan,...

Saya sangat menikmati Babaran Keilmuan ug disampaikan oleh Mas To & Mas MP Crb dan juga mas2 lainnya...
Semoga bs bermanfaat buat kita semua...Intinya memang kalo sdh tingkatan Kombinasi 1 keatas..seyogyanya sdh bs melakukan Mersudi secara mandiri..
Tidak ada lagi minta " Matengnya " saja dr para Senior...
Yg tidak menjalankan laku Mersudi maka ia akan menyimpulkan Ilmu MP sdh gak ada lagi...ato ujung2nya berkesimpulan Seniornya pelit menurunkan Ilmu...
Padahal dgn menggunakan Getaran..kita akan di bukakan ke Keilmuan manapun..Tinggal mo dilatih apa tidak...

salam dr Jakarta,

Ogebang

Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 27/02/2011 19:34
wah koq yang saya temui dilapangan juga begini adanya mirip dengan istilah "dokterpun butuh dokter lain untuk berobat", koq bisa begini ya?  ???

Sekedar sharing mengenai beberapa pengalaman untuk pengobatan, barangkali ada manfaatnya bagi pembaca sekalian.

Untuk sakit kepala (migren ataupun yang sakit kepala penuh), pertama gunakan jalur yang dipakai pada pengobatan regenerasi sel untuk mengaktifkan konsentrasi sel-sel darah putih. Lakukan paling tidak 9 putaran nafas. Setelah itu, visualisasikan warna UNGU bersamaan dengan tarik getaran dari bawah pusar lalu naikkan vertikal hingga ke Thalamus (lihat gambar):

(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/Constudoverbrain.png/300px-Constudoverbrain.png)

Segera setelah getaran mencapai Thalamus, kemudian pancarkan dari situ seolah kita akan "memenuhi" rongga otak dengan tenaga getaran berwarna ungu. Rongga otak seolah "dipenuhi" oleh getaran berwarna ungu ini. Kira-kira 7 sampai 9 putaran, sakit kepala akan hilang dengan sendirinya.

Kenapa Thalamus? Itu ada penjelasan tersendiri. Saya mencoba mengambil manfaat dari apa yang sudah dicapai oleh ilmu pengobatan modern yang memungkinkan untuk dimanfaatkan konsep dasarnya dan dikembangkan dengan menggunakan teori getaran MP.

Meski jarang sakit kepala, tetapi kalau suatu saat mengalami sakit kepala, maka teknik diatas selalu saya gunakan dan alhamdulillah manfaat. Barangkali juga ada manfaatnya bagi yang lain.

Next, saya akan coba sharing bagaimana metode yang saya temukan dan sering saya gunakan ketika tubuh mengalami penurunan daya (bisa disebabkan karena demam, influenza, atau virus) dengan memanfaatkan getaran MP. Alhamdulillah manfaat untuk diri sendiri, barangkali juga ada manfaat buat yang lain.

Semoga membantu.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: ogebang on 27/02/2011 21:02
Salam Perguruan...

Saya pikir secara subyektif semua murid2 di Perguruan silat tempat dia berlatih..biasanya akan menyatakan aliran silatnya yg paling hebat...silatnya dari Panglima ini...MP cuma silat Prajurit..dsb...Silakan saja..sah2 saja...
Buat saya yg terpenting individunya...kitanya sendiri...bukan aliran silatnya...punya mobil Ferrari..tapi ilmu kita baru kelas bajaj..ya..gak ada gunanya...Punya BB Torch tapi taunya cuma dipake buat BBm...ya...buat apa...
Saya sendiri dulunya pernah belajar Cimande..Yoga..Tai Chi...Sufism..bahkan sekarang diminta meneruskan Paguyuban Kejawennya Bapak Mertua...makanya saya mempunyai rasa respect yg sangat tinggi kpd seluruh aliran beladiri yg ada...gak pernah saya sesumbar MP adalah aliran yg paling hebat..
Lebih baik tau sedikit dr ilmu yg kita punya..tapi benar2 diasah secara lahir & bathin..Insya Alloh akan membawa kpd Keselamatan...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 27/02/2011 21:17
^^^
Setuju..
Seperti semboyan Satuan-81 Penanggulangan Terror Kopassus..

-Kami bukan Yang Terbaik, Tetapi Kami Terlatih-
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 28/02/2011 13:23
Salam Perguruan,...

Saya sangat menikmati Babaran Keilmuan ug disampaikan oleh Mas To & Mas MP Crb dan juga mas2 lainnya...
Semoga bs bermanfaat buat kita semua...Intinya memang kalo sdh tingkatan Kombinasi 1 keatas..seyogyanya sdh bs melakukan Mersudi secara mandiri..
Tidak ada lagi minta " Matengnya " saja dr para Senior...
Yg tidak menjalankan laku Mersudi maka ia akan menyimpulkan Ilmu MP sdh gak ada lagi...ato ujung2nya berkesimpulan Seniornya pelit menurunkan Ilmu...
Padahal dgn menggunakan Getaran..kita akan di bukakan ke Keilmuan manapun..Tinggal mo dilatih apa tidak...

salam dr Jakarta,

Ogebang

Rata-rata memang demikian adanya. Pengennya singkat, instant. Padahal suatu proses pemahaman keilmuan hingga ke penguasaannya tidaklah instant. Sesuatu yang di dapat secara instant biasanya akan hilang secara instant.

Ada karakteristik yang menarik pada mereka yang melatih getaran. Biasanya, para pelatih ini seperti sudah punya NALURI bagaimana memperlakukan muridnya. Alkisah ada pengalaman pada rekan satu angkatan saya (lain cabang). Dia sudah jenuh, lebih dari 20 tahun di MP belum bisa-bisa getaran. Belajar kesana-sini mentok. Ga berhasil. Puncaknya mutung, nyerah, dan malas. Latihan sih tetap, katanya cukup buat jaga kebugaran saja. Suatu hari, ketika acara tradisi tahunan MP, bertemu dengan Mas Joko (MP Cirebon), diajak ngobrol dan ditanya "sudah bisa getaran belum?". Dijawab oleh kawan ini, "belum mas. Sudah malas latihan saya. Saya tidak bisa-bisa.". Mas Joko ini hanya tersenyum dan dijawab, "ya sudah, nanti saya akan ke tempat kamu, melatih secara khusus agar kamu bisa". Beberapa bulan kemudian, akhirnya jodohpun menghampiri. Di datangilah kawan ini (padahal jauh sekali, lintas kota lintas pulau, perjalanan lebih dari 10 jam, masuk ke pedalaman). Dilatihlah kawan ini di tengah hutan secara intensif. 11 hari pun tanpa terasa berlalu, dan berhasillah kawan ini menguasai getaran dan merupakan satu-satunya MP di cabangnya yang baru bisa getaran. Dengan terharu kawan ini bercerita kepada saya, "mas, dulu ketika saya punya ambisi untuk bisa getaran, saya malah tidak bisa-bisa, dan tidak pernah bisa. Lebih dari 20 tahun saya di MP, sama sekali tidak ada hasil yang mengarah pada perkembangan penguasaan getaran. Tetapi ketika saya melepas ambisi, melepas nafsu untuk bisa menguasai, saya malah diajari intensif oleh salah satu pelatih getaran yang hebat. Tanpa membayar, tanpa diminta, saya didatangi dan dilatih. Malu saya mas sama MP karena dulu saya terlalu berambisi untuk pengen sakti, pengen bisa. Hingga ketika saya ngga bisa-bisa, saya menganggap keilmuan MP ini tidak nyata. Ketika kemudian saya sudah bisa merasakan getaran, saya sujud syukur, mengakui bahwa keilmuan MP itu benar-benar nyata adanya.".

Hikmah dari kisah tersebut adalah bahwa mereka yang begitu berambisi untuk mengejar, biasanya tidak akan terkejar. Ambisi di dalam penguasaan keilmuan biasanya seperti bayangan. Kita diam, dia diam. Kita lari, dia lari. Semakin kita pasrah, semakin tidak punya ambisi, maka semakin Tuhan akan memberikan jalanNya yang unik, yang tidak diduga-duga. Kita harus menghilangkan prasangka pada keilmuan yang kita pelajari. Berlatih sesuatu tuntunan pakem keilmuan yang sudah diwariskan turun temurun, yang kalau memungkinkan untuk dikembangkan ya kita kembangkan.

***

Kisah lain lagi tidak kalah menarik. Alkisah ada seorang anak muda yang terobsesi minta dilatih getaran. Tapi anehnya, pelatih getaran yang sama tidak mau melatihnya. Setiap kali didatangi ke rumahnya, minta dilatih, ia tidak mau. Hanya memberikan pakem latihan getaran standar (sesuai kurikulum baku). Terus saja seperti itu sampai lebih dari 2 tahun. Keuletannya mendatangi pelatih untuk meminta dilatih getaran "hanya" diberi bonus 5 jenis olah nafas yang harus dilatih sendiri di rumah dan digabungkan dengan pakem getaran. Itu saja. Tidak lebih. Setiap kali di telpon atau mendatangi rumah sang pelatih getaran, selalu dijawab hal yang sama "latih saja olah nafas yang saya berikan". Perlakuan ini beda banget dengan cerita sebelumnya yang 11 hari digeber intensif di hutan.

Satu tahun kemudian, anak muda ini menelpon ke pelatih yang sama, berterima kasih karena ia akhirnya memahami maksud dari pelatih. Dijawab oleh pelatih, "itulah kamu mas. Kamu itu cerdas, memiliki otak encer yang tidak sama dengan yang lain. Kamu pasti bisa mencerna maksud saya. Cepat atau lambat, bergantung diri kamu sendiri. Kamu tidak perlu saya bimbing intensif, cukup kamu latih apa yang saya beri, lalu kamu olah sendiri dengan kecerdasan kamu. Kamu akan bisa mengembangkannya, bahkan suatu hari nanti akan bisa melebihi kemampuan saya.".

Hikmah dari kisah anak muda tersebut adalah jangan berprasangka buruk terhadap pelatih yang belum mau atau hanya sedikit sekali memberi kita materi. Tetap berpikiran baik dan positif, bahwa semua nanti akan ada masanya.

***

Semoga membantu, dan dapat memberikan inspirasi.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: searcher on 02/03/2011 10:15
Ada yang ingin saya tanyakan ke Mas Suprapto, Mas Agung (MPCRB) dan senior yang lain..
Setiap kali melakukan meditasi penyaluran seluruh badan saya, terutama yang sedang saya niatkan untuk disaluri tenaga, terasa merinding seperti ada aliran listrik kecil yang merambat. Pori-pori terbuka lebih lebar dan bulu-bulu di badan berdiri, termasuk rambut yang di kepala. Setelah selesai melakukan meditasi penyaluran, rambut berdiri semua dan lebih kering dari kondisi sebelumnya.
Ini sebenarnya gejala apa?
Terus terang, meskipun pernah berhasil melakukan pematahan balok es/bis beton/tegel dan kikir dan saat ini sedang rajin-rajinnya berlatih olah nafas MP, tapi saya belum benar-benar yakin memiliki tenaga dalam.
Mohon pencerahan dari para senior yang ada.
Terima kasih banyak sebelumnya.

Salam hormat...
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: Suprapto on 02/03/2011 20:16
@ mas searcher.

Awal2 biasa begitu. Lengkapnya kan ditarik lagi, atau nafas pembersih sebelum ditutup. Lama2 lancar.

Silahkan mas Mpcrb dan mas Ogebang kasih share pengalaman.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: mpcrb on 03/03/2011 00:34
@mas searcher,

Entahlah saya sendiri juga kalau ditanya kawan untuk minta diajari tenaga dalam, lha ya ngga tau tenaga dalam tuh kayak apa? Latihan di MP untuk membentuk tenaga dalam juga tidak tahu. Lha wong dari saya mulai Dasar 1 sampe detik ini belum pernah sekalipun dikasih tau pelatih bahwa yang dilatih adalah metode membangkitkan tenaga dalam. :D

Setelah saya runut dan telaah ulang model olah nafas MP, saya menjumpai hal menarik. Menariknya adalah, bahwa saking menyatunya latihan olah nafas, anggota bahkan tidak menyadari bahwa "tenaga dalam" dia sedang dibentuk. That's true. Olah nafas MP yang begitu inherent dan wajib dilakukan minimal 1 minggu sekali pada latihan reguler seolah sudah seperti makanan sehari-hari yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Ini ibaratnya sama dengan kalau kita berkata pada kawan kita seperti ini, "mas, kemarin aku makan nasi putih loh...". Kawan kita dijamin akan menjawab, "Lha mas buat apa diceritakan kemarin makan nasi putih? Lha wong itu memang sudah sehari-harinya kita makan? Hehehe". Setiap hari kita makan nasi, besoknya tidak pernah kita ceritakan pada orang-orang. Kita hanya cerita kalau kita sudah 3 hari tidak makan nasi atau malah tidak makan-makan. :D

Demikian juga di MP. Akibat sudah menyatunya pelatihan olah nafas sehingga seolah anggota BELUM MERASA mendapatkan "tenaga dalam". Padahal ia melatih "tenaga dalam"-nya setiap minggu minimal 1x melalui olah nafas pengolahan, pembinaan, dsb. Ia membentuk "tenaga dalam"-nya setiap kali berlatih olah nafas. Tanpa disadari. Disinilah menariknya menurut saya. Anggota seolah tidak sadar bahwa ia "dibentuk" tenaga dalamnya oleh Merpati Putih sejak mulai Dasar 1. Jadi kalau mas searcher mempertanyakan demikian, ya wajar saja, sebab ga pernah dipikirkan oleh pelatih mas dan juga oleh senior sekalian. Kenapa? Ya itu tadi, saking menyatunya ya sudah tidak perlu diceritakan lagi. Akhirnya mengalir begitu saja tanpa disadari, seperti sehari-hari kita makan nasi.

Pada perguruan/aliran lain, pelatihan olah nafas biasanya baru diajarkan pada tingkatan tertentu atau setelah sekian tahun. Lain halnya di MP, latihan olah nafas sudah diberikan SEJAK MULAI tingkat Dasar 1. Ada hal menarik pada olah nafas Dasar 1 ini, dimana 14 bentuk nafas pengolahan Dasar 1 ini ternyata (hampir) "ngikut" terus hingga ke tingkat yang lebih tinggi. Walaupun memang ada tambahan bentuk nafas pengolahan pada tingkatan Balik ke atas, apalagi Kombinasi, dan tingkat Khusus, akan tetapi nafas pengolahan Dasar 1 ini tidak pernah ditinggalkan dan bahkan seringkali dilatih secara spesial dengan teknik pola nafas yang berbeda dengan pada umumnya untuk tujuan yang khusus. Hal ini sebenarnya menunjukkan beberapa hal.

Pertama, sepertinya disadari benar potensi senam pengolahan Dasar 1 (14 bentuk) yang begitu besar. Dibuktikan dari mersudi guru besar kita, mas Budi, ketika berusaha untuk tidak keluar dari pakem di dalam "menciptakan" keilmuan getaran untuk tunanetra ini dengan hanya menggunakan pendekatan senam pernafasan pengolahan Dasar 1 yang mudah, simple, tetapi berkemampuan tinggi. Olah nafas regenerasi sel juga didasarkan pada 14 bentuk ini, termasuk olah nafas pengolahan dengan getaran juga menggunakan 14 bentuk tsb. Mungkin 14 bentuk itu ditakdirkan menjadi lebih "istimewa", meskipun sesungguhnya olah nafas yang lain juga memiliki keistimewaan tersendiri. 14 bentuk nafas pengolahan Dasar 1 ini kentara sekali posisinya. Pertanyaannya, kenapa tidak menggunakan senam pengolahan Kombinasi 2 misalnya, atau senam pengolahan tingkat Khusus. Saya melihat bahwa pemilihan pada senam pengolahan Dasar 1 ini bukan tanpa alasan. Meski sederhana pada bentuk, tapi kuat pada isi dan esensi.

Kedua, kalau ia diikutkan terus hingga tingkatan yang tinggi, maka 14 bentuk olah nafas ini (sepertinya) merupakan olah nafas pada tingkatan tinggi yang diberikan pada tingkat rendah. Anggota tingkat Dasar di MP sudah mendapatkan olah nafas tingkat tinggi. Ini menarik. Sangat jarang terjadi di perguruan manapun dimana olah nafas pada tingkatan yang tinggi diajarkan di tingkatan yang rendah. Jadi seharusnya bersyukurlah anggota MP dari mulai tingkat Dasar ini karena mereka sudah dapat jatah dari tingkatan yang lebih tinggi. :)

Ketiga, bahwa hasil olah nafas ini seringkali disebut dengan istilah POWER. Maknanya bisa jadi mengarah pada "tenaga dalam", tetapi dalam istilah yang berbeda. Kalau diminta latihan nafas, selalu bilangnya "latihan power" dan bukan latihan "tenaga dalam". Pemahaman ini diwariskan turun temurun, sehingga hilanglah istilah "tenaga dalam". Justru pihak diluar MP-lah yang membuat istilah "tenaga dalam".

Adapun mengenai timbulnya gejala akibat efek dari latihan nafas, tentu saja akan terjadi. Metabolisme tubuh menjadi sangat berbeda ketika olah nafas dilakukan, pembakaran di dalam tubuh, respirasi, pemecahan ATP, dsb, semua menjadi berbeda dibanding normalnya. Efeknya bisa beragam, timbul panas ya sudah pasti. Pada setiap medan magnet ada medan listrik. Apakah "listrik" itu sekedar rasa atau benar-benar listrik, nanti akan terjawab seiring waktu. Solusinya ya ditarik lagi, atau dilakukan nafas pembersih dulu, lalu diakhiri dengan nafas pengendapan.

Kira-kira demikian menurut pendapat saya mas searcher. Mohon maaf barangkali ada yang keliru, agar bisa diluruskan.

Salam.
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: ogebang on 03/03/2011 07:34
@Searcher
Salam Perguruan...

Menurut saya " kepekaan " anda telah mulai terbentuk...Selamat ya...He..3...Kenapa begitu..?? Karena anda menginstall nya dgn Niat yg benar..yaitu seperti yg anda katakan sendiri..niat utk merasakan aliran tenaga di beberapa bagian tubuh yg dialiri...
Saya sendiri dulu cukup lama gak pernah berhasil merasakan apa2...aliran hawa murni yg mengalir di sekujur tubuh..bola energi di antara ke dua telapak tanagn dsb...Setelah saya analisa & konsultasi sana sini...ternyata saya kalo latihan..ya..asal latihan aja..gak pernah diniatin mo latihan apa...terus maunya serba cepat dgn pasang target macam2...ya..makin jauh aja..he...3x...
Saran saya...latih terus setiap saat kepekaannya dng niat yg benar...jangan pasang target apa2...nikmatin , rasakan & hayati saja semua sensasi yg didapat...jangan kaget ya..kalo ntar di titik tertentu anda akan sangat peka dan bisa " mendengarkan " suara2 simfoni alam semsta yg selama ini kita gak pernah dengar....dan juga hal2 lainnya..he...3x...
Oh iya..satu lagi..jangan mempersempit mind set kita bahwa latihan olah nafas MP hanya utk pemecahan benda keras & getaran tutup mata..ya...
Selamat Berlatih...!!
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 03/03/2011 08:10
setuju mas, betul mas seperti tidak sadar, tau-tau udah ada aja, contohnya waktu pas tremor, pertamakali saya melakukan tremor saya jadi mau ketawa sendiri, dan ngebatin, "apa ini yang dinamakan tenaga dalam? koq lucu ya rasanya"
ada yang seperti kesetrum, ada yang panas.. :)
percaya nggak percaya tenaga dalam itu muncul dan eksis begitu saja, saya juga heran, makanya itu yang bikin saya mau ketawa setiap kali tremor.

banyak yang tidak mengerti esensi dari pernafasan yang sudah diajarkan, padahal kalau dilatih terus pasti akan kelihatan hasilnya, nah di 4 tingkatan awal biasanya banyak yang putus asa karena merasa si tenaga dalam belum kunjung datang menghampiri dan akhirnya "mutung" lalu malas latihan, lalu keluar dari MP, sekarang banyak yang maunya instant karena mereka banyak yangg nggak tau kalau penjejangan itu tujuannya banyak sekali, salah satunya untuk membentuk jiwa yang berih, watak dan pengendalian diri si pesilat..
nah di  tingkat ini saya sering memberi tahu mereka yang putus asa kalau ini baru tingkat awal di MP, di tingkat atas masih banyak ilmunya apalagi kalau mau menggali lebih lanjut malah bisa diturunkan ilmu2 pamungkas MP.. :)

oiya mas, saya mau tanya, menurut page2 awal thread ini ada yang bilang kalau ilmu MP itu sangat di ekslusifkan, dan memang benar kadang2 setingkat dengan kombinasi 1 saja banyak yang tidak tahu ilmu2 MP itu apa saja, yang tau palingan getaran dan pasir besi..
nah apakah ada kurikulum wajibnya ilmu bahwa ilmu ini harus diajarkan kapan and di tingkat berapa?
apakah syarat2 itu semua ada di ilmu2 yang sedang di bukukan sekarang ini?

salam..
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: searcher on 03/03/2011 10:17
Salam,
Terima kasih untuk Mas Suprapto, Mas Agung, Mas Ogebang dan Mas Acepilot yang sudah berkenan memberi pencerahan...

Pertama, sepertinya disadari benar potensi senam pengolahan Dasar 1 (14 bentuk) yang begitu besar. Dibuktikan dari mersudi guru besar kita, mas Budi, ketika berusaha untuk tidak keluar dari pakem di dalam "menciptakan" keilmuan getaran untuk tunanetra ini dengan hanya menggunakan pendekatan senam pernafasan pengolahan Dasar 1 yang mudah, simple, tetapi berkemampuan tinggi. Olah nafas regenerasi sel juga didasarkan pada 14 bentuk ini, termasuk olah nafas pengolahan dengan getaran juga menggunakan 14 bentuk tsb. Mungkin 14 bentuk itu ditakdirkan menjadi lebih "istimewa", meskipun sesungguhnya olah nafas yang lain juga memiliki keistimewaan tersendiri. 14 bentuk nafas pengolahan Dasar 1 ini kentara sekali posisinya. Pertanyaannya, kenapa tidak menggunakan senam pengolahan Kombinasi 2 misalnya, atau senam pengolahan tingkat Khusus. Saya melihat bahwa pemilihan pada senam pengolahan Dasar 1 ini bukan tanpa alasan. Meski sederhana pada bentuk, tapi kuat pada isi dan esensi.
Selama beberapa waktu ini saya berusaha mencari manfaat lain dari bentuk-bentuk senam pengolahan dan pembinaan MP selain membangkitkan Power (ikutan pakai istilah power saja daripada TD  :) ). Yang sudah saya rasakan sendiri, fisik dan stamina lebih kuat dan alhamdulillah jarang sakit.  Tapi karena keyakinan bahwa manfaatnya pasti lebih besar dari hal tersebut maka saya mencoba untuk mencarinya.
Saya melihat ada sedikit/banyak kemiripan bentuk pengolahan di MP dgn asana pada Yoga. Salah satunya adalah bentuk pengolahan yang ketiga (kalo tidak salah) yang mirip dengan Salamba Sarvangasana. Asana ini konon merupakan salah satu asana terpenting di Yoga. Diyakini asana ini bermanfaat untuk :
1.Menyehatkan kelenjar gondok. Memperbaiki sistem sirkulasi darah, sistem pengeluaran, pencernaan dan eksresi dan fungsi usus.
2.Memberikan energi dan menyegarkan tubuh.
3.Mensuplai darah yang berlimpah ke jaringan sumsum tulang belakang.
4.Menjaga elastisitas dari tulang belakang dan mencegahnya dari kerapuhan, sehingga menjadi awet muda.
5.Pengobatan untuk penyakit-penyakit genital dan anus.
6.Mengurangi masalah pada ginjal dan kandung kemih.
7.Mengurangi sakit pada tumit dan sakit yang lain pada kaki.
8.Bermanfaat untuk yang mengalami anemia dan lepra.
9.Memperbaiki fungsi dari telinga dan hidung.
10.Membangkitkan Kundalini.

Dari satu bentuk senam pengolahan saja manfaat yang bisa didapatkan begitu banyak, apalagi 14 bentuk.. (Btw, ada yang memberikan manfaat khusus utk masalah laki-laki lho!  [top] x-)))  Ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh mas Agung "Meski sederhana pada bentuk, tapi kuat pada isi dan esensi"  [top] [top] [top]

banyak yang tidak mengerti esensi dari pernafasan yang sudah diajarkan, padahal kalau dilatih terus pasti akan kelihatan hasilnya, nah di 4 tingkatan awal biasanya banyak yang putus asa karena merasa si tenaga dalam belum kunjung datang menghampiri dan akhirnya "mutung" lalu malas latihan, lalu keluar dari MP, sekarang banyak yang maunya instant karena mereka banyak yangg nggak tau kalau penjejangan itu tujuannya banyak sekali, salah satunya untuk membentuk jiwa yang berih, watak dan pengendalian diri si pesilat..
Seandainya mereka tahu semua manfaat dari senam pengolahan dan pembinaan MP diluar Power dan Getaran, mungkin tidak ada lagi yang malas berlatih ya, mas.. x-))

Menurut saya " kepekaan " anda telah mulai terbentuk...Selamat ya...He..3...Kenapa begitu..?? Karena anda menginstall nya dgn Niat yg benar..yaitu seperti yg anda katakan sendiri..niat utk merasakan aliran tenaga di beberapa bagian tubuh yg dialiri...
Saya sendiri dulu cukup lama gak pernah berhasil merasakan apa2...aliran hawa murni yg mengalir di sekujur tubuh..bola energi di antara ke dua telapak tanagn dsb...Setelah saya analisa & konsultasi sana sini...ternyata saya kalo latihan..ya..asal latihan aja..gak pernah diniatin mo latihan apa...terus maunya serba cepat dgn pasang target macam2...ya..makin jauh aja..he...3x...
Saran saya...latih terus setiap saat kepekaannya dng niat yg benar...jangan pasang target apa2...nikmatin , rasakan & hayati saja semua sensasi yg didapat...jangan kaget ya..kalo ntar di titik tertentu anda akan sangat peka dan bisa " mendengarkan " suara2 simfoni alam semsta yg selama ini kita gak pernah dengar....dan juga hal2 lainnya..he...3x...
Oh iya..satu lagi..jangan mempersempit mind set kita bahwa latihan olah nafas MP hanya utk pemecahan benda keras & getaran tutup mata..ya...
Selamat Berlatih...!!
Terima kasih banyak Mas atas ucapannya  :-P  [top]
Iya mas, dari membaca tulisan-tulisan mas Agung, mas Suprapto dan mas-mas lain di Thread ini, sangat membantu saya dalam berlatih, terutama dalam hal Niat, Tindakan/Latihan yang benar dan Keihklasan saat menjalankan dan menerima hasil yang ada.
Saat ini baru sebatas bisa merasakan energi di antara tapak tangan yang terasa membal saat didekatkan. Juga kalau tapak tangan didekatkan ke suatu benda jarak 15 cm-an serasa ada yang meraba tapak tangan saya. Tapi sekali lagi, itu mungkin hanya perasaan saya saja atau memang demikian adanya.. Karena saat ini saya hanya berlatih sendiri di rumah berdasarkan apa yang sudah pernah saya dapat di MP 23 tahun yll.. Sambil berharap dan berdoa semoga kelas Kebugaran MP cepat dibuka di Surabaya. Aamiiin... :)
Yang penting untuk saya saat ini, selalu berusaha berlatih dengan baik dan lebih baik dari sebelumnya dan konsultasi dengan mas-mas disini.

Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya..

Salam...

Love MP, always... [top]
Title: Re: PPS Betako Merpati Putih
Post by: acepilot on 03/03/2011 10:35

Dari satu bentuk senam pengolahan saja manfaat yang bisa didapatkan begitu banyak, apalagi 14 bentuk.. (Btw, ada yang memberikan manfaat khusus utk masalah laki-laki lho!  [top] x-)))

Seandainya mereka tahu semua manfaat dari senam pengolahan dan pembinaan MP